Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Teori bilangan merupakan salah satu cabang matematika yang telah

lama dipelajari.Pada awalnya, keindahan sifat bilangan atau sistem bilangan

merupakan suatu daya tarik bagi para pakar-pakar matematika dalam

mengembangkan konsep-konsep dalam teori bilangan.Salah satu bagian

penting dari keindahan ini adalah konsep bilangan prima.


Suatu bilangan bulat, n>1 disebut bilangan prima bila n hanya

mempunyai pembagi 1 dan n sendiri.Bilangan prima memiliki keunikan

karena sifat-sifatnya yang khas dalam teori bilangan.Sebagai contoh, teori

fundamental aritmetika atau biasa juga disebut faktorisasi tunggalyang

menunjukkan bahwa bilangan-bilangan prima adalah faktor penyusun

bilangan-bilangan bulat positif.Setiap bilangan bulat positif dapat dinyatakan

penyusun bilangan-bilangan bulat positif.Setiap bilangan bulat positif dapat

dinyatakan secara tunggal sebagai bilangan prima atau hasil perkalian dari

bilangan-bilangan prima tanpa memperhatikan urutannya.


Berdasarkan sifat yang dimiliki oleh bilangan bulat dapat didefinisikan

fungsi-fungsi khusus yang mempunyai peranan tertentu dalam teori

bilangan.Fungsi-fungsi khusus tersebut sering disebut fungsi aritmetik (fungsi

teori bilangan) yang terdiri atas fungsi tau ( ) dan fungsi sigma ( ).

Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan membahas lebih dalam tentang

1
Faktorisasi Tunggal dan Fungsi Aritmetik dalam Teori Bilangan untuk

dipresentasikan pada mata kuliah pengenalan teori bilangan.


B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini berdasarkan

latarbelakang di atas adalah sebagai berikut:


1. Bagaimana faktorisasi tunggal (teorema dasar aritmetika) dalam bilangan

prima?
2. Apa yang dimaksud fungsi aritmetik (fungsi khusus dalam teori bilangan)

dan pembagiannya?
C. Tujuan

Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui faktorisasi tunggal (teorema dasar aritmetika) dalam

bilangan prima.
2. Untuk mengetahui fungsi aritmetik (fungsi khusus dalam teori bilangan)

dan pembagiannya.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Faktorisasi Tunggal

Telah diketahui bahwa setiap bilangan bulat positif yang lebih besar
dari 1 dapat dinyatakan sebagai perkalian dari bilangan- bilangan prima
tertentu. Dapat dikatakan bahwa setiap bilangan bulat positif yang lebih besar
dari 1 dapat dinyatakan sebagai hasil kali faktor-faktor prima (mungkin hanya
1 faktor).Pada bagian ini dipelajari bahwa hasil kali dari faktor-faktor prima
itu adalah tunggal, kecuali hanya berbeda urutan dari faktor-faktor prima
tersebut. Pemfaktoran suatu bilangan bulat atas faktor-faktor prima yang
tunggal itu terkenal dengan namaTeorema Dasar Aritmetika (Fundamental
Theorem of Arithmetic) dan disebut faktorisai tunggal. Nama teorema dasar
aritmetika digunakan karena memberikan dasar dalam mengembangkan
teorema lain dalam aritmetika. Sebelum membicarakan faktorisasi tunggal,
teorema berikut dikemukakan sebagai persiapan untuk membuktikan
faktorisasi tunggal.

Teorema 6.6

Jika p sutu bilangan prima dan p | ab, a,b Z, maka p | a atau p | b.

Bukti :
Cara I
Karena p suatu bilangan prima, maka p hanya mempunyai faktor 1 dan p,
sehingga (a,p) = 1 atau (a,p) = p untuk bilangan bulat a sembarang.
Jika p + b maka (a,p) = 1, jika p | ab dan (a,p) = 1, maka p | b. Hal ini
sesuai dengan teorema 5.17 bahwa jika a | bc dan (a,b) = 1 maka a | c.
Karena p + b maka dengan cara yang sma dapat dibuktikan p | a.

3
Cara II

Jika (a,p) = 1 maka ada x, y Z sehingga ax + py = 1

(ax + py)b = b (sifat distributif perkalian)

(ax)b + (py)b = b (sifat asosiatif perkalian)

Karena p | ab dan p | p maka p | abx dan p | pby.

Karena p | abx dan p | pby maka p | (abx+pby).

Karena p | (abx+pby) dan abx + pby = b maka p |b.

Dengan jalan yang sama, jika dianggap p + b , maka dapat dibuktikan

a1 a2 a3,
bahwa p | a.Teorema 6.6 dapat diperluas untuk bilangan , ,

an
....... .

Teorema 6.7

a1 a2 a3, an
Jika p suatu bilangan prima dan p | , , ....... . Maka p |

ai
untuk 1 i n.

Bukti:

Induksi matematika diterapkan pada n, yaitu banyaknya faktor.Ambil bilangan


prima p.
a1
1). Untuk n = 1 berarti p | , jels benar.

a1 a2 a1
2). Untuk n = 2 beraarti p | , karena p bilangan prim maka p |

a2
atau p| (Teorema 6.6).

4
3). Andaikan teorema benar untuk n > 2, diambil sebagai hipotesis induksi.
4). Apabila p membagi perkalian sejumlah kurang dari n faktor, maka p
membagi paling kurang salah satu dari faktor itu ditulis bahwa 2 < t < n, yaitu

a1 a2 a3, at as
p prima dan p | , , ....... maka p | untuk suatu s

dengan 2 < s < t.


a1 a2 a3, an a1 a2 a3,
Pandang p | , , ....... . Atau p | ( , , .......

an1 an an a1 a2 a3,
.) ( ). Menurut teorena 6.6, p | atau p | , ,

an1 an a1 a2
....... . Jika p | benar, teorema terbukti. Jika p | , ,

a3, an1 a1 a2 a3, an2


....... atau keadaan lain p | , , ....... (

an1 a1 a2 a3,
), menurut teorema 6.6 lagi diperoleh bahwa p | , ,

an2 an1
....... atau p | .

an1
Jika p | . Maka teorema terbukti.

a1 a2 a3, an2
Jika p | , , ....... , maka proses seperti diatas

dapat diteruskan. Berdasarkan hipotesis yang diambil, proses tersebut pasti


akan berakhir.Dengan demikian, bilangan prima p membagi salah satu dari p |

a1 a2 a3, an
, , ....... .

q1 q2
Andaikan Teorema 6.6 diterapkan untuk kasus bahwa p, , ,

q3, qn q1 q2 q3,
....... semuanya bilangan prima dan p | , , .......

qn qk
maka menurut Teorema 6.6, p | untuk suatu k dengan 1 k

5
qk qk
n. Karena p dan adalah bilangan- bilangan prima dan p | adalah

qk qk
bilangan- bilangan prima dan p | maka p = .

Teorema 6.8
q1 q2 q3, qn q1
Jika p, , , ....... semua bilangan prima dan p | ,

q2 q3, qn qk
, ....... maka p = untuk suatu k dengan 1 k n.

Bukti:
q1 q2 q3, qn
Jika p | , , ....... adalah bilangan prima yang

q1 q2 q3, qn
memenuhi sifat p | , , ....... , menurut Teorema 6.6, p |

q1 q2 q3, qn q1 q2 q3,
,p| ,p| , dan p | . Karena p, , ,

qn q1 q1
....... adalah bilangan prima, maka jika p | , haruslah p =

q2 q2
begitu pun untuk p | memberikan p = dan seterusnya sampai p |

qn qn q1
memberikan p = . Dengan demkian, diperoleh p = , p =

q2 q3, qn qk
,p= .., dan p = atau dapat dituliskan p = untuk 1

k n.

Selanjutnya, kita akan membuktikan ketunggalan dari pemfaktoran


dari suatu bilangan bulat positif atas faktor- faktor prima. Teorema ini
menyatakan bahwa jika x adalah sebarang bilangan bulat positif lebih dari 1,

p1 p2 pn pi
maka x dapat ditulis sebagai x = , . , dimana ,1 j

6
n masing- masing bilangan prima. Lebih dari itu, jika x = p1 p2
,

pk q1 q 2 qn qj
. dan x = . , dimana bilangan , 1 j n

q1 q 2 qn
adalah bilangan prima yang sama dengan . dalam urutan

sembarang.
Teorema 6. 9

Pemfaktoran suatu bilangan bulat positif yang lebih besar dari satu atas faktor-
faktor prima adalah tunggal, kecuali urutan dari faktor- faktornya mungkin
tidak tunggal.

Bukti:

Kita menyelesaikan bukti teorema ini menjadi dua bagian.Bagian


pertama menunjukkan bahwa setiap bilangan bulat positif yang lebih besar
dari satu dapat difaktorkan menjadi faktor prima.Bagian kedua menjelaskan
bahwa faktorisasi itu tunggal.

1) Pandang bilangan bulat m sebarang yang lebih besar dari 1. Akan


ditunjukkan bahwa m dapat dituliskan sebagai perkaian faktor- faktor
prima. Karena m adalah bilangan yang lebih besar dari satu, maka m
mungkin prima atau komposit. Andaikan m bilangan prima maka m adalah
faktor primanya sendiri.
Andaikan m bilangan komposit, menurut Teorema 6.3 m memliki faktor

p1 p1 p2 m2 m2 m1
, sehingga m = dengan 1 < < m. jika prima

m1 m1
maka pembuktian selesai. Tetap jika komposit maka =

p1 p2 m2 m2 m1
dengan 1 < < .

7
m2 m2
Jika prima maka pembuktian selesai. Tetapi jika komposit

m2 p3 m3 p1 p2 p 3 m 3 m3
maka = sehingga m = dengan 1 < <

m2
, dan seterusnya.
mk1 pk
Proses ini akan berakhir pada yang prima, misalnya maka

p1 p2 p 3 pk
m= . , artinya m adalah hasil kali faktor- faktor prima.
2) Akan ditunjukan bahwa faktorisasi itu tunggal. Andaikan bahwa
pemfaktoran m diatas faktor- faktor prima tidak tunggal yaitu ada m =

p1 p2 p 3 pr q1 q 2 q 3 qs s; pI
. dan m = . dengan r dan

qj
semuanya bilangan prima untuk i = 1,2,3,,r dan j = 1,2,3,.s

p1 p2 p3 pr p1 p2 p 3, pr
serta . Karena p | ....... maka

p1 q1 q 2 qs
| .. . Berdasarkan Teorema 6.8 untuk suatu k, 1 k

s. Karena q1 q2 . qk . qs maka
q1 q1

q1 q1 p1 p2 p 3, pr
Selanjutnya, jika dipandang | m yaitu | ....... .

q1 pt
Menurut Teorema 6.8, = untuk suatu t dengan 1 t

p1 p2 pk pr p1 q 1
r. Karena ... .. maka . Karena

q1 p1 p1 q1 p1 q1
| dan | maka haruslah = . Akibatnya

p2 p3 pr q2q3 qs
. = .
Jika proses diata diulang maka diperoleh :
p1 q2 p3 p 4 p q q q
= dan . r = 3 4 .. s
p3 q3 p4 p5 pr q 4 q5 qs
= dan . = ..

8
qs
Jika proses ini diteeruskan dan r = s maka akan berakhir pada p r =

dan teorema terbukti. Jika r < s maka akan diperoleh 1 = q r+1 qr+2 qr+3, qs .
Hal ini mustahil karena qr+1 qr+2 qr+3, qs itu masing- masing lebih besar
dari 1, sehingga haruslah r = s dan p1 = q1, p2 = q2, p3 = q3, pr = qs. Ini berarti
bahwa m hanya dapat dinyatakan sebagai satu hasil kali faktor- faktor
prima saja.

Contoh Soal
Tunjukkan pemfaktoran prima dari 84 !
Penyelesaian :
Cara pemfaktoran prima dari suatu bilangan adalah menyatakan bilangan itu
sebagai perkalian dua bilangan , sehingga diperoleh dua faktor. Selanjutnya,
faktor-faktor yang belum merupakan bilangan prima difaktorkan
lagi.Demikian seterusnya sampai diperoleh semua faktornya adalah bilangan
prima. Karena kemungkinan ada banyak cara dalam setiap langkah
memfaktorkan, kemungkinan juga terdapat banyak cara dalam pelaksanaan
pemfakoran prima. Misalnya pemfaktoran prima 84 dilakukan dengan cara
atau skema yang dikenal dengan nama diagram pohon. Pemfaktoran prima
adalah sama yaitu :
a. 84 = (2) (2) (3) (7) = 22 (3) (7);
b. 84 = (3) (2) (2) (7) = 3 (22) (7);
c. 84 = (3) (7) (2) (2) = (3) (7) (22).
Jadi jelas bahwa pemfaktoran prima dari 84 adalah tunggal, kecuali urutan
faktornya bisa berbeda.

84
84

2 42 3 28

2 21 14
2

3 7
2 7

9
a (b)

84

21 4

3 7 2 2

(c)

Walau pun terdapat tiga jenis diagram pohon, tetapu hasil pada
pembahasan terdahulu mengenai bilangan bulat tidak terhingga banyaknya
dan setiap bilangan bulat tidak terhingga banyaknya dan setiap bilangan bulat
dapat difaktorkan atas faktor-faktor prima.

Pada sekitar tahun 300 SM, Euclides membuktikan bahwa banyaknya


bilangan prima adalah tidak terhingga. Teorema Euclides tersebut dapat
dinyatakan sebagai berikut:jika diberikan sebarang daftar bilangan prima,
adalah selalu mungkin membentuk bilangan prima yang baru yang tidak
terdapat dalam daftar . Jadi, banyaknya bilangan prima adalah tidak
terhingga.

Teorema 6.10

Banyaknya bilangan prima adalah tidak terhingga.

Bukti:

Misalkan bahwa banyaknya bilangan prima adalah terhingga yaitu P1, P2,P3,
Pn dimana P1= 2(bilangan prima terkecil) dan Pn adalah bilangan prima terbesar.
Dari semua bilangan prima itu, dari P1hinggaPn, dapat dibentuk suatu bilangan
bulat positif R dengan jalan mengalikan bersama-sama bilangan prima
tersebut lalu ditambah dengan 1 yaitu R=( P 1 P2 P3Pn) +1.Karena R >1,

10
terdapat dua kemungkinan nilai R, yaitu R mungkin merupakan bilan gan
komposit atau prima.

1) Bila R bilangan prima, yaitu R= Pi (1in) maka R|R, yaitu Pi | (P1 P2 P3Pn
)+1. Karena Pi |Pi maka Pi |(P1.P2. P3. Pi Pn ) (berdasarkan teorema jika

a,b Z, a|b maka a|bc c Z)


Kemudian Pi | (P1 P2 P3Pn )+1 dan Pi |(P1.P2. P3. PiPn ), maka Pi |

1(berdasarkan teorema jika a,b Z, a|b maka a|b+c maka a|c). terjadi

kontradiksi karena tidak ada bilanganprima yang habis dibagi 1.


2) Bila R bilangan komposit, maka ada bilangan prima P i (1jn) sehingga Pj

| R (sesuai teorema jika n Z+ dan n adalah komposit, maka ada

bilangan prima sehingga P|n ). Karena Pj|R, Pj |(P1.P2. P3. PjPn )+1.
Dengan demikian pula, karena Pj | Pjmaka Pj|(P1.P2. P3. Pj Pn )

(berdasarkan teorema jika a,b Z, a|b maka a|bc c Z)


Selanjutnya, karena Pj |(P1.P2. P3. PjPn )+1 dan Pj |(P1.P2. P3. PjPn ) maka
Pj |1. Terjadi kontradiksi karena tidak ada bilangan komposit yangmembagi
habis 1.Jadi dapat disimpulkan bahwa banyaknya bilangan prima adalah
tidak terhingga.
Pada pembuktian teorema Euclides dapat diambil kesimpulan bahwa
n
Pn+1 P1P2Pn +1 < Pn +1. Sebagai contoh, jika n=2 maka ketidaksamaan

2
tersebut menjadi P3 P1P2 Pn +1 < P2 +1 atau 5 (2)(3) +1=7<9+1=10.

Ketidaksamaan ini menunjukkan bahwa bilangan prima ke 3 kurang dari


10.Pendekatan ini terlihat masih sangat kasar.Pendekatan yang lebih halus
untuk menentukan sebuah batas atas dari barisan Pn dinyatakan dalam teorema
berikut.
Teorema 6.11
Jika dalam barisan bilangan prima, Pn menyatakan bilangan prima ke-n, maka
n1
2
Pn 2

11
Bukti:
Pembuktian menggunakan induksi matematika untuk n, dengan dua langkah,
yaitu:
11 0

22 2
1) Untuk n=1 diperoleh P1 = 2 =2 .hal ini memang benar karena

bilangan prima pertama adalah 2.


n1 k1
2
2) Diasumsikan bahwa Pn 2 benar untuk n=k, yaitu P k 22 .

n1
2
Selanjutnya harus dibuktikan bahwa Pn 2 benar untuk n=k+1, yaitu

k+ 11 k
2 2
Pk+1 2 atau Pk+1 2 .
Perhatikan bahwa:
Pk+1 (P1 P2 P3Pk )+1
2 3 k1
2 2 2 2
Pk+1 [2( 2 )( 2 )( 2 )...( 2 )]+1
2 3 k1
1+2+ 2 +2 ++2
Pk+1 2 +1
2 3 k1
Barisan pangkat yaitu: 1+2+2 + 2 + +2 ternyata merupakan suatu

deret geometri dengan rasio 2. Barisan itu dapat ditulis 2k1 , sebagai

k k1

deret geometri. Jadi Pk+1 22 +1. Karena 22 >1 untuk setiap

bilangan bulat asli k, ketidaksamaan tersebut menjadi


k1 1 2 k11 2 k k k
2 2
2 2 2
Pk+1 2 + 2 = 2 + 2 = 2

3) Karena teorema diasumsikan bemar untuk n=1 dan benar untuk n=k dan
telah ditunjukkan benar juga untuk n=k+1, maka teorema benar untuk
n1
2
setiap bilangan asli n. jadi Pn 2 benar untuk setiap bilangan asli n.
Teorema 6.12
Untuk n 1 ada paling sedikit n+1 buah bilangan prima yang lebih

n
2
kecil dari 2
Bukti:

12
Misalkan Pi (i=1,2,3,,n) bilangan prima, maka diperoleh P1 < P2 < P3 <
n
2
< Pn < Pn+1 2
B. Fungsi Aritmetik dalam Teori Bilangan
Berdasarkan sifat yang dimiliki oleh bilangan bulat dapat didefinisikan
fungsi-fungsi khusus yang mempunyai peranan tertentu dalam teori
bilangan.Fungsi-fungsi khusus tersebut sering disebut fungsi aritmetik (fungsi
teori bilangan).Pada umumnya, fungsi aritmetik didefinisikan mempunyai
daerah asal pada himpunan semua bilangan bulat. Apabila f suatu fungsi
aritmetik, maka f : B+ B dengan B adalah himpunan semua bilangan bulat
dan B+ adalah himpunan semua bilangan bulat positif. Fungsi-fungsi khusus

tersebut adalah fungsi tau ( ) dan fungsi sigma ()


1. Fungsi Tau

Definisi 6.3
Fungsi tau (n) menyatakan banyaknya pembagi bulat positif dari n,

untuk n suatu bilangan bulat positif


Contoh soal
Tentukanlah pembagi bulat positif mulai dari bilangan 1 hingga bilangan
15!
Penyelesaian:
a) Pembagi bulat positif dari 1 adalah 1 sendiri sehingga (1)1
b) Pembagi bulat positif dari 2 adalah 1 dan 2, sehingga (2)=2
c) Pembagi bulat positif dari 3 adalah 1 dan 3, sehingga (3)=2
d) Pembagi bulat positif dari 4 adalah 1, 2 dan 4, sehingga (4)=3
e) Pembagi bulat positif dari 5 adalah 1 dan 5, sehingga (5)=2
f) Pembagi bulat positif dari 6 adalah 1, 2, 3 dan 6, sehingga

(6)=4
Dengan cara yang sama, dapat diketahui bahwa (7)=2, (8)=4,

(9)=3, (10)=4, (11)=2, (12)=6, (13)=2, (14)=4

dan (15)=4.

13
Berdasarkan contoh, dapat diketahui bahwa apabila p suatu

bilangan prima, maka (p)=2. Banyaknya pembagi bilangan bulat

positif dari n sering dinyatakan dengan rumus yang menggunakan notasi


(baca; sigma). Beberapa contoh penggunaan notasi diberikan dalam
contoh berikut.

Contoh Soal

3+ a4
2+ a
1+ a
an= a
4
a
n=1

6
b n=3+4 +5+6
n=3

6
c 2=2+2+2+2+2+2
n=1

d d=1+ 2+7 +14, jumlah semua pembagi bulat positif 14


d14

e 1=1+1+1+1, banyak semua pembagi bulat positif 14


d 14

f f (d )=f ( 1 )+ f ( 2 )+ f ( 3 ) + f ( 6 ) +f ( 9 )+ f (18)
d 18

Berdasarkan beberapa contoh notasi tersebut, (n) dapat

dirumuskan sebagai berikut :

14
( n ) = 1 untuk n 1
dn

Jadi ( n) merupakan penjumlahan dari 1 sebanyak pembagi bulat

positif dari n.

Contoh Soal

a) Semua pembagi bulat positif dari 30 adalah 1,2,3,5,6,10,15,30,


sehingga

1=1+1+1+1+1+1+1+1=8
d30

b) Semua pembagi bulat positif dari 25 adalah 1,5, dan 25, sehingga

1=1+1+1=3
d25

c) Semua pembagi bulat positif dari 12 adalah 1,2,3,4,6, dan 12, sehingga

1=1+1+1+1+1+1=6
d12

Dengan cara yang sama dapat diketahui bahwa

1=1, 1=1+1=2, 1=1+1=2, 1=1+1+1=3


d 1 d 2 d 3 d 4

1=1+1=2, 1=1+ 1+ 1+ 1=4, 1=1+1=2


d 5 d6 d 7

1=1+1+ 1+ 1=4 dan seterusnya .


d8

Berdasarkan contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa jika p suatu


bilangan prima, pembagi bulat positifnya hanyalah 1 dan p, sehingga

( p )=2. Karena itu

1=1+1=2 untuk setiap bilangan prima p . Selanjutnya ,


d p

1) Pembagi bulat positif dari p2 adalah 1, p dan p2sehingga

15
( p2 )= 1=1+1+1=3
2
d p

2) Pembagi bulat positif dari p3 adalah 1, p, p2, dan p3 sehingga


( p3 ) = 1=1+1+1+1=4
3
d p

3) Pembagi bulat positif dari p4 adalah 1, p, p2 , p3 dan p4 sehingga


( p4 )= 1=1+1+1+1+1=5
4
dp

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa jika k suatu


bilangan bulat positif dan p adalah suatu bilangan prima maka

( pk ) =k +1

Contoh Soal
Tentukanlah ( 16 ) , ( 32 ) , ( 81 ) , ( 125 ) , ( 128 ) , ( 243 ) dan ( 2401 ) !
Penyelesaian:

a) 16 = 24, sehingga ( 16 )= 24 ) = 4+1=5.

Hal ini dapat diperiksa dengan mencacah semua pembagi bulat positif dari
16 yaitu 1, 2, 3, 4, 8, dan 16.
5
b) 32=25, sehingga ( 32 )= ( 2 ) =5+1=6
Semua pembagi bulat positif dari 32 adalah 1, 2, 4, 8, 16 dan 32
4
c) 81= 34 , sehingga ( 81 )= ( 3 ) =4 +1=5
3
d) 125=53 , sehingga ( 125 )= ( 5 )=3+1=4
7
e) 128=27 , sehingga ( 128 )= ( 2 )=7+1=8
5
f) 243 = 35 , sehingga ( 243 )= ( 3 )=5+ 1=6
4
g) 2401 = 74 , sehingga ( 2401 )= ( 7 ) =4 +1=5
Berdasarkan contoh diatas, maka apabila p1 dan p2 keduanya
adalah bilangan prima dan n = p 1 p2, maka pembagi bulat positif dari n

adalah 1, p1, p2 dan p1 p2 = n sehingga ( n ) =4 . Jika m = p 2p 3 , maka


1 2

pembagi bulat positif dari m dapat disusun sebagai berikut:

1, P2, P22 , P23

16
P1 P1 P2 P1 P22, P1 P23

P12 P12 P2, P12 P22 P12 P23

Terlihat pada daftar ini bahwa ( m ) = (p 2 p 3 )= 3 X 4 =12.


1 2

Contoh Soal
Tentukanlah ( 648 ) , ( 675 ) dan ( 6125 ) !
Penyelesaian :
a) ( 648 )= (23 X 34) = (3+1) X (4+1) = 20

b) ( 675 )= (35 X 52)= (3+1) X (2+1) = 12

c) ( 6125 )= (53 X 72) = (3+1) X (2+1) = 12

Teorema 6.13

Apabila n=pkqt dengan p dan q bilangan-bilangan prima yang berlainan dan k, t

adalah bilangan-bilangan bulat positif, maka (n)= (pkqt) = (k+1) (t+1).

Bukti:

Semua pembagi bulat positif dari n=pkqt dapat disusun daftar sebagai
berikut:

17
1, P, P2 , P3 , Pk

q1 Pq2 P2q, P3q2 , Pkq

q2 Pq2, P2q2 P3q2 , Pkq2

. . . . ,.

. . . . ,.

. . . . ,.

qt Pq t, P2qt P3qt , Pkqt = n

Terlihat pada daftar tersebut bahwa :

(n)= (pkqt) = (k+1) (t+1).

Pada teorema dasar aritmetika, telahdijelaskan bahwa setiap


bilangan bulat positif yang lebih besar dari 1 (n1) dapat difaktorkan
secara tunggal atas factor-faktor prima. Selanjutnya, n dapat ditulis dalam
bentuk kanonik sebagai n= P1a1P2a2 P3a3 Pkak dengan Pi untuk
i= 1, 2, ,k adalah bilangan-bilangan prima yang berlainan dan a i 1
untuk setiap i = 1, 2, 3,,k. Bila telah diperoleh bentuk kanonik dari suatu
bilangan bulat positif, maka dapat ditentukan banyaknya pembagi bulat

positif dari n yaitu (n) yang dijelaskan dalam teorema berikut

Teorema 6.14

Apabila bentuk kanonik dari bilangan bulat positif n adalah

Bukti :

18
, maka (n)=
Apabila d suatu pembagi bulat positif dari n, maka d=
t1 t2 t3 tk
P1 P 2 P3 Pk dengan 0t1ai. Banyaknya pembagi bulat positif dari n

merupakan hasil kali banyaknya pilihan yang mungkin untuk t i dari (ai+1)

a
a
a
a
pilihan, sehingga diperoleh (n)= ( k +1) .
( 3+1)
( 2+1)
( 1+1)

Rumus (n) tersebut sering dinyatakan dengan notasi (baca;

pi).Contoh pemakaian notasi diberikan sebagai berikut.

Contoh Soal

6
a pi =P1 X P2 X P 3 X P4 X P5
i=1

5
b f ( n )=f ( 1 ) f ( 2 ) f ( 3 ) f ( 4 ) f (5)
n=1

n
c ( Pi +1 )= ( P1+ 2 )( P 2+2 ) ( P3 +2 ) ( Pn +2 )
i=1

k
d ( a i+ 1 )=( a1+1 )( a2 +1 )( a3 +1 ) ( a k +1 )
i=1

19
Contoh Soal

Tentukan (2205), (9450), dan (25200)!

Penyelesaian :

a) 2205 = 32 x 5 x 72
(2205) = (32 x 5 x 72) = (2+1)(1+1)(2+1) =18.

b) 9450 = 2 x 33 x 52 x 7
(9450) = (2 x 33 x 52 x 7) = (1+1)(3+1)(2+1)(1+1) = 48.

c) 25200 = 24 x 32 x 52 x 7
(25200) = (24 x 32 x 52 x 7) = (4+1)(2+1)(2+1)(1+1) = 90.

Contoh berikut memperlihatkan hasil kali pembagi-pembagi bulat


positif dari suatu bilangan bulat positif n.

Contoh Soal
Tentukan hasil kali semua pembagi bulat positif dari 24 dan 56!
Penyelesaian :
a) Pembagi bulat positif dari 24 adalah 1,2,3,4,6,8,12, dan 24, sehingga

(24)=8
Hasil kali semua pembagi bulat positif dari 24 ditulis dengan notasi
K(24) yaitu :
K(24) = 1 x 2 x 3 x 4 x 6 x 8 x 12 x 24
= (1 x24)(2x12)(3x8)(4x6)
= 24 x 24 x 24 x 24
= 244
b) Semua pembagi bulat positif dari 56 adalah 1, 2, 4, 7, 8, 14, 28, dan

56, sehingga (56) = 8.


Hasil kali semua pembagi bulat positif dari 56 adalah :
K(56) = 1 x 2 x 4 x 7 x 8 x 14 x 28 x 56
= (1x56)(2x28)(4x14)(7x8)
= 56 x 56 x 56 x 56 = 564.

20
Kita dapat memeriksa bahwa K(2)=2, K(3)=3, K(5)=5, K(7)=7,
dan seterusnya. Jadi, jika P suatu bilangan prima, maka K(p) = p, K(p 3) =

1
t(t +1)
2
6 4
p , K(p ) = p dan K(p ) = 10 t
p .

Teorema 6.15

Apabila n suatu bilangan bulat positif, hasil kali semua pembagi bulat

1
(n)
positif dari n adalah K(n) = n 2 atau dapat ditulis

1
(n)
d=n 2
dn

Bukti :

Misalkan d adalah suatu pembagi bulat positif dari n, ada (yaitu pembagi
bulat positif dari n pula) sedemikian sehingga dd= n. Hal ini mungkin saja
terjadi bahwa d=d, yaitu jika n suatu kuadrat sempurna.

Karena banyaknya pembagi bulat positif dari n adalah (n), dengan

mengalikan setiap pembagi dari n (misalnya d) dengan membagi


pasangannya (misalnya d) sedemikian sehingga dd= n, maka akan
diperoleh bahwa hasil kali semua pembagi bulat positif dari n adalah
1
(n)
d=n 2
dn

2. Fungsi Sigma

Pada bagian sebelumnya telah dibahas mengenai fungsi tau

(n) yang menyatakan banyaknya pembagi bulat positif dari n. Pada

21
bagian ini dibahas mengenai fungsi sigma ( n) yang menyatakan

jumlah semua pembagi bulat positif dari n.

Definisi 6.4

Jika n suatu bilangan bulat positif, maka ( n) menyatakan jumlah

semua pembagi bulat positif dari n, yakni.


( n ) = d
dn

Contoh Soal

Tentukan ( 30 ) , ( 42 ) dan ( 48 ) !

Penyelesaian:

a) Pembagi bulat positif dari 30 adalah 1, 2, 3, 5, 6, 10, 15, dan 30

sehingga ( 30 ) = 1+2+3+5+6+10+15+30 = 72.


b) Pembagi bulat positif dari 42 adalah 1, 2, 3, 6, 7, 14, 21 dan 42

sehingga ( 42 ) = 1+2+3+6+7+14+21+42 = 96.


c) Pembagi bulat positif dari 48 adalah 1, 2, 3, 4, 6, 8, 12, 16, 24 dan 48

sehingga ( 48 ) = 1+2+3+4+6+8+12+16+24+48 = 124.

Contoh Soal

Tentukan ( 2 ) , ( 3 ) , ( 7 ) dan ( 11 ) !

22
Penyelesaian:

a) Pembagi bulat positif dari 2 adalah 1 dan 2 sehingga ( 2 ) = 1+2 = 3

b) Pembagi bulat positif dari 3 adalah 1 dan 3 sehingga ( 3) = 1+3 =

4
c) Pembagi bulat positif dari 5 adalah 1 dan 5 sehingga ( 5 ) = 1+5 = 6

d) Pembagi bulat positif dari 7 adalah 1 dan 7 sehingga ( 7 ) = 1+7 = 8

e) Pembagi bulat positif dari 11 adalah 1 dan 11 sehingga ( 11 ) =

1+11 = 12

Contoh diatas menunjukkan bahwa jika p suatu bilangan prima,

maka ( p) = p+1, ( p2 )=1+ p+ p 2 , ( p3 ) =1+ p+ p 2+ p3 dan ,

( pt ) =1+ p+ p2 + p3 ++ pt . Rumus ( pt ) dapat dibentuk dengan

mengingat rumus jumlah deret geometri. Karena itu, perlu dijelaskan


mengenai deret geometri sebagai berikut.

Diketahui suatu barisan geometri a, ar, ar2, ar3,, arn-1. Apabila


suku-sukunya dijumlahkan diperoleh suatu deret geometri. Deret tersebut
adalah a+ar+ar2+ar3++arn-1. Suku pertama dari deret ini adalah a dan
suku terakhir adalah arn-1. Apabila suku-suku ini dijumlahkan diperoleh

a ( 1r n ) a ( r n 1 )
S n= untuk r<1 atau S n= untuk r>1. Berdasarkan
1r r1

t pt +11
rumus jumlah deret geometri, diperoleh 1+p+p2+p3++ p =
p1 .

23
Jadi, jika p suatu bilangan prima dan t suatu bilangan bulat positif maka

p
pt +11
( t)= .
p1

Contoh 6.16

Tentukan ( 6 ) , ( 64 ) , ( 125 ) dan ( 243 ) !

Penyelesaian:

a) Pembagi bulat positif dari 6 adalah 1, 2, 3 dan 6 sehingga (6) =

1+2+3+6 = 12.
b) Pembagi bulat positif dari 64 adalah 1, 2, 4, 8, 16, 32 dan 64 sehingga

( 64 ) = 1+2+4+8+16+32+64 = 127 atau ( 64 ) = ( 26 ) =

27 1
0 1 2 3
2 +2 +2 +2 +2 +2 +2 = 4 5 6 = 127.
21
c) Pembagi bulat positif dari 125 adalah 1, 5, 25 dan 125 sehingga

( 125 ) = 1+5+25+125 = 156 atau ( 125 ) = ( 53 ) =

4
5 1
50+51+52+53 = = 156.
51
d) Pembagi bulat positif dari 243 adalah 1, 3, 9, 27, 81, dan 243 sehingga

( 243 ) = 1+3+9+27+81+243 = 364 atau ( 243 ) = ( 35 ) =

6
3 1
0 1 2 3
3 +3 +3 +3 +3 +3 = 4 5 = 364.
31

24
Apabila p dan q adalah dua bilanga prima yang berbeda dan n=pq,
maka semua pembagi bulat positif dari n adalah 1, p, q dan pq=n, sehingga

( n) = ( pq ) = 1+p+q+pq = (1+p)(1+q). jika m=p2q3 dengan p dan

q dua bilangan prima yang berlainan, maka jumlah semua pembagi bulat
positif dari m dapat disusun sebagai berikut:

( m ) = ( p2 q3 ) = (1+q+q2+q3)+(p+pq+pq2+pq3)+(p2+p2q+p2q2+p2q3)

= (1+p+p2)(1+q+q2+q3)

3 4

= ( p 1
p1 )( q 1
q1 )
Jadi apabila n = pkqt dengan p dan q keduanya bilangan prima yang
berbeda serta k dan t bilangan bulat positif, maka:

p k+11 qt +11
( n ) = ( pk qt ) = ( p1 )( q1 ) k t
= ( p ) (q )

Contoh Soal

Tentukanlah ( 15 ) , ( 225 ) , ( 504 ) dan ( 847 ) !

Penyelesaian:

a) ( 15 )= (3 5 )= ( 3 ) (5 )=4 6=24

b) ( 225 )= ( 32 52 )= ( 32 ) ( 52 ) =13 31=403

13(8)=1560
c) ( 504 ) = ( 2 3 7 ) = ( 23 ) ( 3 2) (7)=(15)
3 2

d) ( 784 ) = ( 24 7 2 )= ( 2 4 ) ( 7 2) =31 57=1767

e) ( 847 ) = ( 7 11 2) = ( 7 ) ( 11 2 )=8 133=1064.

25
Teorema 6.16

Jika bentuk kanonik dari bilangan bulat positif n adalah

k
ai
k
pia +1
i


i=1
p i maka ( n )=
i=1 pi 1

Bukti :

Setiap suku dari perkalian (1 +P+ P12 + P13 + +P1a1 ) X (1 +P2+ P22 + P23 +
+P2a2 ) X (1 +P3+ P32 + P33 + +P3a3 ) XX(1 +Pk+ Pk2 + Pk3 + +Pkak )
berbeda satu sama lain dengan yang lainnya dan masing-masing
merupakan pembagian dari n, sehingga

1+ p i


k
( n ) =
i=1

Berdasarkan rumus jumlah deret geometri, maka (1 +Pi+ Pi2 + Pi3 +

pia 1
i+1

ai
+P ) =
i p i1 Sehingga

k ai+1
p i 1
( n ) =
i=1 pi1

26
Contoh Soal

Tentukanlah (42), (420) dan (2130)

Penyelesaian:

2 2 2
2 1 3 1 7 1
a) (42) = (2x3x7) = x x = 96
21 31 71

23 1 5 21 3 21
b) (420) = (22x5x3x7 = x x x
21 51 31

2
7 1
71 = 1344
2 2 2
2 1 3 1 5 1
c) (2130) = (2x3x5x7x11) = x x x
21 31 51

7 21 11 21
71 x 111 = 6912

Pada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan mengenai definisi

(n) dan (n), yaitu jika n suatu bilangan bulat positif, maka

( n ) = 1 dan ( n )= d dimana d merupakan semua pembagi


dn dn

n
Bulat positif dari n. karena d pembagi bulat positif dari n pula, maka

rumus

(n) dapat juga ditulis dalam bentuk :

n 1 ( n) 1
( n ) = =n , sehingga = .
dn d d n d n dn d

27
(n)
Rumus n merupakan jumlah kebalikan dari pembagi-pembagi

bulat positif dari n.

Contoh Soal

1 1
Tentukanlah , !
d5 d d 12 d

Penyelesaian:

a) Semua pembagi bulat positif dari 5 adalah 1 dan 5 sehingga (5) =

6
Jumlah semua kebalikan pembagi-pembagi dari 5 adalah
1 1 1 5+1 6
d = 1 + 5 = 5 =5
d 5

b) Semua pembagi bulat positif dari 12 adalah 1,2,3,4,6,12, sehingga

(12)=28Jumlah semua kebalikan pembagi dari 12 adalah

1 1 1 1 1 1 1 12+6 +4 +3+2+1 (12) 28


= + + + + + =
d d d d d d d 12
=
12
=
12
d12

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

28
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini adalah sebagai
berikut:

1. Hasil kali dari faktor-faktor prima adalah tunggal, kecuali hanya berbeda

urutan dari faktor-faktor prima tersebut. Pemfaktoran suatu bilangan bulat

atas faktor-faktor prima yang tunggal itu terkenal dengan namaTeorema

Dasar Aritmetika (Fundamental Theorem of Arithmetic) dan disebut

faktorisai tunggal. Nama teorema dasar aritmetika digunakan karena

memberikan dasar dalam mengembangkan teorema lain dalam aritmetika.

2. Berdasarkan sifat yang dimiliki oleh bilangan bulat dapat didefinisikan

fungsi-fungsi khusus yang mempunyai peranan tertentu dalam teori

bilangan. Fungsi-fungsi khusus tersebut sering disebut fungsi aritmetik

(fungsi teori bilangan).Pada umumnya, fungsi aritmetik didefinisikan

mempunyai daerah asal pada himpunan semua bilangan bulat. Apabila f

suatu fungsi aritmetik, maka f : B+ B dengan B adalah himpunan semua

bilangan bulat dan B+ adalah himpunan semua bilangan bulat positif.

Fungsi-fungsi khusus tersebut adalah fungsi tau ( ) dan fungsi sigma

()

a. Fungsi tau (n) menyatakan banyaknya pembagi bulat positif dari

n, untuk n suatu bilangan bulat positif.


b. Jika n suatu bilangan bulat positif, maka fungsi sigma ( n)

menyatakan jumlah semua pembagi bulat positif dari n, yakni.

29
( n ) = d
dn

B. Saran

Demikian yang dapat kami sampaikan dalam makalah ini.Mungkin

masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi.Kami membuka lebar pintu

kritik dan saran bagi yang berkenan, untuk pembenahan makalah ini.Sehingga

kesalahan yang ada dapat dibenahi, serta menjadi pelajaran untuk pembuatan

makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.Semoga makalah ini dapat

bermanfaat khususnya bagi penyusun, umumnya bagi semua yang berkenan

menelaah makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

30
Mulyana,Endang.2013.http://File.Upi.Edu/Direktori/Fpmipa/Jur._Pend.Matematik
a/195401211979031endang_Mulyana/Teori_Bilangan/BilPrima.pdf.
Diakses pada tanggal 26 Mei 2014.

Tantawi.2011.http://www.academia.edu/5293150/Bilangan_prima_marsenne_Tant
awi_Mahasiswa_Program_Studi_Matematika_STKIP_Bina_Bangsa_Gets
empena_Banda_Aceh. Diakses pada tanggal 24 Mei 2014.

Tiro, Muhammad Arif, dkk. 2008. Pengenalan Teori Bilangan. Andira Publisher:
Makassar.

31