Anda di halaman 1dari 14

Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Rabu/ 09 Maret 2016

Biokimia Waktu: 13.00- 17.00 WIB


PJP : Ukhradiya M. Safira P, Msi
Asisten : Bayu Cakra Buana
Rizki Rinda Sari

PROTEIN 1

Kelompok 4, P-1
Dwiky Ramadhan J3P115009
Ratu Nurendah J3P115015
Andri J3P115025
Anggita Dwi Candra J3P115027
Febby Rhoma Safitry J3P115029

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER


DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
PENDAHULUAN

Protein adalah sekelompok senyawa organik yang nyaris keseluruhannya terdiri atas
karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Protein biasanya suatu polimer yang tersusun atas
banyak subunit (monomer) yang dikenal sebagai asam amino. Asam amino yang biasanya
ditemukan dalam protein menunjukkan struktur sebagai berikut (Fried dan Hademenos,
2006).

Pembagian tingkat organisasi struktur protein ada empat kelas yakni struktur primer,
struktur sekunder, dan struktur tersier. Sedangkan klasifikasi protein dibagi berdasarkan sifat
biologisnya, berdasarkan sifat kelarutannya dan gugus prostetiknya (Katili, 2009).

Pada struktur primer ini ikatan antar asam amino hanya ikatan peptida (ikatan
kovalen). Struktur ini dapat digambarkan sebagai rumus bangun yang biasa ditulis untuk
senyawa organik. Pada ikatan ini tidak terdapat ikatan atau kekuatan lain yang
menghubungkan asam amino dengan satu dan lainnya. Pada struktrur sekunder dimana rantai
asam amino bukan hanya dihubungkan oleh ikatan peptida tetapi juga diperkuat oleh ikatan
hidrogen. Karena ikatan peptida adalah planar maka dalam satu molekul protein dapat
berotasi hanya Ca-N dan Ca-C terhadap sumbu (struktur primer), sehingga memungkinkan
suatu protein yang disebut a-heliks.

Struktur tersier terbentuk karena terjadinya pelipatan (folding) rantai a-heliks,


konformasi b, maupun gulungan rambang suatu polipeptida, membentuk protein globular,
yang struktur tiga dimensinya lebih rumit daripada protein serabut. Struktur kuartener
terbentuk dari beberapa bentuk tersier dan bisa terdiri dari promoter yang sama atau yang
berlainan. Agregasi dari banyak polipeptida dapat membentuk sebuah protein tunggal yang
fungsional (Patong, dkk., 2012).

Albumin merupakan segala jenis protein monomer yang bisa larut dalam air dan juga
dalam larutan garam. Dalam tubuh manusia, albumin diproduksi di dalam hati oleh reticulum
endoplasma. Bentuknya disebut proalbumin,proalbumin biasanya akan diiris oleh badan golgi
, kemudian disekresi hingga mampu memenuhi sebanyak 60% dari total serum darah. Kandu
ngan molekulalbumin terdiri dari 584 asam amino yang tanpa karbohidrat dengan total molek
ul 65KD.

Denaturasi protein merupakan suatu proses dimana terjadi perubahan atau modifikasi
terhadap konformasi protein, lebih tepatnya terjadi pada struktur tersier maupun kuartener
dari protein. Pada struktur tersier protein misalnya, terdapat empat jenis interaksi pada rantai
samping seperti ikatan hidrogen, jembatan garam, ikatan disulfida, interaksi non polar pada
bagian non hidrofobik. Adapun penyebab dari denaturasi protein bisa berbagai macam, antara
lain panas, alkohol, asam-basa, maupun logam berat.

Ciri-ciri suatu protein yang mengalami denaturasi bisa dilihat dari berbagai hal. Salah
satunya adalah dari perubahan struktur fisiknya, protein yang terdenaturasi biasanya
mengalami pembukaan lipatan pada bagian-bagian tertentu. Selain itu, panas dapat
mengacaukan ikatan hidrogen dari protein namun tidak akan mengganggu ikatan kovalennya.
Selain oleh panas, asam dan basa juga dapat membuat protein terdenaturasi. Setelah
mengikuti praktikum ini, diharapkan mahasiswa dapat menunjukkan sifat dan struktur asam
amino dan protein melalui uji-uji kualitatif. Selain itu juga mahasiswa dapat mempelajari
beberapa reaksi uji terhadap asam amino dan protein.

BAHAN dan METODE

Alat dan Bahan

Alat alat yang digunakan ialah Bunsen, tabung reaksi, pipet tetes, pipet mohr, bulf,
penangas air, gegep, sudip, kertas saring, rak tabung reaksi, stopwatch,

Bahan bahan yang digunakan ialah larutan albumin, larutan HgCl 2 2%, Pb- asetat
5%, AgNO3 5%, (NH4 )2 SO4, pereaksi millon, pereaksi biuret, aquades, HCl 0,1 M, NaOH 0,1
M, buffer asetat ph 4,7, etanol 95%,

Metode Kerja

Uji pengendapan oleh logam, kedalam 1,5 ml albumin ditambahkan 3 tetes larutan
HgCl2 2%, kemudian percobaan tersebut diulangi dengan menggunakan larutan Pb asetat
5% dan AgNO3 5%.

Uji pengendapan oleh garam, sebanyak 5 ml protein dijenuhkan dengan menggunakan


(NH4)2SO4 yang ditambahkan sedikit demi sedikit, kemudian larutan diaduk hingga jenuh dan
disaring. Kelarutan endapan diuji dengan menggunakan air, endapan diuji dengan pereaksi
millon dan filtrate diuji dengan menggunakan biuret.

Uji koagulasi, kedalam 5 ml larutan protein ditambahkan 1 tetes asam asetat 1M,
kemudian tabung dididihkan selama 5 menit. Endapan didasar tabung diambil dengan
menggunakan sudip / batang pengaduk. Kelarutan endapan diuji dengan menggunakan air
dan endapan diuji dengan pereaksi millon.

Uji pengendapan oleh alcohol, disiapkan 3 tabung reaksi, tabung 1 berisi larutan
albumin + HCl 0,1 M + etanol 95%, tabung 2 berisi larutan albumin + NaOH 0,1 M + etanol
95%, tabung 3 berisi larutan albumin + buffer asetat ph 4,7 + etanol 95%. Diamati reaksi
yang terjadi.

Uji denaturasi protein, disiapkan 3 tabung reaksi, tabung 1 berisi larutan albumin +
HCl 0,1 M, tabung 2 berisi larutan albumin + NaOH 0,1 M, tabung 3 berisi larutan albumin +
buffer asetat ph 4,7. Kemudian ketiga tabung tersebut dididihkan selama 15 menit, setelah itu
didiamkan di suhu kamar. Untuk tabung 1& 2 ditambahkan dengan buffer asetat ph 4,7
sebanyak 5 ml.
HASIL dan PEMBAHASAN

Tabel 1. Pengendapan Protein oleh Logam

Uji Hasil Gambar


Albumin + HgCl2 2% ++

Albumin + Pb-Asetat +

Albumin + AgNO3 5% +++

Keterangan : - tidak mengendap


+ mengendap sedikit
++ mengendap banyak
+++ mengendap sangat banyak

Prinsip uji pengendapan oleh logam yaitu pembentukan senyawa tak larut antara
protein dan logam berat berupa endapan logam proteinat. Ikatan yang terbentuk amat kuat
dan akan memutuskan jembatan garam, sehingga protein mengalami denaturasi. Secara
bersama gugus COOH dan gugus NH 2 yang terdapat dalam protein dapat bereaksi dengan
ion logam berat. Ion- ion yang dapat membentuk endapan logam proteinat antara lain Ag, Ca,
Zn, Hg, Fe, Cu, Co, Mn,dan Pb. Selain gugus COOH dan gugus NH 2, gugus R pada
molekul asam amino tertentu dapat pula mengadakan reaksi dengan ion atau senyawa lain.
Gugus sulfihidril (-SH) pada molekul sistein akan bereaksi dengan ion Ag+ atau Hg++ .
Menurut Sumardjo (2006), produk denaturasi disebut protein terkoagulasi yang tidak
larut dalam air tetapi larut dalam larutan basa kuat dan asam mineral kuat karena terhidrolisis
menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana. Jumlah endapan yang dihasilkan dipengaruhi
oleh kereaktifan logam berat yang ditambahkan. Logam Hg lebih reaktif daripada logam Pb
karena merupakan logam transisi pada sistem periodik. Faktor lain yang juga memengaruhi
banyaknya endapan adalah konsentrasi garam-garam anorganik yang tinggi dalam larutan
protein.
Berdasarkan hasil percobaan pengendapan oleh logam, endapan proteinat terjadi
karena albumin yang terkoagulasi setelah ditambahkan AgNO 3, HgCl, dan Pb-asetat. Larutan
AgNO3 menghasilkan paling banyak endapan sedangkan larutan yang paling sedikit
menghasilkan endapan adalah Pb-asetat. Urutan banyaknya endapan yang terbentuk menurut
hasil percobaan adalah AgNO3, kemudian HgCl, dan yang paling sedikit adalah Pb-asetat.
Meskipun konsentrasi garam HgCl lebih kecil dibandingkan Pb-asetat tetapi jumlah endapan
proteinat HgCl lebih banyak dibanding Pb-asetat karena pengaruh perbedaan kereaktifan dari
logam tersebut.
NH3- NH3+ NH3+
R CH COO Hg3+ R CH COO Hg COO CH R

NH2+ NH3+ NH3+


R CH COO- Pb2+ R CH COO Pb COO CH R

Gambar 2. Struktur pengendapan protein oleh logam

Tabel 2. Pengendapan Protein oleh Garam

Uji Hasil Gambar


Penambahan garam Mengendap

Millon -

Kelarutan dalam air Larut


Biuret +

Keterangan : - tidak mengasilkan pengendapan protein


+ menghasilkan pengendapan protein
Prinsip percobaan pengendapan oleh garam adalah pembentukan senyawa tak
larut, antara larutan protein dengan garam ammonium sulfat. Biasanya dalam air murni,
protein sukar larut. Dengan adanya penambahan garam, kelarutan protein akan
meningkat. Hal ini disebabkan oleh ion anorganik yang terhidrasi sempurna akan mengikat
permukaan protein dan mencegah penggabungan (agregasi) molekul protein, proses ini
disebut salting in. Pada konsentrasi garam yang tinggi, garam akan lebih cenderung mengikat
air dan menyebabkan agregasi sehingga molekul protein mengalami presipitasi, peristiwa ini
disebut salting out.
Pada percobaan pengendapan protein dengan garam ini, endapan yang dihasilkan
dibagi dua kemudian direaksikan masing-masing dengan air dan reagen millon. Dan untuk
filtratnya di reaksikan dengan uji biuret. Ketika endapan dilarutkan dalam aquades, endapan
tersebut kembali terlarut. Hal ini sesuai dengan sifat alamiah endapan protein yang larut
dalam air. Sedangkan ketika endapan diuji dengan reagen millon, mula-mula tidak terjadi
perubahan, tetapi setelah dipanaskan, endapan tetap berwarna putih. Hal ini menunjukkan uji
negatif terhadap uji millon. Seharusnya endapan berubah menjadi warna merah yang
menandakan hasil positif terhadap uji pengendapan garam. Hal ini berarti endapan tersebut
masih mengandung asam amino. Asam amino yang terkandung adalah asam amino tirosin,
karena terbentuknya endapan merah setelah ditambahkan reagen millon dan dipanaskan.
Setelah dilakukan penyaringan. Selanjutnya filtrat yang dihasilkan ditambahkan dengan
larutan CuSO4. Setelah ditambahkan dengan larutan CuSO4, filtrat menunjukkan positif
terhadap uji biuret yang ditandai dengan terbentuknya lauran biru muda setelah filtrat
ditambahkan reagen biuret.
Hal ini berarti ada sebagian protein yang mengendap setelah ditambahkan garam.
Proses pengendapan oleh garam di ini disebut juga peristiwa salting out merupakan
pengendapan protein karena terjadi persaingan antara garam dan protein yang mengikat air.
Dengan demikian, tidak cukup banyak air yag terikat pada protein sehingga gaya tarik-
menarik antara molekul protein lebih menonjol dibandingkan tarik-menarik antara air dan
protein. Dalam kondisi seperti ini, protein akan mengendap.
O O

[ - NHCHC NHCHC - H2O,H+ NH2Cl + COOH + NH2CHCOOH


kalor

R R R R

Gambar 2. Struktur pengendapan protein oleh garam


Tabel 3. Uji Koagulasi

Uji Hasil Gambar


Setelah dididihkan Mengendap
Kelarutan dalam air Larut

Biuret +

Keterangan : - tidak mengasilkan pengendapan protein


+ menghasilkan pengendapan protein
Selanjutnya pada uji koagulasi, larutan Protein ditambahkan larutan asam asetat yang
kemudian dipanaskan sehingga dapat menghasilkan endapan protein. Penambahan asam ke
dalam larutan protein menyebabkan ion-ion H+ dari asam akan terikat pada gugus-gugus
yang bermuatan negatif sehingga terjadi perubahan pengutuban dari molekul protein.
Perubahan pengutuban ini menyebabkan perubahan konformasi dari protein atau rusaknya
struktur tersier atau struktur kwartener protein sehingga protein mengalami koagulasi.
Pada percobaan ini dilakukan penambahan asam asetat ke dalam larutan protein.
Ketika larutan protein ditambahkan dengan larutan asam asetat, tidak terjadi perubahan.
Namun setelah dipanaskan terbentuk gumpalan-gumpalan putih yang menunjukkan protein
telah terkoagulasi.
Terjadinya koagulasi disebabkan karena ion H+ dari CH3COOH terikat pada gugus
negatif pada protein. Ketika ion H+ dari asam asetat masuk ke dalam larutan, akan
mempengaruhi keseimbangan dan pengkutuban muatan dari molekul protein. Perubahan
pengkutuban ini menyebabkan rusaknya konformasi alamiah protein seperti struktur tersier
dan struktur kwartener protein. Rusaknya konformasi alamiah protein menyebabkan
terganggunya stabilitas dari larutan protein, sehingga larutan protein mengalami koagulasi.
Percobaan uji koagulasi ini juga menghasilkan endapan protein setelah dipanaskan. Endapan
ini juga di bagi menjadi dua yang kemudian di tambahkan air (aquadest) dan reagen Biuret.

Dengan Air (H2O)


H H

R C COO- H2O R C COO- + H+


N+H3 N+H2

COO - COOH

H3N+ - C H + H+ H2O H3N+ - C H

R asam R

Gambar 2. Struktur uji koagulasi

Tabel 4. Pengendapan Protein oleh Alkohol

Larutan Hasil Gambar

Albumin+alkohol+Buffer +++
asetat pH 4,7

Albumin+alkohol+NaOH -
0,1 M

Albumin+alkohol+HCl 0,1 ++
M

Keterangan : + Terdapat sedikit endapan protein


++ Terdapat endapan protein
+++ Terdapat banyak endapan protein
- Menyatakan bahan tidak mengandung endapan protein

Pada percobaan uji pengendapan oleh alkohol yang bertujuan untuk mengetahui
pengaruh alkohol terhadap larutan protein. Dan berfungsi juga untuk menurunkan konstanta
dielektrik pada larutan sehingga gaya tarik-menarik antar molekul jadi semakin kuat.
Kemudian alkohol akan mengkondisikan gugus positif pada asam amino untuk bereaksi
dengan gugus negatif yang ada dalam larutan, sehingga pada suasana tertentu mampu
membentuk endapan. Albumin yang ditambah larutan penyangga Buffer Asetat pH 4,7
paling banyak menghasilkan endapan, hal ini terjadi karena pH tersebut merupakan titik
isoelektrik protein sehingga endapan yang terbentuk merupakan jumlah yang paling
maksimal. Albumin yang ditambahkan HCl juga menghasilkan endapan, namun dengan
kuantitas yang lebih sedikit, ini terjadi karena gugus positif pada protein berikatan dengan
gugus Cl- dan gugus negatif yang ada pada larutan sehingga terbentuk endapan pada suasana
asam. Sebaliknya, protein tidak terendapkan oleh alkohol pada suasana basa (NaOH) karena
pH nya terlampau jauh dari titik isoelektrik protein. Protein juga disebut ampoter karena pada
ujung rantai protein terdapat gugus asam amino dan karboksilat, sehingga mudah larut tetapi
susah larut dalam lemak.
1. Reaksi dengan HCl 0,1 M dan dilanjutkan dengan alkohol

2. Reaksi dengan NaOH 0,1 M dan dilanjutkan dengan alkohol

3. Reaksi dengan Buffer Asetat pH 4,7 dan dilanjutkan alkohol

Gambar 2. Struktur pengendapan protein oleh alkohol


Tabel 5. Uji Denaturasi Protein

Larutan Hasil Gambar

Albumin + etanol + HCl -


0,1 M

Albumin + etanol +NaOH +


0,1 M
Albumin + etanol + buffer
asetat pH 4,7 -

Keterangan : - Tidak mengendap


+ Ada endapan
++ Banyak endapan

Denaturasi adalah suatu keadaan dimana telah terjadi perubahan struktur protein yang
mencakup perubahan bentuk dan lipatan molekul, tanpa memutus atau merusak ikatan antar
asam amino dalam struktur primer protein. Denaturasi terjadi karena terpecahnya ikatan
hidrogen, interaksi hidrofobik, ikatan garam dan terbentuknya lipatan molekul protein.
Denaturasi tidak cukup kuat untuk memutus ikatan peptida,dimana struktur primer protein
tetap sama setelah proses denaturasi. Protein akan terdenaturasi atau mengendap bila berada
pada titik isolistriknya, yaitu pH dimana jumlah muatan positif sama dengna jumlah muatan
negatifnya.

Dalam percobaan uji denaturasi protein yang dilakukan pada 3 larutan yaitu larutan
albumin yang ditambahkan dengan HCl, NaOH, dan buffer asetat pH 4,7, menunjukkan hasil
yaitu pada larutan albumin dengan tambahan NaOH menghasilkan hasil positif sedangkan 2
larutan lainnya menunjukkan hasil negatif. Pengendapan pada larutan albumin + NaOH
(tabung 2) ini terjadi setelah dilakukan pemanasan selama 15 menit. Selama pemanasan
larutan membentuk endapan, hal ini dikarenakan panas dapat mengacaukan ikatan hydrogen
dan interaksi hidrofobik non-polar. Hal ini dapat terjadi karena suhu tinggi dapat
meningkatkan energi kinetic dan menyebabkan molekul penyusun bergerak sangat cepat
sehingga mengacaukan ikatan molekut tersebut. Pemanasan juga akan menyebabkan
kemampuan protein mengikat air menjadi berkurang, disebabkan karena ikatan non-
kovalennya terputus akan tetapi tidak memutus ikatan peptida.

Setelah pemanasan larutan ditambahkan dengan buffer asetat ph 4,7 dan hasil terakhir
menunjukkan larutan berwarna coklat dan terdapat endapan. Didalam literature endapan yang
dihasilnya harusnya berwarna putih susu akan tetapi didalam percobaan berwarna coklat, hal
ini dikarena NaOH yang digunakan merupakan NaOH lama sehingga gosong pada saat
pemanasan.
Pada larutan albumin + HCl (tabung 1) dan larutan albumin + buffer asetat ph 4,7
(tabung 3) uji denaturasi menunjukkan hasil yang negative atau tidak ada endapan. Selama
proses pemanasan kedua larutan tersebut tidak menunjukkan reaksi apapun, kedua tabung
tersebut tetap berwarna bening dan tidak terdapat endapan. Pada saat tabung 1 ditambahkan
larutan buffer asetat ph 4,7 tetap tidak menunjukkan perubahan, warna larutan tetap bening
dan tidak ada endapan seperti penampakan awal. Hal ini dapat terjadi dikarenakan
kemungkinan larutan yang dibuat terlalu encer. Akan tetapi hasil yang didapat berbeda dari
literature, harusnya larutan albumin + HCl (tabung 1) menghasilkan endapan setelah ditetesi
buffer asetat ph 4,7 dikarenakan pada ph tersebut merupakan titik isolistriknya.

Reaksi protein dengan HCl yang di lanjutkan dengan pemanasan selama 15 menit
membuat protein terdenaturasi

COO - COOH

H3N+ - C H + H+ H3N+ - C H

R asam R

COO - COO -

H3N+ - C H + OH- H2N C H + H2O

R basa R

Gambar 2. Denaturasi protein


SIMPULAN

Pada uji protein 2 dapat dihasilkan dari beberapa pengujian, seperti pengendapan
protein oleh logam, pengendapan protein oleh garam, uji koagulasi, pengendapan protein oleh
alkohol, dan uji denaturasi protein. Pada pengendapan oleh logam, endapan proteinat terjadi
karena albumin yang terkoagulasi setelah ditambahkan AgNO 3, HgCl, dan Pb-asetat. Pada
pengendapan dengan garam, endapan terbentuk disebabkan ion garam lebih mudah untuk
mengikat air (hidrasi) dibandingkan dengan molekul protein. Sehingga molekul protein kalah
bersaing dalam hal mengikat air, akibatnya kelarutan protein dalam air berkurang dan protein
membentuk endapan. Koagulasi dapat terjadi bila larutan protein berada pada titik
isoelektriknya. Ion-ion logam berat yang masuk ke dalam tubuh akan bereaksi dengan
sebagian protein, sehingga menyebabkan terjadinya koagulasi (penggumpalan).
Pada pengendapan oleh alkohol akan menurunkan konstanta dielektrik pada larutan
sehingga gaya tarik-menarik antar molekul jadi semakin kuat, sehingga pada suasana tertentu
mampu membentuk endapan. Denaturasi terjadi karena terpecahnya ikatan hidrogen,
interaksi hidrofobik, ikatan garam dan terbentuknya lipatan molekul protein.

DAFTAR PUSTAKA

Fried, G. H. dan Hademenos, G. J., 2006, Schaums Outlines Biologi Edisi Kedua.
Jakarta(ID): Penerbit Eralangga.
Fukuda, H., Kondo, A., dan Noda, H. (2001) : Biodiesel Fuel Production by
Transesterification Oil, Journal Bioscience and Bioengineering, 92, 405-
416.
Katili, A. S., 2009, Struktur dan Fungsi Protein Kolagen (online),
(http://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JPI/article/view/587), Jurnal Penelitian, Vol : 2 (5),
Hal:19-29,Universitas Negeri Gorontalo, Gorontalo.
Lehninger. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta (ID): Erlangga.
Ophart CE. 2003. Virtual Chembook. [Internet]. [diunduh : 2009 November 10]. Tersedia
pada: http://www.elmhurst.edu/~chm/vchembook/
Poedjiyadi, Anna. 2006. Dasar Dasar Biokimia. Jakarta (ID) : UI- Press
Panil, Z. 2007. Memahami Teori dan Praktik Biokimia Dasar Medis. Jakarta (ID) : EGC
Patong, A.R., dkk., 2012, Biokimia Dasar. Makassar (ID): Lembah Harapan Press.
Samadi, 2012, Konsep Ideal Protein (Asam Amino) Fokus pada Ternak Ayam Pedaging
(online), (http://jurnal.unsyiah.ac.id/agripet/article/view/202), Jurnal Penelitian, Vol: 12
(2), Hal : 42-48,Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Sumardjo D. 2009. Pengantar Kimia Buku Panduan kuliah Mahasiswa jurusan kimia . Jakarta

(ID): Bumi Aksara.