Anda di halaman 1dari 41

PENERAPAN PEMILU ELEKTRONIK

(E-VOTING) UNTUK MELAKSANAKAN


ASAS LUBER JURDIL

Oleh:
Dian Mustaqim
Fery Ferdiansyah
Mufli Rumekso
Muhammad Suryanto
Sriyanto Surakarta
2016
Penerapan Pemilu Elektronik

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN ................................................................................................ 2

ANALISIS

A. ANALISIS KEBUTUHAN ......................................................................... 6


B. ANALISIS TEKNIS .................................................................................... 13
C. ANALISIS EKONOMI DAN KEUANGAN .............................................. 17
D. ANALISIS MANFAAT SOSIAL ............................................................... 22
E. ANALISIS REGULASI DAN KELEMBAGAAN ..................................... 24
F. ANALISIS RISIKO ..................................................................................... 32

SIMPULAN .......................................................................................................... 36

Sistem Informasi Manajemen | 1


Penerapan Pemilu Elektronik

BAB I
PENDAHULUAN

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945,


Indonesia adalah negara yang menganut paham demokrasi dan melaksanakan
pemilu setiap lima tahun sekali. Sejak proklamasi kemerdekaan, Indonesia
telah menyelenggarakan beberapa kali pemilu untuk memilih anggota legislatif
serta tiga kali pemilihan presiden dan wakil presiden yang diselenggarakan
secara langsung. Pemilu di Indonesia pertama kali dilakukan pada tahun 1955
untuk memperebutkan kursi di MPR dan Konstituante. Pemilu ini merupakan
satu- satunya pemilu yang dilakukan pada zaman orde lama. Pada masa orde
baru dan awal masa reformasi presiden dipilih melalui musyawarah MPR.
Namun pada tahun 2004, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia
dilakukan pemilu presiden dan wakil presiden secara langsung. Presiden dan
wakil presiden terpilih memegang jabatan selama lima tahun atau satu periode,
dan dapat dipilih kembali hanya untuk satu periode, sesuai dengan perubahan
pertama UUD 1945 pasal 7.

Berlangsungnya pemilu ini menjadi semakin sering diselenggarakan karena


disebabkan berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah yang menetapkan kepala daerah dipilih langsung oleh
rakyat di daerah yang bersangkutan. Kemudian berlakunya Undang-Undang
Nomor 22 tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum, pemilihan
kepala daerah dimasukkan dalam kategori pemilu, sehingga secara resmi
bernama pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah atau
disingkat Pilkada.

Pesta demokrasi seharusnya menggembirakan, namun jika pesta demokrasi


dilakukan secara beruntun, maka yang terjadi justru membosankan dan tingkat
partisipasi masyarakat menjadi semakin rendah. Rentang waktu pelaksanaan
pesta demokrasi mulai dari pemilu legislatif sampai pilpres lalu ditambah
dengan pilkada seharusnya memberikan kegembiraan bagi rakyat, tetapi pesta
demokrasi juga dapat memicu kecemasan sosial politik apabila
pelaksanaannya tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat. Realita
ini akan semakin runyam ketika pelaksanaan pesta demokrasi tersebut berjalan
tidak aman, penuh kecurangan, dan berakhir dengan saling tuding oleh
sejumlah pihak.

Sistem Informasi Manajemen | 2


Penerapan Pemilu Elektronik

Desain sistem pemilu berimplikasi pada administrasi pelaksanaan pemilu,


seperti, penempatan Tempat Pemungutan Suara (TPS), pencalonan,
pendaftaran pemilih, siapa yang melaksanakan pemilu, bagaimana membagi
daerah pemilihan, bagaimana merancang kertas suara, bagaimana melakukan
perhitungan suara dan lain sebagainya. Pemilihan terhadap sistem pemilu
berimplikasi pada hal-hal tersebut di atas. Saat ini pemilu di Indonesia masih
dilakukan secara konvensional. Warga yang mempunyai hak pilih datang ke
tempat pemungutan suara (TPS) pada saat hari pemilihan. Kemudian mereka
mencoblos dan memasukkan surat suara ke dalam kotak suara. Setelah proses
pemungutan suara selesai, selanjutnya dilakukan penghitungan suara.

Kondisi geografis Indonesia yang sangat luas menjadi masalah tersendiri dalam
hal distribusi surat suara dan semua yang terkait pelaksanaan pesta demokrasi.
Bahkan ada daerah yang belum melakukan proses pemungutan suara sementara
daerah yang lain sudah selesai proses penghitungan suara. Kondisi ini tentu
harus cepat dipikirkan bagaimana solusi untuk pelaksanaan pesta demokrasi
agar dapat dilaksanakan secara real time, online dan tidak ada lagi alasan
kendala ruang dan waktu.

Oleh karena sistem pemilu di Indonesia yang masih dilakukan secara manual,
dalam pelaksanaan pemilu akhir-akhir ini masih sering terjadi kesalahan-
kesalahan yang disebabkan oleh human error, atau disebabkan karena sistem
pendukung pelaksanaan pemilihan yang tidak berjalan dengan baik. Kisruh
tentang daftar pemilih tetap (DPT) yang terjadi pada pemilu belakangan ini
harus menjadi pelajaran berharga bagi pelaksanaan pesta demokrasi di masa
mendatang agar pesta demokrasi itu sendiri dapat berjalan lancar mulai dari
awal sampai akhir tanpa ada sengketa yang meliputinya. Oleh karena itu, pesta
demokrasi harus dilaksanakan secara transparan. Adapun beberapa
permasalahan yang ditemui dalam pelaksanaan pemilu di Indonesia beberapa
periode belakangan ini adalah sebagai berikut :

1. Kacaunya database pemilih atau yang biasa disebut Daftar Pemilih Tetap
(DPT). Kekacauan ini terjadi karena sistem kependudukan yang masih
belum berjalan dengan baik. Banyaknya kartu identitas menyebabkan
pemilih bisa memiliki kartu suara lebih dari satu. Hal ini dapat
dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan untuk
menggelembungkan suara. Belum lagi banyak masyarakat yang secara
hukum memiliki hak untuk memilih tetapi tidak terakomodir oleh daftar
pemilih tetap akibat kacaunya sistem kependudukan yang ada.
2. Besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk proses pemungutan suara.
Berdasarkan data yang dilansir oleh KPU (Komisi Pemilu Umum),
pemerintah menyiapkan anggaran pemilu mencapai Rp 10,4 triliun untuk

Sistem Informasi Manajemen | 3


Penerapan Pemilu Elektronik

pelaksanaan pemilu tahun 2009-2014. Anggaran yang digunakan untuk


proses pencetakan kertas suara, distribusi kertas suara, pengadaan tinta ,
dan lain-lain.

3. Pemilih salah dalam memberi tanda pada kertas suara, karena ketentuan
keabsahan yang kurang jelas, sehingga banyak kartu suara yang
dinyatakan tidak sah. Pada tahapan verifikasi keabsahan dari kartu suara,
sering terjadi kontroversi peraturan dan menyebabkan konflik di
masyarakat.
4. Lambatnya proses tabulasi data hasil perhitungan suara dari daerah.
Lemahnya infrastruktur teknologi komunikasi di daerah menyebabkan
kurangnya variasi metode pengumpulan hasil perhitungan suara. Oleh
karena itu, seringkali pusat tabulasi data harus menunggu data perhitungan
yang dikirimkan dari daerah dalam jangka waktu yang lama. Akibatnya,
pengumuman hasil pemilu akan memerlukan waktu yang lama.

5. Kurang terjaminnya kerahasiaan dari pilihan yang dibuat oleh seseorang.


Sehingga banyak pemilih mengalami tekanan dan ancaman dari pihak
tertentu supaya memberikan suara mereka kepada pihak tertentu. Selain
itu, kurangnya verifiabilitas dapat mendorong kepada penipuan pihak
penyelenggara pemilihan atau pihak luar, dan kurangnya kerahasiaan dapat
mendorong kepada pemaksaan. Padahal ini merupakan hal yang penting
dalam pemilihan suara.
6. Salah satu masalah besar dalam pesta demokrasi adalah ketidakjujuran
sehingga transparansi dan akuntabilitas dari pemilu menjadi sangat penting
untuk diberlakukan. Kerawanan dari pelaksanaan pemilu terjadi sejak
proses pengiriman surat suara, pelaksanaan pemungutan suara di TPS,
penghitungan suara, dan pengiriman hasil ke pusat.

Dengan banyaknya permasalahan tersebut, maka muncul gagasan-gagasan


untuk memperbaiki pelaksanaan pemilihan umum. Salah satu gagasan yang
muncul dalam memperbaiki permasalahan pemilu yaitu dengan memanfaatkan
laju perkembangan teknologi yang semakin pesat. Perkembangan teknologi
yang ada khususnya di bidang elektronik dapat dimanfaatakan dalam sistem
pemilu. Salah satu teknologi elektronik yang ditawarkan adalah electronic
voting atau e-voting. Hal ini juga didukung dengan semakin luasnya jaringan
komunikasi dan biaya komunikasi yang semakin murah. Selain itu,
pertimbangan lain bahwa kemajuan teknologi serta ketersediaan internet bisa
menjadi alasan utama untuk tidak lagi menunda pelaksanaan pesta demokrasi
secara online. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan proses pemungutan suara
secara real time online dan hal ini bisa dilakukan dengan e-voting.

Sistem Informasi Manajemen | 4


Penerapan Pemilu Elektronik

Pelaksanaan e-voting telah banyak dikembangkan dan diterapkan di beberapa


negara. Di Indonesia sendiri sistem e-voting telah mulai coba dikembangkan.
Sistem e-voting yang coba di kembangkan di beberapa daerah di Indonesia
sebatas mengganti kertas suara dengan teknologi elektronik yaitu berupa
sebuah layar pemilihan, tetapi sistem administrasinya masih berjalan secara
konvensional yaitu masih menggunakan kartu pemilih, hingga surat undangan
pemilih. e-voting kali ini lebih difokuskan pada pengintegrasian dengan sistem
e-KTP yang telah berlaku di Indonesia untuk mewujudkan pemilhan umum
yang jujur dan adil.

Gambaran mengenai cara kerja sistem e-voting ini yaitu para pemilih yang
ingin mencoblos dapat masuk ke TPS tetapi bukan menemui surat suara dan
alat coblos di dalam bilik suara melainkan komputer. Pemilih dapat memilih
dengan klik atau menyentuh pilihan pada layar touchscreen komputer. Data
pemilihan akan tersimpan dalam database server yang tidak semua orang bisa
mengakses.

Teknologi e-voting pada saat ini menjadi pilihan yang sangat penting dalam
melaksanakan salah satu pilar demokrasi yang utama yaitu pemilihan umum.
Terutama setelah dalam beberapa tahun sebelumnya cara-cara konvesional
untuk melaksanakan pemilu telah terbukti kurang berhasil untuk menjawab
tuntutan masyarakat terhadap mekanisme pemilu yang berasas langsung,
umum, bebas, rahasia (luber), serta jujur dan adil (jurdil). Di beberapa negara
maju maupun berkembang di berbagai belahan dunia, teknologi e-voting telah
banyak digunakan karena e-voting dapat membantu mempercepat waktu proses
pengambilan dan penghitungan suara, serta mengurangi risiko kesalahan dalam
prosesnya. Dengan kata lain, penggunaan e-voting diharapkan dapat
mengurangi kemungkinan kesalahan dalam proses pengambilan dan
penghitungan suara yang berarti mengurangi waktu dan biaya.

Sistem Informasi Manajemen | 5


Penerapan Pemilu Elektronik

BAB II
ANALISIS

A. ANALISIS KEBUTUHAN

1. Perlunya Sistem Pemilihan Umum Baru

Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan suatu sarana demokrasi yang berguna


untuk mewujudkan sistem pemerintahan Negara yang berkedaulatan rakyat.
Pemerintahan yang dibentuk melalui sebuah pemilu adalah yang berasal dari
rakyat, dijalankan sesuai kehendak rakyat dan diabdikan guna kepentingan dan
kesejahteraan rakyat. Hanya kekuasaan pemerintah yang dapat memancarkan
kedaulatan rakyat-lah yang mempunyai kewibawaan kuat sebagai pemerintah
yang amanah bagi rakyat. Pemerintah yang dibentuk melalui jalan pemilu akan
memiliki legitimasi yang kuat. Pemilu bagi suatu Negara demokrasi memiliki
kedudukan sebagai sarana untuk menyalurkan hak politik rakyat. Pemilu
sebagai proses hukum bernegara mendapatkan legitimasi hukum dan diatur
dalam beberapa peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Pemilu presiden dan wakil presiden serta pemilu legislatif dilaksanakan setiap
lima tahun. Namun pemilihan kepala eksekutif tingkat daerah (pemilihan
kepala daerah/pemilukada) dilaksanakan secara terputus di berbagai daerah di
Indonesia dan akan selalu ada pemilukada yang berlangsung. Indonesia sendiri
telah melaksanakan pemilu sebanyak empat kali yakni tahun 1999, 2004, 2009
serta tahun 2014.

Pemilu Indonesia mungkin adalah kegiatan kepemiluan paling kompleks di


dunia. Empat juta petugas di 550.000 TPS, yang tersebar di berbagai penjuru
sebuah negara yang terdiri atas 17.000 pulau, bertugas mengelola 700 juta surat
suara dengan 2.450 desain yang berbeda untuk memfasilitasi pemilihan 19.700
kandidat dalam satu Pemilu presiden dan 532 dewan perwakilan di tingkat
nasional dan daerah. Kemudian menurut Sensus nasional April 2010, total
populasi Indonesia saat ini adalah 237,56 juta jiwa. Batas umur minimal
sebagai pemilih adalah 17 tahun (pada hari pemilihan) atau usia berapapun
asalkan telah/pernah menikah. Daftar Pemilih Sementara (DPS) yang telah
disusun berisi 187.977.268 pemilih. Jumlah pasti pemilih yang terdaftar akan
ditentukan saat Daftar Pemilih Tetap (DPT) ditetapkan di tingkat nasional pada
tanggal 23 Oktober 2013. Dalam Pemilu 2009, terdapat 171 juta pemilih

Sistem Informasi Manajemen | 6


Penerapan Pemilu Elektronik

terdaftar namun hanya 122 juta pemilih yang menggunakan hak pilihnya
menunjukkan tingkat partisipasi pemilih sebesar 71 persen sebuah penurunan
drastis dari tingkat partisipasi 93 persen pada Pemilu 1999 dan 84 persen pada
Pemilu 2004. Kendati demikian, penurunan tingkat partisipasi bukanlah hal
yang aneh bagi sebuah demokrasi yang baru berdiri.Indonesia menggunakan
sistem multi-partai Menurut catatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi
terdapat 73 partai politik yang terdaftar secara sah. Undang-Undang No. 8
Tahun 2012 mewajibkan masing-masing partai politik untuk mengikuti proses
pendaftaran dan verifikasi yang dilaksanakan oleh KPU untuk mengikuti
sebuah pemilu pada pemilu 2009 terdapat 38 partai politik nasional.

Proses pesta demokrasi yang terjadi di Indonesia memang telah sering


dilakukan dengan rentang waktu 5 tahunan sesuai dengan arahan perundangan
yang berlaku. Meski demikian, harapan dari pelaksanaan pesta demokrasi yang
LUBERJURDIL ternyata masih sangat jauh dari harapan. Mengacu sejumlah
temuan yang ada, paling tidak ada beberapa problem terkait pelaksanaan pesta
demokrasi di Indonesia yaitu:

a. Kecurangan Pemilihan Umum

Penyelenggaraan pemilu tidak selamanya berjalan dengan baik, terdapat


permasalahan-permasalahan dalam pelaksanaannya. Salah satu
permasalahan yang sering terjadi adalah terjadinya kecurangan-
kecurangan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang memiliki
kepentingan. Salah satu bentuk kecurangan tersebut dapat berupa
manipulasi daftar pemilih tetap (DPT). Badan Pengawas Pemilu dan
sejumlah Pengawas independen menerima sejumlah laporan tentang
kekeliruan dan dugaan kecurangan selama proses pemilu presiden yaitu
sejumlah pemilih yang diperkenankan memilih tanpa formulir A5 dan ini
bertentangan dengan peraturan KPU. Selain itu, terjadinya kisruh daftar
pemilih tetap (DPT) yang pengumumannya sempat ditunda tetapi tetap
saja menyisakan masalah sebanyak 10,4 juta DPT yang tidak memiliki
nomor induk kependudukan (NIK) jumlah ini belum terhitung pemilih
ganda, pemilih siluman dan pemilih di bawah umur yang marak ditemukan
jelang hari pencoblosan. DPT bermasalah ini diduga digunakan untuk
kepentingan mempertahankan rezim yang berkuasa pada pemilu 2014. Di
Provinsi Jawa Barat ditemukan pemilih ganda dalam DPT sebanyak 4,39
juta. Besar kemungkinan Provinsi Jawa Timur, Banten, dan sejumlah
provinsi di Indonesia timur akan menjadi Lumbung Pemilih ganda,
pemilih fiktif, ataupun pemilih di bawah umur.

Sistem Informasi Manajemen | 7


Penerapan Pemilu Elektronik

b. Keborosan anggaran

Anggaran yang harus dikeluarkan untuk pilkada terutama dalam pilkada


Gubernur memang memerlukan anggaran yang cukup besar, dalam
wilayahwilayah yang luas dan memiliki jumlah pemilih yang besar
pemilihan gubernur dapat memakan biaya Rp. 80 Rp. 500 milliar.
Namun bila dirata-rata maka setiap provinsi akan memakan anggaran
sebesar Rp. 190 miliar. Jika di lihat dalam rentan waktu lima tahun
anggaran yang keluar dalam pemilu langsung dapat mencapai angka
sebesar Rp.6,7 triliun. Sementara itu anggaran yang dikeluarkan untuk
membiayai pemilihan Wali kota dan Bupati dapat menghabiskan anggaran
sebesar Rp. 20 milliar pada satu daerah, dan jika di total dalam kurun
waktu lima tahun pada seluruh kabupaten dan kota pemilihan langsung
dapat menghabiskan anggaran sebesar Rp. 9 trilliun. Berarti secara
keseluruhan baik pemilihan Gubernur, pemilihan Wali Kota dan Bupati itu
bisa menghabiskan Rp. 16 17 triliun atau pertahun bisa Rp. 3 trilliun
lebih yang dikeluarkan anggaran untuk pilkada. Belum lagi pemilihan
presiden pada tahun 2014 yang memakan anggaran sebesar Rp. 10 trilliun
dan ini juga dilakukan dalam kurung waktu 5 tahun.

c. Permasalahan pada Daftar Pemilih Tetap (DPT)

Pendaftaran pemilih adalah awal dari sukses pelaksanaan pesta demokrasi,


namun sistem kependudukan yang cenderung asal data secara tidak
langsung mengakibatkan kesalahan sistemik dari data penduduk yang akan
menjadi calon pemilih. Meski kemudian selalu ada pemutakhiran data,
namun rasa kesadaran publik terkait pemutakhiran data untuk menjadi
DPT (Daftar Pemilih Tetap) masih sangat kurang yang secara tidak
langsung berdampak negatif terhadap jumlah riil pemilih yang semestinya
berhak. Ironisme dibalik kasus ini adalah fakta adanya sejumlah penduduk
yang memiliki KTP ganda. Bahkan, pejabat di semua tingkatan dalam
pemilu legislatif dan pilpres kemarin terbukti banyak yang memiliki KTP
ganda dan fenomena ini tentunya menyulut kekisruhan sistemik bagi
pencapaian LUBERJURDIL dari pemilu. Di sisi lain, hal ini justru
dimanfaatkan oleh oknum untuk menggelembungkan suara. Ironisnya,
sensus penduduk 2010 yang semestinya bisa diharapkan untuk
pemutakhiran data kependudukan ternyata kian diperparah oleh temuan
adanya pendataan fiktif karena warga yang tidak ada di rumah tetap
dianggap telah terdata yang ditandai dengan penempelan stiker. Jika ini
dibiarkan maka pemilu mendatang tetap akan terjadi kisruh DPT.

Sistem Informasi Manajemen | 8


Penerapan Pemilu Elektronik

d. Banyaknya Suara Tidak Sah

Surat suara tidak sah cenderung terus meningkat di setiap pelaksanaan


pesta demokrasi dan hal ini juga diikuti dengan peningkatan angka golput.
Hal ini terjadi karena ketidakpahaman pemilih dalam proses penentuan
pilihan di bilik suara yang telah ditetapkan. Meski ada sosialisasi yang
gencar dilakukan oleh KPU KPUD, namun aturan keabsahan surat suara
yang bisa berubah setiap saat cenderung membuat bingung calon pemilih.
Paling tidak, kasus ini banyak ditemui dalam pemilu lalu ketika aturan
dirubah dari mencoblos ke mencontreng

e. Kondisi Geografis Menghambat Proses Rekapitulasi

Kondisi dan letak geografis secara tidak langsung menghambat kecepatan


pengumpulan dan tentunya juga terkait dengan penghitungan suara.
Rentang waktu dan jarak inilah yang memungkinkan terjadinya
penambahan dan atau pengurangan suara. Fakta ini masih belum ditambah
kasus-kasus intimidasi yang juga sering terjadi di sejumlah TPS di
berbagai daerah. Jika sudah demikian, jangan harap ada realisasi pesta
demokrasi yang LUBERJURDIL. Ironisnya, rentang waktu dan jarak ini
justru memberikan aspek manfaat sosial-ekonomi bagi sejumlah lembaga
survei (independen?) untuk menunjukan eksistensi dari validitas random
sampling yang dilakukan. Di sisi lain, realitas rentang waktu dan jarak ini
membuat pelaksanaan pesta demokrasi tidak bisa berjalan secara serentak
dan daerah yang melakukan pemilihan di hari kemudian bisa terpengaruh
terkait hasil publikasi media dari hasil pemilihan di daerah lain yang telah
melakukan pemilihan sebelumnya. Fakta ini sekali lagi tidak memberikan
harapan terhadap proses pesta demokrasi yang LUBERJURDIL.

f. Lemahnya Infrastruktur Teknologi

Lemahnya infrastruktur teknologi juga menjadi kendala terhadap


pelaksanaan pesta demokrasi sehingga penetapan hasil tidak bisa serentak
dan hal ini semakin runyam ketika penetapan terhadap hasil hitung manual
menjadi satu-satunya pilihan yang terbaik dan yang paling benar. Oleh
karena itu, sangat logis jika rentang waktu pengumuman pemenang pemilu
bisa mencapai waktu sebulan lebih, meski hasil dari hitung cepat atau
quick count mungkin telah bisa terbaca pada sore hari pada hari H
pemilihan.

Sistem Informasi Manajemen | 9


Penerapan Pemilu Elektronik

g. Permasalahan dalam Hal Kerahasiaan

Aspek mendasar yang juga perlu dipikirkan adalah kerahasiaan yang tidak
bisa diciptakan dari berulang kali pelaksanaan pesta demokrasi. Tidak
perlu disangkal, bahwa pelaksanaan pesta demokrasi di jaman orba
hanyalah pemanis bagi demokrasi karena pemenangnya sudah bisa seratus
persen ditebak sehingga pesta demokrasi hanyalah buang-buang uang
dengan dalih penegakan HAM karena pesta demokrasi itu sendiri adalah
penerapan hak asasi sebagai warga negara. Beda dengan era orba, di era
reformasi aspek kerahasian juga semakin sulit dicapai. Paling tidak, di era
reformasi ternyata fakta temuan kasus money politic dan berbagai praktek
kecurangan pemilu masih terus terjadi dan cenderung berulang-ulang
tanpa ada kekuasaan dari lembaga berwajib untuk menindaknya secara
konkret.

h. Jumlah Golput Terus Meningkat

Jumlah golput cenderung terus meningkat setiap pelaksanaan pesta


demokrasi dengan berbagai alasan yang logis, misal memilih dan tidak
memilih tetap tidak memperbaiki kesejahteraan hidup atau tak ada
kandidat yang sesuai dengan pilihan hati nurani atau memang sudah
antipati dengan pesta demokrasi di Indonesia. Yang lebih runyam, ketika
era otda dilaksanakan dan tuntutan pemekaran daerah terus bebas
diberikan maka semakin banyak daerah yang kini melakukan pemilukada.
Oleh karena itu, pelaksanaan pesta demokrasi cenderung menjadi tak
bermakna dan tak memiliki gaung antusias bagi warga. Betapa tidak,
dalam rentang waktu setahun ternyata warga dicekoki oleh berbagai acara
pesta demokrasi mulai dari pemilu legislatif, pilpres, pemilukada,
pemilihan lurah, pemilihan kepala dusun, pemilihan kepala tetua adat
dan berbagai seremonial pesta demokrasi di tingkat yang lebih bawah.
Fenomena ini secara tidak langsung membuat warga jenuh dan akibatnya
serentak lantang berujar: Emang Gue Pikirin..?

Adanya sejumlah fakta diatas menyimpulkan bahwa penerapan e-voting


merupakan opsi terbaik untuk mengatasi permasalahan-permasalahan terkait
dengan pemilu yang ada di Indonesia. Penerapan e-voting diharapkan dapat
membantu pesta demokrasi di Indonesia untuk dapat diterapkan secara
LUBERJURDIL.

Sistem Informasi Manajemen | 10


Penerapan Pemilu Elektronik

2. Analisis Kebutuhan (Requirement) System e-voting

Analisis kebutuhan system e-voting terdiri dari dua tipe kebutuhan yaitu
kebutuhan fungsional dan kebutuhan non fungsional. Berikut ini adalah
kebutuhan system e-voting baik kebutuhan fungsional maupun kebutuhan non
fungsional.

a. Kebutuhan Fungsional

Kebutuhan fungsional system e-voting adalah sebagai berikut:

Sistem harus mampu memfasilitasi proses pemilihan umum di


Indonesia yang terbagi menjadi dua tahap, yaitu pemilihan legislative
dan pemilihan kepala Negara atau kepala daerah.
Sistem harus mampu melakukan verifikasi data pemilih pemilihan
umum dan mencatat status pemilih apakah telah melakukan proses
pemungtan suara atau belum. Sistem harus dapat membuktikan apakah
seseorang telah melakukan proses pemilihan atau belum. Kebutuhan ini
harus sesuai dengan persyaratan verifiable participation.

Pemilih dapat memasukkan pilihannya ke dalam system. Kebutuhan ini


harus memenuhi persyaratan democracy yaitu seorang pemilih hanya
berhak memasukkan suara sebanyak satu kali.
Sistem harus dapat menjumlahkan hasil pemilihan.

Sistem harus dapat menampilkan data hasil pemilihan secara detail,


tetapi kerahasiaan pemilih tetap terjaga. Kebutuhan ini harus sesuai
dengan persyaratan privacy yaitu hasil pemungutan suara harus tidak
dapat dihubungkan dengan siapa yang melakukan pemilihan. Sealin itu
seorang pemilih tidak dapat membuktikan hasil pilihannya. Kebutuhan
ini harus sesuai dengan persyaratan receipt freeness.
Sistem harus dapat menampilkan rekapitulasi data hasil pemilihan. Data
hasil perhitungan suara harus dapat diverifikasi dan dbuktikan bahwa
tidak ada manipulasi terhadap hasil perhitungan suara. Kebutuhan ini
sesuai dengan persyaratan verifiability. Selain itu kebutuhan ini harus
sesuai dengan persyaratan fairness. Setiap orang tidak bolehmengetahui
hasil perhitungan suara sebelum proses pemungutan suara selesai
dilakukan.

Penyelenggara dan pengawas dapat melakukan validasi hasil


perhitungan suara. Validasi tersebut digunakan untuk membuktikan
bahwa hasil perhitungan suara dilakukan dengan tepat dan akurat.

Sistem Informasi Manajemen | 11


Penerapan Pemilu Elektronik

Kebutuhan ini harus memenuhi dengan persyaratan e-voting yatu


accuracy.

b. Kebutuhan Non Fungsional

Kebutuhan non fungsional system e-voting adalah sebagai berikut:

1. Usability

Sistem e-voting mempunyai tampilan (antarmuka) dan mekanisme


pemungutan suara yang mudah untuk dipahami. Antarmuka dan
mekanisme tersebut harus menyerupai mekanisme pemilihan umum
secara konvensional seperti yang masil berjalan saat ini agar
mempermudah proses pembelajaran. Sebagai perbandingan, pemerintah
Indonesia membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit hanya
untuk melakukan sosialisasi perubahan mekanisme pemilihan umum
tahun 2009. Pada tahun-tahun sebelumnya, pemilihan dilakukan dengan
cara mencoblos sedangkan pada tahun 2009 pemilihan dilakukan
dengan cara mencontreng.
Memfasilitasi pemilih yang sebenarnya mempunyai hak pilih namun
mempunyai keterbatasan secara fisik.

2. Reliability

Sistem harus dapat berjalan terus tanpa kegagalan akses selam proses
pemungutan suara sampai dengan perhitungan hasil. Jadi system e-
voting tersebut harus mempunyai perangkat lunak server, perangkat
keras server, perangkat lunak client, perangkat keras client, dan
perangkat jaringan yang handal.
Aspek keamana harus terjamin. Keamanan system ini harus mampu
menjamin integritas dan kerahasian data. Selain keamanan data,
keamanan server, client, dan jaringn secaar fisik juga harus benar-benar
terjaga.

3. Portability

Sistem dapat diakses dari berbagai lokasi.

Perangkat client yang digunakan mengakses system dapat bermacam-


macam jenis dari segi perangkat lunak maupun perangkat keras yang
digunakan.

Sistem Informasi Manajemen | 12


Penerapan Pemilu Elektronik

4. Supportability

Sistem e-voting harus mempunyai dokumentasi teknis.


Sistem e-voting harus mempunyai dokumen manual penggunaan.

Ada dukungan teknis jika diperlukan.

B. ANALISIS TEKNIS

Dewan Eropa (European Council) membagi aspek-aspek penting yang harus


dipersiapkan sebelumnya jika akan menerapkan e-voting yaitu salah satunya
adalah terkait dengan aspek teknis. Dalam aspek ini terdapat beberapa hal yang
perlu dipertimbangkan antara lain:
1. Perangkat lunak berlisensi atau open source
2. Identifikasi dan autentifikasi pemilih
3. Menghilangkan keterhubungan antara kandidat dan pemilih
4. Perancangan kertas suara secara elektronik
5. Konfirmasi pemilih, dan
6. Periode pemungutan suara

Jika dalam Pemilu di Indonesia sebelumnya menurut UndangUndang nomor 42


tahun 2008 Pasal 105 ayat (1) tentang Pemilu Presiden dan Wakil presiden
dibutuhkan perlengkapan pemungutan suara yaitu:
kotak suara;
surat suara;
tinta;
bilik pemungutan suara;
segel;
alat untuk memberi tanda pilihan; dan
TPS.

Sementara itu, dalam pemilu dengan sistem e-voting dibutuhkan Peranngkat e-


voting berupa 1 unit komputer untuk setiap TPS dan alat scanner e-ktp untuk
registrasi pemilih serta satu buah printer untuk mencetak akumulasi hasil
pemungutan suara di setiap TPS. Komputer yang disediakan berupa LCD
dengan layar sentuh agar memudahkan pemilih memilih calon legislatif dan
calon presiden hanya dalam satu sentuhan dalam waktu yang sangat singkat.

Sistem Informasi Manajemen | 13


Penerapan Pemilu Elektronik

Sebelum dimulainya pemilihan menggunakan sistem e-voting, maka sudah


kewajiban pemerintah dalam hal ini penyelenggaraan pemilu yaitu Komisi
Pemilu (KPU) dengan bantuan pemuda yang telah mengikuti ETVT (e-voting
Technical Volunteer Training) untuk mengadakan sosialisasi kepada
masyarakat seluruh Indonesia tanpa terkecuali tentang sistem e-voting. Setelah
pranata hukum untuk pelaksanaan pemilu sistem e-voting sudah siap maka
diadakanlah sosialisasi terhadap hal tersebut. Sosialisasi yang dimaksud adalah
sosialisasi kerangka hukum pelaksanaan e-voting. Sosialisasi ini sangat penting
dikarenakan sisem pemilihan evoting terkesan baru diterapkan di Indonesia.
Sehingga masyarakat secara umum wajib mengetahui perangkat-perangkat
hukum yang melandasi sistem pemilu menggunakan sistem e-voting agar
dalam tahapan pelaksanaannya pemilu sistem evoting nanti akan jelas
kepastian hukumnya di tengah masyarakat.

Bersamaan dengan sosialisasi landasan hukum tentang pelaksanaan pemilu e-


voting maka sosialisasi yang wajib dilaksanakan pula yaitu sosialisasi tentang
konsep pemilu dengan sistem E-voting. Karena konsep e-voting ini yang masih
baru sehingga banyak masyarakat yang masih belum paham mengenai sistem
tersebut. Sosialisasi ini diharapkan menghasilkan masyarakat secara umum
mengetahui konsep dari sistem e-voting ,tujuan e-voting itu sendiri dan
mengapa sistem e-voting perlu diterapkan menggantikan sistem lama yang
telah berlangsung di beberapa periode pemilihan yang ada di Indonesia.
Sehingga masyarakat dapat teredukasi dengan baik tentang sistem e-voting ini,
tidak terjadi lagi perdebatan ditengah masyarakat berkaitan pergantian sistem
pada pemilu di Indonesia dan dapat memberikan penjelasan atas keraguan yang
muncul terhadap sistem ini karena untuk menjawab keraguan secara umum
hanya dapat dilakukan pasca dilaksanakannya sistem tersebut.

Sosialisasi teknis pelaksanaan sistem juga merupakan point yang paling


penting dari tahapan sosialisasi pemilu menggunakan sistem e-voting. Karena
teknis pelaksanaan sistem e-voting yang berbeda dari teknis pelaksanaan sistem
konvesional sehingga masih banyak masyarakat yang belum mengetahuinya.
Dengan sosialisasi teknis ini diharapakan pada pelaksanaan pemilu dengan
sistem e-voting nantinya dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Pada
sosialisasi teknis e-voting ini pula dapat dinilai sejauh mana kesiapan dari
pihak-pihak terkait menghadapi pelaksanaan pemilu nantiya, dapat pula
mengetahui apa-apa saja yang menjadi potensi hambatan terhadap pelaksanaan
pemilihan dengan sistem e-voting. Setelah mengetahui potensi kendala tesebut
diharapkan dapat diberikan solusi dan diatasi sebelum pelaksanaan pemilu
sistem e-voting nanti.

Sistem Informasi Manajemen | 14


Penerapan Pemilu Elektronik

Adapun subjek-subjek yang akan menjadi target sosialisasi tersebut adalah


sumber daya manusia pelaksana pemilu itu sendiri, instansi-instansi atau
lembagalembaga yang membantu pelaksanaan pemilu hingga masyarakat
secara umum dan masyarakat yang memiliki hak memilih secara khusus.
Sistem e-voting merupakan penerapan teknologi untuk pemilihan legislatif dan
pemilihan presiden dan wakil presiden. Adapun mekanisme pemilihannya tidak
jauh berbeda dengan pemilu konvensional. Adapun bagan mekanismenya dapat
digambarkan sebagai berikut :

Berbeda dengan tahap pemungutan suara menggunakan sistem konvensional,


pemungutan suara menggunakan sistem e-voting hanya ada 3 (tiga) tahap yang
akan dilalui oleh pemilih setelah melakukan pendaftaran. Berikut ini tahapan
yang akan dilakukan selama mengakses sistem e-voting :

1. Pemilih yang akan menyalurkan hak pilihnya dapat mendatangi TPS mana
saja di Indonesia yang berada disekitarnya. Berbeda dengan sistem
konvensional yang menggunakan undangan memilih yang di dalamnya
tercantum lokasi TPS pemilih yang telah ditentukan oleh KPU. Sistem
evoting ini memungkinkan setiap pemilih untuk menentukan sendiri lokasi
TPS yang ia kehendaki. Karena sistem e-voting yang terintegrasi dengan
data kependudukan dalam e-KTP yang terpusat pada database
kependudukan nasional sehingga potensi pemilih ganda atau pemilih yang
memilih di dua TPS yang berbeda dapat diatasi karena pemilih yang telah
menyalurkan hak memilihnya telah ditandai otomatis oleh sistem.

Sistem Informasi Manajemen | 15


Penerapan Pemilu Elektronik

2. Pada sistem konvensional, tempat pendaftaran/validasi data dengan bilik


suara berada di tempat yang berbeda. Tetapi dalam sistem yang ditawarkan
adalah kedua tempat tersebut disatukan sehingga lebih mengefisiensikan
waktu memilih. Pada satu bilik yang sama terdapat satu buah layar
komputer dan sebuah e-KTP reader (alat pembaca/scan eKTP).Pemilih
yang hendak memilih terlebih dahulu memvalidasi data mereka dengan
melakukan scanning e-KTP menggunakan e-KTP Reader. Sistem akan
dengan sendirinya membaca data yang ada. Setelah data kependudukan
cocok maka secara otomatis layar yang ada dalam bilik menampilkan
calon yang akan dipilih. Pemilih kemudian memilih calon anggota
legislatif kemudian dilanjutkan dengan memilih calon eksekutif yaitu
calon presiden dan calon wakil presiden yang ditampilkan di layar.
3. Setelah melakukan pemilihan terhadap calon yang tertera, sistem secara
otomatis mengunci pilihan. Data hasil pemilihan yang telah masuk secara
otomatis didalam sistem dan dikirim ke server pusat dan masuk juga ke
komputer server setiap TPS. Tidak semua Panitia Pemungutan Suara 15
(PPS) dalam TPS dapat mengakses halaman admninistrator tempat
ditampungnya hasil pemungutan suara. Hanya ketua PPS atau yang diberi
kuasa oleh ketua PPS yang dapat mengakses halaman administrator di
TPS. Hal ini untuk mencegah penyalahgunaan pada sistem e-voting.
Setelah keluar dari bilik suara dengan demikian telah selesai lah semua
tahapan yang di lalui oleh pemilih. Pemilih tidak lagi mencelupkan jarinya
sebagai bukti karena sistem secara otomatis menandai e-KTP yang telah
melakukan hak pilihnya, jadi tidak dapat lagi digunakan untuk kedua kali
karena secara otomatis sistem menolaknya.
4. Estimasi waktu yang diperlukan dalam sistem konvensional mulai dari
validasi data hingga pencelupan jari adalah selama kurang-lebih 30 menit.
Dengan sistem e-voting ini diperkirakan estimasi waktu yang digunakan
hanya maksimal 5 menit. Sehingga secara pemanfaatan waktu jauh lebih
efisien. Ini juga berimbas pada jumlah pemilih yang dapat ditampung
dalam suatu TPS. Pada sistem konvensional sebuah TPS yang buka selama
6 jam (07.00-13.00) dapat menampung sekitar 500-700 orang, sedangkan
dengan sistem e-KTP ini sebuah TPS yang buka selama 6 Jam (07.00-
13.00) dapat menampung 700-1000 orang bahkan lebih. Sehingga jumlah
TPS di seluruh Indonesia dapat ditekan lebih sedikit lagi dan secara
otomatis dapat menekan anggaran dalam pembuatan sebuah TPS.

Setelah serangkaian proses pemilihan yang berlangsung melalu beberapa


tahapan, maka akan dilakukan perhitungan suara yang sebelumnya telah
dihitung secara otomatis oleh sistem. Perhitungan disini hanya sebatas
pengecekan jumlah hasil hitungan yang ada pada database dengan data jumlah
suara yang telah dicetak masing-masing TPS. Dengan perhitungan secara
elektronik selain lebih efisien secara penggunaan waktu karena hasil langsung

Sistem Informasi Manajemen | 16


Penerapan Pemilu Elektronik

dapat diketahui beberapa saat setelah TPS ditutup, berbeda dengan sistem
konvensional yang harus dilakukan perhitungan suara satu persatu membuka
kertas suara yang menghabiskan waktu yang begitu lama hingga berjam-jam.
Secara nasional, hasil pemungutan suara sudah dapat diketahui paling lambat
satu jam setelah TPS ditutup. Dan data yang didapat tersebut sudah merupakan
data asli yang ditampung oleh database server dari seluruh TPS yang ada di
seluruh wilayah Indonesia.

C. ANALISIS EKONOMI DAN KEUANGAN

Penyelenggaraan pesta demokrasi pemilihan umum di Indonesia yang


dilaksanakan dengan asas LUBER JURDIL (langsung, umum, bebas,
rahasia, jujur dan adil) yang mengharuskan pemilih untuk datang langsung ke
TPS untuk memilih dengan cara mencoblos atau mencontreng kertas gambar
calon kandidat. Dari tiap periode membutuhkan dana yang tidak sedikit dalam
pelaksanaannya. Berikut dana yang harus disediakan oleh pemerintah dalam
melaksanakan pesta demokrasi pemilu setiap lima tahunan.

Tahun Anggaran Jumlah TPS

2004 Rp 4,4 triliun 581.393


2009 Rp 19,6 triliun 527.344
2014 Rp 24,1 triliun 478.829

Sumber : Data KPU dan lainnya

Sumber pendanaan pemilu berasal dari dana APBN baik tahun sebelumnya
maupun untuk tahun yang bersangkutan (APBN TA-1 dan APBN TA).

Pemilhan umum juga dilaksanakan oleh beberapa negara lainnya. Di beberapa


negara telah memanfaatkan sistem dan teknologi informasi. Pemilihan yang
dilakukan adalah melalui e-voting. Berikut beberapa negara yang melakukan e-
voting dengan besaran dana yang dikeluarkan

Austria
Sebesar EUR 870.000 untuk 230.000 pemilih atau EUR 3,8/pemilih.

Brazilia
Membutuhkan dana $ 3 - $ 5/ pemilih. Biaya awal sebesar 1 Miliyar USD
dan 500 juta USD per pemilihan untuk 100 juta orang pemilih.

Sistem Informasi Manajemen | 17


Penerapan Pemilu Elektronik

Estonia
Membutuhkan dana sebesar UER 1-5 /pemilih. Sebesar UER 500.000
untuk pembangunan sistem pemilihan melalui internet.

India
Membutuhkan dana sebesar USD 0,6/pemilih atau sekitar USD 300/mesin
untuk pemilih mencapai 3.800 orang.

Irlandia
Membutuhkan dana sebesar EUR 21/pemilih. Pembuatan sistem UER 53
juta untuk 2,5 juta penduduk ditambah biaya penuyimpanan tahunan
sebesar UER 800.000.

Filipina
Membutuhkan dana sebesar USD 3/pemilih dengan total biaya UER 120
juta utnuk 50 juta pemilih.

Swis
Membutuhkan dana sebesar UER 0,3/ pemilih dengan total biaya EUR 10
juta untuk sejuta pemilih dalam tiga tahapan.

Amerika Serikat
Membutuhkan dana sebesar USD3/pemilih untuk negara bagian
Maryland.

Venezuela
Membutuhkan dana sebesar USD 4/ pemilih atau dengan total biaya USD
120 juta untuk 10 juta pemilih dan tiga tahapan.

1. Analisis Ekonomi

Pelaksanaan pemilhan umum melalui e-voting atau bantuan sistem elektronika


pastinya harus didukung dengan infrastruktur dan keamanan sistem yang
memadai. Karena pelaksanaan pemilu memiliki faktor krusial dalam rangka
menentukan siapa nanti yang akan memenangkan dalam proses pemilihan
tersebut. Pelaksanaan e-voting harus didukung oleh kesiapan bank data
pemilih. Hal ini, dapat diintegrasikan dengan sistem e-KTP. Berikut beberapa
faktor yang harus disiapkan terkait dengan pelaksanaan pemilu secara e-voting.

Biaya-biaya yang harus dikeluarkan dalam rangka pengimplementasian sistem


pemilihan umum melalui e-voting:

Sistem Informasi Manajemen | 18


Penerapan Pemilu Elektronik

a. Biaya Infrastruktur

Biaya yang dibutuhkan dalam rangka penyiapan jaringan dan infrastruktur


untuk melaksanakan e-voting. Perlengkapan yang harus disiapkan pada
masing-masing TPS meliputi komputer atau laptop, dan jaringan internet.

b. Biaya program dan aplikasi

Dalam penerapan e-voitng dibutuhkan suatu program dan aplikasi khusus


yang nantinya digunakan dalam proses pelaksanaan pemilu, aplikasi ini
digunakan seragam dan serempak untuk masing-masing TPS di Indonesia.

c. Biaya sosialisasi penerapan e-voting

Jumlah Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan tingkat


pendidikan yang berbeda. Apalagi dengan kemampuan pengenalan
teknologi informasi yang beragam. Untuk wilayah Indonesia bagian timur
perlu diberikan sosialisasi yang lebih terhadap penggunaan teknologi dan
informasi. Sebelum proses implementasi sistem, hendaknya diberikan
gambaran umum dan system requirement terhadap penggunaan aplikasi
tersebut, sehingga nantinya dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan
lancar.

d. Biaya keamanan sistem dan perawatan sistem

Dalam pelaksanaan e-voting harus dilindungi oleh sistem keamanan,


terkait dengan akses masuk, dan pengolahan terhadap data pemilhan.
Lebih baiknya proses penghitungan suara dilaksanakan secar realtime.
Selesai memilih langsung dapat menambah jumlah dari calon kandidat
tersebut. Biaya yang dibutuhkan dalam menyiapkan sistem keamanan
suatu sistem tidaklah murah dan biaya perawatan yang dikeluarkan untuk
memperbaiki peralatan-peralatan elektronik yang nanti digunakan dalam e-
voting.

Permasalahan yang dihadapi dalam rangka penyediaan infrasturuktur dan


sistem e-voting meliputi:

Pelaksanaan penyediaan sarana infrastruktur yang dilaksanakan serentak


pada berbagai wilayah melalui penggadaan barang. Hal ini nantinya pasti
tidak ditutup kemungkinan dapat menimbulkan permasalahan terkait
dengan pengadaan barang.

Penggunaan keaslian dari aplikasi atau program. Nantinya harus diperiksa


secara tepat dan ketat akan penggunaan keaslian aplikasi tersebut.

Sistem Informasi Manajemen | 19


Penerapan Pemilu Elektronik

Sehingga dalam proses perhitungan dapat langsung memproses secara


realtime.
Wilayah Indonesia yang berkepulauan mengakibatkan proses penyediaan
infrastruktur dapat terhambat. Apalagi dengan akses internet pada daerah
pedalaman yang dirasakan sulit untuk diterima dan diakses. Hal ini juga
mengakibatkan kesulitan dalam rangka pengiriman sarana dan prasarana
infrastruktur yang nantinya akan digunakan dalam sistem e-voting.

Pendanaan dalam penyiapan infrastruktur disiapkan melalui dana APBN


secara multiyear. Sehingga perencanaan pengadaannya haruslah
direncanakan dengan baik.

Peralatan komputer atau laptop yang digunakan dalam e-voting karena


termasuk dalam kategori peralatan mesin. Nantinya apakah akan dicatat
sebagai aset dari KPU atau akan dihibahkan kepada KPUD atau
pemerintah desa. Apabila dicatat maka masa manfaat biasanya untuk
peralatan elektronik adalah lima tahun. Berarti pada saat lima tahun
kedepan nilai asetnya adalah habis, tepat dengan waktu akan pelaksanaan
e-voting utnuk periode berikutnya.

2. Analisis Keuangan

Dalam pelaksanaan e-voting pastinya dalam kurun waktu singkat dibutuhkan


pendanaan yang lebih dibandingkan dengan pelaksanaan pemilu secara
konvensional. Karena penyediaan infrastruktur dan sistem dengan pemanfaatan
elektronik.

Berikut adalah dana yang dikelola oleh masing-masing TPS pada saat
pelaksanaan pemilu secara konvensional di Indonesia periode 2004, 2009 dan
2014 adalah sebagai berikut:

Anggaran Pemilu Dana/TPS


Pemilu TPS (Rp)
(Rp)
1 2 3 4=3/2

2004 581.393 4.400.000.000.000 7.568.031

2009 527.344 19.600.000.000.000 37.167.390

2014 478.829 24.100.000.000.000 50.331.120

Sistem Informasi Manajemen | 20


Penerapan Pemilu Elektronik

Tabel di atas menggambarkan jumlah anggaran dana/TPS dari periode ke


periode semakin naik. Meskipun untuk jumlah TPS nya semakin menurun.

Berikut adalah dana atau anggran yang dbutuhkankan oleh masing-masing


pemilih di TPS pada saat pelaksanaan pemilu secara konvensional di Indonesia
periode 2004, 2009 dan 2014 adalah sebagai berikut:

Jumlah Dana/
Jumlah Anggaran Pemilu Pemilih
Pemilu TPS pemilih/
DPT (Rp) (Rp)
TPS

1 2 3 4=2*3 5 6=5/4
2004 581.393 500 290.696.500 4.400.000.000.000 15.136
2009 527.344 500 263.672.000 19.600.000.000.000 74.335
2014 478.829 500 239.414.500 24.100.000.000.000 100.662

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2012 jumlah pemilih untuk


setiap TPS maksimal adalah 500 orang.

Sedangkan e-voting yang dilakukan di berbagai negara membutuhkan biaya per


masing-masing pemilih adalah sebagai berikut:

Biaya per Kurs Nilai


No Negara
pemilih (Rp) (Rp)
(1) (2) (3) (4) (5)=(3)*(4)
1 Austria EUR 3,80 15.050 57.190
2 Brazilia USD 5,00 12.370 61.850
3 Estonia EUR 1,00 15.050 15.050
4 India USD 0,60 12.370 7.422
5 Irlandia EUR 21,00 15.050 316.050
6 Filipina USD 3,00 12.370 37.110
7 Swis EUR 0,30 15.050 4.515
Amerika
8 USD 3,00 12.370 37.110
Serikat
9 Venezuela USD 4,00 12.370 49.480
Rata-rata 65.086

Sumber : Kurs Rupiah pada tanggal 31 Desember 2014

Dari perbandingan dana pemilu konvensional yang dilaksanakaan di Indonesia


dengan kebutuhan dana pelaksanaan e-voting di negara lainnya. Dana yang

Sistem Informasi Manajemen | 21


Penerapan Pemilu Elektronik

dikeluarkan oleh Indonesia untuk melaksanakan pemilu sudah melebihi dana


yang digunakan oleh negara lain yang melaksanakan dengan sistem e-voting.
Pelaksanaan penerapan sistem e-voting di Indonesia jika dibandingkan dengan
negara lain adalah bisa dilaksanakan. Namun ada beberapa faktor penyebab
yang menghambat berjalannya sistem e-voting di Indonesia. Faktor- faktor
tersebut adalah sebagai berikut:

a. Sistem pemilu di Indonesia yang berasaskan Luber Judil yang mana


setiap WNI yang telah memenuhi syarat, wajib memilih. Sehingga jumlah
pemilih yang cukup banyak, sebagaimana jumlah penduduk Indonesia
yang telah mencapai lima besar penduduk di dunia. Hal ini berbeda
dengan sistem pemilu yang dilaksankan di negara lain, yang hanya
menggunakan perwakilan masing-masing daerah atau negara bagiannya.

b. Sistem yang terintegrasi adalah identitas tinggal pada e-KTP. Sebagaimana


diketahui perrmasalahan mengenai pengadaan e-KTP masih belum selesai.
Apalagi dengan adanya sistem e-voting yang dalam penyediaan sarana dan
infrastruktur membutuhkan banyak proses pengadaan dalam jumlah yang
banyak untuk masing-masing TPS. Sehingga proses pengadaannya harus
dikawal dengan ketat untuk menghindari adanya permasalahan-
permasalahan terkait dengan pengadaan barang dan jasa di kemudian hari.
c. Pemanfaatan dan penggunaan aplikasi serta pengoperasian perangkat
elektronik membutuhkan sosialisasi yang lebih. Apalagi untuk daerah
Indonesia Timur dan bagian pedalaman yang belum mengenal lebih jauh
mengenai aplikasi sistem e-voting tersebut.

D. ANALISIS MANFAAT SOSIAL

Pelaksanaan e-voting nantinya akan menghasilkan pemilu yang lebih efisien


dari berbagai segi baik waktu, anggaran, kemudahan dalam penghitungannya.
Dengan bantuan dari sistem informasi dan kecanggihan tegnologi serta
kesiapan infrastruktur dengan mengintegrasikan sistem identitas tunggal
melalui e-KTP sehingga penerapan e-voting dapat berjalan lancar dan efisien
dalam melaksanakan pemilu serentak di masa yang akan datang.

Berikut beberapa manfaat dari pelaksanaan e-voting yang diperoleh


dibandingkan dengan pelaksanaan pemilu secara konvensional :

Sistem Informasi Manajemen | 22


Penerapan Pemilu Elektronik

1. Mekanisme Pendistribusian Surat Suara

Secara e-voting
Sistem pendistribusian surat suara sudah terprogram secara seragam dan
universal pada masing-masing TPS.
Secara Manual atau konvensional

Kertas perlu dibagikan secara struktur pada masing-masing TPS.


Pemenuhan kertas suara sangat banyak, sesuai dengan jumlah TPS yang
ada.

2. Asas Terhadap Ramah Lingkungan.

Secara e-voting

Dapat menghemat kertas karena sudah digantikan dengan fungsi paperless


atau penggunaan alat elektronik.
Secara Manual atau konvensional
Sangat boros terhadap kertas karena semua pemilihan dicetak pada kertas
suara. Upaya pemerintah untuk melakukan pengurangan penebangan hutan
menjadi kontradiktif dengan penerapan pencetakan kartu suara dalam
jumlah yang sangat banyak.

3. Proses Terhadap Pemungutan dan Penghitungan Suara

Secara e-voting
Proses pemungutan dan perhitungan dapat berlangsung dengan cepat, lebih
baiknya dilakukan secara realtime untuk menghindari adanya proses
manipulasi data suara. Prosesnya tersimpan pada database sehingga daat di
backup terlebih dahulu untuk menghindari kejadian-kejadian force
mayauer.
Secara Manual atau konvensional
Penghitungan dilaksanakan secara manual, dengan cara menghitung kertas
suara pada masing-masing TPS. Penghitungannya dilaksanakan setelah
proses pemungutan telah selesai semua pada jam yang telah ditetapkan
oleh panitaia TPS. Pelaksanaan yang masih manual mengakibatkan
denkomuntasian dilakukan dengan cara lebih sering, untuk menghindari
permasalahan-permasalahan yang tidak diinginkan dikemudian hari.

Sistem Informasi Manajemen | 23


Penerapan Pemilu Elektronik

4. Kebutuhan akan Sumber Daya Manusia

Secara e-voting
Dapat meminimalisasi SDM yang diperlukan lebih efisien karena sudah
dibantu oleh kemajuan teknologi dan sistem informasi yang memadai.
Secara Manual atau konvensional

Membutuhkan SDM yang lebih banyak karena proses persiapan dilakukan


mulai dari pengiriman, pembuatan bilik suara, penghitungan, sampai
dengan pengiriman data dari TPS ke pusat KPU. Hal ini membutuhkan
personel yang banyak.

5. Waktu Pemungutan Suara dan Perhitungan Suara

Secara e-voting
Dapat berjalan dengan cepat dan efisien karena pelaksanaan berlangsung
secara realtime dan dapat memotong tahapan yang dianggap tidak
diperlukan.
Secara Manual atau konvensional
Membutuhkan waktu hitung, dan verifikasi keabsahan yang lama. Masih
bisa terjadi konflik karena proses perhitungan manual yang terkadang bisa
terjadi salah hitung dalam pengumpulan surat suara.

6. Kebutuhan Media Pelayanan

Secara e-voting

Menggunakan media elektronik dalam pelaksanaannya, sehingga


dibutuhkan biaya perawatan dalam pemanfaataan alat elektronik tersebut.
Secara Manual atau konvensional
Menggunakan kertas, dengan cara menyediaan kertas secara terus-
menerus dalam jumlah banyak.

E. ANALISIS REGULASI DAN KELEMBAGAAN

Kerangka regulasi perlu ditinjau untuk mengidentifikasi referensi langsung dan


tidak langsung kewajiban fundamental bagi pemilu yang demokratis.
Referensi-referensi tersebut mungkin ditafsirkan berbeda dalam konteks
e-voting dan membutuhkan harmonisasi dengan pilihan teknologi yang tepat

Sistem Informasi Manajemen | 24


Penerapan Pemilu Elektronik

bahwa negara ingin mengimplementasikannya. Memiliki kepastian awal bahwa


pilihan teknologi sesuai dengan segenap persyaratan pemilu yang demokratis,
menjadikan e-voting perlu ditinjau dari sudut referensi perundangan nasional
terhadap terminologi pemilu, seperti referensi mengenai kotak surat suara,
proses pemungutan suara dan penghitungan, nilai suara yang rusak dan kosong,
kecurangan dan sebagainya, dalam rangka memastikan bahwa solusi aspek
teknis tersebut konsisten dengan makna awalnya.

Tinjauan regulasi e-voting tidak hanya sebatas pada undang-undang pemilu dan
kewajiban pokok bagi berlangsungnya pemilihan demokratis tetapi mencakup
juga pengaturan dan/atau peraturan lainnya. Karena dalam e-voting
memunculkan permasalahan baru terkait identitas digital, identifikasi digital,
tanda tangan digital, perlindungan data, penyimpanan data dan sertifikasi.

Penyesuaian regulasi harus menyertai percobaan teknis dipengaruhi oleh


percobaan tersebut. Untuk solusi teknis terbaik yang akan digunakan yang
berlandaskan pada regulasi tidak boleh ada kerangka kerja hukum kaku yang
telah ditetapkan sebelumnya yang mengendalikan perkembangan teknis, begitu
pula teknologi itu sendiri tidak boleh mengendalikan perundangan dan
peraturan. Penyesuaian terhadap dua hal menurut IDEA (2011) tersebut perlu
dilakukan secara bersamaan, selalu menekankan bahwa prinsip pemilu dan
demokratis tidak boleh dibahayakan atau dilemahkan.

Dalam implementasi e-voting seperti yang dikemukakan di atas perlu


memperhatikan regulasi yang telah ada dan apabila diperlukan dilakukan
penyesuaian dan harmonisasi terhadap peraturan-peraturan terkait tanpa
menghilangkan prinsip pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan
adil. Dasar hukum yang terkait langsung dengan pemilihan umum secara
elektronik adalah:

1. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan


Pemilihan Umum;
2. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu
Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan
Walikota menjadi Undang-undang;

3. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan


Transaksi Elektronik (UU ITE);

4. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan


Informasi Publik (UU KIP);

5. Undang-undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan.

Sistem Informasi Manajemen | 25


Penerapan Pemilu Elektronik

6. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi


Kependudukan.
7. Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2010 tentang Perubahan atas
UU No. 26 Tahun 2009 tentang Penetapan Kartu Tanda Penduduk
Berbasis Induk Kependudukan Secara Nasional.

8. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 147/PUU-VII/2009.

Perlunya analisis dari aspek regulasi dalam pengembangan sistem pemilihan


secara elektronik untuk memastikan sistem yang akan dikembangkan tidak
melanggar peraturan dan regulasi yang telah ada. Di samping itu, juga untuk
menjaga agar sistem tidak menghilangkan esensi dan prinsip Pemilu serta tidak
melanggar SARA dan terjamin keamanan dan keandalannya (Hidayat, 2014).

Analisis regulasi lebih lanjut dari dasar hukum yang berkaitan dengan
penerapan pemilihan secara elektronik dijelaskan dalam bagian berikut.

1. Analisis Berdasarkan Undang-undang Informasi dan Transaksi


Elektronik (UU ITE)

Terkait dengan e-voting, UU ITE di samping sebagai hukum dunia maya juga
memegang peranan penting karena ada beberapa pasal penting terkait dengan
sistem elektronik, alat bukti elektronik, tanda tangan elektronik dan
penyelenggara sistem elektronik karena e-voting ini menggunakan teknologi
elektronik dalam pelaksanaannya.

Informasi elektronik di sini adalah segala jenis data yang bersifat elektronik
yang telah diolah, bisa dimengerti, dan memiliki wujud dan arti. Informasi
Elektronik yang tersimpan di dalam media penyimpanan bersifat tersembunyi.
Oleh karena itu, informasi elektronik harus dapat dikenali dan dibuktikan
keberadaannya dari wujud dan arti dari Informasi Elektronik.

Informasi elektronik bagian dari sistem elektronik yang diaplikasikan dengan


Penyelenggaraan sistem elektronik. Penyelenggaraan sistem elektronik
didefinisikan sebagai pemanfaatan sistem elektronik oleh penyelenggara
negara, orang, badan usaha, dan/atau masyarakat sedangkan, sistem elektronik
didefinisikan sebagai serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang
berfungsi mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis,
menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan/atau
menyebarkan informasi elektronik.

Sistem Informasi Manajemen | 26


Penerapan Pemilu Elektronik

Di Bab III tentang Asas dan Tujuan pasal 4 huruf c undang-undang ini
menyatakan bahwa salah satu tujuan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan
Transaksi Elektronik adalah meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan
publik. Sehingga pemanfaatan teknologi e-voting untuk meningkatkan efisiensi
dan efektivitas Pemilu sesuai dengan asas dan tujuan Informatika dan
Transaksi Elektronik di Indonesia. Dengan pemanfaatan teknologi e-voting ini,
menurut Mutmainnah, Pawe, and Tajuddin (2015), masyarakat akan merasakan
kemudahan dan kenyamanan dalam menyalurkan hak pilih mereka karena
semua sistem disediakan sesederhana mungkin dengan alur yang lebih
sederhana dibandingkan pemilu konvensional yang selama ini dilakukan di
Indonesia.

2. Analisis Berdasarkan Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik


(UU KIP)

Berlakunya UU KIP berpengaruh pada dunia kearsipan. Dengan mendasarkan


pada UU KIP, siapa pun dapat mengajukan permohonan agar dapat
memperoleh informasi yang terkandung dalam arsip. Namun, bukan berarti
setiap orang dapat memperoleh semua informasi yang diinginkan, karena ada
informasi yang sifatnya terbuka dan tertutup. Di samping itu, informasi yang
dikelola oleh Pemerintah ada yang bersifat rahasia dengan tingkat kerahasiaan
tertentu yang hanya dapat diakses oleh pihak tertentu saja.

Tingkat kerahasiaan informasi yang biasanya dihubungkan dengan keamanan


dan keselamatan negara, dengan klasifikasi sebagai berikut:

a. Sangat Rahasia (SR), merupakan tingkat kerahasiaan tertinggi yang jika


disebarluaskan secara tidak sah atau jatuh ke tangan pihak yang tidak
berhak, akan membahayakan keamanan dan keselamatan negara.
Contohnya adalah strategi pertahanan negara, kode keamanan
kepresidenan, dll.

b. Rahasia (R), merupakan tingkat kerahasiaan sedang yang jika


disebarluaskan secara tidak sah atau jatuh ke tangan pihak yang tidak
berhak, akan merugikan negara. Contohnya adalah data mentah hasil
Pemilu, rencana perubahan kebijakan Pemerintah sebelum dipublikasi, dll.

c. Konfidensial (K), merupakan tingkat kerahasiaan terendah yang jika


disebarluaskan secara tidak sah atau jatuh ke tangan pihak yang tidak
berhak akan merugikan institusi penyelenggara negara.

d. Biasa (B), merupakan tingkat kerahasiaan yang tidak termasuk dalam


ketiga klasifikasi di atas, namun tetap mengandung kerahasiaan yang tidak

Sistem Informasi Manajemen | 27


Penerapan Pemilu Elektronik

boleh disebarluaskan secara tidak sah atau jatuh ke tangan pihak yang
tidak berhak.

Dalam undang-undang ini menentukan tiap-tiap informasi yang dapat diketahui


publik dan apa yang tidak atau yang dikecualikan. Informasi yang dikecualikan
tersebut dapat dibuka oleh pihak yang berwenang membukanya untuk
diketahui publik dalam hal berpengaruh besar terhadap masyarakat luas. Tetapi
tidak begitu saja diinformasikan melainkan melalui prosedur yang telah
ditetapkan. Di samping itu, tingkat kerahasiaan informasi biasanya juga terkait
dengan jangka waktu atau masanya, misalnya data hasil Pemilu bersifat rahasia
sebelum diumumkan kepada publik, namun setelah tanggal pengumuman
informasi tersebut menjadi informasi yang terbuka dan harus disampaikan
kepada publik.

Terkait dengan pelaksanaan undang-undang dalam implementasi e-voting


harus dilakukan tata kelola TI pada badan publik oleh pejabat pengelola
informasi dan dokumentasi yang independen. Dalam hal ini, Kementerian
Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) dapat mengawal pengembangan
dan implementasi sistem namun pelaksanaannya dilakukan oleh instansi
independen di bawah KPU. Pejabat itu wajib memberikan, menyampaikan, dan
menyebarluaskan informasi publik dengan cara yang mudah dijangkau, namun
di sisi lain harus mengamankan informasi yang dikecualikan/dirahasiakan dan
hanya boleh diminta dengan sejumlah persyaratan dari akses pihak- pihak yang
tidak terotorisasi, sehingga yang seharusnya tidak boleh diakses oleh publik
harus tetap dijamin kerahasiaannya.

3. Analisis Berdasarkan Undang-undang Kearsipan

Semua data hasil pemilu dan e-voting nantinya merupakan arsip atau dokumen
milik Negara karena sesuai dengan pasal 33 dalam undang-undang ini
menyatakan bahwa arsip yang tercipta dari kegiatan lembaga negara dan
kegiatan yang menggunakan sumber dana negara dinyatakan sebagai arsip
milik negara. Arsip adalah naskah yang dibuat dan diterima oleh Lembaga
Negara dan Badan Pemerintahan dalam bentuk corak apa pun baik dalam
keadaan tunggal maupun berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kegiatan
pemerintahan; naskah yang dibuat dan diterima oleh Badan-badan swasta
dan/atau perorangan, dalam bentuk corak apa pun, baik dalam keadaan tunggal
maupun berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kehidupan kebangsaan'.
Dalam UU ITE, walaupun tidak disebut kata arsip, tapi kata tersebut
dipersamakan dengan dokumen elektronik.

Sistem Informasi Manajemen | 28


Penerapan Pemilu Elektronik

Untuk menunjang pelaksanaan amanat UU ITE terkait dengan arsip data dan
pengelolaan informasi, Pemerintah harus menyiapkan sistem elektronik yang
matang. Karena akses ke dokumen elektronik dapat saja dilakukan melampaui
batas wilayah hukum Indonesia. UU ITE sendiri menyebutkan suatu informasi
harus berbentuk tertulis atau asli, informasi elektronik dan/atau dokumen
elektronik dianggap sah sepanjang informasi yang tercantum di dalamnya
dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat
dipertanggungjawabkan sehingga menerangkan suatu keadaan.

Dalam transaksi melalui media elektronik atau internet belum terakomodasinya


sistem informasi elektronik dalam sistem hukum Indonesia secara
komprehensif. Belum terakomodasinya sistem informasi elektronik tersebut
mengakibatkan sistem informasi rentan untuk diubah, disadap, dipalsukan, dan
dikirim ke berbagai penjuru dunia dalam waktu hitungan detik. Dengan
demikian dampak yang diakibatkan bisa demikian kompleks dan rumit.

Hubungannya dengan implementasi e-voting ini pemanfaatan teknologi


informasi dan transaksi elektronik harus dilaksanakan berdasarkan asas
kepastian hukum, manfaat, kehati-hatian, itikad baik dan kebebasan memilih
teknologi atau netral teknologi serta tidak mengesampingkan asas dasar
pemilu. Suatu dokumen elektronik dianggap telah memenuhi apabila syarat
informasi elektronik atau asli, bila: dapat diakses, ditampilkan, dijamin
keutuhannya dan dapat dipertanggungjawabkan.

4. Analisis Berdasarkan Undang-undang Administrasi Kependudukan

Undang-undang ini secara tegas mengamanatkan pelaksanaan penataan dan


penertiban data dan dokumen kependudukan melalui pendayagunaan teknologi
informasi oleh menteri yang bertanggung jawab dalam urusan pemerintahan
dalam negeri bersama dengan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota
dan perangkat pemerintah kabupaten/kota. Sehingga seharusnya dengan
kemajuan teknologi sekarang ini, Pemerintah sudah mampu menciptakan
single identiry number untuk setiap penduduk sebagai identitas pengenal
tunggal dalam memanfaatkan pelayanan publik, termasuk dalam hal ini
menggunakan hak pilihnya.

Idealnya diharapkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang tertera di Kartu


Tanda Penduduk (KTP) sebagai nomor identitas tunggal bagi setiap penduduk
dan dapat diakses untuk verifikasi jati diri seseorang. Setiap perubahan data jati
diri seseorang tervalidasi secara terkini melalui pelayanan pendaftaran
penduduk dan pencatatan sipil di dalam database kependudukan nasional. NIK
dimanfaatkan sebagai kunci akses dalam pelayanan publik bagi semua sektor

Sistem Informasi Manajemen | 29


Penerapan Pemilu Elektronik

melalui koneksitas NIK. Di samping itu, NIK juga mewujudkan efektivitas dan
efisiensi dalam pelaksanaan pelayanan publik.

Penerapan awal KTP berbasis NIK yang dilengkapi dengan sidik jari dan chip
atau e-KTP merupakan langkah strategis menuju tertib administrasi
kependudukan yang mengamanatkan adanya identitas tunggal bagi setiap
penduduk dan terbangunnya basis data kependudukan yang lengkap dan
akurat.

Berdasarkan hal tersebut, perkembangan teknologi digital dan internet sangat


memungkinkan terjadinya pelaksanaan pemilihan tersebut secara transparan
dan akuntabel. E-voting adalah salah satu konsep riil yang relevan dilakukan
bagi pelaksanaan pesta demokrasi di Indonesia. Hal ini juga harus didukung
pendataan elektronik melalui format KTP digital yang mereduksi terjadinya
pemilih ganda. Kondisi geografis Indonesia juga sangat berkepentingan untuk
penerapan e-voting agar penghitungan suara dapat dilakukan real time online.

Model e-voting untuk setiap negara memang beragam dan untuk kasus di
Indonesia bisa mengacu argumen yaitu dimulai dengan peran strategis dari
KTP digital yang bersifat multifungsi. Mengacu peran penting KTP, maka
pembuatan KTP ke depan seperti sudah dikembangkan disertai proses
digitalisasi yang lebih lengkap, misalnya harus mencantumkan tanda tangan,
sidik jari, foto dan juga dimungkinkan untuk diberi personal identification
number. Prinsip multifungsi dari KTP akan memberikan kemudahan bagi
pemerintah untuk meminimalisasi terjadinya kekacauan DPT seperti yang
terjadi lalu. Hal ini adalah proses awal dari pemanfaatan jaringan digital bagi
pelaksanaan pemilu di masa depan yang lebih taat asas Luber Jurdil.

Di samping keempat regulasi utama di atas, terdapat beberapa peraturan yang


juga perlu diperhatikan dalam implementasi e-voting yaitu:

Putusan MK No. 147/PUU-VII/2009 yang menyatakan Bahwa


pemberian suara yang dilakukan dengan cara mencentang salah satu calon
sepanjang tidak bertentangan dengan asas Pemilu yang luber dan jurdil
tidak mengurangi keabsahan Pemilu karena masih dalam batas-batas yang
wajar. Demikian juga cara lain, misalnya e-voting, adalah konstitusional
sepanjang tidak melanggar asas Pemilu yang luber dan jurdil. Lebih
lanjut MK juga menjelaskan bahwa makan mencoblos dalam undang-
undang dapat pula diartikan penggunaan metode e-voting.
Perpres No. 35 Tahun 2010 tentang Penerapan KTP Berbasis NIK
Secara Nasional, fungsi dan kegunaan e-KTP adalah sebagai identitas jati
diri, berlaku nasional, sehingga tidak perlu lagi membuat KTP lokal untuk

Sistem Informasi Manajemen | 30


Penerapan Pemilu Elektronik

pengurusan izin, pembukaan rekening bank, mencegah KTP ganda dan


pemalsuan KTP, serta terciptanya keakuratan data penduduk untuk
mendukung program pembangunan, salah satunya dalam proses pemilu.

Menurut Syukri (2011) teknologi e-voting sangat tepat untuk digunakan dalam
pemilu di Indonesia. Dengan satu catatan apabila program e-KTP berjalan
dengan lancar dan sukses, karena e-KTP merupakan syarat utama dalam
pemilihan umum dengan cara elektronik untuk membuat pemilu lebih hemat,
efisien serta menjunjung tinggi asas Luber dan Jurdil dan konstitusional serta
aman, andal dan bertanggung jawab.

5. Analisis Kelembagaan yang Terlibat

Dari aspek kelembagaan, proyek e-voting ini dapat berjalan dengan sukses
apabila mendapat dukungan dari instansi-instansi sebagai berikut:

a. Komisi Pemilihan Umum (KPU), yang tugas utamanya adalah


melaksanakan dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan Pemilu.
Menjalankan amanat UU Pemilu dan UU Pilkada;

b. Biro Perencanaan dan Data sebagai Pengelola TI, yang merupakan unit
kunci untuk mengembangkan dan mengelola secara teknis sistem e-voting.
Diperlukannya bagian khusus untuk mengelola e-voting agar berjalan
secara efektif dan independen. Menjalankan amanat Putusan MK 147;

c. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), yang


berperan dalam mengawal dalam pengembangan dan pengelolaan e-voting
dari aspek teknologi dan pengelolaan informasi. Menjalankan amanat UU
ITE & UU KIP;
d. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), bertugas dalam memastikan
keandalan data pemilih melalui percepatan penerapan e-KTP sebagai
single identification number untuk dasar pendataan pemilih dalam
pelaksanaan e-voting. Menjalankan amanat UU Kependudukan;
e. Kementerian Keuangan (Kemenkeu), berperan dalam menilai kelayakan
program e-voting dari aspek ekonomi dan keuangan serta risiko dan
kemanfaatan sosial dan mengalokasikan pendanaan atas program e-voting
tersebut.

Sistem Informasi Manajemen | 31


Penerapan Pemilu Elektronik

F. ANALISIS RISIKO

Dalam rencana implementasi e-voting tidak menutup kemungkinan timbulnya


kendala-kendala yang harus diperhatikan dalam membangun sistem, antara
lain:

1. Kurangnya transparansi;
2. Terbatasnya keterbukaan dan pemahaman sistem bagi yang bukan
ahlinya;
3. Kurangnya standar yang disepakati untuk sistem e-voting;

4. Memerlukan sertifikasi sistem, tapi standar sertifikasi tidak disepakati


secara luas;

5. Berpotensi melanggar kerahasiaan pemilihan, khususnya dalam


sistem yang melakukan autentikasi pemilih maupun suara yang
diberikan;
6. Risiko manipulasi oleh orang dalam dengan akses istimewa ke sistem
atau oleh peretas dari luar.
7. Kemungkinan kecurangan dengan manipulasi besar-besaran oleh
sekelompok kecil orang dalam.
8. Meningkatnya biaya baik pembelian maupun sistem pemeliharaan e-
voting.
9. Meningkatnya persyaratan infrastruktur dan lingkungan, contohnya,
berkaitan dengan pasokan listrik, teknologi komunikasi, suhu,
kelembaban;

10. Meningkatnya persyaratan keamanan untuk melindungi sistem


pemberian suara selama dan antara pemilu ke pemilu selanjutnya
termasuk selama pengangkutan, penyimpanan dan pemeliharaan;
11. Kurangnya tingkat kendali oleh penyelenggara pemilihan karena
tingginya ketergantungan terhadap vendor dan/atau teknologi;

12. Kemungkinan penghitungan ulang terbatas;


13. Kebutuhan untuk kampanye tambahan bagi pendidikan pemilih;

14. Berpotensi konflik dengan kerangka hukum yang ada; dan


15. Berpotensi kurangnya kepercayaan publik pada pemilihan
berdasarkan e-voting sebagai hasil dari kendala-kendala di atas.

Sistem Informasi Manajemen | 32


Penerapan Pemilu Elektronik

Apabila kendala-kendala tersebut tidak ditangani dengan baik dan tidak


dipertimbangkan dalam proses pembangunan sistem e-voting akan
menimbulkan risiko-risiko yang merugikan bagi Pemerintah maupun
masyarakat. Risiko-risiko yang timbul beserta usulan untuk memitigasi risiko
tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Kelemahan/ Penanggung Mitigasi Risiko


No. Risiko
Kendala Jawab
1 Kurangnya Kepercayaan Segera dipublikasi
transparansi masyarakat hasil akhir e-voting,
menurun dengan adanya data
(Risiko dukung apabila
Politik) diminta oleh pihak
tertentu.
2 Berpotensi Memisahkan proses
melanggar KPU validasi identitas
kerahasiaan pemilih dengan proses
pemilihan pemilihan
3 Berpotensi Meningkatkan
kurangnya integritas data
kepercayaan publik identifikasi pemilih
pada pemilihan e- dan independensi
voting pengelola sistem.
4 Terbatasnya Kecurangan Membatasi akses
keterbukaan dan dan pengguna tertentu
pemahaman sistem manipulasi terhadap data sistem
5 Kurangnya standar hasil pemilu e-voting.
yang disepakati meningkat Memastikan
untuk sistem e- (Risiko keandalan dan
voting Teknis) keamanan sistem,
6 Manipulasi oleh sebelum diluncurkan
orang dalam ke publik.
dengan akses KPU,
istimewa ke sistem Kemkominfo
atau oleh peretas
dari luar
7 Kecurangan Memisahkan tugas
dengan manipulasi dan tanggung jawab
besar-besaran oleh dalam tahap
sekelompok kecil pengembangan dan
orang dalam implementasi, seperti
8 Kurangnya tingkat pemisahan antara

Sistem Informasi Manajemen | 33


Penerapan Pemilu Elektronik

Kelemahan/ Penanggung Mitigasi Risiko


No. Risiko
Kendala Jawab
kendali oleh petugas validasi data
penyelenggara pemilih, petugas
pemilihan pemandu aplikasi e-
voting, dan petugas
verifikasi hasil e-
voting.
9 Kemungkinan Memisahkan proses
penghitungan validasi data pemilih
ulang terbatas dan proses pemberian
suara, sehingga hasil
akhir e-voting
sebelum diumumkan
harus direkonsiliasi
terlebih dahulu
dengan data pemilih.
10 Memerlukan Biaya yang Sistem disusun agar
sertifikasi sistem, tinggi berlaku secara
tapi standar dengan universal untuk
sertifikasi tidak tingkat Pemilu maupun
disepakati secara keberhasilan Pilkada, bukan sekali
luas kecil (Risiko pakai dan dalam
Keuangan) penyusunannya
mengacu pada best
practice di negara-
negara lain.
Kemenkeu
11 Meningkatnya Melakukan analisis
biaya baik komprehensif
pembelian maupun terhadap semua aspek
sistem yang mempengaruhi
pemeliharaan e- sistem dengan
voting mengutamakan
12 Meningkatnya efisiensi dan
persyaratan efektivitas jangka
infrastruktur dan panjang.
lingkungan
13 Meningkatnya Memastikan
persyaratan keandalan sistem dan
keamanan untuk KPU integritas data pemilih
melindungi sistem sebelum sistem
pemberian suara diluncurkan.

Sistem Informasi Manajemen | 34


Penerapan Pemilu Elektronik

Kelemahan/ Penanggung Mitigasi Risiko


No. Risiko
Kendala Jawab
14 Kebutuhan untuk Melakukan pilot
kampanye project untuk
tambahan bagi beberapa daerah
pendidikan pemilih sebelum diterapkan
secara nasional.
15 Berpotensi konflik Memperhatikan
dengan kerangka Benturan kerangka hukum yang
hukum yang ada dengan telah ada &
regulasi yang KPU, menyelaraskan
telah ada Kemendagri regulasi-regulasi yang
(Risiko terkait: UU Pemilu,
Hukum) UU ITE, UU KIP, dll.

Sistem Informasi Manajemen | 35


Penerapan Pemilu Elektronik

BAB III
SIMPULAN

Proses pesta demokrasi yang terjadi di Indonesia memang telah sering


dilakukan dengan rentang waktu 5 tahunan sesuai dengan arahan perundangan
yang berlaku. Meski demikian, harapan dari pelaksanaan pesta demokrasi yang
LUBERJURDIL ternyata masih sangat jauh dari harapan. Mengacu sejumlah
temuan yang ada, paling tidak ada beberapa problem terkait pelaksanaan pesta
demokrasi di Indonesia yaitu: (1) Kecurangan Pemilihan Umum, (2)
Keborosan anggaran, (3) Permasalahan pada Daftar Pemilih Tetap (DPT), (4)
Banyaknya Suara Tidak Sah, (5) Kondisi Geografis Menghambat Proses
Rekapitulasi, (6) Lemahnya Infrastruktur Teknologi, (7) Permasalahan dalam
Hal Kerahasiaan, (8) Jumlah Golput Terus Meningkat.

Adanya sejumlah fakta diatas mengambarkan bahwa Indonesia butuh sebuah


inovasi tekait dengan penyelenggaraan pemilu sekarang ini. Salah satu inovasi
yang dapat diambil oleh pemerintah adalah penerapan e-voting merupakan
opsi terbaik guna mengatasi permasalahan-permasalahan terkait dengan
pemilu yang ada di Indonesia. Penerapan e-voting diharapkan dapat membantu
pesta demokrasi di Indonesia untuk dapat diterapkan secara LUBERJURDIL.

Pemilihan elektronik (e-voting) merupakan alat untuk membuat proses pemilu


lebih efisien dan untuk meningkatkan kepercayaan pada penyelenggaranya.
Apabila dilaksanakan dengan tepat, solusi e-voting dapat meningkatkan
keamanan surat suara, mempercepat pengolahan hasil dan membuat pemilihan
lebih mudah. Namun, jika tidak direncanakan dan dirancang dengan cermat, e-
voting dapat merusak kepercayaan masyarakat pada keseluruhan proses
pemilu.

Dari aspek kebutuhan, system e-voting terdiri dari dua tipe kebutuhan yaitu
kebutuhan fungsional dan kebutuhan non fungsional. Berikut ini adalah
kebutuhan system e-voting baik kebutuhan fungsional maupun kebutuhan non
fungsional.

1. Kebutuhan Fungsional. Kebutuhan fungsional system e-voting meliputi


hal-hal yang berkaitan dengan bagaiman implementasi e-voting dapat
berjalan dengan lancar dan sesuai dengan asas pemilu yang ada di
Indonesia

Sistem Informasi Manajemen | 36


Penerapan Pemilu Elektronik

2. Kebutuhan Non Fungsional. Kebutuhan non fungsional system e-


voting meliputi Usability (kemudahan penggunaan oleh user), Reliability
(kehandalan dan keamanan perangkat), Portability (kemudahan akses
terkait lokasi dan waktu), dan Supportability (dukungan dalam
penggunaan system).

Dari aspek teknis, terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan antara
lain:

1. Sarana dan prasana termasuk perangkat lunak berlisensi (open source)


2. Identifikasi dan autentifikasi pemilih
3. Menghilangkan keterhubungan antara kandidat dan pemilih
4. Perancangan kertas suara secara elektronik
5. Konfirmasi pemilih, dan
6. Periode pemungutan suara
Sistem e-voting merupakan penerapan teknologi untuk pemilihan legislatif dan
pemilihan presiden dan wakil presiden. Adapun mekanisme pemilihannya tidak
jauh berbeda dengan pemilu konvensional.

Dari analisis ekonomi dan keuangan, Pemerintah Indonesia dapat


menyelenggarakan pemilu dengan sistem e-voting dengan menggunakan
anggaran pemilu seperti pemilu periode sebelumnya. Anggaran biaya tersebut
diantaranya adalah: biaya infrastruktur, biaya program aplikasi, biaya
sosialisasi, dan biaya keamanan serta perawatannya.

Dari aspek manfaat sosial, pelaksanaan pemilu secara e-voting akan lebih
bermanfaat dibanding pelaksanaan pemilu yang diselenggarakan secara
konvenisonal. Berikut manfaat yang dapat diberikan oleh sistem e-voting:

Mekanisme pendistribusian surat suara akan lebih cepat, efisien, dan


realtime.
Memperhatikan asas terhadap ramah lingkungan dengan
mengggunakan paperless mengurangi penggunaan kertas. Sehingga
dapat ramah lingkungan dan mengurangi aksi penebangan pohon.

Proses dan waktu terhadap pemungutan dan perhitungan suara dapat


dilaksakan secara cepat, efisien, dan menghindari aksi kecurangan
dengan cara menyajikan data suara secara realtime.
Kebutuhan akan SDM dan media pelayanan akan lebih efektif.

Sistem Informasi Manajemen | 37


Penerapan Pemilu Elektronik

Dari aspek regulasi, metode pemilu dengan e-voting pada dasarnya dapat
diimplementasikan baik untuk Pemilu maupun Pilkada sepanjang tidak
melanggar asas langsung, umum, bebas, dan rahasia serta jujur dan adil. Di
samping itu, penyelenggaraan melalui e-voting juga harus memastikan tingkat
keamanan dan kerahasiaan data hasil pemilihan. Hal ini berlandaskan pada
Putusan Mahkamah Konstitusi dan sejalan dengan UU ITE dan UU KIP serta
tidak menyalahi aturan induknya yaitu UU Pemilu & UU Pilkada.

Dari sisi keabsahan suara dan integritas data hasil e-voting, dapat
dipersamakan dengan metode pemilihan secara tradisional dan untuk menjamin
setiap penduduk menggunakan hak pilihnya sebanyak satu kali digunakan NIK
sebagai single identification number melalui e-KTP. Hal ini berlandaskan pada
UU Administrasi Kependudukan & UU Kearsipan serta melaksanakan Perpres
e-KTP.

Dari aspek kelembagaan, instansi yang terlibat secara langsung atas


pelaksanaan e-voting adalah KPU dan Biro Perencanaan dan Data sebagai
pelaksana teknis dan penanggung jawab penyelenggaraan e-voting,
Kemenkominfo sebagai perancang dan penyedia dukungan teknologi
informasi, Kemendagri sebagai perancang dan pengelola data e-KTP sebagai
single identification number, dan Kemenkeu sebagai penilai program dan
penyedia alokasi dana atas program e-voting.

Dari aspek risiko, secara umum terdapat empat risiko yaitu risiko politik,
risiko teknis, risiko keuangan, dan risiko hukum. Risiko tersebut dapat
dimitigasi oleh instansi terkait yang utamanya memastikan integritas data
pemilih melalui program e-KTP sebagai single identification number,
memisahkan tugas dan tanggung jawab dalam validasi data dan verifikasi hasil
pemilihan suara, serta memperhatikan dan menyelaraskan terhadap peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Sistem Informasi Manajemen | 38


Penerapan Pemilu Elektronik

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan Jurnal

Alvarez, R.M. 2004. Point, click and vote: The future of Internet voting.
Brookings Institution Press : Washington DC
Apriza,H. 2009. Simulasi e-voting system menggunakana metode, tugas akhir
fakultas Teknologi Informasi: Surabaya
Blanc, Jarrett. Challenging the Norms and Standards of Election Administration:
Electronic Voting, Challenging the Norms and Standards of Election
Administration (IFES, 2007): 13.Reynolds, Andrew. The Curious Case of
Afghanistan. Journal of Democracy 17, No. 2, (2006): 113-114.
California Internet Voting Task Force.2000. A report on the Feasibility of Internet
Voting.
Espiner, M. (2006, 2006 Nov 06). Can you trust the results? New Statesman, 135,
16.
Falah, Muhammad Syaiful. Perancangan Sistem Electronic Voting (E-Voting)
Berbasis Web Dengan Menerapkan Quick Response Code (Qr Code)
Sebagai Sistem Keamanan Untuk Pemilihan Kepala Daerah. Makalah
tidak diterbitkan. Semarang : Universitas Dian Nuswantoro.
Fuadi, A. B. (2015). Tinjauan Yuridis Sistem e-Voting Dalam Penyelenggaraan
Pemilu di Indonesia. (Bachelor), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,
Yogyakarta.
Hidayat, M. R. (2014). Perancangan Sistem Pemungutan Suara Online Pada
KPUD Kabupaten Banyuwangi. (Bachelor), Sekolah Tinggi Manajemen
Informatika dan Komputer AMIKOM Yogyakarta, Yogyakarta.
IDEA. (2011). Memperkenalkan Pemilihan Elektronik: Pertimbangan Esensial
(Y. Absari, Trans.). Canberra: Program Asia dan Pasifik International
IDEA.

Sistem Informasi Manajemen | 39


Penerapan Pemilu Elektronik

Internet Policy Institute.2001.Report of the National Workshop on Internet Voting


Issues and Research Agenda.

Lauer, T.W.2004. The risk of e-voting, Electronic Journal of e-Government 2, No.


3: 177-179
Mutmainnah, N., Pawe, M. S., & Tajuddin, S. W. (2015). Penerapan Sistem e-
Voting bagai Upaya Mewujudkan Penyelenggaraan Pemilu yang Jujur dan
Adil. SCEPTA, 35.
Priyono, Edi dan Fereshti Nurdiana Dihan. 2010. E-Voting: Urgensi Transparansi
Dan Akuntabilitas. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional
Informatika 2010, UPN Veteran, Yogyakarta, 22 Mei.
Syukri, R. A. (2011). Penyelenggaraan Sistem Elektonik Untuk Pemilu. (Master),
Universitas Indonesia, Jakarta.
Wagstaff, J. (2003). Beware e-voting. Far Eastern Economic Review, 166(46), 41-
42.
Widayat, Iman Wahyu, dkk. Kajian e-Voting Berbasis Web Dengan Sidik Jari
Sebagai Kontrol Akses Untuk Pemilihan Umum di Tingkat TPS.

Peraturan Perundang-undangan

Republik Indonesia. 1945. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia


1945. Jakarta.
Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang
Penyelenggaraan Pemilihan Umum. Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah. Sekretariat Negara. Jakarta.

Sistem Informasi Manajemen | 40