Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULAN

A. Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan sehat bagi

setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang

optimal sebagai salah satu tujuan untuk kebijaksanaan umum dari tujuan

nasional. Agar tujuan pembangunan bidang kesehatan tersebut dapat terwujud,

diperlukan suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia dalam

meningkatkan derajat kesehatan yang optimal dan sebagai perwujudan upaya

tersebut dibentuk sistem kesehatan nasional (Istriyati, 2011).


Imunisasi adalah salah satu jenis usaha memberikan kekebalan kepada

anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh guna membuat zat anti

untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Sedangkan yang dimaksud

dengan vaksin adalah bahan yang digunakan untuk merangsang pembentukan

zat anti, yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan (misalnya, vaksin

Bacille Calmette-Guerin (BCG), Difteri, Pertusis dan Tetanus (DPT) dan

Campak) dan melalui mulut (contohnya vaksin polio) (Mahayu, 2014).


Program imunisasi merupakan cara terbaik yang telah menunjukkan

keberhasilan yang luar biasa dan merupakan usaha yang sangat menghemat

biaya dalam mencegah penyakit menular dan juga telah berhasil

menyelamatkan begitu banyak kehidupan dibandingkan dengan upaya

kesehatan masyarakat lainnya. Untuk meningkatkan cakupan imunisasi pada

anak-anak diseluruh belahan dunia, sejak tahun 1974 Badan Kesehatan Dunia

atau World Health Organization (WHO) mencanangkan Expanded Program

1
on Immunization (EPI) atau Program Pengembangan Imunisasi (PPI). Hasil

dari program PPI ini cukup memuaskan. Angka cakupan imunisasi meningkat

menjadi 80% pada tahun1990 dan sejak diluncurkannya program tersebut

imunisasi telah menyelamatkan lebih dari 20 juta jiwa dari bahaya penyakit

infeksi (Sisfiani, 2014).


Program imunisasi dasar, Lima Imunisasi dasar Lengkap (LIL), yang

dicanangkan oleh pemerintah bagi bayi meliputi 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4

dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B dan 1 dosis Campak. Namun pada

kenyataannya program imunisasi dasar lengkap yang telah dilakukan tidak

seluruhnya berhasil dan masih banyak bayi atau balita status kelengkapan

imunisasinya belum lengkap, banyak faktor yang menyebabkan kelengkapan

imunisasi, faktor tersebut antara lainsikap petugas, lokasi imunisasi, kehadiran

petugas, usia ibu, tingkat pendidikan ibu, tingkat pendapatan keluarga per

bulan, kepercayaan terhadap dampak buruk pemberian imunisasi, status

pekerjaan ibu, tradisi keluarga, tingkat pengetahuan ibu, dan dukungan

keluarga (Rahmawati, 2014).


Reaksi samping imunisasi (RSI) adalah gejala yang sering menyertai

imunisasi. sebagian besar mempunyai patofisiologi yang jelas atau dapat

diterangkan, berkaitan dengan susunan vaksin, karakteristik responden, tau

merupakan bagian dari proses pembentukan antibody. Reaksi local

maupun sistemik yang tidak diinginkan dapat terjadi pasca imunisasi.

Sebagian besar hanya ringan seperti demam dan bisa hilang dengan

endirinya. Demam yang tinggi sering membuat ibu khawatir. Apalagi pada

bayi bila kenaikan suhu tubuh terjadi secara tiba tiba bisa menimbulkan

2
komplikasi berupa kejang. Reaksi yang berat bisa terjadi meskipun jarang.

Umumnya reaksi terjadi segera setelah dilakukan vaksinasi, namun bisa juga

reaksi tersebut muncul kemudian. Cody dan kawan kawan melaporkan

bahwa kejang yang timbul setelah imunisasi dengan pertusis insidennya

adalah 1 : 1750 imunisasi. Dikatakan bahwa kejang yang paling sederhana

(simple) yang mengikuti imunisasi pertusis adalah kejang deman (febril

convulsion) (Astrianzah, 2011).


Menurut data di atas, terlihat bahwa ketakutan ibu terhadap reaksi yang di

timbulkan setelah imunisasi dapat menyebabkan anak tidak mendapat

imunisasi dengan lengkap. Hal ini tidak akan terjadi bila ibu memiliki

pengetahuan yang baik tentang reaksi samping imunisasi (Astrianzah, 2011).

B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Mahasiswi mampu melaksanankan Asuhan Kebidanan Komunitas

Keluarga Binaan Desa Sungai Pauh Dusun Nelayan Kecamatan Langsa

Kota Tahun 2015.


b. Tujuan Khusus
1) Agar Mahasiswi dapat melaksanakan Asuhan Kebidanan Tentang

Imunisasi
2) Agar mahasiswi dapat melmemberikan konseling atau penyuluhan

kepada keluarga binaan

C. Manfaat
Agar ibu dapat mengetahui tentang imunisasi terutama pentingnya

imunisasi bagi anak sehingga masyarakat mau memberikan imuniasis pada

anak.

3
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian Imunisasi
Imunisasi adalah cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap

suatu penyakir, sehingga bila kelak terpajan pada penyakit tersebut ia tidak

menjadi sakit. Kekebalan yang diperoleh dari imunisasi dapat berupa

kekebalan pasif maupun aktif (Ranuh, 2011).


Vaksinasi merupakan suatu tindakan yang dengan sengaja memberikan

paparan dengan antigen yang bersaldari suatu pathogen. Antigen yang

diberkan telah dibuat demikian rupa sehingga tidak menimbulkan sakit namun

mampu memproduksi limfosit yang peka sebagai antibody dan sel memori

(Ranuh, 2011).
B. Tujuan Imunisasi
Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada

seseorang, dan menghilangkan penyakit tersebut pada sekelompok masyarakat

(populasi), atau bahkan menghilangkannya dari dunia seperti yang kita lihat

pada keberhasilan imunisasi cacar variola. Keadaan yang terakhir ini lebih

4
mungkin terjadi pada jenis penyakit yang hanya dapat ditularkan melalui

manusia, seperti misalnya penyakit difteria dan poliomyelitis (Ranuh, 2011).

C. Manfaat Imunisasi
1. Untuk Anak
Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan

cacat atau kematian


2. Untuk Keluarga
Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit.

Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya

akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman


3. Untuk Negara
Memperbaiki tingkat kesehatan, mrnciptakan bangsa yang kuat dan

berakal untuk melanjutkan pembangunan negara. (Proverawati, 2010)

D. Jenis Imunisasi
1. Imunisasi Aktif
Merupakan pemberian suatu bibit penyakit yang telah dilemahkan (vaksin)

agar nantinya sistem imun tubuh berespon spesifik dan memberikan suatu

ingatan terhadap antigen ini, sehingga ketika terpapar lagi tubuh dapat

mengenali dan meresponnya. Contoh imunisasi aktif adalah imunisasi

polio dan campak. Dalam imunisasi aktif terdapat beberapa unsur-unsur

vaksin, yaitu :
a. Vaksin dapat berupa organisme yang secara keseluruhan dimatikan,

eksotoksin yang didetoksifikasi saja, atau endotoksin yang terikat

pada protein pembawa seperti polisakarida, dan vaksin dapat juga

5
berasal dari ekstrak komponen-komponen organisme dari suatu

antigen. Dasarnya adalah antigen harus merupakan bagian dari

organisme yang dijadikan vaksin.


b. Pengawet/stabilisator, atau antibiotik. Merupakan zat yang digunakan

agar vaksin tetap dalam keadaan lemah atau menstabilkan antigen dan

mencegah tumbuhnya mikroba. Bahan-bahan yang digunakan seperti

air raksa atau antibiotik yang biasa digunakan.


c. Cairan pelarut dapat berupa air steril atau juga berupa cairan kultur

jaringan yang digunakan sebagai media tumbuh antigen, misalnya

telur, protein serum, bahan kultur sel.


d. Adjuvan, terdiri dari garam aluminium yang berfungsi meningkatkan

sistem imun dari antigen. Ketika antigen terpapar dengan antibodi

tubuh, antigen dapat melakukan perlawanan juga, dalam hal ini

semakin tinggi perlawanan maka semakin tinggi peningkatan antibodi

tubuh.
2. Imunisasi Pasif
Merupakan suatau proses peningkatan kekebalan tubuh dengan cara

memberikan zat immunoglobulin, yaitu zat yang dihasilkan melalui suatu

proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia (kekebalan yang

didapatkan bayi dari ibu melalui plasenta) atau binatang (bisa ular) yang

digunakan untuk mengatasi mikroba sudah masuk dalam tubuh yang

terinfeksi.
Contoh imunisasi pasif adalah penyuntikan ATS pada orang yang

mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi

yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi

6
dari ibunya melalui darah plasenta selama masa kandungan, misalnya

antibodi terhadap campak. (Proverawati, 2010)

E. Lima Imunisasi Lengkap Menurut Suparyanto, 2011


1. BCG
Imunisasi BCG merupakan imunisasi yang digunakan untuk

mencegah terjadinya penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit

TBC yang primer atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah

dilakukan imunisasi BCG. TBC yang berat contohnya adalah TBC pada

selaput otak, TBC milier pada seluruh lapangan paru, atau TBC tulang.

Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah

dilemahkan.
Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah 1 dosis sejak lahir

sebelum umur 3 bulan. Vaksin BCG diberikan melalui

intradermal/intracutan. Efek samping pemberian imunisasi BCG adalah

terjadinya ulkus pada daerah suntikan, limfadenitis regionalis, dan reaksi

panas.

2. Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk

mencegah terjadinya penyakit hepatitis B. kandungan vaksin ini adalah

HbsAg dalam bentuk cair. Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis B

adalah 3 dosis. Imunisasi hepatitis ini diberikan melalui intramuscular.

3. Polio
Imunisasi polio merupakan imunisasi yang digunakan untuk

mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan

7
kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini adalah virus yang

dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi polio adalah 4 dosis.

Imunisasi polio diberikan melalui oral

4. DPT
Imunisasi DPT merupakan imunisasi yang digunakan untuk

mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Vaksin DPT ini

merupakan vaksin yang mengandung racun kuman difteri yang telah

dihilangkan sifat racunnya, namun masih dapat merangsang pembentukan

zat anti (toksoid).


Frekuensi pemberian imuisasi DPT adalah 3 dosis. Pemberian

pertama zat anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap pengenalan)

terhadap vaksin dan mengaktifkan organ-organ tubuh membuat zat anti.

Pada pemberian kedua dan ketiga terbentuk zat anti yang cukup. Imunisasi

DPT diberikan melalui intramuscular.


Pemberian DPT dapat berefek samping ringan ataupun berat. Efek

ringan misalnya terjadi pembengkakan, nyeri pada tempat penyuntikan,

dan demam. Efek berat misalnya terjadi menangis hebat, kesakitan kurang

lebih empat jam, kesadaran menurun, terjadi kejang, encephalopathy, dan

syok.

5. Campak
Imunisasi campak merupakan imunisasi yang digunakan untuk

mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena termasuk

penyakit menular. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan.

Frekuensi pemberian imunisasi campak adalah 1 dosis. Imunisasi campak

8
diberikan melalui subkutan. Imunisasi ini memiliki efek samping seperti

terjadinya ruam pada tempat suntikan dan panas.

F. Jenis Dan Sifat Vaksin


Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu

penyakit .vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi.antibodi

berfungsi melindungi terhadap penyakit.vaksin tidak hanya menjaga agar anak

tetap sehat,tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul

pada masa kanak-kanak.Berikut ini akan akan dibahas tentang jenis-jenis

vaksin.
1. Vaksin BCG ( Bacillus Celmette-Guerin )
a. Indikasi : untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit

Tuberkulosis ( TBC )
b. Cara pemberian dan dosis:
1) Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih

dahulu.
2) Dosis pemberian : 0,55 cc untuk bayi dan 0,1 cc untuk anak dan

orang dewasa
3) Imunisasi disuntikan secara intrakutan didaerah lengan kanan atas.
c. Kontra indikasi :
Imunisasi BCG tidak boleh diberikan pada kondisi:
1) Seorang anak menderita penyakit kulit yang berat atau

menahun,seperti eksim,furunkulosis,dan sebagainya.


2) Imunisasi tidak boleh diberikan pada orang ataun anak yang

sedang menderita TBC


d. Efek samping
Setelah diberikan imunisasi BCG,reaksi yang timbul tidak seperti

pada imunisasi dengan vaksin lain.imunisasi BCG tidak menyebabkan

demam.setelah 1-2 minggu diberikan imunisasi,akan timbul indurasi

dan kemerahan ditempat suntikan yang berubah menjadi

pustula,kemudian pecah menjadi luka.luka tidak perlu pengobatan

9
khusus,karena luka ini akan sembuh dengan sendirinya secara

spontan.kadang terjadi pembesaran kelenjar regional diketiak atau

leher.pembesaran kelenjar ini terasa padat,namun tidak menimbulkan

demam (Proverawati, 2010).


2. Vaksin DPT (Difteri,Pertusis dan Tetanus)
a. Indikasi : untuk mencegah 3 penyakit sekaligus,yaitu difteri,pertusis

dan tetanus.
b. Cara pemberian imunisasi DPT adalah melaui injeksi

intramuskular.suntikan dipaha tengah luar atau subkutan dengan dosis

0,5cc.pemberian DPT dilakukan tiga kali mulai bayi umur 2 bulan

sampai 11 bulan dengan intervarl 4 minggu


c. Kontra indikasi
Gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau

gejala serius keabnormalan pada saraf merupakan kontraindikasi

pertusis. Anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis

pertama, komponen pertusis harus dihindari pada dosis kedua, dan

untuk meneruskan imunisasinya dapat diberikan DT ( Dewi, 2010).


d. Efek samping
Pemberian imunisasi DPT memberikan efek samping ringan dan berat

,efek ringan seperti terjadi pembengkakan dan demam dan nyrei pada

tempat penyuntikan dan demam,sedangkan efek berat bayi menangis

hebat karena kesakitan selama kurang lebih empat jam,kesadaran

menurun,terjadi kejang,ensofalopati dan shock.

3. Vaksin DT
a. Indikasi : untuk memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang

dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus.

10
b. Cara pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan imunisasi

DPT dan vaksin ini disuntikkan pada otot lengan atau paha sebanyak

0,5 ml
c. Kontra indikasi
vaksin ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sedang sakit berat

atau menderita demam tinggi.


d. Efek samping
Efek samping yang mungkin terjadi adalah demam ringan,

pembengkakan lokal ditempat penyuntikan,yang biasanya berlangsung

selama 1-2 hari (Lisnawati, 2011).


4. Vaksin TT
a. Indikasi : untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit

tetanus.
b. Cara pemberian dan dosis
vaksin ini disuntiikkan pada otot paha dan lengan sebanyak 0,5 ml

pada anak dan 0,1 ml pada ibu hamil.


c. Kontra indikasi : Gejala-gejala berat karena dosis pertama TT

d. Efek samping
Efek samping dari tetanus toksoit adalah reaksi lokal pada tempat

penyuntikan,yaitu berupa kemerahan,pembengkakan dan nyeri

(Lisnawati, 2011)
5. Vaksin polio
a. Indikasi : untuk mencegah penyakit poliomyelitis.
b. Vaksin polio ada 2 macam yaitu:
IPV ( Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk),mengandung virus polio

yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan dan OPV (Oral

11
Poilo Vaccine,Vaksin Salbin),mengandung vaksin hidup yang telah

dilemahkan dalam bentuk pil atau cairan (Lisnawati, 2011).


c. Cara pemberian dan dosis :
1) Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali ( 1,2,3,dan 4) dengan

interval tidak kurang dari 4 minggu.imunisasi polio ulangan

diberikan 1 tahun setelah polio 4,kemudian pada saat masuk SD

( 5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan SD (12 tahun).

(proverawati dan Andhini,2010)


2) Vaksin polio oral diberikan kepada semua bayi baru lahir sebagai

dosis awal,satu dosis sebanyak 2 tetes ( 0,1 ml).kemudian

dilanjutkan dengan imunisasi dasar OPV atau IPV mulai 2-3 bulan

yang diberikan tiga dosis berturut-turut dengan interval waktu 6-8

minggu.kemudian booster pada usia 18 bulan .imunisasi yang

dapat diberikan bersama-sama waktunya dengan suntikan vaksin

DPT dan Hb 1.pemberian setelah dua dosis OPV ,memberikan

serokonversi sebesar 90% - 93% untuk tipe 1,99% - 100% untuk

tipe 2,sebanyak 76% - 98% untuk tipe 3,dan setelah pemberian

tiga dosis serokonversinya hampir mencapai 100% untuk tipe

ketiga (Ranuh, 2011).


d. Kontra indikasi :
1) Pemberian imunisasi polio tidak dilakukan pada orang yang

menderita defisiensi imunitas.tidak efek yang berbahaya yang

timbul akibat pemberian polio pada anak yang sedang sakit

.Namun,jika ada keraguan,misalnya sedang menderita diare,maka

dosis ulangan dapat diberikan setelah sembuh.(Proverawati dan

Andhini, 2010)

12
2) Bayi yang mengidap HIV ( Human Immunodeficiency Virus)

:imunisasi dilakukan berdasarkan jadwal standar tertentu pada

bayi pengidap virus HIV baik tanpa gejala maupun gejala.pasien

immune deficiency tidak ada efek berbahaya yang timbul akibat

pemberian pada anak yang sedang sakit,Namun jika ada

keraguan,misalnya sedabg menderita diare,maka dosis ulangan

dapat diberikan setelah sembuh.individu dengan riwayat

anafilaktik terhadap vaksin.perlu diperhatikan adanya

kemungkinan reaksi alergi terhadap anti-infeksi yang digunakan

pada produksi OPV( Neomycin,Steptomycin) (Lisnawati, 2011).

e.Efek samping
Pada umumya tidak terdapat efek samping.efek samping berupa

paralisis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi ( kurang dari

0,17: 1.000.000).
6. Vaksin campak
a. Indikasi : untuk memberikan kekebalan aktif terhadaop penyakit

campak.
b. Cara pemberian dan dosis
Pemberian vaksin campak hanya di berikan 1 kali, dapat di berikan

pada umur 9-11 bulan, dengan dosis 0,5 cc. Sebelum di suntikkan,

vaksin campak terlebih dahulu di larutkan dengan pelarut steril yang

telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut. Kemudian suntikan di

berikan pada lengan kiri atas secara subkutan.


c. Kontra indikasi

13
Pemberian imunisasi tidak bole di lakukan pada orang yang

mengalami imunodefesiensi atau individu yang menderita gangguan

respon imun karena leukimia dan limfoma.


d. Efek samping
Hingga 15% persen pasien dapat mengalami demam ringan dan

kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi.

7. Hepatitis B
a. Indikasi :untuk memberi tubuh kekebalan terhadap penyakit hepatitis

B.
b. Cara pemberian dan dosis.
Imunisasi ini di berikan 3 kali pada umur 0-11 bulan melalui injeksi

intramuskular. Kandungan vaksinnya adalah HbsAg dalam bentuk cair.

Terdapat vaksin B-PID (prefill injection device ) yang di berikan sesaat

setelah lahir, dapat di berikan pada usia 0-7 hari. Vaksin B-PID di

suntikkan dengan 1 buah HB PID. Vaksin ini, menggunakan PID

merupakan jenis alat suntikan yang hanya bisa di gunakan sekali pakai

dan telah berisi vaksin dosis tunggal dari pabrik. Vaksin tidak hanya di

berikan pada bayi. Vaksin juga di berikan pada anak usia 12 tahun

yang di masa kecilnya belum di berikan vaksin hepatitis B. Selain itu

orang-orang yang berada dalam rentan resiko hepatiti B sebaiknya juga

di berikan vaksin ini.


c. Kontra indikasi
Hipersensitive terhadap komponen vaksin. Sama halny seperti vaksin-

vaksin lain, vaksin ini tidak bole di berikan kepada penderita inveksi

berat yang di sertai kejang.


d. Efek samping

14
Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan di

sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan

biasa nya hilang setelah 2 hari ( Proverawati, 2010).


G. Jadwal Imunisasi
1. BCG
a. Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 3 bulan. namun

dianjurkan pemberian imunisasi BCG pada umur antara 0-12 bulan.


b. Dosis 0,05 ml untuk bayi kurang dari 1 tahun dan 0,1 ml untuk anak

(>1 tahun).
c. Imunisasi BCG ulangan tidak dianjurkan.
d. Vaksin BCG tidak dapat mencegah infeksi tuberculosis, namun dapat

mencegah komplikasinya.
e. Apabila BCG diberikan pada umur lebih dari 3 bulan, sebaiknya

dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu. Vaksin BCG diberikan

apabila uji tuberkulin negatif.


2. Hepatitis B
a. Imunisasi hepatitis B-1 diberikan sedini mungkin (dalam waktu 12 jam)

setelah lahir.
b. Imunisasi hepatitis B-2 diberikan setelah 1 bulan (4 minggu) dari

imunisasi hepatitis B-1 yaitu saat bayi berumur 1 bulan. Untuk

mendapatkan respon imun optimal, interval imunisasi hepatitis B-2

dengan hepatitis B-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan. Maka imunisasi

hepatitis B-3 diberikan pada umur 3-6 bulan.


c. Departemen kesehatan mulai tahun 2005 memberikan vaksin hepatitis

B-0 monovalen (dalam kemasan uniject) saat lahir, dilanjutkan dengan

vaksin kombinasi DTwP/hepatitis B pada umur 2-3-4 bulan. Tujuan

vaksin hepatitis B diberikan dalam kombinasi dengan DTwP untuk

mempermudah pemberian dan meningkatkan cakupan hepatitis B-3

yang masih rendah.

15
d. Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah memperoleh

imunisasi hepatitis B, maka secepatnya diberikan imunisasi hepatitis B

dengan jadwal 3 kali pemberian.


3. DPT
a. Imunisasi DPT primer diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan (DPT tidak

boleh diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan interval 4-8 minggu.

Interval terbaik diberikan 8 minggu, jadi DPT-1 diberikan pada umur 2

bulan, DPT-2 pada umur 4 bulan dan DPT-3 pada umur 6 bulan.

b. Dosis DPT adalah 0,5 ml, intramuskular, baik untuk imunisasi dasar

maupun ulangan.

c. Vaksin DPT dapat diberikan secara kombinasi dengan vaksin lain yaitu

DPT/Hepatitis B dan DPT/IPV.

4. Polio
a. Terdapat 2 kemasan vaksin polio yang berisi virus polio -1, 2, dan 3.

(1.OPV, hidup dilemahkan, tetes, oral.; 2.IPV, in-aktif, suntikan.)

b. Polio-0 diberikan saat bayi lahir sesuai pedoman PPI sebagai tambahan

untuk mendapatkan cakupan imunisasi yang tinggi.

c. Untuk imunisasi dasar (polio-2, 3, 4) diberikan pada umur 2,4, dan 6

bulan, interval antara dua imunisasi tidak kurang dari 4 minggu.

d. OPV diberikan 2 tetes per-oral.

e. IPV dalam kemasan 0,5 ml, intramuscular. Vaksin IPV dapat diberikan

tersendiri atau dalam kemasan kombinasi (DPT/IPV).

5. Campak
Vaksin campak rutin dianjurkan diberikan dalam satu dosis 0,5 ml secara

subkutan dalam, pada umur 9 bulan. (IDAI, 2008)

16
H. Kontraindikasi Imunisasi

1. Analfilaksis atau reaksi hipersensitifitas yang hebat merupakan

kontraindikasi mutlak terhadap dosis vaksin berikutnya. Riwayat kejang

demam dan panas lebih dari 38oC merupakan kontraindikasi pemberian

DPT, hepatitis B-1 dan campak.

2. Jangan berikan vaksin BCG kepada bayi yang menunjukkan tanda dan

gejala AIDS, sedangkan vaksin yang lain sebaiknya diberikan.

3. Jika orang tua sangat berkeberatan terhadap pemberian imunisasi kepada

bayi yang sakit, lebih baik jangan diberikan vaksin, tetapi mintalah ibu

kembali lagi ketika bayi sudah sehat. (Proverawati, 2010).

BAB III
ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA Tn. A

1. DATA DAN IDENTITAS KELUARGA


a. Biodata
Nama Kepala Keluarga : Akbar
Umur : 31 Tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Suku/Bangsa : Aceh/ Indonesia

17
Alamat : Dusun Nelayan
b. Nama Ibu : Zumiati
Umur : 25 Tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Suku/Bangsa : Aceh / Indonesia
Alamat : Dusun Nelayan
c. Nama Anggota Keluarga

Nama Umur Jenis Pendidikan Agama Ket

Kelamin
Syaif 1,5 Laki-Laki - Islam Anak

Tahun

A. Asuhan Kebidanan Komunitas Dengan Masalah Keluarga Berencana

(KB)

S : Ny. Z 25 Tahun mengatakan bahwa anaknya tidak pernah mendapatkan

imuisasi dasar dikarenakan ibu berfikir jika anaknya mendapatkan

imunisasi akan mengalami demam tinggi.

O : Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah : 120/90 Mmhg
Temperatur : 36C
Pols : 76 x/m
Respirasi : 20 x/m

A : Ny. Z dengan usia 25 Tahun dengan balita tdak pernah mendapatkan

imunisasi dasar

P : Berikan konseling pada ibu tentang :


1. Jelaskan pengertian Imunisasi
2. Jelaskan tujuan imunisasi
3. Jelaskan manfaat imunisasi
4. Jelaskan lima imunisasi dasar
5. Jelaskan jenis dan sifat imunisasi
6. Jelaskan jadwal imunisasi
7. Jelaskan kontraindikasi imunisasi

18
I : Memberikan konseling pada ibu tentang :

1. Menjelaskan pengertian Imunisasi


2. Menjelaskan tujuan imunisasi
3. Menjelaskan manfaat imunisasi
4. Menjelaskan lima imunisasi dasar
5. Menjelaskan jenis dan sifat imunisasi
6. Menjelaskan jadwal imunisasi
7. Menjelaskan kontraindikasi imunisasi

E : Ibu mengatakan akan memberikan imunisasi pada anaknya dikarenakan

ibu sudah mengerti tentang imunisasi, tujuan imunisasi, manfaat imunisasi

lima imunisasi dasar, jenis dan sifat imunisasi, dan jadwal imunisasi. Ibu

juga sudah mengerti penanganan jika anak mengalami demam setelah

imunisasi.

BAB IV

SATUAN ACARA PENYULUHAN

A. Pokok Bahasan : Imunisasi


B. Sasaran : Keluarga Binaan
C. Waktu : Rabu, 02 Desember 2015
D. Tempat : Dusun Nelayan Desa Sungai Pauh
E. TIU : Setelah penyuluhan keluarga binaan mampu memahami

19
tentang imunisasi

F. TIK : Setelah penyuluhan keluarga binaan diharapkan mampu


dan pahan tentang imunisasi
G. Metode : Ceramah dan Tanya Jawab
H. Materi
1. Pengertian Imunisasi
2. Tujuan imunisasi
3. Manfaat imunisasi
4. J lima imunisasi dasar
5. Jenis dan sifat imunisasi
6. Jadwal imunisasi
7. Kontraindikasi imunisasi

I. Evaluasi : Setelah melakukan penyuluhan keluarga mampu:

1. Menjelaskan pengertian Imunisasi


2. Menjelaskan tujuan imunisasi
3. Menjelaskan manfaat imunisasi
4. Menjelaskan lima imunisasi dasar
5. Menjelaskan jenis dan sifat imunisasi
6. Menjelaskan jadwal imunisasi
7. Menjelaskan kontraindikasi imunisasi

BAB V

20
PENUTUP

A. Kesimpulan
Reaksi samping imunisasi (RSI) adalah gejala yang sering menyertai

imunisasi. sebagian besar mempunyai patofisiologi yang jelas atau dapat

diterangkan, berkaitan dengan susunan vaksin, karakteristik responden, tau

merupakan bagian dari proses pembentukan antibody. Reaksi local

maupun sistemik yang tidak diinginkan dapat terjadi pasca imunisasi.

Sebagian besar hanya ringan seperti demam dan bisa hilang dengan

endirinya. Demam yang tinggi sering membuat ibu khawatir. Apalagi pada

bayi bila kenaikan suhu tubuh terjadi secara tiba tiba bisa menimbulkan

komplikasi berupa kejang. Reaksi yang berat bisa terjadi meskipun jarang.

Umumnya reaksi terjadi segera setelah dilakukan vaksinasi, namun bisa juga

reaksi tersebut muncul kemudian. Cody dan kawan kawan melaporkan

bahwa kejang yang timbul setelah imunisasi dengan pertusis insidennya

adalah 1 : 1750 imunisasi. Dikatakan bahwa kejang yang paling sederhana

(simple) yang mengikuti imunisasi pertusis adalah kejang deman (febril

convulsion) (Astrianzah, 2011).


Ketakutan ibu terhadap reaksi yang di timbulkan setelah imunisasi dapat

menyebabkan anak tidak mendapat imunisasi dengan lengkap. Hal ini tidak

akan terjadi bila ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang reaksi

samping imunisasi.
B. Saran

Diarapkan kepada tenaga kesehatan agar terus memberikan penyuluhan

dan pemahaman kepada masyarakat khususnya tentang penting imunisasi bagi

anak sehingga tidak ada lagi anak yang tidak mendapatkan imunisasi.

21