Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana cara
membuat, mencampur, meracik, memformulasi obat, identifikasi,
kombinasi, analisis dan standarisasi obat, termasuk pula sifat-sifat obat dan
distribusinya serta penggunaan yang aman. Didalam dunia farmasi, terdapat
beragam macam bidang ilmu yang berkaitan dengan sediaan, salah satunya
yaitu farmasi fisika (Syamsuni, 2006).
Farmasi Fisika adalah ilmu yang mempelajari tentang analisis kualitatif
serta kuantitatif senyawa organik dan anorganik yang berhubungan dengan
sifat fisikanya. Dalam farmasi fisika ada beberapa macam materi yang
saling berkaitan antara ilmu fisika dan ilmu farmasi, salah satunya yaitu
stabilitas obat (Effendy, 2008).
Stabilitas obat merupakan derajat degradasi suatu obat yang dipandang
dari segi kimia, dimana stabilitas obat dapat diketahui dengan cara melihat
ada tidaknya penurunan kadar selama penyimpanan. Kestabilan suatu zat
merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi suatu
sediaan farmasi. Hal ini sangat penting, mengingat suatu obat atau sediaan
farmasi biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan memerlukan
waktu yang lama untuk sampai ke tangan pasien yang membutuhkan
(Canners, 1986).
Obat yang disimpan dalam jangka waktu yang lama dapat mengalami
penguraian dan mengakibatkan hasil urai dari zat tersebut bersifat toksik
sehingga dapat membahayakan dan berdampak negatif bagi pasien. Oleh
karena itu perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
kestabilan suatu zat, sehingga dapat dipilih suatu kondisi dimana obat
berada dalam keadaan stabil yang optimum (Anonim, 2010).
Berdasarkan pernyataan diatas maka akan dilakukan percobaan untuk
mengetahui kestabilan dari parasetamol pada suhu 35oC dan 80oC
menggunakan prinsip kerja spektrofotometer UV-Vis yang digunakan untuk

1
mengetahui pada keadaan yang seperti apa suatu obat tersebut aman dapat
tahan atau bertahan lama, sehingga obat tersebut dapat disimpan dalam
jangka waktu yang lama tanpa menurunkan khasiat obat tersebut.
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami pengaruh berbagai suhu terhadap
kestabilan suatu obat.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum ini, diantaranya yaitu:
1. Mengamati pengaruh berbagai suhu terhadap stabilitas Parasetamol
dengan menggunakan metode spektrofotometer UV-Vis.
2. Menggunakan data kinetika kimia untuk memperkirakan kestabilan suatu
zat.
I.3 Prinsip Kerja Percobaan
Prinsip kerja dari praktikum ini adalah penentuan stabilitas Parasetamol
murni pada suhu yang berbeda yaitu 35oC dan 80oC dengan cara melarutkan,
memanaskan, dan penentuan absorbansi dengan menggunakan
spektrofotometer UV-Vis.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Definisi
Stabilitas dalam arti luas dapat didefinisikan sebagai ketahanan suatu
produk sesuai dengan batas-batas tertentu selama penyimpanan dan
penggunaanya atau umur simpan suatu produk dimana produk tersebut
masih mempunyai sifat dan karakteristik yang sama seperti pada waktu
pembuatan. Banyak faktor yang mempengaruhi stabilitas dari sediaan
farmasi, antara lain stabilitas bahan aktif, interaksi antara bahan aktif
dengan bahan tambahan, proses pembuatan bentuk sediaan, kemasan, cara
pengemasan dan kondisi lingkungan yang dialami selama pengiriman,
penyimpanan, penanganan dan jarak waktu antara pembuatan dan
penggunaan. Faktor lingkungan seperti temperatur, radiasi cahaya dan
udara (khususnya oksigen, karbon dioksida dan uap air) juga
mempengaruhi stabilitas. Demikian pula faktor formulasi seperti ukuran
partikel, pH, sifat dari air dan sifat pelarutnya dapat mempengaruhi
stabilitas (Osol et al, 1980; USP, 1990).
Stabilitas produk farmasi dapat didefinisikan sebagai kemampuan
suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang
periode penyimpanan dan penggunaan, sifat dan karakteristiknya sama
dengan yang dimilikinya pada saat dibuat (Vadas, 2000).
Stabilitas sediaan farmasi merupakan salah satu kriteria yang amat
penting untuk suatu hasil produksi yang baik. Ketidakstabilan produk obat
dapat mengakibatkan terjadinya penurunan sampai dengan hilangnya
khasiat obat, obat dapat berubah menjadi toksik atau terjadinya perubahan
penampilan sediaan (warna, bau, rasa, konsistensi dan lain-lain) yang
akibatnya merugikan bagi si pemakai. Ketidakstabilan suatu sediaan
farmasi dapat dideteksi melalui perubahan sifat fisika, kimia serta
penampilan dari suatu sediaan farmasi. Besarnya perubahan kimia sediaan

3
farmasi ditentukan dari laju penguraian obat melalui hubungan antara
kadar obat dengan waktu, atau berdasarkan derajat degradasi dari suatu
obat yang jika dipandang dari segi kimia, stabilitas obat dapat diketahui
dari ada atau tidaknya penurunan kadar selama penyimpanan. Secara
fisiologis, larutan obat harus diformulasikan sedekat mungkin ke pH
stabilitas optimumnya karena besarnya laju reaksi hidrolitik
dipengaruhi/dikatalisis oleh gugus hidroksi (Ansel, 1989; Lachman et
al,1994).
Stabilitas obat adalah derajat degradasi suatu obat dipandang dari segi
kimia. Stabilitas obat dapat diketahui dari ada tidaknya penurunan kadar
selama penyimpanan ( Connors,et al.,1986).
Pada pembuatan obat harus diketahui waktu paro suatu obat. Waktu
paro suatu obat dapat memberikan gambaran stabilitas obat, yaitu
gambaran kecepatan terurainya obat atau kecepatan degradasi kimiawinya.
Panas, asam-asam, alkali-alkali, oksigen, cahaya, kelembaban dan faktor-
faktor lain dapat menyebabkan rusaknya obat. Mekanisme degradasi dapat
disebabkan oleh pecahnya suatu ikatan, pergantian spesies, atau
perpindahan atom-atom dan ion-ion jika dua molekul bertabrakan dalam
tabung reaksi (Moechtar, 1989).
II.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Obat
Kestabilan dari suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan
dalam membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal itu penting
mengingat sediaannya biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan
juga memrlukan waktu yang lama untuk sampai ketangan pasien yang
membutuhkannya. Oabt yang disimpan dalam jangka waktu yang lama
dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan hasil urai dari zat
tersebut bersifat toksik sehingga dapat membahaykan jiwa pasien. Oleh
karena itu, perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
kestabilan suatu zat hingga dapat dipilih suatu kondisi dimana kestabilan
obat tersebut optimum. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
2004).

4
Ada dua hal yang menyebabkan ketidakstabilan obat, yang pertama
adalah labilitas dari bahan obat dan bahan pembantu, termasuk struktur
kimia masing-masing bahan dan sifat kimia fisika dari masing-masing
bahan. Yang kedua adalah faktor-faktor luar, seperti suhu, cahaya,
kelembaban, dan udara, yang mampu menginduksi atau mempercepat
reaksi degradasi bahan. Skala kualitas yang penting untuk menilai
kestabilan suatu bahan obat adalah kandungan bahan aktif, keadaan
galenik, termasuk sifat yang terlihat secara sensorik, secara miktobiologis,
toksikologis, dan aktivitas terapetis bahan itu sendiri. Skala perubahan
yang diijinkan ditetapkan untuk obat yang terdaftar dalam farmakope.
Kandungan bahan aktif yang bersangkutan secara internasional ditolerir
suatu penurunan sebanyak 10% dari kandungan sebenarnya (Voight, R.,
1994).
Suatu obat kestabilannya dapat dipengaruhi juga oleh pH, dimana
reaksi penguraian dari larutan obat dapat dipercepat dengan penambahan
asam (H+) atau basa (OH-) dengan menggunakan katalisator yang dapat
mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi dan tidak mempengaruhi hasil dari
reaksi (Ansel, 1989).
Stabilitas fisik dan kimia bahan obat baik dan tersendiri dengan
bahan bahan dari formulasi yang merupakan kriteria paling penting untuk
menentukan suatu stabilitas kimia dan farmasi serta mempersatukannya
sebelum memformulasikan menjadi bentuk-bentuk sediaan (Ansel, 1989).
Untuk obat-obat tertentu 1 bentuk kristal atau polimorf mungkin lebih
stabil dari pada lainnya, hal ini penting supaya obat dipastikan murni
sebelum diprakarsai percobaan uji stabilitasnya dan suatu ketidakmurnian
mungkin merupakan katalisator pada kerusakan obat atau mungkin
menjadikan dirinya tidak akan stabil dalam mengubah penampilan fisik
bahan obat (Parrot, 1968). Menurut Lachman (1994), kestabilan suatu
sediaan farmasi dapat dievaluasi dengan test stabilitas dipercepat dengan
mengamati perubahan kosentrasi pada suhu yang tinggi.

5
Pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi produk obat dan pangan
sudah banyak diungkapkan dengan model matematik. Berdasarkan fakta
ini dijelaskan seberapa jauh reaksi akan berlangsung lebih cepat, jika obat-
obatan disimpan dalam suhu tinggi. Jika faktor akselerasi suhu ini bias
ditentukan, maka dapat dilakukan ekstrapolasi ke suhu yang lebih rendah
dimana umumnya produk tersebut didistribusikan. Selanjutnya faktor
akselerasi tersebut dimanfaatkan untuk memperkirakan umur simpannya
(Cahyadi, 2006).
II.1.3 Orde Reaksi
Orde rekasi adalah jumlah pangkat konsentrasi dalam bentuk
diferensial. Secara teoritis orde reaksi merupakan bilangan bulat kecil,
namun dalam beberapa hal pecahan atau nol. Pada umumnya orde reaksi
terhadap suatu zat tertentu tidak lama dengan koefisien dalam persamaan
stoikiometri reaksi. Reaksi Orde Nol. Suatu reaksi disebut orde ke nol
terhadap suatu pereaksi jika laju reaksi tidak dipengaruhi oleh konsentrasi
pereaksi tersebut. Jika [A] adalah konsentrasi dan [A]0 adalah konsentrasi
pada saat t = 0 (Prayitno, 2007). Dalam banyak hal, tingkat reaksi kimia
dibedakan menjadi 4 yaitu:
a. Reaksi orde nol
Pada reaksi ini faktor yang menentukan bukan kadar tetapi hal lain
misalnya kelarutan atau senyawa cahaya pada beberapa reaksi
fotokimia. Jika kelarutan menjadi faktor penentu hanya sejumlah kecil
obat terlarut saja yang mengalami peruraian (Lachman,1994). Laju
degradasi obat (-dD/dt) secara matematis dapat digunakan sebagai
berikut:
-dD/dt = Ko
Pengintegralan persamaan (1) menghasilkan persamaan (2) sebagai
berikut (D)= (Do) Ko . t
Menurut persamaan , kurva hubungan antara (D) dan t menghasilkan
garis lurus dengan slope sebesar Ko dan intersep sebesar Do dengan
Do adalah kadar reaktan mula-mula dan Ko adalah laju reaksi. Satuan
Ko adalah M.waktu-(K), jika satuan D adalah M. Waktu paro (t1/2)

6
yaitu waktu yang diperlukan untuk separuh reaktan mengalami
degradasi. Persamaan waktu paro diperoleh dengan mensubstitusikan
(D) = (Do)/2 ke dalam persamaan sehingga diperoleh (Connors
dkk,1986) :
t1/2 = {0,5 (Do)}/ Ko
Waktu kadaluwarsa (t90) yaitu waktu yang diperlukan untuk reaktan
mengalami degradasi 10% sehingga persamaan untuk waktu
kadaluwarsa adalah (Connors,1986) :
t90 = {0,1 (Do)}/ Ko
b. Reaksi orde satu
Reaksi orde satu terjadi jika berkurangnya jumlah reaktan sebanding
dengan jumlah reaktan tersisa. Reaksi orde satu dapat dinyatakan
sebagai berikut (Connors dkk,1986) :
D P
Laju berkurangnya reaktan dinyatakan dalam persamaan :
-d (D)/dt = K1 (Do)
Pengintegralan persamaan menghasilkan persamaan
L (D) = L(Do) K1 . t
Persamaan dapat diubah menjadi persamaan
(D) = (Do) e-kt (8) Atau, Log (D) = log (Do) K1 t/2,303 (9)
Berdasarkan pada persamaan (10), kurva hubungan antara log D dan t
berupa garis lurus dengan slope sebesar K1 /2,303 dengan D adalah
kadar reaktan yang tinggal setelah waktu t. Do adalah kadar reaktan
mulamula dan K1 adalah laju reaksi dengan satuan K1 adalah waktu-
1.
c. Reaksi orde satu semu
Reaksi orde satu semu dapat didefinisikan sebagai reaksi orde dua
atau peningkatan yang dibuat berkelakuan seperti reaksi orde satu.
Keadaan itu berlaku bila salah satu zat yang bereaksi ada dalam
jumlah yang sangat berlebihan atau tetap pada kadar tertentu
dibandingkan zat lainnya. Dengan demikian laju reaksi ditentukan
oleh satu reaktan meskipun ada dua reaktan karena tidak mengalami
perubahan kadar yang berarti selama reaksi peruraian (Lachman
dkk,1994).
d. Reaksi orde dua
Reaksi orde dua dinyatakan sebagai :

7
D + E produk Jika laju reaksi tergantung pada kadar D dan E yang
masing-masing dipangkatkan (K), maka laju penguraian D = laju
penguraian E dan keduanya sebanding dengan hasil kadar reaktan.
-d(D)/dt = -d(E)/dt = k2 (D)(E)
Jika D = E maka persamaan menjadi :
-d(D)/dt = k2 (Do)
Pengintegralan persamaan akan diperoleh persamaan yaitu :
1/(D) = 1/(Do) + k2 .t
Dengan demikian plot (K)/(D) terhadap waktu (t) akan memberikan
garis lurus dengan slope sebesar k2, dengan D adalah kadar reaktan
setelah waktu (t), Do adalah kadar reaktan mula-mula, k2 adalah laju
reaksi dengan satuan k2 adalah M-1, waktu-1, waktu paro. Untuk
reaksi dengan kinetika orde dua diperoleh dengan mensubstitusikan D
= Do/2 ke dalam persamaan, sehingga t1/2 memiliki persamaan
sebagai berikut :
t1/2 = 1/{k2(Do)}
Waktu kadaluwarsa (t90) diperoleh dengan mensubstitusikan
D = 0,9 Do kedalam persamaan 1/(D) = 1/(Do) + k2 .t dan t90 yang
diperoleh adalah :
t90 = (K)/{9(Do)k
II.1.4 Metode Pembuatan Orde Reaksi
a. Metode Substitusi
Data yang terkumpul dari hasil pengamatan jalannya suatu reaksi
disubstitusikan ke dalam bentuk integral dari persamaan berbagai orde
reaksi. Jika persamaan itu menghasilkan harga k yang tetap konstan
dalam batas-batas variasi percobaan, maka reaksi dianggap berjalan
sesuai dengan orde reaksi tersebut.
b. Metode Grafik
Plot data dalam bentuk grafik dapat digunakan untuk mengetahui orde
reaksi tersebut. Jika konsentrasi diplot terhadap t dan didapatkan garis
lurus, reaksi adalah orde nol. Reaksi dikatakan orde pertama bila log
(Co X) terhadap t menghasilkan garis lurus bila 1 / (Co X) diplot
terhadap t (jika konsentrasi mula-mula sama). Jika plot 1 / (Co
X)2 terhadap t menghasilkan garis lurus dengan seluruh reaktan
konsenrasi mula-mulanya, reaksi adalah orde ketiga.
c. Metode Waktu Paruh

8
Waktu yang dibutuhkan oleh suatu obat untuk terurai setengahnya dari
konsentrasi mula-mula adalah waktu paruh. Dalam reaksi orde nol,
waktu paruh sebanding dengan konsentrasi awal (Co) seperti pada
tabel waktu paruh:
Persamaan
Persamaan orde
Orde waktu
reaksi
paruh
t1/2 = Co /
0 X = k.t
2k
log Co = k
t 1/2 =
1 .t
0,693 / k
(Co X) 2,303
X = k.t t=1/
2
Co(Co X) Co.k

II.2 Uraian Bahan


II.2.1 Alkohol (Dirjen POM, 1979: Rowe, 2009)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain : Etanol, Alkohol
RM / BM : C2H5OH / 46,07 g/mol

Rumus struktur : H H

H C C OH

H H
Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih mudah menguap dan
mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru tidak
berasap
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P
dan dalam eter P
Khasiat : Antiseptik

9
Kegunaan : Pelarut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari
cahaya, di tempat sejuk, jauh dari nyala api.
Stabilitas : Solusi etanol berair dapat disterilkan dengan
autoklaf atau dengan filtrasi dan harus disimpan
dalam wadah kedap udara, dalam tempat yang
dingin.
Inkompatibilitas : Pada kondisi asam kelarutan etanol dapat
bereaksi keras dengan pengoksidasi. Kelarutan
etanol juga inkom dengan wadah aluminium dan
dapat berinteraksi dengan beberapa obat.
II.2.1 Paracetamol (Dirjen POM, 1979; Sweetman S.C, 2009; Jozwiak, M.
dkk, 2014; Ansel. H, 1989)
Nama resmi : ACETAMINOPHENUM
Nama lain : Asetaminofen, Parasetamol
RM / BM : C8H9NO2 / 151,16 g/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Hablur atau sebuk hablur putih; tidak berbau; rasa


pahit
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol
(95%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40
bagian gliserol P dan dalam 9 bagian
propilenglikol P; larut dalam larutan alkali
hidroksida.
Khasiat : Analgetikum; antipiretikum
Kegunaan : Sampel
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari
cahaya
10
Stabilitas : Diperlukan campuran tertentu dari alkohol dan
air. Solusi penggunaan air untuk menetralkan
kadar alkohol.
Inkompatibilitas : Parasetamol inkompatibilats dengan alkohol dan
jika dikombinasikan dengan obat menginduksi
sitokrom P450 (rifampisin barbiturate,
carbamazepine) dapat menyebabkan gangguan
hati.

BAB III
METODE KERJA

3.1 Waktu Dan Tempat


Praktikum farmasi fisika ini dilaksanakan pada hari kamis 24
november 2016 pukul 14.30 sampai pukul 18.30. Di laboratorium
Farmasetika, Jurusan farmasi, Fakultas Olahraga Dan Kesehatan,
Universitas Negeri Gorontalo.
3.2 Alat Dan Bahan
3.1.1 Alat

11
Beker gelas 50 ml Beker gelas 20 ml

Botol Gelas ukur 20 ml

Kelereng Neraca analitik

Spindel Viscometer brookfield

3.1.2 Bahan

Alkohol Shampo

12
Minyak kelapa Tisu

3.2 Cara Kerja


A. Viskometer Bola Jatuh
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Dibersihkan alat dengan menggunakan alkohol 70%.
3. Diisi botol dengan minyak kelapa yang akan diukur viskositasnya
sampai hampir penuh.
4. Dimasukkan kelereng ke dalam botol.
5. Ditambahkan minyak kelapa sampai botol penuh.
6. Ditutup botol dengan sedemikian rupa sehingga tidak terdapat
gelembung udara di dalam botol.
7. Dikembalikan bola pada posisi semula hingga kelereng sudah turun
melampaui garis awal dengan cara membalikkan botol.
8. Dihitung waktu yang diperlukan oleh kelereng melalui botol mulai dari
garis M1 sampai garis M3 dalam detik.
9. Ditentukan bobot jenis minyak.
10. Dihitung viskositas minyak.
B. Viskometer Brookfield
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Dikalibrasi alat.
3. Dipasang spindel pada gantungan spindel.
4. Diturunkan spindel sedemikian rupa sehingga batas spindel tercelup
ke dalam shampo yang akan diukur viskositasnya.
5. Dipasang stop kontak brookfield dinyatakan dengan menekan tombol
on pada bagian belakang alat.
6. Diatur kecepatan dan spindel brookfield sesuai dengan kecepatan dan
no spindel yang akan digunakan.
7. Ditekan tombol motor on dan biarkan spindel berputar selama 2
menit.
8. Dibaca angka yang ditunjukkan oleh brookfield
9. Dicatat hasil yang didapat dan dihitung viskositasnya.

13
BAB IV
PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan
1. Pembuatan Larutan Induk
1000 ppm 10 mg x 1.00.000 = 1000 ppm
10 mL
100 ppm 1000 ppm . X = 100 ppm x 10 mL
X = 10
100
X = 0,1 mL add 10 mL
1 ppm 100 ppm . X = 1 ppm x 10 mL
100 . X = 10 mL
X = 10
100
X = 0,1 mL add 10 mL
2 ppm 100 ppm . X = 2 ppm x 10 mL
100 . X = 20 mL
X = 20
100
X = 0,2 mL add 10 mL
3 ppm 100 ppm . X = 3 ppm x 10 mL
100 . X = 30 mL
X = 30
100
X = 0,3 mL add 10 mL
4 ppm 100 ppm . X = 4 ppm x 10 mL
100 . X = 40 mL
X = 40
100
X = 0,4 mL add 10 mL

2. Kurva Baku
No
Kadar PCT (ppm) Absorban
.
1. 1 0,346
2. 2 0,346
3. 3 0,348
4. 4 14
0,351
Didapatkan:
a : 0,3435
b : 0,0017
r : 0,9288

4.5
4
3.5
3
2.5
Column4
2
Column1
1.5
1
0.5
0
0,346 0,346 0,348 0,351

3. Data

Suhu (oC)
Waktu (Menit)
35 80
5 0,340 0,336
15 0,339 0,335
o
Suhu 35 C
a. Waktu 5 menit
Y = a + bx
0,340 = 0,3435 + 0,0017x
0,340 0,3435 = 0,0017x
- 0,0035 = 0,0017x
X = - 0,0035
0,0017
= - 2,05

Suhu 80oC

15
a. Waktu 5 menit
Y = a + bx
0,336 = 0,3435 + 0,0017x
0,336 0,3435 = 0,0017x
- 0,0075 = 0,0017x
X = - 0,0075
0,0017
= - 4,41
b. Waktu 15 menit
Y = a + bx
0,335 = 0,3435 + 0,0017x
0,335 0,3435 = 0,0017x
- 0,0085 = 0,0017x
X = - 0,0085
0,0017
=-5
4. Perhitungan Konsentrasi PCT

Suhu (oC)
Waktu (Menit)
35 80
5 -2,05 -4,41
15 -2,64 -5

5. Perhitungan Koefisien Korelasi (Suhu 30oC)

Waktu (Menit) Konsentrasi (C) Log C 1/C


5 -2,05 -0,311 -0,48
15 -2,64 -0,421 -0,37
o
Suhu 60 C

Waktu (Menit) Konsentrasi (C) Log C 1/C


5 -4,41 -0,644 -0,22
15 -5 -0,698 -0,2

6. Penentuan Orde Reaksi


Suhu 35oC

16
Orde Regresi Hasil
a -1,755
0 b -0,059
r -1
a -0,256
1 b -0,011
r -1
a -0,535
2 b 0,011
r 1

Suhu 80oC

Orde Regresi Hasil


a -4,115
0 b -0,059
r -1
a -0,617
1 b -0,0054
r -1
a -0,23
2 b 0,002
r 1

Suhu (oC)
Orde
35 80
0 -1 -1
1 -1 -1
2 1 1

7. Penentuan Nilai Mutlak

17
Suhu (oC) B K
35 0,011 0,011
80 0,002 0,002

8. Penentuan nilai K pada suhu 25oC dan usia simpan


Keterangan:
Suhu (K) = 273 + Suhu (oC)
- Untuk suhu 35oC
273 + 35oC
= 308 K
- Untuk suhu 80oC
273 + 80oC
= 353 K
- Untuk suhu 25oC
273 + 25oC
= 298 K

Untuk nilai 1/T (x)


- Suhu 35oC
1 = 3.2 x 10-3
308 K
- Suhu 80oC
1 = 2.8 x 10-3
353 K
- Suhu 25oC
1 = 3.3 x 10-3
298 K

Suhu (oC) Suhu (oK) 1/T x 10 -6 K Log k


35 308 3200 0,011 -1,958
80 353 2800 0,002 -2,698
25 298 3300

9. Perhitungan untuk suhu 25oC pada orde 2


Log k = Log A - Ea
Reg = X dan log k
a = -7,878
b = 1,850

18
r =1
Y = a + bx
= -7,878 + 1,850 x 33 x 10-4
Y = -7,878 + 61,05 x 10-4
= -7,878 + 0,0006105
Y = 7,8773
Y = Log k
K = anti log Y
-7,8773 = log k
K = anti log -7,8773
K = 2 x 10-8
10. Perhitungan paruh waktu (orde 2)
C0 = 10 mg 0,01 g
10 mL
= 1000 ppm
t = 1
C0 . K
= 1
1000 . 2 x 10-8
= 1
2 x 10-5
= 50.000 menit = 83,3 jam = 3,45 hari
11. Waktu lama penyimpanan
T90 = 1 x 1000
9 2 x 10-8
= 1000
18 x 10-8
= 5,5 x 10-8
= 55.000.000 menit = 916.666 jam = 38 hari = 1 bulan 8 hari

IV.2 Pembahasan
Stabilitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk obat atau
kosmetik untuk bertahan dalam batas spesifikasi yang ditetapkan sepanjang
periode penyimpanan dan penggunaan untuk menjamin identitas, kekuatan,
kualitas dan kemurnian produk tersebut. Sediaan obat yang stabil adalah
suatu sediaan yang masih berada dalam batas yang dapat diterima selama
periode penyimpanan dan penggunaan, dimana sifat dan karakteristiknya
sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat (Lachman, 1994).
Pada umumnya penetuan kestabilan suatu zat padat dilakukan dengan
cara kinetika kimia. Cara ini tidak memerlukan waktu yang lama, sehingga

19
praktis digunakan dalam bidang farmasi. Hal-hal yang penting diperhatikan
dalam penentuan kestabilan suatu zat dengan cara kinetika kimia adalah
kecepatan reaksi, faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi, serta
tingkat reaksi dan cara penentuannya. Dimana hal tersebut berkaitan dengan
pelaksanaan praktikum kali ini.
Pada percobaan kali ini akan dilakukan penentuan kestabilan dari
parasetamol pada suhu 350C dan 800C dengan menggunakan prinsip kerja
spektrofotometer UV-Vis. Hal ini dimaksudkan untuk dapat menentukan
pengaruh suhu terhadap kestabilan suatu obat sehingga kita dapat
mengetahui pada suhu berapa obat dapat stabil dengan baik dan pada suhu
berapa obat akan terurai lebih cepat serta berapa lama waktu penyimpanan
parasetamol. Parasetamol merupakan zat aktif pada obat yang banyak
digunakan dan dimanfaatkan sebagai analgesik dan antipiretik. Selain itu,
zat aktif ini biasa digunakan sebagai alternatif pengganti aspirin yang dapat
diperoleh tanpa adanya resep dari dokter sekalipun (Suzen, 1998).
Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi
cahaya oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu. Sinar
ultraviolet (UV) mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm, dan
sinar tampak (visible) mempunyai panjang gelombang 400-750 nm.
Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2 sampai
0,8 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitans. Anjuran ini
berdasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam pembacaan T adalah 0,005
atau 0,5% (kesalahan fotometrik) (Eka, 2007; Mathias, 2005).
Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat larutan induk yang
diawali dengan melakukan tehnik pengenceran, hal ini bertujuan untuk
mengetahui berapa banyak sampel yang dibutuhkan. Kemudian dilarutkan
0,01 gram parasetamol ke dalam 10 ml alkohol 70% untuk larutan standar
dengan konsentrasi 1000 ppm. Tujuan menggunakan larutan alkohol 70%
karena parasetamol mudah larut dalam etanol. Kemudian dilakukan
pengenceran untuk 100 ppm dengan cara dipipet 0,1 ml larutan dari 1000
ppm kemudian ditambahkan etanol sampai 10 ml. Kemudian dilakukan hal

20
yang sama untuk pengenceran 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, dan 4 ppm.
Pengenceran ini dilakukan dengan tujuan agar konsentrasi larutan
parasetamol yang terdapat dalam sampel tidak terlalu pekat yang akan
menimbulkan over range dalam pembacaan menggunakan spektrofotometer
(Tulandi, 2010).
Setelah itu, diukur masing-masing absorban dari 1 ppm, 2 ppm, 3
ppm, dan 4 ppm dengan panjang gelombang maksimum PCT yaitu 244 nm
menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Mekanisme kerja spektrofotometri
yaitu sinar polikromatis dilewatkan terlebih dahulu melalui monokromator,
kemudian sinar monokromatis dilewatkan melalui kuvet yang berisi contoh
maka akan menghasilkan sinar yang ditransmisikan dan diterima oleh
detektor untuk diubah menjadi energi listrik yang kekuatannya dapat
diamati oleh alat pembaca (Mathias, 2005).
Untuk hasil serapan, diperoleh hasil sebagai berikut. Untuk
konsentrasi PCT 1 ppm dan 2 ppm adalah 0,346, untuk 3 ppm adalah 0,348,
dan 4 ppm adalah 0,351. Dimana data tersebut sesuai dengan teori Svehla
(2009), yang menyatakan bahwa kenaikan absorban akan bertambah seiring
dengan semakin tinggi konsentrasi PCT.
Kemudian digunakan kembali PCT dengan konsentrasi 4 ppm untuk
dilakukan pengamatan yang berhubungan dengan rentang waktu
penggunaan obat parasetamol. Pemilihan konsentrasi 4 ppm dikarenakan
hasil absorbansi yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan konsentrasi yang
lainnya, dimana hasil absorban yang baik yaitu antara 0,2 sampai 0,8. Untuk
pengamatan tersebut hal pertama yang harus dilakukan adalah memasukkan
larutan PCT 4 ppm ke dalam 4 botol vial, dimana 2 botol akan dimasukkan
kedalam oven dengan suhu 35oC terlebih dahulu dengan waktu 5 dan 15
menit. Hal ini bertujuan untuk membandingkan hasil serapan dari kedua
waktu tersebut pada suhu yang sama. Kemudian dilakukan hal yang sama
terhadap 2 botol lainnya yang dimasukkan kedalam oven dengan suhu 80 oC.
Setelah mencapai waktu yang telah ditentukan pada masing-masing botol
tersebut kemudian di diamkan selama 2 menit agar suhu pada sampel

21
menjadi stabil kembali dan untuk menghentikan reaksi degradasi yang
terjadi pada parasetamol tersebut (Lund, 1994).
Kemudian dilakukan serapan pada masing-masing sampel dengan
menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Dimana dari hasil serapan tersebut
diperoleh data yaitu untuk suhu 35oC dengan waktu 5 menit diperoleh
serapan 0,340 dan 15 menit 0,339. Sedangkan untuk suhu 80 oC dengan
waktu 5 menit diperoleh serapan 0,336 dan 15 menit 0,335. Data tersebut
sesuai dengan teori Tulandi (2010), dimana semakin lama sediaan terpapar
maka semakin turun absorbansinya.
Kemudian dilakukan perhitungan untuk mengetahui berapa lama
waktu penyimpanan dan waktu paruh parasetamol dengan menggunakan
data yang diperoleh dari absorbansi. Berdasarkan data yang ada, diperoleh
hasil bahwa lamanya waktu penyimpanan parasetamol ialah 38 hari dan
waktu paruh dari parasetamol ialah 3,5 hari. Untuk lamanya penyimpanan
dan waktu paruh yang kami peroleh ternyata tidak sesuai dengan teori.
Menurut Rusdiana (2015), bahwa waktu paruh dari parasetamol adalah 1-3
jam dan menurut Guedeline (2005), bahwa stabilitas fisik dari parasetamol
tidak mengalami perubahan setelah penyimpanan 60 bulan pada suhu 30oC,
dan setelah 6 bulan dalam kondisi dipercepat pada suhu 40oC.

22
BAB V
KESIMPULAN

V.1 Kesimpulan
Dari percobaan ini didapat kesimpulan bahwa:
1. Tingkat reaksi penguraian suatu zat dilihat dari perhitungan paruh waktu
yang didapat pada reaksi orde dua yang dimana didapatkan bahwa waktu
penguraian dari paracetamol yaitu 3,45 hari.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan obat yaitu pengaruh suhu,
kelembaban, panas, cahaya, dan pH.
3. Usia simpan dari paracetamol yang diuji pada waktu paruh paracetamol
yaitu 1 bulan 8 hari
V.2 Saran
1. Untuk Laboratorium
Hendaknya agar proses pelaksanaan praktikum dapat lebih optimal dan
peralatan didalamnya agar lebih dilengkapi sehingga menunjang proses
praktikum.
2. Untuk Praktikan
Hendaknya sebagai mahasiswa dalam proses belajar, praktikan harus
sudah mempersiapkan diri sebelum pelaksanaan praktikum seperti mencari
sumber terpercaya sebagai acuan hipotesis agar pelaksanaan praktikum
dapat terlaksana dengan rinci.
3. Untuk Asisten
Diharapkan agar dalam pelaksanaan praktikum kedepannya, asisten dapat
memberikan bimbingan lebih baik lagi daripada praktikum-praktikum
sebelumnya.

23