Anda di halaman 1dari 25

Makalah Kelompok

FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN

Oleh:

Kelompok 3

LUSIANI Nim. 8136122027


MARLINA SARI DLT Nim. 8136122028
MASTA JUNITA SIRAIT Nim. 8136122030
MIDA LISHANATA Nim. 8136122031
MUKHTAR NURLAN Nim. 8136122032

Kelas : B-3
Dosen : Dr. Keysar Panjaitan, M.Pd

TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIMED
2013

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Istilah filsafat berasal dari dua suku kata dalam bahasa Yunani kuno, yaitu
phile atau philos yang berarti cinta atau sahabat, dan sophia atau sophos yang berarti
kebijaksanaan. Kedua suku kata tersebut membentuk kata majemuk philosophia.
Dengan demikian, berdasarkan asal usul philosophia (filsafat) berarti cinta kepada
kebijaksanaan atau sahabat kebijaksanaan. Karena istilah philosophia dalam bahasa
Indonesia identik dengan istilah filsafat, maka untuk orangnya, yaitu orang yang
mencintai kebijaksanaan disebut filsuf.
Harun Hadiwijono berpendapat bahwa filsafat diambil dari bahasa Yunani,
filosofia. Struktur katanya berasal dari kata filosofien yang berarti mencintai
kebijaksanaan. Dalam arti itu, menurut Hadiwijono filsafat mengandung arti sejumlah
gagasan yang penuh kebijaksanaan. Artinya, seseorang dapat disebut berfilsafat
ketika ia aktif memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih
memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih berarti sebagai
Himbauan kepada kebijaksanaan.
Di zaman Yunani, filsafat bukan merupakan suatu disiplin teoritis dan spesial,
akan tetapi suatu cara hidup yang kongkret, suatu pandangan hidup yang total tentang
manusia dan tentang alam yang menyinari seluruh kehidupan seseorang. Selanjutnya,
dengan kehidupan atau perkembangan peradaban manusia dan problema yang di
hadapinya, pengertian yang bersifat teoritis seperti yang di lahirkan filsafat Yunani itu
kehilangan kemampuan untuk memberi jawaban yang layak tentang kebenaran
peradaban itu telah menyebabkan manusian melakukan loncatan besar dalam bidang
sains, teknologi, kedokteran dan pendidikan.
Perubahan itu mendorong manusia memikirkan kembali pengertian tentang
kebenaran. Sebab setiap terjadi perubahan dalam peradaban akan berpengaruh

2
terhadap sistem nilai yang berlaku, karena antara perubahan peradaban dengan cara
berfikir manusia terdapat hubungan timbal balik.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta
didik, baik potensi fisik, potensi cipta, rasa maupun karsanya agar dasar kependidikan
adalah cita-cita kemanusiaan universal. Karenanya pendidikan bertujuan menyiapkan
pribadi dalam keseimbangan, kesatuan, organis, dinamis, guna mencapai tujuan hidup
kemanusiaan, melalui filsafat kependidikan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang
digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana ontologi ilmu pendidikan?
2. Bagaimana epistemologi ilmu pendidikan?
3. Bagaimana aksiologi ilmu pendidikan?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Filsafat Dalam Ilmu Pendidikan


Pendidikan merupakan suatu pemikiran yang praktis dan mmebutuhkan teori
dalam menciptakan sistem pendidikan yang ideal. Oleh sebab itu pendidikan harus
berangkat dari filsafat yang khusus dan condong membahas tentang
pendidikan.Apalagi jika ada beberapa pertanyaan radikal tentang pendidikan yang

3
berhubungan dengan ilmu-ilmu sosial dan alam. Landasan filsafat pendidikan
memberi perspektif filosofis yang seyogyanya merupakan kacamata yang
dikenakan dalam memandang menyikapi serta melaksanakan tugasnya.
Berfikir filosofis pada satu sisi dan di pihak lain pengalaman dan
penyelidikan empiris berjalan bersama-sama.Maka filsafat merupakan suatu
pengetahuan teoritis dan pedagogic merupakan pengetahuan praktis yang
menentukan suatu pendidikan itu efektif.

B. Pendidikan
Pendidikan dalam arti luas adalah segala pengalaman belajar yang
berlangsung dalam segala hal lingkungan dan sepanjang hidup atau segala situasi
hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu.
Pendidikan dalam arti sempit adalah sekolah atau pengajaran yang
diselenggarakan disekolah sebagai lembaga pendidikan formal .Pendidikan adalah
segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan
kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh
terhadap hubungan-hubungan serta tugas sosial mereka.
Sedangkan pendidikan menurut definisi alternatif atau luas terbatas adalah
usaha dasar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintahan , melalui
kegiatan bimbingan, pengjaran yang berlangsung disekolah dan luar sekolah
sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan
hidup sekarang atau yang akan datang.Pendidikan atau pengalaman belajar yang
terprogram dalam bentuk pendidikan formal dan non formal serta informasi
disekolah maupun luar sekolah yang berlangsung seumur hidup bertujuan
optimalisasi pertimbangan kemampuan individu agar kemudian hari dapat
memainkan peranan hidup secara tepat

C. Pengertian Filsafat Ilmu Pendidikan


Sosok pendidikan yang dapat kita kenali dalam kehidupan manusia dapat
dibedakan dalam dua macam, yaitu (1) praktek pendidikan dan (2) ilmu pendidikan

4
sebagai salah satu bentuk teori pendidikan. Filsafat Pendidikan dalam arti luas dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1) Filsafat Praktek Pendidikan, dan (2) Filsafat
Ilmu Pendidikan. Filsafat Praktek Pendidikan dapat dibedakan menjadi: (1) Filsafat
Proses Pendidikan (biasanya hanya disebut Filsafat Pendidikan) dan (2) Filsafat
Sosial Pendidikan. Filsafat Proses Pendidikan adalah analisis kritis dan komprehensif
tentang bagaimana seharusnya kegiatan pendidikan dilaksanakan dalam kehidupan
manusia. Filsafat Proses Pendidikan biasanya membahas tiga masalah pokok, yaitu
(1) apakah sebenarnya pendidikan itu; (2) apakah tujuan pendidikan itu sebenarnya;
dan (3) dengan cara apakah tujuan pendidikan dapat dicapai. (Henderson dalam
Mudyahardjo, 2010: 5).
Istilah Filsafat Ilmu Pendidikan oleh Smith dalam Mudyahardjo (2010: 5)
dinyatakan bahwa studi filosofis tentang Ilmu Pendidikan baru merupakan tingkat
permulaan, yang diawali dengan analisis kritis terhadap konsep-konsep psikologi
pendidikan, misalnya tentang teori belajar S - R, pengukuran pendidikan, prosedur-
prosedur sistematis tentang penyusunan kurikulum, dan sebagainya. Secara lebih
konsepsional, Filsafat Ilmu Pendidikan dapat dibataskan sebagai analisis kritis
komprehensif tentang pendidikan sebagai salah satu bentuk teori pendidikan yang
dihasilkan melalui riset, baik kuantitatif maupun kualitatif.

D. Filsafat Ilmu Pendidikan


1. Ontologi Ilmu Pendidikan
Pertama-tama panda latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari ilmu
pendidikan. Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan ilmu pendidikan melalui
pengalaman pancaindra ialah dunia pengalaman manusia secara empiris. Objek
materil ilmu pendidikan ialah manusia seutuhnya, manusia yang lengkap aspek-
aspek kepribadiannya, yaitu manusia yang berakhlak mulia dalam situasi pendidikan
atau diharapokan melampaui manusia sebagai makhluk sosial mengingat sebagai

5
warga masyarakat ia mempunyai ciri warga yang baik (good citizenship atau
kewarganegaraan yang sebaik-baiknya).
Ilmu pendidikan sebagai suatu objek yang akan diteliti tentu harus 'ada' dan
'berbentuk'. Karena tidak mungkin mencari tahu suatu objek yang tidak ada dan
belum selesai terbentuk. Ini adalah konsep ontologi (Muliawan (2008: 4). Untuk
menjabarkan ontologi ilmu pendidikan, maka akan dibahas tentang subtansi, struktur,
dan status ilmu pendidikan.

a. Substansi Ilmu Pendidikan


Ditinjau dari substansi atau isinya, Ilmu Pendidikan merupakan sebuah sistem
pengetahuan tentang pendidikan yang diperoleh melalui riset. Oleh karena
pengetahuan yang dihasilkan riset tersebut disajikan dalam bentuk konsep-konsep
pendidikan, maka Ilmu Pendidikan dapat pula dibataskan sebagai sebuah sistem
konsep pendidikan yang dihasilkan melalui riset (Mudyahardjo, 2010: 9).

b. Struktur Ilmu Pendidikan


Setiap ilmu termasuk Ilmu Pendidikan, terbentuk dari beberapa skema
konseptual yang merupakan bagian-bagian atau komponen-komponen isi ilmu.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa organisasi isi Ilmu Pendidikan, sebagai
sebuah sistem konsep, terbentuk dari unsur-unsur yang berupa konsep-konsep tentang
variabel-variabel pendidikan, dan bagian-bagian yang berupa skema-skema
konseptual tentang komponen-komponen pendidikan .

6
Sebuah
Cabang Ilmu
Pendidikan

Skema Skema
Konseptual Konseptual
komponen komponen
Pendidikan 1 Pendidikan 2

Konsep Konsep Konsep Konsep


Variabel Variabel Variabel Variabel
Pendidikan 1 Pendidikan 2 Pendidikan 1 Pendidikan 2

Bagan 2. Struktur Organisasi Isi Sebuah Cabang Ilmu Pendidikan


(Mudyahardjo, 2010)

Bentuk isi Ilmu Pendidikan, seperti juga ilmu pada umumnya terdiri atas: (1)
Generalisasi-generalisasi, (2) hukum-hukum atau prinsip prinsip, (3) Teori-teori.

1) Generalisasi-generalisasi
Generalisasi adalah kesimpulan umum yang ditarik berdasarkan hal-hal
khusus. Misalnya, penelitian Kamla tentang "Perbedaan antara Guru-guru yang
Efektif dan Tidak Efektif (1978), disertai peringkat (dalam bentuk angka di dalam
kurung) yang menghasilkan generalisasi-generalisasi sebagai berikut: Karakteristik-
karakteristik pribadi, profesional, dan akademik yang sangat mempengaruhi
keberhasilan semua guru sekolah menengah.
2) Hukum-hukum atau prinsip prinsip
Hukum hukum atau prinsip prinsip yang dihasilkan oleh para ahli pendidikan
yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran. lMisalnya,
Throndike mengemukakan ada tiga hukum utama (Hukum Akibat, Hukum Latihan,
dan Hukum Kesiapan) dalam belajar.

7
3) Teori-teori.
Sebuah teori pendidikan adalah sebuah pandangan atau serangkaian pendapat
ihwal pendidikan, yang disajikan dalam bentuk sebuah sistem konsep. Ssetiap cabang
Ilmu Pendidikan bertujuan menggambarkan apa adanya keadaan empirik sebuah
aspek yang menjadi hal-ihwal pendidikan secara sistematis dan cermat argumentatif.
Adapun gambaran tentang klasifikasi Teori-teori Pendidikan dapat dilihat pada
gambar berikut ini:

Teori Teori Umum


Preskriptif
Pendidikan:
Filsafat Pendidikan
Teori Teori Umum
Pendidikan Teori Teori Umum
Deskriptif
Pendidikan: Studi
Pendidikan Luar
Teori Teori Negeri
Pendidikan
Teori Teori Khusus
Preskriptif:
Teknologi
Pendidikan
Teori Teori Khusus
Pendidikan
Teori Teori Khusus
Deskriptif
Pendidikan: Ilmu
Pendidikan

Gambar 3. Klasifikasi Teori-Teori Pendidikan (Redja, 2010)

c. Status Ilmu Pendidikan


Tempat kedudukan (status) Ilmu Pendidikan dalam keseluruhan ilmu sangat
bergantung pada peta klasifikasi keseluruhan ilmu atau bagaimana keseluruhan ilmu
diklasifikasi. Klasifikasi ilmu tersebut ada bermacam macam. Di antaranya yang
terkenal adalah klasifikasi ilmu menurut Aristoteles, Francis Bacon, Auguste Comte,
Herbert Spencer, dan Horne. Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari klasifikasi
ilmu menurut kelima ilmuan tersebut menurut Mudyahardjo (2010: 40) adalah: (1)
Ilmu Pendidikan tidak tercantum secara tersurat dalam kelima klasifikasi ilmu; (2)
Status keilmuan Ilmu Pendidikan kurang jelas dan melahirkan sejumlah pertanyaan;

8
dan (3) Untuk memahami pendidikan dengan baik diperlukan banyak ilmu bantu
yang harus dikuasai, seperti fisiologi, psikologi, logika, estetika, etika, dan sosiologi.

4. Epistemologi Ilmu Pendidikan


Dasar epistemologis diperlukan oleh pendidikan atau pakar ilmu pendidikan
demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Sekalipun
pengumpulan data di lapangan sebagaian dapat dilakukan oleh tenaga pemula
namun telaah atas objek formil ilmu pendidikan memerlukaan pendekatan
fenomenologis yang akan menjalin stui empirik dengan studi kualitatif-
fenomenologis. Pendekaatan fenomenologis itu bersifat kualitatif, artinya
melibatkan pribadi dan diri peneliti sabagai instrumen pengumpul data secara pasca
positivisme. Karena itu penelaaah dan pengumpulan data diarahkan oleh pendidik
atau ilmuwan sebagaai pakar yang jujur dan menyatu dengan objeknya.
Karena penelitian tertuju tidak hnya pemahaman dan pengertian (verstehen,
Bodgan & Biklen, 1982) melainkan unuk mencapai kearifan (kebijaksanaan atau
wisdom) tentang fenomen pendidikan maka validitas internal harus dijaga betul
dalm berbagai bentuk penlitian dan penyelidikan seperti penelitian koasi
eksperimental, penelitian tindakan, penelitian etnografis dan penelitian ex post facto.
Inti dasar epistemologis ini adalah agar dapat ditentukan bahwa dalam menjelaskaan
objek formalnya, telaah ilmu pendidikan tidaak hanya mengembangkan ilmu terapan
melainkan menuju kepada telaah teori dan ilmu pendidikan sebgaai ilmu otonom
yang mempunyi objek formil sendiri atau problematika sendiri sekalipun tidak dapat
hnya menggunkaan pendekatan kuantitatif atau pun eksperimental (Campbell &
Stanley, 1963). Dengan demikian uji kebenaran pengetahuan sangat diperlukan
secara korespondensi, secara koheren dan sekaligus secara praktis dan atau
pragmatis (Randall &Buchler,1942).
Proses pencaritahuan ilmu pendidikan itu sendiri disebut epistemologi, yaitu
suatu usaha mencari tahu tentang asal-usul, jangkauan wilayah telaah dan arah
perkembangan ilmu pendidikan (Muliawan, 2008: 4).

9
Ditinjau dari fungsinya, objek Ilmu Pendidikan dapat dibedakan menjadi:
a) Objek Formal Ilmu Pendidikan
Objek formal atau bidang yang menjadi keseluruhan ruang lingkup garapan
riset pendidikan. Objek formal Ilmu Pendidikan adalah pendidikan, yang dapat
diartikan secara maha luas, sempit, dan luas terbatas. Perbandingan konsep
pendidikan dalam ketiga pengertian ini dapat dilihat di lampiran 1.
Dari ketiga konsep pengertian pendidikan tersebut secara umum mempunyai
perbedaan dari segi: Defenisi, tujuan, tempat pendidikan, bentuk kegiatan pendidikan,
masa pendidikan, dan pendukung. Perbedaan-perbedaan ini menyebabkan akan
berbeda pula objek formal Ilmu Pendidikan
b) Objek Material Ilmu Pendidikan
Objek material atau aspek-aspek atau hal-hal yang menjadi garapan langsung
riset pendidikan. Untuk ini akan dibahas secara ringkas tentang pendidikan sebagai
sebuah sistem dan pendidikan seumur hidup, karena pembahasan kedua hal ini akan
sangat menentukan cara pandang tentang objek material Ilmu Pendidikan.
1) Pendidikan sebagai Sebuah Sistem
Baik dibataskan secara maha luas, sempit maupun luas terbatas, pendidikan
tetap merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam kehidupan manusia, yang berawal
dari hal-yang bersifat aktual menuju pada hal-hal yang ideal. Kegiatan pendidikan
adalah kegiatan yang menjembatani antara kondisi-kondisi aktual dengan kondisi-
kondisi ideal. Kegiatan pendidikan berlangsung dalam satuan waktu tertentu dan
berbentuk dalam berbagai proses pendidikan (individualisasi, sosialisasi, enkulturasi,
profesionalisasi, civilisasi, habituralisasi, humanisasi, dan lain lain) yang merupakan
serangkaian kegiatan atau langkah-langkah yang digunakan untuk mengubah kondisi
awal peserta didik sebagai masukan, menjadi kondisi-kondisi ideal sebagai hasilnya.
Proses-proses tersebut berlangsung dalam bentuk-bentuk kegiatan pendidikan yang
dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan
bimbingan, atau pengajaran, atau latihan, atau perpaduan di antaranya.
Proses-proses pendidikan dan bentuk-bentuk kegiatan pendidikan berlangsung

10
dalam satuan-satuan pendidikan (sekolah dan pendidikan luar sekolah) dan atau
dalam lingkungan hidup manusia pada umumnya (kelompok pertemanan, kelompok
budayanya, atau lingkungan pergaulan sosial pada umumnya). Kegiatan pendidikan
di lingkungan hidup pada umumnya berlangsung dengan sendirinya tanpa
direncanakan terlebih dahulu. Kegiatan pendidikan semacam ini biasanya disebut
pendidikan informal. Sedangkan pendidikan di sekolah adalah formal, dan pendidikan
luar sekolah adalah non formal.
Setiap satuan pendidikan, baik dalam bentuk sekolah atau satuan di luar
sekolah, merupakan sebuah pendidikan mikro, yang merupakan satuan pendidikan
terkecil yang mandiri. Di samping itu, ada pendidikan makro, yang merupakan
gabungan dari keseluruhan satuan pendidikan mikro, yang dikelola secara bersama
untuk mencapai tujuan bersama. Jenis pendidikan dikelompokkan sesuai dengan sifat
dan kekhususan tujuannya, yang merupakan sebuah proses atau serangkaian kegiatan
pendidikan yang tertuju untuk mengembangkan satu jenis aspek kepribadian tertentu.
Jenis pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas
pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan,
pendidikan keagamaan, pendidikan akademik, dan pendidikan profesional. Jenis-jenis
pendidikan merupakan isi program dalam proses dan kegiatan pendidikan yang
berlangsung dalam sebuah satuan pendidikan di sekolah atau di luar sekolah.
2) Pendidikan Seumur Hidup
Proses pendidikan berlangsung sepanjang hidup, sejak lahir hingga meninggal
dunia. Oleh karena itu, proses pendidikan apabila ditinjau dari tahap-tahap
perkembangannya dapat dibedakan menjadi lima tahap, yaitu: (1) Pendidikan balita:
sejak lahir hingga 2 tahun; (2) Pendidikan kanak-kanak: 2-6 tahun; (3)
Pendidikan anak sekolah: 6-12 tahun; (4) Pendidikan remaja: 13-22 tahun; dan
(5) Pendidikan orang dewasa.
Sebuah sistem operasional pendidikan seumur hidup mencakup komponen-
komponen: (1) tujuan-tujuan pendidikan seumur hidup; (2) asumsi-asumsi yang
mendasari pendidikan seumur hidup; (3) prinsip-prinsip pembimbing untuk

11
pengembangan sistem pendidikan seumur hidup; dan (4) bentuk-bentuk belajar, yang
terdiri atas pendidikan umum yang berlangsung secara formal dan nonformal dan
pendidikan profesional yang berlangsung secara formal dan nonformal.
Perpaduan antara empat komponen tersebut membentuk sebuah sistem-sistem
belajar di: (1) rumah; (2) sekolah; dan (3) masyarakat. Sistem belajar ini terbentuk
dari dua komponen, yaitu (1) manajemen pendidikan; dan (2) teknologi pendidikan,
yang mempunyai hubungan fungsional.
Gambaran tentang kerangka teoretis dan operasional pendidikan seumur hidup
dapat dilihat pada Lampiran 2.
Mudyahardjo (2010: 80-88) menyatakan bahwa bagaimanapun, gambaran
pendidikan sebagai proses dinamis yang berawal dari kondisi aktual dari orang yang
belajar dan lingkunganya menuju kondisi ideal dan konsep pendidikan seumur hidup
tidaklah jauh berbeda. Sosok Ilmu Pendidikan dewasa ini tidak terdiri dari satu ilmu,
tetapi mencakup sejumlah cabang Ilmu Pendidikan. Perkembangannya adalah sebagai
berikut:
Pada awal perkembangannya, hanya ada satu bentuk sosok teori pendidikan,
yaitu Filsafat Praktek Pendidikan yang merupakan bagian keseluruhan
pembahasan filsafat. Plato dapat disebut sebagai bapak Filsafat Pendidikan.
Tokoh lainnya adalah Aristoteles, Quintilianus, Thomas Aquino, dan
sebagainya.
Tahap berikutnya menjadi teori pendidikan yang sosoknya memisahkan diri
dari filsafat, dan isinya masih belum terlepas sama sekali dari filsafat atau
teologi. Tokohnya: Johann Amos Comenius dipandang sebagai bapak Ilmu
Persekolahan.
Upaya memisahkan sosok teori pendidikan dari filsafat. Toohnya: John Locke
dipandang sebagai bapak Ilmu Pendidikan.
Upaya menjadikan teori pendidikan sebagai Ilmu Pendidikan; Tokohnya:
Johann Friedrick Herbart yangmendorong lahirnya Psikologi Pendidikan
sebagai cabang Ilmu Pendidikan. E.L Thorndike adalah bapak Psikologi

12
Pendidikan. Setelah itu, berkembanglah berbagai cabang Ilmu Pendidikan
seperti: Sosiologi Pendidikan, Antropologi Pendidikan, Ekonomi Pendidikan,
dan sebagainya.
Ilmu Pendidikan sebagai keseluruhan cabang-cabang Ilmu Pendidikan,
mempunyai objek berupa pendidikan sebagai salah satu bentuk gejala kehidupan
manusia. Setiap cabang Ilmu Pendidikan mempunyai objek formal berupa
pendidikan, sedangkan objek materialnya berupa salah satu aspek pendidikan.
Apabila ditinjau dari keluasan objek materialnya, maka Ilmu Pendidikan mempunyai
banyak cabangnya, yang dapat digambarkan sebagaimana terdapat dalam Lampiran 3.

3) Aksiologi Ilmu Pendidikan


Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom
tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi
pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu
nilai ilmu pendidikan tidak hanya bersifat intrinsic sebagai ilmu seperti seni untuk
seni, melainkan juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menelaah dasar-dasar
kemungkinan bertindak dalam praktek mmelalui kontrol terhadap pengaruh yang
negatif dan meningkatkan pengaruh yang positif dalam pendidikan. Dengan
demikian ilmu pendidikan tidak bebas nilai mengingat hanya terdapat batas yang
sangat tipis antar pekerjaan ilmu pendidikan dan tugas pendidik sebagi pedagok.
Implikasinya ialah bahwa ilmu pendidikan lebih dekat kepada ilmu perilaku kepada
ilmu-ilmu sosial, dan harus menolak pendirian lain bahwa di dalam kesatuan ilmu-
ilmu terdapat unifikasi satu-sayunyaa metode ilmiah (Kalr Perason,1990).
Pada sisi lain, tujuan penelitian epistemologi pendidikan itu tidak lain adalah
untuk memperkirakan/memprediksikan cakupannya terhadap realitas kenyataan
semesta. Konsep yang terakhir ini disebut aksiologi (Muliawan, 2008: 4). Secara
khusus akan dijabarkan tentang nilai kegunaan Ilmu Pendidikan dari segi teoretis dan
praktis.

13
a. Nilai Kegunaan Teoretis
1) Kegunaan bagi Ilmu
Hasil Ilmu Pendidikan adalah konsep-konsep ilmiah tentang aspek-aspek dan
dimensi-dimensi pendidikan sebagai salah satu gejala kehidupan manusia dan sangat
berguna untuk meningkatkan pemahaman tentang berbagai aspek dan dimensi
pendidikan. Pemahaman tersebut secara potensial dapat dipergunakan untuk lebih
mengembangkan konsep-konsep ilmiah pendidikan, baik dalam arti meningkatkan
mutu (validitas dan signifikansi) konsep-konsep ilmiah pendidikan yang telah ada,
maupun melahirkan atau menciptakan konsep-konsep baru, yang secara langsung
atau tidak langsung bersumber pada konsep-konsep ilmiah pendidikan yang telah ada.
Dengan kata lain, pemahaman terhadap konsep-konsep ilmiah pendidikan secara
potensial mempunyai nilai kegunaan untuk mengembangkan isi dan metode Ilmu
Pendidikan. Di samping itu, secara potensial dapat pula membantu meningkatkan
wawasan dan keyakinan diri, baik sebagai ahli pendidikan atau teoretikus pendidikan
maupun sebagai praktisi pendidikan (pendidik dan pengelola pendidikan). Dengan
kata lain, secara potensial dapat turut serta mengembangkan mutu profesional
teoretikus dan praktisi pendidikan.
Beberapa kegunaan Ilmu Pendidikan bagi ilmu pengetahuan adalah:
Konsep-konsep ilmiah pendidikan memperluas khazanah pengetahuan tentang
tingkah laku manusia sebagai individu atau pribadi, sebagai makhluk sosial,
dan sebagai makhluk susila. Dalam setiap cabang ilmu tersebut, pendidikan
menjadi salah satu objek penelitiannya. Dengan demikian, lahir dan
berkembanglah sub-cabang: Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sosial
Pendidikan dalam komponen Psikologi; Antropologi Pendidikan dan
Etnografi Pendidikan dalam komponen Antropologi; Sosiologi Pendidikan,
Ekologi Pendidikan dan Pendidikan Kependudukan dalam komponen
Sosiologi; Ekonomi Pendidikan dalam komponen Ekonomi; dan sebagainya.
Meskipun status ilmiahnya masih belum sejajar dengan ilmu-ilmu yang sudah
mapan, Ilmu Pendidikan dapat memberikan sumbangan teoretis terhadap

14
perkembangan Ilmu-ilmu Sosial (Social Sciences) atau Ilmu-Ilmu Tingkah-
Laku (Behavioral Sciences), khususnya berupa memperluas konsep-konsep
ilmiah yang berkenaan dengan kehidupan sosial atau pola tingkah laku
manusia, Ilmu Pendidikan tidak lagi mengisolasi diri dalam ruang hidupnya,
tetapi berinteraksi saling mempengaruhi cabang-cabang Ilmu Sosial lainnya.

2) Kegunaan bagi Teknologi


Konsep-konsep ilmiah pendidikan menjadi salah satu dasar penting bagi
berkembangnya teknologi pendidikan dalam arti program-program pendidikan.
Program-program pendidikan berisi prosedur-prosedur dan teknik kerja yang
sistematis untuk mengelola dan melaksanakan kegiatan-kegiatan pendidikan dalam
satu satuan pendidikan atau keseluruhan satuan pendidikan, misalnya teknologi
pengelolaan pendidikan, baik makro maupun mikro, dan teknologi kegiatan
pendidikan atau kegiatan belajar mengajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Pengertian teknologi pendidikan menurut AECT (Association for Educational
Communication and Technology) tahun 2008 adalah: Educational technology is the
study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by
creating, using, and managing appropriate technological processes and resources
(Januszewski dan Molenda, 2008: 1). (Teknologi pendidikan adalah studi dan praktek
etis dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara
menciptakan, menggunakan/memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-
sumber teknologi yang tepat (Warsita, 2008: 13).
Fungsi utama teknologi pendidikan adalah memfasilitasi pembelajaran dan
meningkatkan kinerja. Secara konseptual teknologi pendidikan mencakup: (1)
Teknologi Perancangan Pendidikan, (2) Teknologi Belajar-Mengajar, dan (3)
Teknologi Evaluasi Pendidikan ( Rowntree dalam Mudyahardjo (2010: 192)
Teknologi mengajar, seperti dikemukakan oleh Chauhan dalam Mudyahardjo
(2010: 192) meliputi: (1) Proses Mengajar-Belajar, (2) Model-Model Mengajar, (3)
Rancangan-Rancangan Pengajaran, (4) Pengajaran Mandiri, (5) Pengajaran

15
Terprogram dan Mesin Mengajar, (6) Sistem Pengajaran yang berorientasi pada Diri
Pribadi (PSI atau Personalized System of Instruction), (7) Pengajaran dengan Bantuan
Komputer (CAI atau Computer Assisted Instruction), dan (8) Pengajaran yang Irama
Belajarnya Diatur Sendiri oleh Pelajar (LCI atau Learner-Controlled Instruction).

3) Kegunaan bagi Filsafat


Konsep-konsep ilmiah yang dihasilkan oleh Ilmu Pendidikan, secara potensial
dapat mengundang berkembangnya kritik pendidikan, baik yang datang dari kalangan
para pengamat pendidikan pada umumnya, maupun yang datang dari kalangan para
profesional pendidikan, yang termasuk di dalamnya para ilmuwan pendidikan, para
filosof pendidikan serta para pengelola dan pengembang pendidikan, sehingga
memberikan kondisi yang menunjang pada berkembangnya Filsafat Ilmu Pendidikan.
Secara umum ada dua hal menjadi sumbangan penting Ilmu Pendidikan
terhadap Filsafat, yaitu:
Konsep-konsep ilmiah pendidikan sangat berkaitan erat atau bahkan dapat
dikatakan terpusat pada konsep tentang manusia. Oleh karena itu, konsep-
konsep ilmiah pendidikan secara potensial turut mendorong berkembangnya
pemikiran tentang hakikat manusia. Hal ini mengandung arti turut mendorong
berkembangnya filsafat tentang manusia atau antropologi filsafat, yang
membahas tentang hakikat manusia idaman atau manusia ideal.
Di samping itu, konsep-konsep ilmiah tentang pendidikan turut pula
mendorong berkembangnya pemikiran tentang hakikat anak manusia. Hal ini
mengandung arti turut mendorong berkembagnya filsafat tentang anak
manusia (Langeveld menyebutnya antropologi anak), yang membahas tentang
siapa sebenarnya anak manusia itu. Sehubungan dengan hal ini, misalnya telah
berkembang konsep-konsep bahwa: anak lahir membawa dosa asal, anak lahir
sebagai tabula rasa, anak lahir tidak berdaya tapi membawa potensi-potensi
tertentu, anak lahir baik atau anak lahir membawa benih-benih yang baik,
anak lahir terbelenggu atau terpenjara oleh hal-hal yang bersifat fisik, dan

16
sebagainya.
Baik antropologi filsafat maupun antropologi filsafat anak tertuju pada
pembahasan tentang animal educandum yaitu manusia yang mungkin dan harus
dididik dan mendidik. Dengan kata lain membahas tentang batas-batas kemungkinan
dan keharusan pendidikan, baik yang berhubungan dengan ruang dan waktu maupun
kemam puan mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.

b. Nilai Kegunaan Praktis


1) Kegunaan bagi Praktek Pendidikan
Konsep-konsep yang dihasilkan Ilmu Pendidikan, secara langsung atau tidak
langsung dapat berguna bagi upaya peningkatan kelancaran dan keberhasilan praktek
pendidikan, baik dalam bentuk kegiatan pendidikan maupun pengelolaan pendidikan,
karena konsep tersebut menumbuhkan kepercayaan diri pendidik/pengelola
pendidikan dalam melaksanakan tugasnya.
Beberapa nilai kegunaan praktis Ilmu Pendidikan bagi praktek kependidikan
adalah:
Konsep-konsep yang dihasilkan oleh Ilmu Pendidikan dapat memberi
pedoman dasar kerja pendidik/pengelola pendidikan dalam melaksanakan
tugasnya
Memberi dasar, latar belakang dan keahlian akademik bagi pendidik/pengelola
pendidikan.
Penguasaan teknologi pendidikan memberi pedoman teknis kerja dalam
melaksanakan praktek pendidikan, sehingga mengenali dengan baik langkah-
langkah kerja, prosedur-prosedur kerja, teknik-teknik kerja dan alat-alat kerja
yang diperlukan (standar) yang akan membawa kepada ketepatan dalam
memilih dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang diperlukan dalam praktek
pendidikan, yang pada akhirnya membawa kepada kelancaran, keberhasilan,
dan kepuasan kerja.
Membangun sebuah kerangka acuan dasar bekerja profesional kependidikan

17
atau sebuah "filsafat praktek pendidikan pribadi", sehingga seorang tenaga
kependidikan akan dapat bekerja konsisten dan efisien, karena dilandasi oleh
prinsip-prinsip pendidikan yang jelas terbaca dan kokoh.
Memberi kemungkinan berkembangnya kemampuan-kemampuan teknologis
pendidikan. Konsep-konsep ilmiah pendidikan yang telah dikuasai tenaga
kependidikan profesional, secara pasif menunggu untuk diterapkan dalam
pelaksanaan tugas profesional, dan secara aktif mendorong diterapkannya
dalam menjalankan tugas profesional.

2) Kegunaan bagi Seni Pendidikan


Sebuah kegiatan pendidikan dikatakan sebuah seni pendidikan, apabila
kegiatan tersebut tidak saja mencapai hasil yang diharapkan, tetapi proses
pelaksanaannya dapat memberi keasyikan dan kesenangan, baik bagi peserta didik
maupun pendidiknya. Dalam kegiatan pendidikan sebagai seni, berlangsungnya suatu
proses hubungan sosial, melibatkan emosi yang cukup mendalam dan nilai-nilai
kemanusian. Hal ini mengandung arti bahwa penerapan konsep-konsep ilmiah
pendidikan dalam praktek pendidikan perlu memperhitungkan terpenuhinya
kebutuhan emosional, berupa rasa puas, rasa senang, atau rasa sejenisnya.
Pengembangan seni pendidikan akan efektif apabila melalui pelatihan-pelatihan yang
intensif. Tanpa latihan semacam ini sulit dicapai bentuk-bentuk yang bertahap seni.
Perlu pula disadari bahwa banyak konsep-konsep ilmiah pendidikan
khususnya, dan teori-teori pendidikan pada umumnya mempunyai pengaruh kecil
terhadap praktek pendidikan. Sehubungan dengan hal ini, Bruner dalam Mudyahardjo
(2010: 199) mengemukakan tiga alasan mengapa hal itu dapat terjadi, yaitu karena: .
1. Teori pendidikannya salah. Terjadi karena disusun melalui kesimpulan
terburu-buru yang kurang didukung oleh fakta yang cukup memadai,
sehingga tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi dalam praktek
pendidikan. Bruner menyatakan bahwa ahli psikologi dan pendidik yang
merumuskan teori pendidikan tanpa memperhatikan situasi politik,
ekonomis, dan sosial yang terjadi dalam proses pendidikan menghasilkan
konsep yang tidak bermakna dan tidak ada manfaatnya bagi praktek
pendidikan dalam masyarakat dan kelas.

18
2. Tidak sesuai dengan masalah inti dalam praktek pendidikan.. Kesalahan di
sini berkaitan dengan kekurangjelian atau kekurangmampuan orang yang
berusaha menerapkan konsep ilmiah pendidikan.
3. Teori pendidikannya terlalu abstrak sehingga tidak dapat dikelola.
Kesalahan penerapan yang ketiga berkenaan dengan upaya penerapan
konsep dalam bentuk teori induk dan teori-teori tingkat menengah dan
formal secara langsung dalam praktek pendidikan.

19
BAB III
PENUTUP
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa:
Ontologis ilmu pendidikan. Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan
ilmu pendidikan melalui pengalaman pancaindra ialah dunia pengalaman manusia
secara empiris. Objek materil ilmu pendidikan ialah manusia seutuhnya, manusia
yang lengkap aspek-aspek kepribadiannya, yaitu manusia yang berakhlak mulia
dalam situasi pendidikan atau diharapokan melampaui manusia sebagai makhluk
sosial mengingat sebagai warga masyarakat ia mempunyai ciri warga yang baik
(good citizenship atau kewarganegaraan yang sebaik-baiknya).
Epistemologis ilmu pendidikan. Dasar epistemologis diperlukan oleh
pendidikan atau pakar ilmu pendidikan demi mengembangkan ilmunya secara
produktif dan bertanggung jawab. Sekalipun pengumpulan data di lapangan
sebagaian dapat dilakukan oleh tenaga pemula namun telaah atas objek formil ilmu
pendidikan memerlukaan pendekatan fenomenologis yang akan menjalin stui
empirik dengan studi kualitatif-fenomenologis. Pendekaatan fenomenologis itu
bersifat kualitatif, artinya melibatkan pribadi dan diri peneliti sabagai instrumen
pengumpul data secara pasca positivisme. Karena itu penelaaah dan pengumpulan
data diarahkan oleh pendidik atau ilmuwan sebagaai pakar yang jujur dan menyatu
dengan objeknya. Inti dasar epistemologis ini adalah agar dapat ditentukan bahwa
dalam menjelaskaan objek formalnya, telaah ilmu pendidikan tidaak hanya
mengembangkan ilmu terapan melainkan menuju kepada telaah teori dan ilmu
pendidikan sebgaai ilmu otonom yang mempunyi objek formil sendiri atau
problematika sendiri sekalipun tidak dapat hnya menggunkaan pendekatan
kuantitatif atau pun eksperimental (Campbell & Stanley, 1963). Dengan demikian
uji kebenaran pengetahuan sangat diperlukan secara korespondensi, secara koheren
dan sekaligus secara praktis dan atau pragmatis (Randall &Buchler,1942).
Aksiologis ilmu pendidikan. Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya
perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar

20
yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara
beradab. Oleh karena itu nilai ilmu pendidikan tidak hanya bersifat intrinsic sebagai
ilmu seperti seni untuk seni, melainkan juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk
menelaah dasar-dasar kemungkinan bertindak dalam praktek mmelalui kontrol
terhadap pengaruh yang negatif dan meningkatkan pengaruh yang positif dalam
pendidikan. Dengan demikian ilmu pendidikan tidak bebas nilai mengingat hanya
terdapat batas yang sangat tipis antar pekerjaan ilmu pendidikan dan tugas pendidik
sebagi pedagok. Implikasinya ialah bahwa ilmu pendidikan lebih dekat kepada ilmu
perilaku kepada ilmu-ilmu sosial, dan harus menolak pendirian lain bahwa di dalam
kesatuan ilmu-ilmu terdapat unifikasi satu-sayunyaa metode ilmiah (Kalr
Perason,1990).

21
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2001. Ilmu Pendidikan , Cetakan kedua. Jakarta: Rineka Cipta

Desniarti. 2002. Makalah Falsafah Sains (PPs 702). Program Pasca Sarjana/S3,
Institut Pertanian Bogor, Maret

Januszewski, Alan dan Molenda, Michael. 2008. Educational Technology.New York:


Lawrence Erlbaum Associates.

Langeveld, MJ. l955. Pedagogik Teoritis Sistematis (terjemahan). Bandung:


Jemmars

Mudhaharjo, Redja. 2002. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pres

Mudyahardjo, Redja. 2010. Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muliawan, Jasa Ungguh. 2008. Epistemologi Pendidikan. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press.

Nunu Heryanto. 2002. Makalah Falsafah Sains (PPs 702). Program Pasca
Sarjana/S3, Institut Pertanian Bogor, Maret

Redja, Mudyahardjo, 2002. Filsafat Ilmu Pendidikan, Cetakan kedua, Bandung:


Rosda.

Sadulloh, Uyoh. 2012. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

22
Lampiran 1

Perbandingan Konsep Pendidikan dalam Arti Maha Luas, Sempit, dan Luas Terbatas

Tertium
Kompa- Maha Luas Sempit Luas Terbatas
rasionis
Definisi Pendidikan adalah Pendidikan adalah Pendidikan adalah
hidup. Pendidikan persekolahan. usaha sadar yang
adalah segala Pendidikan adalah dilakukan oeh
pengalaman belajar yang diselenggarakan oleh keluarga, masyarakat,
berlangsung dalam sekolah sebagai lembaga dan pemerintah,
segala lingkungan hidup pendidikan formal. melalui kegiatan
dan sepangjang hidup. Pendidikan adalah segala bimbingan, pengajaran,
Pendidikan adalah segala pengaruh diupayakan dan/atau latihan, yang
situasi hidup yang sekolah terhadap anak berlangsung di sekolah
mempengaruhi atau remaja yang dan di luar sekolah
pertumbuhan seseorang. diserahkan kepadanya, untuk mempersiapkan
agar mempunyai peserta didik agar
kemampuan yang dapat memainkan
sempurna dan kesadaran peranan secara tepat
penuh hubungan- dalam berbagai
hubungan dan tugas- lingkungan hidup.
tugas sosial.
Tujuan Tujuan pendidikan Tujuan pendidikan Tujuan pendidikan
terkandung dalam setiap ditentukan oleh pihak merupakan perpaduan
pengalaman belajar, luar. Tujuan pendidikan antara perkembangan
tidak ditentukan dari terbatas pada pribadi secara optimal
luar. Tujuan pendidikan pengembangan dan tujuan sosial dapat
adalah pertumbuhan. kemampuan-kemampuan memainkan peranan
Tujuan pendidikan tertentu. Tujuan sosial secara tepat.
tidaklah terbatas. Tujuan pendidikan adalah Tujuan pendidikan
pendidikan sama dengan mempersiapkan peserta mencakup tujuan-
tujuan hidup didik untuk dapat hidup tujuan setiap bentuk
di masyarakat. kegiatan pendidikan
(bimbingan)/pengajara
n
/latihan) dan satuan-
satuan pendidikan
(sekolah/luar sekolah).
Tempat Pendidikan berlangsung Pendidikan berlangsung Pendidikan
Pendi dalam segala bentuk dalam lembaga berlangsung dalam

23
dikan lingkungan hidup, baik pendidikan formal atau sebagian lingkungan
khusus diciptakan untuk sekolah dalam segala hidup. Pendidikan
kepentingan pendidikan bentuknya. tidak berlangsung
maupun lingkungan dalam lingkungan
yang ada dengan hidup yang
sendirinya. terselengarakan dengan
sendirinya. Pendidikan
berlangsung di sekolah
dan satuan pendidikan
luar sekolah.
Bentuk Pendidikan terentang Isi pendidikan tersusun Kegiatan pendidikan
Kegiatan dari kegiatan yang mistis secara terprogram dalam dapat berbentuk
Pendi atau tidak sengaja bentuk kurikulum. pendidikan formal,
dikan sampai dengan kegiatan Kegiatan pendidikan non-formal dan
pendidikan yang lebih berorientasi pada informal. Kegiatan
terprogram. Pendidikan pendidik (guru), pendidikan dapat
berbentuk segala macam sehingga guru berbentuk bimbingan,
pengalaman belajar mempunyai peranan pengajaran dan/atau
dalam hidup. Pendidikan yang sentral dan latiha, kegiatan
berlangsung dalam menentukan. Kegiatn pendidikan selalu
beraneka ragam bentuk, pendidikan terjadwal merupakan usaha sadar
pola dan lembaga. dalam tenggang waktu yang tercakup di
Pendidikan dapat terjadi tertentu. dalamnya pengelolaan
sembarang kapan dan di pendidikan secara
mana pun dalam hidup. nasional dan
Pendidikan lebih pengelolaan
berorientasi pada peserta pendidikan di sekolah
didik. dan diluar sekolah.
Kegiatan pendidikan
berorientasi pada
komunikasi pendidik
peserta didik.
Masa Pendidik berlangsung Pendidikan berlangsung Pendidikan
pendidik seumur hidup dalam dalam waktu terbatas, berlangsung seumur
setiap saat selama ada yaitu pada masa anak- hidup, yang kegiatan-
pengaruh lingkungan anak dan remaja. kegiatannya tidak
terhadap pertumbuhan Kegiatan pendidikan berlangsung
seseorang. Pendidikan terbatas pada kegiatan sembarang, tetapi
berlangsung sejak lahir bersekolah. terbatas pada adanya
hingga meninggal dunia, usaha sadar.
dan berlangsung
sembarang.

24
Pendu Kaum humanis. Kaum Kaum Kaum Realisme Kritis.
kung humanis Radikal Behavioris.Mereka Mereka mengupayakan
cenderung tidak percaya cenderung pada perpaduan yang
pada pendidikan di pelaksanaan secara harmonis antara
sekolah. Kaum Moderat terprogram. pendidikan sekolah dan
cenderung memperbaiki pendidikan luar
pendidikan sekolah. sekolah.

25