Anda di halaman 1dari 9

PARATUBERKULOSIS DAN TUBERKULOSIS ( TBC )

1.Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Mycobacterium avium subspesies paratuberculosis merupakan ancaman baru


(emerging disease) bagi kesehatan manusia yang memiliki peluang ditularkan dari susu dan
produk olahannya. Paratuberculosis atau dikenal juga dengan Johnes Disease (JD) adalah
penyakit infeksi yang disebabkan Mycobacterium avium subspesies paratoberculosis (MAP)
pada hewan. Penyakit ini merupakan salah satu permasalahan yang penting dalam industri
peternakan sapi perah hampir di seluruh dunia. Penyakit ini sangat merugikan secara
ekonomi bagi peternak akibat produktivitas yang sangat menurun pada hewan penderita
meskipun konsumsi pakannya tetap dan dalam jangka panjang hewan mengalami kekurusan
hingga kematian. Selain itu keberadaan penyakit ini dikaitkan dengan penyakit Crohnes
Disease (CD) yaitu penyakit dengan penyebab yang sama namun menyerang manusia.

Bakteri Mycobacterium avium subspesies paratuberculosis (MAP) adalah bakteri


gram positif, tahan asam dan alkohol serta memiliki daya tahan terhadap panas. Pertumbuhan
bakteri ini lambat namun kemampuan menimbulkan penyakit sangat merugikan, infeksi MAP
pada hewan menimbulkan penyakit Johnes Disease (JD) sedangkan pada manusia
menyebabkan Crohnes Disease (CD), kedua penyakit tersebut memiliki ciri-ciri gejala dan
patologis yang sama yaitu menimbulkan randang kronis pada usus terutama ileum dan kolon
yang khas dengan bentuk granulomatosa. Gejala yang ditimbulkan tidak spesifik seperti
diare, muntah, demam, hingga diare berdarah sehingga sering tidak terdiagnosis dengan
segera.

Penyakit ini ditandai dengan manifestasi peradangan usus (enteritis granulomatosa).


Selain menyerang sapi, JD juga menyerang ruminansia lain, seperti; kerbau, kambing,
domba, bison, antelop dan rusa, jarang pada babi dan kuda.

Penyakit ini, pertama kali ditemukan pada sapi perah oleh Dr. Heinrich A. Johne pada
tahun 1895, di Jerman. Sehingga dikenal dengan nama Johnes Disease/ JD yang hingga
saat ini penyebarannya sudah meluas di berbagai belahan dunia.

Dari aspek kesehatan masyarakat veteriner penyakit ini juga penting, karena dapat
menularkan patogen melalui produk ternak seperti susu. JD dapat menimbulkan gangguan
pada kesehatan masyarakat, yaitu penyakit Crohn (Crohns disease/CD) pada manusia.
Meskipun penyebab CD belum diketahui secara pasti dan masih diperdebatkan oleh para
pakar, namun diduga berkaitan dengan JD/paratuberkulosis pada ternak ruminansia. Crohns
disease adalah penyakit peradangan kronik pada usus (ileum dan kolon), biasanya terjadi
pada orang yang berusia 10-20 tahun.

Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji Johnes disease
( Paratuberkulosis ) dan Crohnes disease ditinjau dari agen penyebab, dan dibahas mengenai
epidemiologi penyakit, patogenesa, gejala klinis dan pengobatan serta pencegahannya.
2. Pembahasan

2.1 Agen Penyebab

Mycobacterium avium subspesies paratuberculosis (MAP) merupakan bakteri gram


positif yang dapat ditemui di alam/lingkungan. Bakteri ini termasuk dalam bakteri
Mycobacterium kompleks yang memiliki 3 subpsesies, yaitu Mycobacterium avium
subspesies avium, Mycobacterium avium subspesies silvaticum dan Mycobacterium avium
subspesies paratuberculosis. Bakteri ini merupakan bakteri aerobik, non motil, tahan asam,
berbentuk batang dengan pertumbuhan yang lambat. Untuk pertumbuhannya bakteri ini
memerlukan mycobactin, senyawa hidroksamat pengikat besi sedangkan suhu pertumbuhan
optimum berkisar 2545 oC pada pH 5,5. Waktu pertumbuhan sehingga koloni dapat terlihat
berkisar 2 60 hari, koloni berwarna merah jambu, oranye, atau kuning dengan permukaan
kasar, memproduksi katalase, arylsulfatase, dan mampu menelan lyzozym.

MAP disebut juga Mycobacterium paratuberculosis atau Mycobacterium johnei


adalah bakteri berbentuk batang, tahan asam atau acid fast bacilli (AFB), berukuran kecil
(0,5-1,5 mikron) dan membentuk kelompok (3 atau lebih bacilli). MAP dapat menyebabkan
infeksi melalui usus pada hewan neonatal atau hewan muda dengan masa inkubasi lama.
Anak sapi dapat tertelan melalui puting susu atau pakan yang tercemar kotoran induk yang
terinfeksi MAP.

Karakter lain yang menonjol adalah kemampuan tahan terhadap panas. Hal ini
terbukti dari masih dapat ditemukannya beberapa susu pasteurisasi di pasaran yang
mengandung Mycobacterium avium subspesies paratuberculosis (MAP).

Bakteri MAP mampu bertahan dalam tanah kering yang teduh hingga 55 minggu
sedangkan pada rerumputan yang tercemar feses penderita paratuberculosis, MAP mampu
bertahan hingga 24 minggu. Hendrick (2009) menyatakan bahwa MAP merupakan bakteri
yang stabil di lingkungan dimana dapat bertahan di lingkungan kurang lebih selama satu
tahun.

2.2 Epidemiologi Infeksi Mycobacterium avium subspesies paratuberculosis

A. Kejadian pada hewan

Kasus infeksi MAP pada hewan (1895) sudah lebih dahulu diketahui dibandingkan
pada manusia (1913). Kasus paratuberculosis (JD) diketahui semakin meluas kejadiannya di
wilayah Eropa, namun demikian kajian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah
baru dimulai tahun 1934 di Inggris, pada saat itu diketahui prevalensi JD pada sapi sebesar
0,8%.

Berbagai kajian selanjutnya dilakukan di Inggris dengan mengambil sampel sapi-sapi


yang disembelih di rumah pemotongan hewan (RPH) selama tahun 1950an memberikan
angka prevalensi sebesar 11-17%, sementara di Denmark pada tahun 1965 prevalensi JD
diketahui sebesar 2,3% dan menunjukkan kecenderungan meningkat pada tahun berikutnya
sehingga pada tahun 1972 didapatkan angka prevalensi sebesar 9,8%. Di Belgia analisis
ELISA terhadap 300 sampel serum sapi mengindikasikan 12%-nya terinfeksi MAP,
sedangkan di Spanyol teridentifikasi 67% sapi pada peternakan terinfeksi. Pada tahun 1980an
survei nasional di AS dengan metode isolasi bakteri diketahui 1,6% dari 7000 ekor sapi yang
diperiksa positif terinfeksi MAP.
Tingkat kejadian pada sapi potong dan sapi perah menunjukkan perbedaan,
berdasarkan kajian di Belgia dan Belanda memperlihatkan hal tersebut, baik pada tingkat
peternakan maupun pada tingkat ternak. Berdasarkan uji serologis, prevalensi infeksi MAP
pada sapi pedaging sebesar 17,4% pada tingkat peternakan dan 1,2% pada tingkat ternak
sedangkan pada sapi perah prevalensi tingkat peternakan sebesar 54,7% dan tingkat ternak
sebesar 2,5%. Hasil kajian tersebut menunjukan angka prevalensi sebenarnya (true
prevalence), apabila angka sensitivitas dan spesifisitas kajian ditingkatkan menjadi 30% dan
99,5% maka prevalensi sebenarnya akan mencapai 70,6% pada tingkat peternakan dan 6,9%
pada tingkat ternak.

Di beberapa negara seperti New Zealand, Australia, Inggris dan Negara


Mediterranean, penyakit ini dikenal sebagai salah satu penyakit menular penting pada industri
peternakan sapi dan domba. Di Afrika, paratuberkulosis dilaporkan di sejumlah negara antara
lain Sudan, Ethiopia, Kenya, Uganda, Tanzania, Nigeria, Zambia dan Afrika Selatan. Di
USA, penyakit tersebut dapat menimbulkan kerugian ekonomi pada industri peternakan
sekitar 1,5 milyar dollar US per tahun.

Di Indonesia, JD dilaporkan terjadi di Jawa Barat tahun 2004 dengan seroprevalensi


rendah 1,67% (3/180) dan secara kultur feses 0,55% (1/180). Sebelumnya pada tahun
1985/1986 juga terjadi pada sapi dan kerbau di Sumatera Utara, didasarkan pada hasil
pemeriksaan serologik (Complement Test/CFT) yang mengandung antibodi paratuberkulosis
4% (2/50).

Pada tahun 2008, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I di Pelabuhan Tanjung Intan
Cilacap, Jawa Tengah memusnahkan sejumlah sapi impor dari Selandia Baru. Sapi-sapi
tersebut dimusnahkan karena positif mengidap penyakit Johne's Disease.

B.Kejadian pada manusia

Kejadian infeksi MAP pada manusia pertama kali diketahui tahun 1913 oleh Dlazil di
daerah Western Infirmary, Glasgow Inggris. Semula penyakit ini dikenal hanya terjadi pada
ileum namun tahun 1960 Lockart-Mumnery dan Marson mengidentifikasi adanya radang
pada kolon dan membentuk granuloma, karena daerah radang yang lebih banyak pada usus
besar maka sering juga disebut sebagai chronic inflamatory bowels disease (IBD).

Adanya perubahan patologis pada usus kecil yang mirip antara kasus JD dengan kasus
CD diduga keduanya ditimbulkan oleh agen penyebab yang sama. Pada awal kasus ini
dikenali, kejadian penyakit banyak dialami oleh masyarakat Eropa Utara dan etnis Anglo-
saxon dibandingkan masyarakat Eropa Selatan, Asia dan Afrika. Perkembangan selanjutnya
keberadaan imigran Asia menjadi pembawa penyakit ini ke daerah Asia.

Kasus Crohns Disease merupakan penyakit yang telah menjadi masalah di negara
maju (Eropa dan Amerika), dan memiliki kecenderungan meningkat setiap tahunnya. Di
Eropa diketahui insidensi kasus ini sebesar 5,6 kasus per 10.000 orang per tahun dan hingga
tahun 2000 diperkirakan telah mencapai 200.000 orang penderita. Penyebaran penyakit
diduga telah terjadi di Asia karena tingginya migrasi manusia antar benua saat ini. Pada tahun
1994 Swedia mengeluarkan dana mencapai 40 juta untuk pengobatan dan penanganan
kasus CD ini.
Kasus CD seringkali dikaitkan dengan produk susu dan hasil olahannya. Penelitian
melaporkan pasteurisasi susu yang diinokulasi 104 107 cfu/ml dengan metode high
temperatur short time (HTST) dan low temperatur long time (LTLT) mampu mengurangi 4-
50% bakteri inokulat, hal ini berarti masih ada bakteri yang mampu bertahan dalam susu
yang telah dipasteurisasi tersebut.

Tahun 1996 diketahui bahwa susu pasteurisasi yang dijual di supermarket di Inggris
dan Wales ternyata masih mengandung bakteri MAP, keadaan tersebut juga dapat ditemukan
pada susu pasteurisasi di supermarket Irlandia dan pada produk berbasis susu seperti produk
keju cheddar. Meskipun demikian belum diperoleh bukti korelasi yang kuat antara penyakit
CD dengan kasus JD pada sapi, susu, dan produk olahannya.

Survey yang dilakukan Advisory Committee on the Microbiologi Safety Food pada
berbagai produk susu di Inggris menunjukkan hasil seperti di bawah ini :

Tabel 1. Prevalensi MAP pada susu di inggris

Jenis sampel Jumlah sampel Jumlah sampel


positif (%)
Susu mentah 201 4 (1,9)
Susu pasteurisasi 476 10 (2,1)
Susu utuh 191 3 (1,6)
Semi-skim 145 5 (3,4)
Skim 140 2 (1,4)
UHT 2 0 (0)
Susu seluruhnya 679 14 (2,1)

2.3 Patogenesa / cara transmisi penyakit

Penularannya pada anak sapi umumnya melalui kotoran (feses) hewan sakit yang
mengandung bakteri yang menempel pada puting susu induk atau melalui pakan yang
terkontaminasi feses yang mengandung MAP. Bakteri diekskresikan lewat kolostrum dan
susu, sehingga dapat menginfeksi anak sapi sejak periode neonatal.

Sapi yang sudah menunjukkan gejala klinik dapat menularkan penyakit melalui
fesesnya dan sangat berbahaya bagi hewan sekelompoknya. Karena sapi tersebut dapat
menghamburkan (shedding) MAP selama 18 bulan sesudah perkembangan gejala kliniknya.
Meskipun tidak berkembang biak pada lingkungan, namun MAP dapat hidup dalam tanah
dan air selama lebih dari satu tahun, dalam keadaan dingin atau kering. MAP tahan hidup
(resisten) dalam kotoran hewan/pupuk kandang dan air pada suhu yang rendah.

Pada Crohns disease faktor kualitas higiene dan sanitasi lingkungan yang jelek
berkontribusi terhadap kejadian penyakit. Umumnya manusia terpapar pada umur 15-24
tahun dan kadang justru pada keluarga dengan kualitas higiene yang baik.

Penularan pada manusia diduga kuat berkaitan dengan produk susu sapi dan hasil
olahannya. Penelitian dengan metode PCR mendeteksi keberadaan MAP pada susu sapi
pasteurisasi yang dijual di supermarket Inggris dan Wales.
Hasil pengujian tersebut memperlihatkan 7% (22 sampel) dari 312 sampel susu
pasteurisasi tersebut mengandung MAP dan 9 isolat bakteri dari 22 sampel positif itu mampu
bertahan selama 13-40 bulan dalam media cair dan bersaing dengan organisme lain. Di
Amerika pengujian susu segar di tingkat peternakan, diketahui tingkat cemaran sebesar 68%
dari 61 peternakan yang diuji.

Jalannya penyakit Crohn ini juga diduga melibatkan interaksi faktor genetik dan
lingkungan tetapi mekanisme utama yang bertanggungjawab terhadap inisiasi radang kronis
usus masih belum jelas. Terlepas dari agen penyebabnya, ada 3 teori mekanisme terjadinya
penyakit ini yaitu reaksi persisten atas infeksi usus, adanya kerusakan barier mukosa usus
terhadap antigen, dan regulasi tanggap kebal sel inang yang menyimpang.

Jalannya penyakit diawali dengan masuknya sejumlah bakteri dan atau toksin yang
kemudian menembus mukosa usus hingga mencapai lamina propria. Kemampuan invasi
bakteri terhadap sel inang ini diketahui dikendalikan protein 35 kDa yang bertanggung jawab
terhadap protein membran mayor (MMP) yang merupakan vaktor virulensi dari bakteri ini.
Kerusakan berlanjut, dan menyebabkan tereksposnya sel-sel pertahanan di lamina propria
sehingga terjadi mekanisme fagositosis bakteri oleh makrofag. Hasil interaksi ini adalah
adanya radang pada daerah infeksi.

Kerusakan jaringan yang terjadi pada CD pada awal infeksi biasanya berupa ulcer
mukosa yang umumnya berada di bawah jaringan simpul limfa. Terkadang lesi mengecil
namun pada kasus lain peradangan berkembang dan meluas pada seluruh lapisan usus dan
menebal. Lokasi radang dapat terjadi pada ileum dan kolon sendiri-sendiri namun lebih
sering terjadi pada kedua bagian tersebut seluruhnya. Perubahan yang khas terjadi pada
lapisan submukosa dengan ditemukannya lymphoedema dan infiltrasi sel limfotik dan
melanjut menjadi fibrosis dengan batas yang jelas atau disebut radang granulomatosa.

2.4 Gejala klinis

Berdasarkan tingkat gejala klinik JD terdapat empat stadia, yakni:

Stadium I, tipe silent, sub-klinik infeksi tidak dapat terdeteksi, meskipun hewan sudah
terinfeksi MAP (dalam dosis kecil) dan terjadi pada anak sapi dan sapi dara.
Stadium II, tipe penyebaran subklinik (sub-clinical shedders), terjadi pada sapi dara yang
lebih tua atau sapi dewasa. Hewan tampak sehat, tetapi sebenarnya mereka adalah karier
yang sewaktu-waktu dapat menularkan atau menyebarkan banyak MAP pada kotorannya
yang dapat dideteksi melalui kultur dari fesesnya. Terjadi pencemaran lingkungan dengan
bakteri MAP.
Stadium III, sapi memperlihatkan gejala klinik berupa diare encer (seperti cairan) yang
akut atau intermittent dan kotorannya berbau busuk, penurunan berat badan dan produksi
susu. Dengan uji serologi, positif mengandung antibodi terhadap paratuberkulosis.
Munculnya gejala klinik biasanya dipicu oleh adanya stres.
Stadium IV, merupakan stadium akhir paratuberkulosis, hewan menjadi sangat kurus
(emasiasio) dengan diare cair dan terlihat adanya edema pada rahang bawah (bottlejaw)
dan dapat berakibat fatal.
Gejala spesifik pada sapi berupa kehilangan bobot badan (meskipun nafsu makannya
normal), diare, produksi susu menurun. Hewan dapat terinfeksi sebelum umur enam bulan
melalui makanan atau susu yang terkontaminasi MAP. Karena perkembangan penyakitnya
yang lambat, maka gejala klinik seringkali tidak teramati sampai umur hewan paling sedikit
tiga tahun. Tanda klinik ini muncul, seringkali dipicu oleh adanya stres seperti beranak atau
kepadatan ternak yang tinggi.

Gejala klinik pada stadium akhir berupa diare kronik (persistent diarrhea) dan
kehilangan berat badan. Gejala tersebut baru muncul setelah sapi berumur dua sampai 10
tahun, meskipun infeksinya terjadi sejak anak sapi dilahirkan (nepnatal).

Pada kejadian infeksi yang menahun (kronis), bagian distal usus kecil (ileum)
merupakan tempat bersarangnya bakteri MAP, dengan demikian pada bagian usus ini terdapat
bakteri yang kepadatannya paling tinggi. Lokasi sekunder bersarangnya MAP adalah
Iimfoglandula menseterika, sedangkan sebagai lokasi tersier adalah hati, limpa dan
Iimfoglandula lainnya. Secara persisten MAP menetap pada ileum dan Iimfoglandula
menseterika hingga berbulan-bulan, meskipun belum atau sedikit mengeluarkan
mycobacteria dalam fesesnya dan selama sembilan bulan pertama infeksi, respon antibodi
humoral belum dapat dideteksi.

Ileum merupakan target utama MAP, karena pada dinding usus ileum terkandung
Peyers patches yang cocok untuk perkembangbiakannya. Meskipun infeksi MAP terjadi
pada periode neonatal (0-4 bulan), namun gejala klinik JD pada sapi biasanya muncul setelah
hewan berumur lebih dua tahun. Pada awal infeksi tidak menunjukkan gajala klinik sakit
(subklinis).

Lebih dari 90% hewan yang terinfeksi oleh MAP menampakkan diri sepertinya sehat,
namun berpotensi menyebarkan MAP melalui fesesnya dan dapat menularkan MAP ke
ruminansia lain dalam kelompoknya. Gejala klinik biasanya terjadi segera setelah hewan
melahirkan anak pertama atau kedua. Anak sapi atau sapi muda lebih peka terhadap infeksi
MAP dibanding dengan sapi dewasa.

Pada sapi dapat mengakibatkan enteritis, peradangan usus kecil yang mengakibatkan
penebalan dan pelipatan dingin usus hewan yang terinfeksi. Diagnosis penyakit didasarkan
pada sejarah penyakit, pemeriksaan klinik dan hasil nekropsi yang diperkuat dengan
pemeriksaan laboratorik.

Penyakit Crohn lebih merupakan bentuk radang kronis non spesifik yang menyerang
bagian ileum dan kolon (bowel) namun demikian radang dapat juga terjadi pada seluruh
bagian sistem pencernaan. Penderitaan pasien CD dapat berlangsung lama bahkan penyakit
ini menyertai pasien selama hidupnya meski sangat sedikit menimbulkan kematian. Karakter
penyakit yang bersifat intermiten dalam menimbulkan gejala klinis maupun keparahan,
terkadang kemunculan gejala memerlukan tindakan operasi untuk penanggulangannya. Hal
ini menggambarkan bahwa penyakit ini sangat sulit disembuhkan mirip dengan penyakit
yang disebabkan oleh bakteri segenus lainnya seperti M. tuberculosis yang menyebabkan
radang paru.

Gejala klinis penyakit CD tidak mudah dikenali mengingat kejadian kasus yang
bersifat kronis. Pada umumnya gejala awal yang tampak adalah diare yang kronis, perut sakit
terutama pada kuadran kanan bawah (seperti radang usus buntu), demam, anoreksia, berat
badan turun, konstipasi. Ada beberapa patokan untuk mengenali penyakit ini yaitu: (1)
inflamasi yang ditandai dengan rasa sakit pada perut kuadran kanan bawah, (2) obstruksi
(buntu) akibat penyempitan usus mengakibatkan rasa sakit yang sangat pada perut (kolik),
perut tegang, konstipasi, dan muntah, (3) radang ileum yang menyeluruh (difus)
mengakibatkan malnutrisi , dan (4) fistula dan abses abdomen, kondisi yang melanjut dapat
menyebabkan usus bocor, demam, sakit perut, diare berdarah dan memicu timbulnya kanker.

2.5 Pengobatan dan pencegahan

Pengobatan terhadap penyakit ini cukup sulit karena kemampuan bakteri yang dapat
masuk ke dalam makrofag. Beberapa obat seperti streptomycin, isonazid dan rifampicin
kurang dapat memberikan hasil yang memuaskan dengan cara pengobatan tunggal sehingga
untuk meningkatkan efektifitas dan mencegah resistensi obat maka dapat dilakukan
kombinasi pengobatan dengan obat-obat tersebut.

Penggunaan Benzoxazin Rifamycin KRM-1648 memiliki potensi yang baik untuk


pengobatan MAP secara intermiten hanya obat ini memiliki kelarutan yang rendah dalam
darah. Linezolid juga merupakan obat antimycobacteria alternatif, konsentrasi linezolid
dalam darah yang direkomendasikan berkisar 2-32 g/ml didasarkan pada tingkat resistensi
bakteri yang ada. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah efek samping obat ini yang
dapat menekan aktivitas sumsum tulang.

Upaya pencarian metode pengobatan juga dilakukan dengan mempelajari


mekanisme/substansi yang dapat mengangkut zat aktif obat masuk ke dalam sel dan juga
interaksi zat aktif tersebut dengan sel inang. Interaksi obat antimycobakteria dengan aktivitas
makrofag terinfeksi MAP telah dipelajari dan berhasil mengetahui aktivitas antimycobakteria
seperti rifampicin, rifobutun, isoniazid, clofozamine, dan beberapa golongan quinolon
ternyata justru mengganggu sistem antimycobakterium sel makrofoag yang diperantari reaksi
oksigen (ROIs) namun obat-obat tersebut tidak mengganggu sistem antimycobakterium sel
inang yang diperantarai reaksi nitrogen (RNIs) maupun asam lemak bebas (FFAs).
Pemahaman ini akan membantu pengembangan obat-obat anti MAP atau bakteri lainnya yang
mampu masuk ke dalam makrofag.

Tindakan strategi pencegahan JD pada hewan adalah dengan menjaga higiene


lingkungan peternakan, memisahkan anak sapi dari indukan, mencegah kontaminasi manure
dengan ternak, mencegah kontaminasi manure dengan sumber air minum ternak, dapat juga
dengan melakukan pasturisasi pada kolostrum sebelum diberikan kepada anakan serta selalu
menjaga kebersihan ambing sebelum pemerahan untuk mencegah kontaminasi manure.
Tindakan pencegahan terpenting adalah dengan memberikan kolostrum yang negatif MAP
agar mencegah penularan secara vertical.

Pada penyakit CD, tindakan pencegahan perlu dilakukan untuk mengontrol


penyebaran penyakit ini. secara teori manusia dapat terinfeksi melalui kontak langsung
dengan manusia ataupun hewan penderita ataupun secara tak langsung melalui pengan
tercemar. Penularan dapat melalui feses penderita sehingga harus selalu menjaga kebersihan
secara benar terutama setelah buang air besar dengan mencuci tangan dengan air bersih dan
sabun ataupun antiseptik. Tidak mengonsumsi pangan terutama susu dalam kondisi mentah,
melakukan pemanasan (pasteurisasi ataupun sterilisasi) untuk menginkatifkan atau
mematikan mikroorganisme yang ada didalamnya.
Bagi produsen keju disarankan untuk memperhatikan pH dan waktu pemeraman yang
mampu mengurangi tingkat cemaran MAP semaksimal mungkin. Minimal waktu pemeraman
yang disarankan adalah 3 bulan dengan suhu rendah untuk menurunkan jumlah bakteri.
Perebusan air secara benar khususnya yang dikonsumsi mengingat air juga menjadi media
yang berpotensi menyebarkan bakteri ini.

3. Kesimpulan

Mycobacterium avium subspesies paratuberculosis merupakan ancaman baru


(emerging disease) bagi kesehatan manusia yang memiliki peluang ditularkan dari susu dan
produk olahannya. Kasus Crohns Disease merupakan penyakit yang disebabkan bakteri
MAP telah menjadi permasalahan besar bagi kesehatan dan perekonomian terutama di negara
maju. Kemampuan bakteri MAP tahan terhadap panas perlu diwaspadai masyarakat dengan
menjaga kualitas higiene pangan dan sanitasi lingkungan dalam rangka pencegahan
terjadinya penyakit CD. Pengelolaan peternakan dengan selalu memantau kesehatan ternak,
sanitasi lingkungan peternakan, dan menjaga kualitas higiene produk untuk menekan peluang
pencemaran dan penyebaran MAP.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim .2008. Stasiun Karantina Cilacap Musnahkan Sapi Impor Selandia Baru.
http://www.vet-klinik.com/Berita-Peternakan/Stasiun-Karantina-Cilacap-Musnahkan-Sapi-
Impor-Selandia-Baru.html [22 Oktober 2010].

Carter M .2003. Johnes Desease. River Road USA : APHIS-VS Center for Animal
Health Programs.

Cousins DV, Condron RJ, Eamens GJ, Whittington RJ, Lisle GW .2002.
Paratuberculosis. South Perth dan Upper Hutt : Australia and New Zealand Standard
Diagnostic Procedures.

Griffiths M .2002. Food-borne Pathogenes, 1st ed. Cambridge UK : Woodhead


Pub.Ltd. and CRC press LLC

Hendrick S .2009. Johnes Desease. Saskatoon Canada : Large Animal Clinical


Sciences Disease Investigation Unit, Western College of Veterinary Medicine.

Nugroho WS .2010a. Kejadian dan Peluang Infeksi Mycobacterium avium subspesies


paratuberculosis pada Manusia Melalui Susu Sapi dan Produk Olahannya. Yogyakarta :
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada.

Nugroho WS .2010b. Paratuberculosis dan Produksi Susu Sapi. Yogyakarta :


Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada.
Stabel JR, Wells SJ, Wagners BA. 2002. Relationships Between Fecal Culture,
ELISA, and Bulk Tank Milk Test Results for Johnes Disease in US Dairy Herds. J.Dairy Sci.
85:525-531

Tarmudji .2008. Johnes Desease pada Sapi. Dimuat dalam Tabloid Sinar Tani, 8
Oktober 2008. Bogor : Balai Besar Penelitian Veteriner.

Welsh RD, Thedford TR, Karges S, Dirato D .2010. Johnes Disease (An Emerging
Disease of Oklahoma Cattle). Oklahoma USA : Division of Agricultural Sciences and Natural
Resources, Oklahoma State University.