Anda di halaman 1dari 6

ILMU PENDIDIKAN

ISI ILMU
STATUS KEBENARAN ILMU

Pendidikan Sebagai Ilmu

- Syarat Ilmu
Suatu kawasan studi dapat tampil atau menampilkan diri
sebagai suatu disiplin ilmu bila dipenuhi setidak-tidaknya tiga
syarat:
Memiliki obyek studi yang eksplisit dari disiplin ilmu lain
Memiliki struktur atau sistematika yang juga eksplisit dari
disiplin lain
Memiliki metodologi pengembangan
Karena sifat ilmu pendidikan menekankan pada penerapan
empirik, maka ilmu pendidikan juga menuntut adanya syarat
keempat, yaitu evidensi empirik. (Noeng Muhadjir, 1993: 15)

- Ad. 1. Obyek Ilmu Pendidikan


Obyek material ilmu pendidikan adalah manusia (subyek didik
dan atau pendidik).
Sedangkan obyek formal studi ilmu pendidikan: upaya
normatif untuk membantu proses perkembangan subyek-didik
ke tingkat yang normatif lebih baik. (Noeng Muhadjir, 1993:
16).

Proses perkembangan subyek-didik sebagai manusia pada segi


biologik : menjadi obyek studi antropobiologi dan genetika.
Proses perkembangan subyek-didik sebagai manusia pada segi
psikologik : menjadi obyek studi psikologi dan psikologi
perkembangan.
Proses perkembangan subyek-didik sebagai manusia berkaitan
dengan ontogenese dengan philogenese: menjadi obyek studi
antropologi kultural
Proses perkembangan subyek-didik sebagai manusia dalam
kaitan dengan interaksi sosial: menjadi obyek studi sosiologi.

Proses perkembangan subyek-didik sebagai manusia dalam


bentuknya yang multifaset: menjadi obyek studi ilmu
pendidikan. Faset subyek didik sebagai obyek ilmu pendidikan
meliputi : 1) Faset biologik-fisiologik; 2) faset psikologi; 3)
sosiologik-psikologik-sosial-ekonomik; 4) faset antropologik
(kultural)-keagamaan. (Noeng Muhadjir, 1993: 16-20)

Antropologik- keagamaan

Psikologik
Biologik- Fisiologik
Sosiologik-ekonomik

Gambar 1. Subyek dengan fasetnya

Bila ke empat faset proses perkembangan subyek-didik


dihubungkan dengan fungsi pendidikan, maka paradigma
obyek studi ilmu pendidikan dapat dilukiskan sebagai berikut:
moralitas
Kreativitas
Produktivitas
Biologik-fisiologik
Sosiologik-
ekonomik
Psikologik
Antropologik-keagamaan

Proses perkembangan suyek didik


Fungsi Pendidikan

Gambar 2. Proses perkembangan dan fungsi pendidikan


Keterangan:

Proses perkembangan subyek-didik berputar pada porosnya


sendiri. Fungsi pendidikan berputar pada porosnya sendiri
pula. Sehingga faset satu akan bertepatan dengan fungsi yang
berbeda pada putaran lain
- Ad. 2. Sistematika Ilmu Pendidikan

Alternatif sitematisasi studi ilmu pendidikan:


Pertama, bertolak dari lima unsur dasar pendidikan, yaitu:
yang memberi, yang menerima, tujuan baik, cara/jalan baik,
dan konteks positif.
Kedua, bertolak dari empat komponen pokok pendidikan,
yaitu: kurikulum, subyek didik, personifikasi pendidik, dan
koteks belajar-mengajar.
Ketiga, bertolak dari tiga fungsi pendidikan, yaitu: pendidikan
kreativitas, pendidikan moralitas, dan pendidikan
produktivitas.
Keempat, bertolak dari pemaduan unsur dasar dan komponen
pokok pendidikan, yaitu: subyek didik, personifikasi pendidik,
tujuan normatif dan program pendidikan, dan konteks belajar-
mengajar yang mempunyai rentang dari proses belajar sampai
ke konteks belajar dan konteks sosial. (Noeng Muhadjir, 1993:
20-22)
Kelima, bertolak dari cara kerja penelitian, yaitu: rumusan
masalah, metode, dan kesimpulan.

- Ad. 3. Metodologi ilmu pendidikan.

Metode dan teknik penelitian dan pengembangan yang dapat


dipakai untuk ilmu pendidikan mencakup enam klaster pokok,
yaitu:
1. metode deskriptif dan inferensial (baik yang kualitatif
maupun kuantitatif);
2. studi genetik, perkembangan, atau pertumbuhan (dengan
teknik: cross-section dan longitudinal);
3. Studi kasus dan studi klinikal;
4. studi eksperimental;
5. survei; dan
6. metode historik dan analisis filosofik. (Noeng Muhadjir,
1993:22)

Sedangkan metodologi proses berpikirnya adalah metode


berfikir induktio-deduktif, dan deduksio-induktif atau disebut
dengan istilah berpikir reflektif, di mana orang mundar-mandir
antara induksi dan deduksi tanpa memasalahkan mulainya dari
mana. (Noeng Muhadjir, 1993: 23)

Tujuannya dibedakan antara studi deskriptif, inferensial, dan


normatif.
Pendidikan termasuk ilmu yang tujuan studi mengarah ke
pencapaian tujuan ideal tertentu, sehingga metodologi ilmu
pendidikan haruslah memasukkan penerapan kriteria nilai
hidup tertentu dalam penyusunan disain, penetapan tujuan,
penyusunan instrumen, pembuatan analisis, dan pembuatan
kesimpulan. (Noeng Muhadjir, 1993: 23)

Syarat keempat disiplin ilmu pendidikan adalah adanya


evidensi empirik. Apa yang dikemukakan sebagai teori terbukti
memang cocok dengan empiri semua orang.
Suatu ilmu yang pembahasan teoritiknya dikaitkan secara ajeg
dengan empiri dan dapat menjelaskan kasus-kasus dengan
teorinya, ilmu tersebut menjadi memiliki evidensi empirik.
(Noeng Muhadjir, 1993: 23-24)

Ilmu-ilmu Bantu Ilmu Pendidikan

Ilmu-ilmu bantu ilmu pendidikan: biologi, fisiologi, psikologi,


sosiologi, psikologi sosial, ekonomi, antropologi, dan ilmu
keagamaan. Ilmu-ilmu tersebut menjadi sumber konsultasi
untuk memahami proses perkembangan subyek-didik yang
multifaset agar upaya membantu proses perkembangan
subyek didik dapat dilakukan dengan tepat. (Noeng Muhadjir,
1993: 22)
Klaster materi ilmu pendidikan

Materi ilmu pendidikan yang memiliki fungsi yang berbeda


dalam membangun ilmu pendidikan ada tiga klaster, yaitu:
Pertama, klaster substansial dihimpun dari teori ilmu
pendidikan dan filsafat antropologi.
Kedua, klaster fungsional dibangun dari pemikiran teknologik.
Ketiga, klaster instrumental dikonstruksikan dari materi sistem
penyampaian dan materi sistem pengelolaan. (Noeng
Muhadjir, 1993: 22)
Diposkan oleh BELAJAR DAN MEMBELAJARKAN di 21:01
Label: BAHAN AJAR ILMU PENDIIDKAN