Anda di halaman 1dari 9

APBN TAHUN 2014, 2015, 2016 DAN 2017

Tahun 2014-2015
1. Inflasi 2014-2015

Berdasarkan Grafik Laju Inflasi tahun 2014-2015 dapat di analisa bahwa :


1) Inflasi APBN 2014 5,5 persen turun menjadi 5,3 persen pada APBNP 2014. Laju inflasi
cenderung lebih rendah didukung oleh membaiknya pasokan barang kebutuhan
masyarakat dan harga komoditas internasional yang cenderung turun. Selain itu,
koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil diharapkan dapat menjaga laju
inflasi sepanjang tahun 2014.
2) Tekanan inflasi pada tahun 2015 masih akan dipengaruhi oleh perkembangan harga
komoditas bahan pangan dan energi di pasar internasional dan domestik. Dari sisi
permintaan, program penyehatan ekonomi dunia yang dilaksanakan di beberapa negara,
diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan ekonomi Eropa, Amerika Serikat,
Tiongkok serta India, sehingga mendorong peningkatan permintaan di pasar
internasional. Laju inflasi tahun 2015 mencapai 4,4 persen atau berada pada kisaran
rentang sasaran inflasi yang telah ditetapkan sebesar 4,0 1,0 persen.
3) Pada APBNP 2015 Inflasi diperkirakan mencapai 5,0 persen atau lebih tinggi dari asumsi
dalam APBN tahun 2015 sebesar 4,4 persen

2. Pertumbuhan Ekonomi
Berdasarkan Grafik Pertumbuhan Ekonomi Nasional tahun 2014-2015 dapat di
analisa bahwa :
1) Pertumbuhan ekonomi dari 6,0 persen pada APBN 2014 menjadi 5,5 persen pada
APBNP 2014. Hal ini karena pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 dipengaruhi oleh
faktor masih lemahnya perekonomian global dan penurunan kinerja perdagangan
internasional.
2) Perekonomian nasional di tahun 2015 semakin membaik seiring dengan kondisi ekonomi
domestik yang stabil dan faktor eksternal yang menunjukkan tren peningkatan. Di sisi
domestik, dengan terjaganya laju inflasi, daya beli masyarakat akan meningkat sehingga
konsumsi rumah tangga semakin tumbuh kuat. Meskipun APBN 2015 masih bersifat
baseline, namun konsumsi pemerintah dan investasi pemerintah direncanakan meningkat.
Di sisi eksternal, meningkatnya pertumbuhan global dan volume perdagangan dunia
diharapkan akan kembali menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekspor impor terutama
melalui peningkatan permintaan dari negara-negara mitra dagang utama Indonesia.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, pertumbuhan ekonomi tahun 2015
mencapai sebesar 5,8 persen. Pertumbuhan tersebut diperkirakan akan didorong terutama
oleh konsumsi dan investasi. Dari sisi lapangan usaha, sektor pengangkutan dan
komunikasi; sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan; serta sektor perdagangan,
hotel, dan restoran merupakan beberapa sektor yang diperkirakan akan menjadi sektor
utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015.
3) Pertumbuhan Ekonomi pada APBNP 2015 turun dari pada APBN 2015 yaitu sebesar 5,7
%

3. Suku Bunga
Berdasarkan Grafik di atas dapat di analisa bahwa :
1) Tingkat suku bunga SPN 3 bulan dalam tahun 2014 sebesar 5.5 %. Hal tersebut
didasarkan pada kemungkinan membaiknya kondisi ekonomi global di tahun 2014
sehingga beberapa kebijakan pelonggaran likuiditas di berbagai negara juga akan selesai.
Perkiraan kondisi ekonomi global tersebut akan menyebabkan daya tarik investasi di
berbagai negara juga membaik, yang selanjutnya diperkirakan akan menyebabkan
peningkatan persaingan untuk menarik likuiditas global, demikian juga dengan arus
modal ke negara-negara berkembang kawasan Asia, termasuk Indonesia. Peningkatan
persaingan tersebut diperkirakan akan mendorong peningkatan suku bunga instrumen
investasi, termasuk suku bunga SPN 3 bulan.
2) Tingkat bunga SPN tiga bulan dari 5,5 persen menjadi 6,0 persen. Kondisi likuiditas
global yang semakin ketat dan masih tingginya ketidakpastian di sektor keuangan
merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat bunga obligasi pemerintah. Namun, masih
tingginya permintaan obligasi pemerintah menjadi faktor positif bagi pencapaian tingkat
suku bunga sesuai target yang ditetapkan.
3) Rata-rata suku bunga SPN 3 bulan pada tahun 2015 bergerak stabil pada kisaran 6,0
persen.
4) Suku bunga SPN 3 bulan pada APBNP 2015 turut mengalami tekanan dan sedikit lebih
tinggi di atas asumsi APBN tahun 2015 yaitu dari 6,0 persen menjadi 6,2 persen.

4. Nilai Kurs
Berdasarkan Grafik Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat diatas dapat
di analisa, yaitu :
1) Ratarata nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam tahun 2014 relatif
lebih stabil yaitu sebesar 10500 (Rp/USD). Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar
AS tahun 2014 masih akan dipengaruhi oleh bauran berbagai faktor yang berasal dari
dalam dan luar negeri. Peningkatan impor, khususnya impor bahan baku, barang modal,
serta komoditas energi dalam rangka mendukung aktivitas ekonomi dan investasi
nasional merupakan salah satu faktor pendorong depresiasi nilai tukar.
2) Nilai tukar Rupiah dari Rp10.500 per USD menjadi Rp11.600 per USD. Isu kebijakan
tapering off oleh The Fed telah menimbulkan tekanan yang sangat signifikan pada nilai
tukar di berbagai kawasan termasuk Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika
Serikat diperkirakan akan mencapai keseimbangan baru yang mencerminkan kondisi
fundamental perekonomian Indonesia. Sinergi kebijakan fiskal, moneter dan sektor riil
diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
3) Pada APBN 2015 pergerakan rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali
melemah yaitu bergerak pada kisaran Rp11.900 per dolar Amerika Serikat.
4) Pada APBNP 2015 Rata-rata nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melemah yaitu berada
pada Rp12.500 per USD yang semula asumsinya dalam APBN tahun 2015 sebesar
Rp11.900 per USD.

5. Harga Minyak
Berdasarkan Grafik Harga Minyak Mentah Indonesia 2014-2015, dapat disimpulkan
bahwa :
1) Ratarata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) di pasar
internasional dalam tahun 2014 sebesar 150 USD/Barel. Proyeksi tersebut diperkirakan
mengikuti pola dalam periode sebelumnya, yaitu pergerakan ICP akan mengikuti
pergerakan harga minyak mentah dunia terutama Brent. Berdasarkan pola tersebut, ICP
diperkirakan akan menurun. Namun, Pemerintah masih tetap perlu mempertimbangkan
potensi risiko lain yang dapat menyebabkan peningkatan harga minyak dunia dan ICP.
2) Harga minyak mentah Indonesia pada APBNP 2014 dan APBN 2015 masih bergerak
stabil atau sama seperti pada APBN 2014 yaitu sebesar 150 USD/Barel
3) Harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada APBNP 2015 berada pada kisaran rata-rata
USD60 per barel atau lebih rendah dari asumsi ICP dalam APBN tahun 2015 sebesar
USD105 per barel. Rendahnya harga minyak dunia diperkirakan masih akan berlanjut
pada tahun 2015 mengingat pasokan minyak yang masih berlebih, terutama dengan
adanya potensi pemanfaatan shale oil dan gas.
Tahun 2016
Berdasarkan hasil pembahasan antara Pemerintah dengan DPR, asumsi dasar ekonomi makro
dalam APBN tahun 2016 ditetapkan dan disepakati sebagai berikut:
1. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen;
2. Tingkat Inflasi sebesar 4,7 persen;
3. Nilai tukar rupiah rata-rata Rp13.900/USD;
4. Tingkat suku bunga SPN 3 bulan sebesar 5,5 persen;
5. Harga minyak mentah Indonesia rata-rata USD50/barel;
6. Lifting minyak rata-rata 830 ribu barel/hari; dan
7. Lifting gas rata-rata 1.155ribu barel setara minyak.
Asumsi dasar ekonomi makro tersebut ditetapkan dengan mempertimbangkan
perkembangan terkini dan prospek perekonomian,serta berbagai tantangan di tahun 2015 dan
2016, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Dengan didasarkan kondisi
terkini serta langkah-langkah yang akan dilakukan ke depan, APBN tahun 2016 diharapkan
dapat mendukung pencapaian berbagai sasaran pembangunan di tahun 2016 secara lebih
efektif, efisien, dan berkualitas.
Dari sisi eksternal tantangan sekaligus risiko yang perlu diwaspadai yaitu berasal dari
ketidakpastian global dan kebijakan moneter negara maju serta perlambatan ekonomi yang
terjadi di Tiongkok. Sementara dari sisi domestik, sumber pertumbuhan ekonomi akan
didukung oleh kelanjutan pembangunan infrastruktur yang diharapkan akan mendorong
kinerja Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Selain itu, tingkat konsumsi yang tetap
kuat dan stabil juga akan menopanglaju pertumbuhan ekonomi, didukung oleh terjaganya laju
inflasi dan daya beli masyarakat.
Pemerintah bersama DPR RI juga berkomitmen untuk mewujudkan pertumbuhan
ekonomi yang lebih berkualitas, antara lain dengan ditargetkannya beberapa indikator
seperti : (a) tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,2%-5,5%, (b) angka kemiskinan 9,0%
10%, (c) indeks gini rasio sebesar 0,39, dan (d) indeks pembangunan manusia sebesar 70,1.
Berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro, target pembangunan dan beberapa
kebijakan fiskal yang akan diambil pemerintah, target defisit anggaran dalam APBN tahun
2016 ditetapkan menjadi Rp273,2 triliun yang berarti sama dengan usulan Pemerintah dalam
RAPBN tahun 2016, atau setara 2,15 persen terhadap PDB. Kebijakan defisit tersebut selain
melakukan konsolidasi fiskal juga diarahkan untuk memperkuat stimulus fiskal, melalui
pengalokasian anggaran untuk kegiatan produktif, peningkatan kapasitas perekonomian,
penguatan daya saing, dan menjaga keseimbangan ekonomi makro yang kebijakannya sudah
ditegakkan sejak tahun 2015.
Target Pendapatan Negara dalam APBN tahun 2016 ditetapkan sebesar Rp1.822,5
triliun, atau Rp25,6 triliun lebih rendah dari yang diusulkan dalam RAPBN Tahun Anggaran
2016. Target Pendapatan Negara tersebut bersumber dari Penerimaan Perpajakan sebesar
Rp1.546,7 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar Rp273,8 triliun (rasio
penerimaan negara terhadap PDB atau tax ratio dalam tahun 2016 sebesar 13,11 persen).
Langkah untuk mencapai target perpajakan didasarkan atas beberapa kebijakan, antara
lain melalui kebijakan perpajakan dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan tanpa
mengganggu iklim investasi dunia usaha,kebijakan penerimaan perpajakan yang diarahkan
untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan mempertahankan daya beli
masyarakat,kebijakan penerimaan perpajakan yang diarahkan untuk meningkatkan daya saing
dan nilai tambah industri nasional, dan kebijakan perpajakan yang diarahkan untuk
mengendalikan konsumsi barang kena cukai.
Penerimaan Negara Bukan Pajak ditetapkan sebesar Rp273,8 triliun, atau lebih kecil
Rp6,4 triliun dari usulan dalam RAPBN tahun 2016.Perubahan tersebut disebabkan antara
lain penurunan harga minyak (ICP) dari yang diusulkan dalam RAPBN 2015 sebesar
USD60/barel menjadi USD50/barel, Penurunan cost recovery menjadi US$ 11,0 miliar (lebih
rendah dari RAPBN 2016 sebesar US$16,5 miliar),peningkatan pendapatan bagian laba
BUMN,penurunan PNBP lainnya akibat penurunan pendapatan domestic market obligation
(DMO) serta penurunan PNBP Polri, dan Kementerian Hukum dan HAM. Adapun
Penerimaan Hibah ditetapkan sama dengan RAPBN tahun 2016 yaitu sebesar Rp2,0 triliun.
Dalam rangka meningkatkan penerimaan SDA Migas disepakati beberapa kebijakan
utama, antara lain Peningkatan perkiraan lifting minyak mentah dengan adanya pengetatan
jadwal proyek onstream, terutama mulai berproduksinya Blok Cepu, dan pencapaian
target lifting minyak mentah dan lifting gas bumi. Kebijakan lain guna mengoptimalkan
PNBP adalah penyesuaian tarif PNBP dan ekstensifikasi, peningkatan kinerja BUMN,
peningkatan pengawasan dan pelaporan PNBP, perbaikan administrasi dan sistem PNBP, dan
perbaikan regulasi PNBP.
Dari sisi Belanja Negara, pagu APBN tahun 2016 ditetapkan sebesar Rp2.095,7
triliun, atau sekitar Rp25,6 triliun lebih rendah dari yang diusulkan dalam RAPBN Tahun
2016. Alokasi Belanja Negara diarahkan sejalan dengan sembilan agenda prioritas (Nawa
Cita) Pemerintah. Beberapa kebijakan penting belanja negara diantaranya:
Pertama, meningkatkan kinerja aparatur pemerintah untuk memacu produktivitas dan
peningkatan pelayanan publik.
Kedua, mengarahkan subsidi menjadi lebih tepat sasaran.
Ketiga, melanjutkan program prioritas pembangunan, utamanya : infrastruktur
konektivitas, pendidikan, kesehatan, kedaulatan pangan dan energi, kemaritiman, pariwisata,
pertahanan, serta pengurangan kesenjangan, guna semakin memperbaiki kualitas
pembangunan;
Keempat, pemenuhan anggaran Kesehatan sebesar 5 persen dari APBN, dengan
didukung program yang lebih tajam dan luas, baik dari sisi demand maupun sisi supply.
Kelima, peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin dan tidak mampu melalui
program bantuan sosial yang lebih berkesinambungan (KIP, KIS), termasuk perluasan
cakupan penerima Bantuan Tunai Bersyarat menjadi 6 juta KSM.
Keenam, penyediaan kebutuhan pokok Perumahan melalui program Sejuta Rumah
bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah, dengan dukungan pembangunan rumah, subsidi
bunga kredit, dan bantuan uang muka rumah.
Ketujuh, menyelaraskan kebijakan Desentralisasi Fiskal dengan mengalihkan alokasi
Dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan di Kementerian/Lembaga ke DAK, agar
pembangunan lebih merata dan lebih cepat, yang juga didukung dengan peningkatan alokasi
Dana Desa mencapai 6,5 persen dari dan di luar Transfer ke Daerah, sesuai Road Map Dana
Desa tahun 2015-2019.
Sementara itu, pembiayaan anggaran untuk menutup defisit tahun 2016 disepakati
sebesar Rp273,2 triliun, yang terdiri dari pembiayaan utang sebesar Rp330,9 triliun dan
pembiayaan non utang sebesar negatif Rp57,7 triliun. Untuk mendukung kebijakan
pembiayaan defisit APBN 2015 setara 2,15 persen PDB, maka pemerintah akan
memanfaatkan sumber pembiayaan dalam negeri dan luar negeri yang mempunyai risiko
rendah, beban biaya yang murah, serta tidak ada ikatan. Pemerintah akan memanfaatkan
instrument pembiayaan yang tersedia secara optimal dengan tanpa mengabaikan prinsip
kehati-hatian. Selain itu, kebijakan pembiayaan juga akan tetap dimanfaatkan untuk
mengakselerasi pembangunan infrastruktur, investasi pendidikan ke depan, serta penguatan
program kredit usaha menengah, kecil, dan mikro.Mengenai PMN tahun 2016,
pelaksanaannya akan dibahas kembali dalam RAPBN Perubahan tahun 2016.
Dengan diselesaikannya pembahasan dan penetapan RUU APBN Tahun Anggaran
2016 pada tanggal 30 Oktober 2015, maka Pemerintah akan segera menyelesaikan proses
administrasi anggaran selanjutnya, yakni dengan penetapan rincian anggaran belanja
pemerintah melalui Peraturan Presiden selambatnya bulan November 2015. Penerbitan
dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA) dilakukan selambatnya di bulan Desember 2015,
sehingga pada awal Januari 2016, seluruh program-program Pemerintah sudah siap untuk
dilaksanakan.

Tahun 2017