Anda di halaman 1dari 2

Saat Bencana

Mekanisme penanggulangan bencana yang akan dianut dalam hal ini adalah mengacu
pada UU NO. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah
No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Pada saat
terjadinya bencana g u n u n g m e l e t u s maka kita sebagai petugas kesehatan harus
segera memberi informasi awal ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kegiatan sebagai
petugas kesehatan pada saat bencana mencakup:
a. Mengkaji lokasi bencana untuk memperkirakan jumlah korban, jenis luka, dan untuk
memperkirakan kebutuhan tenaga medis dan alat medis.
b. Operasi pertolongan terhadap korban (khususnya pada bayi, balita, anak, ibu hamil, dan
lansia) berdasarkan triase bersama tim kesehatan lain dan masyarakat yang sudah terlatih
dalam penanganan gawat darurat.
c. Memberikan pengarahan kepada masyarakat untuk melakukan hal-hal seperti berikut:
Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah, aliran sungai kering dan
daerah aliran lahar;
Hindari tempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan;
Masuk ruang lindung darurat;
Siapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan;
Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh, seperti baju lengan panjang, celana
panjang, topi dan lainnya;
Melindungi mata dari debu, bila ada gunakan pelindung mata seperti kacamata renang
atau apapun yang bisa mencegah masuknya debu ke dalam mata;
Jangan memakai lensa kontak tau memakai kacamata pelindung;
Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung;
Saat turunnya abu gunung api usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah
tangan.
d. Melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk berkordinasi dalam menyiapkan
kebutuhan korban (RS lapangan, shektering pengungsi, jamban, air bersih, transportasi tim
dan korban).
e. Melakukan evakuasi korban selamat segera dibantu oleh Tim SAR menggunakan kendaraan
yang ada (truk dan mobil siaga).
f. Merujuk korban yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut menggunakan mobil
ambulans.
g. Mengoptimalkan Sumber Daya yang ada
1) Pada saat terjadi bencana gunung meletus, perlu adanya mobilisasi SDM kesehatan yang
tergabung dalam suatu tim penanggulangan krisis yang meliputi:
a) Tim reaksi cepat yaitu tim yang diharapkan dapat segera bergerak dalam waktu 0-24
jam setelah ada informasi kejadian bencana yang terdiri dari: pelayanan medik
(dokter umum, perawat mahir/gadar, tenaga disaster victim, dokter penyakit dalam,
apoteker, sopir ambulans), surveilans epidemiologi/sanitarian, petugas komunikasi.
b) Tim penilaian cepat (RHA) yaitu tim yang bisa diberangkatkan dengan tim reaksi
cepat atau menyusul kurang dari 24 jam: dokter umum, sanitarian, epidemiolog
c) Tim bantuan kesehatan yaitu tim yang diberangkatkan berdasarkan kebutuhan setelah
tim reaksi cepat dan tim RHA kembali dengan laporan hasil kegiatan mereka di
lapangan: dokter, tenaga gizi, bidan, perawat, perawat mahir, tenaga surveilans,
entomolog.
Sebagai koordinator tim adalah kepala dinas Kesehatanan Provinsi/Kabupaten/Kota
(mengacu surat KepMenkes No 066 Tahun 2006).
2) Survailans Penyakit Menular dan Gizi
Pengamatan terhadap suatu penyakit yang potensial menimbulkan terjadinya
kejadian luar biasa (KLB) dan masalah Gizi, dilakukan mulai terjadinya bencana
dengan mengintensifkan kegiatan survailans rutin.
3) Bergabung dengan Satgas Kesehatan di Pos Lapangan
Adanya peningkatan/eskalasi SPGDT-S menjadi SPGDT-B maka pelayanan
gawat darurat dalam penanggulangan bencana diambil alih oleh Satgas Kesehatan
dibawah koordinasi Satlak PBP di Pos Medis Lapangan. Pos Medis Lapangan dapat
memanfaatkan gedung Puskesmas, tenda darurat atau bangunan lain.
4) Pemberdayaan Masyarakat
Pada tahap bencana peran serta aktif masyarakat ditujukan untuk membantu
petugas kesehatan melalui kader-kader yang sudah terlatih dalam kegawatdaruratan.
Kader terlatih sebagai komponen SPGDT diharapkan bersma tenaga kerja kesehatan
di Puskesmas dapat memberikan pertolongan awal kasus gawat darurat sambil
menunggu bantuan tim Kabupaten/Kota, dan selanjutnya bergabung dengan tim
kesehatan bencana dipos medis lapangan, membantu tim gabungan dalam
memberi bantuan darurat yaitu pangan, sandang, tempat tinggal, kebutuhan air
bersih, sanitasi.