Anda di halaman 1dari 6

SABUN LEMAK KAKAO

Selama ini produk kosmetik yang beredar dipasar lebih banyak dibuat dari bahan-
bahan kimia yang diformulasikan dengan bahan lain. Produk kosmetik yang
banyak dicari konsumen adalah sabun herbal. Salah satu bahan tambahan yang
biasa digunakan dalam pembuatan sabun adalah cocoa butter atau lemak

kakao.
Lemak kakao atau cocoa butter merupakan lemak nabati alami yang mempunyai
sifat unik, yaitu tetap cair pada suhu di bawah titik bekunya. Lemak kakao
mempunyai warna putih kekuningan dan berbau khas cokelat. Bubuk dan lemak
kakao merupakan hasil pengolahan biji cokelat kering. Pemanfaatannya untuk
makanan dan minuman. Disamping itu dapat juga digunakan sebagai bahan dasar
pada produk kosmetik. Bubuk dan lemak kakao dapat digunakan sebagai bahan
produk kosmetik. Lemak kakao dapat diolah menjadi sabun dan bubuk cokelat
dapat dipakai sebagai lulur badan dan makser wajah. Pemanfaatan bubuk dan
lemak kakao pada produk kosmetik merupakan salah satu alternatif pemanfaatan
hasil olahan biji cokelat kering dengan harapan dapat meningkatkan nilai tambah,
membuka peluang usaha pengolahan produk kosmetik berbahan dasar kakao skala
industri rumah tangga.
Proses Pembuatan

1. Alat dan Bahan


Bahan-bahan yang dipergunakan pada kegiatan ini adalah lemak kakao, minyak
kelapa, minyak kelapa sawit, kaustik soda, air, bubuk cokelat, minyak
essensial/pewangi dan susu bubuk putih full cream. Peralatan yang dibutuhkan
pada pengolahan produk kosmetik ini adalah timbangan digital, panci stainless,
kompor gas, termometer, mixer, cetakan sabun, kain handuk tebal, pisau stainless,
wadah-wadah gelas, pipet tetes, sendok, plastik wrapping, kotak-kotak kemasan
sabun, serta label kemasan.
2. Metode Pembuatan
Formula pembuatan sabun lemak kakao adalah:
Minyak kelapa Sawit = 400 gr
Lemak cokelat = 300
NaOH (kaustik Soda) = 112 gr
Air = 268 gr
Pewangi = 20 ml
3. Petunjuk membuat larutan alkali/larutan lye (air + NaOH) :

1. Gunakan baju lengan panjang, kaca mata pelindung, masker dan sarung
tangan karet. Prinsip kehati-hatian sangat diperlukan karena cairan ini bisa
mengakibatkan kebutaan apabila terkena mata, atau mengakibatkan rasa
terbakar apabila kulit. Sediakan pula cairan cuka, hal ini untuk
mengantisipasi apabila kulit terkena cairan alkali.

2. Lakukan diruang terbuka atau tempat yang mempunyai udara bebas. Jangan
menghirup udara yang keluar dari larutan ini.

3. Selalu memasukkan NaOH ke dalam air (dengan pelan) dan bukan


sebaliknya. Jika di lakukan sebaliknya, akan mengakibatkan letupan yang
sangat berbahaya bagi kulit dan mata.

4. Cara pembuatan sabun lemak kakao (Cold Process Method = CP)


a. Bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengolahan sabun berbasis lemak
kakao ditimbang (Sesuai formula)

b. Air dan kaustik soda (larutan lye) dilarutkan terlebih


dahulu, sementara lemak kakao dan minyak dipanaskan o sampai mencapai suhu
45-50 C
c. Setelah keduanya mencapai suhu yang hampir sama, maka larutan lye
dituangkan ke dalam minyak, diaduk sampai mencapai trace, Catatan: yang
dimaksud dengan trace adalah kondisi dimana larutan sabun mengental akibat
pangadukan (bentuknya menyerupai mayones atau fla). Cara untuk mengetahui
apakah proses saponifikasi sudah terjadi : dengan menggunakan sendok, ambil
sedikit sabun. Bila sabun yang menempel pada sendok langsung mengering atau
tidak menetes maka reaksi saponifikasi sudah terjadi
d. Setelah diberi pewarna dan pewangi, maka sabun siap untuk dituangkan ke
dalam cetakan selanjutnya tutup dengan kain atau handuk tebal dan didiamkan
selama 24-48 jam untuk menetralkan alkali
e. Setelah itu sabun dikeluarkan dari cetakan, dipotong-potong sesuai selera dan
diamkan selama 4-6 minggu (curing process) setelah curing process selesai, sabun
siap untuk digunakan atau dikemas.

download video:

Pembuatan Sabun Lemak Kakao


Penggunaan Aneka Ragam Produk Kelapa Sawit Untuk
Meningkatkan Nilai Tambah Industri Kelapa Sawit
(Bagian Ketiga Selesai)
REDAKSI Sep 18, 2014

Facebook

Twitter

Email

Linkedin

KOSMETIK
Komponen utama bahan baku kosmetik adalah minyak, surfaktan dan emulsifier, dengan
demikian industri kosmetik merupakan konsumen minyak nabati dan asam lemak yang cukup
potensial. Pada dasarnya terdapat tiga jenis sumber komponen minyak yang biasa digunakan
pada produk kosmetik yaitu minyak nabati, minyak mineral dan minyak sintesis. Penggunaan
minyak mineral harus segera ditinggalkan karena selain sukar terurai secara biologis juga
mengandung senyawa aromatik yang kurang baik bagi kesehatan kulit. Keuntungan penggunaan
minyak sawit, asam lemak sawit dan turunannya sebagai bahan baku kosmetik adalah produk
kosmetik tersebut akan bebas dari senyawa hidrokarbon polisiklik aromatik yang berbahaya
bagi kulit manusia.

INDUSTRI UNTUK MAKANAN


Mono- dan digliserida banyak digunakan sebagai bahan pengemulasi (emulsifier) dalam produk
makanan, kosmetika dan farmasi . Emulsifier merupakan suatu molekul yang sekaligus memiliki
gugus hidrofil dan lipofil dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari minyak dan air.
Beberapa produk pangan seperti margarin, es krim, dan lain-lainnya menggunakan emulsifier
sebagai salah satu bahannya. Emulsifier dipergunakan baik pada produk pangan berbentuk
emulsi minyak dalam air maupun pada produk pangan berbentuk emulsi air dalam minyak.

Minyak sawit dan minyak inti sawit merupakan bahan baku yang penting dalam pembuatan
hard-butters seperti produk pengganti cocoa butter (CBS) dan produk sejenis cocoa butter (CBE).
Minyak inti sawit melalui proses interesterifikasi dan hidrogenasi dapat digunakan untuk
membuat CBS, sedangkan minyak sawit merupakan sumber trigliserida simetris sangat
diperlukan dalam formulasi CBE. Minyak sawit juga dipergunakan sebagai penggerak kristalisasi
dan bahan baku pembuatan CBS. Cocoa butter (CB) adalah salah satu bentuk lemak
konfeksioneri, roti dan snack. CB merupakan komoditi yang bernilai tambah tinggi dan mahal
(harga dipasaran dunia lebih dari US $ 2500/ton) karena sifat dan aplikasinya yang unik, namun
ketersediaannya di pasar dunia di bawah permintaan pasar, sementara permintaan dunia
terhadap produk kakao meningkat.

MINYAK SAWIT DALAM ASPEK KESEHATAN.


Usaha untuk menghasilkan mono- dan digliserida dari minyak sawit melalui proses enzimatik
telah dirintis dan hasil penelitian menunjukkan prospek yang menggembirakan.
Salah satu keunggulan proses enzimatis menggunakan lipase adalah reaksi pembentukan mono-
dan digliserida berlangsung pada temperatur rendah sehingga dapat mempertahankan
kandungan karotenoid dan vitamin E yang terdapat dalam minyak sawit. Hasil samping lainnya,
kalau menggunakan minyak inti sawit, adalah produk mono- dan digliserida akan kaya dengan
asam laurat, yang dipercaya dapat menurunkan kolesterol darah dan bersifat anti tumor .

Asam lemak omega-3 dapat diekstrak dari minyak ikan sedangkan pengkorporasiannya ke
dalam minyak nabati, misalnya ke dalam minyak sawit, dapat dilakukan dengan menggunakan
enzim lipase. Enzim lipase dapat diperoleh dari berbagai mikroba maupun limbah pertanian.

Pengkayaan minyak nabati dengan asam lemak omega-3 (n-3) telah dilaporkan berhasil pada
minyak minyak kanola, kacang tanah, kedelai dan minyak biji melon. Hal serupa diharapkan
dapat pula dilakukan pada minyak kelapa sawit. Asam asam lemak omega-3 berperan dalam
mencegah penyakit kardiovaskuler, anti inflamasi dan anti tumor, penurunan kekebalan tubuh,
gangguan fungsi ginjal, diabetes dan kanker. Selain itu pengkonsumsian asam asam omega-3,
yang dikategorikan sebagai nutrient esensial, dapat membantu pertumbuhan dan
perkembangan otak dan retina pada bayi dan balita .

Dengan demikian kelapa sawit dapat memberikan sumbangan pada perbaikan gizi dan aneka
produk pangan yang juga kaya akan karoten dan vitamin E dengan konsentrasi sekitar 600-1000
ppm. Kandungan karoten pada minyak sawit sekitar 400-1600 ppm yang dapat dipisahkan
dengan teknologi ekstraksi fluida superkritis, distilasi molekuler ataupun teknologi membran.
Jenis jenis vitamin E yang terdapat dalam minyak kelapa sawit adalah -tokotrienol (26-49%), -
tokotrienol (17-11%), -tokoferol (<2%), dan -tokotrieol (7-11%) dan -tokotrienol (20-23%).
Warna kuning jingga yang terdapat di dalam minyak kelapa sawit adalah sebagian besar dari
senyawa karetenoid yang jumlahnya sekitar 500-2000 ppm, dimana sekitar 80% dari total
senyawa karetenoid adalah karoten, senyawa karoten dapat berperan sebagai pro-vitamin
A, senyawa anti kanker dan anti oksidan yang sangat aktif. Namun pada proses pembuatan
minyak goreng dari minyak sawit, karoten ini sengaja dihilangkan untuk memperoleh warna
yang jernih pada minyak goreng .

Fast food restoran merupakan salah satu pengguna minyak nabati yang cukup besar. Selama ini
mereka menggunakan hydrogenated oils untuk mendapatkan karakteristik produk yang
diinginkan yaitu hasil gorengan yang kering dan renyah. Dengan kandungan ALJ (Asam Lemak
Jenuh) yang tinggi, minyak sawit dapat mensubsitusi hydrogenated oils sehingga produk minyak
goreng special untuk fast food ini mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan.
Apalagi saat ini Amerika menerapkan food labelling yang mengharuskan produsen untuk
mencatumkan kandungan trans fat pada label makanan yang mengandung minyak sehingga
produk dari minyak sawit akan lebih kompetitif karena bebas trans fat.

Trans fat banyak terdapat pada beberapa minyak nabati domestik di Amerika yang
terhidrogenasi parsial, seperti minyak kedele, minyak biji rape dll. Besar dugaan bahwa untuk
melindungi minyak nabati lokal di Amerika yang mengandung asam lemak trans, maka dilakukan
kampanye anti minyak tropis yang mengandung saturated fat.
Saturated fat adalah minyak yang rantai karbonnya tidak mengandung ikatan rangkap (asam
lemak jenuh), banyak terdapat pada minyak minyak tropis seperti minyak kelapa sawit, minyak
inti sawit dan minyak kelapa. Sedangkan unsaturated fat adalah minyak yang mengandung
ikatan rangkap (asam lemak tidak jenuh) banyak terdapat pada minyak minyak non tropis
seperti minyak kedelai, jagung, bunga matahari, biji kapas, biji rape dll. Berdasarkan jenis ikatan
rangkapnya unsaturated fat dapat memiliki konfigurasi trans atau cis.

Trans fat umumnya terbentuk dari proses hidrogenasi minyak nabati non tropis, yang
dimaksudkan agar minyak ini berbentuk semi padat untuk bahan baku shortening (mentega
putih). Sebaliknya margarin yang dibuat dari minyak sawit tidak mengandung trans fat, karena
secara alami, fraksi stearin yang terdapat pada minyak sawit telah berbentuk semi padat
sehingga tidak perlu dihidrogensasi.

Trans fat dapat meningkatkan resiko penyakit jantung koroner melalui peningkatan LDL (Low
Density Lipoprotein atau kolesterol jahat) dalam darah. Penggunaan minyak goreng yang
berulang ulang dapat mengakibatkan terbentuknya senyawa polar (aldehid dan keton) dan
polimer dari asam lemak bebas atau trigliserida yang bersifat toksid bagi hati dan ginjal. Di
banyak negara telah dibuktikan bahwa konsumsi lemak trans meningkatkan resiko terkena
penyakit kardiovaskular lebih besar daripada lemak dengan kandungan ALJ dan ALTJ tunggal
tinggi dengan laju peningkatan sekitar dua kali lipat dibandingkan ALJ berdasarkan rasio
LDH/HDL (High Density Lipoprotein atau kolesterol baik) darah. Sebaliknya minyak sawit
dibuktikan bersifat anti karsinogenik dan anti trombik dipandang dari komponen seimbang ALJ
dan ALTJ tunggalnya.

Drs.Subronto, MS Pensiunan Ahli Peneliti Utama PPKS kini bersama PT Asam Jawa, Torgamba-
Labuhan Batu Selatan