Anda di halaman 1dari 17

Teori Pusat Berganda (Harris dan Ullman,1945) menyatakan bahwa DPK atau CBD

adalah pusat kota yang letaknya relatif di tengah-tengah sel-sel lainnya dan berfungsi sebagai
salah satu growing points. Zona ini menampung sebagian besar kegiatan kota, berupa pusat
fasilitas transportasi dan di dalamnya terdapat distrik spesialisasi pelayanan, seperti
retailing distrik khusus perbankan, teater dan lain-lain (Yunus, 2000:49). Namun, ada
perbedaan dengan dua teori yang disebutkan di atas, yaitu bahwa pada Teori Pusat Berganda
terdapat banyak DPK atau CBD dan letaknya tidak persis di tengah kota dan tidak selalu
berbentuk bundar.

Teori Keruangan Kota Harris dan Ullman (Multiple Nucleus Theory)

Kota merupakan wilayah yang merupakan perwujudan aktivitas manusia di


permukaan bumi. Setiap kota akan memiliki karakteristik keruangan masing-masing. Salah
satu teori mengenai pola keruangan kota adalah teori Harris - Ullman pada tahun 1945. Harris
- Ullman berpendapat bahwa pola keruangan kota diawali oleh suatu pusat kegiatan (Central
District Bussines) yang dapat berupa kegiatan ekonomi, pendidikan, sosial atau lain
sebagainya. Jadi yang memiliki pusat kegiatan buka hanya inti kota, daerah pinggiran yang
terdapat suatu kegiatan pun dapat menjadi pusat daerah kegiatan. Teori ini juga disebut
sebagai teori inti ganda. Pola keruangan kota ini tidak menunjukkan urutan-urutan yang
teratur dikarenakan perkembangan kota dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu seperti
sejarah, situs kota, keadaan geografis dan lain sebagainya. Gambar pola keruangan kota
Harris - Ullman dapat dilihat pada gambar di bawah ini
TEORI PUSAT BERGANDA

(MULTIPLE NUCLEI ZONE TEORY)

Teori Pusat Berganda (Multiple Nuclei Zone Teory) menurut R.D. McKenzie
menerangkan bahwa kota meliputi: pusat kota, kawasan kegiatan ekonomi, kawasan hunian,
dan pusat lainnya. Pola ini umumnya berlaku untuk kota-kota yang agak besar

Teori Pusat Berganda (Harris dan Ullman,1945) menyatakan bahwa DPK atau CBD
adalah pusat kota yang letaknya relatif di tengah-tengah sel-sel lainnya dan berfungsi sebagai
salah satu growing points. Zona ini menampung sebagian besar kegiatan kota, berupa pusat
fasilitas transportasi dan di dalamnya terdapat distrik spesialisasi pelayanan, seperti
retailing distrik khusus perbankan, teater dan lain-lain (Yunus, 2000:49). Namun, ada
perbedaan dengan dua teori yang disebutkan di atas, yaitu bahwa pada Teori Pusat Berganda
terdapat banyak DPK atau CBD dan letaknya tidak persis di tengah kota dan tidak selalu
berbentuk bundar.

Multi-Nuclei Teori, dalam ilmu sosial, sebuah model perkotaan di lahan yang
tumbuh dari beberapa kota mandiri poin dibandingkan dari satu pusat bisnis. Setiap titik yang
bertindak sebagai pusat pertumbuhan untuk suatu jenis pemanfaatan lahan, seperti industri,
ritel, atau berkualitas tinggi perumahan. Karena memperluas, mereka bergabung untuk
membentuk satu wilayah kota. Berbagai-nuclei adalah yang paling rumit di kota-tanah
menggunakan model dan satu-satunya yang memberikan beberapa informasi tentang
perkembangan kota-kota di negara berkembang.

Nuclei beberapa model yang merupakan model ekologis melahirkan oleh Chauncy
Harris dan Edward Ullman di 1945 artikel "The Nature of Cities." Model menjelaskan tata
letak kota. Ia mencatat bahwa sementara kota mungkin telah dimulai dengan pusat bisnis,
industri serupa dengan tanah-biasa digunakan dan keuangan persyaratan yang didirikan di
dekat satu sama lain. Kelompok ini sangat mempengaruhi langsung lingkungan. Hotel dan
restoran di sekitar bandar udara musim semi, misalnya. Jumlah dan jenis nuclei menandai
pertumbuhan kota.

Teori dibentuk berdasarkan gagasan bahwa ada orang yang lebih besar akibat
peningkatan gerakan kepemilikan mobil. Meningkatkan gerakan ini memungkinkan untuk
spesialisasi daerah pusat (misalnya, industri berat, bisnis taman). Perkotaan adalah struktur
pengaturan penggunaan tanah di perkotaan. Sociologists, ekonom, dan geographers telah
mengembangkan beberapa model, di mana menjelaskan berbagai jenis usaha dan masyarakat
cenderung ada di dalam perkotaan pengaturan. Tiga model yang dijelaskan dalam artikel ini.
Struktur perkotaan juga dapat merujuk pada struktur tata ruang perkotaan, yang kekhawatiran
pengaturan dari ruang publik dan swasta di kota-kota dan sudut konektivitas dan aksesibilitas.

Geographers CD Harris dan EL Ullman mengembangkan beberapa nuclei model


1945. Menurut model ini, sebuah kota yang berisi lebih dari satu pusat kegiatan sekitar yang
berputar. Beberapa kegiatan yang tertarik ke node tertentu sementara yang lain mencoba
untuk menghindari mereka. Misalnya, sebuah universitas node Mei menarik penduduk
berpendidikan baik, pizzerias, dan toko buku, sedangkan yang menarik bandara Mei hotel
dan gudang. Bertentangan lahan kegiatan akan menghindari kekelompokan di wilayah yang
sama, menjelaskan mengapa industri berat dan tinggi pendapatan perumahan jarang ada di
lingkungan yang sama.

Struktur kota yang seperti sangat jelas terlihat pada kota-kota raksasa seperti kota
megapolis atau kanurbasi yang merupakan gabungan kota-kota besar. Struktur ruang kota
menurut teori inti berganda adalah sebagai berikut:
Keterangan:

1. Pusat kota atau Central busness Distrik (CBD)

2. Kawasan niaga dan industry pangan

3. Kawasan murbawisma, tempat tinggal berkualitas rendah

4. Kawasan madyawisma, tempat tinggal berkualitas menengah

5. Kawasan adiwisma, tempat tinggal berkualitas tinggi

6. Pusat industry berat

7. Pusat niaga perbelanjaan di pinggiran

8. Upkota, untuk kawasan masyawisma dan adiwisma

9. Upakota (suburb) kawasan industri

Model diatas menunjukkan bahwa kota-kota besar akan mempunyai sruktur yang
terbentuk atas sel-sel (cellular sructure) dimana penggunaan lahan yang berbeda-beda akan
berkembang di sekitar titik-titik pertumbuhan (growing points) atau nuclei di dalam daerah
perkotaan. Gambar diatas mengisyaratkan adanya beberapa kesamaan antara teori konsentris
dan sector.

Butir pertama adalah pada setting CBD yang relative memang terletak di tengah
sel-sel yang lain karena berfungsi sebagai salah satu growing Points. Butir kedua
mengenai perbatasan zone, 1, 2, 3, 4, 5 yang masing-masing berbatasan langsung dalam arti
bahwa zona 1 berbatasan langsung dengan zona 2, zona 2 berbatasan langsung dengan zona
3, dan seterusnya. Butir 3 mengungkapkan adanya distandecay principle juga walau pada
teori sector hal ini sangat samar-samar namun pada teori pusat kegiatan ganda ide ini nampak
lagi walau tidak sejelas pada teori konsentris. Butir 4 adalah keberadaan zona permukiman
kelas rendah yang selalu berasosiasi dengan lokasi wholesale light manufacturing.
Ketersediaan lapangan pekerjaan, akomodasi yang murah kiranya mengarahkan terciptanya
asosiasi ini.

Sementara itu beberapa perbedaan memang dapat terlihat. Butir pertama


menyangkut lokasi CBD juga. Kalau dalam teori konsentris CBD betul terletak di tengah kota
secara sempurna dalam artian jarak dari batas terluar kota relative sama, namun teori sector
dan kegiatan ganda tidaklah demikian. Butir kedua menyangkut jumlah CBD sebagai
growing point. Dalam teori sector dan konsentris terdapat satu CBD (unicentered theories),
tetapi dalam teori pusat kegiatan ganda terdapat lebih dari satu business district. Butir ketiga
berhubungan dengan persebaran keruangannya. Dalam teori konsentris tercipta model
konsentris sempurna, dalam teori sektoral bersifat sectoral dan modifikasi konsentris sedang
sifat konsentris pada teori kegiatan berganda nampak samar, tetapi bersifat cellular.

Berikut penjelasan mengenai masing-masing zona dalam teori pusat kegiatan


berganda :

Zona 1: Central Business District

Seperti halnya teori konsentris dan sector, zona ini berupa pusat kota yang
menampung sebagian besar kegiatan kota. Zona ini berupa pusat fasilitas transportasi dan di
dalamnya terdapat district spesialisasi pelayanan, seperti retailing distrik khusus perbankan,
theater dan lain-lain.
Zona 2: Wholesale Light Manufacturing

Oleh karena keberadaan fungsi sangat membutuhkan jasa angkutan besar maka
fungsi ini banyak mengelompok sepanjang jalan kereta api dan dekat dengan CBD. Zona ini
tidak berada di sekeliling zona 1 tetapai hanta berdekatan saja. Sebagaimana wholesale,
Light manufacturing yaitu: transportasi yang baik, ruang yang memadai, dekat dengan
pasar dan tenaga kerja.

Zona 3: Daerah Permukiman Kelas Rendah

Permukiman memang membutuhkan persyaratan khusus. Dalam hal ini ada


persaingan mendapatkan lokais yang nyaman antara golongan berpenghasilan tinggi dengan
golongan yang berpenghasilan rendah. Hasilnya sudah dapat diramalkan bahwa golongan
tinggi akan mendapatkan daerah yang nyaman dan golongan rendah akan memperoleh daerah
yang kurang baik. Zona ini mencerminkan daerah yang kurang baik untuk permukiman
sehingga penghuninya umumnya dari golongan rendah dan permukimannya juga relative
lebih jelek dari zona 4. Zona ini dekatdengan pabrik-pabrik, kalan kereta api dan drainase
jelek.

Zona 4: Daerah Permukiman Kelas Menengah

Zona ini tergolong lebih baik dari pada zona 3 baik dari segi fisik maupun
penyediaan fasilitas kehidupannya. Penduduk yang tinggal disini pada umumnya mempunyai
penghasilan lebih tinggi dari pada penduduk zona3.

Zona 5: Daerah Permukiman Kelas Tinggi

Zona ini mempunyai kondisi paling baik untuk permukiman dalam artian fisik
maupun penyedian fasilitas. Lingkungan alamnya pun menjajikan kehidupan yang tenteram,
aman, sehat dan menyenangkan. Hanya golongan penduduk yang berpenghasilan tinggi yang
mampu memiliki lahan dan rumah disini. Lokasinya relatife jauh dari CBD, industry berat
dan ringan, namun untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari didekatnya dibangun Business
District baru yang fungsinya tidak kalah dengan CBD. Pusat-pusat baru seperti kampus, pusat
rekreasi, taman-taman sangat menarik perkembangan permukiman menengah dan tinggi.
Zona 6: Heavy Manufacturing

Zona ini merupakan konsentrasi pabrik-pabrik besar. Berdekatan dengan zona ini
biasanya mengalami berbagai permasalahan lingkungan seperti pencemaran udara,
kebisingan, kesemerawutan lalu lintas dan sebagainya, sehinnga untuk kenyamanan tempat
tinggal tidak baik, namun di daerah ini terdapat berbagai lapangan pekerjaan yang banyak.
Adalah wajar apabila kelompok penduduk perpenghasilan rendah bertempat tinggal dekat
dengan zona ini.

Zona 7: Business District Lainnya

Zona ini muncul untuk memenuhi kebutuhan penduduk zona 4 dan5 dan sekaligus
akan menarik fungsi-fungsi lain untuk berada di dekatnya. Sebagai salah satu pusat (nuclei)
zona ini akan menciptakan suatu pola tata ruang yang berbeda pula, sehingga tidak mungkin
terciptanya pola konsentris, tetapi membentuk sebaran cellular lagi sesuai dengan
karakteristik masing-masing.

Zona 8: Zona Tempat Tinggal Di Daerah Pinggiran

Zona ini membentuk komunitas tersendiri dalam artian lokasinya. Penduduk disini
sebagian besar bekerja di pusat-pusat kota dan zona ini semata-mata digunakan untuk tempat
tinggal. Walaupun demikian makin lama akan makin berkembang dan menarik fungsi lain
juga, seperti pusat perbelanjaan, perkantoran dan lain-lain. Proses perkembangannya akan
serupa dengan kota lama.

Zona: 9 Zona Industri Di Daerah Pinggiran

Sebagaiman perkembangan industry-industri lainnya unsure transportasi selalu


persyaratan untuk hidupnya fungsi ini. Walaupun terletak di daerah pinggiran zona ini di
jangkau jalur transportasi yang memadai. Sebagai salah satu pusat (nuclei) pada
perkembangan selanjutnya dapat menciptakan pola-pola persebaran keruangannya sendiri
dengan proses serupa.

Teori Inti Ganda (Multiple Nucleus Theory)


Teori ini dikemukakan oleh Harris dan Ullman pada tahun 1945. Kedua geograf ini
berpendapat, meskipun pola konsentris dan sektoral terdapat dalam wilayah kota,
kenyataannya lebih kompleks dari apa yang dikemukakan dalam teori Burgess dan Hoyt.

Pertumbuhan kota yang berawal dari suatu pusat menjadi bentuk yang kompleks.
Bentuk yang kompleks ini disebabkan oleh munculnya nukleus-nukleus baru yang berfungsi
sebagai kutub pertumbuhan. Nukleus-nukleus baru akan berkembang sesuai dengan
penggunaan lahannya yang fungsional dan membentuk struktur kota yang memiliki sel-sel
pertumbuhan.

Nukleus kota dapat berupa kampus perguruan tinggi, Bandar udara, kompleks
industri, pelabuhan laut, dan terminal bus. Keuntungan ekonomi menjadi dasar pertimbangan
dalam penggunaan lahan secara mengelompok sehingga berbentuk nukleus. Misalnya,
kompleks industri mencari lokasi yang berdekatan dengan sarana transportasi. Perumahan
baru mencari lokasi yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan dan tempat pendidikan.

Harris dan Ullman berpendapat bahwa karakteristik persebaran penggunaan lahan


ditentukan oleh faktor-faktor yang unik seperti situs kota dan sejarahnya yang khas, sehingga
tidak ada urut-urutan yang teratur dari zona-zona kota seperti pada teori konsentris dan
sektoral. Teori dari Burgess dan Hoyt dianggap hanya menunjukkan contoh-contoh dari
kenampakan nyata suatu kota.
TEORI C.D.HARRIS DAN F.L.ULLMAN (Pusat Kegiatan Banyak/Multiple Nuclet)
TEORI C.D HARRIS DAN F.L ULLMAN

(PUSAT KEGIATAN BANYAK/

MULTIPLE NUCLET)

Teori ini menggambarkan bahwa kota-kota besar akan mempunyai struktur yang
terbentuk atas sel-sel, dimana penggunaan lahan yang berbeda-beda akan berkembang
disekitar titik-titik pertumbuhan atau Nuclei didalam daerah perkotaan. Perumusan ide ini
pertamakali diusulkan oleh C.D Harris dan F.L Ullmann tahun 1945. Disamping
menggabungkan ide-ide yang dikemukakan teori konsentris dan teori sektor, teori pusat
kegiatan banyak ini masih menambahkan unsur-unsur lain. Yang perlu diperhatikan adalah
Nuclei yang mengandung pengertian semua unsur yang menarik fungsi-fungsi antara lain
pemukiman, perdagangan, industri, dll. Oleh karenanya teori ini mempunyai struktur
keruangan yang berbeda dengan teori konsentris dan teori sektoral.
KOTA JAKARTA SEBAGAI SALAH SATU KOTA PUSAT KEGIATAN BANYAK

a. Sejarah kota Jakarta

Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam.
Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan
internasional yang ramai. Pengetahuan awal mengenai Jakarta terkumpul sedikit melalui
berbagai prasasti yang ditemukan di kawasan bandar tersebut. Keterangan mengenai kota
Jakarta sampai dengan awal kedatangan para penjelajah Eropa dapat dikatakan sangat sedikit.

Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bernama Kalapa,
yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda,
beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dekat dengan kota Bogor
sekarang. Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang
datang ke bandar Kalapa. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama
Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa. Fatahillah mengubah nama
Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati
sebagai hari lahir kota Jakarta. Orang-orang Belanda datang pada akhir abad ke-16 dan
kemudian menguasai Jayakarta.

Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip
dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk
melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar
lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang
anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota
Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan
lilngkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan
pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden.
Semangat nasionalisme Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal
abad ke-20.

Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu itu Sumpah Pemuda
berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung
bahasa persatuan : Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia
diubah lagi menjadi Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno membacakan
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih untuk pertama
kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun 1949. Pada saat itu
juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada tahun 1966,
Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Hal ini mendorong laju
pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintah dan kedutaan negara sahabat.
Perkembangan yang cepat memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan
kota Jakarta. Sejak tahun 1966, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah
metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis merupakan
sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan terkemuka pada abad ke-21.

Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu itu Sumpah
Pemuda berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan
menjunjung bahasa persatuan : Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945),
nama Batavia diubah lagi menjadi Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno
membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih
untuk pertama kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun
1949. Pada saat itu juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada
tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Hal ini mendorong
laju pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintah dan kedutaan negara sahabat.
Perkembangan yang cepat memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan
kota Jakarta. Sejak tahun 1966, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah
metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis merupakan
sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan terkemuka pada abad ke-21.

* Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran.


* 22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut
ditetapkan
sebagai hari jadi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956).
* 4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad
Batavia.
* 1 April 1905 berubah nama menjadi 'Gemeente Batavia'.
* 8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
* 8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.
* September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.
* 20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan. Pre Federal berubah nama menjadi Stad
Gemeente Batavia.
* 24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praj'a Jakarta.
* 18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja
Djakarta Raya.
* Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah
Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.
* 31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota
Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.
* Tahun1999, melalaui uu no 34 tahun 1999 tentang pemerintah provinsi daerah khusus
ibukota negara republik Indonesia Jakarta, sebutan pemerintah daerah berubah menjadi
pemerintah provinsi dki Jakarta, dengan otoniminya tetap berada ditingkat provinsi dan
bukan pada wilyah kota, selain itu wiolyah dki Jakarta dibagi menjadi 6 ( 5 wilayah
kotamadya dan satu kabupaten administrative kepulauan seribu)

Undang-undang Nomor 29 tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus


Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia(Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4700);

b. Penduduk sebagai faktor utama Pusat kegiatan banyak

Jumlah penduduk dalam periode 2002-2006 terus mengalami peningkatan walaupun


pertumbuhannya mengalami penurunan. Tahun 2002 jumlah penduduk sekitar 8,50 juta jiwa,
tahun 2006 meningkat menjadi 8,96 juta jiwa, dan dalam lima tahun ke depan jumlahnya
diperkirakan mencapai 9,1 juta orang. Kepadatan penduduk pada tahun 2002 mencapai
12.664 penduduk per km2, tahun 2006 mencapai 13.545 penduduk per km2 dan diperkirakan
dalam lima tahun kedepan mencapai 13.756 penduduk per km2.

Laju pertumbuhan penduduk pada periode tahun 1980-1990 sebesar 2,42 persen per
tahun, menurun pada periode 1990-2000 dengan laju 0,16 persen. Pada periode 2000-2005,
laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,06 persen per tahun.

Sepanjang periode 2002-2006 angka kematian bayi turun secara signifikan, yaitu dari 19,0
per 1000 kelahiran hidup tahun 2002 menjadi 13,7 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2006.
Dengan penurunan angka kelahiran total dari 1,56 pada tahun 2000 menjadi 1,53 pada tahun
2006, maka terlihat faktor dominan yang mempengaruhi pertambahan jumlah penduduk
adalah turunnya angka kematian bayi disamping migrasi dalam jumlah yang cukup besar
karena pengaruh daya tarik Kota Jakarta sebagai pusat administrasi pemerintahan, ekonomi,
keuangan, dan bisnis.
Dilihat dari struktur umur, penduduk Jakarta sudah mengarah ke penduduk tua,
artinya proporsi penduduk muda yaitu yang berumur 0-14 tahun sudah mulai menurun.
Bila pada tahun 1990, proporsi penduduk muda masih sebesar 31,9 persen, maka pada tahun
2006 proporsi ini menurun menjadi 23,8 persen. Sepanjang tahun 2002-2006, proporsi
penduduk umur muda tersebut relatif stabil, yaitu sekitar 23,8 persen. Sebaliknya proporsi
penduduk usia lanjut (65 tahun ke atas) naik dari 1,5 persen pada tahun 1990, menjadi 2,2
persen pada tahun 2000. Tahun 2006, proporsi penduduk usia lanjut mengalami kenaikan
menjadi 3,23 persen. Kenaikan penduduk lansia mencerminkan adanya kenaikan rata-rata
usia harapan hidup, yaitu dari 72,79 tahun pada tahun 2002 menjadi 74,14 tahun pada tahun
2006.

Sumber : Perda No.1 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah Tahun 2007-2012

c. Sumber kekayaan alam kota Jakarta

Jakarta dengan kondisi geografis lautan yang lebih luas dari daratan memiliki potensi
sumber daya laut yang cukup besar, yakni berupa
sumber daya mineral dan hasil laut.

Sumber daya mineral yang dihasilkan, tepatnya di


Pulau Pabelokan, Kepulauan Seribu, berupa minyak
bumi dan gas mulai dieksploitasi sejak tahun 2000
dengan rata-ratakapasitas produksi sekitar 4 juta barel
per tahun.

Kekayaan laut yang dapat dieksploitasi berupa ikan konsumsi dan ikan hias. Selama lima
tahun terakhir, tiap tahunnya rata-rata produksi ikan konsumsi mencapai 123 ribu ton dan
produksi ikan hias mencapai 59,86 juta ekor.
Sumber : Perda No.1 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah Tahun 2007-2012

d. Geografis kota Jakarta

Provinsi DKI Jakarta terbagi menjadi 5 wilayah Kota administrasi dan satu Kabupaten
administratif, yakni: Kota administrasi Jakarta Pusat dengan luas 47,90 km2, Jakarta Utara
dengan luas 142,20 km2, Jakarta Barat dengan luas 126,15 km2, Jakarta Selatan dengan luas
145,73 km2, dan Kota administrasi Jakarta Timur dengan luas 187,73 km2, serta Kabupaten
Administratif Kepulauan Seribu dengan luas 11,81 km2. Di sebelah utara membentang pantai
sepanjang 35 km, yang menjadi tempat bermuaranya 13 buah sungai dan 2 buah kanal. Di
sebelah selatan dan timur berbatasan dengan Kota Depok, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi dan
Kabupaten Bekasi, sebelah barat dengan Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang, serta di
sebelah utara dengan Laut Jawa.

Secara geologis, seluruh dataran terdiri dari endapan


pleistocene yang terdapat pada 50 m di bawah permukaan
tanah. Bagian selatan terdiri atas lapisan alluvial, sedang
dataran rendah pantai merentang ke bagian pedalaman sekitar
10 km. Di bawahnya terdapat lapisan endapan yang lebih tua
yang tidak tampak pada permukaan tanah karena tertimbun
seluruhnya oleh endapan alluvium. Di wilayah bagian utara baru terdapat pada kedalaman
10-25 m, makin ke selatan permukaan keras semakin dangkal 8-15 m. Pada bagian tertentu
juga terdapat lapisan permukaan tanah yang keras dengan kedalaman 40 m.

Keadaan Kota Jakarta umumnya beriklim panas dengan suhu udara maksimum berkisar
32,7C - 34,C pada siang hari, dan suhu udara minimum berkisar 23,8C -25,4C pada
malam hari. Rata-rata curah hujan sepanjang tahun 237,96 mm, selama periode 2002-2006
curah hujan terendah sebesar 122,0 mm terjadi pada tahun 2002 dan tertinggi sebesar 267,4
mm terjadi pada tahun 2005, dengan tingkat kelembaban udara mencapai 73,0 - 78,0 persen
dan kecepatan angin rata-rata mencapai 2,2 m/detik - 2,5 m/detik.
Sumber : Perda No 1 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Tahun 2007-2012

e. Kesimpulan

Jakarta merupakan Ibukota negara Indonesia. Hampir

seluruh kegiatan pemerintahan dan perekonomian dipusatkan di kota ini. Sebagai kota
yang mengakomodir semua kegiatan, tidak heran jika banyak orang yang berdatangan ke
Jakarta. Berbeda dengan kota-kota lain di Indone

sia, kota Jakarta mempunyai kompleksitas yang sangat rumit dan mempunyai
impliasi pada berbagai hal, baik itu masalah politik, ekonomi, sosial, budaya termasuk juga
masalah transportasi. Menyimak bagaimana karakteristik kota Jakarta, maka kita akan bisa
melihat kota Jakarta dengan berbagai posisi yang akan sangat berpengaruh pada faktor-faktor
lain dalam dinamika kehidupan sosial politik masyarakat. Masalah lalu lintas dan sistem
transportasi akan selalu terkait dengan Jakarta sebagai pusat aktivitas Indonesia. Ada
beberapa alasan mengapa lalu lintas menjadi penting di Jakarta, pertama, statusnya sebagai
ibukota Negara menjadikan Jakarta sebagai pusat pemerintahan yang menyebabkan banyak
kegiatan kenegaraan di kota Jakarta yang menuntut a

turan protokoler, baik nasional maupun internasional dan pengamanan khusus,


termasuk di bidang lalu lintas. Kedua, sebagai pusat kegiatan politik Jakarta memiliki
pengaruh dalam penetapan berbagai kebijakan. Kebijakan tersebut, akan mempengaruhi
secara langsung maupun tidak langsung terhadap bidang lalu lintas, karena selalu akan terkait
dengan mobilitas orang dan barang. Ketiga,sebagai pusat perekonomian Indonesia,
menyebabkan tingkat kepadatan dan kompleksitas masalah lalu lintas Jakarta tidak bisa
dihindari. Hal ini karena adanya konsekuensi mobilitas yang 2 membutuhkan efesiensi dan
efektivitas,sementara sarana dan prasarana lalu lintas di Jakarta belum bisa
mengantisipasinya. Keempat, sebagai kota metropolitan, lalu lintas Jakartamenjadi barometer
mengenai perkembangan dan keteraturan akan sistem transportasi di Indonesia dan sistem
transportasi di

Jakarta akan saling terkait dengan daerah-daerah di

sekitarnya. Sebagai kota metropolitan, Jakarta tidak bisa menutup diri sebagai kota
pemicu meningkatnya aktivitas oleh orang-orang dari daerah-daerah sekitar pada jam-jam
produktif. Salah satu masalah lalu lintas yang paling dirasakan pengaruhnya di Jakarta adalah
kemacetan. Hasil jajak pendapat yangdilakukan oleh Litbang Kompas menunjukkan bahwa
sebesar 69,47% responden menyatakan bahwa masalah lalu lintas (kemacetan) merupakan
masalah utama yang terjadi di kota Jakarta (Sunaryo, 2011). Kemacetan dapat dirasakan oleh
masyarakat dari mulai titik-titik persimpangan, jalan-jalan protokol hingga di jalan
lingkungan. Jalan lingkungan merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
dengan ciri-ciri perjalanan jarak pendek, kecepatan rata-rata rendah dan jalan masuk dibatasi
(Nizar, 2004). Salah satu faktor penyebab kemacetan lalu lintas adalah banyaknya jumlah
kendaraan bermotor yang tidak sesuai dengan kapasitas jalan raya .