Anda di halaman 1dari 17

Laporan Praktikum ke-4 Hari,tanggal : Kamis,16 Maret 2017

Teknik Dasar Nekropsi Hewan Dosen : Drh. Heryudianto Vibowo


Drh. Vetnizah Juniantito. Ph.D

SISTEMREPRODUKSI DAN UROGENITAL AYAM


(Gallus gallus)

Kelompok 3 / Praktikum 1

Hesti Puspa Rina J3P115001


Dwiky Ramadhan J3P115009
Wilda Febrianti J3P115023
Shelda Iswara ArfiantiJ3P115016
Frisca Larasati J3P115032
Alfiandi Basyari J3P115035
Indah Elsa Khairunnisa J3P115046
Sinta Br Ginting J3P115056
Anggi Agustyan J3P215061
Syifa Fauziah J3P215073

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PENDAHULUAN

Salah satu ciri-ciri makhluk hidup adalah berkembang biak. Berkembang biak
adalah proses reproduksi atau proses memperbaharui keturunan pada makhluk hidup
untuk mempertahankan jenisnya agar tidak punah. Reproduksi adalah suatu proses
biologis di mana individu organisme baru diproduksi. Reproduksi pada hewan
terjadidalam dua jenis yaitu reproduksi aseksual dan reproduksi seksual.Reproduksi
aseksual adalah penciptaan individu baru yang semua gennya berasal dari satu induk
tanpa peleburan telur dan sperma. Sedangkan reproduksi seksual adalah penciptaan
keturunan melalui peleburan gamet jantan dan betina untuk membentuk zigot. Peleburan
gamet sperma dan ovum disebut dengan fertilisasi. fertilisasi terbagi menjadi dua macam
yaitu fertilisasi eksternal dan fertilisasi internal.
Unggas merupakan salah satu jenis hewan yang banyak digemari oleh
manusia.Unggas mempunyai berbagai macam jenis yang dapat menarik perhatian
manusia untuk bisa memeliharanya. Selain itu, ada juga yang berusaha untuk dijadikan
sebagai hewan ternak. Unggas berkembang biak dengan bertelur. Telur unggas mirip telur
reptil, hanya cangkangnya lebih keras karena berkapur. Pada unggas jenis burung seperti
burung maleo dan burung gosong, menimbun telurnya di tanah pasir yang bercampur
serasah, tanah pasir pantai yang panas, atau di dekat sumber air panas. Alih-alih
mengerami, burung-burung ini membiarkan panas alami dari daun-daun membusuk,
panas matahari,atau panas bumi menetaskan telur-telur itu. Dalam bereproduksi, unggas
adalah dengan cara bertelur sehingga pada unggas ini memilki organ reproduksi yang
berbeda dengan mamalia.Kelompok unggas merupakan hewan ovipar. Sehingga tidak
memiliki alat kelamin luar. Walaupun demikian, fertilisasi tetap terjadi di dalam
tubuh.Hal ini dilakukan dengan cara saling menempelkankloaka.Pada unggas organ
reproduksi jantan berupa testes, epididimis dan ductus deferens, sedangkan pada betina
terdiri dari satu ovarium dan satu oviduct.
Tujuan
Setelah mengikuti praktikum dan kuliah mahasiswa dapat menjelaskan sistem
reproduksi pada ayam jantan dan betina.

METODE

Metode yang digunakan dalam pembuatan laporan ini adalah metode


kepustakaan, yaitu mengambil informasi berdasarkan literatur berupa dokumen seperti
jurnal dan buku yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan urogenital ayam.
PEMBAHASAN

A. Sistem Urogenital Ayam


Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh, seperti CO 2,
H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat. Sistem ekskresi adalah suatu sistem yang
menyelenggarakan proses pengeluaran zat-zat sisa. Zat-zat sisa ini merupakan hasil
proses metabolisme dalam tubuh yang sudah tidak berguna lagi. Alat ekskresi yang
dimiliki oleh mahluk hidup berbeda-beda. Semakin tinggi tingkatan mahluk hidup,
semakin kompleks alat ekskresinya. Setiap makhluk hidup mengeluarkan zat sisa agar
tidak membahayakan dan meracuni tubuhnya. Sistem ekskresi pada aves terdiri dari
ginjal (metanefros), paru-paru, dan kulit. Ayam memiliki sepasang ginjal yang berwarna
cokelat. Saluran ekskresi terdiri dari ginjal yang menyatu dengan saluran kelamin pada
bagian akhir usus (kloaka). Ayam mengekskresikan zat berupa asam urat dan garam.
Kelebihan larutan garam akan mengalir ke rongga hidung dan keluar melalui nares
(lubang hidung). Sistem ini sangat penting dan kegagalan (misalnya ketika ginjal sakit
atau rusak) ternak menjadi lemah dan akan mengakibatkan kematian. Fungsi sistem
ekskresi pada unggas adalah :
- Pemeliharaan keseimbangan elektrolit
- Pemeliharaan keseimbangan air
- Pembuangan limbah khususnya produk dari metabolisme nitrogen(kecuali
karbon dioksida)
Ginjal
Ginjal unggas berjumlah dua buah terletak pada dinding posterior abdomen, di
luar rongga peritoneum. Sisi medial setiap ginjal merupakan daerah lekukan yang disebut
hilum tempat lewatnya arteri dan vena renalis, cairan limfatik, suplai saraf, dan ureter
yang membawa urin akhir dari ginjal ke kandung kemih, tempat urin disimpan hingga
dikeluarkan. Ginjal dilingkupi oleh kapsul fibrosa yang keras untuk melindungi struktur
dalamnya yang rapuh (Guyton & John 2007).
Ginjal ayam terletak pada sinsakrum bagian fossa renalis. Ginjal unggas terdiri
dari puluhan hingga ratusan mikroskopik lobus. Tiap lobus terdiri dari kerucut korteks
dan medula yang bertugas sebagai unit semiautogenus serta dua tipe nefron juga
ditemukan pada ginjal unggas. Ginjal merupakan organ utama yang berfungsi untuk
membuang produk sisa metabolisme yang tidak diperlukan lagi oleh tubuh.Ginjal juga
membuang sebagian besar toksin dan zat asing lainnya yang diproduksi oleh pencernaan,
seperti pestisida, obat-obatan, dan zat aditif makanan (Guyton & John 2007)
Ekskresi air dan sisa metabolik sebagian besar tejadi melalui ginjal. Sistem
ekskresi pada unggas terdiri dari dua buah ginjal yang bentuknya relatif besar-
memanjang, berlokasi di belakang paru-paru, dan menempel pada tulang punggung.
Masing-masing ginjal terdiri dari tiga lobus yang tampak dengan jelas. Ginjal terdiri dari
banyak tubulus kecil atau nephron yang menjadi unit fungsional utama dari ginjal. Fungsi
utama ginjal adalah memproduksi urine, melalui proses sebagai berikut:
a. Filtrasi darah sehingga air dan limbah metabolisms diekskresikan.
b. Reabsorpsi beberapa nutrien (misalnya glukosa dan elektrolit) yang kemungkinan
digunakan kembali.
Dengan demikian, sel dan protein darah disaring keluar dari darah, sedangkan
filtrat melewati tubula ginjal. Air dan zat-zat tertentu untuk tubuh sebagian besar
diabsobsi kembali, sedangkan sisa-sisa produk yang harus dibuang diekskresikan melalui
urine. Ginjal memiliki peran kunci dalam pengaturan keseimbangan dan mempertahankan
keseimbangan osmotik cairan tubuh. Ureter menghubungkan masing-masing ginjal
dengan kloaka. Urine pada unggas terutama tersusun atas asam urat yang bercampur
dengan feses pada kloaka dan keluar sebagai kotoran berupa material berwarna putih
seperti pasta.

Gambar 1. System urogenital ayam

B. Sistem Reproduksi Ayam

Reproduksi Unggas Betina


Ovarium
Ovarium pada unggas dinamakan folikel.Bentuk ovarium seperti buah anggur
dan terletak pada rongga perut berdekatan dengan ginjal kiri dan bergantung pada
ligamentum meso-ovarium. Besar ovarium pada saat ayam menetas 0.3 g kemudian
mencapai panjang 1.5 cm pada ayam betina umur 12 minggu dan mempunyai berat 60 g
pada tiga minggu sebelum dewasa kelamin (Yuwanta, 2004). Ovarium ayam betina
biasanya terdiri dari 5-6 folikel yang sedang berkembang, berwarna kuning besar (yolk)
dan sejumlah besar folikel putih kecil yang menunjukkan sebagai kuning telur yang
belum dewasa (Suprijatna2005).
Pada awal perkembangan embrio, terdapat dua ovarium dan dua ovidak. Bagian
sebelah kanan mengalami atrofi sehingga pada saat menetas yang tinggal hanya ovarium
dan ovidak bagian kiri. Sebelum produksi telur ovarium terisi penuh oleh folikel yang
mengandung ova. Beberapa ova cukup besar sehingga dapat dilihat dengan mata,
sedangkan yang lainnya harus menggunakan mikroskop. Beberapa ribu ova terdapat pada
setiap hewan betina. Saat dewasa ova menjadi kuning telur yang berukuran penuh dan
berperan penting untuk produksi telur selama hewan hidup.
Ayam yang belum dewasa memiliki ovarium dan oviduk kecil yang
belumberkembang sempurna. Pertumbuahan kelenjar telur dirangsang oleh
FollicleStimulating Hormon (FSH) yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari
anterior.Hormon ini menyebabkan ovarium berkembang dan folikel
mengalamipertumbuhan. Produksi FSH secara normal dirangsang olehpeningkatan
periode pencahayaan. Secara alami, peningkatan FSH disebabkanoleh pertambahan
periode siang hari pada musim semi (Hartanto2010).
Ovarium ayam dewasa menskresikan hormon estrogen dan progesteron. Hormon
estrogen menyebabkan terjadinya 1)perkembangan oviduk 2) peningkatan kadar kalsium
darah, protein, lemak,vitamin dan bahan-bahan lain yang diperlukan dalam proses
pembentukan telur;3) merangsang peregangan tulang pulbis untuk mempersiapkan ayam
betinadalam proses bertelur (Suprijatna2005).
Hormon progesteron berfungsi sebagai releasing factor di hipotalamusyang
menyebabkan pembesaran Luteinizing hormon (LH) dari pituitari anterior.LH berfungsi
merangsang sel-sel granulosa dan sel-sel techa pada folikel yangmasak untuk
memproduksi estrogen. Kadar estrogen yang tinggi menyebabkan produksi LH semakin
tinggi. Tingginya kadar LH menyebabkan terjadinya proses ovulasi pada folikel yang
masak. Ovarium pada ayam dibagi dalam dua bagian, yaitu cortex pada bagianluar dan
medulla pada bagian dalam. Cortex mengandung folikel yang sedang tumbuh. Jumlah sel
telur dapat mencapai 12.000 buah. Ovarium ayam biasanya terdiri dari 5-6 folikel yang
sedang tumbuh, berwarna kuning yolk) dan sejumlah besar folikel putih kecil yang
menunjukkan sebagai folikel yolk yang belum masak (Partodihardjo1992).
Ovarium terletak di dalam rongga perut berfungsi untuk memproduksi ovum dan
sebagai penghasil hormon estrogen, progesteron dan inhibin.Ovarium digantung oleh
suatu ligamentum yang disebut mesovarium yang tersusun atas syaraf-syaraf dan
pembuluh darah, berfungsi untuk mensuplai makanan yang diperlukan oleh ovarium dan
sebagai saluran reproduksi.Ovarium pada preparat praktikum ini berbentuk lonjong bulat.
Unggas yang telah mencapai dewasa, ovariumnya dan ovidaknya mengalami
perubahan-perubahan sekitar selama 11 hari sebelum bertelur pertama, yaitu kelenjar
pituitary anterior memproduksi folikel stimulating hormone (FSH). Akibatnya, ukuran
folikel ovarium bertambah. Ovarium yang aktif mulai mengahsilkan hormone esterogen,
progesterone, testosterone. Sementara ukuran ovidak bertambah besar sehingga
memungkinkan memproduksi protein albumen, membrane kerabang, kalsium karbonat
kerabang, dan kultikula.
Fungsi ovarium sendiri adalah memproduksi ovum, penghasil hormon estrogen,
progesteron dan inhibin.Pada semua hewan menyusui mempunyai sepasang ovarium dan
mempunyai ukuran yang berbeda-beda tergantung pada species, umur dan masa (stadium)
reproduksi hewan betina. Bentuk ovarium tergantung pada golongan hewan:
1) Pada golongan hewan yang melahirkan beberapa anak dalam satu kebuntingan disebut
Polytocous, ovariumnya berbentuk seperti buah murbei, contoh: babi, anjing, kucing
2) Pada golongan hewan yang melahirkan satu anak dalam satu kebuntingan disebut
Monotocous, ovariumnya berbentuk bulat panjang oval, contoh: sapi, kerbau, sedang
pada ovarium kuda bebentuknya seperti ginjal.
Reproduksi, berkaitan dengan sistem pengendalian pada ayam yang sedang
bertelur, yang disebut hierarki folikuler yakni gradasi berat dan ukuran folikel. Hanya
satu folikel yaitu yang terbesar yang menjadi masak dan di ovulasikan dalam waktu satu
hari, segera setelah folikel ini pecah, kemudian nomor 2 terbesar tumbuh menjadi besar,
demikian seterusnya peristiwa tersebut terjadi berurutan. Rincian permainan hormonal
antara ovarium dengan sistem hipotalamus-hipofiseal unggas semuanya jelas, kecuali kita
ketahui benar-benar ialah bahwa ovarium secara total tergantung pada hormon
Gonadotrofik yang berasal dari pituitari. Telah diketahui bahwa hipotalamus dalam
pengendalian pelapisan LH dan FSH hipofisa. Diakuinya hipotalamus melalui cara
pembedahan, tepatnya pada nuklei praoptik di daerah paraventrikuler, ternyata dapat
menghentikan ovulasi (Nalbandov1990).
Ovarium mengandung folikel-folikel yang di dalamnya terdapat masing-masing
satu ovum.Pembentukan dan pertumbuhan folikel ini dipengaruhi oleh hormon FSH
(Folicle stimulating hormone) yang dihasilkan oleh kelenjar adenohipofise. Folikel di
dalam ovarium terdiri dari beberapa tahap yaitu folikel primer, terbentuk sejak masih
dalam kandungan dan mengandung oogonium yang dikelilingi oleh satu lapis sel
folikuler kecil; folikel sekunder, terbentuk setelah hewan lahir dan sel folikulernya lebih
banyak; folikel tertier, terbentuk pada saat hewan mencapai dewasa dan mulai mengalami
siklus birahi; dan yang terakhir adalah folikel de Graaf, merupakan folikel terbesar pada
ovarium pada waktu hewan betina menjelang birahi.
Folikel de Graaf inilah yang akan siap diovulasikan (peristiwa keluarnya ovum
dari folikel) dan jumlahnya hanya satu karena sapi merupakan hewan monotokosa yang
menghasilkan satu keturunan setiap kebuntingan. Peristiwa ovulasi diawali dengan
robeknya folikel de Graaf pada bagian stigma dipengaruhi oleh hormon LH (Luteinizing
hormone) yang dihasilkan oleh kelenjar adenohipifise.LH menyebabkan aliran darah di
sekitar folikel meningkat dan menyebabkan dinding olikel pecah. Bekas tempat ovum
yang baru keluar disebut corpus haemorragicum yang dapat kemasukan darah akibat
meningkatnya aliran darah dan menjadi merah, setelah itu terbentuk corpus luteum
(berwarna coklat) yang akan menghasilkan hormon progesteron untuk mempertahankan
kebuntingan dan menghambat prostaglandin. Sehingga pada saat bunting tidak terjadi
ovulasi karena prostaglandin yang mempengaruhi hormon estrogen dan FSH.Apabila
pembuahan tidak terjadi, corpus luteum bertambah ukurannya di bawah hormon pituitari
anterior yaitu prolaktin dan dibentuklah hormon progesteron yang menekan birahi yang
berkepanjangan dan memepertahankan kebuntingan (Blakely and Bade1998).

Infundibulum
Infundibulum terdiri atas corong atau fibria dengan panjang 9 cm
yangberfungsi menerima folikel yolk yang telah diovulasikan. Bagian
kalasiferousmerupakan tempat terbentuknya kalaza. Dalam keadaan normal
infundibulumtidak aktif, dan aktif ketika folikel yolk diovulasikan (Suprijatna2005).
Panjang infundibulum adalah 9 cm dan fungsi utama infundibulum hanya
menangkap ovum yang masak.Bagian ini sangat tipis dan mensekresikan sumber protein
yang mengelilingi membrane vitelina.Kuning telur berada pada bagian ini berkisar 15-30
menit. Perbatasan antara infundibulum dan magnum dinamakan sarang spermatozoa yang
merupakan terminal akhir dari lalu lintas spermatozoa sebelum terjadi pembuahan
(Yuwanta2004).
Ukuran panjang Infundibulum tergantung level hormone gonadotropin yang
dihasilkan oleh anterior pituitary pars anterior dan estrogen yang diproduksi oleh
ovarium. menyatakan panjang dan berat infundibulum dipengaruhi oleh pemberian kadar
protein dalam pakan selama periode pertumbuhan (umur 12-20 minggu).
Bobot dan panjang infundibulum dipengaruhi oleh kedewasaan kelamin. Oviduk
merupakan saluran tempat disekresikan albumen, membrankerabang dan pembentukan
kerabang. Oviduk memiliki sistem penyediaan darahyang baik dan memiliki dinding-
dinding otot yang hampir selalu bergerak selamaproses pembentukan telur. Apabila
konsumsi protein sama antar perlakuan maka kerja dari kelenjar hipopise untuk
mensekresikan hormone gonadotropin yaitu FSH (Folicle Stimulating Hormon) dan LH
(Luteinizing Hormon) juga relative sama sehingga pengaruhnya terhadap ovarium juga
sama. Suprijatna (2005), menyatakan bahwa panjang dan berat oviduk dipengaruhi oleh
pemberian kadar protein dalam pakan selama periode pertumbuhan umur 12-20 minggu.
Zuprizal (2005),mengemukakan bahwa tanpa adanya hormon dan enzim jelas tidak akan
terjadi pertumbuhan dan kehidupan.

Oviduct
Oviduk merupakan sebuah pipa yang panjang dimana yolk lewat dan bagian telur
lainnya disekresikan. Secara normal ukurannya kecil, diameternya relative kecil tetapi
menjelang ovulasi pertama ukuran dan ketebalan dindingnya bertambah besar. Oviduk
pada ayam identik dengan rahim atau uterus pada mamalia. Rahimpada mamalia
merupakan tempat perkembangan embrio sedangkan oviduk padaayam merupakan
tempat pembentukan telur. Oviduk juga berfungsi tempatpenyimpanan sperma sementara
(Hartanto2010). Dinding oviduct selanjutnya tersusun aatas musculus dan epithelium
yang bersifat glandulair, yang member sekresi yang kelak membungkus telur, yakni
albumen sebagai putih telur, membrane tipis di sebelah luar albumen dan cangkok yang
berbahan zat kapur yang dibuat oleh kelenjar disebelah caudal. Uterus yang sebenarnya
belum ada (Jasin1984)
Oviduk pada ayam yang belum dewasa berukuran kecildan meningkat saat
memasuki periode produktif. Ukuran oviduk mengalamiperubahan sejalan dengan
aktivitas reproduksi (Suprijatna2005). Ukuran oviduk bervariasi tergantung pada tingkat
daur reproduksi setiapspesies unggas. Perubahan ukuran dipengaruhi oleh tingkat hormon
gonadotropinyang disekresikan oleh pituitari anterior serta produksi hormon estrogen
dariovarium. Oviduk pada ayam dibagi dalam 5 bagian yaituinfundibulum, magnum,
isthmus, uterus dan vagina (Hartanto2010). Perkembangan oviduk sangat dipengaruhi
oleh protein. Protein adalah sebagai komponen penyusun hormone dan enzim
(Ganong2003).
Saluran reproduksi, oviduk yang berkembang hanya yang sebelah kiri, bentuknya
panjang, bergulung, dilekatkan pada dinding tubuh oleh mesosilfing dan dibagi menjadi
beberapa bagian; bagian anterior adalah infundibulum yang punya bagian terbuka yang
mengarah ke rongga selom sebagai ostium yang dikelilingi oleh fimbre-fimbre. Di
posteriornya dapat magnum yang berfungsi mensekresikan albumin, selanjutnya istmus
yang mensekresikan membrane sel telur dalam dan luar. Uterus atau shell gland
mempunyai fungsi untuk menghasilkan cangkang kapur.
Oviduk terdapat sepasang dan merupakan saluran penghubung antara ovarium
dan uterus.Pada unggas oviduk hanya satu yang berkembang baik dan satunya mengalami
rudimeter.Bentuknya panjang dan berkelok-kelok yang merupakan bagian dari ductus
Muller.Ujungnya melebar membentuk corong dengan tepi yang berjumbai
(Nalbandov1990).
Menurut Blakely (1998), ada lima bagian oviduk yang secara jelas dapat
dibedakan:
1) Fannel atau infindibulum yang berperan dalam penangkapan kunig telur atau yolk
setelah yolk itu diovulasikan.
2) Magnum yang mensekresikan albumen atau putih telur.
3) Isthmus yang mensekresikan membrane cangkang atau kerabang
4) Uterus (kelenjar cangkang) yang mensekresikan cangkang
5) Vagina tempat dimana telur untuk sementara ditahan dan dikeluarkan bila telah
mencapai bentuk sempurna.
Oviduk mempunyai struktur yang kompleks untuk menghasilkan bahan sekitar
40 g (10 g padat dan 30 g air) dalam waktu sekitar 26 jam.Secara garis besar terdiri
lapisan perotoneal eksternal (serosa), lapisan otot longitudinal luar dan sirkuler dalam,
lapisan jaringan pengikat pembawa pembuluh darah dan syaraf, serta lapisan mukosa
yang melapisi seluruh duktus.Pada ayam muda mukosa bersifat sederhana tanpa lekukan
maupun lipatan.Pada saat mendekati dewasa kelamin serta mendapat stimulus dari
estrogen dan progresteron, maka oviduk menjadi sangat kompleks dengan terbentuknya
ikatan-ikatan primer, sekunder dan tersier.Pada puncak aktivitas sekresinya, sel-sel
menunjukkan bentuk variasinya dari kolumner tinggi sipleks sampai kolumner
transisional yang memiliki silia. Oviduk unggas tidak dapat membedakan antara ovum
dengan benda-benda asing, sehingga akan tetap mensekresikan albumen, kerabang lunak
dan kerabang keras disekitar benda asing tersebut (Nalbandov1990).

Magnum
Magnum merupakan bagian yang terpanjang dari oviduk (33 cm).Magnum
tersusun dari galndula tubuler yang sangat sensible.Sintesis dan sekresi putih telur terjadi
di sini.Mukosa dari magnum tersusun dari sel gobelet.Sel gobelet mensekresikan putih
telur kental dan cair. Kuning telur berada di magnum untuk dibungkus dengan putih telur
selama 3.5 jam (Yuwanta2004).
Androgen dan progesteron yang kedua-duanya beraksi terhadap magnum yang
berkembang karena estrogen, dapat menyebabkan pertumbuhan granula albumen dan
pelepasan granula ini ke dalam lumen. Setelah pertumbuhan magnum yang didukung oleh
estrogen dan pembentukan granula albumen yang disebabkan baik androgen ataupun
progesteron, satu peristiwa lagi masih tertinggal yaitu sekresi albumen kedalam lumen.
Hal ini biasanya terpicu oleh adanya benda asing di magnum, apakah itu ovum ataukah
benda asing yang berada dalam magnum.

Isthmus
Panjang isthmus dipengaruhi oleh hormon somatotropin dan hormon tiroksin
yang dihasilkan oleh pituitary anterior. Yuanta (1999) menyatakan bahwa panjang
isthmus adalah 10 cm dan telur dan telur berada di bagian ini berkisar 1 jam sampai 15
menit sampai 1,5 jam. Hasil rerata ini juga sesuai dengan pendapat Nalbandov
(1990)yang menyatakan bahwa panjang isthmus pada ayam yaitu 10,6 cm. Isthmus
mensekresikan membrane atau selaput telur. Bagian depan yang berdekatan dengaan
magnum berwarna putih, sedangkan 4 cm terakhir dari isthmus mengandung banyak
pembuluh darah sehingga memberikan warna merah.

Uterus
Uterus disebut juga sebagai glandula kerabang telur. Badan uterus terlihat lebih
kecil dari keadaan sebenarnya. Seperti hal nya organ internal yang menyerupai tabung,
dinding uterin dan suatu lapis membrane mucosa, lapis otot polos intermediet dan lapis
serosa bagian luar. Uterus memiliki panjang kira-kira 12 cm. Uterus berfungsi sebagai
penghasil albumin telur, membentuk kulit telur dan pigmen telur.
Ukuran panjang uterus tergantung level hormon Gonadotropin yang dihasilkan
oleh anterior pituitary dan estrogen yang diproduksi oleh ovarium. Panjang uterus pada
ayam adalah 10,1 cm (Horhoruw2012). Pada bagian ini terjadi dua fenomena, yaitu
dehidrasi putih telur atau (plumping) kemudian terbentuk kerabang (cangkang) telur.
Panjang uterus dipengaruhi oleh hormone progestron dan hormon androgen yang
digunakan untuk sekresi albumen (Yuanta1999). Hormon reproduksi yang meliputi
hormon progesteron dan hormon androgen diproduksi karena pengaruh vitamin E dan
mineral dalam pakan yang diberikan. Hormon masuk ke dalam aliran darah kemudian
dibawa ke jaringan tubuh untuk membantu dan mengatur pertumbuhan.

Vagina
Vagina adalah organ kelamin betina denga struktur muskuler yang terletak di
dalam rongga pelvis dorsal dan vesika uniraria dan berfungsi sabagi alat kopulatoris dan
sebagi tempat berlalu bagi fetus. Vagian memiliki kesanggupan berkembang cukup
besarPerkembangan panjang vagina dipengaruhi oleh hormon estrogen yang dihasilkan
oleh ovarium. Yuanta (1999) menyatakan bahwa panjang vagina adalah 10 cm, telur
melewati vagina begitu cepat yaitu sekitar tiga menit, kemudian dikeluarkan
(Oviposition) dan 30 menit setelah peneluran akan kembali terjadi ovulasi. Menurut
Sidadolog (2001), panjang vagina pada ayam adalah 6,9 cm Bagian ini hampir tidak ada
sekresi di dalam pembentukan telur, kecuali pembentukan kutikula. Telur melewati
vagina dengan cepat, yaitu sekitar 3 menit, kemudian di keluarkan (oviposition) dan 30
menit setelah peneluran akan kembali terjadi ovulasi.

Kloaka
Kloaka merupakan muara dari tiga saluaran yaitu saluran pencernaan, ekskresi
dan reproduksi. Kloaka merupakan bagian ujung luar dari oviduck tempat dikeluarkannya
telur. Total waktu yang diperlukan untuk pembetukan sebutir telur adalah 25-26 jam.
Proses pengeluaran telur ini diatur oleh hormone oksitosin dari pituitaria bagian belakang
(pituitaria pars posterior).

Gambar 2. Organ Reproduksi Betina pada Ayam


Reproduksi Unggas Jantan
Organ reproduksi ayam jantan terdiri dari sepasang testis (T), epididimis (Ep),
duktus deferens (D.d.) dan organ kopulasi pada kloaka (Cl), Berikut gambarnya

Gambar 3. Organ Reproduksi pada Ayam Jantan

Testis
Testis berjumlah sepasang terletak pada bagian atas di abdominal kearah
punggung pada bagian anterior akhir dari ginjal dan berwarna kuning terang.Pada unggas
testis tidak seperti hewan lainnya yang terletak di dalam skrotum Fungsi testis
menghasilkan hormon kelamin jantan disebut androgen dan sel gamet jantan disebut
sperma.
Epididimis
Epididimis berjumlah sepasang dan terletak pada bagian sebelah dorsal
testis.Berfungsi sebagai jalannya cairan sperma ke arah kaudal menuju ductus deferens.
Duktus deferens
Jumlahnya sepasang, pada ayam jantan muda kelihatan lurus dan pada ayam
jantan tua tampak berkelok-kelok.Letak ke arah kaudal, menyilang ureter dan bermuara
pada kloaka sebelah lateral urodeum.
Organ kopulasi
Pada unggas duktus deferens berakhir pada suatu lubang papila kecil yang
terletak pada dinding dorsal kloaka.Papila kecil ini merupakan rudimeter dari organ
kopulasi.

3. Fertilasi
Fertilisasi merupakan suatu proses penyatuan atau fusi dari dua sel gamet yang
berbeda, yaitu sel gamet jantan dan betina untuk membentuk satu sel yang disebut zygote.
Secara embriologik fertilisasi merupakan pengaktifan sel ovum oleh sperma dan secara
genetik merupakan pemasukkan faktor-faktor hereditas pejantan ke ovum
(Toelihere1985).
Hanya beberapa lusin sel sperma yang dapat mendekati ovum dan hanya
beberapa sperma yang bisa masuk ke dalam zona pelusida yang akhirnya hanya satu buah
sperma yang bisa membuahi ovum (Nalbandov1990). Begitu pula pada unggas, setelah
terjadi perkawinan sperma akan mencapai infundibulum dan akan menembus membran
vitelina ovum untuk bertemu sel benih betina, sehingga terbentuk calon embrio. Telur
yang dibuahi disebut telur fertil dan telur yang tidak dibuahi disebut telur infertil atau
telur konsumsi.

Gambar 4. Fertilisasi Pada Ayam

4. Irama Bertelur
Irama bertelur merupakan suatu proses yang melibatkan sistem hormon dan
sistem syaraf karena adanya variasi panjang siang dan malam yang mempengaruhi
ovulasi dan peneluran. Lama penyinaran tertentu akan mempengaruhi sistem syaraf
sehingga mengakibatkan pelepasan hormon untuk merangsang terjadinya ovulasi.
Ovulasi merupakan suatu proses yang penting untuk suatu awal produksi telur.
Manajemen pengaturan cahaya sangat mempengaruhi proses integral dalam
produksi telur. Pengaturan pemberian cahaya dalam manajemen ayam petelur dengan
waktu 12 sampai 14 jam dalam satu hari yang terbagi menjadi waktu gelap dan waktu
terang, mengingat ayam mempunyai sifat sangat sensitif terhadap waktu penyinaran.
Waktu penyinaran ini mempengaruhi sifat mengeram, dewasa kelamin, periode bertelur,
produksi telur dan tingkah laku sosial perkawinan.
Penerimaan cahaya pada ayam akan mengakibatkan rangsangan terhadap syaraf
pada syaraf optik, yang dilanjutkan oleh syaraf reseptor ke hipothalamus untuk
memproduksi hormone releasing factor (HRS). Hormone releasing factor selanjutnya
merangsang pituitaria pars anterior untuk menghasilkan FSH dan LH. HRS juga
merangsang pituitaria pars posterior untuk menghasilkan oksitosin.
5. Pengaruh Hormon Terhadap Peneluran
FSH berpengaruh terhadap perkembangan folikel pada ovarium sehingga
mempunyai ukuran yang tertentu. Pada saat perkembangan ovum FSH merangsang
ovarium untuk mensekresikan estrogen yang akan mempengaruhi perkembangan
pematangan oviduk untuk dapat mensekresikan kalsium, protein, lemak, vitamin, dan
substansi lain dari dalam darah untuk pembentukan komponen telur. Hasil sekresi
komponen telur tersebut akan mengakibatkan terjadinya perkembangan telur pada
oviduk, sehingga dihasilkan telur utuh di dalam oviduk setelah didahului proses ovulasi
(Nalbandov1990).
Ovum akan berkembang terus sehingga terjadi pematangan ovum. Proses
pematangan ovum disebabkan adanya LH. Setelah ovum masak maka selaput folikel akan
pecah dan ovum jatuh ke dalam mulut infundibulum (peristiwa ovulasi), proses ovulasi
ini juga disebabkan peranan LH (Nalbandov1990). Proses pembentukan komponen telur
di dalam oviduk berlangsung dengan adanya hormon estrogen, juga terjadi pembentukan
granula albumen oleh stimulasi dari hormon androgen dan progresteron sampai tercapai
telur sempurna (Nalbandov1990). Setelah telur sempurna, makapituitaria pars
posterior akanmensekresikan oksitosin yang merangsang oviduk sehingga
terjadi ovoposition dan merangsang uterus untuk mengeluarkan telur pada proses
peneluran.

C. Kelainan Urogenital dan Reproduksi Ayam

Salah satu penyakit yang dapat menyerang ayam ras dan ayam kampung adalah
infectious bronchitis (IB). Penyakit IB adalah salah satu penyakit respirasi dan urogenital
pada ayam (Cavanagh & Naqi 1997).Penyakit IB disebabkan oleh virus yang termasuk ke
dalam famili Coronaviridae dan hanya memiliki satu genus, yaitu Coronavirus (Murphy
dan Kingsbury, 1990).Virus infectious bronchitis berbentuk pleomorfik. Virus ini
mempunyai amplop berdiameter sekitar 120 nm dengan club-shaped surface projections
(spikes) yang panjangnya sekitar 20 nm. Spike tidak dikemas seperti roadshapes dari
paramyxovirus. Virus IB mengandung tiga protein virus utama yang spesifik yaitu spike
glycoprotein (S), glikoprotein membran (M), dan protein nucleocapsid internal (N).
Protein yang keempat adalah small membran protein (sM) yang menghubungkan amplop
dengan virion. Protein S terdiri dari dua atau tiga kopi yang masing-masing mempunyai
dua glikopolipeptida S1 dan S2 (berturut-turut sekitar 520-620) asam amino. Perbedaan
antigenik di antara serotipe virus IB berkaitan dengan adanya variasi struktural dari
protein S, yaitu suatu struktur peplomerik pada permukaan amplop virus. Subunit S1
menunjukkan variasi urutan nukleotida yang lebih tinggi dibandingkan dengan subunit S2
(Dharmayanti et al. 2005).

Gambar 5. Struktur dan Gambaran elektron mikroskop virus IB

Gejala Klinis
Tanda-tanda klinis dari infeksi bervariasi dan tergantung pada usia burung, status
kekebalan tubuh inang, dan virulensi virus.
a) Gejala umum:
Kehilangan nafsu makan, depresi, berkerumun, batuk, terengah-engah, dyspnoea,
alas kandang basah, diare, diuresis.
b) Gejala klinis anak ayam:
Tanda-tanda klinis termasuk batuk, bersin, ngorok, ingus hidung, dan eksudat berbusa
di mata. Anak ayam yang terkena dampak tampil murung dan akan cenderung
meringkuk di dekat sumber panas. Pada kawanan yang terkena dampak, semua
burung biasanya akan menunjukkan gejala klinis dalam waktu 36 sampai 48 jam.
Penyakit klinis biasanya berlangsung selama 7 hari. Kematian biasanya sangat
rendah, kecuali adanya komplikasi dengan faktor lain seperti M. gallisepticum,
imunosupresi, kualitasudara yang buruk, dll.

c) Gejala Klinis ayam dewasa:


Tanda-tanda klinis batuk, bersin dan ngorok dapat diamati. Penurunan produksi telur
dari 5 sampai 10 % yang berlangsung selama 10 sampai 14 hari. Namun, jika ada
faktor komplikasi, penurunan produksi mungkin mencapai sebesar 50 %. Telur yang
dihasilkan setelah unggas terinfeksi mungkin memiliki kulit tipis, bentuk tidak
teratur, kecil, albumen encer. Biasanya pigmen cokelat kulit telur juga hilang.
Dalam kasus komplikasi yang parah, ayam dapat terkena airsacculitis. Ayam yang di
vaksinasi dan bereaksi parah karena vaksin basi atau terinfeksi selama dua minggu
pertama mungkin memiliki kerusakan permanen di oviduct, sehingga menghasilkan
ayam dengan produksi telur yang buruk. Dalam beberapa tahun terakhir, strain
nephropathogenic telah menjadi lebih umum pada unggas petelur. Strain ini dapat
menyebabkan kematian tinggi selama infeksi atau lama setelah terjadi kerusakan
ginjal yang berkembang menjadi urolitiasis.

Gambar 6. Cangkang telur yang tipis akibat virus IB

Patogenesa Penyakit IB
Patogenesa penyakit IB Penularan penyakit IB terjadi melalui kontak langsung
antara ayam yang yang sakit dengan ayam lainnya. Kontak tidak langsung dapat
terjadi melalui sekresi mukus dari ayam yang sakit. Infeksi pada ayam muda
menyebabkan penyakit pernapasan ringan, tetapi berakibat penurunan daya tahan
tubuh dan pertumbuhan. Akibat penurunan daya tahan tubuh dan gangguan
pernafasan tersebut, memudahkan terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri yang ada
di lingkungan kandang. Kejadian penyakit dapat diperburuk oleh manajemen yang
kurang baik, stres akibat iklim, dan serangan mikoplasmosis. Pada ayam dewasa
penyakit IB tidak menyebabkan kematian, tetapi pada ayam berumur kurang dari
enam minggu dapat menyebabkan kematian (Anonimous 2008). Tingkat mortalitas
pada anak ayam sangat tinggi (100%) tapi pada ayam muda sampai umur tiga minggu
hanya sekitar 30% (Anonimous 2010).
Virus IB masuk kedalam tubuh melalui udara dan menempel pada sel-sel mukosa
saluran pernafasan. Pada sel epitel mukosa saluran pernafasan virus melekat di sel
epitel bersilia, di dalam sel tersebut virus bereplikasi memperbanyak diri. Virus yang
telah diperbanyak akan keluar dari sel epitel masuk ke pembuluh darah sehingga
virus menyebar ke seluruh organ tubuh, kondisi tersebut dikenal sebagai viremia
primer. Akibat keluarnya partikel virus dari sel epitel menyebabkan sel epitel lisis
semakin banyak sel epitel lisis menyebabkan mukosa saluran pernafasan mengalami
nekrosa. Masuknya virus dan kerusakan mukosa menimbulkan reaksi peradangan dan
menginduksi terbentuknya lendir, kondisi tersebut mengakibatkan timbulnya gejala
klinis berupa batuk dan bersin. Penyebaran virus saat viremia primer membuat virus
IB dapat menembus sel-sel ginjal menyebabkan pembengkakan dan urolithiasis di
ginjal. Secara mikroskopik, asam urat bisa ditemukan di tubulus ginjal atau ureter.
Pada sistem reproduksi, viremia menyebabkan virus masuk ke sel-sel epitel di
oviduct sehingga menyebabkan gangguan produksi telur dan penurunan kualitas telur
(Anonimous 2010).

(a)

(b)

(c) (d)
Gambar 7. a) dan b) kista pada oviduct, c) ginjal pucat dan bengkak, d) eksudat dan
caseous pada brochi

Pencegahan
Vaksinasi dilakukan secara teratur sesuai dengan petunjuk pembuat vaksin atau
didasarkan atas hasil uji titer antibodi. Sebagai garis pertahanan kedua, ayam di daerah
masalah lB harus divaksinasi dengan vaksin hidup yang dimodifikasi untuk memberikan
perlindungan. Banyaknya serotipe diidentifikasi di lapangan menjadi tantangan dalam
merancang program vaksinasi yang efektif. Supaya dapat melindungi ayam
terhadapserotype tertentu, diperlukan identifikasi serotipe yangada di wilayah tersebut
serta untuk menentukan potensi lintas perlindungan dari vaksin yang tersedia.
Pencegahan IB yang terbaik dicapai melalui program biosekuriti yang efektif antara lain
dengan cara melakukan sanitasi kandang dan lingkungan termasuk mencegah banyak
tamu dan hewan liar masuk kandang. Usaha peternakan dikelola dengan baik sehingga
memungkinkan suasana nyaman bagi ayam, antara lain jumlah ayam pada suatu luasan
kandang tidak terlalu padat, ventilasi kandang cukup dan sedapat mungkin dilakukan
sistem all in all out
Pengobatan
Belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan infectious bronchitis. usaha
yang dapat dilakukan adalah membuat kondisi badan ayam cepat membaik dan
merangsang nafsu makannya dengan memberikal tambahan vitamin dan mineral serta
mencegah infeksi sekunder dengan pemberian antibiotik. Dapat pula diberikan
pemanasan tambahan pada kandang.

SIMPULAN
Sistem ekskresi adalah suatu sistem yang menyelenggarakan proses pengeluaran
zat-zat sisa. Saluran ekskresi terdiri dari ginjal yang menyatu dengan saluran kelamin
pada bagian akhir usus (kloaka). Fungsi sistem ekskresi pada unggas adalah :
Pemeliharaan keseimbangan elektrolit, Pemeliharaan keseimbangan air. Pembuangan
limbah khususnya produk dari metabolisme nitrogen(kecuali karbon dioksida). Sistem
reproduksi adalah suatu rangkaian dan interaksi organ dan zat dalam organisme yang
dipergunakan untuk berkembang biak.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Vaksin IB inaktif. http://www. Pustaka.litbang.deptan.go.id [13
Februari 2011].
Dharmayanti I, Asmara W, Artama WT, Indriani R, Darminto. 2005. Hubungan
kekerabatan virus infectious bronchitis isolat lapang Indonesia. J
Bioteknologi Pertanian 10: 15- 23.
Cavanagh D, Naqi SA. 1997. Infectious bronchitis. Di dalam: Calnek BW, Barnes
HJ, Bearol CW, Daugald LRM, and Saif YM, editor. Disease of Poultry. Ed
ke-10. Lawa: Lawa University Press.
Murphy FA,Kingsbury DW. 1990. Virus Toxonomy in Fields Virology. 2nd. ed.,
vol. 1 (eds. Fields BN, Kimpe DM, Chanock RB, Hirsch MS, Melnick JL,
Monath TP, and Roizman B). New york: Raven Press. p. 935.
Blakely, J. dan D. H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan Edisi ke-4. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press
Ganong. 2003. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Hartanto, 2010.Pengaruh Ranggas Paksa (Forced Molting) Metode PuasaDan
Suplementasi Tepung Bekicot (Achatina Fulica) PadaRansum
Terhadap Bobot Ovarium Dan PertumbuhanFolikel Yolk Ayam
Arab (Gallus Turcicus). Malang: UIN Malang.
Horhoruw, W.M. 2012 Ukuran Saluran Reproduksi Ayam Petelur Fase Pullet
Yang diberi Pakan Dengan Campuran Rumput (Gracilaria edulis).
Agrinimal. Vol 2 (2): 75-80
Jasin, Maskoeri. 1984. Sistematik Hewan. Surabaya: Sinar Jaya.
Nalbandov, A.V. 1990. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas. Jakarta:
Universitas Indonesia Press.
Partodiharjo, 1992.Ilmu Reproduksi Ternak. Jakarta: Mutiara Sumber Widya.
Sidadolog, J.H.P. 2001. Manajemen Ternak Unggas. Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada
Suprijatna, E., dan N. Dulatip. 2005 Pengaruh taraf protein dalam ransum pada
periode pertumbuhan terhadap performans ayam ras petelur tipe
medium saat awal peneluran. Jurnal Pengembangan Peternakan
Tropis. Vol 29: 33-38.
Toelihere, Mozes. R.1981. Fisiologi Reproduksi pada ternak. Bandung:
PT Angkasa
Yuanta, T. 1999. Dasar Teknik Unggas. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Yuwanta, Tri. 2004. Dasar Ternak Unggas. Yogyakarta: Kanisius.
Zuprizal & Kamal. 2005. Ransum Unggas. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Guyton A.C. and J.E. Hall 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9.
Jakarta: EGC.