Anda di halaman 1dari 16

FILSAFAT PENDIDIKAN

Tugas Makalah Kelompok

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu


Dosen : Dr. Keysar Panjaitan, M.Pd

Kelompok 2 / Kelas B-3

Sri Susilawati : 8136122052


Sunani : 8136122055
T. Herlina : 8136122058
Yohana Sazlila : 8136122061
Philip Nababan : 8136122063
Esra Hutabarat : 813612206?

JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2013-2014

BAB I

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Filsafat membahas segala sesuatu yang bersifat abstrak ataupun nyata
meliputi Tuhan, manusia dan alam semesta. Manusia merupakan makhluk yang
dikaruniai akal budi untuk berfikir dan bertindak. Dengan akal budi tersebut
manusia terus mencari tahu apa dan bagaimana usaha yang dilakukan untuk
mencapai kehidupan yang lebih baik, salah satunya adalah dengan jalur
memperoleh pendidikan. Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata
laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui
upaya pengajaran dan pelatihan (Santrock, 2008).
Menurut Jalaluddin & Idi (2011), pendidikan adalah upaya
mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik
potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat
berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita
kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam
keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dan dinamis guna mencapai tujuan
hidup kemanusiaan.
Filsafat yang dijadikan pandangan hidup oleh manusia merupakan asas
pedoman yang melandasi semua aspek kehidupan, termasuk aspek pendidikan.
Filsafat pendidikan yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut
oleh suatu bangsa. Sedangkan pendidikan harus mewarisi nilai-nilai filsafat.
Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran yang teratur, selaras, dan terpadu
yang berisi nilai-nilai pengalaman manusia (Syam dalam Jalaluddin & Idi, 2011).
Secara garis besar ada tiga pokok pembahasan filsafat yaitu; epistemologi,
ontologi, dan aksiologi. Ketiga cabang tersebut sangat penting dalam memahami
ruang lingkup filsafat dan pembahansannya (Suriasumantri, 2007). Dalam
makalah ini kami membahas ontologi, epistemologi, dan aksiologi filsafat
pendidikan.

BAB II

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN FILSAFAT
Istilah filsafat berasal dari dua suku kata dalam bahasa Yunani kuno, yaitu
phile atau philos yang berarti cinta atau sahabat, dan sophia atau sophos yang
berarti kebijaksanaan. Kedua suku kata tersebut membentuk kata majemuk
philosophia. Dengan demikian, berdasarkan asal usul philosophia (filsafat) berarti
cinta kepada kebijaksanaan atau sahabat kebijaksanaan.
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang
merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga
diartikan sebagai suatu sifat seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan
segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan
menyeluruh dengan segala hubungan. Fisafat dapat di artikan cinta
kebijaksanaan atau orang yang mencintai atau mencari kebijaksanaan.

B. FILSAFAT PENDIDIKAN
1. Pengertian Filsafat Pendidikan
Menurrut Langeveld (dalam Jalaluddin & Idi, 2011), pendidikan adalah
bimbingan atau pertolongan yang di berikan oleh orang dewasa kepada
perkembangan anak untuk mencapai suatu kedewasaan. Menurut Jhon Dewey
seorang ahli filsafat pendidikan yang berasal dari Amerika bahwa pendidikan
adalah suatu proses pembentukan kecakapan intlektual dan emosional ke arah
alam dan sesama manusia. Menurutnya hidup itu adalah suatu proses yang selalu
berubah tidak ada satupun yang abadi (Jalaluddin & Idi, 2011).
Pandangan fislafat pendidikan sama dengan peranannya merupakan
landasan filosofis yang menjiwai seluruh kebijaksanaan pelaksanaan pendidikan.
Dimana landasan filsofis merupakan landasan yang berdasarkan atas filsafat.
Landasan filsafat menalaah sesuatu secara radikal, menyeluruh, dan konseptual
tentang religi dan etika yang bertumpu pada penalaran. Oleh karena itu tentang
manusia dan masyarkaat sedangkan pendidikan berusahan mewujudkan citra
pendidikan itu sendiri (Jalaluddin & Idi, 2011).

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


2. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan
Ruang lingkup filsafat adalah semua lapangan pemikiran manusia yang
komprehensif. Segala sesuatu yang mungkin ada dan benar-benar ada (nyata),
baik material konkret maupun nonmaterial (abstrak). Jadi, objek filsafat itu tidak
terbatas. Objek pemikiran filsafat, yaitu permasalahan kehidupan manusia, alam
semesta, dan alam sekitarnya, juga merupakan objek pemikiran filsafat
pendidikan.
Ruang lingkup filsafat pendidikan meliputi:
a. Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (the nature of
education)
b. Merumuskan sifat hakikat manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan
(the nature of man).
c. Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan,
agama dan kebudayaan.
d. Merumuskan secara hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, teori dan
pendidikan.
e. Merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat
pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan)
f. Merumuskan sistem sistem nilai-norma atau isi moral pendidikan yang
merupakan tujuan pendidikan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa yang menjadi ruang lingkup
filsafat pendidikan ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia
untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan yang baik dan bagaimana
tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang di cita-citakan.

3. Hakekat Pendidikan
Konsep dasar pendidikan, yaitu: berlangsung seumur hidup, semua pihak
bertanggungjawab atas pendidikan, dan pendidikan merupakan keharusan.
Pendidikan pada hakekatnya mencakup kegiatan mendidik, mengajar dan melatih.
Oleh karena itu pendidikan erat kaitannya dengan pengajaran dan pelatihan.

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


Mengajar adalah kegiatan mengolah otak anak didik. Sedangkan melatih
merupakan kegiatan mengolah lidah dan tangan anak didik (Jalaluddin & Idi,
2011).
Beberapa asumsi dasar yang berkenaan dengan dengan hakikat pendidikan
tersebut dinyatakan oleh Raka Joni sebagai berikut.
a. Pendidikan merupakan proses interaksi manusia yang ditandai oleh
keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan
pendidikan.
b. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi
lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat.
c. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat.
d. Pendidikan berlangsung seumur hidup.
e. Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu
pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya.

4. Dasar dan Tujuan Pendidikan Nasional


Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1989
tentang Sistem Pendidikan Nasional dikemukakan bahwa Pendidikan Nasional
adalah usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik melalui bimbingan,
pengajaran, dan pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Pendidikan nasional mempunyai tujuan yanng jelas yakni mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya (manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa), berbudi pekerti luhur,
mempunyai pengetahuan dan ketrampilan, mempunyai kepribadian yang mantap
dan mandiri serta bertanggung jawab pada masyarakat dan negara. Berdasarkan
tujuan pendidikan nasional dilaksanakan proses pendidikan nasional, yaitu setiap
lima tahun sekali biasanya ditetapkan tujuan pendidikan nasional itu dalam
ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat dan dijelaskan dalam GBHN.
Menurut Zahar Idris (1987) berpendapat bahwa Pendidikan nasional sebagai suatu
sistem adalah karya manusia yang terdiri dari komponen-komponen yan mepunyai
hubungan fungsionl dlam rangka membantu terjadinya proses transformasi atau

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


perubahan tingkah laku seseoang sesuai dengan tujuan nasional seperti tercantum
dalam Undang Undang Dasar Republik ndonesia Tahun 1945.

5. Fungsi Pendidikan
Pada dasarnya, pendidikan adalah memberikan bantuan, arahan bagi siswa
untuk mengembangkan dan memunculkan potensi dalam dirinya. Selain itu,
fungsi pendidikan secara mikro adalahmembantu secara sadar perkembangan
jasmani dan rohani peserta didik untuk mengolah potensi yang dimiliki siswa.
Di Indonesia, pendidikan nasional dikonsepsikan berfungsi untuk
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Lahirnya KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) adalah salah satu usaha
baik dari pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Baik
dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor. Di mana pendidikan yang sebelumnya
lebih mengarahkan siswa pada aspek kognitif saja. Akan tetapi apa aplikasinya?
Munculnya KBK justru membuat kebingungan tersendiri di kalangan para
pengajar. Pada peserta didik sebagai subyek pendidikan, mereka menjadi korban
dari KBK ini. Kejenuhan, kebosanan, merasa tidak ada waktu untuk bermain
merupakan reson dari akibat peserta didik yang merasakan kurikulum ini. Pada
kenyataannya siswa juga tidak jauh berbeda dengan penerapan kurikulum-
kurikulum sebelumnya. Aspek kognitif yang ditekankan. Secara konseptual, KBK
memang diakui bagus. Akan tetapi dalam tataran aplikasi? Masih sangat jauh
sekali.

6. Kurikulum
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang
diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan
pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode
jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan
keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan
pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja.

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


Salah satu fungsi kurikulum ialah sebagai alat untuk mencapai tujuan
pendidikan yang pada dasarnya kurikulum memiliki komponen pokok dan
komponen penunjang yang saling berkaitan dan berinteraksi satu sama lainnya
dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Para ahli berbeda pendapat dalam
menetapkan komponen-komponen kurikulum. Ada yang mengemukakan 5
komponen kurikulum dan ada yang mengemukakan hanya 4 komponen
kurikulum. Untuk mengetahui pendapat para ahli mengenai komponen kurikulum
berikut Subandiyah (dalam Jalaluddin & Idi, 2011) mengemukakan ada 5
komponen kurikulum, yaitu:

a. komponen tujuan

b. komponen isi/materi

c. komponen media (sarana dan prasarana)

d. komponen strategi dan

e. komponen proses belajar mengajar.

Sementara Soemanto (1982) mengemukakan ada 4 komponen kurikulum, yaitu:

a. Objective (tujuan)

b. Knowledges (isi atau materi)

c. School learning experiences (interaksi belajar mengajar di sekolah)

d. Evaluation (penilaian).

C. ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, DAN AKSIOLOGI PENDIDIKAN


1. Pengertian Ontologi Pendidikan

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


Ontologi merupakan analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan.
Berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta mempelajari mengenai apa
yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang diteliti ilmu (Sadulloh, 2010).
Sedangkan menurut Jalaluddin & Idi (2011), ontologi berarti ilmu hakikat yang
menyelidiki alam nyata dan bagaimana keadaan yang sebenarnya, apakah hakikat
di balik alam nyata yang terbatas oleh pancaindra. Bagaimana realita yang ada,
dan apakah bersifat kekal serta mengandung berapa unsur (Jalaluddin & Idi,
2011).
Dari pembahasan tentang ontologi pendidikan, dapat diperoleh
pengetahuan tentang bagaimana menata hubungan pendidikan dengan asal-mula
tujuan kehidupan, serta hubungan pendidikan dengan filsafat, sejarah, dan iptek
dalam eksistensi kehidupan. Pengetahuan ini berguna bagi landasan pencerdasan
spiritual. Salah satu proses pendidikan adalah menghasilkan ilmu pengetahuan
dan teknologi (iptek). Dengan iptek, industrialisasi dapat digelar dan
menghasilkan perkembangan hidup yang sangat dinamis.
Ontologi merupakan analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan.
Berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta mempelajari mengenai apa
yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang diteliti ilmu. Ontologi
pendidikan, yaitu substansi pendidikan dalam semua perspektifnya, sebagaimana
melihat pendidikan dari tujuan esensialnya sebagai pencapaian maksimal dari
pendidikan (Jalaluddin & Idi, 2011). Secara ontologis, filsafat pendidikan
berusaha mengkaji secara mendalam hakikat pendidikan dan semua unsur yang
berhubungan dengan pendidikan. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi
pendidikan ialah sisi yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan.
Jadi ontologi pendidikan menempati posisi landasan yang terdasar dari
fondasi ilmu dimana disitulah teletak undang-undang dasarnya dunia ilmu. Dari
pembahasan tentang pendidikan secara ontologis, dapat diperoleh pengetahuan
tentang bagaimana menata hubungan pendidikan dengan asal-mula tujuan
kehidupan, serta hubungan pendidikan dengan filsafat, sejarah, dan iptek dalam
eksistensi kehidupan. Pengetahuan ini berguna bagi landasan pencerdasan
spiritual (Jalaluddin & Idi, 2011).

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


2. Epistemologi Pendidikan
Epistemologi terdiri dari dua kata, epistime yang berarti pengetahuan
dan logos yang berarti ilmu. Epistemologi sebagai satu kesatuan kata yang aktif
berarti ilmu tentang pengetahuan. Ilmu tentang pengetahuan mempunyai
pengertian yang berbeda dengan pengetahuan tentang ilmu. Pengetahuan tentang
ilmu cenderung menerangkan tentang metafisika atau sering kita sebut dengan
filsafat. Sedangkan ilmu tentang pengetahuan (epistemologi) lebih bersifat
sistematis, koheren, dan konsisten jika lebih disederhanakan lagi akan mengarah
pada ilmu (sains).
Dalam arti khusus, konsep ilmu tentang pengetahuan bersifat konkrit atau
nyata, sedangkan konsep pengetahuan tentang ilmu pendidikan bersifat abstrak
dan meluas. Dalam hal ini, perlu pemahaman yang baik ketika kita memahami
tentang epistemologi. Istilah pendidikan juga mempunyai rumusan yang sama
seperti konsep epistemologi. Secara tata bahasa, konsep epistemologi pendidikan
disusun menurut kaidah subyek-obyek. Epistemologi sebagai subyek dan
pendidikan sebagai obyek. Konsep epistemologi pendidikan dapat diartikan
sebagai suatu usaha mencari tahu tentang asal-usul, jangkauan wilayah dan arah
dari perkembangan ilmu pendidikan sebagai suatu obyek penelitian serta ditelaah
secara sistematis, koheren dan konsisten dari awal sampai akhir.
Sudut pandang epistemologi pendidikan, seharusnya:
a. Pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak didik?
Hal ini tentu terkait dengan pengetahuan kita akan kebutuhan yang
diperlukan anak didik. Harus mengetahui dan memahami berbagai
kemampuan atau kelebihan atau kecerdasan yang dimiliki anak, tidak bisa
semua siswa diberlakukan sama.
b. Bagaimana cara memperoleh pengetahuan?
Guru hanya sebagai fasiltator saja. Guru mengarahkan siswa. Siswa dapat
memperolehnya melalui diskusi, problem based learning (PBL), pergi ke
perpustakaan, belajar dengan e-learning (internet), membaca dan

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


sebagainya. Cara-cara seperti ini akan memacu potensi siswa daripada
siswa diperlakukan hanya sebagai objek yag pasif saja.
c. Bagaimana cara menyampaikannya?
Pertanyaan ini terkait dengan kompetensi guru serta metode atau gaya
pengajaran yang mereka terapkan. Sebenarnya jaman sekarang ini model
ceramah yang bersifat pasif sudah bukan jamannya lagi. Akan tetapi
dibeberapa sekolah atau bahkan Pergurun Tinggi sendiri masih
memberlakukan sistem pengajaran seperti ini.

3. Aksiologi Pendidikan

Aksiologi adalah suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan


semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia dan menjaganya, membinanya di
dalam kepribadian peserta didik. Dengan demikian aksiologi adalah salah satu
cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai-nilai atau norma-norma terhadap
sesuatu ilmu. Berbicara mengenai nilai itu sendiri dapat kita jumpai dalam
kehidupan seperti kata-kata adil dan tidak adil, jujur dan curang. Hal itu semua
mengandung penilaian karena manusia yang dengan perbuatannya berhasrat
mencapai atau merealisasikan nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang
dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang
dinilai.
Secara singkat dapat dikatakan, perkataan nilai kiranya mempunyai
macam-macam makna seperti (1) mengandung nilai, artinya berguna; (2)
merupakan nilai, artinya baik atau benar, atau indah; (3) mempunyai nilai artinya
merypakan obyek keinginan, mempunyai kualitas yang dapat menyebab-kan
orang mengambil sikap menyetujui, atau mempunyai sifat nilai tertentu; (4)
memberi nilai artinya, menanggapi sesuatu sebagai hal yang diinginkan atau
sebagai hal yang menggambarkan nilai tertentu. Nilai ini terkait juga dengan etika
dan nilai estetika. Nilai etika adalah teori perbuatan manusia yang ditimbang
menurut baik atau buruk dan tentang hak dan kewajiban moral. Menurut Kattsoff
(dalam Jalaludin & Idi, 2011) aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan atau studi tentang
hakikat tertinggi, realitas, dan arti dari nilai-nilai.

D. ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN


1. Filsafat Pendidikan Idealisme
Filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan
materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak
pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak
berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental
tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah:
Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali.

2. Filsafat Pendidikan Realisme


Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis.
Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan
dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang
menyadari dn mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita
di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa
tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc
Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.

3. Filsafat Pendidikan Materialisme


Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan
rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme:
Demokritos, Ludwig Feurbach.

4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme


Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya
berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia
dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut
filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Filsafat ini memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara
umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman
manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema
rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini :
Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper,
Gabril Marcel, Paul Tillich.

6. Filsafat Pendidikan Progresivisme


Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang
berdiri sendiri, melainkan merupakan suatugerakan dan perkumpulan yang
didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar
pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus
terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.
Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest
Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff.

7. Filsafat Pendidikan esensialisme


Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada
mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-
sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-
standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Beberapa tokoh dalam aliran
ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.

8. Filsafat Pendidikan Perenialisme


Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua
puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif.
Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan
sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh
kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk
mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali
nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang
kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert
Maynard Hutchins dan ortimer Adler.

9. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme


Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme.
Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya
memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada
sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg
pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan
adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pada bab ini, kelompok menyajikan kesimpulan mengenai ontologi


pendidikan, epistemologi pendidikan, dan aksiologi pendidikan, yaitu:

1. Filsafat pendidikan sebagai ilmu pengetahuan normatif dalam bidang


pendidikan merumuskan kaidah-kaidah norma-norma dan atau ukuran

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia
dalam hidup dan kehidupannya.

2. Ontologi pendidikan merupakan substansi pendidikan dalam semua


perspektif yang melihat pendidikan dari tujuan pendidikan.

3. Filsafat pendidikan mengkaji secara mendalam hakikat pendidikan dan


semua unsur yang berhubungan dengan pendidikan.

4. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi pendidikan.

5. Epistemologi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu usaha mencari


tahu tentang asal-usul, jangkauan wilayah dan arah dari perkembangan
ilmu pendidikan sebagai suatu obyek penelitian serta ditelaah secara
sistematis, koheren dan konsisten dari awal sampai akhir.

6. Aksiologi pendidikan merupakan hasil dari proses pendidikan yang


berupa nilai ditinjau dari sudut kefilsafatan.

7. Ketiga cabang ilmu filsafat (ontologi, epistemologi, dan aksiologi)


aling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan


DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin & Idi, A. (2011). Filsafat Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Sadulloh, U. (2012). Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Santrock, J. W. (2008). The Psychology of Education. University of Texas: Dallas.


Suriasumantri, J. S. (2007). Filsafat Ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Pendidikan