Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI LANJUT

SARANA FISIK : pH LINGKUNGAN EKSTRASELULER


diajukan sebagai salah satu tugas mata kuliah praktikum mikrobiologi lanjut

Disusun oleh :

Nama : Erna Pradika


NIM : 1157020021
Kelas/kelompok : 4A/6
Dosen : Bahiyyah, S.Pd., M.Si.
Asisten Dosen : Dina Lugina
Tanggal Praktikum : 7 Maret 2017
Tanggal Pengumpulan: 14 Maret 2017

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017 M / 1438 H
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Tabel 1 (Hasil kerapatan optis)

Mikroba Rapat Optis


pH 3 pH 6 pH 7 pH 9
Sesuda Sesuda Sebelu Sesuda Sebelu
Sebelum Sebelum Sesudah
h h m h m
Saccharomyces
cerevisiae

(Dok. (Dok. (Dok. (Dok. (Dok. (Dok. (Dok. (Dok.


Pribadi, Pribadi, Pribadi, Pribadi, Pribadi, Pribadi, Pribadi, Pribadi,
2017). 2017). 2017). 2017). 2017). 2017). 2017). 2017).
Jumlah 0 4 0 3 0 2 0 1
Lactobacillus
casei

(Dok. (Dok. (Dok. (Dok. (Dok. (Dok. (Dok. (Dok.


Pribadi, Pribadi, Pribadi, Pribadi, Pribadi, Pribadi, Pribadi, Pribadi,
2017). 2017). 2017). 2017). 2017). 2017). 2017). 2017).
Jumlah 0 0 0 2 0 4 0 3

Keterangan:
Diberikan rentan nilai dari 0-4 dengan keterangan sebagai berikut:
1. 0 = tidak tumbuh
2. 1 = sangat sedikit
3. 2 = sedikit
4. 3 = banyak
5. 4 = sangat banyak

3.2. Tabel 2 (Kisaran pH dan pH optimum

Mikroba Kisaran pH pH optimum


Saccharomyces cerevisiae 3-9 3
Lactobacillus casei 6-9 7
Pada praktikum kai ini mengenai sarana fisik pH ekstraseluler. Banyak faktor yang
dapat mempengaruhi aktivitas kehidupan mikroba antara lain faktor abiotik yang meliputi
temperatur, kelembaban, tekanan osmosis, pengaruh pH, pengaruh logam berat serta
pengaruh zat-zat kimia. Sedangkan faktor biotik meliputi bebas hama serta asosiasi (Hafsan,
2011). Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka dilakukanlah pengamatan tentang pengaruh
pH, terhadap pertumbuhan Mikroba. Perlu diketahui bahwa aktivitas kehidupan suatu jasad
memerlukan keadaan sekitar yang sesuai, yang dapat mempengaruhi sifat morfologi dan
fisiologi dari jasad akan menyesuaikan dengan keadaan sekitar yang ada pada waktu itu. Pada
praktikum ini bertujuan untuk mengamati pengaruh dari pH terhadap pertumbuhan dari
mikroba. Mikroba yang digunakan yaitu Saccharomyces cerevisiae dan Lactobacillus casei
Mikroba juga mempunyai pH maksimum dan optimum untuk pertumbuhannya, oleh
karena itu dalam persiapan media perlu dilakukan pengaturan pH salah satunya dengan
penambahan larutan buffer pada media pertumbuhan mikroba sehingga tercapai pH optimum
untuk pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Pada praktikum kali ini berdasarkan
pengamatan yang didapat Saccharomyces cerevisiae kisaran Ph pertumbuhannya 3-9 dan ph
optimumnya 3, Sedangkan Lactobacillus casei kisaran ph pertumbuhannya 6-9 dan ph
optimumnya 7.
PH medium biakan juga mempengaruhi kecepatan pertumbuhan, untuk pertumbuhan
bakteri juga terdapat rentang pH dan pH optimal. Pada bakteri patogen pH optimalnya 7,2
7,6. Meskipun medium pada awalnya dikondisikan dengan pH yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan tetapi, secara bertahap besarnya pertumbuhan akan dibatasi oleh produk
metabolit yang dihasilkan mikroorganisme tersebut (Capela, dkk., 2006).
Bakteri memiliki mekanisme yang sangat efektif untuk memelihara kontrol regulasi pH
sitoplasmanya (pHi). Pada sejumlah bakteri, pH berbeda dengan 0,1 unit per perubahan pH
pada pH eksternal. Hal ini disebabkan kontrol aktivitas sistem transpor ion yang
mempermudah masuknya proton. Bermacam-macam sistem yang mencerminkan luas rentang
nilai pHi diperlihatkan oleh berbagai bakteri. Asidofil memiliki nilai rentang pHi 6,5 7,0;
neutrofil memiliki nilai rentang pHi 7,5 8,0, dan alkalofil memiliki nilai rentang pHi 8,4
9,0. Mikroorganisme fermentatif memperlihatkan rentang nilai pHi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan mikroorganisme yang menggunakan jalur respirasi. Pada
mikroorganisme fermentatif , produksi produk fermentatif yang bersifat asam dan
akumulasinya mengakibatkan gangguan keseimbangan pH dan pembatasan pertumbuhan.
Sejumlah mikroorganisme meningkatkan mekanisme kompensasi untuk mencegah efek
toksik dari akumulasi produk yang bersifat asam dan berkonsentrasi tinggi tersebut(Desmon,
dkk, 2002).
Medium harus mempunyai pH yang tepat, yaitu tidak terlalu asam atau basa.
Kebanyakan bakteri tidak tumbuh dalam kondisi terlalu basa, dengan pengecualian basil
kolera (Vibrio cholerae). Pada dasarnya tak satupun yang dapat tumbuh baik pada pH lebih
dari 8. Kebanyakan patogen, tumbuh paling baik pada pH netral (pH7) atau pH yang sedikit
basa (pH 7,4). Beberapa bakteri tumbuh pada pH 6;tidak jarang dijumpai organisme yang
tumbuh baik pada pH 4 atau 5. Sangat jarang suatu organisme dapat bertahan dengan baik
pada pH 4, bakteri autotrof tertentu merupakan pengecualian. Karena banyak bakteri
menghasilkan produk metabolisme yang bersifat asam atau basa (Krasaekoopt, dkk., 2006).
Mikroba umumnya menyukai pH netral yaitu pH 7. Beberapa bakteri dapat hidup pada
pH tinggi (medium alkalin) Apabila mikroba ditanam pada media dengan pH 5 maka
pertumbuhan didominasi oleh jamur, tetapi apabila pH media 8 maka pertumbuhan
didominasi oleh bakteri. Berdasarkan pHnya mikroba dapat dikelompokan menjadi 3 yaitu
mikroba asidofil adalah kelompok mikroba yang dapat hidup tumbuh baik pada pH 6,0 8,0
pada pH 2,0-5,0, mikroba mesofil (neutrofil) adalah kelompok mikroba yang dapat hidup
pada pH 5,5-8,0, dan mikroba alkafil adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH
8,4-9,5.0 (Purwoko, 2007).
Menurut Chang (2006)., komponen larutan penyangga terbagi menjadi :
1. Larutan penyangga yang besifat asam
Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Untuk mendapatkan larutan ini
dapat dibuat dari asam lemah dan garamnya yang merupakan basa konjugasi dari asamnya.
Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam lemah dengan suatu basa kuat dimana
asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah berlebih. Campuran akan menghasilkan garam
yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah yang bersangkutan. Pada umumnya basa
kuat yang digunakan seperti natrium, kalium, barium, kalsium, dan lain-lain.
2. Larutan penyangga yang bersifat basa
Larutan ini mempertahankan pH pada daerah basa (pH> 7). Untuk mendapatkan larutan ini
dapat dibuat dari basa lemah dan garam, yang garamnya berasal dari asam kuat. Adapun cara
lainnya yaitu dengan mencampurkan suatu basa lemah dengan suatu asam kuat dimana basa
lemahnya dicampurkan berlebih.
Mekanisme kerja larutan buffer adalah menetralkan asam maupun basa dari luar.
Masing-masing komponen dalam larutan buffer mampu menetralkan asam maupun basa dari
luar. Dalam larutan buffer asam (sebagai contoh : CH3COOH/CH3COONa), terjadi
kesetimbangan sebagai berikut :CH3COOH(aq) + H2O(l) <> CH3COO-(aq) + H3O+(aq).
Komponen asam lemah dan basa konyugasi dalam larutan buffer asam membentuk sistem
kesetimbangan asam lemah. Saat sejumlah larutan asam ditambahkan dari luar, komponen
CH3COO- bekerja untuk menetralkan ion H+ larutan asam. Akibatnya, kesetimbangan
bergeser ke arah kiri. Jumlah ion CH3COO- akan berkurang dansebaliknya, jumlah molekul
CH3COOH akan meningkat (Gholib, 2007).

IV. KESIMPULAN

Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa mikroba mempunyai pH


maksimum dan optimum untuk pertumbuhannya. Dalam persiapan media perlu dilakukan
pengaturan pH salah satunya dengan penambahan larutan buffer pada media pertumbuhan
mikroba sehingga tercapai pH optimum untuk pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Pada
praktikum kali ini berdasarkan pengamatan yang didapat Saccharomyces cerevisiae kisaran
Ph pertumbuhannya 3-9 dan ph optimumnya 3, Sedangkan Lactobacillus casei kisaran ph
pertumbuhannya 6-9 dan ph optimumnya 7.

DAFTAR PUSTAKA

Capela PTK, Hay C dan Shah NP. 2006. Effect of Cryoprotectant, Prebiotics and
Microencapsulation on Survival of Probiotic Organism in Yogurt and Freeze-dried
Yoghurt. Food Research International. 39(1) : 203-211.
Chang R. 2006. Kimia Dasar Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Desmon C, Stanto, Collins GFK dan Ross RP. 2002. Improved Survival of Lactobacillus
paracesei NFBC 338 in Spray Dried Powders Containing Gum Acacia. J Appl
Microbiol. 93(2) : 1003-1012.
Gholib,I.G. 2007. Kimia Analisis Farmasi. Pustaka Belajar: Yogyakarta.
Haastuti, Utami Sri. 2008. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: Universitas Negeri
Malang.
Hafsan.2011.Mikrobiologi Umum.Makassar:Alauddin University Press.
Krasaekoopt W, Bhandari B dan Hilton CD. 2006. Survival of Probiotic Encapsulated in
Chitosan-coated Alginate beads in Yoghurt from UHTand conventionally treated milk
during stroge. International Dairy Journal. 13(1) : 3-13.
Purwoko,Tjahjadi.2007.Fisiologi Mikroba.Jakarta:BumiAksara.
Suharni, Theresia Tri. 2008. Mikrobiologi Umum. Penerbit Universitas Atma
Jaya:Yogyakarta.