Anda di halaman 1dari 5

Nama : Ika Yolanda Dewi Malindo

NIM : 1408105006

SEJARAH IBUPROFEN
Ibuprofen termasuk salah satu penjualan obat penghilang rasa sakit anti-inflamasi
terlaris di dunia. Penemunya adalah seorang apoteker, Stewart Adams yang saat ini berusia 92
tahun. Pada 2015, Di Inggris Ibuprofen terjual rata-rata satu pak ibuprofen setiap 2,92 detik,
angka penjualan untuk obat ini mencapai lebih dari 2,8 Triliun Rupiah. Stewart Adams,
merupakan ketua tim apoteker yang menemukan satu dari obat penghilang rasa sakit yang
paling populer di dunia, namun prestasi yang mendunia ini tidak berpengaruh pada gaya
hidupnya.

Sejarah Penemuan Ibuprofen

Ini dimulai pada tahun 1953. Pada hari-hari hanya ada dua obat di pasar yang
memiliki efek pada rasa sakit karena peradangan yakni obat kortikosteroid dan aspirin dalam
dosis tinggi. Steroid itu tidak cocok untuk penggunaan jangka panjang dan dosis tinggi
aspirin, 12, 15, 18 tablet sehari, hal tersebut tidak akan dapat diterima bagi banyak pasien.
Pada saat itulah Adams terinspirasi dari literatur tentang aspirin, Aspirin sebenarnya
diperkenalkan dalam pengobatan klinis sebagai antipiretik, sekitar tahun 1900. Sedangkan
pada tahun 1950-an belum ada yang melihat analog aspirin untuk efek anti-inflamasi. Dengan
bantuan ahli kimia John Nicholson, Adams mulai bekerja untuk melakukan penelitian.
Pertama mereka mulai mencari aktivitas analog aspirin dan membuat beberapa senyawa lain,
namun senyawa tersebut tidak pernah lebih baik daripada aspirin..

Adams dan John terus menguji potensi ratusan senyawa lain, dari satu uji klinis ke uji
lainnya bahkan sempat dirilis ke pasaran, lagi dan lagi, tetapi mereka selalu menemukan
senyawa yang tidak efektif atau efek samping yang tidak dapat diterima. Hal tersebut
membuat Adam merasa tertekan pada lebih dari satu kali, dan ia merasa yakin bahwa sekali
perobaan untuk mendapatkan senyawa aktif dimulai maka akan ada sesuatu yang akan keluar
dari itu. Pada akhirnya keyakinan itu berbuahkan hasil. Pengujian berikutnya dilakukan
dengan sedikit lebih berpikir, John menghasilkan beberapa senyawa yang lebih berbeda dan
selesai dengan kelompok senyawa yang disebut propionics, yang sekarang terkenal sebagai
obat anti-rematik. Itu bukan yang paling aktif dari senyawa yang telah ditemukan, tapi atas
dasar pekerjaan yang akan dilakukan itu mungkin yang terbaik ditoleransi dan merupakan
salah satu poin penting yang mereka cari. Setelah dilanjutkan dengan uji klinis ternyata
senyawa tersebut aktif dan baik ditoleransi sehingga dapat digunakan untuk uji coba lebih
banyak. Kemudian, pada tahun 1969, 16 tahun setelah ia memulainya, otoritas kesehatan di
Inggris telah menyetujui senyawa tersebut sebagai obat untuk pengobatan penyakit rematik.
Mereka telah menemukan non-steroid obat anti-inflamasi baru.

Adams telah mendapatkan beberapa penghargaan untuk penelitian, dengan gelar


doktor kehormatan dari University of Nottingham, dan dua penghargaan dari Royal Society
of Chemistry. Pada tahun 1987, Adams diangkat OBE untuk karyanya dalam
mengembangkan ibuprofen. Pada 2013, Adams membuat Freeman Kehormatan Nottingham,
kehormatan tertinggi dewan bisa memberikan. Jesse Boot, yang mendirikan The Boots
Perusahaan, menerima kehormatan yang sama pada tahun 1920.

Ibuprofen bekerja dengan menghambat enzim yang berperan dalam produksi


prostaglandin. Prostaglandin adalah senyawa yang dilepaskan tubuh yang menyebabkan
inflamasi dan rasa sakit. Dengan menghalangi produksi prostaglandin, ibuprofen mengurangi
inflamasi dan rasa sakit. Obat ini hanya dapat mengurangi gejala dan bukan menyembuhkan
penyakit penyebabnya.

Tentang Ibuprofen

Jenis obat Obat anti inflamasi non-steroid

Golongan Obat resep

Manfaat Meredakan demam, rasa sakit dan inflamasi

Dikonsumsi oleh Dewasa dan anak-anak

Bentuk Tablet, kapsul, obat kunyah, bubuk, cairan yang diminum


Struktur Kimia Ibu Profen

Ibuprofen tersedia dalam berbagai merek dan dapat digunakan dalam bentuk tablet dan
cairan. Sesuaikan penggunaannya dengan resep dokter.
Dosis Ibuprofen

Dosis penggunaan ibuprofen tergantung kepada tingkat keparahan rasa sakit yang
diderita pasien. Jangan melebihi dosis maksimum ibuprofen untuk orang dewasa yaitu 2.400
mg per 24 jam. Tabel berikut ini akan menjelaskan dosis-dosis umum penggunaan ibuprofen
bagi dewasa dan anak-anak.

Usia Takaran Frekuensi per hari

>12 tahun 200-400 mg 3-4 kali

10-12 tahun 300 mg atau 15 ml 3 kali

7-10 tahun 200 mg atau 10 ml 3 kali

4-7 tahun 150 mg atau 7,5 ml 3 kali

1-4 tahun 100 mg atau 5 ml 3 kali

6-12 bulan 50 mg atau 2,5 ml 3-4 kali

3-6 bulan 50 mg atau 2,5 ml 3 kali

Mengonsumsi Ibuprofen dengan Benar

Ibuprofen sebaiknya dikonsumsi sesudah makan atau dengan segelas susu untuk
mengurangi efek sampingnya. Pastikan untuk mengurangi rokok serta konsumsi minuman
keras karena dapat meningkatkan risiko efek samping pendarahan pada lambung. Jika Anda
tidak sengaja melewatkan jadwal minum ibuprofen, kita harus segera meminumnya jika
jadwal untuk dosis berikutnya masih lama. Dilarang keras untuk menggandakan dosis
ibuprofen yang diminum dengan maksud menggantikan dosis yang sudah terlewat. Tiap obat
pasti berpotensi menyebabkan efek samping, termasuk ibuprofen. Beberapa efek samping
yang dapat terjadi saat mengonsumsi obat ini antara lain:

Mual dan muntah


Perut kembung
Nyeri ulu hati
Gangguan pencernaan
Diare atau konstipasi
Sakit kepala
Tukak lambung
Muntah darah
Tinja berwarna hitam atau disertai darah

Ibu Profen, dengan cepat diabsorbsi dari GI dan bioavaibilitasnya lebih dari 80%.
Konsentrasi puncak pada anak-anak 17-42 mg/L (121-257 mol/L) setelah pemberian dosis
10 mg/kgBB dicapai pada 1,1 0,3 jam. Lebih dari 99% berikatan dengan protein plasma,
dan dimetabolisme paling tidak menjadi 2 metabolit tidak aktif. Volume distribusi 0.15 0.02
L/kg, meningkat pada cystic fibrosis. Klirens 0.045 0.012 L/jam/kg, meningkat pada cystic
fibrosis. Kurang dari 1% diekskresikan dalam bentuk tidak berubah. Waktu paruh 2 0.5
jam.

Referensi :

https://citodiarymuslim.wordpress.com/2011/09/09/ibuprofen/

http://www.pharmaceutical-journal.com/careers/career-profile/the-man-who-discovered-
ibuprofen/20200690.article

The Pharmaceutical Journal, edisi Februari 2015, (DOI: 10.1211/PJ.2016.20200690). The


Pharmaceutical Journal 22 FEB 2016, By Julia Robinson.

http://www.alodokter.com/ibuprofen