Anda di halaman 1dari 14

SUMBER PENGETAHUAN DAN

KRITERIA KEBENARAN

OLEH

KELOMPOK VI

RIAMA LUSIA SIRAIT ( 8156122025 )

MUNA MAULIDA ( 8156122022 )

NUR AFNI ( 8156122023 )

NURUL AMRI ( 8156122024 )

KELAS/JURUSAN : B-1 / TEKNOLOGI PENDIDIKAN

MATA KULIAH : FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN

DOSEN : Prof. Dr. BINSAR PANJAITAN, M. Pd

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2015
DAFTAR ISI

1
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang ...................................................................................................................... 1
2. Rumusan Masalah ................................................................................................................. 2
3. Tujuan .................................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
1. Pengetahuan ........................................................................................................................... 3
2. Sumber Pengetahuan ............................................................................................................. 4
2.1 Sumber Rasio .................................................................................................................. 5
2.2 Sumber Pengalaman ........................................................................................................ 5
3. Kriteria Kebenaran ................................................................................................................ 7
4. Cara Penemuan Kebenaran ................................................................................................... 9

BAB III PENUTUP


1. Kesimpulan ............................................................................................................................ 11

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

2
Segala yang ada dalam hidup dimulai dengan meragukan sesuatu.Kebenaran adalah
pernyataan tanpa ragu.Bagaimanakan caranya kita mendapatkan pengetahuan yang benar itu?
Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang
benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri
kepada pengalaman.Kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan
rasionalisme .Sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman mengembangkan
pemahanan yang disebut empirisme.Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dan kaum
empirisme menggunakan metode induktif dalam menyusun pengetahuannya.
Semua orang mengakui memiliki pengetahuan. Persoalannya dari manapengetahuan itu
diperoleh atau lewat apa pengetahuan itu didapat. Dari sinilah timbul pertanyaan bagaimana
caranya kita memperoleh pengetahuan atau darimana sumber pengetahuan kita?Pengetahuan
diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan, pikiran, pengalaman,
panca indra, dan intuisi, untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara, dan
kegunaaanya Untuk menentukan kebenaran suatu pengetahuan ada tiga teori yang dapat
dijadikan kriteria, yaitu teori koherensi, teori korespondensi, dan teori pragmatism.

Oleh sebab itu melalui makalah ini kami ingin memaparkan sumber pengetahuan dan
kriteria kebenaran yang akhirnya akan membantu kita untuk memahami bagaimana memperoleh
sumber pengetahuan dan kriteria kebenaran, yang pada akhirnya akan membantu kita memahami
pengetahuan dengan benar sehingga kita dapat memanfaatkan kegunaannya secara maksimal.

3
2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini
adalah:

Apa pengertian Pengetahuan?


Apa saja sumber pengetahuan?
Apa kriteria kebenaran?

3. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari makalah ini, yaitu :

Mengetahui pengertian pengetahuan


Mengetahui sumber-sumber pengetahuan
Mengetahui kriteria kebenaran

4
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan terminologi generik yang mencakup,seluruh hal yang di ketahui


oleh manusia,dengan demikian pengetahuan adalah kemampuan, seperti perasaan pikiran
pengalaman dan intuisi,yang mampu menangkap alam dan kehidupanya serta
mengabstraksikanya, untuk suatu tujuan. Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan adalah
merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek
tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui
mata dan telingan

Berfikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar.Apa yang
disebut benar bagi tiap orang tidak selalu sama. Oleh sebab itu, kegiatan proses berfikir untuk
menghasilkan pengetahuan yang benar pun juga berbeda-beda. Dapat dikatakan bahwa tiap jalan
pikiran mempunyai apa yang disebut sebagai kriteria kebenaran yang merupakan landasan bagi
proses penemuan kebenaran tersebut.

Penalaran merupakan suatu proses penemuan kebenaran dimana tiap-tiap jenis penalaran
mempunyai kriteria kebenarannya masing-masing. Penalaran dapat juga didefenisikan sebagai
suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Sebagai suatu
kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu.Ciri yang pertama ialah adanya
suatu pola pikir yang secara luas, dapat disebut logika. Kegiatan penalaran merupakan suatu
proses berpikir logis, di mana berpikir logis disini diartikan sebagai kegiatan berpikir menurut
logika tertentu. Ciri yang kedua dari penalaran adalah sifat analitik.

Perasaan merupakan suatu penarikan kesimpulan yang tidak berdasarkan


penalaran.Kegiatan berpikir juga ada yang tidak berdasarkan penalaran umpamanya adalah
intuisi.
Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan gabungan dari penalaran deduktif dan
induktif, di mana lebih lanjut penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme, dan penalaran
induktif dengan empirisme.
2. Sumber Pengetahuan

5
Proses terbentuknya pengetahuan yang dimiliki oleh manusia dapat diperoleh melalui
cara pendekatan apriori maupun aposteriori.
Pengetahuan yang diperoleh pendekatan apriori adalah pengetahuan yang diperoleh tanpa
melalui proses pengalaman, baik pengalamanan yang bersumber pada pancaindera maupun
pengalaman batin atau jiwa. Sebaliknya, pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan
aposteriori adalah pengetahuan yang diperoleh melalui informasi dari orang lain atau
pengalaman yang telah ada sebelumnya.
Menurut Mundiri (2001) pengetahuan adalah hasil dari aktivitas mengetahui, yaitu
tersingkapnya suatu kenyataan kedalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya.Pendapat
lain menyatakan bahwa pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh manusia.
Kata benar, menurut Jujun S Suriasumantri (1988) dapat didefinisikan sebagai
pernyataan tanpa ragu!.Artinya Ketidakraguan adalah syarat mutlak bagi seseorang untuk
dapat diketahui mengetahui.Contohnya, kita mengetahui bahwa bilangan lima lebih besar dari
bilangan empat dan lebih kecil dari bilangan enam, manakala kita menyakini akan kenyataan itu,
meskipun guru kita atau orang lain yang kita anggap pandai mengatakan sebaliknya, namun kita
pasti tetap akan mempertahankan pendirian kiata terhapa kebenaran tersebut. Bila pendapat yang
berlawanan itu menyebabkan timbul keraguan, hal ini menunjukkan bahwa kita belum
memahami secara pasti konsep yang terkait bilangan lima.
Mengetahui seperti yang telah dijelaskan diatas, dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang
dapat kita tangkap di dalam jiwa baik yang terkait dengan benda, seperti buku, kursi, rumah, atau
mengenai peristiwa-peristiwa yang menyertai benda-benda tersebut, misalnya melayang,
mendidih, pasang, meledak, rusak, atau mengenal sifat-sifat dan keadaan benda seperti panas,
wangi, mahal, gelap, dan lain sebagainya.
Untuk mendapatkan pengetahuan yang benar pada dasarnya ada dua sumber utama yang
perlu diketahui oleh setiap manusia, yaitu :Berdasarkan rasio, Pengalaman manusia

2.1 Sumber rasio

Pengetahuan yang diperoleh melalui sumber rasio, kebenarannya hanya didasarkan pada
kebenaran akan pikiran semata.Pendapat ini dikembangkan oleh para rasionalis.Orang yang
menganut paham ini disebut dengan istilah kaum rasionalisme.Kaum rasionalis menggunakan
metode deuktif dalam menyusun pengetahuannya.Premis yang dipakai dalam penalarannya
didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima.

6
Masalah utama yang muncul dari cara berpikir yang demikian ini adalah mengenai
kriteria untuk mengetahui akan kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorang adalah jelas
dan dapat dipercaya. Ide yang satu bagi si A mungkin bersifat jelas dan dapat dipercaya namun
hal itu belum tentu bagi si B. Mungkin saja si B dalam menyusun system pengetahuan sama
sekali berbeda dengan system pengetahuan yang disusun oleh si A, karena mungkin si B
menggunakan ide lain yang menurut si B hal itu merupakan prinsip yang jelas dan dapat
dipercaya. Masalah utama yang dihadapi kaum rasionalis adalah evaluasi/penilaian terhadap
kebenaran premis-premis yang digunakan untuk penalaran deduktif.Karena premis yang
digunakan bersumber pada penalaran rasional yang bersifat abstrak dan terbebas dari
pengalaman, maka penilaian semacam ini tidak bisa dilakukan. Oleh karena itu, melalui
penalaran rasional akan didapatkan bermacam-macam pengetahuan mengenai suatu objek
tertentu tanpa adanya suatu konsensus yang dapat diterima oleh semua pihak.Dalam hal ini maka
pemikiran rasional cenderung untuk bersifat solipsistic dan subyektif.

2.2Sumber pengalaman

Kebenaran pengetahuan hanya didasarkan pada fakta-fakta yang ada di lapangan.Orang


yang menganut paham ini disebut sebagai kaum empirisme.Bagi kaum empiris pengetahuan
manusia diperoleh bukan dari penalaran yang bersifat rasional yang bersifat abstrak namun
diperoleh melalui pengalaman yang konkret.Mengapa demikian, para kaum empiris beranggapan
bahwa gejala-gejala alamiah yang terjadi di muka bumi ini adalah bersifat konkret dan dapat
dinyatakan melalui tangkapan pancaindera manusia.Gejala-gejala itu bila kita kaji lebih jauh,
ternyata memiliki karakteristik tertentu. Oleh karena itu, pengalaman manusia akan membuahkan
pengetahuan mengenai berbagai gejala alam yang mengikuti pola-pola tertentu. Selain itu, kita
dapat melihat adanya karakteristik lain yaitu adanya kesamaan dan pengulangan. Hal ini
memungkinkan kita untuk melakukan generalisasi dari berbagai kasus yang telah terjadi di alam
semesta ini.Artinya dengan menggunakan penalaran induktif maka dapat disusun pengetahuan
yang berlaku secara umu melalui pengamatan terhadap gejala-gejala fisik yang bersifat
individual.

Masalah utama yang muncul dalam penyusunan pengetahuan secara empiris adalah
bahwa pengetahuan yang dikumpulkan itu cenderung untuk menjadi kumpulan fakta-
fakta.Kumpulan fakta tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal

7
yang bersifat kontradiktif. Hubungan antara berbagai fakta tidaklah nyata sebagaimana yang kita
sangka .Harus terdapat suatu kerangka pemikiran yang member latar belakang mengapa X
mempunyai hubungan dengan Y, sebab kalau tidak maka pada hakikatnya semua fakta dalam
dunia fisik bisa saja dihubungkan dalam kaitan kausalitas. Masalah kedua adalah mengenai
hakikat pengalaman yang merupakan cara dalam menemukan pengetahuan dan pancaindera
sebagai alat yang menangkapnya.

Sumber pengetahuan selain dapat diperoleh melalui rasionalisme dan empirisme, ternyata
masih ada cara lain yang perlu kita ketahui yaitu intuisi dan wahyu.
Intuisi adalah kegiatan berpikir untuk mendapatkan pengetahuan tanpa melalui proses
penalaran tertentu. Contoh, seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah
tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut.
Intuisi ini bekerja dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar, artinya jawaban atas suatu
permasalahan ditemukan tidak pada saat orang tersebut secara sadar sedang mencari pemecahan
permasalahan yang sedang mereka hadapin.
Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada
manusia.Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutusnya sepanjang zaman.
Kepercayaan pada Tuhan merupakan sumber pengetahuan, kepercayaan pada nabi sebagai
perantara dan kepercayaan pada wahyu sebagai cara penyampaian, merupakan dasar dari
penyusunan pengetahuan ini.

3. Kriteria Kebenaran

Hukum-hukum, asas-asas, dan patokan-patokan logika pembimbing akal manusia


menempuh jalan yang paling efisien untuk kemungkinan salah dalam berpikir.Lantas apakah arti
benar itu?Benar menurut Randall & Bucher dalam Mundiri (2001) pada dasarnya adalah
persesuaian antara pikiran dan kenyataan.Benar menurut Jujun (1998) adalah pernyataan tanpa
ragu. Contoh, kita akan berkata bahwa proposisi-proposisi berikut ini adalah salah : batu hitam
tenggelam dalam air raksa; batu lebih ringan daripada kapuk; matahari terbit dari barat.
Sebaliknya kita mengakui kebenaran dari proposisi-proposisi berikut ini : Bumi bergerak
mengelilingi matahari; Napoleon adalah panglima perang ulung; Besi lebih berat daripada air
tawar. Apakah dasar kita menentukan demikian itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah sesuai
tidaknya proposisi-proposisi itu dengan kenyataan sesungguhnya.

8
Untuk mengetahui kebenaran suatu pengetahuan ada tiga teori yang dapat dijadikan
sebagai kriteria, yaitu :

1. Teori koherensi (teori kebenaran saling berhubungan)


Dapat disimpulkan bahwa suatu proposisi (pernyataan) dianggap benar bilamana pernyataan
tersebut bersifat koheren atau konsisten atau saling berhubungan dengan pernyataan-
pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Bila kita menganggap bahwasemua makhluk
hidup pasti akan mati adalah penyataan yang benar, maka pernyataan bahwa pohon kelapa
adalah makhluk hidup dan pohon kelapa pasti akan mati adalah benar pula, sebab
pernyataan kedua konsisten dengan pernyataan yang pertama.

2. Teori korespondensi (teori kebenaran saling berkesesuaian)


Pengagas utama : Bernard Russell (1872-1970). Suatu pernyataan dikatakan benar jika materi
pengetahuan yang dikandung pernyataan tersebut berkorespondensi (berhubungan) dengan
objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.Maksudnya jika seseorang mengatakan bahwa
Tugu Monas ada di Jakarta maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan
objek yang bersifat faktual yakni Jakarta yang memang tempat berdirinya monumen tugu
nasional.Apabila ada orang yang mengatakan bahwaTugu Monas di Semarang maka
pernyataan ini adalah tidak benar sebab tidak terdapat objek yang sesuai dengan pernyataan
tersebut. Dengan demikian secara faktual Tugu Monas ada di Jakarta bukan di Semarang
3. Teori pragmatisme (teori kebenarana konsekuensi kegunaan)
Teori ini dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit
pada tahun 1878 yang berjudul how to make our Idea Clear. Kebenaran suatu pernyataan
diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan
praktis.Artinya, suatu pernyataan dikatakan benar, jika pernyataan tersebut atau konsekuensi
dari pernyataan tersebut mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.Sekiranya
ada orang yang menyatakan teori X dalam pendidikan, dan dengan teori X tersebut kemudian
dikembangkan teknik Y dalam meningkatkan kemampuan belajar siswa.Maka teori X
dianggap benar, sebab teori X ini adalah fungsional dan mempunyai kegunaan.

Pragmatisme bukanlah suatu aliran filsafat yang mempunyai doktrin-doktrin filsafati


melainkan teori dalam penemuan kriteria kebenaran sebagaimana disebutkan diatas.Kaum
pragmatis berpaling pada metode ilmiah sebagai metode untuk mencari pengetahuan tentang
alam ini yang dianggap fungsional dan berguna dalam penafsiran gejala-gejala

9
ilmiah.Kriteria pragmatis ini juga dipergunakan oleh para ilmuwan dalam menentukan
kebenaran ilmiah dilihat dari perspektif waktu.Secara historis maka pernyataan ilmiah yang
sekarang dianggap benar suatu waktu mungkin tidak lagi demikian.Dihadapkan pada
permasalahan semacam ini, maka ilmuwan bersifat pragmatis; selama pernyataan ini
fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan ini dianggap benar.Sekiranya
pernyataan ini tidak lagi bersifat demikian, disebabkan perkembangan ilmu itu sendiri yang
menghasilkan pernyataan baru, maka pernyataan yang lama harus ditinggalkan, pengetahuan
ilmiah memang tidak berumur panjang.

Teori kebenaran baik koherensi maupun korespondensi keduanya dipergunakan untuk


membangun pola pikir secara ilmiah. Teori koherensi dipergunakan pada proses penalaran
teorestis yang didasarkan pada logika deduktif. Sedangkan teori korespondensi dipergunakan
untuk proses pembuktian secara empiris dalam bentuk pengumpulan data-data yang
medukung suatu pernyataan tertentu yang telah dibuat sebelumnya.

4. Cara Penemuan Kebenaran

Cara untuk menemukan kebenaran dapat dilihat dengan dua cara yaitu cara ilmiah dan
non ilmiah .Ada beberapa cara yang dapat dilakukan manusia untuk memperoleh kebenaran
melalui cara Nonilmiah, diantaranya adalah

1. Akal sehat (common sense) : akal sehat adalah serangkaian konsep (concepts) dan bagan
konseptual (conceptual schemes) yang memuaskan untuk penggunaan praktis bagi
kemanusiaan. Konsep adalah kata-kata yang menyatakan abstraksi yang
digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus. Bagan konsep adalah seperangkat konsep
yang dirangkaikan dengan dalil-dalil hipotesis dan teoritis.
2. Prasangka : Pencapaian pengetahuan secara akal sehat diwarnai oleh kepentingan orang
yang melakukannya. Hal inilah yang menyebabkan akal sehat mudah beralih menjadi
prasangka. Dengan akal sehat orang cenderung mempersempit pengamatannya karena
diwarnai oleh pengamatannya itu, dan cenderung mengkambinghitamkan orang lain atau
menyokong suatu pendapat. Dengan akal sehat orang cenderung kea rah pembuatan
generalisasi yang terlalu luas, yang lalu merupakan prasangka

10
3. Pendekatan intuisi : Dalam pendekatan intuitif orang menentukan pendapat mengenai
sesuatu berdasar atas pengetahuan yang langsung atau didapat dengan cepat melalui
proses yang tak disadari atau yang tidak difikirkan lebih dahulu. Dengan intuisi, orang
memberikan penilaian tanpa didahului sesuatu renungan. Pencapaian pengetahuan yang
demikian itu sukar dipercaya. Di sini tidak terdapat langkahlangkah yang sistematik dan
terkendali.
4. Penemuan kebetulan dan coba-coba : Suatu peristiwa yang tidak disengaja kadang-
kadang ternyata menghasilkan suatu kebenaran yang menambah perbendaharaan
pengetahuan manusia, karena sebelumnya kebenaran itu tidaklah diketahui. Sepanjang
sejarah manusia, penemuan secara kebetulan itu banyak terjadi, dan banyak di antaranya
yang sangat berguna. Penemuan secara kebetulan diperoleh tanpa rencana, tidak pasti
serta tidak melalui langkah-langkah yang sistimatik dan terkendali (terkontrol).
5. Pendekatan otoritas ilmiah dan pikiran kritis dan kewibawaan : Di dalam masyarakat,
kerapkali ditemui orang-orang yang karena kedudukan.
6. Pengetahuannya sangat dihormati dan dipercayai. Orang tersebut memiliki kewibawaan
yang besar di lingkungan masyarakatnya. Banyak pendapatnya yang diterima sebagai
kebenaran. Kepercayaan pada pendapatnya itu tidak saja karena kedudukannya di dalam
masyarakat itu, misalnya sebagai pemimpin atau pemuka adat atau ulama dan lain-
lainnya, tetapi dapat juga karena keahliannya dalam bidang tertentu. Otoritas ilmiah
adalah orang-orang yang biasanya telah menempuh pendidikan formal tertinggi atau yang
mempunyai pengalaman kerja ilmiah dalam sesuatu bidang yang cukup banyak.
Pendapat-pendapat mereka sering diterima orang tanpa diuji, karena dipandang benar.
Namun, pendapat otoritas ilmiah itu tidak selamanya benar. Ada kalanya, atau bahkan
sering, pendapat mereka itu kemudian ternyata tidak benar, karena pendapat tersebut
tidak diasalkan dari penelitian, melinkan hanya didasarkan atas pemikiran logis.

Cara yang dapat dilakukan manusia untuk memperoleh kebenaran melalui cara Ilmiah
1. Skeptik : Berfikir skeptis, yaitu selalu mencari fakta atau bukti yang mendukung setiap
pernyataan.
2. Analitik : sikap yang mendasarkan pada analisis dalam setiap persoalan dan memilih
yang relevan.
3. Kritis : yaitu setiap memecahkan persoalan selalu berpijak pada logika dan objektifitas
data atau fakta.

11
12
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan

Pengetahuan merupakan terminologi generik yang mencakup,seluruh hal yang di ketahui


oleh manusia,dengan demikian pengetahuan adalah kemampuan, seperti perasaan pikiran
pengalaman dan intuisi,yang mampu menangkap alam dan kehidupanya serta
mengabstraksikanya, untuk suatu tujuan.
Untuk mendapatkan pengetahuan yang benar pada dasarnya ada dua sumber utama yang
perlu diketahui oleh setiap manusia, yaitu :Berdasarkan rasio, Pengalaman manusia
Untuk mengetahui kebenaran suatu pengetahuan ada tiga teori yang dapat dijadikan sebagai
kriteria, yaitu : Teori koherensi (teori kebenaran saling berhubungan), Teori korespondensi
(teori kebenaran saling berkesesuaian), Teori pragmatisme (teori kebenarana konsekuensi
kegunaan)
Cara untuk menemukan kebenaran dapat dilihat dengan dua cara yaitu cara ilmiah dan non
ilmiah.

13
DAFTAR PUSTAKA

Ihsan, Fuad. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta : Rineka Cipta

Notoatmodjo Soekidjo, Metode Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta; 2010

Suriasumantri, Jujun S. 2013. Filsafat Ilmu (Sebuah Pengantar Populer). Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan

14