Anda di halaman 1dari 32

UJIAN

COMPOUNDING AND DISPENSING DAN PELAYANAN KEFARMASIAN

Oleh:
Ni Putu Oka Mahayani (1308515021)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2013
I. Resep dan Pembacaan Resep

Dr Mitra SpKK
SIP: 129/DIKES/2009
Jl. Raya Sesetan No. 98
0361 7787788
Dps 15-1-2014

R/ Digenta crm I
S sue
R/ Formyco crm I
S sue
R/ Dextamin syr FL I
S 3 d d c th I
Pro: Ani Miani
Umur 11 tahun
Alamat: Sesetan

Gambar 1. Resep
Ketika pasien datang ke apotek, apoteker akan menyapa pasien dan
memperkenalkan diri sebagai apoteker di apotek tersebut. Selanjutnya apoteker akan
menanyakan maksud dan tujuan pasien tersebut datang ke apotek. Setelah pasien
menyatakan maksud dan tujuannya datang ke apotek, maka apoteker akan menganalisis
kelengkapan resep yang dibawa pasien dan memeriksa apakah obat-obat yang diresepkan
oleh dokter tersedia di apotek tersebut atau tidak.

II. Skrining Resep


Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1027/Menkes/
SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, dinyatakan bahwa skrining
resep yang dilakukan oleh apoteker meliputi:
1. Persyaratan administratif :
Nama, SIP, dan alamat dokter
Tanggal penulisan resep
Tanda tangan/paraf dokter penulis resep
Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien
Nama obat, potensi, dosis, dan jumlah yang diminta
Cara pemakaian yang jelas
Informasi lainnya
2. Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas,
cara, dan lama pemberian.
3. Pertimbangan klinis: adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi,
jumlah obat dan lain-lain).
Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis
resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan
persetujuan setelah pemberitahuan. Apoteker juga melakukan penyiapan obat yang meliputi
peracikan, etiket, kemasan obat yang diserahkan, penyerahan obat, informasi obat, konseling,
dan monitoring penggunaan obat.
2.1 Persyaratan Administratif
Hasil skrining persyaratan administrasi pada resep dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Skrining persyaratan administratif
Kelengkapan Resep Ada Tidak ada
Nama
SIP
SIK
Identitas
Alamat rumah
dokter
Alamat praktek
No Telp
Hari dan jam kerja
Simbol R/
Superscriptio Nama Kota
Tanggal resep
Nama obat
Inscriptio Kekuatan/potensi obat
Jumlah obat
Bentuk sediaan obat
Subscriptio
(BSO)
Frekuensi pemberian
Jumlah pemberian obat
Signatura
Waktu minum obat
Informasi lain
Penutup Paraf
Tanda tangan
Nama
Alamat
Identitas Umur
pasien Jenis kelamin
Berat badan
Tinggi badan

Berdasarkan persyaratan di atas, diketahui identitas dokter yang dicantumkan pada


resep tersebut kurang lengkap karena tidak tercantum SIK, alamat praktek, serta paraf atau
tanda tangan dokter penulis resep. Tidak adanya SIK, paraf atau tanda tangan dokter penulis
resep akan menjadikan resep tidak otentik dan tidak sah, namun karena telah diketahui SIP
dari dokter dan nomor telepon dokter, maka dokter dapat dihubungi untuk melengkapi atau
mengetahui keabsahan resep yang ada.
Untuk kekuatan obat, tidak terdapat kekuatan obat pada seluaru obat yang diresepkan,
waktu minum obat dan bentuk sediaan obat yang diberikan tidak tercantum seluruhnya.
Selain itu, identitas pasien (alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan) tercantum
dalam resep hanya saja tidak terdapat keterangan mengenai jenis kelamin, berat badan, dan
tinggi badan pasien.
Berdasarkan pemeriksaan kelengkapannya, resep di atas kurang lengkap karena
terdapat beberapa informasi yang tidak tercantum, namun karena dalam hal ini diumpamakan
dokter penulis resep adalah dokter yang praktek di apotek tersebut dan informasi penting
yang diperlukan untuk peracikan resep telah tersedia sehingga resep dapat diproses lebih
lanjut. Untuk melengkapi hal yang kurang, terutama mengenai identitas pasien maka dapat
langsung ditanyakan kepada pasien tersebut.
Berikut merupakan dialog yang dapat terjadi pada saat menanyakan hal tersebut
kepada pasien:
Apoteker : Maaf bapak, resep ini untuk siapa?
Pembawa resep : Ini resep untuk anak saya mbak.
Apoteker : Baik pak, saya lihat dulu resepnya. Mohon maaf bapak, apakah
sebelumnya bapak sudah pernah menebus resep di apotek ini?
Pembawa resep : Belum mbak, ini baru pertama kali.
Apoteker : Baik bapak, sebelum saya menyiapkan resep bapak, saya ingin
menjelaskan terlebih dahulu bahwa di apotek ini kami memerlukan
informasi mengenai identitas dan catatan pengobatan bapak sebagai
kelengkapan administrasi bagi kami dan untuk memastikan bahwa
pengobatan yang diberikan telah memberikan manfaat yang optimal.
(sambil menunjukkan sebuah formulir)
Pembawa resep : Baik mbak.
Apoteker : Mohon maaf sebelumnya bapak, jika boleh tahu, berapa berat badan
dan tinggi badan bapak?
Pembawa resep : Berat 29 kg dan tinggi badan anak saya sekitar 139 cm.
Apoteker : Ada alamat dan no telepon yang dapat kami hubungi pak?
Pembawa resep : Jalan Mawar sesetan. No telepon saya 0817474777.
Apoteker : Apakah anak bapak memiliki riwayat alergi? Atau ada obat yang
sedang bapak konsumsi?
Pembawa resep : Kebetulan tidak ada mbak.
Apoteker : Baik pak. Terima kasih banyak atas waktu dan informasinya pak, data
bapak sudah kami catat. Ini nomor antrian bapak, mohon ditunggu
sebentar ya pak, nanti ketika obatnya sudah siap, nama bapak akan kami
panggil.

Berdasarkan percakapan di atas, maka identitas pasien sudah dilengkapi dan dibuat di
kartu pengobatan pasien seperti di lampiran 1. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat
dirangkum permasalahan terkait persyaratan administratif dan pengatasannya sebagai berikut:
- Identitas dokter dan identitas pasien yang tercantum di dalam resep tersebut tidak lengkap.
Dalam resep hanya tercantum obat-obatan yang akan diberikan.
Pengatasan : Dalam hal ini dianggap dokter penulis resep adalah dokter yang praktek di
apotek tersebut sehingga untuk masalah bentuk sediaan dan waktu minum
obat bisa segera dikomunikasikan dengan dokter penulis resep.
- Beberapa sediaan dalam resep tidak diketahui jenis sediaannya
Pengatasan : Dilakukan penyesuaian jenis sediaan dengan jenis sediaan yang beredar di
pasaran dan kondisi klinik pasien.

2.2 Skrining Farmasetis


A. Bentuk sediaan
Dalam resep sudah diketahui bentuk sediaan yaitu digenta dan formyco dalam
bentuk cream dan dextamin dalam sirup.

B. Dosis
Dosis masing-masing sediaan dalam resep tidak tercantum dalam resep, sediaa
berupa krim yang tidak menggunakan dosis, dan dextamin syr yang tidak diketahui
dosisnya.

C. Potensi/kekuatan
Penulisan kekuatan pada resep di atas masih kurang lengkap sehingga perlu
disesuaikan antara bentuk sediaan dari nama obat yang disebutkan dalam resep dengan
sediaan yang ada di pasaran. Jika tidak terdapat potensi dari masing-masing obat, maka
potensi yang dimaksud dalam resep adalah potensi terkecil dari sediaan tersebut. Bila
perlu, apoteker harus berkonsultasi kembali kepada dokter untuk memastikan bahwa
potensi obat tersebut.

D. Stabilitas
Resep terdiri dari tiga sediaan tunggal yang memiliki stabilitas yang berbeda setiap
sediaan. Adapun stabilitas masing-masing sediaan tersebut adalah:
a. Digenta cream
Stabil pada suhu kamar
b. Formyco cream
Stabil pada suhu kamar (25 oC) (Lacy et al., 2011)
c. Dextamin syr
Stabil pada suhu kamar (25 oC) (Lacy et al., 2011)

E. Inkompatibilitas
Inkompatibilas apabila sediaan dapat terjadi apabila suatu sediaan dicampurkan
dengan makanan, tempat penyimpananya, maupun dengan sediaan lain. Pada resep,
tidak dilakukan pencampuran masing-masing sediaan yang berarti masing-masing
sediaan pada resep tidak terdapat masalah inkompatibilitas karena semua komponen
obat dalam resep diberikan dalam sediaan.

F. Cara dan lama terapi


Dalam resep belum tercantum cara pemakaian dan lama penggunaan obat dalam resep
sehingga perlu disesuaikan dengan algoritma terapi atau pertimbangan dokter
2.3 Skrining Farmakologi
Pada tahapan ini dilakukan anamnese kefarmasian secara umum yang dilakukan
berdasarkan analisis terhadap jenis obat dan indikasi masing-masing obat yang diresepkan
dokter kepada pasien. Hasil analisis terhadap indikasi dan tujuan pemberian masing-masing
obat dalam resep perlu dipastikan kebenarannya dengan bertanya kepada pasien
menggunakan metode Three Prime Questions pada tahap selanjutnya.
Pada resep ini, pasien diresepkan 3 jenis sediaan, yaitu Digenta cream, Formyco cream, dan
dextamin syr. Digenta krim mengandung gentamicin sulfate yang setara dengan Gentamicin 1
mg dan betamethasone dipropionate yang setara dengan betamethasone 0,5 mg. Formyco
krim mengandung ketokonazole dan Detamin syr yang mengandung Dexamethasone
(micronized) 0.5 mg Dexchlorpheniramine maleate 2 mg.

Adapun obat-obatan yang diberikan kepada pasien serta indikasi dan dugaan tujuan
pemberiannya tercantum dalam Tabel 2.

Tabel 2. Obat dalam Resep, Komposisi, Kelas Farmakologi, dan Indikasinya.


Nama Kategori
Kandungan Indikasi
sediaan Farmakologi
Gentamicin dermatitis, seperti dermatitis atopik, dermatitis kontak,
Digenta sulfate dan Antibiotik, dermatitrs statis, dermatitis eksfoliatif, neurodermatitis,
cream Betanethasone kortikosteroid lichen planus, eksema, intertrigo, psoriasis, pruritus
dipropionate anogenital dan senilis.
Tinea corporis (kurap pada badan), tinea cruris (kurap
Antifungi 2 minggu
Formico lipat paha), tinea versicolor (panu), tinea manus
Ketokonazole atau hingga gejala
cream (seperti kutu air tapi pada tangan), tinea pedis (kutu
hilang
air), & kandidiasis kulit, dermatitis seboroik.
Dexamethasone
(micronized) 0.5 Severe hay fever, chronic bronchial asthma, allergic
Dextamin mg rhinitis, atopic and contact dermatitis, drug reations,
Kortikosteroid
syr Dexchlorphenira serum sickness, allergic conjunctivitis, keratitis,
mine maleate 2 occular inflammatory disorders.
mg

Berdasarkan obat yang diresepkan dokter dan indikasinya (seperti yang tercantum pada
Tabel 2), pasien diduga mengalami gatal-gatal akibat dermatitis kontak yang terjadi karena
alergi disertai dengan tinea corporis. Digenta krim kemungkinan digunakan untuk mengobati
dermatitis yang dapat terjadi karena infeksi dan formyco digunakan dapat digunakan untuk
mengobati tinea sedangkan dextamin syr digunakan untuk mengatasi sumber utama
terjadinya penyakit tersebut yaitu alergi. Berdasarkan indikasi tersebut, penggunaan formyco
syr masih dipertanyakan mengingat jenis dermatitis yang terjadi kemungkinan disebabkan
alergi. Dugaan sementara adalah pasien mengalami dermatitis dan tinea, namun hal tersebut
perlu ditelusuri lebih lanjut dengan cara mewawancarai pasien dan mengkonfirmasi kembali
kepada dokter penulis resep.

III. Metode SOAP


III.1 Subjektif
Untuk meyakinkan dugaan di atas, maka apoteker bertanya kepada pasien terkait dengan
kondisinya menggunakan metode Three Prime Questions, yaitu:
Apoteker : Bagaimana penjelasan Dokter tentang obat yang Bapak terima?
Pasien : Dokter meresepkan obat-obatan tersebut untuk menghilangkan infeksi, rasa
gatal dan alergi pada anak saya.
Apoteker : Bagaimana penjelasan Dokter tentang cara penggunaan obat yang Bapak
terima?
Pasien : Dokter hanya menjelaskan bahwa krim dioleskan tipis-tipis pada bagian
tubuh yang terinfeksi dan sirup diminum 3 kali sehari (oleh karena itu,
dalam hal ini apoteker berperan memberikan penjelasan yang lengkap
mengenai cara pakai obat tersebut).
Apoteker : Apa kata Dokter mengenai harapan setelah Bapak menggunakan obat ini?
Pasien : Dokter berharap bahwa setelah meminum obat ini gatal pada kulit anak saya
hilang.

Karena informasi yang didapatkan dari pasien masih kurang maka untuk lebih
meyakinkan anamnese, Apoteker menggali informasi yang lebih dalam lagi dari pasien
mengenai keluhan yang dirasakannya sehubungan dengan indikasi dari masing-masing obat
yang diresepkan oleh dokter.

Apoteker : Sudah berapa lama anak Bapak gatal-gatal?


Pasien : Sudah 3 hari Mbak. Anak saya mengeluhan gatal sepanjang hari dan lebih parah
menjelang senja dan malam. Digaruk terus sampai ada beberapa bagian yang
terluka Mbak.
Apoteker : Apa terdapat bercak merah pada anak Bapak?
Pasien : Iya, Mbak. Ada beberapa bercak merah pada tangan anak saya
Apoteker : Selain ditangan, dibagian mana lagi anak Bapak menderit gatal?
Pasien : Dibagian punggung Mbak
Apoteker : Apakah gatal sudah melebar Pak?
Pasien : Belum Mbak, masih dipunggung sekitar10 cm gatalnya Mbak
Apoteker : Apakah anak Bapak mempunyai alergi tertentu?
Pasien : Saya kurang tahu Mbak. Tapi gatal-gatalnya ini muncul setelah anak saya
bermain.
Apoteker : Baiklah, Bapak. Ini nomor antriannya, silahkan menunggu sebentar saya akan
menyiapkan obat Bapak

Berdasarkan percakapan yang dilakukan dengan pasien, diperoleh data subjektif pasien
yaitu: tangan dan punggung pasien gatal-gatal dan terjadi kemerahan. Berdasarkan hal
tersebut diduga pasien mengalami dermatitis dan tinea corpurisakibat alergi yang dideritanya.
Untuk memastikan lebih lanjut perlu dilakukan penggalian informasi mengenai data objektif
pasien.

3.2 Objektif
Setelah mendapatkan penilaian secara subjektif, maka perlu dilihat secara objektif
kondisi pasien dengan melihat data laboratorium pasien. Data ini dapat diperoleh apoteker
dengan melihat catatan rekam medis pasien atau kartu diagnosa yang diperoleh dari dokter.
Berdasarkan data rekam medis pasien dan pengamatan langsung, diketahui terdapat bercak
merah pada tangan dan punggung pasien serta kondisi seperti gelembung pada tangan pasien.
Berdasarkan indikasi obat pada resep serta penilaian subjektif dan objektif, anamnese
kefarmasian untuk pasien Anak Ani dermatitis atopic yang dipicu oleh alergi dan tinea
corporis.

1.3 Asessment
Berdasarkan indikasi dari gentamicin dan setelah melihat algoritma dari masing-masing
dermatitis, maka kemungkinan dermatitis yang terjadi adalah eksema atau priorisis. Psoriasis
ditandai dengan merah, plak menebal dengan skala keperakan. Lesi bervariasi dalam ukuran
dan tingkat peradangan sedangkan eksema merupakan suatu reaksi alergi berupa gatal/ruam
pada kulit, juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri. Karena terapi yang diberikan
mengandung antibiotik maka kemungkinan pasien menderita eksema. Penggunaan kombinasi
steroid dengan antibiotic terbukti mampu mengatasi iritasi yang terjadi pada eksema.
Selain itu, diberikan pula formiko krim yang diindikasikan untuk mengobati tinea
korporis yang dialami oleh pasien. Tinea korporis yang terjadi pada pasien terjadi di bagian
punggung dan belum menyebar.
Dextami syr digunakan untuk mengobati alergi yang menyebabkan terjadinya gatal-gatal
pada pasien serta untuk mengobati peradangan yang terjadi.

1.4 Plan
Berdasarkan hasil analisis ketepatan pengobatan dan pengatasan DRP, maka apoteker
dapat membuat perencanaan sebagai berikut:
a Melihat Tata Laksana Terapi dan Diskusi dengan Dokter
Berdasarkan algoritma terapi eksema dan tinea corporis, terapi yang diberikan oleh
dokter sudah tepat. otitis eksternal dan selulitis, pengobatan terapi yang diberikan kepada
pasien sudah tepat. Untuk mengobati. Namun, untuk memastikan lebih lanjut dapat
dilakukan konfirmasi kepada dokter. mengenai resep yang diberikan kepada pasien (dengan
bahasa yang sopan).
Apoteker : Selamat siang Dok, saya apoteker dari apotek Warna. Maaf dok, apa ada
waktu sebentar, saya ingin menanyakan mengenai resep No. 72 atas nama n
Ani yang mendapatkan Digenta, Formyco, dan Dextamin syr.
Dokter : Baik, silahkan.
Apoteker : Begini Dok, apakah pengobatannya diindikasikan untuk eksema? Lalu
bagaimana dengan Formyco, dok?
Dokter : Iya benar, saya indikasikan untuk eksema karena hasil pemeriksaan fisiknya
tadi ditemukan gelembung pada tangan dan pasien merasa gatal. Selain itu,
Formyco digunakan untuk mengobati tinea yang terdapat pada punggung
pasien, Mbak. Dextaminnya saya gunakan untuk mengobati alergi yang
menjadi faktor penyebab. Bagaiaman? Apakah ada sesuatu mengenai resep
tersebut?
Apoteker : Baik dok. Tidak dok, saya hanya ingin mengkonfirmasi mengenai
penggunaan Formyconya dok. Terimakasih atas waktunya dok.

b Compounding
Apabila resep telah dikonsultasikan dan obat yang diperlukan tersedia pada apotek
tersebut (resep siap untuk dikerjakan), maka selanjutnya dilakukan penyiapan obat, yaitu:
- Digenta crim diberikan 1 tube dan diberi etiket biru dengan keterangan digunakan 2-3
kali sehari pada daerah yang bergelembung (tangan).
- Formyco crim diberikan sejumlah 1 tube dan diberi etiket biru dengan keterangan
digunakan 2-3 kali, d igunakan maksimal 2 minggu atau hingga gatal hilang
- Dekstamin syr diberikan 1 botol dan diberi label etiket putih dengan keterangan
diminum 1 kali sehari 1 sendok makan tablet segera setelah makan.
Setelah obat selesai disiapkan obat dikemas dan siap diserahkan ke pasien.

c Pelabelan Obat
a. Digenta

Apotek Warna
Jl. Mawar Melati No 144
Denpasar-Bali

APA : Oka Mahayani, S.Farm., Apt.


SIPA : 44/19/2455/DB/DP/201
No. R/: 72 Denpasar, 15-1-2014

An. Ani Miani (11 tahun)


Digenta Krim
Dioleskan tipis-tipis 2-3 kali sehari
TTD
OBAT LUAR
Semoga Lekas Sembuh

b. Formyco krim

Apotek Warna
Jl. Mawar Melati No 144
Apotek Warna
Denpasar-Bali
Jl. Mawar Melati No 144
APA : OkaDenpasar-Bali
Mahayani, S.Farm., Apt.
SIPA : 44/19/2455/DB/DP/201
APAR/:
No. : Liliana
72 Jasmine, S.Farm.,
Denpasar, Apt.
15-1-2014
SIPA : 44/19/2455/DB/DP/2010
An. Ani Miani (11 tahun)
No. R/: 72 Denpasar,
Formyco Krim 11-12-2013
Dioleskan tipis-tipis 1 kali sehari
Bapak Tria (58 tahun) TTD
OBAT LUAR
Levocin
GUNAKAN TT1 tablet
Maksimal
1 xsehari SELAMA 14 HARI Atau Hingga
sebelum/saat/setelah Gatal Hilang
makan
Semoga Lekas Sembuh TTD
HARUS HABIS
Semoga Lekas Sembuh
c. Dextamine
Apotek Warna
Jl. Mawar Melati No 144
Denpasar-Bali

APA : Oka Mahayani, S.Farm., Apt.


SIPA : 44/19/2455/DB/DP/2010

No. R/: 72 Denpasar, 15-1-2014

An. Ani miani (11 tahun)


Dextamin syr
3 x sehari 1 tablet sebelum/saat/setelah makan
TTD
Diminum hingga gatal hilang
Semoga Lekas Sembuh

d Dispensing dan KIE


1) Materi KIE
a) KIE mengenai obat yang diperoleh
1. Digenta digunakan 2-3 kali sehari tergantung dari keparahan gatal yang diderita oleh
pasien. Digenta digunakan hingga habis.
2. Formyco dioleskan 1 kali sehari (dapat digunakan sebelum tidur). Hindari penggunaan
berbarengan dengan Digenta. Formyco digunakan hingga gatal hilang atau maksimal 2
minggu.
3. Dextamin syr diminum 3 kali sehari sebanyak 1 sendok makan untuk mengobati alergi
yang diderita pasien. Dextamin digunakan hingga gatal hilang.
4. Obat disimpan pada suhu kamar dan hindari suhu panas serta udara lembab.

b) KIE nonfarmakologi
1. Memberikan pasien PMR dan menjelaskan manfaat serta kegunaan dari PMR tersebut
(PMR terlampir pada lampiran 1)
2. Cobalah untuk tidak menggaruk-garuk gatal yang ada pada kulit anak anda.
3. Hindari alergen yang dapat memperparah kondisi seperti debu dll.

2)Implementasi KIE (Dalam Bentuk Dialog)


Apoteker : Anak Ani nomor antrian 72, silahkan ke counter untuk mengambil resep
Pembawa resep : Ya
Apoteker : Maaf jika menunggu lama pak. Ini obatnya, pak. Totalnya ada 3 jenis
obat, pak. Yang ini tetes telinga Digenta dan Formyco untuk mengobati
gatal dan kemerahan, pada kulit anak anda
Pembawa resep : Iya
Apoteker : Digenta ini dioleskan pada tangan anak anda 2-3 kali sehari tergantung
keparanhan gatal yang dirasakan anak anda. Sedangkan formyco dioleskan pada punggung
anak anda. Yang ini dapat dihentikan apabila gatal dipunggung sudah hilang dan maksimal 2
minggu
Pembawa resep : Baik
Apoteker : Yang ini Dextamin sirup diminum 3 kali sehari sampai gatal hilang
Pembawa resep : Oh iya, ya Mbak
Apteker : Usahaka gatalnya jangan digaruk ya Pak, Hindari juga faktor-faktor yang
dapat memicu gatal tersebut
Pembawa resep : Oh iya mbak
Apoteker : Bagaimana pak, apa ada yang ingin bapak tanyakan?
Pembawa resep : Tidak, sudah cukup
Apoteker : Kalau begitu ini saya punya rekam pengobatan Bapak pak. Semua
catatan pengobatan anak Bapak ada disini, jadi, jika Bapak pergi ke dokter
atau apotek, mohon dibawa ya Pak, supaya pengobatan yang Bapak terima
lebih optimal. Di halaman akhir juga sudah terdapat petunjuk
penggunaanya Pak
Pembawa resep : Oh begitu ya Mbak. Baik Mbak. Jadi saya bawa rekamnya ini kemana
pun ya Mbak?
Apoteker : Iya pak. Untuk mempermudahkan, Bapak bisa meletakan rekam tersebut
didompet. Bagaimana pak?
Pembawa resep : Oh, oke Mbak.
Apoteker : Terima kasih atas waktunya Pak. Pembayaran dapat dilakukan di kasir
ya, Pak. Jika ada masalah atau yang ingin ditanyakan, Bapak bisa
menghubungi dokter atau apotek kami untuk berkonsultasi. Semoga lekas
sembuh ya pak
Pembawa resep : Iya, terima kasih
e Monitoring dan Evaluasi
Setelah pasien menerima obat, apoteker wajib melakukan monitoring dan evaluasi.
Monitoring dilakukan dengan cara memantau kepatuhan pasien dan ketepatan pasien dalam
menggunakan obat secara baik, benar, dan tepat serta perkembangan penyakit pasien.
Monitoring dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan pasien setelah
penggunaan obat, bagaimana efikasi dari pengobatan yang sedang dijalani, mengetahui ada
atau tidak efek yang tidak diinginkan dari pengobatan tersebut serta untuk
mengidentifikasikan DRP baru. Monitoring dan evaluasi bisa dilakukan melalui telepon.
Adapun monitoring yang dapat dilakukan yaitu:
a. Rencana Monitoring
1. Kepatuhan pasien
Kepatuhan pasien dimonitoring dengan menanyakan pasien mengenai penggunaan obat
yang diberikan kepada pasien, apakah pasien sudah meminum obat sesuai dengan aturan
pakainya atau tidak.

2. Efektivitas Terapi
a. Kondisi klinik : Monitoring efektivitas terapi dapat dilakukan dengan melihat
kondisi gejala penyakit pasien sudah membaik atau tidak dengan
menanyakan masih atau tidaknya gejala nyeri, gatal.
b. Tanda-tanda vital : -
c. Laboratorium :-
d. Waktu pemantauan :
Pemantauan dilakukan setiap 2 hari seali

3. Efek samping obat


a. Kondisi klinik : Monitoring efek samping terapi dapat dilakukan dengan
menanyakan ada atau tidaknya gejala-gejala yang ditimbulkan
akibat pengkonsumsian obat yang diberikan seperti, pusing, sakit
kepala, nyeri perut, diare atau konstipasi.
b. Tanda-tanda vital : -
c. Laboratorium :-
d. Waktu pemantauan : Pemantauan dapat dilakukan bersamaan dengan pemantauan
efektifitas obat. Pasien dapat diinformasikan untuk segera
melaporkan apabila terjadi efek samping atau gejala-gejala yang
merugikan atau mengganggu aktivitas pasien.

b. Implementasi Monitoring
FORMULIR MONITORING PENGGUNAAN OBAT

Nama Petugas Oka Nama Pasien Ani Miani


Tanggal 1 Januari 2014 Alamat Pasien Jl. Poltek K15 Perum.Bhumi Jimbaran Asri- Bukit Jimbaran
Jam 11.00 AM Usia/BB 6 Bulan/8 Kg
Lama Percakapan 5 Menit No Telp (0361) 876223
Penerima
Telepon Pasien
X Orang Tua Pasien
Keluarga Pasien
Lainnya

Tgl Resep : 6 Januari 2014 No Resep : 009867 Nama Dokter : dr. Mitra SpKK

R/ Digenta crim I Sue R/ FFormyco crim I Sue R/ Dextamin syr s 3 dd cth I

Tgl Obat Habis : Tgl Obat Habis : Tgl Obat Habis :


Bagaimana kondisi pasien setelah menggunakan obat :

Sembuh Tambah Parah


X Membaik Muncul Masalah Baru
Tetap
Bila muncul masalah/pertanyaan baru deskripsikan ditempat yang disediakan

Kategori permasalahan

Dosis Kemungkinan Interaksi


Cara Pemakaian Kemungkinan Efek Samping
Waktu Minum Obat Lainnya :
X Frekuensi Minum Obat Ketersediaan (lama)
Kepatuhan Harga
Kategori Terapi

X Sistem Pencernaan Nutrisi dan Darah


Sistem Kardiovaskular Penyakit Tulang, Otot dan Sendi
X Sistem Pernafasan Mata
Sistem Saraf Pusat Telinga, Hidung, Orofaring
X Infeksi Kulit
Sistem Endokrin Produksi Imunologis dan Vaksin
Obstetri Genekologi, saluran kemih Anestesi
Penyakit Malignan
Pemecahan Permasalahan

Memberitahu Dokter Diberi Saran


Dirujuk Kedokter Ditawarkan Produk Yang Membantu
Saran /Produk yang direkomendasikan
Saran/Informasi dari pasien

Pasien menginformasikan bahwa kondisi bayi salsabila sudah membaik, dan bayi salsabilah sudah tidak mengalami muntah serta diare

Adapun pertanyaan yang akan ditanyakan pada pasien saat melakukan monitoring
antara lain:
1. Kepatuhan pasien
a. Apakah anak Bapak sudah menggunakan obat sesuai dengan aturan pakainya?

2. Efektivitas Terapi
a. Apakah masih terdapat gatal pada anak Bapak?
b. Apakah masih terdapat gelembung pada tangan anak Bapak?
c. Apakah masih terdapat gatal dan kemerahan pada punggung anak Bapak?

3. Efek samping obat


a. Pada saat anak Bapak mengkonsumsi obat tersebut, apakah Bapak mengalami gejala
seperti pusing, sakit kepala, nyeri perut, diare atau konstipasi?
Lampiran 1
Nama: ANi

KARTU PENGOBATAN PASIEN


Kartu ini akan menghindarkan anda dari kesalahan pengobatan. Selalu simpan kartu ini bersama anda. Instruksi ada di halaman 4

Jenis kelamin Tinggi Berat Gol. Asuransi


Nama Tanggal Lahir (lingkari salah satu) Badan Badan Darah
Ani miani 10 Oktober 2003 Laki-laki Perempuan 29 cm 139 kg B Askes
Alamat Nomor Telepon Kontak emergency
Sesetan Rumah: (0361) 42245 Nama : Sony
Kantor: Hubungan: Bapak
HP : 0817474777 Telepon : 08180777888
Alergi (tuliskan reaksi yang terjadi)

Nama Dokter/ Dokter gigi Nomor Telepon Alasan kunjungan


Dr. Mitra SpKK 123456 Dermatitis

Nama Apoteker Nomor Telepon Alamat


Liliana Jasmine, S.Farm., Apt. 087877999 Jl. Mawar Melati No. 144

Informasi tambahan/komentar

Halaman 1 dari 5 halaman Tanggal diperbaharui: 11 Desember 2013


Imunisasi (Tgl dari dosis terakhir)
Tetanus: -
Vaksin pneumonia: -
Vaksin Flu: -
Vaksin Hepatitis: -
Lainnya:-
Nama: ANi

REKAM PENGOBATAN:
Tuliskan semua tablet, patch, salep, injeksi, dan lain-lain. Termasuk resep, obat yang dijual bebas, herbal, vitamin, dan suplemen diet. Juga tuliskan obat-
obatan yang anda konsumsi pada suatu kesempatan (seperti Viagra, albuterol, nitrogliserin, dll).

Seberapa
sering? Jika Yang
Nama obat Dosis
dibutuhkan Tujuan Tgl Tgl Meresepkan
(Nama merk Kekuatan (pil/drop/
saja? pengobatan mulai stop
dan generik) tablet/mL)
Sebelum/setelah
makan?

Nama: Tria
Nama: Tria

LANJUTAN REKAM PENGOBATAN:


Tuliskan semua tablet, patch, salep, injeksi, dan lain-lain. Termasuk resep, obat yang dijual bebas, herbal, vitamin, dan suplemen diet. Juga tuliskan obat-
obatan yang anda konsumsi pada suatu kesempatan (seperti Viagra, albuterol, nitrogliserin, dll).

Seberapa sering?
Nama obat Dosis Jika dibutuhkan Yang
Tujuan Tgl Tgl
(Nama merk Kekuatan (pil/drop/ saja? Meresepkan
pengobatan mulai stop
dan generik) tablet/mL) Sebelum/setelah
makan?
Halaman 3 dari 5 halaman Tanggal Nama:
diperbaharui:
Tria 11 Desember 2013

Rekam Pengobatan-Instruksi Penggunaan

Selalu simpan rekam pengobatan ini bersama anda. Simpan di dalam dompet anda. Berikan salinannya kepada orang yang dapat
dihubungi saat emergency (darurat), anggota keluarga lain atau teman. Bawa ini ketika anda mengambil resep.

Tempat praktek dokter/dokter gigi. Bawa rekam pengobatan ini saat mengunjungi semua dokter anda.

Alergi. Tuliskan semua reaksi yang pernah anda alami saat menggunakan obat sehingga anda berhenti menggunakan obat tersebut seperti
alergi dan efek buruk. Juga alergi terhadap pewarna, makanan, serangga, dan lainnya. Juga tuliskan apa yang terjadi pada anda jika
terpapar hal tersebut.

Dokter/dokter gigi/perawat. Tuliskan nama dan nomor telpon dokter/dokter gigi/ perawat sehingga dapat dihubungi ketika terdapat
pertanyaan tentang pengobatan atau saat dibutuhkan.
Apoteker. Tuliskan nama, nomor telepon dan alamat Apoteker sehingga anda dapat menghubunginya ketika terdapat pertanyaan.

Tuliskan semua obat. Tuliskan nama merk dan generik dari setiap obat, dosis, seberapa serin sering dan bagaimana anda
menggunakannya (melalui mulut, di bawah lidah, injeksi dan lainnya). Jika anda berhenti menggunakan obat tuliskan tanggal anda
berhenti menggunakannya. Jika anda membutuhkan lembar tambahan, jangan lupa tuliskan nama anda di setiap lembarnya. Tuliskan
semua tablet, patch, salep, injeksi, dan lain-lain. Termasuk resep, obat yang dijual bebas, herbal, vitamin, dan suplemen diet. Juga
tuliskan obat-obatan yang anda konsumsi pada suatu kesempatan atau ketika dibutuhkan (seperti Motrin, Aleve, Tylenol, nitrogliserin).

Kunjungan ke rumah sakit. Selalu minta perawat, apoteker atau dokter anda untuk membantu memperbaharui rekam pengobatan anda
ketika anda meninggalkan rumah sakit. Anda harus mengetahui kapan obat harus digunakan dan kapan harus dihentikan. Bawa selalu
rekam pengobatan anda yang telah diperbaharui pada setiap follow up di praktek dokter anda atau rumah sakit.

Halaman 4 dari 5 halaman


Tanggal diperbaharui:11 Desember 2013

YANG HARUS ANDA TAHU TENTANG OBAT ANDA

1. Apa nama generik dan merk obat anda?

2. Apakah tujuan pengobatan anda?

3. Berapa dosis yang harus anda konsumsi?

4. Bagaimana cara minum obat anda?

5. Seberapa sering saya harus minum obat? Bagaimana jika saya terlupa minum obat?

6. Apakah pengobatan memiliki efek samping yang harus saya waspadai?


7. Apakah obat-obat yang saya gunakan memiliki interaksi? Apakah ada interaksi dengan makanan?

8. Bagaimana saya harus menyimpan obat saya?

Halaman 5 dari 5 halaman Tanggal diperbaharui:11 Desember 2013


Lampiran 2

Spesifikasi Obat
Berikut ini merupakan data atau informasi dari masing-masing obat:
a. Otopraf (tetes telinga)
Komposisi : Tiap ml tetes telinga mengandung
fludrokortison asetat 1mg, polimiksin B sulfat10.000 UI,
neomisin sulfat 5 mg, lidokain-HCl 40 mg (MIMS, 2013).
Kelas/kategori farmakologi:
- Otopraf : Antiseptik dengan kortikosteroid untuk
telinga (MIMS, 2013)
- Fludrokortison asetat : Kortikosteroid (Lacy et
al., 2011)
- Lidokain-HCl : Topikal analgesik, anestesi lokal
(Lacy et al., 2011).
- Neomisin sulfat : Aminoglikosida, antibiotic
topikal (Lacy et al., 2011).
- Polimiksin B sulfat : Antibiotik (Lacy et al.,
2011).
Mekanisme kerja:
- Fludrokortison asetat : Menghambat pelepasan
substansi yang dapat menyebabkan peradangan,
meningkatkan reabsorpsi natrium dan hilangnya kalium
dari tubulus distal ginjal (Lacy et al., 2011).
- Lidokain-HCl : Memblok kedua inisiasi dan
konduksi impuls saraf dengan menurunkan permeabilitas
membran saraf untuk ion natrium, yang menghasilkan
penghambatan depolarisasi dengan blokade resultan
konduksi (Lacy et al., 2011).
- Neomisin sulfat : Mengganggu sintesis protein
bakteri dengan mengikat subunit ribosom 30S (Lacy et
al., 2011).
- Polimiksin B sulfat : Mengikat fosfolipid,
mengubah permeabilitas, dan merusak bakteri sitoplasma
membran dengan menyebabkan kebocoran konstituen
intraseluler (Lacy et al., 2011).
Indikasi :
- Fludrokortison asetat : Fludrocortisone asetat
dioleskan untuk efek glukokortikoidnya dalam
pengobatan berbagai penyakit. Dapat digunakan sebagai
bahan salep mata atau tetes telinga, biasanya dalam
konsentrasi 0,1%. Biasanya digunakan bersama dengan
antibiotik yang sesuai seperti neomycin untuk terapi
infeksi seperti otitis externa (Sweetman, 2009).
- Lidokain-HCl : Anestesi lokal untuk digunakan
dalam laser, kosmetik, dan operasi rawat jalan, luka bakar
ringan, luka, dan lecet kulit (Lacy et al., 2011).
- Neomisin sulfat : Topikal untuk mengobati infeksi
kulit ringan, pengobatan diare yang disebabkan oleh E.
coli, tambahan dalam pengobatan ensefalopati, kandung
kemih irigasi; infeksi okular (Lacy et al., 2011), otitis
externa (BNF, 2007)
- Polimiksin B sulfat : Infeksi saluran telinga
external (Lacy et al., 2011).
Dosis:
- Fludrokortison asetat : 3-4 tetes, 2-4 tetes sehari
(UBM, 2010)
- Lidokain-HCl : 3-4 tetes, 4 kali sehari (Hui,
2013).
- Neomisin sulfat : 2-3 tetes setiap 3-4 jam (BNF,
2007)
- Polimiksin B sulfat : 3 tetes, 3 4 kali
sehari (BNF, 2007)
Perhatian:
- Fludrokortison asetat : Pada anak-anak hindari
penggunaan jangka panjang dan penggunaan
kortikosteroid kuat atau sangat kuat harus di bawah
pengawasan spesialis (BNF, 2007).
- Lidocain HCl : Lidokain tidak boleh diberikan
kepada pasien dengan hipovolemia, heart block atau
gangguan konduksi lainnya, dan harus digunakan dengan
hati-hati pada pasien dengan gagal jantung kongestif,
bradikardia, atau depresi pernapasan. Lidocaine
dimetabolisme dalam hati dan harus diberikan dengan
hati-hati untuk pasien dengan kerusakan hati (BNF, 2007).
- Neomisin sulfat : Dapat menyebabkan
nefrotoksisitas, faktor risiko yang biasa termasuk
gangguan ginjal yang sudah ada sebelumnya, obat
nefrotoksik secara bersamaan, usia lanjut dan dehidrasi.
Hentikan pengobatan jika tanda-tanda nefrotoksisitas
terjadi, kerusakan ginjal biasanya reversibel. Dapat
menyebabkan blokade neuromuskular dan paralisis
pernapasan, terutama bila diberikan segera setelah
anestesi atau relaksan otot.
Menyebabkan neurotoksisitas, faktor risiko yang biasa
termasuk gangguan ginjal yang sudah ada sebelumnya,
obat neuro-/nephrotoxic bersamaan, usia lanjut dan
dehidrasi. Ototoxicity sebanding dengan jumlah obat yang
diberikan dan durasi pengobatan. Tinnitus atau vertigo
mungkin merupakan indikasi cedera vestibular dan yang
akan datang kerusakan permanen bilateral. Hentikan
pengobatan jika tanda-tanda ototoxicity terjadi.
Superinfeksi berkepanjangan digunakan dapat
menyebabkan jamur atau superinfeksi bakteri (BNF,
2007).
- Polimiksin B sulfat : Kemungkinan bahaya
nefrotoksisitas dan neurotoksisitas, khususnya pada anak-
anak, pada orang tua, dan pada pasien dengan kerusakan
ginjal (BNF, 2007)
Kontraindikasi
- Fludrokortison asetat : Hipersensitifitas terhadap
fludrocortisones atau komponen lain dalam formulasi,
infeksi fungal sistemik (Lacy et al., 2011).
- Lidokain-HCL : Hipovolemia, complete
heart block (BNF, 2007)
- Neomisin sulfat : Hipersensitivitas terhadap
neomisin atau komponen lain dalam formulasi, atau
aminoglikosida lain, obstruksi usus (Lacy et al., 2011).
- Polimiksin B sulfat : Hipersensitif terhadap
polimiksin B atau komponen lain dalam formulasi,
penggunaan bersama neuromuskular blocker (Lacy et al.,
2011).
Interaksi:
- Fludrokortison asetat :
o Kortikosteroid (sistemik) dapat meningkatkan efek samping / toksik dari NSAID
(COX-2 Inhibitor). Risiko C: Monitor terapi.
o Kortikosteroid (sistemik) dapat meningkatkan efek samping / toksik dari NSAID
(Nonselektif). Risiko C: Monitor terapi
o Primidone dapat meningkatkan metabolisme kortikosteroid (sistemik). Risiko C:
Monitor terapi
o Antibiotik kuinolon dapat meningkatkan efek samping/toksik kortikosteroid
(sistemik). Risiko efek samping tendon terkait, termasuk tendonitis dapat
ditingkatkan. Risiko C: Monitor terapi (Lacy et al., 2011).
- Lidokain-HCl:
o Amiodarone dapat mengurangi metabolisme lidokain. Risiko C: Monitor
terapi.
o Beta-Blocker: Dapat mengurangi metabolisme Lidocaine. Pengecualian:
Levobunolol; Metipranolol. Risiko C: Monitor terapi (Lacy et al., 2011).
- Neomisin sulfat:
o Amfoterisin B dapat meningkatkan efek nefrotoksik dari Aminoglikosida.
Risiko C: Monitor terapi
o NSAID dapat mengurangi ekskresi Aminoglikosida. Data hanya pada bayi
prematur. Risiko C: Monitor terapi (Lacy et al., 2011)
- Polimiksin B sulfat:
o Polymyxin B dapat meningkatkan efek neuromuscular-blocking dari
Colistimethate. Risiko C: Monitor terapi
o Polymyxin B dapat meningkatkan efek neuromuskular-blocking dari agen
neuromuscular-bloking. Risiko D: Pertimbangkan modifikasi terapi (Lacy et
al., 2011)
Efek samping:
- Fludrokortison asetat : Jerawat, ruam, dan memar
(BNF, 2007)
- Lidokain-HCl : Efek CNS termasuk
kebingungan, depresi pernafasan dan kejang-kejang,
hipotensi dan bradikardi (dapat menyebabkan serangan
jantung), hipersensitivitas jarang dilaporkan (Lacy et al.,
2011).
- Neomisin sulfat : Reaksi sensitivitas ketika
digunakan secara topikal seperti gatal, kemerahan, edema
(Lacy et al., 2011).
- Polimiksin B sulfat : Kemerahan pada wajah,
iritabilitas, mengantuk, ataksia, paresthesia perioral, mati
rasa pada ekstremitas, penglihatan kabur, pusing, iritasi
meningeal dengan pemberian intratekal, urtikaria, ruam,
hipokalsemia, hiponatremia, hipokalemia, hipokloremia,
lemas, nefrotoksik, dan reaksi anafilaktoid (Lacy et al.,
2011).
Harga : Botol 10 mL drops = Rp 20.800,00 (MIMS, 2013)

b.
Levocin
Komposisi : Levofloxacin (MIMS, 2013)
Kelas farmakologi : Antibiotik quinolone (Lacy et al., 2011).
Mekanisme kerja : Menghambat DNA gyrase sehingga
menghalangi replikasi DNA (Lacy et al., 2011).
Indikasi : Pengobatan community-acquired
pneumonia, multidrug resistant strains of S. pneumoniae
(MDRSP), pneumonia nosokomial, bronkitis kronis
(eksaserbasi bakteri akut); sinusitis bakteri akut, prostatitis,
infeksi saluran kemih (uncomplicated or complicated),
pielonefritis akut, kulit atau infeksi struktur kulit
(uncomplicated or complicated); mengurangi kejadian atau
perkembangan penyakit inhalation anthrax (pasca pajanan)
(Lacy et al., 2011).
Dosis : - Sinusitis (akut bakteri): Oral: 500
mg setiap 24 jam selama 10-14 hari atau 750 mg setiap 24
jam selama 5 hari
- Kulit dan infeksi struktur kulit:
Oral: uncomplicated: 500 mg setiap 24 jam selama 7-10
hari; complicated: 750 mg setiap 24 jam selama 7-14 hari
(Lacy et al., 2011)
Perhatian : Harus digunakan dengan hati-hati
pada pasien dengan epilepsi atau riwayat gangguan CNS.
Pasien dengan kerusakan ginjal, kekurangan G6PD, atau
myasthenia gravis. Asupan cairan yang cukup harus
dipertahankan selama pengobatan dan alkalinitas berlebihan
urin dihindari karena risiko kristaluria. Pasien berusia di
bawah 18 tahun, ibu hamil, atau ibu menyusui kecuali
manfaatnya lebih besar daripada risiko. Kerusakan tendon
dapat terjadi dan pengobatan harus dihentikan jika pasien
mengalami nyeri tendon atau peradangan. Paparan sinar
matahari yang kuat harus dihindari selama pengobatan.
Kemampuan untuk mengemudi atau mengoperasikan mesin
mungkin terganggu, terutama ketika mengkonsumsi alkohol.
Beberapa fluoro-quinolones memiliki potensi untuk
memperpanjang interval QT dan harus dihindari, bradycardia,
penyakit jantung tertentu. Harus dihindari pada infeksi MRSA
karena tingginya resistensi (Sweetman, 2009).
Interaksi : NSAID dapat meningkatkan neuroexcitatory dan
/ atau potensi kejang dari antibiotik quinolon. Risiko C: Monitor
terapi (Lacy et al., 2011).
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap levofloxacin
dan komponen lain dalam formulasi, dan quinolon lainnya (Lacy
et al., 2011).
Efek samping : Kardiovaskular [nyeri dada (1%), edema
(1%)]; Sistem saraf pusat [sakit kepala (6%), insomnia (4%),
pusing (3%), kelelahan (1%), nyeri (1%)]; Dermatologis [Ruam
(2%), pruritus (1%)]; gastrointestinal [gangguan rasa (8% sampai
10% ), mual (7%), diare (5%), sembelit (3%), perut nyeri (2%),
dispepsia (2%), muntah (2%)]; kemih [Vaginitis (1%)]; lokal [site
Injeksi reaksi (1%)]; pernapasan [Faringitis (4%), dispnea (1 %)];
Moniliasis (1%) (Lacy et al, 2011).
Harga : Tablet salut selaput 500 mg x 3 x 6 = Rp
531.090,00
Penyimpanan : Simpan pada suhu 25 C; diizinkan 15-
30C (Lacy et al., 2011).

c. Nacoflar
Komposisi : Kalium diklofenac (Mims, 2013)
Kelas farmakologi: NSAID (Lacy et al., 2011).
Mekanisme kerja : Secara reversibel menghambat
siklooksigenase-1 dan 2 (COX-1 dan 2) enzim, yang
mengakibatkan pembentukan penurunan prekursor prostaglandin,
memiliki sifat antipiretik, analgesik, dan antiinflamasi (Lacy et al.,
2011).
Indikasi : Digunakan untuk meredakan sakit dan inflamasi
pada berbagai kondisi: penyakit pada musculoskeletal dan sendi
seperti rheumatoid arthritis, osteoarthritis, dan ankylosing
spondylitis; penyakit peri-articular seperti bursitis and tendinitis,
keseleo dan strain, dan kondisi menyakitkan lainnya seperti kolik
ginjal, gout akut, dismenorea, migrain, dan setelah beberapa
prosedur bedah. Hal ini juga telah digunakan di beberapa negara
untuk pengelolaan actinic keratosis dan demam (Sweetman, 2009).
Dosis : Dosis awal 50 mg 3 kali/hari; dosis maksimum:
150 mg/hari (Lacy et al., 2011).
Perhatian : Diperhatikan penggunaanya pada geriatri, pasien
yang mempunyai riwayat alergi terhadap penggunaan aspirin dan
NSAID lainnya seperti asma, angiodema, urtikaria atau rhinitis,
pasien hamil dan menyusui, pasien dengan kerusakan ginjal,
jantung dan hati (BNF, 2007).

Interaksi : - Antibiotik Quinolone: NSAID


dapat meningkatkan neuroexcitatory dan / atau potensi kejang
dari antibiotik quinolon. Risiko C: Monitor terapi.

- Selective Serotonin Reuptake Inhibitors: Dapat meningkatkan


efek antiplatelet dari NSAID. Risiko D: Pertimbangkan
modifikasi terapi.

- Kortikosteroid (Sistemik): Dapat meningkatkan efek samping/


toksik dari NSAID. Risiko C: Monitor terapi.

- Antidepresan (Serotonin/Norepinephrine Reuptake Inhibitor):


Dapat meningkatkan efek antiplatelet dari NSAID. Risiko C:
Monitor terapi.

- Antidepresan (Tricyclic, Tertiary Amine) Dapat meningkatkan


efek antiplatelet dari NSAID. Risiko C: Monitor terapi.

(Lacy et al., 2011)

Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap diklofenak,


aspirin, NSAID lainnya, atau komponen lain dalam formulasi;
nyeri perioperatif dalam coronary artery bypass graft (CABG)
(Lacy et al., 2011).
Efek samping : Edema, pusing, sakit kepala, pruritus,
ruam, retensi cairan, distensi abdomen, nyeri perut, sembelit,
diare, dispepsia, perut kembung, GI perforasi, nyeri ulu hati,
mual, ulkus peptikum / GI berdarah, muntah, anemia, waktu
perdarahan meningkat, kelainan enzim hati, tinnitus dan fungsi
ginjal yang abnormal (Lacy et al., 2011).

Harga : 25 mg x 5 x 10 = Rp 51.734,00

50 mg x 5 x 10 = Rp 93.654,00 (MIMS, 2013)

d. Interhistin
Komposisi: Mebhydrolin napadisilat 50 mg (MIMS, 2012).
Kelas farmakologi : Antihistamin (Lacy et al., 2009).
Indikasi : Gejala alergi yang disebabkan pelepasan
histamine, termasu nasal alergi dan dermalosis alergi (Lacy et al,
2011).
Dosis : Dosis untuk dewasa 100-300 mg/hari (Lacy et
al., 2011).
Perhatian : Glaukoma, kehamilan, retensi urin, sensitif
terhadap Mebhydrolin napadisilate atau agen sejenis, hipertrofi
prostat (MIMS, 2013).
Interaksi : Alkohol, obat yang menekan SSP,
antikolinergik, MAOI (MIMS, 2013)
Kontraindikasi : Penggunaan bersamaan dengan depresan
SSP atau alcohol, pasien yang mengalami agranulositosis atau
neutropenia, dan trimester pertama kehamilan (Therapeutic
Index, 2004).
Efek samping : Sedasi, gangguan GI, efek
antimuskarinik, hipotensi,lemah otot, tinnitus, euphoria, sakit
kepala, stimulasi SSP, reaksi alergi, kelainan darah (MIMS, 2013)
Harga :Tablet 50 mg x 100 = Rp
45.000,00 (MIMS, 2013)