Anda di halaman 1dari 10

OLEH :

KELOMPOK 5
ROHIMA {8156122017}
JURIAH SIREGAR {8156122023}
ABDUL AZIZ BATUBARA {8156122033}
WISNU SYAHPUTRA {8156122055}
Kelas/ Program Studi : B-1/Teknologi Pendidikan

Mata Kuliah: Filsafat Ilmu Pendidikan

Dosen pengampu : Prof. Dr. Binsar Panjaitan, M.Pd

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2015
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dalam perjalanan sejarah manusia, pemikiran filosofis senantiasa berkembang. Hal itu
dikarenakan pemikiran merupakan hal yang paling mendasar dalam kehidupan manusia,
bahkan merupakan ciri khas manusia. Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari anugerah akal
yang dimiliki oleh manusia. Pemikiran filosofis meniscayakan kelahiran filsafat sebagai induk
dari semua ilmu. Di antara corak pemikiran manusia adalah pengetahuan tentang wujud, awal
bermulanya hingga akhirnya. Oleh karena itu, buah pemikiran dari manusia melahirkan
berbagai macam aliran dalam filsafat yakni, aliran empirisme, rasionalisme, idealisme,
pragmatisme, eksistensialisme, positivisme, vitalisme, strukturalisme, post-strukturalisme dan
lain-lain.
Selain itu, permasalahan yang menjadi objek kajian (pembahasan) dalam filsafat
mengalami perkembangan yang signifikan. Filsafat tidak hanya berhenti pada permasalahan
wujud, tetapi juga merambah pada pembahasan berkenaan dengan ilmu. Selain itu, filsafat
juga menyentuh tataran praktis, terutama berkaitan dengan moral. Perkembangan tersebut
merupakan implikasi logis dari perkembangan pola pikir manusia itu sendiri. Hal tersebut
tidak lain merupakan upaya untuk menemukan kebenaran.
Pencarian terhadap kebenaran seiring dengan tujuan dari filsafat itu sendiri, yakni untuk
mencari kebenaran yang hakiki. Dengan kata lain, mengetahui segala sesuatu yang ada
sebagaimana adanya dengan timbul pertanyaan Apa itu kebenaran? (problem ontologis).
Kemudian, timbul pertanyaan setelah mencari Apa itu kebenaran? yaitu Bagaimana kita
bisa mendapatkan pengetahuan yang hakiki itu atau sesuatu yang ada sebagaimana adanya
(kebenaran)? Persoalan ini merupakan problem epistemologis. Selanjutnya, setelah kita
mengetahui kebenran dan cara untuk mendapatkannya, muncul pertanyaan untuk apa
pengetahuan tersebut. Dengan kata lain, pemikiran selanjutnya berkaitan dengan
pengaplikasian ilmu yang telah didapatkan pada tataran praktis. Ini disebut dengan problem
aksiologis, artinya apakah ilmu pengetahuan yang didapat itu bisa diterapkan untuk
kemaslahatan umat atau justru sebaliknya, terutama kaitannya dengan moralitas.
Singkatnya, wilayah ontologi bertanya tentang apa wilayah epistemologi bertanya
tentang bagaimana sedangkan, wilayah aksiologi bertanya tentang untuk apa.
Tiga problem filosofis inilah ontologi, epistemologi dan aksiologi yang hingga kini masih
menimbulkan perdebatan.
2. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan ontologi ?
b. Apa yang dimaksud dengan epistemologi ?
c. Apa yang dimaksud dengan aksiologi ?

3. Tujuan Masalah
a. Untuk mengetahui Apa yang dimaksud dengan ontologi
b. Untuk mengetahui Apa yang dimaksud dengan epistemologi
c. Untuk mengetahui Apa yang dimaksud dengan aksiologi

BAB II
PEMBAHASAN
1. Ontologi
Secara terminologi, ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu on atau ontos yang berarti
ada dan logos yang berarti ilmu. Sedangkan secara istilah ontologi adalah ilmu tentang
hakekat yang ada sebagai yang ada (The theory of being qua being). Ontologi juga sering
diidentikkan dengan metafisika, yang juga disebut dengan proto-filsafat atau filsafat yang
pertama atau filsafat ketuhanan. Pembahasannya meliputi hakikat sesuatu, keesaan,
persekutuan, sebab dan akibat, substansi dan aksiden, yang tetap dan yang berubah, eksistensi
dan esensi, keniscayaan dan kerelatifan, kemungkinan dan ketidakmungkinan, realita,
malaikat, pahala, surga, neraka dan dosa. Dengan kata lain, pembahasan ontologi biasanya
diarahkan pada pendeskripsian tentang sifat dasar dari wujud, sebagai kategori paling umum
yang meliputi bukan hanya wujud Tuhan, tetapi juga pembagian wujud. Wujud dibagi ke
dalam beberapa kategori, yakni wajib (wajib al-wujud), yaitu wujud yang niscaya ada dan
selalu aktual, mustahil (mumtanial wujud) yaitu wujud yang mustahil akan ada baik dalam
potensi maupun aktualitas, dan mungkin (mumkin al-wujud), yaitu wujud yang mungkin ada,
baik dalam potensi maupun aktualitas ketika diaktualkan ke dalam realitas nyata.
Persoalan tentang ontologi ini menjadi pembahasan utama di bidang filsafat, baik filsafaf
kuno maupun modern.
Ontologi adalah cabang dari filsafat yang membahas realitas. Realitas adalah kenyataan
yang selanjutnya menjurus pada suatu kebenaran. Bedanya, realitas dalam ontologi ini
melahirkan pertanyaan-pertanyaan: apakah sesungguhnya realitas yang ada ini; apakah
realitas yang tampak ini suatu realita materi saja; adakah sesuatu di ballik realita itu; apakah
realita ini terdiri dari satu unsur (monisme), dua unsur (dualisme) atau serba banyak
(pluralisme). Maksud dari realita tersebut adalah :
a. Monisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanya satu
saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang
asal berupa materi ataupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing
bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber yang pokok dan
dominan menentukan perkembangan yang lainnya.

b. Dualisme
Dualisme adalah aliran yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling
bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme. Materialisme adalah sesuatu yang
menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering
juga disebut dengan naturalisme. Mernurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan
satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi, yang lainnya jiwa atau ruh tidaklah
merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri. Jiwa dan ruh merupakan akibat saja dari
proses gerakan kebenaran dengan salah satu cara tertentu. Sedangkan idialisme berarti
serba cita atau serba ruh. Idealisme diambil dari kata Idea, yaitu sesuatu yang hadir
dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu
semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak
berbentuk dan menempati ruang. Materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dari pada
penjelmaan ruhani.
Menurut aliran dualisme materi maupun ruh sama-sama merupakan hakikat. Materi
muncul bukan karena adanya ruh, begitu pun ruh muncul bukan karena materi. Sebuah
analogi dapat kita ambil misalnya tentang jika jiwa sedang sehat, maka badan pun akan
sehat kelihatannya. Sebaliknya jika jiwa seseorang sedang penuh dengan duka dan
kesedihan biasanya badanpun ikut sedih, terlihat dari murungnya wajah orang tersebut.
Aliran dualisme berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal
sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit.
Sama-sama hakikat. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri,
sama-sama azali dan abadi. Hubungan keduanya menciptakan kehidupan dalam alam ini.

c. Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segala macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme
bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya
nyata. Pluralisme dalam Dictionary of Philosophy and Religion dikatakan sebagai paham
yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari unsur banyak, lebih dari satu
atau dua entitas. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan
Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari
empat unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara. Tokoh modern aliran ini adalah William
James seorang filosof dan psikolog kenamaan asal Amerika. Ia berpendapat bahwa dunia
ini terdiri dari banyak kawasan yang berdiri sendiri. Dunia bukanlah suatu universum,
melainkan suatu multi-versum. Dunia adalah suatu dunia yang terdiri dari banyak hal
yang beraneka ragam atau pluralis.

2. Epistemologi
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme dan logos. Episteme biasa diartikan
pengetahuan atau kebenaran, dan logos diartikan pikiran, kata, atau teori. Epistemologi secara
etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar dan lazimnya hanya disebut teori
pengetahuan. Dengan kata lain, epistemologi adalah bidang ilmu yang membahas
pengetahuan manusia, dalam berbagai jenis dan ukuran kebenarannya. Isu-isu yang akan
muncul berkaitan dengan masalah epistemologi adalah bagaimana pengetahuan itu bisa
diperoleh? Jika keberadaan itu mempunyai gradasi (tingkatan), mulai dari yang metafisik
hingga fisik maka dengan menggunakan apakah kita bisa mengetahuinya? Apakah dengan
menggunakan indera sebagaimana kaum empiris, akal sebagaimana kaum rasionalis atau
bahkan dengan menggunakan intuisi sebagaimana urafa (para sufi)?
Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan.
Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana
dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-
batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya
tidak dapat di ketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu
pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin
terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai
kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan
bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang
memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak
memungkinkannya, karena manusia tidak lah memiliki pengetahuan yang sejati.
Aspek estimologi merupakan aspek yang membahas tentang pengetahuan filsafat. Aspek
ini membahas bagaimana cara kita mencari pengetahuan dan seperti apa pengetahuan
tersebut. Dalam aspek epistemologi ini terdapat beberapa logika, yaitu: analogi, silogisme,
premis mayor, dan premis minor. Dalam epistimologi dikenal dengan 2 aliran, yaitu:
Rasionalisme : Pentingnya akal yang menentukan hasil/keputusan.
Empirisme : Realita kebenaran terletak pada benda kongrit yang dapat diindra
karena ilmu atau pengalam impiris.

3. Aksiologi
Jika ontologi berbicara tentang hakikat yang ada (objek ilmu) dan epistemologi berbicara
tentang bagaimana yang ada itu bisa diperoleh (cara memperoleh ilmu) maka aksiologi
berkaitan dengan manfaat dari pada ilmu itu sendiri atau kaitan penerapan ilmu itu dengan
kaidah-kaidah moral. Aksiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu axion yang berarti nilai
dan logos yang berarti ilmu atau teori. Jadi, aksiologi adalah ilmu tentang nilai. Menurut
Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu mengatakan bahwa aksiologi adalah
cabang filsafat yang mempelajari tentang nalai secara umum. Sebagai landasan ilmu,
aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan?
Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana
penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara
teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma
moral atau profesional?. Dalam aksiologi ada dua penilaian yang umum digunakan yaitu:
a. Etika ( Teori Nilai)
Berbicara tentang nilai berarti berbicara tentang baik dan buruk bukan salah dan benar.
Apa yang baik bagi satu pihak belum tentu baik pula bagi pihak yang lain dan sebaliknya.
Apa yang baik juga belum tentu benar misalnya lukisan porno tentu bagus setiap orang
tidak mengingkarinya kecuali mereka yang pura-pura dan sok bermoral tapi itu tidak
benar. Membantu pada dasarnya adalah baik tapi jika membantu orang dalam tindakan
kejahatan adalah tidak benar. Jadi, persoalan nilai itu adalah persoalan baik dan buruk.
Penilaian itu sendiri timbul karena ada hubungan antara subjek dengan objek. Tidak ada
sesuatu itu dalam dirinya sendiri mempunyai nilai. Sesuatu itu baru mempunyai nilai
setelah diberikan penilaian oleh seorang subjek kepada objek. Suatu barang tetap ada,
sekalipun manusia tidak ada, atau tidak ada manusia yang melihatnya. Bunga-bunga itu
tetap ada, sekalipun tidak ada mata manusia yang memandangnya. Tetapi nilai itu tidak
ada, kalau manusia tidak ada, atau manusia tidak melihatnya. Bunga-bunga itu tidak
indah, kalau tidak ada pandangan manusia yang mengaguminya. Karena, nilai itu baru
timbul ketika terjadi hubungan antara manusia sebagai subjek dan barang sebagai objek.
Namun yang paling penting dari masalah etika adalah implikasi praksisnya. Artinya
sesuatu yang buruk itu seharusnya ditinggalkan sedangkan yang baik seharusnya
dilaksanakan. Dengan demikian ilmu pengetahuan akan memberikan manfaat bagi
kehidupan manusia bukan justru malah mengancam eksistensi manusia itu sendiri.
Memang segala sesuatu itutermasuk implikasi kemajuan di bidang ilmu pengetahuan
mempunyai dampak negatif dan positif. Tapi sebenarnya dampak yang negatif itu bisa
dihindari atau setidaknya diminimalisir. Semua itu adalah demi kepentingan kehidupan
manusia itu sendiri.

b. Estetika
Estetika dalam pengertian baru itu diapakai oleh Kant dan Schiller sehingga menjadi
umum di Jerman, meluas ke dalam pemakaian internasional. Yang menarik perhatian
berkaitan dengan masalah estetika adalah tentang keindahan, apakah keindahan itu
sesuatu yang sifatnya objektif atau subjektif? Jika teori tentang nilai mengatakan bahwa
persoalan nilai itu adalah masalah yang subjektif maka sebaliknya dengan persoalan
estetika. Persoalan estetika lebih berpihak pada pandangan objektivisme. Artinya bahwa
keindahan itu merupakan sifat yang objektif yang dimiliki oleh suatu benda. Ia bukanlah
penilain subjektif seseorang. Sedangkan Kant memberikan arah yang baru sama sekali
dalam mencari keterangan tentang estetika. Dengan Kant dimulailah studi ilmaih dan
psikologi tentang teori estetika. Ia mengatakan dalam The Critique of Judgement bahwa
akal memiliki indera ketiga di atas pikiran dan kemauan. Itulah indera rasa. Yang khas
pada rasa atau kesenangan estetika ialah ia tidak mengandung kepentingan. Ini
membedakannya daripada kesenangan-kesenangan yang lain yang mengandung unsur
keinginan atau terlibat dalam kepentingan pribadi atau hayat. Gula misalnya tidaklah
indah tapi dikehendaki. Kita menginginkannya untuk menikmatinya. Demikian pula
tindakan moral tidak indah. Ia adalah baik. Kita menyetujuinya karena kepadanya kita
mempunyai kepentingan. Sebaliknya dengan keindahan. Selalu Ia merupakan objek
kepuasan yang tidak mengandung kepentingan, berbeda dari keinginan-keinginan yang
lain. Indah, sekalipun ruhaniah adalah objektif. Karena itu ia selalu merupakan objek
penilaian. Kita mengatakan: Barang ini indah. Hal ini menunjukkan bahwa keindahan
itu merupakan sifat objek, tidak hanya sekedar selera yang subjektif. Demikianlah teori
Kant.

BAB III
PENUTUP

1. Ontologi atau biasa disebut metafisika umum membahas segala sesuatu yang ada secara
menyeluruh dan sekaligus. Yang memiliki ciri pertanyaan tentang Apakah realitas itu
ada yang begitu beraneka ragam dan berbeda-beda pada hakikatnya satu atau tidak ?
2. Ontologi adalah cabang dari filsafat yang membahas realitas. Realita tersebut terdiri dari
satu unsur (monisme), dua unsur (dualisme) atau serba banyak (pluralisme).
3. Epistemologi adalah bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia, dalam berbagai
jenis dan ukuran kebenarannya.
4. Dalam aspek epistemologi ini terdapat beberapa logika, yaitu: analogi, silogisme, premis
mayor, dan premis minor. Dalam epistimologi dikenal dengan 2 aliran, yaitu:
Rasionalisme : Pentingnya akal yang menentukan hasil/keputusan.
Empirisme : Realita kebenaran terletak pada benda kongrit yang dapat diindra
karena ilmu atau pengalam impiris.
5. Aksiologi berkaitan dengan manfaat dari pada ilmu itu sendiri atau kaitan penerapan ilmu
itu dengan kaidah-kaidah moral
6. Dalam aksiologi ada dua penilaian yang umum digunakan yaitu: Etika ( Teori Nilai) dan
Estetika

DAFTAR PUSTAKA

Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar

Harapan. 2012

Surajiyo. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta. PT Bumi Aksara. 2008

http://id.wikipedia.org/wiki/Materialisme (diakses 09 November 2015)

http://id.wikipedia.org/wiki/Skeptisisme (diakses 09 November 2015)

http://filsafat.kompasiana.com/2011/01/06/rasionalisme/ (diakses 09 November 2015)