Anda di halaman 1dari 10

OLEH :

KELOMPOK I
ABDON PURWANTO {8156122001}
DYAN LOKA VITHA WACY {8156122006}
GUFRAN NURMAN {8156122009}
HAMIDAH MANALU {8156122010}
Kelas/ Program Studi : B-1/Teknologi Pendidikan

Mata Kuliah: Filsafat Ilmu Pendidikan

Dosen pengampu : Prof. Dr. Binsar Panjaitan, M.Pd

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2015
BAB I

PENDAHULUAN

Mengapa manusia berfilsafat ? pertanyaan ini merupakan dasar dan titik awal manusia
berfilsafat. Dalam kaitan ini perlu dijelaskan bahwa sepanjang sejarah kefilsafatan dikalangan
filsut terdapat tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat yaitu : kekaguman atau
keheranan, keraguan atau kesangsian, kesadaran akan keterbatasan. Dan pada umumnya seorang
filsut mulai berfilsafat karena adanya rasa kagum atau adanya rasa heran dalam pikiran filsafat
itu sendiri.

Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak di bumi sedang
tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi.
Atau seoarang yang sedang berdiri di puncak gunung, memandang ke ngarai dan lembah
dibawahnya, dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya.

Dalam hal ini dialami oleh Plato ( filsut Yunani, guru dari Aristoteles ) menyatakan
bahwa : Mata kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari dan langit. Pengamatan ini
memberi dorongan kepada kita untuk menyelidiki. Dan dari penyelidikan ini berasal filsafat.

Sementara Augustinus dan Rene Descartes memulai berfilsafat bukan dari kekaguman
atau keheranan akan tetapi mereka berfilsafat dimulai dari keraguan atau kesangsian sebagai
sumber utama berfilsafat. Manusia heran, tetapi kemudian ia ragu-ragu. Apakah ia tidak ditipu
oleh panca inderanya yang sedang heran ?

Rasa heran dan meragukan ini mendorong manusia untuk berpikir lebih mendalam,
menyeluruh dan kritis untuk memperoleh kepastian dan kebenaran yang hakiki. Berpikir secara
mendalam, menyeluruh dan kritis seperti ini yang disebut berfilsafat.

Berfilsafat dapat pula dimulai dari adanya suatu kesadaran akan keterbatasan pada diri
manusia. Berfilsafat kadang-kadang dimulai apabila manusia menyadari bahwa dirinya sangat
kecil dan lemah terutama di dalam menghadapi kejadian-kejadian alam. Apabila seorang merasa,
bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada waktu mengalami penderitaan atau kegagalan,
maka dengan adanya kesadaran akan keterbatasan dirinya tadi manusia mulai berfilsafat. Ia akan
memikirkan bahwa di luar manusia yang terbatas pasti ada sesuatu yang tidak terbatas yang
dijadikan bahan kemajuan untuk menemukan kebenaran hakiki.

Sekarang kita sadar bahwa semua pengetahuan yang ada sekarang, dimulai dengan
spekulasi. Dari serangkaian spekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan
yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan kriteria tentang
apa yang disebut benar maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di atas dasar
kebenaran. Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau buruk maka kita tidak mungkin
berbicara tentang moral. Demikian juga tanpa wawasan apa yang disebut indah atau jelek tidak
mungkin kita berbicara tentang kesenian.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tentang Filsafat

Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia yang dalam
perkembangannya berikutnya dikenal di dalam bahasa lain yaitu : philosophie ( Jerman,
Belanda dan Perancis ), philosophy ( Inggris ), philosophia ( Latin ) dan dalam bahasa
Indonesia filsafat berasal dari pemakaian dalam bahasa Arab falsafah yang berarti mencintai
hikmah.

Pengertian filsafat berdasarkan asal kata tersebut akan menghasilkan pengertian yang
berbeda-beda dalam makna yang tidak hakiki, jadi perbedaan tersebut hanya bersifat gradasi
( naik, yaitu dari ragu menjadi yakin ) saja. Aktivitas akal budi yang dilakukan oleh filsut
yang berupa philosopein memiliki dua unsur pokok, yaitu pertama philein dan sophos, kedua
philos dan sophia.

Akar pengertian istilah tersebut dapat diurai sebagai berikut. Pertama unsur philien dan
sophos, philien berarti mencintai, dan sophos berarti bijaksana. Istilah philosophia dengan
akar kata philien dan sophos berarti mencintai akan hal-hal yang bersifat bijaksana. Istilah
philosophia dengan akar kata philos dan sophia berarti kawan kebijaksanaan. Philosophia
menurut arti katanya adalah cinta akan kebijaksanaan dan berusaha untuk memilikinya.

Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat dipahami bahwa filsafat (philosophia) berarti
cinta kebijaksanaan. Seorang filsut adalah pencari kebijaksanaan, ia adalah pencinta
kebijaksanaan dalam arti hakikat. Seorang filsut mencintai atau mencari kebijaksanaan dalam
arti yang sedalam-dalamnya. Seorang fisut adalah pencinta atau pemakaian istilah filsafat
pertama kali digunakan oleh Pythagoras. Pada saat itu pengertian filsafat menurutnya
menurutnya belum begitu jelas, kemudian diperjelas oleh kaum sophist yang dipelopori oleh
Socrates, yang telah menjelaskan pengertian filsafat yang tetap dipakai hingga saat ini.

Beberapa pengertian yang dirumuskan oleh para filsut diantaranya :


1. Plato, filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran asli.

2. Aristoteles, filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) yang meliputi kebenaran yang terkandung
didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika
( filsafat keindahan ).

3. Al Farabi, filsafat adalah ilmu tentang alam wujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.

4. Rene Descrartes, filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam dan
manusia menjadi pokok penyelidikan.

5. Immanuel Kant, filsafat adalah ilmu yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan,
yang didalamya tercakup masalah epistemologi ( filsafat pengetahuan ) yang menjawab
persoalan apa yang dapat kita ketahui ? Masalah etika yang menjawab persoalan apa
yang harus kita kerjakan ?

6. Langeveld, filsafat adalah berpikir tentang masalah-masalah yang akhir dan yang
menentukan, yaitu masalah-masalah yang mengenai makna keadaan, Tuhan keabadian
dan kebebasan.

7. Hasbullah Bakry, filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam
mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia senhingga dapat menghasilkan
pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan
bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

B. Faktor Faktor Filsafat

Faktor-faktor yang menyebabkan lahirnya filsafat adalah sebagai berikut :

1. Pertentangan Mitos dan Logos

Di kalangan masyarakat Yunani dikenal adanya Mitos dan logos. Mitos sebagai suatu
keyakinan lama yang berkembang dengan pesat, seperti mite kosmologi yang melukiskan
kejadian-kejadian alam. Mite-mite tersebut tersusun sedemikian rupa sehingga menjadi
keyakinan yang mapan, walaupun diakui mite tersebut tidak rasional. Di dalam
penyusunan mite peran penyair sangat penting seperti Hesiodes ( 550 SM ) dengan
bukunya Theogonia ( kejadian alah-alah ), Orpheus dari kalangan Orfisme dan
Pherekydes dari Syros.

Logos adalah suatu potensi yang ada dalam diri manusia yang selalu siap untuk berfikir
yang bisa diartikan dengan akal. Di dalam kehidupan mereka sering sekali
dipertentangkan antara mitos dan logos yang dimenangkan logos.

2. Rasa Ingin Tahu

Adanya keinginan mempertentangkan antara mite dan logos disebabkan oleh rasa
keingintahuan manusia tentang dunia yang dihadapinya. Mite-mite yang sifatnya tidak
rasional memberikan ketidakpuasan manusia sehingga mendorong mereka mencari
jawabannya pada logos. Jawaban-jawaban inilah yang kemudian disebut filsafat. Dalam
kaitan ini Dick Hartoko mengatakan : filsafat berawal dari rasa heran dan kagum, hal-hal
yang dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebelumnya luar biasa, kelahiran dan
kematian, ada dan tidak ada susul menyusul. Manusia mencari prinsip umum yang
mendasari keseluruhan sebagai suatu sistem atau struktur yang memberi arti kepada
segala sesuatu.

3. Rasa Kagum

Selain rasa ingin tahu dan pertentangan antar mitos dan logos, menurut Plato, filsafat juga
lahir karena adanya kekaguman manusia tentang dunia dan lingkungannya. Rasa kagum
mendorong manusia untuk memberikan jawaban-jawaban dalam bentuk praduga.
Praduga ini kemudian dipikirkan oleh logos dalam bentuk rasionalisasi. Rasionalisasi ini
merupakan awal lahir filsafat, misalnya para filsut Yunani yang kagum terhadap alam
semesta, mencoba merumuskan asal muasal arche dari alam semesta tersebut sehingga
muncullah aneka teori diantaranya :

a. Thales yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari air


b. Anaximandros yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari apairon

c. Anaximenes yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari udara

d. Democrios yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari atom

e. Empedocles yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari empat unsur yaitu api,
tanah, air dan udara

4. Perkembangan kesusastraan

Faktor lain yang juga penting adalah perkembangan kesusastraan. Kesusastraan Yunani
mengandung ungkapan-ungkapan yang berisikan teka-teki, dongeng-dongeng dan
ungkapan-ungkapan yang metaforis. Ungkapan-ungkapan tersebut diinterpretasikan oleh
para pemikir Yunani seperti Homerus dalam karyanya Illusi dan Odyssea mempunyai
kedudukan yang istimewa dalam perkembangan filsafat. Plato mengatakan bahwa
Homerus sangat berperan penting dalam mendidik bangsa Hellas (Yunani). Lain halnya
dengan K. Bertens, dia mengatakan bahwa karya Homerus seperti wayang dalam
kebudayaan Jawa, karena berisikan pantun-pantun yang mempunyai nilai hiburan dan
edukatif.

C. Karakteristik Filsafat

Pemikiran kefilsafatan memiliki ciri-ciri khas ( karakteristik ) tertentu, sebagian besar filsut
berbeda pendapat mengenai karakteristik pemikiran kefilsafatan. Apabila perbedaan pendapat
tersebut dipahami secara teliti dan mendalam, maka karakteristik pemikiran kefilsafatan
tersebut terdiri dari :

a. Integralistik ( menyeluruh ), artinya pemikiran yang luas, pemikiran yang meliputi


beberapa sudut pandangan. Pemikirann kefilsafatan meliputi beberapa cabang ilmu, dan
pemikiran semacam ini ingin mengetahui hubungan antara cabang ilmu yang satu dengan
yang lainnya. Integralitas pemikiran kefilsafatan juga memikirkan hubungan ilmu dengan
moral, seni dan pandangan hidup.
b. Fundamental ( mendasar ), artinya pemikiran mendalam sampai kepada hasil yang
fundamental ( keluar dari gejala ). Hasil pemikiran tersebut dapat dijadikan dasar berpijak
segenap nilai dan masalah-masalah keilmuan ( science )

c. Spekulatif, artinya hasil pemikiran yang diperoleh dijadikan dasar bagi pemikiran-
pemikiran selanjutnya dan hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai medan
garapan ( objek ) yang baru pula. Keadaan ini senantiasa bertambah dan berkembang
meskipun demikian bukan berarti hasil pemikiran kefilsafatan itu meragukan, karena
tidak pernah selesai seperti ilmu-ilmu diluar filsafat.
BAB III

PENUTUP

Dari uraian tersebut diatas, mulai tergambar bagi kita apa defenisi dari filsafat, walaupun
masih sulit untuk mendefinisikan arti yang sebenarnya dari filsafat itu, karena filsafat memiliki
ruang lingkup yang cukup luas dan objeknya meliputi kesemestaan.

Kita juga dapat mengetahui mengapa manusia berfilsafat ? dimana pertanyaan ini
merupakan dasar dan titik awal manusia berfilsafat. Rasa kekaguman atau keheranan, keraguan
atau kesangsian mendorong setiap manusia berpikir lebih mendalam, menyeluruh dan kritis
untuk memperoleh kepastian akan kebenaran yang hakiki, dimana berpikir seperti ini yang
disebut filsafat.

Walaupun berfilsafat dapat pula dimulai dari kesadaran akan keterbatasn pada diri
manusia. Dimulai apabila menyadari bahwa dirinya sangat kecil dan lemah terutama di dalam
menghadapi gejala-gejala alam.

Dan juga kita dapat mengetahui karakteristik pemikiran kefilsafatan yaitu : integralistik
( menyeluruh ), fundamental ( mendasar ) dan spekulatif.
DAFTAR PUSTAKA

1. Hasan Bakti Nasution, 2001, Filsafat Umum, Jakarta, Gaya Media Pratama

2. Junus, H. Ismet, LMP, SDE, Pengantar Filsafat

3. Sudarsono, Drs., S.H., M.Si.,2001, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta, Rineka Cipta

4. Suriasumantri, Jujun S., 2005, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Pustaka
Sinar Harapan

5. Tafsir, Prof. Dr. Ahmad, 2006, Filsafat Ilmu, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya Bandung