Anda di halaman 1dari 9

PENEMUAN TEKNIK BARU UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH BATIK

Riyanto, Ph.D.
Program Studi Ilmu Kimia, FMIPA, Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang KM 14,5; Sleman, Yogyakarta; 55584;
Web site: http://chemistry.uii.ac.id; e-mail: riyanto@uii.ac.id
Hp. 087839295822

Latar Belakang
Batik telah diakui oleh Badan Perserikatan Bangsa Bangsa Urusan Kebudayaan
(UNESCO) sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Pengakuan ini
diberikan UNESCO dengan melihat berbagai upaya yang dilakukan oleh Indonesia,
terutama karena penilaian terhadap keragaman motif batik yang penuh makna filosofi
mendalam. Disamping itu, pemerintah dan rakyat Indonesia juga dinilai telah melakukan
berbagai langkah nyata untuk melindungi dan melestarikan warisan budaya ini secara
turun temurun. Pengakuan Unesco, membuat pengusaha batik lebih bersemangat
karena hasil karya yang sudah diwariskan oleh para leluhur mendapat pengakuan dari
dunia.
Industri batik dan tekstil merupakan salah satu penghasil limbah cair yang berasal dari
proses pewarnaan. Selain kandungan zat warnanya tinggi, limbah industri batik dan
tekstil juga mengandung bahan-bahan sintetik yang sukar larut atau sukar diuraikan.
Setelah proses pewarnaan selesai, akan dihasilkan limbah cair yang berwarna keruh
dan pekat. Biasanya warna air limbah tergantung pada zat warna yang digunakan.
Limbah air yang berwarna-warni ini yang menyebabkan masalah terhadap lingkungan.
Limbah zat warna yang dihasilkan dari industri tekstil umumnya merupakan senyawa
organik non-biodegradable, yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan
terutama lingkungan perairan. Senyawa zat warna di lingkungan perairan sebenarnya
dapat mengalami dekomposisi secara alami oleh adanya cahaya matahari, namun
reaksi ini berlangsung relatif lambat, karena intensitas cahaya UV yang sampai ke
permukaan bumi relatif rendah sehingga akumulasi zat warna ke dasar perairan atau
tanah lebih cepat daripada fotodegradasinya (Dae-Hee et al. 1999 dan Al-kdasi 2004).

Halaman 1 dari 9
Jika industri tersebut membuang limbah cair, maka aliran limbah tersebut akan melalui
perairan di sekitar pemukiman. Dengan demikian mutu lingkungan tempat tinggal
penduduk menjadi turun. Limbah tersebut dapat menaikkan kadar COD (Chemical
Oxygen Demand). Jika hal ini melampaui ambang batas yang diperbolehkan, maka
gejala yang paling mudah diketahui adalah matinya organisme perairan (Al-kdasi 2004).
Oleh karena itu perlu, dilakukan pengolahan limbah industri tekstil yang lebih lanjut agar
limbah ini aman bagi lingkungan.

Menurut Al-kdasi (2004) berdasarkan struktur kimianya zat warna dibagi menjadi
bermacam-macam, antara lain: zat warna nitroso, nitro, azo, stilben, difenil metana,
trifenil metana, akridin, kinolin, indigoida, aminokinon, anin dan indofenol. Sedangkan
berdasarkan pada cara pencelupan atau pewarnaan pada bahan yang akan diwarnai
digolongkan menjadi zat warna asam, basa, dispersi, direct dan lain-lain. Namun,
secara garis besar zat warna digolongkan menjadi dua golongan yaitu zat warna alami
dan zat warna sintetik. Salah satu contoh struktur zat warna yang digunakan dapat
dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur senyawa zat warna yang sering digunakan dalam industri

Halaman 2 dari 9
Salah satu contoh zat warna yang banyak dipakai industri tekstil adalah remazol black,
red dan golden yellow. Dalam pewarnaan, senyawa ini hanya digunakan sekitar 5%
sedangkan sisanya yaitu 95% akan dibuang sebagai limbah. Senyawa ini cukup stabil
sehingga sangat sulit untuk terdegradasi di alam dan berbahaya bagi lingkungan
apalagi dalam konsentrasi yang sangat besar karena dapat menaikkan COD (Chemical
Oxygen Demand). Hal ini tentu saja dapat merusak keseimbangan ekosistem
lingkungan yang ditandai dengan matinya organisme perairan di sekitar lokasi
pembuangan limbah sehingga perlu pengolahan lebih lanjut agar limbah tekstil ini aman
bagi lingkungan.

Saat ini berbagai teknik atau metode penanggulangan limbah tekstil telah
dikembangkan, di antaranya adalah metode adsorpsi. Namun metode ini ternyata
kurang begitu efektif karena zat warna tekstil yang diadsorpsi tersebut masih
terakumulasi di dalam adsorben yang pada suatu saat nanti akan menimbulkan
persoalan baru. Sebagai alternatif, dikembangkan metode fotodegradasi dengan
menggunakan bahan fotokatalis dan radiasi sinar ultraviolet. Metode fotodegradasi
akan membuat zat warna terurai menjadi komponen-komponen yang lebih sederhana
dan lebih aman untuk lingkungan. Pengolahan limbah batik dengan proses kimia dan
adsorpsi karbon aktif telah dilakukan oleh Setyaningsing (2007). Pengolahan limbah
yang dipilih adalah dengan proses kimia dan fisika, hal ini karena tujuan utama dari
pengolahan limbah batik adalah penghilangan warna dari limbah batik. Koagulan yang
digunakan adalah FeSO4 dan Ca(OH)2. Untuk mendapatkan pengolahan limbah
dengan cara paling tepat, dilakukan rangkaian percobaan pengolahan limbah yaitu
koagulasi/flokulasi-sedimentasi, koagulasi flotasi, koagulasi/flokulasi sedimentasi-
adsorpsi dan proses adsorpsi. Hasil penelitian Setyaningsih (2007) didapatkan cara
yang paling baik adalah proses koagulasi/flokulasi-sedimentasi-adsorpsi, dengan
persen pengurangan warna sebesar 100%. Jenis adsorben yang paling bagus adalah
karbon aktif tempurung kelapa, karbon aktif sekam padi, karbon aktif batu bara lokal
dan karbon aktif batu bara impor.

Halaman 3 dari 9
Metode oksidasi dengan menggunakan bahan-bahan pengoksida dengan teknik
advanced oxidation processes (AOPS) telah dikembangkan dengan menggunakan
radikal bebas hidroksi. AOPS proses menggunakan kombinasi ozone (O3), hydrogen
peroxide (H2O2) and radiasi sinar UV. Teknik ini sangat baik untuk mengurangi warna
limbah tetapi tidak mampu menurunkan angka COD (Ahmet et al., 2003; Lidia et al.,
2001; Stanislaw et al., 2001; Tzitzi et al., 1994).

Beberapa metode konvensional yang digunakan untuk mengolah limbah tekstil adalah
kombinasi dari proses biologi, fisika dan kimia (Acher dan Rosenthal, 1977; Brown dan
Hamburger, 1987). Karena limbah tekstil biasanya dihasilkan dalam skala besar maka
beberapa metode tersebut menjadi tidak menguntungkan. Metode baru yaitu
penggunaan ozon dan photooksidasi telah juga dikembangkan untuk mengolah limbah
tekstil (Tratnyek dan Hoigne, 1991; Tratnyek et al., 1994). Metode ozonasi dan
photooksidasi memerlukan biaya yang sangat tinggi dan sukar jika diterapkan untuk
masyarakat. Metode elektrokimia merupakan metode yang sukses untuk mengolah
beberapa limbah cair industri (Matis, 1980), termasuk limbah zat warna dari industri
tekstil (Sheng and Peng, 1994).

Dalam makalah ini peneliti menemukan metode baru untuk mengolah limbah batik
dengan menggunakan metode elektrolisis dengan anoda dan katoda platinum (Pt). Pt
merupakan logam inert yang sangat baik sebagai elektrokatalis dan tahan terhadap
kondisi larutan. Metode ini merupakan metode yang efektif, selektif, ekonomis, bebas
polutan dan sangat sesuai untuk menghancurkan senyawa-senyawa organik. Hasil
akhirnya adalah air dan gas karbon dioksida.

Metode Penelitian

Penemuan baru dalam mengolah limbah batik dengan menggunakan metode


elektrolisis dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3.

Halaman 4 dari 9
Gambar 2. Rangkaian alat yang digunakan untuk mengolah limbah batik

Gambar 3. Rangkaian alat yang digunakan untuk mengolah limbah batik di


laboratorium

Halaman 5 dari 9
Cara Kerja Alat
1. Limbah batik dimasukkan dalam bak elektrolisis, kemudian ditambah 0,25 kg
untuk setiap 100 L limbah batik, kemudian dimasukkan elektroda, katoda dan
anoda masing-masing berbahan platinum dan dilengkapi dengan pengaduk.
2. Kedua elektroda dihubungkan dengan sumber arus DC melalui voltmeter dengan
potensial maksimum 5 Volt.
3. Elektrolisis limbah batik dijalankan dengan memasukkan potensial sebesar 5 V
dan elektrolisis dihentikan jika larutan sudah menjadi jernih.
4. Hasil elektrolisis limbah batik merupakan limbah yang berwarna jernih, kemudian
dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, COD dan logam berat
dengan AAS.
Hasil Uji Coba Alat
a. Hasil analisis limbah batik setelah dielektrolisis dengan spektrofotometer
UV-Vis

Gambar 2. Hasil analisis dengan spektrofotometer UV-Vis


Berdasarkan gambar di atas limbah batik yang semual berwarna biru (warna
hitam) setelah diolah dengan elektrolisis berubah menjadi jernih (warna merah)

Halaman 6 dari 9
dalam waktu 15 menit dan dengan bantuan garam dapur dengan penambahan
garam dapur.
b. Hasil analisis COD dan analisis logam berat dengan AAS
Hasil analisis komponen komponen limbah disesuaikan dengan baku mutu
limbah cair berdasarkan PP No 20 tahun 1990 ditunjukkan dalam tabel sebagai
berikut:
Parameter Hasil Analisis PP No.20 tahun 1990
(Air Golongan D)
COD 39,8 mg/L 100 mg/L
Cr-Total 0,05 mg/L 1,0 mg/L
Pb-Total 0,03 mg/L 1,0 mg/L
Cd-Total 0,03 mg/L 0,01 mg/L
As-Total 0,01 mg/L 1,0 mg/L
Hg-Total 0,002 mg/L 0,005 mg/L

Berdasarkan hasil analisis limbah batik setelah diolah dengan teknik elektrolisis
menghasilkan larutan jernih dan setelah dianalisis sangat aman untuk digunakan
sebagai air minum, air keperluan rumah tangga, industri dan pertanian. Air yang
telah diolah dapat langsung dibuang ke lingkungan.
Kesimpulan
Penemuan teknik elektrolisis untuk mengolah limbah batik selama ini belum pernah
dilakukan oleh peneliti atau penemu lain. Teknik pengolahan limbah batik dengan
elektrolisis merupakan teknik yang lebih mudah, murah dan efisien dan mudah untuk
dioperasikan, tidak memerlukan keahlian tinggi dan sederhana. Teknik ini tidak
menghasilkan limbah baru sehingga aman untuk lingkungan. Teknik ini juga tidak
memerlukan dana yang tinggi karena hanya memerlukan arus listrik yang rendah dan
garam dapur yang murah.

Daftar Pustaka

Acher, A. J. dan Rosenthal, I., 1977. Dye-Sensitized-Photo-Oxidation: A new approach to the


treatment of organic matter in sewage effluents. Wat. Res. 11: 557562.

Ahmet B., Ayfer Y., Doris L., Nese N. dan Antonius K. 2003, Ozonation of high strength
segregated effluents from a woolen textile dyeing and finishing plant, Dyes and
Pigments, 58: 93-98.

Halaman 7 dari 9
Al-Kdasi, A., Idris, A., Saed, K. dan Guan, C.T., 2004. Treatment of textile wastewater by
advanced oxidation processes. Global Nest the Int. J. 6: 222-230.

Bonet, F., Grugeon, S., Dupont, L. Urbina, R.H., Guery, C. dan Tarascon, J.M. 2003. Synthesis
and characterization of bimetallic NiCu particles. Journal of Solid State Chemistry 172:
111115.

Bockris, J.O.M. dan Drazic, D. 1972. Electrochemistry Science. London: Taylor and Frabcis Ltd.

Brown, D. dan Hamburger, B., 1987. The degradation of dyestuffs. investigation of their ultimate
degradability. Chemosphere 16: 15391553.

Casado, J. dan Brillas, E. 1996. Electrochemical mineralization of aniline: The peroxi-


coagullation and electro-fenton process. Proc. 10th Int. Forum Electrolysis Chem. Ind.,
Electrosynthesis. Lancaster, N.Y. 192-198.

Chen, X., Shen, Z., Zhu, X., Fan, Y. dan Wang, W. 2005. Advanced treatment of textile
wastewater for reuse using electrochemical oxidation and membrane filtration. Wat. Res.
20: 271277.

Cox, P. dan Pletcher, D. 1990. Electrosynthesis at oxide coated electrodes: Part 1 the kinetics
of ethanol oxidation at spinel electrodes in aqueous base. J. Appl. Electrochem. 20: 549-
554.

Cox, P. dan Pletcher, D. 1991. Electrosynthesis at oxide coated electrodes. Part 2. The
oxidation of alcohols and amines at spinel anodes in aqueous base. J. Appl.
Electrochem. 21: 11-13.

Dae-Hee A., Won-Seok C. dan Tai-Il Y. 1999. Dyestuff wastewater treatment using chemical
oxidation, physical adsorption and fixed bed biofilm process, Process Biochemistry 34:
429439.

Jimenez, M.M.D., Elizalde, M.P., Gonzalez, M. dan Silva, R. 2000. Electrochemical behaviour of
nickel-polyester composite electrodes. Electrochim. Acta 45: 4187-4193.

Lidia S., Claudia J. dan Santosh N.K. 2001. A comparative study on oxidation of disperses dyes
by electrochemical process, ozone, hypochlorite and fenton reagent, Water Research,
35: 21292136.

Matis, K. A. 1980. Treatment of industrial liquid wastes by electro-floatation. Wat. Pollut. Control
19: 136142.

Nicola, M. dan Badea, T. 1996. Wastewater treatment using electrochemical oxidation of


organic pollutants. Sci. Technol.Environ. Prot. 3: 35-40.

Pereira, M.G., Jimenez, M.D., Elizalde, M.P., Robledo, A.M. dan Vante, N.A. 2004. Study of the
electrooxidation of ethanol on hydrophobic electrodes by DEMS and HPLC. Electrochim.
Acta 49: 3917-3925.

Halaman 8 dari 9
Polcaro, A.M., Palmas, S., Renoldi, F. dan Mascia, M. 1999. On the performance of Ti/SnO
sub(2) and Ti/PbO anodes in electrochemical degradation of 2-chlorophenol for
wastewater treatment. J. Appl. Electrochem. 29: 147-151.

Rashkova, V., Kitova, S., Konstantinov, I. dan Vitanov, T. 2002. Vacuum evaporated thin films
of mixed cobalt and nickel oxides as electrocatalyst for oxygen evolution and reduction.
Electrochim. Acta 47: 1555-1560.

Setyaningsih, H. 2007. Pengolahan limbah batik dengan proses kimia dan adsorpsi karbon aktif.
Tesis Program Pasca Sarjana UI. Jakarta.

Sheng, H. and Peng, C.F. 1994. Treatment of textile wastewater by electrochemical method.
Wat. Res. 28: 277282.

Staniskaw L. and Monika G. 1999. Optimization of oxidants dose for combined chemical and
biological treatment of textile wastewater, Water Research, 33: 2511-2516.

Taghizadeh, A., Lawrence, M.F, Miller, L., Anderson, M.A dan Serpone, N. 2000. (Photo)
electrochemical behavior of selected organic compounds on TiO2 electrodes. Overall
relevance to heterogeneous photocatalysis. J. Photochem. Photobiol. 2-3: 145-156.

Tezuka, M. and Jwasaki, M. 1996. Oxidative degradation of organic pollutants in water by glow
discharge electrolysis. Asia-Pac. Proc. 3rd Conf. Plasma Sci. Technol. Tokyo Japan:
Japan Society for the Promotion of Science, Local Organizing Committee of
APCPST96. 423-427.

Tzitzi M., Vayenas D.V. dan Lyberatos G. 1994. Pretreatment of textile industry wastewaters
with ozone, Water Science and Technology, 29:151-160.

Tratnyek, P. G. dan Hoigne, J. 1991. Oxidation of substituted phenols in the environment: A


QSAR analysis of rate constants for reaction with singlet oxygen. Environ. Sci. Technol.
25:15961604.

Tratnyek, P. G., Elovitz, M. S. dan Colverson, P.1994. Photo effects of textile dye wastewater:
Sensitization of single oxygen formation, oxidation of phenols and toxicity to bacteria.
Environ. Toxicol. Chem. 13: 2733.

Vlyssides, A.G., Loizidou, M., Karlis, P.K., Zorpas, A.A., Papaioannou, D.J. 1999.
Electrochemical oxidation of a textile dye wastewater using a Pt/Ti electrode. J. Hazard
Mater. 23:70:41-52.

Xu, C., Shen, P.K., Ji, X., Zeng, R. dan Liu, Y. 2005. Enhance activity for ethanol
electrooxidation on Pt-MgO/C catalysts. Electrochem. Commun. 7: 1305-1308.

Halaman 9 dari 9