Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Islam merupakan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad


SAW. Sepeninggalan Nabi Muhammad, agama Islam telah banyak
berkembang dan muncul berbagai macam problematika yang
menyangkut aqidah beragama. Muncul banyak sekali aliran-
aliran dalam agama Islam, yang mana satu dengan yang lainnya
saling menganggap sesat.

Tidak bisa diingkari bahwa Islam dan pemahaman keilaman


yang kita miliki tidak seratus persen asli. Tidak salah dalam
sejarah terdapat perbedaan pemahaman sendiri, termasuk
dalam pengamalannya. Para pembaharu Islam juga sedikit
tidaknya mengambil peran dalam pembersihan Islam dari
banyak aliran-aliran tersebut.

Seperti yang kita lihat sekarang, banyak terjadi kontroversi


antar aliran agama yang sebenarnya telah ada dari masa
sesudah wafatnya Rasulullah. Diantaranya yang paling masyhur
didengar adalah Syiah. Dalam banyak pembahasan telah dikaji
doktrin-doktrin yang dibawa oleh aliran-aliran dalam teologi.
Bahkan dikaji apakah aliran tersebut sesat atau tidak dilihat dari
perspektif banyak Ulama mujtahid.

Pada era sekarang ini sudah sepantasnya kita, masyarakat


muslim untuk lebih mengetahui apa-apa saja aliran yang
berkembang dalam agama Islam, tentang apa ajaran yang
dibawa dan bagaimana latarbelakangnya. Ini bertujuan agar kita
tidak mudah terikut dalam ajaran agama yang mengandung
kesesatan dan kita tidak sembarangan pula menilai buruk suatu
aliran.

1
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, ditulislah makalah
dengan judul Aliran Pemikiran Islam Jabariyah dan Qadariyah.

1.2 Rumusan masalah

Rumusan masalah dalam maklah ini dipaparkan sebagai


berikut.

1. Apa yang melatarbelakangi munculnya aliran Jabariyah?


2. Apa saja doktrin-doktrin pokok Jabariyah?
3. Bagaimana perkembangan Jabariyah?
4. Apa yang melatarbelakangi munculnya aliran Qadariyah?
5. Apa saja doktrin-doktrin pokok Qadariyah?
6. Bagaimana perkembangan Qadariyah?

1.3 Tujuan
Tujuan dalam makalah ini dipaparkan sebagai berikut.
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Teosofi tentang aliran-
aliran dalam Islam
2. Sebagai sumber referensi bagi pembaca

2
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Latar belakang Jabariyah


Firqoh Jabariyah timbul bersamaan dengan timbulnya
firqoh Qodariyah, dan tampaknya merupakan reaksi dari
padanya. Daerah tempat timbulnya juga tidak berjauhan.
Qodariyah timbul di Irak, sedangkan Jabariyah timbul di
Khurasan Persia.1
Kata Jabariyah berasal dari kata Jabara yang berarti
memaksa. Di dalam Al-munjid dijelaskan bahwa nama
Jabariyah berasal dari kata jubara yang mengandung arti
memaksa dan mangharuskannya melakukan sesuatu.
Kalau dikatakan, Allah mempunyai sifat Al-Jabbar (dalam
bentuk mubalaghah), itu artinya Allah Maha Memaksa.
Ungkapan al-insan majbur (bentuk isim maful) mempunyai
arti bahwa manusia dipasa atau terpaksa. Selanjutnya,
kata jabara (bentuk pertama), setelah ditarik menjadi
jabariyah (dengan menambah ya nisbah), memiliki arti
suatu kelompok atau aliran (isme). Lebih lanjut Asy-
Syahratsan menegaskan bahwa paham al-jabr berarti
menghilangkan perbuatan manusia dalam arti yag
sesungguhnya menyandarkannya kepada Allah. Dengan
kata lain, manusia mengerjakan perbuatannya dalam
keadaan terpaksa. Dalam bahasa Inggris, Jabariyah disubut
Fatalism atau predestination, yaitu faham yang
menyebutkan bahwa manusia telah ditentukan dari semula
oleh qadha dan qadar Tuhan.2

3
Faham al-jabar pertama kali diperkenalkan oleh Jad
bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm bin Shofwan
dari Khurasan. Dalam sejarah teologi Islam, Jahm tercatat
sebagai tokoh yang mendirikan aliran Jahmiyah dalam
kalangan Murjiah. Ia adalah juru tulis Suuraih bin Al-Harits
dan selalu menemaninya dalam gerakan melawan
kekuasaan Banu Umayah. Namun dalam
perkembangannya, faham al-jabar juga dikembangkan
oloeh tokoh lainnya diantaranya Al-Husain bin Muhammad
An-Najjar dan Jad bin Dirrar.3

Sebenarnya benih-benih fatasilme sudah muncul jauh


sebelum kedua tokoh yang sudah disebutkan. Benih
benih itu terihat dalam peristiwa sejarah berikut ini.
a. Suatu ketika Nab menjumpai sahabatnya yang
sedang bertengkar dalam masalah takdir Tuhan.
Nabi melarang mereka untuk merperdebatkan
persoalan tersebut, agar terhindar dari kekeliruan
penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai
takdir.
b. Khalifa Umar bin Khattab pernah menangkap
seseorang yang ketahuan mencuri. Ketika di
Interogasi, pencuri itu berkata Tuhan telah
menentukan aku mencuri. Mendengar ucapan
itu, Umar marah sekali dan menganggap orang itu
telah berdusta kepada Tuhan. Oleh karena itu,
Umar memberikan dua jenis hukuman kepada
pencuri. Perama, hukuman potong tangan karena
mencuri. Kedua, hukuman dera karena
menggunakan dalil takdir Tuhan.4
c. Khalifah Ali bin Abi Thalib sesuai Perang Shiffin
ditanya oleh seorang tua tentang qadar
_______________________
Prof. Dr. K.H. Sahilun A. Nasir, M.Pd.I, Pemikiran Kalam, cetakan ke-1, (Jakarta: Kharisma
Putra Utama Offset, 2010), hlm. 143
2
DR. Abdul Rozak, Ilmu Kalam, (Pustaka Setia: Bandung, 2007), hlm. 63

4
(ketentuan) Tuhan dalam kaitannya dengan
pahala dan siksa. Orang itu bertanya bila
perjalanan (menuju Perang Siffin) itu terjadi
dengan qadha dan qadar Allah, tak ada pahala
sebagai balasannya. Ali menjelaskan bahwa
qadha dan qadar bukanlah paksaan Tuhan. Ada
pahala dan siksa sebagai balasan amal perbuatan
manusia. Sekiranya qadha dan qadar itu
merupakan paksaan, batallah pahala dan siksa,
gugur pula janji dan anacaman Tuhan, serta tidak
ada celaan Allah atas pelaku dosa dan pujiannya
bagi orang-orang baik.5
d. Pada pemerintahan daulah Bani Umayyah,
pandangan tentang al-jabar semakin mencuat ke
permukaan. Abdullah bin Abbas, melalui suratnya,
memberikan reaksi keras ke penduduk Syiria yang
diduga berfaham Jabariyah.6

2.2 Doktrin-doktrin pokok Jabariyah


Jabariyah merupakan aliran yang dikenal sebagai
pelopor teologi fatalis atau paham kepasrahan dalam
Islam. Menurut Jabariyah, segala yang dialami manusia
terkait qadha dan qadar, baik masa lalu maupun masa
depan, baik musibah atau keberuntungan, telah ditentukan
oleh Allah. Hanya Allah yang berkehendak dan
menentukan tindak tantuk kehidupan manusia serta
kelangsungnnya di muka bumi. Manusia hanya ibarat air
yang mengalir tanpa kehendak. Semua yang terjadi di
jagad raya telah di atur sesuai qadh dan qadar dari Allah,
bukan kehendak makhluk.7
Pelopor aliran Jabariyah ini, Jahm bin Shafwan,
menggunakan nash-nash Alquran. Ayat yang menjadi

3
DR. Abdul Rozak, Ilmu Kalam, (Pustaka Setia: Bandung, 2007), hlm. 64
4
Ibid., hlm 64
5
Ibid., hlm 65

5
sandaran diantanya adalah Allah-lah yang menciptakan
kamu dan apa-apa yang kamu kerjakan (QS Ash-Shaffat
[37] : 96); Kamu tidak menghendaki, tapi Allah- lah yang
menghendaki (QS al-Insan [76] : 30); Sesungguhnya
Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (QS al-
Qamar [54] : 49); Barang siapa yang dikehendaki Alla
(kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa
yang dikendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia
menjadikannya berada di atas jalan yang lurus (QS al-
Anam [6] : 39); Allah lah yang menciptakan kamu,
kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu,
kemudian menghidupkanmu kembali (QS ar Rum [30] :
40); Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi
melaikan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia
mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat
menyimpannya. Semuanya tertulis alam kitab yang nyata
(lauh mahfuzh) (QS Hud [11] : 6); Kepunyaan-Nya lah
perbendaharaan langit dan bumi, Dia melapangkan rezeki
bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS
asy- Syuara [26] : 12); ... tidak ada suatu bencana pun
yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan
telat tertulis dalam kitab sebelum kami menciptaknnya.
SSesungguhnya yang demikan itu adalah mudah bagi
Allah (QS al-Hadid [57] : 22); ... sesungguhnya Allah telah
mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS ath-
Thariq [86] : 3); ... maka Allah menyesatkan siapa pun
yang Dia kehendaki (QS Ibrahim [14] : 4).8
Menurut kalangan Jabariyah manusia ibarat wayang
yang digerakkan sang dalang. Apa pun tindakan manusia
dan perbuatan manusia, sesungguhnya ia bebas dari
_______________
6
DR. Abdul Rozak, Ilmu Kalam, (Pustaka Setia: Bandung, 2007), hlm.
65

6
tanggung jawab pelakunya. Sebabnya yang paling
bertanggung jawab adalah yang mentakdiknnya, bukan
manusia sebagai objek takdir. Oleh karena itu, apabila
manusia mendapat peran baik, maka Allah yang memberi
peran itu dan tidak dapat diubah menjadi buruk karena
telah sesuai dengan ketetapan Allah.9
Dalam perkembangnnya, aliran ini pecah menjadi
Jahmiyah, Dhirariah dan Najjariah atau dalam buku yang
lain disebut Husainiah, yang masing-masing subsekte ini
memiliki prinsip-prinsip dasar sebagai berikut :
1. Jahamiyah merupakan pengikut Jahm bin Shofwan.
Prinsip ajarannya adalah (i) Surga dan neraka itu
kekal selama-lamanya, (ii) keimanan itu mengenal
Allah, sementara kekufuran ialah bodoh atas-Nya,
(iii) pebuatan manusia ini hakikatnya merupakan
perbuatan Allah sendiri, dan (iv) mengajak
kebaikan mencegah kejahatan.10
2. Dhirariah merupakan pengikut ajaran Dhirar ibn
Amr. Prinsip ajarannya ialah (i) perbuatan manusia
itu sebenarnya diciptakan Allah, (ii) adanya
kemampuan itu sebelum perbuatan, bahkan
menyertai adanya perbuatan tersebut, (iii)
manusia itu merupakan kumpulan aksiden yang
seperti juga yang lainnya, (iv) suatu perbuatan
yang terjadi akibat perbuatan lainnya, (v)
pengertian Allah yang Maha Tahu dan Maha Kuasa
itu sebenarnya Dia tidak bersifat bodoh ataupun
lemah, dan (iv) mengingkari anggapan Ibn Masud
dan Ubay ibn Kaab yang menyatakan huruf-huruf
Al-Quran itu diturunkan Allah.11
__________________
8
Ahmad Sahidin, Aliran-Aliran dalam Islam, (Jakarta: Salamadani,
2009), hlm. 37
9
Ibid., hlm. 37
10
Abul Hasan Ismail al-Asyari, Prinsip- Prinsip Dasar Aliran Theologi
Islam (Madalitul Islamiyah wa ikhtilaful Mushallin), (Bandung : Pustaka
Setia, 1998, alih bahasa Drs. H.A Nasir dan Drs. Karsidi). hlm 353
7
3. Najjariyah merupakan pengikut dari Husein ibn
Muhammad al-Najjar. Najjariyah beranggapan
bahwa perbuatan manusia itu diciptakan Allah,
tetapi bukan milik-Nya. Mereka juga beranggapan
bahwa kemampuan itu tidaklah mendahului
perbuatan, tetapi muncul ketika seseorang
berbuat.12

2.3 Perkembangan Jabariyah


Pokok pokok pembelajaran yang merupakan
pertikaian paham/ pendapat dalam aliran yang tumbuh itu
yang pertama adalah mengenai sifat TUHAN, apakah sifat
itu zat tuhan sendiri atau titipan yang terlepas dari dzat?
masih layakkah Tuhan itu dikatakan satu tunggal
(wahdaniyah)?. Karena dzat dan sifat itu sudah terpisah
menjadi dua hal yang berlainan, yaitu dzat tuhan yang
tiada berawal dan permulaan.
Oleh karena itu Jabariyah tidak ingin memberikan
suatu sifat kepada tuhan. Tidak ingin memberikan sifat
Tuhan itu hidup, tidak ingin memberikan sifat tuhan itu
mengetahui (ilmun), serta mengatakan bahwa alasan tidak
mau memberikan sifat tuhan40.13
Paham Jabariyah ini ditentang oleh banyak ulama
Islam diantaranya adalah Hasan Basri dan Ibn Abas .
Jabariyah ini adalah suatu aliran yang dituduh didirikan
oleh orang yahudi karena merusak keyakinan orang Islam
dari dalam. Paham ini disebarkan oleh orang pada jaman
sahabat dan Bani Umayyah. Diantaranya yang
menyebarkan adalah Al Yudi bin dirham, yang membawa
dari orang orang Yahudi di Syam dan menyebarkan di
Basrah dibantu oleh Al Jahmi bin Shafwan dan oleh karena
itu aliran ini disebut aliran Jahmiyah. Ada yang mengatakan

8
bahwa Al Yudi bin Dirham mengambil pendapat ini dari
Iban bin Saman yang mempelajari hal itu dari seorang
yahudi bernama Thalud bin Asam (Syahrul Uyun, ulasan
dari Risalah Ibn Zaidun).14
Abu zahrah menerangkan bahwa pendapat ini
tersebar dalam masa sahabat Nabi karena Thalud pernah
mendapati pada jaman Nabi dan hidup dalam masa
sahabat dan Thabiin. ada kitab yang menerangkan bahwa
pendapat semacam ini tidak hanya timbul di kalangan
yahudi yang sengaja untuk meracuni atau merusak
keyakinan umat islam tetapi ada juga cara berpikir yang
semacam ini dalam penganut ajaran Zardusjt dan Manyu.
Al Jahmi bin shafwan adalah orang yang berasal dari Persia,
Churasan. Yang pada suatu saat dia mengalami kekalahan
dalam perang dan menjadi tawanan kemudian masuk
Islam, diangkat menjadi penulis Syuraih bin Haris.
Kemudian ia dibunuh karena kesesatannya oleh Muslim bin
Ahwasz Al-Mazani, pada akhir pemerintahan Bani Marwan.
15

Waktu hidup Bin Shafwan itu sangat giat meyiarkan


atau menyebarkan aliran ini di Churasan dan sekitarnya.
Sesudah dia mati para pengikutnya mengajarkan paham
tersebut di Nahwand. Penyebaran itu terus terjadi sampai
tersebar pula aliran yang dinamakan Mahzab abu Mansur
Al Maturidi yang mengalahkan Paham Jahmiyah itu.
Diantara pendapat para ulama itu aliran atau paham
Jabariyah ini yaitu Ibn Qayyim yang menerangkan bahwa
kitabnya SyifaulAlil bahwa paham Jabariyah ini sangat

11
Abul Hasan Ismail al-Asyari, Prinsip- Prinsip Dasar Aliran Theologi Islam
(Madalitul Islamiyah wa ikhtilaful Mushallin), (Bandung : Pustaka Setia, 1998,
alih bahasa Drs. H.A Nasir dan Drs. Karsidi). hlm 354
12
Ibid.,hlm 356
13
H. Abu Bakar Atjeh, Ilmu Ketuhanan, (Jakarta : Tintomas, 1966), hlm. 40
9
bertentangan dengan keterangan dari Nabi Muhammad
SAW .16

2.4 Latar belakang Qadariyah

Qadariyah mula-mula timbul sekitar tahun 70 H/ 689 M,


dipimpin oleh Mabad al-Juhni al-Bisri dan Jaad bin
Darham, pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin
Marwan (685-705).

Latar belakang timbulnya qodariyah ini sebagai isyarat


menentang kebijaksanaan politik bani umaiyyah yang
dianggap kejam. Apabila firqoh jabariyah berpendapat
bahwa kholifah bani umaiyah membunuh orang, hal itu
karena sudah ditakdirkan allah SWT. Demikian dan ini
bererti merupakan topeng kekejamannya, maka firqoh
qodariyah mau membatasi qadar tersebut. Mereka
mengatakan bahwa kalau Allah SWT. itu adil, maka allah
SWT akan menghukum orang yang salah dan memberi
pahala kepada orang yang berbuat baik. Manusia harus
bebas dalam menentukan nasibnya sendiri dengan memilih
perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Jika allah
SWT telah menentukan terlebih dahulu nasib manusia
maka allah SWT itu dholim. Karena itu manusia harus
merdeka memilih atau ikhtiar atas perbuatannya (khalikul
afal). Manusia harus mempunyai kebebasan berkehendak.
Orang yang berpendapat bahwa amal perbuatan dan nasip
manusia itu hanyalah bergantung kepada qodar Allah SWT
saja, selamat atas celaka seseorang itu telah ditentukan
oleh Allah SWT sebelumnya maka pendapat tersebut sesat.
Sebab pendapat tersebut berarti menentang keutamaan
________________________________

14
H. Abu Bakar Atjeh, Ilmu Ketuhanan, (Jakarta : Tintomas, 1966), hlm. 41
15
Ibid.,hlm.42
16
Ibid., hlm. 43

10
allah SWT dan berarti menganggapnya yang menjadi
sebab terjadinya kejahatan-kejahatan. Mustahil Allah SWT
melakukan kejahatan.17

Ajaran firqoh qodariyah segera mendapat pengikut yang


cukup sehingga kholifah mengambil tindakan dengan
alasan demi ketertiban umum. Mabad al-juhni dan
beberapa pengikutnya ditangkap dan dia sendiri dihukum
bunuh di Damaskus(80H) atau 690 M. Setelah peristiwa itu
maka pengaruh faham qodariyah semakin surut akan
tetapi dengan munculnya firqoh mutazilah sebetulnya
dapat diartikan sebagai penjelmaan kembali faham-faham
qodariyah. Sebab antara keduanya terdapat persamaan
filsafatnya yang selanjutnya disebut sebagai kaum
kodariyah mutazilah.12

Sebagian orang-orang qodariyah mengatakan bahwa


semua perbuatan manusia yang baik itu berasal dari Allah
SWT. Sedangkan perbuatan manusia yang jelek itu
manusia sendiri yang menciptakannya, tidak ada sangkut
pangkutnya dengan Allah SWT.

Mereka dikatakan Majusi, karena mereka beranggapan


adanya dua pencipta, yaitu pencipta kebaikan dan
keburukan. Hal ini sama persis dengan ajaran agama
Majusi atau Zeroaster yang mengatakan adanya dewa
terang, kebaikan, dan siang disebut Ahura Mazda dan dewa
keburukan, gelap dan malam, disebut Ahriman atau
Angramanyu..

117 Sahilin A. Nasir, pemikiran kalam(teologi islam), hlm.139

218 Ibid, hlm.140. Sahilin A. Nasir, pemikiran kalam(teologi islam), hlm.140

11
Mabad Al-Juhni adalah seorang Tabiin, pernah belajar
kepada Wasil bin Atho, pendiri Mutazilah. Dia dihukum
mati oleh Al-Hajaj, Gubernur Basrah, karena ajaran-
ajaranya.

Adapun Gailan ad-Damasyqi adalah penduduk kota


Damaskus, ayahnya seorang yang pernah bekerja pada
Khalifah Utsman bin Affan. Dia datang ke Damaskus pada
masa pemerintahan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik (105-
125 H). Gailan juga dihukum mati karena paham-
pahamnya.13

2.5 Doktrin-doktrin pokok Qadariyah


Dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal , pembahasan
masalah Qadariyah disatukan dengan pembahasan tentang
doktrin-doktrin Mutazilah, sehingga perbedaan antara
kedua aliran ini kurang begitu jelas. Ahmad Amin juga
menjelaskan bahwa doktrin qadar lebih luas di kupas oleh
kalangan Mutazilah sebab faham ini juga menjadikan salah
satu doktrin Mutazilah akibatnya, orang menamakan
Qadariyah dengan Mutazilah karena kedua aliran ini sama-
sama percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan
untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan tuhan.
Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghailan
tentang doktrin Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas
perbuatan-perbuatannya. Mansuia sendiri pula melakukan
atau menjauhi perbuatan atau kemampuan dan dayanya
sendiri. Salah seorang pemuka Qadariyah yang lain , An-
Nazzam , mengemukakan bahwa manusia hidup
mempunyai daya dan ia berkuasa atas segala
perbuatannya.14

31 Sahilin A. Nasir, pemikiran kalam(teologi islam), hlm.139

12
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat difahami
bahwa doktrin Qadariyah pada dasarnya menyatakan
bahwa segala tingkah laku manusia dilakuakn atas
kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan
untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya
sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Dalam
faham Qadariyah, takdir itu adalah ketentuan Allah yang
diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya,
sejak azali, yaitu hukum yang dalam istilah Al-Qur,an
adalah sunatullah.
Kaum Qadariyah berpendapat bahwa tidak ada
alasan yang tepat untuk menyandarkan segala perbuatan
manusia kepada perbuatan Tuhan. Doktrin-doktrin ini
mempunyai pijakan dalam Al-Quran, salah satunya surah
al-Kahfi[18] :29 Katakanlah, kebenaran dari Tuhamnu
barang siapa yang mau, berimanlah dia, dan barang siapa
yang ingin kafir, biarlah ia kafir.. dijelakan juga pada surah
Ar-Rad[13] : 11 Sesungguhnya Allah tiada mengubah
keadaan suatu kaum , kecuali jika mereka mengubah diri
mereka sendiri.15

2.6 Perkembangan Qadariyah


Aliran Qadariyah termasuk yang cukup cepat
berkembang dan mendapat dukungan cukup luas di
kalangan masyarakat, sebelum akhirnya pemimpinnya,
Mabad dan beberapa tokohnya, berhasil ditangkap dan
dihukum mati oleh penguasa Damsyiq pada tahun 80
H/699 M, karena menyebarkan ajaran sesat. Sejak
___________________________________

14
Rosihon Anwar, M.Ag , Ilmu Kalam, ( Bandung : CV Pustaka Setia, 2006),
hlm. 73
15
Ibid., hlm. 72
terbunuhnya pentolan Qadariyah tersebut, aliran

13
Qadariyah mulai pudar, sehingga akhirnya sirna dimakan
zaman dan kini tinggal sebuah nama yang tertulis di dalam
buku. Namun, sebagai pahamnya masih dianut oleh
sebagian orang.
Banyak sekali faidah yang dapat dipetik dari
pembicaraan seputar sejarah perpecahan umat. Berbagai
peristiwa yang terjadi di awal Islam tersebut sarat dengan
ibrah (pelajaran). Tentunya kami tidak mampu
menyuguhkan sejarah perpecahan itu secara terperinci,
akan tetapi ada beberapa point yang dapat kita jadikan
pelajaran. Sembari meluruskan beberapa persepsi keliru
sebagian orang sekitar masalah tersebut dewasa in.
Pertama.
Sumbu perpecahan yang pertama kali muncul
hanyalah berupa i'tiqad dan pemikiran yang tidak begitu
didengar dan diperhatikan. Yang pertama kali di dengar
oleh kaum muslimin dan para sahabat adalah aqidah
Saba'iyah yang merupakan cikal bakal aqidah Syi'ah dan
Khawarij. Itulah benih awal perpecahan yang ditaburkan di
tengah-tengah kaum muslimin. Aqidah ini disebarkan oleh
penganutnya secara terselubung nyaris tanpa suara. Orang
pertama yang memunculkan juga asing, nama dan
identitasnya tidak jelas. Orang menyebutnya Ibnu Sauda'
Abdullah bin Saba'. Ia mengacaukan barisan kaum
muslimin dengan aqidah sesat itu. Sehingga aqidah
tersebut diyakini kebenarannya oleh sejumlah kaum
munafikin, oknum-oknum yang merancang makar jahat
terhadap Islam, orang-orang jahil dan pemuda-pemuda
ingusan. Begitu pula sekelompok barisan sakit hati yang
negeri, agama dan kerajaan mereka telah ditundukkan oleh
kaum muslimin, yaitu orang-orang yang baru memeluk
Islam dari kalangan bangsa Parsi dan Arab Badui. Mereka
membenarkan hasutan-hasutan Ibnu Saba', membuat

14
makar tersembunyi atas kaum muslimin, hingga muncullah
cikal bakal Syi'ah dan Khawarij dari mereka.
Hal ini ditinjau dari sudut pandang aqidah dan
keyakinan sesat yang pertama kali muncul yang
menyelisihi asas Islam dan Sunnah.
Adapun kelompok sempalan yang pertama kali
muncul yang memisahkan diri dari imam kaum muslimin
adalah kelompok Khawarij. Benih-benih Khawarij ini
sebenarnya berasal dari aqidah Saba'iyah. Banyak orang
yang mengira keduanya berbeda, padahal sebenarnya cikal
bakal Khawarij berasal dari pemikiran kotor Saba'iyah.
Perlu diketahui bahwa Saba'iyah ini terpecah menjadi dua
kelompok utama : Khawarij dan Syi'ah.
Kendati antara keduanya terdapat perbedaan-
perbedaan yang mencolok, namun dasar-dasar
pemikirannya setali tiga uang. Baik Khawarij maupun
Syi'ah meuncul pada peristiwa fitnah atas diri Amirul
Mukminin Utsman bin Affan Radhiyallahu 'anhu. Fitnah
diprakarsai oleh Abdullah bin Saba' lewat ide, keyakinan
dan gerakannya. Dari situlah muncrat aqidah sesat, yaitu
aqidah Syi'ah dan Khawarij.
Perbedaan antara Khawarij dan Syi'ah direkayasa
sedemikian rupa oleh tokoh-tokohnya supaya dapat
memecah belah umat. Ibnu Saba' dan konco-konconya
menabur beragam benih untuk menyuburkan kelompok-
kelompok pengikut hawa nafsu itu. Kemudian membuat trik
seolah-olah antara kelompok-kelompok itu terjadi
permusuhan guna memecah belah umat sebagaimana
yang terjadi dewasa ini. Itulah yang diterapkan oleh
musuh-musuh Islam untuk mengadu domba kaum
muslimin, yakni dengan istilah yang mereka namakan blok
kanan dan blok kiri. Mereka mengkotak-kotakan kaum
muslimin menjadi berpartai-partai, partai sayap kanan dan

15
partai sayap kiri. Begitu berhasil melaksanakan program,
mereka munculkan babak permainan baru dengan istilah
sekularisme, fundamentalisme, modernisme, primitif,
ekstrimisme, radikalisme dan lain-lain. Semuanya adalah
permainan yang sama, dari sumber yang sama pula. Para
pencetusnya juga itu-itu juga demikian pula tujuannya,
hanya saja corak ragamnya berbeda-beda. Jadi secara
keseluruhan ini mencerminkan kuatnya kebatilan, kendati
satu sama lain saling bermusuhan.
Kedua.
Ada satu point penting yang perlu diperhatikan, yakni
dalam sejarah tidak kita temui para sahabat saling
berpecah belah satu sama lain. Yang terjadi diantara
mereka hanyalah perbedaan pendapat yang kadang kala
diselesaikan dengan ijma' (kesepakatan), atau salah satu
pihak tunduk kepada pendapat jama'ah serta tetap
komitment terhadap imam. Itulah yang terjadi dikalangan
sahabat. Tidak ada seorang sahabat-pun yang memisahkan
diri dari jama'ah. Tidak ada satupun diantara mereka yang
melontarkan ucapan bid'ah atau mengada-ada perkara
baru dalam agama. Sungguh, para sahabat merupakan
imam dalam agama yang mesti diteladani oleh kaum
muslimin. Tidak satupun dari kalangan sahabat yang
memecah dari jama'ah. Dan tak satupun ucapan mereka
yang menjadi sumber bid'ah dan sumber perpecahan.
Adapun beberapa ucapan dan kelompok sempalan yang
dinisbatkan oleh sejumlah oknum kepada para sahabat
adalah tidak benar! Hanyalah dusta dan kebohongan besar
yang mereka tujukan terhadap para sahabat. Sangat keliru
bila Ali bin Abi Thalib disebut sebagai sumber Syi'ah, Abu
Dzar Al-Ghifari sebagai sumber sosialisme, para sahabat
Ahlus Suffah sebagai cikal bakal kaum sufi, Mua'wiyah

16
diklaim sebagai sumber Jabariyah, Abu Darda' dituduh
sebagai sumber Qadariyah, atau sahabat lain menjadi
sumber pemikiran sesat ini dan itu, mengada-adakan
bid'ah dan perkara baru, atau punya pendirian yang
menyempal! Jelas itu semua merupakan kebatilan murni!
Iftiraq (perpecahan) itu sendiri mulai terjadi setelah
Utsman bin Affan Radhiyallahu 'anhu terbunuh. Pada masa
kekhalifahan Utsman, belum terjadi perpecahan yang
serius. Namun ketika meletus fitnah di antara kaum
muslimin pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib,
barulah muncul kelompok Khawarij dan Syi'ah. Sementara
pada masa kekhalifahan Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu dan
Umar Radhiyallahu 'anhu, bahkan pada masa kekhalifahan
Utsman Radhiyallahu 'anhu, belum terjadi sama sekali
perpecahan yang sebenarnya. Selanjutnya, para sahabat
justru melakukan penentangan terhadap perpecahan yang
timbul. Janganlah dikira para sahabat mengabaikan atau
tidak tahu menahu tentang fenomena negatif ini. Dan
jangan pula disangka mereka kurang tanggap terhadap
masalah perpecahan ini, baik seputar masalah pemikiran,
keyakinan, pendirian maupun perbuatan. Bahkan mereka
tampil terdepan menentang perpecahan dengan gigih.
Mereka telah teruji dengan baik dalam sepak terjang
menghadapi perpecahan tersebut dengan segala tekad
dan kekuatan. Akan tetapi ketentuan Allah pasti terjadi. 16

17
BAB 3

PENUTUP

3.1 SIMPULAN

Pada BAB II telah dipaparkan penjelasan tentang


Berdasarkan pembahasan tersebut dikemukakan
simpulan sebagai berikut.
1. Firqoh Jabariyah timbul bersamaan dengan
timbulnya firqoh Qodariyah, dan tampaknya
merupakan reaksi dari padanya. Daerah tempat
timbulnya juga tidak berjauhan. Qodariyah timbul

_______________________________

16
Hendrayana Taufik, Qadariah,http://www.x3-
prima.com/2009/09/qadariyah.html, diakses pada tahun 2013

18
di Irak, sedangkan Jabariyah timbul di Khurasan
Persia.
2. Menurut Jabariyah, segala yang dialami manusia
terkait qadha dan qadar, baik masa lalu maupun
masa depan, baik musibah atau keberuntungan,
telah ditentukan oleh Allah. Hanya Allah yang
berkehendak dan menentukan tindak tantuk
kehidupan manusia serta kelangsungnnya di muka
bumi.
3. Kaum Qadariyah berpendapat bahwa tidak ada
alasan yang tepat untuk menyandarkan segala
perbuatan manusia kepada perbuatan Tuhan.
4. Dalam perkembangnnya, aliran ini pecah menjadi
Jahmiyah, Dhirariah dan Najjariah atau dalam
buku yang lain disebut Husainiah.
5. Aliran Qadariyah termasuk yang cukup cepat
berkembang dan mendapat dukungan cukup luas
di kalangan masyarakat, sebelum akhirnya
pemimpinnya, Mabad dan beberapa tokohnya,
berhasil ditangkap dan dihukum mati oleh
penguasa Damsyiq pada tahun 80 H/699 M,
karena menyebarkan ajaran sesat

3.2 SARAN

Berdasarkan simpulan diatas, ada beberapa saran


yang yang perlu disampaikan yaitu.

1. Umat Islam seharusnya lebih peka terhadap


persoalan yang menyangkut aqidah, dan tidak
seharusnya langsung menvonis bahwa suatu
aliran sesat sebelum mengetahui asal-usul dan
ajarannya.

19
2. Umat Islam seharusnya tidak terpecah belah
dengan banyaknya aliran-aliran yang satu sama
lain saling menganggap sesat.

20