Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Tumor merupakan sekelompok sel-sel abnormal yang terbentuk hasil proses

pembelahan sel yang berlebihan dan tak terkoordinasi. Biasanya, pembelahan sel dalam

tubuh secara ketat dikontrol. Sel-sel baru diciptakan untuk menggantikan yang lebih tua

atau untuk melakukan fungsi-fungsi baru. Sel yang rusak atau tidak lagi diperlukan mati

untuk membuat ruang untuk pengganti sehat. Jika keseimbangan pembelahan sel dan

kematian terganggu, tumor bisa terbentuk. Dalam keadaan normal, sel-sel di dalam

saluran kemih tumbuh dan membelah secara wajar. Tetapi kadang sel-sel mulai

membelah diluar kendali dan menghasilkan sel-sel baru meskipun tubuh tidak

memerlukannya. Hal ini akan menyebabkan terbentuknya suatu massa yang terdiri

jaringan berlebihan, yang dikenal sebagai tumor.

Tumor ginjal adalah pertumbuhan sel yang tidak normal dari sel jaringan ginjal.

Tumor lunak atau siste pada umumnya tidak ganas dan yang padat ganas atau kanker.

Kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak normal sangat cepat dan mendesak sel-sel

disekitarnya. 2 Tumor ginjal merupakan tumor urogenitalia nomor tiga terbanyak setelah

tumor prostat dan tumor kandung kemih. Semakin meluasnya penggunaan

ultrasonografi abdomen sebagai salah satu pemeriksaan screening (penyaring) di klinik-

klinik rawat jalan, makin banyak diketemukan kasus-kasus tumor ginjal yang masih

dalam stadium awal. 1

Karsinoma sel renal adalah jenis kanker ginjal yang banyak ditemukan pada

orang dewasa. Wilms tumor atau nephroblastoma adalah jenis tumor yang sering terjadi

pada anak-anak di bawah umur 10 tahun, jarang ditemukan pada orang dewasa. Kira-

1
kira 500 kasus terdiagnosa tiap tahun di Amerika Serikat. 75% ditemukan pada anak-

anak yang normal ; 25% nya terjadi dengan kelainan pertumbuhan pada anak. 1,2

Tumor ini responsive dalam terapinya, 90% pasien bertahan hidup hingga 5

tahun. Di Amerika Serikat kanker ginjal meliputi 3% dari semua kanker, dengan rata-

rata kematian 12.000 akibat kanker ginjal pertahun. Kanker ginjal sedikit lebih banyak

terjadi pada laki-laki dibanding wanita (2:1) dan umumnya terdiagnosa pada usia antara

50 70 tahun, tapi dapat terjadi pada usia berapa saja juga. Tumor Wilms merupakan

sekitar 10% keganasan pada anak. Paling sering dijumpai pada usia 3 tahun dan 10%

nya merupakan lesi bilateral.2

2
BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1. Definisi

Tumor ginjal adalah pertumbuhan sel yang tidak normal dari sel jaringan ginjal.

Tumor lunak atau siste pada umumnya tidak ganas dan yang padat ganas atau kanker.

Kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak normal sangat cepat dan mendesak sel-sel

disekitarnya. 2

Tumor Ginjal atau nephroblastoma adalah jenis tumor yang sering terjadi pada

anak-anak di bawah umur 10 tahun, jarang ditemukan pada orang dewasa.

Sebagian besar tumor ginjal yang solid (padat) adalah kanker, sedangkan kista (rongga

berisi cairan) atau tumor biasanya jinak. Seperti organ tubuh lainnya, ginjal kadang bisa

mengalami kanker. Pada dewasa, jenis kanker ginjal yang paling sering ditemukan

adalah karsinoma sel ginjal (adenokarsinoma renalis, hipernefroma), yang berasal dari

sel-sel yang melapisi tubulus renalis.2

2.2. Anatomi dan Fisiologi Ginjal 1,6

Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terletak retroperitoneal,

di kedua sisi kolumna vertebralis daerah lumbal. Ginjal kanan sedikit lebih rendah

dibandingkan dengan ginjal kiri karena tertekan ke bawah oleh hati. Kutub atasnya

terletak setinggi kosta 12, sedangkan kutub atas ginjal kiri terletak setinggi kosta 11.

Setiap ginjal terdiri dari kira-kira 1,3 juta nefron.1, 6,

3
Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga

retroperitoneal bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi cekungnya

menghadap ke medial. Pada sisi ini terdapat hilus ginjal yaitu tempat struktur-struktur

pembuluh darah, sistem limfatik, sistem saraf, dan ureter menuju dan meninggalkan

ginjal.

Besar dan berat ginjal sangat bervariasi; hal ini tergantung pada jenis kelamin,

umur, serta ada tidaknya ginjal pada sisi yang lain. Pada autopsi klinis didapatkan

bahwa ukuran ginjal orang dewasa rata-rata adalah 11,5 cm (panjang) x 6 cm (lebar) x

3,5 cm (tebal). Beratnya bervariasi antara 120-170 gram, atau kurag lebih 0,4% dari

berat badan.

Gambar 1. Letak Ginjal

Secara anatomis ginjal terbagi menjadi 2 bagian yaitu korteks dan medula ginjal.

Di dalam korteks terdapat berjuta-juta nefron sedangkan di dalam medula banyak

terdapat duktuli ginjal. Nefron adalah unit fungsional terkecil dari ginjal yang terdiri

atas tubulus kontortus proksimalis, tubulus kontortus distalis, dan duktus kolegentes.

Unit fungsional dari ginjal adalah nefron yang tersusun atas tubulus dengan fungsi

sekretorik dan ekskretorik. Bagian sekretorik nefron terutama terletak di dalam korteks

dan terdiri atas korpuskel dan tubulus bagian sekretorik. Korpuskel tersusun atas

glomerulus yang dikelilingi oleh kapsula Bowman. Bagian sekretorik dari tubulus

4
terdiri atas tubulus konvolusi proksimal, lengkung Henle, dan tubulus konvolusi distal.

Bagian ekskretorik nefron adalah tubulus kolektivus yang akan mengosongkan isinya

melalui papilla atau ujung piramida ke dalam kaliks minor. 4,6,7

Gambar 2. Laju filtrasi glomerulus.

Ginjal menerima sekitar 20 % dari aliran darah jantung atau sekitar 1 liter per

menit darah dari 40 % hematokrit, plasma ginjal mengalir sekitar 600 ml/menit.

Normalnya 20 % dari plasma disaring di glomerulus dengan LFG 120 ml/menit atau

sekitar 170 liter per hari. Penyaringan terjadi di tubular ginjal dengan lebih dari 99 %

yang terserap kembali meninggalkan pengeluaran urin terakhir 1-1,5 liter per hari.1, 6, 7

Ginjal mendapatkan aliran darah dari arteri renalis yang merupakan cabang

langsung dari aorta abdominalis, sedangkan darah vena dialirkan melalui vena renalis

yang bermuara ke dalam vena kava inferior. Sistem arteri ginjal adalah end arteries yaitu

arteri yang tidak mempunyai anastomosis dengan cabang-cabang dari arteri lain,

sehingga jika terdapat kerusakan pada salah satu cabang arteri ini, berakibat timbulnya

iskemia/nekrosis pada daerah vaskularisasinya.4,6,7

5
Gambar 3. Pembuluh darah ginjal

Fungsi utama ginjal adalah sebagai organ pengatur dalam mengekskresi bahan-

bahan kimia asing tertentu (misalnya obat-obatan) hormon dan metabolit lain, tetapi

fungsi yang paling utama adalah mempertahankan volume dan komposisi ECF dalam

batas normal. Tentu saja ini dapat terlaksana dengan mengubah ekskresi air dan zat

terlarut, kecepatan filtrasi yang tinggi memungkinkan pelaksanaan fungsi ini dengan

ketepatan tinggi. Pembentukan renin dan eritropoietin serta metabolisme vitamin D

merupakan fungsi nonekskretor yang penting. Sekresi renin berlebihan yang mungkin

penting pada etiologi beberapa bentuk hipertensi. Defisiensi eritropoietin dan

pengaktifan vitamin D yang dianggap penting sebagai penyebab anemia dan penyakit

tulang pada uremia.7

Ginjal juga berperan penting dalam degradasi insulin dan pembentukan

sekelompok senyawa yang mempunyai makna endokrin yang berarti, yaitu

prostaglandin. Sekitar 20% insulin yang dibentuk oleh pankreas didegradasi oleh sel-sel

tubulus ginjal. Akibatnya penderita diabetes yang menderita payah ginjal membutuhkan

6
insulin yang jumlahnya lebih sedikit. Prostaglandin merupakan hormon asam lemak

tidak jenuh yang terdapat dalam banyak jaringan tubuh. Medula ginjal membentuk PGI

dan PGE2 yang merupakan vasodilator potensial. Prostaglandin mungkin berperan

penting dalam pengaturan aliran darah ke ginjal, pegeluaran renin dan reabsorpsi Na+.

Kekurangan prostagladin mungkin juga turut berperan dalam beberapa bentuk

hipertensi ginjal sekunder, meskipun bukti-bukti yang ada sekarang ini masih kurang

memadai.6

2.3. Klasifikasi Tumor Ginjal

2.3.1. Tumor Jinak

Tumor mulai pada sel-sel, blok-blok bangunan yang membentuk jaringan-

jaringan. Jaringan-jaringan membentuk organ-organ tubuh. Secara normal, sel-sel

tumbuh dan membelah untuk membentuk sel-sel baru ketika tubuh memerlukan mereka.

Ketika sel-sel tumbuh menua, mereka mati, dan sel-sel baru mengambil tempat mereka.

Adakalanya proses yang teratur ini berjalan salah. Sel-sel baru terbentuk ketika tubuh

tidak memerlukan mereka, dan sel-sel tua tidak mati ketika mereka seharusnya mati.

Sel-sel ekstra ini dapat membentuk suatu massa dari jaringan yang disebut suatu

pertumbuhan atau tumor.

a. Hamartoma Ginjal

Hamartoma atau angiomiolipoma ginjal adalah tumor ginjal yang terdiri atas

komponen lemak, pembuluh darah dan otot polos. Lesi ini bukan merupakan tumor

sejati, tetapi paling cocok disebut sebagai hamartoma. Tumor jinak ini biasanya

bulat atau lonjong dan menyebabkan terangkatnya simpai ginjal. Kadang tumor ini

ditemukan juga pada lokasi ektrarenal karena pertumbuhan yang multisentrik . Lima

7
puluh persen dari hamartoma ginjal adalah pasien Tuberous sklerosis atau penyakit

Bournville yaitu suatu kelainan bawaan yang ditandai dengan retardasi mental,

epilepsi, adenoma seseum dan terdapat hamartoma di retina, hepar, tulang, pankreas

dan ginjal. Tumor ini lebih banyak menyerang wanita daripada pria dengan

perbandingan 4 : 1.

Hamartoma ginjal sering tanpa menunjukkan gejala dan kadang-kadang

didapatkan secara kebetulan pada saat pemeriksaan rutin dengan ultrasonografi

abdomen(Basuki, .Gejala klinis yang mungkin dikeluhkan adalah : nyeri pinggang,

hematuria, gejala obstruksi saluran kemih bagian atas dan kadang kala terdapat

gejala perdarahan rongga retroperitonial.

b. Fibroma Renalis

Tumor jinak ginjal yang paling sering ditemukan ialah fibroma renalis atau

tumor sel interstisial reno-medulari. Tumor ini biasanya ditemukan secara tidak

sengaja sewaktu melakukan autopsi, tanpa adanya tanda ataupun gejala klinis yang

signifikan. Fibroma renalis berupa benjolan massa yang kenyal keras, dengan

diameter kurang dari 10 mm yang terletak dalam medula atau papilla. Tumor

tersusun atas sel spindel dengan kecenderungan mengelilingi tubulus di dekatnya.

c. Adenoma Korteks Benigna

Adenoma koreteks benigna merupakan tumor berbentuk nodulus berwarna

kuning kelabu dengan diameter biasanya kurang dari 20 mm, yang terletak dalam

korteks ginjal. Tumor ini jarang ditemukan, pada autopsi didapat sekitar 20% dari

seluruh autopsi yang dilakukan. Secara histologis tidak jelas perbedaannya dengan

8
karsinoma tubulus renalis ; keduanya tersusun atas sel besar jernih dengan inti kecil.

Perbedaannya ditentukan hanya berdasarkan ukurannya ; tumor yang berdiameter

kurang dari 30 mm ditentukan sebagai tumor jinak. Perbedaan ini sepenuhnya tidak

dapat dipegang sebab karsinoma stadium awal juga mempunyai diameter kurang

dari 30 mm. Proses ganas dapat terjadi pada adenoma korteks.

d. Onkositoma

Onkositoma merupakan subtipe dari adenoma yang sitoplasma granulernya

(tanda terhadap adanya mitokondria yang cukup besar dan mengalami distorsi)

banyak ditemukan. Onkositoma kadang-kadang dapat begitu besar sehingga mudah

dikacaukan dengan karsinoma sel renalis. nkositoma dapat ditemukan di

berbagai organ dan sistem organ termasuk kelenjar adrenal, saliva,

tiroid, paratiroid, dan juga ginjal. Penampakan histopatologi dari

onkositoma berupa sel-sel epithelial berukuran besar dengan sitoplasma

eosinofilik berganula halus (onkosit). Tumor ini biasanya berada dalam

kapsul fibrosa berbatas tegas, soliter, unilateral, jarang berpenetrasi ke

stuktur di sekitarnya, dan sangat jarang bermetastasis. Permukaan

tumor biasanya berwarna coklat gelap atau coklat terang dengan sebuah

central stellate scar. 3 Tidak ada manifestasi klinis khusus dari tumor ini;

hematuria makroskopik dan nyeri pinggang ditemukan.

2.3.2. Tumor Ganas (kanker)

a. Adenokarsinoma Ginjal

Adenokarsinoma ginjal adalah tumor ganas parenkim ginjal yang berasal

dari tubulus proksimalis ginjal. Tumor ini merupakan 3% dari seluruh keganasan

9
pada orang dewasa. Tumor ini paling sering ditemukan pada umur lebih dari 50

tahun. Penemuan kasus baru meningkat setelah ditemukannya alat bantu diagnosa

USG dan CT scan. Etiologi Penyebab pasti dari tumor ini belum diketahui walaupun

secara eksperimen dilaporkan adanya hubungan dengan cyscasin, aflatoxin,

antibiotika, dan zat-zat kimia (timah dan cadmium), radiasi, virus. Merokok

merupakan faktor risiko tinggi

Manifestasi klinik

Asimtomatik Sekitar 20-40% karsinoma sel ginjal ditemukan pada saat

pemeriksaan fisik rutin atau sebab lainnya, pasien tanpa gejala apapun, sebagian

besar termasuk dalam lesi stadium dini, prognosis relatif baik.

Gejala lokal tipikal Hematuria, nyeri, dan massa merupakan tiga serangkai tipikal

karsinoma sel ginjal. Sindroma tiga serangkai itu hanya ditemukan pada sebagian

kecil pasien (10%), sering kali pertanda penyakit sudah termasuk lanjut, sebagian

besar pasien hanya menunjukkan satu atau dua gejala dari sindrom tiga serangkai

tersebut.5,6,7

a. Hematuria: sekitar 40-50%, pasien karsinoma sel ginjal mengalami hematuria

total makroskopik yang intermiten, tidak nyeri. Pada sebagian kecil kasus terjadi

hematuria mikroskopik. Hematuria massif dengan bekuan darah dapat

menimbulkan kolik ginjal, buang air kecil sakit atau sulit, bahkan retensi urin
b. Massa: Ginjal terletak retperitoneal, lokasinya dalam, palpasi abdomen sulit

merabanya, hanya bla tumor cukup besar atau terletak di kutub bawah ginjal,

barulah teraba, sekitar 10-49% teraba massa abdominal.7

10
c. Nyeri: tumor berdarah hingga berbentuk hematom subkapsul ginjal dapat

timbul nyeri tumpul atau nyeri samar, bila terjadi bekuan darah hingga obstruksi

saluran kemih dapat timbul nyeri kolik dan dysuria. Tumor menginvasi jaringan

organ sekitar seperti otot psoas atau saraf dapat menimbulkan nyeri pinggang

dan punggung menetap dan berat. Frekuensi kejadian nyeri adalah 20-40%.7

3. Manifestasi sistemik Terdapat demam, anemia, lesu, berat badan turun, mengurus,

hipertensi, giperkalsemia dan gangguan fungsi hati (sindrom Staufer), varikokel,

dilatasi vena dinding abdomen, dan lain-lain. 7

a. Demam: terjadi pada 10-20% pasien. Tumor menyebar luas, hemoaragi, nekrosis

dapat menimbulkan demam, sitokin seperti interleukin-6 yang disekresi sel

karsinoma ginjal juga dapat menimbulkan demam.7

b. Anemia: terjadi pada 15-40% pasien, lebih sering pada kasus dengan prognosis

buruk.7

c. Nafsu makan turun, berat badan turun, mengurus: terjadi pada sekitar 1/3 pasien,

berkaitan dengan reaksi antigen-antibodi terhadap jaringan saraf dalam tumor

seingga fungsi saraf tepi terganggu, tidak selalu pertanda stadium lanjut.7

d. Hipertensi. Pasien karsinoma sel ginjal 15-40% menderita hipertensi,

paskanefrektomi tensi dapat turun hingga normal.7

e. Hiperkalsemia, terjadi pada 10% pasien berkaitan dengan sekresi zat mirip

hormon paratiroid dari sel karsinoma ginjal, paska-reseksi tumor primer kadar

kalsium darah akan turun. Bila kadar kalsium darah tidak turun atau setelah turun

naik lagi, pertanda metastasis atau rekurensi.7

f. Gangguan fungsi hati. Kelainan fungsi hati bersumber ginjal, disebut juga dengan

staufer, tetapi tampil sebagai kelainan hasil laboratorium fungsi hati, leukopenia,

11
demam dan fokus nekrosis dalam hati, tanpa metastasis hati. Paska-nefrektomi

fungsi hati kembali normal, 88% pasien memiliki survival lebih dari satu tahun.

Sindrom Staufer menetap atau rekuren pertanda terjadi metastasis atau rekurensi.7

Angka kejadian pada pria lebih banyak daripada wanita dengan

perbandingan 2 : 1. Meskipun tumor ini biasanya banyak diderita pada usia lanjut

(setelah usia 40 tahun), tetapi dapat pula menyerang usia yang lebih muda. Kejadian

tumor pada kedua sisi (bilateral) terdapat pada 2% kasus. Tumor ini dikenal dengan

nama lain sebagai : tumor Grawitz, Hipernefroma, Karsinoma sel Ginjal atau

Internist tumor. Serupa dengan sel korteks adrenal tumor ini diberi nama

hipernefroma yang dipercaya berasal dari sisa kelenjar adrenal yang embrionik.

Gambar 4. Adenokarsinoma

Klasifikasi stadium Robson


Kini sudah jarang dipakai, tapi literatur yang melaporkan kasus di masa lalu sering
memakai sistem klasifikasi ini.

Stadium I : tumor terlokalisasi dalam ginjal

12
Stadium II : tumor menginvasi lemak perirenal, tapi belum menembus fasia
Gerota

Stadium III : tumor telah menginvasi menembus fasia Gerota

IIIa : secara makroskopik tumor mengenai vena renal, vena kava (supra
dan subdiafragma serta atrium kanan)

IIIb : metastasis kelenjar limfe regional

IIIc : sekaligus terdapat invasi vena dan metastasis kelenjar limfe

Stadium IV : menginvasi organ sekitar atau metastasis jauh

IVa : menginvasi organ sekitar (kecuali kelenjar adrenal)

IVb : metastasis jauh

Gambar 5. Stadium adenokarsinoma

b. Nefroblastoma (tumor Wilms)

Nefroblastoma adalah tumor ginjal yang banyak menyerang anak berusia

kurang dari 10 tahun dan paling sering dijumpai pada umur 3,5 tahun. Tumor ini

merupakan tumor urogenitalia yang paling banyak menyerang anak-anak. Kurang

13
lebih 10% tumor ini menyerang kedua ginjal secara bersamaan. Insiden puncaknya

antara umur 1- 4 tahun. Anak perempuan dan laki-laki sama banyaknya. Tumor

Wilms merupakan 10% dari semua keganasan pada anak. Tumor ini mungkin

ditemukan pada anak dengan kelainan aniridia, keraguan genitalia pada anak dan

sindrom Beckwith-Wiedemann (makroglosi, omfalokel, viseromegah dan

hipoglikemia neonatal). Satu persen dari tumor Wilms ditemukan familial dan

diturunkan secara dominan autosomal. Onkogen tumor Wilms telah dilokasi pada

garis p 13 kromosom 11

Nefroblastoma sering dikenal dengan nama tumor Wilm atau karsinoma sel

embrional. Tumor Wilm sering diikuti dengan kelainan bawaan berupa: anridia,

hemihipertrofi dan anomali organ urogenitalia.

Gambar 6. Massa pada Abdomen

The National Wilms Tumor Study Group (NWTSG) membagi 5 stadium tumor Wilms,
yaitu :
a. Stadium I
Tumor terbatas di dalam jaringan ginjal tanpa menembus kapsul. Tumor ini
dapat di reseksi dengan lengkap.
b. Stadium II

14
Tumor menembus kapsul dan meluas masuk ke dalam jaringan ginjal dan
sekitar ginjal yaitu jaringan perirenal, hilus renalis, vena renalis dan kelenjar limfe
para-aortal. Tumor masih dapat direseksi dengan lengkap.
c. Stadium III
Tumor menyebar ke rongga abdomen (perkontinuitatum), misalnya ke hepar,
peritoneum dan lain-lain.
d. Stadium IV
Tumor menyebar secara hematogen ke rongga abdomen, paru-paru,otak dan tulang.

Gambaran trifasik pada tumor Wilms, adanya epithel, blastema dan stroma.

Gambaran tumor Wilms dengan unfavorable histology.

Diagnosis tumor Wilms berdasarkan atas :


Gejala klinik
Gejala dan tanda tumor Wilms.

15
c. Tumor Pelvis Renalis

Angka kejadian tumor ini sangat jarang. Sesuai dengan jenis histopatologinya

tumor ini dibedakan dalam dua jenis yaitu

(1) karsinoma sel transitional dan

(2) karsinoma sel skuamosa.

Seperti halnya mukosa yang terdapat pada kaliks, buli-buli dan uretra proksimal,

pielum juga dilapisi oleh sel-sel transitional dan mempunyai kemungkinan untuk

menjadi karsinoma transitional. Karsinoma sel skuamosa biasanya merupakan

metaplasia sel-sel pelvis renalis karena adanya batu yang menahun pada pelvis renalis.

Sebagian besar tumor renalis pada orang dewasa ialah karsinoma sel renalis,

dimana sisanya yang paling banyak (5-10%) karsinoma sel transitional yang berasal dari

urotelium pelvis renalis, karena pertumbuhannya ke dalam rongga kaliks pelvis, tumor

ini secara dini akan ditandai dengan adanya hematuria atau obstruksi.

Tumor ini sering menginfiltrasi dinding pelvis dan dapat mengenai vena renalis.

Gambaran klinis

Yang paling sering dikeluhkan oleh pasien adalah hematuria (80%),kadang-

kadang disertai dengan nyeri pinggang,dan terasa massa pada pinggang keadaan

tersebut disebabkan oleh massa tumor atau akibat obtruksi oleh tumor yang

menimbulkan hidronefrosis.Pada pemeriksaan PIV terdapat filling defect yang nampak

seolah-olah seperti batu radiolusen,tuberkuloma,atau hemangioma pada pielum ginjal.

Untuk itu bantuan ultrasonografi atau Ctscan dapat membedakanya.Pemeriksaan

sitologi urine dengan mengambil contoh urine langsung ke dalam pielum melalui

16
kateter ureter.Melalui alat ureteronoskopi dapat dilihat langsung ke dalama pielum.jika

ada massa pada pielum diambil contoh jaringan untuk pemeriksaan histopatologi.

2.4 GAMBARAN RADIOLOGI TUMOR GINJAL

Diagnosis karsinoma renal terutama mengandalkan pemeriksaan pencintraan,

termasuk USG, CT dan MRI. BNO-IVP dan angiografi renal kini sudah jarang

digunakan, skening radioisotop terutama digunakan untuk menilai metastasis tulang

atau hati. Pasien hematuria harus terlebih dulu diperiksa di USG, jika menemukan lesi

penempat ruang, harus diperiksa lebih lanjut dengan CT atau MRI untuk memperjelas

diagnosis. Karsinoma asimtomatik dewasa ini sebagian terbesar terdeteksi dengan USG.

Setahun sekali pemeriksaan USG ginjal merupakan cara paling sederhana dan efektif

untuk menemukan karsinoma renal.

Pemeriksaan USG umumnya dapat membedakan karsinoma renal,

angioleiomiolipoma renal dan kista renal sederhana. Lemak menunjukkan hiperekoik,

karsinoma sel renal tidak mengandung lemak sehingga USG dapat membedakan dengan

baik karsinoma renal dan angioleimiolipoma renal. Tapi angioleimiolipoma renal yang

mengandung sedikit lemak mudah didiagnosis keliru sebagai karsinoma renal. Skening

CT harus planar dan kontras, dapat mendiagnosis secara tepat kebanyakan karsinoma

renal, tapi kista hemoragik mudah terdiagnosis keliru sebagai karsinoma renal, dalam

hal ini MRI dapat membantu membedakannya, CT dan MRI sangat membantu dalam

menemukan embolus vena, menentukan lingkup embolus kanker dan stadium klinis.

3.1. CT-Scan

17
CT scan merupakan pemeriksaan pencitraan yang dipilih pada karsinoma ginjal.

Pemeriksaan ini mempunyai akurasi yang cukup tinggi dalam mengetahui adanya

penyebaran tumor pada vena renalis, vena cava, ekstensi perirenal dan metastasis pada

kelenjar limfe retroperitoneal.

CT Scan berguna sebagai tambahan ketepatan dalam membedakan antara kista

atau tumor padat terutama dalam melakukan staging. Dapat juga dilakukan untuk

melihat adanya sisa tumor setelah pembedahan atau adanya rekurensi tumor pasca

bedah. CT scan merupakan pemeriksaan pencitraan yang dipilih pada karsinoma ginjal.

Pemeriksaan ini mempunyai akurasi yang cukup tinggi dalam mengetahui adanya

penyebaran tumor pada vena renalis, vena cava, ekstensi perirenal dan metastasis pada

kelenjar limfe retroperitoneal.

Gambar 3.1.1. CT scan abdomen pasien tumor Wilms

18
Gambar 3.1.2. Tumor wilms pada anak-anak 4 tahun dengan massa di abdomen. Massa
heterogenus di ginjal kiri (panah besar) dan metastase bepar multipel (panah kecil).
Metastase hepar multipel dengan thrombus tumor di dalam vena porta.

Gambar 3.1.3 a) Adanya kalsifikasi fokal pada bagian atas dari ginjal sebelah kanan. b)
Adanya massa yang besar pada ginjal kanan disertai dengan kalsifikasi, infasi ke lobus
hepar. c) Adanya kalsifikasi fokal pada bagian atas ginjal sebelah kanan (panah putih).

Gambar 3.1.4. sel ginjal karsinoma pada ginjal kanan yang didedikasikan pada ct scan ginjal.
sebelum peningkatan kontras ,. sel ginjal karsinoma . dengan ct scan contrast ginjal dengan
ukuran 101 . 7 hu

3.2. USG

19
Apabila terdapat keraguan antara kista atau tumor padat ginjal, maka

pemeriksaan tersederhana dan murah adalah pemeriksaan ultrasonografi. Dalam hal ini

USG hanya dapat menerangkan bahwa ada massa solid atau kistik.

Pemeriksaan USG umumnya dapat membedakan karsinoma renal,

angioleiomiolipoma renal dan kista renal sederhana. Lemak menunjukkan hiperekoik,

karsinoma sel renal tidak mengandung lemak sehingga USG dapat membedakan dengan

baik karsinoma renal dan angioleimiolipoma renal. Tapi angioleimiolipoma renal yang

mengandung sedikit lemak mudah didiagnosis keliru sebagai karsinoma renal.

Gambar 3.2.1. Karsinoma ginjal yang diidentifikasi sebagai massa yang bulat yang
membentang dari bagian posterior ginjal ( anak panah ) .

Gambar 3.2.2. Karsinoma ginjal sebelah kanan. Menggunakan USG Doppler.

20
Gambar 3.2.3. Pada potongan sagittal dari gambar diperoleh adannya massa yang besar
pada ginjal kanan , massa yang didominasi hyperechoic , yang terletak di bagian dari
posteroinferior ginjal dan daerah yang berisi echotexture yang heterogen

Gambar 3.2.4. Karsinoma sel ginjal yang diidentifikasi sebagai massa yang bulat yang
membentang dari bagian posterior ginjal ( anak panah ) .

3.3. MRI
MRI bisa memberikan keterangan tambahan mengenai penyebaran tumor. MRI

dapat mengungkapkan adanya invasi tumor pada vena renalis dan vena cava tanpa

membutuhkan kontras, tetapi kelemahannya adalah kurang sensitif mengenali lesi solid

yang berukuran kurang dari 3 cm. MRI juga bermanfaat untuk magnetic resonance

venography untuk membantu diagnosis trombus pada vena renalis. MRI dapat

21
menunjukkan informasi penting untuk menentukan perluasan tumor di dalam vena cava

inferior termasuk perluasan ke daerah intarkardial.

Gambar 3.3.1. Karsinoma renalis sinistra pada pasien yang menjalani nephrectomy
untuk sel ginjal karsinoma . Gambar magnetik resonansi aksial t1 weighted ( MRI )

Gambar 3.3.2. karsinoma sel ginjal yang besar sebelah kanan dengan invasi vena kava
inferior . potongan aksial t1 weighted MRI sebelum peningkatan kontras . karsinoma sel
ginjal yang besar sebelah kanan dengan invasi vena kava inferior i . aksial t1 weighted
contrast enhanced MRI.

22
Gambar 3.3.3. wilms tumor pada anak laki-laki 3 tahun dengan sebuah massa di perut .
gambar MRI gadolinium enhanced koronal fat suppressed t1 weighted menunjukkan
massa yang besar, terdeteksi dengan baik di sebelah kanan ginjal ( panah )

Gambar 3.3.4. karsinoma sel renalis sinistra pada pasien dengan penyakit ginjal
polycystic. aksial t1 weighted contrast enhanced MRI.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Basuki P. 2003. Dasar-Dasar Urologi Edisi 2. Sagung Seto. Jakarta


2. Cooper CS, Snyder III HM. 2005. Pediatric Genitourinary Cancer, dalam

Nachtsheim D. Editor. Vademecum Urological Oncology. Texas: Landes

Bioscience.117-123.
3. De Jong W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. EGC. Jakarta
4. Hardjowijoto S, Djuwantoro D, Rahardjo EO, Djatisoesanto W. 2005. Management

of Wilms Tumor in Department of Urology Soetomo Hospital : report of 70 cases.

Jurnal Ilmu Bedah Indonesia vol. 33 no. 1 :1-5


5. Tongaonkar HB, Qureshi SS, Kurkure PA, Muckaden MA, Arora B, Yuvaraja TB.

2007. Wilms tumor: An update. Indian Journal of Urology. 458-465


6. Rasad S. 2005. Radiologi Diagnostik. Edisi 2. Balai Penerbit FK UI: Jakarta
7. Sachdeva K, MD, Makhoul I, MD, Renal Cell Carcinoma,

http://www.emedicine.com.2003
8. Bukowski M.R, Novick C.A, Renal Cell Carcinoma : Molekuler Biologi,

Imunology, and Clinical Management, http: //www.New England Journal Of

Medicine.com.2003.

24