Anda di halaman 1dari 6

The 2nd University Research Coloquium 2015 ISSN 2407-9189

MANAJEMEN KESEHATAN JIWA BERBASIS KOMUNITAS MELALUI


PELAYANAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA KOMUNITAS
DI WILAYAH DINAS KESEHATAN KABUPATEN MAGELANG

Sambodo Sriadi Pinilih1, Retna Tri Astuti2, Muh. Khoirul Amin3


1
Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Magelang
email : fazakupinilih@gmail.com
2
Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Magelang
email : nana.media1@gmail.com
3
Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Magelang
email : iroel.faza2008@yahoo.com

ABSTRACT
Based on Riskesdas at 2007, Magelang district are in the third rank for prevalence of mental
disorders in the population Regency / City in Central Java province. Magelang district was ranked
fourth highest for data that deprived people with mental disorders in regencies / cities in Central
Java (Bakorwil 2) condition until December 2012 reached 32 cases. Magelang Regency has a
variety of potential that can be empowered to support improve mental health services in the
community, among others, by having 29 health centers as the spearhead of the provision of health
services in the community. There are two public hospitals and one mental hospital, and there are
some private hospital and private health clinics. Magelang district health centers in the region
have had the nurse in charge of the community mental health program, but the program is not
running and there is no allocation of funds related to community mental health programs. Efforts
are undertaken to improve mental health nursing services in the community in the form of
socialization of mental health and nursing intervention, training for nurses responsible for the
mental health program in health centers and training cadres Mental Health (KKJ), as well as the
provision of counseling on mental health for the community, especially for families of people with
mental disorders. The results obtained from the implementation of the program which has trained
29 health center nurse in charge of mental health programs, has trained 231 people KKJ, detected
85 cases ODGJ health centers in 6 regions designated as target areas. And thereafter the program
period 2014-2015 resulted in the level of knowledge KKJ 81% in the high category and 84.5%
have a good attitude towards mental health issues. While knowledge is high for understanding the
family in caring ODGJ (78.9%).

Keywords: Mental health community, Cadre of Mental Health

1. PENDAHULUAN Hal ini dianggap serius karena masalah


Penderita gangguan jiwa mengalami kesehatan jiwa akan mempengaruhi
peningkatan yang signifikan setiap tahun di produktivitas dan kualitas kesehatan
berbagai belahan dunia. Berdasarkan data dari perseorangan maupun masyarakat,
World Health Organization (WHO) dalam menimbulkan penderitaan bagi individu dan
Yosep (2013), sekitar 450 juta orang di dunia beban berat bagi keluarga baik mental maupun
mengalami gangguan jiwa yang terdiri dari materi karena penderita menjadi tidak
150 juta mengalami depresi, 90 juta gangguan produktif (Maramis, 2008). Hasil studi World
zat dan alcohol, 38 juta epilepsy, 25 juta Bank menunjukkan bahwa hari-hari produktif
skizofrenia serta 1 juta melakukan bunuh diri menjadi hilang atau Dissability Adjusted Life
setiap tahun. Berarti setidaknya terdapat satu Years (DALYs) akibat msalah kesehatan jiwa
dari empat orang mengalami masalah mental yang mencapai 8,1% dari Global Burden
dan gangguan kesehatan jiwa, sehingga Disease. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding
menjadi masalah yang serius diseluruh dunia. dari masalah kesehatan lainnya seperti
585
The 2nd University Research Coloquium 2015 ISSN 2407-9189
penyakit pernapasan, kanker, penyakit jantung handal agar promosi, prevensi, kurasi dan
atau penyakit keganasan. rehabilitasi terhadap masyarakat yang
Prevalensi masalah kesehatan jiwa di menderita sakit, berisiko sakit dan masyarakat
Indonesia sebesar 6,55%. Angka ini tergolong yang sehat dapat dilakukan secara menyeluruh,
sedang dibandingkan dengan negara lainnya. terutama pelayanan kesehatan jiwa. Sehingga
Berdasar data dari 33 Rumah Sakit Jiwa (RSJ) akan menunjang terciptanya masyarakat yang
yang ada diseluruh Indonesia menyebutkan sehat secara menyeluruh baik secara fisik
terdapat sekitar 2,5 juta orang gangguan jiwa maupun mental emosional.
berat. Fakta menarik mengenai gangguan jiwa
di Indonesia berdasar hasil Survei Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 2. KAJIAN LITERATUR DAN
menunjukkan bahwa prevalensi gangguan jiwa PENGEMBANGAN HIPOTESIS
berat atau dalam istilah medis disebut Gambaran kondisi kesehatan jiwa secara
psikosis/skizofrenia di daerah pedesaan nasional terdapat 0,17% penduduk di
ternyata lebih tinggi dibandingkan daerah Indonesia mengalami Gangguan Jiwa Berat
perkotaan. Di daerah pedesaan, proporsi (Skizofrenia) atau secara absolute terdapat
rumah tangga dengan minimal salah satu lebih dari 400 ribu jiwa dan 6% prevalensi
anggota rumah tangga mengalami gangguan Gangguan Mental Emosional (GME). Jawa
jiwa berat dan pernah mengalami pemasungan tengah merupakan salah satu dari 12 provinsi
mencapai 18,2 %. Sementara di daerah yang mempunyai prevalensi gangguan jiwa
perkotaan hanya mencapai 10,7%. berat dan salah satu dari 9 Provinsi yang
Letak geografis Indonesia yang terdiri mempunyai prevalensi GME, melebihi angka
dari daerah kepulauan dan pegunungan nasional. Hal ini kemungkinan dikarenakan
terpencil akan menyulitkan masyarakat untuk penduduk di daerah Jawa Tengah khususnya
mendapat akses pelayanan kesehatan jiwa. dan di Indonesia pada umumnya mayoritas
Kondisi ini jika dibiarkan berlanjut akan tinggal di daerah pedesaan atau berada di
semakin memarginalkan permasalahan daerah rawan bencana dan kurang
kesehatan jiwa masyarakat Indonesia yang mencukupinya pemenuhan fasilitas dan
pada akhirnya dapat mengurangi potensi pelayanan kesehatan bagi masyarakat
Sumber Daya Manusia Indonesia dan khususnya kesehatan jiwa.
mengakibatkan banyak masalah psikososial di Berdasarkan Riskesdas tahun 2007 pada
komunitas seperti yang ditunjukkan dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional pada
meningkatnya insiden bunuh diri, adiksi zat Penduduk Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa
psikoaktif, kekerasan, dan banyaknya Tengah dengan hasil sebagai berikut:
penderita psikotik kronik yang
menggelandang. Maka dengan demikian, Tabel 1. Penderita Gangguan Jiwa
perlu dilakukannya upaya terciptanya Kabupaten/Kota di Jawa Tengah
kesehatan yang memadai di masyarakat, yang
mencakup 3 kategori yaitu Pelayanan No Kabupaten GME (%)
kesehatan jiwa yang terintegrasi pada
pelayanan kesehatan umum (primer, sekunder 1. Banjarnegara 30,5%
dan tersier), pelayanan kesehatan jiwa berbasis 2. Pemalang 22,3%
masyarakat dan pelayanan kesehatan jiwa di
institusi khusus (RSJ, Bagian Psikiatri RS 3. Kabupaten 19,7%
Pendidikan dan klinik-klinik superspesialis). Magelang
Pelayanan kesehatan jiwa berbasis
masyarakat sebagai upaya untuk meningkatkan 4. Brebes 19,5%
kualitas pelayanan kesehatan jiwa di 5. Purbalingga 18,8%
masyarakat dengan memaksimalkan seluruh
potensi yang ada di masyarakat, baik warga 6. Banyumas 18,0%
masyarakat sendiri, tokoh masyarakat, dan 7. Cilacap 17,7%
profesi kesehatan mulai dari Puskesmas
sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan 8. Salatiga 14,1%
kepada masyarakat. Persiapan tenaga yang

586
The 2nd University Research Coloquium 2015 ISSN 2407-9189

Nampak dari tabel diatas bahwa akan berdampak serius dalam upaya pelayanan
kabupaten Magelang menduduki rangking kesehatan jiwa di masyarakat. Padahal
ketiga dalam prevalensi gangguan mental. masyarakat perlu untuk dimandirikan dalam
Kabupaten Magelang berada pada peringkat 4 mengatasi masalahnya sehingga dapat
terbanyak untuk data penderita gangguan jiwa dipertahankan kondisinya, yang sehat akan
yang dipasung di Kabupaten/Kota di Jawa tetap sehat, yang berisiko akan menjadi sehat
Tengah (Bakorwil 2) kondisi sampai bulan dan yang mengalami gangguan kesehatan jiwa
Desember 2012 mencapai 32 kasus. Meskipun akan dapat hidup mandiri di masyarakat. Maka
kesemuanya sudah mendapatkan perawatan di untuk itu penting kiranya dilakukan alih
RSJ, namun nantinya apabila telah terkendali pengetahuan dan pelatihan tentang
perilakunya maka mereka akan kembali ke keperawatan kesehatan jiwa yang berbasis
masyarakat. Muncul kekuatiran apabila masyarakat bagi perawat puskesmas agar
penanganan di masyarakat tidak memadai baik perawat puskesmas dapat memberikan asuhan
dari segi fasilitas dan Sumber Daya Manusia keperaw atan kesehatan jiwa masyarakat
(SDM) maka akan menimbulkan kekambuhan dengan lebih baik sesuai dengan
pada penderita gangguan jiwa. Ini berarti kompetensinya.
gangguan jiwa di kabupaten Magelang Mengingat luasnya wilayah di
merupakan masalah serius yang harus Kabupaten Magelang, dan hanya memiliki 1
mendapat perhatian dari berbagai pihak terkait. perawat penanggungjawab program kesehatan
Kabupaten Magelang memiliki berbagai jiwa di masyarakat untuk tiap Puskesmas,
potensi yang bisa diberdayakan untuk maka perlunya dibentuk Kader Kesehatan Jiwa
mendukung meningkatan pelayanan kesehatan (KKJ) di tiap Desa. Serta perlunya melibatkan
jiwa di masyarakat antara lain dengan berbagai pihak terkait untuk mendukung
memiliki 29 Puskesmas sebagai ujung tombak program peningkatan pelayanan kesehatan
pemberian pelayanan kesehatan di masyarakat. jiwa di masyarakat.
Terdapat 2 RSU dan 1 RSJ, serta ada beberapa
Rumah Sakit swasta dan klinik-klinik 3. METODE PENELITIAN
kesehatan swasta. Puskesmas di wilayah Pengambilan data untuk menghasilkan
kabupaten Magelang telah memiliki perawat kesimpulan mengenai pengetahuan kader dan
penanggung jawab program kesehatan jiwa keluarga tentang perawatan ODGJ
masyarakat, akan tetapi program belum menggunakan rancangan penelitian metode
berjalan dan belum ada pengalokasian dana kuantitatif dan desain yang digunakan adalah
terkait program kesehatan jiwa masyarakat. cross sectional. Analisis berupa analisis
Meskipun pelayanan kesehatan jiwa deskripif dan korelasional dengan analisis
telah diatur dalam beberapa peraturan yang univariat dan bivariate. Untuk uji korelasi
memungkinkan bagi daerah untuk menggunakan analisis spearmanrank. Lokasi
mengembangkan potensi lokalnya, akan tetapi penelitian di 6 puskesmas yang dibentuk KKJ
penerapan pelayanan kesehatan jiwa di Kabupaten Magelang atau di Wilayah
dilapangan masih terpusat pada pelayanan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang
kesehatan jiwa di institusi khusus. melalui kerjasama antara Fakultas Ilmu
Pemahaman bahwa pelayanan kesehatan jiwa Kesehatan Universitas Muhammadiyah
dapat dilakukan di sarana kesehatan yang Magelang, Dinas Kesehatan Kabupaten
tersedia seperti puskesmas, balai kesehatan Magelang dan Rumah Sakit Prof. Dr. Soerojo
masyarakat dan Rumah Sakit Umum (RSU) Magelang selama 6 bulan, periode 2014
ternyata sangat rendah, bahkan pemahaman sampai dengan 2015 dengan managemen
petugas kesehatan terkait kesehatan jiwa dan kesehatan jiwa berbasis komunitas yang
penanganannya juga masih rendah. Rata-rata dilakukan dalam berbagai tahapan dengan
penderita gangguan jiwa di masyarakat menggunakan pendekatan pelayanan kesehatan
mengalami kondisi kurang pengetahuan dan jiwa di masyarakat. Adapun metode yang
kondisi miskin secara financial. digunakan akan disampaikan didalam tabel
Kurangnya pengetahuan dan berikut ini:
keterampilan tenaga kesehatan di Puskesmas,
serta kurangnya pengetahuan masyarakat
dalam menangani masalah kesehatan jiwa,
587
The 2nd University Research Coloquium 2015 ISSN 2407-9189
5. Pendampingan dilakukan oleh Insitusi
No Metode Pendidikan di wilayah Kabupaten
Magelang, Dinas Kesehatan Kabupaten
1 Inovasi Konstruksi Kurikulum Magelang, dan Rumah Sakit Jiwa di
Magelang. Pendampingan yang dilakukan
2 Koordinasi dan rapat kerja pada Perawat Puskesmas mulai penyusunan
program sampai dengan monitoring dan
3 Sosialisasi dan Workshop
evaluasi program kerja. Sedangkan
pendampingan KKJ dilakukan mulai
4 Pelatihan
deteksi dini kasus masalah kesehatan jiwa
di masyarakat sampai dengan pemberian
5 Pendampingan
materi tentang penanganan dan perawatan
penderita gangguan jiwa di masyarakat.
6 Fokus Group Discusstion
6. Focus Group Discusstion (FGD) dilakukan
pada KKJ untuk meningkatkan pemahaman
7 Monitoring dan Evaluasi
tentang konsep gangguan jiwa secara
umum meliputi cara melakukan deteksi
Penjabaran untuk tiap-tiap metode adalah atau pengkajian warga yang mengalami
sebagai berikut: gangguan jiwa, masalah yang menyebabkan
1. Inovasi Konstruksi Kurikulum seseorang akan berisiko menagalami
Pembelajaran, dilakukan di Insititusi gangguan jiwa, dan pada warga yang dalam
Pendidikan Keperawatan dalam hal ini kondisi sehat. Serta penanganan pada
dimasukkannya materi managemen kasus ODGJ, teknik penyuluhan pada
Community Mental Health Nursing warga tentang kesehatan jiwa.
(CMHN) dalam pembelajaran di mata 7. Monitoring dan Evaluasi dilakukan secara
kuliah Keperawatan Jiwa. Rancangan rutin untuk menilai keberhasilan program.
belajar tidak hanya dilakukan dengan Metode ini dilakukan secara bersama-sama
metode ceramah saja akan tetapi juga antara institusi Pendidikan, Dinas
dengan metode praktek di laboratorium dan Kesehatan Kabupaten Magelang dan
di lapangan/daerah binaan. Dengan bidang kesehatan jiwa masyarakat RSJ
maksud mempersiapkan SDM yang unggul Magelang.
dan terampil dalam penanganan masalah
kesehatan jiwa di masyarakat. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Koordinasi dan Rapat Kerja dilakukan Hasil yang dicapai dalam pelaksanaan
dengan Dinas Kesehatan Kabupaten program manajemen pelayanan kesehatan jiwa
Magelang terutama di Bidang Pelayanan berbasis komunitas yaitu: Melalui kerjasama
Kesehatan. Koordinasi yang dilakukan anatara Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
adalah menyusun program bersama dan Muhammadiyah Magelang, Dinas Kesehatan
bekerja sama dalam pengembangan Kabupaten Magelang dan Rumah Sakit Prof.
manajemen pelayanan kesehatan jiwa Dr. Soerojo Magelang. Dana kegiatan berasal
berbasis komunitas. dari dana APBD kabupaten Magelang periode
3. Sosialisasi dan Workshop dilakukan pada 2014 untuk 5 Puskesmas dan 1 Puskesmas
29 orang Kepala Puskesmas dan 29 menggunakan anggaran internal dari
Perawat Puskesmas penanggung jawab Puskesmas.
program kesehatan jiwa. Di wilayah Dinas Kerjasama lintas program menghasilkan
Kesehatan Kabupaten Magelang. 29 orang perawat penanggungjawab program
4. Pelatihan dilakukan pada 29 orang Perawat kesehatan jiwa di wilayah Dinas Kesehatan
Puskesmas di Wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang yang terlatih. Kemudian
Kabupaten Magelang. Serta dianjutkan dilanjutkan dengan pembentukan KKJ di 6
dengan pembentukan dan pelatihan KKJ di Puskesmas dilanjutkan pemberian pelatihan
desa yang ditentukan oleh masing-masing pada 231 orang KKJ yang dilakukan secara
Puskesmas sebagai perintis desa peduli bertahap untuk tiap Puskesmas. Karakteristik
kesehatan jiwa masyarakat. KKJ dari 6 Puskesmas yang terlatih yaitu:
Kebanyakan berjenis kelamin perempuan

588
The 2nd University Research Coloquium 2015 ISSN 2407-9189

(86,2% ), mayoritas tingkat pendidikannya Peningkatan pengetahuan dapat melalui


SMP (39,7%). berbagai cara yaitu dengan adanya penyuluhan
Berdasarkan hasil deteksi dini masalah dan sumber informasi. Menurut Brain (2008)
kesehatan jiwa yang dilakukan oleh KKJ, dari menyatakan bahwa penyuluhan kesehatan
6 wilayah Puskesmas yang telah dilatih yaitu gabungan kegiatan yang berlandaskan
diperoleh sejumlah 85 Orang Dengan prinsip belajar mencapai suatu keadaan dimana
Gangguan Jiwa (ODGJ). Dan setelah individu, kelompok, keluarga atau masyarakat
dilakukan pendampingan oleh mahasiswa ingin hidup sehat dan tahu cara melakukannya.
program studi Keperawatan Universitas Pemberian pengetahuan pada keluarga ODGJ
Mummadiyah Magelang selama kurun waktu juga akan menurunkan angka kekambuhan
2014-2015 melalui program penyegaran kader seperti yang disampaikan oleh Mc gaslan
dengan diberikan materi-materi terkait (2004), dan Huxlery (2000) dalam Frisch
kesehatan jiwa dan penanganannya, serta (2006). Karena bila pengetahuan keluarga
penyuluhan dan kunjungan keluarga ODGJ, baik maka dalam merawat ODGJ pun akan
maka diperoleh hasil tingkat pengetahuan KKJ baik.
81% dalam kategori tinggi dan 84,5%
mempunyai sikap baik. Tingkat pendidikan 5. SIMPULAN
keluarga ODGJ mayoritas SD (49,1%). Melihat berbagai hasil evaluasi yang baik
Sedangkan pengetahuan keluarga tergolong dari pelaksanaan program manajemen
tinggi untuk pemahaman dalam merawat pelayanan kesehatan jiwa berbasis komunitas
ODGJ (78,9%). melalui pelayanan keperawatan kesehatan jiwa
Banyak factor yang mempengaruhi komunitas, maka dapat disimpulkan bahwa
pengetahuan, sikap dan perilaku seseorang, program tersebut dapat meningkatkan
berdasarkan data-data diatas menunjukkan pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan
bahwa pendidikan rendah tidak selalu berarti jiwa, sehingga berdampak pada kepedulian
berpengetahuan rendah, peningkatan masyarakat akan kesehatan jiwa. Dampak
pengetahuan tidak mutlak hanya diperoleh di positif lain adalah meningkatnya pengetahuan
pendidikan formal, tetapi bisa juga diperoleh keluarga dalam perawatan ODGJ sehingga
dari pendidikan non formal (Notoatmodjo, menimbulkan sikap dan perilaku yang baik
2010). Melalui pelatihan KKJ dan penyuluhan dalam perawatan ODGJ di rumah. Hal
pada keluarga dan masyarakat merupakan tersebut dapat mencegah kemungkinan
upaya untuk meningkatkan pengetahuan kekambuhan sehingga masyarakat yang
tentang kesehatan jiwa masyarakat. mengalami masalah kejiwaan tidak perlu
Pengetahuan dan sikap berhubungan dirujuk ke pelayanan kesehatan khusus.Dan
sangat konsisten seperti yang dikemukakan mencegah kekambuhan pada ODGJ pasca
dalam teori Rosenberg dalam Azwar (2008) perawatan di unit pelayanan khusus (RSJ).
yaitu, bila pengetahuan berubah maka akan Saran dari pengabdian ini adalah tindak
diikuti perubahan sikap. Maka pemberian lanjut program manajemen pelayanan
edukasi pada masyarakat diharapkan akan kesehatan jiwa berbasis komunitas oleh Dinas
merubah sikap masyarakat terhadap cara Kesehatan Kabupaten Magelang.Dengan
pandang dan penanganan masalah kesehatan menambah jumlah kader kesehatan jiwa yang
jiwa di masyarakat. terlatih.Dan menambah area Puskesmas untuk
Menurut Videbeck (2008) keluarga dikembangkan menjalankan manajemen
merupakan kunci dalam penyembuhan pada kesehatan jiwa di masyarakat ini.
gangguan jiwa dan keluarga menjadi yang Meningkatkan peran Tim Pelaksana
terpenting dalam penyembuhan meski keluarga Kesehatan Jiwa Masyarakat di wilayah
tidak selalu menjadi sumber positif tentang Kabupaten Magelang untuk melakukan
kesehatan jiwa. Didukung oleh penelitian kerjasama lintas program, sehingga dapat
(Wawan dan Dewi, 2010) pengetahuan memanfaatkan semua unsur terkait dalam
keluarga tentang masalah kesehatan akan pengembangan program manajemen pelayanan
menentukan bagaimana keluarga mengambil kesehatan jiwa di masyarakat.
keputusan dalam menyelesaikan masalahnya Bekerjasama dengan Institusi pendidikan dan
dan pengetahuan penting bagi keluarga dalam Institusi pelayanan seperti RS dan klinik-klinik
merawat pasien gangguan jiwa. pelayanan kesehatan di wilayah
589
The 2nd University Research Coloquium 2015 ISSN 2407-9189
kabupaten/kota Magelang untuk menunjang
unsur SDM yang dibutuhkan oleh masyarakat
dalam pengembangan program.

6. REFERENSI

Azwar, S. (2008).Sikap Manusia: Teori Dan


Pengukurannya. Ed.2. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar

Depkes.(2013). Riset Kesehatan Dasar Tahun


2013.Jakarta : Balitbangkes Depkes. RI

Dinkes Jateng. (2015). Laporan Hasil Riset


Kesehatan Dasar Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2007. Diakses tanggal 5 Februari 2015

Maramis, W.F. (2008). Catatan Ilmu


Kedokteran Jiwa. Surabaya :
AirlanggaUniversity Press

Notoatmodjo, S. (2010).Pendidikan dan


Perilaku Kesehatan.Jakarta : PT. Rineka Cipta
Videbeck, L.S. (2008). Buku Ajar
Keperawatan Jiwa. EGC, Jakarta.

Wawan, A. dan Dewi, M. (2010). Teori dan


Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
Manusia.Yogyakarta : Nuha Medika

Yosep, Iyus. (2013). Keperawatan Jiwa.


Refika Aditama. Bandung.

590