Anda di halaman 1dari 69

FOKUS UTAMA

Pembaruan P American Heart


Association 2015 untuk CPR dan ECC
Daftar Isi
Pendahuluan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . .1

Masalah Etis . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3

Sistem Perawatan dan Peningkatan Kualitas Berkelanjutan . . . . . . . . . . . . . . 3

Bantuan Hidup Dasar Dewasa dan Kualitas CPR:


CPR Penolong Tidak Terlatih . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . .5

Bantuan Hidup Dasar Dewasa dan Kualitas CPR: BLS HCP . . . . . . . . . . . . . 8

Teknik Alternatif dan Perangkat Tambahan untuk CPR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13

Bantuan Hidup Kardiovaskular Lanjutan Dewasa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14

Perawatan Pasca-Serangan Jantung . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


15

Sindrom Koroner Akut . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


. . . . . 17

Kondisi Khusus Resusitasi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 18

Bantuan Hidup Dasar Pediatri dan Kualitas CPR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 20

Bantuan Hidup Lanjutan bagi Pediatrik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 23

Resusitasi Neonatal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . 25

Pendidikan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . 27

Pertolongan Pertama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30

Referensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . 33

Sambutan
American Heart Association mengucapkan terima kasih kepada nama yang tercantum di bawah ini atas
kontribusi mereka terhadap pengembangan dokumentasi ini: Mary Fran Hazinski, RN, MSN; Michael Shuster, MD;
Michael W. Donnino, MD; Andrew H. Travers, MD, MSc; Ricardo A. Samson, MD; Steven M. Schexnayder, MD;
Elizabeth H. Sinz, MD; Jeff A. Woodin, NREMT-P; Dianne L. Atkins, MD; Farhan Bhanji, MD; Steven C. Brooks, MHSc,
MD; Clifton W. Callaway, MD, PhD; Allan R. de Caen, MD; Monica E. Kleinman, MD; Steven L. Kronick, MD, MS; Eric
J. Lavonas, MD; Mark S. Link, MD; Mary E. Mancini, RN, PhD; Laurie J. Morrison, MD, MSc; Robert W. Neumar, MD,
PhD; Robert E. OConnor, MD, MPH; Eunice M. Singletary, MD; Myra H. Wyckoff, MD; dan Tim Proyek Fokus Utama
Pedoman AHA.

2015 American Heart Association


Pembaruan Pedoman AHA 2015 untuk CPR dan ECC,
Pendahuluan termasuk Ringkasan Eksklusif (Executive Summary),1
yang dipublikasikan dalam Sirkulasi (Circulation) pada
Buku "Fokus Utama Pedoman" ini berisi rangkuman isu Oktober 2015, dan untuk mempelajari rincian ringkasan
dan perubahan penting dalam Pembaruan Pedoman ilmu resusitasi dalam 2015 International Consensus on
American Heart Association (AHA) 2015 untuk CPR CPR and ECC Science With Treatment Recommendations,
(Resusitasi Kardiopulmonari) dan ECC (Perawatan yang dipublikasikan secara bersamaan dalam Sirkulasi
Kardiovaskular Darurat) (2015 American Heart (Circulation)2 dan Resusitasi (Resuscitation) .3
Association (AHA) Guidelines Update for Pembaruan Pedoman AHA 2015 untuk CPR dan ECC
Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) and Emergency didasarkan pada proses evaluasi bukti internasional yang
Cardiovascular melibatkan 250 orang pemeriksa bukti dari 39 negara.
Care (ECC)). Dokumen ini dikembangkan untuk penyedia Proses pemeriksaan sistematis ILCOR (2015 International
pelayanan resusitasi dan instruktur AHA agar dapat Liaison Committee on Resuscitation) cukup berbeda bila
fokus pada rekomendasi ilmu dan pedoman resusitasi dibandingkan dengan proses yang digunakan pada 2010 .
yang paling signifikan atau kontroversial, atau yang Untuk proses pemeriksaan sistematis 2015, tugas ILCOR
akan mengakibatkan perubahan dalam praktik maupun mengharuskan untuk memeriksa topik yang diprioritaskan,
pelatihan resusitasi. Selain itu, dokumen ini juga dengan kondisi munculnya ilmu baru yang memadai
menjelaskan alasan diberikannya rekomendasi tersebut. atau terdapat kontroversi yang memerlukan pemeriksaan
Dokumen ini tidak mereferensikan penelitian pendukung sistematis. Sebagai hasil dari prioritas tersebut, jumlah
yang dipublikasikan dan tidak mencantumkan Kelas pemeriksaan yang diselesaikan pada 2015 (166) lebih
Rekomendasi atau Tingkat Pembuktian karena ditujukan sedikit dibandingkan jumlah pemeriksaan pada 2010
sebagai ringkasan. Untuk referensi dan informasi (274).
selengkapnya, pembaca disarankan untuk membaca
Gambar 1

Sistem Klasifikasi AHA Baru untuk Kelas


Rekomendasi dan Tingkat Pembuktian*

KELAS (KEKUATAN) REKOMENDASI


KELAS I (KUAT) Manfaat >>> Risiko
Ungkapan yang disarankan untuk menulis rekomendasi:
Disarankan
Diindikasikan/bermanfaat/efektif/menguntungkan
Harus dilakukan/diberikan/lainnya
Ungkapan Perbandingan Efektivitas:
Perawatan/strategi A disarankan/diindikasikan, bukan peraw
Perawatan

KELAS IIa (SEDANG) Manfaat >> Risiko


Ungkapan yang disarankan untuk menulis rekomendasi:
Wajar
Dapat bermanfaat/efektif/menguntungkan
Ungkapan Perbandingan Efektivitas:
Perawatan/strategi A mungkin disarankan/
diindikasikan,
Hal yang wajar untuk memilih perawatan A, bukan perawatan

KELAS IIb (LEMAH) Manfaat Risiko


Ungkapan yang disarankan untuk menulis rekomendasi:
Mungkin hal yang wajar
Dapat dipertimbangkan
Manfaat/efektivitas tidak diketahui/tidak jelas/diragukan atau tidak
COR
dan
LOE
KELAS III: Tidak Ada Manfaat (SEDANG) Manfaat = Risiko ditetapk
(Umumnya, hanya penggunaan LOE A atau B) an
secara
Ungkapan yang disarankan untuk menulis rekomendasi:
terpisah
Tidak disarankan (setiap
Tidak diindikasikan/bermanfaat/efektif/menguntungkan COR
Tidak boleh dilakukan/diberikan/lainnya dapat
dipasan
gkan
denga
KELAS III: Berbahaya (KUAT) Risiko > Manfaat n
Ungkapan yang disarankan untuk menulis rekomendasi: LOE
mana
Berpotensi membahayakan pun).
Membahayakan Rekome
Berkaitan dengan tingginya morbiditas/kematian ndasi
Tidak boleh dilakukan/diberikan/lainnya dengan
LOE C
tidak
menunj
ukkan
bahwa
rekome
ndasi
tersebut Random
lemah. ized
pertany (Acak);
klinis dan
yang dibahas RCT,
dalam Rando
pedoman mized
tidak Controll
dengan ed Trial
klinis. (Uji
Meskipun Acak
tidak tersedia, Terkend
namun ali).
mungkin
terdap
kesepak
klinis
sanga Fokus
bahwa Utama
terapi
akan
Pemb
bermanfa aruan
atau efektif. Pedo
* Hasil man
perolehan AHA
inte 2015
tersebut
untuk
harus
ditet CPR
(pen dan
naan ECC
klinis, 1
peningk
keakur
diagnosis,
atau
informasi
prognosis
bertah
Untuk
rekomendasi
perbandingan
efektivitas
(COR I
hanya
dan B),
yang mendukung
penggunaan
kerja
pembanding
harus
meliba
perbandingan
langsung
antara
atau str
yang
dievaluasi.
Metode
penilaian
kualitas
semakin
berkemban
g, termasuk
aplikasi
bantu
penilaian
bukti
terstandardi
sasi,
digunakan
secara
dan
terutama
divalidasi;
serta
penya
Komite
Pemeriksaa
n Bukti
untuk
memperole
h hasil
tinjauan
yang
sistem
COR, Class
Recommend
on (Kelas
Rekomendasi);
EO, Expert
Opinion
(Penda
Ahli); LD,
Limited
(Data
Terbatas);
LOE, Level
Evidence
(Tingk
Pembuktian);
NR,
Nonrandomize
d (Tidak
Acak);
Setelah topik dipilih, ada dua hal lain yang perlu diketahui Gambar 2
untuk proses pemeriksaan 2015. Pertama, pemeriksa Distribusi Kelas
menggunakan GRADE (Grading of Recommendations Assessment Rekom
,
Developme endasi
nt, and dan
Evaluation; Tingkat
www Pembu
.gradeworki
nggroup . ktian
org), sistem sebagai
pemeriksaa Persen
n bukti tase
yang sangat dari
terstruktur Total
dan dapat 315
dibuat
tiruannya, R
untuk e
meningkatk k
an o
konsistensi m
dan kualitas e
pemeriksaa
n n
sistematis d
2015. a
Kedua, s
pemeriksa i
dari seluruh
dunia
dapat d
bekerja a
sama l
secara a
virtual untuk m
menyelesaik P
an e
pemeriksaa
n sistematis m
melalui b
penggunaa a
n SEERS r
(Systematic u
Evidence a
Evaluation n
and Review
System), P
platform e
khusus d
berbasis o
web dari
AHA yang m
dirancang a
n
A
H
A

2
0
1
5

K
e
l
a
s

R
e
kom 5 pad 1 LOE B- N
a 5 R C
perubahan LOE
end 2015 %
tersebut sekarang
asi akan akan dikelompo
dipe dilakukan kkan
201 rbar serta menjadi
untuk mendukung Kelas K ui
e diinformasik LOE C-LD
berbagai tahapan III: jika
Tidak l an (data
proses evaluasi. a dipe kepada para terbatas)
Ada
Situs SEERS ini Ma
s rluk dokter dan dan C-EO
digunakan untuk nfa I an ke jaringan (pendapat
mengungkapkan at I dan pelatihan. ahli).
konsep ILCOR 2015 2% I
topi
International : k Pembaruan Seba
Consensus on CPR baru Pedoman gaim
B
and ECC Science With e akan 2015 ana
Treatment r dita menggunak dijela
Recommendations b
mba an versi skan
Kelas a terbaru dari dala
kepada publik IIb h hka
sekaligus menerima 45 a n. definisi AHA m
tanggapan publik. % y
Pem untuk Kelas lapor
a Rekomenda an
Untuk mengetahui 5% bac
lebih lanjut tentang a si dan Instit
SEERS dan melihat akan Tingkat ute of
daftar lengkap dari me Pembuktian Medi
K (Gambar 1). cine4
semua pemeriksaan e man
sistematis yang l tau Pembaca yang
dijalankan oleh a situs akan baru-
ILCOR, kunjungi s SEE mengetahui baru
www.ilcor.org/seers . RS bahwa versi ini
I
untu ini berisi dipub
Pembaruan 25% perubahan likasi
Pedoman AHA 2015 k
selal terhadap kan
untuk CPR dan ECC rekomenda dan
sangat berbeda u
me si Kelas III, tang
dengan Pedoman Kelas IIa
yakni Kelas gapa
AHA untuk CPR dan 23% mpe
role III: Tidak n
ECC edisi Ada kons
sebelumnya. Komite h
berit Manfaat, ensu
ECC menetapkan untuk s
versi 2015 ini sebagai a
terki digunakan ECC
pembaruan, yang pada saat AHA
hanya mencakup topik ni
tent tertentu bila terha
yang ditangani bukti dap
berdasarkan ang
ilmu menyaranka lapor
pemeriksaan bukti n agar an
ILCOR 2015 atau yang resu
sitas strategi ini5,
diminta oleh jaringan ditetapkan masi
pelatihan. Keputusan i
terba berdasarka h
ini memastikan bahwa n penelitian banya
kita hanya memiliki ru
dan berkualitas k hal
satu standar untuk Tingkat tinggi atau yang
evaluasi bukti, Pembuktia eval
uasi sedang harus
yakni proses yang n ILC (masing- dilak
dibuat oleh ILCOR. L masing ukan
Sebagai hasilnya O
OR
terh Tingkat untuk
Pembaruan E Pembuktian memperlua
Pedoman AHA ada
A p [LOE] A atau s ilmu dan
2015 untuk CPR B), praktik
1 ilmu
dan ECC 2015 % sehingga resusitasi.
bukan merupakan ters
ebut tidak lebih Untuk
revisi menyeluruh baik mendanai
dari Pedoman L .
O Bila daripada penelitian
AHA 2010 untuk E kontrol. resusitasi
CPR dan ECC bukt
B i Tingkat serangan
(2010 AHA - Pembuktian jantung,
Guidelines for R dian
gga juga telah harus ada
CPR and diubah. upaya yang
ECC). Versi terpadu With pr berk p
tela LOE B disepakati
tersebut tersedia Treat s elanj sekarang bersama
secara online di ment pe utan h
me dikelompok seperti
ECCguidelines.heart. Reco rik . kan menjadi halnya
org . mmen an Topi mad
ai LOE B-R upaya yang
Penerbitan 2015 dation ilm k (penelitian mendorong
s re yang dan
International men acak) dan dilakukann
akan ita dipe LOE B-NR ya
Consensus on CPR memu se riks unju
and ECC Science kka (penelitian penelitian
lai a a tidak acak).
kanker dan stroke selama 2 dekade terakhir.
Ketidakseimbangan ilmu
resusitasi akan teratasi bila
rekomendasi yang terdapat
dalam Pembaruan
Pedoman 2015 ini diteliti
(Gambar 2).
Secara keseluruhan,
Tingkat Pembuktian dan
Kelas
Rekomendasi dalam
resusitasi bernilai rendah,
dengan
hanya 1% dari
rekomendasi total pada
2015 (3 dari 315)
didasarkan pada Tingkat
Pembuktian (LOE A)
tertinggi
dan hanya 25% dari
rekomendasi (78 dari 315)
ditetapkan
sebagai Kelas I
(rekomendasi kuat).
Sebagian besar (69%)
dari rekomendasi
Pembaruan Pedoman 2015
didukung
oleh Tingkat Pembuktian
terendah (LOE C-LD atau
C-EO)
dan hampir separuh (144
dari 315; 45%)
dikategorikan
sebagai Kelas IIb
(rekomendasi lemah).
Di seluruh
proses
evaluasi bukti
ILCOR dan
pengembang
an
Pembaruan
Pedoman
2015,
peserta mematuhi
persyaratan
pengungkapan konflik
kepentingan AHA.
Staf AHA memproses
lebih dari
1.000 pengungkapan
konflik kepentingan;
semua pemegang
jabatan grup penulis
Pedoman dan minimum
50% dari anggota
grup penulis
Pedoman diwajibkan
bebas dari konflik
kepentingan yang
relevan.

2 American Heart Association


tentang manfaat pengujian dan penelitian tertentu harus
Masalah Etis memberikan keputusan tentang sasaran perawatan dan
cara membatasi intervensi.
Pertimbangan etis juga harus berkembang seiring Terdapat kekhawatiran yang lebih besar bahwa meskipun
dengan perkembangan praktik resusitasi . Mengelola anak-anak dan remaja tidak dapat membuat keputusan
beberapa keputusan terkait resusitasi adalah tugas yang mengikat secara hukum, namun sebisa mungkin
yang sulit bila dilihat dari berbagai perspektif, sama informasi harus diberikan kepada mereka, menggunakan
seperti halnya dengan saat penyedia layanan bahasa dan informasi yang sesuai untuk tingkat
kesehatan (HCP) menangani etika yang melingkupi perkembangan setiap pasien. Selain itu, frasa batasan
keputusan untuk memberikan perawatan telah diubah menjadi batasan intervensi,
atau menunda intervensi kardiovaskular darurat. dan terdapat peningkatan ketersediaan formulir POLST
Masalah etis yang mencakup apakah akan memulai atau (Physician Orders for Life-Sustaining Treatment), yakni
kapan akan menghentikan CPR adalah masalah metode baru untuk secara sah mengidentifikasi orang
kompleks dan mungkin dapat beragam di seluruh dengan batasan intervensi tertentu pada akhir masa
pengaturan (di dalam atau di luar rumah sakit), penyedia hidupnya di dalam dan di luar fasilitas perawatan
(dasar atau lanjutan), dan populasi pasien (neonatal, kesehatan. Meskipun terdapat informasi baru bahwa
pediatri, orang dewasa). Meskipun prinsip etis belum keberhasilan transplantasi ginjal dan hati dari donor
berubah sejak Pedoman 2010 dipublikasikan, namun orang dewasa tidak berkaitan dengan apakah donor
data yang menginformasikan berbagai diskusi etis tersebut menerima CPR, namun pendonoran organ
telah diperbarui melalui proses pemeriksaan bukti. setelah resusitasi tetap menjadi hal yang kontroversial.
Proses pemeriksaan bukti ILCOR 2015 dan Pembaruan Berbagai pandangan terhadap beberapa kekhawatiran
Pedoman AHA yang dihasilkan mencakup beberapa etis penting yang menjadi topik perdebatan hingga
pembaruan ilmu yang berimplikasi pada pengambilan saat ini terkait pendonoran organ dalam kondisi darurat
keputusan etis untuk pasien periarrest, saat terjadi terangkum dalam "Bab 3: Masalah Etis" dari Pembaruan
serangan jantung, dan pasca-serangan jantung. Pedoman 2015.
Rekomendasi Baru dan yang Diperbarui Sistem Perawatan dan Peningkatan
Secara Signifikan yang Dapat Memberikan
Keputusan Etis Kualitas Berkelanjutan
Penggunaan ECPR (CPR ekstra-korporeal) untuk Pembaruan Pedoman 2015 memberi para pemangku
serangan jantung kepentingan perspektif baru tentang sistem perawatan,
Faktor prognosis dalam serangan jantung yang membedakan serangan jantung di dalam rumah
Pemeriksaan bukti tentang skor prognosis untuk bayi prematur sakit (HCA) dari serangan jantung di luar rumah sakit
(OHCA). Fokus utama mencakup
Prognostikasi untuk anak-anak dan orang dewasa
setelah serangan jantung Taksonomi universal pada sistem perawatan
Fungsi organ transplantasi yang baru pulih setelah Pemisahan Rantai dewasa AHA untuk Kelangsungan Hidup ke
serangan jantung dalam 2 rantai: satu untuk sistem perawatan di dalam rumah
Strategi resusitasi baru seperti ECPR memberikan sakit dan satu untuk di luar rumah sakit
keputusan untuk mencegah tindakan resusitasi menjadi Pemeriksaan bukti terbaik tentang bagaimana sistem perawatan
lebih rumit (lihat bagian Bantuan Hidup Kardiovaskular serangan jantung ini akan diperiksa, dengan fokus pada
Lanjutan Dewasa dalam dokumen ini). Memahami serangan jantung, infarksi miokardium elevasi ST-segmen
penggunaan yang sesuai, implikasi, dan kemungkinan (STEMI), dan stroke
manfaat terkait perawatan baru tersebut akan berdampak tentang G
a
pada pengambilan prognost m Takso
keputusan. Tersedia ikasi ba
informasi baru untuk r nomi
3 Siste
bayi baru
lahir, m
anak-
anak,
Pera
dan wata
orang n:
dewasa SPSO
dalam
atau
setelah H
terjadi
serangan
a
jantung s
(lihat i
Resusitasi
Neonatal, l
Bantuan
Hidup S
i
s
t
e
m

P
3
r T k
o e t
s r u
e s r
s tr
u Kepuas
La O P P an
njut r r r
a K O
an n e
P rB
Pe g r u
diat P
ri, e
dan n
Per d
aw i
ata d
n i
Pa k
sca a
- n
Ser P
an e
ga r
n a
Jantung) l
. a
Peningk t
atan a
penggu n
naan
manaj Struktur
emen
suhu
yang Proses
ditarge
tkan Sistem
(TTM)
beraki Hasil
bat Pasien
pada
muncu
lnya Kualitas
hamba
tan Keselamatan
baru
dalam
memp
rediksi
hasil Peningkatan
neurol Kualitas
ogis Berkelanjutan
pada
pasien Integrasi, Kolaborasi, Pengukuran,
pasca- Perbandingan, Tanggapan
serang
an
jantun
g
yang
tidak
sadar
kan
diri,
dan
data
terbaru

Fokus
Utama
Pembaruan
Pedoman
AHA 2015
untuk
dan ECC
Komponen Sistem Perawatan tersebut. Pasien yang mengalami OHCA mengandalkan
masyarakat untuk memberikan dukungan. Penolong tidak
2015 (Baru): Elemen universal sistem perawatan telah terlatih harus mengenali serangan, meminta bantuan, dan
diidentifikasi untuk memberi pihak pemangku memulai CPR, serta memberikan defibrilasi (misalnya,
kepentingan kerangka kerja umum yang berfungsi untuk PAD/public-access defibrillation) hingga tim penyedia
memasang sistem resusitasi terpadu (Gambar 3) . layanan medis darurat (EMS/emergency medical
Alasannya: Pemberian layanan kesehatan memerlukan service) yang terlatih secara profesional mengambil alih
struktur (misalnya, orang, peralatan, pendidikan) dan tanggung jawab, lalu memindahkan pasien ke unit gawat
proses (misalnya, kebijakan, protokol, prosedur) yang, darurat dan/atau laboratorium kateterisasi jantung. Pada
bila terintegrasi, menghasilkan sistem (misalnya, program, akhirnya, pasien dipindahkan ke unit perawatan kritis
organisasi, budaya) yang mengarah ke hasil optimal untuk perawatan lebih lanjut. Sebaliknya, pasien yang
(misalnya, kelangsungan hidup dan keselamatan pasien, mengalami HCA mengandalkan sistem pengawasan yang
kualitas, kepuasan). Sistem perawatan efektif mencakup sesuai (misalnya, sistem tanggapan cepat atau sistem
semua elemen seperti struktur, proses, sistem, dan peringatan dini) untuk mencegah serangan jantung. Jika
dampak terhadap pasien dalam kerangka kerja terjadi serangan jantung, pasien mengandalkan interaksi
peningkatan kualitas berkelanjutan. sempurna dari berbagai unit dan layanan institusi serta
bergantung pada tim penyedia profesional multidisipliner,
Rantai Kelangsungan Hidup termasuk dokter, perawat, ahli terapi pernapasan, dan
2015 (Baru): Rantai Kelangsungan Hidup terpisah banyak lagi.
(Gambar 4) telah direkomendasikan yang akan
mengidentifikasi jalur penawaran yang berbeda antara
Penggunaan Media Sosial untuk Memanggil
pasien yang mengalami serangan jantung di rumah sakit Penolong
dan yang di luar rumah sakit. 2015 (Baru): Menerapkan teknologi media sosial untuk
Alasannya: Perawatan untuk semua pasien pasca- memanggil penolong yang berada dalam jarak dekat
serangan jantung, di mana pun lokasi serangan tersebut dengan korban dugaan OHCA serta bersedia dan
terjadi, akan dipusatkan di rumah sakit, biasanya di ruang mampu melakukan CPR adalah tindakan yang wajar bagi
unit perawatan intensif (ICU/intensive care unit tempat masyarakat .
penanganan pasca-serangan jantung tersedia. Elemen Alasannya: Terdapat sedikit bukti untuk mendukung
struktur dan proses yang diperlukan sebelum pemusatan penggunaan media sosial oleh operator untuk memberi
dilakukan sangat berbeda di antara kedua kondisi tahu calon penolong korban serangan jantung terdekat,
Gambar 4 Rantai
Kelangsungan
Hidup HCA dan
OHCA

HCA

Peng Pen CP D B
dan genal R a
an ber n
dan kua t
peng lita u
aktifa s a
n ting n
siste gi
m sec h
tangg epa i
apan tny d
darur a u
at p

l
a
n
j
u
t
a
n

d
a
n

p
e
r
a
w
a L ICU
Dokter pelayanan primer
t Ti a
a m
m
n e
di
p s
re
a
a ks
s ic
e
p
c at
a
-
s
e
r
a
OHCA
n
g
a
n
ja
n
t
u
n Pengenalan
CP D La B
g dan R e ya a
pengaktifan
ber na n
sistem kua n t
tangg litas m u
darur ting ed a
ED
gi is n
sec da
epa rur h
tny at i
a da d
sa u
r p
da
n l
la a
nj n
ut j
an u
t
a
n

d
a
n

p
e
r
a
w
a
t
a
n

p
a
s
c
a
-
s
e
r
a
n
g
a
n

j
a
n
t
u
n
g

Peno Lab. ICU


long kat.
tidak
terlat
ih
EMS
4 American Heart Association
dan pengaktifan media sosial belum terbukti dapat Regionalisasi Perawatan
meningkatkan kelangsungan hidup korban OHCA.
Namun, dalam penelitian terbaru di Swedia, terjadi 2015 (Penegasan kembali dari 2010): Pendekatan
peningkatan yang signifikan pada jumlah CPR yang regionalisasi terhadap resusitasi OHCA yang
dilakukan pendamping bila sistem operator ponsel mencakup penggunaan pusat resusitasi jantung
digunakan .6 Dengan tingkat bahaya rendah dan dapat dipertimbangkan.
potensi manfaat yang tersedia, serta keberadaan Alasannya: Pusat resusitasi jantung adalah rumah
perangkat digital di mana pun, pemerintah kota dapat sakit yang memberikan perawatan berbasis bukti terkait
mempertimbangkan untuk menerapkan teknologi ini perawatan resusitasi dan pasca-serangan jantung,
ke dalam sistem perawatan OHCA mereka. termasuk kemampuan intervensi koroner perkutan
(PCI/percutaneous coronary intervention) setiap saat,
Tim Resusitasi: Sistem Tanda Peringatan Dini, TTM dengan volume kasus tahunan yang memadai, dan
Tim Tanggapan Cepat, dan Sistem Tim Medis komitmen terhadap peningkatan performa berkelanjutan
Darurat yang mencakup pengukuran, penentuan tolok ukur, serta
tanggapan dan perubahan proses. Sistem perawatan
2015 (Diperbarui): Pada pasien dewasa, sistem RRT (tim resusitasi diharapkan akan mencapai perbaikan tingkat
tanggapan cepat) atau MET (tim medis darurat) dapat kelangsungan hidup yang diikuti dengan pembangunan
efektif dalam mengurangi insiden serangan jantung, sistem perawatan lain, seperti trauma.
terutama di bangsal perawatan umum. Sistem MET/
RRT pada pasien pediatri dapat dipertimbangkan dalam
fasilitas tempat anak-anak dengan penyakit berisiko tinggi Bantuan Hidup Dasar Dewasa dan
dirawat di unit pasien umum. Penggunaan sistem tanda
peringatan dini dapat dipertimbangkan untuk dewasa Kualitas CPR: CPR Penolong Tidak
dan anak-anak. Terlatih
2010 (Lama): Meskipun terdapat bukti yang bertentangan,
namun konsensus ahli merekomendasikan identifikasi Ringkasan Masalah Utama dan Perubahan
sistematis terhadap pasien berisiko serangan jantung, Besar
tanggapan teratur terhadap pasien tersebut, dan evaluasi
dampak untuk mendukung perkembangan peningkatan Berikut adalah masalah utama dan perubahan besar
kualitas secara terus-menerus. dalam rekomendasi Pembaruan Pedoman 2015 untuk
CPR orang dewasa oleh penolong tidak terlatih:
Alasannya: RRT atau MET dibentuk untuk memberikan
intervensi dini pada pasien dengan penurunan kualitas Hubungan penting dalam Rantai Kelangsungan Hidup pasien
klinis, yang bertujuan untuk mencegah HCA. Tim dapat dewasa di luar rumah sakit tidak berubah sejak 2010, dengan
tetap menekankan pada Algoritma BLS (Bantuan Hidup Dasar)
terdiri atas beragam kombinasi dokter, perawat, dan
Dewasa universal yang disederhanakan.
ahli terapi pernapasan. Tim ini biasanya dipanggil ke
samping tempat tidur pasien bila penurunan kualitas Algoritma BLS Dewasa telah diubah untuk menunjukkan fakta
akut diidentifikasi oleh staf rumah sakit. Tim ini biasanya bahwa penolong dapat mengaktifkan sistem tanggapan darurat
membawa peralatan pemantauan darurat dan peralatan (misalnya, melalui penggunaan ponsel) tanpa meninggalkan
resusitasi serta obat-obatan. Meskipun bukti masih korban.
mengalami perkembangan, namun konsep untuk memiliki Masyarakat yang anggotanya berisiko terkena serangan jantung
tim yang terlatih dalam perencanaan resusitasi kompleks disarankan menerapkan program PAD.
telah dianggap efektif. Rekomendasi telah diperkuat untuk mendorong pengenalan
langsung terhadap kondisi korban yang tidak menunjukkan
Peningkatan Kualitas Berkelanjutan untuk reaksi, pengaktifan sistem tanggapan darurat, dan inisiasi CPR
Program Resusitasi jika penolong tidak terlatih menemukan korban yang tidak
menunjukkan reaksi juga tidak bernapas atau tidak bernapas
2015 (Penegasan kembali dari 2010): Sistem resusitasi dengan normal (misalnya, tersengal).
harus membuat penilaian dan peningkatan sistem Penekanan perihal identifikasi cepat terhadap kemungkinan
perawatan secara berkelanjutan. serangan jantung oleh operator telah ditingkatkan melalui
Alasannya: Terdapat bukti wilayah yang beragam yang penyediaan instruksi CPR secepatnya kepada pemanggil
patut dipertimbangkan dalam insiden dan dampak dari (misalnya, CPR yang dipandu oleh operator).
serangan jantung yang dilaporkan di Amerika Serikat. Urutan yang disarankan untuk satu-satunya penolong telah
Keragaman ini menegaskan kebutuhan masyarakat dikonfirmasi: penolong diminta untuk memulai kompresi dada
dan sistem untuk secara akurat mengidentifikasi setiap sebelum memberikan napas buatan (C-A-B, bukan A-B-C) agar
kejadian serangan jantung yang ditangani dan untuk dapat mengurangi penundaan kompresi pertama. Satu-satunya
mencatat dampaknya. Terdapat kemungkinan peluang penolong harus memulai CPR dengan 30 kompresi dada yang
untuk memperbaiki tingkat kelangsungan hidup pasien diikuti dengan 2 napas buatan.
dalam banyak komunitas. Terdapat penekanan lanjutan pada karakteristik CPR berkualitas
Program resusitasi berbasis komunitas dan rumah sakit tinggi: mengkompresi dada pada kecepatan dan kedalaman
harus secara sistematis memantau insiden serangan yang memadai, membolehkan rekoil dada sepenuhnya setelah
jantung, tingkat perawatan resusitasi yang tersedia, setiap kompresi, meminimalkan gangguan dalam kompresi,
dan dampaknya. Peningkatan kualitas berkelanjutan dan mencegah ventilasi yang berlebihan.
mencakup evaluasi yang sistematis dan tanggapan, Kecepatan kompresi dada yang disarankan adalah 100 hingga
pengukuran atau penentuan tolok ukur, dan analisis. 120/min (diperbarui dari minimum 100/min).
Upaya terus-menerus diperlukan untuk mengoptimalkan Rekomendasi yang diklarifikasi untuk kedalaman kompresi dada
perawatan resusitasi, sehingga kesenjangan antara pada orang dewasa adalah minimum 2 inci (5 cm), namun tidak
performa resusitasi ideal dan yang sebenarnya dapat lebih besar dari 2,4 inci (6 cm).
dipersempit .

Fokus
Utama
Pemba
ruan
Pedoman
AHA
untuk
CPR
ECC
5
Nalokson yang diberikan pendamping dapat secara real-time yang disediakan oleh operator gawat
dipertimbangkan untuk dugaan kondisi darurat terkait opioid darurat dapat membantu calon penolong di rumah
yang mengancam jiwa. untuk memulai tindakan. Program pelatihan CPR dalam
Perubahan ini dirancang untuk menyederhanakan komunitas yang kuat untuk serangan jantung, beserta
pelatihan penolong tidak terlatih dan menekankan protokol sebelum operator tiba yang efektif, dapat
pentingnya kompresi dada di awal bagi korban serangan meningkatkan hasil.
jantung mendadak. Untuk informasi selengkapnya
tentang perubahan tersebut, lihat di bawah ini. Identifikasi Operator Atas Tarikan Napas
Agonal
Dalam topik berikut, perubahan atau titik penekanan
yang serupa untuk penolong tidak terlatih dan HCP Korban serangan jantung terkadang mengalami aktivitas
diberi tanda bintang (*) . seperti kejang atau tarikan napas agonal yang dapat
membingungkan calon penolong. Operator harus
Program AED untuk Penolong Tidak Terlatih dilatih secara khusus untuk mengidentifikasi presentasi
Dalam Komunitas serangan jantung ini agar dapat mendukung pengenalan
perintah dan CPR yang dipandu operator dengan cepat.
2015 (Diperbarui): Disarankan bahwa program PAD untuk
2015 (Diperbarui): Untuk membantu pendamping
pasien dengan OHCA diterapkan di lokasi umum tempat
mengenali serangan jantung, operator harus menanyakan
adanya kemungkinan pasien serangan jantung terlihat
tentang ada atau tidaknya reaksi korban dan kualitas
relatif tinggi (misalnya, bandara, kasino, fasilitas olahraga).
pernapasan (normal atau tidak normal). Jika korban
2010 (Lama): CPR dan penggunaan defibrilator eksternal tidak bereaksi dengan napas terhenti atau tidak normal,
otomatis (AED/automated external defibrillator) oleh penolong dan operator akan menganggap bahwa korban
tenaga medis pertama untuk keselamatan umum mengalami serangan jantung. Operator harus diberi
disarankan untuk memperbaiki tingkat kelangsungan tahu untuk mengidentifikasi kondisi yang menunjukkan
hidup pasien serangan jantung mendadak di luar rumah tidak adanya reaksi dengan napas tidak normal atau
sakit. Pedoman 2010 menyarankan pembuatan program tarikan napas agonal di seluruh rangkaian presentasi
AED di lokasi umum tempat adanya kemungkinan pasien dan penjelasan klinis.
serangan jantung terlihat relatif tinggi (misalnya, bandara, 2010 (Lama): Untuk membantu pendamping mengenali
kasino, fasilitas olahraga).
serangan jantung, operator harus menanyakan tentang
Alasannya: Terdapat bukti yang jelas dan konsisten reaksi korban dewasa, apakah korban bernapas dan
tentang perbaikan tingkat kelangsungan hidup pasien apakah napas normal, agar dapat membedakan korban
setelah serangan jantung bila pendamping melakukan dengan tarikan napas agonal (misalnya, korban yang
CPR dan dengan cepat menggunakan AED. Dengan memerlukan CPR) dari korban yang bernapas normal
begitu, akses cepat ke defibrilator merupakan komponen dan tidak memerlukan CPR.
utama dalam sistem perawatan. Penerapan program Alasannya: Perubahan dari Pedoman 2010 ini
PAD memerlukan 4 komponen penting: (1) tanggapan
menekankan pada peran yang dapat dijalankan operator
yang direncanakan dan dipraktikkan, yang idealnya
gawat darurat dalam membantu penolong tidak terlatih
mencakup identifikasi lokasi dan lingkungan di sekitar
mengenali napas terhenti atau tidak normal.
tempat munculnya risiko serangan jantung yang tinggi,
penempatan AED di area tersebut, dan upaya memastikan Operator harus secara khusus diberi tahu untuk
bahwa pendamping mengetahui lokasi AED, dan, membantu pendamping mengenali bahwa tarikan napas
biasanya, pengawasan oleh HCP; (2) pelatihan penolong agonal adalah tanda serangan jantung. Operator juga
yang diantisipasi dalam CPR dan penggunaan AED; harus mengetahui bahwa kejang dalam waktu singkat
(3) hubungan terpadu dengan sistem EMS lokal; dan dapat menjadi tanda pertama dari serangan jantung.
(4) program peningkatan kualitas yang berkelanjutan. Kesimpulannya, selain menggerakkan tenaga medis
darurat profesional, operator juga harus mengajukan
Pendekatan sistem perawatan untuk OHCA dapat pertanyaan langsung tentang apakah pasien tidak bereaksi
mencakup kebijakan publik yang mendorong pelaporan dan apakah napas normal atau tidak normal agar dapat
lokasi AED publik ke titik akses layanan publik (PSAP; mengidentifikasi pasien dengan kemungkinan serangan
istilah public service access point atau titik akses jantung dan mendukung CPR yang dipandu operator.
layanan publik menggantikan frasa pusat operator EMS
yang kurang sesuai). Kebijakan tersebut akan Penekanan pada Kompresi Dada*
memungkinkan PSAP mengarahkan pendamping untuk
mengambil 2015 (Diperbarui): Penolong tidak terlatih harus
AED terdekat dan membantu penggunaannya bila memberikan CPR hanya kompresi (Hands-Only) dengan
terjadi OHCA. Banyak pemerintah kota serta pemerintah atau tanpa panduan operator untuk korban serangan
federal AS telah memberlakukan undang-undang untuk jantung dewasa. Penolong harus melanjutkan CPR hanya
menempatkan AED dalam bangunan kota, tempat umum kompresi hingga AED atau penolong dengan pelatihan
yang luas, bandara, kasino, dan sekolah. Untuk sebanyak tambahan tiba. Semua penolong tidak terlatih, pada
20% dari OHCA yang terjadi di tempat umum, program tingkat minimum, harus memberikan kompresi dada untuk
komunitas ini menunjukkan adanya hubungan penting korban serangan jantung. Selain itu, jika penolong terlatih
dalam Rantai Kelangsungan Hidup antara pengenalan mampu melakukan napas buatan, ia harus menambahkan
dan pengaktifan PSAP. Informasi ini dibahas selengkapnya napas buatan dalam rasio 30 kompresi berbanding
dalam "Bab 4: Sistem Perawatan dan Peningkatan Kualitas 2 napas buatan. Penolong harus melanjutkan CPR hingga
Berkelanjutan" dalam Pembaruan Pedoman 2015. AED tiba dan siap digunakan, penyedia EMS mengambil
alih perawatan korban, atau korban mulai bergerak.
Tidak ada cukup bukti untuk merekomendasikan atau
menentang penggunaan AED di lingkungan rumah 2010 (Lama): Jika tidak menerima pelatihan tentang
tangga. Korban OHCA yang terjadi di lingkungan tempat CPR, pendamping harus memberikan CPR hanya
tinggal pribadi sangat jauh kemungkinannya untuk kompresi untuk korban dewasa yang jatuh mendadak,
menerima kompresi dada dibandingkan pasien yang dengan menegaskan untuk "menekan kuat dan cepat"
mengalami serangan jantung di tempat umum. Instruksi

6 American Heart Association


di bagian tengah dada, atau ikuti petunjuk dari operator Jumlah kompresi dada sebenarnya yang diberikan per
EMS. Penolong harus melanjutkan CPR hanya kompresi menit ditentukan oleh kecepatan kompresi dada serta
hingga AED tiba dan siap digunakan atau penyedia EMS jumlah dan durasi gangguan dalam kompresi (misalnya,
mengambil alih perawatan korban. Semua penolong untuk membuka saluran udara, memberikan napas
terlatih, pada tingkat minimum, harus memberikan buatan, memungkinkan analisis AED). Dalam sebagian
kompresi dada untuk korban serangan jantung. Selain itu, besar penelitian, lebih banyak kompresi terkait dengan
jika penolong terlatih mampu melakukan napas buatan, tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi, dan lebih
kompresi dan napas buatan harus diberikan dalam rasio sedikit kompresi terkait dengan tingkat kelangsungan
30 kompresi berbanding 2 napas buatan. Penolong harus hidup yang lebih rendah. Penerapan kompresi dada
melanjutkan CPR hingga AED tiba dan siap digunakan yang tepat memerlukan penekanan bukan hanya pada
atau penyedia EMS mengambil alih perawatan korban. kecepatan kompresi yang memadai, namun juga pada
upaya meminimalkan gangguan terhadap komponen
Alasannya: CPR hanya kompresi mudah dilakukan oleh
penting CPR ini. Kecepatan kompresi yang tidak sesuai
penolong yang tidak terlatih dan dapat dipandu secara
atau seringnya muncul gangguan (atau keduanya) akan
lebih efektif oleh operator melalui telepon. Selain itu,
mengurangi jumlah total kompresi yang diberikan per
tingkat kelangsungan hidup dari serangan jantung
menit. Perubahan terkini pada Pembaruan Pedoman 2015
dewasa terkait etiologi jantung baik dengan CPR hanya
adalah batas atas detak jantung dan kedalaman kompresi
kompresi maupun CPR dengan kompresi dan napas
yang disarankan, yang berdasarkan pada data persiapan
buatan adalah sama bila diberikan sebelum EMS tiba.
yang menunjukkan bahwa kecepatan dan kedalaman
Namun, rekomendasi untuk melakukan kompresi dan
kompresi yang berlebihan akan mempengaruhi hasil
napas buatan tetap diberikan kepada penolong terlatih
secara negatif. Tambahan batas atas kecepatan kompresi
yang mampu melakukannya.
didasarkan pada 1 analisis penelitian register besar yang
Kecepatan Kompresi Dada* berkaitan dengan kecepatan kompresi sangat tinggi (lebih
tinggi dari 140/min) dengan kedalaman kompresi yang
2015 (Diperbarui): Pada orang dewasa yang menjadi tidak memadai. Kotak 1 menggunakan analogi perjalanan
korban serangan jantung, penolong perlu melakukan mobil untuk menjelaskan dampak kecepatan kompresi
kompresi dada pada kecepatan 100 hingga 120/min. dan gangguan pada jumlah total kompresi yang diberikan
2010 (Lama): Penolong tidak terlatih dan HCP perlu selama resusitasi berlangsung.
melakukan kompresi dada pada kecepatan minimum
100/min. Kedalaman Kompresi Dada*
Alasannya: Jumlah kompresi dada yang diberikan per 2015 (Diperbarui): Sewaktu melakukan CPR secara
menit saat CPR berlangsung adalah faktor penentu utama manual, penolong harus melakukan kompresi dada
kondisi RSOC (return of spontaneous circulation) dan hingga kedalaman minimum 2 inci (5 cm) untuk dewasa
kelangsungan hidup dengan fungsi neurologis yang baik. rata-rata, dengan tetap menghindari kedalaman kompresi
dada yang berlebihan (lebih dari 2,4 inci [6 cm]).
2010 (Lama): Tulang dada orang dewasa harus ditekan
minimum sedalam 2 inci (5 cm).
Kotak 1 Alasannya: Kompresi akan menciptakan aliran darah
terutama dengan menambah tekanan intrathoraks dan
Jumlah Kompresi yang Diberikan secara langsung mengkompresi jantung, yang pada
Dipengaruhi oleh Kecepatan akhirnya menghasilkan aliran darah dan penyaluran
oksigen yang penting ke jantung dan otak. Penolong
Kompresi dan Gangguan sering kali tidak mengkompresi dada cukup dalam
meskipun rekomendasi untuk "menekan kuat" telah
Jumlah total kompresi yang diberikan saat resusitasi berlangsung adalah diberikan. Selain merekomendasikan kedalaman
faktor penentu utama kelangsungan hidup dari serangan jantung. kompresi minimum 2 inci (5 cm), Pembaruan Pedoman
2015 juga menggabungkan bukti baru tentang potensi
Jumlah kompresi yang diberikan dipengaruhi oleh kecepatan kompresi ambang atas kedalaman kompresi (lebih dari 2,4 inci
(frekuensi kompresi dada per menit) dan oleh fraksi kompresi (bagian [6 cm]), yang jika melebihinya dapat mengakibatkan
dari total waktu CPR saat kompresi dijalankan). Peningkatan kecepatan komplikasi. Kedalaman kompresi mungkin sulit
kompresi dan fraksi meningkatkan jumlah total kompresi yang diperkirakan tanpa menggunakan perangkat umpan
diberikan. Fraksi kompresi ditingkatkan dengan mengurangi jumlah balik, dan identifikasi batas atas kedalaman kompresi
dan durasi gangguan apa pun dalam kompresi. mungkin akan sulit dilakukan. Penting bagi penolong
Analogi dapat ditemukan dalam perjalanan mobil. Bila melakukan untuk mengetahui bahwa rekomendasi terkait batas atas
perjalanan dengan mengendarai mobil, jumlah mil yang dilalui dalam kedalaman kompresi didasarkan pada 1 penelitian yang
sehari dipengaruhi bukan hanya oleh kecepatan (laju perjalanan), sangat kecil, yang membuktikan adanya keterkaitan
namun juga oleh jumlah dan durasi setiap penghentian (gangguan antara kedalaman kompresi berlebihan dan cedera yang
dalam perjalanan). Berkendara 60 mph tanpa gangguan berarti jarak tidak mengancam jiwa. Sebagian besar pemantauan
tempuh sebenarnya 60 mil per jam. Berkendara 60 mph dengan melalui perangkat umpan balik CPR menunjukkan bahwa
berhenti selama 10 menit berarti jarak tempuh sebenarnya 50 mil per kompresi lebih sering dilakukan terlalu dangkal daripada
jam tersebut. Semakin sering dan semakin lama penghentian, maka terlalu dalam.
jarak tempuh mil sebenarnya akan berkurang.
Nalokson Pendamping dalam Kondisi Darurat
Saat CPR berlangsung, penolong harus memberikan kompresi yang yang Mengancam Jiwa Terkait Opioid*
efektif pada kecepatan (100 hingga 120/min) dan kedalaman yang
sesuai sewaktu meminimalkan jumlah dan durasi gangguan dalam 2015 (Baru): Untuk pasien dengan dugaan
kompresi dada. Komponen tambahan CPR berkualitas tinggi mencakup ketergantungan opioid atau yang telah diketahui dan
membolehkan rekoil dada sepenuhnya setelah setiap kompresi dan tidak menunjukkan reaksi dengan napas tidak normal,
mencegah ventilasi yang berlebihan. namun ada denyut, selain menyediakan perawatan BLS
standar, penolong terlatih yang tepat dan penyedia BLS

Fokus
Utama
Pembaru
an
Pedoman
AHA
2015
untuk
CPR
ECC
7
perlu memberikan nalokson IM (intramuskular) atau IN Kecepatan kompresi diubah ke kisaran 100 hingga 120/min.
(intranasal). Pendidikan terkait tanggapan terhadap kasus Kedalaman kompresi untuk pasien dewasa diubah ke
overdosis opioid dengan atau tanpa pemberian nalokson minimum 2 inci (5 cm), namun tidak melebihi 2,4 inci (6
kepada korban yang berisiko mengalami overdosis opioid cm).
dalam kondisi apa pun dapat dipertimbangkan. Topik ini
juga dibahas dalam bagian Kondisi Khusus Resusitasi. Untuk mendukung rekoil penuh dinding dada setelah setiap
kompresi, penolong harus menjaga posisi agar tidak
Alasannya: Terdapat data epidemiologi penting yang bertumpu di atas dada di antara kompresi.
menunjukkan beban besar penyakit akibat overdosis
opioid yang mematikan, serta sejumlah keberhasilan Kriteria untuk meminimalkan gangguan diklarifikasi
yang didokumentasikan dalam strategi nasional dengan sasaran fraksi kompresi dada setinggi mungkin, dengan
yang ditargetkan untuk nalokson yang diberikan target minimum 60%.
oleh pendamping kepada orang yang berisiko. Pada Meskipun sistem EMS telah menerapkan paket perawatan yang
tahun 2014, autoinjector nalokson disetujui oleh US melibatkan kompresi dada berkelanjutan, namun penggunaan
Food and Drug Administration untuk digunakan oleh teknik ventilasi pasif dapat dianggap sebagai bagian dari paket
penolong tidak terlatih dan HCP.7 Jaringan pelatihan perawatan untuk korban OHCA.
resusitasi telah meminta informasi tentang cara terbaik
Untuk pasien yang sedang menjalani CPR dan memiliki saluran
untuk menambahkan perangkat tersebut ke dalam
pedoman dan pelatihan BLS dewasa. Rekomendasi ini udara lanjutan yang dipasang, laju ventilasi yang disederhanakan
menggabungkan perawatan yang baru saja disetujui. disarankan 1 napas buatan setiap 6 detik (10 napas buatan per
menit).
Perubahan ini dirancang untuk menyederhanakan
Bantuan Hidup Dasar Dewasa dan pelatihan bagi HCP dan untuk terus menekankan
Kualitas CPR: BLS HCP pentingnya menyediakan CPR berkualitas tinggi di awal
untuk korban serangan jantung. Berikut adalah informasi
selengkapnya tentang perubahan tersebut.
Ringkasan Masalah Utama dan Perubahan
Besar Dalam topik berikut untuk HCP, tanda bintang (*) akan
menandai topik yang sama untuk HCP dan penolong
Berikut adalah masalah utama dan perubahan besar dalam
tidak terlatih.
rekomendasi Pembaruan Pedoman 2015 untuk HCP:
Rekomendasi ini memungkinkan fleksibilitas untuk
pengaktifan sistem tanggapan darurat untuk lebih Pengenalan dan Pengaktifan Cepat Sistem
menyesuaikan dengan kondisi klinis HCP. Tanggapan Darurat
Penolong terlatih didorong untuk menjalankan beberapa 2015 (Diperbarui): HCP harus meminta bantuan terdekat
langkah secara bersamaan (misalnya, memeriksa pernapasan bila mengetahui korban tidak menunjukkan reaksi, namun
dan denyut sekaligus) dalam upaya mengurangi waktu untuk akan lebih praktis bagi HCP untuk melanjutkan dengan
kompresi dada pertama. menilai pernapasan dan denyut secara bersamaan
Tim terpadu yang terdiri atas penolong yang sangat terlatih sebelum benar-benar mengaktifkan sistem tanggapan
dapat menggunakan pendekatan terencana yang menyelesaikan darurat (atau meminta HCP pendukung).
beberapa langkah dan penilaian secara bersamaan, bukan 2010 (Lama): HCP harus memastikan reaksi pasien
secara berurutan yang digunakan oleh masing-masing sewaktu memeriksanya untuk menentukan apakah napas
penolong (misalnya, satu penolong akan mengaktifkan sistem terhenti atau tidak normal.
tanggapan darurat dan penolong kedua akan memulai kompresi Alasannya: Perubahan rekomendasi bertujuan untuk
dada, penolong ketiga akan menyediakan ventilasi atau meminimalkan penundaan dan mendukung penilaian
mengambil perangkat kantong masker untuk napas buatan, dan serta tanggapan yang cepat dan efisien secara
penolong keempat mengambil dan menyiapkan defibrilator). bersamaan, bukan melakukan pendekatan langkah demi
Peningkatan penekanan telah diterapkan pada CPR berkualitas langkah yang berjalan lambat berdasarkan metode.
tinggi menggunakan target performa (kompresi kecepatan dan
kedalaman yang memadai, sehingga membolehkan rekoil dada Penekanan pada Kompresi Dada*
sepenuhnya di antara setiap kompresi, meminimalkan gangguan 2015 (Diperbarui): Melakukan kompresi dada dan
dalam kompresi, dan mencegah ventilasi yang berlebihan). menyediakan ventilasi untuk semua pasien dewasa yang
Lihat Tabel 1. mengalami serangan jantung adalah tindakan yang perlu
dilakukan oleh HCP, baik yang disebabkan maupun tidak
T Anjuran dan Larangan BLS untuk CPR
a Berkualitas Tinggi Dewasa
b
el
1

Penolong Harus
Melakukan kompresi dada pada kecepatan 100-120/min

Mengkompresi ke kedalaman minimum 2 inci (5 cm)

Membolehkan rekoil penuh setelah setiap kali kompresi

Meminimalkan jeda dalam kompresi


Memberikan ventilasi yang cukup (2 napas buatan setelah
30 kompresi, setiap napas buatan diberikan lebih dari 1 detik, setiap
kali diberikan dada akan terangkat)

8 American Heart Association


disebabkan oleh jantung. Lebih lanjut, penting bagi HCP Kecepatan Kompresi Dada: 100 hingga
untuk menyesuaikan urutan tindakan penyelamatan
berdasarkan penyebab utama serangan .
120/min*
2015 (Diperbarui): Pada orang dewasa yang menjadi
2010 (Lama): Melakukan kompresi dada dan napas korban serangan jantung, penolong perlu melakukan
buatan untuk korban serangan jantung adalah tindakan
kompresi dada pada kecepatan 100 hingga 120/min.
yang perlu dilakukan oleh EMS dan penolong profesional
di lingkungan rumah sakit. 2010 (Lama): Penolong tidak terlatih dan HCP perlu
Alasannya: CPR hanya kompresi direkomendasikan melakukan kompresi dada pada kecepatan minimum
untuk penolong yang tidak terlatih karena relatif mudah 100/min.
bagi operator untuk memandu dengan instruksi melalui Alasannya: Nilai kecepatan kompresi minimum yang
telepon. HCP diharapkan menerima pelatihan tentang direkomendasikan tetap 100/min. Kecepatan batas atas
CPR dan secara efektif dapat menjalankan kompresi dan 120/min telah ditambahkan karena 1 rangkaian register
ventilasi. Namun, prioritas untuk penyedia layanan medis, besar menunjukkan bahwa saat kecepatan kompresi
terutama jika bertindak sendiri, harus tetap mengaktifkan meningkat menjadi lebih dari 120/min, kedalaman
sistem tanggapan darurat dan menjalankan kompresi kompresi akan berkurang tergantung pada dosis .
dada. Mungkin terdapat kondisi yang mengharuskan Misalnya, proporsi kedalaman kompresi tidak memadai
terjadinya perubahan urutan, misalnya ketersediaan AED adalah sekitar 35% untuk kecepatan kompresi 100
yang dapat dengan cepat diambil dan digunakan oleh hingga 119/min, namun bertambah menjadi kedalaman
penyedia layanan medis. kompresi tidak memadai sebesar 50% saat kecepatan
kompresi berada pada 120 hingga 139/min dan menjadi
Kejut atau CPR Terlebih Dulu kedalaman kompresi tidak memadai sebesar 70% saat
2015 (Diperbarui): Untuk pasien dewasa yang mengalami kecepatan kompresi lebih dari 140/menit.
serangan jantung dan terlihat jatuh saat AED dapat
segera tersedia, penting bahwa defibrilator digunakan Kedalaman Kompresi Dada*
secepat mungkin. Untuk orang dewasa yang mengalami 2015 (Diperbarui): Sewaktu melakukan CPR secara
serangan jantung tidak terpantau atau saat AED tidak manual, penolong harus melakukan kompresi dada
segera tersedia, penting bila CPR dijalankan sewaktu hingga kedalaman minimum 2 inci (5 cm) untuk dewasa
peralatan defibrilator sedang diambil dan diterapkan, rata-rata, dengan tetap menghindari kedalaman kompresi
dan bila defibrilasi, jika diindikasikan, diterapkan segera dada yang berlebihan (lebih dari 2,4 inci [6 cm]).
setelah perangkat siap digunakan.
2010 (Lama): Tulang dada orang dewasa harus ditekan
2010 (Lama): Bila penolong menyaksikan terjadinya
minimum sedalam 2 inci (5 cm).
serangan jantung di luar rumah sakit dan AED tidak
segera tersedia di lokasi, penolong tersebut harus Alasannya: Kedalaman kompresi sekitar 5 cm terkait
memulai CPR dengan kompresi dada dan menggunakan dengan kemungkinan hasil yang diharapkan lebih besar
AED sesegera mungkin. HCP yang menangani pasien bila dibandingkan dengan kedalaman kompresi lebih
serangan jantung di rumah sakit dan fasilitas lainnya dangkal. Meskipun terdapat sedikit bukti tentang adanya
dengan AED atau defibrilator yang tersedia di lokasi ambang atas yang jika terlampaui, maka kompresi akan
harus segera memberikan CPR dan menggunakan AED/ menjadi terlalu dalam, namun satu penelitian sangat
defibrilator segera setelah tersedia. Rekomendasi ini kecil baru-baru ini menunjukkan potensi cedera (yang
dirancang untuk mendukung CPR dan defibrilasi awal, tidak mengancam jiwa) akibat kedalaman kompresi dada
terutama bila AED atau defibrilator tersedia beberapa yang berlebihan (lebih dari 2,4 inci [6 cm]). Kedalaman
saat setelah terjadinya serangan jantung mendadak. Bila kompresi mungkin sulit diperkirakan tanpa menggunakan
OHCA tidak disaksikan oleh petugas EMS, EMS dapat perangkat umpan balik, dan identifikasi batas atas
menjalankan CPR sambil memeriksa ritme dengan AED kedalaman kompresi mungkin akan sulit dilakukan.
atau pada elektrokardiogram (ECG/electrocardiogram) Penting bagi penolong untuk mengetahui bahwa
dan menyiapkan defibrilasi. Dalam kasus ini, CPR selama kedalaman kompresi dada lebih sering terlalu dangkal
1 hingga 3 menit dapat dipertimbangkan sebelum daripada terlalu dalam.
mencoba melakukan defibrilasi. Bila terdapat 2 penolong
atau lebih di lokasi kejadian, CPR harus dilakukan saat Rekoil Dada*
defibrilator sedang diambil. 2015 (Diperbarui): Penting bagi penolong untuk tidak
Dalam kasus serangan jantung mendadak di rumah bertumpu di atas dada di antara kompresi untuk
sakit, tidak terdapat cukup bukti untuk mendukung atau mendukung rekoil penuh dinding dada pada pasien
menyanggah dilakukannya CPR sebelum defibrilasi. dewasa saat mengalami serangan jantung.
Namun, pada pasien yang terpantau, durasi mulai dari 2010 (Lama): Penolong harus membolehkan rekoil penuh
fibrilasi ventrikel (VF/ventricular fibrillation) hingga ke dinding dada setelah setiap kompresi agar jantung terisi
penerapan kejut harus kurang dari 3 menit, dan CPR sepenuhnya sebelum kompresi berikutnya dilakukan.
harus dilakukan saat defibrilator disiapkan.
Alasannya: Rekoil penuh dinding dada terjadi bila tulang
Alasannya: Meskipun banyak penelitian telah menjawab dada kembali ke posisi alami atau netralnya saat fase
pertanyaan apakah terdapat manfaat dengan melakukan dekompresi CPR berlangsung. Rekoil dinding
kompresi dada sesuai durasi yang ditentukan (biasanya dada memberikan relatif tekanan intrathoraks negatif
1 hingga 3 menit) sebelum menerapkan kejut, seperti yang mendorong pengembalian vena dan aliran darah
dibandingkan dengan penerapan kejut segera setelah kardiopulmonari. Bertumpu di atas dinding dada di
AED dapat disiapkan, namun tidak terdapat perbedaan di antara kompresi akan menghalangi rekoil penuh dinding
antara kedua hasil yang ditampilkan. CPR harus diberikan dada. Rekoil tidak penuh akan meningkatkan tekanan
saat bantalan AED diterapkan dan hingga AED siap intrathoraks dan mengurangi pengembalian vena,
menganalisis ritme. tekanan perfusi koroner, dan aliran darah miokardium,
serta dapat mempengaruhi hasil resusitasi.

Fokus
Utama
Pembarua
n
Pedoman
AHA
untuk
dan
9
Tabel 2 Ringkasan Komponen CPR Berkualitas Tinggi untuk Penyedia BLS

Anak-Anak
Dewasa dan (Usia Kura
Komponen (Usia 1 Tahun hingga
Anak Remaja Tidak Term
Pubertas)

Keamanan lokasi Pastikan lingkungan telah aman untuk penolong dan korban

Pengenalan serangan Periksa adanya reaksi


jantung Napas terhenti atau tersengal (misalnya, napas tidak normal)
Tidak ada denyut yang terasa dalam 10 detik
(Pemeriksaan napas dan denyut dapat dilakukan secara bersamaan kurang dari

Pengaktifan sistem Jika Anda sendiri tanpa ponsel, Korban terlihat jatuh pings
tanggapan darurat tinggalkan korban untuk Ikuti langkah-langkah untuk orang dewasa dan anak
mengaktifkan sistem tanggapan Korban tidak terlihat jatuh pin
darurat dan mengambil Berikan CPR selama 2 menit
AED sebelum memulai CPR
Tinggalkan korban untuk mengaktifkan sistem ta
Atau, kirim orang lain untuk dan mengambil AED
melakukannya dan Kembali ke anak atau bayi dan lanjutka
mulai CPR secepatnya; gunakan AED segera setelah terse
gunakan AED segera
setelah tersedia

Rasio kompresi- 1 atau 2 penolong 1 penolong


ventilasi tanpa saluran 30:2 30:2
udara lanjutan
2 penolong atau lebih
15:2

Rasio kompresi- Kompresi berkelanjutan pada kecepatan 100-120/min


ventilasi dengan Berikan 1 napas buatan setiap 6 detik (10 napas buatan/min)
saluran udara lanjutan

Kecepatan 100-120/min
kompresi

Kedalaman Minimum 2 inci (5 cm)* Minimum sepertiga dari diameter Minimum se


kompresi AP dada
Sekitar 2 inci (5 cm) Sekitar

Penempatan 2 tangan berada di separuh bagian 2 tangan atau 1 tangan (opsional 1p


tangan bawah tulang dada (sternum) untuk anak yang sangat kecil) 2 jari di ba
berada di separuh bagian bawah tepat di b
tulang dada (sternum)
2 penol
2 tangan den
melingkar di
tepat di b

Rekoil dada Lakukan rekoil penuh dada setelah setiap kali kompresi; jangan bertumpu di atas dada setela

Meminimalkan Batasi gangguan dalam kompresi dada menjadi kurang dari 10 detik
gangguan

*Kedalaman kompresi tidak boleh lebih dari 2,4 inci (6 cm).


Singkatan: AED, defibrilator eksternal otomatis; AP, anteroposterior; CPR, resusitasi kardiopulmonari.

10 American Heart Association


Meminimalkan Gangguan dalam Kompresi Ventilasi Tertunda
Dada* 2015 (Baru): Untuk pasien OHCA yang terpantau dengan
2015 (Penegasan kembali dari 2010): Penolong harus ritme dapat dikejut, mungkin penting bagi sistem EMS
berupaya meminimalkan frekuensi dan durasi gangguan dengan umpan balik beberapa tingkat berbasis prioritas
dalam kompresi untuk mengoptimalkan jumlah kompresi untuk menunda ventilasi bertekanan positif (PPV/positive-
yang dilakukan per menit. pressure ventilation) dengan menggunakan strategi
hingga 3 siklus dari 200 kompresi berkelanjutan dengan
2015 (Baru): Untuk orang dewasa yang mengalami insuflasi oksigen pasif dan tambahan saluran udara.
serangan jantung dan menerima CPR tanpa saluran
udara lanjutan, mungkin perlu untuk melakukan CPR Alasannya: Beberapa sistem EMS telah menguji strategi
dengan sasaran fraksi kompresi dada setinggi mungkin, penerapan kompresi dada awal secara berkelanjutan
dengan target minimum 60%. dengan PPV tertunda untuk korban OHCA dewasa.
Dalam semua sistem EMS ini, penyedia layanan
Alasannya: Gangguan dalam kompresi dada dapat menerima pelatihan tambahan dengan penekanan
ditujukan sebagai bagian dari perawatan yang diperlukan pada penerapan kompresi dada berkualitas tinggi. Tiga
(misalnya, analisis ritme dan ventilasi) atau yang tidak penelitian dalam sistem yang menggunakan umpan
disengaja (misalnya, gangguan terhadap penolong). balik beberapa tingkat berbasis prioritas dalam
Fraksi kompresi dada adalah pengukuran proporsi komunitas perkotaan dan pedesaan, serta memberikan
waktu resusitasi total yang dilakukan kompresi. paket perawatan mencakup hingga 3 siklus insuflasi
Peningkatan fraksi kompresi dada dapat diperoleh oksigen pasif, penyisipan tambahan saluran udara, dan
dengan meminimalkan jeda dalam kompresi dada. 200 kompresi dada berkelanjutan dengan penerapan
Sasaran optimal untuk fraksi kompresi dada belum kejut, menunjukkan peningkatan kelangsungan hidup
didefinisikan. Penambahan fraksi kompresi target pasien dengan status neurologis yang dapat diterima
ditujukan untuk membatasi gangguan dalam kompresi pada korban serangan jantung yang terlihat jatuh dan
dan mengoptimalkan perfusi koroner dan aliran darah dengan ritme dapat dikejut.
saat CPR berlangsung.
Ventilasi Saat CPR Berlangsung dengan
Perbandingan Elemen Utama BLS Dewasa, Saluran Udara Lanjutan
Anak-Anak, dan Bayi
2015 (Diperbarui): Penyedia layanan medis mungkin perlu
Tabel 2 mencantumkan elemen utama 2015 untuk BLS memberikan 1 napas buatan setiap 6 detik (10 napas
dewasa, anak-anak, dan bayi (kecuali CPR untuk bayi buatan per menit) sambil tetap melakukan kompresi dada
yang baru lahir). berkelanjutan (misalnya, saat CPR berlangsung dengan
saluran udara lanjutan).
Tanggapan Kompresi Dada
2015 (Diperbarui): Menggunakan perangkat umpan balik 2010 (Lama): Bila saluran udara lanjutan (misalnya, pipa
endotrakeal, Combitube, atau saluran udara masker
audiovisual saat CPR berlangsung untuk pengoptimalan
laring) telah dipasang saat CPR yang dilakukan oleh
performa CPR secara real-time mungkin perlu dilakukan. 2 orang berlangsung, berikan 1 napas buatan setiap
2010 (Lama): Perangkat perintah dan umpan balik 6 hingga 8 detik tanpa mencoba mensinkronisasi
CPR baru mungkin bermanfaat untuk melatih penolong napas buatan di antara kompresi (tindakan ini akan
dan sebagai bagian dari strategi keseluruhan untuk menghasilkan pemberian 8 hingga 10 napas buatan
meningkatkan kualitas CPR dalam resusitasi sebenarnya. per menit).
Pelatihan untuk kombinasi keterampilan kompleks Alasannya: Satu kecepatan praktis, bukan serangkaian
yang diperlukan untuk melakukan kompresi dada
napas buatan per menit, untuk orang dewasa, anak-
yang memadai harus fokus pada upaya menunjukkan
anak, dan bayi ini akan lebih mudah dipelajari, diingat,
penguasaan materi .
dan dilakukan.
Alasannya: Teknologi akan memungkinkan pemantauan,
perekaman, dan tanggapan tentang kualitas CPR secara Tim Resusitasi: Prinsip-Prinsip Dasar
real-time, termasuk parameter pasien fisiologi dan metrik 2015 (Baru): Untuk HCP, Pembaruan Pedoman 2015
kinerja penolong. Data penting tersebut dapat digunakan memungkinkan fleksibilitas untuk pengaktifan sistem
secara real-time selama resusitasi, untuk wawancara tanggapan darurat dan manajemen berurutan untuk lebih
setelah resusitasi, dan untuk program peningkatan menyesuaikan dengan kondisi klinis penyedia (Gambar 5).
kualitas di seluruh sistem. Mempertahankan fokus
selama CPR berlangsung pada karakteristik kecepatan Alasannya: Langkah-langkah dalam algoritma BLS
dan kedalaman kompresi, serta rekoil dada dengan tetap biasanya telah disajikan secara berurutan untuk
meminimalkan gangguan adalah tantangan yang sangat membantu satu penolong memprioritaskan tindakan.
sulit, bahkan bagi tenaga profesional yang sangat terlatih. Namun, terdapat beberapa faktor dalam resusitasi
Terdapat beberapa bukti bahwa penggunaan umpan apa pun (misalnya, jenis serangan, lokasi, apakah
balik CPR mungkin efektif dalam mengubah kecepatan penyedia terlatih berada di sekitar, apakah penolong
kompresi dada yang terlalu tinggi, dan terdapat bukti harus meninggalkan korban untuk mengaktifkan sistem
lain bahwa umpan balik CPR akan mengurangi tenaga tanggapan darurat, dsb.) yang mungkin memerlukan
tumpuan saat kompresi dada berlangsung. Namun, perubahan dalam urutan BLS. Algoritma HCP BLS yang
penelitian hingga saat ini belum menunjukkan adanya diperbarui bertujuan untuk menunjukkan waktu dan
peningkatan signifikan dalam hasil neurologis yang lokasi kesesuaian fleksibilitas secara berurutan.
diharapkan atau kelangsungan hidup pasien setelah
keluar dari rumah sakit dengan penggunaan perangkat
umpan balik CPR saat terjadi serangan jantung yang
sebenarnya .
Foku
s
Utam
a
Pem
baru
an
Pedoman
AHA
untuk
dan ECC
11
Gambar 5

Penyedia Layanan Kesehatan BLS Algoritma Serangan Jantung Pada Orang Dewasa
Penyedia Layanan Kesehatan BLPSembaruan 2015
Algoritma Serangan Jantung Pada Orang DewasaPembaruan 2015

Amankan lokasi kejadian.

Korban tidak menunjukkan reaksi.


Teriaklah untuk mendapatkan pertolongan terdekat. Berikan napas buatan:
Aktifkan sistem tanggapan darurat melalui 1 napas buatan setiap
perangkat bergerak (jika tersedia). 5-6 detik atau sekitar
Ambil AED dan peralatan gawat darurat (atau minta 10-12 napas buatan
seseorang untuk melakukannya). per menit.
Aktifkan sistem
Bernapas tanggapan darurat (jika

Bernapas tidak
Perhatikan apakah belum dilakukan) setelah
normal, ada normal, ada 2 menit.
Pantau hingga napas terhenti atau
denyut tersengal dan periksa denyut denyut Terus berikan napas
tenaga medis
(secara bersamaan). Apakah buatan; periksa denyut
terlatih tiba.
denyut benar-benar terasa kurang lebih setiap
dalam 10 detik? 2 menit. Jika tidak ada
denyut, mulai CPR
(lanjutkan dengan kotak
Napas terhenti "CPR").
atau tersengal, Jika kemungkinan terjadi
tidak ada overdosis opioid, berikan
denyut nalokson sesuai protokol,
jika berlaku.

Pada saat ini, dalam semua skenario,


sistem tanggapan darurat atau
cadangan telah diaktifkan, serta AED
dan peralatan gawat darurat
telah tersedia atau seseorang telah
CPR menyediakannya.
Mulai siklus 30 kompresi dan 2 napas
buatan.
Gunakan AED segera setelah tersedia.

AED tersedia.

Periksa ritme detak


jantung. Tidak,
Ya, ritme Ritme dapat dikejut? ritme tidak dapat
dapat dikejut
dikejut

Terapkan 1 kejut. Segera lanjutkan Segera lanjutkan dengan CPR


dengan CPR kurang lebih selama kurang lebih selama 2 menit
2 menit (hingga AED (hingga AED membolehkan
membolehkan pemeriksaan ritme). pemeriksaan ritme). Lanjutkan
Lanjutkan hingga tenaga ALS hingga tenaga ALS mengambil
mengambil alih atau korban mulai alih atau korban mulai bergerak.
bergerak.
12 American Heart Association
untuk kompresi dada dibandingkan dengan kompresi
Teknik Alternatif dan dada manual pada pasien yang mengalami serangan
Perangkat Tambahan untuk CPR jantung. Kompresi dada manual akan tetap menjadi
standar perawatan dalam menangani pasien serangan
jantung. Namun, perangkat tersebut dapat menjadi
Ringkasan Masalah Utama dan Perubahan alternatif yang wajar untuk CPR konvensional dalam
Besar kondisi khusus, saat pemberian kompresi manual
CPR konvensional yang terdiri atas kompresi dada secara berkualitas tinggi sangat sulit dilakukan atau berbahaya
manual yang diselingi napas buatan pada dasarnya bagi penyedia layanan medis (misalnya, jumlah penolong
tidak efisien sehubungan dengan memberikan hasil terbatas, CPR berkepanjangan, CPR saat terjadi
jantung yang signifikan. Berbagai upaya alternatif dan serangan jantung hipotermik, CPR dalam ambulans yang
tambahan untuk CPR konvensional telah dikembangkan bergerak, CPR dalam kumpulan angiografi, CPR saat
dengan tujuan untuk meningkatkan hasil jantung selama persiapan ECPR berlangsung).
resusitasi dari serangan jantung. Sejak dipublikasikannya 2010 (Lama): Perangkat piston mekanis dapat
Pedoman 2010, sejumlah uji klinis telah memberikan data dipertimbangkan untuk digunakan oleh tenaga terlatih
baru tentang efektivitas alternatif ini. dalam kondisi khusus untuk penanganan pasien
Dibandingkan dengan CPR konvensional, banyak dari serangan jantung dewasa di lingkungan (misalnya,
teknik dan perangkat ini memerlukan peralatan dan selama prosedur diagnosis dan intervensi) yang
pelatihan khusus. Bila penolong atau sistem layanan membuat resusitasi manual sulit dilakukan. Band yang
kesehatan mempertimbangkan implementasi, maka perlu menyebarluaskan beban dapat dipertimbangkan untuk
diketahui bahwa beberapa teknik dan perangkat telah digunakan oleh tenaga terlatih dalam kondisi khusus
diuji hanya dalam subkelompok pasien serangan jantung untuk perawatan pasien serangan jantung.
yang sangat terpilih. Alasannya: Tiga uji acak terkontrol berskala besar yang
Penggunaan perangkat ambang impedansi (ITD/impedance membandingkan perangkat kompresi dada mekanis tidak
threshold device) secara rutin sebagai tambahan untuk CPR menunjukkan peningkatan hasil untuk pasien dengan
konvensional tidak disarankan. OHCA bila dibandingkan dengan kompresi dada manual.
Uji acak terkontrol baru-baru ini menunjukkan bahwa Untuk alasan ini, kompresi dada manual akan tetap
penggunaan ITD dan CPR kompresi-dekompresi aktif menjadi standar perawatan.
berkaitan dengan peningkatan kelangsungan hidup Teknik Ekstra-Korporeal dan Perangkat
menyeluruh pasien dengan OHCA secara neurologis.
Penggunaan perangkat kompresi dada mekanis secara rutin
Perfusi Invasif
tidak disarankan, namun kondisi khusus yang mungkin 2015 (Diperbarui): ECPR dapat dipertimbangkan
membuat teknologi dapat bermanfaat telah diidentifikasi. sebagai alternatif untuk CPR konvensional pada pasien
tertentu yang mengalami serangan jantung dan pada
Penggunaan ECPR dapat dipertimbangkan untuk pasien
pasien dengan dugaan etiologi serangan jantung yang
tertentu dalam kondisi adanya dugaan penyebab reversibel
berpotensi reversibel.
serangan jantung.
2010 (Lama): Tidak terdapat cukup bukti untuk
Perangkat Ambang Impedansi merekomendasikan penggunaan ECPR secara rutin pada
2015 (Diperbarui): Penggunaan ITD secara rutin sebagai pasien yang mengalami serangan jantung. Namun, dalam
tambahan saat CPR konvensional berlangsung tidak kondisi bila ECPR siap tersedia, penggunaan tersebut
disarankan. Kombinasi ITD dengan CPR kompresi- dapat dipertimbangkan saat waktu tanpa aliran darah
berlangsung singkat dan kondisi yang mengarah pada
dekompresi aktif mungkin merupakan alternatif yang wajar
serangan jantung bersifat reversibel (misalnya, hipotermia
untuk CPR konvensional dalam kondisi dengan peralatan tidak disengaja, keracunan obat) atau mendukung
yang tersedia dan tenaga terlatih yang sesuai. transplantasi jantung (misalnya, miokarditis) maupun
2010 (Lama): Penggunaan ITD dapat dianggap oleh revaskularisasi (misalnya, infarksi miokardium akut).
tenaga terlatih sebagai tambahan CPR dalam serangan Alasannya: Istilah CPR ekstra-korporeal digunakan
jantung dewasa. untuk menjelaskan inisiasi sirkulasi ekstra-korporeal
Alasannya: Dua uji acak terkontrol berskala besar telah dan oksigenasi saat resusitasi pasien yang mengalami
memberikan informasi baru tentang penggunaan ITD serangan jantung berlangsung. ECPR melibatkan kanulasi
dalam OHCA. Satu uji klinis acak multipusat berskala darurat pada vena dan arteri besar (misalnya, pembuluh
besar gagal menunjukkan perbaikan apa pun terkait paha). ECPR bertujuan untuk mendukung pasien yang
penggunaan ITD (dibandingkan dengan perangkat buatan) mengalami serangan jantung sekaligus menangani
sebagai tambahan untuk CPR konvensional. Uji klinis lain kondisi yang berpotensi reversibel. ECPR adalah proses
menunjukkan adanya manfaat dengan penggunaan CPR kompleks yang memerlukan tim yang sangat terlatih,
kompresi-dekompresi aktif plus ITD bila dibandingkan peralatan khusus, dan dukungan multidisipliner dalam
dengan CPR konvensional dan tanpa ITD. Namun, interval sistem layanan kesehatan setempat. Tidak ada uji
kepercayaan diri di seputar perkiraan titik hasil utama klinis pada ECPR, dan seri yang telah dipublikasikan
sangat luas, dan terdapat risiko penyimpangan yang tinggi menerapkan kriteria inklusi dan pengecualian yang
berdasarkan intervensi bersama (grup yang menerima CPR ketat untuk memilih pasien ECPR. Meskipun kriteria
kompresi-dekompresi plus ITD juga menerima CPR yang inklusi ini sangat beragam, namun sebagian besar yang
diberikan menggunakan perangkat umpan balik berkualitas disertakan hanya pasien berusia 18 hingga 75 tahun
CPR, sedangkan unit kontrol tidak memanfaatkan dengan komorbiditas terbatas, dengan sumber serangan
penggunaan perangkat umpan balik tersebut). jantung, setelah menerima CPR konvensional selama
lebih dari 10 menit tanpa ROSC. Kriteria inklusi ini harus
Perangkat Kompresi Dada Mekanis dipertimbangkan dalam memilih calon kandidat ECPR
oleh penyedia layanan medis.
2015 (Diperbarui): Bukti tidak menunjukkan adanya
manfaat dengan penggunaan perangkat piston mekanis
Foku
s
Utam
a
Pembarua
n
Pedoman
AHA
untuk
CPR
ECC
13
Untuk memberikan kemudahan, vasopresin telah dihapus
Bantuan Hidup Kardiovaskular dari Algoritma Serangan Jantung Pada Orang Dewasa.
Lanjutan Dewasa Vasopresor untuk Resusitasi: Epinefrin
2015 (Baru): Memberikan epinefrin segera jika tersedia
Ringkasan Masalah Utama dan Perubahan mungkin perlu dilakukan setelah terjadinya serangan
Besar jantung akibat ritme awal yang tidak dapat dikejut.
Berikut adalah masalah utama dan perubahan besar Alasannya: Penelitian observasi yang sangat besar
dalam rekomendasi Pembaruan Pedoman 2015 untuk terkait serangan jantung dengan ritme yang tidak dapat
bantuan hidup lanjutan terkait jantung: dikejut membandingkan epinefrin yang diberikan pada
Perpaduan penggunaan vasopresin dan epinefrin tidak 1 hingga 3 menit dengan epinefrin yang diberikan pada
memberikan manfaat apa pun terhadap penggunaan epinefrin 3 interval selanjutnya (4 hingga 6, 7 hingga 9, dan lebih
dosis standar dalam serangan jantung. Vasopresin juga tidak lama dari 9 menit). Penelitian ini menemukan keterkaitan
memberikan manfaat terhadap penggunaan hanya epinefrin. antara pemberian epinefrin di awal dan peningkatan
Oleh karena itu, untuk menyederhanakan algoritma, ROSC, kelangsungan hidup setelah keluar dari rumah
vasopresin telah dihapus dari Algoritma Serangan Jantung sakit, dan kelangsungan hidup secara menyeluruh dari
Pada Orang DewasaPembaruan 2015.
segi neurologi.
Karbondioksida end-tidal rendah (ETCO2 ) pada pasien yang
2
diintubasi setelah E untuk Prediksi
menjalani CPR
selama 20 menit T Resusitasi yang
terkait dengan C Gagal
kemungkinan O
resusitasi yang
sangat rendah.
Meskipun
parameter ini tidak 2015 (Baru): Pada pasien
yang diintubasi,
boleh digunakan kegagalan
2
dalam isolasi untuk mencapai ETCO2
pengambilan lebih besar dari 10
keputusan, namun mm Hg oleh
penyedia layanan kapnografi
gelombang setelah
medis dapat menjalani CPR
mempertimbangkan selama
20 menit dapat
ETCO yang rendah
setelah melakukan dipertimbangkan
CPR selama 20 sebagai satu komponen
menit yang pendekatan multimodal
dikombinasikan untuk memutuskan
dengan beberapa waktu yang tepat guna
faktor lain untuk mengakhiri upaya
membantu resusitasi, namun tidak
menentukan waktu boleh digunakan dalam
yang tepat guna isolasi.
menghentikan
resusitasi.
Steroid dapat
memberikan beberapa
manfaat bila diberikan
bersama Alasannya: sebesa
vasopresin dan Kegagalan r
epinefrin dalam mencapai
menangani HCA. ETCO
2
Meskipun 10 mm Hg oleh setelah
penggunaan rutin kapnografi resusitasi
tidak
direkomendasikan gelombang
dalam
penelitian lanjutan
yang masih dalam
proses, namun
penyedia
layanan medis perlu transplantasi
memberikan paket jantung untuk
perawatan untuk pasien yang tidak
HCA. menjalani
resusitasi dengan
Bila diterapkan CPR konvensional.
dengan cepat, ECPR
dapat Pada pasien
memperpanjang serangan jantung
kelangsungan hidup, dengan ritme
karena dapat yang tidak dapat
memberikan waktu dikejut dan yang
untuk mengantisipasi tidak menerima
kondisi berpotensi epinefrin,
reversibel atau pemberian
menjadwalkan epinefrin di awal
disarankan. vasopresin selama selama 20 menit dikaitkan kemungkinan manfaat
Penelitian tentang terjadinya serangan dengan peluang ROSC yang cukup besar, yakni
penggunaan lidokain jantung telah terbukti dan kelangsungan hidup jika pasien memiliki
setelah ROSC meningkatkan ROSC. yang sangat buruk. penyakit yang bersifat
menimbulkan Pemeriksaan bukti Namun, penelitian reversibel atau untuk
pertentangan, dan yang tersedia hingga saat ini terbatas mendukung pasien
penggunaan lidokain menunjukkan bahwa pada potensi perancu sewaktu menunggu
secara rutin tidak khasiat kedua obat yang mereka miliki dan transplantasi jantung.
disarankan. Namun, adalah sama dan melibatkan jumlah
inisiasi atau kelanjutan bahwa tidak ada pasien yang relatif kecil, Terapi Obat Pasca-
lidokain dapat sehingga sangat tidak
dipertimbangkan
manfaat yang
disarankan untuk Serangan Jantung:
dibuktikan dari
segera setelah ROSC pemberian epinefrin hanya mengandalkan Lidokain
dari serangan jantung dan vasopresin ETCO2 dalam menentukan
VF/pVT (pulseless 2015 (Baru): Tidak
dibandingkan waktu terdapat cukup bukti
ventricular tachycardia
atau takikardia dengan hanya yang tepat untuk untuk mendukung
epinefrin. mengakhiri resusitasi . penggunaan lidokain
ventrikel tanpa denyut).
secara rutin setelah
Satu penelitian CPR Ekstra-Korporeal serangan jantung.
observasi
menunjukkan bahwa 2015 (Baru): ECPR dapat Namun, inisiasi atau
penggunaan - dipertimbangkan di antara kelanjutan lidokain dapat
blocker setelah pasien serangan jantung dipertimbangkan segera
serangan jantung tertentu yang belum setelah ROSC dari
dapat dikaitkan merespons terhadap CPR serangan jantung akibat
dengan hasil yang konvensional awal, dalam VF/pVT.
lebih baik kondisi yang mendukung
Alasannya: Meskipun
dibandingkan dengan ECPR dapat diterapkan
bila -blocker tidak dengan cepat. penelitian sebelumnya
digunakan. Meskipun menunjukkan adanya
penelitian observasi Alasannya: Meskipun hubungan antara
ini tidak memberikan tidak ada penelitian pemberian lidokain
bukti yang cukup kuat berkualitas tinggi yang setelah infarksi
untuk membandingkan ECPR miokardium dan
merekomendasikan dengan CPR konvensional, tingginya angka
penggunaan rutin, namun sejumlah penelitian kematian, namun
namun inisiasi atau berkualitas lebih rendah penelitian lidokain baru-
kelanjutan -blocker membuktikan peningkatan baru ini pada pasien
oral maupun intravena kelangsungan hidup yang selamat dari
(IV) dapat dengan hasil neurologis serangan jantung
dipertimbangkan di yang baik pada populasi menunjukkan adanya
awal setelah pasien tertentu. Karena penurunan dalam
menjalani rawat inap ECPR merupakan sumber insiden VF/pVT
dari serangan jantung intensif dan memerlukan berulang, namun tidak
akibat VF/pVT. biaya besar, ECPR harus menunjukkan manfaat
dipertimbangkan hanya atau kerugian
Vasopresor untuk bila pasien memiliki jangka panjang.
Resusitasi:
Vasopresin
14 American Heart Association
2015 (Diperbarui):
Perpaduan
penggunaan
vasopresin dan
epinefrin tidak akan
memberikan
manfaat apa
pun sebagai
pengganti epinefrin
dosis standar
dalam serangan
jantung.
2010 (Lama): Satu
dosis vasopresin 40
unit IV/secara
intraoseus dapat
menggantikan baik
dosis pertama
maupun kedua dari
epinefrin dalam
penanganan pasien
serangan jantung.
Alasannya: Pemberian
epinefrin dan
2010 (Lama): Primary PCI (PPCI) setelah ROSC
Terapi Obat Pasca-Serangan Jantung: sehubungan dengan dugaan serangan etiologi jantung
-Blocker iskemik dapat dilakukan, bahkan jika STEMI tidak
2015 (Baru): Tidak terdapat cukup bukti untuk didefinisikan dengan jelas. Perawatan sindrom koroner
akut (ACS/acute coronary syndrome) yang tepat atau
mendukung penggunaan -blocker secara rutin setelah STEMI, termasuk PCI atau fibrinolisis, harus dilakukan
serangan jantung. Namun, inisiasi atau kelanjutan terlepas dari apakah pasien berada dalam kondisi tidak
-blocker oral maupun IV dapat dipertimbangkan di awal sadarkan diri .
setelah menjalani rawat inap dari serangan jantung akibat
VF/pVT. Alasannya: Beberapa penelitian observasi menunjukkan
asosiasi positif antara revaskularisasi koroner darurat
Alasannya: Dalam penelitian observasi terhadap pasien serta hasil fungsional yang diharapkan dan kelangsungan
yang menjalani ROSC setelah serangan jantung VF/pVT, hidup. Dalam kondisi tidak terjadi serangan jantung,
pemberian -blocker terkait dengan tingkat kelangsungan pedoman telah merekomendasikan perawatan darurat
hidup lebih tinggi. Namun, temuan ini hanya merupakan STEMI dan perawatan darurat selain ACS elevasi
hubungan asosiatif, dan penggunaan -blocker ST-segmen dengan ketidakstabilan fisik maupun
secara rutin setelah serangan jantung berpotensi hemodinamik. Karena kondisi tidak sadarkan diri yang
berbahaya karena -blocker dapat menyebabkan atau dihasilkan dapat diatasi dengan perbaikan ketidakstabilan
memperburuk ketidakstabilan hemodinamik, menambah jantung, dan prognosis tidak sadarkan diri tidak dapat
parah gagal jantung, dan mengakibatkan bradiaritmia. ditetapkan secara andal dalam beberapa jam pertama
Oleh karena itu, penyedia layanan medis harus setelah terjadi serangan jantung, maka perawatan darurat
mengevaluasi pasien secara terpisah untuk mengetahui untuk pasien pasca-serangan jantung harus mematuhi
kecocokan mereka terhadap -blocker. pedoman yang sama .

Perawatan Pasca-Serangan Jantung Manajemen Suhu yang Ditargetkan


2015 (Diperbarui): Semua pasien dewasa yang tidak
sadarkan diri (misalnya, kurangnya reaksi berarti terhadap
Ringkasan Masalah Utama dan Perubahan perintah verbal) dengan ROSC setelah serangan
Besar jantung harus menjalani TTM, dengan suhu target
Berikut adalah masalah utama dan perubahan besar antara 32C hingga 36C yang dipilih dan diperoleh, lalu
dalam rekomendasi Pembaruan Pedoman 2015 untuk dipertahankan agar tetap sama selama minimum 24 jam.
perawatan pasca-serangan jantung: 2010 (Lama): Pasien dewasa yang tidak sadarkan diri
Angiografi koroner darurat disarankan untuk semua pasien (misalnya, kurangnya reaksi berarti terhadap perintah
dengan elevasi ST dan untuk pasien yang tidak stabil secara verbal) dengan ROSC setelah serangan jantung VF di luar
hemodinamik maupun fisik tanpa elevasi ST yang diduga rumah sakit harus menjalani proses penurunan suhu ke
memiliki lesi kardiovaskular. 32C hingga 34C selama 12 hingga 24 jam. Hipotermia
Rekomendasi TTM telah diperbarui dengan bukti baru yang diinduksi juga dapat dipertimbangkan untuk pasien
yang menunjukkan bahwa kisaran suhu dapat diterima dewasa yang tidak sadarkan diri dengan ROSC setelah
HCA dengan ritme awal atau setelah OHCA dengan ritme
untuk ditargetkan dalam periode pasca-serangan jantung.
awal pada aktivitas fisik tanpa denyut atau asistol.
Setelah TTM selesai, demam dapat terjadi. Meskipun terdapat
data observasi yang bertentangan tentang bahaya demam Alasannya: Penelitian awal TTM memeriksa pendinginan
setelah TTM, namun pencegahan demam dianggap tidak terhadap suhu antara 32C hingga 34C dibandingkan
berbahaya dan oleh karena itu wajar diterapkan. dengan tanpa TTM yang ditetapkan dengan baik, dan
menunjukkan adanya peningkatan dalam hasil neurologis
Identifikasi dan perbaikan hipotensi direkomendasikan bagi pasien dengan hipotermia yang diinduksi. Penelitian
dalam periode pasca-serangan jantung langsung. berkualitas tinggi baru-baru ini membandingkan
Prognostikasi kini direkomendasikan tidak lebih cepat dari manajemen suhu pada 36C dan 33C, dan
72 jam setelah penyelesaian TTM; bagi pasien yang tidak menunjukkan hasil yang mirip untuk keduanya. Secara
memiliki TTM, prognostikasi tidak direkomendasikan keseluruhan, penelitian awal ini membuktikan bahwa
lebih cepat dari 72 jam setelah ROSC. TTM bermanfaat, sehingga tetap direkomendasikan
untuk memilih satu suhu target dan menjalankan TTM.
Semua pasien yang mengarah ke kondisi kematian otak atau
Mengingat bahwa 33C tidak lebih baik daripada 36C,
kematian sirkulasi setelah serangan jantung pertama akan
dokter dapat memilih dari kisaran suhu target yang lebih
dipertimbangkan sebagai calon donor organ. luas. Suhu yang dipilih dapat ditentukan berdasarkan
Angiografi Koroner preferensi dokter atau faktor klinis.

2015 (Diperbarui): Angiografi koroner harus dilakukan Melanjutkan Manajemen Suhu Melebihi
secepatnya (bukan nanti saat dirawat di rumah sakit 24 Jam
atau tidak sama sekali) pada pasien OHCA dengan
dugaan serangan etiologi jantung dan elevasi ST pada 2015 (Baru): Mencegah demam secara aktif pada pasien
ECG. Angiografi koroner darurat perlu dilakukan pada yang tidak sadarkan diri setelah TTM perlu dilakukan.
pasien dewasa tertentu (misalnya, tidak stabil secara fisik Alasannya: Dalam beberapa penelitian observasi,
maupun hemodinamik) yang tidak sadarkan diri setelah demam setelah peningkatan kembali suhu dari
OHCA dan diduga sebagai sumber serangan jantung, TTM dikaitkan dengan cedera neurologis yang
namun tanpa elevasi ST pada ECG. Angiografi koroner memburuk, meskipun penelitian saling bertentangan.
perlu dilakukan pada pasien pasca-serangan jantung Karena mencegah demam setelah TTM relatif tidak
yang diindikasikan menjalani angiografi koroner, terlepas membahayakan, sedangkan demam mungkin terkait
dari apakah pasien tersebut berada dalam kondisi tidak dengan bahaya, maka pencegahan demam disarankan.
sadarkan diri .

Foku
s
Utama
Pembarua
n
Pedoman
AHA
untuk
CPR
ECC
15
Pendinginan di Luar Rumah Sakit Tidak ada satu pun temuan atau uji coba fisik yang dapat
memperkirakan adanya pemulihan saraf setelah serangan
2015 (Baru): Pendinginan suhu pasien pra-rumah sakit jantung dengan kepastian 100%. Beberapa modalitas
secara rutin dengan infusi cairan IV dingin setelah ROSC pengujian dan pemeriksaan yang digunakan bersama
tidak direkomendasikan . untuk memperkirakan hasil setelah efek hipotermia dan
Alasannya: Sebelum tahun 2010, pendinginan suhu pengobatan dapat teratasi kemungkinan besar akan
pasien dalam kondisi pra-rumah sakit belum dievaluasi memberikan perkiraan hasil yang akurat (Kotak 2).
secara ekstensif. Telah diasumsikan sebelumnya bahwa
inisiasi pendinginan lebih awal dapat memberikan Kotak 2
manfaat tambahan dan inisiasi pra-rumah sakit juga
dapat memfasilitasi dan mendorong pendinginan Temuan Klinis Bermanfaat
lanjutan di rumah sakit. Penelitian berkualitas tinggi yang
dipublikasikan baru-baru ini menunjukkan tidak adanya
yang Berkaitan Dengan
manfaat terhadap pendinginan pra-rumah sakit dan juga Hasil Neurologis yang Buruk*
mengidentifikasi potensi komplikasi bila menggunakan
cairan IV dingin untuk pendinginan pra-rumah sakit. Tidak ada refleks pupil terhadap cahaya pada 72 jam atau lebih
setelah serangan jantung
Tujuan Hemodinamik Setelah Resusitasi Terdapat status mioklonus (berbeda dengan sentak mioklonik
2015 (Baru): Menghindari dan secepatnya memperbaiki terisolasi) dalam 72 jam pertama setelah serangan jantung
hipotensi (tekanan darah sistolik kurang dari 90 mm Hg, Ketiadaan somatosensori N20 memicu potensi gelombang
tekanan arteri rata-rata kurang dari 65 mm Hg) mungkin kortikal dalam 24 hingga 72 jam setelah serangan jantung
perlu dilakukan saat perawatan pasca-serangan jantung atau setelah peningkatan kembali suhu
berlangsung. Adanya penurunan yang ditandai dengan rasio abu-abu
Alasannya: Penelitian pasien setelah serangan jantung putih pada CT otak yang diperoleh dalam 2 jam setelah
membuktikan bahwa tekanan darah sistolik kurang dari serangan jantung
90 mm Hg atau tekanan arteri rata-rata kurang dari Batasan menyeluruh terhadap difusi pada MRI otak dalam
65 mm Hg terkait dengan angka kematian lebih tinggi dan 2 hingga 6 hari setelah serangan jantung
pemulihan fungsional yang berkurang, sedangkan Ketiadaan terus-menerus reaktivitas EEG terhadap rangsangan
tekanan arteri sistolik lebih besar dari 100 mm Hg terkait eksternal pada 72 jam setelah serangan jantung
dengan pemulihan yang lebih baik. Meskipun tekanan
lebih tinggi muncul, namun target tekanan sistolik khusus Peningkatan tekanan terus-menerus atau epileptikus status
atau tekanan arteri rata-rata tidak dapat diidentifikasi terselesaikan pada EEG setelah peningkatan kembali suhu
karena uji coba biasanya mempelajari paket dari banyak Ketiadaan gerakan motor, sikap ekstensor, atau mioklonus tidak boleh
intervensi, termasuk kontrol hemodinamik. Selain itu, digunakan secara terpisah untuk memperkirakan hasil.
karena acuan tekanan darah bervariasi dari pasien ke *Kejut, suhu, gangguan metabolisme, sedasi atau blokade
pasien, maka masing-masing pasien mungkin memiliki neuromuskular di awal, dan faktor klinis lain harus dipertimbangkan
persyaratan yang berbeda untuk menjaga perfusi organ dengan cermat karena dapat mempengaruhi hasil atau interpretasi uji
tetap optimal. coba tertentu.
Singkatan: CT, tomografi terkomputasi; EEG, elektroensefalogram;
Prognostikasi Setelah Serangan Jantung MRI, pencitraan resonansi magnetik.
2015 (Baru): Waktu paling awal untuk memperkirakan
hasil neurologis yang buruk menggunakan pemeriksaan Pendonoran Organ
klinis pada pasien yang tidak ditangani dengan TTM 2015 (Diperbarui): Semua pasien yang menjalani
adalah 72 jam setelah serangan jantung, namun kali resusitasi dari serangan jantung, namun secara bertahap
ini dapat lebih lama setelah serangan jantung jika sisa mengarah ke kematian atau kematian otak akan
dampak sedasi atau paralisis diduga mengacaukan dievaluasi sebagai calon donor organ. Pasien yang tidak
pemeriksaan klinis. mencapai kondisi ROSC dan yang resusitasinya akan
2015 (Diperbarui): Pada pasien yang ditangani dengan dihentikan dapat dipertimbangkan sebagai calon donor
TTM, dalam kondisi sedasi atau paralisis dapat ginjal atau hati dengan ketentuan tersedianya program
mengacaukan pemeriksaan klinis, diperlukan waktu pemulihan organ cepat.
tunggu hingga 72 jam setelah kembali ke kondisi 2010 (Lama): Pasien dewasa yang mengarah ke kondisi
normotermia agar dapat memperkirakan hasil. kematian otak setelah menjalani resusitasi dari serangan
2010 (Lama): Meskipun waktu untuk kegunaan uji coba jantung akan dipertimbangkan sebagai donor organ.
tertentu telah diidentifikasi, namun tidak ada rekomendasi Alasannya: Tidak ada perbedaan yang dilaporkan dalam
khusus secara keseluruhan yang dibuat terkait waktu fungsi organ langsung maupun jangka panjang dari
untuk prognostikasi . donor yang mencapai kondisi kematian otak setelah
Alasannya: Temuan klinis, modalitas elektrofisiologis, serangan jantung dibandingkan dengan donor yang
modalitas pencitraan, dan penanda dalam darah berguna mencapai kondisi kematian otak akibat penyebab lainnya.
untuk memperkirakan hasil neurologis pada pasien yang Organ yang ditransplantasi dari donor ini memiliki tingkat
tidak sadarkan diri, namun setiap temuan, uji coba, keberhasilan sebanding dengan organ yang dipulihkan
dan penanda dipengaruhi dengan cara yang dari donor serupa dengan kondisi lainnya.
berbeda oleh sedasi dan blokade neuromuskular.
Selain itu, otak koma dapat lebih sensitif terhadap
pengobatan, dan pengobatan memerlukan waktu
lebih lama untuk memetabolisme setelah serangan
jantung.
16 American Heart Association
sakit akan mengurangi waktu untuk reperfusi serta
Sindrom Koroner Akut mengurangi angka morbiditas dan kematian. Karena
penyedia tidak berpengalaman mungkin memerlukan
Pembaruan Pedoman 2015 menandai perubahan dalam waktu lama untuk mengembangkan keahlian dengan
lingkup pedoman AHA untuk evaluasi dan manajemen interpretasi 12 sadapan ECG, maka interpretasi melalui
ACS. Sejak pembaruan ini, rekomendasi akan terbatas komputer diharapkan dapat meningkatkan keakuratan
pada fase perawatan pra-rumah sakit dan unit gawat interpretasi bila digunakan sehubungan dengan
darurat. Perawatan di rumah sakit diatur berdasarkan interpretasi yang dilakukan oleh tenaga medis selain
pedoman untuk manajemen infarksi miokardium yang dokter yang terlatih.
dipublikasikan secara bersama oleh AHA dan American
College of Cardiology Foundation. Reperfusi
2015 (Baru): Jika fibrinolisis pra-rumah sakit tersedia
Ringkasan Masalah Utama dan Perubahan sebagai bagian dari sistem perawatan STEMI dan
Besar pemindahan langsung ke pusat PCI pun tersedia, maka
Berikut adalah masalah utama dengan perubahan besar triase pra-rumah sakit dan pemindahan langsung ke
dalam rekomendasi Pembaruan Pedoman 2015 untuk pusat PCI mungkin dipilih karena akan mengakibatkan
ACS: penurunan insiden pendarahan intrakranium yang
Akuisisi dan interpretasi ECG pra-rumah sakit relatif kecil. Namun, tidak terdapat bukti manfaat terkait
kematian dari satu terapi terhadap terapi lainnya.
Memilih strategi reperfusi bila fibrinolisis pra-
rumah sakit tersedia 2015 (Baru): Pada pasien dewasa yang menjalani STEMI di
unit gawat darurat di rumah sakit yang tidak mendukung
Memilih strategi reperfusi di rumah sakit yang tidak PCI, kami menyarankan agar pasien tersebut segera
mendukung PCI dipindahkan tanpa fibrinolisis dari fasilitas awal ke pusat
Troponin untuk mengidentifikasi pasien yang dapat PCI, bukan diberikan fibrinolisis langsung di rumah sakit
dipindahkan dengan aman dari unit gawat darurat awal dengan pemindahan hanya untuk PCI yang
Intervensi yang mungkin atau mungkin tidak bermanfaat disebabkan oleh iskemia.
jika diberikan sebelum tiba di rumah sakit 2015 (Baru): Bila pasien STEMI tidak dapat dipindahkan
ke rumah sakit yang mendukung PCI tepat pada
Akuisisi dan Interpretasi ECG Pra-Rumah waktunya, maka terapi fibrinolitik dengan pemindahan
Sakit rutin untuk angiografi (lihat di bawah ini) dapat menjadi
alternatif yang dapat diterima untuk melakukan
2015 (Baru): 12 sadapan ECG pra-rumah sakit harus pemindahan langsung ke Primary PCI.
diakuisisi di awal untuk pasien dengan kemungkinan ACS.
2015 (Baru): Bila terapi fibrinolitik diberikan kepada
2015 (Baru): Tenaga medis selain dokter yang terlatih pasien STEMI di rumah sakit yang tidak mendukung
dapat melakukan interpretasi ECG untuk menentukan PCI, memindahkan semua pasien pascafibrinolisis
apakah pelacakan menunjukkan bukti STEMI. mungkin dapat dilakukan untuk angiografi rutin dini dalam
2015 (Diperbarui): Interpretasi ECG terbantu komputer 3 hingga 6 jam pertama dan maksimum 24 jam, bukan
dapat digunakan sehubungan dengan interpretasi yang memindahkan pasien pascafibrinolisis hanya bila mereka
dilakukan oleh dokter atau penyedia layanan medis memerlukan angiografi yang didorong oleh iskemia.
terlatih untuk mengidentifikasi STEMI. 2010 (Lama): Pemindahan pasien berisiko tinggi yang
2015 (Diperbarui): Pemberitahuan pra-rumah sakit telah menerima reperfusi primer dengan terapi fibrinolitik
tentang pengaktifan laboratorium kateterisasi rumah dapat dilakukan.
sakit dan/atau pra-rumah sakit penerima harus diberikan Alasannya: Fibrinolisis telah menjadi standar perawatan
kepada semua pasien dengan STEMI yang diidentifikasi STEMI selama lebih dari 30 tahun. Dalam 15 tahun
pada ECG pra-rumah sakit. terakhir, PPCI semakin siap tersedia di sebagian
2010 (Lama): Jika penyedia layanan tidak dilatih untuk besar wilayah Amerika Utara dan telah terbukti dapat
menginterpretasikan 12 sadapan ECG, maka transmisi meningkatkan hasil secara wajar, dibandingkan
lapangan ECG atau laporan komputer kepada rumah dengan fibrinolisis, bila PPCI dapat diberikan tepat
sakit penerima direkomendasikan . waktu oleh praktisi yang berpengalaman. Namun,
bila terjadi penundaan untuk PPCI, tergantung pada
2010 (Lama): Pemberitahuan sebelumnya tentang pasien durasi penundaan tersebut, fibrinolisis langsung
yang diidentifikasi mengalami STEMI harus diberikan dapat mengantisipasi setiap manfaat tambahan
kepada rumah sakit penerima . PCI. Pemindahan langsung ke rumah sakit yang
Alasannya: 12 sadapan ECG tidak memerlukan biaya mendukung PCI dibandingkan dengan fibrinolisis pra-
yang besar, mudah dilakukan, dan dapat dengan cepat rumah sakit tidak menghasilkan perbedaan apa pun
memberikan bukti tentang elevasi ST akut. Kekhawatiran dalam angka kematian, namun pemindahan untuk
bahwa interpretasi ECG yang dilakukan oleh tenaga PPCI mengakibatkan penurunan insiden pendarahan
medis selain dokter dapat mengarah ke overdiagnosis intrakranium yang relatif kecil. Pemeriksaan bukti telah
yang menyebabkan pemakaian sumber daya secara memberikan rekomendasi stratifikasi perawatan sesuai
berlebihan atau underdiagnosis yang menyebabkan dengan waktu sejak gejala dimulai serta mengantisipasi
terjadinya penundaan perawatan telah menghambat penundaan ke PPCI, dan telah memberikan rekomendasi
pengembangan program ECG ke sistem EMS. khususnya kepada dokter di rumah sakit yang tidak
Kekhawatiran serupa muncul terkait dengan interpretasi mendukung PCI. PCI langsung setelah penanganan
ECG oleh komputer. Ulasan dokumentasi menunjukkan menggunakan fibrinolisis tidak memberikan manfaat
bahwa bila fibrinolisis tidak diberikan dalam kondisi tambahan, namun angiografi rutin dalam 24 jam pertama
pra-rumah sakit, maka pemberitahuan awal rumah sakit setelah memberikan fibrinolisis akan mengurangi insiden
tentang kedatangan pasien berikutnya dengan elevasi reinfarksi.
ST atau pengaktifan laboratorium kateterisasi pra-rumah
Foku
s
Utam
a
Pembaruan
Pedoman
AHA
untuk
dan
17
rekomendasi bahwa oksigen tambahan tidak diperlukan
Troponin untuk Mengidentifikasi Pasien yang untuk pasien dengan ACS yang memiliki saturasi
Dapat Dipindahkan Dengan Aman dari Unit oksihemoglobin 94%
Gawat Darurat
2015 (Baru): Troponin sensitivitas tinggi T dan hanya
troponin I yang diukur pada 0 dan 2 jam (tanpa
menjalankan stratifikasi berisiko klinis) tidak boleh
digunakan untuk mengecualikan diagnosis ACS,
namun pengukuran troponin sensitivitas tinggi I kurang
dari 99 persentil, yang diukur pada 0 dan 2 jam,
dapat digunakan bersama stratifikasi berisiko rendah
(skor Trombolisis dalam Infarksi Miokardium [TIMI/
Thrombolysis in Myocardial Infarction] sebesar 0 atau
1, atau berisiko rendah berdasarkan aturan Vancouver)
untuk memperkirakan peluang di bawah 1% dari
kejadian kardiovaskular utama yang merugikan
(MACE/ major adverse cardiac event) selama 30 hari.
Selain itu,
pengukuran troponin negatif I atau troponin T pada 0 dan
antara 3 hingga 6 jam dapat digunakan bersama stratifikasi
berisiko sangat rendah (skor TIMI sebesar 0, skor berisiko
rendah berdasarkan aturan Vancouver, skor Nyeri Dada di
Amerika Utara sebesar 0 dan usia kurang dari 50 tahun,
atau skor JANTUNG berisiko rendah) untuk
memperkirakan peluang di bawah 1% dari MACE selama
30 hari.
2010 (Lama): Jika penanda biologis pada awalnya
bernilai negatif selama 6 jam sejak gejala dimulai,
sebaiknya penanda biologis tersebut harus diukur
ulang antara 6 hingga 12 jam sejak gejala dimulai.
Alasannya: Mengandalkan hasil uji coba troponin yang
bernilai negatif, baik hanya troponin maupun
dikombinasikan dengan penilaian risiko tidak terstruktur,
akan menghasilkan angka MACE yang terlalu tinggi selama
30 hari. Namun, perkiraan yang didasarkan pada hasil
uji coba troponin bernilai negatif, dikombinasikan dengan
penilaian risiko tidak terstruktur, akan menghasilkan risiko
di bawah 1% dari MACE selama 30 hari.
Intervensi Lainnya
Bila pengobatan mengurangi tingginya morbiditas atau
kematian, pemberian pengobatan pra-rumah sakit,
dibandingkan dengan pemberian pengobatan di rumah
sakit, akan membuat obat bekerja lebih cepat dan pada
akhirnya dapat mengurangi tingginya morbiditas atau
kematian. Namun, bila waktu respons dan transportasi
EMS di perkotaan cukup singkat, peluang efek obat yang
berkhasiat mungkin akan kecil. Lebih lanjut, menambah
tindakan pengobatan akan meningkatkan kerumitan
perawatan pra-rumah sakit, yang pada akhirnya dapat
menghasilkan efek negatif.
Inhibisi adenosin difosfat untuk pasien di rumah sakit dengan
dugaan STEMI telah disarankan sejak lama. Pemberian inhibitor
adenosin difosfat dalam kondisi pra-rumah sakit tidak akan
memberikan baik manfaat tambahan maupun bahaya bila
dibandingkan dengan menunggu hingga diberikan di rumah
sakit.
UFH (unfractionated heparin) yang diberikan kepada pasien
dengan STEMI dalam kondisi pra-rumah sakit belum terbukti
memberikan manfaat tambahan dibandingkan dengan jika
diberikan di rumah sakit. Dalam sistem yang telah
mendukung diberikannya UFH dalam kondisi pra-rumah sakit,
sebaiknya penggunaan UFH tersebut tidak dihentikan. Jika
UFH belum digunakan dalam kondisi pra-rumah sakit,
sebaiknya tunda pemberian UFH hingga pasien tiba di rumah
sakit.
Sebelum rekomendasi 2010, oksigen secara rutin diberikan
kepada semua pasien dengan dugaan ACS, tanpa
memperhitungkan saturasi oksigen atau kondisi
pernapasan. Dalam rekomendasi 2010, bukti yang lemah
atas tidak adanya manfaat dan adanya kemungkinan
bahaya menuntut
atau lebih besar (misalnya, tidak ada hipoksemia) dan tidak ada bukti
kesulitan pernapasan. Bukti lebih lanjut bahwa pemberian oksigen
tambahan secara rutin dapat berbahaya, didukung
oleh uji acak terkontrol multipusat yang dipublikasikan sejak
pemeriksaan sistematis 20158, akan memperkuat rekomendasi
bahwa pemberian oksigen kepada pasien dengan kemungkinan ACS
yang memiliki saturasi oksigen normal akan ditunda (misalnya, yang
tidak memiliki hipoksemia).
Untuk pasien STEMI, pemberian UFH dalam kondisi pra-rumah sakit
atau bivalirudin wajar dilakukan.
Pada pasien dengan dugaan STEMI yang dipindahkan untuk
PPCI, enoksaparin adalah alternatif yang wajar untuk UFH.

Kondisi Khusus Resusitasi


Ringkasan Masalah Utama dan Perubahan
Besar
Pengalaman dalam menangani pasien dengan dugaan overdosis opioid
atau yang telah diketahui mengalami overdosis opioid menunjukkan
bahwa nalokson dapat diberikan dengan keamanan dan efektivitas
yang nyata dalam kondisi pertolongan pertama dan BLS. Dengan
begitu, pemberian nalokson oleh penolong tidak terlatih dan HCP kini
disarankan dan pelatihan praktis diberikan. Selain itu, algoritma baru
untuk penanganan korban yang tidak bereaksi dengan dugaan
overdosis opioid disediakan.
ILE (intravenous lipid emulsion) dapat dipertimbangkan untuk
perawatan keracunan sistemik anestesi lokal. Selain itu,
rekomendasi baru tersedia, mendukung kemungkinan manfaat ILE
pada pasien yang mengalami serangan jantung dan gagal menjalani
tindakan resusitasi standar sebagai akibat dari keracunan obat selain
keracunan sistemik anestesi lokal.
Pentingnya CPR berkualitas tinggi saat terjadi serangan jantung
mengarah pada penilaian kembali rekomendasi tentang pembebasan
kompresi aortokaval saat terjadi serangan
jantung pada pasien dalam masa kehamilan. Penilaian kembali ini
menghasilkan rekomendasi baru tentang strategi untuk pergeseran
uterin.
Pendidikan Terkait Masalah Overdosis Opioid
Serta Pelatihan dan Pemberian Nalokson
2015 (Baru): Pendidikan terkait respons terhadap masalah
overdosis opioid perlu diberikan, baik hanya masalah
overdosis opioid tersebut maupun bila digabungkan dengan
pemberian dan pelatihan tentang nalokson, kepada pasien
yang berisiko mengalami overdosis opioid (atau orang yang
tinggal bersama maupun sering berinteraksi dengan pasien
tersebut) . Wajar bila pelatihan ini didasarkan pada
rekomendasi pertolongan pertama dan selain BLS HCP,
bukan pada sejumlah praktik lanjutan yang ditujukan untuk
HCP.
Perawatan Overdosis Opioid
2015 (Baru): Pemberian nalokson IM atau IN secara empiris
kepada semua korban yang tidak bereaksi dalam kemungkinan
kondisi darurat yang mengancam jiwa terkait opioid mungkin
perlu dilakukan sebagai tambahan terhadap tindakan
pertolongan pertama standar dan selain protokol BLS HCP.
Untuk pasien dengan dugaan overdosis opioid atau yang telah
diketahui yang memiliki denyut nyata, namun napas tidak
normal atau tersengal (misalnya, henti napas), selain
menyediakan perawatan standar, penolong terlatih perlu
memberikan nalokson IM atau IN kepada pasien dalam kondisi
darurat pernapasan terkait opioid (Gambar 6). Tenaga medis
tidak boleh menunda akses ke layanan medis lebih lanjut
sewaktu menunggu reaksi pasien terhadap nalokson atau
intervensi lainnya.

18 American Heart Association


Gambar 6

Algoritma Gawat Darurat (Dewasa) yang Mengancam Jiwa Terkait OpioidBaru 2015

Nilai dan aktifkan.


Periksa apakah korban tidak menunjukkan
reaksi dan cari pertolongan terdekat. Minta
seseorang menghubungi 9-1-1 dan mengambil
AED serta nalokson.
Perhatikan apakah napas terhenti atau
tersengal.

Mulai CPR.
Jika korban tidak bereaksi dan napas terhenti
atau tersengal, mulai CPR.*
Jika tidak ada orang lain di sekitar, lakukan CPR
selama 2 menit sebelum Anda menghubungi
9-1-1 serta mengambil nalokson dan AED.

Berikan nalokson.
Berikan nalokson segera setelah tersedia.
2 mg intranasal atau 0,4 mg intramuskular.
Dapat diulangi setelah 4 menit.

Apakah korban Berikan stimulasi dan nilai


bereaksi? Ya Lanjutkan
kembali. reaksi dan
Pada saat tertentu, apakah dengan memeriksa

korban sengaja bergerak, pernapasan hingga bantuan lanjutan tiba.


bernapas teratur, merintih, Jika korban berhenti bereaksi, mulai CPR
atau bereaksi? dan berikan nalokson.

Tidak

Lanjutkan CPR dan gunakan AED


segera setelah tersedia. Lanjutkan
hingga korban bereaksi atau bantuan lanjutan
tiba.

*Teknik CPR berdasarkan tingkat pelatihan penolong.

Pemberian nalokson IM atau IN secara empiris kepada terlebih dulu, bukan pemberian nalokson, dengan fokus
semua pasien yang tidak bereaksi dalam kondisi darurat pada CPR berkualitas tinggi (kompresi ditambah
resusitasi terkait opioid mungkin perlu dilakukan sebagai ventilasi). Pemberian nalokson IM atau IN perlu dilakukan
tambahan terhadap tindakan pertolongan pertama dengan berdasarkan pada kemungkinan bahwa pasien
standar dan selain protokol BLS HCP. Prosedur resusitasi berada dalam kondisi henti napas, bukan serangan
standar, termasuk pengaktifan EMS, tidak boleh ditunda jantung. Tenaga medis tidak boleh menunda akses ke
untuk pemberian nalokson. layanan medis lebih lanjut sewaktu menunggu reaksi
pasien terhadap nalokson atau intervensi lainnya.
Serangan Jantung Pada Pasien Dengan
Alasannya: Pemberian nalokson belum pernah
Dugaan Overdosis Opioid atau yang Telah disarankan untuk penyedia tindakan pertolongan
Diketahui pertama, selain HCP, atau penyedia BLS. Namun,
2015 (Baru): Pasien tanpa denyut nyata mungkin perangkat pemberian nalokson yang ditujukan untuk
mengalami serangan jantung atau mungkin memiliki digunakan oleh penolong tidak terlatih kini disetujui dan
denyut lemah atau lambat yang tidak terdeteksi. Pasien dapat digunakan di Amerika Serikat, dan keberhasilan
tersebut harus ditangani sebagai pasien serangan penerapan program nalokson oleh penolong tidak terlatih
jantung. Tindakan resusitasi standar harus diberikan telah ditekankan oleh Pusat Penanggulangan Penyakit
(Centers for Disease Control). 9 Meskipun nalokson tidak
Fokus Utama Pembaruan Pedoman AHA 2015 untuk CPR dan ECC 19
diharapkan akan bermanfaat dalam kondisi serangan perimortem (PMCD/perimortem cesarean delivery).
jantung, baik jika disebabkan oleh overdosis opioid PMCD harus dipertimbangkan 4 menit setelah dimulainya
maupun tidak, namun telah diakui bahwa membedakan serangan jantung atau upaya resusitasi pada ibu (untuk
serangan jantung dari kesulitan bernapas parah pada serangan yang tidak terlihat) jika tidak ada ROSC ibu.
korban yang mengalami overdosis opioid sulit dilakukan. Keputusan klinis untuk melakukan PMCD, beserta waktu
Meskipun tidak ada bukti bahwa pemberian nalokson pelaksanaannya sehubungan dengan serangan jantung
akan membantu pasien yang mengalami serangan pada ibu, sangat rumit karena beragamnya tingkat
jantung, namun pemberian nalokson dapat membantu keahlian praktisi dan tim, faktor pasien (misalnya, etiologi
pasien yang tidak bereaksi dalam kondisi kesulitan serangan, usia kehamilan janin), dan sumber daya sistem.
bernapas parah yang hanya akan terlihat dalam kondisi 2010 (Lama): Kelahiran sesar darurat dapat
serangan jantung (misalnya, sulit menentukan ada atau
dipertimbangkan 4 menit setelah dimulainya serangan
tidaknya denyut) .
jantung ibu jika tidak ada ROSC.
Emulsi Lipid Intravena Alasannya: PMCD memberikan peluang untuk
2015 (Diperbarui): Pemberian ILE mungkin perlu melakukan resusitasi terpisah pada janin yang berpotensi
dilakukan, bersama perawatan resusitasi standar, kepada hidup dan pembebasan akhir kompresi aortokaval,
pasien yang mengalami pertanda neurotoksisitas atau yang dapat meningkatkan hasil resusitasi ibu. Skenario
serangan jantung akibat keracunan anestesi lokal. dan kondisi klinis serangan harus menginformasikan
Pemberian ILE mungkin perlu dilakukan kepada pasien keputusan akhir tentang waktu pelaksanaan kelahiran
dalam kondisi keracunan obat lain yang gagal menjalani sesar darurat .
tindakan resusitasi standar .
2010 (Lama): Pemberian ILE mungkin perlu dilakukan Bantuan Hidup Dasar Pediatri
dalam kondisi keracunan anestesi lokal. dan Kualitas CPR
Alasannya: Sejak 2010, penelitian terhadap hewan yang
dipublikasikan dan laporan kasus yang terjadi pada Ringkasan Masalah Utama dan Perubahan
manusia telah memeriksa penggunaan ILE pada pasien Besar
dalam kondisi keracunan obat yang bukan disebabkan
oleh infusi anestesi lokal. Meskipun hasil penelitian dan Perubahan terhadap BLS pediatri sejalan dengan
laporan tersebut bervariasi, namun mungkin terdapat perubahan terhadap BLS dewasa. Berikut adalah topik
peningkatan secara klinis setelah ILE diberikan. Jika yang diperiksa yang tercakup di sini:
prognosis pasien yang gagal menjalani tindakan resusitasi Menegaskan kembali urutan C-A-B sebagai urutan yang
standar sangat buruk, pemberian ILE secara empiris dipilih untuk CPR pediatri
dalam situasi ini mungkin perlu dilakukan meskipun Algoritma baru untuk CPR HCP pediatri dengan satu dan
bukti yang ada sangat lemah dan bertentangan. beberapa penolong dalam era ponsel
Serangan Jantung Pada Masa Kehamilan: Menentukan batas atas 6 cm untuk kedalaman kompresi dada
pada anak remaja
Pemberian CPR Menunjukkan bahwa BLS dewasa merekomendasikan
2015 (Diperbarui): Prioritas untuk ibu hamil dalam kondisi kecepatan kompresi dada sebesar 100 hingga 120/min
serangan jantung adalah pemberian CPR berkualitas Menegaskan kembali sepenuhnya bahwa kompresi dan ventilasi
tinggi dan pembebasan kompresi aortokaval. Jika tinggi diperlukan untuk BLS pediatri
fundus berada pada atau di atas tinggi pusar, pergeseran
uterin ke kiri secara manual dapat bermanfaat dalam Urutan C-A-B
membebaskan kompresi aortokaval saat kompresi dada
berlangsung. 2015 (Diperbarui): Meskipun jumlah dan kualitas
data pendukung terbatas, namun mempertahankan
2010 (Lama): Untuk membebaskan kompresi urutan dari Pedoman 2010 dengan melakukan CPR
aortokaval saat kompresi dada berlangsung dan menggunakan teknik C-A-B melalui A-B-C perlu
mengoptimalkan kualitas CPR, sebaiknya pergeseran dilakukan. Terdapat kesenjangan pengetahuan, dan
uterin ke kiri secara manual dilakukan dalam posisi penelitian tertentu diminta untuk memeriksa urutan
telentang terlebih dulu. Jika teknik ini tidak berhasil, dan terbaik untuk CPR pada anak-anak.
pengganjal yang
sesuai tersedia, maka penyedia layanan medis dapat 2010 (Lama): Lakukan CPR pada bayi dan anak-anak
mempertimbangkan untuk menempatkan pasien pada dengan kompresi dada, bukan napas buatan (C-A-B,
posisi miring ke kiri sejauh 27 hingga 30, menggunakan bukan A-B-C). CPR harus dimulai dengan 30 kompresi
pengganjal yang kuat untuk menopang panggul dan (oleh satu penolong) atau 15 kompresi (untuk resusitasi
rongga dada . bayi dan anak dengan 2 HCP), bukan dengan 2 ventilasi.
Alasannya: Pemahaman atas pentingnya CPR Alasannya: Dalam kondisi tidak tersedianya data baru,
berkualitas tinggi dan inkompatibilitas kemiringan dengan urutan 2010 belum diubah. Konsistensi dalam urutan
CPR berkualitas tinggi telah menuntut penghapusan kompresi (compression), saluran udara (airway), dan
rekomendasi untuk menggunakan kemiringan dan napas buatan (breathing) untuk CPR pada korban dari
penguatan rekomendasi untuk pergeseran uterin semua golongan usia mungkin paling mudah diingat
secara menyamping. dan dilakukan oleh penolong yang menangani pasien
dari berbagai golongan usia. Menjaga urutan yang sama
Serangan Jantung Pada Masa Kehamilan: untuk pasien dewasa dan anak-anak akan menciptakan
Kelahiran Sesar Darurat konsistensi dalam pengajaran.
2015 (Diperbarui): Dalam situasi seperti trauma ibu yang
tidak dapat bertahan atau tanpa denyut berkepanjangan 20 American Heart Association
yang membuat upaya resusitasi ibu sia-sia, jangan
tunggu lebih lama lagi untuk melakukan persalinan sesar
Gambar 7

Penyedia Layanan Kesehatan BLS Algoritma Serangan Jantung Pada Pasien Pediatri
untuk Satu PenolongPembaruan 2015

Amankan lokasi kejadian.

Korban tidak menunjukkan reaksi.


Teriaklah untuk mendapatkan pertolongan terdekat. Berikan napas buatan:
Aktifkan sistem tanggapan darurat melalui 1 napas buatan setiap
3-5 detik atau sekitar
perangkat bergerak (jika tersedia).
12-20 napas buatan
per menit.
Tambah kompresi jika
Aktifkan sistem Bernapas

tanggapan darurat Bernapas tidak denyut tetap 60/min


Perhatikan apakah
(jika belum normal, ada napas terhenti atau normal, ada dengan tanda perfusi
dilakukan). denyut tersengal dan periksa denyut denyut buruk.
Kembali pada (secara bersamaan). Apakah Aktifkan sistem tanggapan
korban dan pantau denyut benar-benar terasa darurat (jika belum
hingga tenaga dalam 10 detik? dilakukan) setelah 2 menit.
medis terlatih tiba. Terus berikan napas
buatan; periksa denyut
kurang lebih setiap
2 menit. Jika tidak ada
Napas terhenti denyut, mulai CPR
atau tersengal, (lanjutkan dengan kotak
tidak ada denyut "CPR").

Korban terlihat Aktifkan sistem tanggapan


jatuh Ya
darurat (jika belum
mendadak? dilakukan), lalu ambil AED/
defibrilator.
Tidak

CPR
1 penolong: Mulai siklus 30 kompresi
dan 2 napas buatan.
(Jika penolong kedua datang, gunakan
rasio 15:2.)
Gunakan AED segera setelah tersedia.

Jika penolong masih sendiri kurang lebih


setelah 2 menit, aktifkan sistem tanggapan
darurat, lalu ambil AED (jika belum dilakukan).

AED menganalisis
ritme. Tidak,
Ya, ritme Ritme dapat dikejut? ritme tidak dapat
dapat dikejut
dikejut

Terapkan 1 kejut. Segera lanjutkan Segera lanjutkan dengan CPR


dengan CPR kurang lebih selama kurang lebih selama 2 menit
2 menit (hingga AED (hingga AED membolehkan
membolehkan pemeriksaan ritme). pemeriksaan ritme). Lanjutkan
Lanjutkan hingga tenaga ALS hingga tenaga ALS mengambil
mengambil alih atau korban mulai alih atau korban mulai bergerak.
bergerak.
Fokus Utama Pembaruan Pedoman AHA 2015 untuk CPR dan ECC 21
Algoritma Baru untuk CPR HCP Satu dan AED dengan cepat karena kondisi tersebut cenderung
merupakan etiologi jantung.
Beberapa Penolong
Algoritma CPR pediatri HCP untuk satu penolong atau Kedalaman Kompresi Dada
lebih telah dipisahkan (Gambar 7 dan 8) agar dapat 2015 (Diperbarui): Merupakan hal yang wajar bila
memandu penolong menjalani tahap awal resusitasi penolong memberikan kompresi dada yang akan menekan
secara lebih baik dalam era penggunaan ponsel yang dada minimal sepertiga dari diameter anteroposterior
dilengkapi speaker saat ini. Perangkat ini memungkinkan dada kepada pasien pediatrik (bayi [usia kurang dari
seorang penolong mengaktifkan respons darurat saat 1 tahun] hingga anak-anak usia maksimal memasuki
memulai CPR; penolong dapat melanjutkan percakapan masa pubertas). Ini setara dengan sekitar 1,5 inci (4 cm)
dengan operator selama CPR. Algoritma ini terus pada bayi hingga 2 inci (5 cm) pada anak-anak.
menekankan prioritas tinggi untuk CPR berkualitas tinggi, Setelah anak-anak mencapai masa pubertas (remaja),
jika tiba-tiba korban jatuh pingsan, guna mendapatkan
Gambar 8 Penyedia Layanan Kesehatan
BLS Algoritma Serangan
Jantung Pada Pasien Pediatri
u
n
t
u
k

P
e
n
o
l
o
n
g

a
t
a
u

L
e
b
i
h

P
e
m
b
a
r
u
a
n

2
0
1
5
Berikan napas buatan:
A 1 napas buatan setiap
m 3-5 detik atau sekitar
a 12-20 napas buatan
n per menit.
k Tambah kompresi jika
a denyut tetap 60/min
B Pe t d
n er i
na rh e
Pantpa d
l s ati a n
au k g
o nor ka
hingg nor a
k mal, n
a ada mal, n
ap
tenagden ada
s ak
den t
i yut ah
medi yut a
na n
k pa
terlati d
e s a
j ter
a tiba.
he p
d e
i nti
at r
a f
n au
tersengal u
. s
dan periksa
i
denyut
(secara b
K bersamaan). u
o Penolong Apakah r
r mendampingi denyut u
b benar- k
a mengaktifkan benar .
n tanggapan terasa
ti mengambil dalam 10 A
detik? k
d peralatan
ti
a f
k Bernapas k
m a
e n
n s
u i
n s
j t
u e
k m
k
t
a
a
n n
r g
e g
a a
k p
s a
i. n
T d
e a
ri r
u
a
r
k
a
l t
a (j
h i
u k
n a
t b
u e
k l
m u
e m
n
d
d il
a a
p k
a u
t k
k a
a n
n )
s r a P
e u n n d e
t s a ; e n
e p n o
l b a p y l
a e s e u o
h r r t n
2 menit. i b i g
k u k
T a a s p
e n t a e
Napas terhenti kurang
r
lebih setiap
t
tersengal, 2
a
tidak
C m m
denyut
P e a
n
i m
t e
. m
u
J l
i a
k i
a
C
t P
i R
d
a d
k e
n
a g
d a
a n
d r
e a
n
s
y
i
u
o
t
, 3
0
m :
u 2
l
a (
i k
o
C m
P p
R
r
( e
l s
a i
n
j b
u e
t r
k b
a a
n n
d
d
i
e
n n
g g
a
n n
a
k p
o a
t s
a
k b
u
"
a
C
P t
R a
" n
) )
. .
a
S n
e )
t .
e G
l u
a n
h a
k
a
p
n
e
n A
o E
l D
o
n s
g e
g
k e
e r
d a
u
a s
e
t
k
e
e
l
m a
b h
a
l t
i e
, r
s
g e
u d
n i
a a
k .
a
n
r
AE
a
D T
s
me i
i Ya, nga d
o ritmenali a
dapat k
1 sis
dikejut ,
5 ritm
e. r
:
Ritme i
2
dapat t
dikejut m
(
k ? e
o
m t
p i
r d
e a
s k
i
d
b a
e p
r a
b t
a
n d
d i
i k
n e
g j
u
n t
a
p Ter g
a ap e
s ka r
n1 a
b
kej
u
ut. l
a
t Se a
n rit S p
j me e e
u ). g m
t La e e
k nju r r
a tka a i
n n k
hin l s
d gg a a
e a n a
n ten j n
g ag u
a a t r
n AL k i
S a t
C me n m
P ng e
R am d )
bil e .
k ali n
u h g L
r ata a a
a u n n
n kor j
g ba C u
n P t
l mu R k
e lai a
b ber k n
i ger u
h ak. r h
a i
s n n
e g g
l g
a l a
m e
a b t
i e
2 h n
a
m s g
e e a
n l
i a A
t m L
( a S
h
i 2 m
n e
g m n
g e g
a n a
i m
A t b
E i
D ( l
m h
e i a
m n l
b g i
o g h
l a
e a
h A t
k E a
a D u
n
m k
p e o
e m r
m b b
e o a
r l n
i e
k h m
s k u
a a l
a n a
n i
e
b r
e a
r k
g .

22 American Heart Association


kedalaman kompresi dewasa yang disarankan minimal Bantuan Hidup Lanjutan
2 inci (5 cm), namun tidak lebih besar dari 2,4 inci (6 cm).
bagi Pediatrik
2010 (Lama): Untuk mendapatkan kompresi dada yang
efektif, penolong harus mengkompresi minimal sepertiga
diameter anteroposterior dada. Ini kira-kira setara 1,5 inci
Ringkasan Masalah Utama dan Perubahan
(sekitar 4 cm) pada sebagian besar bayi dan sekitar 2 inci Besar
(5 cm) pada sebagian besar anak-anak. Berbagai masalah utama dalam ulasan dokumentasi
Alasannya: Salah satu penelitian pada orang dewasa bantuan hidup lanjutan bagi pediatri menghasilkan
menunjukkan bahwa kompresi dada yang lebih dalam perbaikan rekomendasi yang sudah ada, bukan membuat
daripada 2,4 inci (6 cm) akan berbahaya. Hal ini rekomendasi baru. Informasi baru atau pembaruan yang
mengakibatkan perubahan pada rekomendasi BLS untuk diberikan berisi tentang resusitasi cairan dalam penyakit
orang dewasa agar dapat menyertakan batas atas pada demam, penggunaan atropin sebelum intubasi trakea,
kedalaman kompresi dada; pakar pediatri menerima penggunaan amiodaron dan lidocaine pada VF/pVT
saran ini untuk remaja setelah masa pubertas. Observasi refraktori-kejut, TTM setelah resusitasi dari serangan
penelitian pediatrik yang ditingkatkan Bertahan hidup jantung pada bayi dan anak-anak, dan manajemen
selama 24 jam bila kedalaman kompresi lebih dari 2 inci tekanan darah pasca-serangan jantung.
(51 mm). Pengukuran kedalaman kompresi sangat sulit Pada lingkungan tertentu, saat merawat pasien pediatrik yang
dilakukan di tepi tempat tidur dan penggunaan perangkat disertai demam, penggunaan volume isotonik crystalloid
umpan balik yang menyediakan informasi tersebut akan terbatas akan diarahkan pada peningkatan pertahanan hidup. Ini
bermanfaat jika tersedia. sangat bertentangan dengan pemikiran tradisional bahwa
resusitasi volume agresif rutin memiliki pengaruh yang baik.
Kecepatan Kompresi Dada Penggunaan rutin atropin sebagai pengobatan awal untuk
2015 (Diperbarui): Untuk memaksimalkan kepraktisan intubasi trakea darurat pada selain bayi baru lahir yang
pelatihan CPR, jika tidak ada bukti pediatrik yang cukup, secara khusus untuk mencegah aritmia, merupakan hal yang
sebaiknya gunakan kecepatan kompresi dada orang kontroversial. Selain itu, terdapat data yang menyarankan bahwa
dewasa yang disarankan mulai 100 hingga 120/menit tidak ada dosis minimum yang diperlukan untuk atropin dalam
untuk bayi dan anak-anak. indikasi ini.
Jika pemantauan tekanan darah arteri yang tersebar telah
2010 (Lama): "Tekan cepat": Tekan dengan tersedia, maka mungkin akan digunakan untuk menyesuaikan
kecepatan minimal 100 kompresi per menit. CPR guna mendapatkan sasaran tekanan darah pada anak-anak
Alasannya: Salah satu penelitian register orang dewasa yang memiliki serangan jantung.
menunjukkan kedalaman kompresi dada yang tidak Amiodaron atau lidocaine adalah agen anti-aritmia yang disetujui
memadai dengan kecepatan kompresi yang sangat untuk VF dan pVT refraktori kejut pada anak.
cepat. Untuk memaksimalkan konsistensi dan retensi Epinefrin akan terus disarankan sebagai vasopresor serangan
pendidikan, jika tidak ada data pediatrik, pakar pediatrik jantung pada pediatrik.
akan mengadopsi rekomendasi yang sama untuk Untuk pasien pediatrik dengan diagnosis jantung dan HCA yang
kecepatan kompresi seperti yang dilakukan untuk BLS terdapat dalam lingkungan dengan protokol oksigenasi
orang dewasa. Lihat bagian BLS Dewasa dan Kualitas membran ekstra-korporeal, ECPR mungkin akan
CPR pada dokumen ini untuk informasi lebih rinci. dipertimbangkan.
Kompresi Hanya CPR Demam harus dihindari bila menangani anak-anak yang
pingsan dengan ROSC setelah OHCA. Uji coba hipotermia
2015 (Diperbarui): CPR Konvensional (penolong teraupetik
memberikan napas dan kompresi dada) harus tersedia acak besar untuk anak-anak dengan OHCA tidak
bagi bayi dan anak-anak yang memiliki serangan menunjukkan hasil yang berbeda baik dalam masa hipotermia
jantung. Asfiksia alami pada sebagian besar anak-anak teraupetik (dengan suhu yang dipertahankan pada 32C
yang mengalami serangan jantung sangat memerlukan hingga 34C) atau pemeliharaan normotermia ketat (dengan
ventilasi sebagai bagian dari CPR yang efektif. suhu yang dipertahankan 36C hingga 37,5C) diberikan.
Namun, jika penolong tidak bersedia atau tidak dapat Beberapa variabel klinis dalam dan pasca-serangan
memberikan napas, sebaiknya penolong melakukan jantung telah diperiksa untuk signifikansi prognostik.
kompresi hanya CPR untuk bayi dan anak-anak yang Tidak ada identifikasi variabel tunggal yang cukup andal
mengalami serangan jantung karena kompresi hanya untuk memprediksi hasil. Oleh karena itu, perawat harus
CPR dapat menjadi efektif pada pasien dengan serangan mempertimbangkan beberapa faktor saat mencoba memprediksi
jantung primer. hasil selama terjadi serangan jantung dan dalam lingkungan
pasca-ROSC.
2010 (Lama): CPR yang optimal pada bayi dan anak-
anak mencakup kompresi dan ventilasi, namun kompresi Setelah ROSC, cairan infus dan infus vasoaktif harus digunakan
terpisah akan lebih diutamakan untuk non-CPR. untuk menjaga tekanan darah sistolik di atas seperlima persen
dari usia.
Alasannya: Penelitian register besar telah menunjukkan Setelah ROSC, normoksemia harus menjadi sasarannya. Bila
hasil yang lebih buruk untuk dugaan serangan pediatrik peralatan yang diperlukan tersedia, pemberian oksigen harus
asfiksia (yang terdiri dari sebagian besar mayoritas ditiadakan untuk menargetkan saturasi oksihemoglobin sebesar
serangan jantung pediatrik di luar rumah sakit) yang 94% hingga 99%. Hipoksemia harus benar-benar
dilakukan dengan kompresi hanya CPR. Dalam dihindari. Idealnya, oksigen harus dititrasi ke nilai yang
sesuai dengan kondisi pasien tertentu. Demikian juga,2
setelah ROSC, Paco
2 penelitian, bila CPR terdapat dugaan etiologi
biasa (kompresi dengan jantung, maka hasilnya
napas) tidak dianggap akan mirip, baik jika CPR
sebagai serangan asfiksia, konvensional maupun
maka tidak ada hasil yang kompresi hanya CPR yang
berbeda bila pasien tidak tersedia.
menerima CPR apa pun
yang tersedia. Bila
pada anak harus ditargetkan Paparan untuk hiperkapnia
pada tingkat yang tepat
untuk parah atau
setiap kondisi pasien. hipokapnia harus dihindari.

Fokus
Utama
Pembaruan
Pedoman
AHA
untuk
dan
23
Rekomendasi untuk Resusitasi Cairan Pengobatan Antiaritmia untuk VF Refraktori
2015 (Baru): Sebelumnya, pemberian cairan isotonik IV Kejut atau Pulseless VT
yang dilakukan dengan cepat secara luas disetujui sebagai 2015 (Diperbarui): Amiodaron atau lidocaine juga dapat
landasan terapi untuk kejut septik. Baru-baru ini, ditemukan disetujui untuk perawatan VF refraktori kejut atau pVT
hasil lebih buruk yang dikaitkan dengan bolus cairan IV pada anak .
pada percobaan acak terkontrol besar dari resusitasi
cairan yang dilakukan pada anak-anak dengan demam 2010 (Lama): Amiodaron direkomendasikan untuk VF
parah di lingkungan sumber daya terbatas. Untuk anak- refraktori kejut atau pVT. Lidocaine dapat diberikan jika
anak yang terganggu, bolus cairan awal sebesar 20 ml/kg amiodaron tidak tersedia .
dapat diberikan. Namun, untuk anak-anak yang mengalami Alasannya: Register multi institusi, retrospektif, dan
demam pada lingkungan dengan akses terbatas ke terbaru untuk serangan jantung pada pasien pediatrik
sumber daya perawatan kritis (misalnya, ventilasi mekanis menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan amiodaron,
dan dukungan inotropik), pemberian cairan bolus IV lidocaine berhubungan dengan tingkat ROSC yang lebih
harus dilakukan dengan sangat hati-hati, karena mungkin tinggi dan ketahanan hidup selama 24 jam. Namun, tidak
berbahaya. Perawatan individu dan penilaian kembali klinis ada satu pun pemberian lidocaine maupun amiodaron
secara berkala akan sering dilakukan. yang berhubungan dengan peningkatan ketahanan hidup
pada pasien yang dipulangkan.
Alasannya: Rekomendasi ini terus menekankan
pemberian cairan IV untuk anak-anak dengan kejut Vasopresor untuk Resusitasi
septik. Rekomendasi ini juga menekankan rencana
perawatan individu untuk setiap pasien berdasarkan 2015 (Diperbarui): Pemberian epinefrin sewaktu serangan
penilaian klinis berkala sebelum, selama, dan setelah jantung merupakan hal yang wajar.
terapi cairan diberikan, dan akan memperkirakan 2010 (Lama): Epinefrin harus diberikan untuk serangan
ketersediaan terapi perawatan penting lainnya. jantung tanpa detak.
Di lingkungan tertentu dengan sumber daya terbatas,
bolus cairan berlebih yang diberikan kepada anak- Alasannya: Rekomendasi tentang pemberian epinefrin
anak yang mengalami demam dapat mengakibatkan selama serangan jantung telah diturunkan sedikit pada
komplikasi bila tidak tersedia peralatan yang sesuai dan Kelas Rekomendasi. Tidak ada penelitian pediatrik
pakar terlatih untuk secara efektif menangani mereka. berkualitas tinggi yang menunjukkan efektivitas
vasopresor dalam serangan jantung. Dua penelitian
Atropin untuk Intubasi Endotrakeal observasional pediatrik tidak meyakinkan, dan satu
penelitian acak terhadap orang dewasa di luar rumah
2015 (Diperbarui): Tidak ada bukti untuk mendukung sakit mendapatkan bahwa epinefrin terkait dengan
penggunaan atropin secara rutin sebagai pengobatan peningkatan ROSC dan ketahanan hidup bagi pasien
awal guna mencegah bradikardia pada intubasi pediatrik yang memasuki rumah sakit namun tidak untuk pasien
darurat. Hal tersebut dapat dipertimbangkan dalam yang dipulangkan.
kondisi jika terjadi peningkatan risiko bradikardia. Tidak
ada bukti untuk mendukung dosis minimum atropin ECPR Dibandingkan Dengan Resusitasi
bila digunakan sebagai pengobatan awal untuk intubasi
darurat .
Standar
2015 (Diperbarui): ECPR dapat dipertimbangkan untuk
2010 (Lama): Dosis atropin minimum yang telah anak-anak dengan kondisi jantung dasar yang memiliki
direkomendasikan adalah 0,1 mg IV karena terdapat HCA, asalkan tersedia protokol, pakar, dan peralatan
laporan tentang bradikardia paradoksal yang terjadi pada yang tepat .
bayi usia sangat dini dan yang pernah menerima dosis
rendah atropin . 2010 (Lama): Pertimbangkan aktivasi dini pada bantuan
Alasannya: Bukti terakhir bertentangan karena atropin hidup ekstra-korporeal untuk serangan jantung yang
terjadi di lingkungan dengan pengawasan ketat, seperti
mencegah bradikardia dan aritmia lainnya selama intubasi unit perawatan intensif, protokol klinis diterapkan,
darurat pada anak-anak. Namun, penelitian terbaru dan keberadaan pakar maupun peralatan agar dapat
ini menggunakan atropin dengan dosis kurang dari dijalankan dengan cepat. Bantuan hidup ekstra-
0,1 mg tanpa meningkatkan kemungkinan aritmia. korporeal harus dipertimbangkan hanya untuk anak-
Pemantauan Hemodinamik Invasif Selama anak yang mengalami refaktori serangan jantung untuk
menstandardisasikan upaya resusitasi, dengan potensi
CPR yang dapat berbalik akibat serangan jantung tersebut.
2015 (Diperbarui): Jika pemantauan hemodinamik invasif Alasannya: OHCA pada anak-anak tidak
tersedia sewaktu anak mengalami serangan jantung, dipertimbangkan. Untuk HCA pediatrik, tidak ada
maka atropin ini dapat digunakan untuk memandu perbedaan pada keseluruhan ketahanan hidup yang
kualitas CPR. membandingkan ECPR dengan CPR tanpa oksigenasi
2010 (Lama): Jika pasien memakai kateter arteri membran ekstra-korporeal. Salah satu pemeriksaan
menetap, bentuk gelombang dapat digunakan sebagai register retrospektif menunjukkan hasil yang lebih baik
umpan balik untuk mengevaluasi posisi tangan dan dengan ECPR untuk pasien yang memiliki penyakit
kedalaman kompresi dada. Penelitian pengkompresian jantung daripada pasien yang tidak memiliki sakit jantung.
ke target tekanan darah sistolik tertentu belum dilakukan
terhadap manusia, namun telah meningkatkan hasil pada
Manajemen Suhu yang Ditargetkan
hewan . 2015 (Diperbarui): Untuk anak-anak yang pingsan dalam
Alasannya: Dalam dua uji coba acak terkontrol pada beberapa hari pertama setelah serangan jantung (di
rumah sakit atau di luar dari rumah sakit), suhu harus
hewan, ditemukan peningkatan ROSC dan bertahan
dipantau terus-menerus dan demam harus ditangani
hidup hingga percobaan selesai saat teknik CPR
disesuaikan berdasarkan pemantauan hemodinamik secara agresif.
invasif. Ini belum diteliti pada manusia.

24 American Heart Association


Untuk anak-anak yang terbangun dari kondisi tidak menargetkan saturasi oksihemoglobin sebesar
sadarkan diri OHCA, perawat dapat menjaga anak 94% hingga 99%. Sasarannya adalah untuk benar-
terhadap normotermia (36C hingga 37,5C) selama 5 hari benar menghindari hipoksemia sambil mempertahankan
atau 2 hari dari awal hipotermia berkelanjutan (32C normoksemia. Demikian juga, strategi ventilasi pasca-
hingga 34C) diikuti dengan 3 hari normotermia. ROSC pada anak-anak harus menargetkan PaCO2 yang
Untuk anak yang tetap pingsan setelah HCA, data tidak sesuai untuk setiap pasien sekaligus menghindari bahaya
hiperkapnia atau hipokapnia .
cukup tersedia untuk merekomendasikan hipotermia
melalui normotermia. 2010 (Lama): Setelah sirkulasi dikembalikan, jika
peralatan yang sesuai tersedia, maka menghapus
2010 (Lama): Terapi Hipotermia teraupetik (32C hingga fraksi oksigen inspirasi mungkin dapat dilakukan untuk
34C) dapat dipertimbangkan untuk anak-anak yang mempertahankan saturasi oksihemoglobin sebesar
tetap pingsan setelah resusitasi dari serangan jantung. 94% atau lebih besar. Tidak ada rekomendasi tentang
Ini merupakan hal yang umum bagi orang dewasa yang Paco2 yang dibuat .
terbangun dari serangan VF yang diketahui di luar rumah
sakit . Alasannya: Penelitian pediatrik pengamatan
Alasannya: Penelitian prospektif dan multipusat tentang besar tentang HCA dan OHCA menemukan bahwa
normoksemia (ditetapkan sebagai Pao2 60 hingga
korban OHCA pediatrik acak yang menerima hipotermia
300 mm hg) berkaitan dengan peningkatan ketahanan
teraupetik (32C hingga 34C) atau normotermia
hidup untuk pasien pediatrik yang dipindahkan dari
(36C hingga 37,5C) menunjukkan tidak adanya
perbedaan dalam hasil fungsional di antara 2 grup ruang ICU, dibandingkan dengan hiperoksemia (Pao2
dalam 1 tahun. Pengamatan ini dan pengamatan lainnya lebih besar daripada 300 mm hg). Penelitian pada
orang dewasa dan hewan menunjukkan peningkatan
menunjukkan tidak ada komplikasi tambahan dalam grup kematian yang terkait dengan hiperoksemia. Demikian
yang dirawat dengan hipotermia teraupetik. Saat ini hasil juga, penelitian dewasa setelah ROSC menunjukkan hasil
dari uji coba besar multipusat terkontrol acak terhadap pasien yang lebih buruk terkait dengan hipokapnia.
hipotermia teraupetik untuk pasien yang pingsan setelah
ROSC yang diikuti HCA pediatrik sedang dalam proses
(lihat situs web Hipotermia Teraupetik Setelah Serangan Resusitasi Neonatal
Jantung Pediatrik: www.THAPCA.org) .

Faktor Prognostik Dalam dan Pasca-Serangan Ringkasan Masalah Utama dan Perubahan
Jantung Besar
Serangan jantung neonatal sebagian besar adalah
2015 (Diperbarui): Beberapa faktor harus asfiksia, sehingga inisiasi ventilasi tetap fokus pada
dipertimbangkan saat mencoba untuk memprediksi resusitasi awal. Berikut merupakan topik neonatal
hasil dari serangan jantung. Beberapa faktor berperan utama di 2015:
dalam pengambilan keputusan untuk melanjutkan tau
Urutan 3 pertanyaan penilaian telah diubah ke (1)
menghentikan upaya resusitasif selama serangan jantung
Kehamilan normal? (2) Nada baik? dan (3) Bernapas atau
dan dalam estimasi potensi pemulihan setelah serangan menangis?
jantung.
Tanda Menit Emas (60 detik) untuk menyelesaikan langkah
2010 (Lama): Praktisi harus mempertimbangkan awal, mengevaluasi ulang, dan memulai ventilasi (jika
beberapa variabel untuk memperkirakan hasil dan diperlukan)
menggunakan penilaian untuk mentitrasi upaya dengan akan dipertahankan untuk menekankan pentingnya menghindari
benar . penundaan yang tidak perlu dalam inisiasi ventilasi dan langkah
Alasannya: Tidak ditemukan satu variabel dalam maupun terpenting untuk keberhasilan resusitasi pada bayi baru lahir
yang belum merespons langkah awal.
pasca-serangan jantung yang benar-benar andal dalam
memprediksi hasil yang menguntungkan atau buruk. Terdapat rekomendasi baru bahwa penundaan pemotongan tali
pusar selama lebih dari 30 detik merupakan hal yang wajar,
Cairan dan Inotropik Pasca-Serangan Jantung baik pada bayi normal maupun prematur yang tidak
memerlukan resusitasi saat lahir. Namun hal ini tidak terbukti
2015 (Baru): Setelah ROSC, cairan dan inotropik/ memadai
vasopresor harus digunakan untuk menjaga tekanan untuk merekomendasikan metode pemotongan tali pusar bagi
darah sistolik di atas seperlima persen dari usia. bayi yang memerlukan resusitasi saat lahir, dan saran terhadap
Pemantauan tekanan intra-arteri harus digunakan untuk penggunaan rutin pengeringan tali pusar (di luar lingkungan
terus memantau tekanan darah dan mengidentifikasi penelitian) untuk bayi baru lahir kurang dari 29 minggu sejak
serta memperlakukan tekanan darah rendah. kehamilan, hingga diketahui manfaat dan komplikasi lebih
lanjut.
Alasannya: Tidak ada penelitian yang diidentifikasi
mengevaluasi agen vasoactive tertentu yang dievaluasi Suhu harus dicatat sebagai faktor prediksi hasil dan sebagai
pada pasien pediatrik pasca-ROSC. Penelitian indikator kualitas.
pengamatan terbaru menemukan bahwa anak-anak yang Suhu bayi baru lahir tanpa mengalami asfiksia harus dijaga
mengalami tekanan darah rendah pasca-ROSC memiliki antara 36,5C hingga 37,5C setelah lahir melalui admisi
ketahanan hidup yang buruk setelah dipulangkan dari dan stabilisasi.
rumah sakit dan hasil neurologis yang lebih buruk. Berbagai strategi (inkubator, plastik pembungkus dengan
penutup, matras thermal, gas hangat yang dilembapkan, dan
suhu ruang yang ditingkatkan ditambah penutup dan matras
thermal) dapat digunakan untuk mencegah hipotermia pada
bayi prematur. Hipertermia (suhu lebih dari 38C) harus dihindari
Pasca- d co
2
Serangan a
Jantung Pao n
P
a
karena akan gkungan dengan sumber
mengakibatkan Di daya terbatas, upaya
potensi berisiko li sederhana
terkait. n 2
2015 (Diperbarui): untuk mencegah
Setelah ROSC pada hipotermia pada awal
anak-anak, penolong kehidupan
dapat mentitrasi (penggunaan
pemberian oksigen pembungkus plastik,
untuk mencapai kontak kulit ke kulit,
normoksemia dan bahkan
(saturasi meletakkan bayi
oksihemoglobin setelah dikeringkan
sebesar 94% atau dalam kantung plastik
lebih). Bila peralatan setara dengan wadah
untuk tingkat
yang diperlukan
makanan bersih
tersedia, pemberian hingga
oksigen harus ke leher) dapat mengurangi
ditiadakan untuk tingkat kematian.

Fokus
Utama
Pembarua
n
Pedoman
AHA
untuk
dan
25
Jika bayi lahir dengan cairan amniotik tercemar Penanganan Tali Pusar:
mekonimum serta tonus otot lemah dan sulit bernapas,
maka bayi harus ditempatkan dalam inkubator dan PVP Penundaan Pengekleman Tali Pusar
harus dilakukan, 2015 (Diperbarui): Penundaan pengekleman tali pusar
jika perlu. Intubasi rutin untuk penyedotan trakea tidak lagi setelah 30 detik disarankan untuk bayi normal maupun
disarankan karena terdapat bukti yang tidak memadai untuk prematur yang tidak memerlukan resusitasi saat lahir.
melanjutkan rekomendasi ini. Perawatan dukungan yang sesuai Bukti yang ada tidak cukup untuk merekomendasikan
untuk mendukung ventilasi dan kadar oksigen harus dilakukan metode penjepitan tali pusar bayi yang memerlukan
sesuai yang diindikasikan pada masing-masing bayi. Kondisi resusitasi saat lahir.
ini dapat mencakup intubasi dan penyedotan jika saluran
udara terganggu. 2010 (Lama): Terdapat peningkatan bukti dari
Penilaian detak jantung tetap penting selama menit pertama keuntungan menunda pengekleman tali pusar minimal
resusitasi dan penggunaan 3 sadapan ECG mungkin dapat selama 1 menit pada bayi normal dan prematur yang
dilakukan, karena penyedia tidak menilai detak jantung tidak memerlukan resusitasi. Tidak ada cukup bukti
dengan akurat menggunakan auskultasi atau palpasi, dan untuk mendukung atau menyangkal rekomendasi
oksimetri pulsa kemungkinan salah dalam menilai detak untuk menunda pengekleman tali pusar pada bayi
jantung. yang memerlukan resusitasi.
Penggunaan ECG tidak menggantikan kebutuhan oksimetri pulsa Alasannya: Pada bayi yang tidak memerlukan resusitasi,
untuk mengevaluasi oksigenasi pada bayi yang baru lahir. pengekleman tali pusar dikaitkan dengan sedikit
Resusitasi pada bayi baru lahir prematur yang berusia kurang pendarahan intraventrikuler, tekanan darah tinggi dan
dari 35 minggu dari kehamilan harus dilakukan dengan volume darah, sedikit memerlukan transfusi darah setelah
oksigen rendah (21% hingga 30%) dan oksigen dititrasi untuk lahir, serta sedikit mengalami necrotizing enterocolitis.
mencapai saturasi oksigen preduktal yang mendekati rentang Satu-satunya konsekuensi merugikan yang ditemukan
bayi normal sehat yang dicapai. adalah sedikit meningkatnya tingkat bilirubin, terkait
Data keselamatan dan metode penerapan inflasi dengan kebutuhan lebih akan phototherapy.
berkelanjutan dengan durasi lebih dari 5 detik untuk
pengangkatan bayi baru lahir tidak memadai. Penyedotan Saluran Napas Bayi Lemah
Masker laring mungkin dipertimbangkan sebagai alternatif yang Terbungkus Cairan Amniotik Tercemar
untuk intubasi trakea jika ventilasi masker wajah tidak berhasil,
dan masker laring disarankan selama resusitasi bayi baru lahir Mekonium
yang berusia 34 minggu atau lebih dari kehamilan saat intubasi 2015 (Diperbarui): Jika bayi baru lahir terbungkus cairan
trakea tidak berhasil atau tidak mungkin dilakukan. amniotik tercemar mekonium beserta buruknya tonus
Bayi prematur yang bernapas secara spontan dengan kesulitan otot dan upaya bernapas tidak memadai, tahapan
pernapasan dapat dibantu dengan terlebih dulu memberikan awal resusitasi harus diselesaikan dalam sinar radiasi
penekanan pada saluran udara positif secara berkelanjutan, penghangat. PPV harus dilakukan jika bayi tidak
bukan dengan intubasi rutin untuk pemberian PPV. bernapas atau detak jantung kurang dari 100/menit
Rekomendasi tentang teknik kompresi dada (gerakan melingkar setelah langkah awal selesai. Intubasi rutin untuk
dengan dua ibu jari di atas dada) dan rasio kompresi penyedotan trakea dalam konteks ini tidak disarankan,
berbanding ventilasi (3:1 dengan 90 kompresi dan 30 napas karena tidak ada cukup bukti untuk melanjutkan
buatan per menit) tetap tidak berubah. Pada rekomendasi tahun perekomendasian praktik ini. Namun demikian, tim tetap
2010, penolong dapat mempertimbangkan untuk harus disertai pakar intubasi bayi baru lahir dalam ruang
menggunakan rasio yang lebih tinggi (misalnya, 15:2) jika bersalin.
serangan tersebut benar- benar diyakini sebagai serangan
jantung. 2010 (Lama): Tidak ada cukup bukti untuk
Meskipun tidak ada penelitian klinis tentang penggunaan merekomendasikan perubahan pada praktik saat ini
oksigen selama CPR, Grup Penulisan Panduan Neonatal akan dalam melaksanakan penyedotan endotrakea pada bayi
terus mendukung penggunaan oksigen 100% bila kompresi yang lemah dengan cairan amniotik tercemar mekonium.
dada diberikan. Konsentrasi oksigen dapat dihentikan segera Alasannya: Tinjauan terkait bukti menunjukkan bahwa
setelah detak jantung dipulihkan. resusitasi harus mengikuti prinsip yang sama untuk bayi
Rekomendasi tentang penggunaan epinefrin selama CPR dan dengan noda cairan tercemar mekonium pada saat itu
tindakan pemberian volume tidak ditinjau pada tahun 2015, dengan cairan berwarna jernih; yaitu, jika tonus otot
sehingga rekomendasi tahun 2010 tetap berlaku. yang buruk dan upaya bernapas tidak memadai muncul,
Hipotermia terapeutik diinduksi di lingkungan berdaya dukung tahap awal resusitasi (menghangatkan dan menjaga
tinggi, terhadap bayi yang lahir lebih dari 36 minggu sejak suhu, memposisikan bayi, membersihkan saluran udara
masa kehamilan yang memiliki ensefalopati hipoksik-iskemik sekresi jika diperlukan, pengeringan, dan penstimulasian
tingkat sedang hingga parah yang terus berkembang, tidak bayi) harus diselesaikan di tempat tidur penghangat bayi.
ditinjau dalam 2015, sehingga rekomendasi 2010 tetap PPV harus dilakukan jika bayi tidak bernapas atau detak
berlaku. jantung kurang dari 100/menit setelah langkah awal
Di lingkungan dengan sumber daya terbatas, penggunaan selesai. Ahli yang ditempatkan memberikan manfaat lebih
hipotermia terapeutik dapat dipertimbangkan di bawah besar untuk menghindari bahaya (misalnya, penundaan
protokol yang ditetapkan secara jelas, sama seperti yang dalam penyediaan ventilasi kantong masker, bahaya
digunakan dalam uji klinis maupun di fasilitas dengan potensial terhadap prosedur) selama keuntungan
kemampuan perawatan dan tindak lanjut multidisipliner. perawatan dukungan intubasi dan penyedotan trakea
Secara umum, tidak ada data baru yang telah dipublikasikan rutin tidak diketahui. Perawatan dukungan yang sesuai
untuk membenarkan perubahan rekomendasi pada tahun 2010 untuk mendukung ventilasi dan kadar oksigen harus
tentang penahanan atau penarikan resusitasi. Nilai Apgar 0 pada dilakukan sesuai yang diindikasikan pada masing-
10 menit adalah pertanda kuat kematian dan morbiditas pada masing bayi. Kondisi ini dapat mencakup intubasi
bayi prematur dan normal, namun keputusan untuk dan penyedotan jika saluran udara terganggu.
melanjutkan atau menghentikan upaya resusitasi harus
dianalisis.
Disarankan bahwa pelatihan tugas resusitasi neonatal dilakukan
lebih sering dibanding interval 2 tahun baru-baru ini.

26 American Heart Association


Penilaian Detak Jantung: Penggunaan Hipotermia Terapeutik Pasca Resusitasi:
3 Sadapan ECG Lingkungan dengan Sumber Daya Terbatas
2015 (Diperbarui): Sebaiknya penggunaan hipotermia
2015 (Diperbarui): Selama resusitasi bayi baru lahir
terapeutik dalam lingkungan dengan sumber daya
normal maupun prematur, penggunaan 3 sadapan ECG
terbatas (misalnya, kekurangan staf ahli, peralatan
untuk pengukuran cepat dan akurat dari detak jantung
yang tidak memadai, dll.) dapat dipertimbangkan dan
bayi yang baru lahir akan bermanfaat. Penggunaan ECG
ditawarkan berdasarkan protokol yang ditetapkan dengan
tidak menggantikan kebutuhan oksimetri pulsa untuk
jelas seperti yang digunakan dalam uji klinis terpublikasi
mengevaluasi kadar oksigen dalam bayi yang baru lahir.
maupun di fasilitas dengan kemampuan perawatan dan
2010 (Lama): Meskipun penggunaan ECG tidak tindak lanjut longitudinal yang multidisipliner.
disebutkan pada tahun 2010, masalah cara untuk menilai
2010 (Lama): Sebaiknya bayi yang lahir 36 minggu
detak jantung telah diatasi: Penilaian terhadap detak
atau lebih dari masa kehamilan dengan ensefalopati
jantung harus dilakukan dengan sebentar-sebentar
hipoksik-iskemik tingkat sedang hingga parah yang
melakukan auskultasi denyut secara berkala. Bila
terus berkembang harus diberi hipotermia terapeutik .
denyut terdeteksi, palpasi dari denyut pusar juga dapat
Hipotermia terapeutik harus diberikan berdasarkan
memberikan perkiraan cepat dari denyut tersebut dan
protokol yang ditetapkan dengan jelas seperti yang
lebih akurat dibanding palpasi pada sisi lain. Oksimeter
digunakan dalam uji klinis terpublikasi maupun di fasilitas
pulsa dapat memberikan penilaian lanjut denyut
dengan kemampuan perawatan dan tindak lanjut
nadi tanpa terganggu pengukuran resusitasi lainnya,
longitudinal yang multidisipliner.
namun perangkat memerlukan 1 hingga 2 menit untuk
menerapkan dan mungkin tidak berfungsi selama kondisi Alasannya: Meskipun rekomendasi untuk hipotermia
dari output jantung atau perfusi sangat buruk. terapeutik pada perawatan terhadap ensefalopati
Alasannya: Penilaian klinis detak jantung di ruang hipoksik-iskemik tingkat sedang hingga parah di
bersalin terbukti tidak dapat diandalkan dan tidak akurat. lingkungan berdaya dukung tinggi tetap tidak berubah,
Salah memperkirakan detak jantung dapat mengarah namun rekomendasi telah ditambahkan untuk memandu
pada resusitasi yang tidak perlu. ECG ditemukan untuk penggunaan metode ini di lingkungan dengan daya
menampilkan detak jantung akurat yang lebih cepat dukung yang dapat membatasi pilihan untuk terapi
dibanding oksimetri pulsa. Oksimetri pulsa lebih sering tertentu .
ditampilkan pada detak rendah dalam 2 menit pertama
masa hidup, sering kali pada tingkat yang menyarankan Pendidikan
perlunya intervensi.
Meskipun terdapat kemajuan besar di bidang ilmiah
Tindakan pemberian Oksigen untuk Bayi Baru dalam perawatan penderita serangan jantung, namun
Lahir Prematur akan selalu ada sejumlah besar variabilitas dalam
2015 (Diperbarui): Resusitasi pada bayi baru lahir tingkat keselamatan yang tidak dapat dikaitkan terhadap
prematur kurang dari 35 minggu masa kehamilan karakteristik pasien itu sendiri. Untuk mengoptimalkan
harus mulai diberi dengan oksigen rendah (21% hingga kemungkinan bahwa penderita serangan jantung
30%), dan konsentrasi oksigen harus dititrasi untuk menerima perawatan berdasarkan bukti dengan kualitas
mendapatkan saturasi oksigen preduktal yang mendekati tertinggi, pendidikan resusitasi harus menggunakan
rentang antarkuartil yang diukur dalam kondisi sehat prinsip pendidikan seutuhnya yang didukung dengan
bayi normal setelah kelahiran melalui vagina di atas penelitian pendidikan empiris untuk menerjemahkan
permukaan laut. Melakukan resusitasi bayi baru lahir pengetahuan ilmiah ke dalam praktik. Pedoman
prematur dengan oksigen tinggi (65% atau lebih besar) pendidikan 2010 AHA memasukkan pelaksanaan dan tim
tidak disarankan. Rekomendasi ini mencerminkan dalam rekomendasinya, sedangkan pedoman pendidikan
preferensi untuk tidak memberikan bayi baru lahir 2015 AHA kini benar-benar fokus pada pendidikan,
prematur tambahan oksigen tanpa menunjukkan dengan pelaksanaan dan tim dimasukkan pada bagian
data manfaatnya yang terbukti untuk hasil penting. lain dari Pembaruan Pedoman 2015.
2010 (Lama): Melakukan resusitasi dengan udara (21% Ringkasan Masalah Utama dan Perubahan
oksigen di atas permukaan laut) adalah hal yang wajar. Besar
Oksigen tambahan dapat diberikan dan dititrasi untuk
mendapatkan saturasi oksigen preduktal yang mendekati Rekomendasi dan titik utama penting mencakup
rentang antarkuartil yang diukur dalam kondisi sehat bayi sebagai berikut:
normal setelah kelahiran melalui vagina di atas Penggunaan perangkat umpan balik CPR disarankan untuk
permukaan laut. Sebagian besar data berasal dari bayi membantu dalam pembelajaran keterampilan psikomotor CPR.
normal bukan selama resusitasi, dengan satu penelitian Perangkat yang memberikan umpan balik korektif tentang
bayi prematur selama resusitasi. performa akan lebih baik daripada perangkat yang hanya
Alasannya: Kini tersedia data dari analisis meta 7 memberikan kecepatan (seperti metronom).
penelitian acak yang menunjukkan tidak adanya manfaat Penggunaan boneka peraga yang sangat mirip manusia
dalam ketahanan hidup setelah keluar dari rumah sakit, disarankan untuk mendukung program yang memiliki
pencegahan displasia bronkopulmoner, pendarahan infrastruktur, staf terlatih, dan sumber daya untuk
intraventrikuler, atau retinopati pada prematur saat mempertahankan program. Boneka peraga standar akan tetap
bayi baru lahir prematur (kurang dari 35 minggu masa menjadi pilihan yang sesuai untuk organisasi yang tidak
kehamilan) telah diresusitasi dengan konsentrasi oksigen memiliki kapasitas ini.
tinggi (65% atau lebih) dibandingkan dengan konsentrasi Keterampilan BLS harus tampak mudah dipelajari melalui
oksigen rendah (21% hingga 30%) . petunjuk mandiri (video atau berbasis komputer) dengan praktik
langsung seperti jika dipelajari melalui kursus konvensional
yang dipandu instruktur.

Foku
s
Utama
Pembaruan
Pedoman
AHA
untuk
dan ECC
27
Tabel 3 Konsep Pendidikan Inti ECC AHA

Penyederhanaan Konten kursus harus disederhanakan dalam hal presentasi dan cakupan konten untuk memfa
tujuan kursus.10,11

Konsistensi Konten kursus dan peragaan keterampilan harus dilakukan dengan cara yang konsisten. Instr
praktik sewaktu melihat, adalah metode yang dipilih untuk pelatihan keterampilan psikomotor
mengurangi variabilitas instruktur yang menyimpang dari agenda kursus yang dimaksud.11-14

Kontekstual Prinsip pembelajaran dewasa15 harus diterapkan ke semua kursus ECC, dengan penekanan pa
skenario pelatihan yang relevan, yang dapat diterapkan secara praktis pada kondisi nyata pem
meminta pembelajar melakukan CPR di rumah sakit di samping tempat tidur, bukan di lantai.

Praktik langsung Praktik langsung yang penting diperlukan untuk memenuhi tujuan kinerja keterampilan nonte
dan psikomotor.11,12,16-18

Praktik untuk Pembelajar harus memiliki peluang untuk menunjukkan kinerja keterampilan utama yang sam
penguasaan penilaian ketat dan umpan balik informatif dalam kondisi terkontrol.19-22 Praktik bebas ini har
tujuan yang ditetapkan dengan jelas23-25, bukan waktu yang diperlukan, untuk mempromosika
siswa ke arah penguasaan.26-30

Wawancara Pemberian umpan balik dan/atau wawancara adalah komponen penting dalam pembelajaran
pengalaman.31 Tanggapan dan wawancara setelah melakukan praktik dan simulasi keterampi
pembelajar (kelompok pembelajar) peluang untuk menunjukkan kinerja mereka, serta menerim
terstruktur tentang cara meningkatkan kinerja mereka di masa mendatang.32

Penilaian Penilaian pembelajaran dalam kursus resusitasi berfungsi untuk memastikan pencapaian kom
memberikan tolok ukur yang akan menjadi target siswa. Penilaian juga memberikan dasar um
(penilaian untuk pembelajaran). Strategi penilaian harus mengevaluasi kompetensi dan memp
pembelajaran. Tujuan pembelajaran33 harus jelas serta dapat diukur, dan berfungsi sebagai da

Evaluasi kursus/ Ini adalah komponen integral dari pendidikan resusitasi, dengan penilaian kursus resusitasi te
program instruktur, kursus, dan performa program.34 Organisasi yang mengikuti pelatihan harus meng
untuk mendorong proses peningkatan kualitas berkelanjutan.
Singkatan: AHA, American Heart Association; CPR, resusitasi kardiopulmonari; ECC, perawatan kardiovaskular darurat.
(Tabel 3).
Meskipun pelatihan CPR sebelumnya tidak
penting bagi calon penolong untuk melakukan Perangkat Umpan Balik CPR
CPR, pelatihan akan membantu masyarakat
untuk mempelajari keterampilan dan 2015 (Diperbarui): Penggunaan perangkat
mengembangkan rasa percaya diri untuk umpan balik dapat menjadi efektif dalam
memberikan CPR saat menghadapi penderita meningkatkan performa CPR selama
serangan jantung. pelatihan.
Untuk meminimalisir waktu defibrilasi penderita
serangan jantung, penerapan AED seharusnya
tidak dibatasi untuk melatih individu (meskipun
pelatihan masih disarankan).
Kombinasi petunjuk mandiri dan kursus yang
dipandu instruktur dengan pelatihan praktik
langsung dapat dipertimbangkan sebagai
alternatif untuk kursus konvensional untuk orang
awam yang dipandu oleh instruktur.
Persiapan sebelum kursus yang mencakup
tinjauan informasi konten yang sesuai, pengujian
online/sebelum kursus, dan/atau praktik
keterampilan teknis yang relevan dapat
mengoptimalkan pembelajaran dari kursus
bantuan hidup tingkat lanjutan bagi orang
dewasa dan anak-anak.
Karena pentingnya keahlian tim dalam resusitasi,
pelatihan yang fokus pada prinsip kepemimpinan
dan kerja sama tim harus dimasukkan ke dalam
kursus bantuan hidup tingkat lanjutan.
Komunitas dapat mempertimbangkan untuk
melatih orang awam dalam kompresi hanya
CPR untuk OHCA orang dewasa sebagai
alternatif untuk pelatihan CPR konvensional.
Siklus pelatihan ulang dua tahun tidak optimal.
Pelatihan dasar dan lanjutan keterampilan
bantuan hidup yang lebih sering akan sangat
membantu penolong yang mungkin akan
menangani serangan jantung.
Grup Penulisan Pedoman Pendidikan
AHA ECC 2015 setuju pada beberapa
konsep inti untuk memandu
perkembangan kursus dan materi kursus
pa dari berbagai jenis umpan balik untuk Alasannya: Dalam tinjauan bukti 2010, terdapat
20 ta pelatihan, dengan kondisi yang sedikit lebih bukti yang tidak memadai untuk
n baik terhadap umpan balik yang lebih merekomendasikan penggunaan rutin
15
ko lengkap. boneka peraga yang lebih realistis agar dapat
(Ba m meningkatkan performa keterampilan dalam
ru) pr Penggunaan boneka peraga yang resusitasi yang sebenarnya, terutama karena
: es sangat mirip manusia memberikan biaya dan daya dukung tambahan
i
Jik 2015 (Diperbarui): Penggunaan boneka peraga yang diperlukan. Setelah mempertimbangkan
da
a da yang sangat mirip manusia untuk pelatihan kemungkinan manfaat boneka peraga yang
pe . dukungan hidup tingkat lanjutan dapat lebih realistis juga peningkatan
ra bermanfaat untuk meningkatkan performa biaya dan sumber daya yang terlibat,
ng 2010 dokumentasi yang baru-baru ini
keahlian pada akhir kursus.
kat (Lama dipublikasikan mendukung penggunaan
um ): 2010 (Lama): Boneka peraga yang sangat mirip boneka peraga yang sangat mirip manusia,
pa Peng manusia dapat berguna untuk mengintegrasikan khususnya dalam program yang melibatkan
n gunaa pengetahuan, keterampilan, dan perilaku dalam sumber daya (misalnya, manusia dan sumber
bal n pelatihan bantuan finansial).
ik hidup tingkat lanjutan.
tid peran
ak gkat
ter umpa 28 American Heart Association
se n
dia balik
, CPR
pa dapat
nd menja
ua di
n efektif
pe untuk
nd pelati
en
ga han.
ra
n A
(mi l
sal
ny a
a, s
me a
tro n
no
m, n
mu y
sik a
) :
da
pa
t B
dip u
ert k
im t
ba i
ng
ka b
n a
un r
tuk u
me
nin m
gk e
atk m
an b
du e
ku d
ng a
an k
ter a
ha n
da
p m
rek a
om n
en f
da a
si a
ke t
ce
Format Pembelajaran Terpadu Kerja Sama Tim dan Kepemimpinan
2015 (Diperbarui): Petunjuk mandiri CPR melalui video 2015 (Diperbarui): Karena risiko kerugian yang sangat
dan/atau modul berbasis komputer dengan praktik kecil dan kemungkinan manfaat dari pelatihan tim dan
langsung mungkin merupakan alternatif yang sesuai kepemimpinan, maka keikutsertaan pelatihan tim dan
untuk kursus dengan pemandu instruktur . kepemimpinan sebagai bagian dari pelatihan bantuan
2015 (Baru): Penggunaan metode petunjuk alternatif hidup tingkat lanjut adalah hal yang wajar.
untuk pengajaran bantuan hidup tingkat dasar dan 2010 (Lama): Pelatihan kerja sama tim dan
lanjutan dalam lingkungan dengan sumber daya terbatas kepemimpinan harus disertakan dalam kursus bantuan
mungkin masih dianggap wajar. hidup tingkat lanjutan.
2010 (Lama): Petunjuk video ringkas dikombinasikan Alasannya: Resusitasi adalah proses kompleks yang
dengan praktik langsung yang selaras adalah alternatif sering kali melibatkan banyak individu untuk bekerja
efektif untuk kursus BLS yang dipandu instruktur. sama. Kerja sama tim dan kepemimpinan adalah
komponen penting dari resusitasi yang efektif. Meskipun
Alasannya: Hasil peserta pelatihan lebih penting
semua faktor tersebut penting, namun hanya ada sedikit
dibanding format kursus. Perolehan maupun penyerapan
bukti bahwa pelatihan kerja sama tim dan kepemimpinan
pengetahuan dan keterampilan, serta pada akhirnya,
akan mempengaruhi hasil pasien.
performa klinis dan yang terjadi pada pasien akan
memandu pendidikan resusitasi. Terdapat bukti baru Kompresi Hanya CPR
bahwa format tertentu, seperti petunjuk CPR mandiri
yang menggunakan video atau modul berbasis komputer, 2015 (Baru): Komunitas dapat mempertimbangkan untuk
dapat memberikan hasil serupa terhadap kursus yang melatih orang awam dalam kompresi hanya CPR untuk
dipandu instruktur. Kemampuan untuk secara efektif OHCA orang dewasa sebagai alternatif untuk pelatihan
menggunakan format kursus alternatif sangat penting CPR konvensional.
dalam lingkungan dengan sumber daya terbatas jika Alasannya: Kompresi hanya CPR lebih sederhana bagi
kursus yang dipandu instruktur menerapkan biaya mahal. penyedia tidak terlatih untuk dipelajari dibanding CPR
Kursus petunjuk mandiri menawarkan kesempatan untuk konvensional (kompresi dengan napas buatan) dan
melatih lebih banyak individu agar dapat memberikan bahkan dapat dilatih oleh operator selama keadaan
CPR sekaligus mengurangi biaya dan sumber daya yang darurat. Penelitian yang dilakukan setelah kampanye
dibutuhkan untuk pelatihan. Kedua hal terakhir tersebut pendidikan di seluruh negara bagian untuk CPR hanya
adalah faktor penting saat mempertimbangkan kompresi bagi orang awam menunjukkan bahwa
kemungkinan besarnya calon penolong yang harus banyaknya kasus yang terjadi dari keseluruhan CPR
dilatih. dan CPR hanya kompresi oleh orang awam mengalami
peningkatan .
Pelatihan yang Ditargetkan
Interval Pelatihan Ulang BLS
2015 (Baru): Pelatihan dasar untuk perawat dan/atau
anggota keluarga dari pasien berisiko tinggi mungkin 2015 (Diperbarui): Keterampilan BLS akan cepat
dapat dilakukan. terlupakan setelah pelatihan, sedangkan keterampilan
dan kepercayaan diri para siswa yang berlatih lebih
Alasannya: Penelitian panjang yang dilakukan sering semakin meningkat, membuat pelatihan ulang
menunjukkan nilai tinggi untuk performa CPR oleh BLS ini wajar jika dilakukan lebih sering oleh orang yang
anggota keluarga yang terlatih dan/atau perawat pasien kemungkinan besar akan menangani serangan jantung.
jantung berisiko tinggi dibandingkan mereka yang tidak
terlatih. 2015 (Baru): Potensi manfaat pendidikan sesi pelatihan
ulang yang singkat namun sering dilakukan, ditambah
Pelatihan Tingkat Lanjut untuk AED dengan keinginan untuk menghemat biaya dengan
2015 (Diperbarui): Kombinasi petunjuk mandiri dan mengurangi waktu pelatihan serta tidak menggunakan
pengajaran yang dipandu instruktur dengan pelatihan staf dari lingkungan klinik untuk pelatihan penyegaran
praktik langsung dapat dipertimbangkan sebagai standar, maka wajar bila orang yang kemungkinan
alternatif untuk kursus yang dipandu instruktur besar akan menangani penderita serangan jantung
konvensional bagi orang awam. Jika pelatihan yang melakukan lebih banyak pelatihan ulang menggunakan
dipandu instruktur tidak tersedia, maka pelatihan yang boneka peraga. Bukti yang ada tidak cukup untuk
dilakukan sendiri dapat dipertimbangkan untuk orang merekomendasikan interval waktu optimal.
awam yang mempelajari keterampilan AED. 2010 (Lama): Performa keterampilan harus dinilai selama
2015 (Baru): Metode pelatihan sendiri dapat sertifikasi 2 tahun dengan penguatan yang diberikan
dipertimbangkan untuk staf perawat yang mempelajari sesuai keperluan.
keterampilan AED. Alasannya: Meskipun bukti yang terus berkembang
2010 (Lama): Meskipun pelatihan minimal dalam menunjukkan bahwa sertifikasi ulang untuk dukungan
penggunaan AED ditunjukkan untuk meningkatkan hidup tingkat dasar dan lanjutan yang dilakukan setiap
kesigapan dalam kejadian serangan jantung, namun 2 tahun ternyata tidak memadai untuk sebagian besar
kesempatan pelatihan harus tetap tersedia dan orang, namun waktu yang optimal dari pelatihan ulang
dipromosikan untuk penolong awam. belum ditentukan. Faktor yang mempengaruhi interval
pelatihan ulang yang optimal akan mencakup kualitas
Alasannya: AED dapat dioperasikan dengan benar pelatihan awal, fakta bahwa beberapa keterampilan
meskipun tanpa pelatihan sebelumnya: Penggunaan mungkin akan terlupakan dibandingkan keterampilan
AED oleh publik tidak memerlukan persyaratan pelatihan. lainnya, dan frekuensi penggunaan keterampilan dalam
Namun demikian, pelatihan minimal sekali pun juga praktik klinis. Meskipun data terbatas, namun terlihat
akan meningkatkan performa, ketepatan waktu, dan peningkatan keterampilan dan kepercayaan diri di antara
keberhasilan. Pelatihan sendiri memperluas kesempatan para siswa yang lebih sering berlatih. Simulasi yang
pelatihan untuk orang awam dan perawat profesional.

Foku
s
Utama
Pembarua
n
Pedoman
AHA
untuk
dan
29
sering dilakukan menggunakan boneka peraga sebagai dengan sakit di dada untuk meminum aspirin jika
pelatihan penyegaran juga dapat menghemat biaya, yakni tanda dan
gejala menunjukkan bahwa orang tersebut mengalami
dengan menggunakan waktu pelatihan ulang keseluruhan
serangan
yang lebih sedikit dibandingkan dengan interval pelatihan
ulang standar.

Pertolongan Pertama
Pembaruan Pedoman AHA dan Palang Merah Amerika
2015 untuk Pertolongan Pertama (2015 AHA and
American Red Cross Guidelines Update for First Aid)
menegaskan tujuan pertolongan pertama: untuk
mengurangi tingkat morbiditas dan kematian dengan
mengurangi penderitaan, mencegah penyakit lebih jauh
atau cedera, dan
mendorong pemulihan. Lingkup pertolongan pertama
telah diperluas. Pertolongan pertama dapat dilakukan
oleh setiap orang, dalam situasi apapun, dan termasuk
perawatan diri .
Ringkasan Masalah Utama dan Perubahan
Besar
Penggunaan sistem penilaian stroke dapat membantu
pemberi pertolongan pertama dengan mengidentifikasi tanda
dan
gejala stroke.
Tablet glukosa lebih disukai untuk perawatan hipoglikemia
ringan, namun tablet tersebut mungkin tidak segera tersedia.
Dalam kasus ini, bentuk lain dari gula yang terdapat dalam
produk makanan umum boleh diberikan sebagai alternatif tablet
glukosa untuk penderita diabetes dengan hipoglikemia
simptomatis ringan yang dalam kondisi sadar serta dapat
menelan dan mengikuti perintah.
Pemberi pertolongan pertama boleh membiarkan luka pada
dada tetap terbuka dan tidak ditutupi. Jika pembalutan luka
dan tekanan langsung diperlukan untuk mengontrol
pendarahan, maka diperlukan tindakan yang hati-hati agar
pembalutan tersebut tidak berubah menjadi pembalutan oklusi
tanpa disengaja.
Tidak ada satu pun sistem perkiraan gegar otak untuk
membantu pemberi bantuan pertama mengenali gejala gegar
otak.
Bila implantasi ulang dari gigi avulsi akan ditunda, maka
penyimpanan sementara untuk gigi tersebut ke dalam
cairan yang sesuai dapat membantu memperpanjang
kelangsungan hidup gigi.
Pendidikan pertolongan pertama diberikan melalui kampanye
kesehatan publik, topik terfokus, atau kursus yang
memberikan sertifikasi. Semua hal tersebut dapat
meningkatkan tingkat keselamatan, mengurangi tingkat
keparahan cedera dan waktu di rumah sakit, serta mengatasi
gejala pada orang yang cedera atau sakit.
Bila menangani orang yang tidak bereaksi namun
bernapas secara normal, dan tidak terdapat trauma berat,
misalnya,
pada tulang belakang atau panggul, maka memindahkan
orang tersebut ke posisi berbaring menyamping dapat
meningkatkan mekanisme jalur udara. Posisi pemulihan
HAINES (Lengan ke Atas pada Tulang Belakang yang Cedera)
yang sudah diubah kini tidak lagi direkomendasikan.
Pada kasus tersebut, tidak ada indikasi untuk pemberian
rutin oksigen tambahan oleh pemberi pertolongan pertama.
Bagi pemberi pertolongan pertama dengan memiliki
pengalaman pelatihan khusus atas penggunaan oksigen
tambahan, pemberian oksigen dapat membantu orang yang
mengalami cedera dekompresi. Situasi lainnya bila
pemberian mungkin
dipertimbangkan adalah dalam hal keracunan karbon
monoksida dan untuk pasien kanker paru-paru dengan dispnea
dan hipoksemia.
Rekomendasi tetap menyatakan bahwa sambil menunggu
kedatangan petugas Layanan Medis Darurat, pemberi
pertolongan pertama mungkin akan menganjurkan orang
jantung dan tidak memiliki alergi maupun kontraindikasi terhadap
aspirin, seperti pendarahan saat itu juga. Namun, pembaruan
rekomendasi ini mengingatkan bahwa jika seseorang memiliki sakit di
dada yang tidak menunjukkan bahwa penyebabnya adalah jantung
pada asal mulanya, atau jika pemberi pertolongan pertama tidak yakin
tentang penyebab sakit di dada serta tidak
nyaman dengan pemberian aspirin, pemberi pertolongan pertama
seharusnya tidak menyarankan orang tersebut untuk meminum
aspirin.
Epinefrin disarankan untuk digunakan dalam kondisi anafilaksis yang
mengancam jiwa dan pasien yang memiliki risiko ini biasanya akan
selalu membawa injektor otomatis epinefrin, sering disebut sebagai
paket 2 dosis. Bila gejala anafilaksis tidak dapat diatasi dengan dosis
awal epinefrin dan kedatangan EMS akan terlambat 5 hingga 10
menit, dosis kedua epinefrin dapat dipertimbangkan.
Metode utama untuk mengontrol pendarahan adalah melalui aplikasi
tekanan langsung dan stabil. Bila tekanan langsung tidak efektif
untuk pendarahan parah atau yang mengancam jiwa, penggunaan
pembalutan hemostatik yang dikombinasikan dengan tekanan
langsung dapat dipertimbangkan, namun memerlukan pelatihan
terkait aplikasi dan indikasi penggunaan yang tepat.
Penggunaan kolar servikal oleh penyedia layanan pertolongan
pertama tidak disarankan. Untuk pasien terluka yang memenuhi
kriteria berisiko tinggi mengalami cedera tulang belakang, metode
ideal bagi penyedia layanan pertolongan pertama
guna membantu mencegah gerakan tulang belakang pasien
memerlukan penelitian lebih lanjut, namun dapat mencakup
perintah lisan atau stabilisasi manual sambil menunggu
kedatangan penyedia layanan lanjutan.
Topik yang tercakup dalam Pembaruan Pedoman 2015 yang tidak
memiliki rekomendasi baru sejak 2010 mencakup penggunaan
bronkodilator untuk asma yang diiringi dengan sesak napas, cedera
mata beracun, kontrol pendarahan, penggunaan torniket, perawatan
pasien terduga patah tulang panjang, pendinginan
luka akibat panas, pembalutan luka bakar, dan batasan gerak
tulang belakang.
Pengenalan Stroke
2015 (Baru): Penggunaan sistem penilaian stroke oleh penyedia
layanan pertolongan pertama disarankan. Dibandingkan
dengan sistem penilaian stroke yang tidak memerlukan
pengukuran glukosa, sistem penilaian yang mencakup
pengukuran glukosa memiliki sensitivitas serupa, namun
kekhususan lebih tinggi untuk pengenalan stroke. Sistem
penilaian stroke FAST (Face, Arm, Speech, Time) atau CPSS
(Cincinnati Prehospital Stroke Scale) adalah alat paling praktis
untuk digunakan oleh penyedia layanan pertolongan pertama,
dengan sensitivitas tinggi untuk pengenalan stroke.
Alasannya: Bukti menunjukkan bahwa pengenalan dini stroke
dengan penggunaan sistem penilaian stroke akan mengurangi
interval antara waktu dimulainya serangan stroke, kedatangan
di rumah sakit, dan perawatan definitif. Dalam 1 penelitian,
lebih dari 94% penyedia layanan yang menerima pelatihan
terkait sistem penilaian stroke mampu mengenali tanda dan
gejala stroke,
dan kemampuan ini berlangsung pada 3 bulan setelah
pelatihan.35,36
Hipoglikemia
2015 (Baru): Untuk penderita diabetes dengan hipoglikemia
simptomatis ringan yang mampu mengikuti perintah dan
menelan dengan aman, penggunaan glukosa oral dalam
bentuk tablet glukosa akan
memberikan pembebasan klinis lebih cepat dibandingkan
dengan bentuk gula lain yang ditemukan dalam produk
makanan. Tablet glukosa, jika ada, harus digunakan
untuk mengatasi hipoglikemia pada masing-masing

30 American Heart Association


pasien tersebut. Jika tablet glukosa tidak tersedia, bentuk untuk menyimpan sementara gigi avulsi dalam larutan
makanan dan minuman lain yang dievaluasi secara yang ditampilkan untuk memperpanjang kelangsungan
khusus dan mengandung gula seperti sukrosa, fruktosa, hidup sel gigi (dibandingkan dengan air liur). Larutan
serta oligosakarida dapat menjadi alternatif yang efektif dengan khasiat yang ditunjukkan untuk memperpanjang
untuk pembalikan hipoglikemia simptomatis ringan. kelangsungan hidup sel gigi dari 30 hingga 120 menit
mencakup Larutan Garam Seimbang Hank (mengandung
Alasannya: Hipoglikemia adalah suatu kondisi yang kalsium, kalium klorida dan fosfat, magnesium klorida dan
umumnya dialami oleh penyedia layanan pertolongan
sulfat, sodium klorida, sodium bikarbonat, natrium fosfat
pertama. Penanganan dini hipoglikemia ringan dapat
mencegah progres menuju hipoglikemia parah. dibasa, dan glukosa), propolis, putih telur, air kelapa,
Hipoglikemia parah dapat mengakibatkan hilangnya Ricetral, atau susu murni.
kesadaran atau kejang dan biasanya memerlukan 2010 (Lama): Letakkan gigi dalam susu murni atau air
penanganan dari EMS. bersih jika susu tidak tersedia.
Perawatan Luka Terbuka di Dada Alasannya: Kekoyakan gigi dapat mengakibatkan
2015 (Baru): Penyedia layanan pertolongan pertama gigi terlepas secara permanen. Komunitas dokter gigi
yang merawat seorang individu dengan luka terbuka setuju bahwa implantasi ulang langsung gigi avulsi akan
di dada dapat meninggalkan luka tetap terbuka. Jika memberikan peluang terbesar untuk kelangsungan
pembalutan luka dan tekanan langsung diperlukan untuk hidup gigi, namun mungkin bukan menjadi pilihan. Jika
menghentikan pendarahan, maka diperlukan tindakan implantasi ulang ditunda, penyimpanan sementara gigi
yang hati-hati agar pembalutan dengan darah tersaturasi avulsi dalam larutan yang tepat dapat meningkatkan
tersebut tidak berubah menjadi oklusi tanpa disengaja. peluang kelangsungan hidup gigi.
Alasannya: Penggunaan pembalutan atau perangkat Pendidikan Pertolongan Pertama
oklusi yang tidak sesuai untuk luka terbuka di dada dapat 2015 (Baru): Pendidikan dan pelatihan dalam pertolongan
mengakibatkan pengembangan pneumotoraks tegangan pertama dapat bermanfaat untuk memperbaiki tingginya
yang tidak dikenali, namun mengancam jiwa. Tidak ada morbiditas dan kematian akibat cedera dan penyakit, dan
penelitian terhadap manusia yang membandingkan kami merekomendasikan agar pelatihan tersebut tersedia
aplikasi pembalutan atau perangkat oklusi dengan secara luas.
pembalutan atau perangkat non-oklusi, dan hanya satu
penelitian terhadap hewan yang menunjukkan manfaat Alasannya: Bukti menunjukkan bahwa pendidikan dalam
penggunaan perangkat non-oklusi. Akibat kurangnya pertolongan pertama dapat meningkatkan angka
bukti untuk penggunaan perangkat oklusi dan dengan kelangsungan hidup, meningkatkan pengenalan penyakit
mempertimbangkan risiko pneumotoraks tegangan yang akut, dan membantu penyelesaian gejala.
tidak diketahui, aplikasi pembalutan atau perangkat Penempatan Posisi Pasien yang Sakit atau
oklusi yang dilakukan oleh penyedia layanan pertolongan
pertama kepada pasien dengan luka terbuka di dada Cedera
tidak disarankan . 2015 (Diperbarui): Posisi pemulihan yang disarankan
telah diubah dari posisi telentang ke posisi berbaring
Gegar Otak menyamping untuk pasien yang diduga tidak mengalami
2015 (Baru): HCP harus mengevaluasi setiap orang cedera tulang belakang, pinggul, atau panggul. Terdapat
dengan cedera kepala yang mengarah pada perubahan sedikit bukti yang menunjukkan bahwa posisi pemulihan
dalam tingkat kesadaran, pengembangan progresif pada alternatif apa pun akan lebih bermanfaat bagi individu
tanda atau gejala gegar otak, atau penyebab lain untuk yang tidak bereaksi dan bernapas normal.
diperhatikan oleh penyedia layanan pertolongan pertama. 2010 (Lama): Jika korban dalam keadaan tertelungkup
Evaluasi harus dilakukan secepat mungkin. dan tidak bereaksi, ubah posisi korban agar telentang.
Alasannya: Penyedia layanan pertolongan pertama sering Jika korban mengalami kesulitan bernapas karena sekresi
kali menangani individu dengan cedera kepala ringan dan berlebihan atau muntah, atau jika Anda sendirian dan
kemungkinan gegar otak (cedera otak traumatis ringan) . harus meninggalkan korban yang tidak bereaksi untuk
Banyaknya tanda dan gejala gegar otak dapat membuat mendapatkan bantuan, letakkan korban dalam posisi
cedera ini sulit dikenali. Selain itu, konsekuensi jangka pemulihan HAINES yang dimodifikasi.
panjang dari gegar otak yang tidak terdeteksi dapat Alasannya: Penelitian yang menunjukkan sejumlah
sangat signifikan. Meskipun sistem penilaian gegar otak perbaikan pada indeks pernapasan bila korban berada
sederhana satu tahap yang divalidasi mungkin dapat dalam posisi menyamping dibandingkan dengan posisi
membantu penyedia layanan pertolongan pertama dengan telentang telah mengarah pada perubahan dalam
pengenalan gegar otak, namun tidak ada sistem penilaian rekomendasi untuk pasien yang diduga tidak mengalami
tersebut yang telah diidentifikasi. Alat bantu penilaian cedera tulang belakang, pinggul, atau panggul. Posisi
gegar otak dalam olahraga yang digunakan oleh tenaga HAINES tidak lagi disarankan karena adanya kekurangan
perawatan kesehatan yang memerlukan 2 tahap penilaian dan kualitas bukti yang sangat rendah untuk mendukung
(sebelum kompetisi dan setelah terjadi gegar otak) posisi ini .
tidak sesuai digunakan sebagai satu-satunya alat bantu
penilaian untuk penyedia layanan pertolongan pertama. Penggunaan Oksigen Pada Pertolongan
Kekoyakan Gigi Pertama
2015 (Diperbarui): Penyedia layanan pertolongan 2015 (Diperbarui): Tidak terdapat bukti yang mendukung
pertama mungkin tidak dapat melakukan implantasi pemberian oksigen tambahan secara rutin oleh penyedia
ulang gigi avulsi karena keterbatasan sarung tangan layanan pertolongan pertama. Oksigen tambahan mungkin
medis pelindung, pelatihan dan keterampilan, atau takut bermanfaat hanya dalam sejumlah situasi tertentu seperti
menimbulkan rasa sakit. Bila implantasi ulang langsung cedera dekompresi dan bila diberikan oleh penyedia yang
tidak mungkin dilakukan, mungkin akan bermanfaat menerima pelatihan tentang penggunaannya.

Foku
s
Utama
Pembarua
n
Pedoman
AHA
untuk
dan
31
2010 (Lama): Tidak terdapat bukti yang mendukung Anafilaksis
maupun menentang penggunaan oksigen secara rutin
sebagai tindakan pertolongan pertama bagi korban 2015 (Diperbarui): Bila orang yang mengalami anafilaksis
yang mengalami sesak napas atau nyeri dada. Oksigen tidak bereaksi terhadap dosis awal epinefrin dan
mungkin bermanfaat untuk pertolongan pertama pada kedatangan petugas medis tingkat lanjut akan terlambat
penyelam yang mengalami cedera dekompresi. 5 hingga 10 menit, pemberian dosis yang diulang dapat
dipertimbangkan .
Alasannya: Bukti menunjukkan adanya manfaat
penggunaan oksigen untuk penyakit dekompresi oleh 2010 (Lama): Dalam kondisi yang tidak biasa, bila
penyedia layanan pertolongan pertama yang telah bantuan medis lanjutan tidak tersedia, dosis kedua
mengikuti kursus tentang oksigen pertolongan pertama epinefrin dapat diberikan jika gejala anafilaksis berlanjut.
pada aktivitas menyelam. Bukti terbatas juga menunjukkan Alasannya: Pedoman 2010 menyarankan bahwa
oksigen tambahan efektif untuk meredakan sesak napas penyedia pertolongan pertama menyediakan atau
pada pasien kanker paru-paru tingkat lanjut dengan memberikan epinefrin (milik korban sendiri) kepada orang
kondisi sesak napas dan hipoksemia terkait, namun tidak dengan gejala anafilaksis. Bukti mendukung kebutuhan
pada pasien serupa tanpa hipoksemia. Meskipun tidak dosis kedua epinefrin untuk anafilaksis akut pada pasien
terdapat bukti yang teridentifikasi untuk mendukung yang tidak merespons dosis pertama; revisi pedoman
penggunaan oksigen, namun bila pasien yang terpapar memberikan penjelasan terkait rentang waktu untuk
karbon monoksida bernapas tiba-tiba, memberikan mempertimbangkan dosis kedua epinefrin.
oksigen mungkin perlu dilakukan sambil menunggu
kedatangan petugas perawatan medis lanjutan. Pembalutan Hemostatik
Nyeri Dada 2015 (Diperbarui): Penyedia pertolongan pertama
dapat mempertimbangkan penggunaan pembalutan
2015 (Diperbarui): Sambil menunggu kedatangan EMS,
hemostatik bila tindakan kontrol pendarahan standar
penyedia pertolongan pertama dapat menganjurkan (dengan tekanan langsung yang disertai maupun tidak
orang dengan nyeri dada untuk mengunyah 1 aspirin disertai balutan kasa atau kain tipis) tidak efektif untuk
dosis dewasa atau 2 aspirin dosis ringan jika tanda dan pendarahan parah atau yang mengancam jiwa.
gejala menunjukkan bahwa orang tersebut mengalami
infarksi miokardium, dan jika orang tersebut tidak 2010 (Lama): Penggunaan (agen hemostatik) secara
memiliki alergi maupun kontraindikasi lain terhadap rutin dalam pertolongan pertama tidak dapat dianjurkan
aspirin. Jika seseorang mengalami nyeri dada yang tidak pada tahap ini karena adanya variasi yang signifikan
menunjukkan bahwa penyebabnya adalah jantung pada dalam efektivitas berdasarkan agen yang berbeda dan
asal mulanya, atau jika penyedia pertolongan pertama potensi efek sampingnya, termasuk pemusnahan jaringan
tidak yakin tentang penyebab nyeri dada atau tidak dengan induksi dari status proembolic dan potensi
nyaman dengan pemberian aspirin, maka penyedia cedera termal.
pertolongan pertama tidak boleh menyarankan orang Alasannya: Aplikasi tekanan langsung yang stabil pada
tersebut untuk meminum aspirin dan keputusan untuk luka masih dipertimbangkan sebagai alat utama untuk
memberikan aspirin dapat dialihkan kepada penyedia mengontrol pendarahan. Bila tekanan langsung gagal
layanan EMS. mengontrol pendarahan parah atau yang mengancam
2010 (Lama): Sambil menunggu kedatangan EMS, jiwa, penyedia pertolongan pertama yang mengikuti
penyedia pertolongan pertama dapat menganjurkan pelatihan khusus tentang indikasi dan penggunaannya
korban untuk mengunyah dan menelan 1 aspirin dosis dapat mempertimbangkan pembalutan hemostatik.
dewasa (tidak berlapis enterik) atau 2 aspirin dosis Pembalutan agen hemostatik terimpregnasi generasi
ringan "bayi" jika pasien tidak memiliki alergi maupun baru telah terbukti menyebabkan lebih sedikit komplikasi
kontraindikasi lain terhadap aspirin, misalnya bukti dan efek samping dibandingkan dengan agen hemostatik
adanya stroke atau pendarahan baru-baru ini. generasi sebelumnya, dan efektif dalam menyediakan
Alasannya: Pemberian aspirin secara signifikan akan hemostasis pada hampir 90% subjek.
mengurangi angka kematian akibat infarksi miokardium, Batasan Gerak Tulang Belakang
namun tidak terdapat bukti untuk mendukung
penggunaan aspirin pada pasien dengan nyeri dada yang 2015 (Diperbarui): Dengan banyaknya bukti yang
tidak terdiferensiasi. Penurunan angka kematian juga menunjukkan bahaya dan tidak adanya bukti yang
ditemukan bila pemberian aspirin secara "dini" (misalnya, menunjukkan manfaat yang jelas, maka aplikasi kolar
dalam beberapa jam pertama setelah dimulainya gejala servikal secara rutin oleh penyedia layanan pertolongan
infarksi miokardium) dibandingkan dengan pemberian pertama tidak disarankan. Penyedia pertolongan
aspirin "nanti" (misalnya, setelah tiba di rumah sakit) pertama yang menduga adanya cedera tulang belakang
untuk nyeri dada akibat infarksi miokardium akut. harus memastikan orang yang cedera tetap berada
Namun, tidak terdapat penjelasan apakah penyedia dalam posisi yang sama sambil menunggu kedatangan
pertolongan pertama dapat mengenali tanda-tanda penyedia layanan EMS.
dan gejala infarksi miokardium, dan penggunaan aspirin
2010 (Lama): Penyedia pertolongan pertama tidak boleh
untuk penyebab nyeri dada selain jantung mungkin
dapat menimbulkan bahaya. Meskipun dosis dan bentuk menggunakan perangkat penghentian karena manfaatnya
aspirin yang digunakan untuk nyeri dada tidak diperiksa dalam kondisi pertolongan pertama belum terbukti,
secara khusus oleh ILCOR First Aid Task Force, namun bahkan mungkin berbahaya. Pertahankan batasan gerak
tulang belakang dengan secara manual menstabilkan
ketersediaan biologis aspirin berlapis enterik serupa posisi kepala, sehingga gerakan kepala, leher, dan tulang
dengan yang tidak berlapis enterik bila dikunyah dan belakang diminimalkan.
ditelan.36 Oleh karena itu, tidak terdapat lagi batasan
terhadap penggunaan aspirin tidak berlapis enterik, Alasannya: Dalam pemeriksaan sistematis ILCOR
selama aspirin dikunyah sebelum ditelan. 2015 tentang penggunaan kolar servikal sebagai
komponen batasan gerak tulang belakang untuk
trauma tumpul, tidak terdapat bukti yang menunjukkan

32 American Heart Association


adanya penurunan cedera neurologis berkat penggunaan 16. Reder S, Cummings P, Quan L. Comparison of three instructional
kolar servikal. Bahkan, penelitian yang menunjukkan adanya methods for teaching cardiopulmonary resuscitation and use of an
efek negatif atau potensi efek negatif seperti bertambahnya automatic external defibrillator to high school students.
tekanan intrakranium dan saluran udara mempengaruhi Resuscitation.
penggunaan kolar servikal. Teknik yang tepat untuk 2006;69(3):443-453.
menggunakan kolar servikal pada pasien berisiko tinggi 17. Nishiyama C, Iwami T, Kawamura T, et al. Effectiveness of
memerlukan pelatihan yang signifikan dan latihan agar simplified chest compression-only CPR training program with or
dapat dilakukan dengan benar. Penggunaan kolar servikal without preparatory self-learning video: a randomized controlled
bukan merupakan keterampilan pertolongan pertama. trial. Resuscitation. 2009;80(10):1164-1168.
Revisi pedoman ini menunjukkan perubahan dalam kelas 18. Monsieurs KG, Vogels C, Bossaert LL, et al. Learning effect of a
rekomendasi ke Kelas III: Berbahaya karena berpotensi novel interactive basic life support CD: the JUST system. Resuscitation.
menimbulkan efek samping. 2004;62(2):159-165.
19. Ericsson KA. Deliberate practice and the acquisition and
Referensi maintenance of expert performance in medicine and related domains.
Acad Med.
1. Neumar RW, Shuster M, Callaway CW, et al. Part 1: executive 2004;79(10)(suppl):S70-S81.
summary: 2015 American Heart Association Guidelines Update for 20. Motola I, Devine LA, Chung HS, Sullivan JE, Issenberg SB.
Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Simulation in healthcare education: a best evidence practical guide.
Circulation. 2015;132(18)(suppl 2). In press. AMEE Guide No. 82. Med Teach. 2013;35(10):e1511-e1530.
2. Hazinski MF, Nolan JP, Aicken R, et al. Part 1: executive summary: 21. Hunt EA, Duval-Arnould JM, Nelson-McMillan KL, et al.
2015 International Consensus on Cardiopulmonary Resuscitation Pediatric resident resuscitation skills improve after rapid cycle
and Emergency Cardiovascular Care Science With Treatment deliberate practice training. Resuscitation. 2014;85(7):945-
Recommendations. Circulation. 2015;132(16)(suppl 1). In press. 951.
3. Nolan JP, Hazinski MF, Aicken R, et al. Part 1: executive summary: 22. Cook DA, Hamstra SJ, Brydges R, et al. Comparative effectiveness of
2015 International Consensus on Cardiopulmonary Resuscitation instructional design features in simulation-based education:
and Emergency Cardiovascular Care Science With Treatment systematic review and meta-analysis. Med Teach. 2013;35(1):e867-
Recommendations. Resuscitation. In press. e898.
4. Institute of Medicine. Strategies to Improve Cardiac Arrest 23. Bloom B, Englehart M. Furst E, Hill W, Krathwohl D. Taxonomy
Survival: A Time to Act. Washington, DC: National Academies of Educational Objectives: The Classification of Educational
Press; 2015. Goals. Handbook I: Cognitive Domain. New York, NY: Longmans;
5. Neumar RW, Eigel B, Callaway CW, et al. The American Heart 1956.
Association response to the 2015 Institute of Medicine report 24. Dave RH. Developing and Writing Behavioral Objectives.
on Strategies to Improve Cardiac Arrest Survival [published Tuscon, AZ: Educational Innovators Press; 1970.
online ahead of print June 30, 2015]. Circulation.
doi:10.1161/ CIR.0000000000000233. 25. Krathwohl DR, Bloom BS. Taxonomy of Educational Objectives:
The Classification of Educational Goals. Handbook II: Affective Domain.
6. Ringh M, Rosenqvist M, Hollenberg J, et al. Mobile-phone dispatch New York, NY: David McKay Co; 1964.
of laypersons for CPR in out-of-hospital cardiac arrest. N Engl J Med.
2015;372(24):2316-2325. 26. Bloom BS. Mastery Learning. New York, NY: Holt Rinehart
& Winston; 1971.
7. FDA approves new hand-held auto-injector to reverse opioid
overdose [news release]. Silver Spring, MD: US Food and Drug 27. Ericsson K, Krampe RT, Tesch-Rmer C. The role of
Administration; April 3, 2014. deliberate practice in the acquisition of expert performance.
http://www.fda.gov/NewsEvents/Newsroom/ Psychol Rev.
PressAnnouncements/ucm391465.htm. Accessed July 27, 2015. 1993;100(3):363-406.
8. Stub D, Smith K, Bernard S, et al. Air versus oxygen in ST-segment- 28. McGaghie WC, Issenberg SB, Cohen ER, Barsuk JH, Wayne DB.
elevation myocardial infarction. Circulation. 2015;131(24):2143- Medical education featuring mastery learning with deliberate
2150. practice can lead to better health for individuals and populations.
Acad Med. 2011;86(11):e8-e9.
9. Wheeler E, Jones TS, Gilbert MK, Davidson PJ. Opioid overdose
prevention programs providing naloxone to laypersonsUnited States, 29. McGaghie WC, Issenberg SB, Cohen ER, Barsuk JH, Wayne DB. Does
2014. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 2015;64(23):631-635. simulation-based medical education with deliberate practice yield
better results than traditional clinical education? A meta-analytic
10. Nishiyama C, Iwami T, Murakami Y, et al. Effectiveness of simplified comparative review of the evidence. Acad Med. 2011;86(6):706-
15-min refresher BLS training program: a randomized controlled trial. 711.
Resuscitation. 2015;90:56-60.
30. Roppolo LP, Pepe PE, Campbell L, et al. Prospective, randomized
11. Lynch B, Einspruch EL, Nichol G, Becker LB, Aufderheide TP, trial of the effectiveness and retention of 30-min layperson training
Idris A. Effectiveness of a 30-min CPR self-instruction program for cardiopulmonary resuscitation and automated external
for lay responders: a controlled randomized study. defibrillators: the American Airlines Study. Resuscitation.
Resuscitation. 2007;74(2):276-285.
2005;67(1):31-43.
31. Cheng A, Eppich W, Grant V, Sherbino J, Zendejas B, Cook DA.
12. Einspruch EL, Lynch B, Aufderheide TP, Nichol G, Becker L. Debriefing for technology-enhanced simulation: a systematic review
Retention of CPR skills learned in a traditional AHA Heartsaver and meta-analysis. Med Educ. 2014;48(7):657-666.
course
versus 30-min video self-training: a controlled randomized study. 32. Cheng A, Rodgers DL, van der Jagt E, Eppich W, ODonnell J.
Resuscitation. 2007;74(3):476-486. Evolution of the Pediatric Advanced Life Support course: enhanced
learning with a new debriefing tool and Web-based module for
13. Mancini ME, Cazzell M, Kardong-Edgren S, Cason CL. Improving Pediatric Advanced Life Support instructors. Pediatr Crit Care Med.
workplace safety training using a self-directed CPR-AED 2012;13(5):589-595.
learning program. AAOHN J. 2009;57(4):159-167.
33. Mager RF. Preparing Instructional Objectives: A Critical Tool in the
14. Roppolo LP, Heymann R, Pepe P, et al. A randomized controlled trial Development of Effective Instruction. 3rd ed. Atlanta, GA: Center
comparing traditional training in cardiopulmonary resuscitation (CPR) for Effective Performance; 1997.
to self-directed CPR learning in first year medical students: the two-
person CPR study. Resuscitation. 2011;82(3):319-325. 34. Kirkpatrick D, Kirkpatrick J. Implementing the Four Levels: A
Practical Guide for the Evaluation of Training Programs. San
15. Knowles MS, Holton EF III, Swanson RA. The Adult Learner. Francisco, CA: Berrett-Koehler; 2007.
Woburn, MA: Butterworth-Heinemann; 1998.
35. Wall HK, Beagan BM, ONeill J, Foell KM, Boddie-Willis CL.
Addressing stroke signs and symptoms through public education: the
Stroke Heroes Act FAST campaign. Prev Chronic Dis. 2008;5(2):A49.
36. Sai Y, Kusaka A, Imanishi K, et al. A randomized, quadruple
crossover single-blind study on immediate action of chewed and
unchewed low-dose acetylsalicylic acid tablets in healthy
volunteers. J Pharma Sci. 2011;100(9):3884-3891.

Fokus Utama Pembaruan Pedoman AHA 2015 untuk CPR dan ECC 33
7272 Greenville Avenue
Dallas, Texas 75231-4596, USA
www.heart.org

Untuk informasi selengkapnya tentang program dan


pelatihan P3K dari American Heart Association, kunjungi:
www.international.heart.org

JN-0288 10/15