Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Dasar Teori
Bakteri merupakan golongan prokariotik yang paling penting dan banyak
dibicarakan kerana berbagai macam alasan, misalnya mudah dipelajari, mudah
tumbuh dan memerlukan media yang sederhana, jasilnya mudah dan cepat diketahui.
Bakteri dapat merugikan dan juga dapat menguntungkan pada beberapa makhluk
hidup. Salah satu karakteristik utama bakteri yang umumnya terdiri atas; sitoplasma
dan bahan inti sel, dinding luar terdiri atas 3 lapis dari luar ke dalam berturut-turut
yaitu lapisan lendir, dingind sel, dan membran sitoplasma (Dwidjoseputro, 1978).
Kebanyakan bakteri mengeluarka lendir pada permukaan selnya, melapisi
dinding sel. Jika lapisan lendir ini cukup tebal dan kompak, maka disebut dengan
kapsula. Pada bebrapa jenis bakteri, adanya kapsula menunjukkan sifat virulen.
Kapsula bakteri tidak berwarna, sehingga perlu dilakukan pewarnaan khusus agar
dapat diamati di bawah mikroskop dengan jelas (Utami, 2012).
Menurut Hadioetomo (1993), kapsul atau lapisan lendir bagi bakteri
merupakan pelindung, cadangan makanan, dan pada bakteri-bakteri penyebab
penyakit menambah kemampuan bakteri tersebut untuk menginfeksi. Apabila bakteri
kehilangan kapsulnya maka bakteri akan kehilangan virulennya. Ukuran kapsul sangat
dipengaruhi oleh medium tempat ditumbuhkannya bakteri.
Kapsul bukan organ terpenting bagi kehidupan sel, dan sel yang tidak mampu
membentuk kapsul masih dapat tumbuh secara normal dalam medium. Akan tetapi
kapsul berperan dalam penyesuaian terhadap lingkungan hidupnya. Misalnya kapsul
berperan dalam mencegah terhadap kekeringan, menghambat terjadinya pelekatan
bakteriofag, bersifat antifagosit sehingga kapsul memberikan sifat virulen bagi
bakteri, atau kapsul dapat juga berfungsi untuk alat pelekatan diri pada permukaan
seperti yang dilakukan oleh Streptococcus mutans (Darkuni, 2001).
Kapsula bakteri tidak berwarna dan semua kapsula bakteri tampaknya larut
dalam air. Kapsula ini tidak mudah menerima zat warna. Hanya dengan pewarnaan
khusus kapsula ini dapat dilihat, karena itu jarang ditemukan pada olesan yang
diwarnai secara rutin. Namun kapsula dapat dilihat pada preparat basah (suspensi
pada cairan) organisme itu. Menurut Hastuti (2008) ada 2:
1. Pewarnaan langsung adalah pewarnaan yang dilakukan dengan memfiksasi
bakteri yang diamati. Pewarnaan ini ada dua zat warna yang digunakan
yaitu kristal violet yang berfungsi untuk mewarnai sel vegetatif bakteri dan
CuSO4, 5H2O berfungsi untuk mendeteksi adanya kapsula. Apabila
disekeliling bakteri berwarna biru atau ungu terdaapt bayangan biru muda
hal ini menandakan sel bakteri tersebut memilik kapsula.
2. Pewarnaan tak langsung adalah pewarnaan yang dilakukan dengan tidak
menfiksasi terlebih dahulu terhadap koloni bakteri yang diamati.
Pewarnaan ini menggunakan zat warna yaitu tinta cina. Apabila organisme
terlihat trasnparan (tembus pandang) dan nampak jelas diantara medan
yang gelap berarti sel bakteri tersebut tidak mengandung kapsula.

Prinsip dasar dari pewarnaan adalah adanya ikatan ion anatar komponen
seluler dari bakteri dengan senyawa aktif dari pewarna yang disebut kromogen.
Terjadinya ikatan ion karena adanya muatan istrik baik pada komponen seluler
maupun pada pewarna. Berdasarkan adanya muatan ini maka dapat dibedakan
pewarna asam dan pewarna basa. Pewaran asam dapat terjadi apabila senyawa
bermuatan negatif. Dalam kondisi pH mendekati netral dinding sel bakteri cenderung
bermuatan negatif, sehingga pewarnaan asam yang bermuatan negatif akan ditolak
oleh dinding sel, maka dari itu sel tidaak berwarna. Pewarna asam ini disebut dengan
pewarna negatif. Contoh pewarna assam misalnya: tinta cina, larutan Nigrosin, asam
pikrat, eosin, dan lain-lain. Pewarnaan basa dapat terjadi apabila senyawa pewarna
bersifat positif, sehingga akan diikkat oleh dinding sel bakteri dan sel bakteri menjadi
berwarna dan terlihat. Contoh dari pewarna basa misalnya metil biru, kristal violet,
safranin, dan lain sebagainya (Rizky, 2008).

B. Tujuan
Tujuan dari pengamatan pewarnaan gram adalah
1. Untuk memperoleh ketrampilan melalukan pewarnaan kapsula
2. Untuk mengetahui ada atau tidak adanya kapsula bakteri.

BAB II

METODE
A. Alat Dan Bahan
Alat
1. Mikroskop
2. Kaca benda
3. Lampu spiritus
4. Mangkuk pewarna
5. Kawat penyangga
6. Jarum inokulasi berkolong
7. Korek api
Bahan
1. Biakan bakteri
2. Tinta cina merk Pelikan
3. Aquadest steril
4. Larutan kristas violet 0,5%
5. Larutan CuSo4, 5H2O 20%
6. Alkohol
7. Lisol
8. Sabun cuci
9. Kertas penghisap
10. Lap
B. Cara Kerja
1. Pewarnaan Tidak Langsung/ Negatif
a. Menyediakan kaca benda yang bersih, kemudian melewatkan di atas nyala api
lampu spiritus.
b. Menyediakan biakan campuran atau biakan murni bakteri, kemudian menentukan
koloni bakteri yang akan diperiksa kapsulanya.
c. Menesteskan satu ose aquadest steril di atas kaca benda.
d. Secara aseptik mengambil inokulum yang akan diperiksa, kemudian meratakan
perlahan-lahan di atas tetesan aquadest itu. Membiarkan sampai sediaan itu
mengering tanpa difikasi.
e. Meneteskan setetes tinta cina merk pelikan di atas sediaan tersebut, lalu
meratakan perlahan.
f. Membiarkan sediaan ini mengering, lalu mengamati di bawah mikroskop (tanpa
kaca penutup). Sel- sel bakteri tampak transparan dengan latar belakang berwarna
hitam, sedang kapsula (bila ada) berwarna coklat muda dikelilingi sel bakteri.

BAB III
ANALISIS DATA DAB PEMBAHASAN
A. ANALISIS DATA
1. Pewarnaan langsung/ positif
2. Pewarnaan tidak langsung/ negatif
Pada pengamatan perwarnaan tidak langsung atau negatif pada kapsula
bakteri menggunakan 2 sampel koloni dengan dua tempat yang berbeda yaitu
koloni bakteri yang berasal dari kolam dan GLB (Gedung Laboratorium
Bersama). Untuk pengamatan ini pewarnaan menggunakan setetes tinta cina
yang kemudian diratakan dan ditunggu hingga mengering. Dari pengamatan
yang telah dilakukan, didapatkan hasil yaitu koloni bakteri yang diambil dari
kolam menunjukkan warna bening transparan pada sel vegetatifnya sedangkan
kapsulnya tidak berwarna. Koloni bakteri yang diambil dari GLB (gedung
Laboratorium Bersama) menunjukkan warna yang transparan juga pada sel
vegetatifnya, sedangkan kapsulnya tidak berwarna. Dari hasil pengamatan,
kesimpulan sementara yang dapat diambil yaitu bahwa pada uji pewarnaan
tidak langsung atau negatif pada koloni bakteri menunjukkan hasil negatif
yang menandakan bakteri tidak memiliki kapsul dan tidak ditemukan adanya
pembungkus sel bakteri yang berwarna kecoklatan.
B. PEMBAHASAN
1. Pewarnaan Langsung/ Posistif
2. Pewarnaan Tidak Langsung/ Negatif
Pada praktikum ini pewarnaan secara tidak langsung dilakukan dengan
menggunakan tinta cina. Pewarnaan secara tidak langsung ini dimaksudkan
untuk mewaarnai latar belakang. Apabila bakteri memiliki kapsul, maka dalam
pengamtan sel bakteri akan tampak transparan dan diselubungi oleh kapsul
berwarna kecoklatan. Tinta cina merupakan larutan yang mempunyai
kromophore, atau butir pembawa warna yang bermuatan negatif (memiliki
anion) sedangkan muatan yang berda disekeliling bakteri juga bermuatan
negatif (memiliki anion), sehingga terjadi tolak menolak antara kedua ion
tersebut. Hal inilah yang menyebabkan bakteri berwarna transparan dan yang
nampak hanya warna latar belakangnya yaitu hitam (Rizky, 2008).
Terbentuknya warna transparan ini dikarenakan sel bakteri tidak
mampu menyerap warna. Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum ini,
diketahui bahwa pada koloni I yang diambil di kolam dan koloni kedua yang
diambil di GLB tidak memiliki kapsul. Hal ini ditandai dengan tidak adanya
warna kecoklatan yang menyelubungi luar dinding sel bakteri.

a b
Gambar 2: a) pewarnaan tidak langsung/ negatif pada koloni bakteri yang dimabil dari
kolam menunjukkan hasil yang negatif karena tidak berwarna kecoklatan pada sekitan
koloni.b) pewarnaan tidak langsung/ negatif pada koloni yang diambil dari GLB juga
menunjukkan hasil yang negatif.
Kapsul sendiri sebenaranya berfungi untuk melindungi bakteri dari fagosit
oleh sel-sel yang berperan dalam imunitas (seperti leukosit, limfosit, dan sel
mast). Apabila bakteri tidak difagosit oleh sel-sel tersebut, maka bakteri akan
bersifat virulen dan mempunyai kemampuan menyebabkan penyakit. Dengan
tidak adanya kapsul yang merupakan polisakarida yang berlekatan di luar dinding
sel ini, umumnya bakteri pada koloni tersebut tergolong bersifat tidak virulen. Hal
ini terkait dengan bakteri yang mempunyai kemampuan untuk menimbulkan
penyakit. Bila bakteri tidak mampu mempunyai kapsul maka bakteri tidak bersifat
virulen dengan demikian bakteri tidak menyebabkan infeksi (Kusnadi, 2003).

Hal ini sesuai dengan penyataan Pelczar (1986) yang menyatakan bahwa jika
bakteri kehilangan kapsulnya sama sekali maka bakteri akan dapat kehilangan
kemampunannya untuk menyebabkan infeksi. Bakteri yang berkapsul juga dapat
menyebabkan adanya gangguan seperti lendir dalam beberapa proses industri.
Sedangkan menurut Kusnadi (2003) tidak adanya kapsul tidak memperngaruhi
kelangsungan hidup bakteri sehingga tidak semua bakteri memiliki kapsula.
Kapsula bukanlah organ yang penting bagi kehidupan sel , karena apabila kondisi
medium normal maka sel bakteri tidak membentuk kapsula dan tetap dapat
tumbuh secara normal (Darkuni, 2001).

DAFTAR RUJUKAN

Dwidjoseputro, D. 1978. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: PT. Djambatan


Darkuni, N. 2001. Mikrobiologi. Malang: Universitas Negeri Malang
Hadioetomo, R. S. 2001. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktik. Jakarta: PT.
Gramedia
Kusnadi. 2003. Mikrobiologi. Bandung: JICA IMSTEP
Pelczar, M. J. 1986. Dasar- Dasar dalam Praktik Teknik dan Prosedur
Laboratorium. Jakarta: Gramedia
Rizky. W. 2008. Pewarnaan, (Online), (http://materikuliahpewarnaan.html),
diakses tanggal 06 Februari 2016
Utami, S. H. 2012. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: UM