Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam bidang geriatri, masalah etika (termasuk hukum) sangat penting

artinya, bahkan diantara berbagai cabang kedokteran mungkin pada cabang

inilah etika dan hukum paling berperan.


Bebagai hal yang sangat perlu diperhatikan adalah, antara lain,

keputusan tentang mati hidup penderita. Apakah pengobatan diteruskan atau

dihentikan. Apakah perlu tindakan resusitasi. Apakah makanan tambahan per

infuse tetap diberikan pada penderita kondisi yang sudah jelas akan

meninggal? Dalam geriatric aspek etika ini erat dengan aspek hukum,

sehingga pembicaraan mengenai kedua aspek ini sering disatukan dalam satu

pembicaraan. Aspek hukum penderita dengan kemampuan kognitif yang

sudah sangat rendah seperti pada penderita dementia sangat erat kaitannya

dengan segi etik. Antara lain berbagai hal mengenai pengurusan harta benda

penderita lansia yang tidak mempunyai anak dan lain sebagainya.


Hukum tentang Lanjut Usia dan penerapannya disuatu negara

merupakan gambaran sampai berapa jauh perhatian negara terhadap para

Lanjut Usianya. Baru sejak tahun 1965 di indonesia diletakkan landasan

hukum, yaitu Undang-Undang nomor 4 tahun 1965 tentang Bantuan bagi

Orang Jompo.
Selanjutnya Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang

Kesejahteraan Lanjut Usia (Tambahan lembaran Negara nomor 3796),

sebagai pengganti undang-Undang nomor 4 tahun 1965 tentang Pemberian

1
bantuan bagi Orang jompo. Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 ini

berisikan antara lain :


1) Hak, kewajiban, tugas dan tanggung jawab pemerintah, masyarakat dan

kelembagaan.
2) Upaya pemberdayaan.
3) Uaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia potensial dan tidak

potensial.
4) Pelayanan terhadap Lanjut Usia.
5) Perlindungan sosial.
6) Bantuan sosial.
7) Koordinasi.
8) Ketentuan pidana dan sanksi administrasi.
9) Ketentuan peralihan.
Permasalahan yang masih terdapat pada Lanjut Usia, bila ditinjau dari

aspek hukum dan etika, dapat disebabkan oleh faktor, seperti belum semua

produk hukum dan perundang-undangan mempunyai Peraturan Pelaksanaan,

Prasarana pelayanan terhadap Lanjut Usia yang terbatas, dan Terbatasntya

kuantitas dan kualitas tenaga yang dapat memberi pelayanan serta perawatan

kepada Lanjut Usia, serta hubungan lanjut usia dengan keluarga yang buruk.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas penulis membahas tentang hukum dan etika

pada lanjut usia serta permasalahan-permasalahan terkait hukum dan etika

tersebut.

1.3 Tujuan Penulisan


Untuk mengetahui hukum dan etika pada lansia serta permasalahan-

permasalahan terkait hukum dan etika tersebut.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Lanjut Usia


A. Pengertian Lanjut Usia (Lansia)
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur

kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No.

13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah

seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk,

2008).
Berdasarkan defenisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia

(lansia) apabila usianya 65 tahun ke atas. Lansia bukan suatu penyakit,

namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai

3
dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres

lingkungan. Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan

seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres

fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan

untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara individual (Efendi, 2009).


Penetapan usia 65 tahun ke atas sebagai awal masa lanjut usia

(lansia) dimulai pada abad ke-19 di negara Jerman. Usia 65 tahun

merupakan batas minimal untuk kategori lansia. Namun, banyak lansia

yang masih menganggap dirinya berada pada masa usia pertengahan. Usia

kronologis biasanya tidak memiliki banyak keterkaitan dengan kenyataan

penuaan lansia. Setiap orang menua dengan cara yang berbeda-beda,

berdasarkan waktu dan riwayat hidupnya. Setiap lansia adalah unik, oleh

karena itu perawat harus memberikan pendekatan yang berbeda antara

satu lansia dengan lansia lainnya (Potter & Perry, 2009).


Menurut pendapat berbagai ahli dalam Efendi (2009) batasan-

batasan umur yang mencakup batasan umur lansia adalah sebagai berikut:
1) Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 dalam Bab 1 Pasal 1

ayat 2 yang berbunyi Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai

usia 60 (enam puluh) tahun ke atas.


2) Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi

menjadi empat kriteria berikut : usia pertengahan (middle age) ialah

45-59 tahun, lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun, lanjut usia tua

(old) ialah 75-90 tahun, usia sangat tua (very old) ialah di atas 90

tahun.
3) Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolog UI) terdapat empat fase yaitu :

pertama (fase inventus) ialah 25-40 tahun, kedua (fase virilities) ialah

4
40-55 tahun, ketiga (fase presenium) ialah 55-65 tahun, keempat (fase

senium) ialah 65 hingga tutup usia.


4) Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro masa lanjut usia

(geriatric age): > 65 tahun atau 70 tahun. Masa lanjut usia (getiatric

age) itu sendiri dibagi menjadi tiga batasan umur, yaitu young old (70-

75 tahun), old (75-80 tahun), dan very old ( > 80 tahun) (Efendi,

2009).

2.2 Landasan Hukum di Indonesia


Berbagai produk hukum dan perundang-undangan yang langsung

mengenai Lanjut Usia atau yang tidak langsung terkait dengan

kesejahteraan Lanjut Usia telah diterbitkan sejak 1965. beberapa di

antaranya adalah :
1) Undang-undang nomor 4 tahun 1965 tentang Pemberian bantuan

bagi Orang Jompo (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun

1965 nomor 32 dan tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia nomor 2747).


2) Undang-undang Nomor 14 tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok

Mengenai Tenaga Kerja.


3) Undang-undang Nomor 6 tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan

Pokok Kesejahteraan Sosial.


4) Undang-undang Nomor 7 tahun 1984 tentang Pengesahan

Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi

Terhadap Wanita.
5) Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan

nasional.
6) Undang-undang Nomor 2 tahun 1982 tentang Usaha Perasuransian.

5
7) Undang-undang Nomor 3 tahun 1982 tentang Jaminan Sosial

Tenaga Kerja.
8) Undang-undang Nomor 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan

Pemukiman.
9) Undang-undang Nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan

Kependudukan dan Pembangunan keluarga Sejahtera.


10) Undang-undang Nomor 11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun.
11) Undang-undang Nomor 23 tentang Kesehatan.
12) Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 1994 tentang

Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera.


13) Peraturan Pemerintah Nomor 27 ahun 1994 tentang Pengelolaan

Perkembangan Kependudukan.
14) Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan

Lanjut Usia (Tambahan lembaran Negara nomor 3796), sebagai

pengganti undang-Undang nomor 4 tahun 1965 tentang Pemberian

bantuan bagi Orang jompo.

Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 ini berisikan antara lain :


a. Hak, kewajiban, tugas dan tanggung jawab pemerintah, masyarakat

dan kelembagaan.

b. Upaya pemberdayaan.

c. Uaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia potensial dan

tidak potensial.

d. Pelayanan terhadap Lanjut Usia.

e. Perlindungan sosial.

f. Bantuan sosial.

g. Koordinasi.

h. Ketentuan pidana dan sanksi administrasi.

6
i. Ketentuan peralihan.

2.3 Permasalahan Hukum dan Etika Pada Lansia


Permasalahan yang masih terdapat pada Lanjut Usia, bila ditinjau

dari aspek hukum dan etika, dapat disebabkan oleh faktor, seperti berikut :

1. Produk Hukum

Walaupun telah diterbitkan dalam jumlah banyak, belum semua

produk hukum dan perundang-undangan mempunyai Peraturan

Pelaksanaan. Begitu pula, belum diterbirkan Peraturan Daerah,

Petunjuk Pelaksanaan serta Petunjuk Teknisnya, sehingga

penerapannya di lapangan sering menimbulkan permasalahan.

Undang-undang terakhir yang diterbitkan yaitu Undang-undang

Nomor 13 tahun 1998, baru mengatur kesejahteraan sosial Lanjut Usia,

sehingga perlu dipertimbangkan diterbitkannya undang-undang

lainnya yang dapat mengatasi permasalahan Lanjut Usia secara

spesifik.

2. Keterbatasan prasarana

Prasarana pelayanan terhadap Lanjut Usia yang terbatas di

tingkat masyarakat, pelayanan tingkat dasar, pelayanan rujuikan

tingkat I dan tingkat II, sering menimbulkanpermasalahan bagi para

Lanjut Usia. Demikian pula, lembaga sosial masyarakat dan

ortganisasi sosial dan kemsyarakatan lainnya yang menaruh minat

pada permasalahan ini terbatas jumlahnya. Hal ini mengakibatkan para

Lanjut Usia tak dapat diberi pelayanan sedini mungkin, sehingga

persoalanya menjadi berat pada saat diberikan pelayanan.

7
3. Keterbatasan Sumber Daya Manusia

Terbatasntya kuantitas dan kualitas tenaga yang dapat memberi

pelayanan serta perawatan kepada Lanjut Usia secara bermutu dan

berkelanjutan mengakibatkan keterlambatan dalam mengetahui tanda-

tanda dini adanya suatu permasalahan hukum dan etika yang sedang

terjadi. Dengan demikian, upaya mengatasinya secara benar oleh

tenaga yang berkompeten sering dilakukan terlambat dan

permasalahan sudah berlarut. Tenaga yang dimaksud berasal dari

berbagai disiplin ilmu, antara lain :

a. Tenaga ahli gerontology

b. Tenaga kesehatan : dokter spesalis geriatric, psikogeriatri,

neurogeriatri, dokter spesialis dan dokter umum terlatih,

fisioterapis, speech therapist, perawat terlatih.

c. Tebaga sosisal : sosiolog, petuga syang mengorganisasi kegiatan

(case managers), petugas sosial masyarakat, konselor.

d. Ahli hukum: sarjana hokum terlatih dalam gerontology, pengacara

terlatih, jaksa penunutut umum, hakim terlatih.

e. Ahli psikolog : psikolog terlatih dalam gerontology, konselor.

f. Tenaga relawan : kelompok masyarakat terlatih seperti sarjana,

mahasiswa, pramuka, pemuda, ibu rumah tangga, pengurus

lembaga ketahanan masyarakat desa, Rukun Warga/RW, Rukun

Tetangga/RT terlatih.

g.

8
4. Hubungan Lanjut Usia dengan Keluarga

Menurut Mary Ann Christ, et al. (1993), berbagai isu hukum dan

etika yang sering terjadi pada hubungan Lanjut Usia dengan

keluarganya adalah :

1) Pelecehan dan ditentarkan (abuse and neglect)


2) Tindak kejahatan (crime)
3) Pelayanan perlindungan (protective services)
4) Persetujuan tertulis (informed consent)
5) Kualitas kehidupan dan isu etika (quality of life and related

ethical issues)
2.4 Aspek Etika Dalam Pelayanan Lansia
Beberapa prinsip etika yang harus dijalankan dalam pelayanan pada

penderita lanjut usia antara lain :


1) Empati
Di dalam istilah ini diharapkan upaya pelayanan geriatric harus

memandang seorang lansia yang sakit dengan pengertian, kasih

sayang dan memahami rasa penderitaan yang dialami olehpenderita

tersebut. Tindakan empati harus dilaksanakan dengan wajar, tidak

berlebihan, sehingga tidak member kesan over protective dan belas

kasihan.

2) Yang harus dan yang jangan


Pelayanan geriatric selalu didasarkan pada keharusan untuk

mengerjakan yang baik untuk penderita dan harus menghindari

tindakan yang menambah penderitaan (harm) bagi penderita.


3) Otonomi
Yaitu suatu prinsip bahwa seorang individu mempunyai hak untuk

menentukan nasibnya, dan mengemukakan keinginannya sendiri.


4) Keadilan

9
Yaitu suatu prinsip pelayanan geriatric harus memberikan perlakukan

yang sama bagi semua penderita. Kewajiban untuk memperlakukan

seorang penderita secara wajar dan tidak mengadakan perbedaan atas

dasar karakteristik yang tidak relevan.


5) Kesungguhan hati
Yaitu suatu prinsip untuk selalu memenuhi semua janji yang

diberikan pada seorang penderita


2.5 Upaya Pencegahan Permasalahan Pada Lansia
1) Pelecehan dan ditentarkan (abuse and neglect)
Pelecehan dan ditelantarkan merupakan keadaan atau tindakan

yang menempatkan seseorang dalam situasi kacau, baik mencakup status

kesehatan, pelayanan kesehatan, pribadi, hak memutuskan, kepemilikan

maupun pendapatannya. Pelaku pelecehan dapat dari pasangan hidup,

anak lelaki atau perempuan bila pasangan hidupnya telah meninggal dunia

atau orang lain. Pelecehan atau ditelantarkan dapat berlangsung lama atau

dapat terjadi reaksi akut, bila suasana sudah tidak tertanggungkan lagi.
Penyebab pelecehan menurut International Institute on Agening

(INIA, United Ntions-Malta, 1996) adalah :

Beban orang yang merawat Lanjut usia tersebut sudah

terlalu berat.

Kelainan kepribadian dan perilaku Lanjut usia atau

keluarganya.

Lanjut Usia yang diasingkan oleh keluarganya.

Penyalahgunaan narkotika, alkohol dan zat adiktif

lainnya.

Faktor lainnya yang terdapat di keluarga seperti :

10
Perlakuan salah terhadap Lanjut Usia.

Ketidaksiapan dari orang yang akan merawat Lanjut

Usia.

Konflik lama di antara Lanjut Usia dengan

keluarganya.

Perilaku psikopat dari Lanjut Usia dan atau

keluarganya.

Tidak adannya dukungan masyarakat.

Keluarga mengalami kehilangan

pekerjaan/pemutusan hubungan kerja.

Adanya riwayat kekerasan dalam keluarga.

Gejala yang terlihat pada pelecehan atau ditelantarkan antara lain :

Gejala fisik berupa memar, patah tulang

yang tidak jelas sebabnya, higiena jelek, malnutrisi dan adanya

bukti melakukan pengobatan yang tidak benar.

Kelainan perilaku berupa rasa ketakutan

yang berlebihan menjadi penurut atau tergantung, menyalahkan

diri, menolak bila akan disentuh orang yang melecehkan,

memperlihatkan tanda bahwa miliknya akan diambil orang lain

dan adanya kekurangan biaya transpor, biaya berobat atau biaya

memperbaikik rumahnya.

Adanya gejala psikis seperti stres, cara

mengatasi suatu persoalan secara tidak benar serta cara

11
mengungkapkan rasa salah atau penyesalan yang tidak sesuai,

baik dari Lanjut Usia itu sendiri maupun orang yang

melecehkan.

Jenis pelecehan dan ditelantarkan adalah :

Pelecehan fisik atau menelantarkan

fisik.

Pelecehan psikis atau melalui tutur

kata.

Pelanggaran hak.

Pengusiran.

Pelecehan di bidang materi atau

keuangan.

Pelecehan seksual.

Upaya pencegahan terhadap terjadinya kelantaran pasif (passive neglect)

dan keterlantaran aktif (active neglect) pada lanjut Usia dapat dekelompokan

sebagai berikut :

Terhadap keterlantaran pasif atau tak disengaja:

Mendapatkan orang yang dipercaya untuk melakukan tindakan hukum

atau melakukan transaksi keuangan.

Mengusahakan bantuan hukum dari seorang pengacara.

Terhadap keterlantaran aktif atau tindak pelecehan:

Mengusahakan agar Lanjut Usia tidak terisolir.

12
Anggota keluarga tetap dekat dan memperhatikan Lanjut Usia selalu

mendapatkan informasi baik tentang keadaan fisi, emosi, maupiun

keadaan keuangan Lanjut Usia tersebut.

Orang yang merawat lanjut Usia menyadari keterbatasannya tidak

ragu-ragu mencari pertolongan atau melimpahkan tanggung jawaabnya

kepada fasilitas yang lebih mampu, manakala mereka tidak sanggup

lagi merawatnya.

Masyarakat mengemban sistem pengamatan terhadap tindak pelecehan

kepada Lanjut Usia (neighbourhood watch).

Melaksanakan program pelatihan tentang perawatan Lanjut Usia

jompo di rumah, pengenalan tanda-tanda terjadinya tidak pelecehan,

pemberian bantuan kepada Lanjut Usia, cara melakukan intervensi dan

melakukan rujuakn kepada fasilitas yang lebih mampu.

Tindak intervensi bila telah terjadi tindak pelecehan terhadap Lanjut Usia

adalah sebagai berikut :

Memberikan dukungan kepada korban pelecehan.

Lanjut Usia di rumah dan panti Tresna Wredha berhak menolak tindakan

intervensi tertentu.

Melatih keluarga untuk melaksanakan tindakan pelayanan tertentu.

Memberikan pertolongan dan pengobatan kepada orang yang melecehakan

Lanjut Usia tersebut.

Mengajukan tuntutan hukum kepada orang yagn melecehakan Lanjut Usia

tersebut.

13
2) Tindak kejahatan (crime)
Lanjut usia pada umumnya lebih takut terhadap tindak kejahatan

bila dibandingakan dengan ketakutan terhadap penyalit dan pendapatan

yang berkurang. Kerugian yang diderita oleh mereka tidak melebihi

penderitaan yang dialami oleh kaum muda. Hanya akibat yang

ditimbulkan pada Lanjut Usia lebih parah, berupa rasa ketakutan,

kesepian, merasa terisolasi dan tidak berdaya.


Faktor yang mempengaruhi tindak kejahatan berupa factor fisik,

keuangan dan kedaan lingkungan di sekitar Lanjut Usia tersebut.

Jenis tindak kejahatan adalah:

Penodongan.

Pencurian dan perampokan.

Penjambretan.

Perkosaan.

Penipuan dalam pengobatan penyakit.

Penipuan oleh orang tak dapat dipercaya, pemborong,

sales, dll.

3) Pelayanan perlindungan (protective services)


Pelayanan perlindungan adalah pelayanan yang dibeikan kepada

para Lanjut Usia yang tidak mempu melindungi dirinya terhadap kerugian

yang terjadi akibat mereka tidak dapat merawat diri mereka sendiri atau

dalam melakukan kiegiatan sehari-hari.

14
Pelayanan perlindungan bertujuan memberikan perlindungan

kepada para Lanjut Usia, agar kerugian yang terjadi ditekan seminimal

mungkin. Pelayanan yang diberikan akan menimbulkan keseimbangan di

antara kebebasan dan keamanan.


Jenis pelayanan yang diberikan dapat berupa pelayanan medik,

sosial atau hukum.

Pelayanan medik:

pelayanan perorangan.

Pelayanan gawat darurat.

Pelayanan berupadukungan guna me-

ningkatkan ADL (activities of daily life).

Pelayanan Sosial:

dukungan sosial.

Bantuan perumahan.

Bantuan keuangan/sembako.

Pelayanan hokum:

bantuan pengacara (power of attorney).

Joint tenancy.

Intervivos trust.

Penunjukan (conservatorship).

Perlindungan (informal guardianship).

4) Perlindungan hukum

15
Perlindungan hukum uang dapat diberikan kepada Lanjut Usia

dapat berupa:

Bantuan pengacara (power of attorney).

Lanjut Usia harus cukup kompeten untuk mengambil inisitif dalam

menyerahkan urusannya kepada orang lain.

Joint Tenancy.

Joint tenancy merupakan suatu produk hukum yang memungkinkan

Lanjut Usia lain atau seorang pengacara untuk mengurus urusan

seorang Lanjut Usia.

Intervivos trust.

Pada keadaan ini seorang lanjut usia menunjuk orang lain sebagai

pewaris.

Conservatorship.

Perorangan atau sebuah badan ditunjuk oleh pengadilan untuk

melindungi ha milik seorang lanjut usia yang telah dianggap ta

sanggup atau inkompeten, pada umumnya bila lanjut usia tersebut

berusia lebih dari 75 tahun. Permohonan suatu Conservatorship

biasanya diajukan oleh keluarga atau instansi. Dengan adanya

Conservatorship ini, seorang lanjut usia tak lagi dapat bersuara dan

megurus keuangannya serta menentukan tempat tinggalnya atau

mengambil suatu keputusan penting lainnya.

Informal guardianship.

16
Pengaturan jenis ini berdasakan suatu hokum, akan tetapi meruakan

suatu kesepakatan bahwa pelindung bagi lanjut usia tersebut adalah

tetangganya, panti atau suatu perusahaan.

5) Persetujuan tertulis (Informed consent).


Persetujuan tertulis merupakan suatu persetujuan yang diberikan

sebelum prosedur atau pengobatan diberikan kepada seorang lanjut usia

atau penghuni panti. Syarat yang diperlukan bila seorang lanjut usia

memberikan persetujuan ialah ia masih kompeten dan telah mendapatkan

informasi tentang manfaat dan risiko dari suatu prosedur atau pengobatan

tertentu yang diberikan kepadanya. Bila seoang lanjut usia inkompeten,

persetujuan diberikan oleh pelindung atau seorang lalui.


6) Kualitas kehidupan dan isu etika (quality of life and related ethical issue).
Berbagai faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang

yang mempengaruhi kualitas kehidupan lanjut usia adalah:

Kemajuan ilmu kedoktean di bidang diagnostic seperti CT-scan dan

katerisasi jantung, MRI, dsb.

Kemajuan dibidang pengobatan seperti transplatasi organ, raidasi.

Bertambahnya risiko pengobatan.

Biaya pengobatan yang meningkat.

Manfaat pengobatan yang masih diragukan.

Database yang diperlukan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Isu etika muncul bila terjadi suatu pertentangan antara pendapat

ilmiah atau ilmu kedokteran dengan pandangan etika atau

perikemanusiaan, misalnya :

17
Untukm mengawali atau melanjutkan pengobatan terhadap lanjut

usia yang sakit berat.

Mempertahankan atau melepaskan infuse atau tube feeding.

Melakukan tindakan yang biayanya mahal.

BAB IV
KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan

18
Mutu pelayanan kesehatan adalah menunjuk pada tingkat

kesempurnaan pelayanan kesehatan dalam menimbulkan rasa, puas pada diri

setiap pasien, makin sempurna kepuasan tersebut makin baik pula mutu

pelayanan kesehatan. Dalam hal yang berhubungan dengan kesehatan

reproduksi, mutu pelayanan kesehatan yang dimaksud juga terkait dengan

tingkat kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan.


Beberapa masalah yang menyangkut kurangnya keberhasilan mutu

pelayanan kesehatan reproduksi diantaranya yaitu fasilitas kesehatan yang

kurang memadai, kondisi budaya di masyarakat, dan juga perilaku para

tenaga kesehatan yang tidak mempertimbangkan komunikasi dan interaksi

social dengan masyarakat.

Untuk pelaksanaan penyelesaian masalah mutu pelayanan kesehatan

lazimnya diterapkan siklus PDCA. PDCA merupakan singkatan dari bahasa

Inggris yaitu "Plan, Do, Check, Act" atau jika dikatakan dalam bahasa

Indonesia, Rencanakan, Kerjakan, Cek, Tindak Lanjuti, ini merupakan suatu

proses pemecahan masalah dengan empat langkah iteratif yang umum

digunakan dalam pengendalian kualitas. PDCA atau disebut juga Filosofi

Deming, yang merupakan manajemen perbaikan mutu secara

berkesinambungan yang menekankan pada keuntungan jangka pendek.

Dalam menyelesaikan masalah mutu pelayanan kesehatan tersebut

hendaknya dibutuhkan perencanaan atau stategi yang matang seperti PDCA.

Kerjasama baik dengan pemerintah pusat maupun masyarakat setempat

mengenai pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kondisi dimasyarakat

namun juga sesuai dengan standar yang dibuat oleh pemerintah.

19
Menempatkan tenaga kesehatan yang ahli serta terampil dan sesuai dengan

bidangnya pada pelayanan kesehatan di masyarakat. Tenaga kesehatan

diharapkan dapat berkomunikasi dalam memberikan pelayanan sehingga

masyarakat merasa puas terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan.

20