Anda di halaman 1dari 17

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN Maret 2017


UNIVERSITAS HASANUDDIN

ABLASIO RETINA RHEGMATOGEN

DISUSUN OLEH :
Warren Lie
C11112007

PEMBIMBING :
dr. Suryanita Tajuddin

KONSULEN :
dr. Noro Waspodo, Sp.M

DISUSUN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. JM
Umur : 66 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku Bangsa : Toraja/Indonesia
Agama : Kristen
Alamat : Tana Toraja
Pekerjaan : Pensiunan
Tgl. Pemeriksaan : 13 Maret 2017
Rumah Sakit : RS Universitas Hasanuddin

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Penglihatan kabur pada mata kanan
Anamnesis terpimpin :
Dialami secara tiba-tiba sejak 2 bulan yang lalu. Awalnya pasien mengalami
nyeri kepala sebelah kanan sejak 2.5 bulan yang lalu. Riwayat muntah tidak
ada. Nyeri pada mata tidak ada. Gatal pada mata tidak ada. Mata merah tidak
ada. Silau tidak ada. Air mata berlebih tidak ada. Kotoran mata berlebih tidak
ada. Riwayat melihat bayangan maupun cahaya berkedip sebelum gangguan
penglihatan tidak ada.
Riwayat trauma disangkal.
Riwayat menggunakan kacamata jarak jauh sejak puluhan tahun yang lalu,
namun ukuran kacamata tidak diketahui oleh pasien.
Riwayat berobat di spesialis saraf dengan diagnosis cephalalgia kronis disertai
gangguan visus, lalu dirujuk ke bagian mata dengan hemianopia nasalis.
Riwayat HT dan DM tidak ada.
Riwayat keluarga dengan keluhan serupa tidak ada.
Tanda Vital:
Keadaan umum : Baik/ Gizi Cukup/ Sadar
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 62 x/ menit
Pernapasan : 18 x/ menit
Suhu : 36.5oc

III. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI


A. INSPEKSI
Gambar 1. Mata Kanan (Oculus Dextra)

Gambar 2. Mata Kiri (Oculus Sinistra)


No Pemeriksaan OD OS
1. Palpebra Edema (-) Edema (-)
2. App. Lakrimalis Hiperlakrimasi (-) Hiperlakrimasi (-)
3. Silia Sekret (-) Sekret (-)
4. Konjungtiva Hiperemis (-) Hiperemis (-)
5. Bola mata Normal Normal
6. Mekanisme Ke segala arah Ke segala arah
muskular
7. Kornea Jernih Jernih
8. Bilik mata depan Sulit dievaluasi Sulit dievaluasi
9. Iris Cokelat Cokleat
10 Pupil Bundar, isokor, Bundar, isokor,
RC (+), RAPD (+) RC (+), RAPD (-)
11. Lensa Sulit dievaluasi Sulit dievaluasi

B. PALPASI

No Pemeriksaan OD OS
1. Tensi Okuler Tn Tn
2. Nyeri Tekan (-) (-)
3. Massa Tumor (-) (-)
4. Glandula preankuler Pembesaran (-) Pembesaran (-)

C. Tonometri : TIOD = 9 mmHg


TIOS = 12 mmHg
D. Visus : VOD = 1/300 LP
Koreksi S +14.00 D 1/60

VOS = 20/400
Koreksi S -3.50 D 20/50F
E. Campus visual : Tidak dilakukan pemeriksaan
F. Color Sense : Tidak dilakukan pemeriksaan
G. Light Sense : Tidak dilakukan pemeriksaan
H. Penyinaran Oblik

Pemeriksaan OD OS
Konjungtiva Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Kornea Jernih Jernih
Bilik mata depan Dalam batas normal Dalam batas normal
Iris Coklat, kripte (+) Coklat, kripte (+)
Pupil Bundar, sentral, Bundar, sentral,
RC (+), RAPD (+) RC (+), RAPD (+)
Lensa Keruh, iris shadow (+) Keruh, iris shadow (+)

I. Keratometri : Tidak dilakukan pemeriksaan


J. Biometri : Tidak dilakukan pemeriksaan
K. Funduskopi :

OD OS
FOD : proliferative vitreoretinopathy
FOS : refleks fundus (+), papil batas tegas, CDR 0.3, A:V 2:3, refleks fovea (+),
retina perifer kesan normal, lattice tidak ditemukan.
L. Slit Lamp
SLOD: Konjungtiva hiperemis (-), kornea keruh (-), BMD VH2,
pupil bundar, sentral, isokor, RAPD (+), lensa keruh NO2NC2
SLOS: Konjungtiva hiperemis (-), kornea keruh (-), BMD VH3,
pupil bundar, sentral, isokor, RAPD (-), lensa keruh NO2NC2
M. USG B-scan
N. Resume
Seorang perempuan berusia 66 tahun datang ke poliklinik mata RSUH dengan
keluhan penglihatan kabur pada mata kanan yang terjadi secara tiba-tiba sejak 2 bulan
yang lalu, diawali dengan nyeri kepala sebelah kanan sejak 2.5 bulan yang lalu.
Riwayat menggunakan kacamata jarak jauh sejak puluhan tahun yang lalu, namun
ukuran tidak diketahui. Riwayat trauma, DM, HT disangkal.
Pada pemeriksaan inspeksi tidak ditemukan kelainan tertentu.
Pada pemeriksaan palpasi dan tonometri ODS dalam batas normal.
Pada pemeriksaan visus didapatkan VOD = 1/300 LP(+), S +14.00 D 1/60; VOS =
20/400, S -3.50 D 20/50F
Pada pemeriksaan dengan penyinaran oblik ditemukan pupil bundar isokor, RAPD
(+) OD, lensa keruh dengan iris shadow ODS.
Pada pemeriksaan slit lamp didapatkan SLOD = BMD VH2, lensa NO2NC2; SLOS =
BMD VH3, lensa NO2NC2.
Pada pemeriksaan funduskopi ditemukan retinal detachment OD.

O. Diagnosis
Proliferative Vitreoretinopathy OD
Katarak Senil Imatur ODS
P. Penatalaksanaan
- Tidak ada penanganan pada mata kanan
- Operasi katarak OS
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Katarak berasal dari Yunani Katarrhakies, Inggris Cataract, dan Latin
Cataracta yang berarti ait terjun. Definisi katarak adalah kekeruhan yang terjadi pada
lensa mata yang dapat terjadi akibat hidrasi lensa, denaturasi protein lensa, atau
keduanya. Katarak umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut, akan tetapi dapat
juga berupa penyakit kongenital. Katarak juga dapat terjadi setelah trauma, inflamasi
atau penyakit lainnya (Ilyas, 2010).
Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut,
yaitu usia diatas 50 tahun (Ilyas, 2010).

B. Anatomi Lensa
Lensa menyumbang kekuatan refraksi sebanyak 15-20 dioptri dalam
penglihatan. Lensa adalah struktur bikonveks, avaskular, dan hampir transparan
sempurna. Enam puluh lima persen lensa terdiri atas air, sekitar 35%-nya merupakan
protein. Lensa memiliki ketebalan sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Lensa
tergantung pada zonula di belakang iris, zonula menghubungkannya dengan corpus
ciliare. Pada anterior lensa terdapat aqueous humor, di sebelah posteriornya terdapat
corpus vitreus. Kapsul lensa adalah suatu membran semipermeable yang membuat air
dan elektrolit dapat masuk. Kapsul ini merupakan membran dasar yang melindungi
nukleus, korteks dan epitel lensa (Eva, et al., 2007).

1. Kapsul
Kapsul lensa merupakan membran dasar yang elastis dan transparan
tersusun dari kolagen tipe IV yang berasal dari sel-sel epitel lensa. Bagian paling
tebal kapsul berada di bagian anterior dan posterior zona pre-equator dan bagian
paling tipis berada di bagian tengah kutub posterior (Khurana, 2007).
2. Serat Zonula
Zonula zinn atau zonula ciliaris merupakan serat yang berasal dari lamina
basal pars plana dan pars plikata badan silier. Serat-serat zonula ini menyatu
dengan lensa pada bagian anterior dan posterior kapsul lensa. Serat zonula
mempertahankan posisi lensa pada tempatnya dan agar otot ciliaris dapat mengatur
lensa (Khurana, 2007).

3. Epitel Lensa
Tepat di belakang kapsul anterior lensa terdapat satu lapis sel-sel epitel
kubus. Pada daerah equator sel tersebut berubah menjadi sel-sel kolumnair, sel
tersebut lalu berdiferensiasi menjadi serat lensa. Tidak terdapat epitel pada sisi
posterior lensa (Khurana, 2007).

4. Nukleus dan Korteks


Sel-sel berubah menjadi serat, lalu serat baru akan terbentuk dan akan
menekan serat-serat lama untuk berkumpul di bagian tengah lensa. Nukleus terdiri
dari serat yang paling lama. Serat serat paling tua yang terbentuk merupakan
nukleus embrionik yang diproduksi pada fase embrionik (usia gestasi 3 minggu)
dan masih menetap hingga sekarang. Serat-serat yang baru akan membentuk
korteks dari lensa (Khurana, 2007).

C. Fisiologi Lensa
Lensa merupakan struktur transparan yang memiliki peran utama dalam
memfokuskan cahaya. Fisiologi lensa terdiri dari transparansi, metabolism, dan
akomodasi lensa (Khurana, 2007).

1. Transparansi Lensa
Lensa tidak memiliki pembuluh darah maupun sistem saraf. Faktor yang
berperan dalam transparansi lensa adalah avaskularitas, sel-sel lensa yang tersusun
rapat, susunan protein lensa, kapsul lensa yang semipermeable, pump mechanism dari
serat lensa yang mengatur keseimbangan air dan elektrolit lensa (Khurana, 2007).
2. Keseimbangan Elektrolit dan Air Dalam Lensa
Lensa normal mengandung 65% air, dan jumlah ini tidak banyak berubah
seiring bertambahnya usia. Konsentrasi sodium di luar lensa lebih tinggi yaitu
sekitar 150M dan potasium sekitar 5M.
Keseimbangan elektrolit antara lingkungan dalam dan luar lensa sangat
tergantung dari permeabilitas membran sel lensa dan aktivitas pompa sodium, Na+,
K+ -ATPase. Inhibisi Na+, K+ -ATPase dapat mengakibatkan hilangnya
keseimbangan elektrolit dan meningkatnya air di dalam lensa.
Keseimbangan kalsium juga sangant penting bagi lensa. Konsentrasi
kalsium di dalam sel yang normal adalah 30M, sedangkan di luar lensa adalah
sekitar 2M. Perbedaan konsentrasi kalsium ini diatur sepenuhnya oleh pompa
2+
kalsium Ca -ATPase. Hilangnya keseimbangan kalsium ini dapat menyebabkan
depresi metabolisme glukosa, pembentukan protein high-molecular-weight dan
aktivasi protease destruktif.
Transpor membran dan permeabilitas sangat penting untuk kebutuhan
nutrisi lensa. Asam amino aktif masuk ke dalam lensa melalui pompa sodium yang
berada di sel epitel. Glukosa memasuki lensa secara difusi terfasilitasi, tidak
langsung seperti sistem transport aktif (Khurana, 2007).

2. Akomodasi Lensa
Mekanisme yang dilakukan mata untuk merubah fokus dari benda jauh ke
benda dekat disebut akomodasi. Akomodasi terjadi akibat perubahan lensa oleh
aksi badan silier terhadap serat-serat zonula.
Saat otot silier berkontraksi, serat zonular relaksasi mengakibatkan lensa
menjadi lebih cembung. Ketika otot silier berkontraksi, ketebalan axial lensa
meningkat, kekuatan dioptri meningkat, dan terjadi akomodasi. Saat otot silier
relaksasi, serat zonular menegang, lensa lebih pipih dan kekuatan dioptri menurun.
D. Etiologi dan Patofisiologi
Penyebab terjadinya katarak senilis hingga saat ini belum diketahui secara
pasti. Terdapat beberapa teori konsep penuaan menurut Ilyas (2010) sebagai berikut:

- Teori putaran biologik (A biologic clock).


- Jaringan embrio manusia dapat membelah diri 50 kali mati.
- Imunologis; dengan bertambah usia akan bertambah cacat imunologik yang
mengakibatkan kerusakan sel.
- Teori mutasi spontan.
- Terori A free radical
Free radical terbentuk bila terjadi reaksi intermediate reaktif kuat.
Free radical dengan molekul normal mengakibatkan degenerasi.
Free radical dapat dinetralisasi oleh antioksidan dan vitamin E.
- Teori A Cross-link.
Ahli biokimia mengatakan terjadi pengikatan bersilang asam nukleat dan molekul
protein sehingga mengganggu fungsi.

Perubahan lensa pada usia lanjut menurut Ilyas (2010):


1. Kapsul
- Menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak)
- Mulai presbiopia
- Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur
- Terlihat bahan granular
2. Epitel makin tipis
- Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat
- Bengakak dan fakuolisasi mitokondria yang nyata
3. Serat lensa:
- Lebih iregular
- Pada korteks jelas kerusakan serat sel
- Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah protein
nukleus (histidin, triptofan, metionin, sistein dan tirosin) lensa, sedang warna
coklet protein lensa nukleus mengandung histidin dan triptofan dibanding
normal.
- Korteks tidak berwarna karena:
Kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi.
Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda.
Kekeruhan lensa dengan nukleus yang mengeras akibat usia lanjut biasanya
mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun.

E. Klasifikasi Katarak Senil


Katarak senilis berdasarkan stadium perkembangannya adalah katarak
insipien, intumesen, imatur, matur dan hipermatur (Kanski, 2007).

Tabel 1. Perbedaan stadium katarak senilis (Ilyas, 2010).


Insipien Imatur Matur Hipermatur
Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif
Cairan lensa Normal Bertambah Normal Berkurang
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik mata
depan Normal Dangkal Normal Dalam
Sudut bilik
mata Normal Sempit Normal Terbuka
Iris shadow Negatif Positif Negatif Pseudopos
Uveitis +
Penyulit - Glaukoma - Glaukoma

1. Katarak Insipien (Ilyas, 2010)


Pada katarak stadium insipien terjadi kekeruhan mulai dari tepi ekuator
menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal). Vakuol mulai terlihat
di dalam korteks. Pada katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat
anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan korteks
berisi jaringan degeneratif (benda Morgagni) pada katarak isnipien.
Kekeruhan ini dapat menimbulkan polipia oleh karena indeks refraksi
yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap
untuk waktu yang lama.
2. Katarak Intumesen (Ilyas, 2010)
Pada katarak intumesen terjadi kekeruhan lensa disertai pembengkakan
lensa akibat lensa yang degeneratif menyerap air.
Masuknya air ke dalam celah lensa mengakibatkan lensa menjadi
bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi
dangkal dibanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat
memberikan penyulit glaukoma. Katarak intumesen biasanya terjadi pada
katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan mipopia lentikular. Pada
keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan mencembung dan
daya biasnya akan bertambah, yang memberikan miopisasi.
Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai
peregangan jarak lamel serat lensa.
3. Katarak Imatur (Ilyas, 2010)
Pada katarak senilis stadium imatur sebagian lensa keruh atau katarak
yang belum mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat
bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang
degeneratif. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan
hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma sekunder.
4. Katarak Matur (Ilyas, 2010)
Pada katarak senilis stadium matur kekeruhan telah mengenai seluruh
masa lensa. Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh.
Bila katarak imatur atau intumesen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan
keluar, sehingga lensa kembali pada ukuran yang normal. Akan terjadi
kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan mengakibatkan kalsifikasi lensa.
Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali, tidak terdapat
bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif.

5. Katarak Hipermatur (Ilyas, 2010)


Pada katarak stadium hipermatur terjadi proses degenerasi lanjut, dapat
menjadi keras atau lembek dan mencair. Masa lensa yang berdegenerasi kelur
dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering.
Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. Kadang-
kadang pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula Zinn
menjadi kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang
tebal maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks
akan memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nukleus
yang terbenam di dalam korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut
sebagai katarak Morgagni.

Terdapat tiga jenis utama katarak senilis, yaitu:


1. Nuklear, dimana nukleus lensa keras dan keruh. Mula-mula menyebabkan
myopia yang meningkat sehingga penderita usia lanjut mungkin dapat membaca
tanpa kacamata (pengelihatan kedua pada usia lanjut). Gejala lain dapat berupa
diplopia monocular (Kanski, 2007)
2. Kortikal, dimana kekeruhan membentuk konfigurasi seperti jari-jari roda pedati.
Fungsi pengelihatan dapat terganggu apabila kekeurah dekat dengan aksis
visual (Kanski, 2007)
3. Subkapsular posterior, yang secara khas lebih menyebabkan gangguan
pengelihatan dekat dibandingkan pengelihatan jauh. Sinar matahari terang juga
menambah kesulitan pengelihatan dan cenderung merasa silau (Kanski, 2007).

F. Manifestasi Klinis
Kekeruhan pada lensa dapat terjadi tanpa gejala, dan ditemukan pada
pemeriksaan mata rutin. Gejala katarak senilis pada umumnya berupa(Khurana,
2007) :
1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek. Tidak terasa
nyeri dan progresif. Pada pasien dengan kekeruhan di tengah lebih cepat
mengalami penurunan pengelihatan, dan melihat lebih baik ketika pupil berdilatasi
saat cahaya redup. Sebaliknya pada pasien dengan kekeruhan di perifer,
pengelihatan dapat lebih baik ketika pupil berkontraksi saat cahaya terang. Pada
pasien dengan sklerosis nuklear menimbulkan myopia sehingga pasien yang
tadinya menderita presbiopi dapat membaca tanpa kacamata (second sight).
2. Peka terhadap sinar atau cahaya.
3. Dapat terjadi penglihatan ganda pada satu mata.
4. Gambaran halo, karena cahaya putih menjadi spectrum berwarna saat melewati
tetesan air dalam lensa.

Terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menemukan tanda


katarak (Khurana, 2007) :
1. Pemeriksaan visus
Tergantung pada lokasi dan maturasi dari katarak, visus pasien beragam rata-rata
6/9 hingga hanya persepsi cahaya.
2. Penyinaran oblik
Pemeriksaan ini untuk melihan warna lensa dari pupil.
3. Iris shadow
Ketika sinar diberikan secara oblik pada pupil maka pada tepi pupil nampak
bayangan iris seperti bulan sabit yang terbentuk pada lensa yang keruh.Hal ini
terjadi saat daerah korteks masih jernih, apabila lensa telah keruh total maka tidak
akan terlihat bayangan iris. Maka iris shadow merupakan tanda katarak imatur.
4. Oftalmoskopi
Pada pemeriksaan dapat terlihat warna kuning kemerahan. Namun pada pasien
katarak dapat memberikan bayangan hitam yang menutupi warna kuning
kemerahan tersebut.

G. Diagnosis
Diagnosis katarak senilis dibuat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Pemeriksaan laboratorium preoperasi dilakukan untuk mendeteksi adanya
penyakit-penyakit yang menyertai (contoh: diabetes melitus, hipertensi, cardiac
anomalies). Penyakit seperti diabetes militus dapat menyebabkan perdarahan
perioperatif sehingga perlu dideteksi secara dini sehingga bisa dikontrol sebelum
operasi.
Pada pasien katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk mengetahui
kemampuan melihat pasien. Visus pasien dengan katarak subkapsuler posterior dapat
membaik dengan dilatasi pupil.
Pada pemeriksaan slit lamp biasanya dijumpai keadaan palpebra, konjungtiva,
dan kornea dalam keadaan normal. Iris, pupil, dan COA terlihat normal. Pada lensa
pasien katarak, didapatkan lensa keruh. Lalu, dilakukan pemeriksaan shadow test
untuk menentukan stadium pada penyakit katarak senilis. Ada juga pemeriksaan-
pemeriksaan lainnya seperti biomikroskopi, stereoscopic fundus examination,
pemeriksaan lapang pandang dan pengukuran TIO.

H. Penatalaksanaan
Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. Untuk menentukan kapan
katarak dapat dibedah ditentukan oleh keadaan tajam penglihatan. Tajam penglihatan
dikaitkan dengan tugas sehari-hari penderita.
Operasi katarak terdiri dari pengangkatan sebagian besar lensa dan
penggantian lensa dengan implan plastik. Saat ini pembedahan semakin banyak
dilakukan dengan anestesi lokal daripada anestesi umum (Eva, et al., 2007).

Operasi ini dapat dilakukan dengan:


- Ekstraksi katarak ekstrakapsular, metode dengan meninggalkan bagian posterior
kapsul lensa. Penanaman lensa intraocular merupakan bagian dari prosedur ini.
Insisi dibuat di limbus atau kornea perifer, superior, atau temporal. Insisi pada
prosedur ini relatif besar. Nukleus dikeluarkan secara utuh, sedangkan korteks
dengan penghisapan manual atau otomatis.
- Fakoemulsifikasi adalah teknik ekstraksi katarak ekstrakapsular yang peling sering
digunakan. Teknik ini menggunakan vibrator ultrasonik genggam untuk
menghancurkan nukleus yang keras hingga substansi nukleus dan korteks dapat
diaspirasi melalui suatu insisi berukuran 3 mm. Ukuran tersebut cukup untuk
memasukkan lensa intaokularyang dapat dilipat.
- Ekstraksi katarak intrakapsular, suatu tindakan mengangkat seluruh lensa beserta
kapsulnya, jarang dilakukan pada saat ini. Insiden terjadinya ablasio retina
pascaoperasi jauh lebih tinggi pada metode ini dibandingkan pascabedah
ekstrakapsular.
Kekuatan implan lensa intraokular yang akan digunakan dalam operasi
dihitung sebelumnya dengan mengukur panjang maata secara ultrasonik dan
kelengkungan kornea (maka juga kekuatan optik) secara optik. Kekuatan lensa
umumnya dihitung sehingga pasien tidak akan membutuhkan kacamata untuk
penglihatan jauh. Pilihan lensa juga dipengaruhi oleh refraksi mata kontralateral dan
apakah terdapat terdapat katarak pada mata tersebut yang membutuhkan operasi.
Jangan biarkan pasien mengalami perbedaan refraktif pada kedua mata (Eva, et al.,
2007).
Pascaoperasi pasien diberikan tetes mata steroid dan antibiotik jangka pendek.
Kacamata baru dapat diresepkan setelah beberapa minggu, ketika bekas insisi telah
sembuh. Rehabilitasi visual dan peresepan kacamata baru dapat dilakukan lebih cepat
dengan metode fakoemulsifikasi. Karena pasien tidak dapat berakomodasi maka
pasien membutuhkan kacamata untuk pekerjaan jarak dekat meski tidak dibutuhkan
kacamata untuk jarak jauh. Saat ini digunakan lensa intraokular multifokal, lensa
intraokular yang dapat berakomodasi sedang dalam tahap pengembangan (Eva, et al.,
2007).

I. Komplikasi
Apabila dibiarkan katarak akan menimbulkan gangguan penglihatan dan
komplikasi seperti glaukoma, uveitis dan kerusakan retina (Eva, et al., 2007).

J. Prognosis
Apabila pada proses pematangan katarak dilakukan penanganan yang tepat
sehingga tidak menimbulkan komplikasi serta dilakukan tindakan pembedahan pada
saat yang tepat maka prognosis pada katarak senilis umumnya baik.
DAFTAR PUSTAKA

Eva PR, Whithcer JP. 2007. Vaughan and Asburys General Ophthalmology 17th
edition. New York: The McGraw-Jill Companies.
Ilyas S. 2010. Ilmu Penyakit Mata edisi ke 3. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia: Jakarta.
Kanski JJ. 2007. Clinical Ophthalmology 6th edition. Edinburg: Elsevier Publishers
Ltd.
Khurana AK. 2007. Comprehensive Opthtalmology 4th edition. India: New Age
International Ltd.

17