Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Knee joint atau sendi lutut adalah salah satu sendi yang mempunyai fungsi komplek
(Smith, et al., 2010). Gerakan menekuk dan meluruskan yang ditimbulkan membantu setiap
pergerakan manusia, misalnya berjalan, berlari dan naik turun tangga. Sebagian besar berat
tubuh dan pergerakannya ditumpu oleh knee joint. (Jain, 2013). Sehingga permasalahan yang
banyak terjadi pada knee adalah gangguan musculoskeletal (Smith et al., 2010).

Salah satu gangguan yang sering muncul pada knee joint yaitu arthritis. Arthritis
merupakan penyakit sendi yang banyak dikeluhkan. Salah satu bentuk arthritis yang
ditemukan pada knee adalah osteoatritis (OA) Osteoatritis (OA) merupakan suatu gangguan
persendian dimana terjadi perubahan atau berkurangnya tulang rawan sendi, hingga terbentuk
tonjolan tulang pada permukaan sendi (osteofit) (Felson, 2008). Prevalensianya bervariasi
dan dikatakan ada keterkaitan dengan umur. Pada usia di bawah 50 tahun insiden laki - laki
lebih banyak dibanding wanita, sedangkan wanita lebih banyak pada usia diatas 50 tahun. Di
Amerika serikat dan Eropa hampir semua orang mengalami degenerasi sendi setelah usia 40
tahun. Gambaran radiologis OA di Amerika serikat ditemui pada polusi dewasa sekitar 37%
dan merupakan 80% dari polusi dari populasi di atas 75 tahun. Jumlah penderita OA pertahun
mencapai 16 juta orang. Data di Inggris 2 menunjukan 52% orang dewasa mempunyai
gambaran radiologist OA dan meningkat menjadi 85% setelah 55 tahun. Wanita 2 kali lebih
banyak menderita OA di bandingakn pria, terutama OA sendi lutut pada umur kurang dari 50
tahun. Osteoatritis dapat mengenai sendi servical, lumbosakral, tetapi yang terbanyak
mengenai sendi penyangga tubuh yaitu lutut dan pinggul.

Sampai saat ini pathogenesis osteoatritis belum diketahui secara pasti, osteoatritis
yang terdeteksi secara radiologis, sebenarnya merupakan proses patologis yang sudah lanjut.
Sehingga saat ini di kembangkan berbagai marker untuk deteksi dini osteoatritis (Joewono,
2007). Mengingat pentingnya fungsi dari sendi lutut, maka penanganan OA pada lutut harus
diusahakan seoptimal mungkin, dengan lebih dulu memahami keluhan - keluhan yang
ditimbulkan OA pada lutut tersebut. OA pada lutut dapat menimbulkan gangguan kapasitas
fisik yang berupa: (1) Adanya nyeri pada lutut baik nyeri diam, tekan, ataupun gerak, (2)
Adanya keterbatasn lingkup gerak sendi karena nyeri, (3) Adanya spasme, penurunan
kekuatan otot dan odema. Sedangkan gangguan fungsionalnya berupa: (1) Adanya gangguan
aktifitas jongkok berdiri terutama saat toileting, (2) Kesulitan untuk naik turun tangga
terutama saat menekuk dan menapak, (3) Berjalan jauh serta mengalami gangguan untuk
aktifitas sholat terutama untuk duduk antara dua sujud, serta berdiri lama.

Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu atau
kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh
sepanjang rentang kehidupan dengan menggunakan 3 penanganan secara manual,
peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis dan mekanis) pelatihan fungsi,
komunikasi (SK Menkes. No. 80 tahun 2013).

Pada kasus osteoatritis ini peranan fisioterapi yaitu mengguranggi nyeri ,


meningkatkan LGS dan meningkatkan aktivitas fungsional. Untuk mengatasi masalah -
masalah tersebut fisioterafi menggunakan berbagai modlitas yaitu infra Red (IR) dan
Trancutaneus electricaL nerve stimulation (TENS) yang berfungsi untuk menguranggi nyeri,
meningkatkan LGS dan meningkatkan aktivitas fungsional. Penggunaan IR pada kasus ini
dapat menguranggi nyeri karena dapat meningkatkan suhu sehingga akan merangsang serabut
saraf nosiseptik, yang akan memperbaiki jaringan yang rusak sehingaa akan
memperlancarkan suplai nutrisi dan aliran peredaran darah sehingga pembuangan zat - zat
analgesik menjadi lancar sehingga menimbulkan efek sedatif dan nyeri dapat berkurang.
sedangkan penggunaan TENS dapat menurunkan nyeri melalui mekanisme periferal yaitu
dengan megaktifkan serabut saraf perifer yang selanjutnya mengihibisi neuron nosiseptik di
medulla spinalis yang akan memberikan rileksasi .

B. Rumusan masalah
Pada kondisi gangguan pada sendi lutut penulis dapat merumuskan masalah sebagai
berikut : 4
1. Apakah dengan penggantian sendi lutut dapat meningkatkan aktifitas fungsional seperti
aktivitas jongkok, berdiri dan berjalan.
2. Apakah dengan penggantian sendi lutut rasa nyeri yang sebelumnya dapat berkurang.
3. Apakah dengan penggantian sendi lutut gangguan mobilitas fisik dapat teratasi.

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang di kemukan. Maka rumusan masalahnya yaitu:
1. Untuk mengentahui manfaat penggantian sendi lutut dalam mengurangi nyeri tekan dan
nyeri gerak.

2. Untuk mengentahui manfaat penggantian sendi lutut dalam meningkatkan luas gerak sendi.

3. Untuk mengentahui manfaat penggantian sendi lutut dalam meningkatkan aktifitas


fungsional seperti aktivitas jongkok, berdiri, berdiri lama dan berjalan jauh
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Anatomi Fisiologi Sendi Lutut

Sendi lutut dibentuk oleh epiphysis distalis tulang femur, epiphysis proxsimalis, tulang

tibia dan tulang patella, serta mempunyai beberapa sendi yang terbentuk dari tulang yang

berhubungan, yaitu antar tulang femur dan patella disebut articulatio patella femoral, antara

tulang tibia dengan tulang femur disebut articulatio tibio femoral dan antara tulang tibia

dengan tulang fibula proximal disebut articulatio tibio fibular proxsimal (De Wolf, 1996).

Anatomi sendi lutut terdiri dari:

1. Tulang pembentuk sendi lutut antara lain:


a) Tulang Femur

Merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar di dalam tulang kerangka pada bagian

pangkal yang berhubungan dengan acetabulum membentuk kepala sendi yang disebut caput

femoris. Di sebelah atas dan bawah dari columna femoris terdapat taju yang disebut

trochantor mayor dan trochantor minor, di bagian ujung membentuk persendian lutut,

terdapat dua buah tonjolan yang disebut condylus medialis dan condylus lateralis, di antara

kedua condylus ini terdapat lekukan tempat letaknya tulang tempurung lutut (patella) yang

disebut dengan fosa condylus (Syaifuddin, 1997).

b) Tulang Tibia

Tulang tibia bentuknya lebih kecil, pada bagian pangkal melekat pada os fibula, pada

bagian ujung membentuk persendian dengan tulang pangkal kaki dan terdapat taju yang

disebut os maleolus medialis. (Syaifuddin, 1997).

c) Tulang Fibula

Merupakan tulang pipa yang terbesar sesudah tulang paha yang membentuk

persendian lutut dengan os femur pada bagian ujungnya terdapat tonjolan yang disebut os

maleolus lateralis atau mata kaki luar. (Syaifuddin, 1997).

d) Tulang Patella
Pada gerakan fleksi dan ekstensi patella akan bergerak pada tulang femur. Jarak

patella dengan tibia saat terjadi gerakan adalah tetap dan yang berubah hanya jarak patella

dengan femur. Fungsi patella di samping sebagai perekatan otot-otot atau tendon adalah

sebagai pengungkit sendi lutut. Pada posisi flexi lutut 90 derajat kedudukan patella di antara

kedua condylus femur dan saat extensi maka patella terletak pada permukaan anterior femur

(Syaifuddin, 1997).

2. Ligamentum pembentuk sendi lutut

Stabilitas sendi lutut yang lain adalah ligamentum. Ada beberapa ligamentum yang

terdapat pada sendi lutut antara lain : (a) ligamentum crusiatum anterior, yang berjalan dari

depan eminentia intercondyloidea tibia, ke permukaan medial condylus lateralis femur,

fungsi menahan hiperekstensi dan menahan bergesernya tibia ke depan, (b) ligamentum

crusiatum posterior, berjalan dari facies lateralis condylus medialis femoris, menuju fossa

intercondyloidea tibia, berfungsi menahan bergesernya tibia, ke arah belakang, (c)

ligamentum collateral lateralle yang berjalan dari epicondylus lateralis ke capitulum fibulla,

yang berfungsi menahan gerakan varus atau samping luar, (d) ligamentum collateral mediale

tibia (epicondylus medialis tibia), yang berfungsi menahan gerakan valgus atau samping

dalam dan eksorotasi, dan secara bersamaan ligament collateral juga berfungsi menahan

bergesernya ke depan pada posisi lutut fleksi 90 derajat, (e) ligamentum popliteum abligum,

berasal dari condylus lateralis femoris menuju ke insertio musculus semi membranosus

melekat pada fascia musculus popliteum, (f) ligamentum transversum genu, membentang

pada permukaan anterior meniscus medialis dan lateralis. Semua ligament tersebut

berfungsi sebagai fiksator dan stabilisator sendi lutut. Tranversum genu di samping ligament

ada juga bursa pada sendi lutut. Bursa merupakan kantong yang berisi cairan yang

memudahkan terjadinya gesekan dan gerakan, berdinding tipis dan dibatasi oleh membran

synovial. Ada beberapa bursa yang terdapat pada sendi lutut antara lain : (a) bursa popliteus,
(b) bursa supra patellaris, (c) bursa infra patellaris, (d) bursa subcutan prapatellaris, (e)

bursa sub patellaris, (f) bursa prapatellaris.

3. Sistem Otot

Otot-otot yang bekerja pada sendi lutut yaitu:

a. Bagian anterior adalah m. rectus femoris, m. vastus lateralis, m. Vastus medialis, m. vastus

intermedius.
b. Bagian posterior adalah m.biceps femoris, m. semitendinosus, m. semimembranosus, m.

Gastrocnemius
c. Bagian medial adalah m. Sartorius
d. Bagian lateral adalah m. Tensorfacialatae
4. Sistem Persarafan

Nervus femoralis merupakan cabang yang terbesar dari plexus lumbalis. Nervus ini

berasal dari tiga bagian posterior plexus, yang asalnya dari nervus lumbalis ke dua. Ketiga

dan keempat muncul dari tepi lateral m. illiopsoas tepat di atas ligamentum pouparty dan

berjalan turun di bawah ligamentum ini untuk memasuki trigonum femoralis pada sisi

lateral arteri femoralis. Pada trigonum tersebut, nervus femoralis membagi diri menjadi

cabang-cabang terminalis.

Cabang-cabang motorik di atas ligamentum inguinalis mempersyarafi m. illiopsoas.

Cabang-cabang motorik di dalam paha mempersyarafi m. sartorius, m. pectineus dan m.

quadriceps femoris. Cabang-cabang sensorik mencakup cabang-cabang cutaneous femoralis

anterior yang menuju permukaan anterior dan medial paha serta nervus saphenous yang

menuju sisi medial tungkai dan kaki.

Pada regio lutut, tungkai mendapat persyarafan dari nervus ischiadicus yang berasal

dari serabut lumbal ke-4 sampai dengan sacrum ke-3. Nervus ini merupakan serabut yang

terbesar di dalam tubuh yang keluar dari foramen ischiadicus mayor, berjalan terus

disepanjang permukaan posterior paha ke ruang poplitea, lalu syaraf ini membagi dua bagian

yaitu : nervus peroneus communis dan nervus tibialis.


Nervus peroneus communis pada dataran lateral capitulum fibula akan pecah

menjadi nervus superficialis. Nervus tibialis dibentuk oleh seluruh lima bagian anterior

plexus sacralis. Jadi serabut syaraf ini menerima serabut-serabut dari 2 segmen spinalis

lumbal bawah dan 3 segmen sacral yang atas. Nervus tibialis membentuk nervus ischiadicus

yang paling besar di dalam paha. Perjalanan saraf ini dimulai pada bagian atas fossa

poplitea dan turun vertikal melewati fossa ini serta dorsum tungkai menuju sisi

dorsomedial pergelangan kaki. Dari daerah ini, nervus tibialis mengeluarkan cabang-cabang

terminalisnya nervus plantaris medialis dan lateralis, yang terus berjalan ke dalam kaki

(Kapandji, 1995).

5. Sistem peredaran darah


a. Sistem peredaran darah arteri

Peredaran darah yang akan dibahas kali ini adalah sistem peredaran darah yang

menuju ke tungkai dan vena yang juga memelihara darah sekitar sendi lutut, arteri yang

memelihara sendi lutut (Apley, 1997).

(1) Arteri femoralis

Merupakan lanjutan dari arteri iliaca external yang keluar dari cavum abdominalis

lacunna vasorum lalu berjalan ke lateral dari venanya kemudian ke bawah menuju ke dalam

fossa illipectiana kemudian masuk ke canalis addoctorius sehingga arteri poplitea masuk

ke fossa poplitea di sisi medial femur, lalu arteri femoralis bercabang menjadi arteri

superficial dan cabang profunda (Apley, 1997).

(2) Arteri poplitea

Merupakan lanjutan dari arteri femoralis masuk melalui canalis addoctorius, masuk

fossa poplitea pada sisi flexor lutut, bercabang menjadi Arteri genus superior lateralis,

arteri genus superior medialis, arteri genus inferior lateralis, arteri genus inferior medialis.
b. Sistem Peredaran Darah Vena

Pada umumnya peredaran darah vena berdampingan dengan pembuluh darah arteri.

Pembuluh darah vena pada tungkai sebagian besar bermuara ke dalam vena femoralis. Vena-

vena itu adalah vena shapena parva berjalan di belakang maleolus lateralis berlanjut ke

vena poplitea akan mengalir terus ke vena shapena magna dan bermuara ke dalam vena

femoralis (Apley, 1997).


B. Definisi
Total knee replacement, juga dapat disebut total knee arthroplasty adalah satu dari
prosedur orthopedic yang paling sering dilakukan. Pada tahun 1997, sekitar 300.000 total
knee replacement dilakukan tiap tahunnya di Amerika Serikat. Berbagai variasi kondisi
patologis yang mempengaruhi lutut dapat diobati dengan cara ini, lebih mudah untuk
meringankan rasa sakit, memperbaiki fungsi dan mobilitas.

Fungsi sendi lutut normal sebagai engsel complex yang memberikan pergerakan
primer fleksi dan ekstensi, tetapi juga gerakan rotasi dan gerakan yang luwes. Sendi lutut
dibentuk dari tiga kompartemen, lateral, medial dan patellofemoral.Kerusakan cartilago pada
satu atau lebih kompartemen bisa menyebabkan osteoarthritis (idiopatik atau post traumatic),
inflammatory arthritis (rheumatoid, psoriatic, dll), nekrosis avaskular, tumor, atau deformitas
congenital. Osteoarthritis dan rheumatoid arthritis adalah penyebab dari mayoritas besar dari
total joint arthroplasties.

Pengenalan dari total condylar prosthesis oleh Insall dan universitas pada 1972
secara umum disetujui sebagai awal dari era prosedur knee replacement yang modern.
Lulut palsu ini adalah prosedur yang pertama mengganti ketiga kompartemen dari lutut.Ada
variasi dari desain asli dan ada peningkatan minat pada parsial (unikompartemental) knee
replacement.

Total knee arthrosplasty modern terdiri dari pengangkatan penyakit permukaan


articulardari lutut yang diikuti dengan melapisi kembali dengan komponen metal dan
polietilen prostetik. Untuk pasien yang dipilih benar, hasil dari prosedur ini secara signifikan
menghilangkan rasa nyeri, memperbaiki fungsi dan kualitas hidup.Topik ini meninjauan
aspek total knee arthroplasty termasuk pertimbangan pra-operasi, operasi dan pasca operasi.
Dan sama dengan prosedur bedah mayor lainnya, komplikasi bisa terjadi selama atau setelah
total knee arthroplasty.
C. Indikasi

Indikasi utama untuk total knee arthroplasty adalah untuk mengurangi rasa nyeri yang
berhubungan dengan arthritits di lutut pada pasien yang gagal dengan terapi non operatif.
Sebagai contoh, terapi non operatif untuk pasien dengan osteoarthritis meliputi: modifikasi
aktivitas, mengurangi berat badan, menggunakan tongkat, analgesic dan/atau obat-obatan
nonsteroid antiinflamasi.

Intervensi nonoperatif pantas dipertimbangkan sebelum arthroplasty pada pasien


dengan inflammatory arthritis (co: rheumatoid arthritis dan spondyloarthropathies). Total
knee arthroplasty bisa diperlukan pada beberapa pasien dengan osteonecrosis. Meskipun
hasil pada beberapa pasien bisa lebih jelek dari pasien yang mengalami osteo- atau
inflammatory arthritis. Pasien sebaiknya mempunyai radiografi yang mendokumentasi
mengenai kemajuan perubahan reumatik. Jika rasa sakit di lutut tidak sesuai dengan tampilan
radiografi, penyebab lain harus dicari sebelum arthroplasty dilakukan.

Pasien harus memiliki radiografi mendokumentasikan perubahan rematik maju. Jika


rasa sakit lutut tampaknya tidak sesuai dengan tampilan radiografi penyebab lain harus
dikeluarkan sebelum arthroplasty dikejar. Koreksi dari deformitas dan memperbaiki fungsi
sebaiknya merupakan pertimbangan hasil operasi yang sekunder dan bukan merupakan
indikasi primer. Total knee arthroplasty bisa dilakukan pada pasien dari segala umur (kecuali
secara skeletal belum matang).

Sendi palsu memiliki keterbatasan seumur hidup dan daya tahan dari alat tersebut
tergantung dari faktor yang berhubungan dengan pasien dan arthroplasty. Pertimbangan
tersebut antara lain:

Umur angka daya tahan 10 tahun prosthesis dari 11.606 total knee arthroplasty
primer yang dilakukan antara tahun 1978 dan 2000 untuk pasien yang berumur kurang
dari 55 tahun dengan pasien yang berumur lebih dari 70 tahun sangat signifikan (83%
banding 90%, masing-masing).

Penyakit penyebab ketahanan prosthesis menjadi lebih pendek pada pasien dengan
osteoarthritis daripada pada pasien dengan rheumatoid arthritis ( angka daya tahan 10
tahun prosthesis 90% banding 95%, masing-masing)
Faktor prosthesis dan bedah tipe prosthesis, teknik fixasi (semen banding bukan
semen) dan faktor lain seperti sparing dari cruciate ligament posterior juga
mempengaruhi daya tahan prosthesis.

Dengan demikian, dari sudut pandang ketahanan prosthesis kandidat yang ideal dari
total knee arthroplasty adalah pasien dengan umur lebih dari 70 tahun dengan rheumatoid
arthritis. Namun, dari pertimbangan ketahanan prosthesis harus seimbang dengan
menghilangkan nyeri dan perbaikkan fungsional yang dapat diharapkan dari prosedur pada
orang muda.

D. Kontraindikasi

Total knee replacement sebaiknya tidak digunakan pada keadaan klinis seperti
dibawah ini:

Infeksi yang aktif pada lutut atau diseluruh tubuh

Mekanisme ekstensor yang tidak berfungsi

Sirkulasi atau vaskularisasi ekstremitas yang jelek

Penyakit neurologis yang berpengaruh pada ekstremitas

E. Evaluasi pra operasi

Evaluasi pra operasi yang hati-hati harus dilakukan untuk menentukan diagnosa yang
tepat, mengidentifikasi kebutuhan untuk operasi, membantu perencanaan operasi dan
mencegah komplikasi pada periode perioperatif. Sebuah evaluasi pra operatif yang
menyeluruh meliputi:

a) Riwayat penyakit

Gejala-gejala pasien harus didokumentasikan.Sangat penting untuk


mendokumentasikan dan menyelidiki setiap riwayat penyakit punggung yang bersamaan
(sering digambarkan sebagai nyeri pinggul oleh pasien), nyeri pinggul (seringkali
digambarkan sebagai nyeri pangkal paha oleh pasien), atau mati rasa / baal, paresthesia atau
sakit di kaki. Timbulnya gejala-gejala pada punggung dan panggul mungkin menandakan
bahwa nyeri lutut akibat dari sakit di daerah tersebut, sedangkan keluhan neurologis
mungkin timbul dari kelainan saraf tepi, root atau sistem saraf pusat. Pemeriksa juga harus
menanyakan tentang nyeri betis / claudication yang dapat menandakan penyakit pembuluh
darah tepi.

Onset Jika pasien memiliki nyeri lutut, penting untuk didokumentasikan tanggal
onsetnya. Perlu dicatat apakah rasa sakit pada saat onset itu bertahap atau jika timbul
pada waktu terjadi traumatic yang spesifik.

Lokasi Lokasi nyeri sebaiknya dijelaskan (contoh: medial, lateral, atau


patellofemoral). Seringkali pasien akan menggambarkan lokasi-lokasi tersebut seperti
didalam lutut, diluar lutut, atau dibalik tempurung lutut. Perlu diperhatikan jika
sakitnya unilateral atau bilateral, dan jika bilateral sisi mana yang lebih sakit.

Keparahan dan efek fungsional Tingkat keparahan rasa sakit dan bagaimana hal
tersebut mempengaruhi aktivitas pasien sehari-hari dan kualitas hidup harus
didokumentasikan. Aktivitas yang memberikan rasa sakit sebaiknya diketahui ( seperti
naik turun tangga, terutama turun tangga sering mengakibatkan rasa sakit di daerah
patellofemoral).

Terapi sebelumnya catat semua terapi yang pernah pasien lakukan sebelumnya
untuk nyeri lutut dan pengobatannya (NSAIDS, injeksi steroid, terapi fisik, terapi
alternative, tindakan bedah)

Obat-obatan obat-obatan pasien saat ini, termasuk semua dosis harus dicatat. Pada
pasien yang menjalani total knee arthroplasty, perhatian khusus harus diberikan untuk obat-
obatan berikutnya.

Aspirin dan non-steroid anti-inflamasi drugs (NSAIDS) memberikan pengaruh pada


perdarahan perioperatif. Disarankan untuk menghentikan obat-obatan ini sedikitnya
satu minggu menjelang operasi.

COX- 2 inhibitor Literatur memperdebatkan apakah COX-2 inhibitor mempunyai


efek klinis yang signifikan untuk sistem koagulasi atau tidak. Salah satu penelitian prospektif
dari 100 pasien yang menjalani total knee replacement dengan acak menerima rofecoxib atau
placebo menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada perdarahan perioperatif atau
international normalized nation (INR) diantara kedua kelompok tersebut. Rofecoxib
kemudian telah ditarik dari pasaran di seluruh dunia karena meningkatkan risiko yang serius
kejadian kardiovaskular yang merugikan. Penelitian lain menunjukkan adanya interaksi
antara COX-2 inhibitor dan warfarin meskipun dalam berbagai tingkat dan dengan obat yang
berbeda. Keputusan akhir harus berbohong pada ahli bedah. Beberapa dokter bedah
meresepkan selektif COX-2 inhibitoruntuk membantu untuk mengatasi nyeri post operasi,
jadi lebih cepat harus dipelajari mengenai topic ini.

Antikoagulan - Sebelum menjalani arthroplasty total lutut, pasien harus memiliki


waktu prothrombin normal (PT) dan rasio normalisasi internasional (INR). Ini
biasanya memerlukan penghentian warfarin minimal 3 sampai 5 hari sebelum
operasi. Untuk pasien risiko tinggi (misalnya, pasien dengan katup jantung mekanik),
pasien harus mengakui sebelum operasi. Heparin harus dihentikan 6 jam sebelum
operasi dan waktu tromboplastin parsial harus diperiksa.

Antibiotik - Seperti disebutkan sebelumnya, arthritis septik aktif adalah kontraindikasi


untuk total knee arthroplasty. Pasien dengan infeksi harus diselesaikan dari antibiotik
setidaknya 48 jam sebelum operasi.

Insulin / obat hipoglikemik oral insulin harus dikurangi atau diberikan dosis rendah
tergantung jadwal operasi. Obat hipoglikemi oral harus tetap diberikan pada hari
dilaksanakan operasi.

Glukokortikoid - Glukokortikoid idealnya diturunkan pada dosis serendah mungkin


untuk mengurangi tekanan terhadap sistem kekebalan dan mengurangi risiko
mengganggu penyembuhan luka. Tergantung pada dosis normal pasien, pasien
terkadang diberikan steroid "stres dosis" pada periode perioperatif untuk menghindari
kemungkinan yang timbul dari insufisiensi adrenal.

Anticytokin Mempunyai hubungan antara terapi anti tumor nekrosis faktor alpha
(TNF alpha) dan infeksi.

Alergi alergi sebelumnya terhadap antibiotic dan jenis reaksinya (misalnya: ruam,
sesak nafas, anafilaksis) harus secara jelas diketahui. Selain itu, pemakaian pasien dan
toleransi atau intolerasi pada analgetik opioid harus diselidiki. Ketepatan dokumentasi akan
mencegah kesalahan dalam periode perioperatif.

b) Pemeriksaan fisik

Pasien yang direncanakan mendapatkan total knee replacement perlu dilakukan


pemeriksaan muskuloskeletal. Pemeriksaan yang tepat mengenai lutut ini meliputi observasi,
palpasi dan penilaian dengan menggunakan test manual tertentu. Observasi, mengobservasi
gaya berjalan pasien dan bagaimana kulit pasien merupakan bagian yang penting dari
pemeriksaan fisik.

Gaya berjalan

o Antalgic gait

Pasien dengan artritis lutut sering berjalan dengan gaya ini, dimana pasien menjadi
pincang karena menghindari nyeri karena menahan beban. Di tandai dengan fase berdiri yang
sangat singkat.

(Dorland W.A. Dorlands illustrated medical dictionary, penerjemah ; Huriawati Hartanto,


dkk, editor. Philadelphia; 2000. )

Knee thrust

Gerakan abnormal dari lutut ke arah medial atau lateral ketika berjalan dapat
mengindikasikan ketidakstabilan dari ligamentum.

Trendelenburg gait

Gaya berjalan pasien menjadi miring ke arah pinggul yang menderita sehingga
mengurangi beban pada pinggul dan mengurangi nyeri. Hal ini dapat menunjukkan adanya
kelainan pada sendi pinggul dan/atau kelemanahan pada m. Gluteus medius.
Kulit

Kulit pada kedua extremitas bawah diperhatikan apakah adanya abrasi, ulserasi,
bengkak, merah, perubahan vaskular atau infeksi. Adanya infeki yang aktif merupakan
kontraindikasi dilakukan bedah implant. Adanya luka lama atau sikatrik pada lutut perlu
diperhatikan. Adanya deformitas yang kelihatan (contohnya : varus, valgus, rekurvatum,
kontraktur fleksi) perlu diperhatikan. Adanya deformitas ini perlu dilakukan penilaian secara
radiografi.

Palpasi, apabila terdapat efusi pada lutut maka dilakukan palpasi.Krepitus


patellofemoral dapat dideteksi dengan menaruh tangan pada lutut dan secara pasif
menggerakkan kaki. Adanya nyeri pada sendi bagian medial and lateral sering didapati pada
artritis tetapi juga dapat mengindikasi adanya kelainan meniskus. Pulsasi distal, termasuk a.
Dorsalis pedis dan a. Posterior tibialis, harus dinilai.

Penilaian dengan menggunakan test manual tertentu, ada berbagai manuver yang
dilakukan untuk penilaian preoperative, yaitu :

Range of motion

Menilai fleksi dan ekstensi maksimal lutut secara aktif maupun pasif.

Pemeriksaan otot

Kekuatan motorik diperiksa pada ekstremitas bawah secara menyeluruh dengan


perhatian khusus pada mekanisme ekstensor / quadriceps.

Pemeriksaan saraf

Dilakukan pemeriksaan pada sensoris dan refleks deep tendon (patella dan ankle)

Pemeriksaan ligamen

Lateral collateral ligament (LCL) dan Medial collateral ligament (MCL) merupakan
struktur yang sangat penting pada total knee replacement. Penting untuk melakukan penilaian
preoperatif mengenai stabilitas atau derajat kontraktur dari ligamen-ligamen ini.
Collateral ligaments

Pemeriksaan LCL dan MCL dilakukan dengan memfleksikan lutut 30 o pada posisi
varus dan valgus masing-masing. Pada posisi varus, LCL menjadi lemah sedangkan MCL
kontraksi. Pada posisi valgus, LCL kontraksi dan MCl yang lemah. Adanya MCL yang
inkompeten menandakan bahwa diperlukannya koreksi yang lebih.

Cruciate ligaments

Anterior cruciate ligament (ACL) dikorbankan pada kebanyakan total knee


replacement sehingga penilaiannya tidak krusial. Posterior cruciate ligament (PCL) dapat
juga dikorbankan pada saat operasi. Penilaiannya dapat dilakukan dengan test posterior
drawer dengan memfleksikan lutut 90o dan penekanan pada tibia posterior.

Pemeriksaan meniskus

Apabila pasien mempunyai gejala mekanik yang jelas seperti locking atau catching
pada lutut dimungkinkan adanya robekan meniskus. Penggunaan arthroscopy yang sedikit
invasif dapat menjadi suatu keuntungan pada pasien ini. Pemeriksaan meniskus dapat
dilakukan dengan tes Mcmurray dan the Apley Compression test.

Pemeriksaan panggul dan tulang belakang

Penting untuk mengeksklusi nyeri menjalar dengan nyeri lutut yang berasal dari
panggul dan tulang belakang. Perangsangan nyeri pada lutut dengan mengangkat tungkai
yang diluruskan atau dengan menggerakkan panggul (terutama rotasi internal), dapat
meningkatkan kecurigaan adanya kerterlibatan tulang belakang lumbar, panggul atau
keduanya, sehingga memerlukan pemeriksaan imaging lebih lanjut.

c) Pemeriksaan radiologi

Berbagai model imaging dapat digunakan untuk membantu penatalaksanaan lutut


yang sakit, yaitu:
Rontgen polos

Rontgen polos ini merupakan kunci diagnosa, perencanaan preoperatif dan penialaian
postoperatif dari artritis dan total knee arthropalsty. Pemeriksaan minimum 3 posisi (foto
anteroposterior, foto lateral dan patella sudut tangensial) lebih baik dilakukan.

Foto posisi Anteroposterior

Pasien berdiri dengan posisi yang paling nyaman agar tidak terbeban di sendi.
Dilakukan penilaian pada ruang sendi medial dan lateral, apakah ada penyempitan atau tidak.

Posisi Lateral

Posisi ini dilakukan untuk menilai sendi paletofemoral dan posisi dari patella
(contohnya patella baja, patellaalta)

Posisi patella sudut tangensial

Ruang sendi paletofemoral dapat dinilai pada posisi ini (sunrise, skyline, atau
merchant view)

Posisi lainnya juga kadang berguna. Posisi posteroanterior sudut 45 o dilakukan agar
pemeriksaan menjadi lebih akurat untuk melihat adanya penyempitan pada ruang sendi baik
pada sisi lateral maupun medial. Film yang memotong 3 sendi dilakukan untuk dapat melihat
kesinambungan dari tungkai secara struktur dan anatomis (contohnya varus, valgus) dan hal
ini dapat membantu dalam perencanaan preoperatif.

MRI

Pada penilaian arthritis pemeriksaan MRI kurang begitu peka.Walau lebih sensitif
dibandingakan dengan rontgen polos dalam menilai cartilago, seringkali hal itu disalahartikan
dengan adanya kerusakan. MRI ini membantu dalam mengevaluasi meniskus dan kelainan
ligamen yang dikarenakan proses degeneratif lanjut yang tidak dapat dilihat dalam rontgen
polos.

Modal yang lain

CT dan bone scan dapat membantu dalam mengevaluasi postoperatif implant tetapi
tidak menunjukan peran dalam evaluasi preoperatif arthritis.

d) Pemeriksaan laboratorium

Laboratorium preoperatif dapat berbeda-beda tergantung dari keadaan pasien dan


keperluannya, tetapi biasanya meliputi pemeriksaan darah rutin, kimia dasar dan koagulasi
tes (protombine time, INR dan partial thromboplastine time).Pemeriksaan EKG dan rontgen
toraks dilakukan tergantung pada umur pasien dan kebijakan anestesi. Urinalisis dan kultur
urin juga dilakukan.

F. Risiko dan Keuntungannya

Pasien harus mengerti benar mengenai risiko dan hasil yang berhubungan dengan
operasi.Kesimpulan dari informasi ini diberikan secara tertulis untuk pasien.

Risiko

Anestesi dan kejadian intraoperatif

Seperti pada umumnya operasi mayor, ada risiko yang berhubungan dengan
penggunaan anestesi dan kesalahan intraoperatif.

Tromboemboli

Deep venous thrombosis dan venous thromboembolism adalah komplikasi yang poten
dan kadang-kadang mematikan.Risiko trombosis vena proksimal akibat operasi lutut dapat
dikurangi dengan penggunaan antikoagulan, tetapi dapat juga timbul pada penggunaan dosis
profilaxis warfarin, berat molekul rendah atau unfractioned heparin. Adanya clot pada vena
proksimal didapati pada 7 10% pasien operasi lutut yang menggunakan obat-obatan
profilaxis.

Infeksi

Komplikasi infeksi jarang tetapi serius. Infeksi sendi prostetik dapat disebabkan
karena tinggal di rumah sakit yang lama, sehingga dibutuhkan pemindahan infeksi tersebut,
pemberian antibiotik yang lebih lama dan diikuti dengan reimplantasi.

Kelainan paletofemoral

Berbagai kelainan pada sendi sekitar patelofemoral dan mekanisme ekstensor dapat
terjadi, termasuk : subluksasi patella dan dislokasi, adanya komponen yang renggang,
fracture, clunk phenomenon dan ruptur dari mekanisme ekstensor (quadriceps atau ruptur
tendon patella).

Kerusakan saraf

Kerusakan intraoperatif atau pascaoperatif pada saraf peroneal dapat terjadi dan
mengakibatkan kelemahan muskulus tibialis anterios (drop foot) dan kehilangan sensorik.

Kerusakan arterial

Kerusakan pada a. Poplitea atau yang lain dapat menimbulkan peningkatan


perdarahan dan membutuhkan perbaikan arteri. Arterial thrombosis dan / atau embolisasi
perifer dapat timbul.

Fracture sekitar prostetik

Fracture proksimal sampai pada komponen femoral (fracture suprakondilar) atau


distal sampai implant tibial dapat terjadi.

Masalah pada proses penyembuhan luka


Proses penyembuhan yang meningkat dapat meningkatkan risiko infeksi sendi sekitar
dan membutuhkan bedah plastik untuk mencapai penyembuhan yang adekuat dari insisi dan
fungsi dari pergerakan lutut tersebut.

Pemakaian prostetik dan kegagalannya

Pemakaian polyethylene dapat memprovokasi respon inflamasi dan kadang dapat


menimbulkan kerenggangan prostetik. Apabila hal ini menyebabkan kegagalan lutut
prostetik, revisi arthroplasty mungkin dibutuhkan.

Keuntungan

Keuntungan dari total knee arthroplasty ini adalah rasa sakit yang berkurang,
pengembalian fungsi dan mobilitas. Perbaikan dari varus dan valgus dapat tercapai. Pada
flexion contracture lebih sulit mengalami perbaikan.

Rasa sakit yang berkurang

Rasa sakit yang berkurang yang mengikuti penyembuhan dari total knee arthroplasty
ini sangat bagus. Sebagai contohnya, dalam salah satu studi retrospektif dari 233 pasien
dengan osteoarthritis posterior cruciate ligament, 91 % dari pasien tersebut dilaporkan hasil
klinis yang baik. Keuntungan maksimal membutuhkan waktu untuk didapat. Hal ini
diilustrasikan pada studi pasien yang mengalami total hip atau knee replacement.
Kebanyakan pasien dengan total hip atau knee artheroplasty yang dikarenakan menderita
osteoarhtristis yang parah mengalami perbaikan dalam nyeri dimana diperlukan satu tahun
atau lebih untuk mencapai efek maksimal. Perbaikan dapat dicapai rata-rata berkisar sekitar
tiga tahun.

Perbaikan fungsional

Ketika menjalankan aktivitas sehari-hari secara umum menjadi lebih mudah yang
dikarenakan berkurangnya rasa sakit pada lutut setelah total knee arthroplasty, pemeriksaan
fungsi lutut secara objektif (contohnya range of motion) sedikit mengalami perbaikan. Pada
studi yang sudah disebutkan di atas, hanya 23 % lutut yang didapati memiliki fungsi lutut
yang bagus ketika di follow up sekitar 17 tahun setelah operasi pertama. Hasil dari
pascaoperasi yang diharapkan sangat tergantung dengan preoperatif.

Koreksi deformitas

Teknik bedah dapat membuat normal atau mendekati normal lutut posisi valgus. Knee
flexion contractures dapat dikurangi pada sebagian besar kasus dengan seleksi komponen
yang paling pas dan pelepasan jaringan lunak. Sebagai contohnya, pada satu studi retrospektif
542 arthroplasty lutut pada lutut yang mengalami flexion contractures, 95 % mengalami
residual flexion deformities derajat 3 atau kurang, deformitas yang parah dapat kurang
responsif dengan total knee arthroplasty.

G. Teknik Operasi
a) Pembukaan kulit

Berbagai pembukaan bisa diterapkan pada knee arthroplasty, tetapi yang paling sering
dipakai adalah pendekatan straight midline anterior. Insisi lurus mulai dari sekitar 6 cm
diatas patella, dan diperpanjang kebawah melewati patella dan berhenti pada tibial tubercle.
Menggunakan handuk lembut, kulit dibelah dan dipastikan bahwa sebagian besar jaringan
dibawah kulit tetap tertahan dengan kulit.
Lalu pisau dalam dipakai dan tendon quadriceps dipotong ditengah-tengah dan insisi
diperpanjang sampai permukaan atas patella. Sekali lagi dari batas bawah patella sampai
tibial tuberosity insisi dibuat. Dua insisi tersebut digabung pada sisi medial menyusuri
sepanjang batas medial dari lutut. Dengan menggunakan kain kasa besar, patella ditahan
antara ibu jari operator dengan jari telunjuk dan membalik keluar ke arah lateral sambil lutut
difleksikan. Hal ini akan melenturkan patella secara lateral dan memberikan pandangan yang
jelas interior dari lutut. Harus benar-benar hati-hati dalam langkah ini dan memastikan
memberikan jarak di atas dan di bawah patella.

b) teknik jaringan lunak


Ketika ruang dalam dari lutut terlihat proses dari metode jaringan lunak untuk
mencapai hal-hal berikut:

1. Memberikan visualisasi yang jelas bagian dalam dari lutut

2. Melepaskan struktur yang kontraksi dan mencapai keseimbangan jaringan lunak

3. Untuk melepas peri capsular dari permukaan yang adekuat distal femoral dan upper
tibial untuk mendapatkan translasi anterior-posterior dari femur melewati tibia dan
sebaliknya.

4. Jarak yang adekuat dari Osteophytes untuk visualisasi yang penuh dari permukaan
articular.

5. Melepas jaringan lunak untuk memungkinkan akomodasi dari semua jig dan alat-alat.
Semua perdarahan dihentikan dan dikoagulasi. Menggunakan cutting diathermy,
bagian lemak patella dipotong untuk memungkinkan visualisasi yang lebih baik.Anterior
cruciate dipotong untuk memungkinkan translasi anterior dari tibia melewati femur. Kedua
menisci dibuang. Menggunakan nibbler, semua osteophyte dibuang dari sekeliling femur
distal, tibia proximal dan patella. Lutut diluruskan dan dilihat apakah ada fixed varus, fleksi
varus atau deformitas recurvatum. Jika hal-hal tersebut ada, langkah-langkah lebih lanjut
akan dilakukan untuk mendapatkan keseimbangan dan lutut yang lurus pada 5 sampai 7
derajat dari valgus.
c) Pemotongan femoral distal

Menggunakan drill bit 8mm dibuat lubang hanya pada anterior sampai insersi dari
ligament anterior cruciate. Melewati lubang ini intra medullary rod dimasukkan. Distal
femoris cutting guide dimasukkan kedalam ke dalam rod ini. Petunjuk dan operasinya
tergantung dari tipe instrument yang dipakai. Beberapa petunjuk mengikuti untuk memilih
pemotongan valgus dari rectus sampai 9 derajat dengan tambahan dua sampai tiga derajat.
Sistem lain bisa memilki fixed jig yang hanya pada 1 sudut saja. Terlepas dari sistem
yang dipakai, satu yang harus dipastikan bahwa pemotongan distal femoral secara tepat
parallel dengan dasar/lantai di depan axis belakang dan dalam beberapa derajat dari
valgus dari satu sisi ke sisi lainnya.

d) Pemotongan tibial atas

Berbagai macam jig tersedia untuk pemotongan ini dan hal ini bisa menjadi
intramedular yang sama baiknya dengan ekstramedular. Tidak seperti femur yang yang
dilindungi oleh otot paha yang besar, aspek medial dari tibial yang memiliki subkutaneus
yang banyak atau sedikit yang melewati garis tersebut dan tidak menjadi masalah apakah
menggunakan petunjuk intra atau ekstra medular.

Kebanyakan petunjuk mempunyai ketetapan untuk beberapa derajat lekukan posterior


dan pemotongan tibial atas harus tepat parallel dengan dasar lantai / dasar pada axis side to
side dan dimiringkan ke posterior di depan axis belakang. Sekali potongan ini dibuat, lutut
diluruskan dan diperiksa untuk koreksi yang lengap dari semua deformitas.

e) Pemotongan femoral anterior dan posterior dan champers

Menggunakan cutting guide yang tepat ukurannya, pemotongan anterior dan posterior
dibuat. Potongan ini sebaiknya parallel dengan yang lain dan kedua permukaan harus paralel
pada rotasi eksternal. Hal ini akan member tracking patella yang lebih baik. Potongan pada
permukaan ini, dimana posisi komponen femoral pada rotasi internal adalah suatu bencana
dan harus dengan teliti dihindari.

f) Pemotongan patella dan persiapan

Menggunakan alat yang tepat, patella dipotong melewati setengah dari ketebalannya.
Hal ini adalah dasar bahwa tulang yang secukupnya dipotong sehingga setelah memasukkan
patellar prosthesis, ketebalan dari sisa patella ditambah dengan prosthesis harus sama dengan
ketebalan patella sebelum dipotong.

g) Percobaan komponen dan percobaan reduksi

Hole slot yang tepat dan tanda-tanda dibuat diatas permukaan potongan dari femur,
tibia, dan patella. Metode dan sistem yang tepat adalah instrument dependent dan berbagai
macam variasi dari desain ke desain lainnya. Komponen uji coba dimasukkan dan lutut
diletakkan melewati jarak penuh dari pergerakkan lutut.

Tips-tips ini berguna terlepas dari sistem yang digunakan:

Jika lutut dapat ekstensi penuh dan goyang pada pergerakkan side-to-side, berarti
salah satu menggunakan komponen tibia yang lebih tipis. Gunakan nomor diatasnya
sampai lutut stabil di axis side-to-side pada ekstensi penuh.

Jika lutut tidak bisa diekstensi penuh, kemungkinan pelepasan bagian posterior tidak
dilakukan atau ketebalan tibia terlalu tebal dan ketebalan satu nomor lebih kecil perlu
digunakan.

Jika lempeng dasar tibia tidak terletak secara melingkar diatas tulang cortical
dipermukaan pemotongan tibia atas atau jika lempeng tersebut berlebihan dengan
komponen tibia yang menonjol melebihi tulang, pengukuran ulang tibia perlu
dilakukan.

Jika patella tidak terletak pada femoral groove atau jika diperlukan menggunakan jari
untuk menjaga patellar tracking kemudian pelepasan lateral merupakan kewajiban.
h) Prosthesis final dan fixasi

Setelah uji coba reduksi sempurna, implant yang tepat dengan ukuran yang benar
dikeluarkan dari bungkus steril dan dimasukkan tanpa semen. Reduksi uji coba dilakukan
kembali karena perhatian ditujukan pada deformitas, laxities, dan patellar tracking. Setelah
semuanya bagus, implant difixasi dengan atau tanpa semen tergantung dari desain implant
dan metode dari fixasi itu sendiri.

i) Drainase dan penutupan

Luka dicuci dan dilihat untuk perdarahan-perdarahan yang masih terjadi. Semua titik
perdarahan dicauter dan diligasi dan terlihat bahwa implant pada posisi yang benar. Tendon
patella dibelokkan kembali ke medial. Dua buah drain digunakan yang tipenya bisa
disambungkan dengan ke sistem suction yang tertutup.

Menggunakan benang sintetik tebal seperti Daxone atau vicryl (nomor 1), tendon
patella ditutup. Jahitan subkutaneus dilakukan menggunakan vicryl 1,0. Kulit dijahit
menggunakan nylon atau prolene nomor 1. Biasanya menggunakan jahitan continues.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Diagnosa Keperawatan
1. Infeksi b.d resiko tinggi terhadap pertahanan primer yang tidak adekuat (kulit robek,
pemajanan sendi).

Kriteria Hasil : Mencapai penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainase purulen atau
aritema dan tidak demam.
Tindakan/Intervensi Rasional
Mandiri
Tingkatkan cuci tangan yang baik pada Menurunkan resiko kontaminasi silang.
pasien dan keluarga.
Gunakan teknik aseptik atau kebersihan Mencegah kontaminasi dan resiko infeksi
yang ketat sesuai indikasi untuk luka, dimana dapat memerlukan
menguatkan atau mengganti balutan dan pelepasan prostes.
bila menagani drain. Instruksikan pasien
untuk tidak menyentuh atau menggaruk
insisi.
Kaji kulit atau warna insisi, suhu dan Memberikan informasi tentang status
integritas: perhatikan adanya aritema atau proses penyembuhan dan mewaspadakan
inflamasi, kehilangan penyatuan luka. terhadap tanda infeksi.
Awasi suhu, perhatikan adanya Meskipun umumnya suhu meninggkat
menggigil. pada fase dini pascaoperasi, peninggian
terjadi 5 hari atau lebih pascaoperasi atau
adanya menggigil mengidentifikasikan
adanya infeksi memerlukan intervensi
untuk mencegah komplikasi lebih serius.
Dorong pemasukan cairan, diet tinggi Mempertahankan keseimbangan cairan
protein dengan bentuk makanan kasar. dan nutrisi untuk mendukun perfusi dan
memberikan nutrisi yang perlu untuk
regenerasi selular dan penyembuhan
jaringan.
Kolaborasi
Pertahankan isolasi ulang, bila tepat Mungkin dilakukan pada awal untuk
menurunkan kontak dengan sumber
infeksi, khususnya pada lansia,
imunosupresi atau pasien diabetik.
Berikan antibiotik sesuai indikasi Mungkin berguna secara profilsktik untuk
mencegah infeksi
Kultur drainase secara rutin atau sesuai Meyakinkan adanya infeksi,
kebutuhan mengidentifikasikan organisme
penyebab. Bakteri anaerob atau aerobik
mungkin ada yang mempengruhi pilihan
antibiotik dan terapi.

2. Mobilitas fisik b.d nyeri dan ketidaknyamanan, gangguan moskuloskeletal dan terapi
bedah.

Kriteria Hasil : Mempertahankan posisi fungsi, dibuktikan oleh tak adanya kontraktur.
Menunjukkan adanya peningkatankekuatan dan fungsi sendi serta tungkai yang sakit.
Tindakan/Intervensi Rasional
Mandiri
Pertahankan tirah baring awal dengan Memberikan waktu stabilitas prostese dan
sendi yang sakit pada posisi yang pemulihan efek anestesi. Menurunkan
dianjurkan dan tubuh dalam kesejajaran. resiko cedera.
Batasi penggunaan posisi semi Fleksi panggul lama dapat meregangkan
fowler/tinggi, bila diindikasikan. atau dislokasi prostese panggul
Tinggikan ektremitas dengan Meningkatkan aliran balik vena untuk
meninggikan kaki tempat tidur, bukan mencegah pembentukan edema
penyangga lutut batasi gerakan sesuai berlebihan; dapat mencegah dislokasi
indikasi, contoh mempertahankan kaki prostese. Penggunaan bantal di bawah
yang dioperasi yang agak abduksi setelah lutut dapat menganggu sirkulasi.
penggantian sendi lutut untuk mencegah
penyilangan kaki/ rotasi ke dalam pada
sendi.
Beri obat sebelum prosedut/aktivitas. Relaksan otot, narkotik/analgesik
menurunkan nyeri, menurunkan nyeri,
menurunkan teganggan otot/spasme, dan
membantu partisipasi terapi.
Mengganti posisi sisi yang tak dioperasi Mencegah dislokasi prostese panggul dan
menggunakan jumlah petugas yang tekanan kulit/ jaringan lama menurunkan
adekuat dan mempertahankan ekstermitas risiko iskemia jaringan atau kerusakan.
yang dioperasi pada posisi netral. Dukung
posisi dengan bantal atau penjepit.
Lakukan/bantu rentang gerak pada sendi Paien dengan penyakit degenerasi sendi
yang tak sakit. dapat secara tepat kehilangan fungsi
sendi selama periode pembatasan
aktivitas.
Kolaborasi
Konsul kepada terapi fisik Berguna dalam membuat program
aktivitas latihan individual. Pasien dapat
memerlukan bantuan lanjut dalam
pengerakan, peregangan dan aktivitas
dengan beban badan serta alat bantu
contohnya walker, kruk, tongkat dll.
Berikan kasur busa Menurunkan tekanan kulit dan jaringan,
membatasi perasaan kelelahan dan
ketidaknyamanan umum.

3. Perfusi jaringan perifer b.d risiko tinggi terhadap penurunan aliran darah vena/arteri,
trauma pembuluh darah; edema jaringan, ketidaktepatan lokasi/kesalahan lokasi
prostese.

Kriteria hasil: Menunjukkan perfusi jaringan yang adekuat dibuktikan oleh nadi
teraba, kulit hangat, tanda vital stabil.
Tindakan/Intervensi Rasional
Mandiri
Palpasi nadi, evaluasi pengisian kapiler Penurunan atau tak adanya nadi, waktu
serta warna kulit dan suhu. Bandingkan pengisian kapiler, puca, pudar, sianosis
dengan tungkai yang tak dioperasi. dan kulit dingin menunjukkan penurunan
sirkulasi/perfusi. Perbandingan dengan
tungkai yang tak dioperasi menunjukkan
apakah masalah dilokalisasi atau
digeneralisasi
Kaji gerakan dan sensasi gerakan Peningkatan nyeri, kebas/kesemutan,
ektemitas yang tak dioperasi. ketidakmampuan melakukan gerak yang
diharapkan, pengaruh sirkulasi, atau
dislokasi prostese, memerluka intervensi
segera.
Awasi tanda vital Takikardia atau penurunan TD dapat
menunjukkan respons terhadap
hipovolemia atau kehilangan darah atau
dugaan anafilaksis sehubungan dengan
absorpsi metilmetakrilat ke dalam
sirkulasi sitemik.
Awasi jumlah dan karakteristik drainase Dapat mengidikasikan pendarahan atau
pada balutan atau dari alat penghisap hematoma berlebihan, yang berpotensi
mempengaruhi neurovaskuler.
Yakinkan bahwa alat penstabilisasi pada Menurunkan risiko tekanan pada saraf di
posisi benar dan tidak memberikan bawahnya atau mempengaruhi sirkulasi
tekanan yang tak perlu pada kulit dan ektrimitas.
jaringan di bawahnya. Hindari
penggunaan bantal atau penyokong lutut
di bawah lutut
Evaluasi betis untuk nyeri tekan, tanda Identifikasi dini terjadinya trombus dan
homan positif dan inflamasi. intervensi dapat mencegah terjadinya
embolus.
Observasi tanda berlanjutnya pendarahan, Depresi mekanisme
pendarahan terus menerus dari sisi injeksi pembekuan/sensitifitas pada antikoagulan
atau membran mukosa, atau ekimosis dapat mengakibatkan episode pendarahan
karena trauma minimal. yang dapat mempengaruhi kadar
SDM/volume sirkulasi.
Observasi kegelisahan, kacau mental, Emboli lemak dapat terjadi biasanya pada
nyeri dada tiba-tiba, takikardia, demam, 72 jam pertama pascaoperasi karena
terjadinya petekie. manipulasi traumatik sumsum tulang.
Kolaborasi
Berikan cairan IV, tambahan darah atau Memperbaiki volume sirkulasi untuk
plasma sesuai kebutuhan. mempertahankan perfusi.
Berikan obat sesuai indikasi, contoh Agen antikoagulan/antitrombosit
natrium warfarin, heparin, aspirin, mungkin digunakan untuk menurunkan
dekstranberat molekul rendah. risiko tromboflebitis dan emboli lemak.
Gunakan kompres hangat atau dingin Kantong es pertama kali digunakan untuk
sesuai indikasi. membatasi pembentukan
edema/hematoma. Panas kemudian
digunakan untuk meningkatkan sirkulasi,
membantu perbaikan edema jaringan.
Gunakan penutup kaki elastik atau Meningkatkan aliran balik vena dan
stoking antiembolik. mencegah stasis vena, menurunkan risiko
pembentukan trombus.

4. Nyeri akut b.d agen pencedera biologik, fisik/psikologik

Kriteria Hasil: keluhan nyeri hilang atau terkontrol.


Tindakan/Intervensi Rasional
Kaji keluhan nyeri, perhatikan intensitas Memberikan informasi sebagai dasar
(skala 0-10), lamany dan lokasi. dan pengawasan keefektifan intervensi.
Pertahankan posisi tepat pada ektremitas Menurunkan spasme otot dan tegangan
yang dioperasi. pada prostese yang baru dan jaringan
sekitar.
Berikan tindakan kenyamanan (contoh Menurunkan tegangan otot,
penggunaan gulungan lumbar, perubahan memfokusskan kembali perhatian,
posisi sering, pijatan punggung) dan aktivitas meningkatkan rasa kontrol, dan dapat
tarapeutik. Dorong teknik manajement stres meningkatkan kemampuan koping
(contoh relaksasi progresif, bimbingan dalam menajemen ketidaknyamanan
imajinasi, visuaisasi) dan penggunaan atau nyeri yang menetap selama
sentuhan tarapeutik. periode lama.
Beri obat sebelum aktivitas atau prosedur. Menurunkan tegangan otot: membantu
partisipasi.
Selidiki keluhan nyeri sendi berat tiba-tiba Pengenalan dini terjadi masalah seperti
dengan spasme otot dan perubahan mobilitas dislokasi prostese atau emboli paru
sendi; nyeri dada tiba-tiba, berat dengan (darah/lemak), memberikan
dispnea dan gelisah. kesempatan untuk intervensi cepat dan
mencegah komplikasi serius.
Gunakan kantong es sesuai indikasi. Meningkatkan vasokontriksi untuk
menurunkan pendarahan atau
pembentukan edema area beda dan
mengurangi presepsi ketidaknyamanan.
BAB IV

PENUTUP

B. KESIMPULAN

Sendi lutut merupakan persendian yang paling besar pada tubuh manusia. Sendi ini
terletak pada kaki yaitu antara tungkai atas dan tungkai bawah. Pada dasarnya sendi lutut
ini terdiri dari dua articulatio condylaris diantara condylus femoris medialis dan lateralis dan
condylus tibiae yang terkait dan sebuah sendi pelana , diantara patella dan fascies patellaris
femoris. Gerakan yang dapat dilakukan oleh sendi lutut yaitu gerakan fleksi , ekstensi dan
sedikit rotatio.

Fungsi dari sendi lutut ini adalah untuk mengatur pergerakan dari kaki, dan untuk
menggerakkan kaki ini diperlukan koordinasi berikut ini :

Otot- otot yang membantu menggerakkan sendi.

Capsul sendi yang berfungsi untuk melindungi bagian tulang yang bersendi supaya
jangan lepas bila bergerak.

Adanya permukaan tulang yang dengan bentuk tertentu yang mengatur luasnya
gerakan.

Adanya cairan dalam rongga sendi yang berfungsi untuk mengurangi gesekan antara
tulang tulang rawan pada permukaan sendi.

Ligamentum - ligamentum yang ada di sekitar sendi lutut yang merupakan


penghubung kedua buah tulang yang bersendi sehingga tulang menjadi kuat untuk
melakukan gerakan-gerakan tubuh.

Total knee arthrosplasty modern terdiri dari pengangkatan penyakit permukaan


articular dari lutut yang diikuti dengan melapisi kembali dengan komponen metal dan
polietilen prostetik. Indikasi utama untuk total knee arthroplasty adalah untuk mengurangi
rasa nyeri yang berhubungan dengan arthritits di lutut pada pasien yang gagal dengan terapi
non operatif.
Evaluasi pra operasi yang hati-hati harus dilakukan untuk menentukan diagnosa yang
tepat, mengidentifikasi kebutuhan untuk operasi, membantu perencanaan operasi dan
mencegah komplikasi pada periode perioperatif. Management postoperatif ini meliputi
profilaxis melawan infeksi, vena tromboemboli dan terapi fisik yang paling cocok agar
mendapatkan pergerakan lutut yang paling baik dan rehabilitasi yang aman yang dapat
dipraktekkan.
Daftar pustaka

Doenges. Marilynn., MoorHouse. Mary., Geissles. Alice. (1993). Rencana asuhan


keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Edisi
ke 3. Jakarta: EGC

Noer. Sjaifoellah., dkk. (1996). Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid 1 edisi ke 3.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Helmi. Zairin. Noor. (2012). Buku ajar gangguan muskuloskeletal. Jakarta: Salemba
medika

Muttaqin. Arif. (2008). Buku saku gangguan moskuloskeletal. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai