Anda di halaman 1dari 8

Potong Paruh (Debeaking)

Tedapat beberapa bentuk dari sifat kanibalisme yaitu terjadinya pematukan pada
bagian-bagian badan seperti jari-jari kaki, pial atau vent. Selain itu juga terjadi pematukan
atau pencabutan bulu, ekor atau sayap sampai taraf memakan. Sering juga tejadi pematukan
terhadap telur sehingga menjadi pecah yang kemudian juga dimakannya. Pada anak ayam
kejadian yang sering terlihat adalah pematukan jari kaki dan bulu.
Berdasarkan para pakar unggas bahwa penyebab yang dapat menimbulkan kanibalisme
adalah luas kandang terlalu sempit, temperatur kandang yang terlalu tinggi, defisiensi zat
makanan, kurang tempat makan dan tempat minum baik dari segi jumlah maupun luasnya,
intensitas cahaya yang berlebih, bentuk ransom, sifat peck order, banyak menganggur, tidak
seragamnya umur dalam 1 kandang, adanya gangguan external parasit, kurang sarang, dan
akibat kekurangan garam.
Cara yang dianggap baik sampai sekarang untuk mencegah terhadap kemungkinan
timbulnya kanibalisme adalah melalui pemotongan paruh atau debeaking, dan merupakan
cara yang efektif. Debeaking pada ayam sudah merupakan cara yang paling sering dilakukan
untuk mencegah kanibalisme, terutama sekali apabila pemeliharaan dilakukan secar
terkurung dan berkelompok.
Untuk mendapatkan hasil debeaking yang baik maka dilakukan sdemikian rupa
sehingga kemungkinan terjadinya stress kecil, dan tidak tumbuh kembali untuk mencapai
panjang normalnya. Debeaking dilakukan terlalu keras malah dapat memperlambat dewasa
kelamin, berat badan yang kurang, dan performa yang buruk pada saat periode bertelur.
1. Metode Debeaking
Terdapat dua metoda debeaking yaitu cold debeaking dan hot debeaking. Cold
debeaking dilakukan pada anak ayam, karena tidak ada pembakaran yang dapat mematikan
jaringan paruh, sehingga terjadi pertumbuhan kembali sampai mencapai panjang normal.
Oleh karena itu debeaking perlu diulang kembali yaitu sebelum mencapai umur dewasa
kelamin.
Pada hot debeaking digunakan alat debeaking yang mepunyai pisau pemotong yang
dipanaskan dengan temperature 1110 0F 1500 0F, sehingga dapat mematikan jaringan dari
paruh, oleh karena itu bila pelaksanaannya baik dan tepat maka tidak perlu pengulangan
kembali.
Cara debeaking ternyata ada banyak variasi, tetapi pada dasarnya ada dua cara, yaitu:
a) Block debeaking, yaitu pemotongan yang dilakukan memberikan hasil paruh bagian atas sama
panjangnya dengan bagian bawah.
b) Conventional debeaking, yaitu pemotongan yang dilakukan memberikan hasil paruh bagian
atas lebih pendek dari pada bagian bawah.

2. Umur Pelaksanaan Debeaking


Debeaking pada dasarnya dilakukan pada anak ayam dan ayam yang berumur muda.
Debeaking pada anak ayam biasa dilakukan pada umur 1 hari atau pada umur 6 9 hari dan
sebaiknya jangan dilakuka pada umur 2-3 hari karena akibat yang ditimbulkannya dapat lebih
buruk, yaitu terjadi penurunan konsumsi makanan maupun miuma secara tajam.
Debeaking pada umur muda biasanya dilakukan pada tipe petelur, yaitu umur 10 14
minggu dan 3 4 minggu sebelum periode produksi yaitu umur 18 20 minggu.

3. Pengaruh Umur Debeaking Terhadap Performa Ayam


Mengenai umur yang baik untuk melaksanakan debeaking banyak sekali para peneliti
yang mengungkapkan pendapatnya, tetapi secara umum sebaiknya tidak dilakukan pada umur
di atas 5 bulan. Debeaking pada ayam broiler tidak perlu dilakukan karena sifatnya yang
plagmatis dan periode pemeliharaan yang relatif pendek.
Bagaimanapun kita melakukan debeaking tetap akan menimbulkan stres yang
kemungkinan dapat mepengaruhi performan ayam. Debeaking dapat menurunkan jumlah
konsumsi makan selama periode petumbuhan dan berat badan yang lebih ringan. Debeaking
yang dilakukan pada ayam muda tipe petelur umur 1 hari, 6 -9 hari, 8, 12, dan 20 minggu
dapat menurunkan konsumsi ransum, menurunkan pertambahan berat badan, menghambat
dewasa kelamin produksi telur per tahun relatif menurun dan berat telur relatif rendah
dibandingkan dengan tidak dibeaking.

4. Pengaruh Metoda Debeaking Terhadap Performan Ayam.


Berbagai debeaking telah dilakukan oleh para peneliti, yaitu untuk melihat bagaimana
pengaruhnya terhadap performan ayam. Debeaking pada ayam dari mulai umur sehari sampai
menjelang bertelur sebaiknya dilakukan pemotongan atau 1/3 baik pada bagian atas saja
(metoda conventional debeaking) ataupun bagian atas dan bawah (metoda block debeaking),
hasilnya tidak menunjukkan perbedaan dalam pertambahan berat badan, konsumsi ransum,
konsumsi air minum dan efisiensi penggunaan pakan bila dibandingkan dengan ayam yang
tidak didebeaking.
Perlakuan debeaking dengan metoda convensional memberikan hasil konsumsi ransum,
konsumsi air minum dan pertambahan berat badan yang lebih baik dibandingkan metoda
block debeaking.

Vaksinasi
Vaksin adalah pemberian antigen untuk merangsang sistem kebal menghasilkan
antibodi khusus terhadap penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri dan protozoa.
Program vaksinasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
a. prevalensi penyakit di daerah usaha ternak,
b. Resiko akan timbulnya penyakit,
c. Status kekebalan dari bibit induk,
d. Biaya pembuatan dan pemberian vaksin,
e. Intensitas dan konsekuensi dari reaksi vaksin yang kurang baik,
f. Program penggantian ternak,
g. Tersedianya vaksin tertentu,
h. perbandingan untung rugi yang menghubungkan antara keuntungan akibat vaksinasi
dan kerugian vinansial akibat resiko infeksi dan timbulnya penyakit (Nesheim,
1984).
Berbagai cara pemberian vaksin yang digunakan secara komersial antara lain:
a. suntikan subkutan, dengan vaksin hidup atau vaksin emulsi inaktif dapat diberikan kepada
anak ayam, masa pemeliharaan (rearing) dan pada induk (Nesheim, 1984). Pada umumnya
injeksi dilakukan secara intramusculardada atau paha. Akan tetapi cara ini juga mempunyai
kelemahan yaitu perlu waktu lama, ayam akan stress, jika penagkapan terlalu kasar,
b. pemberian vaksin melalui tetes mata dan tetes hidung, dapat dilakukan pada anak ayam di
tempat penetasan atau pada masa brooding (masa penghangatan) di kandang peternak,
c. pemberian vaksin secara aerosol, dengan menggunakan penyemprot ransel atau listrik, untuk
mendapatkan semprotan yang kasar,
d. pemberian vaksin melalui air minum, dapat dilakukan dengan biaya yang lebih murah, akan
tetapi kurang efektif terhadap babarapa macam infeksi (Nesheim, 1984).
Vaksin untuk unggas ada dua bentuk, hidup (aktif) dan mati. Vaksin hidup terdiri dari
organisme-organisme hidup yang telah dimodifikasi (dilemahkan) sehingga mereka akan
berkembang biak di dalam tubuh tanpa menyebabkan penyakit. Organisme-organisme dapat
diberikan dengan cara yang bervariasi melalui air minum, penyemprotan, tetes mata atau
untuk penyakit marek dengan injeksi intramuskular (Mark, 1993).
Perkembangan imunitas lebih cepat dengan vaksin hidup dari pada dengan vaksin mati.
Vaksin mati terdiri atas organisme inaktif (mati) yang biasanya disuspensikan dalam emulsi
lemak untuk administrasi dengan suntikan. Emulsi tersebut membantu meningkatkan
peristiwa lebih panjang pengambilan organisme dari tempat okulasi. Perkembangan
immunitas sempurna kira-kirasatu bulan setelah injeksi vaksin mati. Metode vaksinasi yang
ideal adalah memberi vaksin hidup pertama kali, yang berperan sebagai sistem immunitas
primer, diikuti dengan injeksi vaksin mati, yang memberi level penyokong antibodi
pelindung. Prinsip ini digunakan untuk proteksi serangan NewCastel Disease, infectionse
bronchitis, dan infectionse bursal disease (Mark, 1993).

1. Pencegahan penyakit
Penyakit didefinisikan sebagai segala penyimpangan gejala dari keadaan kesehatan
yang normal. Hal ini bisa disebabkan oleh mikroorganisme, defisiensi nutrisi, atau stress
akibat lingkungan yang tidak menguntungkan (Blakely dan Bade, 1998).

2. Snot (coryza).
Penyakit ini antara lain disebabkan berbagai serotipe Hemophilus paragallinarum.
Penyakit ini dapt dijumpai secara potensial pada setiap peternakan unggas, tetapi biasanya
terdapat di daerah atau negara-negara tertentu sebagai masalah kronis atau musiman.
Penularan dapat melalui kontak langsung dengan ayam yang menunjukkan gejala klinis atau
carier atau secara tidak langsung melalui alat atau karyawan yang terkontaminasi. Penyebab
penyakit ini tidak dapat hidup di luar tubuh induk semang sampai lebih dari 12 jam.
Morbiditas kawanan ayam bervariasi dari 1-2 %. Ayam yang secara klinis telah terinfeksi
menunjukkan gajala pengeluaran cairan mata yang unilateral atau bilateral dan berlanjut
menjadi selulitis fasial di daerah muka dan sinusitis kronis. Pengobatan pada ayam yang
belum dewasa digunakan untuk mengobati coryza dan dapat diberikan melalui air minum
atau disuntikkan langsung secara Intramuskular. Pencegahan ayam yang belum dewasa dapat
digunakan vaksin multivalen inaktifatau bakteri homolog dalam supensi air atau emulsi
minyak. Vaksin inaktif dalam dua dosis dapat diberikan dengan suntikan subkutan atau
intramuskular (Nesheim, 1984).

3. Pullorum (berak kapur).


Definisi dari pullorum apa anak ayam saja yang memperlihatkan memperlihatkan satu-
satunya gejala klinis dari penyakit ini. Beberapa hari setelah menetas, anak ayam yang
terserang berhimpit-himpitan, kehilangan selera makan, sulit bernafas dan sering kali
mengeluarkan berak putih (berak kapur). Ayam memperlihatkan luka pada organ- organ
seperti jantung, hati, limpa, paru-paru, dan saluran pencernaan. Penyebab dari penyakit ini
adalah bekteri Salmonella pullorum. Pencegahan pullorum umumnya dilakukan fumigasi
terhadap inkubator dan telur yang didetaskan menggunakan gas formaldehide yang diikuti
dengan sanitasi yang teliti yang dilakukan diantara periode penetasan (Blakely dan Bade,
1998).

4. Gumboro (infectous bursal disease).


Penyebab penyakit ini terdiri atas dua tipe. Tipe pertama merupakan galur virus
avibirna. Tipe ini dikenal dua serotipe virus yaitu yang klasik dan sangat patogenik (WIBD).
Tipe kedua adalah galur kalkun yang tidak bersifat patogenik pada ayam. Penularan penyakit
gumboro melalui kontak langsung antara lain ayam muda dan ayam yang telah terinfeksi.
Peralatan. kandang dan pakaian petugas yang terkontaminasi acap kali merupakan sumber
infeksi. Morbiditas ayam-ayam yang terserang secara akut bervariasi (5-50%). Ayam yang
terserang menjadi tertekan, berbaring (terlentang), bulunya kasar berkerut dan diare putih.
Dehidrasi dan pendarahan muskuler sering dijumpai pada ayam yang telah mati. Pencegahan
pada induk ayam yaitu melalui imunisasi (sistem kekebalan) diikuti dengan pemberian
booster dalam emulsi minyak. Anak ayam sebaiknya divaksin dengan vaksin hidup yang
dilemahkan yang merangsang pembentukan sistem kebal tubuhnya. Vaksin ringan dapat
diberikan pertama kali umur 1- 4 hari (Nesheim, 1984). Penyakit ini ditemukan pertama kali
di daerah Gumboro di negara bagian Delaware pada tahun 1962 (Blakely dan bade, 1998).

5. Tetelo (NewCastel disease).


Penyakit ini ditandai dengan kesulitan bernafas, batuk dan bersin. Pada beberapa ayam
yang terkena penyakit ini ditemukan tanda-tanda kelainan sistem syaraf (Blakely dan Bade,
1998). Penyebab penyakit tetelo adalah virus yang ada hubungannya dengan galur
paramyxovirus unggas tipe I. Virus ND sangat menular. Infeksi dapat terjadi baik melalui
penghirupan virus dalam bentuk aerosol maupun pakan atau litter yang tercemar. Penyebaran
penyakit virus oleh angin sejauh 5 km, kontak langsung dan tidak langsung dengan bahan
yang tercemar (misalnya muntah), burung pengganggu, ayam kampung dan burung
peliharaan lainnya merupakan penampung penyakit. Pencegahan penyakit melaui vaksinasi
antara lain program yang umum digunakan: infeksi lentogenik pada ayam dapat dicegah
dengan memberikan vaksin atau tetes mata pada anak ayam umur sehari dengan
menggunakan vaksin hitcher BI dilanjutkan booster melalui air minum atau secara aerosol.
Vaksin berikutnya dilakukan pada umur 24 hari dan 8 minggu dengan vaksin hitcher BI atau
vaksin lasota dalam air, di ikuti vaksin emulsi multivalen yang diinaktivasi dengan minyak
pada umur 18- 20 minggu (Nesheim, 1984).
6. Cacar ayam (avian pox).
Penyebabnya adalah virus avipox. Penyakit ini dikenali berdasarkan adanya tonjolan
hitam pada jengger, pial dan telinga, serta kaki (Blakely dan Bade, 1998). Lesi fokal
berwarna merah jambu juga ditemukan pada jengger dan pial serta bagin tubuh lainnya. Virus
ini ditularkan oleh nyamuk. Penularan dalam suatu kandang dapat terjadi secara kontak
langsung antara ayam yang terinfeksi dan yang rentan. Pencegahan yang disarankan melalui
imunisasi yang dilaksanakandi daerah endemik dengan vaksin avipox ringan (virus galur
ayam) yang diberikan pada umur seminggu (Nesheim, 1984).

7. Berak darah (coccidiosis).


Berbagai species Emeria yang berparasit pada bagian spesifik dari saluran usus ayam
menjadi penyebab penyakit ini. Penularan melalui Ookista yang berporulasi merupakan
stadium infektif dari siklus hidup dariCoccidiosi. Ookista dapat ditularkan secara mekanik
melalui pekerja, peralatan yang tercemat atau dibawa oleh angin yang menyebarkan debu
kandang dan litter dalam jangkauan pendek. Tanda-tanda klinis pada Coccidiosisbiasanya
berjalan akut dan ditandai dengan depresi, bulu kusut dan diare. Unggas yang terinfeksi oleh
E. tenellamemperlihatkan gejala kepucatan pada jengger dan pial disertai dengan kotoran
coecum yang bercampur darah. Pengobatan melalui pemberian lerutan amprolium atau
sulfanamida (sulfametazin atau sulfaquinoksalin) dalam air minum. Pencegahan penyakit
dapat dilakukan dengan pemasangan dan pengaturan sistem pemberian air minum yang
sesuai, tingkat ventilasi yang baik, pengaturan kepadatan kandang, penambahan antioksidan
dalam pakan, pemberian koksidiostat kimiawi dan ionoforik untuk yang menjalani program
pergantian ulang alik (Shuttle) (Nesheim, 1984).
8. Aspergillosis.
Suatu penyakit pernapasan dengan ciri megap-megap dan bernafas cepat, kehilangan
nafsu makan, dan rasa haus yang meningkat. Morbiditas mencapai 10% dan mortalitas pada
umur 3-12 hari. Infeksi pada otak mengakibatkan ayam merebahkan diri (berbaring) secara
lateral, kurang koordinasi dan gemetar (tremor) kasar pada otot (Nesheim, 1984). Wabah
biasanya terjadi hanya jika keadaan kelembaban alas (litter) mendukung pertumbuhan jamur.
Spora spora dari jamuur masuk keudara dan dihirup oleh ayam lalu
mengakikbatkanaspergillosis (Blakely dan Bade, 1998). Penyebab penynakit ini disebabkan
berbagai jenis kapang termasukAspergillus fumigatus. Pencegahan penyakit dapat dilakukan
dengan perbaikan kebersihan kandang tempat bertelur, penggantian alas (litter) dengan
plastik akan mengurangi prevalensi aspergillosis (Nesheim, 1984). Selain itu menjaga
makanan dan alas (litter) agar tetap rendah kandunganuap airnya dapat mencegah
pertumbuhan jamur penynyebab penyakit ini (Blakely dan Bade, 1998).
Baker,A.A.,Sosro, K.,Suditomo, B. (1998), Pembakaran Hutan di Kalimantan, Majalah
Kehutanan,5,23-25
Hill,R.(1997).The Maathematical Theiory of Plasticity, Oxford Pres, Oxfrod,545-547
Rasyaf, M. 1992. Pengelola Penetasan. Kainus, Yogyakarta
2003.Beternak Ayam Pedagang.Penebar Swadaya, Jakarta.
Stark,H. (1998), The dynamics of surface adsorption, Procceedings of the Internatioanl Congress
on Current Aspects of Quantum Chemistry, London, U.K., Carbo R., Editro, Prentice Hall,
24-36
Thomas, J. (1998), Pretreatment of lanthanide, dalam Transition Elements, Bab 2, Scott, A.I.,
Editor, Oxford, 56-98
Wijaya, R. (1996), Diagnosis Penyakit Tipus dengan Metode PCR. Disertasi Program Doktor, SMK
Negeri 3 Bogor, 25-29