Anda di halaman 1dari 16

BAB I

TINJAUAN MEDIS

1. Definisi
KKP ( Kurang Kalori Protein) merupakan salah satu masalah gizi utama
di Indonesia. KKP disebabkan karena defisiensi macro nutrient (zat gizi
makro). Meskipun sekarang ini terjadi pergeseran masalah gizi dari defisiensi
macro nutrient kepada defisiensi micro nutrient, namun beberapa daerah di
Indonesia prevalensi KEP masih tinggi (> 30%) sehingga memerlukan
penanganan intensif dalam upaya penurunan prevalensi KKP.

Terdapat tiga jenis KKP, yaitu:


1. KKP Kering : jika seseorang tampak kurus dan mengalami dehidrasi
2. KKP Basah : jika seseorang tampak membengkak karena tertahannya
cairan
3. KKP Menengah : jika seseorang berada dalam kondisi diantara KKP
kering dan KKP basah.
KKP kering disebut marasmus, merupakan akibat dari kelaparan yang
hampir menyeluruh. Seorang anak yang mengalami marasmus, mendapatkan
sangat sedikit makanan, sering disebabkan karena ibu tidak dapat memberikan
ASI. Badannya sangat kurus akibat hilangnya otot dan lemak tubuh. Hampir
selalu disertai terjadinya infeksi. Jika anak mengalami cedera atau infeksi
yang meluas, prognosanya buruk dan bisa berakibat fatal.
KKP basah disebut kwashiorkor, yang dalam bahasa Afrika berarti 'anak
pertama-anak kedua. Istilah tersebut berdasarkan pengamatan bahwa anak
pertama menderita kwashiorkor ketika anak kedua lahir dan menggeser anak
pertama dari pemberian ASI ibunya.
Anak pertama yang telah disapih tersebut mendapatkan makanan yang
jumlah zat gizinya lebih sedikit bila dibandingkan dengan ASI, sehingga tidak
tumbuh dan berkembang.

1
KKP menengah disebut marasmik-kwashiorkor. Anak-anak yang
menderita KKP ini menahan beberapa cairan dan memiliki lebih banyak lemak
tubuh dibandingkan dengan penderita marasmus.
Kwashiorkor atau biasa lebih dikenal busung lapar", pertama kali
diperkenalkan oleh Dr Cecile Williams pada tahun 1933 sewaktu ia berada di
Gold Coast, Afrika. Saat itu, Dr Cecile Williams banyak menemui anak-anak
mengalami gejala busung lapar atau kwashiorkor. Istilah kwashiorkor itu sendiri
berasal dari bahasa setempat yang berarti penyakit anak pertama yang timbul
begitu anak kedua muncul". Makna dari kata-kata ini intinya adalah
menggambarkan suatu penyakit yang timbul pada anak pertama akibat anak
tersebut tertelantarkan oleh orangtua akibat adanya adik yang baru lahir.
Kwashiorkor lebih jarang ditemukan dan biasanya terjadi dalam bentuk
marasmik-kwashiorkor. Kwashiorkor cenderung terjadi di negara-negara dimana
serat dan makanan digunakan untuk menyapih bayi (misalnya umbi jalar,
singkong, beras, kentang dan pisang), yang sedikit mengandung protein dan
sangat banyak mengandung zat tepung; yaitu di pedesaan Afrika, Karibia,
kepulauan Pasifik dan Asia Tenggara.
Kwashiorkor adalah salah satu bentuk dari gangguan gizi yang dikenal
sebagai Kurang Energi dan Protein (KKP) , ada juga yang mendefinisikan bahwa
kwashiorkor adalah suatu sindrom yang diakibatkan defisiensi protein yang berat.
Defisiensi ini sangat parah, meskipun konsumsi energi atau kalori tubuh
mencukupi kebutuhan..

2. Etiologi
Kekurangan gizi merupakan suatu keadaan dimana terjadi kekurangan zat-
zat gizi ensensial, yang bisa disebabkan oleh: Asupan yang kurang karena
makanan yang jelek atau penyerapan yang buruk dari usus (malabsorbsi);
Penggunaan berlebihan dari zat-zat gizi oleh tubuh; Kehilangan zat-zat gizi yang
abnormal melalui diare, pendarahan, gagal ginjal atau keringat yang berlebihan.
Adapun yang menjadi penyebab langsung terjadinya KKP adalah konsumsi
yang kurang dalam jangka waktu yang lama. Pada orang dewasa, KKP timbul
pada anggota keluarga rumahtangga miskin olek karena kelaparan akibat gagal

2
panen atau hilangnya mata pencaharian. Bentuk berat dari KKP di beberapa
daerah di Jawa pernah dikenal sebagai penyakit busung lapar atau HO (Honger
Oedeem).
Kwashiorkor terjadi karena adanya defisiensi protein pada anak karena
kandungan karbohidrat makanan tersebut tinggi, tapi mutu dan kandungan
proteinnya sangat rendah.
Biasanya, kwashiorkor ini lebih banyak menyerang bayi dan balita pada usia
enam bulan sampai tiga tahun. Usia paling rawan terkena defisiensi ini adalah dua
tahun. Pada usia itu berlangsung masa peralihan dari ASI ke pengganti ASI atau
makanan sapihan.
Kwashiorkor cenderung terjadi di negara-negara dimana serat dan makanan
digunakan untuk menyapih bayi (misalnya umbi jalar, singkong, beras, kentang
dan pisang), yang sedikit mengandung protein dan sangat banyak mengandung zat
tepung; yaitu di pedesaan Afrika, Karibia, kepulauan Pasifik dan Asia Tenggara.
Orang-orang yang memiliki resiko mengalami kekurangan gizi:
a. Bayi dan anak kecil yang nafsu makannya jelek
b. Remaja dalam masa pertumbuhan yang pesat
c. Wanita hamil dan wanita menyusui
d. Orang tua
e. Penderita penyakit menahun pada saluran pencernaan, hati atau ginjal,
terutama jika terjadi penurunan berat badan sampai 10-15%
f. Orang yang menjalani diet untuk jangka panjang
g. Vegetarian
h. Penderita ketergantungan obat atau alkohol yang tidak cukup makan
i. Penderita AIDS
j. Pemakaian obat yang mempengaruhi nafsu makan, penyerapan atau
pengeluaran zat gizi
k. Penderita anoreksia nervosa
l. Penderita demam lama, hipertiroid, luka bakar atau kanker.

3
3. Patofisiologi
Penderita kwashiorkor itu mengalami kekurangan protein, namun dalam
batas tertentu ia masih menerima zat gizi sumber energi (sumber kalori) seperti
nasi, jagung, singkong, dan lain-lain. walau asupan protein sangat kurang, tetapi si
anak masih menerima asupan hidrat arang / karbohidrat (misalnya nasi ataupun
sumber energi lainnya), maka yang terjadi adalah gejala kwashiorkor.
Protein adalah sesuatu yang vital dalam kehidupan manusia begitu banyak
peran protein bagi tubuh. Protein berperan untuk pertumbuhan, pemeliharaan
jaringan tubuh, mengganti dan memperbaiki sel yang rusak, mengatur
keseimbangan asam basa, membentuk hormon dan enzim yang diperlukan dalam
berbagai proses kimia tubuh.
Selain itu protein juga sebagai sumber energi cadangan jika kebutuhan
karbohidrat atau lemak tubuh tidak tercukupi. Kelebihan atau kekurangan protein
tidak baik untuk kesehatan. Kelebihan protein dapat mengganggu metabolisme
protein yang berada di hati. Ginjal akan terganggu karena harus membuang hasil
metabolisme protein yang berlebihan dan tidak terpakai oleh tubuh. Kekurangan
protein juga akan membuat tubuh mudah lelah. Tekanan darah dan daya tahan
terhadap infeksi pun dapat menurun. Pada anak-anak, selain mudah terserang
penyakit kwashiorkor atau busung lapar, juga pertumbuhan dan tingkat
kecerdasannya akan terganggu.
Tubuh menyerap protein dan makanan yang mengandung protein dalam
bentuk asam amino. Asam amino harus diperoleh dari makanan sebab tubuh tidak
bisa membuat asam amino. Berbagai jenis asam amino adalah isoleusin, leusin,
lisin, methionin, femialanin, threonin, triptofan, dan valin
Patofisiologi KKP adalah manifestasi dari kurangnya asupan protein dan
energi, dalam makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi
(AKG), dan biasanya juga diserta adanya kekurangan dari beberapa nutrisi
lainnya.
Disebut malnutrisi primer bila kejadian KKP akibat kekurangan asupan
nutrisi, yang pada umumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi, pendidikan
serta rendahnya pengetahuan dibidang gizi. Malnutrisi sekunder bila kondisi
masalah nutrisi seperti diatas disebabkan karena adanya penyakit utama, seperti

4
kelainan bawaan, infeksi kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik, yang
mengakibatkan kebutuhan nutrisi meningkat, penyerapan nutrisi yang turun
dan/meningkatnya kehilangan nutrisi.
Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi berbagai
cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup, dimulai
dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta protein
dengan melalui proses katabolik.
Kalau terjadi stres katabolik (infeksi) maka kebutuhan akan protein akan
meningkat, sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif, kalau
kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih diatas -3 SD (-2SD3SD), maka
terjadilah kwashiorkor (malnutrisi akut/decompensated malnutrition). Pada
kondisi ini penting peranan radikal bebas dan anti oksidan. Bila stres katabolik ini
terjadi pada saat status gizi dibawah -3 SD, maka akan terjadilah marasmik-
kwashiorkor.
Kalau kondisi kekurangan ini terus dapat teradaptasi sampai dibawah -3 SD
maka akan terjadilah marasmik (malnutrisikronik/compensated malnutrition).
Dengan demikian pada KEP dapat terjadi : gangguan pertumbuhan, atrofi otot,
penurunan kadar albumin serum, penurunan hemoglobin, penurunan sistem
kekebalan tubuh, penurunan berbagai sintesa enzim.
Anak dengan kwashiorkor akan mengalami edema (penumpukkan cairan di
jaringan bawah kulit; umumnya di ujung-ujung tungkai bawah) dan adanya
akumulasi cairan di rongga usus. Bagian tubuh yang menderita edema akan
menjadi bengkak, bagian tersebut bila dipencet memberikan suatu cekungan .
Terjadi pula penimbunan cairan di rongga perut yang menyebabkan perut si anak
menjadi busung (oleh karenanya disebut busung lapar).
Terjadinya edema, biasanya diawali akibat turunnya kadar albumin serum.
Ini mengakibatkan turunnya tekanan osmotik daerah. Cairan daerah akan
menerobos pembuluh darah dan masuk kedalam cairan tubuh.
Anak-anak yang mengalami hal ini biasanya kehilangan nafsu makan,
rewel, diare, dan sikap apatis. Biasanya pula, mereka menderita infeksi lambung
dan perubahan psikomotor. Wajahnya bengkak. Pada orang dewasa, keadaan ini
bisa terjadi, dan yang terparah adalah busung lapar.

5
Kwashiorkor dianggap ada hubungannya dengan marasmus marasmick. Ini
adalah satu kondisi terjadinya defisiensi, baik kalori, maupun protein. Cirinya
adalah dengan penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak subkutan, dan
juga ditambah dehidrasi.
Apabila keadaan menjadi lebih berat, kulit menjadi kusam dan mudah
terkelupas, rambut menjadi merah kusam dan mudah dicabut, anak menjadi lebih
sering menderita bermacam penyakit dan lain-lain.

4. Tanda dan Gejala


Gejala Klinis Balita Penderita Kwashiorkor:
a. Edema, umunya seluruh tubuh terutama pada punggung kaki (dorsum pedis)
b. Wajah membulat dan sembab
c. Pandangan mata sayu
d. Rambut tipis. Kemerahan seperti warna jagung, mudah di cabut tanpa rasa
sakit, rontok
e. Perubahan status mental, apatis, rewel
f. Pembesaran Hati
g. Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata diperiksa pada posisi berdiri atau
duduk
h. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna
menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy pavement dermatosis)
i. Sering disertai: penyakit infeksi, umumnya akut; anemia; dan diare

5. Pengobatan dan Penatalaksanaan


Dalam mengatasi kwashiorkor ini secara klinis adalah dengan memberikan
makanan bergizi secara bertahap. Bila bayi menderita kwashiorkor, maka bayi
tersebut diberi susu yang diencerkan. Secara bertahap keenceran susu dikurangi,
sehingga suatu saat mencapai konsistensi yang normal seperti susu biasa kembali.
Kalau anak sudah agak besar, bisa mulai dengan makanan encer, kemudian
makanan lunak (bubur) dan bila keadaan membaik, maka baru diberikan makanan
padat biasa. Dalam melaksanakan hal di atas ini, selalu diberikan pengobatan

6
sesuai dengan penyakit yang diderita. Bila keadaan kesehatan dan gizi sudah
mencapai normal, perlu diteruskan dengan imunisasi.
lmunisasi pada bayi atau anak dengan keadaan kurang gizi berat (seperti
kwashiorkor) tidak akan memberi hasil yang positif. Status gizi (khususnya status
protein) sangat mempengaruhi keberhasilan imunisasi. Kesemua ini tentunya
harus bersamaan dengan dilakukannya penyuluhan/pendidikan masyarakat, upaya
pengentasan kemiskinan, serta upaya lainnya yang dapat meningkatkan
keberdayaan masyarakat.
Agar tubuh dapat terpenuhi kebutuhan protein yang lengkap maka
mengkonsumsi sumber protein harus dikombinasikan antara sumber protein
hewani dan sumber protein nabati sehingga saling melengkapi jumlah protein
yang harus dikonsumsi seseorang setiap hari tergantung dari umur seseorang,
berat badan, jenis kelamin, mutu protein yang dikonsumsi, serta keadaan tertentu,
misalnya sedang sakit atau baru sembuh dari sakit, yang mengharuskan orang
untuk mengkonsumsi protein dalam jumlah yang lebih besar.
Umumnya tingkat kebutuhan protein dalam keadaan sehat normal orang
membutuhkan sekitar 40-60 gram protein tiap hari. Ada pula yang menyebut 1
gram per kilogram berat badan perhari. Namun, harus tetap dicatat bahwa
mengkombinasikan beragam sumber protein baik nabati maupun hewani dapat
memberi hasil yang maksimal bagi kesehatan.
Tata laksana diet pada balita KKP berat/gizi buruk ditujukan untuk
memberikan makanan tinggi energi, tinggi protein, dan cukup vitamin mineral
secara bertahap, guna mencapai status gizi optimal. Ada 4 (empat) kegiatan
penting dalam tata laksana diet, yaitu : pemberian diet, pemantauan, dan evaluasi,
penyuluhan gizi, serta tindak lanjut.

A. Pemberian diet balita KKP berat/gizi buruk harus memenuhi syarat


sebagai berikut :

1) Melalui 3 fase yaitu : fase stabilisasi, fase transisi, dan fase


rehabilitasi

2) Kebutuhan energi mulai 100-200 kal/Kgbb/hari

7
3) Kebutuhan protein mulai 1-6 g/Kgbb/hari

4) Pemberian suplementasi vitamin dan mineral khusus, bila tidak


tersedia diberikan bahan makanan sumber mineral tertentu.

5) Jumlah cairan 130-200 ml/kgbb/hari, bila ada edema dikurangi


menjadi 100 ml/Kg bb/hari

6) Jumlah pemberian peroral atau lewat pipa nasogastrik

7) Porsi makanan kecil dan frekwensi makan sering

8) Makanan fase stabilisasi harus hipoosmolar, rendah laktosa, dan


rendah serat

9) Terus memberikan ASI

10) Makanan padat diberikan pada fase rehabilitasi dan berdasarkan


berat badan, yaitu : bb < 7 kg diberikan kembali makanan bayi dan
bb > 7 Kg dapat langsung diberikan makanan anak secara bertahap.

B. Evaluasi dan Pemantauan Pemberian Diet:


1) Timbang berat badan sekali seminggu, bila tidak naik, kaji penyebabnya
(asupan gizi tidak adequat, defisiensi zat gizi, infeksi, masalah
psikologis).
2) Bila asupan zat gizi kurang, modifikasi diet sesuai selera.
3) Bila ada gangguan saluran cerna (diare, kembung,muntah) menunjukkan
bahwa formula tidak sesuai dengan kondisi anak, maka gunakan formula
rendah atau bebas lactosa dan hipoosmolar, misal: susu rendah laktosa,
formula tempe yang ditambah tepung-tepungan.
4) Kejadian hipoglikemia : beri minum air gula atau makan setiap 2 jam.

Status gizi seseorang dapat ditentukan melalui beberapa cara, yaitu:

a. Laboratorik : terutama Hb, albumin, serum ferritin

b. Anthropometrik : BB/U (berat badan menurut umur), TB/U (tinggi


badan menurut umur), LLA/U (lingkar lengan atas menurut umur),

8
BB/TB (berat badan menurut tinggi badan). Indeks massa tubuh antara
20-50 dianggap normal untuk pria dan wanita.

c. LLA/TB (lingkar lengan atas menurut tinggi badan), Mengukur


ketebalan lipatan kulit.

d. Lipatan kulit di lengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik


menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur,
biasanya dengan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak
dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh.untuk
memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh

e. Foto rontgen dapat membantu menentukan densitas tulang dan


keadaan dari jantung dan paru-paru, juga bisa menemukan kelainan
saluran pencernaan yang disebabkan oleh malnutrisi.

6. Komplikasi

Anak-anak yang mengalami kurang energi dan protein itu, akan mudah
terserang infeksi seperti diare, ISPA (infeksi saluran pernapasan atas), TBC, polio,
dan lain-lain.

Kwashiorkor yang tidak cepat di atasi akan mengakibatkan marasmus


bahkan marasmus-kwashiorkor. Apabila baik zat pembentuk tubuh (protein)
maupun zat gizi sumber energi kedua-duanya kurang, maka gejala yang terjadi
adalah timbulnya penyakit KKP lain yang disebut marasmus. Istilah Marasmus
berasal dari bahasa Yunani, yang berarti kurus-kering.

Sebaliknya, walau asupan protein sangat kurang, tetapi si anak masih


menerima asupan hidrat arang / karbohidrat (misalnya nasi ataupun sumber energi
lainnya), maka yang terjadi adalah gejala kwashiorkor.

Gejala marasmus adalah seperti gejala kurang gizi pada umumnya (seperti
lemah lesu, apatis, cengeng, dan lain-lain), tetapi karena semua zat gizi dalam
keadaan kekurangan, maka anak tersebut menjadi kurus-kering.

9
Kwashiorkor dianggap ada hubungannya dengan marasmus marasmick. Ini
adalah satu kondisi terjadinya defisiensi, baik kalori, maupun protein. Cirinya
adalah dengan penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak subkutan, dan
juga ditambah dehidrasi.

7. Prognosis
Lebih dari 40% anak-anak yang menderita KKP meninggal.
Kematian yang terjadi pada hari pertama pengobatan biasanya disebabkan oleh:
1. gangguan elektrolit
2. infeksi
3. hipotermia (suhu tubuh yang sangat rendah)
4. kegagalan jantung.
Keadaan setengah sadar (stupor), jaundice (sakit kuning), pendarahan kulit,
rendahnya kadar natrium darah dan diare yang menetap merupakan pertanda
buruk. Pertanda yang baik adalah hilangnya apati, edema dan bertambahnya nafsu
makan. Penyembuhan pada kwashiorkor berlangsung lebih cepat.
Efek jangka panjang dari malnutrisi pada masa kanak-kanak tidak diketahui.
Jika anak-anak diobati dengan tepat, sistem kekebalan dan hati akan sembuh
sempurna. Tetapi pada beberapa anak, penyerapan zat gizi di usus tetap
mengalami gangguan.
Beratnya gangguan mental yang dialami berhubungan dengan lamanya anak
menderita malnutrisi, beratnya malnutrisi dan usia anak pada saat menderita
malnutrisi. Keterbelakangan mental yang bersifat ringan bisa menetap sampai
anak mencapai usia sekolah dan mungkin lebih.

10
PATOFISIOLOGI

Ekonomi dan pendidikan Kurangnya asupan nutrisi Kebutuhan nutrisi meningkat

Mobilisasi cadangan makanan


(karbohidrat, lemak, dan protein) u/
menghasilkan kalori

Kebutuhan protein Stress katabolic


Defisiensi protein meningkat

Kadar albumin Penyusutan Akumulasi


serum Sistem Imun jaringan cairan di rongga
usus

Hilangnya lemak
Tekanan osmotic
subkutan Busung
darah
Kulit kusam dan
mudah terkelupas
Rambut tipis dan Dehidrasi
Edema mudah rapuh
Hipotrofi

Wajah membulat Komplikasi


dan sembab

11 Kelemahan
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan
A. Identitas Klien

Pengkajian identitas klien meliputi:


1) Nama; nama berisi tentang identitas klien berupa nama lengkap klien.
2) Umur; Pada umumnya kwashiorkor menyerang bayi dan balita pada rentang usia
enam bulan sampai tiga tahun. Usia paling rawan terkena defisiensi ini adalah
dua tahun karena pada kurun waktu itu berlangsung masa peralihan dari ASI ke
pengganti ASI atau makanan sapihan. Pengganti ASI maupun makanan sapihan
seringkali memiliki kandungan karbohidrat tinggi tetapi mutu dan kandungan
proteinnya sangat rendah.
3) Tempat tinggal; Keadaan gizi balita yang tinggal di pedesaan cenderung
lebih buruk dibanding balita yang tinggal di perkotaan.
4) Jenis kelamin; keadaan gizi balita perempuan relatif lebih baik dibanding
balita laki-laki.

B. Riwayat Kesehatan

Di sini perawat mengkaji riwayat kesehatan saat ini, riwayat kesehatan


dahulu, dan riwayat kesehatan keluarga.
1) Riwayat kesehatan saat ini berisi tentang apa yang menyebabkan klien
sampai dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit atau instansi kesehatan
terkait. Pada umumnya keluhan utama yang disampaikan oleh keluarga
atau klien adalah odem pada wajah dan perut menjadi busung.

12
2) Riwayat kesehatan dahulu berisi tentang penyakit yang pernah diderita
oleh klien
3) Riwayat kesehatan keluarga berisi tentang riwayat penyakit yang pernah di
derita oleh keluarga atau orang terdekat klien; misalnya orang tua klien
pernah menderita TBC maka kemungkinan besar si anak akan menderita
TBC juga karena sistem imun anak yang menderita kwarshiorkor akan
menurun.
C. Pengkajian Saat Ini
1) Persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan:
Pengetahuan tentang penyakit dan perawatan: pada umumnya
pasien yang menderita kwarshiorkor berasal dari keluarga yang rendah
pendidikan dan sosial ekonominya. Klien dan keluarga datang ke rumah
sakit biasanya klien sudah mengalami komplikasi berupa odem pada
wajah, perut busung, dan telah terjadi infeksi pada si anak.
2) Pola nutrisi/metabolik:
Biasanya anak yang menderita kwarshiorkor sulit untuk makan.
Intake makanan: makanan yang dikonsumsi si anak harus rendah
karbohidrat dan lemak tetapi tinggi protein, dengan kebutuhan energi
mulai 100-200 kal/Kgbb/hari dan kebutuhan protein mulai 1-6
g/Kgbb/hari. Makanan padat diberikan pada fase rehabilitasi dan
berdasarkan berat badan, yaitu : bb < 7 kg diberikan kembali makanan
bayi dan bb > 7 Kg dapat langsung diberikan makanan anak secara
bertahap. Intake cairan: Jumlah cairan 130-200 ml/kgbb/hari, bila ada
edema dikurangi menjadi 100 ml/Kg bb/hari.
3) Pola eleminasi
Buang Air Besar (BAB): pola buang air besar pasien yang menderita
kwarshiorkor biasanya sama dengan anak normal tetapi berbeda
konsistensinya, biasanya konsistensinya encer, warna agak pucat.
Buang Air Kecil (BAK): perawat harus menghitung jumlah cairan yang
dikelurkan anak melalui urin, jumlah cairan yang dikeluarkan harus sama
dengan intake cairan.
4) Pola aktivitas dan latihan
Pada umumnya klien bersifat apatis
5) Pola tidur dan Istirahat
Pola tidur dan istrirahat klien biasanya terganggu keran si anak rewel dan
merasa tidak nyaman dengan kondisinya.

13
6) Pola perseptual
Klien tidak mengalami gangguan penglihatan, pendengaran, pengecapan,
dan sensasi
7) Pola Persepsi Diri
Klien sering rewel dan menangis
8) Pengkajian Fisik
Pengkajian fisik diakukan menggunakan prinsip head to toe :
Kepala : warna rambut merah dan mudah rontok, wajah nampak
membulat dan sembab, pandangan mata sayu.
Kardiovaskular : TD rendah; RR
Muskuloskeletal : kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah
warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy
pavement dermatosis), imobilisasi karena adanya hipotrofi
otot, odem di tungkai bawah
Abdomen : Tampak busung karena adanya penumpukan cairan di
rongga usus, adanya pembesaran hati (palpasi), suara timpani
di abdomen (perkusi), peningkatan gerakan peristaltik usus
(auskultasi), BAB konsistensinya encer (diare), BAK sedikit,

9) Pemeriksaan penunjang yang dilakukan meliputi:

Laboratorium :

Tes darah, dari tes darah akan ditemukan hasil:

a) Protein total < 5,0-8,0 g/dl


b) Elektroforesis protein :
i. Albumin < 3.2-5.2 g/dl
ii. Alfa -1 < 0,6-1,0
iii. Alfa -2 < 0,6-1,0
iv. Beta < 0,6-1,2
v. Gama < 0,6-1,2

Kadar kalium dalam darah:

Kalium plasma < 3,1-4,3 mq/dl

Kalium serum < 3,5-5,2 mq/dl

Foto rontgen:

14
Foto rontgen dapat membantu menentukan densitas tulang dan keadaan
dari jantung dan paru-paru, juga bisa menemukan kelainan saluran
pencernaan yang disebabkan oleh malnutrisi.

Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d factor
ekonomi
2. Ketidakseimbangan volume cairan b/d mekanisme pengaturan cairan
dalam tubuh melemah
3. Gangguan pola tidur b/d factor psikologis: cemas
4. Kerusakan integritas kulit b/d perubahan status nutrisi
5. Hambatan mobilisasi fisik b/d penurunan massa otot, dan kekuatan otot
6. Keterlambatan tumbuh kembang b/d kelalaian (kurangnya masukan nutrisi
yang adekuat)
7. Cemas b/d perubahan status kesehatan
8. Deficit knowledge b/d keterbatasan kognisi
9. Kekurangan volume cairan b/d kegagalan dalam mekanisme pengaturan

PATHWAYS

Deficit knowledge

Ekonomi dan pendidikan Kurangnya asupan nutrisi Kebutuhan nutrisi meningkat

Mobilisasi cadangan makanan


Ketidakseimbangan
Keterlambatan tumbuh (karbohidrat, lemak, dan protein) u/
nutrisi
kembang menghasilkan kalori

Kulit kusam dan 15


mudah terkelupas
Ketidak RambutKerusakan
tipis dan rewel, protein
Apatis,
Kebutuhan Hambatan
Stress Akumulasi
katabolic
Komplikasi
Wajah
Tekanan
Kadar
membulat
albumin
osmotic Defisiensi
seimbangan protein mudah rapuh
perubahan
integritas status
meningkat Hilangnya
Kekurangan
Penyusutan
Gangguan
lemak
Vol
Cemas Pola mobilisasi di rongga
cairan
Edema
dan darah
sembab
serum (ISPA, TBC,
Sistem Imundll) Dehidrasi
subkutan
jaringan
Cairan Tidur Hipotrofi Busung
usus
cemas
vol cairan mental
kulit fisik Kelemahan
16