Anda di halaman 1dari 6

Laporan Praktikum Hari/ tanggal : Senin /26 september

2016
Farmakologi Waktu : 14.00 18.00 WIB
Dosen : Drh. Huda Shalahudin,
Msi, PhD
Asisten : Steffiera, Amd
Normalita, Amd
:

APLIKASI OBAT PADA HEWAN


Kelompok 4

M. Rifky Anriansyah J3P115005


Dwiky Ramadhan J3P115009
Rahmatiaqmara H J3P115024
Ina Hajah Listiani J3P115034
M. Kevin Apriansyah J3P115039
Miftahul Rizqi J3P115054

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemberian obat menjadi salah satu tugas perawat yang paling penting. Perawat adalah
antai terakhir dalam prose spemberian obat kepada psien. Perawat bertanggung jawab pada
obat yang diberikan dan memastikan bahawa obat tersebut diberikan dengan benar. Obat
adalah bahan kimia yang mempengaruhi organism hidup dan dipergunakan untuk keperluan
diagnosis, pencegahan, dan pengobatan penyakit. Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik
yang bermanfaat (Sumardjo D. 2009)
Obat memang menguntungkan dalam banyak hal, tetapi beberapa obat dapat
menimbulkan efek samping yang serius dan berpotensi. Pemberian obat-obatan yang terlalu
sering akan menimbulkan masalah baru yang dapat merugikan, seperti lahirnya generasi
penyakit yang tahan terhadap obat-obatan yang diberikan. Pemberian obat pada pasien harus
memperhatikan beberap aspek diantarnya dosis-dosis obat disesuaikan dengan umur, berat
badan, protein serum, dan jaringan lemak pasien. Pemberian obat dapat dilakukan dengan
cara per oral, pemeberian dnegan cara injeksi, pemberian obat melalui rectal, pemberian
obat melalui intra vagina, pemberian obat secara topical, dan pemberian dengan cara
inhalasi. (Ghufran H. 2013)

Tujuan

1. Mahasiswa mampu mengaplikasikan obat pada hewan atau pasien


2. Mengetahui jenis obat dan dosis yang akan diberikan sesuai dengan petunjuk obat
3. Mahasiswa mampu melakukan berbagai teknik pemberian obat kepada berbagai hewan

METODE
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum aplikasi pemberian obat kali ini adalah
erlamycetin chloramphenicol (salep mata), combantrin pirantel pamoat (obat cacing), dan
vet-otic (tetes kuping). Sementara itu, alat yang digunakan adalah spoit dan cotton bud.

Waktu dan Tempat


Pratikum aplikasi pemberian obat dilaksanakan pada tanggal 26 September 2016.
Waktu praktikum dimulai dari pukul 08.00 sampai 11.00 WIB. Adapun tempat dilaksanaknnya
praktikum ini di Laboratorium GG kimia, Program Diploma Keahlian Paramedik Veteriner,
Institut Pertanian Bogor.

Prosedur Percobaan
Pemberian erlamycetin chloramphenicol (salep mata)
Pemberian salep mata pada kucing dimulai dengan menghandling kucing yang akan
diberi salap mata, mata kucing dibuka dengan menahan kelopak mata, ambil salep mata
menggunakan ujung jari dan oleskan pada mata kucing. Pijat secara perlahan di daerah mata
dengan tujuan agar salep merata di mukosa mata tersebut.

Pemberian combantrin pirantel pamoat (obat cacing).


Kucing dihandling agar mempermudah pemeberian obat, ambil combantrin pirantel
pamoat dengan menggunakan spoit. Rahang atas dan bawah kucing ditahan agar tidak
terbuka. Kulit yang longgarpada sudut mulut ditarik keluar dan cairan obat dimasukkan
melalui ruang antar bibir dan gigi. Jika kucing berusaha untuk memuntahkannya maka dapat
dipaksa menelan dengan cara meniup dan mengangkat hidungnya sedikit ke atas.

Pemberian Vet-otic.
Kucing dihandling dengan nyaman, telinga dibersihkan dengan menggunakan cotton
bud,teteskan vet-otic secukupnya dan telinga dipijat secara perlahan.
HASIL PENGAMATAN
Pemberian obat pada hewan:

a Tetes telinga
Merk obat : Vet-Otic
Indikasi : Vet-Otic adalah obat tetes telinga untuk anjing dan kucing yang
berguna sebagai bakteriostatik dan bakterisida pada spesies
tertentu.
Dosis : 2 tetes b.i.d atau sesuai resep dokter hewan
Penggunaan
Komposisi : Chloramphenicol base 1%
Ivermectin 20 mg
Cara pakai : Bersihkan telinga pasien dari kotoran dengan memakai cotton bud
dengan lembut. Teteskan Vet-Otic ke dalam lubang telinga pasien.
Pijat lembut daerah sekitar telinga pasien agar obat masuk dengan
baik.

b Salep mata
Merk obat : Erlamycetin
Indikasi : Kandungan aktif kloramfenikolnya merupakan antibiotik dengan
spektrum luas serta bersifat bekterisida pada spesies tertentu.
Berfungsi mengobati infeksi-infeksi mata seperti blepharitis,
catarrhae, conjunctivitis bernanah, traumatic keratitis, trachoma,
ulcerative keratitis, dan sebagainya.
Dosis : Olehkan 3-4 kali sehari pada bagian yang sakit, atau sesuai resep
Penggunaan dokter hewan
Komposisi : Tiap gram Erlamycetin mengandung 10 mg kloramfenikol
Cara pakai : Keluarkan sedikit salep mata dan taruh pada ujung jari tangan
kanan, tangan kiri memegang kepala pasien. Oleskan salep pada
bagian mata pasien yang terinfeksi/luka. Tutup mata pasien lalu
pijat perlahan untuk meratakan salep.

c Suplemen makanan
Merk obat : IPI Vitamin C
Indikasi : Mencegah dan mengobati kekurangan vitamin C
Dosis : tablet per hari (untuk kucing)
penggunaan
Komposisi : Vitamin C 50 mg
Perisa jeruk
Cara pakai : Tangan kiri membuka mulut pasien dengan cara menekan bagian
rahang. Obat dipegang dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan
kanan, lalu turunkan rahang bawah pasien dengan jari manis
tangan kanan. Masukkan obat ke pangkal lidah lalu tutup mulut
pasien dengan cepat. Terakhir, tiup hidung pasien untuk
merangsang refleks menelan.

d Obat cacing
Merk obat : Combantrin (Sirup)
Indikasi : Mengobati infeksi cacing parasit pada dewasa dan anak-anak
Dosis : 0,1 mL/kgBB (untuk kucing)
penggunaan
Komposisi : Tiap mL suspensi mengandung pirantel pamoat setara pirantel 125
mg
Perisa jeruk
Cara pakai : Tangan kiri membuka mulut pasien dengan cara menekan bagian
rahang. Spuit berisi obat dipegang dengan jari telunjuk, jari
tengah, dan ibu jari tangan kanan, lalu turunkan rahang bawah
pasien dengan jari manis tangan kanan. Arahkan spuit ke mulut
pasien yang terbuka dan semprotkan obat secara langsung.

PEMBAHASAN

Dalam pemberian obat harus memperhatikan bentuk sediaan yang diberikan karena akan
mempengaruhi kecepatan dan besarnya obat yang diabsorpsi, dengan demikian akan
mempengaruhi pula kegunaan dan efek terapi obat. Bentuk sedian obat dapat memberi efek
obat secara local atau sistemik, Efek sistemik diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh
melalui peredaran darah dapat diperoleh dengan cara oral melalui saluran gastrointestinal
atau rektal, parental dengan cara intravena, intramuskular dan subkutan, inhalasi langsung ke
dalam paru-paru sedangkan efek lokal adalah efek obat yang hanya berkerja setempat
misalnya salep. Efek lokal dapat diperoleh dengan cara ntraokular, intranasal, aural, dengan
jalan diteteskan pada mata, hidung, telinga, intrarespiratoral, berupa gas masuk paru-paru
dan rektal, uretral, dan vaginal dengan jalan dimasukkan ke dalam dubur, saluran kencing
dan kemaluan wanita, obat melelh atau larut pada keringat badan atau larut dalam cairan
badan. (Anief, M., 1994).

Rute penggunaan obat dapat diperlihatkan sebagai berikut:

No. Istilah Letak masuk dan jalan absorpsi obat

1. Per oral (per os) Melalui mulut masuk saluram intestinal (lambung),
penyerapan obat melalui membran mukosa pada lambung
dan usus memberi efek sistemik

2. Sublingual Dimasukkan di bawah lidah, penyerapan obat mellaui


membran mukosa, memberi efek sistemik

3 Parenteral atau Melalui selain jalan lambung dengan merobek beberap


injeksi jaringan
a. intravena Masuk pembuluh darah balik (vena), memberi efek sistemik
b. intrakardial Menembus jantung, memberi efek sistemik
c. intrakutan Menembus kulit, memberi efek sistemik
d. subkutan Di bawah kulit, memberi efek sistemik
e. intramuskular Menembus otot daging, memberi efek sistemik

4 Intranasal Diteteskan pada lubang hidung, memberi efek lokal

5 Aural Diteteskan pada lubang telinga, memberi efek lokal

No. Istilah Letak masuk dan jalan absorpsi obat


6 Intrarespiratoral Inhalasi berupa gas masuk paru-paru, memberi efek lokal

7 Rektal Dimasukkan ke dalam dubur, memberi efek lokal + sistemik

8 Vaginal Dimasukkan ke dalam lubang kemaluan wanita, memberi


efek lokal

9 Uretral Dimasukkan ke dalam saluran kencing, memberi efek lokal

(Sumber :Anief, M., 1994).

Rute penggunaan obat dapat digunakan melalui beberapa rute, yaitu rute oral/per oral,
rektal (anus/dubur), parental/injeksi, kulit (per kutan),membran selaput lendir/ mukosa (mata,
hidung, telinga, vagina, dan implantasi (subkutan) (Syamsuni, 2006). Rute yang digunakan
pada praktikum kali ini adalah yang pertama adalah rute oral yaitu pemberian Combantrin
pirantel pamoat pada kucing, kedua rute mukosa atau rute Aural untuk pemberian obat vet
otic pada kucing, dan ketiga adalah rute mukosa untuk pemberian obat erlamucin
chloramphenicol (salep mata) pada kucing.

Obat diklasifikasikan menjadi dua bedasarkan cara kerjanya dalam tubuh, yaitu lokal dan
sistemik. Obat lokal merupakan obat yang bekerja pada jaringan setempat, seperti pemakaian
topikal contohnya erlamucin chloramphenicol (salep mata) dan vet otic yang digunakan pada
praktikum ini. Sistemik merupakan obat yang didistribusikan ke seluruh tubuh. Contoh obat
sistemik pada kali ini adalah Combantrin pirantel pamoat.

Dosis
Menurut Syamsuni (2006) dosis atau takaran obat adalah banyaknya suatu obat yang
dapat dipergunakan atau diberikan kepada penderita, baik obat dalam maupun obat luar.
Dosis obat yang diberikan kepada pasien untuk menghasilkan efek yang diharapkan
tergantung banyak faktor, antara lain umur, bobot badan, luas permukaan tubuh, jenis
kelamin, kondisi penyakit, dan kondisi daya tangkis penderita.

Pemilihan dan penetapan dosis memang tidak mudah karena harus memperhatikan
beberapa faktor yaitu, faktor penderita, faktor obat, dan faktor penyakit.

Tabel. 1 konversi dosis hewan


Hewan Mencit Marmut Kelinci Kucing Anjing Manusia
Percobaan 20 g 200 g 1,5 kg 2 kg 12 kg 70 kg
Mencit 20g 1,0 12,25 27,8 29,7 124,2 387,9
Marmut 0,08 1,0 3,9 2,4 10,2 31,5
400g 0,04 0,44 1,0 1,08 4,5 14,2
Kelinci 1,5g 0,03 0,41 0,92 1,0 4,1 13,2
Kucing 2 g 0,008 0,10 0,22 0,24 1,0 3,1
Anjing 12kg 0,0026 0,031 0,07 0,076 0,32 1,0
Manusia 70
kg
Sumber: (Harmita,2008)

Berdasarkan tabel di atas Combantrin pirantel pamoat liquid dengan dosis 500mg
untuk manusia dapat diberikan dengan dosis 38 mg/2kg. Dalam praktikum ini bobot badan
pasien (seekor kucing) sebesar 4 kg seharusnya diberikan combantrin pirantel pamoat liquid
sebanyak 76mg.

KESIMPULAN
1. Bentuk sediaan obat yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan efek
terapi/obat.
2. Pemberian obat pada hewan dilakukan dengan cara per oral, intra vena, subkutan,
dan intra muscular.
3. Pemberian obat pada hewan juga harus memperhatikan takaran pemberian atau
dosis yang diberikan kepada penderita baik obat dalam maupun obat luar agar
menghasilkan efek yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., 1994. Farmasetika. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.

Ghufran H. 2013. Budi Daya Nila Unggul. Jakarta (ID): PT AgroMedia Pustaka.

Harmita. 2008. Buku Ajar Analisis Hayati. Jakarta (ID) : Buku kedokteran EGC

Sumardjo D. 2009. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan
Program Studi Sastra Fakultas Bioeksakta. Jakata (ID): Penerbit Buku Kedokteran ECG

Syamsuni. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta (ID) : Buku kedokteran
EGC