Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum

Sabtu, 18 Oktober 2014

Mikromeritik
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam meracik suatu bentuk sediaan obat, tentunya ada beberapa faktor atau
aspek yang perlu diperhatikan agar sediaan yang dihasilkan bisa sesuai, salah
satunya adalah bentuk keseragaman ukuran partikel.Ukuran partikel dari bahan
obat merupakan penentu untuk beberpa sifat zat.Hal ini berlaku baik untuk
bahan yang berada dalam kondisi berbentuk serbuk atau bubuk maupun yang
diracik dalam bentuk sediaan tablet, granular, salep,suppositoria dan emulsi.
Pada tahun-tahun terakhir ini, perhatian lebih banyak tercurah pada aspek
biofarmasi.Ukuran partikel misalnya, pengaruh kecepatan melarut obat sukar
larut melalui ukuran partikelnya, yang berkaitan erat dengan kerja pembebasan
obat dan reabsorbsi.
Ukuran partikel inilah yang nantinya bisa menentukan suatu efek dari obat
tersebut melalui beberapa tahap perjalanannya mulai dari fase farmakokinetik,
khususnya pada proses disolusi atau pelepasan obat dari bentuk sediaan dan
pada proses absorbsi dari obat itu sendiri, fase farmakodinamik dan fase
biofarmasi. Maka dari itu diperlukan ilmu yang mempelajari tentang ukuran
partikel itu sendiri, ilmu tersebut dinamakan mikromeritik oleh Dalla Valle.
Dalam mikromeritik, metode yang digunakan adalah, metode mikroskopis optik,
metode ayakan dan metode sedimentasi atau pengendapan. Metode yang akan
digunakan dalam praktikum kali ini adalah metode ayakan. Dalam pembahasan
kali ini akan membahas tentang mikromeritik dengan menggunakan metode
ayakan (Alfred, 1993)
Dengan adanya mikromeritik setidaknya seorang ahli farmasi bisa memahami
bagaimana cara mengukur diameter partikel dari suatu sediaan, apalagi jika
ukuran partikelnya sangat mikroskopis setelah memalui proses pengayakan
tentunya akan sangat susah untuk mengukur diameter partikelnya.

I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan


I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara pengukuran diameter partikel suatu zat
dengan menggunakan metode tertentu.
I.2.2 Tujuan Percobaan
1. Mengukur diameter partikel dari pati jagung dengan menggunakan
metode ayakan.
2. Mengukur diameter partikel dari gula pasir dengan menggunakan metode
ayakan.
I.3 Prinsip Percobaan
Pengukuran partikel dari serbuk berdasarkan atas penimbangan residu yang
tertinggal pada ayakan yaitu dengan melewatkan serbuk pada ayakan dari
nomor mesh terendah kenomor mesh tertinggi yang digerakkan dengan mesin
penggerak dengan waktu dan kecepatan tertentu

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum


Ilmu dan teknologi partikel kecil disebut mikromeritik oleh Dalla Valle.
Pengetahuan dan pengendalian ukuran serta kisaran ukuran partikel sangat
penting dalam farmasi. Jadi, ukuran dan karenanya juga luas permukaan dari
suatu partikel dapat dihubungkan secara berarti pada sifat kimia, fisika dan
farmakologi dari suatu obat.Secara klinik, ukuran partikel suatu obat dapat
mempengaruhi pelepasannya dari bentuk-bentuk sediaan yang diberikan secara
oral, parenteral, rektal dan topikal.(Alfred,1993).
Mikromeritik adalah ilmu atau teknologi untuk mengukur keseragaman
ukuran partikel. Banyak metode tersedia untuk menentukan ukuran partikel.
Diantaranya ada 3 metode utama yang sering digunakan dalam bidang farmasi
serta metode yang merupakan ciri dari suatu prinsip khusus, metode-metode
tersebut yaitu :
1. Mikroskopis optik.
Mikroskopis optik adalah metodeyang digunakan untuk mengukur partikel
yang ukurannya berkisar dari 0,2 m sampai kira-kira 100 m. sediaan yang diukur
partikelnya menggunakan metode ini yaitu suspensi dan emulsi. Menurut metode
mikroskopis, suatu emulsi atau suspensi, diencerkan dan dinaikan pada suatu
slide.Di bawah mikroskop tersebut, pada tempat dimana partikel terlihat, diletakkan
mikrometer untuk memperlihatkan ukuran partikel tersebut.Hasil yang terlihat
dalam mikroskop dapat diproyeksikan ke sebuah layar di mana partikel-partikel
tersebut lebih mudah diukur, atau pemotretan bisa dilakukan dari slide yang sudah
disiapkan dan diproyeksikan ke layar untuk diukur (Alfred, 1993).
Dalam metode mikroskopis pengkuran diameter rata-rata dari sistem diperoleh
dengan pengukuran partakel secara acak sepanjang garis yang ditentukan. Partikel
yang tersusun secara acak diatur diameternya dengan frekuensi yang sama dalam
berbagai arah, sehingga partikel tersebut dianggap sebagai partikel yang berbentuk
bola dengan diameter yang sama. Untuk memperoleh data yang statistik minimal
harus diukur 200 partikel pada serbuk pharsetik.Pengukuran biasanya dengan
menggunakan mikroskopik mempunyai data pisah yang bagus.Alat optik
mikroskopik harus mempunyai jarum penunjuk yang digerakkan dengan kalibrasi
mikrometer sekrup (Robert, 2013).
Kerugian dari metode ini adalah bahwa pada garis tengah yang diperoleh
hanya dari dua dimensi dari partikel tersebut, yaitu dimensi panjang dan
lebar.Tidak ada perkiraan yang bisa diperoleh untuk mengetahui ketebalan dari
partikel dengan memakai metode ini.Untuk jumlah yang di ukur menggunakan
metode ini harus sekitar (300-500) partikel untuk mendapatkan suatu perkiraan
yang baik (Alfred, 1993).
2. Metode Ayakan
Meode ini menggunakan suatu seri ayakan standar yang dikalibrasi oleh The
National Bureau of Standards.Ayakan umunya digunakan untuk memilih partikel-
partikel yang lebih kasar, tetapi jika digunakan dengan sangat hati-hati. Ayakan-
ayakan tersebut bisa digunakan untuk mengayak bahan sampai sehalus 44
mikrometer (ayakan nomor 235). Menurut metode U.S.P. untuk menguji kehalusan
serbuk suatu massa atau sampel tertentu ditaruh diatas suatu ayakan yang cocok
dan digoyangkan secara mekanis. Serbuk tersebut digoyang-goyangkan selama
waktu tertentu, dan bahan yang melalui satu ayakan ditahan oleh ayakan
berikutnya yang lebih halus serta dikumpulkan, kemudian ditimbang. Cara lain
adalah dengan menetapkan partikel-partikel pada ukuran rata-rata aritmatik
(hitung) atau geometris dari kedua ayakan tersebut (Alfred, 1993).
Metode ayakan merupakan metode yang paling sederhana untuk mengukur
ukuran rata-rata partikel.Ayakan dapat dibuat dari kawat dengan ukuran lubang
tertentu, dimana lubang dinyatakan dalam ukuran inci untuk mendapatkan analisis
yang lebih rinci. Pada cara ini, ayakan disusun bertingkat dimulai dari ayakan yang
paling kasar diletakkan paling atas pada mesin penggerak dilanjutkan sampai pada
ayakan paling halus yang diletakkan paling bawah. Suatu saampel ditimbang dan
ditaruh diatas ayakan dan digerakkan dengan mesin penggerak.Sisa dari sampel
yang tertinggal pada setiap ayakan diambil untuk kemudian ditimbang. Sampel yang
diukur partikelnya menggunakan metode ini contohnya granul-granul tablet (Alfred,
1993).
Metode Sedimentasi/Pengendapan

Pada metode ini ditentukan kecepatan tenggelammnya partikel dalam


ketergantungannya dai ukuran, bobot jenis dan bentuknya dalam bidang gaya berat
(analisis pipet, timbangan sedimentasi, fotosedimentimeter) atau dalam bidang gaya
sentrifugal. Dasar dari aturan ini adalah hukum stokes :

dst =
dst = Diameter rata-rata
E = Viskositas
h = Jarak
t = Waktu
R1 = Bobot Jenis Partikel
R0 = Bobot Jenis Media
g = Gravitasi
Hukum ini dapat diterapkan untuk partikel-partikel yang berbentuk
tidak beraturan dari berbagai ukuran selama seseorang menyadari bahwa
garis tengah yang diperloleh adalah suatu ukuran partikel relatif yang
ekuivalen dengan sebuah bola yang jatuh pada kecepatan yang sama dengan
pertikel-partikel yang sudah diamaati. Beberapa metode berdasarkan
sedimentasi diantaranya yang penting adalah, metode pipet, metode
timbangan dan metode hydrometer (Alfred, 1993).

Pentingnya mempelajari mikromeritik adalah :


Menghitung luas permukaan
Sifat kimia dan fisika dalam formulasi obat
Secara teknis mempelajari pelepasan obat yang diberikan secara oral,
sutikan dan topical
Pembuatan obat bentuk emulsi dan suspensi
Stabilitas obat (tergantung ukuran patikel).
Metode umum untuk menentukan luas permukaan dengan dua cara yaitu :
Metode absorbsi, partikel-partkel dengan luas permukaan spesifik bear
merupakan absorben yang baik untuk absorbsi. Zat terlarut dan gas dari
larutan. Absorbsi dan desrbsi dai gas nitrogen pada sampel serbu tersebut
diukur dengan suatu detektor konduktivitas panas jika suatu campuran
helium dan nitrogen dilewatkan melalui suatusel yang mengandung serbuk
tersebut.
Metode permeabilitas udara, prinsip tahanan terhadap aliran dari suatu
cairan, melalui suatu sumbat dari serbuk kompak adalah luas permukaan
dari serbuk tersebut. Makin besar luas permukaan per gram serbuk, makin
bear pula tahanan untuk mengalr. Selanjutnya, permeabilitas untuk suatu
tekanan yang diberikan turun sepanjang sumbat tersebut, berbanding
terbalik dengan luas permukaan spesifik.
II.2 Uraian Bahan
1. Alkohol (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Aethanolum
Nama Lain : Atanol, alkohol
RM/BM : C2H5O/0,8119-0,8139
Pemerian : cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap, dan
mudah begerak, bau khas; rasa panas, mudah
terbakardengan memberikan warna biru yang tidak berasap
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, kloroform, dan dalam
eter p

Khasiat : sebagai antiseptik


Kegunaan : membersihkan alat
2. Gula(Dirjen POM, 1979)
Nama resmi: Sacharosa
Nama Lain : Gula
RM / BM: C12H22O11/ 342,20

Pemerian : Hablur tidak berwarna atau massahablur, atau


serbuk warna putih, tidak berbau atau rasa manis
Kelarutan : Larut dalam 0,5 bagian air dan dalam 370 bagian
etanol(95%) P.
Khasiat : Sebagai penetralisir keasaman
Kegunaan : sampel
3. Pati Jagung (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Amylum maydis
Nama Lain : Pati jagung
RM/BM : C6H10O5
Pemerian : serbuk halus kadang-kadang berupa gumpalan
kecil; putih, tidak berbau, tiddak berasa
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dingin dan etanol (95%)P
Khasiat : sebagai bahan pengisi dan pengikat
Kegunaan : sampel

BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan Percobaan
III.1.1 Alat yang digunakan
1. Ayakan no OPN 23, 29, 30 dan 46
2. Kaca arloji
3. Neraca analitik
4. Sendok tanduk
5. Timbangan
III.1.2 Bahan yang digunakan
1. Alkohol 70%
2. Gula pasir
3. Kertas Perkamen
4. Pati jagung
5. Tissue
III.2. Cara Kerja
1. Dibersihkan alat dan bahan terutama ayakan dengan menggunakan
alcohol 70%
2. Disusun ayakan dari nomor opnterkecil dampai nomor opnterbesar
3. Ditimbang pati jagung dan gula pasir masing-masing sebanyak 25 g
4. Dituang sampel keatas ayakan pertama satu persatu
5. Digoyang ayakan selama 10 menit
6. Ditimbang kembali sampel yang tertinggal pada masing-masing pengayak
7. Dicatat berat sampel yang tertinggal
8. Dihitung diameter rata-rata dari sampel

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV.1. Data Hasil Pengamatan


Tabel hasil pengamatan dengan menggunakan metode pengayakan.
Jenis Nomor Diameter Bobot Persen
Sampel OPN Rata-Rata Tertinggal tertinggal axd IV.2.
Yang Diuji (m) (a) (d)
30 9,8596 15,7 62,8 985,96

23 0,2704 2,6 10,4 27,04

Gula Pasir 29 1,5376 6,2 24,8 153,76


46 0,00014 0,019 0,076 0,00144

11,6676 24,519 98,076 1166,76144

30 0,0014 0,06 0,24 0,0144

23 0,0014 0,06 0,24 0,0144

Pati 29 18,6624 21,6 86,4 1866,24


Jagung
46 0,784 1,4 5,6 7,84

18,7410 23,12 92,48 1874,1088

Perhitungan
1. Diameter rata-rata dari sampel gula pasir adalah :

Dst =

Dst =
Dst =11,6676 m

2. Diameter rata-rata dari sampel pati jagung adalah :

Dst =
Dst =
Dst = 18,7410 m

BAB V
PEMBAHASAN
Metode dalam mengukur diameter partikel terbagi atas 3, yaitu metode
mikroskopis optik, metode ayakan dan metode sedimentasi/pengendapan.Untuk
praktikum kali ini metode yang digunakan adalah metode ayakan, dimana kita
menimbang dan mengayak sampel dengan ayakan dengan nomor ayakan
tertentu.
Dalam pengukuran partikel dengan menggunakan metode ini, kegiatan
pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan. Alat tersebut yaitu, ayakan dengan nomor OPN masing-masing 23,
29, 30, dan 46, kaca arloji yang digunakan sebagai wadah sampel saat akan
ditimbang, neraca analitik yang digunakan untuk menimbang dan sendok
tanduk yang dipakai untuk memindahkan sampel dari wadah ke dalam ayakan.
Untuk bahan yang digunakan adalah pati jagung dan gula pasir sebagai sampel
yang akan di ukur pdiameter partikelnya, alkohol dan tissue untuk
membersihkan alat dan kertas perkamen sebagai wadah sampel untuk
ditimbang.
Langkah selanjutnya, membersihkan ayakan dengan cara membilasnya
dengan alkohol 70%. Hal ini bertujuan untuk menghindari mikroorganisme yang
ada pada alat karena penyimpanan yang cukup lama.Selain itu juga untuk
menghindari terjadinya kesalahan perhitungan penimbangan akibat
tertutupnya lubang ayakan dengan zat-zat asing.
Setelah itu, ayakan mulai disusun dari bawah keatas berdasarkan
banyaknya lubang atau sesuai dengan nomor OPN dari nomor terbesar sampai
terkecil.Dalam percobaan ini digunakan ayakan berdasarkan nomor OPN.Nomor
OPNyang digunakan adalah 23, 29, 30 dan 46.Nomor OPN berbanding lurus
dengan ukuran partikel maksudnya, semakin besar nomor OPNmaka semakin
halus ukuran partikel. Atau, semakin besar nomor OPN maka akan semakin
banyak pula jumlah lubang yang terdapat pada ayakan. Demikian juga jika
nomor OPN semakin kecil maka akan semakin kasar pula ukuran partikel dan
jumlah lubang pada ayakan semakin sedikit. Selain OPN sering juga digunakan
ayakan berdasarkan nomor mesh, nomor mesh berbanding terbalik dengan
ukuran partikel, maksudnya semakin besar nomor mesh maka ukuran partikel
semakin kasar dan jumlah lubang pada ayakan semakin sedikit begitu juga
sebaliknya.
Kemudian, sampel gula pasir dan pati jagung ditimbang secara bergantian
dengan menggunakan neraca analitik. Sebelum ditimbang, kertas saring dan
kaca arloji yang digunakan sebagai wadah sampel harus dikalibrasi terebih
dahulu, tujuannya agar tidak terjadi kesalahan pada saat penimbangan.Jumlah
gula pasir dan pati jagung yang ditimbang masing-masing sebanyak 25 g.
Setelah sampel ditimbang, sampel tersebutdimasukkan kedalam ayakan
dengan nomor OPNterkecil atau urutan yang pertama.Sampel yang pertama
diayak adalah gula pasir.Kemudian, ayakan ditutup dan digoyang secara
mekanik selama 10 menit.Setelah itu, sampel yang tertinggal pada keempat
ayakan di letakkan di atas kertas perkamen secara terpisah yang di beri label
berdasarkan nomor OPN.Kemudian sisa ayakan tersebut ditimbang dengan
menggunakan neraca analitik. Hasil dari penimbangan tadi dihitung dengan
menggunakan rumus untuk mendapatkan diameter rata-rata partikel.
Kemudian dilanjutkan dengan sampel kedua yaitu pati jagung. Prosesnya
sama dengan sampel yang pertama. Pertama menimbang pati jagung, kemudian
diayak dengan ayakan yang sudah disusun sesuai dengan nomor OPN dan hasil
dari pati jagung yang tersisa pada tiap ayakan dikeluarkan dan ditimbang untuk
diukur diameter partikelnya.
Hasil yang diperoleh dari pengukuran diameter rata-rata partikel dari
sampel gula pasir adalah 11,6676 m dan diameter rata-rata partikel dari pati
jagung adalah 18,7410 m.
Kemungkinan kesalahan yang bisa terjadi dalam percobaan kali ini antara
lain :
Kesalahan penimbangan hasil ayakan
Ayakan yang tidak bersih sehingga mempengaruhi hasil

Hasil ayakan yang berkurang karena terbang oleh angin


BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Dari praktikum mikromeritik kali ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
Diperoleh diameter partikel dari pati jagug adalah 18,7410 m dan diameter
partikel dari gula pasir adalah 11,6676 m.
VI.2 Saran
1. Sebaiknyapara praktikan lebih teliti dalam melaksanakan praktikum
2. Sebaiknya fasilitas dalam laboratorium lebih dilengkapi lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen


Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta
Martin Alfred dkk. 1993. Farmasi Fisika Edisi Ketiga. Universitas
Indonesia : Jakarta
Sinko.J.P. 2006. Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika.EGC : Jakarta
Tim Penyusun. 2013. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Universitas

Negeri Gorontalo : Gorontalo

Silvia Sabihi di 20.56

Berbagi 1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Beranda
Lihat versi web

Mengenai Saya
Silvia Sabihi
Ikuti 0

Lihat profil lengkapku

Diberdayakan oleh Blogger.