Anda di halaman 1dari 80

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

BLOK PANCA INDERA

Oleh :
KELOMPOK B-16

Muhammad Rifki Faiz 1102012180


Maya Dwi Anggraeni 1102011157
Nabilah Fajriah Barsah 1102012187
Novita Fitri 1102012201
Putri Handalasakti Ayogo 1102012216
Relanfa Farando 1102012234
Reza Ardi Wibowo 1102012242
Rizal Fadhlurrahman 1102012250
Selvia Zurni 1102012268
Tesha Islami Monika 1102012293

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


2015/2016

1Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


DAFTAR ISI

Daftar Isi........................................................................................................................................... 2
Praktikum Fisiologi I........................................................................................................................ 3
I. Pengecapan.......................................................................................................................... 4
II. Penghidu.............................................................................................................................. 11
Praktikum Fisiologi II....................................................................................................................... 16
I. Lensa Tipis........................................................................................................................... 17
II. Penglihatan I : Uji Visus dan Buta Warna............................................................................ 25
Uji Visus Mata..................................................................................................................... 25
Tes Buta Warna.................................................................................................................... 30
III. Penglihatan II: Perimeter..................................................................................................... 34
Praktikum Fisiologi III...................................................................................................................... 43
I. Tes Fungsi Pendengaran dengan Garputala...................................................................43
II. Pendengaran dan Keseimbangan...................................................................................45
Audiometer .................................................................................................................49
III.Sikap dan Keseimbangan Badan............................................................................................ 54
Percobaan Pada Katak.......................................................................................................... 56
Percobaan Pada Manusia..................................................................................................... 59
IV.Percobaan Keseimbangan Pada Manusia............................................................................... 60
Percobaan dengan Kursi Barany 1....................................................................................... 63
Tes Penyimpangan Penunjukkan (Pas Pointing Test of Barany).......................................... 64
Kesan Sensasi...................................................................................................................... 65
Percobaan Sederhana untuk Kanalis Semisirkularis Horisontalis........................................ 66
Praktikum Fisiologi IV (Sistem Sensorik)........................................................................................ 67
I. Perasaan Subyektif Panas dan Dingin................................................................................ 68
II. Titik-titik Panas, Dingin, Tekan, dan Nyeri di Kulit........................................................... 70
III. Lokalisasi Taktil................................................................................................................. 73
IV. Diskriminasi Taktil............................................................................................................. 76
V. Perasaan Iringan (After Image).......................................................................................... 78
VI. Daya Membedakan Berbagai Sifat Benda.......................................................................... 79
VII. Tafsiran Sikap..................................................................................................................... 80
VIII.Waktu Reaksi..................................................................................................................... 83
Daftar Pustaka................................................................................................................................... 86

2Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


PRAKTIKUM FISIOLOGI 1

I. Pengecapan

Dasar Teori

Fungsi Pengecapan pada lidah dilakukan oleh Taste Buds. Struktur khusus yang tertanam diantara
papilla lidah, juga ditemukan pada bagian belakang mulut dan palatum. Setiap orang memiliki hingga
5000-10000 taste buds. Tastan adalah substansi yang menstimulasi taste buds. Sinyal yang timbul setelah
stimulasi oleh tastan merambat melalui nervus kranialis menuju batang otak dan thalamus untuk berakhir
di korteks serebri sehingga dapat terjadi persepsi rasa tertentu. Reseptor adalah ujung perifer khusus

3Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


neuron-neuron aferen; reseptor berespons terhadap rangsangan tertentu, mengubah bentuk energi
rangsangan menjadi sinyal listrik serta bahasa sistem saraf. Reseptor untuk pengecapan adalah kuncup
pengecapan, yaitu suatu kemoreseptor yang terletak terutama di lidah tetapi terdapat juga pada palatum
lunak dan epiglotis. Kuncup pengecap terdapat pada tonjolan mukosa lidah yang disebut papilla. Masing-
masing kuncup pengecap merupakan sekumpulan sel penunjang dan sel sensorik yang memiliki rambut
dan menonjol membentuk pori-pori pengecap serta dibahasi oleh saliva.

Tunas pengecap adalah bagian pengecap yang ada di pinggir lidah adalah kumpulan otot rangka pada
bagian lantai mulut yang dapat membantu pencernaan makanan dengan mengunyah dan menelan. Lidah
dikenal sebagai indra pengecap yang banyak memiliki struktur tunas pengecap. Lidah juga turut
menbantu dalam tindakan berbicara.
Struktur lainnya yang berhubungan dengan lidah sering disebut lingual, dari bahasa latin lingua atau
glossal dari bahasa yunani. Sebagian besar lidah tersusun atas otot rangka yang teletak pada tulang
hyoideus, tulang rahang bawah dan processus styloideus di tulang pelipis. Terdapat dua jenis otot lidah
yaitu otot ekstinsik dan instrinsik.

Lidah memiliki permukaan yang kasar karena adanya tonjolan yang disebut papilla. Papilla terdiri
dari dua sel yaitu sel pengecap dan sel penyokong, sel pengecap berfungsi sebagai reseptor, sedangkan sel
penyokong berfungsi sebagai menopang. Terdapat tiga jenis papilla, yaitu ;
1. Papilla filiformis (fili = benang) = berbentuk seperti benang halus.
2. Papilla sirkumvallata (sirkum = bulat) = berbentuk bulat, tersusun seperti hutuf V di belakang lidah.
3. Papilla fungiformis (fungi = jamur) = berbentuk seperti jamur.

Pengecapan merupakan fungsi utama dari taste buds, tetapi indra penghidu pun sangat berperan
dalam persepsi pengecapan. Indra pengecapan memungkinkan kita merasakan tekstur makanan lembut
atau kasar, zat-zat yang terkandung dalam makanan, serta rasa makanan itu sendiri. Makna pentingnya
adalah bahwa pengecapan memungkinkan manusia memilih makanan sesuai keinginannya

Sensasi pengecapan terjadi karena rangsangan terhadap berbagai reseptor pengecapan, ada sedikitnya
13 reseptor kimia yang ada pada sel-sel pengecap, antara lain:
2 reseptor natrium,
2 reseptor kalium,
1 reseptor clorida,
1 reseptor adenosine,
1 reseptor inosin,
1 reseptor manis,
1 reseptor pahit,
1 reseptor glutamate, dan
1 reseptor ion hydrogen.

4Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Kemampuan reseptor tersebut dikumpulkan menjadi 5 kategori yang umum disebut sensasi
pengecapan utama tentunya disesuaikan dengan area saraf, yaitu :
1. Kuncup pengecap yang sensitif terhadap rasa manis terletak di ujung lidah.
2. Substansia asam terutama dirasakan dibagian samping lidah.
3. Substansia asin dapat dirasakan hampir pada seluruh area lidah, tetapi reseptornya berkumpul pada
bagian samping lidah.
4. Substansia pahit akan menstimulsi kuncup pengecap dibagian belakang lidah

Rasa umami (bahasa jepang), artinya lezat, untuk menyatakan rasa kecap yang menyenangkan secara
kualitatif. Rasa ini dominan ditentukan pada L-glutamat (terdapat pada ekstrak daging dan keju).

Alat dan Bahan


1. Lima tabung kecil berisi
- Larutan asam asetat 5% (83 mM)
- Larutan Nacl 2 mg/ml (34 mM)
- Larutan Kina 2 mg/ ml (6 mM)
- Larutan glukosa 2 mg/ml (11 mM)
- Larutan Umami/MSG 2 mg/ml (11 mM)
2. Aplikator (batang kecil dengan salah satu ujungnya diberi kapas)
3. Peta lidah
4. Kertas hisap/saring
5. Aqua

Cara Kerja
1. Meminta orang percobaan berkumur,kemudian mengeringkan lidahnya dengan kertas hisap
2. Mencelupkan aplikator dalam larutan salah satu larutan yang diberikan. Membuang larutan dengan
menekan ke sisi tabung.
3. Menyentuhkan aplikator pada daerah ujung,sepanjang sisi,tengah dan belakang lidah orang
percobaan
4. Menulis tanda (+) pada daerah peta yang sesuai jika praktikan merasakan larutan tersebut. Menulis
(-) pada daerah peta rasa yang sesuai jika daerah tertentu disentuh tidak sensitif terhadap larutan
yang diuji.
5. Mengulangi prosedur diatas dengan keempat larutan lainnya pada tempat yang sama, beri waktu 1
menit setelah berkumur untuk memulihkan lidah.

Adakah bagian lidah yang tidak mampu menimbulkan sensasi pengecapan setelah aplikasi
tastan?

Jawab : Ada, karena reseptor pada daerah yang dirangsang tidak sesuai dengan
stimulasi yang diberikan. Sehingga respon yang diberikan adalah tidak terasa
rasa apapun.

5Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Peta Lidah

Rasa asin dirasakan pada daerah anterior dan pinggir lidah sebelah kanan
Rasa manis dirasakan pada daerah anterior dan pinggir lidah sebelah kanan
Rasa asam dirasakan pada daerah anterior dan pinggir lidah sebelah kanan
Rasa umami dirasakan pada daerah anterior dan pinggir lidah sebelah kanan dan kiri

Larutan pada tabung 1 :


- OP merasakan rasa asin, maka tabung 1 berisikan larutan NaCl 2 mg/ml

Larutan pada tabung 2 :


- OP merasakan rasa manis, maka tabung 2 berisikan larutan glukosa 2 mg/ml

Larutan pada tabung 3 :


- OP tidak merasakan rasa apa apa, kemungkinan berisikan plasebo

Larutan pada tabung 4 :


- OP merasakan rasa asam, maka tabung 4 berisikan larutan asam asetat 5 %

Larutan pada tabung 5 :


- OP merasakan rasa umami, maka tabung 4 berisikan larutan MSG 2 mg/ml

Pada percobaan ini menunjukkan adanya titik rasa yang berbeda karena papilla memiliki reseptor
saraf yang berbeda-beda. Adanya penyimpangan rasa yang tidak sesuai dengan teori misalnya rasa pahit
yang juga berasa pada daerah ujung lidah karena pada saat pengujian, reseptor lidah sudah terkontaminasi
dengan beberapa rasa yang lain saat pengujian sehingga peta ras apahit menjadi beberapa titik.

6Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Pada dasarnya, berbagai jenis rasa yang kita rasakan terdiri dari beberapa tempat pada lidah yaitu
Reseptor rasa manis terletak pada ujung lidah, reseptor rasa asin terletak pada tepi depan lidah, reseptor
rasa asam terletak pada tepi belakang lidah dan reseptor rasa pahit terletak pada pangkal lidah. Berikut ini
merupakan penyebab adanya berbagai macam rasa.

Transduksi Rasa Manis


Rasa manis dimulai dengan melekatnya molekul gula pada porus perasa. Kemudian hal ini akan
mengaktifkan stimulator yang tedapat pada sitoplasma yang terdapat pada membran. Stimulator (protein
G) akan teraktivasi selanjutnya akan mengaktifkan enzim adenilat siklase. Enzim ini akan mengaktifkan
pembentukan CAMP dari ATP. Terjadinya peningkatan CAMP akan mengakibatkan terstimulasinya
enzim sitoplasma lainnya. Hal ini akan membuat ion K+ dapat keluar sehingga mengakibatkan
depolarisasi pada puting pengecap. Hal ini akan mengakibatkan terlepasnya neotransmitter ke sinaps dan
selanjutnya akan diteruskan ke otak.

Transduksi Rasa Asin


Rasa asin disebabkan masuknya ion Na. Masuknya ion Na mengakibatkan tertutupnya saluran keluar ion
K. Depolarisasi mengakibatkan neotransmitter keluar, dan impuls bisa diterima oleh otak.

Transduksi Rasa Pahit


Transtan pahit akan berkaitan dengan reseptor pada membran. Perekatan ini akan mengakibatkan
teraktivasinya protein G lainnya yang kemudian akan mengaktifkan enzim fosfolipase. Enzim ini akan
membuat IP3 yang merupakan senyawa yang larut dalam sitoplasma yang terdapat dalam RE. Berikatan
IP3 dengan reseptor akan membuat terbukanya ion Ca. Maka ion Ca akan keluar menuju sitplasma.
Peningkatan ion Ca akan membuat saluran K terbuka dan menjadi sinaps.

Transduksi Rasa Asam


Tidak seperti rasa manis dan pahit, rasa asam terjadi karena konsentrasi atau ion H. Membran sangat
permeable terhadap protein ini. Masuknya proton ini membuat depolarisasi akibatnya neotransmitter
dilepaskan ke sinaps.

Percobaan 2 : Persepsi Pengecapan


Cara Kerja :
1. Mintalah 10 ml larutan no 1 dan encerkan dengan menambahkan 10 ml aquadest dengan gelas
ukur
2. Masukkan dalam tabung, ini adalah larutan no 6 (3 mM)
3. Minta orang percobaan untuk berkumur dengan air yang disediakan

7Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


4. Menggunakan aplikator sentuhkan larutan no 1 pada tempat yang telah ditentukan pada
percobaan A dan gunakan Visual Analog Scale (VAS) : 9 point labbeled scale (modified lickert)
dibawah ini untuk menilai sensasi yang dirasakan

How strong is the taste of this solution?


Extremely Strong

Very Strong

Strong

Slightly Strong

Neutral

Slightly weak

Weak

Very Weak

Extremely Weak

5. Lakukan pada ujung lidah,sepanjang sisi, tengah dan belakang lidah orang percobaan
6. Setelah larutan kina 1, lakukan hal yang sama dengan larutan no 6

Hasil Pengamatan

8Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Pada percobaan dengan larutan 1 didapatkan rasa pahit yang sangat kuat dibagian
Posterior lidah dan rasa pahit yang melemah hingga pada anterior lidah
Pada percobaan dengan larutan 6 didapatkan rasa pahit yang kuat pada bagian
Posterior lidah tetapi tidak sekuat pada percobaan dengan larutan 1 dan melemah
Hingga pada bagian anterior lidah.
Kesimpulan
1. Pengenalan rasa oleh otak terjadi karena tranduksi rasa pada lidah
2. Waktu sensasi adalah waktu yang diperlukan oleh reseptor untuk mengenali dan menanggapi
rangsangan dan diteruskan keotak sehingga akan dikenali rasanya.
3. Selsel reseptor untuk pengecapan adalah selsel ephitelium yang telah termodifikasi yang
diorganisasikan menjadi kuncup pengecapan yang tersebar di sejumlah bagian permukaan lidah
dan mulut.
4. Dari tiap rasa makanan dan minuman otak mengintegrasikan input yang berbeda dari kuncup
pengecapan, dan mempersiapkan cita rasa yang kompleks.
5. Reseptor rasa manis terletak pada ujung lidah, reseptor rasa asin terletak pada tepi depan lidah,
reseptor rasa asam terletak ditepi belakang lidah dan reseptor rasa pahit terletak di pangkal lidah.

Daftar Pustaka
Buku Penuntun Praktikum Mahasiswa Blok Panca Indera. 2013. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Yarsi.

Ganong,.W.F. (2008), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 22. Jakarta: EGC.
Sherwood, Lauralee. (2004). Fisiologi Manusia dari sel ke sistem Edisi 2. Jakarta. EGC

Guyton & Hall.(2008),Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC

9Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


II. PENGHIDU

Tujuan Percobaan
Untuk membuktikan bahwa zat yang dibaui adalah zat yang berupa gas, serta membedakan
wewangian mulai dari bau yang tidak enak sampai yang enak.

Dasar Teori
Sensasi wangi/ bau terjadi karena adanya interaksi zat dengan reseptor indera penciuman yang
diteruskan ke otak berupa sinyal listrik. Reseptor ini merupakan sel saraf yang berupa benang halus.
Pada satu ujung sel saraf berinteraksi dengan zat berbau, sedangkan ujung yang lainnya berkumpul
dalam suatu tulang menuju bagian otak yang bertugas menerjemahkan sensasi dari indra penciuman.
Serangkaian proses terjadi dalam benang halus, dimulai dari interaksi molekul dengan reseptor
sampai dihasilkannya sinyal listrik.
Interaksi molekul dengan sel saraf reseptor akan menyebabkan reseptor teraktifkan. Suatu protein
yang berpasangan dengan reseptor (protein G) akan teraktifkan juga. Protein G yang teraktifkan akan
menstimulasi pembentukan cAMP, melalui pembentukan enzim adnylate cyclase III. cAMP
merupakan suatu molekul pembawa pesan yang dapat mengatifkan suatu mekanisme transfer ion,
sehingga akhirnya dapat dikirim informasi mengenai wangi/bau molekul ke otak berupa sinyal
listrik.
Setiap satu sensasi wangi terdiri dari beberapa campuran zat berbau yang akan menstimulasi
reseptor. Kemudian dalam otak terdapat suatu system pemetaan yang menerjemahkan sensai wangi
ini. Itulah sebabnya meskipun hanya ditemukan 1000 sel saraf penciuman, tapi kita dapat mengenal
10000 jenis wewangian. Indra penciuman akan cepat beradatasi.
Sering kita merasa tidak lagi mencium wangi parfum yang telah kita semprotkan, padahal orang
lain yang baru bertemu dengan kita masih bisa menciumnya. Terjadinya fenomena ini dapat
dijelaskan dengan mekanisme berikut. Saat transfer ion untuk pengiriman sinyal ke otak,
Memungkinkan masuknya ion Ca2+, ion Ca2+ akan mengikat protein calmodulin (CaM). Kompleks

10Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Ca2+/Ca Mini dapat mengaktifkan enzim PDE yang selanjutnya dapat merusak molekul cAMP
(molekul pembawa pesan yang dapat mengaktifkan transfer ion dan bertanggung jawab dalam
pengiriman sinyal ke otak), akibatnya pengiriman sinyal ke otak yang membawa informasi sensasi
wangi terhenti.
Saraf cranial (olfactory) manusia dapat membedakan berbagai macam bau karena
memiliki banyak reseptor pembau, namun kemampuan tersebut ditentukan oleh prinsip-prinsip
komposisi (komponen principle). Organ pembau hanya memiliki 7 reseptor namun dapat membaui
lebih dari 600 aroma. Sistem olfaction dapat menerima stimulus benda-benda kimia sehingga
reseptornya disebut chemoreseptor. Sistem olfaction terdapat di hidung bagian atas (concha nasal
superior) yang peka terhadap penciuman dan lebih dekat ke saraf olfactorius.
Penciuman pada manusia secara umum dipengarui oleh :
Fisik : Lebih sensitif terhadap bau, hidung mancung lebih peka atau lebih sensitif
Psikologis : Wanita yang sedang PMS lebih sensitif
Kemampuan membau makhluk hidup tergantung pada :
1. Susunan rongga hidung : hidung mancung lebih baik dalam membaui
2. Variasi fisiologis : pada wanita PMS dan ibu hamil muda, penciumannya lebih peka
3. Spesies : anjing (karena kemampuan survive tergantung pada pembauan jadi
lebih peka pembauannya)
4. Konsentrasi bau : bau busuk akan lebih tercium

Alat dan Bahan


Lima buah zat :
1. Parfum
2. Teh
3. Kopi bubuk
4. Minyak kayu putih
5. Alkohol

Cara Kerja
- Siapkan 5 jenis zat yang mempunyai bau yang berbeda
- Baui atau ciumkan ke empat zat tersebut satu persatu
- Catat hasilnya

Hasil Pengamatan :

Op : Maya Dwi Anggraeni

Zat Hasil (+) / (-)


Parfum +
Teh +
Kopi Bubuk +
Minyak Kayu Putih +

11Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Alkohol

Pembahasan
Indera pembau berfungsi untuk menerima bau suatu zat terlarut dalam udara atau air. Reseptor
pembau terletak pada langit-langit rongga hidung, pada bagian yang disebut epitelium olfaktori.
Epitelium olfaktori terdiri dari sel-sel reseptor dan sel-sel penyokong. Sel resptor olfaktori berbentuk
silindris dan mempunyai filamen-filamen seperti rambut pada permukaan bebasnya. Akson sel
olfaktorius berjalan menuju bulbus olfaktorius pada sistem saraf pusat.
Reseptor Pembau adalah komoreseptor yang dirangsang oleh molekulmolekul larutan dalam
cairan hidung. Sensasi wangi/ bau terjadi karena adanya interaksi zat dengan reseptor indera
penciuman yang diteruskan ke otak berupa sinyal listrik. Interaksi molekul dengan sel saraf reseptor
akan menyebabkan reseptor teraktifkan. Suatu protein yang berpasangan dengan reseptor (protein G)
akan teraktifkan juga. Protein G yang teraktifkan akan menstimulasi pembentukan cAMP . cAMP
merupakan suatu molekul pembawa pesan yang dapat mengatifkan suatu mekanisme transfer ion,
sehingga akhirnya dapat dikirim informasi mengenai wangi/bau molekul ke otak berupa sinyal
listrik.

Apa yang menyebabkan bau dapat tercium ? Jelaskan mekanismenya !

Jawab:
Reseptor Pembau adalah komoreseptor yang dirangsang oleh molekulmolekul larutan dalam
cairan hidung. Reseptor pembau merupakan reseptor jauh (tele reseptor) karena lintasan pembauan
tidak memiliki hubungan dalam thalamus dan tidak terdapat di daerah proyeksi pada neocortex
penciuman (Ganong, 1979).
Membrana offactoria terletak pada bagian superior rongga hidung. Di bagian medical ia melipat
keatas concana superior dan bahkan ada yang berada di concha media. Organon olfacus terdapat di
dataran medical concha nasalis superior dan pada dataran septumasi yang berhadapan dengan concha
masalis superior. Saat seseorang menarik nafas maka sesi bili rasa pembaunya akan lebih kuat karena
letak organon olfacus disebelah atasnya. Sensai pembauan tergantung pada konsentrasi penguapan,
misalnya skatol (bau busuk pada facces) karena konsentrasinya pekat maka baunya busuk (Guyton,
1983).
Impulsimpuls bau dihantarkan oleh filum olfactetorium yang bersinopsis dengan cabangcabang
dendrit sel mitral dan disebut sinopsis glomerulus. Neurit sel mitral meninggalkan bulbus olfactorius
untuk berjalan di dalam area medialis dan berakhir di dalam area. Pusat pembauan ada di uncus.
Neurit beurit sel mitral mempunyai cabang cabang yang menuju ke sel granula akan mengadakan

12Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


sinaps di sinopsis axomatis. Sebagian dari neurit neurit sel mitral berjalan dalam stria lateralis dan
berakhir dalam uncus, sebagian dari neurit tersebut berjalan di dalam stria medialis dan berakhir di

dalam area septialis ( Radiopoetro, 1986), (Ganong, 1979).

Gambar mekanisme impuls penghidu


Kesimpulan
1. Indra pembau berfungsi untuk menerima bau suatu zat terlarut dalam udara atau air. Reseptor
pembau terletak pada langit-langit rongga hidung, pada bagian yang disebut epitelium olfaktori.
Reseptor Pembau adalah komoreseptor yang dirangsang oleh molekulmolekul larutan dalam
cairan hidung. Sensasi wangi/ bau terjadi karena adanya interaksi zat dengan reseptor indera
penciuman yang diteruskan ke otak berupa sinyal listrik.
2. Saraf cranial (olfactory) manusia dapat membedakan berbagai macam bau karena memiliki
banyak reseptor pembau, namun kemampuan tersebut ditentukan oleh prinsip-prinsip komposisi
(komponen principle). Organ pembau hanya memiliki 7 reseptor namun dapat membaui lebih dari
600 aroma.

13Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


3. Impulsimpuls bau dihantarkan oleh filum olfactetorium yang bersinopsis dengan cabangcabang
dendrit sel mitral dan disebut sinopsis glomerulus. Neurit sel mitral meninggalkan bulbus
olfactorius untuk berjalan di dalam area medialis dan berakhir di dalam area. Pusat pembauan ada
di uncus. Neurit beurit sel mitral mempunyai cabang cabang yang menuju ke sel granula akan
mengadakan sinaps di sinopsis axomatis. Sebagian dari neurit neurit sel mitral berjalan dalam
stria lateralis dan berakhir dalam uncus, sebagian dari neurit tersebut berjalan di dalam stria
medialis dan berakhir di dalam area septialis.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. Syaifuddin, AMK. 2003. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Penerbit Buku
Kedokteran EGC : Jakarta
Ganong,F.William. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ed.20. Jakarta:EGC
http://neurowww.cwru.edu/faculty/strowbridge/OlfactoryBulb/bulb1.htm
Lumbantobing, S. M. Saraf Otak. Dalam Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010. h. 2530
Panji.2009.sistem syaraf perifer. http://panji1102.blogspot.com/2008/03/sistem-saraf-perifer-divisi-
aferen.htm. tanggal akses 3-10-2009
Radiopoetro, R. 1986. Psikologi Faal 1. Yogyakarta : Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.
Seksi Laboratorium Psikologi Faal, 2001, Petunjuk Praktikum Psikologi Faal, Yogyakarta : Laboratorium
Psikologi Faal Fakultas Psikologi UGM
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem ed.2. Jakarta:EGC
Sloane, Ethel. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC
Sunny Kumar. 2011. The Neural Basis of Olfaction diunduh pada
http://www.yalescientific.org/2011/05/the-neural-basis-of-olfaction/

14Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


PRAKTIKUM FISIOLOGI
II

15Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


I. LENSA TIPIS

1. Tujuan Percobaan
Menentukan jarak fokus lensa cembung (konvergen) dan cekung (divergen) serta sifat bayangan.

2. Alat-alat Percobaan
1. Bangku optik yang berbentuk rel berskala dengan tiang statif tempat lensa, benda, cermin,
benda, dan tabir (layar).
2. Lensa cembung dan cekung.
3. Tabir, cermin, benda berbentuk panah, dan penggaris berskala.
4. Lampu proyektor sebagai sumber cahaya.

3. Teori Dasar
3-1. Rumus Gauss
Benda nyata yang terletak didepan lensa konvergen dapat membentuk bayangan nyata dibelakang
lensa. Bayangan ini dapat ditangkap oleh tabir dibelakang lensa sehingga dapat terlihat. Secara
sederhana pembentukan bayangan tersebut diperhatika pada gambar 1.

Gambar 1.
Diagram pembentukan bayangan oleh lensa konvergen. f = titik fokus, O = pusat sumbu optik lensa.

Jika tebal lensa diabaikan maka dapat dibuktikan bahwa

= +

f=

(1)
Persamaan ini berlaku umum dengan ketentuan

16Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


f = jarak titik fokus lensa, bertanda (+) untuk lensa konvergen dan (-) untuk divergen.
v = jarak benda terhadap pusat sumbu optik lensa, bertanda (+) untuk benda nyata dan (-)
untuk benda maya.
b = jarak bayangan terhadap pusat sumbu optik lensa, bertanda (+) untuk bayangan nyata dan
(-) untuk bayangan maya.
Bayangan nyata terletak dibelakang lensa dan dapat ditangkap oleh tabir sementara benda maya
terletak di depan lensa dan tidak ditangkap oleh tabir. Selanjutnya benda maya terletak dibelakang
lensa dan biasanya dihasilkan oleh bayangan komponen optik lainnnya (lensa dan cermin).
Disamping itu perbesaran yang didefinisikan sebagai perbandingan besar bayangan terhadap
objek dapat diperoleh dari persamaan

m= =-
(2)
Munculnya tanda negatif hanya karna keinginan agar jika m positif untuk bayangan tegak dan negatif
untuk bayangan terbalik. Jika dihilangkan tanda negatif dari rumus (2) maka perjanjiannnya akan
terbalik.

3-2. Rumus Bessel


Jika jarak antara benda dan tabir dibuat tetap dan lebih besar dari 4f maka terdapat dua kedudukan
lensa positif yang akan menghasilkan bayangan tajam diperkecil dan diperbesar pada tabir, lihat
gambar 2.

Gambar 2. Kedudukan lensa positif yang membentuk bayangan tajam pada tabir.
Pada gambar tersebut, posisi-b dan posisi-k masing-masing menyatakan posisi lensa yang
menghasilkan bayangan tajam diperbesar dan diperkecil, sedangkan
= jarak benda ke tabir.

17Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


d = jarak antara dua kedudukan lensa yang menghasilkan bayangan tajam yang diperbesar
dan diperkecil.
= jarak benda ke lensa yang menghasilkan bayangan diperbesar.

= jarak bayangan ke lensa yang menghasilkan bayangan diperbesar.

= jarak benda ke lensa yang menghasilkan bayangan diperkecil.

= jarak bayangan ke lensa yang menghasilkan bayangan diperkecil.

Mengacu pada gambar 2 terlihat bahwa


d= - (3a)

= - (3b)

= (3c)

Mengingat bahwa = + maka diperoleh

(4)
Substitusi persamaan (4) ke persamaan (1) menghasilkan

f =

(5)
Perhatikan bahwa dan d selalu positif.

3-3. Gabungan Lensa dengan Cermin Datar


Misalkan benda diletakkan pada bidang fokus lensa dan dibelakang lensa terdapat cermin datar, lihat
gambar 3.

18Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Gambar 3. Menentukan panjang fokus lensa (+) dengan bantuan cermin datar.
Oleh lensa, berkas sinar yang berasal dari benda akan dibiaskan dalam berkas sejajar sehingga
terbentuk bayangan ditempat tak terhingga. Selanjutnya oleh cermin datar berkas ini akan
dipantulkan dan kemudian dibiaskan kembali oleh lensa sehinga terbentuk bayangan sama besar
pada bidang fokus/benda.

3-4. Rumus lensa Gabungan


Untuk tujuan tertentu sering digunakan gabungan beberapa lensa. Dalam analisis pembentukan
bayangan lensa gabungan ini dapat dibayangkan seolah-olah menjadi sebuah lensa dengan jarak

fokus . Untuk gabungan dua lensa dirumuskan sebagai

= + -

(6)
Dengan t adalah jarak dua sumbu optik lensa.
Jika kedua lensa itu tipis dan diimpitkan maka t = 0 sehingga.

= +

(7)
3-5. Pembentukan Bayangan Oleh Gabungan Lensa Konvergen-Divergen
Lensa negatif akan selalu membentuk bayangan maya dari benda nyata tetapi dari benda maya dapat
dibentuk bayangan nyata. Atas dasar ini maka diperlukan bantuan lensa positif dengan susunan
seperti gambar berikut.

19Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Gambar 4. Pembentukan bayangan oleh gabungan lensa konvergen dan divergen, O- adalah bayangan
nyata yang dibentuk oleh lensa positif dan bayangan ini menjadi objek/benda maya lensa divergen (-).
B- adalah bayangan nyata yang dibentuk lensa divergen dari benda O-.

4. Jalannya Percobaan
4-1. Menentukan Jarak Focus Lensa Kovergen
Merujuk pada teori di atas maka penentuan jarak fokus lensa kovergen dapat dilakukan dengan
tiga cara, yaitu Bessel, Gauss, dan berbantuan cermin datar.

4-1-A. Cara Gauss


1. Ambil benda berbentuk panah dan ukur tingginya sebanyak 5 kali. isikan pada tabel data.
2. Ambil tabir dan lensa konvergen yang akan diukur jarak fokusnya.
3. Letakkan benda, lensa, dan tabir pada rel optik sehingga terbentuk susunan seperti
gambar 1.
4. Atur posisi benda, lensa, dan tabir sehingga terbentuk bayangan tajam diperkecil.
5. Ukurlah v, b, tinggi bayangan h', dan posisi bayangan apakah tegak atau terbalik.
Isikan hasil ini pada tabel data.
6. Geser lensa mendekati benda sejarak 2cm dan atur posisi tabir sehingga terbentuk
bayangan tajam. Lakukan pengukuran seperti langkah 5.
7. Ulangi langkah 6 terus menurus selama masih mungkin.

4-1-B. Cara Bassel


1. Ukurlah tinggi benda yang terbentuk anak panah dan catat hasilnya. Ulangi pengukuran
ini sampai 5 kali.
2. Tempatkan benda di depan lampu sorot.
3. Tempatkan tabir sejarak sekitar 100 cm di belakang benda.

20Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


4. Tempatkan lensa yang akan diukur jarak fokusnya diantara lensa dan tabir.
Susunan posisi benda, lensa dan tabir akan seperti gambar 2.
5. Geser-geser lensa untuk melihat sekilas apakah terbentuk bayangan tajam diperbesar dan
diperkecil. jika tidak terjadi anda mungkin perlu menaikan/menurunkan posisi lensa dan
benda agar sinar dari benda tepat jatuh pada lensa atau menggeser posisi tabir.
6. Jika langkah 5 berhasil, maka aturlah posisi lensa secara halus untuk medapatkan
bayangan tajam diperbesar dan diperkecil.
7. Catat kedua posisi lensa (vb dan bk), tinggi bayangan dan catat apakah bayangan terbalik
atau tegak.
8. Isikan hasil pengukuran ini pada tabel data.
9. Ulangi langkah 6 dan 7 sampai 5 kali. pada setiap pengulangan posisi lensa harus
digeser-geser.
4-1-C. Dengan bantuan Cermin datar
1. Tempatkan benda, lensa (+) dan tabir sehingga terbentuk susunan seperti gambar 3.
2. Geserlah posisi benda sehinga pada bidang benda terbentuk bayangan yang sama besar
dengan benda.
3. Catat jarak benda ke lensa (lihat tabel data).
4. Ulangi percobaan ini sampai 5 kali.

4-2. Menentukan Jarak Fokus Lensa Divergen


1. Ambil lensa konvergen dan lensa divergen yang akan ditentukan jarak fokusnya.
2. Tempatkan benda, lensa kovergen, dan tabir di belakang lensa.
3. Aturlah posisi lensa dan tabir sehingga terbentuk bayangan tajam pada tabir.
4. Catat posisi benda, lensa, dan tabir.
5. Letakkan lensa divergen di antara tabir dan lensa kovergen. Perhatikan bayangan pada tabir
akan kabur atau hilang.
6. Atur posisi lensa divergen dan tabir sehingga terbentuk bayangan tajam.
7. Catat posisi lensa divergen dan tabir
8. Berdasarkan data posisi ini maka hitunglah v+, b+, d, b+, dan b- dan hasilnya diisikan pada
tabel data. Variabel d adalah jarak antara lensa kovergen dan divergen.
9. Ulangi percobaan di atas sebanyak sampai 5 kali.

5. Tugas Pada Laporan Akhir


5-1-A. Cara Gauss
1. Hitung m berdasarkan perbandingan tinggi benda dan bayangan.
2. Hitung m berdasarkan persamaan (2) dan berdasarkan hasil ini tentukan posisi bayangan
(tegak atau terbalik).
3. Buatlah table ringkasan perhitungan tugas 1 dan 2.
4. Buat table harga 1/v dan 1/b.
5. Buat grafik 1/v terhadap 1/b.
6. Berdasarkan grafik tersebut tentukan f lensa.

5-1-B. Cara Bessel

21Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Berdasarkan data percobaan, hitung jarak fokus lensa dengan persamaan (5).

5-1-C. Dengan Bantuan Cermin Datar


Berdasarkan data jarak benda, anda langsung mendapatkan jarak focus, f=v. buat table ringkasan
hasil perhitungan jarak fokus kekuatan lensa (dalam Dioptri) dari ketiga cara di atas.
Beri catatan/ulasan mengapa terjadi perbedaan hasil dari ketiga cara di atas.
Catatan: 1 dioptri = 100 , jadi lensa dengan f = 25 cm akan berkekuatan 4 dioptri.
f[cm]

5-2 Jarak Fokus Lensa Divergen


Tentukan f lensa divergen hasil percobaan.

Bagian Fisika
4-1. Menentukan Jarak Fokus Lensa Konvergen
4-1-A. Cara Gauss
Tinggi benda h = 2,5
No. v (cm) b (cm) h(cm) Tegak/terbalik M1=h/h M = -b/v
1. 43 (85-43)=42 2 Terbalik 0,8 -0,98
2. 37 (89-42)=47 3 Terbalik 1,2 -1,27
3. 30 (101-35)=66 5 Terbalik 2 -2,2
4. 51 (91-56)=35 1,5 Terbalik 0,6 -0,9
5. 34 (91-39)=52 3,5 Terbalik 1,4 -1,53

Catatan : h= tinggi bayangan


v = jarak benda ke lensa
b = jarak bayangan ke lensa

Pembahasan Cara Gauss :


a. Cara Gauss
Didapatkan bayangan benda yang terbentuk adalah terbalik pada semua percobaan sesuai dengan
hukum lensa cembung (konvergen) yang bersifat maya dan terbalik. Terlihat dari hasil pada M
didapatkan nilai yang negatif.

4-1-B. Cara Bessel


4-1-B Cara Bessel 4-1-C. Dg Cermin Datar
No. a (cm) vk (cm) vb (cm) d (cm) f (cm) v(cm) f(cm)
1. 90 59 33 59-33=26 20,62 10 10
2. 95 65 31 65-31=34 20.70 20 20
Catatan : bagian yang digelapkan dihitung dirumah

22Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Rumus : f=

d= (vk-vb)

Pembahasan Cara Bessel :


b. Cara Bessel

Pada percobaan pertama dengan jarak benda 90 cm didapatkan jarak benda yang mendapatkan bayangan
diperbesar (vb) 33 cm, jarak benda yang mendapatkan bayangan diperkecil (vk) 59 cm, dengan jarak 2
lensa (d) 26 cm diperoleh titik focusnya yaitu 20,62 cm. Pada percobaan kedua dengan jarak benda 95 cm
didapatkan jarak benda yang mendapatkan bayangan diperbesar (vb) 31 cm, jarak benda yang
mendapatkan bayangan diperkecil (vk) 65 cm, dengan jarak 2 lensa (d) 34 cm diperoleh titik focusnya
yaitu 20,70 cm.

a. Dengan cermin datar


v (cm) f (cm)
10 10
20 20

c. Cermin Datar
Pada percobaan diatas didapatkan hasil v = f, yaitu pada percobaan pertama v1 = 10 cm dan f1=10 cm,
kemudian v2 = 20 dan f2= 20cm, hal ini dikarenakan sifat cermin datar memantulkan bayangan yang
tegak, bayangan yang dihasilkan sama besar dengan benda, jarak benda sama dengan jarak bayangan,
serta bayangan dihasilkan merupakan bayangan semu karena berupa hasil pantulan.

4-2. Lensa Divergen

No. v+ (cm) b+ (cm) v- (cm) d (cm) b- (cm) f- (cm)


1 28 70 -4 66 6 -12
2 28 70 -8 62 18 -14,4
Catatan : v- = d-b+
f-=

Pembahasan Lensa Divergen :


d. Lensa Divergen
pada percobaan lensa divergen didapatkan focus lensa divergen negative (-), karena lensa
divergen bersifat menyebarkan cahaya.
Kesimpulan
Untuk menghitung jarak fokus lensa konvergen dan divergen dapat digunakan 3 cara yaitu cara
Gauss, Bessel, dengan bantuan cermin datar, dan cara gabungan.
Panjang fokus ditentukan oleh jarak benda ke lensa dan jarak bayangannya ke lensa pada metode
konvensional, jarak benda bayangan dan jarak 2 posisi lensa yang bayangannya bagus pada metode
Bessel, panjang fokus lensa cembung dan jarak benda bayangan serta jarak 2 posisi lensa yang

23Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


bayangannya bagus pada metode kombinasi.
Sifat konvergen/divergen dari suatu lensa tidak mungkin berubah.
Kesimpulan : pada lensa tipis adalah semakin jauh jarak benda maka semakin jauh pula jarak bayangan
dan sebaliknya semakin dekat jarak benda semakin dekat pula jarak bayangan. Dalam hal ini jarak sangat
berpengaruh terhadap fokus bayangan.

DAFTAR PUSTAKA
Sears, dan Zemansky. Fisika untuk Universitas, jilid III
Sutrisno, Seri Fisika Dasar, ITB

II. PENGLIHATAN I: Uji Visus dan Buta Warna

UJI VISUS MATA

I. Tujuan percobaan
Untuk mengetahui ketajaman penglihatan

Alat-alat yang diperlukan


Optotipe Snellen
Trial lens
Trial frame
II. Dasar Teori
Rumus visus: V =

Keterangan: V : Visus atau ketajaman


d : jarak optotype snellen dengan objek (3.5 m)
D : skala sejauh mana mata normal masih bisa terbaca.

Mata kanan: V =

Mata kiri: V =

Cara baca rumus adalah dengan jarak 3.5 m subjek bisa melihat sampai dengan skala 15.
Penglihatan normal disebut emetropi. Bila benda yang dilihat jatuh di depan fovea sentralis
disebut rabun jauh (myopi) dan dapat diatasi dengan lensa cekung (negatif), bila benda yang dilihat
jatuh di belakang fovea sentralis disebut rabun dekat (hypermetropi), dapat diatasi dengan lensa
cembung (positif)

24Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Untuk dapat melihat benda stimulus berupa cahaya harus jatuh di reseptor (penerima) yang
selanjutnya di teruskan ke pusat penglihatan (fovea sentralis) dan diperlukan ketajaman (visus)
penglihatan. Visus sangat dipengaruhi sifat fisis mata (aberasi mata = kegagalan sinar untuk
berkonvergensi/bertemu di titik identik), besarnya pupil, komposisi cahaya, mekanisme akomodasi,
elastisitas otot, faktor stimulus (warna yang kontras, besar kecilnya stimulus, durasi, intensitas
cahaya, serta faktor retina (semakin kecil dan rapat sel kerucut), maka semakin kecil minimum
separabel (separable minimum)
Bila seseorang mengalami rabun jauh dan juga rabun dekat secara bersamaan disebut
astigmatisma maka dapat diperbaiki dengan kacamata jenis silindaris yang berfungsi untuk mengatasi
kedua rabun tersebut, tetapi bila elastisitas lensa kristalina menurun karena usia dan pengapuran
menyebabkan presbyopia. Pengapuran ini dapat terjadi buramnya/kaburnya penglihatan yang disebut
sebagai katarak.
Visus adalah sebuah ukuran kuantitatif suatu kemampuan untuk mengidentifikasi simbol-simbol
berwarna hitam dengan latar belakang putih dengan jarak yang telah distandardisasi serta ukuran dari
simbol yang bervariasi. Ini adalah pengukuran fungsi visual yang tersering digunakan dalam klinik.
Istilah visus 20/20 adalah suatu bilangan yang menyatakan jarak dalam satuan kaki yang mana
seseorang dapat membedakan sepasang benda. Satuan lain dalam meter dinyatakan sebagai visus 6/6.
Dua puluh kaki dianggap sebagai tak terhingga dalam perspektif optikal (perbedaan dalam kekuatan
optis yang dibutuhkan untuk memfokuskan jarak 20 kaki terhadap tak terhingga hanya 0.164 dioptri).
Untuk alasan tersebut, visus 20/20 dapat dianggap sebagai performa nominal untuk jarak penglihatan
manusia; visus 20/40 dapat dianggap separuh dari tajam penglihatan jauh dan visus 20/10 adalah
tajam penglihatan dua kali normal.
Untuk menghasilkan detail penglihatan, sistem optik mata harus memproyeksikan gambaran yang
fokus pada fovea, sebuah daerah di dalam makula yang memiliki densitas tertinggi akan fotoreseptor
konus/kerucut sehingga memiliki resolusi tertinggi dan penglihatan warna terbaik. Ketajaman dan
penglihatan warna sekalipun dilakukan oleh sel yang sama, memiliki fungsi fisiologis yang berbeda
dan tidak tumpang tindih kecuali dalam hal posisi. Ketajaman dan penglihatan warna dipengaruhi
secara bebas oleh masing-masing unsur.
Cahaya datang dari sebuah fiksasi objek menuju fovea melalui sebuah bidang imajiner yang
disebut visual aksis. Jaringan-jaringan mata dan struktur-struktur yang berada dalam visual aksis
(serta jaringan yang terkait di dalamnya) mempengaruhi kualitas bayangan yang dibentuk. Struktur-
struktur ini adalah; lapisan air mata, kornea, COA (Camera Oculi Anterior = Bilik Depan), pupil,
lensa, vitreus dan akhirnya retina sehingga tidak akan meleset ke bagian lain dari retina. Bagian
posterior dari retina disebut sebagai lapisan epitel retina berpigmen (RPE) yang berfungsi untuk

25Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


menyerap cahaya yang masuk ke dalam retina sehingga tidak akan terpantul ke bagian lain dalam
retina. RPE juga memiliki fungsi vital untuk mendaur-ulang bahan-bahan kimia yang digunakan oleh
sel-sel batang dan kerucut dalam mendeteksi photon. Jika RPE rusak maka kebutaan dapat terjadi.
Seperti pada lensa fotografi, ketajaman visus dipengaruhi oleh diameter pupil. Aberasi optik pada
mata yang menurunkan tajam penglihatan ada pada titik maksimal jika ukuran pupil berada pada
ukuran terbesar (sekitar 8 mm) yang terjadi pada keadaan kurang cahaya. Jika pupil kecil (1-2 mm),
ketajaman bayangan akan terbatas pada difraksi cahaya oleh pupil. Antara kedua keadaan ekstrim,
diameter pupil yang secara umum terbaik untuk tajam penglihatan normal dan mata yang sehat ada
pada kisaran 3 atau 4 mm.
Korteks penglihatan adalah bagian dari korteks serebri yang terdapat pada bagian posterior
(oksipital) dari otak yang bertanggung-jawab dalam memproses stimuli visual. Bagian tengah 100
dari lapang pandang (sekitar pelebaran dari makula), ditampilkan oleh sedikitnya 60% dari korteks
visual/penglihatan. Banyak dari neuron-neuron ini dipercaya terlibat dalam pemrosesan tajam
penglihatan. Perkembangan yang normal dari ketajaman visus tergantung dari input visual di usia
yang sangat muda. Segala macam bentuk gangguan visual yang menghalangi input visual dalam
jangka waktu yang lama seperti katarak, strabismus, atau penutupan dan penekanan pada mata selama
menjalani terapi medis biasanya berakibat sebagai penurunan ketajaman visus berat dan permanen
pada mata yang terkena jika tidak segera dikoreksi atau diobati di usia muda. Penurunan tajam
penglihatan direfleksikan dalam berbagai macam abnormalitas pada sel-sel di korteks visual.
Perubahan-perubahan ini meliputi penurunan yang nyata akan jumlah sel-sel yang terhubung pada
mata yan terkena dan juga beberapa sel yang menghubungkan kedua bola mata, yang bermanifestasi
sebagai hilangnya penglihatan binokular dan kedalaman persepsi atau streopsis.
Segala macam bentuk proses patologis pada sistem penglihatan baik pada usia tua yang
merupakan periode kritis, akan menyebabkan penurunan tajam penglihatan. Maka, pengukuran tajam
penglihatan adalah sebuah tes yang sederhana dalam menentukan status kesehatan mata, sistem
penglihatan sentral, dan jaras-jaras penglihatan menuju otak. Berbagai penurunan tajam penglihatan
secara tiba-tiba selalu merupakan hal yang harus diperhatikan. Penyebab sering dari turunnya tajam
penglihatan adalah katarak, dan parut kornea yang mempengaruhi jalur penglihatan, penyakit-
penyakit yang mempengaruhi retina seperti degenarasi makular, dan diabetes, penyakit-penyakit yang
mengenai jaras optik menuju otak seperti tumor dan sklerosis multipel, dan penyakit-penyakit yang
mengenai korteks visual seperti stroke dan tumor.
PEMERIKSAAN VISUS SATU MATA
Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan pada mata tanpa atau dengan kaca mata. Setiap mata di
periksa terpisah. Biasakan memeriksa tajam penglihatan kanan dahulu.

26Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Pada pemeriksaan tajam penglihatan di gunakan kartu baku / standar misalnya kartu baca
snellen.Dengan kartu snellen dapat ditentukan tajam penglihatan atau kemampuan melihat seseorang,
seperti :
- Bila tajam penglihatan 6/6 maka ia dapat melihat huruf pada jarak 6 meter, yang oleh orang
normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6 meter.
- Bila pasien membaca hanya sebatas huruf baris yang menunjukkan angka 30, tajam penglihtan
pasien adalah 6/30.
- Bila tajam penglihatan adalah 6/60 berarti ia hanya dapat terlihat pada jarak 6 meter yang pada
orang normal dapat dilihat pada jarak 60 meter.
- Bila pasien tidak dapat mengenal huruf terbesar pada kartu snellen maka dilakukan uji hitung jari.
Jari dapat dilihat terpisah oleh orang normal pada jarak 60 meter.
- Bila pasien hanya dapat melihat jari pada jarak 3 meter, maka dinyatakan tajam penglihatan
adalah 3/60. Dengan pengujian ini tajam penglihatan hanya dapat dinilai sampai 1/60, yaitu
menghitung jari pada jarak 1 meter.
- Dengan uji lambaian tangan, maka dapat dinyatakan tajam penglihatan pasien lebih buruk dari
1/60. orang normal dapat melihat lambaian tangan pada jarak 300 meter. Bila pasien hanya dapat
melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter, berarti tajam penglihatan 1/300.
- Kadang-kadang mata hanya dapat melihat sinar. Keadaan ini disebut sebagai tajam penglihatan
1/~.
- Bila penglihatan sama sekali tidak mengenal sinar maka penglihatan adalah 0 (buta total).

Snellen chart
Bila seseorang diragukan apakah penglihatanya berkurang akibat kelaianan refraksi, maka dilakukan
uji pinhole. Bila dengan pinhole penglihatan lebih baik, maka berarti ada kelainan refraksi yang
masih dapat dikoreksi dengan kacamata. Bila penglihatan berkurang dengan diletakkan nya pinhole di
depan mata berarti ada kelainan organik atau kekeruhan media penglihatan yang mengakibatkan
penglihatan menurun.

III. Tata Kerja


1. Minta o.p. untuk duduk pada jarak yang ditentukan (6 m) dari Snellen Chart

27Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


2. Ukur jarak pupil untuk penglihatan jauh
3. Pasang trial frame, atur jarak pupil
4. Tutup mata kiri dengan okluder.
5. Periksa tajam penglihatan pasien.
6. Tambahkan lensa S + 0,50 pada mata kanan.
7. Tanyakan apakah penglihatan bertambah jelas atau tidak
8. Bila bertambah jelas, tambahkan terus lensa sferis positif hingga tercapai tajam penglihatan
terbaik. Pilih lensa sferis positif terbesar yang memberi tajam penglihatan yang terbaik.
9. Bila dengan langkah 6, penglihatan bertambah kabur, tambahkan lensa S -0,50. Bila bertambah
jelas, tambahkan terus lensa negatif hingga tercapai tajam penglihatan terbaik. Pilih lensa sferis
negatif terkecil yang memberikan tajam penglihatan terbaik.
10. Ulangi langkah 4-9 untuk mata kiri.
11. Periksa kembali tajam penglihatan dua mata menggunakan lensa koreksi.
12. Minta o.p. berdiri dan berjalan, tanyakan apakah merasa pusing.

IV. Hasil Percobaan dan Analisa


Nama O.P : Novita Fitri
tanpa lensa mata kanan : 20/100
tanpa lensa mata kiri : 20/50
Mata kanan Mata kiri
-0,5 = 20/70 -0,5 = 20/40
-1 = 20/30 -1 = 20/20
-1,5 = 20/20 -1,5 = 20/20

Koreksi lensa sferis o.p.: OD: -1,5, OS: -1

V. Kesimpulan
Ketajaman penglihatan (visus) bergantung dari ketajaman fokus retina dalam bola mata dan sensifitas
dari interpretasi di otak. Untuk menghasilkan detail penglihatan, sistem optik mata harus
memproyeksikan gambaran yang fokus pada fovea. Ketajaman visus juga dipengaruhi oleh diameter
pupil. Mata memiliki kemampuan berefraksi untuk menghasilkan bayangan yang tepat di retina.
Kelainan-kelainan seperti miopi, hipermetropi, astigmatisme, dan afakia dapat diatasi dengan penggunaan
lensa yang tepat.
Lapang pandang manusia memiliki batas pada sudut-sudut tertentu, dan pada bagian temporal
terdapat area yang tidak terlihat karena adanya bintik buta pada posterior mata. Penglihatan manusia
bersifat binocular karena adanya titik identik pada kedua retina. Pada retina terdapat berbagai macam
fotoreseptor sehingga manusia bisa melihat bermacam warna.

TES BUTA WARNA

I. Tujuan Percobaan
Mengetahui cara pemeriksaan serta jenis buta warna serta ada tidaknya buta warna pada o.p.

28Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


II. Dasar Teori
Retina mata memiliki hampir tujuh juta sel fotoreseptor yang terdiri dari dua jenis sel sel batang dan
sel kerucut yang terkonsentrasi di bagian tengahnya yang disebut makula. Sel batang sangat sensitif
terhadap cahaya, dan dapat menangkap cahaya yang lemah seperti cahaya dari bintang di malam hari,
tetapi sel itu tidak dapat membedakan warna. Berkat sel batang kita dapat melihat hal-hal di sekitar
kita di malam hari, tetapi hanya dalam nuansa hitam, abu-abu, dan putih. Sel kerucut dapat melihat
detail obyek lebih rinci dan membedakan warna tetapi hanya bereaksi terhadap cahaya terang. Kedua
jenis sel tersebut berfungsi saling melengkapi sehingga kita bisa memiliki penglihatan yang tajam,
rinci, dan beraneka warna.
Ada tiga jenis sel kerucut pada retina. Mereka masing-masing berisi pigmen visual (opsin) yang
berbeda sehingga bereaksi terhadap panjang gelombang cahaya yang berbeda : merah, hijau dan biru.
Sel kerucut menangkap gelombang cahaya sesuai dengan pigmen masing-masing dan meneruskannya
dalam bentuk sinyal transmisi listrik ke otak. Otak kemudian mengolah dan menggabungkan sinyal
warna merah, hijau dan biru dari retina ke tayangan warna tertentu. Karena perbedaan intensitas dari
masing-masing warna pokok tersebut, kita dapat membedakan jutaan warna. Gangguan penerimaan
cahaya pada satu jenis atau lebih sel kerucut di retina berdampak langsung pada persepsi warna di
otak. Seseorang yang buta warna memiliki cacat atau kekurangan satu atau lebih jenis sel kerucut.

KLASIFIKASI BUTA WARNA


Buta warna dikenal berdasarkan istilah Yunani protos (pertama), deutros (kedua), dan tritos (ketiga)
yang pada warna 1. Merah, 2. Hijau, 3. Biru.
1. Anomalous trichromacy
Anomalous trichromacy adalah gangguan penglihatan warna yang dapat disebabkan oleh faktor
keturunan atau kerusakan pada mata setelah dewasa. Penderita anomalous trichromacy memiliki
tiga sel kerucut yang lengkap, namun terjadi kerusakan mekanisme sensitivitas terhadap salah
satu dari tiga sel reseptor warna tersebut. Pasien buta warna dapat melihat berbagai warna akan
tetapi dengan interpretasi berbeda daripada normal yang paling sering ditemukan adalah:
a. Trikromat anomali, kelainan terdapat pada short-wavelenght pigment (blue). Pigmen biru ini
bergeser ke area hijau dari spectrum merah. pasien mempunyai ketiga pigmen kerucut akan
tetapi satu tidak normal, kemungkinan gangguan dapat terletak hanya pada satu atau lebih
pigmen kerucut. Pada anomali ini perbandingan merah hijau yang dipilih pada anomaloskop
berbeda dibanding dengan orang normal.

29Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


b. Deutronomali, disebabkan oleh kelainan bentuk pigmen middle-wave lenght (green). Dengan
cacat pada hijau sehingga diperlukan lebih banyak hijau, karena terjadi gangguan lebih
banyak daripada warna hijau.
c. Protanomali adalah tipe anomalous trichromacy dimana terjadi kelainan terhadap long-
wavelenght (red) pigmen, sehingga menyebabkan rendahnya sensitifitas warna merah.
Artinya penderita protanomali tidak akan mempu membedakan warna dan melihat campuran
warna yang dilihat oleh mata normal. Penderita juga akan mengalami penglihatan yang
buram terhadap warna spektrum merah. Hal ini mengakibatkan mereka dapat salah
membedakan warna merah dan hitam.
2. Dichromacy
Dichromacy adalah jenis buta warna di mana salah satu dari tiga sel kerucut tidak ada atau tidak
berfungsi. Akibat dari disfungsi salah satu sel pigmen pada kerucut, seseorang yang menderita
dikromatis akan mengalami gangguan penglihatan terhadap warna-warna tertentu.
Dichromacy dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan pigmen yang rusak:
a. Protanopia adalah salah satu tipe dichromacy yang disebabkanoleh tidak adanya
photoreceptor retina merah. Pada penderita protonopia, penglihatan terhadap warna merah
tidak ada. Dichromacy tipe ini terjadi pada 1 % dari seluruh pria. Keadaan yang paling sering
ditemukan dengan cacat pada warna merah hijau sehingga sering dikenal dengan buta warna
merah hijau.
b. Deutranopia adalah gangguan penglihatan terhadap warna yang disebabkan tidak adanya
photoreceptor retina hijau. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam membedakan hue pada
warna merah dan hijau (red-green hue discrimination).
c. Tritanopia adalah keadaan dimana seseorang tidak memiliki shortwavelength cone. Seseorang
yang menderita tritanopia akan kesulitan dalam membedakan warna biru dan kuning dari
spektrum cahaya tanpak. Tritanopia disebut juga buta warna biru-kuning dan merupakan tipe
dichromacy yang sangat jarang dijumpai.
3. Monochromacy
Monochromacy atau akromatopsia adalah keadaan dimana seseorang hanya memiliki sebuah
pigmen cones atau tidak berfungsinya semua sel cones. Pasien hanya mempunyai satu pigmen
kerucut (monokromat rod atau batang). Pada monokromat kerucut hanya dapat membedakan
warna dalam arti intensitasnya saja dan biasanya 6/30. Pada orang dengan buta warna total atau
akromatopsia akan terdapat keluhan silau dan nistagmus dan bersifat autosomal resesi.
Bentuk buta warna dikenal juga :
1. Monokromatisme rod (batang) atau disebut juga suatu akromatopsia di mana terdapat kelainan
pada kedua mata bersama dengan keadaan lain seperti tajam penglihatan kurang dari 6/60,
nistagmus, fotofobia, skotoma sentral, dan mungkin terjadi akibat kelainan sentral hingga
terdapat gangguan penglihatan warna total, hemeralopia (buta silang) tidak terdapat buta senja,

30Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


dengan kelainan refraksi tinggi. Pada pemeriksaan dapat dilihat adanya makula dengan pigmen
abnormal.
2. Monokromatisme cone (kerucut), di mana terdapat hanya sedikit cacat, hal yang jarang, tajam
penglihatan normal, tidak nistagmus.

Metode Ishihara
Menurut Guyton (1997) Metode ishihara yaitu metode yang dapat dipakai untuk menentukan dengan
cepat suatu kelainan buta warna didasarkan pada penggunaan kartu bertitik-titik, seperti gambar 1. Kartu
ini disusun dengan menyatukan titik-titik yang mempunyai bermacam-macam warna. Pada gambar 1.
orang normal akan melihat angka 74, sedangkan penderita buta warna merah-hijau akan melihat angka
21.

gambar 1
Tes buta warna Ishihara terdiri dari lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai warna
dan ukuran. Titik berwarna tersebut disusun sehingga membentuk lingkaran. Warna titik itu dibuat
sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat
orang normal (pseudo-isochromaticism). Dalam tes buta warna ishihara ini digunakan 38 plate atau
lembar gambar. Dimana gambar-gambar tersebut memiliki urutan 1 sampai 38.

III. Tata Kerja


Tahapan dalam pemeriksaan buta warna dengan metode ishihara, yaitu :
1. Menggunakan buku Ishihara 38 plate.
2. Yang perlu diperhatikan :
1) Ruangan pemeriksaan harus cukup pencahayaannya
2) Lama pengamatan untuk membaca angka masing-masing lembar maksimum 10 detik.
3. Pada tes pembacaan buku Ishihara dapat disimpulkan :
1) Normal
2) Buta warna Parsial
a. Bila plate no. 1 sampai dengan no 17. hanya terbaca 13 plate atau kurang.
b. Bila terbaca angka-angka pada plate no. 18, 19, 20 dan 21 lebih mudah atau lebih jelas
dibandingkan dengan plate no. 14, 10, 13, dan 17.
c. Bila ragu-ragu kemungkinan buta warna parsial dapat dites dengan:
a) Membaca angka-angka pada plate no. 22, 23, 24, dan 25. Pada orang normal, akan
terbaca dengan benar angka-angka pada plate-plate tersebut diatas secara lengkap

31Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


(dua rangkap). Pada penderita buta warna parsial hanya terbaca satu angka pada tiap-
tiap plate tersebut diatas.
b) Menunjuk arah alur pada plate no. 26, 27, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, dan 38.
Untuk orang normal bisa menunjuk alur secara benar sedangkan untuk buta warna
parsial dapat menunjukkan adanya alur dari satu sisi yang lainnya.
3) Buta warna total
Pada plate no. 28 dan 29, untuk orang normal, tidak bisa menunjukkan adanya alur,
sedangkan untuk penderita buta warna parsial dapat menunjukkan adanya alur dari satu sisi
ke sisi yang lainnya.
IV. Hasil Percobaan dan Analisa
Nama OP : Selvia Zurni
o.p. dapat membaca semua plate dan mengikuti alur di buku ishihara, o.p. normal, tidak buta warna.

V. Kesimpulan
Seseorang yang buta warna memiliki cacat atau kekurangan satu atau lebih jenis sel kerucut. Buta
warna memiliki beberapa klasifikasi yang masing-masing bisa diuji melalui buku ishihara yang
memiliki pola warna-warna tertentu yang harus dibaca .

DAFTAR PUSTAKA
Thianren. 2008. Penurunan Visus Pada Katarak dengan Diabetes Mellitus.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23511/4/Chapter%20II.pdf

III. PENGLIHATAN II: Pemeriksaan Luas Lapang Pandang (Perimeter)

Pelaksanaan Praktikum

Tujuan:
Pada akhir latihan ini, mahasiswa harus dapat:
1. Menimbulkan peristiwa fosfen tekan dan menyebutkan hukum serta fenomena yang berhubungan
dengan peristiwa tersebut.
2. Memeriksa luas lapangan pandang untuk beberapa macam warna dengan menggunakan
perimeter.
3. Menimbulkan peristiwa diplopia dan menerangkan mekanismenya.
4. Memeriksa refleks pupil langsung dan tidak langsung dengan refleks pupil pada akomodasi.

32Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


5. Menyatakan adanya bintik buta dengan menggambarkan proyeksinya di kertas.
6. Melihat gerakan eritrosit retina sendiri.

Alat yang diperlukan:


1. Perimeter + Formulir
2. Lampu senter + Kaca biru atau kaca ungu.

I. Dasar Teori

Mata adalah struktur khusus tempat reseptor-reseptor peka cahaya yang penting untuk persepsi
penglihatan yaitu, sel kerucut dan sel batang ditemukan di lapisan retina. Iris mengontrol ukuran pupil
dan mengatur jumlah cahaya yang diperbolehkan masuk ke mata. Kornea dan lensa adalah struktur
refraktif utama yang membelokkan berkas cahaya masuk agar bayangan terfokus di retina. Kornea
merupakan penentu utama kemampuan refraktif mata. Kekuatan lensa dapat diubah-ubah melalui kerja
otot siliaris agar mata dapat berakomodasi untuk penglihatan jauh atau dekat.
Sel batang dan kerucut diaktifkan apabila fotopigmen yang mereka miliki menyerap berbagai panjang
gelombang cahaya. Penyerapan cahaya menyebabkan perubahan biokimiawi pada fotopigmeen yang
akhirnya dikonversikan menjadi perubahan kecepatan perambatan potensial aksi di jalur penglihatan yang
meninggalkan retina. Pesan visual di salurkan ke korteks penglihatan di otak untuk pengolahan
perceptual.
Sel kerucut memperlihatkan ketajaman yang tinggi, tetapi hanya dapat digunakan untuk penglihatan
di siang hari, karena memiliki kepekaan yang rendah terhadap cahaya. Penglihatan warna ditimbulkan
oleh bermacam-macam rasio stimulasi terhadap ketiga jenis sel kerucut oleh berbagai panjang gelombang
cahaya. Sel batang menghasilkan penglihatan yang samar berupa rona abu-abu, tetapi karena sangat peka
terhadap cahaya, sel-sel batang dapat digunakan untuk melihat pada malam hari (Sherwood, L. 2001)
Lapangan pandang mata adalah luas lapangan penglihatan seorang individu. Terdapat tiga jenis
lapangan pandang; lapangan makular yaitu lapangan pandang yang paling jelas dilihat oleh kedua mata,
lapangan binokular yang dilihat oleh kedua mata secara umumnya dan lapangan monokular yaitu
kawasan yang bisa dilihat oleh salah satu mata saja.
Jaringan neural penglihatan terjadi apabila cahaya yang masuk ke dalam mata sampai ke fotoreseptor
di retina.Setelah itu, transmisi impuls pada nervus optikus kepada kiasma optik. Traktus optikus, yaitu
serabut saraf optik dari kiasma optik, membawa impuls ke lobus serebral dimana penglihatan
diinterpretasikan.

33Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Untuk suatu objek terfokus ke atas retina, semakin jauh objek itu, semakin menipis lensa mata untuk
memfokusnya. Pengubahan bentuk lensa dikawal oleh otot siliari yang terdapat pada badan siliari, disebut
akomodasi. Apabila terjadi kontraksi, fiber dalam ligamen suspensori meregang dan menyebabkan lensa
menebal dan menjadi lebih konveks.

PEMERIKSAAN LAPANGAN PANDANG


Pemeriksaan lapang pandangan sentral dan perifer dipergunakan untuk tiga alasan yaitu mendeteksi
kelainan tajam penglihatan, mencari lokasi kelainan disepanjang jaras saraf penglihatan, melihat besar
kelainan mata dan perubahannya dari waktu ke waktu atau follow up. Pemeriksaan ini dipergunakan
untuk mengeliminir differential diagnosis dan dipergunakan untuk melihat progresifitas penyakit, dan
biasanya menyertai pemeriksaan lain misalnya: pemeriksaan ketajaman penglihatan, penglihatan warna
atau pemeriksaan mata lainnya.
Pemeriksaan lapang pandangan dapat dilakukan dengan berbagai cara, dari yang sangat sederhana
bahkan tanpa alat, sampai dengan pemakaian alat canggih. Pemeriksaan ini selalu dilakukan pada satu
mata baru kemudian dilakukan pada mata yang lain.
Pemeriksaan lapang pandangan bisa dilakukan dengan cara yaitu dengan uji konfrontasi dan kisi
Amsler, atau dengan cara yang lebih canggih (dengan perimeter Goldmann). Pemeriksaan lapang
pandangan sederhana apabila dikerjakan dengan benar dan didukung dengan pemahaman teori yang
memadai, akan dapat mengungkapkan berbagai kelainan lintasan visual.
Bila kita memfiksasi pandangan kita ke satu benda, benda ini terlihat nyata, sedangkan benda-benda
di sekitarnya tampak kurang tajam. Seluruh lapangan yang terlihat, bila kita memfiksasi mata ke satu
benda disebut lapangan pandang.
Pada pemeriksaan lapangan pandang, kita menentukan batas perifer dari penglihatan, yaitu batas
sampai mana benda dapat dilihat, jika mata difiksasi pada satu titik. Sinar yang datang dari tempat fiksasi
jatuh di makula, yaitu pusat melihat jelas (tajam), sedangkan yang datang dari sekitarnya jatuh di bagian
perifer retina.
Lapangan pandang yang normal mempunyai bentuk tertentu, dan tidak sama ke semua arah.
Seseorang dapat melihat ke lateral sampai sudut 90-100 derajat dari titik fiksasi, ke medial 60 derajat, ke
atas 50-60 derajat dan ke bawah 60-75 derajat. Ada tiga metode standar dalam pemeriksaan lapang
pandang yaitu dengan metode konfrontasi, perimeter, dan kampimeter atau tangent screen.
Perimeter
Perimeter adalah penggunaan alat untuk memeriksa lapangan pandang dengan mata terfiksasi sentral.
Penilaian lapangan pandang merupakan hal yang penting ditakukan pada keadaan penyakit yang

34Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


mempunyai potensi terjadinya kebutaan. Pada glaukoma pemeriksaan ini berguna dalam pengobatan
penyakit dan pencegahan kebutaan.
Perimeter adalah setengah lingkaran yang dapat diubah-ubah letaknya pada bidang meridiannya. Cara
pemakaiannya serta cara melaporkan keadaan sewaktu pemeriksaan sama dengan kampimeter.
Pemeriksaan lapang pandangan dilakukan dengan Perimeter, merupakan alat yang dipergunakan
untuk menentukan luas lapang pandangan. Alat ini berbentuk setengah bola dengan jari- jari 30 cm,
dan pada pusat parabola ini penderita diletakkan untuk diperiksa.
Batas lapang pandangan perifer adalah 90o temporal, 75o inferior, 60o nasal, dan 60o superior. Dapat
dilakukan pemeriksaan statik ataupun kinetik.
Pemeriksaan ini berguna untuk :
o Membantu diagnosis pada keluhan penglihatan
o Melihat progresifitas turunnya lapang pandangan
o Merupakan pemeriksaan rutin pada kelainan susunan saraf pusat
o Memeriksa adanya histeria atau malingering.
Dikenal 2 cara pemeriksaan Perimeter, yaitu :
a) Perimeter kinetik yang disebut juga perimeter isotropik dan topografik, dimana pemeriksaan
dilakukan dengan objek digerakkan dari daerah tidak terlihat menjadi terlihat oleh pasien.
b) Perimeter statik atau perimeter profil dan perimeter curve differential threshold, dimana
pemeriksaan dengan tidak menggerakkan objek akan tetapi dengan menaikkan intensitas objek
sehingga terlihat oleh pasien.
Uji konfrontasi

II. Pemeriksaan Luas Lapang Pandang (Perimeter)


1. Suruh op duduk membelakangi cahaya menghadap alat perimeter.
2. Tutup mata op dengan sapu tangan.
3. Letakan dagu op ditempat sandaran dagu yang dapat diatur tingginya, sehingga tepi bawah mata
kanannya terletak setinggi bagian atas batang vertikal sandaran dagu.
4. Pasang formulir untuk mata kanan disebelah belakang piringan perimeter. Sebagai berikut:
a. Putar busur perimeter sehingga letaknya horizontal dan penjepit formulir berada dibagian atas
perimeter.
b. Jepit formulir tersebut pada piringan sehingga garis 180-0 formulir letaknya berimpit dengan
garis 0-180 piringan perimeter, dan lingkaran konsentris formulir letaknya skala perimeter.
5. Suruh op memusatkan penglihatannya pada titik fiksasi ditengah perimeter. Selama pemeriksaan,

35Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


penglihatan op harus tetepa dipusatkan pada titik fiksasi tersebut.
6. Gunakan benda yang dapat digeser pada busur perimeter untuk pemeriksaan luas lapang pandang.
Pilih bulatan berwarna putih dengan diameter sedang (+5mm) pada benda tersebut.
P-VI 3.3 Bagaimana caranya memilih warna dan mengatur diameter bulatan?
7. Gunakan perlahan-lahan bulatan putih itu menyusuri busur di tepi kiri op ketengah tepat saat op
melihat bulatan putih tersebut penggeseran benda dihentikan.
8. Baca tempat penghentian itu pada busur dan catat pada formulir dengan tepat.
P-VI 3.4 Bagaimana caranya mencatat tempat itu pada formulir?
9. Ulangi tindakan no 7 dan 8 pada sisi busur yang berlawanan tanpa mengubah posisi busur.
10. Ulangi tindakan no 7, 8, dan 9 setelah busur tiap kali diputar 30 derajat sesuai arah jarum dari
pemeriksa sampai posisi busur vertikal.
11. Kembalikan busur pada posisi horizontal seperti semula, pada posisi ini tidak perlu dilakukan
pencatatan lagi.
12. Ulangi tindakan no 7, 8, dan 9 setelah busur tiap kali diputar 30 derajat berlawanan arah jarum
dari pemeriksa, sampai tercapai posisi busur 60 derajat dari bidang horizontal.
13. Periksa juga lapang op untuk berbagai warna lain : Merah, Hijau, Kuning dan Biru seperti cara
diatas.
14. Lakukan juga pemeriksaan lapang pandang untuk mata kiri hanya dengan bulatan berwarna putih
P-VI.3.5 Apa kriteria lapang pandang yang normal untuk cahaya putih dan berwarna?

Gambar 1. Lapang pandang baku (Visual Standart) mata kiri dan kanan
Batas minimal lapang pandang normal:
Temporal 85 derajat Nasal 60 derajat
Temporal Bawah 85 derajat Nasal atas 55 derajat

36Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Bawah 65 derajat Atas 45 derajat
Nasal Bawah 50 derajat Temporal Atas 55 derajat
Luas lapang pandang total : 500 derajat

II. Hasil Praktikum dan Analisa Data


1) Mata Kiri (Putih)
Searah Jarum Jam
Sudut Temporal Nasal
180o 80 75
150o 80 70
120o 70 55
90o 70 50

Berlawanan Jarum Jam


Sudut Temporal Nasal
30o 70 80
60o 50 75

2) Mata Kanan (Kuning)


Searah Jarum Jam
Sudut Temporal Nasal
o
180 70 75
150o 85 60
120o 80 55
90o 65 55
Berlawanan Jarum Jam
Sudut Temporal Nasal
30o 75 65
60o 60 65

3) Mata Kanan (Hijau)


Searah Jarum Jam
Sudut Temporal Nasal
180o 90 75
150o 85 75
120o 80 65
90o 55 60

Berlawanan Jarum Jam


Sudut Temporal Nasal
30o 80 75
60o 60 65

37Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


4) Mata Kanan (Biru)
Searah Jarum Jam
Sudut Temporal Nasal
180o 70 65
o
150 70 45
120o 70 50
90o 45 50
Berlawanan Jarum Jam
Sudut Temporal Nasal
30o 65 65
60o 60 70

5) Mata Kanan (Merah)


Searah Jarum Jam
Sudut Temporal Nasal
180o 90 75
o
150 80 70
120o 80 55
90o 55 70
Berlawanan Jarum Jam
Sudut Temporal Nasal
30o 80 70
60o 60 70

6) Mata Kanan (Putih)


Searah Jarum Jam
Sudut Temporal Nasal
180o 80 80
o
150 80 70
120o 80 60
90o 65 75
Berlawanan Jarum Jam
Sudut Temporal Nasal
30o 75 75
60o 60 70

Dari hasil terlihat batas pandangan normal, dan mata lebih peka/batas lapang pandang lebih luas saat
melihat titik berwarna dibandingkan warna gelap/putih.

III. MENJAWAB PERTANYAAN

P-VI.3.3 Bagaimana caranya memilih warna dan mengatur diameter bulatan?


Jawab:

38Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Dalam busur perimetri, sudah tersedia bulatan dengan beberapa ukuran diameter bulatan. Setiap
bulatan terdiri dari beberapa warna berbeda, yaitu putih, merah, biru, kuning dan hijau. Kita
hanya tinggal mencari diameter yang sesuai dan memutar warna sesuai yang kita inginkan.
Dalam praktikum kali ini, kita menggunakan diameter sedang ( 5 mm) selanjutnya kita pilih
warna, dengan cara memutar bulatan sampai menemukan warna yang sesuai. Sebagai contoh,
kita ingin melalukan tes lapang pandang untuk mata kanan dengan warna merah. Maka kita
putar bulatan tersebut hingga tampak warna merah pada bulatan.

P-VI 3.4 Bagaimana caranya mencatat tempat itu pada formulir?


Jawab:
Dalam busur perimetri sudah dilengkapi oleh ukuran derajat yang sesuai. Sehingga saat O.P.
sudah tidak bisa melihat lagi warna pada bulatan, maka dititik itulah kita membaca sampai di
derajat berapakah lapang pandang matanya, kemudian pindahkan kedalam tabel.

P-VI.3.5 Apa kriteria lapang pandang yang normal untuk cahaya putih dan berwarna?
Jawab:
Pada pemeriksaan lapang pandang, kita menentukan batas perifer dari penglihatan, yaitu batas
sampai dimana benda dapat dilihat jika mata difiksasi pada satu titik. Lapang pandang normal
adalah memiliki bentuk tertentu, dan tidak sama kesemua arah.

Ada 4 fotopigmen berbeda, 1 di sel batang dan masing masing di 3 sel kerucut rodopsin.
Fotopigmen menyerap semua panjang gelombang cahaya, oleh karena itu sel batang hanya
mendeteksi perbedaan intensitas, memberi bayangan abu-abu. Tanpa mendekripsikan perbedaan
warna. Sedangkan foto pigmen diketiga jenis sel kerucut-kerucut merah, hijau, biru berespon
selektif terhadap berbagai gelombang cahaya, sel kerucut inilah yang menyebabkan kita dapat
membedakan berbagai warna.

Lapangan Pandang Normal


Temporal 85o
Temporal Bawah 85o
Bawah 65o
Nasal Bawah 50o
Nasal 60o
Nasal Atas 55o
Atas 45o
Temporal Atas 55o
Total 500o

Kesimpulan
Lapangan pandang mata adalah luas lapangan penglihatan seorang individu. Terdapat tiga jenis
lapangan pandang; lapangan makular yaitu lapangan pandang yang paling jelas dilihat oleh kedua mata,

39Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


lapangan binokular yang dilihat oleh kedua mata secara umumnya dan lapangan monokular yaitu
kawasan yang bisa dilihat oleh salah satu mata saja.
Pada pemeriksaan lapangan pandang, kita menentukan batas perifer dari penglihatan, yaitu batas
sampai mana benda dapat dilihat, jika mata difiksasi pada satu titik. Sinar yang datang dari tempat fiksasi
jatuh di makula, yaitu pusat melihat jelas (tajam), sedangkan yang datang dari sekitarnya jatuh di bagian
perifer retina.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah dengan Perimeter. Pada Perimeter, pemeriksaan ini berguna
untuk membantu diagnosis pada keluhan penglihatan, melihat progresifitas turunnya lapang pandangan,
merupakan pemeriksaan rutin pada kelainan susunan saraf pusat, memeriksa adanya histeria atau
malingering.
Konsep warna tergantung dalam benak yang melihat. Sebagian besar kita lihat, karena kita memiliki
jenis sel-sel kerucut yang sama dan menggunakan jalur-jalur saraf yang sama untuk membandingkan
keluaran mereka. Lapang pandang menjadi lebih luas ketika harus melihat objek berwarna karena lebih
terang untuk dilihat oleh mata.

DAFTAR PUSTAKA

Ganong,F.William. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ed.20. Jakarta:EGC


Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem ed.2. Jakarta:EGC
Sloane, Ethel. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC
Lumbantobing, S. M. Saraf Otak. Dalam Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010. h. 2530

PRAKTIKUM FISIOLOGI III


40Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-
I. TES FUNGSI PENDENGARAN DENGAN GARPU TALA

Tujuan Praktikum
Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat :
1. Mendemonstrasikan cara untuk melakukan tes pendengaran yang benar.
2. Memahami hasil interprestasi dari hasil percobaaan dari tes pendengaran yang didapat.

Alat-alat yang diperlukan: Garpu tala

Dasar Teori
a. Test Rinne
Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran tulang dengan hantaran
udara pada satu telinga pasien. Ada 2 macam tes rinne, yaitu :
Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum
mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Setelah pasien tidak mendengar bunyinya, segera
garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien. Tes Rinne positif jika pasien masih
dapat mendengarnya. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya.
Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus pada
planum mastoid pasien. Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus. Kita
menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari
pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid). Tes rinne positif jika pasien mendengar
didepan maetus akustikus eksternus lebih keras. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar
didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang.
Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien.
Kesalahan dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus, tangkai garputala mengenai
rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. Juga bisa karena jaringan lemak planum
mastoid pasien tebal.
Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar
bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Akibatnya getaran kedua
kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus.

Test Weber
Tujuan melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien.
Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak
lurus pada garis horizontal. Menurut pasien, telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras.
Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga

41Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


tersebut. Jika kedua pasien sama-sama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak
ada lateralisasi.
Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak, sehingga akan terdengar
diseluruh bagian kepala. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal: otitis media
purulenta pada telinga kanan. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar, biala
ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan.
Test Swabach
Bertujuan untuk membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal)
dengan probandus. Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala
probandus. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya
tidak mendengar suara garputala lagi. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala, maka penguji
akan segera memindahkan garputala itu, ke puncak kepala orang yang diketahui normal ketajaman
pendengarannya (pembanding). Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar
suara, atau tidak mendengar suara.

Tabel 1. Membedakan Tuli konduktif dan Tuli Sensorineural pada Tes Garputala
Webber Rinne Schwabach
Metode Meletakkan garpu tala Meletakkan garpu tala yang Konduksi tulang pasien
yang bergetar pada dahi bergetar di prosesus mastoid dibandingkan dengan
hingga subjek tidak mendengar pemeriksa (normal).
lalu di dipindahkan ke depan
telinga
Normal Mendengar sama pada Mendengar vibrasi di udara Sama panjang antara
kedua telinga. setelah konduksi tulang selesai. pemeriksa dan pasien.
Tuli Konduktif Suara terdengar pada Vibrasi di udara tidak terdengar Konduksi tulang lebih
telinga sakit karena tidak setelah konduksi di tulang baik dibandingkan
adanya masking effect selesai. normal (defek konduksi
pada sisi yang sakit. meniadakan masking
effect).
Tuli Suara terdengar pada Vibrasi pada udara terdengar Konduksi tulang lebih
Sensorineural telinga normal. setelah konduksi tulang selesai, buruk dibandingkan
sepanjang tuli sarafnya parsial. normal.

Hasil pemeriksaan
Pemeriksaan Fungsi Pendengaran dengan Garputala
Nama Usia Hasil Pemeriksaan Interpretasi
Rinne Weber Schwabach
OP

42Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Reza 20 tahun Positif tidak ada lateralisasi sama dengan pemeriksa Normal
Rifqi 20 tahun Positif tidak ada lateralisasi sama dengan pemeriksa Normal

Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan pada kedua o.p, maka didapatkan interpretasi hasil normal. Hal ini
menunjukan tidak adanya kelainan pendengaran pada kedua o.p.

II. PENDENGARAN DAN KESEIMBANGAN


VI.4.1. PENDENGARAN
Tujuan Praktikum
Pada akhir latihan ini, mahasiswa harus dapat:
1. Mengukur ketajaman pendengaran dengan menggunakan audiometri
(pemeriksaan audiometri).
2. Membuat kesimpulan mengenai hearing loss dari hasil pemeriksaan audiometri sehingga dapat
menetapkan apakah pendengaran orang percobaan dalam batas-batas normal atau tidak.

Alat-alat yang diperlukan :


1. Audiometer merek ADC. Lengkap dengan telepon telinga dan formulir.
2. Penala berfrekuensi 256.
3. Kapas untuk menyumbat telinga.

Teori Dasar
Pemeriksaan audiometri

Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. Alat ini menghasilkan nada-nada
murni dengan frekuensi melalui aerophon. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan
diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Hal ini menghasilkan
pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh.
a. Definisi
Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji
pendengaran). Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran, tetapi juga
dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan
pendengaran.
Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara, audiologis dan pasien yang
kooperatif. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah :
*Audiometri nada murni
Suatu sistem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-
nada murni dari berbagai frekuensi 250-500, 1000-2000, 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam

43Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


satuan (dB). Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang
yang diperiksa pendengarannya. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hantaran
udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang, sehingga akan didapatkankurva hantaran
tulang dan hantaran udara. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang
pendengaran seseorang. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan
berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada murni.

Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran

Kehilangan dalam Klasifikasi


(decibel)
0-15 Pendengaran normal
>15-25 Kehilangan pendengaran kecil
>25-40 Kehilangan pendengaran ringan
>40-55 Kehilangan pendengaran sedang
>55-70 Kehilangan pendenngaran sedang berat
>70-90 Kehilangan pendengaran berat
>90 Kehilangan pendengaran berat sekali

*Audiometri tutur
Audiometri tutur adalah sistem uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah
dibakukan, dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi, untuk mengukur beberapa aspek
kemampuan pendengaran. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon
yang dihubungkan dengan audiometri tutur, kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang
diperiksa pendengarannya, atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman,
kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. Penderita diminta untuk
menirukan dengan jelas setip kata yang didengar, dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas
karena intensitasnya makin dilemahkan, pendengar diminta untuk menebaknya. Pemeriksa mencatatat
presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas.
Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu :

a) Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu
intensitas minimal dengan benar, yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT, dan dinyatakan
dengan satuan de-sibel (dB).
b) Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-
kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT.

44Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi, apabila seseorang masih memiliki sisa
pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada
diamplifikasi, dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar. Prinsipnya semua tes pendengaran agar
akurat hasilnya, tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. Karena kita memberikan tes paa
frekuensi tertetu dengan intensitas lemah, kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian.

b. Manfaat audiometri
Untuk kedokteran klinik (khususnya penyakit telinga), untuk kedokteran klinik (kehakiman, tuntutan
ganti rugi), untuk kedokteran klinik pencegahan, deteksi ketulian pada anak-anak

gambar 1. Simbol Audiometer

gambar 2. Normal gambar 3. CHL

45Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


gambar 4. SNHL

AUDIOMETER

Keterangan teknis mengenai audiometer.


P.VI. 4. 1 Apa guna audiometer dan bagaimana cara kerjanya?
Jawab :
Audiometer adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengetahui level pendengaran seseorang. Dengan
bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometer, maka derajat ketajaman pendengaran seseorang
dapat dinilai. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran
atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendengaran. Untuk
mendapatkan tingkat pendengaran dengan cara merekam respon dari pasien setelah memberikan pasien
tersebut rangsangan auditory dengan berbagai intensitas level.

Pada bagian muka audiometer ADC terdapat berbagai tombol dan skala (lihat gambar) yang berungsi
sebagai berikut :

Tombol1 (T) : tombol utama (gunanya untuk menghidupkan atau mematikan ala1).

Tombol2 (T2) : tombol frekuensi nada.


Dengan menggunakan T2 ini kita memilih frekuensi nada yang dapat dibangkitkan oleh ala1. Frekuensi
tersebut dapat dibaca pada skala (82) yang dinyatakan dalam satuan hertz.

P-VIA. 2 Apa yang dimaksud dengan frekuensi hertz?


Jawab :
hertz merupakan satuan frekuensi yang menandakan banyakanya suatu gelombang dalam 1 detik.

Tombol 3 (T3) : tombol kekuatan nada.

46Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Dengan tombol ini kita dapat mengatur kekuatan nada, kekuatan nada dapat dibaca pada skala (51) yang
dinyatakan dalam decibel.

P-VI.3 Apa yang dimaksud dengan satuan decibel?


Jawab : Desibel (dB) adalah satuan untuk mengukur intensitas suara. Satu desibel ekuvalen dengan
sepersepuluh Bel. Huruf "B" pada dB ditulis dengan huruf besar karena merupakan bagian dari nama
penemunya, yaitu Bell.
Desibel juga merupakan sebuah unit logaritmis untuk mendeskripsikan suatu rasio. Rasio tersebut dapat
berupa daya (power), tekanan suara (sound pressure), tegangan atau voltasi (voltage), intensitas
(intencity), atau hal-hal lainnya. Terkadang. dB juga dapat dihubungkan dengan Phon dan Sone (satuan
yang berhubungan dengan kekerasan suara).

Tombol4 (T4) : tombol pemilih telepon telinga. Bila tombol ini menunjukan ke B, berarti nada yang
dihantarkan ketelepon berwarnahitam (black). Bila tombol menunjukan ke G yang bekerja hanya
telepon kalbu (Grey).
Tombol 5 (T5) : tombol penghubung nada. Dengan memutar tombol ini kekiri, nada akan terdengar
ditelepon bila tombol dilepas, nada tidak terdengar lagi.

P-VIA. Apa yang dimaksud pemutus nada pemeriksaan?


Jawab :
maksud pemutusan nada pada pemeriksaan adalah melepas tombol sehingga nada tidak terdengar lagi
untuk menguji apakah o.p benar-benar mendengar atau hanya pura-pura mendengar.

Tata Kerja
1. Pemeriksaan menyiapkan alat sebagai berikut:
a. putar tombol utama (T1) pada Off.
b. putar tombol frekuensi nada (T2) pada 125.
c. putar tombol kekuatan nada (T3) pada -10dp.

P-VIA. 5 Apa arti fisikologis intensitas 0 dp pada alat ?


Jawab :
0 db sama dengan tingkat tekanan yang mengakibatkan gerakan molekul udara dalam keadaan udara
diam, yang hanya dapat terdeteksi dengan menggunakan instrumen fisika, dan tidak akan terdengar oleh
telinga manusia.
Oleh karena itu, di dalam audiologi ditetapkan tingkat 0 yang berbeda, yang disebut 0 dB klinis atau 0
audiometrik. Nol inilah yang tertera dalam audiogram, yang merupakan grafik tingkat ketunarunguan.
Nol audiometrik adalah tingkat intensitas bunyi terendah yang dapat terdeteksi oleh telinga orang rata-
rata dengan telinga yang sehat pada frekuensi 1000 Hz.

47Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


2. Hubungan audiometer dengan sumbu listrik (125V) dan putar T1 ke ON, 51 dan 52 akan
menyala, bila tidak demikian halnya laporkan pada supervisior.

3. Suruhlah orang percobaan duduk membelakangi audiometer dan pasanglah telepon pada
telinganya sehingga telepon Black ditelinga kiri.

4. Berikan petunjuk pada orang percobaan untuk mengacungkan tangannya ke atas pada saat
mulai dan selama ia mendengar nada melalui salah satu telepon, dan menurunkan tangannya
pada saat nada mulai tidak terdengar lagi.

5. Tunggulah 2 menit lagi untuk memanaskan alat.

6. Putarlah T5 ke kiri dan pertahankanlah selama pemeriksaan.

7. Putarlah tombol kekuatan T3 perlahan-lahan searah dengan jarum jam sampai orang
percobaan mengacungkan tangannya keatas.

8. Teruskanlah memutarkan tombol tersebut sebesar 10 db dan kemudian putarlah tombol T3


tersebut perlahan-lahan berlawanan dengan jarum jam sampai orang percobaan menurunkan
tangannya. Catatlah angka db pada saat itu.

9. Ulangilah tindakan 7 dan 8 dua kali lagi dan ambillah angka terkecil sebagai hearing loss
orang percobaan pada frequency 125 Hz.

10. Selama percobaan ini lepaskanlah sekali-kali T5 pada waktu orang percobaan mengacungkan
tangannya untuk menguji apakah orang percobaan benar-benar mendengar nada atau hanya
pura-pura mendengar.

11. Ukurlah, hearing loss untuk telinga yang sama dengan cara yang sama pula pada requency
250,500,1000,2000,4000,8000,12000 Hz dan catatlah data hasil pengukuran pada formulir
yang telah disediakan.

12. Ulangi seluruh pengukuran ini untuk telinga yang lain.

13. Buatlah audiogram orang percobaan pada formulir yang telah disediakan dengan data yang
diperoleh pada pengukuran.

A. Hasil Pengamatan

B. Pembahasan

48Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Untuk pemeriksaan audiogram, dipakai grafik AC yaitu dibuat dengan garis lurus penuh
(intensitas yang diperiksa antara 125 8000 Hz) dan grafik BC yaitu dibuat dengan garis terputus-
putus (intensitas yang diperiksa 250 4000 Hz). Untuk telinga kiri dipakai warna biru, sedangkan
telinga kanan warna merah.
Pada hasil pemeriksaan bertujuan untuk memberikan gambaran luar mengenai tingkat kehilangan
pendengaran pasien dan penyebabnya. Pasien akan memberikan respon terhadap rangsangan tone
yang diberikan. Tone yang diberikan dengan cara dari frekuensi rendah ke tinggi .
Pada awal, tone sebesar 30dB diberikan kepada pasien sebagai rangsangan awal, jika respon
positif maka level tone diturunkan sebesar 10 dB sampai pasien tidak memberikan respon. Pada
rangsangan pertama jika pasien tidak mendengar maka level tone dinaikkan 10 dB HL sampai
terdengar oleh pasien kemudian diturunkan per 5 dB atau naik 5 dB HL. Frekuensi yang diujikan
berkisar 125-500 Hz.
Diskriminasi nada (kemampuan membedakan berbagai frekuensi gelombang suara yang
datang) bergantung pada bentuk dan sifat membrana basilaris yang menyempit dan kaku diujung
jendela ovalnya dan lebar serta lentur di ujung helikotremanya. Berbagai daerah di membrana
basilaris secara alamiah bergetar secara maksimum pada frekuensi yang berbeda.Ujung sempit paling
dekat jendela oval bergetar maksimum pada nada-nada tinggi sedangkan ujung lebar paling dekat
dengan helikotrema bergetar maksimum pada nada-nada rendah
Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengetahui jenis dan derajat kurang pendengaran
seseorang. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal merupakan
nilai ambang baku pendengaran untuk nada murni. Derajat ketulian menurut ISO, yaitu :
Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran pasien pada stimulus nada murni.
Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. Secara kasar bahwa pendengaran yang
normal grafik berada diatas. Grafiknya terdiri dari skala decibel, suara dipresentasikan dengan
aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator (bone conduction). Bila terjadi air bone gap maka
mengindikasikan adanya CHL. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction
menggambarkan SNHL.

49Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


C. Kesimpulan
Semakin tinggi frekuensi suara maka intensitas yang dapat didengar semakin rendah. Bila terjadi air
bone gap maka mengindikasikan adanya CHL. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone
conduction menggambarkan SNHL. Dari hasil pemeriksaan pendengaran didapatkan bahwa orang
percobaan memberikan respon terhadap rangsangan tone yang diberikan (dari frekuensi rendah ke
tinggi). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa fungsi pendengaran telinga orang percobaan masih
tuli ringan mild hearing loss pada saat AC telinga kanan (35dB), telinga kiri (30dB) sedangkan BC
telinga kiri (35dB) (liat hasil pengamatan serta batas ambang pendengaran menurut ISO).

DAFTAR PUSTAKA

Ganong WF. 2006. Review of medical physiology. 22nd Ed. USA: The McGraw-Hill companies
Guyton AC, Hall JE. 2006. Textbook of medical physiology. 11th ed. Philadelphia: Elsevier.. p663-6.
Marieb EN, Hoehn K. 2010. Human anatomy & physiology. 7th Ed. Pearson education,Inc
Sherwood, Lauralee. 1996. Fisiologi Manusia : Dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta: EGC
Soepardi EA, Iskandar N, dkk. 2010. Gangguan Pendengaran dan Kelainan Telinga. Dalam: Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi 6. Jakarta: FKUI. ; hal. 17-8

III. SIKAP DAN KESEIMBANGAN BADAN

50Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


I. TUJUAN :
Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat :
1. Mengemukakan pelbagai reaksi perubahan sikap badan katak oleh perangsangan kanalis
semisirkularis dan reaksi 11 menegakkan bada setelah ekstriparsi labirin
2. Menyebutkan beberapa faktoer yang dapat mempengaruhi rekasi perubahan sikap diatas.
3. Mendemomstrasikan kepentingan kedudukan kepala dan mata dalam mempertahankan
keseimbangan badan pada manusia.
4. Mendemonstrasikan dan menerangkan pengaruh percepatan sudut :
a. Dengan kursi Barany terhadap :
- Gerakan bola mata
- Tes penyimpangan penunjukan tes jatuh kesan (sensasi)
b. Dengan berjalan mengelilingi statif

II. ALAT DAN BINATANG PERCOBAAN YANG DIPERLUKAN :


1. Katak
2. Papan fiksasi katak + ge;as beker
3. Ether + kapas + jarum pentul
4. Scalpel + gunting halus + pinset halus + bor halus
5. Kursi putar Barany
6. Tongkat atau statif yang panjang
7. Bak berisi air
III. DASAR TEORI
Nuklei vestibular adalah untuk mengatur secara selektif sinyal-sinyal eksitatorik berbagai otot
antigravitasi untuk menjaga keseimbangan,sebagi responnya terhadap sinyal dari aparatus vestibular.
Hewan Deserebrasi mengalami kekakuan spastik bila batang otak seekor hewan dipotong
dibawah garis tengah mesensefalon,tetapi pontin sistem retikular mendular juga sistem vestibular
dibiarkan tetap utuh, hewan tersebut mengalami keadaan yang disebut kekauan deserebasi. Kekakuan
inni tidak timbul disemua otot tubuh tetapi hanya otot antigravitasi yaitu otot leher dan batang tubuh
serta ekstensor tungkai.
Aparatus vestibular merupakan organ sensoris untuk mendeteksi sensasi keseimbangan. Alat ini
terbungkus salam satu tabung tulang dan ruangan-ruangan yang terletak dalam bagian petrosus
(bagian seperti batu,bagian keras) dari tulang temporal, yang disebut labirin tulang. Di dalam sistem
ini terdapat tabung membran dan ruangan yang di sebut labirin membranosa yang merupakan bagian
fungsional aparatus vestibular.
Labirin ini terdiri atas koklea (duktus koklearis), tiga kanalis semisirkularis dan dua ruangan
besar yang dikenal sebagai utrikulus dan sakulus. Koklea merupakan organ sensorik utama
pendengaran.dan hampir tidak berhub dg keseimbangan.kanalis semirikularis,utrikulus dan sakulus
,semua ini merupakan bagian intragal dr mekanisme keseimbangan.
Makula organ sensorik utrikulus dan sakulus untuk mendeteksi orientasi kepala sehubungan
dengan gravitasi. Makula pada utrikulus terutama terletak pada bidang horizontal permukaan inferior

51Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


utrikulus dan berperan penting dalam menentukan orientasi kepala ketika kepala dalam posisi tegak.
Sebaliknya, makula pada sakulus terutama terletak dalam bidang vertikal dan memberikan sinyal
orientasi kepala saat seseorang berbaring.
Setiap makula d tutupi oleh lapisan gelatinosa yang dilekati oleh banyak krista kalsium karbonat
kecil kecil yang di sebut statokonia.dalam makula juga didapati beribu-ribu sel rambut, pangkal dan
sisi sel-sel rambut bersinaps denganujung-ujung sensorik saraf vestibular.
Dalam aparatus vestibular terdapat kanalis semisirkularis,dikenal sebagai kanil semisrikularis
anterior, posterior dan lateral tersusun tegak lurus satu sama lain sehingga kanalis ini terdapat 3
bidang.
Bila kepala tunduk kira-kira 30 derajat ke depan,kanalis semirikularis lateral kira-kira aada pd
bidang horizontal sesuai dengan permukaan bumi, kemudian kanalis anterior ada pd bidang vertikal
yang arah ptoyeksinya ke depan dan 45 derajat ke luar, dankanalis posterior ada pada bidang vertikal
yang berproyeksi ke belakang dan 45 derajat keluar.
Pada setiap ujung kanalis semisirkualris terdapat pembesaran yang disebut ampula, dan kanlis
serta ampula ini terisi oleh cairan yang disebut endolimfe. Aliran cairan melalui canalis dan
ampulanya merangsang organ sensorik.
Pada puncak krista ini terdapat jaringan longgar massa gelatinosa,yang disebut kupula. Bila
seseorang mulai memutar ke suatu arah, inersia cairan didalam satu atau lebih kanalis semisirkularis
akan mempertahankan cairan agar tetap seimbang sementara kanalis semisirkularis berputar searah
dengan kepala. Hal iini menyebabkan cairan mengalir dari kanalis menuju ampula,membelokkan
kupula ke satu sisi. Putaran kepala dalam arah yang berlawanan menyebabkan kupula berbelok ke sisi
yang berlawanan.
Kedalam kupula terdapat ratusan penjuluran silia dari sel-sel rambut yang terletak pada sepanjang
krista ampularis. Kinosilia sel-sel rambut ini semuanya beorientasi ke arah sisi yang sama dalam
kupula,dan pembelokkannya ke arah yang berlawanan mengakibatkan hiperpolarisasi sel rambut.
Kemudian, dari sel-sel rambut sinyal-sinyal yang sesuai dikirimkan melalui nervus vestibular untuk
memberitahu sistem saraf pusat mengenai perubahan perputaran kepala dan kecepatan perubahan
pada setiap tiga bidang ruangan.
Setiap kepala berputar tiba-tiba,sinyal yang berasal dari kanalis semisirkularis menyebabkan,
mata berputar dengan arah yang berlawanan dengan arah putaran kepala. Keadaan ini timbul akibat
adanya refleks yang dijalarkaan melalui nuklei vestibular dan fasikulus longitudinalis medial menuju
nuklei okulomotor.

52Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Percobaan pada katak
A. Cara Kerja
1. Meletakkan seekor katak dipapan fiksasi dan menutup dengan gelas beker.
2. Memegang papan fiksasi dan gelas beker itu dengan kedua belah tangan dan menggerakkan
keatas, kebawah dan memutar kekanan dan ke kiri.
3. Memperhatikan dengan seksama perubahan-perubahan sikap pada katak
a. Posisi kepala
b. Fleksi/ekstensi ekstermitas
4. Membuka gelas beker dan memalingkan kepala katak kanan, memperhatikan sikapdan
kedudukan kakinya.

P. VI. 4.6 .Apa maksud kita memalingkan kepala katak ?


Jawab : Memberikan rangsangan untuk mengecek kesadaran katak serta melihat sikap
dan kedudukan kaki yang normal bila kepala katak dimiringkan ke kanan.

5. Memasukkan katak itu kedalam bak yang berisi air dan memperhatikan gerakankaki dan arah
berenangnya.
6. Membuang labirin kanan katak itu dengan cara sebagai berikut :
a. Membius katak dengan cara memasukkan bersama-sama dengan kapas yang telah dibasahi
dengan eter ke dalam gelas beker yang ditelungkupkan.
b. Setelah katak itu terbius, meletakkan katak telentang dipapan fiksasi dan sematkan jarum-
jarum pentul pada kakinya.

P. VIA. 4.7.Bagaimana kita mengetahui bahwa katak sudah terbius ?


Jawab : Dengan memberikan rangsnagan berupa sentuhan apabila katak sudah tidak
bergerak menandakan katak sudah terbius.

c. Fiksasi rahang atas katak dengan jarum pentul pada papan fiksasi dan membuka mulut
selebar-lebarnya.
d. Mengunting selaput lendir rahang atas di garis median dengan guting halus sesuai dengan
garis y pada gambar.
e. Membebaskan selaput lender itu dari jaringan dibawahnya dan mendorong kea rah lateral.
Mencegah perdarahan sedapat-dapatnya.
f. Memperhatikan dasar tengkorak katak terutama os. Parabasalenya yang membayang (= p
pada gambar).

53Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


g. Merusak labirin kanan dengan jalan member os parabasale di tempatyang diberikan tanda X
secara hati-hatu sedalam 1-2 mm (sampai terasa bahwa bor telah menembus tulang yang
keras)
h. Membersihkan daerah operasi dengan kapas dan mengembalikan selaput lender ketempat
semula dengan demikian alat keseimbangan kanan telah dibuang.
7. Setelah efek pembiusan pada katak menghilang, mengulangi tindakan no. 1 s/d no.5
8. Membuang sekarang labirin kiri dengan cara yang sama seperti sub. 6 dengan demikian kedua
alat keseimbangan telah dibuang.
9. Menggulangi sekarang tindakan no. 1 s/d no. 5
10. Mencatat hasil pengamatan pada formulir yang tersedia.

B. Hasil Pengamatan
Tabel Pengamatan Percobaan Katak
Sebelum dibius Setelah labirin
Perubahan yang Labirin kanan dibuang
NO (Labirin masih utuh) kanan+kiri dibuang
diamati II
I III
1. Perubahan sikap
Menunduk (ke arah Menunduk (ke arah
a. Posisi kepala Condong ke arah kiri
bawah) bawah)
b. Fleksi/ekstensi
Fleksi pada ekstremitas Fleksi pada ekstremitas Fleksi pada ekstremitas
ekstremitas
2. Memalingkan kepala katak
Ada perlawanan tubuh Ada perlawanan tubuh
a. Sikap Tidak merespon
ke arah kiri ke arah kiri
b. Kedudukan
fleksi fleksi fleksi
kakinya
3. Katak berenang
a. Gerakan kaki Fleksi lalu ekstensi Kearah kiri Fleksi lalu ekstensi
Lebih condong
b. Kedudukan kaki Seimbang Seimbang
mendorong ke kiri

C. Pembahasan
Aparatus vestibular merupakan organ sensoris untuk mendeteksi sensasi keseimbangan. Alat ini
terbungkus salah satu tabung tulang dan ruangan-ruangan yang terletak dalam bagian petrosus
(bagian seperti batu,bagian keras) dari tulang temporal, yang disebut labirin tulang. Di dalam sistem
ini terdapat tabung membran dan ruangan yang di sebut labirin membranosa yang merupakan bagian
fungsional aparatus vestibular.
Bila batang otak seekor hewan di potong dibawah garis tengah mesensefalon, tetapi pontin sistem
retikular mendular juga sistem vestibular dibiarkan tetap utuh, hewan tersebut mengalami keadaan

54Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


yang disebut kekakuan deserebasi. Kekakuan ini tidak timbul disemua otot tubuh tetapi hanya otot
antigravitasi yaitu otot leher dan batang tubuh serta ekstensor tungkai.
Komponen vestibular merupakan sistem sensoris yang berfungsi penting dalam keseimbangan,
kontrol kepala, dan gerak bola mata. Reseptor sensoris vestibular berada di dalam telinga. Reseptor
pada sistem vestibular meliputi kanalis semisirkularis, utrikulus, serta sakulus. Reseptor dari sistem
sensoris ini disebut dengan sistem labyrinthine.
Sistem labyrinthine mendeteksi perubahan posisi kepala dan percepatan perubahan sudut. Melalui
refleks vestibulo-occular, mereka mengontrol gerak mata, terutama ketika melihat obyek yang
bergerak.
Mereka meneruskan pesan melalui saraf kranialis VIII ke nukleus vestibular yang berlokasi di
batang otak. Beberapa stimulus tidak menuju nukleus vestibular tetapi ke serebelum, formatio
retikularis, thalamus dan korteks serebri.
Nukleus vestibular menerima masukan (input) dari reseptor labyrinth, retikular formasi, dan
serebelum. Keluaran (output) dari nukleus vestibular menuju ke motor neuron melalui medula
spinalis, terutama ke motor neuron yang menginervasi otot-otot proksimal, kumparan otot pada leher
dan otot-otot punggung (otot-otot postural). Sistem vestibular bereaksi sangat cepat sehigga
membantu mempertahankan keseimbangan tubuh dengan mengontrol otot-otot postural.

D. Kesimpulan
Komponen vestibular merupakan sistem sensoris yang berfungsi penting dalam keseimbangan,
kontrol kepala, dan gerak bola mata. Reseptor sensoris vestibular berada di dalam telinga. Reseptor
pada sistem vestibular meliputi kanalis semisirkularis, utrikulus, serta sakulus. Reseptor dari sistem
sensoris ini disebut dengan sistem labyrinthine.
Bila batang otak seekor hewan di potong dibawah garis tengah mesensefalon, tetapi sistem
vestibular dibiarkan tetap utuh, hewan tersebut mengalami keadaan yang disebut kekakuan
deserebasi. Kekakuan ini tidak timbul disemua otot tubuh tetapi hanya otot antigravitasi yaitu otot
leher dan batang tubuh serta ekstensor tungkai.
Sistem labyrinthine mendeteksi perubahan posisi kepala dan percepatan perubahan sudut. Melalui
refleks vestibulo-occular, mereka mengontrol gerak mata, terutama ketika melihat obyek yang
bergerak. Sistem vestibular bereaksi sangat cepat sehigga membantu mempertahankan keseimbangan
tubuh dengan mengontrol otot-otot postural.

55Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Percobaan pada Manusia

A. Cara Kerja
Pengaruh kedudukan kepala dan mata yang normal terhadap keseimbangan badan:
1. Suruhlah orang percobaan berjalan mengikuti suatu garis lurus dengan mata terbuka dan sikap
kepala dan badan yang biasa. Perhatikan jalannya dan tanyakan apakah ia mengalami kesukaran
dalam mengikuti garis lurus tersebut.
2. Ulangi percobaan di atas (no.1) dengan mata tertutup.
3. Ulangi percobaan di atas (no. 1 dan 2) dengan:
a. Kepala dimiringkan dengan kuat ke kiri
b. Kepala dimiringkan dengan kuat ke kanan
P.VI.4.8. Bagaimana pengaruh sikap kepala dan mata terhadap keseimbangan badan?
Jawab : Ketika mata terbuka masukan informasi keseimbangan berasal dari mata dan posisi
kepala, maka jika mata tertutup dengan kepala, tubuh cenderung ingin jatuh ke arah kepala
miring dan diseimbangkan dengan berjalan berlawanan dengan miringnya kepala supaya tidak
jatuh.
B. Hasil Pengamatan dan Analisa Data
Perlakuan Hasil
Jalan lurus ke depan jalan lurus, tidak terjadi deviasi
Jalan lurus ke depan dengan mata tertutup jalan lurus, tidak terjadi deviasi
Jalan lurus ke depan dengan kepala dimiringkan dengan Terjadi sedikit deviasi ke kanan
kuat ke kiri
Jalan lurus ke depan dengan kepala dimiringkan dengan Terjadi deviasi ke kanan
kuat ke kiri serta mata tertutup
Jalan lurus ke depan dengan kepala dimiringkan dengan Terjadi sedikit deviasi ke kiri
kuat ke kanan
Jalan lurus ke depan dengan kepala dimiringkan dengan Terjadi deviasi ke kiri
kuat ke kanan serta mata tertutup

Informasi keseimbangan berasal dari visual, vestibular, dan somatosensori. Dimana 50% yang paling
berpengaruh pada keseimbangan adalah vestibular. Kompensasi ketika terjadi pengeliminasian dari
isyarat visual (OP memejamkan mata) dan kepala dimiringkan dengan kuat ke satu bagian
(kanan/kiri) dalam mempertahankan keseimbangan adalah terjadinya kecenderungan adanya deviasi
kearah berlawanan dimana OP memiringkan kepalanya agar tidak jatuh.

Kesimpulan : Proses pengelihatan dapat mempengaruhi keseimbangan seseorang atau arah


berjalan kita.

56Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Percobaan Keseimbangan pada Manusia

Dasar Teori
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan kesetimbangan tubuh ketika ditempatkan
di berbagai posisi. Definisi menurut OSullivan, keseimbangan adalah kemampuan untuk
mempertahankan pusatgravitasi pada bidang tumpu terutama ketika saat posisi tegak. Keseimbangan
melibatkan berbagai gerakan di setiap segmen tubuh dengan di dukung oleh sistem muskuloskleletal dan
bidang tumpu.
Keseimbangan merupakan interaksi yang kompleks dari integrasi/interaksi sistem sensorik
(vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk proprioceptor) dan muskuloskeletal (otot, sendi, dan
jaringan lunak lain) yang diatur dalam otak sebagai respon terhadap perubahan kondisi internaldan
eksternal. Dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti, usia, motivasi, kognisi, lingkungan,kelelahan,
pengaruh obat dan pengalaman terdahulu.

Fisiologi Keseimbangan
Tujuan dari tubuh mempertahankan keseimbangan adalah: menyanggah tubuh melawan gravitasi dan
faktor eksternal lain, untuk mempertahankan pusat massa tubuh agar seimbang dengan bidang tumpu,
serta menstabilisasi bagian tubuhketika bagian tubuh lain bergerak. Komponen-komponen pengontrol
keseimbangan adalah :
Sistem informasi sensoris

Penglihatan muncul ketika mata menerima sinar yang berasal dari obyek sesuai jarak pandang. Dengan
informasi visual, maka tubuh dapat menyesuaikan atau bereaksi terhadap perubahan bidang pada
lingkungan aktivitas sehingga memberikan kerja otot yang sinergis untuk mempertahankan keseimbangan
tubuh.
Sistem vestibular
Reseptor sensoris vestibular berada di dalam telinga. Reseptor pada sistem vestibular meliputi kanalis
semisirkularis, utrikulus, sertasakulus. Reseptor dari sistem sensoris ini disebut dengan sistem
labyrinthine. Sistem labyrinthine mendeteksi perubahan posisi kepala dan percepatan perubahan sudut.
Beberapa stimulus tidak menuju nukleus vestibular tetapi ke serebelum, formatio retikularis, thalamus
dan korteks serebri.
Respon otot-otot postural yang sinergis (postural muscles response synergies)
Respon otot-otot postural yang sinergis mengarah pada waktu dan jarak dari aktivitas kelompok otot yang
diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan dan kontrol postur. Beberapa kelompok otot baik pada
ekstremitas atas maupun bawah berfungsi mempertahankan postur saat berdiri tegak serta mengatur
keseimbangan tubuh dalam berbagai gerakan.

Kekuatan otot (muscle Strength)


Kekuatan otot umumnya diperlukan dalam melakukan aktivitas. Semua gerakan yang dihasilkan
merupakan hasil dari adanya peningkatan tegangan otot sebagai respon motorik. Kekuatan otot dapat
digambarkan sebagai kemampuan otot menahan beban baik berupa bebaneksternal (eksternal force)
maupun beban internal (internal force). Kekuatan otot sangat berhubungan dengan sistem neuromuskuler
yaitu seberapa besar kemampuan sistem saraf mengaktifasi otot untuk melakukan kontraksi.

57Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan
1) Pusat gravitasi (Center of Gravity-COG). Pusat gravitasi adalah titik utama pada tubuh yang akan
mendistribusikanmassa tubuh secara merata. Bila tubuh selalu ditopang oleh titik ini, maka tubuh
dalamkeadaan seimbang. Pada manusia, pusat gravitasi berpindah sesuai dengan arah atau perubahan
berat. Derajat stabilitas tubuh dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu : ketinggian dari titik pusat gravitasi
dengan bidang tumpu, ukuran bidang tumpu, lokasi garis gravitasi dengan bidangtumpu, serta berat
badan.
2) Garis gravitasi (Line of Gravity-LOG). Garis gravitasi merupakan garis imajiner yang berada vertikal
melalui pusat gravitasi dengan pusat bumi. Hubungan antara garis gravitasi, pusat gravitasi dengan bidang
tumpu adalah menentukan derajat stabilitas tubuh.

3) Bidang tumpu (Base of Support-BOS). Bidang tumpu merupakan bagian dari tubuh yang berhubungan
dengan permukaan tumpuan.Ketika garis gravitasi tepat berada di bidang tumpu, tubuh dalam keadaan
seimbang. Stabilitas yang baik terbentuk dari luasnya area bidang tumpu. Semakin besar bidang tumpu,
semakin tinggi stabilitas.

58Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


TUJUAN :
1. Mendemonstrasikan kepentingan kedudukan kepala dan mata dalam mempertahankan
keseimbangan badan pada manusia.
2. Mendemonstrasikan dan menerangkan pengaruh percepatan sudut :
a. Dengan kursi barany terhadap : gerakan bola mata
b. Dengan berjalan mengelilingi statif
Alat yang diperlukan
Kursi barany + tongkat/statif yang panjang.

PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Percobaan dengan kursi Barany 1


Tata Kerja
Nistagmus
a. Suruh orang percobaan duduk tegak dikursi Barany dengan kedua tangannya memegang erat
tangan kursi.
b. Tutup kedua matanya dengan sapu tangan dan tundukkan kepala o.p 30 derajat kedepan.

P.VIA.9. Apa maksud tindakan penundukan o.p 30 derajat kedepan?


Jawab : Untuk meneliti hubungan antara aparatus vestibularis yang memberi informasi
esensial bagi sensasi keseimbangan terhadap koordinasi gerakan kepala, leher, gerakan
mata dan postur tubuh.

c. Putarlah kursi ke kanan 10 kali dalam 20 detik secara teratur dan tanpa sentakan.
d. Hentikan pemutaran kursi tiba-tiba.
e. Bukalah sapu tangan dan suruhlah o.p melihat jauh kedepan.
f. Perhatikan adanya nistagmus.
Tetapkanlah arah komponen lambat dan cepat nistagmus tersebut.

P.VIA.10. Apa yang dimaksud dengan rotatory nistagmus dan postrotatory nystagmus ?
Jawab : Rotatory Nistagmus : Gerakan involunter bola mata sesuai gerak rotasi dari axis.
Postrotatory Nistagmus: Apabila seseorang sedang berputar dan secara tiba-tiba
dihentikan, dimana fase cepat dari nistagmus berlawanan arah dari gerakan rotasi
sebelumnya.

Hasil Pengamatan dan Pembahasan


Pada percobaan ini, setelah o.p diputar dengan kursi ke kanan sebanyak 10 kali. Maka pada mata o.p
terjadi nistagmus.
Setelah berputar ke kanan, terdapat nistagmus komponen cepat ke arah kiri dan komponen lambat ke
arah kanan. Hal ini disebabkan oleh adanya refleks vestibulo-okular (VOR) yang merupakan refleks
gerakan mata untuk menstabilkan gambar pada retina selama gerakan kepala dengan memproduksi
sebuah gerakan mata ke arah yang berlawanan dengan gerakan kepala, sehingga mempertahankan
gambar untuk berada pada pusat bidang visual.

59Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Kesimpulan
Setiap kepala berputar tiba-tiba,sinyal yang berasal dari kanalis semisirkularis menyebabkan, mata
berputar dengan arah yang berlawanan dengan arah putaran kepala. Keadaan ini timbul akibat adanya
refleks yang dijalarkaan melalui nuklei vestibular dan fasikulus longitudinalis medial menuju nuklei
okulomotor.

Tes Penyimpangan Penunjukkan ( Pas Pointing Test of Barany )

Tata Kerja
1. Suruh OP duduk tegak dikursi Barany dan tutuplah kedua matanya dengan sapu tangan.
2. Periksa sendiri tepat dimuka kursi Barany sambil mengulurkan tangan ke arah OP.
3. Suruhlah OP menunjulurkan lengan kanannya ke depan sehingga dpt menyentuh jari tangan
pemeriksa yang telah diulurkan sebelumnya.
4. Suruhlah OP mengangkat lengan kanannya ke atas dan kemudian dengan cepat menurunkan
kembali sehingga dapat menyentuh jari pemeriksa lagi. Tindakan no 1-4 merupakan
persiapan untuk tes yang berikut :
5. Suruhlah sekarang OP dengan kedua tangannya memegang erat tangan kursi .
6. Putarlah kursi ke kanan 10 kali dalam 20 detik secara teratur tanpa sentakan.

Hasil Pengamatan dan Analisa


Pada o.p terjadi nistagmus dan o.p masih bisa menunjuk dengan deviasi ke arah kanan.
Saat mata OP dalam keadaan tertutup, terdapat koordinasi yang salah dari OP karena sensasi
perputaran yang dialaminya. Namun, setelah mata dibuka, OP dapat menyentuh jari tangan yang
sebenarnya bisa dilakukan dengan tepat.

Kesimpulan
Deviasi dari tes dapat terjadi namun belum tentu karena kelainan, namun karena koordinasi yang
salah.

Kesan sensasi
Tata Kerja
1. Gunakan o.p. yang lain.
2. Suruh o.p duduk di kursi Barany dan tutuplah kedua matanya dengan sapu tangan.
3. Putarlah kursi barany ke kanan dengan kecepatan yang berangsur-angsur bertambah dan
kemudian kurangilah kecepatan putarannya secara berangsur-angsur sampai berhenti.
4. Tanyakan kepada o.p arah perasaan berputar.
a. sewaktu kecepatan putar masih bertambah
b. sewaktu kecepatan menetap
c. sewaktu kecepatan dikurangi

60Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


d. segera setelah kursi dihentikan
5. Berikan keterangan tentang mekanisme terjadinya arah perasaan berputar yang dirasakan o.p .

Hasil Pengamatan dan Analisa


1) sewaktu kecepatan putar masih bertambah : pusing meningkat,arah badan berlawanan arah putar.
2) sewaktu kecepatan menetap : melayang.
3) sewaktu kecepatan dikurangi : pusing berkurang.
4) segera setelah kursi dihentikan : pusing meningkat.
5) mekanisme terjadinya arah perasaan berputar yang dirasakan o.p.:
perasaan berputar dikarenakan adanya gangguan keseimbangan pada organ tympani pada telinga.
Saat kursi mulai diputar ke kanan, endolimfe akan berputar ke arah sebaliknya, yaitu ke kiri.
Akibatnya, kupula akan bergerak ke kiri dan OP akan merasa berputar ke kiri. Kemudian, kupula
akan bergerak ke kanan searah dengan putaran kursi sehingga OP akan merasa bergerak ke kanan.
Saat kecepatan mulai konstan, kupula dalam posisi tegak sehingga OP akan merasa tidak
berputar. Saat kursi dihentikan, kupula akan bergerak ke arah sebaliknya, yaitu ke kanan,
sehingga OP akan merasa berputar ke kanan. Namun, pada praktikum OP masih merasa berputar
ke kanan saat kecepatan sudah konstan dan OP tidak merasa berputar ke kanan saat kursi
dihentikan. Hal ini mungkin disebabkan oleh persepsi keseimbangan OP yang bagus.

Kesimpulan
Dengan adanya sensasi dari arah kanan, maka reaksi tubuh pasien bergerak kesebelah kiri, namun jika
konstan tidak terasa berputar, dan jika dihentikan mengikuti arah putaran.

Percobaan sederhana untuk kanalis semisirkularis horisontalis

Tata Kerja
a. Suruhlah o.p. dengan mata tertutup dan kepala ditundukkan 30 o , berputar sambil berpegangan
pada tongkat atau statif, menurut arah jarum jam, sebanyak 10 kali dalam 30 detik
b. Suruhlah o.p. berhenti, kemudian membuka matanya dan berjalan lurus ke muka
c. Perhatikan apa yang terjadi
d. Ulangi percobaan ini dengan berputar menurut arah yang berlawanan dengan arah jarum jam.

P. VI.4. 11 a. Apa yang saudara harapkan terjadi pada o.p. ketika berjalan lurus ke muka
setelah berputar 10 kali searah dengan jarum jam?
Jawab : o.p. akan berjalan miring ke kanan, tidak lurus ke depan.

b.Bagaimana keterangannya?
Jawab :
Jadi, yang berperan dalam mendeteksi gerakan akselerasi kepala yang sedang rotasi
adalah canalis semisirkularis. Di dalam kanalis sirkularis terdapat sel sel rambut reseptif
di ampula dan terbenam dalam lapisan gelatinosa diatasnya yaitu kupula dan terdapat
endolimfe. Apabila terjadi rotasi pada kepala, maka endolimfe di dalam kanalis
semisirkularis ini akan ikut bergerak berlawanan arah dan akan terus bergerak sampai

61Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


nantinya gerakan kepala terhenti, sel-sel rambut ini pula akan berhenti.

Hasil Pengamatan dan Analisa


O.P. berjalan tidak lurus dan miring hampir jatuh berlawanan dengan arah putaran, lebih merasa
pusing saat diputar ke arah jarum jam (yang pertama).
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan orientasi tubuh dan bagian- bagiannya
dalam hubungannya dengan ruang internal. Keseimbangan tergantung pada continous visual,
labirintin, dan input somatosensorius (proprioceptif) dan integrasinya dalam batang otak dan
serebelum. Kanalis semisirkularis punya posisi anatomis terangkat 30 o, kalau seseorang menunduk
dengan sudut 30o maka posisi kanalis semisirkularis lateral dibidang horizontal. Kesulitan berjalan
lurus biasa dialami, hal ini dikarenakan cairan endolimph dan perilimph terganggu atau bergejolak.

KESIMPULAN
Posisi berjalan dan keseimbangan dipengaruhi oleh posisi kanalis semisirkularis serta pergerakan
cairan endolimph-perilimph.

KESIMPULAN AKHIR
Aparatus vestibularis mendeteksi perubahan posisi dan gerakan kepala. Kanalis semisirkularis
mendeteksi akselarasi atau deselarasi anguler atau rotasional kepala. Akselarasi atau deselarasi
selama rotasi kepala ke segala arah menyebabkan pergerakan endolimfe yang awalnya tidak ikut
bergerak sesuai arah rotasi kepala karena inersia.
Apabila gerakan kepala berlanjut dalam arah dan kecepatan yang sama, endolimfe akan
menyusul dan bergerak bersama dengan kepala sehingga rambut-rambut kembali ke posisi tegak.
Ketika kepala berhenti, keadaan sebaliknya terjadi. Endolimfe secara singkat melanjutkan diri
bergerak searah dengan rotasi kepala sementara kepala melambat unutk berhenti. Ketika seseorang
berada dalam posisi tegak, rambut-rambut pada utrikulus berorientasi secara vertikal dan rambut-
rambut sakulus berjajar secara horizontal.

PRAKTIKUM FISIOLOGI IV
62Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-
SISTEM SENSORIK

TUJUAN
1. Membedakan perasaan subjektif panas dan dingin.
2. Menetapkan adanya titik-titik panas, dingin, tekan dan nyeri dikulit.
3. Memriksa daya menentukan tempat rangsangan taktil (lokalisasi taktil).
4. Memeriksa daya membedakan dua titik tekan (diskriminasi taktil) pada perangsangan serentak
(simultan) dan perangsangan berurutan (suksetif).
5. Menentukan adanya perasaan iringan dan menerangkan mekanisme terjadinya (afterimage).
6. Memeriksa daya membedakan berbagai sifat benda:
a. Kekerasan permukaan
b. Bentuk
c. Bahan pakaian
7. Memriksa daya menetukan sikap anggota tubuh.
8. Mengukur waktu reaksi.
9. Menyebutkan faktor-faktor sikap anggota tubuh.

BAHAN DAN ALAT


1. 3 waskom dengan air bersuhu 20C, 30C dan 40C.
2. Gelas beker dan thermometer kimia.
3. Alcohol atau eter.
4. Es.
5. Kerucut kuningan + bejana berisi kikiran kuningan + estesiometer rambut Frey dan jarum.
6. Pensil + jangka + pelbagai jenis amplas + benda-benda kecil + bahan-bahan pakaian.
7. Mistar pengukur reaksi.

PELAKSANAAN PRAKTIKUM

I. Perasaan Subyektif Panas dan Dingin

63Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Dasar Teori
Temperatur reseptor/ thermoreseptor merupakan free nerve ending yang terletak pada dermis, otot
skeletal, liver, hipotalamus. Reseptor dingin tiga/ empat kali lebih banyak daripada reseptor panas.
Tidak ada strukur yang membedakan reseptor dingin dan panas.
Sensasi temperature diteruskan pada jalur yang sama dengan sensasi nyeri. Mereka dikirim ke
formation retikularis, thalamus dan korteks primer sensoris. Thermoreseptor merupakan phasic
reseptor, aktif bila temperature berubah, tetapi cepat beradaptasi menjadi temperature yang stabil.

Tata Kerja
1. Sediakan 3 waskom masing-masing berisi air suhu 200.300,400C.
2. Masukkan tangan kanan ke dalam air bersuhu 20 0 dan tangan kiri ke dalam 40 0 +- 2 menit. Catat
kesan yang saudara alami,
3. Masukkan kedua tangan itu segera serentak ke dalam air bersuhu 30 0C. catat kesan yang saudara
alami.
4. Tiup perlahan-lahan kulit punggung tangan yang kering dari jarak +_ 10 cm.
5. Basahi kulit punggung tangan tersebut dengan air dan tiup sekali lagi dengan kecepatan seperti
diatas. Bandingkan kesan yang sdr alami hasil tiupan pada sub 4 dan 5.
6. Olesi sebagian kulit punggung tangan dengan alcohol atau eter.
VII.2. Apakah ada perbedaan antara ke 3 hasil akhir tindakan pada sub 4,5 dan
6 apa sebabnya ?
Jawab:
tangan kanan kering di pegang masih terasa lembab.
tangan kiri benar-benar kering saat dipegang,
Sebab: eter/alkohol lebih cepat menguap saat terkena udara luar.

Hasil Pengamatan dan Pembahasan


o.p.: Nabilah Fajriah
Tangan kanan ke dalam air bersuhu 200 dan tangan kiri ke dalam 40 0 +- 2 menit:
Baskom berisi 200 lama-lama tidak dingin
Baskom berisi 400 lama-lama tidak panas
Tangan segera serentak ke dalam air bersuhu 300C.:
Baskom 400 dingin
Baskom 200 hangat
Antara kesan hasil tiupan pada sub 4 dan 5 tidak ada perubahan.

Kesimpulan
Terdapat perbedaan subyektif antara rasa panas dan dingin.

II. Titik-titik panas, dingin, tekan, dan nyeri di kulit


Dasar Teori
Reseptor sensorik
Reseptor sensorik berupa sel-sel khusus atau proses sel yang memberikan informasi tentang
kondisi di dalam dan diluar tubuh kepada susunan saraf pusat. Indera peraba dikulit adalah indera

64Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


yang digunakan untuk merasakan sensitivitas temeperatur, nyeri, sentuhan, tekanan, getaran dan
proprioseptif.
Adapun indera-indera khusus pada tubuh kita seperti penciuman, penglihatan, perasa pada lidah,
keseimbangan dan pendengaran. Sensasi yang dating pada tubuh kita diterima oleh reseptor yang
khusus yang strukturnya lebih kompleks daripada reseptor pada kulit. Reseptor ini terletak pada
indera khusus pada manusia seperti mata, telinga dimana reseptornya dilindungi oleh jaringan-
jaringan disekitarnya.
a. Nosiseptor
Reseptor nyeri/nosiseptor terletak pada daerah superficial kulit, kapsul sendi, dalam periostes
tulang sekitar dinding pembuluh darah. Jaringan dalam dan organ visceral mempunyai beberapa
nosiseptor. Reseptor nyeri merupakan free nerve ending dengan daerah reseptif yang luas, sebagai
hasilnya sering kali sulit membedakan sumber rasa nyeri yang tepat.
Nosiseptor sensitive terhadap temperature yang ekstrim, kerusakan mekanis dan kimia seperti
mediator kimia yang dilepaskan sel yang rusak. Bagaimanapun juga rangsangan yang kuat akan
diterima oleh ketiga tipe reseptor. Untuklah kita bias merasakan sensasi rasa nyeri yang
disebabkan oleh asam, panas, luka yang dalam. Rangsangan pada dendrite di nosiseptor
menimbulkan depolarisasi, bila segmen akson mencapai batas ambang dan terjadi potensial aksi
di susunan saraf pusat
b. Thermoreseptor
Temperatur reseptor/ thermoreseptor merupakan free nerve ending yang terletak pada dermis, otot
skeletal, liver, hipotalamus. Reseptor dingin tiga/ empat kali lebih banyak daripada reseptor
panas. Tidak ada strukur yang membedakan reseptor dingin dan panas.
Sensasi temperature diteruskan pada jalur yang sama dengan sensasi nyeri. Mereka dikirim ke
formation retikularis, thalamus dan korteks primer sensoris. Thermoreseptor merupakan phasic
reseptor, aktif bila temperature berubah, tetapi cepat beradaptasi menjadi temperature yang stabil.
c. Mechanoreseptor
Mechanoreseptor sangat sensitif terhadap rangsangan yang terjadi pada membrane sel. Membran
sel memiliki regulasi mekanis ion channel dimana bias terbuka ataupun tertutup bila ada respon
terhadap tegangan, tekanan dan yang bias menimbulkan kelainan pada membrane. Terdapat tiga
jenis mechanoreseptor antara lain:
- Tactile reseptor memberikan sensasi sentuhan, tekanan dan getaran. Sensasi sentuhan
memberikan inforamsi tentang bentuk atau tekstur, dimana tekanan memberikan sensasi
derajat kelainan mekanis. Sensasi getaran memberikan sensasi denyutan/ debaran.
- Baroreseptor untuk mendeteksi adanya perubahan tekanan pada dinding pembuluh darah dan
pada tractus digestivus, urinarius dan system reproduksi.
- Proprioseptor untuk memonitor posisi sendi dan otot, hal ini merupakan struktur dan fungsi
yang kompleks pada reseptor sensoris.
d. Chemoreseptor

65Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Spesialisasi pada neuron chemoreseptor dapat dideteksi dengan perubahan kecil dari
konsentrasi kimia. Umumnya chemoreseptor berespon terhadap substansi water-soluble dan lipid
soluble yang larut dalam cairan.
Chemoreseptor tidak mengirim informasi pada korteks primer sensoris, jadi kita tidak tahu
adanya sensai yang diberikan kepada reseptor tersebut. Saat informasi datang lalu diteruskan
menuju batang otak yang merupakan pusat otonomik yang mengatur pusat respirasi dan fungsi
cardiovascular
Reflek mempunyai waktu reaksi yang terukur, waktu yang dibutuhkan dari saat perangsangan sampai
timbulnya respon tersebut disebut waktu refelks. Respon dari aksi reflex yang sederhana akan lebih
cepat ketimbang respons dari aksi reflex yang kompleks. Waktu reaksi dipengaruhi oleh intensitas
rangsangan dan kompleksitas aksi reflex. Pada umumnya makin kuat intensitas rangsangan maka
waktu reaksi makin pendek sedangkan makin komleks aksi reflex maka waktu reaksi makin lama.

Tata Kerja
1. Letakkan punggung tangan kanan diatas sehelai kertas dan tarik garis pada pinggir tangan dan
jari-jari sehingga terdapat lukisan tangan.
2. Gambarkan ditelapak tangan suatu daerah 3 x 3 cm dan gambarkan pula dilukisan tangan pada
kertas.
3. Tutup mata o.p dan letakkan punggung tangan kanannya santai di meja.
4. Selidiki secara teratur menurut garis-garis sejajar titik-titik yang memberikan kesan panas yang
jelas pada telapak tangan tersebut dengan menggunakan kerucut kuningan yang telah dipanasi.
Cara memanasi kerucut kuningan yaitu dengan menempatkannya dalam bejana berisi kikiran
kuningan yang di rendam dalam airpanas bersuhu 50 0 C. tandai titik-titik panas yang diperoleh
dengan tinta.
5. Ulangi penyelidikan yang serupa pada sub 4 dengan kerucut kuningan yang telah didinginkan
dengan cara menempatkandi dalam bejana air es.
6. Selidiki pula menurut cara diatas titik-titik yang memberikan kesan tekan dengan menggunakan
estesioner rambut Frey dan titik-titik yang memberikan kesan nyeri dengan jarum.
7. Gambar dengan symbol yang berbeda semua titik yang diperoleh pada lukisan tangan di kertas.
VII.3. Menurut teori, kesan apakah yang diperoleh bila titik dingin dirangsang oleh benda
panas? Bagaimana keterangannya ?
Jawab:
Perubahan suhu tubuh dikedua arah mengubah aktivitas sel-peningkatan suhu mempercepat
reaksi-reaksi kimia sel, sedangkan penurunan suhu memperlambat reaksi-reaksi tersebut.
Karena fungsi sel sensitif terhadap fluktuasi suhu internal maka manusia secara
homeostasis mempertahankan suhu tubuh pada tingkat yang optimal agar metabolisma sel
berlangsung stabil. Panas berlebihan berakibat lebih serius darpada pendinginan. Bahkan
peningkatan moderat suhu tubuh mulai menyebabkan malfungsi syaraf dan denaturasi
protein ireversibel.

66Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Hasil Pengamatan dan Pembahasan
o.p.: Putri Handalasakti A.

O.P. merasa panas ketika kerucut kuningan yg


telah didiamkan terlebih dahulu di air panas,
diletakkan pada titik2 P. Dan merasa dingin
ketika kerucut kuningan diletakkan pada titik
D

Kesimpulan
Titik panas,dingin,tekan dan nyeri berbeda pada tiap tempat di kulit.

67Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


III. Lokalisasi Taktil

Dasar Teori
Reseptor taktil adalah Mekanoreseptor, Mekanoreseptor berespons terhadap perubahan bentuk
dan penekanan fisik dengan mengalami depolarisasi dan menghasilkan potensial aksi. Apabila
depolarisasinya cukup besar, maka serat saraf yang melekat ke reseptor akan melepaskan potensial
aksi dan menyalurkan informasi ke korda spinalis dan otak. Reseptor taktil yang berbeda memiliki
kepekaan dan kecepatan mengirim impuls yang berbeda pula. Kemampuan membedakan rangsangan
kulit oleh satu ujung benda dari dua ujung disebut diskriminasi dua titik. Tubuh bervariasi dalam
kemampuan membedakan dua titik pada tingkat derajat pemisaha bervariasi. Normalnya dua titik
terpisah 2-4mm. Dapat dibedakan pada ujung jari tangan, 30-40mm dapat dibedakan pada dorsum
pedis. Sensasi taktil dibawa ke korda spinalis oleh satu dari tiga jenis neuron sensorik : serat tipe A
beta yang besar, serat tipe A delta yang kecil, dan serat tipe C yang paling kecil. Kedua jenis serat tipe
A mengandung mielin dan menyalurkan potensial aksi dengan sangat cepat; semakin besar serat
semakin cepat transmisinya dibanding serat yang lebih kecil. Informasi taktil yang dibawa dalam
serat A biasanya terlokalisasi baik. Serat C yang tidak mengandung mielin dan menyalurkan potensial
aksi ke korda spinalis jauh lebih lambat daripada serat A. Hampir semua informasi mengenai
sentuhan, tekanan, dan getaran masuk ke korda spinalis melalui akar dorsal saraf spinal yang sesuai.
Setelah bersinap di spina, informasi dengan lokalisasi dibawa oleh serat-serat A yang melepaskan
potensial aksi dengan cepat (beta dan delta) di kirim ke otak melalui sistem lemniskus kolumna
dorsalis. Serat-serat saraf dalam sisitem ini menyebrang dari kiri ke kanan di batang otak sebelum
bersinaps di talamus. Informasi mengenai suhu dan sentuhan yang lokalisasi kurang baik di bawa ke
korda spinalis melalui serat-serat C yang melepaskan potensial aksi secara lambat. Info tersebut
dikirim ke daerah retikularis di batang otak dan kemudian ke pusat-pusat yang lebih tinggi melalui
serat di sitem anterolateral.
Indera raba (taktil): reseptor taktil adalah alat indera yang paling luas, terletak diseluruh
permukaan kulit dan beberapa selaput lendir. Ada dua fungsi penting yaitu untuk survival; dengan
mengidentifikasi sentuhan ringan secara umum, temperatur, dan rasa nyeri. Sedangkan fungsi
diskriminasi yang berkembang kemudian, penting untuk mengenal tekstur, bentuk, lokasi akurat dari
suatu sentuhan dan berperan penting dalam perkembangan persepsi tubuh, keterampilan motorik
halus dan praksis.
Reseptor indera taktil terletak pada kulit dan beberapa lokasi selaput lendir. Indera
taktil memberikan informasi tentang kualitas benda-benda yang diraba (keras, halus, dsb), arah gerak
dari input taktil dan lokasi dari input tersebut (= fungsi diskriminatif). Selain itu system taktil juga
menerima rasa raba halus, nyeri dan temperatur (=fungsi protektif).

68Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Reseptor taktil, terdapat paling sedikit 6 jenis reseptor, tapi sebenrnya masih banyak reseptor
taktil yang serupa.
1. Beberapa ujung saraf bebas, yang terdapat di jumpai di semua bagian kulit dan jaringan-jaringan
lain,dapat mendeteksi rabaan dan tekanan.
2. Reseptor raba dengan sensitivitas khusus,yakni badan meisner, yang meupakan juluran saraf
bermeilin dari sensorik besar meilin jenis (A&B). Reseptor ini terutama peka terhadap
pergerakkan objek di atas permukaan kulit seperti juga terhadap getaran berfrekuensi rendah.
3. Ujung jari dan daerah-daerah lainnya yang mengandung banyak sekali badan meissner biasanya
juga mengandung reseptor taktil yang ujung nya meluas,yang salah satu jenis nya diskus Merkel.
Berperan penting dalam melokalisasi sensasi raba di daerah permukaan tubuh yang spesifik dan
menentukan bentuk apa yang dirasakan.
4. Pergerakkan sedikit saja pada setiap rambut tubuh akan merangsang serabut saraf yang pangkal
nya melilit.jadi setiap rambut, dan bagian dasar serabut saraf yang disebut organ ujung rambut.
Reseptor ini dapat mendeteksi, pergerakkan objek pada permukaan tubuh atau kontak awal
dengan tubuh.
5. Ruffini reseptor ini berguna untuk menjalarkan sinyal perubahan bentuk jaringan yang terus-
menerus, missal nya sinyal raba dan tekan yang besar dan berkepanjangan.
6. Badan paccini . reseptor ini hanya dapat dirangang oleh penekkanan local jaringan yang cepat
karena reseptor ini beradaptasi dalam waktu sepersekian detik.

Tata Kerja
1. Tutup mata orang percobaan dan tekankan ujung pensil pada suatu titik di kulit ujung jari nya.
2. Suruh sekarang orang percobaan melokalisasi tempat yang baru d rangsang tadi dengan ujung
sebuah pensil pula.
3. Tetapkan jarak antara titik rangsang dang titik yang ditunjuk.
4. Ulangi percobaaan ini sampai 5 kali dan tentukan jarak rata-rata untuk kulit ujung jari,telapak
tangan,lengan bawah,lengan atas dan tengkuk.

VII.4. Apakah kemampuan lokalisasi taktil seseorang sama besarnya untuk seluruh
bagian tubuh?
Jawab: kemampuan lokalisasi taktil tidak sama besarnya di seluruh bagian tubuh,
reseptor taktil yang berbeda memiliki kepekaan dan kecepatan mengirim impuls yang
berbeda pula,
seperti pada ujung jari dan bibir yang akan lebih sensitif terhadap rangsangan
dibanding telapak tangan, lengan atas dan tengkuk.

VII.5. Apakah istilah kemampuan seseorang untuk menentukan tempat rangsang taktil?
Jawab : Lokalisasi taktil/ TPL (Two Point Localization).

69Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Hasil Pengamatan dan Pembahasan
o.p : Relanfa Farando
No Ujung jari Telapak tangan Lengan bawah Lengan atas Tengkuk
1 0,3 0,6 2,3 1,5 1,5
2 Sesuai titik 1 1,5 1 Sesuai titik
3 1,9 1,6 1 1 0,8
4 Sesuai titik 0,5 2 1 1,5
5 0,8 0,8 1,3 1,5 1
o.p. : Reza Ardi Wibowo
No. Ujung Jari Telapak Tangan Lengan Bawah Lengan Atas Tengkuk
1 0 cm 0,5 cm 1 cm 2 cm 1 cm
2 0 cm 0,7 cm 0,8 cm 0,5 cm 1,5 cm
3 0 cm 1 cm 3 cm 1,5 cm 0,5 cm
4 0,3 cm 0,2 cm 0,5 cm 1 cm 2 cm
5 0,3 cm 0 cm 1 cm 1,5 cm 1,5 cm
Rata2 0,36 cm 2,4 cm 6,3 cm 6,5 cm 6,5 cm

Lokalisasi taktil di tiap bagian tubuh berbeda, dan paling sulit melokalisasi di lengan bawah dapat
terlihat di hasil percobaan dimana jarak perangsangan dan lokalisasi nya berbeda cukup jauh.
Jika kurang dari 5 cm maka hasilnya adalah baik, dan jika lebih dari 5 cm maka hasilnya adalah tidak
baik pada syaraf perabanya.
TPL (Two Point Localization) lebih peka pada bagian yang menonjol, seperti hidung, mata, bibir,
dan lain-lain; merupakan suatu system yang bersifat menyebar dan melingkar
Waktu mempengaruhi sehingga ada penyebaran sensasi.

Kesimpulan
Kemampuan lokalisasi taktil seseorang tidak sama besar pada seluruh bagian tubuh,
Hampir semua informasi mengenai sentuhan, tekanan, dan getaran masuk ke korda spinalis melalui
akar dorsal saraf spinal yang sesuai. TPL (lokalisasi taktil) lebih peka pada bagian yang menonjol,
seperti hidung, mata, bibir, dan lain-lain.
IV. Diskriminasi Taktil
Dasar Teori
Kemampuan panca indra untuk membedakan keberadaan 2 titik yang mendapat rangsangan sangat
dipengaruhi oleh mekanisme inhibisi lateral yang meningkatkan derajat kontras pada pola spasial
yang disadari.
Setiap jaras sensorik bila dirangsang, secara simultan akan menghasilkan sinyal inhibitorik lateral;
sinyal ini menyebar ke sisi sinyal eksitatorik dan menghambat neuron yang berdekatan. Sebagai
contoh, ingat lah neuron yang dirangsang di nukleus kolumna dorsalis. Selain dari pusat sinyal
eksitatorik, jaras lateral pendek juga menjalarkan sinyal inhibitorik ke neuron di sekitarnya. Jadi,
sinyal ini lewat melelui interneuron tambahan yang mensekresi transmitter inhibitorik.

70Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Pentingnya inhibisi lateral adalah bahwa inhibisi ini menghambat penyebaran sinyal eksitatorik ke
lateral sehingga meningkatkan derajat kontras dalam pola sensorik yang dirasakan di korteks
serebralis.

Tata Kerja
1. Tentukan secara kasar ambang membedakan dua titik untuk ujung jari dengan menempatkan
kedua ujung sebuah jangka secara serentak (simultan) pada kulit ujung jari.
2. Dekatkan kedua ujung jangka itu sampai dibawah ambang dan kemudian jauhkan berangsur-
angsur sehingga kedua ujung jangka itu tepat dapat dibedakan sebagai 2 titik.

VII.6. Bagaimana caranya saudara mengatahui bahwa jarak antar kedua ujung jangka
dibawah ambang diskriminasi taktil?
Jawab:
Ketajaman taktil relatif suatu bagian dapat ditentukan dengan uji ambang diskriminasi 2
titik. Apabila 2 ujung dari jangka tersebut ditempelkan ke permukaan kulit dan merangsang
2 medan reseptif yang berbeda, maka dirasakan 2 titik terpisah. Namun jika kedua ujung
jangka tersebut menempel di permukaan kulit dan merangsang medan reseptif yang sama,
akan dirasakan sebagai 1 titik. Ambang 2 titik berkisar dari 2mm di ujung jari, dan 48mm
di kulit betis yang diskriminasinya paling rendah.

3. Ulangi percobaan ini dari suatu jarak permulaan diatas ambang. Ambil angka ambang terkecil
sebagai ambang diskriminasi taktil tempat itu.
4. Lakukan percobaan diatas sekali lagi, tetapi sekarang dengan menempatkan kedua ujung jangka
secara berturut-turut (suksetif).
5. Tentukan dengan cara yang sama (simultan dan suksetif) ambang membedakan dua titik ujung
jari, tengkuk, bibir, pipi dan lidah.
6. Berikan sekarang jarak kedua ujung jangka yang sebesar-besarnya yang masih dirasakan oleh
kulit pipi depan telinga sebagai satu titik. Dengan jarak ini gerakan jangka itu dengan ujungnya
pada kulit kearah pipi muka, bibir atas dan bibir bawah. Arah gerakan harus tegak lurus terhadap
garis yang menghubungkan kedua ujung jangka.
7. Catat apa yang saudara alami.

Hasil Pengamatan dan Pembahasan


o.p.: Rizal Fadhlurrahman
Ambang Diskriminasi Taktil
Ujung Jari : 0,3 cm
Pipi : 1,25 cm
Tengkuk : 2,1 cm
Bibir bawah : 0,3 cm
Bibir atas : 0,3 cm

71Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Bagian yang terbesar ambang diskriminasi taktilnya yakni tengkuk, dan yang terkecil di bibir dan
ujung jari. Ini membuktikan bahwa sentuhan dua titik di tengkuk sulit dibedakan, karena reseptor
peraba lebih banyak namun lapang reseptif kecil di ujung jari atau bibir.

Kesimpulan
Apabila kedua titik menyentuh lapangan reseptif yang sama, keduanya akan dirasakan sebagai satu
titik.

V. Perasaan Iringan (After Image)


Dasar Teori
Sistem saraf mempunyai sirkuit , salah satunya adalah sikuit reverberasi atau sirkuit bolak balik
(oscilatory).Sirkuit ini dapat disebabkan oleh adanya umpan balik positif di dalam sirkuit neuron.
Umpan balik ini ditujukan untuk merangsang kembali masukan sirkuit yang sama sehingga sirkuit itu
dapat mengeluarkan letupan berulang-ulang untuk waktu yang lama. Umpan balik positif ini dapat
terjadi apabila suatu neuron memiliki percabangan ke neuron lain yang memiliki percabangan yang
menuju kembali ke neuron sebelumnya.
Adanya sirkuit reverberasi atau sirkuit bolak balik sehingga rangsangan yang telah diteruskan oleh
satu neuron kembali kembali lagi kepada neuron tersebut sehingga menimbulkan perasaan iringan
(after image).

Tata Kerja
1. Letakkan sebuah pensil antara kepala dan daun telinga dan biarakan ditempat itu selama saudara
melakukan percobaan VI.
2. Setelah saudara selesai dengan percobaan VI angkatlah pensil dari telinga saudara dan apakah
yang saudara rasakan setelah pensil itu diambil.
P.VII.7 Bagaimana mekanisme terjadinya perasaan iringan?
Jawab:
Adanya adaptasi reseptor terhadap rangsangan benda yang dihasilkan melalui tekanan, getaran
dan sifat sifat fisik benda, mengakibatkan kita terbiasa dalam memakai benda tersebut. sehingga
pada saat mencopot benda, reseptor-reseptor tersebut memperlihatkan suatu off reseptor dan

72Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


adanya sirkuit reverberasi atau sirkuit bolak balik menyebabkan kita menyadari bahwa benda
telah di copot. Mekanisme adaptasi ini dilakukan oleh badan paccini.
Perasaan iringan terjadi karena adanya impuls yang terus beredar dalam lingkaran rantai neuron
daerah yang terangsang, walaupun stimulus sudah tidak ada lagi.

Hasil Pengamatan dan Pembahasan


o.p.: Muhammad Rifki Faiz
Masih terasa adanya pensil di telinga saat pensil diambil
Perasaan iringan = normal

73Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Kesimpulan
Adanya adaptasi reseptor terhadap rangsangan benda yang dihasilkan melalui tekanan, getaran dan
sifat-sifat fisik benda,mengakibatkan kita terbiasa dalam memakai benda tersebut .

VI. Daya Membedakan Berbagai Sifat Benda


Dasar Teori
Tata Kerja
a. Kekasaran permukaan benda
1. Dengan mata tertutup suruh orang percobaan meraba-raba permukaan amplas yang derajat
kekasaran yang berbeda-beda.
2. Perhatikan kemampuan orang percobaanm untuk membedakan derajat kekasaran amplas.
b. Bentuk benda
1. Dengan mata tertutup suruh orang percobaan memegang-megang benda-benda kecil yang
saudara berikan.
2. Suruh orang percobaan menyebutkan nama/bentuk benda-benda itu.
c. Bahan pakaian
1. Dengan mata tertutup suruh orang percobaan meraba-raba bahan-bahan pakaian yang saudara
berikan.
2. Suruh orang percobaan setiap kali menyebutkan jenis/bentuk benda-benda itu.
VII.8.Bila orang percobaan membuat kesalahan dalam membedakan sifat benda (ukuran, bentuk,
berat, permukaan), apa kelainan neurologis yang di deritanya?
Jawab:
Terjadi lesi pada lobus parietal yang tidak dominan.gangguannya disebut agnosia.jika
pasien mempunyai daya visus normal dan tidak dapat mengenali benda itu,disebut agnosia
visual.jika ketidakmampuan seorang pasien mengenali sebuah benda dengan palpasi tanpa
adanya gangguan sensorik di sebut agnosia taktil
Bentuk : Asterogsia (agnosia aktif)
Berat : Baragnosia
Kekasaran Permukaan: Thigmanesthesia

Hasil Pengamatan dan Pembahasan


o.p.: Tesha Islami Monika
a. Kekasaran permukaan benda
Kemampuan membedakan derajat kekasaran = normal
b. Bentuk benda
Membedakan bentuk benda = normal
c. Bahan pakaian
Kemampuan membedakan bahan = normal
Tidak ada kelainan pada daya membedakan berbagai sifat benda

74Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Kesimpulan
Kemampuan dapat membedakan berbagai sifat benda menunjukkan bahwa sifat sensoris baik.

VII. Tafsiran Sikap


Dasar Teori
Baik disadari maupun tidak, tubuh kita selalu melakukan gerak. Bahkan seseorang yang tidak
memiliki kesempurnaan pun akan tetap melakukan gerak. Saat kita tersenyum,mengedipkan mata
atau bernapas sesungguhnya telah terjadi gerak yang disebabkanoleh kontrasi otot.
Gerak terjadi begitu saja. Gerak terjadi melalui mekanisme rumit dan melibatkan banyak bagian
tubuh.Terdapat banyak komponen komponen tubuh yang terlibat dalam grak iniBaik itu disadari
maupun tidak disadari. Gerak adalah suatu tanggapan tehadap rangsangan baik itu dari dalam tubuh
maupun dari luar tubuh. Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan
penghantaran impuls oleh saraf.
Seluruh mekanisme gerak yang terjadi di tubuh kita tak lepas dari peranan system saraf. Sistem saraf
ini tersusun atas jaringan saraf yang di dalamnya terdapat sel-sel saraf atau neuron. Meskipun system
saraf tersusun dengan sangat kompleks, tetapi sebenarnya hanya tersusun atas 2 jenis sel,yaitu sel
saraf dan sel neuroglia.
Adapun berdasarkan fungsinya system saraf itu sendiri dapat dibedakan atas tiga jenis :
1. Sel saraf sensorik
Sel saraf sensorik adalah sel yang membawa impuls berup rangsangan dari reseptor (penerima
rangsangan), ke system saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang).Sel saraf sensorik disebut
juga dengan sel saraf indera,karena berhubungan dengan alat indra.
2. Sel saraf Motorik
Sel saraf motorik berfungsi membawa impuls berupa tanggapan dari susunan saraf pusat (otak
atau sumsum tulang belakang) menuju to atau kelenjar tubuh. Sel saraf motorik disebut juga
dengan sel saraf penggerak,karena berhubungan erat dengan otot sebagai alat gerak.
3. Sel saraf penguhubung
Sel saraf penguhubung disebut juga dengan sel saraf konektor,hal ini disebabkan karena
fungsinya meneruskan rangsangan dari sel saraf sensorik ke sel saraf motorik.
Namun pada hakikatnya sebenarnya system saraf terbagi menjadi du kelompok besar :

1. Sistem saraf sadar


Adalah system saraf yang mengatu tau mengkoordinasikan semua kegiatan yang dapat diatur
menurut kemauan kita. Contohnya, melempar bola,berjalan,berfikir,menulis,berbicara dan lain-
lain.
Saraf sadar pun terbagi menjadi dua :
a. Saraf pusat terdiri dari :
Otak: Merupakan pusat kesadaran,yang letaknya di rongga tengkorak.

75Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Sumsum tulang belakang: Sumsum tulang belakang berfungsi menghantarkan impuls
(rangsangan) dari dan ke otak,serta mengkoordinasikan gerak refleks. Letaknya pada ruas-
ruas tulang belakang, yakni dari ruas-ruas tulag leher hingga ke ruas-ruas tulang pinggang
yang kedua. Dan dalam sumsum ini terdapat simpul-simpul gerak refleks.
b. Saraf Tepi:
Sistem saraf tepi terdiri dari saraf-saraf yang berada di luar system saraf pusat (otak dan
sumsum ulang belakang). Artinya system saraf tepi merupakan saraf yang menyebar pada
seluruh bagian tubuh yang melayani organ-organ tubh tertentu, sepeti kulit, persendian, otot,
kelenjar, saluran darah dan lain-lain.

2. Susunan saraf tak sadar.


a. Susunan saraf simpatis
b. Susunan saraf parasimpatis
Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari
yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf
sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil olahan oleh otak,
berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh
efektor.

Tata Kerja
1. Suruh orang percobaan duduk dan tutup mata.
2. Pegang dan gerakkan secara pasif lengan bawah orang percobaan kedekat kepalanya, ke dekat
dadanya, ke dekat lututnya dan akhirnya gantungkan di sisi badannya.
3. Tanyakan setiap kali sikap dan lokasi lengan orang percobaan.
4. Suruh orang percobaan dengan telunjuknya menyentuh telinga, hidung dan dahinya dengan
perlahan-lahan setelah setiap kali mengangkat lurus lengannya.
5. Perhatikan apakah ada kesalahan.
VII.9.Bila orang percobaan membuat kesalahan dalam melokalisasi tempat-tempat yang
diminta, apa nama neurologis yang dideritanya?
Jawab:
Dysdiadochokinesis

Hasil Pengamatan dan Pembahasan


o.p.: Muhammad Rifki Faiz
Dari hasil percobaan, subjek dapat meniru atau mensinkronkan gerakan asisten dengan tangannya:
1. Telinga
2. Mulut dan hidung
3. Alis, mata, dan hidung
4. Kuping
Jadi, subjk singkron melakukan gerakan antara subjek dan asisten.

76Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Gerak adalah suatu tanggapan tehadap rangsangan baik itu dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh.
Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantaran impuls
oleh saraf. Seluruh mekanisme gerak yang terjadi di tubuh kita tak lepas dari peranan system saraf.
Sistem saraf ini tersusun atas jaringan saraf yang di dalamnya terdapat sel-sel saraf atau neuron.
Sistem syaraf memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Pusat koordinasi segala aktivitas tubuh
2. Pusat kesadaran, memori dan intelegansi
3. Higher mental process, yaitu reasoning (penalaran), thinking (berpikir), judgement (pengambilan
keputusan).
Seperti yang telah dijelaskan pada teori diatas, jalan dari gerak reflex ini adalah mulai dari stimulus
diterima reseptor, kemudian impus tersebut dibawa oleh saraf sensorik menuju sum-sum tulang
belakang, kemudian impul dilanjutkan oleh saraf motorik, kemudian diterima oleh efektor maka
terjadilah respon/tanggapan. Pasien dapat melakukan gerakan yang diperintah oleh pemeriksa dengan
benar. Pasien normal dan tidak mengalami gangguan neurologis.

Kesimpulan
Jika tafsiran sikap benar, maka daya menentukan sikap anggota tubuh baik.

VIII. Waktu Reaksi


Dasar Teori
Waktu reaksi (reaction time) merupakan waktu antara pemberian rangsangan sampai dengan
timbulnya respon terhadap rangsangan tersebut. Parameter waktu reaksi ini dipakai untuk pengukuran
performansi. Yang mempengaruhi performansi kerja diantaranya tingkat kelelahan, kondisi motivasi,
rasa bosan, konsentrasi, dan kondisi psikologis manusia lainnya. Hal tersebut akan mengakibatkan
waktu reaksi yang berbeda-beda antara satu kondisi dengan kondisi lainnya. Kondisi-kondisi tersebut
dipengaruhi oleh lingkungan baik secara fisik (penerangan, temperatur, getaran, dll) maupun secara
psikologis (suasana hati, motivasi, dll) dan kerja itu sendiri.
Oleh karena itu, perlu adanya pengkajian lebih lanjut tentang waktu reaksi dalam hubungannya
dengan aktivitas kerja. Waktu reaksi menjadi hal yang sangat penting dan signifikan dalam
pengukuran performansi kerja. Dalam praktikum ini, akan diteliti bagaimana perbandingan waktu
reaksi sederhana sebelum dan sesudah melakukan aktivitas fisik.
Waktu reaksi merupakan interval waktu yang diperlukan seseorang untuk memberikan reaksi
terhadap sinyal atau rangsangan yang muncul ketika seseorang memberikan respon tentang sesuatu
yang didengar, dilihat, atau dirasakan. Ada berbagai macam eksperimen waktu reaksi:
Simple Reaction Time Experiment

77Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Pada eksperimen ini hanya ada satu jenis stimulus dan satu reaksi. Contohnya percobaan waktu
reaksi terhadap cahaya, reaksi terhadap bunyi pada lokasi yang telah ditentukan dan tetap.
Recognition Reaction Time Experiment
Terdapat banyak stimulus. Pada stimulus tertentu, subjek harus memberi respon sedangkan ada
beberapa yang subjek tidak boleh merespon. Ada 2 jenis, yaitu symbol recognition (subjek
menghafal lima buah huruf, kemudian subjek hanya bereaksi pada huruf yang dihafal tersebut)
dan tone/sound recognition (subjek menghafal frekuensi dari bunyi, kemudian subjek hanya
bereaksi pada frekuensi yang dihafalkan).
Choice Reaction Time Experiment
Subjek harus merespon stimulus yang diberikan berupa huruf yang ditampilkan di layar,
kemudian menekan tombol huruf/keyboard yang sesuai dengan stimulus yang diberikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu reaksi:
1. Arousal
Arousal atau state of attention, dalam hal ini didalamnya termasuk tekanan darah. Waktu reaksi
akan menjadi cepat bila tekanan darah ada di level tengah (dalam keadaan normal), dan akan
melambat bila praktikan terlalu santai atau terlalu tegang
2. Usia
Waktu reaksi menjadi berkurang mulai usia bayi hingga akhir 20-an, bertambah pada usia 50-60
tahun, lalu melambat pada usia 70 tahun keatas. Penurunan waktu reaksi pada orang dewasa
mungkin disebabkan karena orang dewasa lebih hati-hati merespon sebuah stimulus. Orang
dewasa juga cenderung mencurahkan pikirannya pada satu stimulus dan mengabaikan stimulus
yang lainnya.
3. Jenis kelamin
Biasanya laki-laki memiliki waktu reaksi yang lebih cepat daripada wanita.
4. Right handed vs left handed
Orang kidal, banyak menggunakan otak kanan, dimana otak kanan banyak digunakan untuk
berpikir mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kreativitas, dan hal-hal yang berkaitan dengan
ruang (misal: membidik sasaran). Maka banyak peneliti bernaggapan bahwa orang kidal memiliki
waktu reaksi yang lebih cepat dibanding dengan orang yang tidak kidal.
5. Direct vs peripheral vision
Waktu reaksi akan lebih cepat bila stimulus diberikan ketika subyek melihat tepat pada titik
stimulus (direct vision), dan dapat melambat bila stimulus diberikan disekitar pandangan mata
(peripheral vision).
6. Practice and errors

78Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Ketika seorang subyek melakukan hal yang baru atau belum pernah dilakukan sebelumnya, maka
waktu reaksinya akan lebih lambat bila dibandingkan dengan subyek yang sudah terlatih atau
efek pembelajaran.
7. Kelelahan
Waktu reaksi akan melambat bila subyek sedang mengalami kelelahan.
8. Gangguan
Adanya gangguan pada saat stimulus diberikan dapat meningkatkan waktu reaksi.
9. Peringatan akan stimulus
Waktu reaksi akan menjadi lebih cepat apabila ada peringatan yang diberikan kepada subyek
sebelum stimulus tersebut diberikan.
10. Alkohol
Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menurunkan waktu reaksi.
11. Faktor lingkungan
Pencahayaan, temperatur, dll.
12. Faktor psikologi
Suasana hati, tekanan, dll.
Tata Kerja
1. Suruh orang percobaan duduk dan meletakkan lengan bawah dan tangannya di tepi meja dengan
ibu jari dan telunjuk berjarak 1 cm siap menjepit.
2. Pemeriksa memegang mistar pengukur waktu reaksi pada titik hitam dengan menempatkan garis
tebal diantara dan setinggi ibu jari dan telunjuk orang percobaan tanpa menyentuh jari-jari orang
percobaan.
3. Dengan tiba-tiba pemeriksa melepaskan mistar tersebut dan orang percobaan harus mengangkat
selekas-lekasnya. Ulangi percobaan ini sebanyak 5 kali.
4. Tetapkan waktu reaksi orang percobaan (rata-rata dari ke 5 hasil yang diperoleh).
Hasil Pengamatan
o.p.: Relanfa Farando
NO. Waktu Reaksi
I. 0,26
II. 0,15
III. 0,19
IV. 0,17
V. 0,14
(rata-rata) 0,182
Dari hasil percobaan, didapatkan kesimpulan bahwa waktu reaksi o.p normal. Karena masih di bawah
rata-rata waktu reaksi manusia yang normal yaitu 0,5 s.

Menjawab Pertanyaan
Apa yang menentukan waktu reaksi seseorang ?

79Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-


Jawab:
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu reaksi seseorang adalah : usia, jenis kelamin, suhu tubuh,
kesiapan bertindak, indera penerima rangsang yang terlibat, dan banyaknya reseptor yang distimuli.
Kesimpulan
Waktu reaksi seseorang ditentukan oleh kecepatan dan ketanggapannya.

Daftar Pustaka
Buku Penuntun Praktikum Mahasiswa Blok Panca Indera. 2012. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Yarsi.

Drs. H. Syaifuddin, AMK. 2003. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Penerbit Buku
Kedokteran EGC : Jakarta
Ganong,.W.F. (2008), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 22. Jakarta: EGC.

Sherwood, Lauralee. (2004). Fisiologi Manusia dari sel ke sistem Edisi 2. Jakarta. EGC.

Sloane, Ethel. (2004). Anatomi dan Fisiologi. Jakarta. EGC

Soepardi EA, Iskandar N, dkk. 2010. Gangguan Pendengaran dan Kelainan Telinga. Dalam: Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi 6. Jakarta: FKUI. ; hal. 17-8
Ilyas, Sidarta. (2004). Ilmu Penyakit Mata Edisi ketiga FKUI. Jakarta. EGC

Vaughan D. (2000). Opthalmologi Umum Edisi 14. Jakarta. Widya Medika

Frotscher M, Baehr M. Batang Otak-Gangguan Pendengaran. Dalam: Diagnosis Topik Neurologi.


Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007. hal. 162-3.

Soepardi EA, Iskandar N, dkk. Gangguan Pendengaran dan Kelainan Telinga. Dalam: Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi 6. Jakarta: FKUI. ; 2010. hal. 17-8.

Mansjoer, Arif. Et al. (2000). Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid kedua. Jakarta. Penerbit Media
Aesculapius FK UI.

80Laporan Praktikum Fisiologi B-16 -BLOK PANCA INDERA-