Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN FARMAKOLOGI PRAKTIKUM

PERCOBAAN OBAT ANALGETIKA PADA MENCIT

Oleh :
No. Nama NIM
1. Fauzan 021511133019
2. Dinda Akhlakul Kariimah 021511133030
3. Amelia Evita Puspita 021511133031
4. Nabilla Dara Wungsu 021511133032
5. Alana Panji Amaradiva 021511133033
6. Aswajnu Aulia 021511133034
7. Ridha Rizki Ananda 021511133035
8. Nahdah Izdihar Nastiti 021511133036
9. Adjeng Inggar Ariyanti 021511133037
10. Anisa Gita Rahmadiani 021511133038
11. Nabila Zalfa Sannidhya 021511133039
12. Valentina Vida Arief 021511133040
13. Victor Gradiyanto Mahendra 021511133045
14. I Ketut Brahma Pande Cakti Mudara 021511133054

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2016

BAB 1
PENDAHULUAN

1. TUJUAN
a. Mengamati respon nyeri pada mencit yang ditimbulkan oleh bahan kimia.
b. Mengamati respon menjilat kaki belakang atau meloncat (merupakan respon nyeri
pada mencit) yang ditimbulkan reaksi termis menggunakan hot plate 51oC.
c. Mengamati hambatan respon nyeri yang timbul setelah pemberian obat analgesik.
d. Membandingkan hambatan respon nyeri yang timbul pada kelompok yang diberi
obat dengan kelompok kontrol.
e. Menjelaskan mekanisme kerja obat-obat analgesik.

2. BAHAN
a. Hewan coba : Mencit
b. Obat-obat yang digunakan :
- Metampiron 100 mg/cc
- Asam Asetat 0,6%
- Larutan CMC 1%
- Kodein
- Larutan PZ

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1. OPOID
Sejarah Opioid
Opioid adalah kelompok obat yang sering dipergunakan pada penanganan pasien
dengan nyeri yang berat. Berawal dari tumbuhan papaver somniferum atau opium yang
diekstrak dan digunakan secara luas pada peradaban kuno Persia, Mesir dan
Mesopotamia. Kata opium sendiri berasal dari bahasa yunani yang berarti jus. Telah
dicatat bahwa penggunaan opium yang pertama kali adalah pada salah satu teks kuno
bangsa Sumeria pada tahun 4000 SM. (1,2,3,4)

Gambar 1. Papaver Somniferum

Opium digunakan dengan dihirup atau dengan cara ditusukkan pada kulit yang
akan memberikan efek analgesia, selain itu juga akan menyebabkan depresi pernafasan
dan kematian sesuai dengan derajat absorbsi yang diberikan. Opium merupakan
campuran bahan kimia yang mengandung gula, protein, lemak, air, lilin nabati alami,
lateks, dan beberapa alkaloid.
Adapun alkaloid yang terkandung antara lain morfin (10%-15%), kodein (1%-
3%), noskapin (4%-8%), papaverin (1%-3%), dan thebain (1%-2%). Beberapa dari
alkaloid-alkaloid tersebut banyak digunakan untuk pengobatan diantaranya: untuk nyeri
(morfin dan kodein), untuk batuk (kodein dan noskapin) dan untuk mengobati spasme
visceral (papaverin). Morfin berhasil diisolasi oleh Seturner pada tahun 1803, kemudian
dilanjutkan dengan kodein tahun 1832 lalu papaverin tahun 1848. (1,4,5,6)
Istilah opioid digunakan untuk semua obat baik alami maupun sintetik yang
dapat menduduki reseptor opioid di tubuh manusia. istilah opiat digunakan untuk semua
obat yang diekstrak dari tumbuhan opium yang menempati dan bekerja pada reseptor
opioid.

c. KLASIFIKASI OPIOID
Klasifikasi senyawa opioid
A. Agonis reseptor
3. Alkaloid :
Morfin
Morfin merupakan obat prototype opiod yang menjadi perbandingan pada
semua jenis obat golongan agonis opioid. Efek dari morfin berupa analgesia, euforia,
sedasi, berkurangnya konsentrasi, nausea, perasaan berat pada ekstremitas, mulut
yang kering dan priritus terutama pada daerah sekitar hidung. Jenis nyeri tumpul yang
continu lebih efektif dihilangkan dengan morfin daripada jenis nyeri yang tajam dan
intermiten. Efek analgesia dari morfin lebih efektif bila diberikan sebelum stimulus
nyeri diberikan. Sementara bila tidak ada rangsangan nyeri, morfin lebih memberikan
efek disforia daripada euphoria. (2,3,4,6)
Hidromorfon
Hidromorfon adalah derivat morfin dengan potensi 5 kali lebih besar jika
dibandingkan dengan morfin. Jika dibandingkan dengan morfin, hidromorfon
mempunyai efek sedasi yang lebih besar, efek euphoria yang lebih kecil serta durasi
kerja yang lebih pendek. (4,5,6)
Kodein
Kodein merupakan obat antitusif kuat yang sering digunakan pada praktek
medis sehari-hari. Sekitar 10% kodein dimetilasi di hepar menjadi morfin. Hal ini
membuat kodein efektif sebagai analgesik oral. Jika diberikan im efek analgesia 120
mg kodein setara dengan 10 mg morfin. Pemberian kodein secara iv tidak disarankan
oleh karena kejadian hipotensi yang dikaitkan dengan efek pelepasan histaminnya
cukup besar. (4,5,6)

Oksikodon
Oksikodon adalah opioid derivat dari thebain yang ditemukan di Jerman tahun
1916 sebagai salah satu opioid semi sintetik. Terapi oksikodon untuk nyeri sedang
hingga berat sudah terbukti dan oleh European Association for Palliative Care,
oksikodon digunakan sebagai second line alternative drug setelah morfin. Gejala
withdrawal sering didapatkan pada pengguna oksikodon jangka panjang yang
mengalami henti obat seketika. Oleh karena itu disarankan untuk menghentikan
oksikodon bertahap. (14)
Hidrokodon
Hidrokodon adalah opioid semisintetik derivat dari kodein dan thebain.
Pertama disintesis di Jerman tahun 1920 yang kemudian digunakan secara luas
sebagai terapi nyeri sedang hingga berat. Opioid ini selain mempunyai kekuatan
analgesik juga mempunyai efek antitusif yang cukup kuat. (15)
Dihidrokodein
Dihidrokodein adalah opioid semisintetik yang ditemukan di Jerman tahun
1908 yang memiliki struktur kimia menyerupai kodein. Selain analgesik, obat ini juga
memiliki efek antitusif yang cukup kuat. (16)
Heroin.
Heroin atau juga dikenal sebagai diasetilmorfin adalah opioid sintetik sebagai
hasil asetilasi dari morfin. Penetrasi cepat ke otak adalah salah satu keistimewaan obat
ini oleh karena kelarutan lemak serta struktur kimianya yang unik. Heroin sudah tidak
beredar lagi di AS oleh karena potensi ketergantungan fisiknya yang cukup tinggi.

2. Opioid sintetik :
a. Derivat fenil piperidin :

Fentanyl

Fentanyl adalah opioid sintetik yang secara struktur mirip dengan meperidin.
Potensial analgesiknya 75-125 kali lebih besar daripada morfin. Mempunyai onset
dan durasi yang lebih cepat jika dibandingkan dengan morfin hal ini dikarenakan
kelarutan lemak fentanyl yang tinggi. Fentanyl dimetabolisme dengan cara metilasi
menjadi norfentanyl, hydroksipropionil-fentanyl dan hidroksinorpropionil-fentanyl.
Diekskresi melalui urin dan dapat dideteksi 72 jam setelah pemberian iv. Namun
<10% tetap tidak termetabolisme dan diekskresikan melalui urin. Setelah pemberian
bolus iv, fentanyl tersebar terutama pada organ yang kaya vaskularisasi seperti otak,
paru-paru dan jantung. Dosis fentanyl 2-20 g/kgBB seringkali diberikan sebagai
adjuvant anestesi inhalasi pada saat operasi. Pemberian intratekal juga memberikan
respon yang memuaskan terutama pada dosis 25 g.

Terdapat juga sediaan oral transmukosa fentanyl 15-20 g/kgBB untuk anak-
anak 2-8 tahun yang diberikan 45 menit sebelum induksi anestesi. Fentanyl juga
diberikan transdermal dengan sediaan 12,5-100 g yang ditujukan terutama pasien
postoperatif serta pasien dengan nyeri kanker. Jika dibandingkan dengan morfin,
fentanyl kurang menyebabkan pelepasan histamin namun lebih sering mencetuskan
bradikardi. Pemberian fentanyl iv secara cepat dapat mencetuskan otot rigid, batuk
bahkan kejang. Fentanyl juga dapat meningkatkan tekanan intrakranial hingga 6-9
mmHg oleh karena efek vasodilatasi. (5,6)

Sufentanyl

Sufentanyl merupakan analog dari fentanyl dan mempunyai kekuatan analgesi


5-10 kali lebih besar daripada fentanyl. Dimetabolisme terutama di hepar melalui
proses N-dealkilasi dan O-demetilasi. Ekskresi terutama di urine dan faeses dengan
<1% dari sufentanyl tidak berubah. Pada pemberian sufentanyl dengan dosis 0,1-0,4
g/kgBB memberikan waktu yang lebih lama serta efek depresi pernafasan yang lebih
rendah jika dibandingkan dengan dosis fentanyl 1-4 g/kgBB. Jika dibandingkan
dengan opioid yang lain, sufentanyl mempunyai beberapa kelebihan terutama
penurunan kebutuhan oksigen metabolisme di otak serta aliran darah otak cenderung
menurun atau hampir tidak mengalami perubahan ynag berarti. (5,6)

Alfentanyl

Alfentanyl adalah analog dari fentanyl yang mempunyai potensi 1/5 sampai
1/10 dari fentanyl. Keunikan dari alfentanyl adalah onset dan durasi yang lebih cepat
jika dibandingkan dengan fentanyl. Alfentanyl dimetabolisme melalui piperidin N-
dealkilasi menjadi noralfentanyl serta melalui amida N-dealkilasi menjadi N-
fenilpropionamid. Sebagian besar diekskresi melalui urin dengan <1% yang tidak
berubah. Alfentanyl sering dipakai pada manipulasi singkat seperti intubasi trakeal
ataupun blok retrobulbar dengan dosis 10-30 g/kgBB. Jika dibandingkan dengan
opioid yang lain, kejadian PONV lebih rendah pada pemakaian alfentanyl. (5,6)

Remifentanyl

Remifentanyl adalah agonis selektif reseptor opioid u dengan potensi analgesi


menyerupai fentanyl (15-20 kali lebih poten daripada alfentanyl). Struktur kimia
remifentanyl tergolong unik karena meskipun tergolong derivat fenilpiperidin,
remifentanyl mempunyai gugus ester. Sehingga metabolism remifentanyl juga terjadi
oleh hidrolisis enzim esterase di plasma maupun jaringan yang lain menjadi metabolit
yang inaktif. Onset yang cepat, waktu pulih yang singkat dan efek yang relative non
kumulatif menjadikan remifentanyl opioid yang sering dipakai intraop di negara-
negara maju saat ini. Hasil metabolisme remifentanyl adalah asam remifentanyl, yang
juga agonis reseptor u dengan potensi 1/300-1/4600 dari asalnya.

Hasil metabolit yang lain adalah N-dealkilasi remifentanyl yang juga


diekskresikan terutama melalui urin. Dosis 0,25-1 g/kgBB memberikan efek
analgesia yang memuaskan. Namun pemberian remifentanyl intratekal tidak
disarankan oleh karena adanya glisin pada vehikulum obat ini. Glisin mempunyai efek
menginhibisi neurotransmitter pada medulla spinalis. (5,6)

Petidin

Meperidin atau petidin merupakan opioid sintetik yang bekerja agonis


terhadap reseptor u dan k sebagai derivat dari fenilpiperidin. Adapun beberapa analog
golongan ini antara lain fentanil, alfentanyl, sufentanyl dan remifentanyl. Secara
struktur, meperidin mempunyai bentuk menyerupai atropin sehingga beberapa efek
atropine juga dimiliki oleh atropine ini seperti takikardi, midriasis dan antispasmodic.
Morfin mempunyai potensi 1/10 morfin dengan durasi kerja 2-4 jam. Meperidin
diabsorbsi baik pada GIT tapi mempunyai efektifitas jika dibandingkan dengan
pemberian IM.
Metabolisme meperidin terutama di hepar dengan merubahnya melalui proses
dimetilasi 90% menjadi normeperidin dan ekskresinya terutama melalui urin.
Normeperidin mempunyai waktu paruh eliminasi 15 jam dan dapat dideteksi di urin 3
hari setelah pemakaian. Normeperidin mempunyai potensi meperidin sebagai
analgesik dan menstimulasi sistem saraf pusat. Kejang, mioklonus, delirium dan
halusinasi yang dapat terjadi setelah pemberian meperidin adalah sebagai akibat efek
stimulasi saraf pusat oleh normeperidin. Sekitar 60% meperidin terikat pada protein,
sehingga pada pasien tua terjadi peningkatan jumlah obat bebas pada plasma dan
mencetuskan terjadinya peningkatan sensitifitas pada opioid. Konsentrasi plasma
0,7g dianggap mampu secara efektif meghilangkan nyeri post operatif. Selain
sebagai analgesia yang poten, meperidin juga mempunyai efek anti menggigil
postoperatif yang jika dibiarkan lama dapat meningkatkan konsumsi oksigen pada
tubuh.
Efek anti menggigil postoperatif dari meperidin didapatkan sebagai salah satu
kerjanya pada reseptor k2. Selain itu klonidin, ondansetron, dan butorfanol juga
merupakan obat-obatan yang dipakai untuk mengatasi menggigil setelah operasi.
Pemberian meperidin dengan obat-obatan antidepresan dapat mencetuskan sindrom
serotonin yaitu suatu ketidakstabilan sistem saraf otonom yang ditandai hipertensi,
takikardi, diaphoresis, hipertermi, perubahan perilaku, agitasi dan perasaan bingung.

b. Derivat difenilheptan :

Methadon

Methadon merupakan agonis opioid sintetik yang digunakan untuk


penanganan nyeri kronik berat terutama penanganan ketergantungan opioid oleh
karena efek ketergantungannya yang rendah, penyerapan lewat oral yang bagus,
onsetnya relatif cepat dan durasinya lama. Methadone 20mg iv dapat menghasilkan
analgesia hingga >24jam. Dimetabolisme terutama di hepar menjadi metabolit inaktif
yang selanjutnya akan diekskresikan melalui urin dan empedu. (4,5,6)

Propoksifen

Struktur propoksifen secara umum sama dengan methadone sebagai salah satu
agonis opioid yang poten. Dimana dosis oral 90-120 mg menghasilkan efek analgesia
setara dengan 60 mg kodein atau 650 mg aspirin. Propoksifen diserap dengan baik
melalui GIT yang kemudian dimetabolisme terutama di hepar. Efek samping yang
utama adalah vertigo, sedasi, mual dan muntah. (4,5,6)

c. Derivat morfinian :

Levorfanol

Levorfanol adalah golongan morfinian sintetik yang digunakan sebagai salah


satu terapi nyeri berat. Obat ini pertama kali ditemukan di Jerman tahun 1948.
Levorfanol mempunyai afinitas yang sama pada reseptor opiat seperti morfin tetapi
mempunyai efek cross tolerance yang lebih rendah jika dibandingkan morfin. 17

B. Agonis parsial reseptor

Tramadol
Tramadol adalah analgesik yang bekerja sentral, agonis terhadap reseptor u
serta mempunyai afinitas yang lemah pada reseptor k dan d. melalui reseptor u
tramadol meningkatkan efek inhibisi descending spinal melalui penurunan reuptake
norepinefrin dan serotonin. Efek tramadol hanya bisa diantagonis oleh nalokson
sebesar 30%.
Tramadol dibuat sebagai rasemik yaitu campuran antara enansiomer dimana
enansiomer yang satu berfungsi menghambat reuptake norepinefrin sedangkan yang
satu lagi bekerja menghambat reuptake serotonin. Tramadol dimetabolisme di hepar
melalui enzim P-450 menjadi O-dismetiltramadol. Dosis tramadol 3mg/kgBB oral,
im, maupun iv efektif untuk penanganan nyeri sedang hingga berat. Selain itu
tramadol juga dapat digunakan sebagai agent anti menggigil postoperative. Salah satu
efeksampingnya yang sering terjadi adalah mual dan muntah. (4,5,6)
C. Agonis-antagonis campuran
1. Alkaloid semisintetik :
Nalbifin
Nalbufin adalah agonis-antagonis opioid yang secara kimia mirip dengan
oksimorfon dan nalokson. Nalbufin dimetabolisme terutama di hepar. Efek samping
yang paling sering adalah sedasi pada pemberian nalbufin. Tidak seperti pentazosin
dan butorfanol, nalbufin tidak menyebabkan pelepasan katekolamin sehingga
hemodinamik pasien relatif stabil. Oleh karena itu nalbufin merupakan pilihan yang
tepat untuk digunakan pada pasien dengan gangguan jantung, seperti pada tindakan
kateterisasi jantung. (4,5,6)
2. Opioid sintetik :
a. Derivat benzomorfan :
Pentazocin
Pentazosin merupakan agonis dan antagonis reseptor opioid yang lemah pada
reseptor k dan d dengan potensi sekitar 1/5 dari obat nalorfin. Pentazosin diserap baik
melalui rute oral maupun perenteral yang kemudian dimetabolisme di hepar melui
proses oksidasi menjadi glukoronid inaktif yang akan diekskresikan terutama melalui
urin dan kemudian empedu.
Dengan dosis 10-30mg iv atau 50mg oral, setara dengan kodein 60 mg,
mampu mengatasi nyeri sedang. Efek samping yang sering dari pentazosin adalah
sedasi yang kemudian diikuti dengan diaphoresis dan pusing. Pentazosin
menyebabkan pelepasan katekolamin pada tubuh kita sehingga Pentazosin sebesar 20-
30 mg im mempunyai efek analgesia, sedasi dan depresi pernafasan yang setara
dengan 10 mg morfin. Tidak seperti morfin, pentazosin tidak memiliki efek miosis
pada pupil mata.(5,6)
b. Derivat morfinian :
Butorfanol
Butorfanol adalah agonis dan antagonis opioid yang menyerupai pentazosin.
Efek agonisnya 20 kali lebih besar dan efek antagonisnya 10 hingga 30 kali lebih
besar jika dibandingkan dengan pentazosin. Butorfanol memiliki afinitas yang lemah
sebagai antagonis pada reseptor u dan afinitas yang sedang pada reseptor k untuk
menghasilkan analgesia dan efek anti menggigil.
Pada prakteknya butorfanol 2-3 mg im menghasilkan efek analgesia dan
depresi pernafasan setara dengan morfin 10 mg. Butorfanol terutama dimetabolisme
menjadi metabolit inaktif hidroksibutorfanol yang diekskresi terutama di empedu dan
sebagian kecil pada urin. Efek samping yang paling sering adalah sedasi, mual dan
diaphoresis. Efek pelepasan katekolamin yang dimiliki pentazosin juga dimilikioleh
butorfanol ini sehingga akan didapat peningkatan laju nadi dan tekanan darah pada
pasien. (4,5,6)
D. Antagonis reseptor
1. Antagonis reseptor

a. Nalokson

Nalokson adalah antagonis nonselektif pada ketiga reseptor opioid. Dengan


dosis 1-4mg/kgBB iv dapat membalikkan efek overdosis akibat obat-obatan opioid.
Durasi kerja nalokson sekitar 30-45 menit, sehingga pemberian continuous 5
mg/kgBB iv/jam perlu dilanjutkan untuk mendapatkan efek yang maksimal. Nalokson
dimetabolisme terutama di hepar melalui proses konjugasi dengan asam glukoronat
menjadi nalokson-3-glukoronid. Pemberian nalokson iv yang cepat dapat
menimbulkan kejadian mual dan muntah.oleh karena itu pemberian bolus harus pelan
yaitu 2-3 menit. Efek stimulasi kardiovaskuler juga sering ditemukan pada pemberian
nalokson ini sebagai akibat dari meningkatnya aktifitas sistem saraf simpatis dan
rangsangan nyeri yang kembali terasa. Peningkatan aktifitas sistem saraf simpatis ini
dimanifestasikan dengan takikardi, hipertensi, edema paru serta disritmia jantung.
(4,5,6)

b. Naltrekson

Naltrekson bekerja hampir sama dengan nalokson dan sering diberikan secara
oral. Efeknya dapat bertahan lama hingga lebih dari 24 jam.
. Nalmefen

Nalmefen adalah antagonis reseptor opioid 6-methilen analog dan equipoten


dengan naltrekson. Dosis yang direkomendasikan 15-25mg iv yang diberikan titrasi
tiap 2-5 menit hingga efek sesuai dengan yang diinginkan denga dosis total tidak
boleh melebihi 1 mg/kgBB. Kelebihan nalmefen jika dibandingkan dengan naltrekson
adalah durasi kerjanya yang lebih lama. Nalmefen dimetabolisme di hepar melalui
proses konjugasi dan diekskresikan terutama di urin.

E. Opioid Endogen
Selain opioid yang berasal dari luar (eksogen) yang telah diterangkan diatas
sebelumnya, di tubuh kita juga mengasilkan senyawa opioid yang secara alami
terbentuk yang biasa disebut opioid endogen. Ada beberapa struktur opioid endogen
yang telah ditemukan yaitu :
- Golongan Enkefalin adalah salah satu jenis opioid endogen yang merupakan derivat
dari prekursornya yaitu proenkefalin. Setiap molekul proenkefalin mengandung empat
rantai met-enkefalin, satu rantai leu-enkefalin dan beberapa peptide yang menyerupai
enkefalin namun dengan molekul yang lebih besar. Golongan enkefalin ini secara
umum bekerja seletif pada reseptor . Senyawa ini ditemukan di medulla kelenjar
adrenal dan di ujung saraf yang mengandung katekolamin. Golongan enkefalin
bekerja di reseptor opioid presinaps pada neuron nosiseptif yang mengandung
neurotransmitter seperti substansi P. Secara alami golongan enkefalin dihidrolisa oleh
dengan cepat oleh enzim peptidase di plasma darah kita.(7,9)

- Prodinorfin yang juga biasa disebut sebagai proenkefalin B mengandung senyawa


dinorfin A dan dinorfin B. Keluarga dinorfin terutama berikatan dengan reseptor dan
distribusi lokasinya hamper sama dengan enkefalin. Dinorfin yang meningkat ini juga
dapat mencetuskan hiperalgesia yang lama. Hal ini dsisebabkan oleh karena dinorfin
A juga dapat mengaktivasi NMDA reseptor kompleks.(7,9)

- Proopiomelanocortin (POMC) merupakan salah satu prekursor yang banyak


ditemukan di hipotalamus dan kelenjar pituitari, dimana dalam satu molekulnya
terdapat peptida opioid dan non opioid. Struktur N-terminal POMC menyerupai met-
enkefalin namun POMC tidak berubah menjadi met-enkefalin. 31 asam amino pada
rantai terakhir dari POMC akan berubah menjadi -endorfin yang merupakan opioid
endogen yang sangat penting yang berikatan dengan reseptor . POMC juga berubah
menjadi beberapa hormon non opioid seperti adrenokortikotropik hormon (ACTH),
melanosit-stimulating hormon (MSH) dan lipotropin.(7,9)

- Proorphanin akan berubah menjadi orphanin FQ (yang disebut juga sebagai


nosiseptin), sebuah peptide yang mengandung 17 jenis asam amino. Meskipun
proorphanin mempunyai struktur yang homolog dengan ketiga jenis yang lainnya
namun orphanin tidak berikatan dengan reseptor , , atau . Orphanin berikatan
dengan reseptor coupling protein-G (NOP). Dan menyebabkan respon seluler yang
menyerupai opioid yang lain, termasuk hambatan pada adenil siklase, terbukanya
gerbang Kalium serta blokade gerbang Kalsium tipe-N. Orfanin FQ ditemukan di
tempat yang tidak biasa seperti di hippocampus dan korteks sensoris. Orphanin FQ
mempunyai efek antianalgesik ketika memproduksi analgesia spinal.

- Golongan Endomorfin merupakan opioid agonis yang mempunyai afinitas tinggi dan
selektifitas yang tinggi pada reseptor . Molekul prekursor dari endomorfin masih
belum dapat ditemukan. Terdapat 2 macam endomorfin dibedakan menurut struktur
kiminya, endomorfin 1 dan endomorfin 2. Pada studi in vivo diketahui bahwa
endomorfin 1 bekerja melalui stimulasi reseptor 2 sementara endomorfin 2 titik
tangkap kerjanya melalui reseptor dan . Keduanya baik endomorfin 1 maupun
endomorfin 2 bekerja menurunkan potensial aksi pada medulla daerah rostral
ventrolateral, daerah yang menjadi pusat pengatur tekanan darah. Sementara di perifer
endomorfin menurunkan noreprinefrin yang dilepaskan neuron simpatis vaskuler.

Ketiga reseptor opioid mempunyai afinitas yang saling tumpang tindih


terhadap kelompok peptida opioid endogen tersebut.

C. FARMAKOLOGI OPIOID

Struktur kimia opioid


Struktur dari klas opioid alkaloid fenantren cukup rumit dan terdiri atas lima
atau bahkan enam cincin yang bergabung. Morfin sebagai salah satu anggota dari
fenantren, terdiri atas 5 cincin, 3 cincin terbentuk dalam satu bidang datar sementara 2
cincin yang lainnya tersusun perpendicular yang membentuk huruf T. Terdapat 2
group hidroksil (satu fenolik dan satu alkoholik), sebuah karbon atom kuarterner pada
posisi 13 dan cincin piperidin dengan grup metil pada gugus nitrogen. Struktur morfin
mempunyai stereoisomer levo dan dekstro dimana hanya stereoisomer levo yang
mempunyai efek analgesik. Anggota fenantren yang lain adalah kodein, derivat dari
morfin, serta thebain, prekursor dari oksikodon dan nalokson. Jika dikurangi secara
bertahap jumlah cincin fenantren maka akan didapatkan golongan morfinian dengan
empat cincin, golongan benzomorfan dengan tiga cincin, golongan fenilpiperidin
dengan dua cincin dan yang terakhir peptida opioid endogen dengan struktur separuh
tiramin dengan cincin terhidroksilasi tunggal. Kemampuan mengikat reseptor apakah
pada sisi romatik atau sisi anion menentukan apakah suatu opioid merupakan suatu
agonis atau antagonis. (8)
Jika rantai nitrogen piperidin mempunyai grup kimia yang besar (seperti allil,
siklopropil, siklobutil), maka sering pada komponen ini memliliki efek antagonis.
Sebagai contoh derivate N-aliil morfin dan oksimorfon adalah nalorfin dan nalokson
yang memiliki efek antagonis reseptor opioid. Modifikasi struktur kimia dari opioid
sangat menentukan banyak hal baik kemampuan afinitas reseptor, aktifitas agonis atau
antagonis, ketahanan untuk dimetabolisme tubuh, kelarutan lemak maupun juga
farmakokinetiknya. (8)
Pada praktek anestesi klinis opioid pada umumnya digunakan intravena.
Setelah dosis bolus kadar plasma puncak akan diraih dalam hitungan menit.
Selanjutnya konsentrasi obat dalam plasma akan turun oleh karena distribusi obat
menuju ekstravaskuler, target tempat dia bekerja, jaringan dan organ. Penurunan awal
yang cepat pada konsentrasi plasma setelah kadar puncak adalah fase distribusi. Dan
penurunan kadar plasma yang berikutnya disebut fase eliminasi.
Tabel berikut akan memberikan simpulan tentang parameter farmakokinetik
dan kharakteristik kimiawi dari beberapa senyawa opioid yang biasa dipakai dalam
praktek klinis.
Tabel.3. Kharakteristik farmakokinetik beberapa senyawa opioid. (8)
Parameter Morfin Meperidin Fentanyl Sufentanyl Alfentanyl Remifentanyl
pKa 7,9 8,5 8,4 8,0 6,5 7,26
% tak
terionisasi 23 7 8,5 20 89 58
(pH 7,4)
Ikatan
35 70 84 93 92 66-93
protein (%)
Clearance
1050 1020 1530 900 238 4000
(ml/mnt)
Vd (L) 224 305 335 123 27 30
Waktu paruh
eliminasi 1,7-3,3 3-5 3,1-6,6 2,2-4,6 1,4-1,5 0,17-0,33
(jm)
ow
(koefisien
1,4 39 816 1757 128 17,9
partisi
octanol-air)
Waktu paruh
distribusi
1,2-1,9 1,4 1,0-3,5 0,4-0,5
cepat
(T1/2n,min)
ow
(koefisien
1,4 39 816 1757 128 17,9
partisi
oktanol:air)

Untuk mencapai titik tangkap kerjanya di sistem saraf pusat, opioid terlebih
dahulu harus menembus membrane biologis dari darah menuju membrane sel neuron.
Kemampuan opioid menembus sawar darah otak tergantung pada ukuran molekul,
ionisasi, kelarutan lemak, dan ikatan pada protein. Diantara kharakteristik tersebut,
kelarutan lemak dan ionisasi memberi peranan penting dalam menentukan kemampuan
penetrasi menuju sistem saraf pusat.

Dalam laboratorium, kelarutan lemak ditentukan berdasarkan koefisien partisi


oktanol:air atau oktanol:buffer. Obat yang terionisasi juga merupakan hal yang penting
untuk menentukan kelarutannya dalam lemak. Obat yang tidak terionisasi 1000 sampai
10.000 kali lebih larut lemak jika disbanding dengan obat ynag terionisasi. Derajat
ionisasi tergantung pada pKa obat opioid serta pH lingkungan.

Opioid dengan pKa lebih rendah daripada 7,4 akan mempunyai fraksi yang tidak
terionisasi lebih banyak pada plasma daripada opioid dengan pKa mendekati atau lebih
besar daripada pH fisiologis. Kelarutan lemak yang tinggi dari suatu opioid menentukan
kemampuan permeabilitas membran terhadap obat tersebut tetapi hal ini tidak linear.
Kemampuan penetrasi sawar darah otak mempunyai nilai optimal hidrofobisitas.
Ikatan protein plasma juga mempengaruhi redistribusi opioid. Hal ini disebabkan
karena hanya fraksi obat bebas yang dapat menembus membrane sel. Protein plasma
utama yang berikatan dengan opioid adalah albumin dan 1-acid glycoprotein (AAG).
Perubahan konsentrasi AAG terjadi dalam berbagai kondisi, tingkat keparahan suatu
penyakit sehingga menghasilkan suatu perubahan kronik maupun akut dalam kebutuhan
opioid.

Dalam praktek klinis sehari-hari obat opioid dapat diberikan pada berbagai pilihan
rute antara lain :

1. Pemberian Sistemik : oral, sublingual, buccal, rectal, transdermal, subkutaneus,


intramuscular, intravena maupun nasal.

2. Pemberian serebrospinal : epidural dan spinal

3. Pemberian melalui jalur perifer : lokal atau topikal

Keputusan pemberian obat-obat tersebut sangat beragam pertimbangannya. Hal ini


disesuaikan dengan kondisi pasien, obat yang tersedia maupun kemampuan pengetahuan
klinisi terhadap obat yang ada. (20,21,22)

Farmakokinetik

1. Absorbsi

Sebagian besar analgesik opioid mampu diserap bagus melalui rute subkutan,
intramuscular dan oral. Oleh karena efek first pass metabolism opioid pada aliran darah di
hepar maka dosis oral opioid membutuhkan dosis yang lebih besar untuk mencapai efek
terapeutik, seperti pada morfin. Beberapa jenis opioid dipercaya lebih efektif jika diberikan
melalui rute oral karena kecil yang melalui first pass metabolism seperti kodein dan
oksikodon. Insuflasi melalui nasal juga bisa menjadi rute pilihan untuk menghindari first pass
metabolism. Rute yang lain yaitu melalui mukosa oral serta transdermal yang diyakini dapat
memberikan analgesik yang poten hingga dalam hitungan hari.

2. Distribusi
Penyerapan opioid pada organ sangat bervariasi. Meskipun tiap jenis opioid
mempunyai afinitas yang berbeda terhadap protein, opioid dapat secara cepat
meninggalkan kompartemen darah, kemudian berkumpul menuju jaringan yang
mempunyai perfusi darah yang tinggi seperti otak, paru-paru, hepar, ginjal dan limpa.
Konsentrasi opioid pada otot sebenarnya lebih kecil, namun jaringan otot mempunyai
volume yang besar sehingga banyak juga yang terakumulasi disana. Meskipun aliran
darah pada jaringan lemak rendah, namun akumulasi pada jaringan lemak ini adalah
suatu hal yang penting oleh karena akan terjadi redistribusi kembali oleh opioid yang
larut baik dengan lemak, seperti fentanyl.
3.Metabolisme
Sebagian besar opioid akan diubah menjadi metabolit yang lebih polar sebagian besar
glukoronid, yang kemudian akan diekskresikan melalui ginjal. Sebagai contoh morfin,
sebagian besar akan dikonjugasi menjadi morfin-6-glukoronid, suatu kompenen yang
mempunyai efek neuroeksitatori. Efek neuroeksitatori ini bukan dimediasi oleh reseptor
opioid melainkan oleh system GABA/glisinergik. Kurang lebih 10% dari morfin akan
diubah menjadi M6G, suatu metabolit aktif dengan efek analgesik 4 hingga 6 kali lebih
poten jika dibandingkan dengan morfin. Namun metabolit yang lebih polar ini
mempunyai keterbatasan untuk menembus sawar darah otak. Akumulasi yang berlebihan
dari obat ini seperti pada pasien dengan gagal ginjal ataupun pemakaian dosis besar
tentunya akan menyebabkan berbagai macam efek samping. Kejang oleh karena efek
neuroeksitasi dari M3G serta efek kerja yang memanjang dari opioid yang dihasilkan oleh
M6G. (3,4,5,8)

Golongan ester seperti heroin dan remifentanyl dihidrolisa secara cepat oleh enzim
esterase jaringan. Heroin (diasetilmorfin) dihidrolisa menjadi monoasetilmorfin dan pada
akhirnya menjadi morfin yang kemudian dikonjugasi oleh asam glukoronat. Metabolism
oksidatif hepatik merupakan rute primer degradasi opioid golongan fenilpiperidin seperti
meperidin, fentanyl, alfentanyl dan sufentanyl. Hasil metabolit dimetilasi dari meperidin
yaitu normeperidin dapat terakumulasi pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal
ataupun pada pemakaian dosis yang tinggi. Normeperidin dapat menyebabkan kejang
apabila terakumulasi dalam jumlah yang cukup tinggi.
Sebaliknya fentanyl tidak memiliki metabolit aktif. Isozim P450 CYP3A4
memetabolisme fentanyl melalui proses N-dealkilasi di hepar. CYP3A4 juga terdapat di
mukosa usus halus dan memberikan kontribusi pada proses first pass metabolism jika
fentanyl diberikan secara oral. Kodein, oksikodon, dan hidrokodon dimetabolisme di
hepar oleh isozim P450 CYP2D6 yang akan menghasilkan metabolit dengan efek yang
lebih besar. Sebagai contoh, kodein dimetilasi menjadi morfin,. (5,6)

4. Ekskresi
Metabolit yang polar, termasuk konjugasi glukoronid dari analgesik opioid,
sebagian besar diekskresi melalui urin. Sejumlah kecil dari bagian yang yang tidak diubah
dapat ditemukan juga di urin. Selain itu konjugasi glukoronid juga ditemukan di empedu,
namun sirkulasi enterohepatik hanya berperan kecil dalam proses ekskresi

HASIL PRAKTIKUM PERCOBAAN MENCIT

a. Perbandingan Hasil Praktikum Analgesik pada Mencit


Jumlah liukan Hot plate (detik)
Kelompok
Merah Tanpa tanda Hitam Tanpa tanda
1 6 74 29,7 18,2
2 20 35 15,5 12,4
3 61 11 12,9 25,3
4 25 8 18,5 16,1
5 12 21 30,7 26
6 11 14 13,5 24,9
Rata-rata 22,5 27,17 19,97 20,48
b. Hasil Percobaan :

Pengamatan setelah menit ke-


Penelitian
1 2 3 4 5 6
Mencit 1
(Kontrol) tanpa 3 2 1 - 5 -
tanda
Mencit 2
(Perlakuan) - 18 14 13 10 6
tanda merah

c. Mencit dalam hot plate

Waktu saat mencit


Mencit 1 (Kontrol) tanpa tanda Mencit 2 (Perlakuan) tanda hitam
mencium kakinya
Dalam Detik 25,3 12,9

2. ANALGETIK OPIOID
Analgetik opoid merupakan golongan obat yang memiliki sifat seperti opium/morfin.
Sifat dari analgesik opiad yaitu menimbulkan adiksi: habituasi dan ketergantungan fisik. Oleh
karena itu, diperlukan usaha untuk mendapatkan analgesik ideal:
1. Potensi analgesik yg sama kuat dengan morfin
2. Tanpa bahaya adiksi
- Obat yang berasal dari opium-morfin
- Senyawa semisintetik morfin
- Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin
Analgetik opioid mempunyai daya penghalang nyeri yang sangat kuat dengan titik
kerja yang terletak di susunan syaraf pusat (SSP). Umumnya dapat mengurangi kesadaran
dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia).. Analgetik opioid ini merupakan pereda nyeri
yang paling kuat dan sangat efektif untuk mengatasi nyeri yang hebat.
Tubuh sebenarnya memiliki sistem penghambat nyeri tubuh sendiri (endogen),
terutama dalam batang otak dan sumsum tulang belakang yang mempersulit penerusan
impuls nyeri. Dengan sistem ini dapat dimengerti mengapa nyeri dalam situasi tertekan,
misalnya luka pada kecelakaan lalu lintas mula-mula tidak terasa dan baru disadari beberapa
saat kemudian. Senyawa-senyawa yang dikeluarkan oleh sistem endogen ini disebut opioid
endogen. Beberapa senyawa yang termasuk dalam penghambat nyeri endogen antara lain:
enkefalin, endorfin, dan dinorfin.
Opioid endogen ini berhubungan dengan beberapa fungsi penting tubuh seperti
fluktuasi hormonal, produksi analgesia, termoregulasi, mediasi stress dan kegelisahan, dan
pengembangan toleransi dan ketergantungan opioid. Opioid endogen mengatur homeostatis,
mengaplifikasi sinyal dari permukaan tubuk ke otak, dan bertindak juga sebagai
neuromodulator dari respon tubuh terhadap rangsang eksternal.
Baik opioid endogen dan analgesik opioid bekerja pada reseptor opioid, berbeda
dengan analgesik nonopioid yang target aksinya pada enzim. Ada beberapa jenis Reseptor
opioid yang telah diketahui dan diteliti, yaitu reseptor opioid , , , , . (dan yang terbaru
ditemukan adalah N/OFQ receptor, initially called the opioid-receptor-like 1 (ORL-1)
receptor or orphan opioid receptor dan e-receptor, namun belum jelas fungsinya).
Reseptor memediasi efek analgesik dan euforia dari opioid, dan ketergantungan
fisik dari opioid. Sedangkan reseptor 2 memediasi efek depresan pernafasan.
Reseptor yang sekurangnya memiliki 2 subtipe berperan dalam memediasi efek
analgesik dan berhubungan dengan toleransi terhadap opioid. reseptor telah diketahui dan
berperan dalam efek analgesik, miosis, sedatif, dan diuresis. Reseptor opioid ini tersebar
dalam otak dan sumsum tulang belakang. Reseptor dan reseptor menunjukan selektifitas
untuk ekekfalin dan dinorfin, sedangkan reseptor selektif untuk opioid analgesic.

Mekanisme umumnya :
Terikatnya opioid pada reseptor menghasilkan pengurangan masuknya ion Ca2+ ke
dalam sel, selain itu mengakibatkan pula hiperpolarisasi dengan meningkatkan masuknya ion
K+ ke dalam sel. Hasil dari berkurangnya kadar ion kalsium dalam sel adalah terjadinya
pengurangan terlepasnya dopamin, serotonin, dan peptida penghantar nyeri, seperti
contohnya substansi P, dan mengakibatkan transmisi rangsang nyeri terhambat. Efek-efek
yang ditimbulkan dari perangsangan reseptor opioid diantaranya:
Analgesik
medullary effect
Miosis
immune function and Histamine
Antitussive effect
Hypothalamic effect
GI effect
Efek samping yang dapat terjadi:
Toleransi dan ketergantungan
Depresi pernafasan
Hipotensi
Atas dasar kerjanya pada reseptor opioid, analgetik opioid dibagi menjadi:
1. Agonis opioid menyerupai morfin (pada reseptor , ). Contoh: Morfin, fentanil
2. Antagonis opioid. Contoh: Nalokson
3. Menurunkan ambang nyeri pd pasien yg ambang nyerinya tinggi
4. Opioid dengan kerja campur. Contoh: Nalorfin, pentazosin, buprenorfin, malbufin,
butorfanol
Obat-obat Opioid Analgesics ( Generic name )
Alfentanil, Benzonatate, Buprenorphine, Butorphanol, Codeine, Dextromethorphan
Dezocine, Difenoxin, Dihydrocodeine, Diphenoxylate, Fentanyl, Heroin Hydrocodone,
Hydromorphone, LAAM, Levopropoxyphene, Levorphanol Loperamide, Meperidine,
Methadone, Morphine, Nalbuphine, Nalmefene, Naloxone, Naltrexone, Noscapine
Oxycodone, Oxymorphone, Pentazocine, Propoxyphene , Sufentanil.
Deskripsi Obat Analgesik opioid
1. Agonis Kuat
a. Fenantren
Morfin, Hidromorfin, dan oksimorfon merupakan agonis kuat yang bermanfaat dalam
pengobatan nyeri hebat. Heroin adalah agonis yang kuat dan bekerja cepat.
b. Fenilheptilamin
Metadon mempunyai profil sama dengan morfin tetapi masa kerjanya sedikit lebih
panjang. Dalam keadaan nyeri akut, potensi analgesik dan efikasinya paling tidak sebanding
dengan morfin. Levometadil asetat merupakan turunan Metadon yang mempunyai waktu
paruh lebih panjang daripada metadon
c. Fenilpiperidin
Meperidin dan Fentanil adalah yang paling luas digunakan diantara opioid sintetik
yang ada ,mempunyai efek antimuskarinik. Subgrup fentanil yang sekarang terdiri dari
sufentanil dan alventanil.
d. Morfinan
Levorfanol adalah preparat analgesik opioid sintetik yang kerjanya mirip dengan
morfin namun manfaatnya tidak menguntungkan dari morfin.
2. Agonis Ringan sampai sedang
a. Fenantren
Kodein, Oksikodoa, dihidrokodein, dan hidrokodon, semuanya mempunyai efikasi
yang kurang dibanding morfin, atau efek sampingnya membatasi dosis maksimum yang dapat
diberikan untuk memperoleh efek analgesik yang sebanding dengan morfin, penggunaan
dengan kombinasi dalam formulasi-formulasi yang mengandung aspirin atau asetaminofen
dan obat-obat lain.
b. Fenilheptilamin
Propoksifen aktivitas analgesiknya rendah, misalnya 120 mg propoksifen= 60 mg
kodein
c. Fenilpiperidin
Difenoksilat dan metabolitnya, difenoksin digunakan sebagai obat diare dan tidak
untuk analgesik, digunakan sebagai kombinasi dengan atropin. Loperamid adalah turunan
fenilpiperidin yang digunakan untuk mengontrol diare.Potensi disalahgunakan rendah karena
kemampuannya rendah untuk masuk ke dalam otak.

3. Mixed Opioid AgonistAntagonists or Partial Agonists


a. Fenantren
Nalbufin adalah agonis kuat reseptor kapa dan antagonis reseptor mu. Pada dosis
tinggi terjadi depresi pernafasan. Buprenorfin adalah turunan fenantren yang kuat dan bekerja
lama dan merupakan suatu agonis parsial reseptor mu. Penggunaan klinik lebih banyak
menyerupai nalbufin, mendetoksifikasi dan mempertahankan penderita penyalahgunaan
heroin.
b. Morfinan
Butorfanol efek analgesik ekivalen dengan nalbufin dan buprenorfin, tetapi
menghasilkan efek sedasi pada dosis ekivalen, merupakan suatu agonis reseptor kapa.
c. Benzomorfan
Pentazosin adalah agonis reseptor kapa dengan sifat-sifat antagonis reseptor mu yang
lemah. Obat ini merupakan preparat campuran agonis-antagonis yang tertua. Dezosin adalah
senyawa yang struktur kimianya berhubungan dengan pentazosin, mempunyai aktivitas yang
kuat terhadap reseptor mu dan kurang bereaksi dengan reseptor kappa, mempunyai efikasi
yang ekivalen dengan morfin.
4. Antagonis Opioid
Nalokson dan Naltrekson merupakan turunan morfin dengan gugusan pengganti pada
posisi N, mempunyai afinitas tinggi untuk berikatan dengan reseptor mu, dan afinitasnya
kurang berikatan dengan reseptor lain. Penggunan utama nalokson adalah untuk pengobatan
keracunan akut opioid, masa kerja nalokson relatif singkat, sedangkan naltrekson masa
kerjanya panjang, untuk program pengobatan penderita pecandu. Individu yang mengalami
depresi akut akibat kelebihan dosis suatu opioid, antagonis akan efektif menormalkan
pernapasan, tingkat kesadaran, ukuran pupil aktivitas usus, dan lain-lain.
5. Drugs Used Predominantly as Antitussives
Analgesic opioid adalah obat yang paling efektif dari semua analgesic yang ada untuk
menekan batuk. Efek ini dicapai pada dosis dibawah dari dosis yang diperlukan untuk
menghasilkan efek analgesik. Contoh obatnya adalah Dekstrometrofan, Kodein,
Levopropoksifen.
3. ANALGESIK NON OPIOID / ANALGESIK PERIFER / ANALGESIK NON
NARKOTIKA

Analgesik non opioid adalah obat yang mengurangi rasa nyeri, digunakan secara
luas di dunia untuk mengatasi nyeri akut atau kronik, contohnya seperti pada artritis.
Sekarang edang dilaukn penelitian untuk mengetahui kesempatan obat ini bisa
digunakan menjadi penanganan penyakit lain seperti colorectal kanker dan penyakit
kardiovaskular.

Mekanisme kerja obat didasar atas penghambatan COX-1 (cyclooxygenase-1)


dan COX-2 (cyclooxygenase-2). Enzim cyclooxygenase ini berperan mempercepat
pembentukan prostaglandin dan tromboksan dari arachidonic acid. Prostaglandin
merupakan molekul pembawa pesan proses inflamasi. NSAID termetabolisme dalam
hati oleh proses oksidasi dan konjugasi sehingga menjadi zat metabolit yang tidak
aktif, lalu dikeluarkan melalui urin atau cairan empedu. (Goodman & Gilmans, 2006)

Obat ini punya target aksi pada enzim siklooksigenase (COX). COX sendiri
berperan dalam sintesis mediator nyeri, contohnya prostaglandin. Mekanismenya
adalah NSAID mengeblok pembentukan prostaglandin dengan menginhibisi enzim
COX pada daerah yang terluka, jadi mengurangi pembentukan mediator nyeri.

A. Metampiron
Metampiron merupakan derivat metansulfonat dan amidopirina yang bekerja
terhadap susunan saraf pusat yaitu mengurangi sensitivitas reseptor rasa nyeri dan
mempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh. Tiga efek utama adalah sebagai
analgesik, antipiretik dan anti-inflamasi. Metampiron mudah larut dalam air dan
mudah diabsorpsi ke dalam jaringan tubuh.
Setelah pemberian oral, metampiron diubah menjadi 4-metilamino antipirin
dan diabsorpsi secara sempurna. Waktu paruh terjadi 4-7 jam. Diekskresi melalui
ginjal. Urin kadang berwarna merah karena adanya metabolit. Efek samping pada
pemakaian metampiron adalah terjainya agranulositosis, insidennya kurang dari
0,01%, risiko meningkat pada dosis tinggi dan penggunaan jangka waktu lama,
sehingga tes darah harus dilakukan secara berkala. Intoksikasi akut yang dapat
mengakibatkan kejang.
Mekanisme kerja metampiron dengan mengurangi produksi prostaglandin
yang dihasilkan oleh kaskade asam arakhidonat sehingga mengurangi impuls
nyeri yang diterima SSP.

B. Asam Asetat
Mempunyai efek antipiretik, antiinflamasi dan analgetik sebanding dengan
aspirin, tetapi lebih toksik. Metabolisme asam asetat terjadi di hati Efek samping
penggunaan asam asetat ialah diare, perdarahan lambung, sakit kepala, alergi.

BAB 3

HASIL PRAKTIKUM

HASIL PRAKTIKUM PERCOBAAN MENCIT


a. Perbandingan Hasil Praktikum Analgesik pada Mencit
Jumlah liukan Hot plate (detik)
Kelompok
Merah Tanpa tanda Hitam Tanpa tanda
1 6 74 29,7 18,2
2 20 35 15,5 12,4
3 61 11 12,9 25,3
4 25 8 18,5 16,1
5 12 21 30,7 26
6 11 14 13,5 24,9 b.
Rata-rata 22,5 27,17 19,97 20,48 b.
b.
Hasil Percobaan :
Pengamatan setelah menit ke-
Penelitian
1 2 3 4 5 6
Mencit 1
(Kontrol) tanpa 3 2 1 - 5 -
tanda
Mencit 2
(Perlakuan) - 18 14 13 10 6
tanda merah

c. Mencit dalam hot plate


Waktu saat mencit
Mencit 1 (Kontrol) tanpa tanda Mencit 2 (Perlakuan) tanda hitam
mencium kakinya
Dalam Detik 25,3 12,9

BAB 4

PEMBAHASAN
Pemberian Obat yang berbeda pada kedua mencit

Kami telah melakukan percobaan pemberian 2 obat kepada 2 mencit. Pada percobaan
pertama, mencit sebagai mencit kontrol dan pada percobaan kedua, mencit diberi asam asetat
melalui intraperitoneal. Pemberian sediaan asam asetat pada peritonial atau selaput
gastrointestinal hewan memungkinkan sediaan lebih mudah diabsorbsi oleh tubuh dan cepat
memberikan efek. Metampiron dan asam asetat merupakan obat NSAID (Non-Steroid Anti
Inflamation Drug). Obat NSAID bekerja dengan menghambat jalur siklooksigenase sehingga
konversi asam arakhidonat menjadi prostaglandin terganggu.

Ketika prostaglandin yang menjadi inisiator rasa nyeri terganggu maka batas ambang
nyeri meningkat dan mengakibatkan respon nyeri pada mencit menjadi lebih kecil daripada
mencit yang tidak diberi obat tersebut. Akibat dari adanya rasa nyeri inilah hewan percobaan
akan meliukkan tubuhnya.

Gejala nyeri pada mencit sebagai akibat pemberian asam asetat secara intraperitoneal
yaitu adanya kontraksi dari dinding perut, kepala, dan kaki ditarik ke belakang sehingga
abdomen menyentuh dasar dari ruang yang ditempati yang disebut liukan saat efek dari
penginduksi ini bekerja sebagai penanda bahwa mencit merasakan kesakitan. Ketika jumlah
liukan tubuh mencit yang menjadi ambang nyeri mencit terhitung semakin sedikit, maka
ketahanan nyeri pada mencit semakin besar.

Kami telah mengamati hasil jumlah liukan pada 2 percobaan mencit ini. Pada percobaan
mencit sebagai ckntrol atau yang tidak bertanda adalah 11 liukan sedangkan jumlah liukan
pada percobaan mencit kedua adalah 61 liukan. Hal ini tidak sesuai dengan teori, sebab
seharusnya jumlah liukan mencit kontrol lebih banyak daripada mencit yang diberikan asam
asetat, hal ini disebabkan karena pada mencit yang telah diberi obat NSAID seharusnya
memiliki ketahanan terhadap nyeri lebih besar sehingga jumlah liukannya sedikit, tetapi pada
percobaan yang kami lakukan, telah terjadi kekeliruan.

Kesalahan ini terjadi dapat terjadi karena beberapa faktor. Faktor pertama yaitu pada
operator, yaitu homogenitas persepsi antar pengamat. Pada praktikum ini tidak dilakukan
persamaan persepsi antara pengamat satu dengan yang lain karena perbedaan kemampuan,
sehingga liukan yang dimaksud antara satu individu dengan individu yang lain dapat berbeda.
Seharusnya sebelum praktikum dimulai, seluruh pengamat telah menyatukan persepsi bentuk
liukkan tubuh mencit yang dimaksudkan.
Faktor kedua berhubungan dengan keadaan mencit tersebut yaitu tingkat resistensi dari
mencit yang berbeda serta suasana raga dan psikis mencit. Hewan percobaan yang tubuhnya
lebih resisten akan mengakibatkan efek obat menghilang karena tubuh mencit telah resisten
terhadap dosis tersebut. Selain itu mencit yang mendapatkan perilaku yang tidak sesuai atau
hal lain yang dapat menimbulkan stres akan cenderung mempengaruhi efek obat, serta
kualitas genetik dan nutrisi mencit juga ikut mempengaruhi.

Faktor ketiga adalah kemungkinan kesalahan faktor pemberian obat oleh laboran. Pada
praktikum ini, anggota belum mengetahui obat dengan dosis tersebut telah terinjeksi pada
lokasi yang benar atau tidak. Selain itu, kami juga tidak dapat memastikan berapa perse obat
yang telah masuk kedalam tubuh mencit, apakah obat tersebut telah masuk seluruhnya
kedalam tubuh mencit atau dosisnya yang menjadi berkurang didalam tubuh mencit sehingga
obat tidak dapat bekerja dengan baik.

Pembahasan Hot Plate

Pada percobaan praktikum mencit, saat mencit yang diberikan tanda hitam
menandakan bahwa mencit itu telah diberikan obat analgesic berupa kodein. Obat analgesic
ini berfungsi untuk menurunkan sensitivitas rsa nyeri pada mencit saat dilakukan stimulus
kimia fisik dan panas, mencit yang telah diinduksi dengan hot plate yang berupa rangsangan
suhu yang sangat panas yaitu sebesar 51C mencit akan merespon rasa panas itu sebagai
nyeri, respon nyeri mencit akan diperlihatkan dengan menjilat telapak kakinya, terutama yang
bagian belakang pada percobaan hot plate, pada mencit yang berwarna hitam ditemukan rata-
rata sebesar 19,97 sedangkan pada mencit yang tanpa tanda ditemukan rata-rata sebesar
20,48.

Pada percobaan ini ditemukan rata-rata mencit hitam yang tidak sesuai dengan teori
Karena terjadi kesalahan berupa human eror saat pengamatan. Sedangkan seharusnya mencit
yang tanpa tanda memiliki rata-rata yang lebih rendah dari yang bertanda hitam Karena tidak
diberikan obat analgesik, sehingga respon terhadap rasa nyeri akan jauh lebih terasa Karena
tidak ada yang memblok rasa nyeri tersebut.

BAB 5

PERTANYAAN
1. Rangsang rusak (naksus) apa saja yang dapat menimbulkan rasa nyeri?

Rangsang rusak (naksus) yang dapat menimbulkan rasa nyeri antara lain rangsangan
mekanis, kimiawi atau fisis. Rangsangan tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada
jaringan sehingga memicu pelepasan zat-zat tertentu yang disebut mediator nyeri. Mediator
nyeri antara lain dapat mengakibatkan reaksi radang dan kejang-kejang yang
mengaktivasireseptor nyeri di ujung saraf bebas di kulit, mukosa dan jaringan lain.
Nocireseptor initerdapat diseluruh jaringan dan organ tubuh, kecuali di SSP. Dari sini
rangsangan disalurkan ke otak melalui jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron dengan amat
benyak sinaps viasumsumtulang belakang, sumsum lanjutan, dan otak tengah. Dari thalamus
impuls kemudianditeruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai
nyeri.

2. Rasa nyeri yang diamati sebenarnya adalah respon nyeri. Respon nyeri apa
saja yang dapat terlihat?

Pada percobaan yang telah dilakukan respon nyeri dilihat dengan adanya liukan
mencit. Sedangkan respon nyeri akibat rangsangan thermal dengan hot plate ditunjukkan
dengan mencit menjilat kaki bagian belakang

3. Bagaimana hasil percobaan dengan metampiron? Berikan penjelasannya!


Apakan perbedaan rasa nyeri pada kelompok I dibandingkan kelompok II?

Pada percobaan dengan metampiron (kelompok I) mencit memperlihatkan respon


nyeri yang lebih sedikit dibanding pada mencit kontrol (kelompok II). Hal tersebut
dikarenakan metampiron memiliki efek analgesik atau penghambat rasa nyeri, sehingga pada
percobaan dengan rangsang thermal (hot plate) mencit yang diberi suntikan metampiron
hanya menunjukkan sedikit respon nyeri dengan menjilat kakinya

4. Apakah kegunaan khusus Metampiron? Bagaimana cara kerjanya? Apakah


efek sampingnya? Apakah kontra indikasinya?

Kegunaan khusus metampiron adalah sebagai analgesik, untuk mengobati nyeri akut
atau kronik hebat bila analgesik lain tidak menolong. Selain itu metampiron juga memiliki
efek farmakodinamik lain seperti antipiretik, menurunkan demam bila tidak dapat diatasi
dengan antipiretik lain dan anti-inflamasi, namun efek anti radang yang dihasilkan rendah.
Cara kerja metampiron adalah derifat metansulfonat dan amidopirina yang bekerja terhadap
susunan saraf pusat yaitu mengurangi sensitifitas reseptor rasa nyeri dan mempengaruhi pusat
pengatur suhu tubuh. Efek samping metampiron dapat muncul seperti gejala kepekaan (ruam,
alergi). Pada penggunaan teratur dan jangka panjang dapat menyebabkan gangguan saluran
cerna, tinitus (telingga berdenging), anemia aplastik atau gangguan/ terhambatnya
pembentukan sel darah merah.

5.Jelaskan mekanisme kerja Metampiron (NSAID)!

Sebagian besar efek terapi dan efek samping NSAID berdasarkan atas
penghambatan biosintesis prostaglandin (PG). Pada saat sel mengalami kerusakan,
maka akan dilepaskan beberapa mediator kimia. Di antara mediator inflamasi,
prostaglandin adalah mediator dengan peran terpenting. Enzim yang dilepaskan saat
ada rangsang mekanik maupun kimia adalah prostaglandin endoperoksida sintase
(PGHS) atau siklo oksigenase (COX) yang memiliki dua sisi katalitik. Sisi yang
pertama adalah sisi aktif siklo oksigenase, yang akan mengubah asam arakhidonat
menjadi endoperoksid PGG2. Sisi yang lainnya adalah sisi aktif peroksidase, yang
akan mengubah PGG2 menjadi endoperoksid lain yaitu PGH2. PGH2 selanjutnya
akan diproses membentuk PGs, prostasiklin dan tromboksan A2, yang ketiganya
merupakan mediator utama proses inflamasi. COX terdiri atas dua isoform yaitu
COX-1 dan COX-2.
Golongan obat ini menghambat enzim siklo oksigenase (COX) sehingga
konversi asam arakhidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat dengan cara
berbeda. Khusus parasetamol, hambatan biosintesis prostaglandin hanya terjadi bila
lingkungannya rendah kadar peroksida seperti di hipotalamus. Lokasi inflamasi biasanya
mengandung banyak peroksida yang dihasilkan oleh leukosit. Ini menjelaskan mengapa efek
anti inflamasi parasetamol praktis tidak ada. Inhibisi biosintesis prostaglandin oleh aspirin
menyebabkan asetilasi yang irreversibel di sisi aktif siklo okigenase, sedangkan sisi aktif
peroksidase tidak terpengaruh. Berlawanan dengan aksi aspirin yang irreversibel, NSAID
lainya seperti ibuproven atau indometasin menyebabkan penghambatan terhadap COX baik
reversibel maupun irreversibel melalui kompetisi dengan substrat, yaitu asam arakhidonat.

6.Jelaskan Mekanisme kerja Kodein!

kodein merangsang reseptor susunan saraf pusat (ssp) yang dapat menyebabkan
depresi pernafasan, vasodilatasi perifer, inhibisi gerak perilistatik usus, stimulasi
kremoreseptor dan penekanan reflek batuk.

BAB 6

PENUTUP

Analgesik adalah senyawa dalam dosis teurapeutik dan meringankan atau menekan
rasa sakit tanpa memiliki kerja anastesi umum. Obat analgesik memiliki target aksi pada
enzim yaitu enzim siklooksigenase (cox) berperan dalam sintesa mediator nyeri , salah
satunya prostaglandin. Pembentukan prostaglandin menginhibisi enxim cox pada dareah
terluka dengan mengurangi pembentukan mediator nyeri.

Daftar Pustaka:
1. Morgan GE, Jr. Mikhail MS, Murray MJ. Lange clinical anesthesiology. 4 th ed. New
York: Lange Medical Books/Mc-Graw-Hill;2006.p.192-97

2. Bacon MD. Opioid Analgesics. In: Longnecker DE, Brown DL, Newman MF, editors.
Anesthesiology. New York: The Mc-Graw-Hill Company Inc; 2008 p. 349-71
3. Aitkenhead AR, Rowbotham DJ. Smith G. Textbook of anaesthesia. 4th ed. London:
churcill Livingstone; 2001.

4. Brunton L, Parker K, Blumenthal D. Opioid analgesics in Goodman and Gilmans


Manual of farmacology and Therapeutics..New York:Lange Medical Books/Mc Graw
Hill; 2008.p 351-71

5. Stoelting RK, Hillier SC. Pharmacology and physiology in anesthetic practice. 4 th ed.
Philadelphia; Lippincott William and Wilkins;2006.p.87-122

6. Katzung BG. Basic and clinical pharmacology 10th ed. New York: Lange Medical
Books/ Mc-Graw-Hill;2007.

7. Casy AF, Parfitt RT. Opioid Analgesic Chemistry and receptors. New York; Plenum
Press; 1996.

8. Fukuda K, Opioids in Millers Anesthesia 6th ed. Philadelphia;Churcill Livingstone;


2005.

9. Freye E, Levy JV. Opioids in medicine. Dusseldorf, Germany:Springer;2008.

10. Sinatra RS, de leon-Cassasola OA, Ginsberg B. Acute Pain Management. New York:
Cambridge press;2009.

11. Stein C. Analgesia. Berlin, Germany:Springer;2007

12. Chahl LA. Opioids mechanism of action. Aust Prescr 1996; 19:63-65

13. New South Wales, Guidelines for opioid detoxification ,(http//www.health.nsw.gov.au


RapidDetoxificationFromOpioidsGuidelines[GL2005_027].pdf) July 21 2011

14. Poyhia R, Seppala T, Olkkola KT, Kalso E. The pharmacokinetics and metabolism of
oxycodone after intramuscular and oral administration to healthy subjects. Br J Clin
Pharm 1992; 33:617-21.
15. Kaplan HL, Busto UE, Baylon GJ, Cheung SW, Otton SV, Somer G, Sellers EM:
Inhibition of cytochrome P450 2D6 metabolism of hydrocodone to hydromorphone
does not importantly affect abuse liability. J Pharmacol Exp Ther 1997; 281:103-108.

16. Armstrong SC, Cozza KL. Pharmacokinetic drug interactions of morphine, codeine,
and their derivatives: Theory and clinical reality. Psychosomatics 2003; 44:515-520.

17. McNulty J. Can Levorphanol be used like methadone for intractable refractory pain?
J Palliat Med 2007, 10:293-96.

18. Bell J, Kimber J, Lintzeris N. Guidelines for rapid detoxification from opioids. NSW
Health, circular no. 2001/17, file no. 00/1287, issued on 23 February 2001 (http://
www.health.nsw.gov.au/publichealth/dpb/publications/pdf/rapiddetoxification_cir200
117.pdf).

19. Knotkova H, Fine P, Portenoy R. Opioid Rotation: The science and the limitations of
the equianalgesic dose table. Journal of Pain and Symptom Management, 2010;
38:426-439

20. Onsolis (fentanyl buccal soluble flm) Prescribing information. Available at: http://
www.Onsolis.com/assets/downloads/Onsolis_pi.pdf. July 4, 2011.

21. Abstral (sublingual fentanyl tablets) Prescribing information. Available at: http://
www. Abstral.com/pdfs/Abstral-PI-MedGuide.pdf. Accessed July 4, 2011.

22.Lazanda (fentanyl nasal spray) Prescribing information. Available at:


http://www.lazanda.com/Lazanda_PI.pdf. Accessed July 4, 2011.

23.Chu LF, Clark DJ, Angst MS. Opioid tolerance and hyperalgesia in chronic pain
patients after one month of oral morphine therapy: A preliminary prospective study.
Pain. 2006;7(1):43-48.

24.Fine P, Portenoy R. Establishing Best Practices for Opioid Rotation: Conclusions of


an Expert Panel. Journal of Pain and Symptom Management, 2010;38:418-425