Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kegiatan survey pada usaha pertambangan merupakan kegiatan pendukung

yang sangat penting, baik pada tahap persiapan (eksplorasi), selama kegiatan

operasional, maupun pada tahap penutupan tambang (pasca operasi). Survey atau

pemetaan dilakukan dengan tujuan mendapatkan gambaran tentang roman/bentuk

dari permukaan bumi dan data dari survey ini dapat digunakan untuk membuat

peta geologi dan peta topografi. Pada tahap persiapan (eksplorasi) kegiatan survey

sangat bermanfaat dalam pembuatan peta dasar (peta topografi daerah tambang)

yang akan digunakan untuk mengetahui sebaran atau cebakan dari bahan galian

serta bentuk/roman permukaan bumi sebelum kegiatan penambangan dilakukan

Pada tahapan perencanaan kegiatan penambangan, informasi yang

dibutuhkan cukup banyak terutama mengenai geometri dari lokasi yang akan

ditambang. Informasi tersebut diperoleh dari kegiatan survey yang dilakukan di

lokasi tambang. Informasi (data) yang diperoleh dari kegiatan survey tersebut

nantinya akan diolah menjadi data utama yang merupakan dasar pembuatan dari

Mine Design lokasi yang akan di tambang. Dari design tersebut dapat diketahui

jumlah volume dari bahan galian yang akan tertambang serta jumlah volume

lapisan tanah penutup (overburden) yang harus dipindahkan.

Pada saat kegiatan eksploitasi juga dilakukan survey yaitu dengan tujuan

mengevaluasi kemajuan dari tambang atau untuk mengetahui total volume dari
2

bahan galian yang telah ditambang serta sisa cadangan dari bahan galian yang

belum tergali.

Terkadang muncul permasalahan berupa selisih antara volume hasil

pengukuran survey dengan pencatatan/data ritase alat angkut (Truck Count). Dan

untuk mengetahui penyebab deviasi/selisih data tersebut diperlukan pengkajian

lebih dalam mengenai teknik pengambilan data pada pengukuran survey serta

pengolahan data perhitungan dari hasil pencatatan ritase alat angkut/metode

perhitungan Truck Count.

PT. Rimau Energy Mining yang berkecimpung dalam usaha pertambangan, dalam

hal ini penambangan batubara, tentunya tidak akan terpisah dari kegiatan survey

dalam kelangsungan usahanya sehingga kemungkinan permasalahan diatas juga

dapat ditemui di perusahaan ini. Hal tersebut yang menjadi latar belakang penulis

melakukan penelitian dengan judul EVALUASI KEMAJUAN TAMBANG

BERDASARKAN METODE JOINT SURVEY DAN TRUCK COUNT PADA

PT RIMAU ENERGY MINING, KECAMATAN KARUSEN JANANG

KABUPATEN BARITO TIMUR PROVINSI KALIMANTAN TENGAH.

1.2. Maksud dan Tujuan

1.2.1. Maksud

Adapun maksud pelaksanaan Tugas Akhir ini adalah untuk

Mengevaluasi Kemajuan Tambang di PT Rimau Energy Mining,

Kecamatan Karusen Janang, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan

Tengah.
3

1.2.2. Tujuan

Tujuan dilakukannya evaluasi kemajuan tambang di lokasi ini

adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui produksi volume tanah penutup (overburden),

berdasarkan metode joint survey dan truck count.

2. Menghitung selisih produksi volume tanah penutup (overburden)

dari metode joint survey dengan truck count.

3. Menentukan dan mengevaluasi faktor-faktor yang menjadi penyebab

selisih produksi antara metode joint survey dengan truck count.

1.3. Manfaat

Dengan adanya kegiatan penelitian tugas akhir ini ada beberapa manfaat

yang dapat diperoleh, diantaranya :


1. Bagi Mahasiswa
Dapat menerapkan ilmu-ilmu yang didapatkan dalam perkuliahan terutama

tentang pengukuran kemajuan tambang sesuai dengan topik penelitian.


Menambah pengalaman tentang kegiatan penambangan secara langsung di

lapangan, khususnya mengenai survey kemajuan tambang/Mine Progress.


2. Bagi Perusahaan
Memperoleh saran dan masukan atau solusi tentang permasalahan yang

terjadi.
Dapat dijadikan bahan pertimbangan atau usulan untuk meningkatkan

produksi maupun program yang akan dilaksanakan.

1.4. Rumusan Masalah

Permasalahan yang ingin diteliti dalam tugas akhir ini adalah:


1. Selisih perhitungan produksi volume tanah penutup (Overburden) dari

metode joint survey dengan truck count.


4

2. Besarnya selisih perhitungan produksi yang terjadi antara metode joint

survey dengan truck count.

3. Faktor faktor yang mempengaruhi selisih perhitungan tersebut.

1.5. Batasan Masalah

Masalah yang diuraikan dalam penelitian ini yaitu :


1. Kegiatan Penelitian dilakukan di Pit 3 di PT. Rimau Energy Mining.
2. Penganalisaan menggunakan data produksi.
3. Mengevaluasi kemajuan tambangan pada bulan Februari tahun 2011 (produksi

OB).
4. Pengolahan data survey terhadap peta topografi daerah dan digambarkan

dalam bentuk 2 dimensi.

5. Mengevaluasi kegiatan penambangan dari beberapa parameter berupa, Swell

Factor material, Bucket Fill Factor alat, Kapasitas Alat, dan Data kinerja alat.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pemetaan
Sepanjang zaman, peta telah mempunyai dampak mendalam pada kegiatan

manusia, dan dewasa ini tuntutan akan peta barangkali lebih besar dari
5

sebelumnya. Peta-peta sangat penting dalam rekayasa, pengelolaan sumber daya,

pertanian, dan banyak bidang lainnya. Peta memperlihatkan beraneka ragam ciri,

misalnya topografi, batas-batas hak milik, jalur lintas transportasi, jenis-jenis

tanah, tumbuh-tumbuhan, pemilikan tanah untuk tujuan pajak, dan lokasi mineral

serta sumber daya.

Peta merupakan gambaran permukaan bumi dalam skala yang lebih kecil

pada bidang datar. Suatu peta idealnya harus dapat memenuhi ketentuan

geometrik sebagai berikut :

Jarak antara titik yang terletak di atas peta harus sesuai dengan jarak

sebenarnya di permukaan bumi (dengan memperhatikan faktor skala peta)


Luas permukaan yang digambarkan di atas peta harus sesuai dengan luas

sebenarnya di permukaan bumi (dengan memperhatikan faktor skala peta)


Besar sudut atau arah suatu garis yang digambarkan di atas peta harus sesuai

dengan besar sudut atau arah sebenarnya di permukaan bumi Bentuk yang

digambarkan di atas peta harus sesuai dengan bentuk yang sebenarnya di

permukaan bumi (dengan memperhatikan faktor skala peta).

Surveying is the art of determining relative position of object on the

surface of the earth by taking measurements and drawing them to convenient

reduced size on papers. The measurement taken may be horizontal or vertical. In

case of horizontal measurements, the papers on which they are drawn are known

as maps or plans and in case of vertical measurements, they are called section or

elevations. (Kochher, C.L. 1981:1)


Pemetaan topografi adalah penyajian dari sebagian permukaan bumi

memperlihatkan kebudayaan, relief, hidrografi, dan mungkin tumbuh-tumbuhan.


6

Ciri-ciri kebudayaan (buatan) adalah produk manusia, misalnya jalan, jalan

setapak, gedung, jembatan, saluran, dan garis batas. (Walijatun, D. 1997: 15)
Peta topografi sangat bermanfaat dalam hal perencanaan tambang. Peta

tersebut digunakan dalam mengetahui keadaan yang sebenarnya dilapangan

sehingga sangat bermanfaat sekali dalam penentuan rencana penambangan. Pada

awal tahap perencanaan untuk setiap proyek (tambang) yang baru, terdapat

banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Beberapa faktor tersebut dapat dengan

mudah diperoleh, sedangkan beberapa faktor lain diperoleh dengan suatu

keharusan melakukan studi yang mendalam.


Pemetaan topografi dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain :
1. Metode Teristris
Pada metode teristris ini terdapat dua jenis pengukuran yaitu :
Pengukuran sifat datar yakni pengukuran untuk menentukan beda tinggi antara

dua titik atau lebih secara langsung atau tidak langsung yang dilaksanakan

serentak atau dibagi dalam beberapa seksi.


Pengukuran polygon yakni pengukuran jumlah sudut yang diukur dilapangan

dimana sudut tersebut dihubungkan menjadi beberapa garis lurus dari suatu

titik ketitik yang lain untuk menentukan titik koordinat.

Soetomo Wongsotjitro (1985 : 99) menyebutkan bahwa pengukuran

poligon terbagi dua jenis yaitu poligon terbuka dan poligon tertutup :

a) Poligon terbuka yaitu poligon yang titik akhirnya dan titik awalnya pada titik

yang berbeda/ tidak menutup.


7

..... (3.1)

Gambar 2.1
Poligon Terbuka

Pada gambar di atas, koordinat titik A dan B diketahui, dengan demikian

kita dapat menghitung sudut jurusan AB. Untuk menentukan koordinat titik 1

diperlukan koordinat titik A, sudut jurusan A-1 dan jarak A-1, begitu pula titik 2

diperlukan koordinat titik 1, sudut jurusan dan jarak 1-2 dan seterusnya.

Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa ab= (lihat rumus di samping)

a1 = ab + Sa

12 = a1 + S1- 180 (n, n+1) = (n-1, n) + Sn 180 ..................... (3.2)

23 = ab + S2 - 180

b) Poligon tertutup yaitu poligon yang titik awalnya dan titik akhirnya pada titik

yang sama atau tertutup. Adapun syarat geometris adalah :

1. Si = (n - 2) 180o ; Jumlah Sudut Luar Si = (n + 2) 180o ........... (3.3)

2. d. Sin = 0

3. d. Cos = 0
8

Gambar 2.2
Poligon Tertutup

2. Metode Fotogrametris

Pengukuran detail topografi selain dapat langsung dikerjakan di lapangan

(seperti metode teristris), dapat pula dilakuan dengan teknik pemotretan udara,

sehingga dalam waktu yang singkat dapat terukur atau terpotret daerah yang

seluas mungkin.

Fotogrametri dapat diberi definisi sebagai ilmu, seni, dan teknologi

memperoleh informasi yang dapat dipercaya dari foto. Fotogrametri meliputi dua

bidang spesialisasi utama: metris dan bersifat menafsir (interpretative). Bidang

pertama menjadi kepentingan utama para juru-ukur, karena diterapkan untuk

menentukan jarak, elevasi, luas, volume dan tampang melintang, serta untuk

pembuatan peta-peta topografik dari pengukuran-pengukuran pada foto.

(Walijatun, D. 1997: 237)

Pada dasarnya metode fotogrametris ini mencakup fotogrametris metrik

dan interpretasi citra. Fotogrametris metrik merupakan ilmu dan teknik

pengukuran citra, sedangkan interpretasi citra merupakan pengenalan serta

identifikasi suatu objek pada foto. Salah satu metode fotogrametris yaitu dengan
9

menggunakan foto udara. Foto udara adalah hasil pemotretan sebagian kecil

permukaan bumi dengan menggunakan kamera yang dipasang di atas pesawat

terbang, dan melintasi daerah pemotretan pada ketinggian tertentu. (Subagio, 2003

: 63 64)

2.2. Pengukuran Titik Detail di Lapangan

Semakin rapat titik detail yang diamati, maka semakin teliti informasi

yang tersajikan dalam peta. Dalam batas ketelitian teknis tertentu, kerapatan titik

detail ditentukan oleh skala peta dan ketelitian (interval) kontur yang diinginkan.

Pengukuran titik-titik detail di lapangan untuk pembuatan peta topografi dapat

dilakukan secara langsung dan tidak langsung.

Pengukuran tidak langsung, titik-titik detail yang tidak harus sama tinggi,

dipilih mengikuti pola tertentu yaitu: pola kotak-kotak (spot level) dan profil

(grid) dan pola radial. Dengan pola-pola tersebut garis kontur dapat dibuat dengan

cara interpolasi dan pengukuran titik-titik detailnya dapat dilakukan dengan cara

tachymetry pada semua medan dan dapat pula menggunakan sipat datar

memanjang ataupun sipat datar profil pada daerah yang relatif datar.

2.3. Kesalahan-Kesalahan Dalam Survey Tambang

Kegiatan survey di tambang tidak juga terlepas dari kesalahan-kesalahan

yang mungkin terjadi, baik kesalahan random, kesalahan sistematis dan kesalahan

human error. Kesalahan ini bisa saja terjadi saat tahap eksplorasi, pengukuran

topografi dan pengukuran untuk pembuatan model cadangan material, atau pada

tahap eksploitasi. Pemasangan patok tambang dan pengukuran topografi progress


10

tambang. Kesalahan dalam kegiatan survey dan pemetaan tidak hanya terjadi pada

proses pengukuran lapangan saja, dapat juga terjadi pada processing data,

penggunaan sistem koordinat dan transformasinya, penyajian data dalam bentuk

peta. Kesalahan survey dalam penambangan berarti akan menyajikan data dan

gambaran/peta yang salah, akibat kesalahan ini akan merambat pada kesalahan

aplikasi penambangan yang antara lain :

Gambar 2.3.
Pengukuran Pola Grid dan Spot Level

1. Kesalahan data-data survey dalam kegiatan eksplorasi untuk penentuan titik

lokasi pengeboran dan study outcrop akan menyebabkan kesalahan dalam

membuat model cadangan material tambang serta kesalahan dalam menentukan

besaran cadangan terkira dan terukur suatu tambang.


11

2. Kesalahan dalam pembuatan model cadangan bahan tambang akan

mengakibatkan kesalahan pada kesalahan peletakan patok dan kesalahan pada

penentuan metode penambangan dan penggunaan alat penambangan.

3. Kesalahan pada pembuatan model akan mengakibatkan kesalahan dalam

perencanaan tambang dan produksi penambangan sehingga cadangan/material

yang tidak ikut dimodelkan akan tertinggal atau tidak didapat diambil

seluruhnya.

4. Kesalahan dalam pengukuran pemasangan rencana tambang oleh survey akan

meyebabkan salahnya penggalian yang berdampak pada :

Volume galian rencana tidak sama dengan aktual sehingga cost dari

penambangan akan bertambah. (diluar SR atau Cut off yang

direncanakan).
Terganggunya Stabilitas/kemantapan lereng karena perubahan geometri

lereng dan terganggunya lapisan batuan yang mendukung kestabilan

lereng.
Pengambilan material tambang yang salah sehingga kualitas material

tambang tidak sesuai dengan perencanaan.


Pemasangan design ramp/jalan yang salah akan mengakibatkan

munculnya potensi resiko kecelakaan.

5. Kesalahan dalam melakukan pengukuran topografi original atau topografi

progress tambang akan mengganggu proses penyaliran tambang (drainase)

tambang sehingga akan menganggu proses produksi dari aspek sequence


12

tambang. Terganggunya proses penyaliran tambang juga akan menganggu

kestabilan lereng.

6. Kesalahan kegiatan survey dalam mendukung kegiatan peledakan/blasting

(pengukuran space, burden dan depth) memungkinkan terjadi hasil

produktifitas blasting yang buruk, terjadinya airblast dan undulasi permukaan

tambang karena kedalaman lubang tembak yang tidak rata.

7. Kegiatan survey pada pemasangan guideline di kegiatan penambangan

underground yang salah, selain mengakibatkan kemungkinan tidak tercapainya

target produksi juga akan menyebabkan kegiatan penambangan mengarah pada

area-area yang mungkin berbahaya- seperti jebakan gas metana dll.

Demikian sekilas aspek-aspek yang mungkin terjadi pada kegiatan

penambangan akibat dari kegiatan survey dan pemetaan yang salah. Walaupun

survey tambang adalah kegiatan survey geodesi rendah dan cukup sederhana,

namun dilakukan dengan kaidah survey dan pemetaan yang benar, terlepas dari

asumsi bahwa kegiatan survey di tambang adalah bersifat support dan service

(Kusdinar Kartasaputra, 2009).

2.4 Perhitungan Join Survey


Perhitungan Volume Join survey setiap bulan dihitung dengan

menggunakan Software Minescape 4.118 Ada 2 metode cara perhitungan Volume

pada Software minescape 4.118, yaitu Metode Exact (Triangulation) dan Metode
13

End Area. Kedua metode tersebut juga sama-sama memiliki fasilitas untuk

menghitung Tin to Tin dan Tin to Hight sebagai puncaknya.

Metode Exact (Triangulation) menggunakan konsep prisma segitiga,

dengan data titik-titik spot height sebagai puncaknya.

Sumber : Anonim, 2010


Gambar 2.4.
Metode Exact

Perhitungan Volumenya menggunakan rumus sebagai berikut :

(H 1+ H 2+ H 3)
V Prisma= x Area ................................................................ (2.4)
3

V Total = V Prisma

Metode End area menggunakan konsep Section (Prisma tak beraturan)


14

Sumber : Anonim, 2010


Gambar 2.5.
Metode End Area

Perhitungan volumenya yaitu dengan menggunakan rumus Average (Mean

Area). Rumus ini digunakan untuk endapan yang mempunyai geometri teratur

dengan luas masing-masing penampang tidak jauh berbeda.

Sumber :Partanto, 2000 (Modifikasi)


Gambar 2.6.
Sketsa Perhitungan dengan Rumus Mean Area
Rumus Average Mean Area :

(S 1+ S 2)
V =L ..................................................................................................
2

(3.5)
15

Keterangan :

S1 & S2 : Luas Penampang

L : Jarak Antar Penampang

V : Volume

2.5 Produktivitas Alat Gali Muat dan Alat Angkut

Pentingnya mengestimasi produksi alat berat karena ada kaitannya dengan

target produksi yang harus dicapai oleh perusahaan. Interaksi antara target

produksi dengan produksi per unit alat berat akan menentukan jumlah alat yang

harus digunakan sesuai dengan kapasitas, jenis material yang akan ditangani dan

tingkat kemudahan pengoperasian serta perawatannya (Suwandhi, 2004).

Cycle time = ET + STL + DT + STE ........................................................ (3.7)

Keterangan :

ET = Excavating time (detik)

STL = Swing time Loaded (detik)

DT = Dumping Time (detik)

STE = Swing time empty (detik)

a. Alat Gali Muat

1. Produksi per siklus

q = q1 x K .................................................................................... (3.8)

dimana :

q = Produksi per siklus (m3)

q1 = Kapasitas Munjung (dari spek. Alat) (m3)

K = Faktor Pengisian bucket


16

2. Produksi per Jam

q 3600 E
Q=
CT ..................................................................................

(3.9)

dimana :

Q = Produktivitas per jam (m3/jam)

q = Produktivitas per siklus (m3)

CT = Waktu edar (detik)

3600 = Konversi jam ke detik

E = Efisiensi kerja (%)

Cycle time = LT + HLT + SDT + DT + RT + SLT ..................... (3.10)

Keterangan :

LT = Waktu pemuatan material (detik)

HLT = Waktu pergi bermuatan (detik)

SDT = Waktu manuver sebelum menumpah (detik)

DT = Waktu menumpah material (detik)

RT = Waktu kembali (detik)

SLT = Waktu manuver sebelum pemuatan (detik)

b. Alat Angkut

1. Produksi per siklus

q = n x q1 x K ................................................................................. (3.11)

dimana :
17

q = Produksi per siklus (m3)

q1 = Kapasitas Munjung (dari spek. Alat) (m3)

n = Jumlah Pengisian bak alat angkut oleh bucket

K = Faktor Pengisian bucket alat gali muat

2. Produksi per jam

q 3600 E
Q=
CT .................................................................................

(3.12)

dimana :

Q = Produktivitas per jam (m3/jam)

q = Produktivitas per siklus (m3)

CT = Waktu edar (detik)

3600 = Konversi jam detik

E = Efisiensi kerja (Nurhakim, 2004 :19-20, 23-24)

Apabila diketahui target produksi per jam, maka jumlah alat yang diperlukan

adalah (Suwandhi, 2004):

Tp
n=
Q ............................................................................................

(3.13)

dimana :

n = Jumlah alat angkut

Tp = Target produksi (BCM/Jam)

Q = Produksi alat angkut (BCM/Jam)


18

2.6 Efisiensi Kerja

Faktor manusia sebagai operator alat sangat sukar ditentukan dengan tepat,

sebab selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu, bahkan dari jam ke jam,

tergantung pada keadaan cuaca, kondisi alat yang dikemudikan, suasana kerja dan

lain-lain. Dalam bekerja seorang operator tak akan dapat bekerja selama 60 menit

secara penuh, sebab selalu ada hambatan-hambatan yang tak dapat dihindari

seperti pengantian komponen yang rusak, memindahkan alat ke tempat lain, dan

sebagainya. Beberapa pengertian untuk menentukan kondisi alat dan efisiensi

pengunaannya (Wedhanto, 2009 : 57-59):

1. Avability Index (AI) adalah suatu cara untuk mengetahui kondisi dari alat

tersebut sesungguhnya.

W
AI = 100 ..................................................................................
W +R

(3.14)

2. Physical Avaibility (PA) adalah catatan tentang kondisi fisik dari alat yang

digunakan

W +S
PA= 100 ....................................................................... (3.15)
W + R+ S

3. Use of Ability (UA) menunjukkan berapa persen waktu yang digunakan oleh

suatu alat untuk beroperasi pada saat alat itu digunakan.

W
UA= 100 ....................................................................... (3.16)
W +S
19

4. Effective Utilization (EU) pengertian EU sebenarnya sama saja dengan

pengertian efisiensi kerja, yaitu menunjukkan berapa persen dari seluruh

waktu kerja yang tersedia itu dapat dimantaatkan untuk bekerja secara

produktif.

W
EU = 100 ....................................................................... (3.17)
W + R+ S

Dimana: W = Jumlah jam kerja (jam)

R = Jumlah jam untuk perbaikan alat (jam)

S = Jumlah jam suatu alat yang tidak rusak tapi tidak

digunakan (jam)
2.7 Perhitungan Truck Count

Perhitungan dengan metode Truck Count didasarkan pada perhitungan

ritase alat angkut. Ritase merupakan satu siklus produksi alat angkut (hauling

equipment) dari pemuatan, pengangkutan, penimbunan, kembali (return), dan

menempatkan diri (Spot). Dalam perhitungan Metode Truck Count bukan hanya

ritase alat angkut saja yang menjadi variabel tetapi swell factor dan kapasitas

Truck/vessel/bak alat angkut juga masuk dalam perhitungan.

Rumus Metode Truck Count :

Truck Count=n x C x SF ................................................................ (3.18)

Keterangan :

n : Jumlah Ritase

C : Kapasitas Bak Truck/Vessel

SF : Swell Factor
20

2.8.Swell Factor

Swell adalah pengembangan volume suatu material setelah digali dari

tempatnya. Di alam, material didapati dalam keadaan padat dan terkonsolidasi

dengan baik, sehingga hanya sedikit bagian-bagian kosong (void) yang terisi

udara di antara butir-butirnya, lebih-lebih kalau butir-butir itu halus sekali.

Apabila material digali dari tempat aslinya, maka akan terjadi

pengembangan volume (swell). Untuk menyatakan berapa besarnya

pengembangan volume itu dikenal dua istilah yaitu : Faktor pengembangan (Swell

factor) dan Persen pengembangan (Percent swell)

Angka-angka faktor pengembangan (swell factor) setiap klasifikasi tanah

atau material berbeda sesuai dengan jenis tanahnya seperti terlihat pada tabel

swell factor berikut ini :

Tabel 2.1.
Representative Swell For Different Classes Of Earth

Swell factor adalah faktor pengembangan volume suatu material setelah

digali dari tempatnya. Di alam, material didapati dalam keadaan padat dan

terkonsolidasi dengan baik, sehingga hanya sedikit bagian-bagian kosong (void)

yang terisi udara di antara butir-butirnya, lebih-lebih kalau butir-butir itu halus
21

sekali. Apabila material digali dari tempat aslinya, maka akan terjadi

pengembangan volume (swell).

Rumus untuk menghitung swell factor (SF) dan % swell ada dua, yaitu :

(Indonesianto, 2008)

- Rumus SF dan % swell berdasarkan volume :

Loose VolumeBank Volume


swell= x 100 ......................................... (3.19)
Bank Volume

Bank Volume
SF=
Loose Volume ......................................................................................

(3.20)

- Rumus SF dan % swell berdasarkan densitas (kerapatan) :

DensityBankLoose Density
Swell= x 100 .................................... (3.21)
Loose Weight

Loose Density
SF=
DensityBank .........................................................................

(3.22)

Pengembangan volume suatu material perlu diketahui, karena yang

diperhitungkan pada penggalian selalu didasarkan pada kondisi material sebelum

digali, yang dinyatakan dalam pay yard atau bank yard atau bank volume

atau in place volume atau volume insitu. Sedangkan material yang ditangani
22

(dimuat untuk diangkut) selalu material yang telah mengembang (loose volume).

(Indonesianto, 2008).

2.9 Faktor Pengisian Bucket (Bucket Fill Factor)

Faktor pengisian bucket merupakan perbandingan antara Volume nyata

mangkok untuk sekali muat oleh alat gali muat dengan volume teoritis mangkok

(Volume munjung). Faktor pengisian bucket bervariasi, tergantung dari keadaan

material.

Produksi dari alat gali-muat dipengaruhi oleh faktor pengisian buket

(bucket fill factor) dimana faktor pengisian mangkuk alat muat (BFF) dapat

dinyatakan sebagai perbandingan volume nyata (Va) dengan volume teoritis (Vt),

seperti yang dinyatakan dalam persamaan:

Vn
BFF = x 100% .............................................................. (3.23)
Vt

Keterangan :

BFF = Faktor pengisian mangkuk (%)

Vn = Volume nyata atau kapasitas nyata mangkuk (m3)

Vt = Volume teoritis mangkuk (m3)

2.10Weight Material

Dalam pemilihan alat berat, tidak dapat diestimasi sebelumnya (tentang

kapasitasnya) apabila belum diketahui weight per unit (unit berat) dari material
23

yang akan ditangani. Unit berat ini ada yang mengistilahkan SG (berat Jenis) atau

Tonnage factor (yaitu berat material setiap m3, misalnya 1 m3/1.5 Ton).

(Indonesianto, 2008)

2.11 Metode Statistik Untuk Menentukan Jumlah Data Yang Dibutuhkan

Dalam menentukan jumlah data yang harus diambil agar hasil yang

diperoleh lebih teliti, maka digunakan metode statistik distribusi student dengan

tingkat konfidensi 90%. Penentuan jumlah data pengamatan tersebut dapat

ditentukan berdasarkan rumus-rumus sebagai berikut (Peurifoy, 1979):

a. Jumlah data minimal yang harus diambil :


4 t2 R 2
N= 2 2 ............................................................................................
I d

(3.24)
b. Interval ketelitian dari jumlah data pengamatan :

I M =2 x , 90 x
M ............................................................................

(3.25)

c. Standar deviasi :
R
=
d ................................................................................................

(3.26)

Keterangan :

N : jumlah data minimal yang harus diambil.

T : suatu harga untuk distribusi student pada C = 90 % (tabel).

R : selisih antara nilai terbesar dan terkecil dari data yang diambil.
24

I : interval konfidensi untuk tingkat kebenaran 90 %.

d : suatu faktor yang nilainya tergantung dari jumlah data pengamatan yang

diambil (tabel).

IM : interval konfidensi dari jumlah data yang diambil.

: standart deviasi.

M : jumlah data pengamatan yang diambil.

Dengan menggunakan rumus-rumus di atas, maka dapat ditentukan cukup

atau tidaknya jumlah data pengamatan dengan ketentuan : N < M, sehingga

jumlah data pengamatan yang diambil telah mencukupi. (Peurifoy, 1979)

Tabel 2.2.
Harga t untuk Distribusi Student Dengan C = 0,90
25

Tabel 2.3.
Nilai Faktor d

BAB III
26

METODE PENELITIAN

3.1. Kondisi Umum Perusahaan

3.1.1. Sejarah dan Perizinan Perusahaan

PT. Rimau Energy Mining, salah satu anak perusahaan PT. Rimau

Indonesia, yang khusus bergerak di bidang pertambangan. Perusahaan ini

mendapatkan izin usaha pertambangan berdasarkan Keputusan Bupati

Barito Timur Nomor 287 Tahun 2009 tanggal 18 Mei 2009, tentang

Persetujuan Peningkatan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi Bahan

Galian Batubara.

Berdasarkan surat dari Direktur PT. Rimau Energy Mining Nomor :

30/DIR/REM BPT/XII/2009 tanggal 11 Mei 2009 perihal Permohonan

IUP Operasi Produksi dan hasil evaluasi kegiatan Kuasa Pertambangan

(IUP) Eksplorasi PT. Rimau Energy Mining yang diberikan berdasarkan

keputusan Bupati Barito Timur Nomor 287 tahun 2009 tentang izin usaha

pertambangan. Eksplorasi Bahan galian batubara (peningkatan KP

penyelidikan umum) atas nama PT. Rimau Energy Mining telah memenuhi

syarat untuk diberikan persetujuan peningkatan Izin Usaha Pertambangan

Eksplorasi menjadi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi

sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009.

PT. Rimau Energy Mining berkantor Pusat di jalan A.M. Sangaji

No. 11 L-M, Gambir, Jakarta. Dalam operasinya, perusahaan juga

memiliki kantor di Jalan Jend. A. Yani No. 24B, Desa Matabu, Kecamatan

Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah.


27

3.1.2. Kegiatan Penambangan

Sistem penambangan yang akan digunakan adalah sistem tambang

terbuka dengan metode open cut. Kegiatan penambangan yang akan

dilakukan secara bertahap sebagai berikut :

1. Pembersihan lahan

Kegiatan ini meliputi pembersihan permukaan lahan dari vegetasi

penutup berupa semak, tanaman atau tumbuhan dan lapisan penutup

tanah lainnya.

2. Pengupasan tanah pucuk (topsoil)

Tanah pucuk adalah lapisan tanah paling atas yang merupakan

media tempat tumbuhnya tanaman. Topsoil dikupas dan diangkut ke

tempat penimbunan sementara, dan akan disebarkan kembali ketika

kegiatan reklamasi sebagai media pertumbuhan vegetasi.

3. Penggalian tanah penutup (overburden)

Overburden digali dan diangkut ke outpit disposal (disposal di luar

pit). Setelah outpit disposal penuh, maka pembuangan tanah penutup

untuk selanjutnya dilakukan dengan metode backfilling, yaitutanah

penutup yang digali akan dibuang ke bekas pit yang telah dilakukan

penambangan.

4. Penggalian dan pengangkutan batubara


28

Penggalian batubara akan dilakukan dengan metode gali bebas

menggunakan backhoe. Batubara akan diangkut dengan truk ke ROM

stock.

5. Pengolahan dan penjualan batubara

Batubara dari ROM stock kemudian diangkut menggunakan truk

menuju ke pelabuhan. Pengolahan batubara berupa proses crushing

dilakukan pada unit pengolahan batubara yang berada di pelabuhan.

Kegiatan penjualan akan dilakukan di pelabuhan tersebut.

3.1.3. Struktur Organisasi

Gambar 3.1.
Struktur Organisasi PT. Rimau Energy Mining
(sumber : PT. Rimau Energy Mining)

.2. Lokasi dan Kesampaian Daerah


29

.2.1. Lokasi

Lokasi Wilayah Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi PT. Rimau

Energy Mining secara administratif berada di daerah Kecamatan Karusen

Janang, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Peta IUP

Operasi Produksi PT. Rimau Energy Mining dapat dilihat pada Gambar

3.1. sedangkan koordinat batas wilayah IUP Eksplorasi ditampilkan pada

Tabel 3.1.

Sumber: PT. Rimau Energy Mining

Gambar 3.2.
Batas IUP PT. Rimau Energy Mining

Tabel 3.1
Koordinat Batas WIUP PT. Rimau Energy Mining
30

Nomor Bujur Timur Lintang Selatan


Derajat Menit Detik Derajat Menit Detik

1 115 09 29.99 01 55 59.98

2 115 11 00.00 01 55 59.98

3 115 11 00.00 01 57 34.00

4 115 08 30.00 01 57 34.00

5 115 08 30.00 01 57 00.01

6 115 09 29.99 01 56 59.98

Sumber: PT. Rimau Energy Mining

.2.2. Kesampaian Daerah

Untuk mencapai lokasi wilayah Izin Usaha Pertambangan Operasi

Produksi, dari Jakarta dapat dijangkau dengan rute : Jakarta Banjarmasin

Tamiang Layang Jeweten / Lokasi Wilayah Izin Usaha Pertambangan

dengan perincian sebagai berikut :

1. Jakarta Banjarmasin, Rute ini dapat dijangkau dengan

menggunakan pesawat terbang dengan waktu tempuh 1,5 jam.

2. Banjarmasin Tamiang Layang, Rute ini dapat dijangkau dengan

menggunakan kendaraan roda empat melalui jalan negara yang

beraspal baik dengan waktu tempuh 5 jam.

3. Tamiang Layang Jeweten / Lokasi Izin Usaha Pertambangan, rute

ini dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan roda empat

melalui jalan beraspal baik dan jalan tanah dengan kondisi kurang

terawat, dibutuhkan waktu tempuh 0,75 jam.


31

Gambar 3.3.
Peta Kesampaian Derah PT. Rimau Energy Mining
(Sumber : PT. Rimau Energy Mining)

34
32

.3. 3.2 Iklim dan Cuaca

Wilayah Kabupaten Barito Timur di bagian Utara dan bagian

Timur berada di wilayah daratan dengan ketinggian antara 0 150 meter

di atas permukaan laut (dpl) dengan tingkat kemiringan antara 0 8 %

sedang di bagian Barat dan Selatan terdiri atas daerah rawa.

Iklim di daerah Kabupaten Barito Timur umumnya beriklim tropis

basah, suhu udara pada siang hari relatif panas bisa mencapai 34C. Curah

hujan di sekitar daerah telitian ditampilkan pada Tabel 2.2

Tabel 3.2
Data Curah Hujan di sekitar Daerah Kabupaten Barito Timur

Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika,Kab,Bartim 2012


33

3.4. Keadaan Geologi


.4.1. Geologi Regional
.4.1.1. Morfologi
Keadaan Morfologi yang dominan pada daerah penelitian adalah

dataran dan perbukitan bergelombang lemah hingga kuat. Morfologi

daerah ini mempunyai ketinggian berkisar 40 - 350 meter di atas

permukaan air laut. Morfologi tersebut merupakan akibat dari berbagai

aktifitas geologi yang menghasilkan perlipatan, sesar, kekar dan lain-

lain. Aliran sungai di daerah penyelidikan umumnya memperlihatkan

pola aliran yang tidak teratur (dendritik) dan terdapat beberapa meander,

dimana air sungai berasal dari pegunungan dan bermuara di Sungai

Barito.

.4.1.2. Stratigrafi

Berdasarkan Peta Geologi Regional Lembar Amuntai (R. Haryanto

dan P. Sanyoto,1994) untuk daerah Kabupaten Barito Timur dan

sekitarnya (Gambar 3.4), formasi batuan yang berkembang adalah :

1. Aluvial (Qa) : Lempung kaolinit dan lanau bersisipan pasir,

gambut, kerakal dan bongkahan lepas, merupakan endapan sungai

dan rawa.

2. Formasi Dahor (TQd) : Batupasir kuarsa lepas berbutir sedang

terpilah buruk, konglomerat lepas dengan komponen kuarsa

berdiameter 1-3 cm, batulempung lunak, setempat dijumpai lignit


34

dan limonit ; terendapkan dalam lingkungan fluivial dengan tebal

sekitar 250 meter dan berumur Plio-Plistosen.

3. Formasi Warukin (Tmw) : Batupasir Kuarsa dan Batulempung

dengan sisipan Batubara, terendapkan dalam lingkungan fluviatil

dengan ketebalan sekitar 400 meter dan berumur Miosen Tengah

sampai dengan Miosen Akhir.

4. Formasi Berai (Tomb) : Batugamping mengandung fosil

foraminifera besar seperti Spiroclypeus orbitodeus, Spiroclypeus

sp. dll. yang menunjukkan umur Oligosen-miosen awal dan

bersisipan Napal, terendapkan dalam lingkungan neritik dan

mempunyai ketebalan sekitar 1000 meter.

.4.1.3. Struktur Geologi

Struktur geologi yang terdapat pada daerah ini terdiri atas

kelurusan, lipatan dan sesar yang berarah timurlaut-baratdaya. Jenis

sesar belum dapat ditentukan, namun diduga berupa sesar geser, dan

sesar normal. Kegiatan tektonik yang baru diketahui dengan jelas adalah

pada pasca miosen. Namun diduga kegiatan tersebut telah berlangsung

sebelum tersier.
35

Gambar 3.4.
Korelasi Satuan Batuan
(Sumber : PT. Rimau Energy Mining)

26
36

38

26
37

.5.1. Geologi Lokal

.5.1.1. Morfologi

Morfologi yang dominan di daerah penelitian ialah dataran rendah dan

perbukitan bergelombang lemah dengan ketinggian 30 hingga 50 m.dpal.

Pola aliran sungai bersifat dendritik yang bermuara pada Sungai Barito

dengan kecenderungan aliran sungai relatif mengarah ke tenggara.

3.5.1.2. Litologi

Litologi yang terdapat pada daerah penelitian ialah Formasi Warukin

(Tmw) yang terdiri atas Sand, Claystone dengan ketebalan antara 1 m

hingga 8 m, dan batulempung (claystone) dengan ketebalan 1 m hingga 17

m dengan sisipan batubara. Ketebalan batubara pada seam utama, seam A

mencapai 1 meter. Litologi batuan pada derah penelitian dapat dilihat pada

Gambar 3.4.

Gambar 3.5.
Contoh Log Bor PT. Rimau Energy Mining
(Sumber : PT. Rimau Energy Mining)
38

.5.1.3. Struktur Geologi Lokal

Secara umum, tidak terdapat struktur geologi yang menonjol di

daerah penelitian. Perlapisan relatif datar dengan dip 7-10. Kondisi

geologi yang sederhana pada daerah penelitian menyebabkan

permodelan atau perancangan tambang mudah untuk dilakukan.

3.5. Alat dan Bahan


3.5.1 Alat dan Bahan Pengambilan Data Lapangan

Alat dan bahan yang digunakan dalam pelaksanaan pengambilan

data penelitian tugas akhir ini adalah :

1. Buku tulis

2. Alat tulis

3.5.2. Alat dan Bahan Pengolahan Data

Alat dan bahan yang digunakan dalam pengolahan data penelitian

tugas akhir ini adalah :

1. Batuan hasil peremukan

2. Buku tulis

3. Alat tulis

4. Laptop
39

3.6. Tata Laksana Penelitian


3.6.1. Langkah Kerja

Langkah-langkah kerja dalam penyusunan tugas akhir ini meliputi :

a. Tahap Persiapan

Pada tahap ini dilakukan penyusunan usulan tugas akhir,

mempelajari buku-buku literature dan buku petunjuk maupun buku

panduan yang tersedia.

b. Tahap Pengumpulan Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini mencakup data primer

dan data sekunder.

Data primer meliputi pengamatan langsung di lapangan, dan Data

sekunder diperoleh dari perusahaan ataupun literatur yang

berhubungan dengan permasalahan yang dibahas.

c. Tahap Pengolahan Data

Setelah data-data diperoleh berdasarkan pada pengamatan dan

observasi di lapangan, maka dapat dibandingkan dengan literatur

literatur yang ada.

d. Tahap Penyusunan Laporan

Dari hasil penelitian lapangan dan dengan analisis data primer dan

data sekunder serta kajian pustaka yang kemudian dipakai untuk

menyusun dan mengevaluasi penerapan keselamatan dan kesehatan

kerja
40

3.6.2. Proses

a. Teknik Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data-data yang diperlukan dalam penelitian

ini meliputi:

1. Studi kepustakaan, yaitu pengumpulan data-data dari buku, jurnal,

laporan penelitian.

2. Observasi lapangan, yaitu pengamatan dan pengambilan data yang

akan di ambil.

3. Wawancara dengan pembimbing lapangan, karyawan perusahaan,

dan masyarakat sekitar yang berkenaan dengan topik penelitian.

b. Langkah Kerja Penelitian

Langkah kerja dalam pelaksanaan penelitian tugas akhir ini meliputi :

1. Melakukan pengamatan terhadap metode pengelolaan lingkungan

yang diterapkan PT Senamas Energindo Mineral

2. Mengamati permasalahan yang dihadapi dalam proses pengelolaan

lingkungan.
3. Melakukan evaluasi dan pengolahan data berdasarkan literatur yang

ada untuk mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi kerusakan

lingkungan, dan cara untunk menanggulanginya

Selanjutnya data yang diperoleh dari hasil kegiatan ini serta data

yang diperoleh dari hasil pengamatan dan bahan-bahan yang dikumpulkan,

kemudian dikelompokan sesuai dengan analisa tersebut untuk selanjutnya

disusun untuk dibuat laporan.


41

3.6.3 Waktu Penelitian

Tabel 3.6. Jadwal Kegiatan

Maret April
I II III IV I II III IV
Jenis Kegiatan
Studi Literatur
Observasi Lapangan
Pengambilan Data
Pengolahan Data
Penyusunan Laporan

DAFTAR PUSTAKA
42

Anonim, 2002, Specifications & Application Handbook Edition 23,


Komatsu, Japan..

Arif, I. 2002.Buku Ajar TA 424-Perencanaan Tambang. ITB. Bandung.


Halaman I-1 I-7.

Hartman, H.L. 1987. Introductory Mining Engineering. New York : John


Willey and Sons. Page 10 11.

Haris, W, Agus. 2005. Modul Responsi TE-3231, Metode Perhitungan


Cadangan. ITB. Bandung. Halaman 13.

Indonesianto,Y., 2008, Pemindahan Tanah Mekanis, Jurusan Teknik


Pertambangan UPN Veteran, Yogyakarta.

Kochher, C.L., 1981, Surveying-I, Eighth Edition, Katson Publising House,


Clock Tower, Ludhiana.

Peurifoy, RL, 1979, Construction Planning, Equipment, and Method, Third


Edition, Mc Graw Hill International Book Company, London, Sydney, Tokyo.

Prodjosoemarto, P., 2000., Ensiklopedia Pertambangan Edisi 3, Pusat


Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral.

Purwaamijaya, I. M., 2008., Teknik Survey dan Pemetaan Jilid 3,


Departement Pendidikan Nasional, Jakarta, Hal. 67