Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara subtansial maupun
historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peran filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu
memperkuat keberadaan filsafat. Dalam lingkungan pendidikan, terutama pendidikan tinggi,
boleh dikatakan setiap waktu istilah ilmu diucapkan dan sesuatu ilmu diajarkan. Istilah
ilmu atau science merupakan suatu perkataan yang cukup bermakna ganda, yaitu
mengandung lebih daripada satu arti.
Oleh karena itu, dalam memakai istilah tersebut seseorang harus menegaskan atau
sekurang-kurangnya menyadari arti mana yang dimaksud. Menurut cakupannya pertama-
tama ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah
yang dipandang sebagai satu kebulatan. Jadi, dalam arti yang pertama ini ilmu mengacu pada
ilmu seumumnya (science-in-general). Arti yang kedua dari ilmu menunjuk pada masing-
masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari sesuatu pokok soal tertentu. Dalam arti
ini ilmu berarti sesuatu cabang ilmu khusus seperti misalnya antropologi, biologi, geografi,
atau sosiologi. Istilah Inggris science kadang-kadang diberi arti sebagai ilmu khusus yang
lebih terbatas lagi, yakni sebagai pengetahuan sistematis mengenai dunia fisis atau material
(systematic knowledge of the physical or material world).
Dari segi maknanya, pengertian ilmu sepanjang yang terbaca dalam pustaka
menunjuk pada sekurang-kurangnya tiga hal, yaitu pengetahuan, aktivitas, dan metode.
Dalam hal yang pertama dan ini yang terumum, ilmu senantiasa berarti pengetahuan
(knowledge). Di antara para filsuf dari berbagai aliran terdapat pemahaman umum bahwa
ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan (any systematic body of
knowledge). Dalam kalangan ilmuwan sendiri umumnya juga ada kesepakatan bahwa ilmu
terdiri atas pengetahuan.
Demikianlah makna dari pengertian ilmu. Tetapi, pengertian ilmu sebagai
pengetahuan, aktivitas, atau metode itu bila ditinjau lebih mendalam sesungguhnya tidak
saling bertentangan. Bahkan sebaliknya, ketiga hal itu merupakan kesatuan logis yang mesti
ada secara berurutan. Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus
dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metodis itu mendatangkan

1
pengetahuan yang sistematis. Oleh karena itu, pembahasan makalah ini adalah : Ilmu sebagai
aktifitas, sebagai metode ilmiah dan sebagai pengetahuan sistematis.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah untuk :Ilmu
sebagai Aktifitas, sebagai Metode Ilmiah dan sebagai Pengetahuan Sistematis adalah sebagai
berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan ilmu sebagai aktifitas?
2. Apakah yang dimaksud dengan ilmu sebagai metode ilmiah?
3. Apakah yang dimaksud dengan ilmu sebagai penegtahuan sistematis?

1.3. TUJUAN
1. Untuk mengatahui apa yang dimaksud dengan ilmu sebagai aktifitas?
2. Untuk mengatahui apa yang dimaksud dengan ilmu sebagai metode ilmiah?
3. Untuk mengatahui apa yang dimaksud dengan ilmu sebagai penegtahuan sistematis?

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Ilmu sebagai Aktivitas


Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu aktivitas manusiawi, yakni perbuatan
melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Ilmu tidak hanya satu aktivitas tunggal saja,
melainkan sutau rangkaian aktivitas sehingga merupakan sebuah proses. Rangkaian aktivitas
itu bersifat rasional, kognitif, dan teleologis. Aktivitas rasional berarti kegiatan yang
mempergunakan kemampuan pikiran untuk menalar yang berbeda dengan aktivitas
berdasarkan perasaan atau naluri. Ilmu menampakkan diri sebagai kegiatan penalaran logis
dari pengamatan empiris.
Berpangkal pada hasrat kognitif dan kebutuhan intelektualnya, manusia melakukan
rangkaian pemikiran dan kegiatan rasional yang selanjutnya melahirkan ilmu. Menurut
Bernard Barber pemikiran rasional atau rasionalitas manusia merupakan sumber utama dari
ilmu. Dikatakannya bahwa the germ of science in human society lies in mans aboriginal
and unceasing attempt to understand and control the world in which he live by the use of
rational thought and activity. (benih ilmu dalam masyarakat manusia terletak di dalam usaha
manusia yang tak henti-hentinya dan asli pembawaannya untuk memahami dan menguasai
dunia tempat ia hidup dengan menggunakan pemikiran dan aktivitas rasional).
Ciri penentu yang kedua dari kegiatan yang merupakan ilmu ialah sifat kognitif,
bertalian dengan hal mengetahui dan pengetahuan. Filsuf Polandia Ladislav Tondl
menyatakan bahwa science terutama berarti conscious and organized cognitive activity
(aktivitas kioginitf yang teratur dan sadar). Dijelaskannya lebih lanjut demikian :
Tujuan-tujuan terpenting ilmu bertalian dengan apa yang telah dicirikan sebagai fungsi
pengetahuan atau kognitif dari ilmu, dengan fungsi itu ilmu memusatkan perhatian terkuat
pada pemahaman kaidah-kaidah yang tak diketahui sebelumnya dan baru atau pada
penyempurnaan keadaan pengetahuan dewasa ini mengenai kaidah-kaidah demikian itu.
Jadi pada dasarnya ilmu adalah proses yang bersifat kognitif, bertalian dengan proses
mengetahui dan pengetahuan. Proses kognitif adalah suatu rangkaian aktivitas seperti
pengenalan, pencerapan, pengkonsepsian, dan penalaran yang dengannya manusia dapat
mengetahui dan memperoleh pengetahuan akan suatu hal.
Ilmu selain merupakan sebuah proses yang bersifat rasional dan kognitif, juga
bercorak teologis, yakni mengarah pada tujuan tertentu karena para ilmuwan dalam
melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu melayani
sesuatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah

3
aktivitas manusiawi yang bertujuan. Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan
apa yang diharapkan oleh masing-masing ilmuwan.
Rangkaian aktivitas pemikiran yang rasional dan kognitif untuk menghasilkan
pengetahuan, mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, dan
melakukan peramalan, pengendalian, atau penerapan itu dilaksanakan oleh seseorang yang
digolongkan sebagai ilmuwan. Setiap ilmuwan sejati bertugas melakukan penelitian dan
mengembangkan ilmu. Hal ini ditegaskan dalam The International Encyclopedia of Higher
Education yang mendefinisikan ilmuwan sebagai seseorang yang melakukan penelitian
ilmiah dan penelitian ilmiah diartikan sebagai penelitian yang dilaksanakan untuk memajukan
pengetahuan.

2.2 Ilmu sebagai Metode Ilmiah

Penelitian sebagai suatu rangkaian aktivitas mengandung prosedur tertentu, yakni


serangkaian cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan
langkah ini dalam dunia keilmuan disebut metode. Untuk menegaskan bidang keilmuan itu
seringkali dipakai istilah metode ilmiah (scientific method).
Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja,
tata langkah, dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan
pengetahuan yang ada.
Prosedur yang merupakan metode ilmiah meliputi pengamatan, percobaan, analisis,
deskripsi, penggolongan, pengukuran, perbandingan, dan survai. Oleh karena ilmu
merupakan suatu aktivitas kognitif yang harus mematuhi berbagai kaidah pemikiran yang
logis, maka metode ilmiah juga berkaitan sangat erat dengan logika. Dengan demkikian,
prosedur-prosedur yang tergolong metode logis termasuk pula dalam ruang lingkup metode
ilmiah. Ini misalnya ialah deduksi, abstraksi, penalaran analogis, analisis logis.
Selanjutnya, metode ilmiah meliputi suatu rangkaian langkah yang tertib. Dalam
kepustakaan metodologi ilmu tidak ada kesatuan pendapat mengenai jumlah, bentuk, dan
urutan langkah yang pasti. Sheldon J. Lachman mengurai metode ilmiah menjadi 6 langkah
yang berikut :
1. Perumusan pangkal-pangkal duga yang khusus atau pernyataan-pernyataan yang
khusus untuk penyelidikan.
2. Perancangan penyelidikan itu.
3. Pengumpulan data
4. Penggolongan data
5. Pengembangan generalisasi-generalisasi
6. Pemeriksaan kebenaran terhadap hasil-hasil, yaitu terhadap data dan generalisasi-
generalisasi.

4
George Abell merumuskan metode ilmiah sebagai suatu prosedur khusus dalam ilmu
yang mencakup 3 langkah berikut :
1. Pengamatan gejala-gejala atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan.
2. Perumusan pangkal-pangkal duga yang melukiskan gejala-gejala ini, dan yang
bersesuaian dengan kumpulan pengetahuan yang ada.
3. Pengujian pangkal-pangkal duga ini dengan mencatat apakah mereka secara
memadai meramalkan dan melukiskan gejala-gejala baru atau hasil-hasil dari
percobaan-percobaan yang baru.
Metode ilmiah lain dikemukakan oleh J. Eigelbener yang mencakup 5 langkah
sebagai berikut :
1. Analisis masalah untuk menetapkan apa yang dicari, dan penyususnan pangkal-
pangkal duga yang dipakai untuk member bentuk dan arah pada telaah penelitian.
2. Pengumpulan fakta-fakta yang bersangkutan.
3. Penggolongan dan pengaturan data agar supaya menemukan kesamaan-kesamaan,
urutan-urutan, dan hubungan-hubungan yang ada.
4. Perumusan kesimpulan-kesimpulan dengan memakai proses-proses penyimpulan
yang logis dan penalaran.
5. Pengujian dan pemeriksaan kebenaran kesimpulan-kesimpulan itu.
Langkah-langkah baku itu ialah penentuan masalah, perumusan hipotesis atau pangkal
duga bila dianggap perlu, pengumpulan data, penurunan kesimpulan, dan pengujian atau
verifikasi hasil. Tata langkah tersebut di muka melibatkan berbagai konsep dalam metode
ilmiah. Konsep adalah ide umum yang mewakili sesuatu himpunan hal yang biasanya
dibedakan dari pencerapan atau persepsi mengenai suatu hal khusus satu per satu. Konsep
merupakan alat yang penting untuk pemikiran utama dalam penelitian ilmiah.
Pengertian metode tidak pula sama dengan tehnik. Metode ilmiah adalah berbagai
prosedur yang mewujudkan pola-pola dan tata langkah dalam pelaksanaan sesuatu penelitian
ilmiah. Pola dan tata langkah prosedural itu dilaksanakan dengan cara-cara operasional dan
tehnis yang lebih terinci. Cara-cara itulah yang mewujudkan tehnik. Jadi, tehnik adalah
sesuatu cara operasional tehnis yang seringkali bercorak rutin, mekanis, atau spesialistis
untuk memperoleh dan menangani data dalam penelitian.
Dari hal-hal tersebut dapat disimpulkan bahwa, kegiatan penelaahan atau proses
penelitian yang merupakan ilmu itu mengandung prosedur, yakni serangkaian cara dan
langkah tertentu yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam istilah
dunia keilmuan dikenal sebagai metode atau sering disebut metode ilmiah. Metode
merupakan ciri penentu yang kedua dan dengan demikian ilmu dapat pula dibahas, dipahami,
dan dijelaskan sebagai metode.

5
2.3 Ilmu sebagai Pengetahuan Sistematis

Pengertian ilmu memang paling mudah dipahami sebagai pengetahuan. Di kalangan


ilmuwan maupun para filsuf pada umumnya ada kesepakatan bahwa ilmu adalah sesuatu
kumpulan pengetahuan sistematis. Demikian lazim perumusan itu sehingga pengertian ilmu
sebagia aktifitas dan sebagai metode tampak terselubungi dan kurang dikenal. Namun,
pemahaman yang terlengkap hanyalah bilamana ilmu ditelaah sebagai aktifitas, metode, dan
pengetahuan secara utuh. Penelahaan ini dapat saja dimulai dari salah satu dari antara ketiga
segi itu. Tetapi, urutan yang kiranya sudah tepat dan memudahkan pemahaman ialah
bilamana dimulai sebagai aktifitas, aktifitas itu mempergunakan metode tertentu, dan terakhir
aktivitas dengan metode itu mendatangkan hasil berupa pengetahuan.
Secara sederhana pengetahuan pada dasarnya adalah keseluruhan keterangan dan ide
yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan yang dibuat mengenai sesuatu gejala/peristiwa
baik yang bersifat alamiah, sosial maupun keorangan. Jadi, pengetahuan menunjuk pada
sesuatu yang merupakan isi substantif yang terkadung dalam ilmu. Isi itu dalam istilah
keilmuan disebut fakta.
Pengetahuan dapat dibedakan dan digolongkan dalam berbagai jenis menurut sesuatu
ukuran. Pengetahuan manusia dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu pengetahuan mengenai
fakta-fakta dan pengetahuan mengenai hubungan-hubungan umum di antara fakta-fakta
(Bertran Russell, 1956, hal. 439). Pengetahuan juga dapat digolongkan menjadi dua macam
lainnya, yakni pengetahuan empiris murni yang menunjukkan adanya benda-benda berikut
ciri-cirinya yang dikenal manusia dan pengetahuan a priori murni yang menunjukkan
hubungan-hubungan di antara hal-hal umum yang memungkinkan orang membuat
penyimpulan-penyimpulan dari fakta-fakta yang terdapat dalam pengetahuan empiris
(Bertran Russell, 1972, hal. 149).
Walaupun pengertian mengenai pengetahuan menunjuk pada fakta-fakta sebagai
intinya, perlulah dipahami bahwa ilmu bukanlah fakta-fakta. Pernyataan yang lebih tepat
ialah bahwa ilmu senantiasa berdasarkan fakta-fakta. Fakta-fakta itu diamati dalam aktivitas
ilmiah. Dari pengamatan itu selanjutnya fakta-fakta dihimpun dan dicatat sebagai data. Yang
dimaksud dengan data ialah berbagai keterangan yang dipandang relevan bagi suatu
penyelidikan dan yang dihimpun berdasarkan persyaratan yang ditentukan secara rinci.
Pengetahuan pada dasarnya menunjuk pada sesuatu yang diketahui. Dengan demikian, maka
setiap ilmu harus mempunyai sesuatu pokok soal . Seorang ahli logika modern juga
menyatakan bahwa suatu ilmu adalah suatu kumpulan yang sistematis atau teratur dari
pengetahuan yang bertalian dengan suatu pokok soal khusus, dan pokok soal dari setiap ilmu
ialah suatu bagian tertentu dari bahan pengalaman manusia (Mellone, 1954, hal. 295).

6
Setiap pokok soal yang cukup rumit mempunyai aneka segi dan permasalahan.
Sesuatu ilmu biasanya membatasi diri pada segi atau permasalahan tertentu dalam
penelaahannya terhadap pokok soal, sedang berbagai segi dan permasalahan lainnya
dikeluarkan dari titik pusat perhatiannya untuk menjadi sasaran dari ilmu-ilmu khusus
lainnya. Dengan demikian, setiap ilmu menurut salah satu maknanya adalah pengetahuan.
Pengetahuan itu mengenai sesuatu pokok soal dan berdasarkan suatu titik pusat minat. Pokok
soal dan titik pusat minat itu membentuk suatu sasaran yang sesuai dari ilmu yang
bersangkutan.
Ciri umum dari suatu ilmu yang membuatnya berbeda dengan filsafat ialah ciri
empiris. Kalau filsafat masih tetap merupakan pemikiran reflektif yang coraknya sangat
umum, kebalikannya ilmu-ilmu fisis, biologi, psikologi, dan ilmu-ilmu sosial telah
merupakan rangkaian aktivitas intelektual yang sifatnya empiris. Jadi, ciri empiris dari ilmu
mengandung pengertian bahwa pengetahuan yang diperoleh itu berdasarkan pengamatan atau
percobaan. Kalau ilmu berbeda dari filsafat berdasarkan ciri empiris itu, maka ilmu berbeda
dari pengetahuan biasa karena ciri sistematisnya. Ciri sistematis berarti bahwa berbagai
keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan-
hubungan ketergantungan dan teratur.
Selain ciri-ciri empiris dan sistematis, masih ada 3 ciri pokok lainnya dari ilmu, yaitu
obyektif, analitis, dan verifikatif. Ciri obyektif dari ilmu berarti bahwa pengetahuan itu bebas
dari prasangka prseorangan dan kesukaan pribadi. Ilmu haruslah hanya mengandung
pernyataan dan data yang menggambarkan secara terus terang maupun mencerminkan secara
tepat gejala-gejala yang ditelaahnya. Ilmu juga mempunyai ciri analitis, yaitu pengetahuan
ilmiah itu berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian-bagian yang terperinci
untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu. Ciri
verifikatif berarti ilmu itu senantiasa mengarah pada tercapainya kebenaran. Ilmu
dikembangkan oleh manusia untuk menemukan suatu nilai luhur dalam kehidupan manusia
yang disebut kebenaran ilmiah. Kebenaran ini berupa asas-asas yang berlaku umum atau
kaidah-kaidah universal. Dengan memiliki pengetahuan ilmiah dan mencapai kebenaran itu
manusia berharap dapat membuat ramalan tentang peristiwa mendatang dan menerangkan
atau menguasai alam sekelilingnya

7
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Demikianlah, ilmu dimulai sebagai serangkaian aktivitas budi manusia yang
intelektual dan berakhir sebagai sekelompok pengetahuan sistematis yang mempunyai
berbagai ciri. Diantara rentangan aktivitas intelektual sampai pengetahuan sistematis itu
terjalin serangkaian tata langkah yang terkenal sebagai metode ilmiah. Dengan demikian,
pengertian ilmu dapat ditinjau dari 3 sudut, yaitu sebagai aktivitas, pengetahuan dan metode.
Kesimpulan dari pembahasan ilmu sebagai aktivitas penelitian, metode ilmiah, dan
pengetahuan sistematis adalah :
1. Dilihat dari segi hasil kegiatan, ilmu merupakan sekelompok pengetahuan mengenai
sesuatu pokok soal dengan titik pusat minat pada segi atau permasalahan tertentu
sehingga merupakan berbagai konsep.
2. Pengetahuan ilmiah itu mempunyai 5 ciri pokok, yaitu empiris, sistematis, obyektif,
analitis, dan verifikatif.
3. Dengan demikian, ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif
dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga
menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala
kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran,
memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan
3.2 SARAN
Mohon sumbang saran demi kebaikan isi makalah ini. Agar menjadi motivasi kepada
kami untuk menjadikan isi makalah ini menjadi lebih baik sebagaimana mestinya.

8
DAFTAR PUSTAKA

Lachman, Sheldon J., The Foundation of Science New York, Vantage Press, 1969

Nasir, Mohamad, Metode Penelitian: Jakarta, Ghalia Indonesia, 1999

Russel, Bertrand, The Problem of Philosophy London, Oxford University Press, 1972

Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer Jakarta, Pustaka Sinar
Harapan

9
FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN
Prof. Dr. Binsar Panjaitan, M.Pd

ILMU SEBAGAI AKTIFITAS, SEBAGAI METODE DAN


SEBAGAI PENGETAHUAN SISTEMATIS

OLEH :
KELOMPOK II

HUSNA LUBIS : 8156122011


JUNI TRAIANA SITOMPUL : 8156122016
JAMIAN YONO : 8156122015
IBRAHIM : 8156122012

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN


PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2015

10
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................... i

BAB I PENDAHULUAN

1.1................................................................................LATER

BELAKANG .............................................................. 1

1.2................................................................................RUMUSAN

MASALAH ................................................................ 2

1.3................................................................................TUJUAN

.................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

2.1. ILMU SEBAGAI AKTIVITAS ...................................... 3

2.2. ILMU SEBAGAI METODE ILMIAH ............................ 4

2.3. ILMU SEBAGAI PENGETAHUAN SISTEMATIS ........... 6

BAB III PENUTUP

3.1................................................................................SIMPULAN

................................................................................. 9

3.2................................................................................SARAN

.................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA..................................................................... 10

11