Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pihak sekolah dalam menanggapi visi dan misi pendidikan

perlu ditunjang oleh kemampuan kepala sekolah dalam

menjalankan roda kepemimpinannya. Meskipun pengangkatan

kepala sekolah tidak dilakukan secara sembarangan, bahkan di

angkat dari guru yang sudah berpengalaman atau mungkin

sudah lama menjabat sebagai wakil kepala sekolah, namun tidak

dengan sendirinya membuat kepala sekolah menjadi profesional

dalam melakukan tugas.1 Berbagai kasus menujukkan masih

banyak kepala sekolah terpaku dengan urusan-urusan

administrasi. Dalam pelaksanaanya, pekerjaanya kepala sekolah

merupakan pekerjan berat, yang menuntut kemampuan ekstra.2

Dalam melakukan pungsinya sebagai educator, kepala

sekolah harus memiliki strategi yang tepat menigkatkan

profesionalisme tenaga kependidikan di sekolanhya. Menciptakan

iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasehat kepada warga

1 Mulyasa, menjadi kepala sekolah propesional(cet:I Bandung:PT Remaja


Rosdakarya,2OO3),H,96

2Mulyasa, menjadi kepala sekolah propesional(cet:I Bandung:PT


Remaja Rosdakarya,2OO3),H,97
sekolah memberikan dorongan kepada seluruh tenaga

kependidikan, serta melaksanakan model pembelajaran yang

menarik, seperti team teaching, meving klas, dan mengadakan

program akselarasi bagi peserta didik yang cerdas di atas

normal.

Untuk kepentingan tersebut, kepala sekolah harus berusaha

menanamkan, menujukan dan menigkatkan sedikitnya empat

macam nilai yakni pembinaan mental, moral, fisik, dan artistik.3

1. Pembinaan mental; yaitu membina para tenaga

kependidikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan sikap

batin dan watak. Dalam hal ini kepala sekolah harus

mampu menciptakan iklim yang kodusif agar setiap tenaga

kependidikan dapat melaksanakan dengan baik, secara

profesional. Untuk itu kepala sekolah melengkapi sarana,

prasarana dan sumber belajar agar dapat memberi

kemudahan kepada para guru dalam melasanakan tugas

utamanya mengajar.
2. Pembinaan moral; yaitu membina para tenaga

kependidikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan

ajaran baik buruk mengenai suatu perbuatan, sikap dan

kewajiban sesuai dengan kewajiban mesing masing tenaga

3 Mulyasa, menjadi kepala sekolah propesional(cet:I Bandung:PT Remaja


Rosdakarya,2OO3), h, 99
kependidikan kepala sekolah profesional harus berusaha

memberikan nasehat kepada seluruh warga sekolah


3. Pembinaan fisik; yaitu membina para tenaga kependidikan

tentang hal-hal yang berkaitan dengan kondisi jasmani

atau badan kesehatan dan penampilan mereka secara

lahiriyah. Kepala sekolah profesional harus mampu

memberikan dorongan agar para tenaga pendidikan

terlibat secara aktif dan kreatif dalam ber bagai kegiatan

olahraga baik yang di programkan di sekolah maupun di

luar sekolah
4. Pembinaan artistik; yaitu membina tenaga kependididkan

tentang hal-hal yang berkaitan dengan kepekaan manusia

terhadap seni dan keindahan. Hal ini biasanya di lakukan

kegiatan karya wisata yang bisa di laksanakan setiap akhir

tahun ajaran. Dalam hal ini kepala sekolah di bantu oleh

para pembantunya harus mampu merencanakan berbagai

program pembinaan artistik seperti karya wisata agar

dalam pelaksanaanya tidak mengganggu kegiatan

pembelajaranya.Lebih dari itu, artistic harus terkait atau

merupakan pengayaan dari pembelajaran yang telah

dilaksanakan, Sebagai educator kepala sekolah harus

senantiasa berupaya meningkatkan pembelajaran yang

dilakukan oleh para guru dalam hal ini faktor pengalaman

akan sangat mempengaruhi profesionalisme kepala


sekolah.4 Lalu mengapa tawuran antara pelajar ini masih

sering terjadi? Dimana peran seorang kepala sekolah untuk

mengatasi perilaku tawuran siswa ini. Apa saja perilaku

yang ditimbulkan tawuran yang dilakukan?. Dan

bagaimana kita sebagai manusia manusia perbaikan

bangsa mencari jawaban atas semua permasalahan-

permasalahan yang terjadi pada tawuran pelajar ini.

Tawuran antar pelajar saat ini sudah menjadi masalah yang

sangat mengganggu ketertiban dan keamanan lingkungan di

sekitarnya. Saat ini, tawuran antara pelajar sekolah tidak hanya

terjadi di lingkungan atau sekitar sekolah saja, namun terjadi di

jalan-jalan umum, tak jarang terjadi pengrusakan fasilitas publik.5

Penyimpangan pelajar ini menyebabkan pihak sekolah, guru dan

masyarakat yang melihat pasti dibuat bingung dan takut

bagaimana untuk meraihnya, sampai akhirnya melibatkan pihak

kepolisian. Tawuran antar pelajar bisa terjadi antar pelajar

sesama satu sekolah, ini biasanya dipicu permasalahan

kelompok, cenderung akibat pola berkelompok yang

menyebabkan pengelompokkan

4 Mulyasa, menjadi kepala sekolah propesional(cet:I Bandung:PT Remaja


Rosdakarya,2OO3), h, 100

5Rusli Seftiana Aziza, http://kendakaku.blogspot.com/2013/08/makalah-tentang-


tawuran-di-kalangan.html,(Diaskes tgl 25/10/2014).
Berdasarkan hal-hal tertentu. Misalnya, kelompok anak-anak

nakal, kelompok anak-anak kantin, pengkelompokan tersebut

lebih akrab dengan sebutan Gank. Namun, ada juga tawuran

antar pelajar yang terjadi antara dua kelompok berbeda sekolah.

Sama halnya yang terjadi di Kabupaten Buol Provinsi Sulawesi

Tengah, tawuran antar pelajar makin marak dijumpai di

lingkungan sekolah. Tawuran yang terjadi dipicu akibat

perbedaan, baik perbedaan antar sekolah ataupun perbedaan

suku ataupun perbedaan pendapat akibatnya mengganggu

proses belajar mengajar di sekolah.

Salah satu sekolah yang berada di Kecamatan Bunobogu

Kabupaten Buol yang sering melakukan tawuran adalah sekolah

Sma Negeri 1 Bunobogu. Tawuran dilakukan antar pelajar dengan

pelajar lain yaitu antar sekolah lain yang ada di kecamatan

bunobogu. Tawuran ini dipicu oleh kesalahpahaman oleh pelajar

Sma Negeri 1 Bunobogu dengan sekolah lainya. Hal ini tidak

hanya terjadi sekali tetapi sering terjadi sehingga dapat

mengganggu keamanan siswa serta dapat mengganggu

ketertiban sekolah.

B. Rumusan Masaalah

Berdasarkan latar belakang di atas,identifikasi dan

pembatasan masalah dapat dirumuskan permasalahan yaitu.


1. Bagaimana peran kepala sekolah dalam mengatasi perilaku

Tawuran Siswa di SMA Negeri 1 Bunobogu Kab Buol?


2. Apa hambatan dan solusi terjadinya Tawuran Siswa di SMA

Negeri 1 Bunobogu Kab Buol

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka pembahasan

dan penelitian skripsi ini di batasi peran kepala sekolah dalam

mengatasi perilaku tawuran siswa.

C. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian


a. Tujuan penelitian
1. Untuk mengetahui bagaimana peran kepala sekolah

dalam mengatasi perilaku tawuran siswa di SMA

Negeri 1 Bunobogu
2. Untuk mengetahui hambatan dan solusi tawuran di

SMA Negeri 1 Bunobogu


b. kegunaan penelitiaan
Adapun penelitian yang akan dilakukan dapat bermanfaat

baik secara teoritis maupun praktis yakni antara lain :


a. Teoritis
1) Sebagai sumbangan kajian terhadap literatur yang akan

diteliti terhadap yang sama.


2) Penulis dapat memperoleh gambaran dan pengalaman

dalam pelaksanaan penelitian sebagai realisasi tanggung

jawab mahasiswa terhadap tridarma perguruan tinggi.


b. Praktis
1) Bagi lembaga pendidikan SMA Negeri 1 Bunobogu Kab.

Buol diharapkan mendapatkan informasi yang dapat

membantu dalam mengatasi terjadinya tawuran antara

siswa.
2) Bagi lembaga pendidikan SMA Negeri 1 Bunobogu kab.

Buol penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan

berguna bagi semua pelaku-pelaku objek dalam terjadinya

tawuran antara siswa di SMA Negeri 1 Bunobogu Kab. Buol.


3) Bagi penulis, hasil penelitian diharapakan dapat

menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya

mengenai peran kepala sekolah dalam mengatasi perilaku

tawuran siswa di SMA Negeri 1 Bunobogu Kab. Buol.


D. Pengertian Judul Dan Definisi Operasional

1. Pengertian Judul

a. Peran adalah. seperangkat sikap dan perilaku yang harus

dilakukan sesuai dengan posisinya dalam organisasi.6


b. Kepala sekolah adalah pemimpin suatu lembaga pendidikan

untuk belajar dalam memberi pelajaran7


c. Perilaku adalah perbuatan, kejadian, peristiwa, sesuatu hal

yang terjadi.8
d. Tawuran adalah perkelahian yang dilakukan sekelompok

orang beramai-ramai9.

6 Pustaka phoenix,2010 kamus besar bahasa Indonesia, (Jakarta


barat:pt media pustaka phon Pustaka phoenix,2010 kamus besar
bahasa Indonesia, (Jakarta barat:pt media pustaka phonix)ix),h.652

7 Pustaka phoenix,2010 kamus besar bahasa Indonesia, (Jakarta


barat:pt media pustaka phonix),h,436

8 Pustaka phoenix,2010 kamus besar bahasa Indonesia, (Jakarta


barat:pt media pustaka phonix),h,653

9Pustaka phoenix,2010 kamus besar bahasa Indonesia, (Jakarta


barat:pt media pustaka phonix),h,849
e. Siswa adalah seorang pelajar pada akademi atau perguruan

tinggi10

2. Definisi Operasional

Berdasarkan pengertian beberapa istilah diatas, dapat

dipahami bahwa secara operasional dari judul penelitian ini

adalah : keadaan, peristiwa dan sebagainya yang ikut

menyebabkan, mempengaruhi terjadinya perbuatan, kejadian,

peristiwa, terhadap perkelahian yang dilakukan sekelompok

orang beramai-ramai yang berpengaruh kuat yang

mendatangkan akibat baik negatif maupun positif terhadap

pendidik yang melalui ajaran-ajaran agama islam, yaitu berupa

bimbingan dan usaha terhadap anak didik agar nantinya setelah

selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati,

mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya

secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu

sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan

kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.

10 Pustaka phoenix,2010 kamus besar bahasa Indonesia, (Jakarta barat:pt


media pustaka phonix),h,804