Anda di halaman 1dari 11

Tatkala takbir bergema di malam hari raya, maka selesailah sudah sebulan berpuasa.

Datangnya Syawal membawa kemenangan bagi mereka yang berhasil menunaikan ibadah
puasa sepanjang Ramadan. Ia merupakan lambang kemenangan umat Islam, hasil dari
peperangan melawan musuh dalam jiwa yang terbesar yaitu hawa nafsu.

Inilah dia hari bagi umat Islam melaksanakan konsep idul fitri yang dimaksudkan kembali
kepada fitrah. Dengan tibanya idul fitri, umat Islam seolah-olah baru kembali dengan hati dan
jiwa yang bersih. Bayangkanlah keadaan umat Islam ketika itu: keadaan baru kembali seperti
sehelai kain putih, bersih dan suci dari segala kotoran. Inilah keberhasilan dan kegembiraan
bagi mereka yang berjuang mendapatkan keridaan Allah. Fitrah tersebut haruslah dipelihara.
Kesuciannya tidak harus dicemari, harus dijadikan dorongan untuk meneruskan perjuangan
dalam melaksanakan ibadah dan meraih ganjaran pahala lebih besar pada bulan-bulan
seterusnya.

Datangnya Syawal menandakan tibanya satu lagi peluang besar bagi umat Islam untuk
melipat gandakan pahala yang diraih sebelumnya. Di antara amalan-amalan yang dapat
dilaksanakan adalah seperti:

Bertakbir Mengagungkan Kebesaran Allah

Jika dalam bulan Ramadan umat Islam diperintahkan berpuasa dan dijanjikan pengampunan
dan pembebasan dari siksaan api neraka, maka apabila tiba Hari Raya, Allah memerintahkan
hamba-Nya agar bertakbir mengagungkan kebesaranNya, serta bersyukur atas segala nikmat
yang telah dianugerahkan.

Kemenangan yang diraih itu tidak akan tercapai kecuali dengan pertolongan Allah. Maka
sudah sewajarnya hambaNya memperbanyakkan zikir, takbir, tahmid dan tasbih kepada
Tuhannya serta bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.

Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 185 yang artinya : Dan agar kamu
membesarkan Allah atas apa-apa yang telah Dia beri petunjuk kepadamu, dan agar kamu
bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan.

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Selain dari bertakbir, bertahmid dan bertasbih umat Islam dianjurkan agar berpuasa enam hari
di bulan Sayawal. Rasulullah s.a.w. bersabda yang artinya : Barangsiapa berpuasa di bulan
Ramadan kemudian ia berpuasa pula enam hari pada bulan Syawal adalah seperti berpuasa
sepanjang masa. (Hadis Riwayat Muslim)
Hadis tersebut menjelaskan bahawa salah satu keistimewaan di bulan Syawal ialah peluang
berharga untuk orang-orang yang mengejar nikmat dan kemurahan Allah sepanjang hidup
yaitu puasa enam hari.

Ganjaran pahala diberikan oleh Allah kepada mereka yang berpuasa enam di bulan ini seperti
ganjaran pahala kepada yang berpuasa sepanjang masa. Ganjaran yang begitu tinggi nilainya
diberikan oleh Allah untuk hambaNya. Ini adalah setimpal dengan keikhlasan umat Islam
dalam melaksanakannya, dengan memperhatikan dimana kebanyakan manusia tidak dapat
melakukannya disebabkan keadaan sekeliling mereka lebih menguji keimanan seseorang
yang menunaikan puasa di waktu kemeriahan Hari Raya.
Amalan Setelah Ramadhan (1)

Kita hanya bisa memanjatkan puji syukur kepada Allah atas nikmat yang tak terhingga ini.
Allah Yang Maha Memberi Nikmat telah memberikan kesempatan untuk merasakan sejuknya
beribadah puasa. Sungguh suatu kebanggaan, kita bisa melaksanakan ibadah yang mulia ini.
Janji yang pasti diperoleh oleh orang yang berpuasa jika dia menjalankan puasa dengan dasar
iman kepada Allah dan mengharapkan ganjarannya telah disebutkan oleh Nabi shallallahu
alaihi wa sallam dalam hadits berikut,

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari
Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni. (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

Sungguh sangat menyayangkan sekali orang yang meninggalkan amalan yang mulia ini.
Begitu sering kami melihat orang yang mengaku muslim namun di siang hari bulan
Ramadhan dia makan terang-terangan atau dia mengganggu saudaranya dengan asap rokok.
Sungguh sangat merugi sekali orang yang meninggalkan ibadah ini, padahal amalan ini
adalah bagian dari rukun Islam yang dapat menegakkan bangunan Islam dan para ulama
sepakat tentang wajibnya melaksanakan rukun Islam yang satu ini.

Setelah kita melalui bulan Ramadhan, tentu saja kita masih perlu untuk beramal sebagai bekal
kita nanti sebelum dijemput oleh malaikat maut. Pada tulisan kali ini, kami akan sedikit
mengulas mengenai beberapa amalan yang sebaiknya dilakukan seorang muslim setelah
menunaikan puasa Ramadhan. Semoga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Tetap Menjaga Shalat Lima Waktu dan Shalat Jamaah

Bulan Ramadhan sungguh sangat berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Orang yang dulu
malas ke masjid atau sering bolong mengerjakan shalat lima waktu, di bulan Ramadhan
begitu terlihat bersemangat melaksanakan amalan shalat ini. Itulah di antara tanda dibukanya
pintu surga dan ditutupnya pintu neraka ketika itu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,

Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun
dibelenggu. (HR. Muslim no. 1079)

Namun, amalan shalat ini hendaklah tidak ditinggalkan begitu saja. Kalau memang di bulan
Ramadhan, kita rutin menjaga shalat lima waktu maka hendaklah amalan tersebut tetap dijaga
di luar Ramadhan, begitu pula dengan shalat jamaah di masjid khusus untuk kaum pria.

Lihatlah salah satu keutamaan orang yang menjaga shalat lima waktu berikut. Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,




Allah azza wa jalla berfirman, Aku wajibkan bagi umatmu shalat lima waktu. Aku berjanji
pada diriku bahwa barangsiapa yang menjaganya pada waktunya, Aku akan
memasukkannya ke dalam surga. Adapun orang yang tidak menjaganya, maka aku tidak
memiliki janji padanya. (HR. Sunan Ibnu Majah no. 1403. Syaikh Al Albani dalam Shohih
wa Dhoif Sunan Ibnu Majah mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Shalat jamaah di masjid juga memiliki keutamaan yang sangat mulia dibanding shalat
sendirian. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Shalat jamaah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat. (HR. Bukhari no.
645 dan Muslim no. 650)

Namun yang sangat kami sayangkan, amalan shalat ini sering dilalaikan oleh sebagian kaum
muslimin. Bahkan mulai pada hari raya ied (1 Syawal) saja, sebagian orang sudah mulai
meninggalkan shalat karena sibuk silaturahmi atau berekreasi. Begitu juga seringkali kita
lihat sebagian saudara kita karena kebiasaan bangun kesiangan, dia meninggalkan shalat
shubuh begitu saja. Padahal shalat shubuh inilah yang paling berat dikerjakan oleh orang
munafik sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

Tidak ada shalat yang paling berat dilakukan oleh orang munafik kecuali shalat Shubuh
dan shalat Isya. Seandainya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan
mendatanginya walaupun sambil merangkak. (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

Saudaraku, ingatlah ada ancaman keras dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bagi orang
yang meninggalkan shalat. Dari Tsauban radhiyallahu anhu -bekas budak Nabi shallallahu
alaihi wa sallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila
dia meninggalkannya, maka dia telah melakukan kesyirikan. (HR. Ath Thobariy dengan
sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At
Tarhib no. 566)

Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu


alaihi wa sallam bersabda,

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa
meninggalkannya maka dia telah kafir. (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah.
Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574)

Begitu pula shalat jamaah di masjid, seharusnya setiap muslim khususnya kaum pria-
menjaga amalan ini. Shalat jamaah mungkin kelihatan ramai di bulan Ramadhan saja.
Namun, ketika bulan Ramadhan berakhir, masjid sudah kelihatan sepi seperti sedia kala.
Memang dalam masalah apakah shalat jamaah itu wajib atau sunnah muakkad terjadi
perselisihan di antara para ulama. Namun berdasarkan dalil yang kuat, shalat jamaah
hukumnya adalah wajib (fardhu ain). Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits
dari Abu Hurairah di mana beliau radhiyallahu anhu berkata,

. - -
.
- -

. .

Seorang laki-laki buta mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu dia berkata,
Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki orang yang menuntunku ke masjid.
Kemudian pria ini meminta pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar diberi
keringanan untuk shalat di rumah. Pada mulanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam
memberi dia keringanan. Namun, tatkala dia mau berpaling, beliau shallallahu alaihi wa
sallam memanggil pria tersebut dan berkata, Apakah engkau mendengar adzan ketika
shalat? Pria buta tersebut menjawab, Iya. Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, Penuhilah panggilan tersebut. (HR. Muslim no. 653)

Lihatlah pria buta ini memiliki udzur (alasan) untuk tidak jamaah di masjid, namun Nabi
shallallahu alaihi wa sallam tidak memberikannya keringanan, dia tetap diwajibkan untuk
shalat jamaah di masjid. Padahal dia adalah pria yang buta, tidak ada penuntun yang
menemaninya, rumahnya juga jauh. Di Madinah juga banyak hewan buas dan banyak
pepohonan yang menghalangi jalan menuju masjid. Namun, lihatlah walaupun dengan
berbagai udzur ini karena pria buta ini mendengar adzan, dia tetap wajib jamaah di masjid.

Bagaimanakah kondisi kita yang lebih sehat dan berkemampuan? Tentu lebih wajib lagi
untuk berjamaah di masjid. Itulah dalil kuat yang menunjukkan wajibnya shalat jamaah di
masjid. Jika seseorang meninggalkan shalat jamaah dan shalat sendirian, dia berarti telah
berdosa karena meninggalkan shalat jamaah, namun shalat sendirian yang dia lakukan tetap
sah. Sedangkan bagi wanita berdasarkan kesepakatan kaum muslimin tidak wajib bagi
mereka jamaah di masjid bahkan lebih utama bagi wanita untuk mengerjakan shalat lima
waktu di rumahnya.

Memperbanyak Puasa Sunnah

Selain kita melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan, hendaklah kita menyempurnakannya
pula dengan melakukan amalan puasa sunnah. Di antara keutamaannya adalah disebutkan
dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut,

Maukah kutunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan?; Puasa adalah perisai, (HR.


Tirmidzi no. 2616. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Shohih wa Dhoif Sunan Abu Daud
bahwa hadits ini shohih)

Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di
akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di
akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Keutaman lain dari puasa sunah terdapat dalam
hadits Qudsi berikut.




Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah


sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk
pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada
penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia
gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.
Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon
perlindungan, pasti Aku akan melindunginya. (HR. Bukhari no. 2506)

Itulah di antara keutamaan seseorang melakukan amalan sunnah. Dia akan mendapatkan
kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan
dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya
doa. (Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad,
www.islamspirit.com)

Banyak puasa sunnah yang dapat dilakukan oleh seorang muslim setelah Ramadhan. Di bulan
Syawal, kita dapat menunaikan puasa enam hari Syawal. Juga setiap bulan Hijriyah kita dapat
berpuasa tiga hari dan lebih utama jika dilakukan pada ayyamul bid yaitu pada tanggal 13,
14, dan 15. Kita juga dapat melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Arofah (pada tanggal 9
Dzulhijah), puasa Asyura (pada tanggal 10 Muharram), dan banyak berpuasa di bulan
Syaban sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dan jika
ada yang punya kemampuan boleh juga melakukan puasa Daud yaitu sehari berpuasa dan
sehari tidak. Semoga Allah memudahkan kita melakukan amalan puasa sunnah ini.

Berpuasa Enam Hari di Bulan Syawal

Hendaklah di bulan Syawal ini, setiap muslim berusaha untuk menunaikan amalan yang satu
ini yaitu berpuasa enam hari di bulan Syawal. Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat
istimewa. Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari Abu
Ayyub Al Anshoriy, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal,
maka dia berpuasa seperti setahun penuh. (HR. Muslim no. 1164)

Pada hadits ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal
dan pendapat inilah yang dipilih oleh madzhab Syafii, Ahmad dan Abu Daud serta yang
sependapat dengan mereka. (Lihat Syarh An Nawawi ala Muslim, 8/56)

Bagaimana cara melakukan puasa ini? An Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan,
Para ulama madzhab Syafii mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa
syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan
atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa
syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.

Apa faedah melakukan puasa enam hari di bulan Syawal?


Ibnu Rojab rahimahullah menyebutkan beberapa faedah di antaranya:

1. Berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan akan menyempurnakan


ganjaran berpuasa setahun penuh.
2. Puasa Syawal dan puasa Syaban seperti halnya shalat rawatib qobliyah dan badiyah.
Amalan sunnah seperti ini akan menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada
dalam amalan wajib. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dalam amalan wajib.
Amalan sunnah inilah yang nanti akan menyempurnakannya.
3. Membiasakan berpuasa setelah puasa Ramadhan adalah tanda diterimanya amalan
puasa Ramadhan. Karena Allah Taala jika menerima amalan hamba, maka Dia akan
memberi taufik pada amalan sholih selanjutnya. Sebagaimana sebagian salaf
mengatakan, Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya.
Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan
selanjutnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula
orang yang melaksanakan kebaikan lalu dilanjutkan dengan melakukan kejelekan,
maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah
dilakukan.
4. Karena Allah telah memberi taufik dan menolong kita untuk melaksanakan puasa
Ramadhan serta berjanji mengampuni dosa kita yang telah lalu, maka hendaklah kita
mensyukuri hal ini dengan melaksanakan puasa setelah Ramadhan. Sebagaimana para
salaf dahulu, setelah malam harinya melaksanakan shalat malam, di siang harinya
mereka berpuasa sebagai rasa syukur pada Allah atas taufik yang diberikan.
(Disarikan dari Lathoif Al Maarif, 244, Asy Syamilah)

Sungguh sangat beruntung sekali jika kita dapat melaksanakan puasa enam hari di bulan
Syawal. Ini sungguh keutamaan yang luar biasa, saudaraku. Marilah kita melaksanakan puasa
tersebut demi mengharapkan rahmat dan ampunan Allah.

Penjelasan penting yang harus diperhatikan: Lebih baik bagi seseorang yang masih memiliki
qodho (tanggungan) puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa
Syawal. Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara
yang sunnah. Alasan lainnya adalah karena dalam hadits di atas, Nabi shallallahu alaihi wa
sallam mengatakan, Barangsiapa berpuasa ramadhan. Jadi apabila puasa ramadhannya
belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus
ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.
Apabila seseorang menunaikan puasa syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan
puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak
mendapatkan ganjaran puasa syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi shallallahu
alaihi wa sallam tadi, Barangsiapa berpuasa ramadhan. (Lihat Syarhul Mumthi, 3/89,
100)

-bersambung insya Allah-

Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.


Dimurojaah oleh: Ustadz Aris Munandar

PKS-Jaksel: Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu 'anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya
dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu
tahun. (HR. Muslim).
Filosofi pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal
menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh
kali lipatnya.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya :

1. Puasa enam hari di buian Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan
penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.

2. Puasa Syawal dan Sya'ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai
penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu
akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah.

Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di berbagai
riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan
ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan
menyempurnakannya.

3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan,


karena apabila Allah Ta'ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam
meningkatkan perbuatan baik setelahnya.

Sebagian orang bijak mengatakan: "Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada
sesudahnya." Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya
dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama.

Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang
buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

4. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas


dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari
Raya'ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah
'Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang
lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.

5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan
seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak
terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.

Sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan
Syawal, karena hal itu mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya.
Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal, dengan demikian ia telah melakukan
puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa sunnah serta sedekah yang
dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala pada bulan
Ramadhan adalah disyari'atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam
manfaat, di antaranya; ia sebagai pelengkap dari kekurangan yang terdapat pada fardhu,
merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada hamba-
Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapusnya dosa dan
dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam semoga tercurahkan
selalu ke haribaan Nabi, segenap keluarga dan sahabatnya.
Sumber: Panduan Ramadhan DPW PKS DKI Jakarta

Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa)


enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun. (HR.
Muslim).

Imam Ahmad dan An-Nasai, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu alaihi wasalllam
bersabda:
Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan
puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka
itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh. ( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan
Ibnu Hibban dalam Shahih mereka)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal,
maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. (HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata:
Salah satu sanad yang beliau miliki adalah shahih.)

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal
menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh
kali lipatnya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya :

1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan


pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.
2. Puasa Syawal dan Syaban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi
sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti
perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan
perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari
Nabi shallallahu alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa
fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak
sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan
menyempurnakannya.
3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa
Ramadhan, karena apabila Allah Taala menerima amal seorang hamba,
pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya.
Sebagian orang bijak mengatakan: Pahala amal kebaikan adalah kebaikan
yang ada sesudahnya. Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan
kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu
merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama.
Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu
diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal
yang pertama.
4. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan
maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan
akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya ldul Fitri yang merupakan
hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah Idul Fitri
merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada
nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.
Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba
atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya
adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah
menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok
orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat
pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka
puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun
sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Taala
berfirman:
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan
benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali
(An-Nahl: 92)
5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal
yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya
pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini,
selama ia masih hidup.

http://www.uin-malang.ac.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=1155:menangkap-makna-bulan-
syawal&catid=25:artikel-rektor
Menangkap Makna Bulan
Syawal
Jumat, 25 September 2009 00:00
Bulan Syawal sebagai kelanjutan dari Bulan Ramadhan, jika dilihat dari arti kata itu, yakni
peningkatan, rasanya menjadi sangat tepat. Setelah sebulan penuh kaum beriman menjalankan
ibadah puasa di Bulan Ramdhan, yang diharapkan dari ibadah itu agar meraih derajat taqwa,
maka dengan bersambung Bulan Syawal, maka makna itu terasa, ialah agar terjadi
peningkatan. Seolah-olah nama bulan ini mengingatkan bagi siapapun, bahwa seharusnya
setelah menjadi bertaqwa maka seseorang atau sekelompok orang harus menampakkan diri,
ada peningkatan kualitas hidupnya.

Setidak-tidaknya tatkala memasuki Bulan Syawal, ada harapan agar terjadi peningkatan
kualitas, ialah kualitas ketaqwaan bagi mereka yang berpuasa. Jika hal itu ingin dilihat secara
nyata, maka akhlak orang-orang yang telah berpuasa menjadi meningkat, tempat-tempat
ibadah semakin semarak karena jamahnya juga meningkat, orang-orang yang berkesusahan
menjadi bisa tersenyum, lantaran persoalan mereka terselesaikan oleh karena munculnya
banyak orang yang semakin sadar membayar infaq. Sehingga, memasuki Bulan Syawal
kehidupan menjadi semakin lebih baik dan damai, karena dihiasi oleh akhlaq yang mulia,
kedekatan dengan Allah, dan juga dengan sesama makhluk. Akhirnya Bulan Syawal menjadi
bulan yang sangat indah.

Namun sementara ini yang terjadi belum seindah itu. Bahkan beberapa hari terakhir yang
terdengar adalah berita-berita yang agak menyedihkan, misalnya terjadi kemacetan lalu lintas
karena padatnya kendaraan di jalan sebagai akibat banyaknya orang pulang dari mudik.
Bahkan juga besarnya jumlah kecelakaan di jalan hingga meninggal. Di Malang, misalnya,
terdapat sekeluarga, suami isteri dan empat anaknya, meninggal bersamaan akibat kecelakaan
di Tuban sepulang dari mudik.

Meninggal adalah sebuah kepastian, atau disebut taqdir. Tetapi peristiwa itu terkait dengan
hari raya idul fitri di Bulan Syawal. Sehingga, tidak mudah disalahkan jika kemudian muncul
pandangan yang mengatakan bahwa ternyata hari raya idul fitri, atau memasuki Bulan Syawal
tidak selalu menggembirakan. Hari-hari yang semestinya penuh dengan gembira dan bahagia,
ternyata justru sebaliknya, membawa duka. Sekalipun sesungguhnya tidak ada kejadian di
alam ini yang sia-sia, melainkan selalu saja ada hikmah di balik semua itu, baik yang
dirasakan menggembirakan maupun yang menyusahkan.

Selain itu, setelah hingar-bingar mudik usai, berbagai persoalan juga muncul, misalnya terjadi
semakin banyak urbanisasi sehingga jumlah penduduk kota meningkat. Hal itu disebabkan
karena sekembalinya dari mudik, tidak sedikit di antara mereka membawa serta keluarga atau
tetangga untuk mencari pekerjaan ke kota. Berita lainnya yang kurang menyenangkan,
terdapat beberapa PNS terkena sanksi, karena tidak bisa masuk kantor tepat pada hari yang
seharusnya sudah aktif kembali. Belum lagi peristiwa kecil dan sederhana lainnya, misalnya
uang belanja sementara keluarga, telah habis sebelum waktunya, karena digunakan membiayai
hari raya, termasuk mudik itu.

Pertanyaannya, lalu apa yang meningkat sebagaimana arti Syawal itu sendiri. Siapa dan apa
yang meningkat atau setidak-tidaknya teruntungkan. Seharusnya orang-orang yang baru saja
menjalankan ibadah puasa itu yang meningkat, ialah meningkat ketaqwaannya. Sebagai
gambarannya, sebagaimana dikemukakan di muka, masjid menjadi lebih ramai karena jumlah
jamahnya meningkat, orang berkekurangan atau fakir miskin menjadi tertolong dan
seterusnya. Namun yang demikian, ternyata juga tidak mudah terlihat. Bahkan tidak sedikit
tempat ibadah, tatkala Ramadhan lewat, maka menjadi sepi kembali. Sementara fenomena
lain, jangankan untuk berinfaq, sebatas untuk mencukupi kebutuhan hidup sebulan ke depan
belum tentu tertutupi. Inilah realitas yang kadang jauh berbeda dengan gambaran idealitasnya.

Pertanyaannya kemudian adalah, lalu siapa yang beruntung dan untung apa. Menjelang hari
raya tiba, biasanya juga terjadi semakin padatnya pengunjung pasar-pasar, mall, dan tempat
perbelanjaan lainnya. Banyak orang mempersiapkan hari raya dengan cara berbelanja lebih
banyak dari bulan atau hari biasa. Fenomena seperti itu menjadikan para pengusaha, pabrik-
pabrik, transportasi dan apa saja, pedagang dan lain-lain mendapatkan peningkatan
keuntungan. Pertanyaannya adalah siapakah para pengusaha dan pedagang besar itu, apakah
selalu dari orang-orang yang juga ikut berpuasa. Jawabnya, tentu tidak mesti demikian.

Orang-orang yang tidak berpuasa pun, karena jeli membaca peluang pasar, maka secara
ekonomis merekalah yang teruntungkan. Sebaliknya, banyak orang yang berpuasa, karena
tidak melihat keuntungan yang bersifat material ini, justru setelah usai bulan ramadhan, maka
secara ekonomis jangankan meningkat, sebaliknya justru mengalami defisit. Mereka yang
mengalami peningkatan secara ekonomis itu, adalah orang-orang yang pandai membaca
peluang bisnis, sekalipun mereka belum tentu berpuasa.

Akhirnya, memang puasa bukan untuk meningkatkan aspek ekonomi atau kekayaan. Puasa
adalah untuk meningkatkan ketaqwaan. Akan tetapi jika ternyata, setelah memasuki bulan
Syawal masjid menjadi sepi kembali, rasa syukur, sabar, ikhlas, dan istiqomah tidak juga
meningkat, maka boleh saja dikatakan, bahwa puasa tidak mendapatkan apa-apa. Secara
ekonomis tidak meningkat, sedangkan spiritual pun juga tidak bertambah. Sehingga kata
syawal hanya sebatas nama bulan itu, dan belum memberikan makna apa-apa, termasuk bagi
yang berpuasa. Semogalah kita semua, tidak tergolong sebagai orang yang tidak mendapatkan
apa-apa itu. Seharusnya jika mungkin, sebagai kaum muslimin, di Bulan Syawal ini, berhasil
mendapatkan dua-duanya, yaitu keuntungan ekonomi, maupun juga derajat taqwa. Wallahu
alam.