Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Jumat/ 19 Februari 2016

Biokimia Waktu: 13.00- 17.00 WIB


PJP : Ukhradiya M. Safira P, Msi
Asisten :

KARBOHIDRAT

Kelompok 4, P-1
Dwiky Ramadhan J3P115009
Ratu Nurendah J3P115015
Fira Halmatusyamsiah J3P115020
Andri J3P115025
Anggita Dwi Chandra J3P115027
Febby Rhoma Safitry J3P115029

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER


DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
Pendahuluan
Karbohidrat merupakan salah satu sumber gizi bagi makhluk hidup yang terdiri dari
polihidroksi akdehid ataupun keton. Karbohidrat tersusun dari dari unsur C (karbon), H
(hidrogen) dan O (oksigen). Secara umum karbohidrat di klasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu
monosakarida, oligosakarida dan polisakarida. Monosakarida merupakan gugus karbohidrat
yang tidak dapat dihidrolisis lagi, monosakarida dapat dibedakann berdasarkan jumlah ataom
C pada molekul dan gugus aldehid atau keton yang dikandung berupa aldosa ataupun ketosa.
Monosakarida ini memiliki satu atom karbon asimetrik. Contoh dari monosakarida adalah
glukosa, fruktosa dan galaktosa

Oligosakarida merupakan karbohidrat yang tersusun dari 2 sampai 10 molekul


monosakarida yang digabungkan dengan ikatan kovalen, biasanya di kenal dengan nama
disakarida. Gula yang termasuk kedalam disakarida antara lain : sukrosa, maltosa dan laktosa.
Sedangkan polisakarida merupakan karbohidrat yang mengandung lebih dari sepuluh, ratusan
hingga ribuan monosakarida yang dihubungkan dengan ikatan 1,4-a-glikosida (a=). Bahan
yang termasuk kedalam polisakarida antara lain : amilum, selulosa dan glikogen / gula otot.

Monosakarida dan polisakarida merupakan jenis karbohidrat yang memiliki massa


relatif yang kecil, sehingga biasanya disebut dengan gula. Terdapat 2 jenis monosakarida
yaitu aldosa dan ketosa, aldosa merupakan jenis monosakarida yang mengandung gugus
aldehid,sedangkan ketosa merupakan monosakarida yang memiliki gugus keton. Selain
dibedakan menjadi aldosa dan ketosa, monosakarida juga dapat dibedakan berdasarkan
jumlah atom C yang terdapat didalamnya. Seperti triosa (3 atom), tetrosa (4 ataom), pentosa
(5 atom), hexosa (6 atom) dan seterusnya.

Biomolekul karbohidrat merupakan golongan penting dalam susunan bahan organik.


Karbohidrat dapat ditemukan pada semua sel terutama sel tumbuhan yaitu selulosa. Selulosa
ini merupakan komponen penyusun dinding sel pada tumbuhan sehingga dinding sel
tumbuhan bersifat kuat dan kaku. Selulosa ini tidak dapat dicerna oleh tubuh manusia, hanya
ruminansia dan herbivora lainnya yang dapat memecah ikatan beta pada selulosa dan dapat
menjadikan selulosa sebagai sumber karbohidrat. Selulosa juga merupakan struktur kerangka
tulang punggung polimer asam nukleat.

Di dunia hayati, dapat dikenal berbagai jenis karbohidrat mulai dari monosakarida,
disakarida maupun polisakarida yang memiliki fungsi sebagai pembangun struktur maupun
sebagai yang berperan fungsional dalam metabolisme tubuh. Berbagai jenis pengujian
terhadap karbohidrat telah dikembangkan untuk pengujian kualitatif maupun kuantitatif
terhadap keberadaan karbohidrat, membedakan jenis jenis karbohidrat dalam suatu sampel
hingga mampu membedakan jenis jenis karbohidrat yang terkandung di dalam sampel
secara spesifik. Uji uji tersebut antara lain berupa uji molisch, benedict, barfoed,
fermentasi, selliwanoff,tauber dan uji iod. Uji uji tersebut dapat dilakukan untuk
membuktikan keberadaan dan jenis jenis karbohidrat yang terkandung di dalam sampel
yang akan di uji.

Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk menunjukkan dan mengamati berbagai sifat dan stuktur
karbohidrat melalui uji-uji kuantitatif dengan beberapa reagen uji.

Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunkan ialah bunsen, gelas piala, tabung reaksi, sudip, pipet mohr,
bulf, tabung fermentasi, penangas air, mortar, pipet tetes, dan stopwoch.
Bahan-bahan yang digunakan ialah aquades, NaOH 10%, ragi, fosfomolibdat,
pereaksi barfoed, pereaksi benedict, H2SO4(P), tepung, agar-agar, pereaksi molisch,pereaksi
tauber, pereaksi selliwanof, pati 1%, maltosa 1%, laktosa 1%, sukrosa 1%, fruktosa 1%, dan
glukosa 1%.

Metode Kerja
Uji molisch, sebanyak 5 mL larutan yang di uji (glukosa, fruktosa, sukrosa, laktosa,
maltosa dan pati) dimasukkan kedalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 2 tetes pereaksi
molisch, dicampur rata, kemudian ditambahkkan 3 mL asam sulfat pekat secara perlahan-
lahan melalui dinding tabung, dituunjukkan reaksi positif pada warna violet (ungu) kemerah-
merahan pada batas kedua cairan , sedangkan ditunjukkan reaksi negatif terhadap warna
hijau.
Penentuan adanya gula pereduksi dalam sample digunakan uji benedict dengan
dimasukkannya 5 mL pereaksi benedict ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 8
tetes larutan bahan yang diuji dicampur rata dan dididihkan selama 5 menit, lalu dibiarkan
sampai dinggin kemudian diamati perubahan warnanya, jika terbentuk warna hijau kebiruan,
hijau, kuning atau endapan merah bata berarti positif, sedangkan ditunjukkan reaksi negatif
terhadap warna biru.
Uji barfoed, sebanyak 1 mL pereaksi dan 1 mL bahan percobaan dimasukkan ke
dalam tabung reaksi kemudian dipanaskan ke dalam air mendidih selama 3 menit dan
didinginkan, setelah itu dimasukkan 1 mL fosfomolibdat, lalu larutan dikocok dan diamati
warna yang terjadi, jika terbentuk warna biru setelah penambahan fosfomolibdat, maka reaksi
positif.
Uji fermentasi, 10 mL larutan uji dan ditambahkan 1g ragi roti yang sudah digerus
(dihaluskan) sampai terbentuk suspensi yang homogen, kemudian suspensi dimasukkan
kedalam tabung fermentasi sampai bagian kaki tertutup dan terisi penuh oleh cairan.
Selanjutnya dilakukan pemaparan pada suhu 36 0C, kemudian setiap selang waktu 15 menit
ukur ruang gas pada aki tabung fermentasi, dilakukan sebanyak 3 kali pengamatan.
Uji selliwanoff, sebanyak 5 ml pereaksi selliwanof dan beberapa tetes percobaan
dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian dididihkan selama 30 detik atau dipanaskan di
dalam air mendidih selama 60 detik, setelah itu perubahan warna yang terjadi diperhatikan
dengan seksama.
Uji tauber, sebanyak satu tetes larutan bahan percobaan dan 2 ml pereaksi tauber
dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu campuran tersebut dipanaskan sampai mendidih,
selanjutnya campuran didinginkan di dalam air dingin(direndam), setelah itu ditambahkan air
untuk memperjelas warna yang terjadi.
Uji iod , sedikit tepung bahan percobaan dimasukkan ke dalam papan uji, lalu
ditambahkan satu tetes larutan iod encer, kemudian dicampurkan denganrata, setelah itu
diperhatikan perubahan warna yang terjadi. Uji iod dapat dilakukan terhadap tepung pati,
tepung glikogen, tepung gum arab, tepung agar-agar, dan tepung inulin.

Data dan Hasil Pengamatan


Tabel 1 Hasil Uji Molisch
Bahan Uji Hasil Pengamatan (+/-) Perubahan Warna Larutan

Glukosa + Terdapat cincin merah


violet pada larutan
Fruktosa + Terdapat cincin merah
violet pada larutan
Sukrosa + Terdapat cincin merah
violet pada larutan
Laktosa + Terdapat cincin merah
violet pada larutan
Maltosa + Terdapat cincin merah
violet pada larutan
Pati + Terdapat cincin merah
violet pada larutan

Keterangan : + Menyatakan bahan mengandung karbohidrat


- Menyatakan bahan tidak mengandung karbohidrat

Gambar 1 Hasil Uji Molisch


Pembahasan
Uji molisch merupakan uji umum untuk semua jenis karbohidrat. Prinsipnya pereaksi
Molisch terdiri dari 5% -naftol dalam alkohol 95%. Uji molisch ini memanfaatkan reaksi
dehidratasi atau pelepasan molekul air pada karbohidrat. Pereaksi Molisch akan membentuk
furfural atau turunan-turunan dari karbohidrat yang didehidrasi (eliminasi- molekul air) oleh
asam sulfat pekat. Produk dehidrasi karbohidrat akan membentuk kompleks cincin violet
pada penambahan pereaksi Molisch. Hal ini terjadi karena reaksi kondensasi antara furfural
dan -naftol. Dalam percobaan semua larutan yang diuji yaitu glukosa, fruktosa, sukrosa,
laktosa, maltosa, dan pati memberikan hasil pembentukkan cincin violet. Hal ini
membuktikan bahwa semua bahan yang diuji tersebut merupakan karbohidrat.

Tabel 2 Hasil Uji Benedict


Bahan Uji Hasil Pengamatan (+/-) Perubahan Warna Larutan
Glukosa + Biru tua
Fruktosa + Hijau kebiruan
Sukrosa - Biru
Laktosa + Biru tua
Maltosa + Biru tua
Pati - Biru

Keterangan : + Menyatakan bahan mengandung gula pereduksi


- Menyatakan bahan tidak mengandung gula pereduksi

Gambar 2 Hasil Uji Benedict


Pembahasan

Pada dasarnya prinsip dari uji Benedict adalah berdasarkan adanya gugus karbonil
bebas yang mereduksi Cu2+ dalam susana basa membentuk Cu2O (endapan warna merah
bata) atau larutan hijau kebiruan. Uji benedict atau tes benedict digunakan untuk
menunjukkan adanya monosakarida dan gula pereduksi. Tembaga sulfat dalam reagen
benedict akan bereaksi dengan monosakarida dan gula pereduksi membentuk endapan
berwarna merah bata. Monosakarida dan gula pereduksi dapat bereaksi dengan reagen
benedict karena keduanya mengandung aldehida ataupun keton bebas. Hasil positif
ditunjukkan dengan perubahan warna larutan menjadi hijau, kuning, orange, atau merah bata
dan muncul endapan hijau, kuning, orange atau merah bata.
Karbohidrat juga mempunyai sifat gula pereduksi. Namun tidak semua karbohidrat
mempunyai sifat gula pereduksi ini. Hanya karbohidrat yang mempunyai gugus gula
pereduksi yang mempunyai sifat ini. Gula pereduksi adalah karbohidrat yang memiliki daya
untuk mereduksi oksidator lemah yang diiringi dengan oksidasi terhadap gugus aldehida.
Suatu karbohidrat harus mempunyai gugus fungsi aldehida atau gugus fungsi hemiasetal yang
dapat membuka menjadi aldehida. Suatu karbohidrat mempunyai sifat gula pereduksi, maka
dilakukan uji Benedict. Pereaksi Benedict mengandung kuprisulfat, natrium karbonat, dan
natrium sitrat. Bila suatu karbohidrat mempunyai gula pereduksi, maka gula pereduksi
tersebut akan mereduksi Cu2+ yang berupa Cu(OH)2 menjadi Cu+ sebagai CuOH yang
selanjutnya akan menjadi Cu2O yang tidak larut dan berwarna merah atau kuning. Persamaan
reaksi aldehida dengan pereaksi Benedict yaitu:

RCHO + 2Cu2++ 5OH- RCO2-+ Cu2O + 3 H2O


Larutan biru Endapan merah

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, dapat diketahui bahwa glukosa,


fruktosa, laktosa, dan maltosa memberikan hasil positif terhadap uji benedict. Sedangkan
pada sukrosa dan pati memberikan hasil negatif terhadap uji benedict. Hal tersebut dapat
djelaskan berdasarkan literatur sebagai berikut. Glukosa memberikan hasil positif terhadap
uji Benedict, dengan hasil terdapat endapan merah bata. Hal ini menunjukkan glukosa
mempunyai gugus gula pereduksi. Glukosa merupakan aldoheksosa atau monosakarida
aldosa. Aldosa berada dalam bentuk hemiasetal siklik dan berkeseimbangan dengan sedikit
bentuk aldehida rantai terbuka. Gugus inilah yang akan dioksidasi oleh Pereaksi Benedict.
Produk yang dihasilkan yaitu asam aldonat.
Fruktosa juga memberikan hasil positif pada uji Benedict. Walaupun fruktosa
merupakan ketoheksosa, namun dalam larutan basa fruktosa berada dalam kesetimbangan
dengan dua bentuk aldehida diastromerik. Proses yang terjadi merupakan tautomerisasi keto-
enol. Karenanya ketosa bisa berada dalam bentuk aldosa yang berarti mempunyai sifat gula
pereduksi.
Sukrosa (gula pasir) tidak terdeteksi oleh pereaksi Benedict. Sukrosa mengandung dua
monosakrida (fruktosa dan glukosa) yang terikat melalui ikatan glikosidic sedemikian rupa
sehingga tidak mengandung gugus aldehid bebas dan alpha hidroksi keton. Sukrosa juga
tidak bersifat pereduksi. Larutan laktosa 1% dan reagen benedict yang tercampur berwarna
biru. Namun setelah dipanaskan selama 3 menit, larutan beruhah menjadi warna kehijauan
dan memiliki endapan berwarna merah bata. Hal ini menunjukkan bahwa larutan
mengandung karbohidrat yang tinggi. Hidrolisis laktosa menghasilkan D-galaktosa dan D-
glukosa, karena itu laktosa adalah disakarida. Bila laktosa dihidrolisis kemudian dipanaskan
dengan asam nitrat akan terbentuk asam musat.
Maltosa juga memberikan hasil positif terhadap uji Benedict. Sama seperti laktosa,
maltosa yang merupakan disakarida yang terbentuk dari dua molekul glukosa ini mempunayi
ikatan -1,4 yang membuatnya masih mempunyai gugus aldehida bebas dan bersifat
mereduksi. Pati tidak memberikan hasil positif terhadap uji Benedict. Pati merupakan suatu
polisakarida. Pati terdiri atas dua macam polisakarida yang kedua-duanya merupakan polimer
dari glukosa, yaitu amilosa (kira-kira 20-28%) dan sisanya amilopektin. Pati tersusun dari
unit-unit glukosa yang bergabung terutama lewat ikatan -1,4 glikosidik, meskipun rantainya
dapat mempunyai sejumlah cabang yang melekat lewat ikatan -1,6 glikosidik. Jika dilihat
dari strukturnya, pati tidak mempunyai gugus fungsi aldehida atau gugus fungsi asetal yang
dapat membuka menjadi aldehida karena membentuk rantai yang sangat panjang. Karenanya
pati tiadak bereaksi dengan pereaksi Benedict dan hanya memberikan warna biru muda yang
berasal dari pereaksi itu sendiri.

Tabel 3 Hasil Uji Barfoed


Bahan Uji Hasil Pengamatan (+/-) Perubahan Warna Larutan

Glukosa - Orange
Fruktosa - Biru bening
Sukrosa - Biru bening
Laktosa - Biru bening
Maltosa - Orange
Pati - Biru bening

Keterangan : + Menyatakan bahan termasuk monosakarida


- Menyatakan bahan tidak termasuk monosakrida
.

Gambar 3 Hasil Uji Barfoed

Pembahasan
Uji barfoed adalah uji yang dilakukan untuk membedakan monosakarida dan
disakarida dengan mengontrol pH serta waktu pemanasan. Prinsip dari uji ini adalah
karbohidrat di dalam larutan asam lemah akan mengalami perubahan reaktifitas karbohidrat
dengan reaktifitas rendah akan kehilangan daya reduksinya, sedangkan karbohidrat dengan
reaktifitas tinggi akan tetap dipertahankan, berdasarkan reduksi Cu 2+ menjadi Cu+
(pengurangan tembaga (II) asetat (kuprit asetat) menjadi tembaga (I) oksida (Cu 2O / kuprit
oksida)).. Reagen barfoed mengandung senyawa tembaga asetat.

Dalam uji barfoed ini digunakan reagen barfoed yang terdiri dari larutan kuprit asetat
dan asam laktat didalam air. Selain reagen barfoed juga di butuhkan larutan reagen berupa
fosfomolibdat yang berfungsi untuk membentuk warna biru pada larutan uji sebagai indikasi
bahwa tembaga telah tereduksi oleh glukosa / karbohidrat

Dalam percobaan uji barfoed yang telah dilakukan terhadap 6 sampel karbohidrat
semua menunjukkan hasil negatif. Seharusnya pada uji glukosa dan fruktosa hasil dari uji
barfoed menunjukkan hasil positif dikarenakan glukosa dan fruktosa merupakan gula yang
masuk ke dalam gugus monosakarid. Gugus monosakarida merupakan gugus gula sederhana
yang sangat mudah bereduksi sehingga pembentukan Cu2O lebih cepat. Akan tetapi pada uji
barfoed yang telah dilakukan terhadap glukosa dan fruktosa menunjukkan hasil negatif, ini
dikarenakan pada saat pengujian dilakukan reagen barfoed dan reagen fosfomolibdat tidak
dapat bereaksi dengan sampel mulai dari pencampuran, pemanasan hingga pemberian reagen
fosfomolibdat tidak menunjukkan perubahan warna pada sampel.

Pada uji barfoed terhadap larutan pati (amilum), sukrosa, maltosa, dan laktosa
menunjukkan hasil ngatif. Hasil ini sesuai dengan literatur karena sukrosa merupakan
disakarida yang memiliki ikatan -1 2 glikosidik yang jika terhidrolisis akan membentuk
2 macam monosakarida yaitu glukosa dan fruktosa. Laktosa juga masuk dalam golongan
disakarida karena laktosa terdiri dari D- galaktosa dan D-glukosa. Maltosa juga masuk
kedalam gugus disakarida karena terdiri dari 2 molekul glukosa. Berbeda dengan sampel
sukrosa, maltosa dan laktosa yang merupakan gula gugus disakarida, larutan pati (amilum)
masuk kedalam gugus polisakarida yang mengandung 2 macam polisakarida yaitu amilosa
dan amilopektin. Sehingga pada percobaan uji barfoed keempat sampel tersebut tidak
menunjukkan hasil positif karena keempat sampel tersebut bukan termasuk monosakarida
melainkan disakarida dan polisakarida

Tabel 4 Hasil Uji Fermentasi


Tinggi Gas CO2 (cm) pada setiap 15 menit
Bahan Uji Hasil Pengamatan (+/-)
1 2 3
Glukosa
Fruktosa
Sukrosa
Laktosa
Maltosa
Pati

Gambar 4 Hasil Uji Fermentasi


Tabel 5 Hasil Uji Selliwanof
Bahan Uji Hasil Pengamatan (+/-) Perubahan Warna Larutan

Glukosa
Fruktosa
Sukrosa
Laktosa
Maltosa
Pati

Gambar 5 Hasil Uji Selliwanof


Tabel 6 Hasil Uji Tauber
Bahan Uji Hasil Pengamatan (+/-) Perubahan Warna Larutan

Glukosa - Kekuningan
Fruktosa - Kekuningan
Sukrosa - Kekuningan
Laktosa - Kekuningan
Maltosa - Kekuningan
Pati + Merah ceri

Pembahasan
Uji tauber adalah uji yang digunkan untuk membuktikan apakah sampel yang
akn diuji tersebut mengandung gugus pentosa atau tidak. Prinsip dari uji ini adalah reaksi
pentosa di hidrolisis oleh asam asetat glacial menjadi furfural, furfural yang terbentuk akn
bereaksi dengan 4% benzidin membentuk kompleks senyawa berwarna merah ceri.

Dalam percobaan uji tauber yang telah dilakukan terhadap 6 sampel karbohidrat
menunjukkan hasil 5 sampel negatif (glukosa, fruktosa, maltosa, laktosa dan sukrosa) dan 1
sampel positif yaitu pati/ amilum. Seharusnya pada uji tauber terhadap ke -6 sampel tersebut,
semua sampel menunjukkan hasil yang negatif dikarenakan ke enam sampel tersebut bukan
lah merupakan gugus pentosa. Glukosa dan fruktosa merupakan monosakarida yang
tergolong ke dalam hexosa karena memiliki 6 atom C sehingga, pada pada percobaan uji
tauber menghasilkan hasil negatif karena pereaksi tauber tidak dapat bereaksi dengan sampel.
Maltosa, laktosa dan sukrosa merupakan jenis gula disakarida, maltosa tersusun atas 2
molekul glukosa, latosa tersusun atas glukosa dan fruktosa, dan sukrosa tersusun atas fruktosa
dan glukosa. Ketiga gula ini juga bukan golongan pentosa sehingga pada saat uji tauber, hasil
yang ditunjukkan adalah negatif karena pereaksi tauber tidak bereaksi dengan gula selain
golongan pentosa.

Pada percobaan uji tauber terhadap pati atau amilum, hasil yang ditunjukkan yaitu
berupa hasil positif, ini tidak sesuai dengan literatur karena seharusnya pada uji tauber
terhadap pati atau amilum menunjukkan hasil negatif. Pati atau amilum merupakan jenis
karbohidrat yang masuk ke dalam klasifikasi polisakarida, pati atau amilum in tersusun dari 2
jenis karbohidrat yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa merupakan polisakarida berantai
lurus yang terdiri dari molekul glukosa 1,4 glikosidik, sedangkan merupakan polisakarida
yang terdiri dari molekul glukosa yang terikat melalui ikatan 1,4 glikosidik dengan
percabangan melalui ikatan 1,6 glikosidik pada 20-25 unit glukosa. Sehingga seharusnya
percobaan uji tauber pada pati menunjukkan hasil negatif, hal ini dapat terjadi karena pada
saat melakukan percobaan larutan tercampur dengan cairan lain seperti aquades yang dapat
reaksi antar larutan menjadi terganggu.

Gambar 6. Hasil Uji Tauber


Tabel 7 Hasil Uji Iod
Bahan Uji Hasil Pengamatan (+/-) Perubahan Warna Larutan

Gambar 7. Hasil Uji Iod

Uji Osazon

Pembahasan

Uji osazon adalah uji yang dilakukan untuk mengidentikfikasi konfigurasi struktural
dari sakarida. Prinsip dari uji osazon adalah pemanasan karbohidrat yang mengandung gugus
aldehid atau keton dengan fenilhidrazin berlebih akan menghasilkan hidrazon. Hidrazon atau
osazon yang terbentuk akan berbentuk kristal dan memiliki titik lebur yang spesifik. Osazon
dari disakarida akan larut di dalam air mendidih dan akan terbentuk kembali setelah dingin.
Namun ada disakarida yang tidak dapat membentuk osazon yaitu sukrosa, ini dikarenakan
gugus aldehid atau keton yang terikat pada monomernya sudah tidak bebas.
Simpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak
cara untuk mengidentifikasi karbohidrat melalui uji-uji kualitatif. Uji- uji tersebut meliputi,
uji molisch, uji benedict, uji barfoed, uji selliwanof, uji fermentasi, uji tauber, uji iod, dan uji
osazon. Pada uji molisch didapatkan hasil positif pada semua jenis karbohidrat. Pada uji
benedict didapatkan hasil negatif pada sukrosa dan pati. Lalu pada uji barfoed didapatkan
hasil negatif pada semua jenis karbohidrat. Hasil uji selliwanof didapatkan positif pada pati
dan fruktosa. Sedangkan pada uji tauber didapatkan semua jenis karbohidrat negatif. Pada uji
iod didapatkan hasil positif pada pati, agar-agar, dan kanji. Pada uji osazon adalah suatu
Kristal berwarna kuning yang larut dalam air, dan terbentuk apabila kita memanaskan
monosakarida atau disakarida pereduksi dengan fenilhidrazin.

Daftar Pustaka

H.M. Hawab. 2007. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : Diadit Media.


Roswiem, dkk. 2006. Biokimia Umum Jilid I. Bogor : IPB Press.
Yohanis Ngili. 2010. Biokimia Dasar. Bandung : Rekayasa Sains.
Sumardjo Damin. 2006. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta (ID):

EGC
Hart Harold et al. 2003. Kimia Organik. Suminar Setiati Achmadi, penerjemah;
Jakarta (ID): Erlangga. Terjemahan dari: Organic Chemistry.
Bintang Maria. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta (ID): Erlangga
Winarno FG. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta (ID): Gramedia
Saifuddin, Sirajuddin. 2013. Penuntun Praktikum Biokimia. Makassar. Laboratorium
Terpadu Kesehatan Masyarakat Regional Indonesia Timur.
Universitas Hassanudin
Poedjiadi, Ana, F. M. Titin. 2005. Dasar Dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia
Press
Sumardjo, Darmin. 2008. Pengantar Kimia : Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran
dan Strata I. Jakarta: EGC