Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara
spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Sedangkan Ilmu merupakan cabang
pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran
reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu
maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.

Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi


pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi
kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti
maknanya bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara
mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-
bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman.

Filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk
memahami hakekat dari sesuatu ada yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat
ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan
ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.

Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai
hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain
filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik
mengakaji hakikat ilmu, seperti :
Obyek apa yang ditelaah ilmu?, Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana
hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan?
(Landasan ontologis). Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa
ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan
yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Cara/teknik/sarana apa yang
membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara
penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah
berdasarkan pilihan-pilihan moral ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)

1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka rumusan masalah yang
dikemukakan pada makalah ini adalah:
1. Apakah hakikat atau esensi pengkajian ilmu (ontologi ilmu)?
2. Bagaiamana cara memperoleh ilmu, apakah prosedur mendapatkan ilmu (epistemologi ilmu)?
3. Apakah keguanaan ilmu (aksiologi ilmu)?

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui esensi pengkajian ilmu (ontologi ilmu)
2. Untuk mengetahui cara atau metode mendapatkan sesuatu sehingga disebut sebagai ilmu
(epistemologi ilmu)
3. Untuk mengetahui nilai guna ilmu itu sendiri (aksiologi ilmu)

D. Manfaat
Manfaat yang diharapakan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa tentang filsafat ilmu
2. Melatih mahasiswa agar terbiasa menyusun karya ilmiah
3. Melatih mahasiswa untuk menyampaikan ide dan gagasan tentang filsafat ilmu dalam bentuk
yang sistematis

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

ONTOLOGI ILMU (ESENSI PENGKAJIAN ILMU)

A. Pengertian Ontologi
Ontologi, dalam bahasa Inggris ontology berakar dari bahasa Yunani on berarti ada,
dan ontos berarti keberadaan . sedangkan logos bearti pemikiran. Jadi, ontologi adalah
pemikiran mengenai yang ada dan keberadaannya. Dalam metafisika, pada dasarnya
dipersoalkan mengenai substansi atau hakikat alam semesta. Apakah alam semesta ini
berhakikat monistik atau pluralistik, bersifat tetap atau berubah-ubah, dan apakah alam
semesta ini merupakan kesungguhan atau kemungkinan.
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan
dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu?
Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi
dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindra) yang membuahkan
pengetahuan?

Dalam kaitannya dengan kaidah moral bahwa dalam menetapkan objek penelaahan,
kegiatan keilmuan tidak boleh melakukan upaya yang bersifat mengubah kodrat manusia,
merendahkan martabat manusia, dan mencampuri permasalahan kehidupan. Di samping itu,
secara ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam
menafsirkan hakikat realitas sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam
sebagaimana adanya.

Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, maka ontologi adalah kajian filosofis
tentang hakikat keberadaan ilmu pengetahuan, apa dan bagaimana sebenarnya ilmu
pengetahuan yang ada itu. Paradigma ilmu pada dasarnya berisi jawaban atas pertanyaan
fundamental proses keilmuan manusia, yakni bagaimana, apa, dan untuk apa. Maka tiga
pertanyaan dasar tadi kemudian dirumuskan menjadi beberapa dimensi, dan salah satunya
ialah; dimensi ontologis, pertanyaan yang harus dijawab pada dimensi ini adalah: apa
sebenarnya hakikat dari sesuatu yang dapat diketahui, atau apa sebenarnya hakikat dari suatu
realitas. Dengan demikian dimensi yang dipertanyakan adalah hal yang nyata.

3
Dalam kaitan dengan ilmu, aspek ontologis mempertanyakan tentang objek yang
ditelaah oleh ilmu. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya
pada daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia dan terbatas pada hal yang
sesuai dengan akal manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas pra pengalaman dan
pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah
satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam
batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris
ini adalah konsisten dengan asas epistimologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi
secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar
secara ilmiah.

Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.
Membahas tentang yang ada, yang universal, dan menampilkan pemikiran semesta universal.
Berupaya mencari inti yang temuat dalam setiap kenyataan, dan menjelaskan yang ada yang
meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.

Ada beberapa aliran dalam ontologi, beberapa aliran tersebut yaitu;

1. Idealisme

Tokoh utama dalam aliran ini ialah Plato dengan ajarannya yang terkenal yaitu; bahwa
ia telah mengatakan seuatu yang nyata atau riil itu adalah sesuatu yang berada di ruang idea.
Menurutnya idea merupakan gambaran yang jelas tentang dunia realita yang ditangkap oleh
panca indra manusia.

Kaum idealisme berkayakinan, bahwa apa yang tampak dalam alam realitas bukanlah
merupakan sesuatu yang riil, tetapi lebih merupakan bayangan atas apa yang bersemayam
dalam alam pikiran manusia. Menurutnya realitas kebenaran dan kebaikan sebagai idea telah
dibawa manusia sejak ia dilahirkan, dan karenanya bersifat tetap dan abadi.

Kaum idealis meyakini bahwa pengetahuan sesungguhnya adalah hasil atau produk
akal, karena akal merupakan seuatu kemampuan melihat secara tajam bentuk-bentuk spritual
murni dari sesuatu yang melampau bentuk materialnya.

4
Pengetahuan yang dihasilka indra tidak akan pernah menjadi pengetahuan yang hakiki
atau sebenarnya tanpa pernah membiarkan akalnya untuk menyusun pengetahuan yang
memadai tentang apa yang dirasakan indara tersebut.

Menurut aliran ini, pengetahuan adalah suatu bagian dari pemikiran manusia yang
dikategorisasikan melalui alam yang objektif yang mana itu ditangkap oleh indra manusia.
Oleh karena itu, objek pengetahuan haruslah melalui idea-idea yang seluruh koneksitasnya
bersifat sistematis.

Plato menempatkan konsep the idea of the good ini sebagai sesuatu yang sangat
penting dan strategis dalam mengembangkan proses pendidikan. Ajaran filsafat Plato tentang
idea memberikan keyakinan bahwa idea dapat meningkatkan kemampuan rasio manusia. Idea
memiliki hubungan langsung dengan putusan-putusan rasio yang mengarah pada
pembentukan sikap.

Plato sependapat dengan gurunya Socrates yang mengatakan bahwa pengetahuan


yang diterima melalui panca indra mesti selalu berada pada ketidakpastian. Hal ini
dikarenakan dunia materi hanyalah pantulan dari being yang lebih sempurna dan dalam
realitasnya selalu tidak mencerminkan seluruh dari substansi yang sesungguhnya. Gambaran
asli dari dunia idea manusia hanya dapat dipotret oleh jiwa murniya yang dalam banyak hal
berkenaan dengan intelek manusia.

Idealisme berkeyakinan bahwa realitas sejati adalah dunia ruhaniah, bukan yang
materi. Dengan kata lain bahwa yang hakiki adalah idea bukanlah panca indra. Apapun yang
ditangkap oleh panca indra baik itu yang dilihat, diraba, dirasa, dan dicium , itu hanyalah
sebatas itu saja. Sesuatu yang jelas dan pasti ialah apa yang berada dalam dunia idea.

Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, karena posisinya
tidak tetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli yang
memiliki watak asli dan konstan.

Berdasarkan ini semua, maka akhirnya Plato menyimpulkan bahwa pengetahuan


berada dalam dua tingkatan, yaitu hipotesis dan kepastian absolut. Plato berpendapat, bahwa
pengetahuan adalah kesadaran dunia idea manusia bahwa pengetahuan yang diajukan dan

5
kesadarannya memiliki hubungan sistematis dengan keseluruhan ideanya tentang kebaikan
yang mutlak sebagai prinsip tertinggi dalam kehidupan manusia.

2. Realisme

Realisme merupakan aliran filsafat yang memandang bahwa suatu yang riil adalah
sesuatu yang bersifat fisik dan psikis.

Dalam pemikiran filsafat, realisme berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas


pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalam. Dengan demikian
realisme dapat dikatakan sebagai bentuk penolakan terhadap gagasan ekstrim idealisme dan
empirisme. Dalam membangun ilmu pengetahuan, realisme memberikan teori dengan metode
induksi empiris. Gagasan utama dari realisme dalam konteks pemerolehan pengetahuan
adalah bahwa pengetahuan didapatkan dari dual hal, yaitu observasi dan pengembangan
pemikiran baru dari observasi yang dilakukan.

Tradisi realisme mengakui bahwa entitas yang bersifat abstrak dapat menjadi nyata
(realitas) dengan bantuan symbol-simbol linguistik dan kesadaran manusia. Gagasan ini
sejajar dengan filsafat modern dari pendekatan pengetahuan versi Kantianism fenonomologi
sampai pendekatan structural.

Realisme melihat adanya hubungan dealektik antara realitas subjek yang menyadari
dan mengetahui di satu pihak namun di pihak lain ada realitas lain yang berada di luar dirinya
sebagai sesuatu yangt dijadikan objek pengetahuan. Sebuah pengetahuan baru dapat
dikatakan benar apabila ada kesesuaian dengan dunia faktual, dapat diamati, dan bersifat
substantif. Aliran ini menekankan, bahwa sesuatu dikatakan benar jika memang riil dan
secara nyata memang ada (Muhmidayeli, 2011; 95).

Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, pertama yaitu; subjek sebagai realitas
yang menyadari dan mengetaui di satu sisi, dan yang kedua yaitu; realitas yang berada di luar
diri manusia yang dapat dijadikan objek pengetahuan di sisi lain.

Bertolak belakang dari pandangan idealisme yang menyatakan bahwa pikiran manusia
dimuati oleh kategori-kategorinya, seperti substansialitas dan kausalitas tentang data indrawi,
maka realisme berkeyakinan, bahwa dunia yang kita terima bukanlah sebuah dunia yang kita
ciptakan kembali secara mental, tetapi merupakan sebuah dunia yang apa adanya.

6
Substansialitas, kausalitas, dan bentuk-bentuk alam adalah merupakan segi-segi dari benda-
benda itu sendiri, bukanlah semacam proyeksi dan pikiran.

Bagi kelompok realisme, ide atau proposisi adalah benar ketika eksistensinya
berhubungan dengan segi-segi dunia. Sebuah hipotesis tentang dunia tidak dapat dikatakan
benar semata-mata karena ia koheren dengan pengetahuan. Jika pengetahuan baru itu
berhubungan dengan yang lama, maka hal itu hanyalah lantaran yang lama itu memang
banar, yaitu disebabkan pengetahuan lama koresponden dengan apa yang terjadi pada kasus
itu. Jadi koherasi tidak melahirkan kebenaran.

Realisme berkeyakinan bahwa pengetahuan selalu dihasilkan dari proses pengamatan,


pemikiran, dan kesimpulan dari kemampuan manusia sebagai subjek dalam menyerap dunia
objek. Dengan demikian pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang koresponden
dengan dunia sebagaimana adanya. Dalam perjalanan waktu, ras manusia telah menempatkan
sejumlah pengetahuan yang kebenarannya telah dikonfirmasi secara berulang-ulang.

3. Pragmatisme

Pragmatisme adalah mashab pemikiran filsafat ilmu yang dipelopori oleh C.S Peirce,
William James, John Dewey, George Herbert Mead, F.C.S Schiller dan Richard Rorty. Tradisi
pragmatisme muncul atas reaksi terhadap tradisi idealis yang dominan yang menganggap
kebenaran sebagai entitas yang abstrak, sistematis dan refleksi dari realitas. Pragmatisme
berargumentasi bahwa filsafat ilmu haruslah meninggalkan ilmu pengetahuan transendental
dan menggantinya dengan aktifitas manusia sebagai sumber pengetahuan. Bagi para penganut
mashab pragmatisme, ilmu pengetahuan dan kebenaran adalah sebuah perjalanan dan bukan
merupakan tujuan.

Kaum pragmatisme menyakini bahwa pikiran manusia bersifat aktif dan berhubungan
langsung dengan upaya penyelidikan dan penemuan. Pikiran manusia tidak
mengonfrontasikan dunia yang ianya terpisah dari aktivitas pendidikan dan penemuan itu.
Pengetahuan dunia dibentuk melalui pikiran subjek yang mengetahuinya. Kebenaran itu
tergantung sepenuhnya melulu pada korespondensi ide manusia dengan realitas eksternal,
karena realitas bagi manusia tergantung pada bagian dalam ide yang menjelaskannya.

7
Menurut pragmatisme pengetahuan itu adalah produk dari proses interaksi atau
transaksi antara manusia dengan lingkungannya. Dan kebenaran adalah suatu proferti bagi
pengetahuan itu.

Bagi kelompok pragmatisme suatu ide itu dapat dikatakan benar jika ia benar-benar
berfungsi dan bisa diterapkan. Dengan kata lain sebuah pengetahuan dikatakan benar apabila
ia bernilai, bermanfaat, dan dapat diterapkan.

William James mengatakan ide itu dikatakan benar jika memberikan konsekuensi
bernilai dan atau fungsional bagi personnya. Sementara itu Peirce dan jhon Dewey
mengklaim bahwa suatu ide dikatakan benar hanya jika memiliki konsekuensi yang
memuaskan ketika secara objektif dan saintifik ide itu dapat dipraktikkan secara memuaskan.
Jadi, kaum pragmatisme memandang kebenaran suatu ide tergantung pada konsekuensi yang
muncul ketika ide itu dioperasikan di alam empiris (Muhmidayeli, 2011; 97).

Jhon Dewey menyebutkan, bahwa pikiran bukanlah suatu yang ultimate, absolut,
tetapi merupakan suatu bentuk proses alamiah dimana ia muncul sebagai hasil dari hubungan
aktif antara organisme yang hidup dengan lingkungannya. Pikiran manusia selalu berawal
dari pengalaman dan untuk kembali ke pengalaman. Ada hubungan interdependensi antara
pikiran dan pengalaman empiris yang meniscayakan perubahan-perubahan. Tidaklah
dikatakan pengetahuan jika tidak membawa perubahan bagi kehidupan manusia. Jadi, nilai
pengetahuan dilihat dari kadar instrumentalisnya yang akan membawa pada akibat-akibat
yang telah atau dihasilkan oleh ide/pikiran dalam pengalaman nyata (Muhmidayeli, 2005;
98).

Pragmatisme juga mengatakan bahwa method of intelegence merupakan cara ideal untuk
mendapatkan pengetahuan. Kita menangkap sesuatu yang terbaik menurut kaum pragmatisme
mestilah melalui melokalisasi problem sedemikian rupa dan memecahkannya.

4. Materialisme

Berbeda dengan idealisme, materialisme menghilangkan jiwa bahkan termasuk juga


Tuhan dihilangkan dari kerangka metafisika, dan mencoba untuk menjelaskan segala sesuatu
dari sudut peristiwa materi. Menurut materialisme, bahwa kenyataan yang sebenarnya atau
hakikat realisasi adalah materi, bukan roh, bukan spiritual atau bukan supernatural. Materi

8
merupakan satu-satunya substansi yang mengisi ruang dan waktu, tidak ada dunia lain diluar
dunia yang kita alami sekarang ini. Dengan kata lain tidak ada kehidupan bagi manusia
setelah manusia itu mati, manusia adalah materi yang sama seperti batu, besi, dan materi
lainnya.

Thomas hobbes merupakan tokoh materialisme yang berpendapat, bahwa manusia itu
tidak lebih dan tidak kurang dari gerak-gerak yang terdapat di dalam otak dan urat saraf.
Semua kejadian di dunia dapat diterangkan dengan hukum-hukum mekanika yang menguasai
materi. Materialisme mencapai puncaknya pada zaman Karl Marx (1818-1883) dan Frederic
Engels (1820-1895) yang mengajarkan materialisme dialektis dimana kenyataan hanya terdiri
dari materi yang berkembang melalui proses dialektis.

B. Pengertian Ilmu

Kata ilmu merupakan terjemahan dari kata science yang secara etimologis berasal
dari kata latin scire yang artinya to know dalam pengertian yang sempit science diatikan
untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan objektif.

Menurut Titus, Ilmu atau science diartikan sebagai common sense yang diatur dan
diorganisaikan mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa dengan
menggunakan metode observasi yang teliti dan kritis.

Menurut Prof. Harsoyo mengemukakan pengertian tentang ilmu yaitu akumulasi


pengetahuan yang disistemasikan atau kesatuan pengetahuan yang terorganisasikan.
Pengertian berikutnya ilmu dapat pula dilihat sebagai suatu pendekatan atau suatu metode
pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terkait oleh faktor ruang dan
waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indera manusia.

Secara umum ilmu adalah usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan


common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam
kehidupan sehari-hari namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti
dengan menggunakan berbagai metode.

Dengan kata lain Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun
secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala
tertentu.

9
C. Ciri - ciri Ilmu

Menurut randal (1942) ilmu bersifat

1. Akumulatif dan milik bersama, artinya hasil dari ilmu yang telah lalu dapat
dipergunakan untuk penyelidikan dan penemuan hal-hal yang baru dan tidak menjadi
monopoli bagi yang menemukannya saja, setiap orang dapat menggunakannya dan
memanfaatkan hasil penyelidikan
2. Kebenarannya tidak mutlak, artinya bisa terjadi kekeliruan karena yang
menyelidikinya adalah manusia, namun perlu diketahui kesalahan itu bukan karena
metodenya melainkan terletak pada manusia yang menggunakan metode tersebut.
3. Objektif, artinya prosedur cara penggunaan metode ilmu tidak tergantung kepada
yang menggunakannya, tidak tergantung kepada pemahaman secara pribadi.

Selanjutnya Ralp Rose dan Ernest van den hag yang disunting oleh harsoyo mengemukakan
cirri-ciri umum dari ilmu, yaitu

1. Bahwa ilmu itu rasional


2. Bahwa ilmu itu bersifat empiris
3. Bahwa ilmu itu bersifat umum
4. Bahwa ilmu itu bersifat akumulatif.

D. Batas Pengkajian Ilmu


Apakah nilai kebenaran dari ilmu bersifat mutlak? Apakah seluruh permasalahan
manusia di dunia dapat dijawab dengan tuntas oleh pengetahuan yang disebut ilmu
pengetahuan?
Inilah pertanyaan pokok yang timbul bagi setiap yang mengejar ilmu pengetahuan
kapan saja dan dimana saja. Untuk memperoleh jawaban itu kita melihat sejenak apa yang
telah diungkapkan beberapa ahli dalam hubungan eksistensi ilmu pengetahuan itu.
Immanuel Kant (1724-1804), seorang filsuf jerman menulis sebagai berikut:
Dengan bagaimanapun juga tiada akal manusia yang menilik sifatnya sama dengan
akal kita, tetapi menilik tingkatnya betapapun juga jauh melebihinya dapat berharap
akan memahami penghasilan rumput kecil sekalipun dengan sebab-sebab yang sifatnya
mekanis belaka
Dr. Mr. D.C Mulder menulis dalam karyanya Iman dan Ilmu Pengetahuan sebagai
berikut; tiap-tiap ahli ilmu menghadapi soal-soal yang tak dapat dipecahkan dengan
melulu memakai pengetahuan itu sendiri.

DR Frans Dahler mengemukakan: Menurut Marxisme, agama akan lenyap, karena


ilmu pengetahuan makin lama makin mampu mengartikan hidup dan membebaskan

10
manusia dari penderitaan. Namun sesungguhnya ilmu tetap tidak dapat menjawab
beberapa pertanyaan yang mendasar dan terpendam dalam sanubari manusia, misalnya
tentang arti kematian, sukses gagalya cinta, makna segsara yang tak dapat dihindarkan
oleh ilmu yang paling maju sekalipun. Dan lebih dari itu, ilmu tak dapat memenuhi
kerinduan, kehausan manusia akan cinta mutlak dan abadi.

Dari pengungkapan para ahli tersebut diatas kita dapat menarik kesimpulan sebagai
berikut:
a) Tidak semua permasalahan yang dipersoalkan manusia dalam hidup dan
kehidupannya dapat dijawab dengan tuntas oleh ilmu pengetahuan itu.
b) Nilai kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat positif dalam arti sampai saat
sekarang ini bersifat relatif atau nisbi dalam arti tidaklah mutlak kebenarannya.
c) Batas dan relativitas ilmu pengetahuan bermuara pada filsafat, dalam arti bahwa
semua permasalahan yang berada diluar atau diatas jangkauan dari ilmu
pengetahuan itu diserahkan kepada filsafat untuk menjawabnya.

EPISTEMOLOGI ILMU
(CARA MENDAPATKAN ATAU MEMPEROLEH ILMU)

A. Pengertian Epistemologi
Istilah epistemologi berasal dari kata epiteme yang berarti pengetahuan, dan
logos yang berarti teori. Secara etimologis, epistemologi berati teori pengetahuan.

11
Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki atau membahas tentang asal,
susunan, metode, serta kebenaran suatu pengetahuan. Menurut Langeveld, teori
pengetahuan membicarakan hakikat pengetahuan, unsur-unsur pengetahuan dan susunan
berbagai jenis pengetahuan, metode-metode dan batas-batasnya,
Jadi epistemologi merupakan cabang filsafat yang membahas masalah-masalah
pengetahuan. Mungkinkah pengetahuan diperoleh atau tidak; dengan kata lain, dapatkah
kita memiliki pengetahuan yang benar bukan pengatahuan yang salah/khilaf.
Epistomologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan
pengetahuan: Apakah sumber-sumber pengetahuan? Apakah hakikat, jangkauan dan
ruang lingkup pengetahuan? Apakah manusia dimungkinkan untuk mendapatkan
pengetahuan?.

B. Dasar Epistemologi Ilmu


Epistemologi atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam dan menyeluruh
segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu
merupakan pengetahuan didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan.
Metode inilah yang membedakan ilmu dengan buah pemikiran yang lainnya. Atau dengan
kata lain, ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan menerapkan metode
keilmuan. Karena ilmu merupakan sebagian dari pengetahuan, yaitu pengetahuan yang
memiliki sifat-sifat tertentu, maka ilmu dapat juga dikatakan pengetahuan keilmuan. Untuk
itu agar tidak terjadi kesalahan pemahaman antara pengertian ilmu (science) dan
pengetahuan (knowledge), maka istilah ilmu ditujukan untuk ilmu pengetahuan.
Ditinjau dari pengetahuan ini, ilmu lebih merupakan kegiatan daripada sekedar
produk yang siap dikonsumsikan. Kata sifat keilmuan lebih mencerminkan hakikat ilmu
daripada istilah ilmu sebagai kata benda. Kegiatan ilmu juga dinamis, tidak statis. Kegiatan
dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada objek empiris dan
pengetahuan tersebut diperoleh dengan menggunakan metode keilmuan adalah sah untuk
disebut keilmuan.

C. Sumber sumber Pengetahuan


Sebagai sumber lahirnya ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan ilmiah biasanya
berhubungan dengan timbulnya masalah pada diri seseorang dalam mengamati suatu kejadian
sehingga mendorong dilakukannya penelitian-penelitian dalam menjawab masalah tersebut
yang akhirnya melahirkan suatu ilmu. Misalnya Isaac Newton, pelopor ilmu fisika, yang pada

12
suatu hari duduk ditaman belakang rumahnya, kemudian sebuah apel masak jatuh
dihadapannya. Ia heran melihat, mengapa apel masak dari pohon itu jatuh ke bumi, tidak
melayang di angkasa. Hal ini mendorongnya untuk meneliti terus-menerus yang akhirnya
ditemukan the law of gravitation: dengan daya tarik bumi maka benda yang memiliki
massa akan jatuh tertarik oleh bumi.

Pada dasarnya ada empat sumber pengetahuan manusia yaitu:


1) Empirisme (Pengalaman Manusia)
Dengan ini muncul aliran empirisme yang dipelopori oleh tokoh Jhon Locke.
Manusia dilahirkan sebagai kertas putih/meja putih. Pengalamanlah yang akan
memberikan lukisan kepadanya. Dunia empiris merupakan sumber pengetahuan,
utama dalam dunia pendidikan , terkenal teori tabula rasa (teori kertas putih).
Empirisme merupakan aliran dalam filsafat yang berpendapat bahwa pengetahuan
dapat diperoleh melalui pengalaman, dengan jalan observasi, atau dengan jalan
pengindraan. Pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan
manusia. Singkat kata, apa yang kita ketahui itu berasal dari segala apa yang kita
dapatkan melalui alat indra.

2) Rasionalisme (Pikiran Manusia)


Hal ini melahirkan paham Rationalisme yang berpendapat bahwa sumber satu-
satunya dari pengalaman manusia adalah rasionya (akal budinya). Tokoh yang
mempelopori teori ini adalah Rene Descartes. Aliran ini sangat menjunjung tinggi
akal budi manusia yang melahirkan paham intelektualisme dalam dunia
pendidikan. Rasio mampu mengetahui kebenaran alam semesta yang tidak
mungkin dapat diketahui melalui observasi. Menurut rasionalisme, pengalaman
tidak mungkin dapat menguji kebenaran hukum sebab akibat, sebab peristiwa
yang banyak bahkan sampai tak terhingga banyaknya tidaklah mungkin dapat
diobservasi. Pengalaman hanya sampai menggambarkan tidak dapat dibuktikan.

3) Intuisionisme (Langsung Melihat)


Secara etimologis istilah intuisi berarti melihat langsung. Pengertian secara umum
merupakan suatu metode yang tidak berdasarkan penalaran maupun pengalaman
dan pengamatan indra. Kaum intuisinis berpendapat bahwa manusia mempunyai
kemampuan khusus yaitu cara khusus untuk mengetahui yang tidak terikat kepada

13
indra maupun penalaran. Dengan intuisi kita mengetahui diri kita, mengetahui
karakter, perasaan, dan motif orang lain serta kita mengetahui, mengalami hakikat
yang sebenarnya tentang waktu, gerak dan aspek-aspek yang fundamental dalam
jagat raya ini. Dengan intuisi kita dapat menangkap kenyataan-kenyataan yang
konkret. Bergson, Al Gazali, Hasserl dan Scheller adalah filosof - filosof yang
menggunakan intuisi sebagai metode atau sumber pengetahuan.

4) Wahyu Allah
Wahyu Allah berisikan pengetahuan baik mengenai kehidupan seseorang yang
terjangkau oleh empirik maupun yang mencakup permasalahan yang
transendental, seperti latar belakang dan tujuan penciptaan manusia, dunia dan
segenap isinya, serta kehidupan di akhirat nanti. Pengetahuan ini berdasarkan
kepercayaan atau keimanan kepada Allah sebagai sumber pengetahuan, kepada
kehidupan diakhirat, kepada malaikat-malaikat sebagai perantara Allah menemui
para nabi, kepada kitab-kitab suci sebagai cara penyampaian, dan kepada para
nabi sebagai perantara dan penerima wahyu Allah tersebut.

D. Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut
ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua
pengetahuan dapat disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara
mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu dinamakan dengan metode ilmiah.
Metode, menurut Senn, merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang
mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Metodologi merupakan suatu pengkajian dalam
mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Metodologi ini secara filsafat
termasuk dalam apa yang dinamakan epistomologi. Alur berpikir yang tercakup dalam
metode ilmiah dapat dijabarkan dalam beberapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap
dalam kegiatan ilmiah. Kerangka berpikir ilmiah pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah
sebagai berikut:
1) Perumusan masalah. Disini secara sadar kita menetapkan masalah yang akan kita
telaah dengan ruang lingkup dan batas-batasnya. Ruang lingkup permasalahan ini
harus jelas begitu juga batas-batasnya, sebab tanpa kejelasan ini kita akan mengalami
kesukaran dalam melangkah kepada kegiatan berikutnya yakni penyusunan kerangka
berpikir dalam pengajuan hipotesis.

14
2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis. Disini kita menjelaskan
argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai
faktor yang saling terkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir
ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji
kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan
permasalahan.
3) Perumusan hipotesis. Disini kita menjelaskan jawaban sementara atau dugaan
terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari
kerangka berpikir yang dikembangkan.
4) Pengujian hipotesis. Tahap ini merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan
dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta
yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. Kalau fakta-fakta tersebut memang ada
dalam dunia empiris kita, maka dinyatakan bahwa hipotesis itu telah terbukti. Dalam
hal hipotesis tidak terbukti, maka hipotesis itu ditolak kebenarannya dan kita kembali
mengajukan hipotesis yang lain sampai saat kita menemukan hipotesis tertentu yang
didukung oleh fakta.
5) Penarikan kesimpulan. Merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan
itu ditolak atau diterima. Jika hipotesis diterima maka dianggap menjadi bagian dari
pengetahuan ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan yakni mempunyai
kerangka penjelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta
telah teruji kebenarannya. Pengertian kebenaran disini harus ditafsirkan secara
pragmatis artinya bahwa sampai saat ini belum terdapat fakta yang menyatakan
Penentuan masalah
sebaliknya.
Penyusunan kerangka berpikir

Langkah langkah dalam Metode Ilmiah

Ditolak

Diterima

15
Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah.
Meskipun langkah-langkah ini secara konseptual tersusun dalam urutan yang teratur, dimana
langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah berikutnya, namun dalam prakteknya
sering terjadi lompatan-lompatan. Langkah-langkah yang disebutkan diatas harus dianggap
sebagai patokan utama dimana dalam penelitian yang sesungguhnya mungkin saja
berkembang berbagai variasi sesuai dengan bidang dan permasalahan yang diteliti. Walaupun
demikian maka bagi mereka peneliti pemula maka tema pokok dari metode ilmiah harus
dikuasai, sebab tanpa kemampuan dasar ini dikhawatirkan bahwa variasi yang dikembangkan
itu mungkin saja tidak mencerminkan ciri yang seharusnya dipenuhi oleh suatu kegiatan
keilmuan.

Dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun


secara konsisten dan kebenarannya telah teruji secara empiris. Dalam hal ini harus disadari
bahwa proses pembuktian dalam ilmu tidaklah bersifat absolut. Sekiranya sekarang kita dapat
mengumpulkan fakta-fakta yang mendukung hipotesis kita maka bukan berarti bahwa untuk
selamanya kita akan mendapatkan hal yang sama. Mungkin saja suatu waktu, baik secara
kebetulan maupun karena disebabkan kemajuan dalam peralatan pengujian, maka kita akan
mendapatkan fakta yang menolak hipotesis yang selama ini kita anggap benar. Jadi pada
hakikatnya suatu hipotesis dapat kita terima kebenarannya selama tidak didapatkan fakta
yang menolak hipotesis tersebut. Hal ini membawa dimensi baru kepada hakikat ilmu yakni
sifat pragmatis tapi sekaligus konsisten.
Ilmu tidaklah bertujuan mencari kebenaran absolut melainkan kebenaran yang
bermanfaat bagi manusia dalam tahap perkembangan tertentu. Hipotesis-hipotesis yang

16
sampai saat ini tidak ditolak kebenarannya dan mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia,
kita anggap sebagai pengetahuan yang sahih dalam keluarga keilmuan. Bahwa hipotesis ini
kemudian hari ternyata tidak benar, bagi kita hal itu tidaklah terlalu penting selama hipotesis
ini mempunyai kegunaan bagi kehidupan manusia. Dari sisi inilah kita menyebutkan ilmu
bersifat pragmatis. Sedangkan ilmu bersifat konsisten karena penemuan yang satu didasarkan
kepada penemuan-penemuan sebelumnya. Sebenarnya hal ini tidak seluruhnya benar karena
sampai saat ini belum satupun dari seluruh disiplin kelimuan yang telah berhasil menyusun
satu teori yang konsisten dan menyeluruh.

E. Beberapa Jenis Metode Ilmiah


1) Observasi
Beberapa ilmu seperti fisika, astronomi, psokologi dan botani telah dikembangkan
secara cermat dengan metode observasi. Didalam metode observasi melingkupi
pengamatan indrawi (sense perception) seperti: melihat, mendengar, menyentuh,
meraba, membawa sesuatu juga didalamnya termasuk bahwa kita sadar berada dalam
situasi yang bermakna dengan berbagai fakta yang saling berhubungan.
2) Trial and Error
Trial and error telah dikenal secara universal dan tidak memerlukan penjelasan secara
panjang lebar. Metode ini ditemukan diantara hewan-hewan dimana mereka mencoba
memecahkan masalahnya. Teknik ini dipergunakan oleh ahli psikologi yang
diterapkan pada penelitian tentang hewan dan manusia.
3) Metode Eksperimen
Kegiatan eksperimen adalah berdasarkan pada prinsip metode penemuan sebab akibat
dan pengujian hipotesis. Dalam eksperimen, didalamnya termasuk masalah
manipulasi dan pengawasan (kontrol) sekaligus observasi (pengamatan) dan trial
and error, telah banyak digunakan secara luas tetapi keduanya terbatas.

4) Metode Statistik
Statistik memungkinkan kita melihat berbagai proses yang tidak mungkin dapat kita
lihat hanya melalui penggunaan alat indra saja. Statistik memungkinkan kita untuk
menjelaskan sebab dan akibat dan pengaruhnya, melukiskan tipe-tipe dari fenomena-
fenomena dan kita dapat membuat perbandingan dengan menggunakan tabel-tabel
dan grafik. Statistik juga dapat meramalkan kejadian yang akan datang dengan tingkat
ketepatan yang tinggi.

17
5) Metode Sampling
Terjadinya sampling apabila kita mengambil beberapa anggota atau bilangan tertentu
dari suatu kelas atau kelompok sebagai wakil dari keseluruhan kelompok tersebut
dapat mewakili secara keseluruhan atau tidak.

F. Struktur Ilmu Pengetahuan


Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan
berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangakaian tindakan untuk
menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada. Penjelasan keilmuan
memungkinkan kita meramalkan apa yang akan terjadi dan berdasarkan ramalan tersebut kita
bisa melakukan upaya untuk mengontrol agar ramalan itu menjadi kenyataan atau tidak. Oleh
karena itu pengetahuan dibangun dengan struktur penjelasan, ramalan dan mengontrol.
1. Penjelasan
Penjelasan yang lazimnya selalu disertai dengan pemahaman merupakan
pelengkap dari permulaan dalam penelitian dari sesuatu yang dicatat untuk
disusun sebagai suatu hipotesis yang baik dan menarik. Penjelasan ini membuka
suatu kemungkinan mengembangkan hipotesis secara sempurna.
2. Ramalan
Seorang ilmuwan yang baik tidak lekas puas karena hal yang berupa kebenaran
yang telah dicapainya, jika belum diuji dengan cara yang sesuai dengan
masalahnya.
3. Pengontrol atau batasan
Batasan merupakan suatu pernyataan yang banyak dipentingkan dalam ilmu.
Karena dengan adanya batasan, persoalan yang ingin diselesaikan tidak akan jauh
menyimpang.

G. Sikap Ilmiah dari Ilmuwan


Ada beberapa sikap ilmiah yang perlu dimiliki oleh seorang ilmuwan, seperti yang
dikemukakan Harsojo, sebagai berikut
1. Objektivitas
Seorang ilmuwan harus memiliki sikap objektivitas artinya bahwa ia berpikir
harus sesuai dengan objeknya, dengan peristiwa atau benda-benda yang ia pelajari
atau selidiki

18
2. Relatif
Sikap relatif merupakan suatu keharusan dalam ilmu, karena ilmu hanya
berhubungan dengan dunia fenomena yang penuh dengan perubahan, selalu
mengalami perkembangan.
3. Skeptif
Memiliki pandangan yang ragu-ragu terhadap suatu ide. Dengan keraguan ini
biasanya seorang ilmuwan akan lebih bersikap kritis terhadap sesuatu.
4. Kesabaran Intelektual
Suatu penelitian ilmiah memerlukan kesabaran untuk mengumumkan hasilnya
tidak tergesa-gesa. Bekerja dalam ilmu harus sistematis, teliti, dan tekun.
5. Kesederhanaan
Kesederhanaan merupakan sikap ilmiah, artinya sederhana dalam cara berpikir,
dalam cara menyatakan, dalam cara pembuktian. Bahasa yang digunakan harus
jernih, jelas dan terang.
6. Tidak memihak kepada etik
Ilmu tidak mengadakan penilaian tentang baik dan buruknya sesuatu yang diteliti.
Ilmu hanya mengajukan deskripsi benar atau salah secara relatif. Namun pada
akhirnya kalau sampai penggunaan hasil ilmu tadi tetap akan berhubungan dengan
etika tertentu.

H. Sarana Fundamental Berpikir Ilmiah


Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya
sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat.
Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tidak dapat dilakukan. Sarana
ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai
langkah yang harus ditempuhnya. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan
baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistika. Bahasa
merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah. Bahasa
merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut
kepada orang lain. Sebagai alat komunikasi pada pokoknya bahasa mencakup tiga unsur
yakni pertama, bahasa selaku alat komunikasi untuk menyampaikan pesan yang berkonotasi
pikiran (emosi); kedua, berkonotasi sikap (afeksi); ketiga, berkonotasi pikiran (penalaran).
Logika adalah pola berpikir yang logis dengan kata lain proses penalaran dan analitis.

19
Sedangkan sarana berpikir ilmiah matematika dipakai dalam proses berpikir deduktif sedang
statistik dipakai dalam proses berpikir induktif.

AKSIOLOGI ILMU (NILAI ILMU PENGETAHUAN)

A. Pengertian dan Dasar Aksiologi Ilmu


Istilah axiology berasal dari kata yunani yaitu kata axios dan logos. Axios
artinya nilai atau sesuatu yang berharga, logos artinya akal, teori. Jadi axiology artinya teori
tentang nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria, dan status metafisik dari nilai. Dalam

20
pemikiran filsafat Yunani, studi mengenai nilai ini mengedepan dalam pemikiran Plato
mengenai idea tentang kebaikan, atau yang lebih dikenal dengan Kebaikan tertinggi.
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai
landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu
dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah
moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural, yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah
dengan norma-norma moral atau profesional?
Teori tentang nilai (aksiologi) dapat kita bagi menjadi dua
a. Nilai etika
b. Nilai estetika
a. Nilai etika
Istilah etika berasal dari kata ethos ( yunani ) yang artinya adat kebiasaan. Dalam
istilah lain para ahli yang bergerak dalam bidang etika menyebutkan dengan moral.
Walaupun antara kedua istilah etika dan moral ada perbedaannnya, namun para ahli
tersebut tidak membedakannya denga tegas, bahkan cendrung untuk member arti yang
sama secara praktis.Menurut Langeveld etika adalah teori perbuatan manusia, yaitu
ditimbang menurut baik dan buruknya. Selanjutnya Dagobert Runes etika merupakan
cabang filsafat yang membicarakan perbuatan manusia dan memandangnya dari sudut
baik dan tidak baik. Etika merupakan filsafat tentang prilaku manusia.
b. Nilai Estetika
Estetika merupakan nilai-nilai yang berhubungan dengan kreasi seni, dengan
pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan seni atau kesenian. Terkadang
estetika diartikan sebagai filsafat seni dan dinyatakan sebagai hakikat keindahan.
Tetapi sesungguhnya konsep keindahan hanya salah satu saja dari sejumlah konsep
seni (Randall, 1942).

Dasar Aksiologi Ilmu


Sampailah kita pada sebuah pertanyaan : Apakah kegunaan ilmu itu bagi kita? Tak
dapat disangkal lagi bahwa ilmu telah banyak mengubah dunia dalam memberantas penyakit,
kelaparan, kemiskinan, dan berbagai wajah kehidupan yang duka. Namun apakah hal itu
selalu demikian : ilmu selalu merupakan berkat dan penyelamat bagi manusia? Memang,
dengan jalan mempelajari atom kita bisa memanfaatkan wujud tersebut sebagai sumber
energy bagi keselamatan manusia, tetapi dipihak lain hal ini bias juga berakibat sebaliknya,
yakni membawa manusia kepada penciptaan bom atom yang menimbulkan malapetaka.

21
Usaha memerangi kuman yang membunuh manusia sekaligus menghasilkan senjata kuman
yang dipakai sebagai alat untuk membunuh sesama manusia pula.
Einstein mengeluh di hadapan mahasiswa California Institute of Technologi, Dalam
peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal. Dalam perdamaian,
dia membuat hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu. Mengapa ilmu yang amat indah,
yang menghemat kerja dan menciptakan hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan
yang sedikit sekali kepada kita?
Kalau kita mengakaji pertanyaan Einstein itu dalam-dalam, maka masalahnya terletak
dalam hakikat ilmu itu sendiri. Seperti dicanangkan oleh Francin Bacon berabad-abad yang
silam: pengetahuan adalah kekuasaan. Apakah kekuasaan itu akan merupakan berkat atau
malapetaka bagi umat manusia, semua itu terletak pada orang yang menggunakan kekuasaan
tersebut.
Ilmu itu sendiri bersifat netral, ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk dan si
pemilik itulah yang harus mempunyai sikap jalan mana yang akan ditempuh dalam
memanfaatkan kekuasaan yang besar itu terletak pada sistem nilai si pemilik pengetahuan
tersebut. Atau dengan perkataan lain, netralitas ilmu hanya terletak pada dasar
epistemologisnya saja : Jika hitam katakan hitam, jika ternyata putih katakan putih; tanpa
berpihak kepada siapapun juga selain kepada kebenaran yang nyata. Sedangkan secara
ontologism dan aksiologis, ilmuwan harus mampu menilai antara yang baik dan yang buruk,
yang pada hakikatnya mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai landasan moral yang
kuat. Tanpa suatu landasan moral yang kuat seorang ilmuan akan lebih merupakan tokoh
yang menciptakan momok kemanusiaan yang terkutuk.

Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia.
Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf
hidup manusia, dan kelestarian atau keseimbangan alam.
Untuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun
dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berarti ilmu merupakan pengetahuan
yang menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya.
Universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai konotasi ras, ideologi, atau agama.

B. Ilmu sebagai suatu cara berpikir


Berpikir ilmiah merupakan kegiatan berpikir yang memenuhi persyaratan-persyaratan
tertentu. Persyaratan tersebut pada hakikatnya mencakup dua kriteria utama yakni pertama,

22
berpikir ilmiah harus mempunyai alur jalan pikiran yang logis, dan kedua peryataaan yang
bersifat logis tersebut harus didukung oleh fakta empiris. Dari hakikat berpikir ilmiah
tersebut maka dapat membangun pola pikir masyarakat atau suatu negara yang lebih rasional
sehingga mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaan nasional dan mampu
membentuk watak suatu bangsa.

C. Ilmu sebagai asas moral


Ilmu merupakan kegiatan berpikir untuk mendapatkan pengetahuan yang benar yakni
menjunjung tinggi kebenaran dan mengabdi secara universal artinya seorang ilmuwan dalam
menetapkan suatu teori akan mendasarkan penarikan kesimpulannya pada argumentasi yang
terkandung dalam teori itu dan bukan kepada pengaruh yang berbentuk kekuasaan dari
kelembagaan yang mengeluarkan teori itu.

BAB III
KESIMPULAN
A. Simpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Aspek ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada
daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia dan terbatas pada hal
yang sesuai dengan akal manusia.

23
2. Ada beberapa aliran dalam ontologi yaitu idealisme, realisme, pragmatisme dan
materialisme.
3. Ilmu atau science diartikan sebagai common sense yang diatur dan
diorganisasikan dengan menggunakan metode yang teliti dan kritis.
4. Secara umum ilmu adalah usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematiskan
common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan
dalam kehidupan sehari-hari namun dilanjutkan dengan pemikiran yang cermat
dan menggunakan berbagai metode.
5. Ciri-ciri ilmu bersifat rasional, empiris, universal dan akumulatif.
6. Pada dasarnya empat sumber pengetahuan yaitu empirisme, rasionalisme,
intuisionisme dan wahyu Allah.
7. Metodologi berupa tata cara atau prosedur yang ilmiah menjadi landasan
epistemologi ilmu.
8. Langkah-langkah berpikir ilmiah dimulai dari perumusan masalah, penyusunan
kerangka berpikir, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis dan penarikan
kesimpulan.
9. Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan
manusia sebagai sarana meningkatkan taraf hidup manusia dan kelestarian atau
keseibangan alam. Tinjauan ini menjadi aksiologi ilmu.

B. Saran
Pembahasan filsafat ilmu secara ontologi, epistemologi dan aksiologi mencakup
pembahasan yang sangat luas dan kompleks. Sehingga disarankan untuk menelaahnya
dari banyak literatur atau buku-buku yang mendukungnya agar deskripsi filsafat ilmu
ini tergambarkan secara jelas dan utuh.

DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu, Belukar, Yogyakarta, 2005

Nasution, M.A., Dr. Hasan Bakti. Filsafat Umum, Gaya Media Pratama 2001

24
Salam, Drs., Burhanuddin Salam. Logika Materil, Cetakan pertama, Rineka Cipta,
Jakarta, 1996

Surajiwo, Filsafat Ilmu dan perkembangannya di Indonesia, Sinar Harapan, Jakarta,


2010

Suriasumantri, Phd., Dr. Jujun S. Filsafat Ilmu, Cetakan kedelapan belas, Sinar
Harapan, Jakarta, 2005

25