Anda di halaman 1dari 9

A.

Topik
Analisis Vegetasi Menggunakan Metode Belt Transek
B. Tujuan
1. Mengetahui jenis tumbuhan yang hidup di Taman Nasional Baluran Kabupaten
Situbondo
2. Mengetahui Indeks Nilai Penting (INP) setiap jenis tumbuhan pada suatu vegetasi
dengan menggunakan metode Belt Transek di Nasional Baluran Kabupaten Situbondo
3. Mengetahui pengaruh faktor abiotik terhadap dominansi tumbuhan yang ada di Taman
Nasional Baluran Kabupaten Situbondo

C. Dasar Teori
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis
yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut
terdapat interaksi yang erat, baik sesame individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun
organism lainnya, sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis
(Martono, 2012).
Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai
keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di
tempat lain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu
sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya. Tjitrosoepomo
(2004) menyatakan bahwa analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu cara mempelajari
susunan atau komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi. Dalam ekologi hutan, satuan
vegetasi yang dipelajari atau diselidiki berupa komunitas tumbuhan yang merupakan asosiasi
konkret dari semua spesies tetumbuhan yang menempati suatu habitat. Oleh karena itu, tujuan
yang ingin dicapai dalam analisis komunitas adalah untuk mengetahui komposisi spesies dan
struktur komunitas pada suatu wilayah yang dipelajari.
Menurut Oosting (1956), menyatakan bahwa transek merupakan garis sampling yang
ditarik menyilang pada sebuah bentukkan atau beberapa bentukan. Transek juga dapat dipakai
dalam studi altituide dan mengetahui perubahan komunitas yang ada.Transek adalah jalur
sempit melintang lahan yang akan dipelajari/ diselidiki. MetodeTransek bertujuan untuk
mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan perubahan lingkungan serta untuk mengetahui
hubungan vegeterasi yang ada disuatu lahan secara cepat. Untuk menentuka suatu vegetasi
tumbuhan pada transek terdapat metode Belt transek atau biasa disebut transek sabuk.
Belt transek (transek sabuk) merupakan jalur vegetasi yang lebarnya sama dan sangat
panjang. Lebar jalur ditentukan oleh sifat-sifat vegetasinya untuk menunjukkan bagan yang
sebenarnya. Lebar jalur untuk hutan antara 1-10 m. Transek 1 m digunakan jika semak dan
tunas di bawah diikutkan, tetapi bila hanya pohon-pohonnya yang dewasa yang dipetakan,
transek 10 m yang baik. Panjang transek tergantung tujuan penelitian. Setiap segmen
dipelajari vegetasinya (Shukla, 2005). Metode Belt Transek dapat dilakukan di hutan-hutan
evergreen maupun monsu yang ada di Jawa Timur atau sesuai dengan apa yang akan di
analisis vegetasinya. Salah satu hutan di Jawa Timur yang memiliki vegetasi hutan yang baik
adalah Taman Nasional Baluran yang terletak di kota Situbondo yang berbatsan dengan kota
Banyuwangi, Jawa Timur.
Taman Nasinal Baluran merupakan kawasan konservasi yang memiliki
keanekaragaman satwa dan habitat alamnya dengan berbagai tipe komunitas.Tipe vegetasi
yang dimiliki oleh Taman Nasional Baluran antara lain hutan payau, hutan rawa, hutan
pantai, savana dan hutan musim. Hutan musim terdiri dari dua tipe vegetasi yaitu hutan
musim alam dan hutan tanaman jati. Hutan musim dijumpai dari lereng Gunung Baluran
sampai mendekati pantai, kawasan hutan musim mempunyai nilai penting sebagai
perlindungan ekosistem dan merupakan habitat mamalia besar seperti Banteng ( Bos
javanicus ), Kerbau liar ( Bubalus bubalis ) dan Rusa Timor ( Cervus timorensis ).
Untuk mengetahui vegetasi tumbuhan yang ada di Taman Nasional Baluran, Situbondo
Jawa Timur dilakukan Analisis Vegetasi Tumbuhan di Taman Nasional Baluran.

D. Alat dan Bahan


Alat : Roll meter
Rapitest
Termohigrometer
Soil tester
Tali rafia
Bolpoin
Bahan : Kertas label
Kertas data

E. Prosedur Kerja
Menentukan panjang dan lebar plot 2x10 meter pada daerah
Moonson
Melakukan kegiatan analisis vegetasi hutan Moonson di sisi
kiri dan kanan jalan

Mencatat jenis tumbuhan dan jumlah masing-masing


yang berupa semak dan perdu

Mencatat penutupan masing-masing jenis


tumbuhan pada setiap daerah amatan dan
menghitung keliling

G. Analisis Data

Menghitung Basal rea (BA)


BA = r2

(Basal area telah dicantumkan pada data pengamatan)

Luas Proyeksi Tajuk

SPESIES BA
Cleinhopia hospita 471
Streblus asper 15,7
Echinochola colona 748,37
Streblus asper 93,94
Vitex pinnata L 489,84
Hibiscuc tiliaceus 402,97
Uvaria sp. 1 126,78
jumlah 2348,60
rata-rata 335,51

Menghitung Densitas

jumlah spesies x
Densitas = jumlah total spesies x X BA tajuk sp x

Densitas jenis sp x
Densitas relatif = densitas jenis x 100%

SPESIES DENSITAS DENSITAS RELATIF


Cleinhopia hospita 62,80 20,08%
Streblus asper 0,52 0,17%
Echinochola colona 74,84 23,93%
Streblus asper 18,79 6,01%
Vitex pinnata L 81,64 26,11%
Hibiscuc tiliaceus 40,30 12,89%
Uvaria sp. 1 33,81 10,81%
jumlah 312,69 100,00%

Menghitung Dominansi

X
Dominansi = jumlah sp x X ) BA tajuk sp x

Dominansi jenis sp x
Dominansi relatif = dominansi jenis x 100%

DOMINANS DOMINANSI
SPESIES
I RELATIF
Cleinhopia hospita 20,05 20,05%
Streblus asper 0,67 0,67%
Echinochola colona 31,86 31,86%
Streblus asper 4,00 4,00%
Vitex pinnata L 20,86 20,86%
Hibiscuc tiliaceus 17,16 17,16%
Uvaria sp. 1 5,40 5,40%
jumlah 100,00 100,00%

Menghitung INP (Indeks Nilai Penting)

Nilai Penting = Densitas relatif + dominansi relatif

DENSITA
DOMINANS
SPESIES S INP RANK
I RELATIF
RELATIF
40,13
Cleinhopia hospita 20,05% 20,08% 3
%
Streblus asper 0,67% 0,17% 0,84% 7
55,79
Echinochola colona. 31,86% 23,93% 1
%
10,01
Streblus asper 4,00% 6,01% 6
%
46,97
Vitex pinnata L 20,86% 26,11% 2
%
30,05
Hibiscuc tiliaceus 17,16% 12,89% 4
%
16,21
Uvaria sp. 5,40% 10,81% 5
%

Dari hasil analisis vegetasi menggunakan metode belt transect pada observasi Hutan
Moonsu Taman Naional Bakuran, Situbondo menghasilkan urutan jenis tumbuhan yang
mendominasi pada daerah tersebut adalah sebagai berikut : 1. Echinochola colona. 2. Vitex
pinnata L.,3 Cleinhopia hospita.,4. Hibiscuc tiliaceus 5. Uvaria sp. 6. Streblus asper 7
Streblus asper.

H. Pembahasan
Perdu adalah tumbuhan berkayu bercabang banyak, tanpa suatu batang jelas dan
umumnya bertahunan, misalnya kembang merak (Caesapinia pulcherima) (Rifai, Mien A,
2004). Tumbuhan perdu banyak tersebar dalam ekosistem hutan tropis. Menurut Irwanto
(2006), terdiri dari pohon-pohon yang mempunyai tinggi 4-18 meter dan bertajuk kontinu.
Pohon-pohon dalam stratum ini rendah, kecil dan banyak bercabang banyak. Lapisannya
bersinambungan dan agak rapat.
Terna adalah tumbuhan yang batangnya tersusun lunak karena tidak membentuk kayu.
Tumbuhan semacam ini dapat merupakan tumbuhan semusim, tumbuhan dwimusim,
ataupun tumbuhan tahunan. Yang dapat disebut terna umumnya adalah semua tumbuhan
berpembuluh (tracheophyta). Biasanya sebutan ini hanya dikenakan bagi tumbuhan yang
berukuran kecil (kurang dari dua meter) dan tidak dikenakan pada tumbuhan nonkayu yang
merambat (digolongkan tumbuhan merambat).
Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa spesies tumbuhan yang memiliki
Indeks Nilai Penting di kawasan Hutan Moonsun Taman Nasional Baluran situbondo yaitu,
spesies yang memiliki nilai angka penting paling besar yaitu Echinochola colona., dengan
indeks nilai penting sebesar 55,79%, sedangkan spesies tumbuhan yang memiliki nilai angka
penting paling rendah pada vegetasi tersebut ialah Streblus asper, dengan indeks nilai penting
sebesar 0,84%. Menurut Syafei (1990), INP dengan nilai yang tersebar merata pada banyak
jenis lebih baik daripada bertumpuk atau menonjol pada sedikit jenis karena menunjukkan
terciptanya relung (niche) yang lebih banyak dan tersebar merata, spesifik, dan bervariasi.
INP yang merata pada banyak jenis juga sebagai indikator semakin tingginya
keanekaragaman hayati pada suatu ekosistem dan perkembangan ekosistem yang baik untuk
mancapai pada tahap klimaks.

Klasifikasi dari Echinochola colona


Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Sunkingdom : Tracheophyta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi : Spermatophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Monocotyledonae (Berkeping satu)
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Echinochloa
Spesies : Echinochola colona

Taman Nasional Baluran mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan yang cukup


tinggi. Dari berbagai vegetasi yang ada terdapat kurang lebih 422 jenis tumbuhan yang
termasuk dalam 87 familia, yang tersebar pada hutan mangrove, savana dll. Salah satunya
adalah hutan moonsoon. Hutan musim ( Monsoon forest ) yang ada di Taman Nasional
Baluran dapat dikelompokkanm menjadi dua jenis yaitu hutan musim dataran tinggi dan
hutan musim dataran rendah. Daerah transisi kedua hutan ini terletak pada ketinggian 250
400 mdpl ( Taman Nasional Baluran, 2006).
Selain melakukan analisis tumbuhannya, peneliti juga melakukan pengukuran abiotik
hutan Moonsoon Taman Nasional Baluran. Diperoleh suhu udara 34 C, kelembaban udara
34%, suhu tanah 32 C, pH tanah 7, Intensitas cahaya 9. Dari data tersebut dapat
dibandingkan dengan referensi yaitu Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson kawasan TN
Baluran beriklim kering tipe F dengan temperatur berkisar antara 27,2C-30,9 C,
kelembaban udara 77 %, kecepatan angin 7 nots dan arah angin sangat dipengaruhi oleh arus
angin tenggara yang kuat. Musim hujan pada bulan November-April, sedangkan musim
kemarau pada bulan April-Oktober dengan curah hujan tertinggi pada bulan Desember-
Januari. Namun secara faktual, perkiraan tersebut sering berubah sesuai dengan kondisi
global yang mempengaruhi (Baluran National Park, 2015).
Jadi tumbuhan Echinochola colona banyak ditemukan di hutan Moonsoon Taman
Nasional Baluran, karena faktor abiotic yang dapat mendukung tumbuh dan berkembangnya
tanaman tersebut. Dominansi oleh spesies ini berkaitan dengan kompetisi untuk
mendapatkan sinar matahari yang terjadi antara setiap spesies. Tumbuhan herba tersebut
mampu bertahan dengan kondisi yang ada, yaitu dengan menyerap sinar matahari lebih
optimal sehingga dapat tumbuh optimal. Sinar matahari yang diperoleh digunakan untuk
proses fotosintesis yang menyediakan makanan bagi hampir seluruh kehidupan di dunia
baik secara langsung maupun tidak langsung. Tumbuhan merupakan organisme auotrof.
Organisme ini yang tidak hanya menyediakan makanan bagi dirinya sendiri dan membuat
molekul organic mereka sendiri dari bahan mentah anorganik yang diperoleh dari
lingkungannya dengan bantuan sinar matahari tersebut. Tumbuhan yang disebut organisme
autotrof ini disebut sebagai produsen biosfer (Campbell, 2002).

I. Kesimpulan
1. Tumbuhan yang ditemukan pada hutan Moonsoon Taman Nasional Baluran adalah 1.
Echinochola colona. 2. Vitex pinnata L.,3 Cleinhopia hospita.,4. Hibiscuc tiliaceus 5.
Uvaria sp. 6. Streblus asper 7. Streblus asper.
2. Indeks Nilai Penting di kawasan Hutan Moonsun Taman Nasional Baluran situbondo
yaitu, spesies yang memiliki nilai angka penting paling besar yaitu Echinochola
colona., dengan indeks nilai penting sebesar 55,79%, sedangkan spesies tumbuhan
yang memiliki nilai angka penting paling rendah pada vegetasi tersebut ialah Streblus
asper, dengan indeks nilai penting sebesar 0,84%.
3. Faktor abiotik mendukung tumbuhan untuk memenangkan kompetisis antar spesies
pada ekosistem di daerah Kawasan Taman Nasional Baluran Kabupaten Situbondo.

DAFTAR RUJUKAN

Baluran National Park. (2015). Profil Taman Nasional Baluran. (online),


(http://balurannationalpark.web.id/ profil-taman-nasional-baluran). Diakses pada 23
September 2016
Campbell, Neil A. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Alih Bahasa oleh Rahayu Lestari, dkk.
Jakarta: Erlangga.
Irwanto. 2006. Struktur Hutan. (Online), (http://www.freewebs.com) diakses tanggal 22
September 2016
Martono, Djoko Setyo. 2012. Agritek. Analisis Vegetasi dan Asosiasi antara Jenis-
Jenis Pohon Utama penyusun Hutan Tropis Dataran Rendah di Taman Nasional Gunu
ung Rinjani Nusa Tenggara Barat vol 13 (2). (Online),
(http://www.unmermadiun.ac.id/repository_junal_penelitian/Jurnal%20Agritek/Jurnal
%20Agritek%202012/September/3_Djoko%20SM%20hal%2018-27.pdf) diakses pada
24 September 2016
Odum, P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta : UGM Press.
Rifai, Mien A. 2004. Kamus Biologi. Jakarta: Pusat Bahasa DEPDIKNAS Balai Pustaka
Shukla (2005) dalam Mei. 2009. (Online), (http://mei-
science.blogspot.co.id/2009/10/analisis-vegetasi.html) diakses tanggal 22 September
2016
Syafei, Eden S. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bnadung: ITB
Taman Nasional Baluran. (2006). Pengendalian Ekosistem Hutan. (online),
(/baluran.files.wordpress.com/2008/04/produktifitasrumputsavanabekolmusimkemarau-
baluran-06-fix.pdf). diakses pada 22 September 2016
Tjitrosoepomo, Gembong. 2004. Taksonomi tumbuhan Spermatophyta. Yogyakarta: UGM.