Anda di halaman 1dari 34

40

VI.3. PENAPIS ORDER KEEMPAT (4th)

Rangkaian dasar penapis lolos-rendah order 4th dengan fc = 1 kHz ditunjukkan pada gambar
6.7.

Gambar 6.7. Rangkaian Dasar Penapis Lolos-Rendah Order 4th (1 kHz)

Keterangan gambar :
Bagian I faktor redamannya 1,848 dan penguatannya +1,2 dB sedang bagian II faktor
redamannya 0,765 dan penguatannya +7,0 dB.

Gambar 6.8. Rangkaian Dasar Penapis Lolos-Tinggi Order Keempat (4th) 1 kHz
41

Gambar 6.9. Tanggap Amplitudo penapis Lolos-Rendah


dari gambar 6.7
42

Gambar 6.10. Tanggap Amplitudo penapis Lolos-Tinggi


dari gambar 6.8

Masing-masing penapis tersebut memiliki penguatan passband +8,2 dB, sehingga frekuensi
cutoff berada pada posisi atau pada saat tanggap amplitudonya jatuh hingga (8,2 - 3 dB)
atau +5,2 dB.

Untuk penapis lolos-rendah, rolloff-nya 24 dB/oktaf atau 80 dB/dekade, sedangkan yang


lolos-tinggi, rolloff-nya +24 dB/oktaf atau +80 dB/dekade.

Contoh:
Rancanglah penapis lolos-tinggi Butterworth order keempat dengan frekuensi cutoff 500
Hz !
43

Solusi :
Menggunakan gambar 4-9, dapat kita peroleh kombinasi terbaik adalah R = 47 k dan C =
0,0068 F atau R = 4k7 dan C = 0,068 F, seperti yang ditunjukkan pada gambar 6.11.

Gambar 6.11. Penapis Lolos-Tinggi Butterworth Order Keempat (4th)


dengan Frekuensi Cutoff 500 Hz
44

VI.4. PENAPIS ORDER KELIMA (5TH)

Gambar 6.12. Penapis Lolos-Rendah 1 kHz Order Kelima (5th)

Gambar 6.13. Penapis Lolos-Tinggi 1 kHz Order Kelima (5th)


45

Gambar 6.14. Tanggap Amplitudo Penapis Lolos-Rendah


dari gambar 6.12
46

Gambar 6.15. Tanggap Amplitudo Penapis Lolos-Tinggi


dari gambar 6.13
47

VI.5. PENAPIS ORDER KEENAM (6th )

Rangkaian dasar penapis lolos-rendah 1 kHz order keenam (6 th) ditunjukkan pada gambar
6.16, yang lolos-tinggi ditunjukkan pada gambar 6.17. Keduanya disusun dengan
menggabungkan tiga (3) macam penapis order 2nd yang berbeda-beda (lihat gambar 6.1 dan
tabel 6-1).

Gambar 6.16. Rangkaian Dasar Penapis Lolos-Rendah 1 kHz


Order Keenam (6th)

Gambar 6.17. Rangkaian Dasar Penapis Lolos-Tinggi 1 kHz


Order Keenam (6th)

Kedua penapis tersebut memiliki penguatan passband yang tetap yaitu +12,5 dB dan
frekuensi cutoff berada pada posisi atau saat tanggap amplitudonya +9,5 dB. Tanggap
amplitudo dari masing-masing penapis dapat dilihat pada gambar 6.18 dan 6.19.
48

Gambar 6.18. Tanggap Amplitudo dari Rangkaian


dari gambar 6.16
49

Gambar 6.19. Tanggap Amplitudo dari Rangkaian


gambar 6.17

VI.6. PEMILIHAN ORDER PENAPIS

Contoh:
Kita membutuhkan sebuah penapis yang akan meneruskan frekuensi-frekuensi hingga
mendekati 1 kHz dan menolak sinyal 3 kHz dengan 25 dB! Penapis apa dan order
berapakah yang sesuai dengan kebutuhan ini?

Solusi:
Dengan kebutuhan atau spesifikasi yang telah dituliskan, untuk sinyal masukan 3 kHz
dengan amplitudo Vpp = 1 volt akan dihasilkan keluaran sinyal dengan Vpp = 56 mV (terkait
dengan pelemahan atau atenuasi 25 dB atau sinyal keluaran = 0,056 x sinyal masukan).
50

Sejauh ini, aman untuk mengatakan bahwa yang dibutuhkan adalah penapis lolos-rendah 1
kHz, lantas order yang mana ?!

Pada gambar 6-20 ditunjukkan perbandingan tanggapan stopband dari penapis lolos-rendah
order 1st hingga 6th. Jika diamati, maka frekuensi 3 kHz berkaitan dengan frekuensi
ternormalisasi 3,0 (=3 kHz/1 kHz), sehingga 25 dB terletak antara penapis order 2 nd dan
3rd ! Dengan demikian untuk penolakan 25 dB pada 3 kHz harus digunakan penapis lolos-
rendah 1 kHz order 3rd !
Sedangkan pada gambar 6.21 ditunjukkan untuk Perbandingan Penapis Lolos-Tinggi !

Gambar 6.20. Perbandingan Tanggap Stopband


dari Penapis Lolos-Rendah Order 1st hingga 6th
51

BAB VII
PENAPIS-PENAPIS AKTIF
LOLOS-PITA (BAND PASS) DAN NOTCH

VII.1. PENAPIS LOLOS-PITA RAGAM-UMPANBALIK

Gambar 7.1. Rangkaian Dasar dari Penapis Lolos-Pita Ragam-Umpanbalik


Frekuensi tengahnya ditentukan dengan :

1 1 1
0
R 5 C 2 C 4 R1 R 3
(7-1)

Komponen-komponen lain dapat ditentukan dengan persamaan-persamaan berikut:


Q
R1
G C4 0 (7-2)
Q
R3
(2Q - G) C 4 0
2
(7-3)
dan
2Q
R5
C4 0 (7-4)
Penguatan passband penapis, yaitu penguatan pada frekuensi tengah penapis, adalah :

R5
G
C
R1 1 4
C2
(7-5)
52

Pemilihan R1, R2, dan R5 dipermudah dengan membuat nilai-nilai C2 dan C4 sama, sehingga
persamaan (7-2), (7-3) dan (7-4) dapat dituliskan sebagai berikut:

Q
R1
G C 0 (7-6)
Q
R3
(2Q -G) C 0
2
(7-7)

dan
2Q
R5
C 0 (7-8)
dengan
R5
G
2R1 (7-9)

Hal yang menarik frekuensi tengahnya dapat digeser ke frekuensi baru tanpa merubah
penguatan passband dan lebar pitanya:

2

R'3 R 3 0
'0 (7-10)

Jika dilihat persamaan (7-7), maka ada batasan kondisi :

G
Q
2 (7-11)

Biasanya ditentukan dulu nilai C2 dan C4 kemudian dihitung nilai-nilai ketiga resistor
berdasarkan nilai-nilai Q, G, dan 0.

Contoh:
Rancanglah sebuah penapis passband 750 Hz, menggunakan rangkaian dasar pada
gambar 7.1, dengan G = 1,32 (+2,4 dB) dan Q = 4,2. Kemudian ubah frekuensi cutoff-nya
menjadi 600 Hz dengan mempertahankan G dan lebar-pita (180 Hz) !
53

Solusi :
Pertama, nilai C2 dan C4 kita tentukan dengan nilai standard, yaitu 0,01 F (misalnya),
maka :

Q 4,2
R1 67,6 k
G C 0 2 .750 Hz .1,32.0,01 F

R5 = 2R1 G = 2. 67,6 k. 1,32 = 178 k


dan

Q 4,2
R3 2,6 k
(2Q - G) C 0 (2. 4,2 - 1,32) . 0,01 F. 2 . 750
2 2

Menggunakan resistor-resistor 5% gambar 7.2:

Gambar 7.2. Rangkaian Penapis Passband


dengan Frekuensi Cutoff 750 Hz
54

Untuk mengubah frekuensi tengah ke 600 Hz, nilai baru R 3 dihitung (menggunakan
persamaan (7-10)) :
2
750
R'3 (2,7 k)
600 = 4,2 k

Menggunakan resistor 4,31 k 5%, rangkaiannya ditunjukkan pada gambar 7.3 :

Gambar 7.3. Rangkaian Penapis Passband


dengan Frekuensi Cutoff 600 Hz

Kelemahan rangkaian dasar (gambar 7.1) :

Penguatan tinggi seiring dengan Q yang tinggi ! Lihat ketidaksamaan (7-11) !

Jika persamaan (7-11) tidak digunakan, apa yang harus diperbuat karena R 3 tidak mungkin
negatif !? Salah satu pendekatan adalah mengadakan sedikit perubahan pada rangkaian
dasar, dengan menghilangkan R3, perhatikan gambar 7.4.
55

Gambar 7.4. Rangkaian dari Gambar 7-1 Tanpa R3

Dengan kata lain R3 = tak-berhingga (rangkaian-terbuka), sehingga persamaan (7-1)


menjadi :

1
0
R1 R 5 C2 C4
(7-12)

Seperti biasanya, penentuan nilai-nilai komponen yang lain dapat disederhanakan dengan
membuat C2 = C4; sehingga :

Q
R1
G C 0 (7-13)

Q
R5
G C 0 (7-14)

dan

R5
GQ
R1
(7-15)
56

sehingga kita tidak dibatasi dengan penguatan dan Q !

Kadangkala ada suatu kombinasi antara penguatan penapis dan Q yang sedemikian rupa
hingga membolehkan penggunaan rangkaian gambar 7.1 dan gambar 7.4 dengan
tanggapan resultan yang sama. Hal ini terjadi saat

G
Q2 G
2 (7-16)

Kelebihan utama menggunakan rangkaian penapis gambar 7.4 adalah berkurangnya


sebuah komponen, ilustrasinya ditunjukkan pada contoh berikut.

Contoh:
Rancanglah sebuah penapis lolos-pita ragam-umpanbalik 200 Hz dengan penguatan
tegangan frekuensi tengah 30, serta Q = 5 !

Solusi :
Menggunakan persamaan (7-16) maka dimungkinkan untuk membuat rangkaian
menggunakan gambar 7.1 atau 7.4. Pertama kita gunakan rangkaian gambar 7.1, kita pilih
nilai C2 = C4 = 0,1 F, sehingga :

1. Dengan persamaan (7-8) diperoleh :

2Q 2.5
R5 79,6 k
C 0 0,1 F . 2 . 200 Hz

2. Dengan persamaan (7-9) diperoleh :

R5 79,6
R1 1,33 k
2G 2 . 30

3. Dengan persamaan (7-7) diperoleh :

Q 5
R3 2,0 k
(2Q 2 - G) C 0 (2 . 25 - 30) . 0,1 F . 2 . 200 Hz
57

Menggunakan resistor 5% rangkaian lengkap ditunjukkan pada gambar 7.5.

Gambar 7.5. Penapis Lolos-Pita Ragam-Umpanbalik

200 Hz dari Gambar 7.1

Menggunakan rangkaian pada gambar 7.4, kita pilih C2 = C4 = 0,1 F, sehingga:


1. Dari persamaan (7-13) diperoleh R1 = 1,33 k
2. Dari persamaan (7-14) diperoleh R5 = 47,8 k

masih menggunakan resistor 5%, rangkaian akhir ditunjukkan pada gambar 7.6. Perlu
ditekankan bahwa tanggapan pada rangkaian di gambar 7.5 dan 7.6 adalah sama, kedua
rangkaian tersebut memiliki frekuensi tengah 200 Hz, penguatan passband 30 dan Q = 5.

Gambar 7.6. Penapis Lolos-Pita Ragam-Umpanbalik


200 Hz dari Gambar 7.4.
58

Sekarang, lantas bagaimana dengan bentuk tanggap amplitudonya ? Tanggap amplitudo


dari sebuah penapis lolos-pita dengan op-amp tunggal :

2 1
2

dB 20 log10G - 10 log10 1 Q 2


(7-17)

Yang ditunjukkan pada gambar 7.7.

Gambar 7.7. Tanggapan Amplitudo Penapis Lolos-Pita


dengan Op-amp Tunggal

Seberapa cepat tanggapan turun bergantung pada Q. Pada kondisi ekstrem, rolloff semua
kurva mendekati 6 dB/oktaf atau 20 dB/dekade, untuk sembarang Q. Pada saat
tanggapan dari sebuah penapis lolos-pita mendekati rolloff 6 dB/oktaf, dikatakan sebagai
order kedua (2nd), penapis lolos-pita 1-kutub.
59

Sebagaimana telah dijelaskan pada Bab II, ketajaman (sharpness) dari tanggapan penapis
lolos-pita di sekitar frekuensi tengah bergantung pada nilai Q-nya dan sekaligus bergantung
pada lebar-pita 3 dB-nya :

0
Q
3 - dB bandwidth (7-18)

Keterangan :
3 dB Bandwidth adalah selisih antara frekuensi tinggi dan rendah saat tanggap
amplitudonya lebih kecil 3 dB dari pada frekuensi tengahnya. Dari persamaan (7-18)
tersebut kemudian diperoleh :

0
Q
H - L (7-19)

Dengan mengkaskadekan secara benar dua atau lebih penapis lolos-pita 1-kutub, order 2 nd,
akan diperoleh rolloff > 6 dB/oktaf. Misalnya, jika dua bagian 1-kutub, order 2 nd yang sama
dikaskadekan, akan diperoleh penapis lolos-pita order 4th, 2-kutub dengan rolloff mendekati
12 dB/oktaf ( 40 dB/dekade), tanggap amplitudo-nya :

2 1
2

dB 40 log10G - 20 log10 1 Q 2


(7-20)

Tetapi, jika dua bagian 1-kutub dikaskadekan, penapis 2-kutub yang dihasilkan tidak
memiliki Q yang sama dengan bagian 1-kutub tunggal, karena berlaku persamaan:

Q2kutub = 1,553 x Q1kutub (7-21)

Dengan demikian, jika Q1kutub-nya = 5, maka

Q2kutub = 1,553 x 5 = 7,77

Konsekuensinya jika yang diinginkan Q2kutub = 5, maka


60

Q1kutub = 0,644 Q2kutub (7-22)


= 0,644 x 5
= 3,22 !

Dengan mengkaskadekan 3 buah penapis order 2nd, 1-kutub, maka didapatkan penapis
order 6th dengan 3-kutub dengan rolloff 18 dB/oktaf atau 60 dB/dekade. Tanggapan
amplitudonya adalah :

2 -1
2

dB 60 log10G - 30 log10 1 Q 2


(7-23)

Dengan cara yang sama, mengkaskadekan empat penapis order 2nd, 1-kutub menghasilkan
penapis order 8th, 4-kutub dengan rolloff 24 dB/oktaf atau 80 dB/dekade, tanggapan
amplitudonya adalah :

2 -1
2

dB 80 log10G - 40 log10 1 Q 2


(7-24)

Tabel 7-1. Pengali yang Digunakan

Tipe Penapis Rolloff Q1-pole


order 4th, 2-kutub 12 dB/oktaf 0,644 Q2-kutub
order 6th, 3-kutub 18 dB/oktaf 0,510 Q3-kutub
order 8th, 4-kutub 24 dB/oktaf 0,435 Q4-kutub

Tabel 7-1 digunakan untuk menentukan nilai yang tepat untuk Q pada bagian 1-kutub agar
menghasilkan nilai Q pada order-order atau kutub-kutub penapis yang lebih tinggi secara
tepat.

Contoh:
Rancanglah sebuah penapis ragam-umpanbalik order 6th, 3-kutub dengan frekuensi tengah
750 Hz serta penguatan passband G ( 15,6 dB) dan Q = 8,53.
61

Solusi :
Dalam hal ini kita dapat mengkaskadekan 3 penapis order 2 nd, 1-kutub. Dari tabel 7-1 nilai Q
untuk masing-masing penapis tersebut :

Q1-kutub = 0,510 . Q3-kutub


= 0,510 . 8,53
= 4,35

Karena masing-masing bagian adalah identik, maka penguatan tegangan masing-


masing harus sama, sehingga agar diperoleh penguatan tegangan total 6, masing-
masing bagian harus memiliki penguatan

G (6) 3 1,82

Menggunakan rangkaian dasar (gambar 7-1), kita gunakan nilai C2 = C4 = 0,033F, maka
ketiga resistor lainnya :
1. 1. Dengan persamaan (7-6) diperoleh : R1 = 15,2 k
2. 2. Dengan persamaan (7-7) diperoleh : R3 = 777 k
3. 3. Dengan persamaan (7-8) diperoleh : R5 = 55,9 k

Rangkaian selengkapnya dapat dilihat pada gambar 7.8, menggunakan resistor 5%.

Gambar 7.8. Penapis Ragam-Umpanbalik Order 6th

3-kutub dengan Penguatan Passband


62

Penapis ragam-umpanbalik, yang menggunakan op-amp tunggal, hanya bermanfaat untuk


Q antara 15 20. Namun dengan tambahan op-amp, nilai Q dapat mencapai 50, namun
akan membawa ke suatu masalah serius yang tidak akan dibicarakan disini1[1].

Akan tetapi terdapat suatu penapis lolos-pita dengan nilai Q bisa tinggi, yang diberi nama
peubah-kondisi (state-variable), yang akan dibicarakan pada bab berikutnya (Bab VIII).

Beberapa Catatan :

1. 1. Penapis ragam-umpanbalik bukan satu-satunya penapis lolos-pita dengan op-amp


tunggal;

2. 2. Sintesa penapis merupakan tantangan yang menarik dan akan muncul banyak
solusi untuk permasalahan yang sama;

3. 3. Coba bertanya pada lima orang ahli elektronika untuk membuat suatu rancangan
rangkaian dengan fungsi tertentu dan Anda mungkin akan mendapatkan lima jawaban
yang berbeda, begitu juga untuk penapis lolos-pita ini;

4. 4. Penapis ragam-umpanbalik ini hanya salah satu dari beberapa kemungkinan


rangkaian penapis lolos-pita, namun secara umum dipilih karena yang terbaik !

1
1) Jika tertarik, Anda bisa melihat buku acuan: Lancaster, D., Active Filter
Cookbook. Howard W. Sams & Co, 1975, halaman 154 -155 !
63

VII.2. PENAPIS PITA-LEBAR (WIDEBAND FILTER)

Pada aplikasi audio, biasanya dibutuhkan suatu penapis yang mampu meloloskan
(meneruskan) frekuensi-frekuensi dalam jangkauan yang cukup lebar dengan penguatan
yang rata-rata konstan (perhatikan gambar 7.9).

Gambar 7.9. Karakteristik Tanggapan Passband

Penapis Pita-Lebar

Tanggapan lolos-pita tersebut kemudian dijadikan sebagai ciri khas penapis pita-lebar.
Dengan demikian, tanggap amplitudo pada gambar 7.7 dapat dipandang sebagai penapis
pita-sempit !

Penapis pita-lebar:

Jika lebar-pita 3 dB dari penapis lolos-pita lebih dari dua kali frekuensi tengah.
64

Contoh:

Dalam sistem komunikasi suara, diinginkan untuk menghalangi (menahan) sinyal-sinyal di


bawah 300 Hz dan di atas 3000 Hz.

Solusi:

Dalam hal ini lebar-pitanya 2700 Hz, dengan demikian frekuensi tengahnya berdasar definisi
diatas, dari persamaan (2-4) diperoleh:

1
f o (300) (3000) 2 949 Hz

dan,

949
Q 0,35
2700

Dengan nilai Q yang sangat rendah ini sulit untuk merealisasikan rangkaiannya !

Untuk itu dapat digunakan pendekatan: mengkaskadekan sebuah penapis lolos-rendah,


dengan frekuensi cutoff fH, serta sebuah penapis lolos-tinggi, dengan frekuensi cutoff fL,
sebagaimana ditunjukkan pada gambar 7.10.

Penapis Lolos-tinggi Penapis Lolos-rendah


Vi Vo
L H

Gambar 7.10. Peng-kaskade-an Penapis Lolos-Rendah dan Penapis Lolos-Tinggi


untuk Menahan Tanggap Penapis Pita-Lebar
65

Contoh:

Buatlah sebuah penapis pita-lebar 300 sampai dengan 3000 Hz dengan tanggap stopband
Butterworth order kedua !

Solusi :

Kita sebenarnya bebas memilih, tapi dipilih yang mudah, yakni penapis VCVS Komponen-
sama. Dari gambar 4-9, kombinasi terbaik untuk resistor-resistor 5% yang memberikan
frekuensi cutoff 300 Hz untuk penapis lolos-tinggi adalah R = 8k2 dan C = 0,068 F.

Untuk bagian lolos-rendah, kombinasinya R = 8k2 dan C = 0,0068 F. Agar tiap-tiap


penapis memiliki tanggap stopband Butterworth (yaitu rolloff-nya 12 dB/oktaf), maka resistor-
resistor masukan dan umpanbalik diberikan menggunakan panduan dari tabel 6-2 (untuk
resistor 5%) atau tabel 6-3 (untuk resistor 1%). Rangkaian lengkap ditujukkan pada gambar
7.11.

Gambar 7.11. Penapis Pita-Lebar 300 3000 Hz

dengan Tanggap Stopband Butterworth


66

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, karena menggunakan metode komponen-


sama penguatan tegangan passband kedua penapis adalah tetap pada 1,586 atau + 4 dB !
Sehingga penguatan totalnya tetap :

GWB = GLP GHP

= 1,586 x 1,586

= 3,17 (+ 8 dB)

Untuk order 5th penguatannya tetap pada 6,60 atau + 16,4 dB !

VII.3. PENAPIS-PENAPIS NOTCH

Penapis Notch atau tolak-pita biasa digunakan dalam sistem-sistem audio dan
instrumentasi untuk menolak (menghalangi) suatu frekuensi tertentu, misalnya menghapus
frekuensi hum 60 Hz pada jalur daya (jala-jala). Penapis notch yang (mungkin) cukup
dikenal, walau penapis pasif, adalah twin-T (twin-tee). Lihat gambar 7.12 !

Gambar 7.12. Penapis Twin-T

Untuk rangkaian twin-T, frekuensi null 2[2] ditentukan dengan persamaan :

1
n
RC (7-25)
2
2) Saat membicarakan penapis notch, istilah frekuensi tengah dan frekuensi
null sering digunakan secara bergantian !
67

atau

1
fn
2 R C (7-26)

Secara teoritis (dengan niali-nilai komponen yang sesuai) rangkaian ini mampu melakukan
penolakan penuh pada frekuensi null. Namun dengan komponen-komponen yang banyak
dijumpai di pasaran, Anda hanya mendapatkan tingkat penolakan (the rejection), atau
kedalaman null (null depth), sekitar 30 hingga 40 dB.

Karena yang dibicarakan adalah penapis aktif, kita letakkan rangkaian op amp ke dalam
twin-T, sebagaimana ditunjukkan pada gambar 7.13. Nilai Q :

R2 C
Q 1
2R 1 C2 (7-27)

Karena op-amp dihubungkan sebagai pengikut tegangan, maka penguatan passband-nya


adalah unitas !

Gambar 7.13. Rangkaian dasar Penapis Aktif Notch


68

Contoh

Buatlah sebuah penapis notch 60 Hz, menggunakan rangkaian gambar 7.13, dengan Q = 5

Solusi :

Dari gambar 3.8 maupun 4.9, nilai untuk R1 dan C1 adalah R1 = 5k6 , C1 = 0,47 F .
Kemudian dengan menggunakan persamaan (7-27) diperoleh:

R2 = 56 k dan

C2 = 0,1 F

Untuk resistor R1/2 digunakan dua resistor 5,6 k yang dipasang secara pararel, untuk
kapasitor 2C1, digunakan dua kapasitor 0,47 F yang dipasang secara pararel. Rangkaian
lengkap (menggunakan resistor 5%) ditunjukkan pada gambar 7.14.

Gambar 7.14. Rangkaian Lengkap Penapis Nocth

Menggunakan Resistor 5%
69

Penempatan resistor dan kapasitor secara pararel tersebut digunakan untuk meminimalkan
efek toleransi komponen. Namun, komponen-komponen dengan toleransi yang berdekatan
tidak diperlukan untuk penapis notch jika frekuensi null bisa diatur. Menggunakan rangkaian
pada gambar 7.15, frekuensi null bisa diatur dengan sebuah potensiometer, namanya
bridged differentiator, dengan frekuensi null berdasarkan persamaan berikut:

1
fn
2 C (3R1 R 2 )
(7-28)

Biasanya, tingkat penolakan terbaik pada frekuensi null akan terjadi jika menggunakan
komponen-komponen yang nilainya sama seperti rancangan teoritis. Konsekuensinya,
ketiga kapasitor yang digunakan harus betul-betul sama begitu juga dengan resistor-resistor
yang terhubungkan dari masukan ke keluaran harus betul-betul enam kali resistansi
pencabangan pada rangkaian. Dengan demikian rangkaian bridged-differentiator akan lebih
mudah diatur dibandingkan rangkaian twin-T dan hanya memerlukan dua buah
potensiometer sebagaimana ditunjukkan pada gambar 7.16.

Gambar 7.15. Rangkaian Bridged-Differentiator


70

Gambar 7.16. Bridged-Differentiator yang Hanya

Memerlukan Dua Potensiometer

Pada gambar 7.17 ditunjukkan suatu rangkaian penapis notch yang murah yang
menggunakan rangkaian dasar bridged-differentiator pasif dan dapat diatur untuk frekuensi
50 hinga 60 Hz dengan penolakan minimum 30 dB. Dengan kapasitor 10% dan resistor 5%,
lebar-pitanya mendekati 14 Hz untuk frekuensi null 50 Hz dan 18 Hz untuk 60 Hz.
71

Gambar 7.17. Rangkaian Penapis Notch yang Menggunakan

Rangkaian Dasar Bridged-Differentiator Pasif


72

Penapis notch aktif lainnya dapat dibuat sedemikian hingga suatu sinyal dikurangkan
terhadap sinyal lainnya. Dari teori penapis klasik : sebuah penapis notch dapat dibuat
dengan mengurangkan sinyal keluaran dari penapis lolos-pita dengan sinyal masukannya.
Perhatikan gambar 7.18 !

Gambar 7.18. Penapis Notch

Rangkaian op-amp yang pertama merupakan rangkaian dasar dari penapis lolos-pita
ragam-umpanbalik gambar 7.1, sedangkan rangkaian op-amp yang kedua adalah penguat
penjumlah. Pada titik R6 dan R7, sinyal masukan dikurangi dengan sinyal keluaran dari
penapis lolos-pita. Untuk menghasilkan suatu null yang dalam (a deep null) dengan
rangkaian ini, dengan C2 = C4,

R6 R
5
R 7 2R 1 (7-29)

R5
2R 1 merupakan penguatan passband dari bagian penapis lolos-pita

Contoh:

Buatlah sebuah penapis notch 60 Hz menggunakan rangkaian gambar 7.18. Dengan


asumsi penguatan passband nya 3 dan Q = 6.
73

Solusi :

Menggunakan persamaan (7-6), (7-7) dan (7-8) kita pilih C2 = C4 = 0,22 F, maka :

6
R1 24,1 k
3 . 0,22 F . 2 . 60 Hz

6
R3 1,05 k
(2 . 6 - 3) . 0,22 F . 2 . 60 Hz
2

2.6
R5 145 k
dan 0,22 F . 2 . 60 Hz

Kemudian dengan persamaan (7-29) diperoleh R6 = 3 R7. Jika R7 = 10 k, maka R6 = 30


k. Rangkaian op-amp kedua memiliki penguatan unitas jika R8 = R7 atau 10 k.
Menggunakan resistor 5% rangkaian lengkap ditunjukkan pada gambar 7.19.

Gambar 7.19. Penapis Notch 60 Hz Mengunakan Rangkaian Gambar 7.18

Anda mungkin juga menyukai