Anda di halaman 1dari 30

AUDITING II

PENGUJIAN SALDO UTANG USAHA

DAN AUDIT AKTIVA TETAP

Oleh :

Sari Anthony hutabarat 135020300111027

Adhimas Autma Suryapraja 135020307111069

Harya Yudhistira 125020305111014

Roland C.S.H 135020300111045


PENGUJIAN SALDO UTANG USAHA DAN AUDIT AKTIVA TETAP

PENGUJIAN SALDO UTANG USAHA


Perbedaan Pengujian Substantif terhadap Utang Lancar dengan Pengujian substantif terhadap
Aktiva Lancar. Utang lancar memiliki karakteristik yang berbeda dengan aktiva lancar.
Perbedaan ini mengakibatkn perbedaan di dalam pengujian substantifnya. Oleh karena itu,
perbedaan itu perlu disadari oleh auditor.Perbedaan karakteristik utang lancar dengan aktiva
lancar adalah sebagai berikut:
1. Dalam menyajikan aktiva lancar, klien berkecendrungan umm untuk menyajikan aktiva
tersebut lebih tinggi dari jumlah yang senyatanya.kecendrungan ini sering kali didorong
oleh motif untk memberikan gambaran modal kerja yang lebih baik, sehingga
kelihatannya perusahaan memiliki likuidtas yang baik. Gambaran modal kerja yang lebih
baik ini juga dapat ditempuh dengan cara menurunkan jumlah utang lancar, yaitu
umumnya dengan cara tidak mencatat utang lancar sehingga terdapat utang yang tidak
dicatat pada tanggal neraca (unrecorded liabilities).
2. Dalam menyajikan aktiva lancar, klien menghadapi masalah penilaian unsur-unsur aktiva
lancar per tanggal neraca. Kas harus disajikan pada nilai kursnya pada tanggal neraca,
jika kas tersebut berupa valuta asing, piutang harus disajikan pada nilai bersih yang dapat
ditagih pada tanggal neraca, sediaan harus dihitung kuantitas, ditenukan kualitas,dan
kondisinya untuk dapat disajikan pada nilai bersih yang dapat direalisasikan pada tanggal
neraca. Di lain pihak, dalam penyajian utang lancar, klien tidak menghadapi masalah
penentuan nilai utang lancar tersebut pada tanggal neraca. Apa yang menjadi kewajiban
perusahaan pada tanggal neraca tidak perlu ditentukan nilainya. Klien menghadapi fakta
di dalam menyajikan utang lancar.
3. Perbedaan Pengujian Substantif terhadap Utang Lancar engan Pengujian substantif
terhadap Aktiva Lancar
Karakteristik yang berbeda antara uatang lancar dengan karakteristik aktiva lancar tersebut
berpengaruh terhadap pengujian substantif terhadap kedua objek audit tersebut. Perbedaan
pengujian substantif terhadap utang lancar dengan pengujian substantif terhadap aktiva lancar
adalah sebagai berikut:
1. Pengujian substantif utang lancar ditujukan untuk menemukan adanya penyajian utang
lancar yang lebih rendah dari jumlah yang seharusnya (understatement utang lancar),
sedangkan pengujian substantif terhadap aktiva lancar ditujukan untuk menemukan
adanya penyajian aktiva lancar yang lebih tinggi dari jumlah yang seharusnya
(overstatement aktiva lancar). Dalam pengujian substantif terhadap kas, auditor
melakukan perhitungan fisik kas, dalam pengujian substantive terhadap piutang, auditor
mengirimkan konfirmasi kepada debitur dalam pngujian substantive terhadap sediaan,
auditor melakukan pengamatan terhadap perhitungan fisik sediaan yang dilakukan oleh
klien. Berbagai prosedur audit tersebut ditjukan untuk menemukan adanya overstatement
aktiva lancar. Dilain pihak, pengujian substantive terhadap utang lancar ditujukan untuk
menemukan adanya utang yang belum dicatat (unrecorded liabilities) pada tanggal
neraca. Hal ini dimaksudkan oleh auditor untuk mendeteksi adanya kemungkinan
penyajian utang lancar yang lebih rendah dari saldo yang seharusnya (understatement
utang lancar).
2. Dalam penyajian substantive terhadap aktiva lancar, auditor mengalami masalah
penentuan kewajaran nilai aktiva lancar (nilai bersih yang dapat direalisasikan) yang
dicantumkan dalam neraca. Penentuan nilai aktiva lancar ini menyangkut penaksiran apa
yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dalam pengujian substantive terhadap aktiva
lancar auditor memverifikasi nilai kas yang disajikan dalam neraca, menguji kewajaran
nilai piutang yang diperkirakan dapat ditagih pada tanggal neraca, dan menguji kewajaran
nilai sediaan dengan meakukan hitung uji (test count),pengujian kompilasi (compilation
test), dan pengujian harga (pricing test). Di lain pihak, dalam pengujian substantive
terhadap utang lancar, auditor menghadapi fakta, menghadapi data historis mengenai
kewajiban perusahaa yang terjadi di masa yang lalu, yang dalam jangka pendek harus
dilunasi. Oleh karena itu, pengujian substantive terhadap utang lancar memerlukan waktu
yang relative lebih pendek bila dibandingkan dengan pengujian substantive terhadap
aktiva lancar.
TUJUAN PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP UTANG USAHA
Tujuan audit terhadap utang usaha adalah:

Memperoleh keyakinan terhadap tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan


dengan utang usaha.
Membuktikan keberadaan utang usaha dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan
utang usaha yang dicantumkan di neraca.
Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan
kelengkapan saldo utang usaha yang disajiakan di neraca.
Membuktikan kewajiban klien yang dicantumkan di neraca.
Membuktikan kewajaran penyajian dan pengugkapan utang usaha di neraca.

Tujuan utama pengujian substantive terhadap utang usaha adalah membuktikan bahwa saldo
akun Utang Usaha yang dicantumkan dalam neraca mencerminkan saldo Akun Utang Usaha
yang sesungguhnya pada tanggal neraca tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut dirancang
pengujian substantive yang digolongkan ke dalam 5 kelompok yaitu:
a) Prosedur audit awal.
b) Prosedur analitik.
c) Pengujian terhadap transaksi rinci.
d) Pengujian terhadapsaldo akun rinci.
e) Verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan.

Kelima kelompok pengujian substantive tersebut ditujukan untuk memverifikasi lima asersi
manajemen yang terkandung dalam akun Utang usaha yaitu:
1) Keberadaan dan keterjadian
2) Kelengkapan
3) Penilian
4) Kewajiaban
5) Penyajian dan pengungkapan
6) Memperoleh keyakian tentang keandalan catatan akuntansi yang bersankutan dengan
utang usaha

Sebelum auditor melakukan pengujian mengenai kewajaran saldo utang usaha yang dicantumkan
dalam neraca, ia harus memperoeh keyakinanmengenai ketelitian dan keandalan catatan
akuntansi yang mndukung informasi utang saha yang di sajikan dalam neraca. Untuk itu auditor
melakukan rekonsiliasi antara saldo utang usaha yang dicantumkan dalam neraca dengan akun
Utang Usaha dalam buku besar dan selanjutnya ke reister bukti kas keluar dan register cek.

Membuktikan asersi keberadaan dan kejadian utang usaha yang di cantumkan di neraca
Dalam pengujian substantif terhadap utang pada umunya, pengujian ditujukan untuk menemukan
kemungkinan adanya unrecorded liabilities. Untuk membuktikan asersi aktiva dan keterjadian
transaksi yang bersangkutan dengan utang lancar, auditor melakukan berbagai pengujian
substantive berikut ini:

Pengujian analitik
Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan utang usaha
Pemeriksaan pisah batas transaksi yang berkaitan dengan piutang usaha
Konfirmasi piutang usaha
Rekonsiliasi utang yag tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang yang diterima oleh klien
dari krediturnya
Membuktikan asersi kelengkapan utang usaha yang dicantumkan di neraca

Seperti tersebut dalam prinsip akutansi berterima umum, utang saha harus disajikan di neraca
pada fakta pada tanggal neraca atau dengan kata lain sebesar jumlah yng menjai kewajiban kien
kepada kreditur pada tangal neraca. Tidak seperti halnya dengan piutang usaha yang disajikan di
neraca dalam jumlah bruto dikurangi dengan taksiran kerugian tidak tertagihnya piutang usaha,
utang usaha disajikan di neraca pada jumlah kewjiban klien pada tanggal neraca. Dengan
demikian tujuan pembuktian asersi penilaian tidak berlaku terhadap saldo utang usaha pada
tanggal neraca. Pembuktian asersi kelengkapan utang usaha lebih ditujukan untuk mencari
adanya unrecorder liabilities pada tanggal tersebut. Untuk membuktikan bahwa utang usaha yang
dicantumkan di neraca mencakup semua kewajiban klien kepada kreditur pada tanggal neraca
dan mencakup semua transaksi yang berkaitan dengan utangusaha dalam tahun yang diaudit,
auditor melakukan berbagai pengujian substantive berikut ini:

Pengujian analitik
Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yan berkaitan dengan utang usaha
Pemeriksaan pisah batas transaksi yang berkaitan dengan utang usaha
Konfirmasi utang usaha
Rekonsiliasi utang yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang yang diterima oleh
klien dari krediturnya

Transaksi yang berkaitan dengan timbul dan berkurangnya utang usaha mempunyai pengaruh
yang langsung terhadap perhitungan saldo utang uasaha pada tanggal neraca, sehingga
ketidaktepatan dalam penepatan pisah batas transaksi yang berangkutan dengan utang saha akan
berdampak langsung terhadap perhitungan akun Utang Usaha dan pembelian (purchases). Oleh
kerena itu salah satu pengujian substantive untuk membuktikan asersi kelengkapan utang usaha
adalah pemeriksaan terhadap ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan utang
usaha.

Membuktikan asersi kewajiban klien atas utang usaha yang dicantumkan di neraca
Utang usaha yang ada pada tanggal neraca merupakan kewajiban klien kepada reditur pada
tanggal tersebut. Untuk membuktikan kewajiban klien yang tercermin dalam utang usaha yang
dicantumkan dineraca, auditor melakukan pengujian substansif berikut ini:

1) Pemeriksaan bukti pendukung transaksiyang berkaitan dengan utang usaha


2) Konfirmai piutang usaha
3) Rekonsiliasi utang yang tidak dikonfirmasi ke ernyataan piutang yang diterima oleh klien
dari krediturnya.
4) Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan utang usaha dineraca
Mengungkapkan unsur-unsur pelaporan keuangan harus didasarkan pada prinsip akuntansi
berterima umum. Pengujian substantive trehadap utang uasaha diarahkan untuk mencapai salah
satu tujuan untuk membuktikan apakah unsur utang usaha telah disajikan dan diungkapkan oleh
klien di neraca adalah:

1) Konfirmasi utang usaha


2) Rekonsiliasi utang yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang yang ditrima oleh klien
dari krediturnya
3) Perbandingan penyajian utang usaha di neraca dengan prinsip akuntansi berterima umum
yang diaudit dengan prinsip akuntansi berterima umum

PROGRAM PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP UTANG USAHA


Program pengujian substantive terhadap utang usaha berisi prosedur audit yang dirancang untuk
mencapai tujuan audit seperti yang telah diuraikan diatas. Tahap-tahap prosedur audit dimulai
dari pemeriksaan yang bersifat luas dan umu sampai ke pemeriksaan yang bersifat rinci.

Berbagai prosedur audit dilaksanakan dalam lima tahap berikut ini:


1) Prosedur audit awal
2) Prosedur analitik
3) Pengujian terhadap transaksi rinci
4) Pengujian terhadap saldo akun rinci
5) Verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan

Tgl.
Pelaksan
Prosedur Audit Kertas kerja Pelaksanaa
a
n
Prosedur Audit Awal
1. Lakukan prosedur audit awal atas saldo akun
utang usaha yang akan diuji lebih lanjut
a) Usut saldo utang usaha yang tercantum di dalam
neraca ke saldo akun utang usaha
yangbersangkutan di dalam buku besar
b) Hitung kembali saldo akun utang usaha di
dalam buku besar
c) Lakukan revie terhadap mutasi luar biasa dalam
jumlah dan sumber posting dalam akun utang
usaha
d) Usut saldo awal akun Utang usaha ke kertas
kerja tahun lalu
e) Usut posting pendebitan akun utang Usaha ke
dalam jurnal yang bersangkutan
f) Lakukan ekonsiliasi akun control Utang Usaha
dalam Buku besar ke buku pembantu utang
usaha

Prosedur Analitik
2. Lakukan prosedur analitik
a) Hitung ratio berikut ini:
Tingkat perputaran utang usaha
Ratio utang usaha dengan utang lancar
b) Lakukan analisis hasil prosedur analitik dengan
harapan yag didasarkan pada data masa lalu.
Data industry, jumlah yang disanggarkan, atau
data lain
c) Bandingkan akun biaya dengan akun biaya yang
sama tahun lalu atau biaya yang disanggarkan
utnuk mendapatkan indikasi kemungkinan
adanya understatement utang lancar

Pengujian terhadap Transaksi rinci


3. Periksa sampel utang usaha yang tercatat ke
dokumen yang mendukung timbulnya utang usaha.
a) Periksa pengkreditan akun utang usaha yang
tercatat ke dokumen pendukung bukti kas
keluar, laporan penerimaan barang, surat order
pembelian, atau dokumen pendukung lain
b) Periksa pendebitan akun utang usaha ke
dokumen pendukung bukti kas masuk, memo
debit untuk retr pembelian

4. Lakukan verivikasi pisah batas (cutoff)


transaksi pembelian
Periksa dokumen yang mendukung transaksi
pembelian dalam minggu terakhir tahun yang
diaudit dan minggu pertam setelah tanggal neraca

5. Lakukan verivikasi pisah batas (cutoff)


transaksi pngeluaran kas
Periksa dokumen yang mendukung transaksi
pmbayaran utang usaha dalam minggu terakhir
tahun yang di audit dan minggu pertama setelah
anggal neraca

6. Lakukan pencarian utang yang belum di catat


a) Periksa bukti-bukti yang mendukung
pengeluaran kas yang dicatat setelah tanggal
neraca
b) Periksa bukti kas keluar yang dibuat setelah
tanggal neraca
c) Periksa catatan sediaan barang konsinyasi
masuk
d) Pelajari perturan perpajakan menyangkut bisnis
klien
e) Lakukan review terhadap anggaran modal,
perintah kerja, dan kontrak pembangunan untuk
memperoleh bukti adanya utang yang belum
dicatat

Pengujian terhadap Saldo Akun rinci


7. Lakukan konfirmasi ulang
a. Lakukan identifikasi penjual besar dengan me-
review register bukti kas keluar atau bukti
pembantu utang, arsip induk utang, dan
kirimkan konfirmasi kepada kreditur yang
akun utang klien kepadanya memiliki
karakteristik berikut ini:
1) Bersaldo besar
2) Terdapat kegiatan pembelian yang luar
biasa
3) Bersaldo kecil atau nol
4) Bersaldo debit
b. Lakukan penyelidikan dan sesuaikan jika
terjadi perbedaan
c. Periksa dokumen yang mendukung
pembayaran Utang Usaha setelah tanggal
neraca

8. Lakukan rekonsiliasi utang usaha yang tidak


dikonfirmasi ke pernyataan piutang bulanan yang
iterima oleh klien dari kreditur

Verifikasi Penyajian dan pengungkapan


9. Bandingkan penyajian utang usaha dengan
prinsip akuntansi berterima umum
a) Periksa klasifikasi piutang usaha di neraca
b) Periksa pengungkapan yang bersangkutan
dengan utang usha
c) Periksa pengungkapan yag bersangkutan
dengan utang usaha
d) Mintalah informasi dari klien untuk menemukan
komitmen yang belum diungkapkan dan utang
bersyarat dan periksa penjelasan yang
bersangkutan dengan utang tersebut

Program Pengujian Substantif terhadap Utang Usaha


Pada tahap awal, auditor menempuh prosedur audit untuk memperoleh keyakinan bahwa
informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan kuangan didukung dengan catatan akuntansi.
Pada tahap berikutnya, dalam prosedur analitik, auditor mengumpulkan berbaai ratio dan
perbandingan utnuk memfokuskan kemana pengujian terhadap transaksi dan saldo akun rinci
diarahkan. Pada tahap-tahap akhir, auditor melaksanakan pengujian terhadap transaksi dan saldo
akun rinci, serta verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan saldo akun dalam laporan
keuangan.

Prosedur Audit Awal


Sebelum membuktikan apakah saldo utang usaha yang dicantumkn oleh kiln di dalam neracanya
sesuai dengan utang usaha yang benar-benar ada pada tanggal neraca, auditor melakukan
rekonsiliasi antara informasi utang usaha yag dicantumkandi neraca dengan catatn antansi yang
mendukungnya. Rekonsiliasi ini perlu dilakukan agar auditor memperoleh keyakinan bahwa
informasi utang usaha yang dicantumkan di neraca didukung dengan catatn akuntansi yang dapat
dipercaya. Oleh karena itu, auditor melakukan enam prosedur audit berikut ini dalam melakukan
rekonsiliasi informasi utang usaha di neraca dengan catatan akuntansi yang bersangkutan:

Usut saldo utang usaha yang tercantum di neraca ke saldo akun Utang Usaha yang
bersangkutan di dalam buku besar
Hitung kembali saldo akun Utang Uasaha di buku besar
Usut saldo awal akun Utang Usaha ke kertas kerja tahun lalu
Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting dalam akun
Aktiva tetap dan Akuntansi Depresiasiya
Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun Utang Usaha ke jurnal yang
bersangkutan
Lakukan rekonsiliasi buku pembantu utang usaha dengan akun control Utang Usaha di
buku besar

Usut saldo utang usaha yang tercantum di neraca ke saldo akun Utang Usaha yang bersangkutan
di dalam buku besar
Untuk memperoleh keyakinan bahwa saldo utang usaha yang tercantum di neraca didukung
dengan catatn akuntansi yang dapat dipercaya kebenaran mekanisme pencatatnya,maka saldo
utang usaha yang di cantumkan di neraca diusut ke akun buku besar berikut ini:

Utang Usaha
Akun ini digunakan untuk menampung transaksi timbulnya utang dari transaksi pembelian
berbagai golongan sediaan dan pelunasannya. Jika perusahaan menggunakan system bukti kas
keluar (voucher system) dalam pengendalian kasnya, akun Utang Usaha ini di sebut dengan akun
Bukti Kas Kelur yang Akan Dibayar (vocher payable).

Utang Wesel
Utang wesel merupakan utang yang dibuktikan dengan surat beharga (berupa sertifikat wesel)
yang dipegang oleh reditur sehinnga kreditur dapat menjualnya kepada pihak lan. Utang ini
timbul dari transaksi pembelian berbagai golongan sediaan. Utang wesel dibagi menjadi dua
golongan yaitu utang wesel berbunga dan utang wesel tidak berbunga.

Hitung kembali saldo akun Utang Uasaha di buku besar


Untuk memperoleh keyakinan mengenai ketelitian perhitungan saldo akun Utang Usaha, auditor
menghitung kembali saldo akun Utang Usaha dan utang Wesel dengan cara menambah saldo
awal dengan jumlah pengkreditan dan menguranginya dengan jumlah pendeebitan yiap-tiap akun
tersebut.

Usut saldo awal akun Utang Usaha ke kertas kerja tahun lalu
Sebelum auditor melakukan pengujian terhadap transaksi rinci yang menyangkut akun Utang
Usaha , ia perlu memperoleh keyakinanatas kebenaran saldo awal akun tersebut.untuk mecapai
tujuan ini, auditor melakukan pengusutan saldo awal akun Utang Usaha ke kertas kerja tahun
lalu. Kertas kerja tahun lalu dapat enyediakan informasi tentang berbagai koreksi yang diajukan
oleh auditor dalam audit tahun yang lalu sehingga audit dapat mengevaluasi tinak lanjut yang
telah ditempuh oeh kliendalam menanggapi koreksi yang diajukan oleh auditor.

Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting dalam akun
Aktiva tetap dan Akuntansi Depresiasiya.

Ketidakberesan dalam transaksi pembelian, pelunasan utang usaha dapat ditemukan melalui
review atas mutasi luar biasa, baik dalam jurnal maupun dalam posting dalam akun Utang Usaha

Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun Utang Usaha ke jurnal yang bersangkutan

Untuk memperoleh keyakinan bahwa mutasi penambahan dan pengurangan utang usaha berasal
dari jurnal-jurnal yang bersangkutan, pengkreditan di alam akun Utang Usaha di usut ke jurnal
pembelian dan register bukti kas keluar dan pendebiata kea kun tersebut di usut ke jurnal
pengeluaran kas atau check register dan jurnal umum (untuk transaksi retun pembelian).

Lakukan rekonsiliasi buku pembantu utang usaha dengan akun control Utang Usaha di buku
besar

Saldo akun Kontrol Utang usaha di buku besar tersebut kemudian dicocokkan dengan jumlah
saldo akun pembantu utang usaha atau ke dalam arsip buku kas keluar yang belum dibayar untuk
memperoleh keyakinan bahwa catatn akuntansi klien yang bersangkutan dengan utang usaha
dapat dipercaya ketelitiannya.

Prosedur Analitik
Pada tahap pengujian substantive trhadap utang usaha, pengujian analitik dimaksudkan untuk
membantu auditor dalam memahami bisnis klien dan dalam menemukan bidang yang
memerlukan audit lebih intensif, untuk itu, auditor melakukan perhitungan berbagai ratio beriut
ini:

Ratio Formula
Tingkat perputaran utang Pembelian + rata-rata utang
usaha usaha

Rasio utang usaha dengan Saldo utang usaha + utang


utang lancar lancer

Rasio yang telah dihitung tersebut kemudian dibandingkan dengan harapan auditor, misalnya
ratio tahun yang lalu, rerata ratio industry, atau ratio yang dianggarkan. Perbandingan ini
membantu auditor untuk mengungkapkan: peristiwa atau transaksi yang tidak biasa, perubahan
akuntansi, perubahan usaha, fluktuasi acak, atau salah saji.

Pengujian terhadap transaksi rinci


Karena hampir semua saldo utang lancar, seperti utang usahadan utang wesel, didukung dengan
dokumen yang berasal dari pihak luar, maka keberadaan saldo akun utang dan keterjadian
transaksi yang berkaitan dengan akun tersebut dibuktikan oleh auditor dengan melakukan
pemeriksaan terhadapdokumen pendukung transaksi tersebut. Dalam memverifikasi saldo utang
usaha dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan akun tersebut, auditor memeriksaarsip
bukti kas keluar yang belum dibayar (open voucher file) beserta dokumen pendukungnya seperti
surat order pembelian, laporan penerimaan barang, dan faktur dari pemasok. Dalam
memverifikasi utang wesel, meskipun sertifikat wesel berada di tangan kreditur, namun biasanya
kalienmemiliki copy sertifikat wesel tersebut. Dengan demikian, verifikasi keberadaan utang
wesel dilakukan oleh auditor dengan memeriksa copy sertifikat wesel yang disimpan oleh klien.
Dalam memverifikasi keberadaan utang bank, auditor meminta surat perjanjian penarikan keredit
dari bank untuk membuktikan eksistensi utang tersebut serta untuk memperoleh informasi
mengenai syarat-syarat kredit dan jumlah pokok pinjaman, serta tariff bunga.
Keandalan saldo utang usaha sangat ditentukan oleh keterjadian transaksi yang dikredit dan
didebitkan ke dalam akun pelunasan utang ini :

Transaksi pembelian kredit


Transaksi retur pembelian
Transaksi pembayaran kes untuk pelunasang utang usaha.

Disamping itu, keandalan saldo usaha ditentukanpula oleh ketepatan pisah batas yang digunakan
untuk mencatat berbagai transaksi tersebut diatas. oleh karena itu, auditor melakukan pengujian
substansif terhadap transaksi rinci yang mengkredit dan mendebit akun Utang Usaha dan
pengujian pisah batas yang digunakan untuk mencatat transaksi yang berkaitan dengan akun
tersebut.

Periksa Sampel Transaksi yang Tercatat dalam Akun Utang Usaha Ke Dokumen yang
Mendukung Timbulnya Transaksi Tersebut

Prosedur audit ini dimulai oleh auditor dari buku pembantu utang usaha. Pengujian dilaksanakan
dengan mengambil sampel berikut ini :

Sampel akun debitur yang akan diperiksa transaksi mutasinya.


Sampel transaksi yang dicatat dala akun kreditur pilihan.
Periksa Pengkreditan Akun Utang Usaha Ke Dokumen Pendukung : bukti kas keluar
(voucher), laporan penerimaan barang, dan surat order pembelian

Auditor mengambil sampel transaksi yang dicatat di sebelah kredit akun kreditur yang terpilih
dalam sampel, kemudian melakukan prosedur audit berikut ini :

mengambil dari arsip klien bukti kas keluar beserta dokumen pendukungnya : laporan
penerimaan barang, faktur pembelian dari pemasok, dan surat order pembelian.
memeriksa kelengkapan dokumen yang mendukung bukti kas keluar.
memeriksa kesesuaian data yang tercantum dalam bukti kaskeluar dan dokumen
pendukungnya.
memeriksa kebenaran data yang di posting ke dalam akun kreditur berdasarkan bukti kas
keluar.
memastikan bahwa semua bukti kas keluar dan memo debit yang disampel telah dicatat
di sebelah debit akun kreditur.
Lakukan Verifikasi Pisah Batas (Cutoff) Transaksi Pembelian dan Retur Pembelian
Verifikasi pisah batas dimaksudkan untuk membuktikan apakah klien menggunakan pisah batas
yang konsisten dalam memperhitungkan transaksi pembelian dan retur pembelian yang termasuk
dalam tahun yang diaudit dibanding dengan tahun sebelumnya. Jika klien tidak menggunakan
tanggal pisah batas yang konsisten, akibatnya adalah transaksi pembelian yang seharusnya diakui
sebagai unsure penentuan kos barang yang dijual (cost of goods sold) tahun berikutnya, dicatat
oleh klien sebagai unsure kos barang yang dijual tahun yang diaudit. Di lain pihak, transaksi
pembelian tahun yang diaudit dapat diakui oleh klien sebagai unsure kos barang yang dijual
tahun berikutnya. Dengan demikian jika klien tidak konsisten dalam menggunakan tanggal pisah
batas, perhitungan rugi laba tahun yang diaudit akan terpengaruh langsung. Oleh karena itu,
auditor melakukan pemeriksaan terhadap transaksi pembelian dan retur pembelian, serta
transaksi pengeluaran kas untuk pembayaran utang usaha yang terjadi dalam beberapa minggu
sebelum dan sesudah tanggal neraca, untuk menentukan perlakuan yang tepat terhadap
pengakuan kos barang yang dijual dan pencatatan transaksi pengurangan utang usaha.
Periksa Dokumen yang mendukung timbulnya utang usaha dalam minggu terakhir tahun yang
diaudit dan minggu pertama setelah tanggal neraca
Untuk membuktikan bahwa klien menggunakan pisah batas yang konsisten terhadap transaksi
pembelian, auditor memeriksa bukti kas keluar san dokumen pendukungnya yang dibuat dan
dicatat oleh klien dalam periode sebelum dan sesudah tanggal neraca. Dengan membandingkan
tanggal bukti kas keluar, faktur pembelian dari kreditur, tanggal laporan penerimaan barang, dan
syarat pembelian yang digunakan, auditor dapat membuktikan apakah transaksi pembelian dan
timbulnya utang yang terjadi dalam periode sebelum dan sesudah tanggal neraca, telah dicatat
dalam periode akuntansi yang seharusnya.
Periksa dokumen yang mendukung berkurangnya utang usaha dalam minggu terakhir tahun yang
diaudit dan minggu prtama setelah tanggal neraca untuk membuktikan ketetapan pisah batas
dalam transaksi berkurangnya utang usaha karena pembayaran kas kepada kreditur, auitor
memeriksa dokumen bukti kas keluar dan kuitansi penerimaan kas dari kreditur yang dipakai
sebagai basis pencatatan ke di dalam kartu utang. Dari pemeriksaan ini, auditor dapat
membuktikan ketetapan pisah batas yang dipakai oleh klien dalam mencatat pengurangan utang
usaha dari pembayaran kas kepada kreditur.

Lakukan verifikasi pisah batas (cutoff) transaksi pengeluaran kas


Untuk membuktikan ketetapan pisah batas transaksi pengeluaran kas, auditor melakukan
observasi terhadap semua cek yang dibayarkan pada hari terakhir tahun yang diaudit untuk
membuktikan ketetapan pencatatan pengeluaran kas dalam periode akuntansi yang seharusnya
Periksa Adanya Utang Usaha yang tidak Dicatat
Sebagaimana telah diuraikan dalam karakteristik utang usaha, klien memiliki kecenderungan
untuk melakukan understatement utang usaha dengan cara tidak mencatat kewajiban klien pada
tanggal neraca. Oleh karena itu, focus auditor dalam pengujian subtantif terhadap utang usaha
adalah menemukan adanya unrecorded transaction yang berkaitan dengan utang usaha.
Utang yang belum dicatat pada tanggal neraca dapat timbul sebagai akibat dari berbagai
keadaan berikut ini :

Adanya dokumen-dokumen (misalnya surat order pembelian, laporan penerimaan barang,


dan faktur pembelian dari pemasok) yang belum diproses untuk pembayaran pada tanggal
neraca, dan baru dibuatkan bukti kas keluar setelah tanggal neraca.
Adanya barang-barang yang diterima sebelum tanggal neraca, namun faktur dari
pemasok baru dau diterima setelah tanggal neraca.
Klien menggunakan basis tunai (cash basis) dalam melaksanakan system bukti khas
keluarnya (voucher system)
adnya jasa yang telah dinikmati oleh kliensebelum tunggal neraca, namun penjual jasa
baru menagih harga jas tersebut setelah tanggal neraca (misalnyabiaya iklan bulan
Oktober sampai bulan Desember, baru ditagih oleh perusahaan surat kabar bulan Januari
tahun berikutnya).

Prosedur audit untuk menemukan adanya utang yang belum dicatat pada tanggal neraca:
Periksa bukti bukti yang mendukung transkasi pengeluaran kas yang dicatat setelah tangga
neraca. Seperti telah dikemukakan di atas, pemeriksaan dokumen yang mendukung pembayaran
utang lancar setelah tanggal neraca merupakan salah satu prosedur audit untuk membuktikan
eksentensi utang lancar pada tanggal neraca. Disamping itu, prisedur audit ini dapat pula
digunakan untuk menemukan adanya utang yang belum dicatat pada tanggal neraca. jika
perusahaan menggunakan ledgerless bookkeeping, periksa arsip bukti kas keluaran yang telah
dibayar ( paid voucher file) dan pilihlah bukti kas keluar yang dibayar setelah tanggal neraca.
periksa bukti pendukungnya mengenai kemungkinan adanya uang yang belum dicatat pada
tanggal neraca. Sebagai contoh, dari pemeriksaan terhadap bukti kas keluar yang dibayar setelah
tanggal neraca dan laporan penerimaan barang yang melampiri bukti kas keluar tersebut dapat
diketahui bahwa barang telah diterima oleh klien sebelum tanggal neraca, sehingga pembayaran
tersebut merupakan pembayaran utang yang ada pada tanggal neraca. karena bukti kas keluar
tersebut baru dibuat setelah tanggal neraca, maka utang tersebut seharusnya merupakan
kewajiban klien yang pada tanggal neraca belum dicatat.
periksa bukti kas keluar yang dibuat setelah tanggal neraca. Untuk menemukan adanya utang
yang belum dicatat pada tanggal neraca,auditor dapat memeriksa bukti kas keluar yang dibuat
setelah tanggal neraca.dengan memeriksa dokumen yang mendukung bukti kas keluar tersebut,
auditor dapat menemukan adanya unrecorded liabilitie.
periksa catatan sediaan barang konsinyasi masuk. Jika klien menjual barang titipan milik
perusahaan lain, pemeriksaan catatan sediaan barang konsinyasi akan dapat menunjukkan berapa
jumlah barang konsinyasi yang telah dijual, namun oleh klien belum dikirimkan hasil
penjualannya kepada perusahaan yang menitipkan barang tersebut. Jumlah tersebut merupakan
utang klien kepada perusahaan penitip barang.
pelajari aturan perpajakan yang menyangkut bisnis klien. kemungkinan klien mempunyai
kewajiban pajak yang belum diakui di dalam catatan akuntansinya pada tanggal neraca. Untuk
menemukan hal itu, auditor harus memahami peraturan perpajakan yang menimbulkan
kewajiban pajak bagi klien.
lakukan review terhadap anggaran modal (capital budget), perintah kerja (work order), dan
kontrak pembangunan untuk memperoleh bukti adanya utang yang belum dicatat. Dengan me-
review berbagai dokumen tersebut, auditor akan dapat menemukan kewajiban sehubungan
dengan pembelian aktiva tetap, pemerintah kerja, dan kontrak pembangunan, yang telah menjadi
kewajiban kelien pada tanggal neraca, namun beum dicatat dan dijadikan oleh kelien.
Jika auditor menemukan adanya utang yang pada tanggal belum dicatat dan tidak disajikan di
neraca, ada dua jalan yag dapat ditempuh oleh auditor, yaitu:
(1) Mengusulkan adjusment kepada kelien untuk mencatat uang tersebut
(2) Tidak mengusulkan adjustment kepada kelien, dan membiarkan uang tersebut tetap tidak
tercatat. Kriteria yang umumnya dipakai oleh auditor untuk memutuskan apakah akan
mengusulkan adjusment mengenai utang yang belum dicatat tersebut adalah:
Apakah dengan tidak dicatatnya utang tersebut, penentuan laba-rugi di dalam tahun yang
diaudit akan terpengaruh secara material? Jika jawabannya ya, maka auditor harus
mengusulkan kepada kelien untuk mencatat utang yang belum dicatat tersebut.
Apakah dengan tidak dicatatnya utang tersebut akan mempengaruhi jumlah modal kerja secara
material? Jika jawabannya ya maka auditor harus mengusulkan jurnal adjusment untuk
mencatat utang tersebut.

Pengujian Terhadap Saldo Akun Rinci


Tujuan pengujian saldo akun Utang Usaha rinci adalah memverifikasi :

Keberadaan atau keterjadian


Kelengkapan
Kewajiban
Penyajian dan pengungkapan
Keberadaan, kelengkapan, kewajiban, serta penyajian dan pengungkapan utang usaha di neraca
dibuktikan oleh auditor dengan mengirimkan surat konfirmasi kepada debitur dan rekonsiliasi
utang usaha yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang bulanan yang diterima oleh klien dari
kreditur.
Lakukan Konfirmasi Utang Usaha
Konfirmasi dalam pengujian subtantif terhadap utang usaha merupakan prosedur yang tidak
harus ditempuh (bukan merupakan mandatory procedure) seperti halnya dengan konfirmasi
piutang usaha. Ada tiga sebab mengapa prosedur konfirmasi bukan merupakan mandatory
prosedur dalam pengujian substantive terhadap utang usaha :
Tujuan utama pengujian substantive terhadap utang usaha adalah untuk menemukan adanya
unrecorded liabilities. Konfirmasi utang usaha didasarkan pada utang usaha yang telah tercatat,
sehingga konfirmasi tidak dapat menentukan keberadaan utang usaha yang belum dicatat pada
tanggal neraca.
Konfirmasi dilakukan untuk memperoleh bukti-bukti dari pihak luar, seperti faktur dari
pemasok dan pernyataan piutang dari kreditur.
Kebanyakan utang usaha yang tercatat pada tanggal neraca telah dibayar oleh klien sebelum
auditor menyelesaikan pekerjaan lapangan. Pembayaran ini merupakan bukti adanya utang usaha
pada tanggal neraca.
Prosedur konfirmasi utang usaha ditempuh oleh auditor jika dua kondisi berikut ini terdapat di
dalam perusahaan yang diaudit, yaitu :
(1) pengendalian terhadap utang usaha lemah
(2) dalam pengujian subtantif tidak dapat dijumpai adanya pernyataan piutang dari kreditur.
Jika prosedur konfirmasi ini dilaksanakan oleh auditor, kreditur yang dipilih untuk dikirimi surat
konfirmasi adalah :
(1) Kreditur yang melakukan penjualan yang besar kepada klien dalam tahun yang diaudit
(2) Kreditur yang memiliki akun berisi transaksi yang luar biasa sifatnya
(3) Krediturnya mempunyai hubungan istimewa dengan klien (misalnya hubungan antara
induk dengan anak perusahaan).

Periksa Dokumen yang Mendukung Transaksi Pembayaran Utang Usaha Setelah Tanggal
Neraca.
Pembayaran utang usaha yang dilakukan oleh klien dapat memberikan petunjuk mengenai
keberadaan kewajiban klien tersebut. Oleh karena itu, untuk membuktikan keberadaan utang
usaha pada tanggal neraca, auditor melakukan pemeriksaan terhadap dokumen yang mendukung
transaksi pembayaran utang usaha yang terjadi setelah tanggal neraca, yang dicatat dalam
regiscek. Dengan pemeriksaan dokumen pendukung transaksi pembayaran utang usaha yang
dicatat dalam register cek tersebut, auditor dapat memperoleh keyakinan bahwa utang usaha
yang tercantum dineraca benar-benar ada dan adanya utang usaha yang tidak dicatat pada tanggal
neraca.
Lakukan Rekonsiliasi Utang Usaha yang Tidak Dikonfirmasi Ke Pernyataan Piutang Bulanan
yang Diterima oleh Klien dari Kreditur
Utang klien kepada debitur yang tidak dikonfirmasi dapat diverifikasi keberadaanya melalui
rekunsiliasi akun utang kepada kreditur dengan surat pernyataan piutang (account receivable
statement) yang diterima secara bulanan dari kreditur. Dari rekonsiliasi ini, auditor dapat
memperoleh keyakinan bahwa utang usaha yang tercantum dineraca benar-benar ada dan adanya
utang usaha yang tidak dicatat pada tanggal neraca.

Verifikasi Penyajian dan Pengungkapan


Periksa Klasifikasi Utang Usaha Di Neraca
Unsur utang lancar harus disajikan dineraca menurut urutan jatuh temponya. Jika jumlahnya
material, utang usaha harus disajikan dineraca menjadi tiga golongan :
(1) utang usaha kepada kreditur usaha
(2) utang usaha kepada perusahaan afiliasi
(3) utang usaha kepada direksi, pemegang saham utama, manager, dan perusahaan karyawan.

Auditor harus memeriksa saldo debit atau akun usaha dan jika perlu melakukan jurnal
penggolingan kembali. Saldo debit utang usaha juga dapat timbul karena adanya retur pembelian.
Jika jumlahnya material, saldo debit akun utang usaha ini harus dikelompokkan sebagai unsure
aktiva lancar, tidak boleh dikurangkan dari utang usaha. Oleh karena itu, auditor berkewajiban
menggolongkan kembali akun utang usaha yang bersaldo debit besar ke dalam kelompok aktiva
lancar. Utang usaha harus disajikan secara terpisah dari utang nonusaha. Jika klien mempunyai
komitmen yang akan menimbulkan kewajiban dalam periode akuntansi berikutnya, ia harus
mengungkapkan mengenai hal ini dineraca. Utang jangka panjang yang segera jatuh tempo harus
digolongkan ke dalam kelompok utang lancar.

Periksa Pengungkapan yang Bersangkutan Dengan Utang Nonusaha


Jika utang jangka panjang yang segera jatuh tempo dilunasi dengan aktiva tidak lancar
(misalnya dari dana pelunasan utang jangka panjang/ sinking fund), maka jumlah utang ini tetap
disajikan dineraca dalam kelompok utang jangka panjang, bukan utang lancar untuk menghindari
pengaruh signifikan terhadap perhitungan perubahan posisi keuangan (modal kerja).

Periksa Pengungkapan yang Bersangkutan Dengan Utang Usaha


Utang usaha yang dijamin dengan aktiva harus diungkapkan secara memadai di neraca atau
dalam penjelasan laporan keuangan. Begitu pula aktiva yang dijaminkan dalam utang usaha
harus diungkapkan secara memadai. Utang usaha harus selalu dinyatakan dalam jumlah bersih
setelah dikurangi dengan trade discounts. Potongan tunai dapat dikurangkan atau dapat pula
tidak dikurangkan dari utang usaha, tergantung atas prosedur pencatatan utang usaha yang
digunakan oleh klien.
Mintalah Informasi dari Klien Untuk Menemukan Komitmen yang Belum Diungkapkan
dan Utang Bersyarat dan Periksa Penjelasan yang Bersangkutan dengan Utang Tersebut
Sebenarnya kewajiban perusahaan tidak hanya terdiri dari utang yang nyata telah terjadi,
tetapi juga meliputi kewajiban yang secara potensial akan terjadi, yang berupa komitmen dan
utang bersyarat. Pemakai laporan keuangan berkepentingan untuk mengetahui informasi
mengenai komitmen yang telah dibuat oleh klien dan kewajiban bersyarat yang ada pada tanggal
neraca, di samping informasi mengenai utang yang bener-bener telah merupakan kewajiban
perusahaan pada tanggal tersebut. Oleh karena itu, dalam pengujian subtantif terhadap utang
usaha, auditor berkewajiban untuk menentukan ada atau tidaknya komitmen yang tidak
diungkapkan dan utang bersyarat pada tanggal neraca, dan jika ada, apakah klien telah
mengungkapkan secara memadai mengenai utang tersebut.
Utang bersyarat (contigent liabilities) merupakan kewajiban potensial yang mempunyai
kemungkinan akan sungguh-sungguh menjadi utang atau akan dapat diselesaikan tanpa
pengeluaran uang di masa yang akan datang. Utang bersyarat berbeda dengan utang yang belum
dicatat pada tanggal neraca (unrecorded liabilities). Unrecorded liabilities ini pada tanggal neraca
sudah benar-benar merupakan perusahaan, tetapi belum dicatat. Di lain pihak, pada tanggal
neraca utang bersyatar belum merupakan kewajiban. Apakah suatu utang bersyarat akan menjadi
utang atau tidak, sangat tergantung dari kejadian di masa yang akan datang. Setelah tanggal
neraca, utang bersyarat dapat benar-benar menjadi utang, tetapi dapat juga tidak.
Contoh utang bersyarat adalah piutang wesel yang didiskontokan ke bank. Jika klien menjual
wesel tagih ke bank beberapa hari menjelang tanggal neraca, maka pada tanggal neraca klien
mempunyai utang bersyarat. Jika pihak yang mengeluarkan wesel gagal melunasi kewajibannya
pada saat jatuh tempo wesel, maka bank akan menagih nominal wesel tersebut kepada klien.
Dengan demikian, pada tanggal neraca klien mempunyai utang bersyarat, yaitu kewajiban yang
potensial akan menjadi utang, jika pihak yang mengeluarkan wesel tidak dapat melunasi
kewajiban pada saatnya. Contoh lain utang bersyarat adalah : biaya/denda pengadilan, tambahan
pengenaan pajak, klaim dari pembeli, biaya reparasi produk yang dijual dengan garansi.

Utang bersyarat ini harus dicantumkan dineraca dengan salah satu dari tiga cara berikut ini :

utang bersyarat dicantumkan didalam tanda kurung, dalam kelompok kurang lancar.
Jumlah utang bersyarat ini tidak ditambahkab kepada utang lancar yang lain.
utang bersyarat dicantumkan di bawah judul Utang Bersyarat di neraca. Jumlah utang
bersyarat tidak diperhitungkan dalam menjumlah utang lancar.
jika memerlikan penjelasan yang panjang, utang bersyarat disajikan dibagian penjelasan
laporan keuangan (notes to financial statement).
Untuk menentukan macam utang bersyarat dan cukup atau tidaknya penjelasan terhadap utang
tersebut, auditor menempuh cara pemeriksaan berikut ini :

pelajari notulen rapat direksi sampai dengan tanggal penyelesaian pekeraan lapangan.
periksa kontak-kontak pembelian, penjualan, dan kontrak yang lain.
mintalah informasi dari pengacara klien mengenai perkara pengadilan yang melibatkan
klien.
kirimkan konfirmasi ke bank.
pelajari arsip korespondensi klien dengan lembaga keuangan.
Pelajari notulen rapat direksi sampai dengan tanggal penyelesaian pekerjaan lapangan

Notulen rapat yang diselenggarakan oleh direksi akan dapat menunjukkan kontak-kontak penting
yang akan di tanda tangani oleh klien, perkara pengadilan yang melibatkan klien, keputusan-
keputusan yang menyangkut anak perusahaan, yang kesemuanya ini berpotensi akan
menimbulkan utang bersyarat.

Periksa kontrak-kontrak pembelian, penjualan, dan kontrak yang lain


Setipa kontrak yang ditandatangani oleh klien menimbulkan komitmen (kesanggupann,
keterikatan) di pihak klien untuk melakukan suatu di masa yang akan datang seperti yangtertulis
dalam kontrak. Di dalam kontrak pembelian misalnya, klien mempunyai komtmen untuk
melakukan pembelian sediaan di masa yang akan datang sejumah dan pada harga yang telah
disetujui di dalam kontrak. Komitmen lain adalah antara lain kontrak pembangunan pabrik dan
gedung, program pension atau program pembagian laba, kontrak karya jangka panjang dengan
karyawan inti. Semua komitmen yang melibatkan jumlah rupiah yang material perlu dijelaskan
di bagianPenjelasan Laporan Keuangan di bawah judul Utang Bersyarat.

Mintalah informasi dari pengacara klien mengenai perkara pengadian yang melibatkan
klien
Informasi yang diperlukan dari pengacara klien meliputi :

Gambaran perkara pengadilan yang melibatkan klien ditangani oleh pengacara


bersangkutan
Suatu penilaian terhadap kemungkinan keputusan pengadilan yang tidak menguntungkan
klien akibat perkara yang digambarkan tersebut.
Suatu taksiran kerugian yang mungkin diterima oleh klien akibat perkara pengadilan
tersebut atau suatu pernyataan dari pengacara bahwa taksiran kerugian tidak mungkin
dilakukan oeh pengacara.
Suatu pernyataan jumah honorarium pengacara yang belum ditagih

Kirimkan konfirmasi ke bank


Auditor meminta informasi dari bank mengenai kewajiban bersyarat yang menjadi tanggung
jawab klien pada tanggal neraca.

Pelajari arsip korespondensi klien dengan lembaga keuangan


Arsip koresponden klien dengan lembaga keuangan akan memberikan informasi mengenai
persetujuan pemberi jaminan trhadap utang yang ditark oleh perusahaan lain dan penjualan
pitang usaha. Kedua jenis transaksi terebut mempunyai kemungkinan menimbulkan kewajiban
bagi klien, jika perusahaan yang dijamin atau kreditur tidak memenuhi kewajibannya tidak
kepada lembaga keuangan.
Aktiva tetap

Suatu kekayaan perushaan yang memiliki wujud dan memiliki nilai ekonomis lebih dari satu
tahun, yang diperoleh perusahaan untuk melaksanakan kegiatan perusahaan dan tidak untuk
dijual.

Penggolongan aktiva tetap

Tanah, bangunan, peralatan, kendaraan, mebel air dll

Pengujian substantif terhadap aktiva tetap pada pertama kalinya

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam audit terhadap aktiva tetap pada audit
pertama kalinya:

a) Apakah laporan keuangan tahun sebelumnya telah di audit oleh auditor independen lain

b) Apakah klien menyelenggarakan aktiva rinci

c) Apakah klien mengarsipkan dokumen-dokumen yang mendukung transaksi yang bersangkutan


dengan perolehannya dan mutasi aktiva tetap s/d saat diaudit yang pertama dilaksanakan

a. Jika tahun sebelumnya perusahaan sudah di audit oleh kantor akuntan lain, saldo awal aset
tetap bisa dicocokkan dengan laporan akuntan terdahulu dan kertas kerja pemeriksaan akuntan
tersebut.
b. Jika pada sebelumnya perusahaan belum pernah di audit, akuntan publik harus memeriksa
mutasi penambahan dan pengurangan aset tetap sejak awal berdirinya perusahaan, untuk
mengetahui apakah pencatatan yang dilakukan perusahaan untuk penambahan dan pengurangan
aset tetap, serta metode dan perhitungan penyusutan aset tetap dilakukan sesuai dengan standar
akuntansi keuangan di Indonesia (SAK/ETAP/ IFRS). Tentu saja pemeriksaan mutasi tahun-
tahun sebelumnya dilakukan secara test basis dengan mengutamakan jumlah yang material

Audit Atas Aset Tetap

Untuk sebagian besar entitas, aset tetap menunjukkan jumlah yang material dalam laporan
keuangan. Ketika mengaudit klien lama, fokus hanya pada aktivitas tahun berjalan karena aset
yang didapat di tahun-tahun terdahulu telah menjadi subjek dari prosedur audit pada waktu
perolehan.

Pengujian Substantif atas Saldo Aset Tetap

Menurut Alvin. A. Arens (2011; 193), dalam audit peralatan manufaktur dan akun terkait,
pengujian akan dimudahkan jika dipisah menjadi beberapa kategori:

1) Melakukan prosedur analitis

Jenis prosedur analitis bergantung pada sifat pelaksanaan bisnis klien. Tabel dibawah ini
mengilustrasikan prosedur analitis yang biasa dilakukan untuk peralatan manufaktur.
2) Melakukan verifikasi akuisisi tahun berjalan

Perusahaan harus mencatat penambahan pembelian aset tahun berjalan dengan benar karena aset
tetap memiliki dampak jangka panjang pada laporan keuangan. Kesalahan dalam mengapitalisasi
aset atau mencatat akuisisi dengan jumlah yang tidak benar akan berdampak pada neraca
hingga perusahaan menghentikan penggunaan aset tersebut.

Auditor menggunakan tujuh dari delapan tujuan audit-terkait saldo sebagai kerangka dan
referensi atas pengujian perincian saldo, yaitu : keberadaan, kelengkapan, akurasi, klasifikasi,
pisah batas, kecocokan perincian, dan hak dan kewajiban. Keberadaan, kelengkapan, akurasi,
dan klasifikasi biasanya merupakan tujuan utama dari audit ini.

Pengujian audit aktual dan jumlah sampel sangat bergantung pada salah saji yang dapat diterima,
resiko bawaan, dan penilaian risiko pengendalian. Salah saji yang dapat diterima merupakan hal
penting untuk melakukan verifikasi atas penambahan aset tahun berjalan karena transaksi ini
bervariasi dari jumlah yang tidak material dalam beberapa tahun sampai jumlah yang sangat
besar untuk akuisisi lainnya.

Dalam pengujian penambahan aset, auditor harus memahami GAAP untuk memastikan
bahwa klien memenuhi persyaratan standar akuntansi. Auditor juga perlu mengetahui
kebijakan kapitalisasi yang diterapkan klien untuk menentukan apakah akuisisi sudah
diterapkan secara konsisten dengan tahun sebelumnya. Auditor juga perlu melakukan
verifikasi atas klasifikasi catatan transaksi. Klien biasanya memasukkan transaksi yang
seharusnya dicatat sebagai aset ke dalam beban perbaikan dan pemeliharaan, beban sewa guna
usaha, persediaan, alat-alat kecil, dan akun sejenis. Salah saji dapat disebabkan karena kurangnya
pemahaman atas GAAP atau keinginan klien untuk menghindari pajak penghasilan. Jika auditor
menyimpulkan bahwa kemungkinan terjadinya salah saji ini besar, maka mereka perlu
mengambil sampel dengan nilai nominal lebih besar.

3) Melakukan verifikasi penghentian aset tahun berjalan

Transaksi yang mencakup penghentian peralatan manufaktur biasanya mengalami salah saji bila
pengendalian internal perusahaan lemah dalam menjalankan metode formal untuk
menginformasikan manajemen untuk transaksi penjualan, tukar-tambah, pembatalan, atau
pencurian mesin dan peralatan. Jika klien tidak mencatat penghentian aset, maka harga perolehan
dari peralatan tersebut tentunya akan lebih saji sampai tak terhingga, dan nilai buku bersih akan
lebih saji hingga aset benar-benar habis didepresiasi. Metode formal untuk menelusuri
penghentian aset dan provisi atas otorisasi penjualan atau metode penghentian aset lainnya
dapat mengurangi resiko salah saji. Selain itu, perlu ada verifikasi internal yang memadai dalam
pencatatan penghentian aset tetap untuk memastikan bahwa aset benar-benar telah
dihapusbukukan dari pencatatan akuntansi.

Tujuan utama auditor dalam verifikasi penjualan, tukar- tambah, atau penghentian aset
tetap adalah mendapatkan bukti memadai bahwa seluruh penghentian dicatat dalam jumlah yang
benar. Dimulai dari verifikasi penghentian, yaitu dengan memeriksa skedul klien atas pencatatan
penghentian. Skedul ini memasukkan tanggal penghentian penggunaan aset, nama orang atau
perusahaan yang membeli aset tersebut, harga penjualan, harga perolehan, tanggal akuisisi,
dan akumulasi depresiasi.

Prosedur berikut ini biasa digunakan dalam melakukan verifikasi penghentian :

a. Menelaah apakah terdapat akuisisi aset baru yang menggantikan aset lama

b. Menganalisis laba dan rugi penghentian aset dan pendapatan lain-lain sebagai penerimaan kas
dari penghentian aset

c. Menelaah modifikasi pabrik dan perubahan dalam lini produk, pajak properti, atau asuransi
yang merupakan indikasi penghapusan aset.

d. Melakukan tanya jawab dengan manajemen dan personel bagian produksi tentang
kemungkinan penghentian aset.

4) Melakukan verifikasi saldo akhir pada akun aset

Terdapat dua tujuan auditor saat melakukan audit peralatan manufaktur, yaitu menentukan
bahwa:

a. Seluruh perlengkapan yang dicatat secara fisik ada pada tanggal neraca (keberadaan)

b. Seluruh perlengkapan yang dimiliki sudah dicatat (kelengkapan) Auditor pertama kali harur
mempertimbangkan sifat
pengendalian internal atas peralatan manufaktur. Idealnya, auditor dapat menentukan apakah
pengendalian cukup memadai agar mereka dapat mengandalkan saldo yang tercatat dari tahun
sebelumnya.

Langkah audit yang pertama berfokus pada tujuan kecocokan perincian: peralatan manufaktur,
sebagaimana terdapat dalam berkas utama, telah sesuai dengan buku besar. Pemeriksaan juga
dilakukan terhadap hasil cetak berkas utama yang menunjukkan total saldo buku besar.
Auditor dapat memilih menggunakan peranti lunak audit untuk menjumlahkan berkas utama
versi elektronik ataupun menjumlahkan beberapa halaman secara manual. Setelah menilai resiko
pengendalian untuk tujuan keberadaan, auditor memutuskan apakah perlu melakukan
verifikasi keberadaan masing-masing bagian peralatan manufaktur dalam berkas utama.

Penyajian dan pengungkapan yang memadai untuk peralatan manufaktur dalam laporan
keuangan harus di evaluasi dengan hati- hati untuk memastikan apakah sudah mengikuti GAAP.
Peralatan manufaktur harus memasukkan biaya kotor dan harus dipisahkan dari aset tetap
lainnya. Aset sewa guna usaha harus diungkapkan secara terpisah, dan pihak yang memiliki aset
harus dicantumkan dalam penjelasan tambahan (footnote disclosure). Auditor harus melakukan
pengujian memadai untuk melakukan verifikasi terhadap keseluruhan empat tujuan penyajian
dan pengungkapan.

5) Melakukan verifikasi beban depresiasi

Beban depresiasi adalah satu dari sedikit akun beban yang tidak diverifikasi sebagai bagian
dari pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi. Jumlah tercatat ditentukan
dari alokasi internal, bukan dari transaksi pertukaran dengan pihak luar. Tujuan audit-terkait
saldo yang paling penting untuk beban depresiasi adalah akurasi. Auditor berfokus pada
penentuan apakah klien telah mengikuti kebijakan depresiasi yang konsisten dari periode ke
periode, dan apakah perhitungan klien sudah benar.

Dalam menentukan hal tersebut, auditor harus mempertimbangkan empat hal, yaitu:

a. Umur ekonomis untuk akuisisi di masa sekarang

b. Metode depresiasi

c. Estimasi nilai sisa


d. Kebijakan mendepresiasi aset selama tahun akuisisi dan penghentian

Dalam menentukan kewajaran umur ekonomis aset yang baru diakuisisi, auditor harus
mempertimbangkan umur fisik aset, umur ekonomis yang diharapkan (ditetapkan dengan
tingkat keusangan aset atau kebijakan normal perusahaan dalam penggantian aset) dan kebijakan
yang diterapkan perusahaan dalam tukar-tambah peralatan.

Metode yang berguna untuk mengaudit depresiasi adalah pengujian prosedur analitis atas
kewajaran yang dibuat dengan mengalikan aset tetap yang kurang didepresiasi dengan tingkat
depresiasi untuk tahun tersebut. Dalam melakukan penghitungan tersebut, auditor harus
membuat penyesuaian untuk penambahan dan penghentian di tahun berjalan, aset dengan umur
ekonomis yang berbeda, dan aset dengan metode depresiasi yang berbeda. Jika perhitungan
mendekati total yang dibuat klien dan jika penilaian resiko pengendalian atas beban depresiasi
rendah, maka pengujian perincian depresiasi dapat dihapuskan.

6) Melakukan verifikasi saldo akhir dalam akumulasi depresiasi

Debet atas akumulasi depresiasi secara normal diuji sebagai bagian dari audit penghentian aset
dan kreditnya diverifikasi sebagai bagian dari beban depresiasi. Jika auditor menelusuri transaksi
tertentu ke catatan akumulasi depresiasi dalam berkas utama aset sebagai bagian dari pengujian
ini, maka perlu dilakukan pengujian tambahan atas saldo akhir akumulasi depresiasi.

Dua tujuan yang biasanya ditekankan dalam audit saldo akhir dalam akumulasi depresiasi
adalah:

a. Akumulasi depresiasi yang dinyatakan dalam berkas utama aset sesuai dengan dalam buku
besar.

Tujuan ini dapat dipenuhi dengan pengujian penjumlahan akumulasi depresiasi dalam berkas
utama aset dan menelusuri totalnya ke buku besar.

b. Akumulasi depresiasi dalam berkas utama adalah akurat

Dalam beberapa kasus, umur peralatan manufaktur dapat dikurangi secara signifikan karena
pengurangan permintaan pelanggan terhadap produk, penurunan fisik yang tidak diharapkan,
modifikasi operasi, atau perubahan lainnya. Oleh karena kemungkinan ini, maka auditor harus
mengevaluasi kecukupan cadangan akumulasi depresiasi setiap tahun untuk memastikan
bahwa nilai buku bersih tidak melebihi nilai realisasi aset.

Prosedur Pemeriksaan Aset Tetap

Di banyak perusahaan, terutama perusahaan industri, aset tetap merupakan jumlah yang sangat
besar dari total aset perusahaan. Namun demikian waktu yang digunakan oleh akuntan publik
untuk memeriksa aset tetap biasanya lebih sedikit dibandingkan waktu yang digunakan untuk
memeriksa perkiraan lainnya seperti piutang, persediaan, dan lain-lain. Beberapa penyebabnya
antara lain:

a. Harga perolehan per unit dari aset tetap biasanya relatif besar dan jumlah transaksinya
dalam setahun biasanya sedikit.

b. Mutasi aset tetap (penambahan dan pengurangan) biasanya jauh lebih sedikit di bandingkan
mutasi piutang dan persediaan

c. Dalam memeriksa aset tetap, prosedur cut-off bukan merupakan hal yang penting seperti
pemeriksaan atas cut-off transactions dalam pemeriksaan pembelian dan penjualan persediaan.

Prosedur audit yang akan disebutkan berikut ini berlaku untuk repeat engangements (penugasan
berulang) sehingga dititikberatkan pada pemeriksaan transaksi tahun berjalan (periode yang
diperiksa). Untuk audit pertama kali bisa dibedakan sebagai berikut:

Prosedur audit atas aset tetap menurut Sukrisno Agoes (2012: 273) adalah sebagai berikut:

1. Mempelajari dan evaluasi internal control atas aset tetap

2. Minta kepada klien Top Schedule serta Supporting Schedule aset tetap, yang berisikan: Saldo
awal, penambahan serta pengurangan- pengurangannya dan saldo akhir, baik untuk harga
perolehan maupun akumulasi penyusutannya.

3. Periksa footing dan cross footingnya dan cocokkan totalnya dengan General Ledger atau
Sub-Ledger, saldo awal dengan working paper tahun lalu.

4. Vouch penambahan serta pengurangan dari aset tetap tersebut. Untuk penambahan kita lihat
approvalnya dan kelengkapan supporting documentnya. Untuk pengurangan kita lihat
otorisasinya dan jurnalnya apakah sudah dicatat dengan betul, misalnya bila ada keuntungan atau
kerugian atas penjualan aset tetap tersebut. Selain itu periksa juga penerimaan hasil penjualan
aset tetap tersebut.

5. Periksa fisik dari aset tetap tersebut (dengan cara test basis) dan periksa kondisi dan
nomor kode dari aset tetap

6. Periksa bukti pemilikan aset tetap. Untuk tanah, gedung, periksa sertifikat tanah dan IMB
(Izin Mendirikan Bangunan) serta SPIB (Surat Izin Penempatan Bangunan). Untuk mobil,
motor, periksa BPKB, STNK-nya.

7. Pelajari dan periksa apakah Capitalization Policy dan Depreciation Policy yang dijalankan
konsisten dengan tahun sebelumnya.

8. Buat analisis tentang perkiraan Repair & Maintenance sehingga kita dapat mengetahui
apakah ada pengeluaran yang seharussnya masuk dalam kelompok Capital Expenditures tetapi
dicatat sebagai Revenue Expenditures.

9. Periksa apakah aset tetap tersebut sudah diasuransikan dan apakah Insurance Coveragenya
cukup atau tidak

10. Tes perhitungan penyusutan, cross reference angka penyusutan dengan biaya
penyusutan diperkirakan laba rugi dan periksa alokasi/distribusi biaya penyusutan.

11. Periksa notulen rapat, perjanjian kredit, jawaban konfirmasi dari bank.

Untuk memeriksa apakah ada aset tetap yang dijadikan sebagai jaminan atau tidak. Bila ada,
maka hal ini perlu diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

12. Periksa apakah ada Commitment yang dibuat oleh perusahaan untuk membeli atau menjual
aset tetap.
13. Untuk Construction in Progress, kita periksa penambahannya dan apakah ada
Construction in Progress yang harus di transfer ke aset tetap

14. Jika ada aset tetap yang diperoleh melalui leasing periksa lease agreement dan periksa
apakah accounting treatmentnya sudah sesuai dengan standar akuntansi leasing.

15. Periksa atau tanyakan apakah ada aset tetap yang dijadikan agunan kredit di bank

16. Periksa penyajiannya dalam laporan keuangan, apakah sesuai dengan standar akuntansi
keuangan di Indonesia (SAK/ETAP/IFRS).
DAFTAR PUSTAKA

Messier, William F. Stefen M. Glover. Douglas F. Prawitt. 2014. Jasa Audit dan Assurance
Pendekatan Sistematis Edisi 8 Buku 1. Jakarta: Salemba Empat

Mulyadi.2008. Auditing Buku 2 Edisi 6. Jakarta: Salemba Empat

Anda mungkin juga menyukai