Anda di halaman 1dari 18

TUGAS COMPOUNDING AND DISPENSING DAN PELAYANAN KEFARMASIAN

TUGAS COMPOUNDING AND DISPENSING DAN PELAYANAN KEFARMASIAN Oleh : KELOMPOK 6 I Putu Oka Suartama (130851501

Oleh :

KELOMPOK 6 I Putu Oka Suartama (1308515014)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA

2014

1

I.

RESEP

I. RESEP Ketika pasien datang ke apotek, apoteker akan menyapa pasien dan memperkenalkan diri sebagai apoteker

Ketika pasien datang ke apotek, apoteker akan menyapa pasien dan memperkenalkan diri sebagai apoteker di apotek tersebut. Selanjutnya apoteker akan menanyakan maksud dan tujuan pasien tersebut datang ke apotek. Setelah pasien menyatakan maksud dan tujuannya datang ke apotek, maka apoteker akan menganalisis kelengkapan resep yang dibawa pasien dan memeriksa apakah obat-obat yang diresepkan oleh dokter tersedia di apotek tersebut atau tidak.

2

II. SKRINING RESEP

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek,

dinyatakan bahwa skrining resep yang dilakukan oleh apoteker meliputi:

A. Persyaratan administratif :

  • - Nama, SIP, dan alamat dokter

  • - Tanggal penulisan resep

  • - Tanda tangan/paraf dokter penulis resep

  • - Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien

  • - Nama obat, potensi, dosis, dan jumlah yang diminta

B.

  • - Cara pemakaian yang jelas

  • - Informasi lainnya

Kesesuaian

farmasetik:

bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas,

inkompatibilitas, cara, dan lama pemberian. C. Pertimbangan klinis: adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian

(dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain).

Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan. Apoteker juga

melakukan penyiapan obat yang meliputi peracikan, etiket, kemasan obat yang diserahkan, penyerahan obat, informasi obat, konseling, dan monitoring penggunaan obat.

Persyaratan Administratif

Kelengkapan Resep

Ada

Tidak ada

 

Nama/keahlian

SIP

SIK

Identitas dokter

Alamat rumah

Alamat praktek

No Telp

Hari dan jam kerja

 

Simbol R/

Superscriptio

Nama Kota

Tanggal resep

Inscriptio

Nama obat

Kekuatan/potensi obat

3

 

Jumlah obat

Subscriptio

Bentuk sediaan obat (BSO)

 

Frekuensi pemberian

Signatura

Jumlah pemberian obat

Waktu minum obat

 

Informasi lain

Penutup

Paraf

Tanda tangan

 

Nama

Alamat

Identitas pasien

Umur

Jenis kelamin

 

Berat badan

Tinggi badan

Berdasarkan persyaratan di atas, diketahui identitas dokter yang dicantumkan pada resep tersebut cukup lengkap karena sudah terdapat Nama dokter, SIP, Alamat Praktek dan No. Telepon. Walaupun tidak terdapat SIK, dan alamat dokter, tetapi dengan adanya no telepon dan alamat praktek, kita bisa mengkonfirmasikannya tentang keabsahan resep diatas. Waktu minum obat dan bentuk sediaan obat yang diberikan telah tercantum, walau tidak terdapat keterangan sebelum dan sesudah makan namun tugas kita sebagai apoteker bisa nantinya memberikan keterangan lebih lengkap kepada pasien. Data mengenai waktu minum obat penting diketahui untuk menentukan waktu penggunaan obat (sebelum atau sesudah makan) guna menghindarkan terjadinya interaksi antar obat yang digunakan sehingga penggunaan obat dapat memberikan efek yang optimal, sedangkan data mengenai bentuk sediaan obat diperlukan untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam pemberian obat sehingga dapat disesuaikan antara bentuk sediaan obat dengan indikasi untuk setiap tahapan terapi yang dijalani pasien. Untuk identitas pasien datanya sudah cukup lengkap. Walaupun identitas jenis kelamin pasien tidak ada,namun dari jenis obat yg diberikan yang ditujukan untuk wanita hamil,maka pasien diperkirakan wanita. Identitas pasien diperlukan untuk menghindari terjadinya medication error dalam

4

melakukan perhitungan dosis individual dan mempermudah penelusuran tempat tinggal pasien apabila terjadi masalah atau kesalahan dalam melayani obat ataupun untuk melakukan monitoring dan evaluasi pengobatan pasien. Pada respe ini, pasien termasuk kategori pasien dewasa sehinngga untuk perhitungan dosisnya bisa digunakan dosis lazim dan dosis maksimum pasien dewasa.

5

II.

Indikasi obat

 

Nama Sediaan

 

Dosis

 

Dosis dalam

 

Indikasi

(Kandungan)

dalam

literatur

Resep

 

Pervita

1

x sehari

Dewasa :

 

Sebagai multivitamin

(Vit. A 10,000

1

kaplet

-vit A: 10. 000 IU Vit B 1 : 50 mg

IU,

Vit.

B 1 20

 

mg,

VitB 6 : 10 mg VitB12: 100-200 mcg

Vit.

B 2 5

mg,

Vit. B 6 10 mg,

(defisiensi B12)

Vit.

B 12 5

Vit.

Vit C: 75 mg/hari

mcg,

C

VitD: 100IU (dwasa)

150

mg,

Vit E: 8 mg/hari

Vit. D 3 400 IU,

(dwasa wanita)

Vit. E 10 mg)

(medscape, 2014) (1 kaplet sehari)

Prolacta DHA

1

kali

DHA: Hipercolestrol:

Termasuk dalam

kelas

(DHA

214

sehari

4g/hari

 

lipid modifying agents sehingga digunakan untuk

mg,EPA 20 mg vit E 10 mg)

Hiper triglicerydemia 4 g/hari EPA:

hipertriglecerydemia dan hipocolestromia (medscape, 2014)

hipercolestromia

4

g/hari

 

Hipercolestromia

1-4

g/hari

 

Vit

E:

8

mg/hari

(dwasa wanita)

 

(medscape, 2014)

(1

softgel

sehari)

MIMS 2014

Natabion

1x sehari

Fe fumarat: 150-200

Multivitamin zat besi, dan

(Fe fumarate 360 mg, folic acid 1.5 mg, vit

1

kapsul

mg untuk defisiensi besi

mineral. Dan cholecalciferol digunakan

6

B 12 15 mcg, Ca

 

Asam folat

400 mcg

untuk pencegahan

carbonate 200

(pria).

osteoporosis. (medscpae

mg, vit C 75 mg,

Cholcalciferol dwasa:

2014). Anemia untuk

cholecalciferol 400 IU.)

800-1000 IU/hari (Medscape 2014)

kehamilan dan ibu menyusi (MIMS 2014)

(1 kapsul sehari) MIMS 2014

Preabor

  • 1 x sehari

Terancam aborsi 1 tab

Termasuk dalam kelas

  • 1 tablet

derivat estren progestogens

(Allylestrenol)

kali sehari 5-7 hari; terancam persalinan prematur: max 40 mg

yang digunakan dalam pembentukan progestogenik (MIMS

sehari;

kebiasaan

online 2014)

aborsi 1-2 tab sehari,

minimal 1 bulan setelah masa kritis (MIMS online, 2014)

Ossavit

(Ca

  • 1 x sehari

Ca citrate: 1 g/hari

Digunakan

untuk

citrate 500 mg,

  • 1 kaplet

VitK 1 : 65 mcg/dl

pencegahan

dan

vit

vit

D 3 200

IU,

(Medscpae, 2014)

pengobatan

osteoporosis

K 1 20

mcg,

dan

untuk

multivitamin

Mg 100 mg, Zn

(1-kaplet sehari)

pada

kehamilan

dan

5 mg. Per 5 mL

MIMs 2014

laktasi.

syr Ca

citrate

250

mg,

vit

D 3 100

IU, Mg

25 mg, Zn 5

mg)

III. SKRINING FARMASETIS

 

1.

Bentuk sediaan

 

:

kaplet,tablet,

bentuk

sediaan

ini

cocok

untuk keadaan pasien yaitu pada pasien dewasa.

7

2.

Dosis : pada obat semua yang merupakan produk jadi dan dilihat dari dosis semuanya sudah memenuhi rentang terapi.

  • 3. : sudah mencukupi

Potensi

  • 4. : semua obat harus disimpan dalam wadah kedap

Stabilitas

udara, di tempat kering serta terhindar dari sinar matahari langsung

  • 5. Inkompatibilitas

:

antara

sedian

1

dengan

yang

lain

tidak

bisa

dicampurkan karena terdapat sedian salut film (pervita),sehingga

dibiarkan sedian diberikan satu2., .

  • 6. Cara

: penggunaan secara oral untuk semua sediaan telah

cocok untuk pasien.

IV.

SKRINING FARMAKOLOGI (ANAMNESA)

Pada tahapan ini dilakukan anamnese kefarmasian secara umum yang dilakukan berdasarkan analisis terhadap jenis obat dan indikasi masing- masing obat yang diresepkan dokter kepada pasien. Hasil analisis terhadap indikasi dan tujuan pemberian masing-masing obat dalam resep perlu dipastikan kebenarannya dengan bertanya kepada pasien menggunakan metode Three Prime Questions pada tahap selanjutnya. Pada resep ini, pasien diresepkan 5 jenis sediaan yaitu pervita sebagai multivitamin, prolacta (DHA dan EPA) untuk pasien hipercolestrol, natabion digunakan sebagai multivitamin dan dapat pula digunakan untuk pencegahan anemia pada kehamilan, serta untuk pencegahan osteoporosis, preabor digunakan untuk mencegah terjadinya kelahiran bayi prematur, dan ossavit digunakan untuk pencegahan osteoporosis dan sebagai multivitamin pada kehamilan. Berdasarkan kombinasi obat yang diberikan oleh dokter tersebut diduga pasien memperoleh kombinasi obat untuk mencegah terjadinya bayi lahir prematur dan pasien juga mengalami hipercolestrol serta pencegahan untuk osteoporosis. Karena wanita dewasa kemungkinan terjadinya osteoporosis lebih tinggi daripada pria. Untuk meyakinkan anamnese perlu dilakukan cross check kepada pasien mengenai keluhan-keluhan yg diderita pasien (KepMenKes No.

1023/Menkes/SK/XI/2008).

8

  • V. METODE SOAP

V.1.

Subjektif

Untuk meyakinkan anamneses bahwa pasien mengalami asma

maka ada hal-hal yang perlu ditanyakan kepada pasien melalui metode Three Prime Questions antara lain:

Apoteker : “Bagaimana penjelasan dokter tentang obat-obat yang diresepkan untuk ibu?”

Pasien : “Dokter mengatakan kombinasi obat ini digunakan untuk mencegah kahamilan prmatur, untuk mengontrol kolestrol dan mencegah terjadinya osteoporosis:

Apoteker : “Gejala apakah yang biasanya ibu alami setiap harinya” Pasien : “terjadi kontraksi rahim lebih sering, rasa kram diperut, nyeri dibagian punggung bawah” Apoteker : “Apakah ibu mempunyai riwayat gangguan peda perut?” Pasien : “iya saya mengalami riwat kolestrol tinggi

Apoteker : Bagaimana penjelasan Dokter tentang cara penggunaan obat yang ibu terima?” Pasien : “Dokter tidak menjelaskan cara pemakaian obatnya”

(oleh karena itu, dalam hal ini apoteker berperan memberikan

penjelasan yang lengkap mengenai cara pakai obat tersebut).

Apoteker : “Apa kata Dokter mengenai harapan setelah ibu menggunakan obat ini?” Pasien : “Dokter hanya mengatakan setelah 15 hari saat obat saya habis, saya harus kembali ke dokter untuk mengecek kondisi saya.”

V.2. Objektif

9

Setelah mendapatkan penilaian secara subjektif, maka perlu dilihat secara objektif kondisi pasien dengan melihat data laboratorium pasien. Tidak terdapat data hasil pemeriksaan laboratorium yang diperoleh apoteker, sehingga apoteker hanya dapat menilai dari data subjektif saja. Berdasarkan indikasi obat pada resep serta penilaian subjektif diketahui pasien mengalami asma persisten berat dan mengalami maag.

V.3. Assessment

Kelahiran prematur adalah kontraksi dan pembukaan leher rahim sebelum 37 minggu masa kehamilan, dianggap sebagai persalinan prematur. Kehamilan normal berakhir dalam 40 minggu setelah hari pertama

haid terakhir atau 38 minggu setelah terjadinya pembuahan. Bahaya dari kelahiran prematur adalah lahirnya bayi yang belum sempurna pertumbuhannya dan beresiko tinggi untuk mengalami komplikasi. Sekitar 10% dari semua kehamilan berakhir dengan kelahiran prematur. Dan sekitar 60% komplikasi serius atau kematian bayi terjadi akibat kelahiran prematur.

Dan dilihat dari kombinasi obat pasien diduga mengalami gejala lahir prematur dan penyakit kolestrol.

Tabel 3. Drug Related Probrem

 

Kategori

DRP

Pengatasan

Indikasi yang tidak diberi terapi

-

-

Pemilihan Obat yang tidak tepat (tidak sesuai/toksik)

-

-

Dosis sub terapi

-

-

Dosis diatas rentang terapi

-

-

Pasien tidak memperoleh obat (obat tidak diminum)

-

-

Ada reaksi obat yang tidak diinginkan

-

-

Interaksi Obat

Terjadi interaksi antara calcium karbonat dengan cholecalciferol (significant)

Sehingga diperulakan monitoring secara berkala mengenai ADR yg timbul . dan natabion diberikan selang waktu sekitar 6-8 jam setelah obat yg lain

diminum

Pasien memperoleh obat tanpa indikasi

-

-

V.4.

Plan

10

VII. PENYIAPAN OBAT (COMPOUNDING) B. Compounding

Resep yang diberikan

merupakan sediaan jadi,sehingga teknik compunding

tidak dilakukan tinggal memberikan pelabelan kepada pasien dan edukasi secara tepat

A.

Pelabelan No: 001 sesetan 15 1 2014 Nama : Ny. Ali Pervita, Prolacta, natabion, preabor, ossavit
Pelabelan
No: 001
sesetan 15 1 2014
Nama
: Ny. Ali
Pervita, Prolacta, natabion, preabor,
ossavit
1 x sehari 1 kapsul/gel
Diminum setelah makan

VIII. PENYERAHAN OBAT (DISPENSING) DAN KIE (KOMUNIKASI, INFORMASI, DAN EDUKASI

11

Menurut Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian di Apotek, penyerahan atau dispensing obat oleh apoteker meliputi:

  • 1. Melakukan pemeriksaan akhir sebelum dilakukan penyerahan (kesesuaian antara nama, jumlah, bentuk sediaan, penulisan etiket dengan resep). Hal ini dilakukan oleh apoteker

  • 2. Memanggil nama dan nomor tunggu pasien (minimal menggunakan 2 kata)

  • 3. Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien. Memastikan bahwa pasien yang datang memang benar merupakan pemilik resep.

  • 4. Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat

  • 5. Membuat salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf oleh apoteker

  • 6. Menyimpan resep pada tempatnya dan mendokumentasikan

Penyerahan obat-obat kepada pasien disertai dengan pemberian informasi/KIE. Adapun KIE yang harus diberikan kepada pasien adalah:

Pemberian informasi obat meliputi:

  • 1. Pasien diberikan 15 tablet dengan dosis oral semuanya 1 kali sehari, dan setelah habis pasien diminta untuk datang kembali kedokter mengontrol keadaannya. Obat itu digunakan selama 15 hari.

  • 2. Jika kram perut,atau nyeri di bagian punggung bawah masih terjadi hubungi dokter.

IX. MONITORING DAN EVALUASI

Setelah pasien memperoleh obat, masih ada satu tahapan yang harus dilakukan, yaitu monitoring penggunaan obat untuk memantau apakah pasien sudah menggunakan obat secara baik, benar, dan tepat. Monitoring juga bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien setelah menggunakan obat tersebut apakah obat yang diberikan dapat menimbulkan respon terapi yang diinginkan, tidak menimbulkan respon, atau malah menimbulkan respon terapi yang merugikan (adverse drug reaction). Jika ditemukan adanya ADR atau efek samping obat, maka pasien dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter agar dapat dipertimbangkan mengenai tindakan penanganan yang sesuai.

12

Monitoring dan evaluasi bisa dilakukan melalui telepon. Adapun monitoring yang dapat dilakukan

  • 1. Melihat gejala yang ditimbulkan akibat dari kombinasi obat antara calcium carbonat dengan yang mengakibatkan hipercalsimea.

  • 2. Jika hejala itu timbul,maka disarankan kedokter atao ke apoteker.

13

DAFTAR PUSTAKA

Medscape, 2014.

Lacy,

C.F.,

L.L.

Armstrong,

M.P. Goldman,

and

L.L.

Lance.

2009.

Drug

Information Handbook, 20 th Edition. Hudson: Lexi-comp. MIMS online, 2014. Available at: http://www.mims.com/Indonesia/drug/info

Edition. London: Pharmaceutical Press.

14

Lampiran I

CATATAN PENGOBATAN PASIEN

Nama Pasien Umur Tinggi Badan/ Berat Badan Alamat No Tlp/ Hp Alergi

: Tono Suherman : 69 tahun : 160 cm/ 53 kg : Jl. Poh Gading No. 2 Bukit-Jimbaran : 085792984717

:

:

Kondisi lainnya

- -

15

Tanggal

Waktu

Obat dan Dosis

Rute

Obat

Lain

yang

Nama

Dokter/

Nama Apoteker/

Paraf

Pemberian

Dikonsumsi

No Tlp

No Tlp

Apoteker

16/12/13

09.00

Kapsul

racikan

oral

 

-

dr. Ayu Udayana

,

Melysa

 

WITA

(aminofilin 200 mg 10

kapsul selama 10 hari)

 

Sp.PD/

CAhyani,

tablet, sanexon 4 mg 10

08123456789

S.Farm.,

Apt/

tablet dan ambroksol 30

(0361) 774488

mg 20 tablet) (2xsehari 1 kapsul selama10 hari) Neurobat (sekalisehari 1 tablet selama 10 hari) Rocer 20 mg (1xsehari 1

16

Lampiran 2. Copy Resep

Apotek Udayana Farma Jl. Kampus UNUD no. 1 Jimbaran–Bali Telp. (0361) 774488

APA

: Melysa Cahyani, S. Farm., Apt.

SP

: KP.00.01.1.3.00022

SIPA

: 007/II-B/2007

 

Denpasar, 03-12-2011

 

Salinan Resep

Nomor

: 001

Dibuat tanggal

Ditulis tanggal

:

Dari dokter

dr. Ayu Udayana , Sp.PD

: 16-12-2013

Pro

: Juni

: 16-12-2013

R/

Aminophylin

100 mg

Sanexon

2 mg

GG

½ tablet

m.f. pulv.caps X S 2 dd I cap.

detur

R/

Neurobat tab S 1 dd I PC

X

detur

R/

Rocer tab S 2 dd I AC

X

detur

p.c.c

Cap apotek yang menyalin:

paraf atau tanda tangan apoteker

Lampiran 3. Diskusi Resep Dengan Dokter

Lampiran 3. Diskusi Resep Dengan Dokter 18

18