Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Etiologi

Klasifikasi virus Hog Cholera :

Famili : Flaviviridae
Kelas : Kelas IV
Genus : Pestivirus
Spesies : Classical swine fever virus
Bentuk : Bundar dengan diameter berkisar antara 40-50 nm
Materi genetik : RNA berbentuk singel stranded yang mempunyai sebuah
selubung (envelope).

B. Defenisi Hog Cholera

Hog Cholera adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Classical


swine fever virus (CSF). Penyakit ini dapat menyerang babi pada semua
umur dan semua golongan. Penyakit hog cholera bersifat akut yang
menyerang alat pencernaan dan pernapasan, dapat menyebabkan kematian
secara tiba-tiba, dengan tingkat morbilitas (penularan) 40-100%. Tingkat
kematian babi karena penyakit ini bervariasi antara 0-100% tergantung pada
kerentanan kawanan ternak, starin virus dan umur ternak. Kandang yang
kotor, udara sekitar kandang lembap dan sistem pemeliharaan yang tidak
hiegenis turut menjadi pemicu timbulnya penyakit ini. Hewan yang rentan
terhadap penyakit ini adalah babi (hutan & piaraan).

C. Penularan
Penularan penyakit ini ada 2 cara yaitu kontak langsung :
Kontak langsung : dari babi yang sakit ke babi yang sehat yang
berada dalam satu kandang.
Babi yang sakit menyebarkan virus terutama melalui sekresi
oronasal dan lakrimal(RESSANG, 1973). Jumlah atau konsentrasi
virus dalam sekresi tersebut dan lamanya babi mengeluarkan
virus tergantung kepada virulensi virus. Babi yang terinfeksi oleh
virus yang virulen akan mengeluarkan virus kedalam lingkungan
sebelum timbul gejala klinis sampai babi mati atau sampai
terbentuk antibodi bagi babi yang bertahan hidup. Sedangkan babi
yang terinfeksi oleh virus yang virulensinya sedang ataupun
rendah biasanya mengeluarkan virus dalam jumlah yang lebih
rendah dan dalam kurun waktu yang lebih pendek. Oleh karena
itu, strain virus yang virulen biasanya menularnya lebih cepat dan
menimbulkan morbiditas yang jauh Iebih tinggi dibandingkan
dengan strain yang kurang virulen.

Kontak tak langsung : lewat makanan yg tercemar sekreta &


ekskret, alat yang tercemar, hewan / manusia, cacing paru sapi,
dan perlu diingat bahwa babi yang sembuh bisa menjadi carrier.
Virus HC dapat bertahan dalam waktu yang lama dalam daging
babi dan beberapa produk olahannya, terutama dalam keadaan
dingin atau beku. Masuknya HC ke negara atau daerah yang
bebas HC sering akibat impor daging babi atau produknya ke
negara atau daerah tersebut . Wabah HC bisa terjadi apabila babi
diberi makan dengan sisa dapur yang mengandung daging babi
tercemar tersebut tanpa dimasak terlebih dahulu.

D. Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit ini 5-10 hari, dengan tanda-tanda luar pertama
penyakit ini adalah :
1. Ternak babi tidak aktif (lamban) dan kehilangan nafsu
makan.
2. Suhu tubuh meningkat 40,6-41,7C.
3. Peradangan pada mata disertai air mata keluar banyak.
4. Berkerumun dan menumpuk di atas satu sama lain.
5. Inkoordinasi dengan jalannya sempoyongan.
6. Sering duduk dengan posisi duduk seperti posisi anjing.
7. Mengangkat kaki dengan gerakan seperti mengayuh.
8. Sembelit yang kemudian diikuti dengan diare (menceret)
cair kuning kelabu yang parah dan kadang-kadang
menimbulkan cairan kekuning-kuningan.
9. Pendarahan dan sianosis di kulit.
10.Semakin berlanjut dengan terlihat adanya perubahan seperti
terjadinya perubahan warna seluruh kulit perut, telinga,
hidung dan bagian dalam kaki menjadi kelabu gelap.
Gambar 1. Posisi duduk seperti anjing

Gambar 2.Posisi kaki mengayuh (Padding)

Gambar 3.Pendarahan dan sianosis pada kulit


Gambar 4.Perubahan warna kulit

E. Distribusi penyakit di Indonesia


Kasus pertama Hog Cholera di Indonesia ditemukan di Provinsi
Sumatera Utara pada 1995 dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang
sangat tinggi, sehingga sangat merugikan secara ekonomis. Diduga
disebabkan oleh masuknya babi pejantan dari Semenanjung Malaysia.
Berjangkitnya wabah Classical Swine Fever/Hog Cholera di Indonesia
ditetapkan dengan SK Menteri Pertanian
No.455/TN.510/Kpts/Djp/Deptan/1996, 24 Juni 1996. Wabah terakhir di
Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur pada tahun 2011
Beberapa propinsi telah melakukan berbagai upaya pembebasan
terhadap Hog Cholera. Salah satunya adalah Sumatera Barat. Sumatera
Barat memiliki keuntungan bahwa jumlah populasi babi terlokalisir
sehingga memudahkan dalam melakukan surveillans. Salah satu
kebijakan di Sumatera Barat, adalah tidak melakukan vaksinasi, sehingga
dalam pemeriksaan serologis dapat dipastikan bahwa jika ditemukan hasil
positif maka hewan tersebut adalah murni karena infeksi alami dan dapat
dengan segera dimusnahkan. Sedangkan untuk Pulau Mentawai
merupakan wilayah yang bebas secara historis, dan sejak beberapa tahun
ini telah dilakukan pengambilan sampel di wilayah tersebut untuk detect
disease. Kegiatan surveilans dan detect disease di wilayah yang bebas
secara historis akan dilanjutkan hingga tahun 2013, diharapkan hasil dari
kegiatan tersebut adalah negatif antigen Hog Cholera sehingga Sumatera
Barat dapat segera dinyatakan bebas.

F. Patogenesis
Infeksi oleh virus virulensi tinggi.
Virus yang masuk kedalam tubuh babi yang secara alamiah melalui
rute oronasal, mengalami proses absorbsi dan multiplikasi awal pada sel
epitel tonsil, kemudian menyebar ke bagian jaringan limforetikuler dari
target organ primer ini. Virus dapat diisolasi dari organ ini sekitar 7 jam
setelah inokulasi peroral (RESSANG, 1973) . Setelah mengalami
replikasi pada tonsil,virus menyebar ke limfoglandula regional
(limfoglandula mandibula, retrofaringeal, parotid dan cervical) . Virus
dalam limfoglandula tersebut dapat diisolasi kembali sekitar 16 jam
setelah inokulasi peroral . Setelah mengalami replikasi di limfoglandula
ini, virus masuk kedalam peredaran darah yang mengakibatkan terjadinya
viraemia awal . Virus tertahan dan mengalami multiplikasi yang cepat
pada limpa yang merupakan target organ sekunder. Multiplikasi virus
yang cepat ini berakibat viraemia bertambah hebat . Selanjutnya virus
tertahan dan menginvasi limfoglandula visceral dan superfisial, sumsum
tulang dan jaringan-jaringan limfoid lain di mukosa usus. Virus mencapai
seluruh tubuh 5-6 hari setelah inokulasi peroral . Pada akhir stadium
viramia, virus menetap dan menginvasi seluruh organ tubuh yang sering
berakibat kematian (WOOD et ai., 1988) . Selain menginvasi sel limfold,
virus ini juga menyebabkan degenerasi dan nekrosa pada sel endotel
pembuluh darah . Kerusakan pada pembuluh darah, thrombocytopenia
dan gangguan sintesa fibrinogen mengakibatkan perdarahan berupa
petechiae dan ecchymosa yang meluas, yang merupakan salah satu
kelainan patologis yang menonjol pada penyakit ini.

Infeksi oleh virus virulensi sedang dan rendah


Infeksi oleh virus dengan virulensi sedang mengikuti pola yang
sama seperti virus virulensi tinggi tetapi prosesnya berjalan lebih lambat
dan konsentrasi virus dalam darah dan organ-organ tubuh lebih rendah.
Infeksi oleh virus virulensi rendah terbatas hanya pada fase limfatik .
Fase viraemia terjadi sangat singkat sekali . Infeksi oleh virus dengan
virulensi sedang atau rendah sering berakibat HC kronis (MANGELING
dan PACKER,1969)

Infeksi in utero
Babi bunting yang terkena HC dapat menulari embrio atau fetus
yang dikandungnya . Virus HC dapat menembus barier plasenta pada
semua umur kehamilan. Virus menyebar secara hematogenous pada
plasenta kemudian menyebar kesemua fetus (VAN OIRSCHOT, 1979) .
Selanjutnya, perkembangan virus pada fetus ini sama dengan
perkembangan virus virulen pada infeksi post natal seperti diuraikan
diatas. Akibat infeksi in utero pada fetus tergantung pada saat terjadinya
infeksi dan virulensi dari virus . Fetus yang terinfeksi pada saat 45 hari
pertama kebuntingan lebih mudah mengalami kematian prenatal
dibandingkan dengan fetus yang terinfeksi saat umur kebuntingan 65 hari
atau lebih . Disamping itu, fetus yang terinfeksi oleh virus virulensi
sedang pada kehamilan 45 hari terakhir kebuntingan berpeluang lebih
besar untuk memperlihatkan gejala klinis HC pada saat atau beberapa saat
setelah kelahiran . Sedangkan, fetus yang terinfeksi oleh virus virulensi
rendah pada saat kebuntingan yang sama biasanya tidak berakibat buruk
karena fetus dapat mengeliminasi virus tersebut (VAN OIRSCHOT,
1979) .

G. Pengendalian,pengobatan dan diagnosis


1. Pengendalian
a. Kandang harus dalam keadaan bersih dan kering.
b. Komposisi pakan yang sesuai dengan berat badan.
c. Desinfeksi alat dan kandang secara teratur dengan desinfektan.
d. Vaksinasi yang teratur sesuai petunjuk dinas peternakan.
Anak babi dari induk yang belum pernah divaksin, bisa dilakukan
vaksinasi umur 2 mingu, anak babi dari induk yang divaksin &
mendapat kolostrum terlindungi sampai umur 6 minggu dilakukan
vaksinasi umur 6-8 minggu, dan Induk babi bunting yang divaksin
menyebabkan anak menjadi carrier. Vaksinasi paling aman yaitu
induk divaksin 2 minggu sebelum kawin.
e. Bila terlihat adanya gejala penyakit hog cholera, segera laporkan
kepada tenaga kesehatan hewan yang ada, dan untuk melindungi
babi lainnya sebaiknya babi yang terserang di sendirikan di
kandang karantina.

2. Pengobatan
Untuk kasus penyakit cholera yang parah atau telah berlanjut
biasanya ternak babi yang telah terserang tidak adalagi harapan untuk
dapat disembuhkan. Namun untuk kasus penyakit yang baru tahap awal
besar harapan untuk sembuh melalui pengobatan dengan serum anti
cholera babi diberikan 1,25 sampai 1,50 kali dosis yang biasa
dicampurkan untuk pencegahan. Selain dari serum teramycin (1 mg/10 kg
berat badan/hari selama 3-4 hari) hendaknya diberikan pada babi yang
terserang untuk mencegah inveksi sekunder.

3. Diagnosis
Penyakit Hog Cholera bisa didiagnosa laboratorium berdasarkan
gejala klinis, patologi anatomi, Uji Virus Neutralization, Uji FAT
untuk deteksi antigen, Uji ELIZA untuk deteksi antibody.
Diagnose banding penyakit ini adalah African swine fever : paling
mirip tetapi button ulcer & infark limpa jarang , Erisipelas , Infeksi
Salmonella, Infeksi Streptococcus, Pasteurellosis, Infeksi E. coli
(Colibacillossis), Pseudorabies , Teschen disease (Infectious porcine
cephalomyelitis).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit HC merupakan salah satu penyakit yang sangat penting di
seluruh dunia . Sejak pertama kali ditemukan sekitar dua abad yang lalu
sampai sekarang penyakit ini tetap merupakan penyakit epizootik
disebagian besar dunia . Walaupun virus penyebab penyakit ini hanya
satu serotype saja dan vaksin yang efektif telah tersedia sejak lama,
banyak negara mengalami kesulitan untuk membebaskan negaranya dari
penyakit ini . Kesulitan tersebut kemungkinan berhubungan dengan
sulitnya mencegah masuknya olahan daging babi yang tercemar virus HC
dari luar negeri. Kemungkinan kedua adalah kesulitan dalam
memberantas penyakit HC pada babi liar atau babi hutan, dan mencegah
penularan dari babi liar ke babi piaraan.

B. Saran

1) Perhatikan kebersihan kandang


2) Berikan komposisi pakan pada ternak sesuai dengan bobot
badannya
3) Desinfeksi kandang dan peralatan kandang
4) Lakukan vaksinasi secara teratur.
BAB I
PENDAHULUAN

Hog Cholera (HC) atau Classical swine fever adalah


penyakit viral pada babi yang sangat ganas dan sangat menular.
Penyakit ini dikenal sebagai penyakit yang paling merugikan pada
babi sehingga sangat ditakuti terutama oleh peternak babi . Sejak
pertama ditemukan sekitar 2 abad yang lalu sampai tahun 1960-an
penyakit ini epizootik di Eropa dan Amerika, benua yang memiliki
populasi babi tertinggi . Sejak tahun 1970-an banyak negara di
Eropa Barat dan Amerika Utara telah berhasil memberantas
penyakit tersebut . Sebelum tahun 1995, HC tidak ditemukan di
Indonesia. Bebasnya Indonesia dari penyakit ini dikukuhkan oleh
Surat keputusan Menteri pertanian No 81 /Kpts/TN . 560/1/1994
tanggal 31 Januari 1994. Akan tetapi, tidak lama setelah surat
keputusan tersebut dikeluarkan wabah yang diduga keras HC
terjadi di Indonesia. Pada bulan Maret 1995 terjadi wabah penyakit
babi di lokasi peternakan Kapuk Jakarta . Gejala klinis dan
kelainan patologi pada babi penderita sangat khas untuk penyakit
tersebut . Sejak kejadian di Kapuk, wabah penyakit telah menyebar
ke berbagai pulau di Indonesia. Keadaan demikian merupakan
masalah yang besar bagi pembangunan peternakan, khususnya
peternakan babi di Indonesia . Mengingat penyakit tersebut
merupakan penyakit baru, tentu saja pengetahuan kita akan
penyakit tersebut sangat minim. Padahal untuk memulai suatu
program pengendalian, pengetahuan yang cukup tentang penyakit
tersebut mutlak diperlukan. Pada tahun 1981, Direktorat Kesehatan
Hewan menerbitkan beberapa jilid buku yang berjudul : 'Pedoman
penyakit menular', salah satu penyakit yang dibahas adalah
penyakit HC. Akan tetapi, sejak penerbitan buku tersebut telah
banyak hasil penelitian di luar negeri yang dipublikasi . Salah satu
tujuan penulisan tinjauan pustaka ini adalah untuk melengkapi dan
meng update tulisan pada buku tersebut. Dalam tulisan ini ulasan
dititikberatkan pada karakteristik virus, epidemiologi, patogenesis,
gejala klinis, patologi,, :d agnosis dan pengendalian HC.
HOG CHOLERA

Nama : Surya Agus M.S.R Benge


Kelas : B
NPM : 13820054

UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA-SURABAYA


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
2014/2015

Daftar Pustaka
http://www.fao.org/docrep/003/t0756e/T0756E05.htm, diakses pada
tanggal 08 Maret 2013.

http://cybex.deptan.go.id/lokalita/pencegahan-dan-pengobatan-penyakit-
hog- cholera-pada-ternak-babi-1, diakses pada tanggal 09 Maret 2013.

http://www.merckvetmanual.com/mvm/index.jsp?cfile=htm/bc/53400.ht
m, diakses pada tanggal 09 Maret 2013.

Anda mungkin juga menyukai