Anda di halaman 1dari 9

Idea Nursing Journal Vol. VII No.

1 2016
ISSN : 2087-2879

HUBUNGAN FUNGSI MANAJEMEN KEPALA RUANG DENGAN


PENERAPAN PATIENT SAFETY CULTURE DI RUMAH SAKIT UMUM
DR. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH

Anwar1,Kintoko R Rochadi2,Wardiyah Daulay3,Yuswardi4


E-mail: anwarbusyra@yahoo.com
1
Master of Nursing Program, Faculty of Nursing, University of Sumatera Utara
2
Senior Lecturer at Faculty of Public Health, University of Sumatera Utara
3
Lecturer at Department of Nursing Mental, Faculty of Nursing, University of Sumatera Utara
4
Lecturer at Faculty of Nursing , Syiah Kuala University

ABSTRAK
Langkah awal yang harus dilakukan oleh rumah sakit untuk memperbaiki mutu pelayanan terkait
keselamatan pasien adalah dengan menerapkan patient safety culture. Manajemen fungsi kepala ruang
merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam keberhasilan program patient safety culture.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan fungsi manajemen kepala ruang dengan penerapan
patient safety culture oleh perawat pelaksana di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin
Banda Aceh. Penelitian berbentuk kuantitatif dengan desain cross- sectional. Penelitian dilaksanakan
di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh terhadap 75 orang
perawat pelaksana (simple random sampling). Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner
checklist dengan menyebarkan angket, analisis hubungan fungsi manajemen kepala ruang dengan
penerapan patient safety culture menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan ada
hubungan bermakna antara fungsi manajemen kepala ruang pada perencanaan, pengorganisasian,
pengaturan staf, dan pengendalian dengan penerapan patient safety culture. Tidak ada hubungan yang
signifikan antara fungsi pengarahan kepala ruang dengan penerapan patient safety culture. Kepala
ruang perlu untuk selalu meningkatkan fungsi pengarahan dan pengendalian dalam upaya
membudayakan patient safety sehingga akan terciptanya kualitas keselamatan pasien.
Kata Kunci : manajemen fungsi kepala ruang, patient safety culture, perawat

ABSTRACT
The first thing that has to be done by hospitals in order to improve the service quality related to
patient safety is to implement patient safety culture. Managerial function of head nurse is one of the
essensial factors that play a role in the success of patient safety culture program.The objective of the
research was to find out the correlation of head nurse management function with the implementation of patient
safety culture by associate nurses at dr. Zainoel Abidin Regional General Hospital Banda Aceh. The research
used quantitative method with cross sectional design. It was conducted at dr. Zainoel Abidin Regional
General Hospital Banda Aceh on 75 associate nurses (simple random sampling). Method of data
collection using a questionnaire checklist with distribution questionnaires, analysis of the correlation
between the head nurse management function with the implementation of patient safety culture with chi square
test. The result of research shown there was significant correlation between head nurse management
functions on planning, organizing, staffing, and controlling the application of patient safety culture.
There was not any significant correlation between the direction of head nurse with the implementation
of patient safety culture. It was recommended that the head nurse improve the function of directing
and controlling all the time in order to entrench patient safety for a quality patient safety.
Keywords : managerial function of head nurses, patient safety culture, nurses

26
Idea Nursing Journal Vol. VII No. 1 2016

PENDAHULUAN keyakinan, dimana nilai mengacu pada sesuatu


Keselamatan pasien telah menjadi isu yang diyakini oleh anggota organisasi untuk
global yang sedang hangat dibahas di seluruh mengetahui apa yang benar dan apa yang
negara. Adanya kekhawatiran mengenai salah, sedangkan keyakinan mengacu pada
keselamatan pasien, telah meningkat secara sikap tentang cara bagaimana seharusnya
signifikan selama dekade terakhir (Silverstone, bekerja dalam organisasi. Dengan adanya nilai
2013), sehingga organisasi kesehatan dunia dan keyakinan yang berkaitan dengan
(WHO) tahun 2011 mengembangkan dan keselamatan pasien yang ditanamkan pada
mempublikasikan Kurikulum Panduan setiap anggota organisasi, maka setiap anggota
Keselamatan Pasien (Patient Safety akan mengetahui apa yang seharusnya
Curriculum Guide), yang menyoroti dilakukan dalam penerapan keselamatan
kebutuhan di seluruh dunia, untuk pasien. Dengan demikian, perilaku tersebut
meningkatkan keselamatan pasien dan untuk pada akhirnya menjadi suatu budaya yang
mengajarkan keterampilan yang berorientasi tertanam dalam setiap anggota organisasi
pada keselamatan pasien (Tingle, 2011). berupa perilaku patient safety culture.
Kesalahan medis dan efek samping Langkah awal yang harus dilakukan
telah menjadi perhatian serius dalam beberapa oleh rumah sakit untuk memperbaiki mutu
tahun terakhir bagi pembuat kebijakan pelayanan terkait keselamatan pasien adalah
kesehatan dan penyedia layanan kesehatan dengan menerapkan patient safety culture.
dunia. Menurut statistik tahunan, di Amerika Komitmen pemimpin akan keselamatan
Serikat saja sekitar 98.000 kasus kematian merupakan hal pertama yang harus
pasien dilaporkan karena kesalahan medis diperhatikan dalam menerapkan patient safety
(Castle, 2006). Program pengamatan lima culture (Singer, 2005). Pemimpin yang efektif
tahun yang dilaksanakan oleh Baldo et al. dalam menanamkan budaya yang jelas,
(2002) mengungkapkan bahwa perawat mendukung usaha staf, dan tidak bersifat
bertanggung jawab untuk 78% dari efek menghukum sangat dibutuhkan dalam
samping. Selain itu penelitian juga menciptakan patient safety culture yang kuat
membuktikan bahwa kematian akibat cidera dan menurunkan KTD. Aspek kepemimpinan
medis 50% diantaranya sebenarnya dapat yang dimaksud di sini adalah kepemimpinan
dicegah (Cahyono, 2012). Laporan yang pada tingkat dasar, seperti kepala ruangan atau
diterbitkan oleh Institut of Mediciene (IOM) kepala unit. Hal ini dikarenakan keselamatan
Amerika Serikat tahun 2000 tentang To Err is pasien dipengaruhi oleh kebiasaan staf atau
Human, Building to Safer Health System error yang terjadi (WHO, 2009).
terungkap bahwa rumah sakit di Utah dan Patient safety culture harus dimulai
Colorado ditemukan KTD (Kejadian Tidak dari pemimpin, hal ini sejalan seperti yang
Diharapkan) sebesar 2,9% dan 6,6% diungkapkan oleh National Quality Forum
diantaranya meninggal, sedangkan di New (NQF), 2006 yaitu peran pemimpin senior
York ditemukan 3,7% KTD dan 13,6% merupakan elemen kunci untuk merancang,
diantaranya meninggal. Lebih lanjut, angka mereboisasi, dan memelihara budaya
kematian akibat KTD pada pasien rawat inap keselamatan, kepemimpinan sebagai subkultur
di Amerika Serikat berjumlah 33,6 juta per penting. Cara ini telah dicontohkan oleh
tahun berkisar 44.000 jiwa sampai 98.000 National Quality Forum (NQF) dengan
jiwa. Depkes, (2006) menyebutkan bahwa meningkatkan keselamatan pasien dengan
pada tahun 2004 WHO mempublikasikan menciptakan budaya keselamatan" dengan
KTD rumah sakit di berbagai negara yaitu berfokus pada struktur kepemimpinan dan
Amerika, Inggris, Denmark dan Australia sistem.
terjadi dengan rentang 3,2 -16,6%. Kepala ruang merupakan manajer
Upaya yang sangat penting untuk keperawatan yang langsung berhubungan
dilakukan dalam meningkatkan keselamatan dengan kegiatan pelayanan kesehatan pada
pasien adalah menciptakan patient safety pasien. Kepala ruang sebagai lower manager
culture. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dalam keperawatan harus mampu menjalankan
diungkapkan oleh Sashkein & Kisher, dalam fungsi manajemen sehingga tujuan organisasi
Tika (2006) bahwa budaya (culture) dapat tercapai. Manajemen keperawatan
mengandung dua komponen yaitu nilai dan merupakan rangkaian fungsi dan aktivitas
yang secara simultan saling berhubungan

27
Idea Nursing Journal Vol. VII No. 1 2016

dalam menyelesaikan pekerjaan melalui melakukan pelaporan insiden keselamatan


anggota staf keperawatan untuk meningkatkan pasien sebagaimana mestinya, hal ini
efektifitas dan efisiensi pelayanan keperawatan disebabkan oleh rasa malu dan takut
yang berkualitas (Gillies, 1996; Marquis & disalahkan, takut diberikan sanksi tertentu atau
Huston, 2015). Kualitas pemberian asuhan dikucilkan oleh atasan, perawat dan profesi
keperawatan bagi pasien dapat dilihat dari lain. Hambatan lainnya yaitu belum
pemberian asuhan keperawatan yang aman. optimalnya supervisi dan promosi keselamatan
Tujuan pelayanan keperawatan yang pasien baik oleh kepala ruang maupun oleh
berkualitas dapat tercapai apabila manajer Komite Mutu dan Keselamatan Pasien.
keperawatan mampu melaksanakan fungsi Sedangkan Hand over, kerjasama dalam unit
manajemen dengan baik. dan antar unit dinilai sudah berjalan dengan
Berdasarkan wawancara dengan staf baik.
sekretariat Komite Mutu dan Keselamatan
Pasien (KMKP) RSUD dr. Zainoel Abidin METODE PENELITIAN
Banda Aceh pada tanggal 7 September 2015 Penelitian ini menggunakan jenis
diperoleh data bahwa terdapat angka pelaporan penelitian non-eksperimental, dengan
kejadian keselamatan pasien oleh perawat
pendekatan kuantitatif dengan metode
sebanyak 20 insiden keselamatan pasien yang
dilaporkan sejak Januari Agustus 2015 deskriptif korelasi. Populasi penelitian
dengan rincian sebanyak 6 laporan terjadi adalah perawat pelaksana di Ruang Rawat
kesalahan pada cara pemberian obat yaitu Inap Rumah Sakit Umum Daerah dr.
dosis obat, jenis dan waktu pemberian, 1 Zainoel Abidin Banda Aceh sebanyak 75
laporan kesalahan dalam melakukan tindakan perawat. Pengambilan data dilakukan
operasi, 3 laporan infeksi nasokomial pasien dengan menggunakan kuesioner. Analisa
post operasi, 4 laporan kesalahan dalam data menggunakan analisa univariat,
mengidentifikasi pasien dalam pemberian bivariate dengan uji Chi Square.
tindakan medis, 2 laporan pasien jatuh dan 4
laporan terjadi karena kesalahan komunikasi HASIL PENELITIAN
saat hand over antar unit. Dari 20 laporan
tersebut, baru satu laporan yang dilakukan Data Demografi
root cause analysis (RCA). Hambatan dalam
pelaksanaan patient safety culture yaitu masih Hasil penelitian menunjukkan bahwa
banyak dijumpai tindakan menyalahkan usia perawat pelaksana paling banyak berada
terhadap perawat yang melakukan kesalahan dalam kategori dewasa awal, yaitu 18- 40
dan dukungan manajemen terhadap tahun dengan rata- rata umur 30, 52 tahun
keselamatan pasien yang dinilai belum dengan jenis kelamin didominasi oleh
optimal, hal ini terkait dengan minimnya perempuan dibandingkan laki- laki. Lama
pelatihan keselamatan pasien yang diberikan bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah dr.
terhadap kepala ruang dan perawat pelaksana. Zainoel Abidin Banda Aceh terbesar
Wawancara yang peneliti lakukan jumlahnya adalah 5 tahun dengan rata- rata
dengan salah seorang case manager, lama kerja sebesar 5,57 tahun dengan tingkat
sebelumnya yang bersangkutan menjabat pendidikan rata- rata diploma III Keperawatan.
sebagai kepala ruang, diperoleh data bahwa Perawat pelaksana yang pernah mengikuti
pada Juni 2015 terjadi perombakan struktur training keselamatan pasien lebih banyak
organisasi diruang rawat inap, rata- rata kepala dibandingkan dengan perawat yang belum
ruang rawat inap dijadikan sebagai case pernah mengikutinya.
manager, dan kepala ruang yang berganti
jabatan tersebut digantikan oleh wakil kepala Tabel 4.1
ruang atau perawat yang lain, sehingga mutasi Distribusi Frekuensi Karakteristik Perawat
ini membutuhkan proses adaptasi bagi kepala Pelaksana di Rumah Sakit Umum Daerah dr.
ruang yang baru dalam menerapkan fungsi Zainoel Abidin Banda Aceh (n=75)
manajemennya terhadap penerapan patient
safety culture. Wawancara lain yang peneliti
lakukan terhadap dua orang perawat pelaksana Karakteristik
No f %
didapatkan hasil serupa bahwa perawat belum Perawat Pelaksana

28
Idea Nursing Journal Vol. VII No. 1 2016

1. Usia : Kepala Ruang


Dewasa Awal (18 72 96 a. Baik 9 92
40 tahun) b. Kurang 6 8
Dewasa Madya (41 3 4 2 Fungsi perencanaan
60 tahun) c. Baik 8 90,7
Dewasa Lanjut (> 60 0 0 d. Kurang 7 9,3
tahun) 3 Fungsi
2. Jenis kelamin pengorganisasian
Laki- Laki 18 24,0 a. Baik 60 80,0
Perempuan 57 76,0 b. Kurang 15 20,0
3. Masa kerja 4 Fungsi pengaturan
5 tahun 43 57,3 staf
6- 10 tahun 23 30,7 a. Baik 65 86,7
> 10 tahun 9 12,0 b. Kurang 10 13,3
4. Pendidikan 5 Fungsi pengarahan
SPK 0 0 a. Baik 70 93,3
Diploma III Kep 39 52 b. Kurang 5 6,7
S1 Keperawatan 10 13,3 6 Fungsi Pengendalian
Ners 26 34,7 a. Baik 65 86,7
S2 Keperawatan 0 0 b. Kurang 10 13,3
Pernah Mengikuti Total 75 100
5. Training
Keselamatan Pasien
Pernah 42 56,0 Penerapan Patient Safety Culture
Tidak Pernah 33 44,0 Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat
Total 75 100 yang mempersepsikan penerapan patient safety
culture kurang lebih rendah dibandingkan
Fungsi Manajemen Kepala Ruang perawat yang mempersepsikan penerapan
patient safety culture baik yaitu sebesar 28%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
variabel fungsi manajemen kepala ruang Tabel 3
dipersepsikan baik oleh 92% responden. Gambaran penerapan patient safety culture di
Manajemen fungsi kepala ruang mempunyai Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel
sub- sub variabel yang terdiri dari lima Abidin Banda Aceh (n=75)
variabel meliputi fungsi perencanaan, Penerapan
pengorganisasian, pengaturan staf, No Patient Safety f %
pengarahan, dan pengendalian. Perawat yang Culture
memiliki persepsi baik terhadap fungsi a. Baik 5 72
perencanaan kepala ruang sebanyak 90,7%. 4
Fungsi pengorganisasian dipersepsikan baik b. Kurang 21 28
sebesar 80%, fungsi pengaturan staf baik Total 75 100
sebanyak 86,7% perawat, sebanyak 93,3%
perawat mempersepsikan baik terhadap fungsi
Hubungan Fungsi Manajemen Kepala
pengarahan kepala ruang dan 86% perawat
Ruang Dengan Penerapan Patient Safety
menilai baik fungsi pengendalian kepala
Culture
ruang. Hasil uji Chi Square didapatkan bahwa nilai p-
value < 0,05 yaitu 0,000 sehingga dapat ditarik
Tabel 2 kesimpulan bahwa ada hubungan yang sangat
Gambaran fungsi manajemen kepala ruang di signifikan antara fungsi manajemen kepala
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel ruang dengan penerapan patient safety culture
Abidin Banda Aceh (n=75) di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel
Abidin Banda Aceh. Berikut ini dijelaskan
No Variabel f % hasil penelitian tentang hubungan fungsi
1 Fungsi Manajemen manajemen kepala ruang yang terdiri dari

29
Idea Nursing Journal Vol. VII No. 1 2016

perencanaan, pengorganisasian, pengaturan Dari hasil penelitian, perawat yang


staf, pengarahan, dan pengendalian dengan mempersepsikan penerapan patient safety
penerapan patient safety culture. culture baik lebih banyak dari perawat yang
mempersepsikan penerapan patient safety
Hasil nilai statistik dengan uji chi culture kurang yaitu sebesar 72%. Hasil ini
square menunjukkan nilai p-value < 0,05, sesuai dengan penelitian Dewi (2011) yang
yaitu 0,002 yang berarti bahwa ada hubungan menunjukkan persentase perawat perawat
yang signifikan antara perencanaan dengan pelaksana dalam menerapkan keselamatan
penerapan patient safety culture. Pada pasien lebih banyak yang mempersepsikan
hubungan antara fungsi pengorganisasian baik dibanding dengan perawat yang
dengan penerapan patient safety culture mempersepsikan kurang.
didapatkan nilai p- value 0,023 sehingga dapat Hasil penelitian yang menunjukkan
diartikan bahwa ada hubungan yang signifikan gambaran perawat pelaksana dalam
antara keduanya. Pada uji hubungan antara menerapkan patient safety culture ini perlu
fungsi pengaturan staf dengan penerapan mendapatkan perhatian serius dari pihak
patient safety culture menunjukkan hasil p- manajemen rumah sakit. Meskipun persentase
value sebesar 0,025 sehingga disimpulkan juga perawat yang mempersepsikan dirinya
mempunyai hubungan yang signifikan. menerapkan patient safety culture secara baik
Sedangkan pada fungsi pengarahan tidak ada lebih tinggi daripada perawat yang
hubungan yang signifikan dengan penerapan mempersepsikan dirinya kurang dalam
patient safety culture dimana hasil yang menerapkan patient safety culture, namun
didapatkan yaitu 0,130. Uji statistik pada masih ada 28% yang menilai dirinya
fungsi pengendalian didapatkan hasil p- value menerapkan patient safety culture kurang.
sebesar 0,000 sehingga dapat diambil Asumsi peneliti jumlah ini relatif banyak, hal
kesimpulan bahwa ada hubungan yang sangat ini menandakan bahwa belum seluruh perawat
signifikan antara fungsi pengendalian kepala pelaksana menerapkan patient safety culture
ruang dengan penerapan patient safety culture. dengan baik.

PEMBAHASAN Hubungan Fungsi Manajemen dengan


Gambaran Fungsi Manajemen Kepala Penerapan Patient Safety Culture
Ruang Dari penelitian ini, didapatkan hasil
Hasil penelitian mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna
bahwa perawat lebih banyak mempersepsikan antara fungsi manajemen kepala ruang dengan
kepala ruang telah menjalankan fungsi penerapan patient safety culture (p value=
manajemen dengan baik. Hal ini merupakan 0,000). Hasil penelitian ini sesuai dengan
modal positif bagi kepala ruang dalam pendapat Handiyani (2003) yang menyatakan
memimpin dan menggerakkan perawat bahwa adanya hubungan yang bermakna
pelaksana untuk senantiasa memberikan antara peran dan fungsi manajemen dengan
asuhan keperawatan yang menjamin faktor keberhasilan pengendalian infeksi
keselamatan pasien. Sejalan dengan penelitian nosokomial dengan presentase fungsi
Dewi (2011) yang menyatakan bahwa lebih pengarahan mencapai 90,45 % (baik).
banyak perawat yang mempersepsikan fungsi Nivalinda dkk (2013) juga
manajemen kepala ruang baik di banding menyatakan bahwa kepala ruang dapat
perawat yang mempersepsikan kurang. mempengaruhi strategi dan upaya
Selain itu, Mustofa (2008) menyatakan menggerakkan perawat dalam lingkup
bahwa sikap dan kepribadian perawat akan wewenangnya untuk bersama- sama
menentukan kinerjanya. Pendapat lain Burns menerapkan budaya keselamatan pasien.
(2009) menyatakan kepala ruang sebagai Sejalan dengan pendapat Anugrahini (2010)
manajer lini harus memahami perilaku orang- yang menyatakan ada hubungan bermakna
orang tertentu agar dapat mempengaruhinya antara kepemimpinan kepala ruang dengan
untuk bekerja sesuai dengan yang diinginkan kepatuhan perawat dalam menerapkan
rumah sakit. pedoman patient safety di RSAB Harapan Kita
Gambaran Penerapan Patient Safety Jakarta. Pendapat ini dikuatkan oleh
Culture Perwitasari (2013) yang menyatakan bahwa
ada hubungan kepemimpinan dengan

30
Idea Nursing Journal Vol. VII No. 1 2016

penerapan budaya patient safety di Instalasi Hubungan Fungsi Pengaturan Staf dengan
Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Penerapan Patient Safety Culture
Panembahan Senopati Bantul, kepemimpinan
berkontribusi terhadap budaya patient safety di Hasil penelitian menunjukkan
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum hubungan yang bermakna antara fungsi
Daerah Panembahan Senopati Bantul sebesar pengaturan staf kepala ruang dengan
22,9%. Hasil penelitian Pratiwi (2014) juga penerapan patient safety culture (p value=
mengungkapkan bahwa kepemimpinan efektif 0,025). Hasil ini sesuai dengan pendapat
kepala ruang tergolong tinggi dalam penerapan Aiken, et al. (2002) yang menyebutkan bahwa
budaya keselamatan pasien. terdapat hubungan langsung antara staffing
perawat dan dampaknya terhadap keselamatan
Hubungan fungsi perencanaan dengan pasien, hasil, dan kepuasan perawat
penerapan patient safety culture profesional di rumah sakit. Hasil penelitian
Hasil penelitian menunjukkan adanya Dewi (2011) juga mengungkapkan hal yang
hubungan yang bermakna antara fungsi sama bahwa terdapat hubungan yang
perencanaan dengan penerapan patient safety signifikan antara pengaturan staf dengan
culture (p value= 0,002). Hal ini sesuai dengan penerapan keselamatan pasien (p=0,008;
penelitian Dewi (2011) yang menunjukkan 0,05). Disamping itu, Gotlieb (2003)
bahwa ada hubungan fungsi perencanaan berpendapat bahwa jam kerja perawat yang
dengan penerapan keselamatan pasien, sejalan panjang dapat menimbulkan kelelahan,
dengan penelitian Fenny (2007) yang menurunkan produktivitas dan meningkatkan
menyatakan bahwa ada hubungan antara resiko terjadinya kesalahan yang dapat
perencanaan dengan kinerja perawat membahayakan pasien.
pelaksana. Namun berbeda dengan hasil yang
didapatkan dari penelitian Ratnasih (2001)
yang mengemukakan bahwa tidak ada Hubungan fungsi pengarahan dengan
hubungan antara fungsi perencanaan kepala penerapan patient safety culture
ruang dengan kinerja perawat pelaksana. Pada
penelitian Ratnasih kualitas kinerja perawat Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pelaksana tidak dipengaruhi oleh kemampuan tidak ada hubungan yang bermakna antara
kepala ruang dalam melaksanakan fungsi fungsi pengarahan kepala ruang dengan
perencanaan. Warsito (2006) juga penerapan patient safety culture (p value=
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan 0,130). Yahya (2006) menyebutkan bahwa
antara persepsi perawat pelaksana tentang komunikasi merupakan salah satu bentuk
fungsi perencanaan kepala ruang dengan fungsi pengarahan dalam fungsi manajemen
pelaksanaan manajemen asuhan keperawatan keperawatan. Hasil penelitian ini sesuai
di ruang rawat inap RSJD Dr. Amino dengan penelitian Mulyadi (2005) yang
Gondohutomo Semarang. menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan
antara komunikasi dengan kinerja perawat
Hubungan Fungsi Pengorganisasian dengan pelaksana dalam mengendalikan mutu
Penerapan Patient Safety Culture pelayanan keperawatan di ruang rawat inap
RSKM Cilegon. Handiyani (2003) semakin
Hasil penelitian menunjukkan adanya memperkuat hasil penelitian dengan
hubungan yang bermakna antara fungsi mengatakan bahwa tidak terdapat hubungan
pengorganisasian dengan penerapan patient bermakna antara peran informasional kepala
safety culture (p value= 0,023). Makinen, ruang dengan keberhasilan kegiatan upaya
Kivimaki, Elovainio, Virtanen dan Bond pengendalian infeksi nasokomial di RSUPN
(2003) menyatakan bahwa fungsi Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.
pengorganisasian merupakan faktor yang Wardhani (2013) juga menegaskan
berpengaruh dengan kepuasan kerja perawat di bahwa hasil uji hubungan antara komunikasi
beberapa rumah sakit Finlandia. Maryam dengan penerapan budaya keselamatan pasien
(2009) mengungkapkan bahwa terdapat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan
hubungan antara penerapan patient safety antara komunikasi yang dimiliki oleh kepala
dengan kepuasan perawat pelaksana. ruangan dengan penerapan budaya
keselamatan pasien (p=0,532, p>0,05).

31
Idea Nursing Journal Vol. VII No. 1 2016

Penelian lain oleh Hidayati (2015) juga dikerjakan dengan baik dapat menjamin segala
mengungkapkan bahwa pengaruh motivasi sesuatu dilaksanakan sesuai instruksi yang
perawat dan bidan secara parsial tidak telah diberikan serta prinsip- prinsip yang telah
signifikan terhadap penerapan budaya patient diberlakukan. Hal ini semakin diperkuat oleh
safety di RSIA Aisyiyah Klaten. Dewi (2011) yang menyatakan bahwa hasil
Hasil penelitian berbeda diungkapkan penelitiannya menunjukkan adanya hubungan
oleh Warouw (2009) yang menunjukkan yang bermakna antara fungsi pengendalian
bahwa motivasi yang diberikan oleh kepala dengan penerapan keselamatan pasien
ruang memiliki hubungan dengan kinerja (p=0,008; 0,05). Berbeda dengan hasil
perawat pelaksana. Senada dengan pendapat penelitian Warsito (2006) yang
tersebut, Dewi (2011) juga menyatakan mengemukakan bahwa tidak ada hubungan
terdapat hubungan yang bermakna antara antara persepsi perawat pelaksana tentang
fungsi pengarahan kepala ruang dengan fungsi pengendalian kepala ruang dengan
penerapan keselamatan pasien (p=0,008; pelaksanaan manajemen asuhan keperawatan
0,05). Penelitian Marpaung (2005) turut di ruang rawat inap RSJD Dr. Amino
menegaskan pendapat tersebut yang Gondohutomo Semarang.
menyatakan bahwa terdapat hubungan
bermakna antara komunikasi kepala ruang SIMPULAN DAN SARAN
dengan budaya kerja perawat pelaksana (p
Simpulan
value < 0,05).
Mayoritas perawat mempersepsikan
Dari paparan diatas, terdapat pendapat baik terhadap fungsi manajemen yang
yang mendukung dan bertolak belakang dilakukan oleh kepala ruang terhadap fungsi
dengan hasil penelitian sehingga dapat ditarik
perencanaan, pengorganisasian, pengaturan
kesimpulan bahwa tingginya persepsi baik
staf, pengarahan, dan pengendalian. Gambaran
oleh perawat pelaksana terhadap fungsi
perawat pelaksana yang mempersepsikan baik
pengarahan kepala ruang bisa saja dalam menerapkan patient safety culture lebih
memberikan hasil uji hubungan yang tinggi persentasenya dibandingkan dengan
berbanding terbalik yaitu tidak berhubungan perawat yang mempersepsikan kurang.
secara signifikan antara fungsi pengarahan Hasil analisa uji statistik penelitian
kepala ruang dengan penerapan patient safety menemukan bahwa antara fungsi manajemen
culure. Peneliti berasumsi bahwa persepsi
kepala ruang dengan penerapan patient safety
perawat terhadap fungsi pengarahan tidak
culture menunjukkan ada hubungan yang
semata- mata karena pengarahan yang bermakna pada fungsi perencanaan,
diberikan oleh kepala ruang, namun ada pengorganisasian, pengaturan staf dan
faktor- faktor lain yang memberikan pengaruh pengendalian, sedangkan hasil analisa statistik
seperti kecakapan individu perawat itu sendiri, pada fungsi pengarahan menunjukkan tidak
pengalaman kerja, dan kesadaran diri perawat ada hubungan yang bermakna. Secara umum,
terhadap peran dan tanggung jawabnya dalam
penelitian ini menunjukkan hasil bahwa
upaya keselamatan pasien. Pelatihan terdapat hubungan yang signifikan antara
keselamatan pasien juga memberikan fungsi manajemen kepala ruang dengan
pengaruh terhadap persepsi perawat dalam penerapan patient safety culture.
membangun kesadaran diri untuk selalu
mengedepankan keselamatan pasien.
Saran
Hasil penelitian ini dapat dijadikan
Hubungan fungsi pengendalian dengan bahan pengembangan keilmuan dalam
penerapan patient safety culture administrasi keperawatan, meningkatkan
keilmuan tentang peran perawat dalam
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan program penerapan patient safety
terdapat hubungan yang sangat bermakna culture. Patient safety culture supaya dapat
antara fungsi pengendalian kepala ruang dimasukkan menjadi bagian kurikulum
dengan penerapan patient safety culture (p administrasi keperawatan atau pada
value= 0,000). Hasil penelitian ini sesuai manajemen keperawatan. Kepada manajemen
dengan pendapat Notoatmodjo (2003) yang Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel
menyatakan bahwa pengendalian yang Abidin Banda Aceh diharapkan agar

32
Idea Nursing Journal Vol. VII No. 1 2016

menggerakkan seluruh kepala ruang untuk Leadership mechanisms Practice


lebih meningkatkan fungsi pengarahan dan Nursing, Vol 20, No 12.
pengendalian dalam upaya membudayakan Cahyono, J. B & Suhardjo B. (2012).
patient safety culture sehingga akan Membangun budaya keselamatan
terciptanya keselamatan pasien yang akhirnya pasien dalam praktek kedokteran.
dapat menjamin mutu pelayanan asuhan Yogyakarta: Kanisius.
keperawatan. Castle, N. G. (2006). Nurse aides ratings of
Perawat pelaksana diharapkan untuk the resident safety culture in nursing
melakukan asuhan keperawatan yang aman homes. Int J Qual Health C,
bagi pasien, meningkatkan pengetahuan 18(5):370-76.
tentang keselamatan pasien melalui pelatihan Depkes RI. 2006). Utamakan keselamatan
dan mengupayakan untuk meningkatkan pasien. Diakses tanggal 2 februari
pendidikan keperawatan berlanjut serta 2014, dari: http://rsbt.or.id.
membudayakan patient safety di unit ruang Dewi, S. C. (2011). Hubungan fungsi
rawat masing- masing. Peneliti juga manajemen kepala ruang dan
menyarankan kepada peneliti selanjutnya karakteristik perawat dengan
supaya hasil penelitian ini dapat digunakan penerapan keselamatan pasien di
sebagai data awal untuk penelitian berikutnya IRNA I RSUP dr. Sardjito
tentang patient safety culture dengan sampel Yogyakarta. Tesis. FIK UI.
yang lebih besar dan dengan menggunakan Fenny, Y. A. (2007). Hubungan persepsi
tehnik observasi. Penelitian berikutnya supaya perawat tentang perencanaan jangka
dapat meneliti secara lebih spesifik dengan pendek kepala ruangan dengan kinerja
mengambil salah satu dari komponen fungsi perawat pelaksana di ruangan rawat
manajemen yang terdiri dari perencanaan, inap RSUP Fatmawati Jakarta.
pengorganisasian, pengaturan staf, Jakarta: FIK UI.
pengarahan, dan atau pengendalian yang Gillies, D. A. (1996). Manajemen
dihubungkan dengan salah satu sub variabel keperawatan suatu pendekatan sistem.
penerapan patient safety culture yaitu (2nd Edition) Illinois.
keterbukaan, keadilan, pelaporan, dan atau Gotlieb, S. (2003). Patient s are at risk
budaya belajar. because of nurses long hours, says
report. Diakses tanggal 27 Juni 2015,
DAFTAR RUJUKAN dari: http://www.bmj.com.
Handiyani, H. (2003). Hubungan peran dan
Aiken, L.H., Clarke, S.P., Sloane, D.M., et al. fungsi manajemen kepala ruang
(2002). Hospital nurse staffing and dengan keberhasilan upaya kegiatan
patient mortality, nurse burnout, and pengendalian infeksi nasokomial di
job dissatisfaction. JAMA. 23 30 RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
Jakarta. Tesis Tidak Dipublikasikam.
Oktober. 288(16).
Anugrahini (2010) Hubungan faktor individu FIK UI.
dan organisasi dengan kepatuhan Hidayati, R. I. (2015). Pengaruh pengetahuan,
perawat dalam menerapkan pedoman motivasi, sikap perawat dan bidan
patient safety di RSAB Harapan Kita terhadap penerapan budaya patient
safety di RSIA Aisyiyah Klaten. Tesis
Jakarta. Tesis. Depok: Magister
Pascasarjana. Yogyakarta: UMY.
Keperawatan FIK UI. 2010.
Baldo V, Floreani A, Dal Vecchio L, Institute of Medicine. (2000). To err is human:
Building a safer health system. Kohn,
Cristofoletti M, Carletti M, Majori S,
L.T., Corrigan, J.M., Donaldson, M.S.
Di Tommaso AD. and Trivello R.
(2002). Occupational risk of blood- (Ed). Washington DC: National
borne viruses in healthcare workers: A Academy Press.
Makinen, A., Kivimaki, M., Elovainio, M.,
5-Year Surveillance Program. Infect
Control Hospital Epidemiology. Virtanen, M., & Bond, S. (2003).
Organization of nursing care as a
Burns, D. (2009). Clinical leadership for
general practice nurses, 3 : determinant of job satisfaction among
hospital nurses. Journal of Nurses
Management, 11, 299-306

33
Idea Nursing Journal Vol. VII No. 1 2016

Marpaung, J. (2005). Persepsi perawat Silverstone, P. (2013). The safe clinical


pelaksana tentang kepemimpinan assessment: A patient safety focused
efektif kepala ruang dan approach to clinical assessment. New
hubungannya dengan budaya kerja Open Access Journal. The
perawat pelaksana dalam Postgraduate Medical Institute. United
pengendalian mutu pelayanan Kingdom: Anglia Ruskin
keperawatan di ruang rawat inap University.
RSUP Adam Malik Medan. FIK UI. Singer, S. J., & Tucker, A. L. (2005). Creating
Tesis tidak dipublikasikan. a culture of safety in hospital.
Marquis, B. L., & Huston, C. J. (2015). Diakses pada tanggal 23 februari
Leadership role and management 2014, dari:
functions in nursing: Theory and http://healthpolicy.stanford.edu.
application eight edition: Tingle, J., & Bark, P. (2011). Patient safety,
Philadelphia: Lippincott. law policy and practice. Routledge,
Mulyadi. (2005). Hubungan kepemimpinan London.
efektif kepala ruang dengan kinerja Warouw, H.J. (2009). Hubungan pengarahan
perawat pelaksana dalam pengendalian kepala ruang dengan kinerja
mutu pelayanan keperawatan di ruang perawat pelaksana di ruang rawat inap
rawat inap RSKM Cilegon. Tesis. RSUD Budhi Asih Jakarta. FIK-
Depok: Universitas Indonesia. UI. Tesis. Jakarta.
Mustofa. (2008). Analisis pengaruh faktor Wardhani. N., Noor. B. N., Pasinringi. A.
individu, psikologi dan organisasi S. (2013) Hubungan kepemimpinan
terhadap kinerja perawat pelaksana efektif kepala ruangan dengan
di Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. penerapan budaya keselamatan pasien
Amino Gondohutomo Semarang. di instalasi rawat inap RS UNHAS
Tesis Pascasarjana. Semarang: tahun 2013. Unhas Makassar.
Universitas Diponegoro. Warsito. E. B., Mawarni. A. (2006). Pengaruh
National Quality Forum. (2006). Safe practices persepsi perawat pelaksana tentang
for better healthcare.washington DS. fungsi manajerial kepala ruang
National Quality Forum. terhadap pelaksanaan manajemen
Nivalinda, dkk. (2013). Pengaruh motivasi asuhan keperawatan di ruang rawat
perawat dan gaya kepemimpinan inap RSJD dr. Amino Gondohutomo
kepala ruang terhadap penerapan Semarang. Jurnal manajemen
budaya keselamatan pasien oleh keperawatan. Vol I, no1, tahun 2007.
perawat pelaksana pada rumah sakit WHO. (2009). Human factor in patient safety:
pemerintah di Semarang. Semarang: reviews on topics and tool. Diakses
FK UNDIP. pada tanggal 23 februari 2014, dari:
Notoatmodjo, S. (2003). Pengembangan http://www.who.int.
sumber daya manusia. Jakarta: Rineka Yahya, A. (2006). Konsep dan program patient
Cipta. safety. Bandung: Disampaikan pada
Pratiwi.R. E. Anggraeni. R., & Maidin. A. M. konvensi nasional mutu rumah sakit
(2014). Gambaran kepemimpinan ke VI.
efektif kepala ruangan instalasi rawat
inap dalam penerapan budaya
keselamatan pasien di RSUD Haji.
Tesis. Makassar: FKM UNHAS.
Ratnasih, R. (2001). Hubungan antara
kemampuan kepala ruang dalam
melaksanakan fungsi- fungsi
manajemen dengan kinerja perawat
pelaksana di ruangan rawat inap RS
Kepolisian Pusat Raden Said
Sukanto Jakarta. Tesis tidak
diplubikasikan. Jakarta: FIK UI.

34