Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Selasa, 1 Maret 2016

MikroAnatomi( Histologi ) Waktu : 07.00-11.00 WIB


PJP : Drh. Adi Winarto, Ph.D

MIKRO ANATOMI ( HISTOLOGI )

Kelompok 4, P-1
Dwiky Ramadhan J3P115009
Siti Sarah S J3P115010
Tata Martha J3P115037
Citra Yudeska J3P115060
Yuri Hariyandi J3P115072
Liskayasti Nur Uscelawati J3P215078

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER


DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
Pendahuluan

1.1 Latar belakang


Histologi adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur jaringan secara detail
menggunakan mikroskop pada sediaan jaringan yang dipotong tipis, salah satu dari cabang-
cabang biologi. Histologi dapat juga disebut sebagai ilmu anatomi mikroskopis.

Histologi amat berguna dalam mempelajari fungsi fisiologi sel-sel dalam tubuh, baik
manusia, hewan, serta tumbuhan, dan dalam bentuk histopatologi ia berguna dalam penegakan
diagnosis penyakit yang melibatkan perubahan fungsi fisiologi dan deformasi organ. Sebagai
contoh, di bidang kedokteran, kehadiran tumor memerlukan hasil pemeriksaan contoh (sampel)
jaringan.

Histologi ini mempelajari struktur mikroskopik dari bahan biologis secara struktural dan
fungsional berhubungan dengan kedua komponen individu. Hal ini penting bagi kedokteran dan
biologi karena berhubungan antara biokimia, biologi molekuler dan fisiologi di satu sisi proses
dan penyakit.

Histoteknik adalah metoda atau cara/proses untuk membuat sajian histologi dari spesimen
tertentu melalui suatu rangkaian proses hingga menjadi sajian yang siap untuk diamati atau
dianalisa dibawah mikroskop. sajian histologi yang dibuat harus dapat memberikan gambaran
tentang bentuk dan besar serta susunan sel; inti sel dan sitoplasma; badan inklusi (glikogen,
tetesan lemak, pigmen dan sebagainya); susunan serat jaringan ikat; otot dan lain sebagainya
sesuai dengan gambaran jaringan tubuh tersebut dalam kondisi hidup. Sajian yang baik juga akan
memberikan hasil yang benar-benar valid/akurat yang sangat dibutuhkan oleh para peneliti untuk
menjawab permasalahan yang timbul. Organ-organ yang halus sifatnya seperti hati, jantung,
paru, dan lainnya.

Beberapa hewan yang sering dipakai adalah bangsa primata karena paling menyerupai
jaringan tubuh manusia. Kambing, terutama untuk melihat serat Purkinje di jantung. Babi untuk
melihat lobulus klasik hepar dan arteri Hulsen pada limpa. Serta hewan lainnya seperti kucing,
anjing, tikus putih (mice), mencit, kelinci, dan ayam.
Jaringan dapat diambil dari hewan yang difiksasi dalam keadaan hidup (fiksasi supra/
intravital) atau hewan yang telah mati (fiksasi emersi/rendam). Setelah jaringan atau organ
tubuh yang akan dibuat sajian histologi diisolasi dari sumbernya, jaringan tubuh tersebut
kemudian diproses hingga menjadi sajian histologi.

Rangkaian proses pembuatan sajian histologi terdiri atas ; Fiksasi (Fixation) Fiksasi
adalah suatu usaha mempertahankan elemen-elemen sel atau jaringan agar tetap pada kondisi
awal dan tidak mengalami perubahan bentukn maupun ukuran; trimming (ditipiskan);
Dehidrasi (Dehydration); Pembeningan (Clearing); Pembenaman (Impregnasi/Embedding);
Pengecoran (Blocking); Pemotongan jaringan (Sectioning) ; Pewarnaan (Staining); Perekatan
(Mounting); dan Pelabelan (Labelling).

1.2 Tujuan
Mengetahui hingga melakukan teknik histologi dalam persiapan sampel yang akan
digunakan dalam metode hiatoteknik dengan mengambil organ hewan yang akan diamati.

Metode

Alat dan bahan :

- Koran
- Silet
- Katter
- Sarung tangan
- Masker
- Kantong plastik
- Wadah sampel
- Talenan
- Pinset
- Pisau bedah (scapel dan blade)
- Gunting minor set
- Spuit / syringe

Bahan uji : bahan yang digunakan untuk dibedah saat membuat sampel adalah satu ekor ayam
yang akan dibedah dan diambil organ dalamnya, yaitu hati, ginjal, limfa, paru-paru, dan
proventriculus.
Bahan kimia : obat bius/ anastesi seperti chloralhydrate, ketalar, phenobarbital, dan sebagainya
dan formalin 10 % .

Waktu dan tempat :

Pratikum ini dilakukan di fakultas kedokteran hewan IPB, ruangan pratikum anatomi
pada Selasa, 23 Februari 2016 jam 07 : 00 11: 00

Prosedur kerja :

Sebelum melakukan pratikum dan pembedahan terlebih dahulu persiapkan hawan coba
yang akan dipakai, Hewan yang dipilih haruslah sehat, mempunyai status gizi yang baik dan
dipelihara sesuai dengan syarat-syarat pemeliharaan hewan coba. Hewan yang digunakan dipilih
sesuai dengan tujuan penelitian dan pengajaran. Langkah pertama yang dilakukan saat pratikum
ialah pembiusan pada ayam di bagian otot perut di bawah sayap ayam, dengan menyuntikkan zat
anestesi seperti chloralhydrate, ketalar, phenobarbital, dan sebagainya. Biarkan ayam lemas dan
mata ayam tertutup.

Setelah itu barulah memulai proses pengambilan darah di pembuluhdarah pada bagian
sayap ayam. Langkah kerjanya ialah terlebih dahulu memposisikan tubuh ayam terlentang lalu
bentangkan sayap ayam bagian dalamnya lalu lakukan pembendungan pada pembuluhdarahnya
tepatnya pada vena braciallis. Setelah terlihat pembuluh darahnya membengkak , masukan jarum
spuit perlahan dengan posisi 45 setelah darah masuk ke spuit miring atau tidurkan spuit
sehingga darah masuk dengan sendirinya ke dalam spuit. Lalu perlahan-lahan tarik spuit dan
lepaskan dari pembuluh darah ayam.

Prosedur selanjutnya yaitu pengangkatan organ dalam dari bagian tubuh ayam. Dimulai
dari pemotongan leher ayam agar ayam mati. Setelah mati ayam di bedah dimualai dari
penyayatan pada celah paha ayam dengan menggunakan scapel beserta blade nya dengan
menyayat celah paha tersebut dan membuka bagian abdomen perut dan mengangkat organ-
organnya. Organ yang di ambil yaitu paru, hati, jantung, ginjal, dan proventikulus. Jika semua
organ telah didapat, semua masukan organ tersebut kedalam wadahnya yang berisi formalin
10%. Tahap akhir dari praktikum ini yaitu pemberian label pada wadah tersebut.
Hasil dan Pembahasan

Pembiusan Ayam Keterangan : Pembiusan ayam dengan


Metode Injeksi

Pemotongan Sampel

Keterangan : Pemotongan dengan


metode Perfusi

Pemisahan Organ dalam Keterangan : Pemisahan organ dalam

a. Sampel Hati Keterangan : Sediaan Hati ayam


b. Sampel Paru-Paru Keterangan : Sediaan Paru-paru ayam

c. Sampel limfa Keterangan : Sediaan Organ Limfa

d. Sampel bulbourethralis Keterangan : Sediaan organ kelenjar


pertahanan

Penyimpanan organ ke dalam larutan Keterangan : Larutan Fiksatif


fiksasi Formalin 10%
Dalam praktikum ini pertama-tama lakukan pembiusan pada ayam dengan metode
injeksi, kemudian dilanjutkan dengan pemotongan. Pemetongan sampel ayam yang telah di
matikan dengan pembelahan atau pemotongan pada bagian abdomen perut ayam . Pembelahan
organ dalam ayam dengan mengunakan metode perfusi. Metode ini digunakan untuk membelah
bagian abdomen. Pada bagian paha penyayatan dilakukan pada bagian celah paha dengan tujuan
untuk mempermudah membuka bagian perut ayam. Pemisahan organ dalam dilakukan dengan
tujuan untuk memisahkan bagian organ yang akan dijadikan bahan sampel. Penyayatan selaput
yang melekati antara organ dan tulang bertujuan organ bisa dipisahkan dengan tulang sebagai
tempat bertautnya organ. Dengan hasil penyayatan pada bagian perut maka bagian perut akan
terbuka sesuai dengan susunan organ aslinya.

Praktikum histologi pengambilan sampel dilakukan dengan tahapan dan metode


yang benar. Proses awal yang dilakukan dengan melakukan pembiusan pada hewan dan
mematikan hewan itu sendiri. Metode perfusi yang dilakukan dalam praktikum ini sangat
membantu dalam hal menyayat serta memisahkan organ bagian dalam abdomen. Perfusi
dilakukan dengan diawali menyayat bagian abdomen ayam serta mengkuakan bagian cela
persendian ayam.

Ketelitian dalam menyayatan merupakan hal penting untuk memastikan organ


didalam perut abdomen ayam tidak rusak atau cacat. Hal ini bisa terjadi karena kesalahan dalam
menggunakan alat seperti gunting dan blade. Pemisahan organ dilakukan untuk memudahkan
pengambilan organ yang diperlukan untuk sediaan organ. Pemisahan organ terhadap perlekatan
tulang pada praktikum dilakukan dengan bantuan gunting dan kater untuk mempermudah
mengakat organ tanpa merusaknya.

Tiap organ yang diperlukan ditempatkan dalam larutan fiksatif formalin untuk
pengawetan dalam larutan tersebut berisi sampel organ hati, limfa, paru-paru, ginjal, dan kelenjar
pertahanan.

Kesimpulan

Pada praktikum ini, histoteknik berfungsi untuk dapat mengetahui struktur sel baik yang
normal maupun yang patologis. Pemeriksa harus mempunyai ketelitian yang tinggi dalam
menentukan jaringan dan dalam pemotongan jaringan. Proses pembuatan jaringan dengan teknik
histoteknik membutuhkan waktu yang lama sehingga butuh kesabaran bagi pemeriksa dalam
pembuatan jaringan.

Daftar Pustaka
Gunarso W. 1986. Pengaruh Dua Jenis Cairan Fiksatif yang Berbeda pada Pembuatan
Preparat dari Jaringan Hewan Dalam Metoda Mikroteknik Parafin. Bogor. IPB Press

Leeson,C. Roland.1996. Buku Ajar Histologi. Buku Kedokteran EGC ed 5. Jakarta. xi-
622 hlm

Pearce C, Evelyn. 1999. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta. xi-
344 hlm