Anda di halaman 1dari 13

Makalah Aspek Hukum Bisnis

Holding Company

Penulis:
KAMALINDA
(140221100009)
Akuntansi Kelas A
Semester 2

Pengajar:
Nita Ariyani, S.H., M.H

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universita Trunojoyo Madura
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Holding
Company. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan Holding
Company. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah
yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat
dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan di masa depan.

Bangkalan, 6 April 2015

Penulis

Daftar Isi

Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
1.4 Manfaat
Bab II Pembahasan
2.1 Pengertian
2.2 Klasifikasi Perusahaan Induk
2.3 Proses Pembentukan Holding Company
2.4 Manajemen Operasi Holding Company:
2.5 Tanggung Jawab Induk Perusahaan Terhadap Perikatan Anak Perusahaan
2.6 Keuntungan Dan Kerugian Dari Perusahaaan Induk
Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
Daftar Pustaka

Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Dalam perkembangan di dunia bisnis dimana perusahaan grup menjadi salah satu pilihan
bentuk usaha yang banyak dipilih oleh para pelaku usaha di Indonesia. Pada prakteknya
dapat kita temui perusahaaan-perusahaan berskala besar tidak lagi dijalankan melalui
bentuk perusahaan tunggal tetapi dalam bentuk perusahaan grup.
Perusahaan kelompok atau lebih dikenal dengan sebutan konglomerasi merupakan topik
yang selalu menarik perhatian, karena pertumbuhan dan perkembangan perusahaan grup
yang tidak terkendali dapat menimbulkan monopoli terhadap suatu jaringan usaha. Disisi
lain perusahaan grup itu dianggap diperlukan untuk mempercepat proses pembangunan
perekonomian dalam suatu negara. Hubungan-hubungan yang ada diantara perusahaan
anggota grup dapat diartikan sebagai hubungan antara badan-badan hokum yang ada
didalam suatu grup tersebut; yaitu badan hukum dengan bentuk Perseroan Terbatas.
Hubungan itu dapat terjadi antara lain karena adanya keterkaitan kepemilikan yang banyak
atau sedikit. Mempunyai keterikatan yang erat baik satu sama lain; dalam kebijakan
menjalankan usaha maupun dalam hal pengaturan keuangan dan hubungan
organisasi.Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa perusahaan yang berada dibawah satu
pimpinan sentral atau pengurusan bersama dikelola dengan gaya dan pola yang sama.[1]
Di Indonesia istilah perusahaan kelompok lebih dikenal dengan konglomerasi. Kata
konglomerasi berasal dari kalimat bahasa inggris yaitu conglomerate. Menurut Black Law
Dictionary pengertian conglomerate berarti "a corporation that owns unrelated enterprises in
wide variety of industry".[2] Dari pengertian tersebut bisa disimpulkan bahwa konglomerasi
atau perusahaan kelompok merupakan perusahaan yang memiliki hubungan yang berbeda
dengan perusahaan-perusahaan dalam beragam jenis industri. Di Indonesia selain dengan
istilah konglomerasi, juga dikenal dengan perusahaan kelompok, grup perusahaan, atau
konsern, yang mana terjemahan dari bahasa Belanda yaitu concern.
Memang harus diakui perusahaan kelompok kini sudah banyak beredar di sekitar kita
karena hampir semua negara di dunia melakukan kegiatan bisnis ini baik di negara maju
ataupun negara berkembang. Contohnya saja, Indonesia memiliki perusahaan kelompok
seperti Perusahaan Semen Indonesia sebagai induk perusahaan yang memiliki banyak
anak perusahaan seperti PT Semen Padang, PT Semen Gresik, PT Semen Tonasa, dan
Thang Long Cement Vietnam dan Holding Company BUMN perkebunan Pemerintah melalui
Kantor Menneg BUMN telah membuat perencanaan akan adanya penggabungan usaha PT
Perkebunan Nusantara I (PTPNI) sampai PT Perkebunan Nusantara XIV (PTPN XIV)
menjadi dua perusahaan induk yakni holding PTPN Barat dan PTPN Timur, namun program
yang direncanakan diharapkan dapat terealisasi secepatnya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Holding Company?
2. Bagaimana Prosedur pembentukan Holding Company?
3. Apa saja keuntungan dan kerugian Holding Company?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari Holding Company
2. Mengetahui prosedur pembentukan Holding Company
3. Mengetahui keuntungan dan kerugian Holding Company
1.4 Manfaat
Secara teoritis makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai apa yang
dimaksud dengan perusahaan grup (holding company) dan melihat efektivitas adanya
konstruksi perusahaan grup di Indonesia terkait apakah keberadaannya dapat memberikan
manfaat dan kemajua bagi masyarakat secara umum.

Bab II Pembahasan
2.1 Pengertian
Apa yang dimaksud dengan holding company atau disebut juga Perusahaan Induk dalam
bahasa Indonesia, adalah suatu perusahaan yang bertujuan untuk memiliki saham dalam
satu atau lebih perusahaan lain dan dapat mengendalikan semua jalannya proses usaha
pada setiap badan usaha yang telah dikuasai sahamnya. Dengan melakukan
pengelompokan perusahaan ke dalam induk perusahaan, diharapkan tercapainya tujuan
peningkatan atau penciptaan nilai pasar perusahaan (market value creation) berdasarkan
lini bisnis perusahaan.Perusahaan Induk sering juga disebut dengan Holding Company,
parent company, atau Controlling Company. Biasanya (walaupun tidak selamanya), suatu
Perusahaan Induk memiliki banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang-bidang bisnis
yang sangat berbeda-beda.[3] Sedangkan perusahaan-perusahaan yang manajemen dan
operasionalnya dikendalikan oleh perusahaan induk disebut dengan sebagai Perusahaan
Anak (Subsidiary Company). Hubungan antara perusahaan induk dan perusahaan anak
disebut Hubungan Affiliasi. Perusahaan anak merupakan unit perusahaan yang terpisah dan
mandiri secara yuridis dari perusahaan induk.
Dalam dunia bisnis, kehadiran holding company merupakan sesuatu hal yang lumrah,
mengingat banyak perusahaan yang telah melakukan kegiatan bisnis yang sudah
sedemikian besar dengan berbagai garapan kegiatan, sehingga perusahaan itu perlu
dipecah-pecah menurut penggolongan bisnisnya. Namun dalam pelaksanaan kegiatan
bisnis yang dipecah-pecah tersebut, yang masing-masing akan menjadi perseroan terbatas
yang mandiri masih dalam kepemilikan yang sama dengan pengontrolan yang masih
tersentralisasi dalam batas-batas tertentu; artinya walaupun perusahaan tersebut telah
dipecah-pecah dan menjadi perseroan terbatas tersendiri; tidak otomatis terpisah mutlak
dari perusahaan holding.
Holding Company berfungsi sebagai perusahaan induk yang berperan merencanakan,
mengkoordinasikan, mengkonsolidasikan, mengembangkan, serta mengendalikan dengan
tujuan untuk mengoptimalkan kinerja perusahaan secara keseluruhan, termasuk anak
perusahaan dan juga afiliasi-afiliasinya. Penggabungan badan usaha dalam bentuk Holding
Company pada umumnya merupakan cara yang dianggap lebih menguntungkan, dibanding
dengan cara memperluas perusahaan dengan cara ekpansi investasi. Karena dengan
pengabungan perusahaan ini akan diperoleh kepastian mengenai: Daerah pemasaran,
sumber bahan baku atau penghematan biaya melalui penggunaan fasilitas dan sarana yang
lebih ekonomis dan efisien (Hadori yunus;1990).

Ciri- ciri Holding company adalah:


1. Terdiri daripada dua orang atau lebih.
2. Ada kerjasama.
3. Ada komunikasi antar satu anggota dengan yang lain.
4. Ada tujuan yang ingin dicapai.
5. Memiliki induk perusahaan yaitu holding company itu sendiri.
6. Memiliki anak perusahaan, yaitu badan- badan usaha yang dikuasainya.
7. Menyerahkan pengelolaan bisnis yang dimiliki kepada manajemen yang terpisah dari
manajemen holding.
8. Menguasai mayoritas saham dari masing-masing saham di anak perusahaan holding
serta mengendalikan semua proses bisnis dari masing-masing anak perusahaan tersebut
yang telah dikuasai sahamnya.
9. Setiap anak perusahaan holding memiliki line bisnis yang berbeda-beda. Yang di mana
hubungan antara induk perusahaan dengan anak perusahaan di sebut hubungan affiliasi.
10. Membeli dan menguasai sebagian besar saham dari beberapa badan usaha lain.
11. Sumber pendapatan utama bagi Holding Company (Peusahaan Induk) adalah
pendapatan deviden yang diperoleh dari saham-saham yang dimilikinya.
12. Kekayaan holding company diperoleh dari saham saham dari masing masing
badanusaha yang dikuasainya.

Sejalan dengan tujuan pembentukan Holding, maka program ini akan memberikan manfaat
sebagai berikut:
1. Mendorong proses penciptaan nilai , market value creation dan value enhancement.
2. Mensubstitusi defisiensi manajemen di anak-
anak perusahaan.
3. Mengkoordinasikan langkah agar dapat akses
ke pasar internasional.
4. Mencari sumber pendanaan yang lebih murah.
5. Mengalokasikan kapital dan melakukan
investasi yang strategis.
6. Mengembangkan kemampuan manajemen
puncak melalui cross-fertilization.

Terdapat dua model pengendalian perusahaan grup ditinjau dari kegiatan usaha induk
perusahaannya, yakni investment holding company dan operating holding company. Yang
menurut penjelasannya investment holding company hanya sebatas menanamkan
sahamnya pada suatu perusahaan tanpa melakukan kegiatan pendukung ataupun kegiatan
operasional, sedangkan operating holding company yaitu induk perusahaan menjalankan
kegiatan usaha atau mengendalikan anak perusahaan.[4]
Pengembangan bisnis melalui mekanisme perusahaan grup kini telah semakin berkembang
secara pesat. Perusahaan grup dianggap sebagai bentuk usaha yang paling mampu
memenuhi kebutuhan kegiatan usaha berskala besar dan memiliki lini usaha yang
terdiversifikasi.[5]
Secara umum ada dua alasan utama pembentukan atau pengembangan perusahaan grup:
1. Perintah peraturan perundang-undangan, berimplikasi kepada terbentuknya
perusahaan grup biasanya melibatkan kepentingan ekonomi pengelolaan negara/daerah
dari badan usaha milik Negara/daerah. Peraturan peeundang-undangan ini memuat
ketentuan yang didorong oleh kepentingan bisnis dari penyertaan modal pemerintah serta
meningkatkan efisiensi ataupun daya saing badan usaha yang bersangkutan.
2. Respons pelaku usaha terhadap escape claused dalam peraturan peeundang-
undangan. Peraturan petundang-undangan ini biasanya bersifat sektoral yang hanya
mengatur sektor usaha atau industri kecil saja, pembentukannya disebabkan oleh adanya
respons pelaku usaha pada suatu sektor usaha atau industri.[6]
2.2 Klasifikasi Perusahaan Induk
Variasi hubungan hukum antara perusahaan induk dengan anak perusahaan juga terlihat
dari terdapatnya klasifikasi perusahaan induk. Klasifikasi perusahaan induk tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan berbagai criteria seperti tinjauan dari keterlibatannya dalam
berbisnis, keterlibatannya dalam hal pengambilan keputusan, dan keterlibatan dalam hal
equity.[7]
Sedangkan menurut Munir Fuady, klasifikasi perusahaan induk dapat dibagi dalam dalam 2
kriteria, yaitu ditinjau dari keterlibatannya dalam berbisnis, dan ditinjau dalam hal
pengambilan keputusan. Klasifikasi kriteria dari perusahaan induk diterangkan lebih lanjut
sebagai berikut:
1. Ditinjau dari segi keterlibatan perusahaan induk dalam berbisnis.
Apabila dipakai sebagai kriterianya berupa keterlibatan perusahaan induk dalam berbisnis
sendiri (tidak lewat anak perusahaannya) maka perusahaan induk dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
a) Perusahaan induk semata-mata.
Jenis perusahaan induk semata-mata ini secara de facto tidak melakukan bisnis sendiri
dalam praktek, terlepas dari bagaimana pengaturannya dalam anggaran dasarnya. Sebab
jarang ada anggaran dasar perusahaan yang menyebutkan bahwa maksud dan tujuan
perusahaan semata-mata menjadi perusahaan induk. Jadi perusahaan induk semata-mata
ini sebenarnya memang dimaksudkan hanya untuk memegang saham dan mengontrol anak
perusahaannya itu.
b) Perusahaan induk beroperasi.
Berbeda dengan perusahaan induk semata-mata, perusahaan induk beroperasi disamping
bertugas memegang saham dan mengontrol anak perusahaan, juga melakukan bisnis
sendiri. Biasanya perusahaan induk beroperasi memang sedari awal, sebelum menjadi
perusahaan induk sudah terlebih dahulu aktif berbisnis sendiri.
2. Ditinjau dari keterlibatan dalam pengambilan keputusan.
Apabila dilihat dari faktor sejauh mana perusahaan induk ikut terlibat dalam pengambilan
keputusan oleh anak perusahaan, maka perusahaan induk dapat dibagi dalam kategori:
1) Perusahaan induk investasi. Dalam hal ini, tujuan dari perusahaan induk investasi
memiliki saham pada perusahaan anak semata-mata hanya untuk investasi, tanpa perlu
mencampuri soal manajemen dari perusahaan anak. Karena itu, kewenangan mengelola
bisnis sepenuhnya atau sebagian besar berada pada perusahaan anak.
Biasanya dalam praktek eksistensi dari perusahaan induk investasi disebabkan karena
faktor-faktor sebagai berikut:
Perusahaan induk tidak mempunyai kemauan atau kemampuan atau pengalaman
atau pengetahuan terhadap bisnis anak perusahaannya.
Perusahaan induk hanya sebagai pemegang saham minoritas pada anak perusahaan.
Mitra usaha dalam perusahaan anak lebih mampu atau lebih terkenal dalam bidang
bisnisnya.
2) Perusahaan induk manajemen. Berbeda dengan perusahaan induk investasi. pada
perusahaan induk manajemen, keterlibatannya pada perusahaan anaknya tidak hanya
sebagai pemegang saham pasif semata-mata. Tetapi turut serta dan mencampuri atau
setidak-tidaknya memonitor terhadap pengambilan keputusan bisnis dari perusahaan anak.
[8]

Beberapa pola yang menyebabkan adanya keterlibatan perusahaan holding dalam


mengambil keputusan pada anak perusahaan:
Operasional hak veto
Ikut serta dalam dewan direksi secara langsung
Ikut serta dalam dewan komisaris
Ikut serta dalam dewan direksi/komisaris secara tidak langsung
Ikut serta tanpa ikatan yuridis-yuridis. Ditinjau dari keterlibatan equity:
1. Perusahaan holding afiliasi : mempunyai saham tidak sampai 51%
2. Perusahaan holding subsidiari : mempunyai saham 51% tetapi tetap kompetitif
dibandingkan dengan pemegang saham lainnya.
2.3 Proses Pembentukan Holding Company
Secara Umum Proses pembentukan Holding Company dapat dilakukan dengan tiga
prosedur, yaitu:
1. Prosedur residu. Dalam hal ini perusahaan asal dipecah pecah sesuai masing masing
sektor usaha. Perusahaan yang dipecah pecah tersebut telah menjadi perusahaan yang
mandiri, sementara sisanya (residu) dari perusahaan asal dikonversi menjadi perusahaan
holding, yang juga memegang saham pada perusahaan pecahan tersebut dan perusahaan-
perusahaan lainnya jika ada.
2. Prosedur penuh. Prosedur penuh ini biasanya dilakukan jika sebelumnya tidak terlalu
banyak terjadi pemecahan atau pemandirian perusahaan, tetapi masing-masing perusahaan
dengan kepemilikan yang sama atau bersama hubungan saling terpencar-pencar, tanpa
terkonsentrasi dalam suatu perusahaan induk. Dalam hal ini, yang menjadi perusahaan
induk bukan sisa dari perusahaan asal seperti pada prosedur residu, tetapi perusahaan
penuh dan mandiri. Perusahaan mandiri calon perusahaan induk ini dapat berupa:
a. Dibentuk perusahaan baru.
b. Diambil salah satu perusahaan dari perusahaan yang sudah ada tetapi masih dalam
kepemilikan yang sama atau berhubungan.
c. Diakuisisi perusahaan yang lain yang sudah terlebih dahulu ada, tetapi dengan
kepemilikan yang berlainan dan mempunyai keterkaitan satu sama lain.
3. Prosedur terprogram. Dalam prosedur ini pembentukan perusahaan holding telah
direncanakan sejak awal memulai bisnis. Karenanya, perusahaan yang pertama sekali
didirikan dalam groupnya adalah perusahaan holding. Kemudian untuk setiap bisnis yang
dilakukan, akan dibentuk atau diakuisisi perusahaan lain. Dimana perusahaan holding
sebagai pemegang saham biasanya bersama-sama dengan pihak lain sebagai partner
bisnis.

Apabila dilihat dari segi usaha variasi usahanya, suatu grup usaha konglomerat dapat
digolong-golongkan kedalam kategori sebagai berikut :
1) Grup usaha vertical. Dalam grup ini, jenis-jenis usaha dari masing-masing perusahaan
satu sama lain masih tergolong serupa. Hanya mata rantainya saja yang berbeda. Misalnya
ada anak perusahaan yang menyediakan bahan baku, ada yang memproduksi bahan
setengah jadi, bahan jadi, bahkan ada pula yang bergerak dibidang eksport-import. Jadi,
suatu kelompok usaha menguasai suatu jenis produksi dari hulu ke hilir.
2) Grup usaha horizontal. Dalam grup usaha horizontal, bisnis dari masing-masing anak
perusahaan tidak ada kaitannya antara yang satu dengan yang lainnya.
3) Grup usaha kombinasi. Ada juga grup usaha, dimana jika dilihat dari segi bisnis anak
perusahaannya, ternyata ada yang terkait dalam suatu mata rantai produksi (dari hulu ke
hilir), disamping ada juga anak perusahaan yang bidang bisnisnya terlepas dari satu sama
lain. Sehingga dalam grup tersebut terdapat kombinasi antara grup vertical dengan grup
horizontal.
2.4 Manajemen Operasi Holding Company:
Untuk menjadi holding company satu perusahaan harus memiliki proporsi saham
perusahaan lain yang cukup besar. Perusahaan lain yang berada di bawah pengendalian
holding company disebut dengan anak perusahaan atau subsidiary company. Satu holding
company dapat menguasai beberapa perusahaan lain dalam industry yang berbeda.
Sebagai contoh satu holding company memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak
di bidang otomotif, real estate, kimia dan obat-obatan, perkebunan, dan pertanian.
2.5 Tanggung Jawab Induk Perusahaan Terhadap Perikatan Anak Perusahaan
Sebuah Perusahaan dalam menjalankan usahanya sudah pasti berhubungan dengan pihak
lain yaitu pihak ketiga. Perusahaan melakukan transaksi jual beli, kredit dari perbankan,
sewa-menyewa dan lain sebagainya. Biasanya kalau transaksinya dapat berjalan dengan
lancar atau tidak ada masalah kondisinya akan aman-aman saja, namun bila terjadi
sebaliknya terjadi masalah misalnya perusahaan melakukan wanprestasi maka yang dicari
adalah yang menyangkut tanggung jawab. Berhubung yang melakukan transaksi adalah
suatu Perusahaan maka mengenai masalah tanggung jawab dipengaruhi oleh statusnya,
apakah berstatus badan hukum atau tidak. Adanya perbedaan status tersebut berpengaruh
pada siapa yang harus bertanggung jawab.[9]
2.6 Keuntungan Dan Kerugian Dari Perusahaaan Induk
Eksistensi suatu grup usaha konglomerat cenderung untuk mempunyai perusahaan induk
(holding), tetapi keberadaan dari perusahaan induk itu sendiri punya keuntungan dan
kerugian. Di antara keuntungan mempunyai suatu prerusahaan induk dalam suatu kelompok
usaha adalah sebagai berikut:
Kemandirian Risiko
Karena masing-masing anak perusahaan merupakan badan hukum berdiri sendiri yang
secara legal terpisah satu sama lain, maka pada prinsipnya setiap kewajiban, risiko dan
klaim dari pihak ketiga terhadap suatu anak perusahaan tidak dapat dibebankan kepada
anak perusahaan yang lain, walaupun masing-masing anak perusahaan tersebut masih
dalam suatu grup usaha, atau dimiliki oleh pihak yang sama. Namun demikian, prinsip
kemandirian anak perusahaan ini dalam hal dapat diterobos. Kadang kala perusahaan induk
dapat melakukan kotrol yang lebih besar terhadap anak perusahaan, sungguh pun misal
nya memiliki saham di anak perusahaan kurang dari 50%.
Hak Pengawasan Yang Lebih Besar
Jika perusahaan induk diberikan hak veto. Hal seperti ini dapat terjadi antara lain dalam hal-
hal sebagai berikut:
Eksistensi perusahaan induk dalam anak perusahaaan sangat diharapkan oleh anak
perusahaan. Bisa jadi disebabkan karena perusahaan holding dan/atau pemiliknya sudah
sangat terkenal.
Jika pemegang saham lain selain perusahaan induk tersebut banyak dan terpisah-
terpisah.
Pengotrolan Yang Lebih Mudah Dan Efektif
Perusahaan induk dapat mengontrol seluruh anak perusahaan dalam suatu grup usaha,
sehingga kaitannya lebih mudah diawasi.

Operasional Yang Lebih Efisien


Dapat terjadi bahwa atas prakarsa dari perusahaan induk, masing-masing anak perusahaan
dapat saling bekerja sama, saling membantu sama lain. Misalnya promosi bersama,
pelatihan bersama, saling meminjam sumber daya manusia, dan sebagainya. Disamping itu,
kegiatan masing-masing anak perusahaan tidak overlapping.[10]
Karena masing-masing anak perusahaan lebih besar dan lebih benefid dalam suatu
kesatuan dibandingkan jika masing-masing lepas satu sama lain, maka kemungkinan
mendapatkan dana oleh anak perusahaan dari pihak ketiga relative lebih besar.[11]
Keakuratan Keputusan Yang Diambil
Karena keputusan diambil secara central oleh induk perusahaan lain, maka tingkat akurasi
keputusan yang diambil dapat lebih terjamin dan lebih prospektif. Hal ini disebabkan,
disamping karena staf manajemen perusahaan induk mempunyai kesempatan untuk
mengetahui persoalan anak, tetapi juga staf manajemen perusahaan induk mempunyai
kesempatan untuk mengetahui persoalan bisnis lebih banyak, karena dapat
memperbandingkan dengan anak perusahaan lain dalam grup yang sama, bahkan mungkin
belajar dari pengalaman anak perusahaan lain tersebut.
Disamping keuntungan dari eksistensi perusahaan induk dalam suatu grup usaha
konglomerat, terdapat pula kerugian-kerugian. Kerugian-kerugian tersebut antara lain dapat
disebutkan sebagai berikut:
1) Pajak ganda.
Dengan adanya perusahaan induk, maka terjadilah pembayaran pajak berganda. Hal ini
disebabkan karena adanya kemungkinan pemungutan pajak ketika deviden diberikan
kepada perusahaan induk sebagai pemegang saham. Kecuali perusahaan induk merupakan
perusahaan modal ventura, yang memegang saham sebagai penanaman modal pada
investee company. Dalam hal ini Undang-Undang pajak yang berlaku sekarang tidak
memberlakukan pajak ganda.[12]
2) Lebih birokratis
Karena harus diputuskan oleh manajemen perusahaan induk, maka mata rantai
pengambilan keputusan akan menjadi lebih panjang dan lamban. Kecuali pada perusahaan
induk investasi, yang memang tidak ikut terlibat dalam manajemen perusahaan induk.
3) Management one man show
Keberadaan perusahaan induk dapat lebih memberikan kemungkinan akan adanya
management one man show oleh perusahaan induk. Ini akan berbahaya, terlebih lagi
terhadap kelompok usaha yang horizontal, atau model kombinasi, dimana kegiatan
bisnisnya sangat beraneka ragam. Sehingga, masing-masing bidang bisnis tersebut
membutuhkan skill dan pengambilan keputusan sendiri-sendiri yang berbeda-beda satu
sama lain.
4) Conglomerat game.
Terdapat kecenderungan terjadinya conglomerate game, yang dalam hal ini berkonotasi
negative, seperti manipulasi pelaporan income perusahaan, transfer pricing, atau
membesar-besarkan informasi tertentu.
5) Penutupan usaha.
Terdapat kecenderungan yang lebih besar untuk menutup usaha dari satu atau lebih anak
perusahaan jika usaha tersebut mengalami kerugian usaha.
6) Resiko usaha.
Membesarkan resiko kerugian seiring dengan membesarnya keuntungan perusahaan.
Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan
Holding company atau disebut juga Perusahaan Induk dalam bahasa Indonesia, adalah
suatu perusahaan yang bertujuan untuk memiliki saham dalam satu atau lebih perusahaan
lain dan dapat mengendalikan semua jalannya proses usaha pada setiap badan usaha yang
telah dikuasai sahamnya. Dengan melakukan pengelompokan perusahaan ke dalam induk
perusahaan, diharapkan tercapainya tujuan peningkatan atau penciptaan nilai pasar
perusahaan (market value creation) berdasarkan lini bisnis perusahaan serta agar pihak
pemilik saham mendapatkan keuntungan dari dividen sebesar-besarnya.
3.2 Saran
Sebaiknya dibuat suatu peraturan khusus mengenai perusahaan kelompok baik bagi pihak
swasta maupun BUMN, yang mengatur mengenai hak dan kewajiban dari perusahaan induk
dan perusahaan anak. Dengan adanya kejelasan mengenai hak dan kewajiban tersebut,
maka pihak ketiga baik pemegang saham minoritas, karyawan, maupun kreditur akan
terlindungi hak-haknya, hal ini juga dapat mencegah bentuknya praktek monopoli di bidang
usaha.

Daftar Pustaka

Emmy Simanjuntak, 1997, Seri Hukum Dagang; Perusahaan Krlompok (group


company/concern). Jogyakarta: Univ. Gajah Mada.
Munir Fuady, 1999, Hukum Perusahaan dalam Paradigma Hukum Bisnis. Bandung: PT.
Citra
Aditya Bakti.

Gatot Supramono, 2007, Kedudukan Perusahaan sebagai subjek dalam gugatan perdata di
Pengadilan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

yatwanm.blogspot.com/2012/10/holding-company-a.html?m=1
diakses tanggal 30 Maret 2015

alipur250672.tumblr.com/post/78812128867/perusahaan-induk-1-holding-company
diakses tanggal 30 Maret 2015

andyiqbal21.blogspot.com/2012/10/holding-company.html?m=1
diakses tanggal 30 Maret 2015 diakses tanggal 30 Maret 2015

lawandbeauty.blogspot.com/2013/07/tanggung-jawab-hukum-dalam-kontruksi.html?
m=1diakses tanggal 30 Maret 2015

www.sumberajaran.com/2013/01/definisi-serta-kelebihan-dan-kekurangan.html?m=1
diakses tanggal 30 Maret 2015

intermezzocafe.blogspot.com/2012/10/holding-company.html?m=1
diakses tanggal 30 Maret 2015

1jedha.blogspot.com/2012/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html?m=1
diakses tanggal 30 Maret 2015

blogingria.blogspot.com/2011/12/holding-company.html?m=1
diakses tanggal 30 Maret 2015

tnrlawfirm.blogspot.com/2012/07/definisi-holding-company-is-company.html?m=1
diakses tanggal 30 Maret 2015
https://ibelboyz.wordpress.com/2011/12/14/bahan-hukum-holding-company/
diakses tanggal 30 Maret 2015

http://www.infobanknews.com/2015/01/rupslb-semen-indonesia-direktur-utama-pt-semen-
indonesia-persero-tbk-suparni-tengah-bertumpu-tangan-bersama-direksi-baru-usai-rapat-
umum-pemegang-saham-luar-biasa-rupslb-di-jakarta-jumat-23/
diakses tanggal 1 April 2015

anggraenimercy.blogspot.com/2014/02/makalah-teori-organisasi-umum1.html?m=1
diakses tanggal 1 April 2015

[1] Emmy Simanjuntak, 1997, Seri Hukum Dagang, Perusahaan Kelompok (group
company/concern), Jogyakarta: Universitas Gajah Mada, hal. 5.
[2] Abriget, 2000, Blacks Law Dictionary 7th St. Paull Minnesotta, West Publishing Co, hal.
242
[3] Ibid
[4] Sulistyowati. Aspek Hukum dan Realita Bisnis Perusahaan Grup di Indonesia. (Jakarta:
Erlangga. 2010) hal. 25
[5] Sulistyowati. Aspek Hukum dan Realita Bisnis Perusahaan Grup di Indonesia. (Jakarta:
Erlangga. 2010) hal. 64
[6] Sulistyowati. Aspek Hukum dan Realita Bisnis Perusahaan Grup di Indonesia. (Jakarta:
Erlangga. 2010) hal. 65
[7] Munir Fuady, 1999, Hukum Perusahaan dalam Paradigma Hukum Bisnis. Bandung: PT.
Citra aAditya Bakti, hal. 95
[8] Munir Fuady, Hukum Perusahaan. Op. Cit, hal. 95-97
[9] HMU Fattowi Assari, Peningkatan Kinerja BUMD Melalui Pengembangan Holding
Company, Tesis Fakultas Sosial Politik Program S2 Univ. Indonesia, Jakarta, 2000, hal. 24
[10] Ibid
[11] Ibid
[12] Gatot Supramono, S.H, M. Hum, Kedudukan Perusahaan sebagai subjek dalam
gugatan perdata di Pengadilan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2007) hal. 87
Diposkan oleh Kamalinda Kamrida di 8/02/2015 01:22:00 AM