Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

PADA KLIEN DENGAN KEHILANGAN DAN BERDUKA

OLEH :

KELOMPOK 2

TINGKAT 3.3 D III KEPERAWATAN

GUSTI AYU MADE PITRI RAHAYU (P07120014079)

I DEWA AYU AGUNG YULI UMARDEWI (P07120014090)

ANAK AGUNG AYU DWI IRMA RIYANTI (P07120014091)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN KEPERAWATAN

2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan
karuniaNya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Asuhan Keperawatan Jiwa
pada Klien dengan Kehilangan dan Berduka dengan tepat waktu. Penulisan makalah ini
bertujuan untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa, selain itu makalah ini
juga bertujuan untuk menambah pengetahuan kami sebagai penulis dan khususnya bagi kami
yang merupakan mahasiswa keperawatan. Kami mengucapkan banyak terima kasih pada
semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Tak ada gading yang
tak retak. Tentunya dalam penyusunan makalah ini, masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan
saran yang membangun, sangat kami butuhkan demi kesempurnaan dalam karya kami
kedepan. Dengan adanya makalah ini kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca pada umumnya dan bagi tenaga dan mahasiswa keperawatan pada khususnya.

Denpasar, 2 September 2016

Penulis

DAFTAR ISI

1
KATA PENGANTAR..................................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I.........................................................................................................................................1
PENDAHULUAN......................................................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG..................................................................................................1

1.2 RUMUSAN MASALAH............................................................................................2

1.3 TUJUAN PENULISAN..............................................................................................2

1.3.1 Tujuan Umum......................................................................................................3

1.3.2 Tujuan Khusus......................................................................................................3

1.4 MANFAAT PENULISAN...........................................................................................3

BAB II........................................................................................................................................4
LANDASAN TEORI.................................................................................................................4
2.1 KEHILANGAN...........................................................................................................4

2.1.1 Pengertian Kehilangan.........................................................................................4

2.1.2 Jenis-jenis Kehilangan.........................................................................................5

2.1.3 Dampak dari Kehilangan......................................................................................6

2.2 BERDUKA..................................................................................................................6

2.2.1 Pengertian Berduka..............................................................................................6

2.2.2 Jenis-jenis Berduka..............................................................................................7

2.2.3 Respons Berduka dan Rangkain Proses Berduka.................................................9

2.3 Teori Kehilangan, Berduka dan Berkabung..............................................................10

2.4 Faktor-faktor yang Memengaruhi Rasa Kehilangan dan Berduka............................14

BAB III.....................................................................................................................................17

2
PEMBAHASAN......................................................................................................................17
3.1 ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA KLIEN DENGAN KEHILANGAN DAN
BERDUKA..................................................................................................................17

3.1.1 PENGKAJIAN KEPERAWATAN.....................................................................17

3.1.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN.........................................................................18

3.1.3 RENCANA DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN...................................19

3.1.4 EVALUASI KEPERAWATAN..........................................................................23

BAB IV....................................................................................................................................24
PENUTUP................................................................................................................................24
4.1 SIMPULAN...............................................................................................................24

4.2 SARAN......................................................................................................................24

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................25

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Lahir, kehilangan, dan kematian adalah kejadian yang universal dan kejadian yang
sifatnya unik bagi setiap individual dalam pengalaman hidup seseorang. Kehilangan dan
berduka merupakan istilah yang dalam pandangan umum berarti sesuatu kurang enak atau
nyaman untuk dibicarakan. Hal ini dapat disebabkan karena kondisi ini lebih banyak
melibatkan emosi dari yang bersangkutan atau disekitarnya.

Setiap individu yang mengalami penyakit atau trauma mungkin juga mengalami
rasa kehilangan atau berduka. Seorang klien bisa merasakan duka karena kehilangan
beberapa hal, antara lain: kehilangan bagian atau fungsi tubuh, kepercayaan diri,
kepercayaan, atau penghasilan. Penyakit dapat mengubah atau mengancam identitas
seseorang, dan pada waktunya setiap orang akan meninggal. Perawat memiliki tugas
utama mencegah penyakit dan trauma, serta membantu klien kembali menjadi sehat.
Perawat juga berperan penting dalam membantu klien dan keluarga untuk beradaptasi
dengan sesuatu yang tidak dapat diubah dan memfasilitasi suatu kematian yang damai
(Potter & Perry, 2010).

Dalam perkembangan masyarakat dewasa ini, proses kehilangan dan berduka


sedikit demi sedikit mulai maju. Dimana individu yang mengalami proses ini ada
keinginan untuk mencari bentuan kepada orang lain.Pandangan-pandangan tersebut dapat
menjadi dasar bagi seorang perawat apabila menghadapi kondisi yang demikian.
Pemahaman dan persepsi diri tentang pandangan diperlukan dalam memberikan asuhan
keperawatan yang komprehensif. Kurang memperhatikan perbedaan persepsi menjurus
pada informasi yang salah, sehingga intervensi perawatan yang tidak tetap (Suseno,
2004).

Perawat berkerja sama dengan klien yang mengalami berbagai tipe kehilangan.
Mekanisme koping mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menghadapi dan
menerima kehilangan. Perawat membantu klien untuk memahami dan menerima
kehilangan dalam konteks kultur mereka sehingga kehidupan mereka dapat berlanjut.

1
Dalam kultur Barat, ketika klien tidak berupaya melewati duka cita setelah mengalami
kehilangan yang sangat besar artinya, maka akan terjadi masalah emosi, mental dan sosial
yang serius.

Kehilangan dan kematian adalah realitas yang sering terjadi dalam lingkungan
asuhan keperawatan. Sebagian besar perawat berinteraksi dengan klien dan keluarga yang
mengalami kehilangan dan dukacita. Penting bagi perawat memahami kehilangan dan
dukacita. Ketika merawat klien dan keluarga, parawat juga mengalami kehilangan pribadi
ketika hubungan klien-kelurga-perawat berakhir karena perpindahan, pemulangan,
penyembuhan atau kematian. Perasaan pribadi, nilai dan pengalaman pribadi
mempengaruhi seberapa jauh perawat dapat mendukung klien dan keluarganya selama
kehilangan dan kematian (Potter & Perry, 2005).

Klien dan keluarga memerlukan asuhan keperawatan khusus mengenai berduka


dan kematian, bahkan mungkin lebih banyak dibandingkan perawatan yang lainnya.
Penyediaan pelayanan bagi klien pada akhir kehidupan membutuhkan pengetahuan dan
kepedulian untuk memberikan rasa nyaman, bahkan ketika harapan pengobatan dan
kelanjutan hidup sudah tidak mungkin lagi (Virani & Sofer, 2003).

Oleh karena itu pentingnya asuhan keperawatan yang lebih mengkhusus guna
menghadapi klien dengan masalah kehilangan dan berduka selain itu penting juga bagi
perawat memahami konsep dari kehilangan dan berduka.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Permasalahan yang kami angkat dari makalah ini adalah bagaimana asuhan
keperawatan pada klien dengan kehilangan dan berduka.

1.3 TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

2
1.3.1 Tujuan Umum

- Mengetahui konsep kehilangan dan berduka


- Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan kehilangan dan berduka

1.3.2 Tujuan Khusus

- Mengetahui pengertian kehilangan dan berduka


- Mengetahui jenis-jenis kehilangan dan berduka
- Mengetahui dampak dari kehilangan
- Mengetahui respons dari berduka dan rangkaian proses berduka
- Mengetahui teori kehilangan, berduka dan berkabung
- Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi rasa kehilangan dan berduka
- Mengetahui proses asuhan keperawatan pada klien dengan kehilangan dan
berduka mulai dari pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi hingga
evaluasi keperawatan

1.4 MANFAAT PENULISAN

Makalah ini hendaknya dapat bermanfaat guna menambah pengetahuan mengenai


konsep dari kehilangan dan berduka serta bagaimana mengaplikasikannya dalam asuhan
keperawatan.

3
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 KEHILANGAN

2.1.1 Pengertian Kehilangan

Kehilangan (loss) adalah suatu situasi actual maupun potensial yang dapat
dialami individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik
sebagian atau keseluruhan, atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi
perasaan kehilangan. Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami
setiap individu selama rentang kehidupannya. Sejak lahir, individu sudah
mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun
dalam bentuk yang berbeda. Setiap individu akan bereaksi terhadap kehilangan.
Respons terakhir kehilangan sangat dipengeruhi oleh respons individu terhadap
kehilangan sebelumnya (Potter & Perry, 1997).

Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan suatu


yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagain atau
keseluruhan (Lambert,1985). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah
dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupan. Sejak lahir individu sudah
mengalami kehilangan dan cendrung akan mengalaminya kembali walaupun
dalam bentuk yang berbeda.Terlepas dari penyebab kehilangan yang dialami
setiap individu akan berespon terhadap situasi kehilangan, respon terakhir
terhadap kehilangan sangat dipengaruhi oleh kehilangan sebelumnya.

Individu mengalami kehilangan ketika individu lain, pengontrolan, bagian


tubuh, lingkungan yang dikenal atau perasaan diri sudah berubah atau tidak ada
lagi. Perubahan kehidupan bersifat alami dan biasanya bersifat positif. Selama
menjalani kehidupan bersifat alami dan biasanya bersifat postif. Kehilangan dapat
memiliki beragam bentuk, sesuai nilai dan prioritas yang dipengaruhi oleh
lingkungan seseorang yang meliputi keluarga, teman, masyarakat, dan budaya.

Selama menjalani kehidupan, kita mempelajari bahwa perubahan selalu


melibatkan kehilangan yang penting(necessary losses), yang merupakan bagian

4
dari hidup. Kita belajar berharap bahwa sebagian besar dari rasa kehilangan yang
diperlukan pada akhirnya digantikan oleh sesuatu yang berbeda atau yang lebih
baik. Namun, beberapa rasa kehilangan menyebabkan kita mengalami perubahan
permanen dalam hidup kita dan mengancam perasaan kita tentang kepemilikan
dan keamanan. Kematian seseorang yang kita cintai, perceraian, atau kehilangan
kebebasan akan mengubah hidup kita selamanya dan secara signifikan
mengganggu kesehatan fisik, psikologis, dan spiritual.

Kehilangan maturasional(maturational losses) adalah suatu bentuk dari


kehilangan yang penting dan melibatkan semua harapan hidup yang secara normal
berubah disepanjang kehidupan. Beberapa rasa kehilangan terlihat tidak
diperlukan dan bukan merupakan bagian dari pengalaman pendewasaan yang
diharapkan. Secara tiba-tiba, kejadian eksternal yang tidak dapat diperkirakan
menyebabkan rasa kehilangan situasional.

Kehilangan dapat bersifat actual atau dirasa. Rasa kehilangan aktual


(actual loss) terjadi ketika seseorang tidak dapat lagi merasakan, mendengar, atau
mengenali seseorang atau objek. Ada juga kehilangan objek yang berharga antara
lain semua yang dipakai atau salah tempat, dicuri, atau rusak oleh bencana. Rasa
kehilangan yang dirasa (perceived losses)didefinisikan secara unik oleh
seseorang yang mengalami rasa kehilangan dan bersifat tidak begitu jelas bagi
individu lain, misalnya kehilangan kepercayaan diri atau harga diri.

2.1.2 Jenis-jenis Kehilangan

Menurut Aziz Alimul (2014), kehilangan digolongkan menjadi beberapa jenis


yakni sebagai berikut:

a. Kehilangan objek eksternal (misalnya kecurian atau kehancuran akibat


bencana).
b. Kehilangan lingkungan yang dikenal (misalnya berpindah rumah, dirawat di
rumah sakit, atau berpindah pekerjaan).

5
c. Kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti (misalnya pekerjaan,
kepergian anggota keluarga atau teman dekat, perawat yang dipercaya, atau
binatang peliharaan).
d. Kehilangan suatu aspek diri (misalnya anggota tubuh dan fungsi psikologis
atau fisik).
e. Kehilangan hidup (misalnya kematian anggota keluarga, teman dekat, atau diri
sendiri).

2.1.3 Dampak dari Kehilangan

a. Pada masa anak-anak, kehilangan dapat mengancam kemampuan atau


berkembang, kadang-kadang akan timbul regresi serta rasa takut untuk
ditinggalkan atau dibiarkan kesepian.
b. Pada masa remaja atau dewasa muda, kehilangan dapat menyebabkan
disintegrasi dalam keluarga.
c. Pada masa dewasa tua, kehilangan khususnya kematian pasangan hidup, dapat
menjadi pukulan yang sangat berat dan menghilangkan semangat hidup orang
yang ditinggalkan.

2.2 BERDUKA

2.2.1 Pengertian Berduka

Berduka (grieving) merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan. Hal


ini diwujudkan dalam berbagai cara yang unik pada masing-masing orang dan
didasarkan pada pengalaman pribadi, ekspetasi budaya, dan keyakinan spiritual
yang dianutnya. Sementara itu, istilah kehilangan (bereavement) mencakup
berduka dan berkabung (mourning), yaitu perasaan di dalam dan reaksi keluar
orang yang ditinggalkan. Berkabung adalah periode penerimaan terhadap
kehilangan dan berduka. Hal ini terjadi dalam masa kehilangan dan sering
dipengaruhi oleh kebudayaan atau kebiasaan (Aziz Alimul, 2014).

Berduka merupakan respons emosional terhadap rasa kehilangan, yang


dimanifestasikan oleh individu dalam cara yang khusus, berdasarkan pengalaman
personal, harapan budaya, dan kepercayaan spiritual (Hooyman dan Kremer,

6
2006). Koping pada proses berduka melibatkan suatu periode berkabung,
penampilan, ekspresi sosial terhadap berduka, dan perilaku berhubungan dengan
rasa kehilangan. Upacara berkabung dipengaruhi secara budaya dan seperti
perilaku yang dipelajari.

2.2.2 Jenis-jenis Berduka

Penting untuk membedakan antara ekspresi berduka sebagai respons terhadap rasa
kehilangan yang normal dan sehat, yang membutuhkan dukungan dan pengakuan
masyarakat; dari berduka sebagai respons terhadap tekanan dan gangguan
personal yang besar, yang membutuhkan intervensi yang lebih itensif. Mengenali
bahwa ada perbedaan antara berbagai tipe berduka dapat membantu perawat
dalam merencanakan dan menerapkan perawatan yang sesuai. Jenis-jenis berduka
terbagi atas:

a. Berduka yang Normal


Ketika individu sedang berduka, ini berarti bahwa mereka berada dalam
proses adaptasi dengan kematian orang yang dicintai. Berduka yang normal
(non-komplikasi) merupakan reaksi terhadap kematian yang paling umum
terjadi. Meskipun penyebab kematian (kekerasan, tidak diharapkan, traumatik)
mengakibatkan risiko terbesar bagi yang bertahan hidup, tetapi hal ini tidak
selalu menentukan bagaimana individu akan berduka. Gaya adaptasi (seperti
daya tahan, ketabahan, dan pengontrolan diri), sama halnya dengan
kemampuan untuk merasakan kehilangan dan menemukan manfaat dari rasa
kehilangan, merupakan faktor-faktor yang telah dibuktikan dapat membantu
dan bermanfaat (Holland et al., 2006; Ong et al.,2006; Onrus et al.,2006;
Matthew, 2007). Berduka yang normal merupakan respons yang kompleks
dengan emosi, kognitif, sosial, fisik, perilaku, dan konsep spiritual.

b. Berduka Berkomplikasi
Pada sebagian kecil individu, adaptasi terhadap berduka yang normal tidak
terjadi. Pada berduka berkomplikasi (disfungsional), berduka yang dirasakan
individu berkepanjangan atau kesulitan saat ingin bergerak maju setelah
mengalami rasa kehilangan. Mengalami kehilangan orang yang dicintai,

7
individu dengan berduka berkomplikasi mengalami kerinduan yang kronis dan
mengganggu terhadap orang yang sudah meninggal cenderung memiliki
kesulitan dalam menerima kematian, kepercayaan orang lain, merasakan
kepahitan, atau kekhawatiran akan masa depan. Mereka juga dapat merasakan
mati rasa secara emosional.

c. Berduka yang Diantisipasi


Seseorang akan mengalami berduka yang diantisipasi (anticipatory grief),
suatu proses pelepasan bawah sadar atau membiarkan pergi sebelum rasa
kehilangan aktual atau kematian terjadi, terutama terjadi dalam situasi rasa
kehilangan yang diperpanjang atau telah diperkirakan (Corless, 2006). Ketika
berduka berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka individu akan
lebih memahami rasa kehilangan secara bertahap dan mulai untuk
mempersiapkan hal yang tidak direlakkan darinya. Mereka mengalami respons
berduka yang lebih kuat (misalnya: goncangan, penyangkalan, dan kesedihan).

d. Berduka yang Tidak Lepas


Individu mengalami berduka yang tidak lepas (disenfranchised grief), yang
juga dikenal sebagai berduka marginal atau tidak didukung, ketika hubungan
mereka dengan orang yang sudah meninggal tidak disetujui secara sosial, tidak
dapat diakui secara terbuka didepan umum, atau terlihat kurang signifikan
(Hooyman & Kremer, 2006). Contohnya kematian individu yang sudah tua,
mantan suami/istri, pasangan gay, atau bahkan hewan peliharaan yang dicintai.

e. Berduka Tertutup
Berduka yang tertutup, yaitu kedukaan akibat kehilangan yang tidak dapat
diakui secara terbuka. Contohnya, kehilangan pasangan karena AIDS, anak
mengalami kematian orang tua tiri, atau ibu yang kehilangan anaknya di
kandungan atau ketika bersalin.

2.2.3 Respons Berduka dan Rangkain Proses Berduka

Respons berduka seseorang terhadap kehilangan dapat melalui tahap-tahap berikut


(Kubler-Ross, dalam Potter & Perry, 1997).

1. Tahap Pengingkaran.

8
Reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak
dipercaya, mengerti, atau mengingkari kenyataan bahwa kehilangan benar-
benar terjadi. Sebagai contoh, orang atau keluarga dari orang yang menerima
diagnosis terminal akan terus berupaya mencari informasi tambahan. Reaksi
fisik yang terjadi pada tahap ini adalah letih, lemah, pucat, mual, diare,
gangguan pernapasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah, dan sering kali
individu tidak tahu harus berbuat apa. Reaksi ini dapat berlangsung dalam
beberapa menit hingga beberapa tahun.

2. Tahap Marah
Pada tahap ini individu menolak kehilangan. Kemarahan yang timbul sering
diproyeksikan kepada orang lain atau dirinya sendiri. Orang yang mengalami
kehilangan juga tidak jarang menunjukkan perilaku agresif, berbicara kasar,
menyerang orang lain, menolak pengobatan, bahkan menuduh dokter atau
perawat tidak kompeten. Respons fisik yang sering terjadi, antara lain muka
merah, denyut nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan mengepal, dan
seterusnya.

3. Tahap Tawar-Menawar
Pada tahap ini terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadi kehilangan
dan dapat mencoba untuk membuat kesepakatan secara halus atau terang-
terangan seolah-olah kehilangan tersebut dapat dicegah. Individu mungkin
berupaya untuk melakukan tawar-menawar dengan memohon kemurahan
Tuhan.

4. Tahap Depresi
Pada tahap ini pasien sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang-kadang
bersikap sangat penurut, tidak mau bicara, menyatakan keputusasaan, rasa
tidak berharga, bahkan bisa muncul keinginan bunuh diri. Gejala fisik yang
ditunjukkan, antara lain menolak makan, susah tidur, letih, turunnya dorongan
libido, dan lain-lain.

5. Tahap Penerimaan
Tahap ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan. Pikiran yang
berpusat pada objek yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Individu
telah menerima kenyataan kehilangan yang dialaminya dan mulai memandang
ke depan. Gambaran tentang objek atau orang yang hilang akan mulai

9
dilepaskan secara bertahap. Perhatiannya akan beralih pada objek yang baru.
Apabila individu dapat memulai tahap tersebut dan menerima dengan perasaan
damai, maka dia dapat mengakhiri proses berduka serta dapat mengatasi
perasaan kehilangan secara tuntas. Kegagalan untuk masuk ke tahap
penerimaan akan memengaruhi kemampuan individu tersebut dalam
mengatasi perasaan kehilangan selanjutnya.

2.3 Teori Kehilangan, Berduka dan Berkabung

Pengetahuan tentang teori berduka dan respons normal terhadap rasa kehilangan
dan kehilangan membantu pemahaman perawat tentang pengalaman yang kompleks
tersebut. Teori berduka secara konstan mengakui respons berduka individu. Jangan
menganggap bahwa individu yang berubah-ubah dari respons berduka normal adalah
abnormal. Namun sebagian besar teori berduka menggambarkan bagaimana individu
beradaptasi dengan kematian, mereka juga dapat digunakan untuk memahami respons
terhadap rasa kehilangan orang terdekat (Potter & Perry, 2010).

a. Tahap-tahap kematian
Teori perilaku klasik Kubler Ross (1969) menggambarkan lima tahap kematian.
Namun tahap-tahap tersebut ditulis dalam suatu kondisi, individu yang berduka tidak
akan mengalaminya dalam kondisi-kondisi tertentu atau untuk waktu yang panjang
dan sering berpindah kembali dan seterusnya dari satu tahap ke tahap lainnya.

1. Tahap Penyangkalan (denial), individu bertindak seperti tidak terjadi sesuatu dan
menolak menerima kenyataan adanya rasa kehilangan. Individu menunjukkan
seolah-olah tidak memahami apa yang telah terjadi.

2. Tahap Kemarahan (anger), ketika individu mengalami tahap ini individu


mengungkapkan pertahanan dan terkadang merasakan kemarahan yang hebat
terhadap Tuhan, individu lain, atau situasi.

3. Tawar-menawar (bargaining), melindungi dan menunda kesadaran akan rasa


kehilangan dengan mencoba untuk mencegahnya untuk terjadi. Individu yang
berduka atau sekarat membuat janji dengan dirinya sendiri, Tuhan, atau orang

10
yang dicintai bahwa mereka akan hidup atau mempercayai secara berbeda jika
mereka dapat dihindarkan dari kehilangan yang menakutkan itu.

4. Tahap Depresi (depression), ketika seseorang menyadari secara keseluruhan


akibat dari rasa kehilangan, terjadilah depresi. Beberapa individu merasa sedih,
putus asa, dan kesendirian yang berlebihan. Karena mengalami hal yang buruk,
mereka terkadang menarik diri dari hubungan dan kehidupan.

5. Tahap Penerimaan (acceptance), individu memasukkan rasa kehilangan ke dalam


kehidupan dan menemukan cara untuk bergerak maju.

b. Teori Kasih Sayang


Teori kasih sayang (attachment theory) Bowlby (1980) menggambarkan
pengalaman berkabung. Kasih sayang, suatu perilaku berdasarkan naluri,
menyebabkan perkembangan ikatan kasih sayang antara anak dan perawat primer
mereka. Ikatan hubungan ada dan aktif sepanjang siklus kehidupan, dan individu
selanjutnya akan menyamakannya dengan individu dalam hubungan yang lain.
Perilaku kasih sayang menjamin ketahanan hidup karena hal itu menjaga individu
dekat dengan semua yang menawarkan cinta, perlindungan, dan dukungan.
Bowbly menggambarkan empat fase berkabung. Sama dengan teori tahap
berduka yang lain, individu dapat kembali dan meneruskan antara dua fase manapun
dalam merespons rasa kehilangan.

1. Mati Rasa (numbing), fase berkabung paling singkat, berlangsung dari beberapa
jam sampai satu minggu atau lebih. Individu yang berduka menggambarkan fase
ini sebagai perasaan yang menyebabkan pingsan atau tidak nyata. Mati rasa
melindungi individu dari dampak penuh akibat rasa kehilangan.

2. Kerinduan dan Pencarian (yearning and searching), ledakan kesedihan yang


bersifat emosional dan tekanan akut merupakan karakteristik dari fase kedua
kehilangan ini. Gejala fisik yang banyak ditemukan dalam fase ini antara lain:
sesak di dada dan tenggorokan, napas yang pendek, perasaan lesu, sulit tidur, dan
tidak nafsu makan. Individu juga mengalami kerinduan dari dalam yang hebat
terhadap individu atau objek yang hilang. Fase ini dapat berlangsung selama
berbulan-bulan atau bisa lebih panjang lagi.

11
3. Fase Kekacauan dan Keputusasaan (disorganization and despair), selama fase
ini seorang individu akhirnya memeriksa bagaimana dan mengapa rasa kehilangan
terjadi atau mengungkapkan kemarahan pada seseorang yang sepertinya
bertanggung jawab terhadap rasa kehilangan tersebut. Individu yang berduka
menceritakan kembali kisah kehilangan tersebut berulang kali. Secara bertahap,
individu menyadari bahwa kehilangan tersebut bersifat permanen.

4. Fase Reorganisasi, dengan fase ini biasanya memakan waktu satu tahun atau
lebih, individu mulai menerima perubahan, menerima peran yang belum dikenal,
membutuhkan keterampilan baru, dan membangun hubungan baru. Individu yang
melakukan reorganisasi mulai membuka dirinya dari hubungan mereka yang
hilang tanpa merasakan bahwa mereka mengurangi kepentingannya.

c. Model Tugas Berduka

Worden (1982) mengajukan empat tugas berkabung dan menyarankan bahwa


individu yang berkabung terikat secara aktif dalam perilaku untuk mebantu dirinya
sendiri dan memberikan respons terhadap intervensi dari luar. Melewat tugas berduka
biasanya memerlukan minimal satu tahun penuh, tetapi waktu ini bervariasi pada
setiap orang.

1. Tugas I: Menerima kenyataan akan rasa kehilangan.


Bahkan ketika sebuah kematian diharapkan, orang yang selamat menyatakan
beberapa kesangsian dan keterkejutan bahwa kejadian tersebut benar telah terjadi.
Tugas I melibatkan proses penerimaan bahwa individu atau objek tersebut telah
pergi dan tidak akan kembali.

2. Tugas II: Melewati rasa nyeri akan berduka.


Meskipun individu memberikan respons terhadap rasa kehilangan secara berbeda,
tidak mungkin untuk mengalami rasa kehilangan yang signifikan tanpa beberapa
rasa nyeri emosional. Individu memberikan reaksi berupa kesedihan, kesendirian,
keputusasaan, dan penyesalan dan akan bekerja melalui perasaan nyeri dengan
menggunakan mekanisme adaptasi yang paling dikenal dan nyaman bagi mereka.

3. Tugas III: Beradaptasi dengan lingkungan di mana orang tersebut meninggal.


Seorang individu tidak menyadari sepenuhnya dampak dari rasa kehilangan
selama minimal 3 bulan. Anggota keluarga atau teman memberikan sedikit

12
perhatian kepada individu yang merasa kehilangan dalam jangka waktu yang
sama, sebagaimana akhir dari rasa kehilangan menjadi kenyataan. Individu yang
menyelesaikan tugas ini mulai mengambil peran yang tadinya diisi oleh orang
yang sudah meninggal, termasuk beberapa perkerjaan yang tidak mereka
inginkan.

4. Tugas IV: Merelokasi orang yang sudah meninggal secara emosional dan
melanjutkan kehidupan.
Orang yang sudah meninggal tidak dapat dilupakan, tetapi lebih cenderung
menempatkan secara berbeda dan kurang menonjol pada kehidupan emosional
individu yang masih hidup. Individu biasanya takut jika membuat hubungan baru
mereka akan melupakan orang yang mereka cintai atau terlihat tidak setia,
membuat tugas ini jadi sulit untuk diselesaikan. Menyadari bahwa mungkin untuk
mencintai individu lain tanpa mengkhianati orang yang sudah meninggal individu
tersebut terus maju.

d. Model Proses Rangkap Dua

Teori terbaru mempertimbangkan gender dan variasi budaya, serta


menunjukkan keterbatasan focus utama pada respons emsional internal terhadap
berduka. Sebagai contoh, model proses rangkap dua tentang cara beradaptasi dengan
kehilangan menggambarkan pengalaman hidup sehari-hari yang berkaitan dengan
berduka sebagai pengembalian atau penerusan antara proses berorientasi-pemulihan
dan proses berorientasi kehilangan (Hooyman dan Kremer, 2006; Stroebe dan Schut,
1999).

Perilaku berorientasi kehilangan meliputi sikap berduka, terus berduka,


memutuskan hubungan dengan orang yang sudah meninggal, dan menghalangi
kegiatan untuk mendapatkan rasa berduka masa lalu. Aktivitas yang berorientasi pada
pemulihan antara lain: menyelesaikan perubahan-perubahan hidup, menemukan
peran atau hubungan baru, beradaptasi dengan keuangan, dan berpartisipasi dengan
gangguan, memberikan keseimbangan pada bagian orientasi terhadap kehilangan.
Luasnya ikatan individu dengan proses berorientasi pada pemulihan atau kehilangan
tergantung pada faktor-faktor seperti personalitas, gaya adaptasi, atau praktik budaya.

13
2.4 Faktor-faktor yang Memengaruhi Rasa Kehilangan dan Berduka

Berbagai variable memengaruhi cara seseorang merasakan dan merespons rasa


kehilangan. Variable tersebut meliputi faktor-faktor perkembangan, hubungan personal,
sifat rasa kehilangan, strategi koping, status sosial ekonomi, serta kepercayaan dan
pengaruh spiritual dan budaya (Potter & Perry, 2010).

1. Perkembangan Manusia
Usia klien dan tahap perkembangan memengaruhi respons terhadap berduka.
Misalnya, anak-anak tidak dapat memahami rasa kehilangan atau kematian, tetapi
sering merasakan kecemasan akibat kehilangan objek dan terpisah dari orang tua.

2. Hubungan Personal
Ketika rasa kehilangan melibatkan individu lain, kualitas dan arti hubungan yang
hilang akan memengaruhi respons terhadap berduka. Ketika suatu hubungan antara
dua individu telah menjadi sangat dekat dan terjalin dengan baik, maka dapat
dimengerti bahwa individu yang hidup sulit untuk melanjutkan hidupnya.

3. Sifat dari Rasa Kehilangan


Menggali arti suatu rasa kehilangan yang dimiliki klien dapat membantu perawat
memahami secara lebih baik dampak dari rasa kehilangan pada perilaku, kesehatan,
dan kesejahteraan klien (Corles, 2006). Rasa kehilangan yang paling jelas biasanya
menstimulasi respons pertolongan dari individu lain.

4. Strategi Koping
Pengalaman hidup membentuk strategi koping yang digunakan seseorang untuk
mengatasi tekanan karena rasa kehilangan. Klien pertama-tama bergantung pada
strategi koping yang mereka kenal ketika mengalami tekanan akibat rasa kehilangan.
Ketika strategi koping yang biasanya tidak berhasil, individu memerlukan strategi
koping yang baru. Pengungkapan emosi (pelepasan, atau membicarakan tentang
perasaan seseorang) telah dipandang sebagai cara yang penting untuk beradaptasi
dengan rasa kehilangan. Di masa lalu, fokusnya adalah menolong individu
mengungkapkan kemarahan atau perasaan negative lainnya berhubungan dengan rasa
kehilangan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa fokus pada emosi yang

14
positif dan perasaan optimis mungkin lebih menjadi indikasi penting dari adaptasi
yang berhasil terhadap kehilangan (Ong et al., 2004).

5. Status Sosial Ekonomi


Status sosial ekonomi memengaruhi kemampuan seseorang untuk memasukkan
dukungan dan sumber daya untuk beradaptasi dengan rasa kehilangan dan respons
fisik terhadap tekanan (Cohen, Doyle, dan Baum, 2006). Ketika individu kekurangan
sumber daya finansial, pendidikan, atau pekerjaaan, beban kehilangan menjadi
berlipat.

6. Budaya dan Etnik


Budaya seseorang dan struktur sosial lainnya (misalnya keluarga atau keanggotaan
keagamaan) memengaruhi interpretasi terhadap rasa kehilangan, membangun
pengungkapan berduka yang diterima, serta menyelenggarakan stabilitas dan struktur
di tengah kekacauan dan rasa kehilangan.

7. Kepercayaan Spiritual dan Keagamaan


Penanganan penyakit secara serius pada klien biasanya melibatkan intervensi medis
untuk memulihkan atau menjaga kesehatan. Sebagai rangkaian praktik kedua, strategi
yang transformatif, mengakui keterbatasan hidup, dan membantu individu yang
sekarat menemukan arti dalam penderitaan sehingga mereka dapat melampaui atau
melangkah lebih ke depan, keberadaan diri mereka. Praktik yang transformatif
dihubungkan dengan penyembuhan, komunitas, dan kepercayaan spiritual atau
keagamaan (Myers, 2003).

8. Harapan
Harapan, suatu komponen spiritualitas multidimensi, mendorong dan memberikan
rasa nyaman bagi individu yang mengalami tantangan personal. Pengharapan
memberikan individu kemampuan untuk melihat kehidupan sebagai keabadian atau
memiliki arti serta tujuan. Sebagai suatu bentuk masa depan dan dorongan motivasi,
harapan membantu klien mempertahankan suatu harapan yang baik, suatu perbaikan
dalam lingkungan mereka, atau pengurangan terhadap sesuatu yang tidak
menyenangkan. Dengan harapan, sesorang klien berpindah dari perasaan lemah dan
rentang, menuju ke kehidupan yang penuh kemungkinan (Arnaert, Filteau dan
Sourial, 2006).

15
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA KLIEN DENGAN KEHILANGAN DAN


BERDUKA

3.1.1 PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Pengkajian masalah ini adalah adanya faktor predisposisi yang


memengaruhi respons seseorang terhadap perasaan kehilangan yang dihadapi,
antara lain sebagai berikut.

1. Faktor genetik. Individu yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga


dengan riwayat depresi akan sulit mengembangkan sikap optimis dalam
menghadapi suatu permasalahan, termasuk dalam menghadapi perasaan
kehilangan.

2. Kesehatan fisik. Individu dengan fisik, mental, serta pola hidup yang teratur
cenderung mempunyai kemampuan dalam mengatasi stress yang lebih tinggi
dibandingkan dengan individu yang mengalami gangguan jasmani.

3. Kesehatan mental. Individu yang mengalami gangguan jiwa, terutama yang


mempunyai riwayat depresi yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan
pesimis, selau dibayangi masa depan peka dalam menghadapi situasi
kehilangan.

4. Pengalaman kehilangan di masa lalu. Kehilangan atau perpisahan dengan


orang yang dicintai pada masa kanak-kanak akan memengaruhi kemampuan
individu dalam mengatasi perasaan kehilangan pada masa dewasa.

5. Struktur kepribadian. Individu dengan konsep diri yang negative dan perasaan
rendah diri akan menyebabkan rasa percaya diri yang rendah dan tidak objektif
terhadap stress yang dihadapi.

6. Adanya stressor perasaan kehilangan. Stressor ini dapat berupa stressor yang
nyata ataupun imajinasi individu itu sendiri, seperti kehilangan biopsikososial

16
yang meliputi kehilangan harga diri, pekerjaan, seksualitas, posisi dalam
masyarakat, milik pribadi (kehilangan harta benda atau yang dicintai,
kehilangan kewarganegaraan, dan lain-lain). Mekanisme koping yang sering
dipakai oleh individu dengan respons kehilangan, antara lain pengingkaran,
regresi, intelektualisasi, disosiasi, supresi, dan proyeksi yang digunakan untuk
menghindari intensitas stress yang dirasakan sangat menyakitkan. Dalam
keadaan patologi, mekanisme koping sering dipakai secara berlebihan atau
tidak memadai. Pengkajian tanda klinis berupa adanya distress somatis seperti
gangguan lambung, rasa sesak, napas pendek, sering mengeluh, dan merasakan
lemah. Pengkajian terhadap masalah psikologis adalah tidak ada atau
kurangnya pengetahuan dan pemahaman kondisi yang terjadi, penghindaran
pembicaraan tentang kondisi penyakit, serta kemampuan pemahaman
sepenuhnya terhadap prognosis dan usaha menghadapinya.

3.1.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosis keperawatan yang kemungkinan terjadi pada masalah


kehilangan dan berduka, sebagaimana dalam NANDA-Internasional 2015-2017
tersaji pada table berikut:

Diagnosis Keperawatan Faktor Berhubungan Batasan Karakteristik (Data


(Problem/P) (Etiologi/E) Subjektif/Objektif/Symtom/S)

Duka cita (00136) Kematian/kehilangan orang Marah, sering menyalahkan,


yang terdekat. menarik diri, merasakan putus asa,
pikiran kacau/disorganisasi,
adanya gangguan tidur, kepedihan,
perilaku panic, adanya distress
psikologis, adanya perubahan
tingkat aktivitas, adanya
perubahan fungsi imun, dan lain-
lain.

Duka cita terganggu (00135) Ketidakstablian emosional, Depresi, letih, penurunan fungsi

17
kurangnya dukungan social, dalam peran hidup, menghindari
dan adanya kematian orang berduka, merindukan almarhum,
terdekat. terus memikirkan almarhum,
adanya kecemasan, bingung,
adanya ungkapan perasaan hampa,
perasaan syok, marah, tidak
percaya, curiga pada orang lain,
melamun, menyalahkan diri,
adanya distress, dan lain-lain.

Risiko duka cita terganggu Adanya faktor risiko, seperti Adanya faktor risiko.
(00172) kematian orang terdekat,
emosi yang tidak stabil, dan
dukungan social yang
kurang.

3.1.3 RENCANA DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Secara umum, perencanaan dan implementasi keperawatan yang dilakukan


untuk menghadapi kedukaan adalah sebagai berikut.

1. Membina dan meningkatkan hubungan saling percaya dengan cara sebagai


berikut.

a. Mendengarkan pasien berbicara.

b. Memberi dorongan agar pasien mau mengungkapkan perasaannya.

c. Menjawab pertanyaan pasien secara langsung menunjukkan sikap


menerima, dan empati.

2. Mengenali faktor-faktor yang mungkin menghambat dengan cara sebagai


berikut.

18
a. Bersama pasien mendiskusikan hubungan pasien dengan orang atau objek
yang pergi atau hilang.

b. Menggali pola hubungan pasien dengan orang yang berarti.

3. Mengurangi atau menghilangkan faktor penghambat dengan cara sebagai


berikut.

a. Bersama pasien mengingat kembali cara mengatasi perasaan berduka di


masa lalu.

b. Memperkuat dukungan serta kekuatan yang dimiliki pasien dan keluarga.

c. Mengenali dan menghargai social budaya agama serta kepercayaan yang


dianut oleh pasien dan keluarga dalam mengatasi perasaan kehilangan.

4. Memberi dukungan terhadap respons kehilangan pasien dengan cara sebagai


berikut.

a. Menjelaskan kepada pasien atau keluarga bahwa sikap mengingkari,


marah, tawar-menawar, depresi, dan menerima adalah wajar dalam
menghadapi kehilangan.

b. Memberi gambaran tentang cara mengungkapkan perasaan yang bisa


diterima.

c. Menguatkan dukungan keluarga atau orang yang berarti.

5. Meningkatkan rasa kebersamaan antaranggota keluarga dengan cara sebagai


berikut.

a. Menguatkan dukungan keluarga atau orang yang berarti.

b. Mendorong pasien untuk menggali perasaannya bersama anggota keluarga


lainnya, mengenali masing-masing anggota masyarakat.

c. Menjelaskan manfaat hubungan dengan orang lain.

d. Mendorong keluarga untuk mengevaluasi perasaan dan saling mendukung


satu sama lain.

19
6. Menentukan tahap keberadaan pasien dengan cara sebagai berikut.

a. Mengamati perilaku pasien.

b. Menggali pikiran perasaan pasien yang selalu timbul dalam dirinya.

Secara khusus, tahap/rentang respons individual terhadap kedukaan


adalah sebagai berikut.

1) Tahap Pengingkaran

a. Memberi kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan


perasaannya dengan cara sebagai berikut.

Mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan berdukanya.

Meningkatkan kesabaran pasien secara bertahap tentang


kenyataan dan kehilangan, apabila sudah siap secara emosional.

b. Menunjukkan sikap menerima dengan ikhlas dan mendorong pasien


untuk berbagi rasa dengan cara sebagai berikut.

Mendengarkan dengan penuh perhatian dan minat mengenai hal


yang dikatakan oleh pasien tanpa menghukum atau menghakimi.

Menjelaskan kepada pasien bahwa sikap tersebut biasa terjadi


pada orang yang mengalami kehilangan.

c. Memberi jawaban yang jujur terhadap pertanyaan pasien tentang sakit,


pengobatan, dan kematian dengan cara sebagai berikut.

Menjawab pertanyaan pasien dengan bahasa yang mudah


dimengerti, jelas, dan tidak berbelit-belit.

Mengamati dengan cermat respons pasien selama berbicara.

Meningkatkan kesadaran secara bertahap.

2) Tahap Marah

20
Mengizinkan dan mendorong pasien mengungkapkan rasa marah
secara verbal tanpa melawan kemarahan tersebut dengan cara sebagai
berikut.

a. Menjelaskan kepada keluarga bahwa kemarahan pasien sebenarnya


tidak ditujukan kepada mereka.

b. Membiarkan pasien menangis.

c. Mendorong pasien untuk membicarakan kemarahannya.

3) Tahap Tawar-Menawar

Membantu pasien mengungkapkan rasa bersalah dan takut dengan


cara sebagai berikut.

a. Mendengarkan ungkapan dengan penuh perhatian.

b. Mendorong pasien untuk membicarakan rasa takut atau rasa


bersalahnya.

c. Bila pasien selalu mengatakan kata kalau atau seandainya,


beritahu pasien bahwa perawat hanya dapat melakukan sesuatu yang
nyata.

d. Membahas bersama pasien mengenai penyebab rasa bersalah atau rasa


takutnya.

4) Tahap Depresi

a. Membantu pasien mengidentifikasi rasa bersalah dan takut dengan cara


sebagai berikut.

Mengamati perilaku pasien dan bersama dengannya membahas


perasaannya.

Mencegah tindakan bunuh diri atau merusak diri sesuai derajat


risikonya.

21
b. Membantu pasien mengurangi rasa bersalah dengan cara sebagai
berikut.

Meghargai perasaan pasien.

Membantu pasien menemukan dukungan yang positif dengan


mengaitkan terhadap kenyataan.

Memberi kesempatan untuk menangis dan mengungkapkan


perasaannya.

Bersama pasien membahas pikiran negative yang selalu timbul.

5) Tahap Penerimaan

Membantu pasien menerima yang tidak bisa dielakkan dengan cara


sebagai berikut.

a. Membantu keluarga mengunjungi pasien secara teratur.


b. Membantu keluarga berbagi rasa, karena setiap anggota keluarga tidak
berada pada tahap yang sama pada saat yang bersamaan.
c. Membahas rencana setelah masa berkabung terlewati.
d. Memberi informasi akurat tentang kebutuhan pasien dan keluarga.

3.1.4 EVALUASI KEPERAWATAN

Evaluasi terhadap masalah kehilangan dan berduka secara umum dapat


dinilai dari kemampuan untuk menghadapi atau memaknai arti kehilangan, reaksi
terhadap kehilangan, dan perubahan perilaku yang menerima arti kehilangan.

22
BAB IV

PENUTUP

4.1 SIMPULAN

Kehilangan (loss) adalah suatu situasi actual maupun potensial yang dapat dialami
individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian atau
keseluruhan, atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi perasaan
kehilangan.Setiap individu akan bereaksi terhadap kehilangan. Respons terakhir
kehilangan sangat dipengeruhi oleh respons individu terhadap kehilangan sebelumnya
(Potter & Perry, 1997).

Sementara itu, berduka (grieving) merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan.


Hal ini diwujudkan dalam berbagai cara yang unik pada masing-masing orang dan
didasarkan pada pengalaman pribadi, ekspetasi budaya, dan keyakinan spiritual yang
dianutnya.Respons berduka seseorang terhadap kehilangan dapat melalui tahap-tahap
berikut (Kubler-Ross, dalam Potter & Perry, 1997) yaitu, Tahap Pengingkaran, Tahap
Marah, Tahap Tawar-Menawar, Tahap Depresi dan Tahap Penerimaan.

Adapun faktor-faktor yang memengaruhi rasa kehilangan dan berduka adalah


Perkembangan Manusia, Hubungan Personal, Sifat dari Rasa Kehilangan, Strategi
Koping, Status Sosial Ekonomi, Budaya dan Etnik, Kepercayaan Spiritual dan
Keagamaan, dan Harapan

4.2 SARAN

Klien dan keluarga memerlukan asuhan keperawatan khusus mengenai berduka


dan kematian, bahkan mungkin lebih banyak dibandingkan perawatan yang lainnya. Oleh
karena itu pentingnya asuhan keperawatan yang lebih mengkhusus guna menghadapi
klien dengan masalah kehilangan dan berduka selain itu penting juga bagi perawat
memahami konsep dari kehilangan dan berduka.

23
DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Aziz.2014.Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Buku 1 Edisi 2.Jakarta: Salemba

Medika

Cornelius K,dkk. 2002. At a Glance Psikiatri. Jakarta: Penerbit Erlangga

Direja A.H.S.2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa.Yogyakarta: Nuha Medika

Herdman,T.Heather.2015.Nanda Internasional Inc. Diagnosa Keperawatan : definisi &

Klasifikasi 2015-2017.Edisi:10.Jakarta: EGC

Potter, A. Patricia dan Anne G. Perry. 2010. Fundamental Keperawatan, Edisi 7 Buku 2.

Singapore: Elsevier

24